We Walk [Part 1]

“We both get the glorius front seat

of watching the one that we love

loves somebody else – Antologi Rasa

           Shin Soo Mi (OC) & Park Chanyeol (EXO)

          Byun Baekhyun (EXO), Park Luna (OC)

Friendship x Romance x Random

Tokyo itu seperti mimpi. Negeri asing yang tidak aku ketahui sedikitpun ceritanya. Ribuan hari yang lalu, kata ‘Tokyo’ dalam pembicaraan aku dan Chanyeol teramat samar dan mengambang, dipenuhi ‘seandainya’ dan ‘semoga saja’ tapi sudah cukup membuat sahabat-ku yang selalu bercoleteh tentang Tokyo itu bahagia.

Semester awal kuliah, Chanyeol berkoar nanti dirinya akan melanjutkan sekolah di Tokyo. Katanya, “Aku akan melanjutkan magister di Tokyo. Sebelum itu, aku akan menikahi Elle dan membawanya bersamaku.” Aku ingat, pagi itu aku tersedak espresso karena mendengar bualan Chanyeol.

Kenyataannya, Chanyeol dan Elle berakhir di semester 2. Hubungan mereka bertahan tidak sampai satu tahun karena Elle ternyata memiliki pria lain dan meninggalkan Chanyeol begitu saja. Masa itu, putus cinta bukan masalah serius. Kami hanya akan saling menertawakan setiap hari selama beberapa bulan lalu semua urusan sakit hati dengan mantan kekasih seperti tidak pernah terjadi.

Chanyeol masih terus membual soal Tokyo di kesempatan-kesempatan tertentu, tapi tidak pernah lagi menyinggung soal menikah. Katanya, gelar masigter lebih menggiurkan daripada seorang wanita. Chanyeol seperti menutup diri dari wanita sejak mengakhiri hubungannya dengan Elle. Bukannya tidak ada yang mendekatinya, aku dan Baekhyun bahkan sering menjadi perantara surat-surat cinta untuk diberikan kepadanya dan selalu saja surat-surat itu berakhir di tempat yang sama, tempat sampah. Chanyeol mencintai Tokyo lebih daripada Elle, lebih daripada para wanita yang berbaris rapih meminta perhatiannya. Dasar gila.

Itu cerita 5 tahun yang lalu.

Sudah 2 tahun aku dan Chanyeol berhenti berbagi cerita soal Tokyo. Chanyeol yang satu tingkat di atasku lulus kuliah dan bekerja di sebuah perusahan produsen vaksin. Jabatan baik dengan gaji menjanjikan, membuat Chanyeol tidak beranjak keluar Seoul satu millimeter pun. Tokyo  benar-benar sudah menjadi mimpi bagi Chanyeol di saat bersamaan, aku juga terbangun dari mimpiku tentang Chanyeol.

“Butuh bantuan?”

Suara ceria Baekhyun menghentikan lamunanku. Pria itu menyandarkan tubuh pada pintu kamarku yang terbuka lebar, memperlihatkan kekacauan di dalamnya. Aku berniat mengemas pakaian yang akan aku bawa tapi berujung dengan menghamburkan semua isi lemari hingga memenuhi lantai dan kasur.

“Ehm, iya dan tidak.” Kekehanku terbawa angin yang diabaikan Baekhyun yang mulai melangkah hati-hati ke arahku. Semoga dia tidak menemukan pakaian dalamku ikut berserakan diantara tumpukan baju.

“Kenapa?”

Baekhyun berhasil menyingkirkan beberapa lembar celana lalu duduk di sudut kasur. Matanya tidak bisa menyembunyikan kengerian melihat kondisi kamarku. Well, ya untuk ukuran pria rapih dan sebersih Baekhyun, kondisi kamarku saat ini tidak ada bedanya dengan bencana alam.

“Kau tahu aku payah soal mengepak barang karena itu aku butuh bantuan, tapi kalau nanti kau menemukan pakaian dalamku bagaimana?” Ucapku memelas.

Baekhyun menyingkirkan setumpuk lagi pakaian lalu menarik tangaku untuk duduk di sebelahnya. Tangan besarnya merangkum wajahku agar menghadap tepat padanya. Aku risih, jujur saja. Bukan karena Baekhyun tidak pernah melakukan hal yang sama sebelumnya tapi karena kalimat yang akan Baekhyun ucapkan setelah ini selalu berhasil membuat aku merasa bersalah.

“Kalau begitu tidak usah pergi saja, hm?”

Aku menggenggam tangan Baekhyun dan membawanya kepangkuan. Ekspresi Baekhyun tidak terbaca. Pandangannya berpindah-pindah dari jendela, lemari lalu menatapku beberapa detik kemudian kembali berpaling.

Aku tergila-gila dengan Behaviourycal Pshycology and NeuroSains dan mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan magister dengan konsentrasi ilmu tersebut. Bahkan kesempatan yang aku dapatkan adalah beasiswa penuh hingga aku lulus. Aku tidak mungkin menolak sesuatu yang sungguh aku inginkan. Keluargaku sangat mendukung agar aku menerima beasiswa itu tapi Baekhyun menentang keras. Tidak siap berjauhan denganku katanya padahal sejak lulus kuliah kami sudah jarang bertemu. Alasannya konyol.

“Baek, aku bukannya akan pergi ke planet lain. Aku tidak percaya di jaman secanggih ini kau masih bisa ditaklukan jarak. Jangan bodoh.”

“Seandainya bukan Jepang, seandainya bukan Tokyo. Aku tidak akan berpikiran bodoh begini.”

Aku tertegun mendengar kalimat singkat itu.

Aku tidak tahu kenapa semua orang mempermasalahkan Tokyo. Maksudku, kenapa harus diributkan di mana aku mendapatkan beasiswa? Di manapun sama saja bukan? Ayah juga awalnya menanyakan hal yang sama. Tapi ayah lebih mudah diberikan pengertian sedangkan Baekhyun tidak.

“Demi Tuhan, Baek, Chanyeol di sini, di Seoul. Kau bertemu dengannya setiap hari, kalian tinggal di apartement yang sama. Aku pergi karena aku ingin bukan karena Chanyeol ada di sana!” Aku berusaha keras menahan agar suaraku tidak terdengar kesal.

Menghadapi Baekhyun tidak bisa sembarangan. Pria ini sensitive dan mudah terpancing emosinya. Aku tahu dia begitu terobsesi untuk menjauhkan aku dan Chanyeol yang jelas-jelas sudah tidak pernah bertemu. Obsesi gila sejak dia menyatakan perasaannya padaku di hari wisudanya. Itu hari yang sama untuk terakhir kalinya aku melihat Park Chanyeol dalam wujud manusia, bukannya file-file poto yang tersembunyi di dalam ponsel atau laptopku.

“Chanyeol hanya masa lalu Baek.” Aku lelah meributkan Chanyeol dengan Baekhyun. Pria ini bersahabat dengan Chanyeol tapi selalu mendebatkan Chanyeol padaku bukan langsung pada orangnya.

“Yang tidak mustahil untuk jadi masa depan nantinya. Begitu kan? Please, just let me be egocentric and ask yout to stay.”

Tatapan mata itu lagi.

Baekhyun memiliki mata paling jernih dari segala mata yang pernah aku lihat. Dulu, kejernihan matanya itu selalu berhasil meluluhkan kekerasan hatiku dan juga Chanyeol. Baekhyun punya semacam aura tatap yang membuat orang merasa bersalah sekalipun dia pura-pura terluka. Tapi efek ini sudah tidak lagi berpengaruh padaku. Entah kenapa kali ini aku menjadi kesal padanya.

We just bestfriend, Baek. Aku tidak pernah mau membicarakan ini denganmu tapi kali ini aku harus. Tolong hargai keputusanku.”

Baekhyun terluka dengan ucapanku. Aku juga. Tapi aku harus membuat Baekhyun mengerti. Jika cara lembut tidak memiliki pengaruh maka cara kasar seperti ini yang bisa aku lakukan.

“Aku merasakan apa yang dirimu rasakan, Baek. Aku tidak akan mengkhianatimu. Chanyeol di Korea, aku di Jepang, bukankah itu lebih baik untuk kita?”

Aku tidak bisa menjanjikan apapun, Baek. Tapi untuk saat ini, cuma itu yang bisa aku katakan.


Hari itu, Baekhyun pulang dengan kepala tertunduk. aura gelap mengelilingi tubuhnya, aku bahkan tidak sanggup menyahuti ucapan pamitnya. Ya, Baekhyun tidak jadi membantu aku mengemas barang.

Hari ini, genap satu minggu usai perdebatanku dengan Baekhyun dan sudah dua hari aku di Tokyo. Baekhyun bahkan tidak muncul di bandara untuk mengucapkan selamat tinggal. Hanya sebuah pesan singkat ‘Jaga diri baik-baik’ yang dikirimkannya, sebagai tanda bahwa dia tidak lagi marah tapi masih enggan untuk menemuiku.

Tidak banyak yang aku lakukan di Tokyo. Perkuliahan baru akan mulai beberapa hari lagi jadi aku masih memiliki waktu bebas. Tokyo ini kota asing, aku hanya bisa mengandalkan ponsel untuk mengetahui jalan dari bandara ke asrama, dari asrama ke kampusku, dan dari asrama ke beberapa tempat makan. Seharian kemarin, setelah merapihkan barang bawaanku di kamar yang aku tempati selama di Tokyo, aku berkeliling asrama dan berkenalan dengan beberapa orang, salah satu nya Luna Park, yang menghuni kamar di sebelah kamarku. Luna juga berasal dari Korea dan sudah berada di Tokyo sejak tahun lalu. Bertemu dengan orang yang berasal dari negara yang sama di tempat asing merupakan sebuah berkah buatku.

Tok Tok Tok

Aku sedikit berlari membuka pintu dan menemukan Luna di sana. Luna berperawakan tinggi dengan rambut hitam legam, dan kulit putih bersih. Matanya berwarna coklat pekat tertutupi oleh kaca mata berbingkai logam. Hari ini, Luna hanya mengenakan celana panjang dan sweater hijau lumut. Penampilannya super santai tapi terlihat cocok dengan dirinya.

Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan hari ini, kebetulan Luna ada urusan di kampus, jadi sekalian mengurusi urusannya Luna menawarkan diri untuk menjadi tour guide ku.

“Sudah siap?” tanyanya ceria.

Cara Luna mengedipkan mata saat bertanya mengingatkanku pada Baekhyun. Ah, sepertinya aku harus menghubungi pria itu nanti, aku mulai merindukannya.

“Ayo, kita naik mobilku saja. Tidak jauh memang, tapi nanti aku ingin mengajakmu berkeliling Tokyo.”

Luna mengaitkan tangannya pada tanganku setelah aku memastikan pintu kamarku sudah terkunci. Kami berjalan riang, Luna tidak berhenti menceritakan pengalamannya setelah tinggal satu tahun di asrama dan aku dengan khidmat menyimak ceritanya.

Jarak dari asrama ke kampus tidak memakan waktu hingga sepuluh menit. Luna memarkirkan mobilnya dengan mudah, keahlian menyetir yang jarang dimiliki seorang wanita, karena biasanya memarkirkan mobil adalah perkara sulit termasuk bagi diriku.

“Di sebelah barat itu gedung magister psikologi sedangkan di timur itu magister science. Aku akan ke sana. Kau tidak apa aku tinggal sebentar?”

“Hm, tidak masalah. Aku akan berkeliling sambil menunggumu.”

“Oke, kalau begitu aku akan meneleponmu setelah urusanku selesai. Sampai nanti.”

Luna melambaikan tangannya sebelum berbalik dan menghilang di antara kerumunan orang di sepanjang koridor dengan tulisan besar ‘Master of Science in Chemistry and Biochemistry’ di gerbangnya.

Aku punya sedikit rahasia yang tidak aku katakan pada siapapun. Dulu, di dalam cerita Tokyo-nya, Chanyeol selalu menyebutkan nama universitas ini dan gedung yang baru saja dimasuki Luna adalah jurusan impiannya. Aku tidak mengerti kenapa justru aku yang terdampar ditempat ini, seakan aku sedang berusaha mewujudkan mimpi Park Chanyeol yang gagal dia capai. Baekhyun tidak pernah benar-benar tertarik dengan cerita Chanyeol tentang Tokyo, aku yakin seratus persen dia tidak akan menyadari rahasia kecil ini, apalagi keluargaku.

Penghujung musim gugur, angin dingin bertiup kencang membuat rambutku tergerai berantakan. Dalam usahaku merapihkan rambut, sebuah tangan sudah lebih dulu melingkarkan syal di leherku. Cukup hangat dan mampu menghalau angin untuk terus menerbangkan rambutku.

“Terimaa…” Aku baru saja akan mengucapkan termiakasih ketika menyadari siapa yang berdiri dihadapanku dan baru saja memakaikan syal untukku, “Chanyeol?!”

Aku pernah membaca sebuah artikel yang menyebutkan bahwa selain suhu yang terlampau panas, suhu dingin juga dapat mempengaruhi kondisi psikologis seseorang yang berakibat pada halusinasi, itu kenapa orang-orang mengatakan bisa melihat hantu di tempat yang suram dan lembab. Aku tidak berharap kondisi semacam itu aku alami. Tidak di sini, tidak di Tokyo. Yang benar saja, aku baru berada di sini beberapa jam dan sudah diikuti oleh hantu yang menyerupai Park Chanyeol dan lagi, ini di halaman terbuka selain suhu di bawah nol derajat, aku tidak menemukan alasan lain yang membuat hantu Park Chanyeol harus ada di sini, berdiri dengan senyum bodoh seperti yang selalu dilakukannya. Aku pasti sudah gila.

“Long time no see, Shin Soo Mi.”

“Hah! Dasar bodoh, aku bahkan bisa mendengar suaranya.”

Aku yakin menggumam pelan dan hanya diriku sendiri yang bisa mendengarnya, tapi mahluk yang menyerupai Chanyeol yang berdiri dihadapanku saat ini, tertawa puas, seakan dirinya sedang menonton pertunjukan lawak.

Aku menyukai suara tawa Chanyeol karena aku jatuh cinta setengah mati padanya walaupun Chanyeol tidak pernah tahu. Aku pernah mengalami masa-masa bisa bahagia hanya dengan mendengar suara tawanya saat bersama Chanyeol dengan status sahabat. Lalu aku berhenti mendengarkan suaranya bahkan berhenti bertemu dengannya demi menjaga perasaan Baekhyun. Hari ini aku mendengar tawanya lagi setelah sekian tahun membuat aku sadar bahwa perasaan yang aku simpan hanya tertidur bukannya mati.

“Hai, Chanyeol, selesai dengan liburanmu?” Teman baruku, Luna, datang menyapa hantu Park Chanyeol.

“Hallo, Luna. Kalau yang kau maksud liburan adalah menjadi pembantu pribadi Mr. Albert, well, ya aku sudah mengakhirinya. Benar-benar mimpi buruk.” Hantu Park Chanyeol menjawab Lun seakan mereka sudah lama saling mengenal.

“Simpan ceritamu, Chanyeol. Aku yakin yang lain juga ingin mendengarnya. By the way, kalian sudah saling mengenal?”

Luar biasa. Ini menakjubkan. Hantu Park Chanyeol berbicara santai dengan teman satu asramaku. Aku tidak bisa menutupi ketakjubanku dengan interaksi antara mereka.

Hantu Park Chanyeol berjengit menatapku sebelum menjawab, “Salah satu yang terbaik yang aku kenal seumur hidup.” Sambil tidak berhenti menatap padaku.

“Wow, aku pikir kau benar-benar tidak mengenal seorang pun di Tokyo.” Luna menatap sangsi padaku.

Apa yang harus aku katakan? Atau aku tanyakan?

Pembicaraan ini normal, sungguh. Tapi aku merasa tidak normal karena orang yang terlibat di dalamnya. Haruskah aku tanyakan pada Luna, apakah Park Chanyeol ini nyata? Kakinya menapak di tanah atau mengambang? Dia bisa aku sentuh atau jariku akan menembus tubuhnya jika aku berusaha untuk menyentuhnya?

Dan aku tersadar saat Luna dan hantu Park Chanyeol tertawa heboh. Sepertinya tanpa sadar aku sudah menyuarakan pikiranku. Sebuah jentikan keras mendarat di keningku, bahkan jerit kesakitanku tidak menghentikan tawa mereka.

“Sebaiknya kau segera sadar atau akan ada pukulan lainnya.”

Dia, pria ini, nyata. Dia bukan hantu. Dia benar-benar Park Chanyeol.


Aku melemparkan tubuh di atas kasur nyaris tanpa berpikir. Hari ini benar-benar melelahkan. Chanyeol dan Luna menyeretku ke sana ke mari. Sepanjang hari mereka saling berebut menjelaskan tempat yang kami kunjungi mulai dari sejarah sampai dengan apa yang orang-orang lakukan biasanya lakukan jika berada di sana.

Aku belum benar-benar mengerti kenapa Park Chanyeol ada di Tokyo dan bagaimana Luna bisa mengenalnya. Mereka tidak membahas apapun yang berkaitan dengan rasa penasaranku sepanjang hari ini.

ByunBaek      : Sudah bertemu dengannya, eh?

ByunBaek      : Chanyeol, maksudku..

Lihat ini, sepasang sahabat sepertinya sudah saling bertukar cerita.

Me                   : Kau tahu?

ByunBaek      : Sudah sejak tahun kemarin, jika yang kau maksud sejak kapan dia ada di sana

Jadi ini alasan pria cantik itu mati-matian melarang aku pergi ke Tokyo. Lihat siapa yang paling bodoh diantara kita Byun Baekhyun.

Me                   : Brengsek! Kau tidak mengatakan apapun

ByunBaek      : Kau tidak bertanya. Kau tahu aku tidak memberikan informasi kepada orang yang       tidak menginginkannya.

Sepertinya kalimat “What’s  friends are for?” tidak berlaku di dalam persahabatan kami. Baekhyun dan Chanyeol memang benar-benar luar biasa.

Me                   : Huaaaa, kau sungguh luar biasa Byun Baekhyun.

ByunBaek      : Nikmati saja dan aku mohon jangan menjadi orang bodoh lagi. Kau dan Chanyeol sama saja.

Hah! Dia pikir karena siapa aku menjadi bodoh begini. Karena dia! Karena terlalu banyak bergaul dengannya! Karena terlalu sering mendengar ocehan-ocehan gilanya!



 

Hulllaaaa..

Ini cerita baru lagi ceritanya. Maaf yang kemarin tidak akan dilanjutkan dan sudah dihapus. Semoga cerita yang ini bisa menjadi penghibur buat yang baca.

Selamat membaca. Maaf typo. Jangan sungkan memberikan kritik. Happy Holiday. Happy New Year…… ^0^/

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

3 responses to “We Walk [Part 1]

  1. Such a longtime since forever ga main ke ffindo. Dan so pleased Im welcomed with this nice story. Apa yaa, aku percaya ini ceritanya bagus, teknik penulisannya sederhana ringan, rapih, terus yang aku suka, ada perasaan yang dituangin ke tiap bait tulisannya, longing for someone,or the unrequited feeling towards that someone, itself. Haha intinya aku baper sama pengenalan konflik perasaan ini. Not to be judgemental, I bet this is kind of related to some personal experiences, wkwk mulai sotoy. Yaudah gitu aja. Kalo bisa, lanjutin yaa ceritanya. Makasihh.

    • huaaa… terimakasih sudah membaca.
      pengalaman pribadi bukan ya.. hahaha..
      diotak aku cerita ini sudah tamat kok, cuma belum aku selesaikan dengan baik dalam bentuk tulisan, semoga saja aku bisa menyelesaikannya ya…

  2. Pingback: We Walk [Part 2] | FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s