[FFINDO PROJECT] LOVE – HAPPILY EVER AFTER

happily-ever-after-miithayaaaa

Title: [FFindo Project] Love – Happily Ever After

Author: @Miithayaaaa

Genre: Romance, Family

Length: OneShot

Main Cast:

  • SNSD’s Yoona as Im Yoona
  • Actor’s Changwook as Ji Changwook

Support Cast:

  • CN Blue’s Jonghyun as Lee Jonghyun
  • Actress’s Park Min Young as Park Minyoung
  • Actor’s and Actress’s Im Joohwan dan Seo Woo as Yoona’s Parents
  • Ze:a’s Siwan and Twice’s Na Yeon as Yoona’s Brother and Sister
  • Actor’s and Actress’s Ji Jin Hae and Seo Hyunjin as Changwook’s parents
  • NCT’s Lee Taeyong and BTS’s Jeon Jungkook as Changwook’s Brother
  • Lovelyz’s Ji Soo as Seo Ji Soo
  • IKON’s BI as Kim Hanbin
  • IKON’s Bobby as Kim Bobby
  • IKON’s Junhoe as Koo Junh0e
  • And all cameo

Rate: PG-16

 Thank’s for beautiful poster by Babythinkgirl @ Poster Channel

.

 “Kisah tak semulus yang kau kira untuk mendapatkan akhir bahagia selamanya, cinta dipertaruhkan…”

.

“We met among the people who were as numerous as the star, Fell in love and grew a part again..Even if time passes, we might meet again, If our love was destiny.. If I was your miracle…”

(By Lee Sun Hee – Meet Him Among Them)

***

 

Roma, Italy.

“Hey…”

Bisikan kecil yang disusul dengan kecupan-kecupan manis yang memenuhi wajah Changwook berhasil membuat lelaki itu menggeliat dalam tidurnya. Dia tetap terpejam, masih ingin merasakan bibir mungil gadisnya memenuhi seluruh wajahnya sampai telapak tangannya menghentikan wajah gadis itu tepat di depan wajahnya. Dia membuka matanya perlahan, tersenyum menatap mata gadis yang menjadi pemilik hatinya hampir seluruh hidupnya itu dengan lekat, sebelum mengecup bibir gadisnya itu dengan mesra.

Dan bukan Yoona namanya jika dia hanya berhenti disitu. Dia menyengir yang sesuatu sangat diketahui Changwook kalau otak gadisnya itu sedang berputar merencanakan sesuatu di dalam kepalanya.

Auch!”

Benar saja, sejurus kemudian Yoona menyentilkan jari lentiknya itu ke dahi Changwook yang langsung mengaduh. “Dasar tukang tidur.” Kata Yoona terkekeh melihat Changwook mengusap dahinya sebelum digantikan lagi dengan kecupan ringan darinya.

“Dasar perempuan aneh, habis di sentil langsung di cium.” Celetuk Changwook cemberut.

“Dari pada langsung di tonjok, pilih mana?” Balas Yoona dengan lidah terjulur.

“Pilih ini.” Pernyataan yang langsung Yoona tahu karena tangan nakal Changwook mulai turun ke paha Yoona yang sebelumnya melingkar di pinggang Yoona.

Yoona melotot dan langsung menghentikan gerakan tangan Changwook. “Not again.” Peringatan Yoona yang di balas tawa keras oleh Changwook, padahal dia hanya bercanda.

‘Permainan’ semalam, lebih dari cukup untuknya. Lebih tepatnya buat mereka berdua.

Yoona turun dari kasur dan menyibakkan tirai membuat sinar matahari langsung masuk ke ruangan tidur mereka. Dia mengomel kecil seperti biasa yang menjadi kebiasaannya setiap pagi, bukan omelan macam-macam, melainkan omelan yang akan dia lakukan untuk  kesehariannya. Dan itu keasyikan tersendiri bagi Changwook untuk menonton gadisnya.

Mata Changwook tanpa sedikitpun meninggalkan tubuh Yoona yang berjalan kesana kemari untuk mengambil sesuatu ataupun melakukan sesuatu hal kecil di depannya. Dan kemeja putih Changwook yang kebesaran di tubuh Yoona benar-benar membuatnya gemas dan ingin menerkamnya saat itu juga, andai saja bisa, dia akan memberikan  semua kemeja putih miliknya memenuhi lemari gadis itu.

“Kekasihmu sudah menunggu di meja makan oppa.” Sahut Yoona yang berada di ambang pintu hendak keluar. Bukan kekasih seperti yang kalian pikirkan, melainkan Ravioli makanan khas Italia dengan tambahan parutan keju di atasnya.

Changwook mengangguk yang disambut dengan senyuman Yoona sembari menutup pintu. Hanya beberapa detik kemudian Yoona kembali menimbulkan kepalanya di ambang pintu.

“Kau melupakan sesuatu?” Tanya Changwook, Yoona menggeleng.

Happy birthday, honey.” Changwook tersenyum simpul. Yoona kembali menutup pintu, namun membukanya lagi.

What?”

Saranghae… oppa.” Selesai Yoona sembari mengedipkan satu matanya dan kali ini benar-benar menutup pintu kembali ke dapur.

Disisi lain Changwook sudah tertawa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah gadisnya itu. Hah, betapa dia sangat mencintai gadisnya itu. Dia berharap selamanya akan mendengarkan kalimat sakral dari Yoona setiap pagi atau bahkan setiap waktu.

Tapi, akankah keadaan memberikan mereka kesempatan seperti itu?

Changwook menghela napas sembari melihat ke arah jendela yang disuguhi dengan aristektur-aristektur kuno  bangunan Roma yang sangat menakjubkan.

Seandainya saja, hati ini tidak berpihak pada Yoona, mungkin semua akan berjalan dengan lancar.

Seandainya saja, hati ini tidak memilih Yoona, mungkin tahun selanjutnya dia masih bisa melihat pemandangan kota Roma dengan tenang bersamanya.

Seandainya saja, dia tidak jatuh cinta pada sepupunya sendiri. Mungkin semuanya akan baik-baik saja.

***

Jangan tanyakan seberapa besar Yoona mencintai Changwook seperti Changwook mencintai dirinya. Dia akan menjawab, ‘Seberapa besar kau mencintai ibumu, seperti itulah aku mencintai Changwook dalam hatiku’.

Pemilik hati pertamanya dan akan menjadi yang terakhir kalinya.

Itulah sumpah dirinya saat di hadapan Tuhan. Sekaligus permohonan maaf karena telah jatuh cinta pada sepupunya sendiri.

Ya, sepupunya sendiri.

Ji Changwook adalah sepupunya dari keluarga ibunya.

Dan cinta itu berlangsung sudah sekian lama.

Saat pertama kali Yoona mengenal kasih sayang, saat pertama kali Yoona mengenal perasaannya pada lelaki, saat pertama kali pula Yoona mengenal senyuman lelaki yang bisa membuat jantung Yoona tidak baik. Semua itu ia rasakan pertama kali untuk Changwook, sepupunya sendiri, dan puncaknya saat dia duduk di bangku pertama sekolah menengah atas.

Awalnya tidak ada yang mengetahui hubungan mereka. Entah bagaimana Yoona dan Changwook sangat pandai menyembunyikan hubungan mereka, terlebih lagi saat Yoona dan Changwook tinggal di atap yang sama.

Saat itu, Yoona mendapat promosi pekerjaan dari seorang chef senior ditempatnya bekerja di restoran Alberto Ciarla di Roma bahwa dia akan di pindah tugaskan kembali ke negaranya di salah satu restoran mewah yang berada di Seoul sebagai kepala Chef menu hidangan utama.

Ya, dia seorang Chef. Seorang Chef masakan Italia. Kesukaannya terhadap Spaghetti membuat dia ingin mempelajari sihir apa yang berada di dalam makanan kesukaannya itu sehingga dia pergi ke Roma untuk belajar dan bekerja di sana. Dan promosi yang di dapatkannya sangat sempurna untuk membangun impiannya membuka restoran Italia di kampung halamannya.

Berhubung restoran miliknya  dengan tempat tinggal orang tuanya di kota yang berbeda, Yoona memutuskan untuk meminta izin tinggal di rumah samchon-nya yang tidak lain adalah rumah Changwook. Saat itulah hubungan keduanya semakin dekat dan bertekad untuk meyembunyikan hubungan mereka dengan keluarganya.

Sifat Yoona yang ceria dan sifat Changwook yang tenang tidak membuat keluarga mereka curiga dengan hubungan mereka. Mereka menjalani hubungan kekasih dengan sangat baik seperti orang lain yang sedang mengalami mabuk cinta. Tapi keluarganya tidak buta bagaimana aura di mabuk asrama di sekitar mereka berdua.

Yoona pikir itu baik-baik saja, sampai suatu hari kakaknya, Im Woong Jae, mendatangi tempatnya bekerja dan bertanya langsung hubungan dirinya dengan Changwook. Yoona memberitahunya. Semuanya. Karena dia pikir, kakaknya akan mendukungnya.

Setidaknya ada satu keluarganya yang bisa mendukung hubungan mereka.

Yoona ataupun Changwook sangat tahu bahwa hubungan mereka sangat bisa menghancurkan keluarga mereka. Menuai badai dalam keluarga mereka. Terlebih lagi Changwook yang sangat memperdulikan keluarganya. Tidak jarang bahwa mereka membahas topik pembicaraan ini yang selalu berujung dengan kekecewaan. Yoona yang selalu keras kepala kalau mereka akan tetap bersama pada akhirnya, dan Changwook yang selalu tenang dengan pemikiran matangnya yang tak bisa melihat keluarga yang harmonis akan hancur dengan satu kata, pengakuan.

Walaupun mereka tinggal di atap yang sama bukan berarti mereka bisa leluasa untuk bermabuk cinta, mereka harus berhati-hati apalagi untuk bertemu yang akhirnya mereka mempunyai kesepakatan untuk memiliki liburan tersembunyi pada saat musim gugur dan musim dingin di Roma. Mereka membuat alasan masing-masing, Yoona ingin mengunjungi profesornya ataupun temannya sedangkan Changwook beralasan seperti biasa memakai jadwal pekerjaan sebagai Pilot yang memiliki jadwal terbang ke Roma.

Seperti sekarang.

Mereka duduk meringkuk bersandar di sofa dalam satu selimut menonton anime kesukaan Yoona.

Mereka ingin berada disininya selamanya. Menginginkan seperti ini selamanya, tanpa memikirkan apapun yang akan memisahkan mereka. Tapi tetap saja tidak bisa, karena keluarga selalu berada di hati masing-masing mereka.

“Ini yang keberapa?” Tanya Changwook yang memainkan jari-jari lentik Yoona, memastikan sudah berapa kali kekasihnya ini memutar anime Kimi No Na Wa kesukaannya.

“Hmm… Lima-belas, maybe?” Jawab Yoona menyengir  tampak ragu, karena sesungguhnya dia tak pernah menghitung berapa kali dia menonton anime ini. Its too much.

“Ck.. dasar.” Changwook menoyor  dahi Yoona main-main. “Aku yakin otakmu itu isinya penuh dengan anime dari pada resep-resep masakanmu.”

Aniyo!” Jawab Yoona tak terima, dia mengalihkan pusat perhatian pada Changwook sekarang.

“Raviolimu terlalu asin.” Tambah Changwook mempropokasi Yoona.

“Yah!”

“Hahaha!” Changwook tertawa. Sebenarnya, dia cuman ingin mengganggu perhatian Yoona pada anime di depannya, ternyata berhasil. Dia mencubit pipi Yoona, “Aku bercanda, masakanmu sangat enak. Lebih enak dari masakan master chef kesukaanmu itu, Gian..Gian..”

“Gianfraco Chiarini.”

Yoona menyelesaikan kalimat Changwook dengan semangat. Bagaimana dia tidak semangat, Gianfraco Chiarini adalah juru masak Italia yang sangat terkenal di seluruh dunia, suatu saat dia ingin belajar langsung dengan juru masak favoritnya itu.

“Ah! Oppa, kau tahu, tadi saat aku belanja di departemen store hotel aku tidak sengaja melihat seorang lelaki yang di tampar wanita dengan sangat kuat.” Cerita Yoona semangat sampai membuat gerakan menampar dengan tangannya.

Changwook mendesis ngeri mendengarnya. “Lelaki itu pasti sangat malu.”

Yoona menggeleng tak setuju. “Dia bahkan tersenyum dan berterima kasih pada wanita itu.”

“Dia pasti gila.” Respon Changwook.

“Ya, mungkin.” Balas Yoona yang diiringi dengan tawa mereka berdua. Tapi dibalik cerita itu semua, Yoona tak memberi tahu Changwook kalau dia bertemu lagi dengan lelaki itu tanpa disengaja di toko buku bahkan di cafe saat membeli kopi.

***

 

Cheongdamdong, Seoul.

Musim semi tahun selanjutnya benar-benar membuat Changwook kacau. Bagaimana tidak, sepulang dia dari jadwal penerbangannya di Nagasaki, tanpa basa-basi ayahnya menyuruhnya untuk menikah dengan salah satu anak temannya.

Bagaikan di sambar petir dia berdiri mematung di hadapannya. Yoonalah yang pertama kali di terlintas dalam pikirannya.

Abeoji-“

“Tidak ada penolakan, Changwook.” Suara tegas penuh perintah dari bapak jenderal Ji Jin Hae berpangkat tinggi yang tak lain ayah Changwook. “Namanya Park Minyoung, dia seorang guru di sekolah taman kanak-kanak.”

Ab-Abeoji, kau seharusnya meminta persetujuanku. Ini menyangkut masa depanku.” Protes Changwook tak terima.

“Masa depanmu?!” Mimik wajah Ji Jin Hae seketika berubah, sorot matanya seakan menindas Changwook. “Kau ingin mengatakan kalau kau ingin menjalankan masa depanmu dengan Yoona?!”

Habis. Habis sudah kebohongan mereka. Ji Changwook terkejut setengah mati.

Abeoji… tahu?” Tanya Changwook terbata.

“Ibumu tidak mengetahuinya.” Kata Ji Jin Hae menghiraukan pertanyaan Changwook. “Orang tua Yoona juga tidak mengetahuinya. Jangan membuatku berbuat hal yang tak seharusnya Changwook. Kau anak tertua di keluarga ini, kau seharusnya yang paling memikirkan keluarga ini. Bukan sebaliknya, kau bisa menghancurkan keluarga ini semudah kau membalik telapak tangan dalam sekejab!”

“Aku selalu memikirkannya abeoji, setiap detik.” Jawab Changwook berbisik tapi cukup untuk di dengar.

“Tapi kenapa kau tidak berpikir logis. Dia sepupumu! Im Yoona sepupumu. Anak dari adik ibumu! ” Teriak Ji Jin Hae, dia bahkan memukul meja di depannya dan memijat pelipisnya.

“Karena aku tidak bisa mengontrol perasaanku pada Yoona abeoji. Aku mencintainya, dan Yoona juga mencintaiku.” Jawab Changwook penuh kesungguhan.

“Persetan semua itu, Changwook!” Balas Ji Jin Hae melotot ke arah Changwook yang membuat Changwook terkejut, seumur hidupnya, baru kali ini dia melihat ayahnya begitu marah.

“Aku sangat kecewa padamu.” Ji Jin Hae menarik nafas dalam, “Lusa adalah pertemuan keluarga dari ibumu, dan aku sudah mengundang keluarga Park untuk datang. Aku tidak mau mendengar alasanmu, siapkan dirimu. Juga… aku sudah memberi tahu Yoona tentang pernikahanmu.” Selesai Ji Jin Hae memandang tegas wajah Changwook yang sudah pucat mendengar kalimat terakhir ayahnya.

Changwook menarik napas lalu membuangnya perlahan, matanya tertutup diiringi usapan telapak tangan ke wajahnya. Hatinya sangat hancur sekarang.

Abeoji-“

“Keluar dari ruanganku sekarang, Ji Changwook.”

Baiklah, tidak ada yang bisa membantah ucapan ayahnya, bahkan ibunya sekalipun. Ayahnya terlalu keras, mungkin itu salah satu yang membuat ayahnya menjadi seorang jenderal berpangkat tinggi.

Changwook keluar dari ruang kerja ayahnya yang di sambut dengan tatapan Yoona yang berada di seberang ruang dari tempatnya berdiri.

Yoona tersenyum, senyuman yang pertama kali Changwook tak bisa mengartikannya.

Maaf… Im Yoona.

***

Hari yang ditakutkan Yoona akhirnya datang, pertemuan keluarga ibunya. Ini bukanlah pertemuan keluarga ibunya yang pertama kali. Keluarga mereka sering mengadakan pertemuan untuk mempererat kekeluargaan mereka. Hal inilah yang sangat di cintai Yoona ataupun Changwook dari keluarga mereka, mereka akan bergantian untuk mengadakan pertemuan ini, baik dari keluarga ibu Yoona ataupun keluarga ayah Changwook.

Keluarga besar yang sangat harmonis.

Yoona bertingkah seperti biasanya, sifat ceria yang ia miliki sangat menghidupkan suasana dalam keluarga ini. Dia banyak bercerita tentang bagaimana dia Roma dan teman-temannya yang berada di sana, menceritakan bagaimana restoran miliknya yang ramai, membual bahwa dialah chef yang paling hebat di seluruh dunia.

Terkecuali Changwook yang tiba-tiba menjadi pendiam, dia hanya tersenyum ataupun hanya memberikan jawaban seadanya kalau samchon-nya Jung Yonghwa suami dari adik bungsu ibunya, Seo Joohyun, memintanya untuk menemani bermain baseball. Ataupun menjawab seadanya kalau imo-nya, Seo woo-ibunya Yoona, menanyainya tentang kabarnya, ataupun sepupunya Jung Changwoo yang menanyainya tentang bagaimana pramugari-pramugari cantik di pesawatnya. Ataupun sepupunya yang lain Bae Juhyun dan Bae Suzy-anak dari Bae Soobin suami dari adik ibunya juga yang bernama Seo Yu Kyung-yang memintanya  untuk memainkan gitar, semua itu hanya ia jawab dengan seadanya.

Terlebih lagi saat dia bersama dengan Park Minyoung. Dia hanya mengangguk atau mengatakan ‘Iya’ ataupun jawaban singkat lainnya pada Minyoung. Bagaimana bisa dia fokus pada Minyoung, kalau mata dan pikirannya hanya tertuju pada Yoona yang berada tidak jauh di depannya.

Dia tersenyum, melihat Yoona yang kewalahan meladeni adiknya Im Na Yeon dan kakaknya Im Wong Jae serta adik-adik Changwook Ji Taeyong dan Ji Jungkook merengek untuk di buatkan waffle.

Unnie, sekali ini saja. Apa kau tidak tersentuh melihat wajah-wajah memelas kami.” Kata Na yeon  memohon menyatukan kedua tangannya yang di ikuti oleh sepupu-sepupu kesayangannya dengan mata berkedip. Oh, betapa manisnya.

“Ayolah noona, aku sekarat ingin memakan waffle mu.” Bujuk Jungkook.

“Ayolah Yoona, buatkan kami waffle strawberry terbaikmu.” Kata Im Wong jae membujuk ikutan memelas.

“Oppa!” Desis Yoona kesal. “Ck, Ahrasseo! Ahrasseo! Aku akan membuatkannya.” Kata Yoona menyerah yang diikuti teriakan menang dari pasukan yang menyerangnya bahkan tawa dari para orang tua mereka, termasuk Changwook yang bertatapan dengannya.

“Silahkan duduk yang manis di meja makan para tuan putri dan pangeranku.” Perintah Yoona dengan suara yang dibuat-buat seolah dia pelayan kerajaan.

“Oke!!!!”

Setidaknya, hatinya bisa sedikit terhibur dari para sepupu-sepupu manisnya ini.

Seandainya keluarganya tahu, betapa sangat sulit dia memerankan kalau dia baik-baik saja saat ini. Dia sangat ingin mengatakan bahwa Changwook adalah miliknya, betapa sangat sakit hatinya saat wanita lain memperhatikan Changwook dan tersenyum pada Changwook. Betapa dia sangat ingin  mengatakan pada ayah Changwook kalau dia sangat mencintai Changwook.

Apakah ini akhir dari hubungan mereka?

Apakah ini akhir dari kisah cinta mereka?

Saat semua keluarga sedang asyik menikmati waffle strawberry buatan Yoona di ruang keluarga. Yoona menghampiri Changwook yang berada di halaman belakang rumah. Dia menatap punggung lelaki yang sangat dicintainya itu penuh kerinduan sebelum menghampirinya  dan menawarkan waffle.

“Waffle keju, aku membuatkan yang berbeda untukmu.” Kata Yoona, sangat tahu kalau Changwook tidak suka dengan strawberry.

Changwook menerima, lalu meletakkannya di meja terdekat halaman belakang. Dia menahan Yoona yang ingin kembali ke dalam. Dia menatap mata Yoona dengan lekat, seakan-akan itu adalah hidupnya. Betapa sangat sakit hatinya membayangkan bahwa dia akan kehilangan gadis dihadapannya ini.

Aku sangat mencintai gadis ini. Batin Changwook.

“Aku nggak menginginkan ini, Yoona.” Seru Changwook membuka suara.

“Lalu kau harus mengatakan pada samchon untuk menolak pernikahannya.” Jawab Yoona lantang.

“Sudah kulakukan. Tapi dia seperti orang tuli yang tidak mendengarkanku.”

“Aku tahu. Aku tahu samchon tidak akan mendengarkannya. Maka dari itu oppa harus lebih berusaha untuk meyakinkannya.”

“Itu tidak akan berguna.” Changwook tersenyum miris, betapa dia sangat mengenali watak ayahnya, jika sudah memutuskan maka itu harus terjadi.

“Aku tidak tahu ternyata oppa sangat pengecut.” Kata Yoona sinis. “Aku bahkan meragukan dirimu sekarang. apakah oppa mencintaiku?”

“Pertanyaan macam apa itu?!” Kata Changwook meninggikan suaranya, dia sangat marah Yoona menanyai dirinya hal seperti itu. “Aku sangat mencintaimu, Yoona. Hanya saja aku tidak ingin menghancurkan keluarga yang sudah memberiku kebahagian, memberiku kehangatan dan memberikanmu untukku. Aku tidak ingin melalakukannya. Aku harus bagaimana.. Yoona, aku tidak ingin kehilanganmu.. Aku benar-benar ingin bersamamu.. Tapi aku nggak bisa..” Ucap Changwook hampir berbisik. Dia menatap lekat mata Yoona yang sudah berbinar dengan air mata. Berharap dia akan mengerti.

Dan sekarang dia menjadi pria brengsek karena membuat gadisnya menangis. Changwook membekap wajah Yoona, menghapus air matanya yang menetes dengan ibu jarinya penuh kelembutan.

“Jadilah egois, untuk sekali ini saja oppa. Please…” Yoona melihat mata Changwook dengan tatapan memohon. Berharap dia bisa merubah kebaikan hati lelaki ini untuk kepentingannya sendiri dan untuk dirinya. Untuk mereka.

Tapi Changwook hanya diam.

“Jika kau tidak ingin mengatakannya pada mereka, biar aku yang akan memberitahu mereka tentang hubungan kita.”

“Yoona, apa kau gila?!”

“Ya, aku gila. Aku gila karena kau pengecut!” Kata Yoona penuh penekanan, Dia menarik napas, “Oppa, bukan hanya kau saja yang takut untuk kehilangan keluarga, aku juga! Mereka juga hidupku, mereka yang membawaku ke dunia ini, jadi jangan seolah-olah hanya kau yang takut kehilangan mereka!” Kata Yoona tersengal, “Oppa, kehilangan mereka adalah hukuman dari perbuatan kita. Kau seharusnya tahu, saat pertama kali kita memulai hubungan ini.”

“Maaf oppa, aku bukan perempuan yang akan mengatakan bahwa aku bahagia jika melihat orang yang kucintai bahagia. Aku bukan orang munafik yang mengatakan seolah-olah aku bahagia tapi kenyataannya hatiku menangis. Aku bukan org seperti itu.”

“Aku akan mengatakannya pada mereka. Aku akan mengatakan semuanya pada mereka.” Kata Yoona dengan lantang membuat Changwook terkejut.

Sebagian dari diri Changwook sangat menginginkan ini tapi sebagian dirinya yang lain dia benar-benar tidak ingin melihat keluarganya hancur karena dirinya. Terlebih lagi bagaimana respon ibunya? Ibunya pasti akan sangat terkejut, dia tidak ingin membuat penyakit jantung ibunya kumat dan dapat membahayakan kesehatan ibunya.

Yoona melepaskan tangan Changwook dari wajahnya. Dia meninggalkan Changwook yang bergelut dengan pikirannya sendiri, dia tidak perduli lagi. Jika dia ingin bersama dengan Changwook, maka dia harus menanggung resikonya untuk kehilangan keluarganya.

Hanya beberapa langkah lagi Yoona sampai di ruang keluarga, dia bahkan bisa melihat betapa wajah-wajah bahagia keluarganya yang tersenyum dan tertawa satu sama lain. Hanya beberapa langkah lagi dia akan merubah senyum dan tawa keluarganya menjadi malapetaka dengan pengakuannya.

Beberapa langkah lagi…

Hanya beberapa langkah lagi… namun kakinya terhenti ditempat saat Changwook berjalan cepat melewatinya  begitu saja dan berdiri dihadapan keluargaya dengan napas memburu sehingga membuat semua keluarganya menghentikan kegiatan masing-masing berganti memusatkan semua perhatiannya pada Changwook.

Tidak ada yang berbicara, semuanya menunggu apa yang akan di katakan oleh Changwook. Yoona yang berdiri menatap punggung Changwook tersenyum, berpikir karena akhirnya Changwook merubah pilihannya dan akan mengatakan semuanya pada mereka.

Tapi…. Apa yang dikatakan oleh Changwook selanjutnya, benar-benar mengejutkan Yoona, senyumnya memudar begitu saja, dunianya hancur saat itu juga…

“Aku akan menikahi Minyoung.”

Ucap Changwook dengan napas memburu. “Aku akan menikahi Park Minyoung, abeoji.” Ulangnya dengan lantang.

Tidak ada yang bersuara, semuanya terlalu mengejutkan. Waktu seakan berhenti untuk Yoona yang mematung seperti tersambar petir. Katakan semua itu adalah tipuan, katakan semua itu hanya lelucon april mop untuk membodohi Yoona.

Katakan itu Changwook. Yoona menjerit dalam hatinya, kakinya terlalu lemas bahkan tatapannya kosong menatap kejadian tepat dihadapannya. Dia salah, dia bodoh karena berpikir Changwook akan melakukan apa yang akan ia lakukan, dia bodoh karena sesungguhnya dia sangat tahu bahwa hati Changwook terlalu baik dan tidak akan mungkin melakukan itu.

Im Wong Jae lah yang pertama kali menyadari situasinya, dia langsung berdiri dari tempat duduknya ketika mendengar ucapan Changwook dan melihat adik kesayangannya yang berdiri mematung seperti orang bodoh menatap lelaki yang sudah membodohinnya.

“Ah! Yoona-ah, bisakah oppa meminjam dvd yang kau ceritakan pada oppa kemarin?” Tanya Wong Jae mengalihkan perhatian, Yoona tak merespon.

“Im Yoona!” Panggil Wong Jae lagi, “Yah! Im Yoona! Bisakah kau tunjukkan dimana kau meletakkannya?” Yoona masih tak bergeming, otaknya teralu bodoh merespon hal lain.

Dengan geram Wong Jae menarik lengan Yoona dan menggeretnya seperti anak anjing yang mengikut tanpa protes. Sedangkan yang lain sudah berceloteh ria memberi selamat ataupun menggoda Changwook ataupun Minyoung.

Tidak sedikitpun mata Changwook meninggalkan tatapannya pada Yoona yang di tarik Wong Jae dengan wajah tertunduk sampai menghilang di balik pintu kamarnya. Dia sangat tahu bahwa hati gadisnya sangat terluka karenanya, sama seperti hatinya yang hancur karena perbuatannya, dia kehilangan gadisnya. Lalu pandangannya beralih ke ayahnya yang juga menatapnya penuh sesal.

Maafkan aku, Yoona. Maaf, aku tidak bisa membiarkan keluarga ini hancur, karena aku tahu, kau juga tidak akan bahagia jika melihat mereka seperti itu walaupun kita bersama.

Dibalik pintu kamar temaram, untuk pertama kalinya seorang gadis ceria bernama Im   Yoona menangis tersedu dalam pelukan kakaknya, Im Wong Jae.

***

Hembusan angin yang berasal dari selatan berhasil menerbangkan dedaunan kering menjauh dari tempatnya berasal. Dan hembusan angin itu pula yang menandakan musim gugur akan segera tiba.

Musim gugur.

Yoona yang berniat berjalan-jalan sore menikmati semilir angin menghentikan langkahnya di jalan setapak. Dia tak melakukan apapun, hanya membiarkan angin membelai kulit dan menerbangkan rambutnya. Matanya terpejam merasakan bagaimana angin menyapu wajahnya.

Musim gugur. Musim dimana salah satu perjanjian pertemuan tersembunyi dirinya dengan Changwook yang sekarang hanya menjadi harapan semata.

Tidak akan pernah terjadi lagi.

Tidak saat Changwook akan menikah dengan Park Minyoung dalam waktu seminggu.

Waktu berlalu begitu cepat. Secepat kau mengedipkan mata. Dia tak percaya musim dingin yang lalu dirinya masih dalam pelukan Changwook dan sekarang lelaki itu memeluk wanita lain.

Bagaimana miris.

Kisahnya tak seperti cerita-cerita yang berada dalam dongeng yang ia baca. Dimana pangeran dan putri akan hidup bahagia selamanya setelah melalui masa-masa sulit mereka.

Happily ever after, apakah benar-benar ada dalam kehidupan nyata?

Jika ada, tolong Tuhan, ijinkanlah dia untuk merasakannya sekali saja.

Bukankah selama ini dia juga sudah merasakan hal-hal sulit saat berhadapan dengan Changwook?

Seperti saat berpapasan dengan Changwook bersama Min Young.

Berpapasan saat Yoona melihat Changwook bergandengan dengan Min Young tepat di depan matanya, atau saat dimana Changwook menggoda Min Young yang sedang memasak membuatkan Ravioli keju kesukaannya.

Itu sudah menjadi hal terberat untuknya, karena dia harus berpura-pura manis yang menyetujui hubungan mereka. Dan hanya ada satu cara untuk menghindarinya dengan dia menyibukkan dirinya berada di restoran ataupun sekedar kumpul dengan temannya untuk menghindari Changwook.

Lelaki yang sangat baik hati, namun pengecut disaat yang bersamaan.

Apakah lelaki itu pernah berpikir apa yang dilakukan Minyoung itu adalah tempatnya dulu? Atau malah tidak sama sekali terpikirkan oleh lelaki itu.

Dan seakan menyempurnakan kehancuran hati Yoona, Changwook meminta Yoona untuk menjadi pengiring pengantin wanita untuk Minyoung yang hanya bisa diterimannya begitu saja.

Yoona menghela napas panjang sebelum kembali berjalan kembali ke restoran miliknya.

“Oh noona, kau kembali?” Tanya Koo Junhoe heran begitu melihat bos mereka membuka pintu restoran.

Yoona tersenyum. “Aku pikir kau akan langsung pulang dan kembali besok.” Lanjut Junhoe salah satu pelayan restoran miliknya.

Yoona menggeleng dan mulai berjalan tapi terhenti saat melihat satu-satunya karyawan primadonanya merenung di meja membuatnya bertanya-tanya.

“Kenapa Ji Soo?” Tanya Yoona pada Junhoe.

“Seperti biasa, noona.” Sambar Hanbin yang tiba-tiba muncul dari pantry. “Tuan putri Seo Ji Soo ini sedang gelisah memikirkan perasaannya yang harus memilih antara aku dan kekasih gelapnya itu.” Lanjutnya dengan penuh percaya diri membuat Yoona dan Junheo tertawa.

“Wow, pesonamu sungguh luar biasa.” tambah Yoona tertawa kecil yang tak bisa menahan lucu.

“Ngawur, ya nggak lah unnie. Mulut comberan Hanbin dipercaya. Dia itu cocoknya dipanggang hidup-hidup di oven barengan Ji Won tuh sekalian.” Jawab Ji Soo  sewot.

“Aku kena lagi. Aku sudah diam ya, Ji soo.” Protes Ji Won yang tak jauh dari mereka membersihkan meja.

“Diam apanya, kamu dari tadi mulai datang-ralat,mulai dari lahir-sampai sekarang juga mulutmu itu kayak nenek sihir. Bilang inilah, bilang itulah. Jadi lelaki itu cool dikit, biar laku kamu Won.” Ejek Ji Soo membalas.

“Emang kamu sudah laku?” Timbal Junheo melipat tangan di depan dada membuat Yoona sarkatis dan saling melempar pandangan dengan Hanbin dan Ji Won merasa tersindir, lalu mereka memandang Junheo dengan tatapan perang.

“Ups, keceplosan.” Seru Junhoe membuang muka, salah tingkah yang di ejek Ji Soo dengan senang hati.

Single for my status. But heart, its already take it.” Seru Hanbin bangga.

Who’s?” Ucap Yoona, Junheo, Ji Won serentak, kaget.

“Seo Ji soo.” Jawab Hanbin lancar.

“Oh Shit!” Respon Ji Soo dengan sangat cepat melempar celemek kotor ke wajah Hanbin, menolak.

“Hahahaha!”

Ternyata memang tidak salah Yoona memutuskan untuk kembali ke restoran. Dia sudah sedikit merasakan hidup kembali. Ya, walaupun tidak sepenuhnya, tapi, karyawan-karyawan yang sudah dianggapnya seperti keluarga ini sudah berhasil membuatnya tersenyum. Terlebih lagi Ji Soo, karena dia wanita satu-satunya yang bekerja direstoran miliknya, dia sudah menganggap Ji Soo seperti adiknya sendiri, saling bertukar cerita ataupun bertukar cara pandang. Dan apa yang paling mengejutkan, Seo Ji Soo memiliki kisah cinta yang menakjubkan, dia tidak menceritakan kepada para karyawan yang lain, karena itu rahasia wanita. Dia hanya ingin tahu, pada siapa hatinya akan berlabuh, apakah dari salah satu karyawannya, atau lelaki tampan dan lucu yang Ji Soo bicarakan.

Dan mereka semualah yang sudah berjuang bersama Yoona dari awal dia membuka restoran Italia miliknya.

“Bagaimana kalau kita minum-minum malam ini?” Ajak Yoona yang mendapat respon dengan wajah dahi berkerut dari para karyawannya. “Restoran kita tutup malam ini.” Lanjut Yoona yang dibalas sorak kegirangan dari para fans.

Yoona tertawa melihat tingkah mereka, dengan secepat kilat mereka bergerak untuk siap-siap menutup restoran, merapikan semua meja dan kursi, menurunkan tirai, dan Yoona membantu membalikkan kata ‘open’ menjadi ‘Clossed’di pintu masuk.

“Maaf, kami sudah tu-“ Yoona menggantungkan kalimatnya saat melihat lelaki yang muncul dari pintu masuk restoran.

“Changwook hyung, dari mana saja kau jarang datang sekarang.” Sapa Ji Won begitu melihat Changwook sudah berdiri di depan Yoona. Changwook hanya membalas senyum dan jawaban singkat.

“Hai.” Sapa Changwook lembut pada Yoona, mencoba menggapai puncak kepala Yoona untuk mengacak rambutnya seperti biasa namun di tolak Yoona dengan mundur selangkah yang membuat Changwook sadar, mereka tak seperti dulu lagi.

“Kami sudah tutup, kau bisa kembali besok.” Ucap Yoona sinis.

“Bisakah aku berbicara denganmu sebentar?” Tanya Changwook penuh harap.

“Kau bisa mengatakannya dirumah.” Jawab Yoona acuh meninggalkan Changwook dengan berpura-pura sibuk menata meja bar di sampingnya.

Changwook menghela napas panjang. Dia melirik Ji Soo dengan tatapan meminta untuk meninggalkan mereka berdua yang di balas Ji Soo dengan anggukan mengerti dan membawa teman-temannya yang lain.

Setelah Ji Soo dan yang lainnya keluar, Changwook menghentikan gerakan tangan Yoona yang sibuk melakukan sesuatu digantikan dengan amplop putih persegi panjang bertuliskan ‘Le Cordon Blue’ di telapak tangannya.

“Kau berencana pergi? Kau berencana meninggalkanku?” Tanya Changwook pelan.

“Meninggalkanmu?” Yoona tersenyum simpul membalas tatapan Changwook. “Kuingatkan, siapa yang duluan meninggalkanku yang menjadi pengecut untuk menikah dengan wanita lain.”

Changwook diam.

“Jadilah lelaki yang selalu memegang kata-katanya. Kau memilih menikahinya, kan? Maka lakukanlah sampai akhir. Jangan membuatku menjadi brengsek yang akan merebut calon suami orang lain.” Lanjut Yoona sinis lalu membalikkan tubuhnya, meletakan siku di atas meja bar, mengusap wajahnya.

Changwook menatap Yoona lekat, dia menarik napas panjang dan membuangnya perlahan, menyandarkan punggungnya di meja bar menatap pandangan kosong ke depan. “Aku.. sekarat.” Bisiknya.

“Aku sekarat, Yoona.” Ulangnya yang mendapat respon lengusan sedikit dari Yoona. “Aku sekarat merindukanmu. Aku sekarat seakan mati yang tak bisa melihatmu dimanapun mataku berada. Apa kau tahu?” Kata Changwook mulai bercerita.

“Kau hilang seperti di telan bumi setelah pertemuan keluarga itu. Setiap aku pulang dan ingin mencarimu, kau selalu tidak ada dan malah muncul saat Minyoung berada di rumah. Aku datang ke restoranmu kau juga tidak mau menemuiku. Bahkan sekarang kau juga tak sudi untuk melihatku. Apakah kau tahu betapa sulit aku harus berpura-pura bahagia di depan Minyoung?”

“Apakah kau tahu bahwa hatiku sangat sakit saat kau juga tersenyum dan mendukungku dengan Minyoung?”

“Aku tidak punya pilihan lain.” Seru Yoona tiba-tiba menatap marah Changwook. “Kau memilihnya. Aku hanya memerankan peranku sebagai sepupu yang baik.”

“Aku melakukannya untuk kebaikanmu.” Kata Changwook merubah sisi tubuhnya menghadap ke Yoona. “Aku nggak mau kau menyesal nantinya.”

“Kalau begitu lakukanlah apa yang menurutmu benar, karena semua demi kebaikanku, bukan? Bahkan tanpa harus kau bertanya padaku, apakah itu baik untuk hatiku.” Jawab Yoona sebelum bergerak meninggalkan Changwook yang lebih dulu menarik tangannya untuk berhenti.

“Kau-“ Ucapan Changwook terhenti ketika melihat pintu restoran terbuka dan seorang lelaki muncul yang langsung tersenyum begitu melihat Yoona.

Yoona melepaskan tangan Changwook yang memegang pergelangan tangannya, dan menghampiri lelaki itu. “Hai.”

“Hai. Apa aku mengganggu-kalian?” Tanyanya sembari melihat Yoona dan Changwook secara bergantian.

“Tidak sama sekali.” Yoona menggeleng pelan yang diikuti dengan senyum manisnya.

Percayalah saat itu juga Changwook ingin menendang selangkangan lelaki itu. lelaki yang telah membuat Yoona tersenyum manis pada lelaki selain dirinya. Changwook mengepalkan tangannya, dia melihat ke Yoona penuh keamarahan sebelum pergi meninggalkan mereka.

***

 

Spring, Seoul.

Dua tahun kemudian.

Tak terasa waktu benar-benar cepat berlalu. Hari berganti hari, bulan berganti bulan bahkan tahun berganti dengan sangat cepatnya. Sudah dua tahun sejak Yoona terakhir kali berada di Seoul sebelum memilih untuk pergi meneruskan impian untuk belajar langsung bersama chef impiannya di Le Cordon Blue bersama Gianfraco Chiarini.

Ya, akhirnya dia memilih pilihan itu, dan pergi tepat di hari pernikahan Changwook dan Minyoung. Bohong jika dia bisa bertahan di ruang kesedihannya disaat orang yang ia cintai menikah dengan orang lain yang mengharuskan dirinya menjadi pengiring wanita.

Dia nggak bisa.

Walaupun dia sudah berkata ‘Ya’. Lebih baik kabur, dari pada harus menyakiti diri sendiri dan membuatnya sesak sepanjang hidupnya.

Itu pilihan terbaik.

Setahun yang ia jalankan di negeri orang dia benar-benar fokus dengan impiannya, dia berusaha keras untuk mendapat hasil jerih payahnya, dan semua itu tidak sia-sia. Hanya beberapa bulan dia belajar, dia sudah bisa mendapat prestasi yang dia inginkan, bahkan namanya sudah terkenal sebagai chef wanita yang sangat popular dalam masakan Italia. Hari-hari kegiatannya tidak luput dari sorotan wartawan sampai hubungan percintaannya dengan seorang pianis bernama, Lee Jonghyun.

Ya, Lee Jonghyun.

Lelaki yang ia tahu secara tidak sengaja di Roma ketika ditampar salah seorang perempuan, lelaki yang tanpa sengaja bertemu di toko buku dan café. Lelaki yang ia datang ke restoran miliknya dan menyelamatkan dari perang perasaan dirinya dengan Changwook.

Changwook.

Bagaimana dengan kabarnya sekarang?

Setahun dia pergi, setahun itulah dia tidak pernah memberi kabar sedikitpun pada Changwook. Dia tak membalas pesan ataupun menjawab telepon Changwook yang membanjiri ponselnya setiap hari sampai akhirnya berhenti dengan sendirinya.

Setahun dia pergi, bukan berarti hatinya juga pergi begitu saja. Walaupun Jonghyun selalu memberinya perhatian dan cinta yang tulus, hatinya tetap mimilih Changwook. Pikirannya selalu berada pada Changwook yang sangat ia rindukan tapi tak bisa dia ungkapkan. Sangat menyesakkan dadanya.

Perempuan Jahat, itulah yang ia pikirkan saat berada dengan Jonghyun tapi hati dan pikirannya selalu pada Changwook.

Jika saja dia bisa memilih, dia akan memilih Jonghyun untuk menjadi pemilik hatinya. Memilih Jonghyun yang tanpa harus merasakan kesakitan untuk merasakan kebahagian. Jika itulah Jonghyun, mungkin sekarang dia sudah menggendong buah hati yang sangat mereka cintai dan hidup bahagia selamanya seperti dongeng putrid kerajaan.

Yoona menghelas napas panjang, menyiapkan dirinya saat mobil yang ia tumpangi bersama Jonghyun memasuki perkaranga rumah samchon-nya yang tak lain rumah Changwook.

Dia kembali, bukan untuk tinggal dirumah itu. Dia kembali hanya untuk berpamitan sekaligus mengambil barangnya yang masih tertinggal. Karena dia akan tinggal di apartemen Jonghyun untuk mengurus pernikahan mereka.

Ya, Yoona akan menikah. Menikah dengan orang yang mencintainya.

“Aku akan menjemputmu begitu aku selesai.” Kata Jonghyun membelai rambut Yoona. Dia mencium pipi Yoona lalu mencubit pelan pipinya untuk menghibur kekasihnya itu yang sedang cemberut karena dia tidak menemani masuk kerumah pamannya karena ada hal yang harus dia urus untuk persiapan konsernya lusa.

Lee Jonghyun tentu saja tahu bagaimana hubungan kekasihnya itu dengan sepupunya yang bernama Ji Changwook. Yoona menceritakan semuanya, dan Jonghyun menerimanya. Hanya saja dia takut bahwa lelaki itu akan memenangkan kembali hati Yoona. Karena dia sangat tahu bahwa Yoona masih sangat mencintai Changwook.

Yoona memanyunkan bibirnya, lalu mengangguk sebelum keluar dari mobil dan masuk kerumah pamannya yang disambut dengan teriakan senang dari Taeyong dan Jungkook yang membanjirinya dengan pelukan.

“Akhirnya malaikat perutku kembali.” Seru Taeyong

“Akhirnya kebahagian perutku kembali.” Sambung Jungkook yang mendapat tawa dari para keluarganya. Samchon dan imonya bergantian memeluk dirinya, hanya Changwook yang berdiri tak bergerak dari tempatnya, hanya menyapa lewat senyumnya.

Mereka makan malam dengan sangat tenang, mengobrol seperti biasa, menanyai kabar Yoona selama di Paris dan banyak hal lainnya terutama pertanyaan-pertanyaan dua sepupunya itu.

Banyak hal yang terlewatkan Yoona mengenai kabar keluarga imo-nya, terutama keberadaan Minyoung yang sekarang tidak berada di sekitar mereka, karena dia meninggal saat melahirkan anak pertamanya dengan Changwook.

Yoona merasa sangat bersalah pada keluarga pamannya karena tidak mengetahui hal itu selama dia berada di Paris. Tentu saja, karena dia menutup apapun hal yang berhubungan dengan Changwook. Dia hanya memberi kabar pada ibu Changwook, Seo Hyun Jin.

“Aku akan menikah, imo, samchon.” Seru Yoona tiba-tiba membuat semua yang berada di meja makan terkejut dan menghentikan semua kegiatannya. Terutama Changwook, yang  menatapnya seakan-seakan bumi akan runtuh.

Ini kedua kalinya keluarga ini mendengar hal seperti ini dengan tiba-tiba.

“Aku kesini untuk memberi tahu itu, dan mengambil barang-barangku yang masih tertinggal disini imo. Maaf aku mengejutkan kalian.” Lanjut Yoona memohon pengertian.

“Aku sudah selesai.” Seru Changwook tiba-tiba berdiri dari tempat duduknya, dia mendorong piring dan meletakkan peralatan makannya. Dia melirik ke Yoona yang juga menatapnya sebelum meninggalkan ruang makan dan kembali ke kamar.

Ji Jin Hae yang menyadari perubahan Changwook berdeham membuat semuanya melanjutkan makan malam mereka. Dia melirik Yoona yang sedang memainkan garpunya lalu melihat istrinya yang juga sedang melihatnya.

Karena sesungguhnya, Seo Hyun Jin sudah mengetahui semuanya, mengetahui hubungan anak sulungnya dengan keponakannya, Im Yoona.

***

Ji Changwook membanting pintu kamarnya cukup keras hingga membuat suara menggema keseluruh kamar tidurnya. Dia duduk di sisi tempat tidur memijat pelipis wajahnya.

Dia merasa marah, sangat marah saat Yoona mengatakan dia akan menikah. Gadisnya akan menikah.

Hah! Betapa miris bahwa sampai sekarang dia masih menyebut Yoona sebagai gadisnya. Karena memang sampai kapanpun Yoona tetap akan menjadi gadisnya, gadis pemilik hatinya.

Pernikahan yang dia jalani dengan Minyoung semuanya terlihat bahagia dan baik-baik saja, dia selalu menghormati istrinya. Dia membahagiakan istrinya, tapi tak memberikan cintanya, karena sesungguhnya hatinya milik Yoona seutuhnya.

Bohong jika dia tidak sengsara dan merasakan kesakitan saat dia tak bisa bersama Yoona dan memilih menikahi Minyoung. Dia menyesal, dia ingin menarik kata-katanya kembali saat itu tapi percuma, semuanya telah terjadi. Dan jika dia membatalkannya, maka dia akan membuat wanita yang baik hati seperti Minyoung akan tersakiti olehnya.

Disaat pernikahannya berlangsung terkutuklah dirinya yang tak melihat Yoona sama sekali. Dia meminta hal yang sangat gila pada Yoona untuk menjadi pengiring pengantin di hari pernikahannya. Dia menyakiti Yoona untuk sekian kalinya, yang dia tahu Yoona pasti takkan menerimanya walaupun Yoona mengatakan ‘Ya’.

Setahun yang ia lalui tanpa sedikit pun dia lewati untuk mencari kabar Yoona yang ia lihat artikel-artikel kuliner masakan Italia. Yoona sangat terkenal, dan dia merasa bangga untuk melihat gadisnya mencapai impiannya. Namun hal yang begitu menyakitnya dirinya adalah ketika melihat gadisnya itu tersenyum bersama pria yang sudah menjadi tunangannya.

Dan apa? Sekarang dia bilang dia akan menikah dengan lelaki itu.

Asshole!

Dia tidak akan menyetujuinya.

Pernah terpikirkan olehnya untuk melupakan semua apa yang pernah terjadi dengan dirinya dan Yoona, mencoba untuk menghilangkan perasaannya pada Yoona dengan mencoba memulai untuk mencintai istrinya. Namun semua itu hanya sia-sia, dia tetap berakhir kembali mencintai Yoona.

Sampai suatu hari ibunya mengetahui semuanya, mengetahui hubungan dirinya dengan Yoona. Dia pikir saat itu juga dia akan kehilangan ibunya, karena ibunya begitu terkejut sampai membuat serangan jantung ibunya kambuh. Tapi dia mencoba menjelaskan dengan perlahan pada ibunya juga ayahnya serta istrinya saat itu yang mengandung anaknya lima bulan.

Changwook tersadar dari lamunannya ketika mendengar suara tangisan anaknya yang berada di kamar sebelah terhubung dengan kamarnya. Dia berdiri dan menghampiri Ji Hyunwoo yang berada dalam box bayi yang merengek tanpa sebab.

Changwook mengambil Hyunwoo dan membawanya dalam pelukannya, menimang dan meninabobokan Hyunwoo dalam dekapannya. Namun entah apa yang terjadi pada Hyunwoo, bayi laki-laki kecilnya itu tidak mau berhenti nangis, Changwook bahkan tak mendengarkan ketika seseorang mengetuk pintunya dan begitu terkejut melihat Yoona yang sudah di ambang pintu.

“Ada yang bisa kubantu, oppa?” Tanya Yoona pelan. Changwook menggeleng dan melanjutkan meninabobokan Hyunwoo.

“Mungkin dia haus.” Lanjut Yoona pelan, namun kali ini dia langsung menghampiri Changwook dan mengambil Hyunwoo pelan dari dekapan Changwook membuatnya kaget, Yoona meletakkan Hyunwoo ke tempat tidur sebelum mengambil botol susu yang berada tidak jauh dri Changwook.

Yoona membantu Hyunwoo meminum susunya sekaligus mencoba mengajaknya berbicara bahasa bayi yang dia hanya asal sebut. Seperti sihir seorang ibu, bayi Hyunwoo kembali diam dan langsung terlelap dalam tidurnya. Yoona memandang wajah mungil Hyunwoo dengan lekat, mirip sekali dengan ayahnya. Changwook junior. Dia tersenyum sebelum bangkit dari duduknya yang langsung berhadapan dengan Changwook.

“Dia sangat manis. Mirip sekali denganmu, oppa.” Kata Yoona tersenyum melihat wajah tidur Hyunwoo yang begitu teduh lalu berpaling melihat ayahnya.

“Aku pamit, oppa.” Lanjutnya sebelum berjalan melewati Changwook.

Namun belum sampai Yoona mencapai pegangan pintu, tiba-tiba Changwook menariknya dan memeluknya erat membuat Yoona kewalahan. Yoona mendorong bahu Changwook mencoba melepaskan pelukannya, namun Changwook membabi buta menguatkan pelukannya, dia bahkan membenamkan wajahnya di lekukan leher Yoona. Menghirup aroma yang sangat dia rindukan.

Bogoshipeo..” Bisik Changwook. “Aku sangat merindukanmu, Yoona.” Ulangnya semakin membenamkan wajahnya. Changwook bahkan mencium sisi leher Yoona membuat wanita itu mematung dan berhenti melawan.

Yoona tak tahu apa yang harus dia lakukan, disisi lain dia juga sangat merindukan Changwook, tapi tidak dalam keadaan seperti ini, tidak disaat dirinya akan menikah. Rencananya bersama Jonghyun akan hancur jika dia goyah. Dia memperingatkan dirinya untuk tidak membalas pelukan Changwook, tapi bahkan saat ia mencoba  melepaskan Changwook lagi, Changwook semakin memeluknya erat.

“Oppa-“

“Maaf… Maafkan aku, Yoona.” Bisik Changwook pelan berharap untuk didengar, “Tolong tetap seperti ini, sebentar saja.” Pintanya dengan sungguh-sungguh, berharap Yoona akan mengerti, namun Yoona tetap pada pendirian, dia mencoba tetap melepaskan pelukan Changwook.

Sampai akhirnya Yoona berhasil melepaskan pelukan Changwook, dia bahkan sudah siap untuk memarahi Changwook namun semuanya terhenti saat Yoona melihat wajah Changwook yang begitu lesu. Bahkan air mata Changwook sudah mengalir dari ujung matanya yang dia hapus dengan punggung tangannya cepat. Seketika hati Yoona seakan tertusuk melihatnya, setalah sekian lama Changwook masih tetap mempengaruhinya.

Mereka saling memandang, menatap penuh kerinduan yang tak terkira. Inilah yang Yoona takutkan. Hatinya bahkan berdetak dengan sangat cepat sekarang. Dia harus pergi, sebelum terlambat. Tapi bahkan sebelum dia bergerakpun, Changwook lebih dulu mendahuluinya, dia menarik wajah Yoona dan menciumnya tepat bibir Yoona bahkan melumatnya dengan lembut.

Lumatan penuh kerinduan. Lumatan penuh dengan hasrat cinta membara yang menyelubungi hatinya. Changwook tidak ingin untuk kehilangannya lagi. Changwook bahkan tak sedikitpun memberi Yoona kesempatan untuk menolak. Dia mendorong tubuh Yoona sampai bersandar ke dinding sambil terus menciumnya.

Yoona sangat terkejut. Otaknya tak bisa berpikir dengan benar saat ini. Bibir Changwook yang melumat saat ini tak sedikitpun berubah seperti dulu, bibir yang sangat dia cintai dulu sampai sekarang. Hatinya mencelos saat itu juga.

Dia kalah.

Dengan perlahan dia membalas ciuman Changwook yang melumatnya begitu mesra. Yoona juga meluapkan semuanya isi hatinya melalui ciuman ini, kerinduan, kesakitan, bahkan penyeselan. Semua menjadi satu. Air matanya begitu saja keluar dari sudut matanya, dia benar-benara merindukan Changwook, mata, hidung, bibir bahkan semua milik Changwook dia sangat merindukannya. Dia bahkan tak bisa bisa berbohong lagi kalau dia masih benar-benar mencintai Changwook.

Lumatan yang membara menghilang menjadi kecupan-kecupan kecil. Napas mereka saling memburu, dahi saling bersentuhan untuk menopang.

“Aku merindukanmu.” Aku Changwook berbisik di bibir Yoona, “Aku benar-benar merindukanmu.”

Satu pengakuan yang berhasil membuat air mata Yoona kembali mengalir. Dia juga merindukannya, tapi kenapa begitu sulit untuk mengatakannya. Hatinya terasa sesak, bahkan isakan mulai keluar dari bibirnya membuat Changwook menatap wajahnya, menghapus air matanya dengan ibu jarinya sebelum menariknya dalam pelukannya.

“Bisakah kita kembali seperti dulu?” Tanya Changwook berbisik, Yoona menggeleng.

“Karena kau akan menikah?” Tanya Changwook lagi, Yoona mengangguk. Bahkan kata-katapun terlalu sulit untuk dia keluarkan.

“Kau bisa menikah denganku.” Ucap Changwook sungguh-sungguh yang membuat Yoona melepaskan pelukannya dan menatap langsung ke Changwook. “Tinggalkan Jonghyun. Menikahlah denganku.” Katanya yng terdengar seperti perintah.

Yoona kembali menggeleng. “Aku tidak bisa. Keluargamu-“

“Mereka sudah mengetahuinya.” Potong Changwook cepat. “Setahun yang lalu, saat musim semi, aku sangat merindukanmu dan aku mabuk. Saat pulang kerumah Minyoung yang menungguku begitu marah karena aku terlalu memikirkanmu hingga mabuk seperti itu, kami bertengkar di ruang keluarga dan membuat ibu dan ayahku mendengar, lalu aku menceritakan semuanya pada ibu.” Jelas Changwook.

Yoona menutup mulutnya tak percaya dan langsung memikirkan kesehatan imonya yang entah kenapa Changwook bisa mengetahuinya dia memikirkan itu. “Ya, saat itu ibuku langsung di bawah kerumah sakit karena serangan jantung, aku hampir membunuhnya, kau tahu?” Changwook tersenyum kecut. “Tapi mulai saat itu aku menjelaskan pada ibuku dengan perlahan dan bagaimana halnya seorang ibu dia sangat mengerti diriku yang tumbuh besar bersamamu sampai perasaan itu tumbuh bersama.” Lanjutnya.

“Aku tidak bisa meninggalkan Jonghyun yang begitu baik padaku. Kita sudah berakhir, oppa.”

“Tidak. Kita tak akan pernah berakhir, saat itu aku salah. Aku terlalu pengecut untuk mengambil langkah yang harus pilih.”

“Aku mencintainya.” Aku Yoona, bohong.

“Kau tidak mencintainya. Kau hanya mencintaiku.” Sangkal Changwook. Dia membekap wajah Yoona, menatap matanya lekat. “Lihat mataku dan katakan kau mencintainya, Yoona.” Tantang Changwook yang membuatnya Yoona hanya terdiam. Tentu saja dia tak bisa melakukannya, karena menatap mata Changwook adalah kelemahannya.

“Aku mencintaimu, Yoona. Aku sangat mencintaimu.” Aku Changwook. “Aku tidak bisa kehilanganmu lagi. Aku tidak akan membiarkanmu menikah dengan lelaki lain.”

“Lalu dimana saat dulu aku membutuhkan keberanianmu, oppa.” Sela Yoona. “Disaat aku yang akan mengakui semuanya, kau bahkan melaju melewatiku begitu saja dan mengatakan kau akan menikahi Minyoung. Kau mengatakan pada mereka seakan-akan kau tidak bisa hidup tanpa dirinya!”

“Maaf.” Sesal Changwook.

“Jika kata maaf bisa mengembalikan hatiku yang hancur saat itu, aku akan mengatakan maaf setiap detik, oppa. Tapi apa? Kau tidak tahu bagaimana perasaanku saat kau mengatakannya tepat didepanku, tepat dihadapan keluarga kita. Kau tidak mengerti.” Ucap Yoona dengan napas tercekat. Air mata sudah membanjiri wajahnya.

“Kau salah. Aku sangat mengerti, karena aku juga merasakannya.” Jawab Changwook yang juga penuh kesakitan, dia kembali mengahapus air mata Yoona dan membawa gadisnya itu dalam pelukannya.

“Menikahlah denganku. Kita akan menghabiskan semua musim untuk bersama. Membuat cerita dengan ‘happily ever after’ seperti cerita di semua anime-anime kesukaanmu. Menghabiskan waktumu bersamaku setiap detik tanpa harus mengkhawatirkan apapun lagi. kali ini aku akan mengatakannya pada mereka, dan aku juga yang akan mengatakan pada Jonghyun. Kau mau melakukannya denganku, kan?” Tanya Changwook penuh harap yang di jawab Yoona dengan anggukan lembut membuat Changwook tersenyum lega.

Changwook melepaskan pelukannya hanya untuk melihat wajah Yoona dengan lekat. “Aku mencintaimu, Im Yoona.” Akunya sepenuh hati,

“Aku juga mencintaimu, oppa.” Jawab Yoona dengan ketulusan yang sama.

Changwook mencium puncak kepala Yoona sebelum membawanya keluar dari kamar dan mengatakan pada keluarganya bahwa wanita inilah yang ia cintai. Dia ingin meminta restu untuk keluarganya.

Bagaimanapun caranya.

***

Hari yang cerah, musim yang cerah.

Menyempurnakan kebahagian dua insan manusia yang saling mengucapkan janji sehidup semati di hadapan Tuhan dengan disaksikan ratusan pasang mata yang juga memberikan mereka restu, termasuk keluarga mereka yang ikut merasakan kebahagian mereka.

Begitu banyak rintangan yang mereka lalui untuk mencapai titik ini. Titik akhir dimana Yoona dan Changwook akhirnya meresmikan hubungan mereka. Menjadi suami istri.

Malam itu, tepat Changwook dan Yoona keluar dari kamarnya, keluarga Changwook bahkan Jonghyun yang datang untuk menjemput Yoona sudah menunggu mereka di ruang keluarga. Bahkan tanpa Changwook dan Yoona jelaskan, mereka sudah mengetahuinya.

Ya, keluarganya menyerah. Dan mereka merestuinya.

Dan Jonghyun, bahkan lebih senang dengan menawarkan diri menjadi pengiring pengantin mereka. Tidak ada yang membuatnya lebih bahagia ketika melihat wanita yang ia cintai menemui kebahagiannya.

“Jadi, hmm, Seo Ji Soo, Apakah kau sudah memutuskan dimana hatimu akan berlabuh?” Seru Kim Hanbin tiba-tiba yang menghampiri Ji Soo yang sedang menikmati makanannya dengan santai.

Seo Ji Soo hampir saja tersedak mendengar ucapan rekan kerjanya itu. Dia melotot pada hanbin dan benar-benar ingin memasukkan garpu kedalam mulut Hanbin yang selalu menggodanya. Tidak bisakah dia hanya diam dan menikmati acara pernikahan bosnya.

Sial, Kim Hanbin benar-benar pengganggu.

Benar-benar pengganggu dan menghancurkan hayalan dirinya bersama pangeran hatinya saat berjalan di altar seperti Im Yoona dan Ji Changwook.

END

 

Holaaaaa!!!

Akhirnya selesai juga ff project dengan tema love pertama versi aku, dan ini sangaaatt panjang, hehehe. Sebelumnya aku minta maaf untuk kak winda karena terus meminta undur untuk pos ff projectku ini dan juga buat teman satu timku karena aku kalian juga harus menunggu untuk mengpos ff kalian, aku sungguh minta maaf *bow*

Dan ini adalah ff comebackku setelah lama fakum menulis ff, semua tulisannya berantakan. Banyak typo, pasangan ini sukses membawaku menjadi korban drama buat shipperin mereka berdua. Nah, untuk cerita, awalnya aku pingin buat ini akan menjadi sad ending karena mereka keluarga, tapi karena aku benci dengan sad ending walaupun itu lebih masuk akal tetep aja aku pingin mereka bahagia. Jadilah begini, hahaha. Dan aku juga sudah bertanya pada teman-temanku bahwa sepupu bisa menikah kalau tidak sedarah dengan saudara ayah atau lebih simpelnya berbeda marga dengan ayah.

Nah, guys, seperti yang aku bilang. Ini adalah FF Project yang dilakukan oleh FFindo bersama para author lainnya untuk memeriahkan kembali blog tercinta kita ini. Kalau Project berarti juga pasti ada hadiahnya kan? Tentu saja ada, bukan untuk para author saja tetapi juga untuk para readers sekalian. Caranya mudah kok, hanya dengan mengikuti project ini tiap minggu dengan memberi komentar-komentar atau umpan balik disetiap postingan ff project para author dan kita akan memberikan kejutan di akhir project kita ini loh, jangan sampai kelewatan ya guys. :*

Akhir kata, terima kasih banyak.

Jangan lupa komentar, like and sharenya, hehehe.

Maaf untuk typo. 🙂

Advertisements

8 responses to “[FFINDO PROJECT] LOVE – HAPPILY EVER AFTER

  1. Akhirnya nemu jg FF Yoonwook diblog.Seneng bgt…ceritanya bgs bgt.Kirain sad ending ternyata happy ending.Salut dgn Yoonwook utk berusaha meyakinkn kluarga mereka hingga akhirnya mereka bisa menikah.Apa project yg akn datang jg dgn cast Yoonwook??

    • project berikutnya sih aku gak bisa bocorin hahaha, tapi itu di akhir cerita aku ada nyenggol dikit buat project selanjutnya… kalo cast yoonwook, aku punya ide buat ffku selanjutnya hahahaha
      terima kasih ari feedbacknyaaa :*

  2. Mithaaaa, uhuuuuy ini casts nya bikin hati miriss, ceritanya sadis, aku jadi meringis 😂😂😂 hancur hancur hatiku ternyata jcw memutuskan untuk nikahin mbak minyoung, trus abis itu lewat setaun, stlh si mbak meninggal, nembak yoona lagi. Aku ngarepnya yoona susah ngasih kesempatan kedua [read: jual mahal]. Kesempatan kedua itu mahal lho mas ichaaang wkwkwk.

    Ide ceritanya cucok mit, cuma lebih enak dibaca kalo lebih rapi. Hihi. Semangat mithaaa 💋💋💋

    • ini ide sebenernya aku pingin bikin chapter, tapi karena ada project dan aku buntu cari ide baru akhirnya aku blass jadiin oneshoot. eng ing eengg karena uda lama gak nulis juga jadinya begini tulisan, hancuuuurrr. hahahaha
      kedepannya aku perbaiki kak, tengkyuuu kk feedbacknyaaa :*

  3. Ka mitttttt.. Akhir nya comeback lagiiiii cieeee…
    salah fokus sama cast nya anak2 Ikon hahaha, haduuuuhhhh… Cerita nya bikin elus dada Tegaaaa nya ji chang wook nyakitin yoona udh duda malah ngawinin elahhh mas syukur cakep di maafin lah hihihi, Kirain yoona bakal nikah sama jonghyun tau nya jonghyun di phpin *pukpuk jonghyun*
    ending nya jg bikin salah fokus B.I sama jisoo hihihi

    Di tunggu next ff Ji chang wook sama yoona nya Ya ka… Fighting 😘😘😘😘😘

    • jonghyuun sama gueeee, junhoe sama gueeee hahahaha
      kmu sama chanwoo kan, hahaha
      summiiiii tengkyuu banget uda mampir di ff camebackku yg ancur, sedih banget liat tulisanku sekarang, uda lama gak nulis jadinya begini, segera aku pingin nulis lagi yoonwook, ada ide hahahaha
      tengkyuuu summ feedbacknya :*

  4. Pingback: [FFINDO PROJECT] LOVE | FFindo·

  5. Yeay…ada Yoonwook moment.Ga bisa ngebayangin gimana perasaan Yoona setelah Changwook memutuskan menerima perjodohan dengan dan bersedia menikahi Minyoung,pastinya sakit sedih kecewa dan marah.Masih ada Lee Jonghyun yang mencintai Yoona (jadi kangen FF Yoonjong).Setelah 2 tahun ternyata Minyoung meninggal setelah melahirkan putra Changwook.Iya benar.., tadinya ak berharap Yoona tidak akan semudah itu berbalik kembali ke Changwook dan meninggalkan tunangan sebaik Lee Jonghyun (sedih untuk Jonghyun😢😢).Akhirnya happy ending Yoonwook bersatu kembali.Bagus banget ceritanya😊😊.Bikin lagi dong thor ff Yoonwook ataupun Yoonjong (ngarep banget😅).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s