[FFINDO Project] Family – Closer

closer-zahra

Credit: Art by Song17 (Zahra)

[FFINDO Project] Family – Closer

Spin-off dari [FFINDO Project] Family – Cut

© Miss Candy | Park Chanyeol, Park Chaeyoung, Oh Sehun | Family, Sad |

Do not Copy!

Antrean 150? Yang benar saja!’ Sehun mengumpat jengkel dalam hatinya. Ia sedang menebus obat untuk Ayah di Rumah Sakit Hankuk. Layar panel di atas kepalanya baru menunjukkan angka 100. Memang sih, kursi ruang tunggu di depan apotek hampir penuh.

Pemuda itu menghempaskan pantatnya ke kursi kosong, persis di deretan belakang. Ia mengeluarkan ponsel dan mulai berlayar di dunia maya. Menggulirkan lini masa dengan bosan. Iklan sabun milik kembarannya sempat beberapa kali muncul pada layar.

‘Aku harus menyuruhnya lebih selektif!’ desisnya dalam hati. Sehun tak pernah sepenuhnya setuju kalau kembarannya harus memilih jalur modeling sebagai karir. Ia mengikuti karir Sena supaya bisa menjaga kakak kembarnya itu. Sebuah alasan yang menurut Sena dibuat-buat, padahal Sehun benar-benar serius.

Sekarang Oh Sehun bukan lagi seorang model. Ia mahasiswa biasa. Ia lelah mengikuti pekerjaan nuna-nya dan merasa jenuh harus berlenggak-lenggok di hadapan kamera lagi. Lagipula sang kakak tampaknya baik-baik saja. Sangat nyaman malah dengan pekerjaannya. Begitu memutuskan untuk mundur dari dunia model, Sehun kembali melanjutkan kuliahnya yang terbengkalai.

Sepuluh menit berselang, Sehun menguap malas. Bersandar pada kepala kursi dan menyaku ponselnya. Ia menyilangkan kaki dan mengamati keadaan sekitar. Sepertinya hanya ia makhluk muda tertampan di ruangan ini. Ha.

Eh, dia salah. Duduk persis berselisih dua tempat kosong darinya, seorang gadis berambut pirang panjang menunduk lesu. Kedua kakinya dirapatkan dan sebagian rambutnya jatuh menutupi wajahnya.

Si gadis memakai jaket hitam sebagai pembungkus tubuh. Dibaliknya, ia memakai piyama tidur. Sehun bisa melihat kaus kaki merah muda melapisi kakinya sebelum terpasang pada sepatu beralas datar. Pasien rawat inap, ya? Ada yang menarik dari gelagat gadis itu. Meski terus menunduk, Sehun yakin kalau gadis itu berusaha menyembunyikan matanya yang sembab. Menangis? Oh, apakah dia habis disuntik?

Selang berapa lama kemudian, nomor antrean 148 dipanggil. Itu nomor milik si gadis. Ia bangkit dengan kaku menghampiri bilik penyerahan obat. Sehun tak melepaskan pandangannya sedetik pun dari gadis kikuk itu.

Nomor Sehun dipanggil pada bilik sebelahnya. Ia bergegas bangkit dan hampir terjatuh karena terantuk kaki kursi. Gadis itu lebih dulu meninggalkan lobi ruang tunggu saat Sehun menyapa si asisten apoteker yang ternyata adalah temannya semasa SMA.

“Eunhee? Kau kerja di sini?”

Gadis itu tersenyum nakal. “Eh, Oh Sehun yang babo. Belum lulus, ya? Oh, aku lupa… kau sekarang model, ‘kan?”

Sehun memberengut. “Aku tahu kau gadis pintar, tak usah meledekku,” ketusnya, “dan aku sudah keluar dari dunia modeling.” Mereka cukup dekat. Sehun masih ingat gigi berantakan milik Eunhee. Tapi, soal keenceran otak, milik Eunhee tiga kali lebih encer daripada Sehun.

Eunhee tertawa. Gigi atasnya kini dipasangi kawat gigi. “Sorry, ini obatnya,” Ia mengangsurkan bungkusan plastik berisi obat sesuai resep Sehun.

Thanks,” Pemuda itu berbalik, kemudian teringat sesuatu. Ia kembali menoleh pada Eunhee yang belum menekan tombol pemanggil antrean berikutnya. “Eunhee-ya, aku mau tanya sesuatu, boleh?”

“Apa? Instruksi obatnya sudah dilampirkan,” ujar Eunhee, menatap heran.

Bukan. Bisa minta tolong, beritahu aku nama gadis yang mengambil obat nomor… nomor 148 tadi,” pintanya.

Kali ini Eunhee terkejut. Ia mendekat, berbisik, “rahasia. Aku tidak bisa. Prosedur rumah sakit!” desisnya.

“Hanya namanya saja, tolonglah…”

Gadis bermata sipit itu berkedip-kedip. Ia tampak berpikir sejenak kemudian mengangguk. “Nomor ponselmu masih yang dulu? I’ll text you later.”

Namanya Park Chaeyoung,” Suara Eunhee bergema di seberang saluran telepon. Selepas makan malam, Sehun langsung mengendap-endap ke kamarnya. Ia tak mau bersua dengan Sena. Malas berdebat hal sepele padahal ia sedang dalam misi pengumpulan data gebetan.

“Di mana ia tinggal?” tanya Sehun sambil berbaring di ranjangnya.

“Hei, kau bilang hanya butuh namanya!”

“Yeah, tapi aku juga mau tahu di mana dia tinggal. Dia pasien rawat inap, ‘kan? Ayolah, Eunhee… aku tak akan membocorkannya pada siapa pun,” Sehun memohon.

Eunhee mendengus di seberang sana. Tak terdengar suara lagi selang berapa sekon menyusul.

“Eunhee? Kau masih hidup, ‘kan?” seloroh Sehun.

Dasar bodoh! Tentu saja aku masih hidup! Kau yakin… mau mencari tahu tentang gadis itu?” Suara Eunhee terdengar khawatir.

Sehun bangkit dari posisinya. Ia menatap keluar jendela. Dari dulu si Eunhee tak pernah segan-segan mengataiku bodoh. Terserahlah. Kalau bukan demi gadis gebetan, Sehun sudah ganti meneriaki Eunhee. “Ya, memangnya kenapa?”

“Sehun… Aku percaya kau tak akan macam-macam… Kulakukan ini karena aku pernah berhutang padamu dulu. Tapi, dia…”

“Dia…” pancing Sehun, tak sabar.

“Dia memang beberapa kali menginap di Rumah Sakit tempatku bekerja. Penyakitnya serius… Oh, kau masih mau dengar?”

“Tentu saja, Eunhee…” Sehun mendesis gemas.

Kali ini Eunhe terdengar lebih gelisah. “Dia… pengidap AIDS.”

Keheningan berlangsung terlalu lama. Sehun nyaris bisa mendengar suara bising dari tempat Eunhee berada. Tapi, pikirannya tidak di sana. Otaknya yang hanya separuh encer kini membeku seluruhnya.

“Sehun? Kau masih hidup, ‘kan?” Eunhee bertanya cemas.

Tidak!” Chanyeol tetap bersikukuh pada jawabannya yang pertama. “Tidak dan tidak!” tambahan lagi. Terasa lebih keras dan kaku. “Jangan paksa oppa untuk melarangmu pergi ke luar rumah lagi!” Kemudian ia beranjak pergi. Meninggalkan adik semata wayangnya menunduk sedih di ruang keluarga.

Chaeyoung meremas kertas undangan reuni kelas dari teman-teman SMA-nya. Iya, dia tahu, dengan penyakitnya sekarang, mana mungkin dia bisa sebebas dulu. Dengan penyakitnya sekarang, mana mungkin teman-temannya akan bersikap sama seperti dulu. Tapi, dia masih diundang. Berarti masih ada beberapa rekan yang ingin berjumpa dengannya. Lagipula tempat reuni tidak jauh. Chaeyoung hanya ingin hadir sebentar saja. Bahkan, ia sempat mengusulkan supaya kakaknya ikut serta dan menemani. Namun, Chanyeol dengan dingin menepis permintaan itu.

Sebutir cairan bening lolos dari matanya yang sayu. Chaeyoung kembali menangis. Semua karena AIDS! AIDS merenggut ibunya. AIDS menjadikan Ayah mencampakan mereka. AIDS membuat mereka berpindah-pindah rumah. AIDS menghancurkan masa mudanya. Dan yang paling parah, AIDS menghancurkan ikatannya dengan Chanyeol.

Chanyeol tak lagi menjadi pemuda riang. Ia selalu terlihat suntuk, kaku, keras dan tegas. Sorot matanya selalu terlihat suram dan marah. Biaya pengobatan AIDS membuat Chanyeol berusaha keras untuk beasiswanya ke Universitas. Chanyeol pun mengubur mimpinya menjadi musisi. Bagaimana jika kehidupan pribadiku terbongkar dan mereka mencaci maki kita, Young-ie? Mendiskreditkanmu!

Sebagai kakak, Chanyeol juga melakukan perlindungan kelewat ketat sampai Chaeyoung merasa—pada hari ini—sangat tertekan. Ia sudah cukup tersiksa dengan penyakitnya. Tidakkah Chanyeol berpikir aku butuh kebahagian secuil saja?

Keluarga ini hancur, terpuruk.

Kamu sekarang jadi sukarelawan penebus obat, ya?” ledek Sena sambil mengemudi di samping Sehun. Kembar bersaudara itu beda tujuan. Sehun hendak ke rumah sakit untuk menebus obat rutin Ayah mereka yang terkena diabetes, sementara Sena akan mendatangi kantor agensinya.

“Lumayan. Sambil cuci mata,” sergah Sehun, malas. Ada yang dipikirkannya dalam otak.

Tsk, cuci mata. Alasan klasik. Aku tahu, separuh jiwaku adalah dirimu. Jangan jadi playboy, Hun-ah. Kamu bilang ingin fokus kuliah, maka fokuslah,” nasihat kembarannya itu bukan yang pertama kali, jadi Sehun hanya membersut.

“Tak usah bawa-bawa kuliah!” Memangnya tahu apa Sena tentang kuliah? Dia ‘kan tidak kuliah.

Kembarannya tertawa sampai kepalanya tersentak ke belakang. Gadis itu memang suka menggoda Sehun, adik kecil selisih 15 menit dari waktunya lahir. Meskipun Sehun lebih jangkung, tetap saja Sena menganggapnya adik kecil yang manis. Dulu mereka partner yang klop. Banyak kontrak ditawarkan pada keduanya dalam satu paket. Sampai iklan sabun kemarin menjadi akhir dari karir Sehun, Sena tetap menghormati keputusan adiknya. Meskipun, awalnya ia sempat kecewa. Tak ada lagi bodyguard berlabel adik manis di sisinya.

Sorry, sorry… Aku sendiri nggak kuliah karena merasa nggak mampu. Aku ingin kamu nggak membuang-buang kesempatan yang ada, Hun-ah. Jangan kecewakan Appa,” tutur Sena, melembut di akhir kalimat. Sehun hanya mendesah pelan, tak menanggapi.

Mobil berhenti beberapa meter dari gerbang rumah sakit. Sehun turun sambil membawa tasnya di bahu kanan. Setelah pintu mobil tertutup, ia mengetuk kacanya. Si kembaran menurunkan kaca tersebut dan bertanya. “Ada yang ketinggalan?”

“Ada,” Sehun berpikir sejenak dan memilih kata-kata, “nasihat untukmu dariku.”

Sena terkikik. “Wah, apa tuh, Adik manis?”

Raut wajah Sehun super serius sampai Sena mengangkat tangan dan kembali minta maaf. Baru setelahnya, pemuda itu berujar. “Aku tak pernah suka kakakku menjadi model, tapi aku hargai pilihanmu. Kita bersaudara dan aku akan membantu apa pun yang menjadi mimpimu. Tapi…” Sehun mengamati reaksi kakaknya yang tentu saja keheranan, “tolong lebih selektif dalam memih tawaran iklan setelah aku pergi. Aku nggak mau melihat kamu di iklan sabun lagi. Nggak cocok! Kamu terlalu kerempeng!” Begitu selesai, Sehun langsung ngacir pergi. Dan, ya, Sena berteriak di belakangnya dengan nyaring.

“Dasar cadel! Awas kalau ketemu lagi!”

‘Dasar Sena bego! Aku berkata begitu karena menyayangimu.’

Ya, tentu saja. Gadis bernama Park Chaeyoung itu ada di sana. Duduk sambil menundukkan kepala dan menggoyangkan kaki beralas sandal merah muda. Sehun sudah meminta jadwal lengkap kapan gadis itu berkunjung ke rumah sakit untuk perawatan pada Eunhee. Termasuk jam-jam krusial yang bisa mempertemukan mereka lagi.

Iya, Park Chaeyoung terkena AIDS. Sehun tak peduli itu. Ia hanya ingin mencoba untuk… berteman barangkali. Atau supaya gadis itu tidak selalu sendirian di lobi tunggu apotek (bukan berarti Sehun berharap Appa tidak sembuh-sembuh, jadi dia bisa terus-terusan menebus obat). Atau mungkin… Chaeyoung memang punya daya pikat tersendiri bagi Oh Sehun.

Antreannya tak terlalu ramai kali ini. Sehun mendapat nomor 100. Dia nyaris berjingkrak karena mendapat nomor bagus. Merasa Tuhan memberinya keberuntungan hari ini.

Sehun mengitari deretan kursi. Pura-pura mencari tempat kosong lain, padahal dia ingin duduk di dekat gadis itu. Merasa si gadis tak mendongak maupun memperhatikan kondisi sekitarnya, Sehun duduk di sebelah kanannya. Persis di sebelah kanannya! Dan jantung Sehun mulai jumpalitan tak keruan.

Pemuda itu melirik sekilas ke kertas yang dipegang Chaeyoung. Nomor 97. Layar panel masih menunjukkan nomor 80-an. Oh, kalau saja semua nomor sebelum 97 sangat lama menyelesaikan urusan mereka di sini, Sehun bahagia setengah mati. Artinya, ia akan duduk di sebelah Chaeyoung lama sekali. Bagus, ‘kan?

Iya, bagus. Bagus sekali sampai Sehun berani bertanya pada si gadis.

“Lama sekali, ya?” pancingnya berbasa-basi.

Gadis itu menoleh sekilas padanya. Kemudian tersenyum samar saat tahu Sehun bicara padanya. Lalu kembali menunduk.

“Aku pernah melihatmu. Sebulan lalu,” kata Sehun, lagi.

Chaeyoung kembali menoleh, kini muka sayunya tampak bingung. “Benarkah?”

“Ya, saat antrean sedang banyak-banyaknya,” Sehun tersenyum kaku. (Dia tidak benar-benar menjadi seorang playboy. Dia bahkan tak tahu caranya merayu.)

“Oh,” Chaeyoung mengangguk. “Kau sakit?” tanyanya ragu-ragu. Sepertinya Sehun terlalu sehat untuk diobati. (Mungkin hatinya yang perlu obat asmara)

Sehun buru-buru menjawab. “Tidak. Ayahku butuh obat diabetes bulanan. Begitulah.”

“Kau baik sekali mau mengantre di sini,” puji Chaeyoung.

Chaeyoung boleh terlihat muram, hampa dan sakit. Tapi, senyumnya tetap saja membuai Sehun. Dan suaranya… itu lembut sekali.

Sehun hanya tersenyum malu-malu. “Appa punya pekerjaan lain. Aku tak tega membuatnya mengantre di sini.”

Chaeyoung mengangguk-angguk. Kemudian mereka kembali hening. Apa lagi yang mau dibahas? pikir Sehun. Beranikah Sehun bertanya tentang penyakitnya padahal dia sudah tahu?”

“Eum… Kau pasien rawat inap di sini?” tanyanya hati-hati.

“Y-ya,” Chaeyoung menjawab gugup. Lantas tangannya di atas lutut terkepal erat. Dia ketakutan, pikir Sehun. Dia pasti takut aku bertanya macam-macam.

“Kau sendirian?” Sehun beralih topik dengan tak menyinggung apa penyakit si gadis.

“Ti-tidak. Oppa-ku menemaniku. Tapi, dia belum datang,” jelas Chaeyoung. “Jadi, aku harus mengantre obatku sendiri sebelum pulang. Lagipula aku malas di kamar terus,” imbuhnya panjang, lalu menambahkan lagi, “ma-maaf. Harusnya aku tak banyak bicara yang tidak-tidak.”

“Eh, tidak apa-apa. Aku senang mendengarmu bicara,” ucap Sehun blak-blakan. Ia mengumpat dalam hati betapa bodohnya kata-kata itu. ‘Aku senang mendengarmu bicara… Demi Tuhan!’

Chaeyoung kembali tersenyum, kali ini lebih hangat sampai Sehun merasa hatinya bisa meleleh saat itu juga. Manik mata gadis itu kemudian membulat, terkejut bercampur bingung saat menatapnya. Bukan. Bukan menatap Sehun. Ia terkejut karena Chanyeol memasuki lobi ruang tunggu dengan gitar dibalik pungungnya.

Oppa? Kuliahmu sudah selesai?” tanya Chaeyoung.

Sehun ikut menoleh dan saat itu dia sadar kalau seharusnya tak duduk dekat-dekat dengan gadis pujaannya. Pemuda jangkung dengan gitar di punggung itu mengernyit pada Sehun. “Kau? Adiknya Sena, ‘kan?”

Sehun sungguh tak berharap bertemu mantan pujaan kakak kembarnya di sini!

-tbc


Notes:

  • Aku minta maaf karena terlambat menerbitkan kelanjutan project dari kelompok ‘family’ karena kesibukan akhir tahun… :’)
  • Semoga ceritanya masih bisa diterima dan nggak aneh… kelanjutannya ditunggu aja, kak Ecca dan Elsa yang bakal meneruskan… hehehe~ 
  • Terima kasih sudah membaca 🙂
Advertisements

10 responses to “[FFINDO Project] Family – Closer

  1. Kereeennn . . .
    Dunia sempiiittt semmmppiitt seemmpppiiittt. . .

    santai bgt baca ini dek. gak tau, brasa ngefly wlwpun ada AIDS dbawa ke situ. padhal si sehun blum nunjukin sisi romantisnya, tpi aq berasanya manis bgt, , , hahaha, efek terllu baper kalee yaa. .

      • Sena ama sehun serta chan dan chaeyoung, mereka punya feel sendiri buat gambarin rasa persaudaraan mereka. Sehun yang khawatir ama sena ampe terjun di dunia yang sama walau akhirnya dia menyerah. meskipun cara mereka berkomunikasi sedikit kontras ama perasaan mereka. bener-bener berbanding terbalik ama cara Chan yang mengusahakan segala kesembuhan chaeyoung. klo 2 saudara ini lebih diuji kesabaran dan usahanya dengan penyakit, dan lebih berasa bgt bentuk pengorbanannya.
        Sama-sama berasa kog kesan family nya, tpi dari yang aku tangkap emank lebih beraat ke kakak adik yang diuji dengan penyakit.
        atau mungkin karena baru perdana, jadi masih belum keliyatan smua konfliknya.
        pokoknya keren laah :-*

  2. Pingback: [FFindo Project] Family – Complicated | FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s