[ONESHOOT] Charlie Charlie Game

abc

Charlie Charlie Game

(Calling Demon)

A story by carishstea

Staring BTS’s member

Horror Comedy || General || 1600 words

 

Disclaimer: Bangtan boys always owned by god. But this story line pure from my imajination. Inspirated by urban legend in all the world. If there’s still some typo, I’m so sorry. Hope you can enjoy it.

HAPPY READING~

***

“Banyak yang memainkannya di Youtube. Charlie Charlie Game. Permainan memanggil arwah,”

The “Charlie Charliegame is a modern incarnation of a Spanish paper-and-pencilgame called Juego de la Lapicera (game of the pens). Like a Magic 8-Ball, thegame is played by teenagers using held or balanced pencils to produce answers to questions they ask.

Charlie Charlie Game  adalah sebuah permainan mistis. Para pemainnya menggunakan pensil dan kertas, lantas menanyakan tentang suatu kebenaran kepada hantu bernama Charlie.

YES/NO

***

Hari ini member bangtan sedang libur dari jadwal mereka. Bermalas-malasan di dorm, adalah kegiatan yang biasa mereka lakukan di jam-jam kosong seperti sekarang. Seokjin sedang menyiapkan beberapa snack di dapur. Di studio, Yoongi sibuk dengan puluhan kertas bertuliskan note-note rapi. Hoseok juga tengah keluar menemani noona-nya berbelanja. Tersisalah empat batang manusia tak ada kerjaan di ruang TV.

Yang paling kecil nampak serius sekali dengan benda kotak hitam di tangannya. Dua yang seumuran memilih beradu batu-kertas-gunting yang tak membuahkan hasil. Mereka terlihat berpikir lama, untuk menentukan apa yang ingin mereka keluarkan masing-masing. Namun pada akhirnya mereka selalu mengeluarkan yang sama. Batu dengan batu, kertas dengan kertas, atau ketika Taehyung memilih gunting, Jimin juga demikian. Permainan itu tak berujung dan telah memakan waktu satu jam.

Sedang Namjoon, ia lebih senang untuk menyetel televisi keras-keras seraya memerhatikan acara senam rutin Hari Minggu. Lalu ia menggerak-gerakkan tangannya sendiri mengikuti melodi dari irama senam.

Hyung-deul. Mau bermain sesuatu yang lain?” Jungkook tiba-tiba menyeletuk setelah mengalihkan fokus dari iphone miliknya. “Sesuatu yang seru,” lanjut Jungkook.

Mereka yang ada di ruangan itu balas mengalihkan pandangan mereka ke arah Jungkook, menunggu pria itu melanjutkan lebih banyak.

Game? Bagaimana cara mainnya?” Namjoon mulai berdiri dari tempatnya, menghampiri Jungkook yang ada di sofa. Si kecil itu lantas tersenyum miring, memperlihatkan layar iphone-nya kepada Namjoon, Taehyung, dan Jimin.

“Banyak yang memainkannya di Youtube. Charlie Charlie Game. Permainan memanggil arwah,” jelas Jungkook.

Jimin yang mendengar seketika langsung bergidik ngeri. Ada apa dengan Jungkook? Berani sekali ia menantang permainan seperti itu. Well, itu berbahaya omong-omong.

Gurae. Kajja!” teriak V langsung menyetujui ajakan Jungkook. Jimin mengalihkan pandangannya balik ke arah V. Menatap pria bermata hazel itu tak percaya. Hei, kenapa ia tak pernah berpikir panjang dulu sebelum berujar?

“Itu hanya permainan, bukan? Baiklah, aku ikut,” ujar Namjoon menimpali. Jimin kini beralih menatap Namjoon dengan tatapan tak mengerti. Ayolah, permainan seperti ini bukan hal yang baik pula.

“Kau takut, Jimin hyung?” Jungkook mengarahkan matanya ke arah Jimin, menatap pria itu remeh. Bukan merendahkan sebenarnya. Jungkook tahu Jimin penakut. Jadi ini adalah salah satu trik agar Jimin ikut bergabung.

Jimin menatap sekitar memerhatikan Taehyung dan Namjoon yang juga menantikan jawabannya. Jungkook sialan. Jimin tak punya pilihan selain mengangguk saja. Setidaknya ia harus terlihat seperti pria sejati, “Ayo bermain,” ujar Jimin akhirnya.

.

.

.

Mereka berempat duduk melingkar di bawah. Menyiapkan kertas putih, juga dua buah pensil sebagai bahan yang biasanya digunakan dalam permainan ini.

“Baiklah, dengarkan aku,” Jungkook memaksa semua orang menatapnya. Ia memasang wajah serius, seolah permainan ini memang harus dilakukan dengan teramat hati-hati. “Peraturannya sederhana. Pertama, ucapkan salam perkenalan. Dan yang terakhir, jangan sampai lupa mengatakan selamat tinggal, lalu jatuhkan pensilnya ke tanah, dan buang kertasnya,” jelas Jungkook yang balas diangguki sembarang oleh yang lain. Oh! Tidak untuk Jimin tentu saja.

Taehyung mulai membagi kertasnya menjadi empat bagian dengan pena. Menuliskan kata, “Yes” dan “No” berselang-seling. Lalu menempatkan dua pensil bersilangan tepat di garis-garis yang di buatnya.

“Baik, kita akan mulai,” buka Jungkook. Keempat pasang mata itu sontak langsung terfokus ke arah pensil di tengah mereka. Lalu dengan serentak, mereka membuka suara cukup keras,

“Charlie… Charlie… apa kau di sini?”

Jantung mereka sempat berhenti mungkin. Atau berdegup dua kali lipat lebih cepat dari normalnya. Menunggu pensil itu bergerak ke arah “Yes”. Tapi tak terjadi apapun. Pensilnya masih diam.

Rasa kecewa tentu menyelubungi ketiga namja itu. Namun yang satunya langsung memanjat syukur dalam hati keras-keras.

“Ck, kenapa tak bergerak?!” Namjoon mulai meragukan permainannya. Ia kesal tentu saja. Apa permainan ini hanya gurauan?

“Jung, apa yang salah?” Taehyung juga memprotes pada Jungkook, karena pensilnya masih saja diam.

“Ayo coba sekali lagi,” balas Jungkook seadanya dengan wajah yang nampak ragu pula. Jimin lantas menatap Jungkook tak terima. Jikalau gagal, gagal saja. Apa yang akan ia lakukan jika berhasil memanggil Charlie, huh?

“Charlie… Charlie… apa kau di sini?” mereka berkata serentak sekali lagi. Hanya sunyi senyap yang ada di sana. Tak terjadi apapun lagi. Pensilnya masih diam.

“Ah, ini tak seru! Kenapa pensilnya hanya diam?!” Taehyung kembali mengeluh tak terima. Tapi tepat setelah ia mengatakannya, matanya dibuat membulat sempurna oleh kejadian di depan sana.

Pensilnya mulai bergetar, dan akhirnya menunjuk ke arah “Yes”. Raut senang serta tertawaan kembali terpancar di wajah mereka yang sangat excited dalam permainan ini. Sedangkan Jimin, ia sudah hampir terkena serangan jantung. Sungguh di tempat ini tak ada angin. Bagaimana bisa pensilnya bergetar, lalu tiba-tiba berputar?

“Biarkan aku bertanya sesuatu!” Taehyung mulai berteriak kegirangan. Yang lainnya pun mempersilahkan ia untuk melanjutkan yang ingin ia katakan, “Apa aku akan mengalahkan kepintaran Namjoon hyung suatu saat nanti?”

Pertanyaan konyol itu lantas dicibir mereka yang di sana. Tak sadarkah Taehyung berapa selisih IQ miliknya dengan Namjoon?

Pensil itu seperti akan bergerak ke arah “No”. Tapi tanpa diprediksi, pensil itu kembali ke arah “Yes”, menciptakan banyak protes tak terima dari para pemainnya. Taehyung pun lekas berdiri mengangkat tangannya seolah telah memenangkan medali emas dalam olimpiyade. Ia sangat puas pada Charlie ini.

Namjoon yang dibuat kesal itu, lantas menyeletuk, “Apa aku akan mengalahkan Jungkook dalam menari suatu saat nanti?”

Jungkook menaikkan alisnya nampak ragu pada jawaban pensil di depannya. Menunggu dengan jantung berdebar, walau ia juga tak berharap pensilnya akan mengarah ke “No”. Jika Taehyung saja, jawabannya seperti itu, apalagi kali ini. Sekali lagi, ini hanya sebuah permainan.

Pensilnya pun kembali bergerak. Kali ini benar-benar berputar sembilan puluh derajat ke arah “No”, menghasilkan ledakan tawa bagi semua orang di sana. Namjoon memaki kesal dalam hati. Jadi Taehyung akan menjadi pintar, dan Namjoon tak mengalami kemajuan apapun? Sial!

Setelah perut mereka terlalu sakit untuk melanjutkan tertawa, akhirnya mereka berhenti. Jungkook yang belum mendapat giliran bertanya, akhirnya membuka suara,

“Charlie… Charlie… apa kau sungguhan?”

Jungkook tak terlalu berharap jawaban apa yang akan keluar kali ini. Ia hanya senang melihat pensilnya bergerak-gerak sendiri. Namun sayang, kali ini pensilnya hanya diam. Tentu Jungkook kecewa. Kenapa tak bekerja lagi? Jungkook pun meminta Jimin giliran bertanya. Yah, siapa tahu pensilnya kembali bergerak.

Jimin menghela nafas cukup panjang. Ia berpikir keras, apa yang akan ia tanyakan. Ia sempat menatap yang lainnya mencari inspirasi. Dan mereka semua nampak menunggu kata-kata yang akan keluar dari bibir Jimin. Jimin tak mungkin membuat mereka kecewa dengan tiba-tiba mengucap “Good Bye”. Lalu apa yang harus ia katakan?

“Eumm, Charlie? Apa kami mengenalmu?” tanya Jimin akhirnya, membuat yang lain menatap Jimin dengan tatapan yang seolah berkata, “Pertanyaan macam apa itu?”

Seperti dugaan mereka, tentu pensilnya bergerak kcil “No”.  Jimin membiarkan teman-temannya tertawa atas pertanyaan konyol yang ia lontarkan. Menggembungkan pipi kesal, namun tak berlangsung lama.

“Oh!” Jimin menunjuk pensil di depannya dengan takjub. Benda itu perlahan bergerak ke arah “Yes”.

Tentu semuanya mengerutkan dahi tak mengerti. Tiba-tiba ruangan mereka saat ini seakan terkena gempa. Lantainya bergetar, begitu pula benda-benda di atasnya. Lampu di atas mereka seakan konslet. Hidup-mati-hidup-mati, dan terus berkedip demikian. Mereka yang ada di sana diam ketakutan. Merapat ke arah Jungkook, karena anak itu tak terlihat takut sama sekali.

Jungkook dengan berani pun kembali bertanya, “Charlie, Charlie, apakah kau nyata?”

“Yes.”

“Apa kau baik?”

“No.”

“Apa?! KAU GILA!! APA YANG TERJADI?” Jimin sungguh merasa jantungnya akan copot jika keadannya tak segera membaik.

“Jadi kau jahat?”

“Yes.”

“Lebih jahat dari Yoongi hyung?” Taehyung ikut bertanya spontan.

“Yes.” Tentu saja.

“Kau yang melakukan semua ini?”

“Yes.”

“Kau waras?” Lagi-lagi Taehyung menyela Jungkook yang baru akan membuka mulut ingin kembali bertanya.

“No.” Taehyung mungkin memang kehilangan separuh dari jiwa normalnya.

“Kau ingin menyakiti kami?”

“Yes.”

“KAU GILA,” teriak Jungkook terkejut. Namun,

PYARRR

Suara piring pecah memenuhi ruangan itu, dan terus menggema di telinga penghuninya.

“Oke, Charlie. Bisa kita akhiri permainannya?” Kali ini Jimin memberanikan diri untuk bertanya.

“No.”

“Bisa kita berhenti?!” paksa Jungkook.

“No.”

“SAMPAI JUMPA!!!” Jungkook mengatakannya teramat keras, membuat pensilnya bergetar hebat, dan langsung mengarah ke “No”.

Ruangan itu semakin bergetar luar biasa. Lampunya kini mati sepenuhnya.  Namun Namjoon dengan cepat langsung mengambil pensil itu, dan membuangnya ke tanah. Jungkook melihat situasinya, pun meremas kertas itu brutal, dan membiarkan Taehyung mengoyaknya menjadi sobekan-sobekan kecil. Lalu Jimin dengan segera juga langsung membuangnya ke tempat sampah.

Keadaannya kembali normal. Dorm mereka kembali seperti semula. Walau nafas mereka masih ter-enggah akibat ketakutan, mereka kembali tertawa setelahnya. Dalam hati, Jimin masih menyimpan rasa kejanggalan. Ia pun memberanikan diri bertanya,

“Apa yang terjadi jika ketika kita meminta berhenti ia menjawab ‘tidak’?” tanya Jimin pada semua temannya.

Mereka semua pun diam mencoba mencari jalan terang dari pertanyaan Jimin. Tanpa mereka sadari, seseorang dengan jubah serba hitam datang menghampiri mereka. Wajahnya benar-benar putih bersih layaknya kertas. Ia berjalan mendekat ke arah empat orang yang mengganggunya. Berdiri tepat di belakang keempatnya, lantas membuka mulut dengan suara berat,

“Hello?”

Jungkook, Taehyung, Jimin, serta Namjoon lantas berbalik mendapati sosok menyeramkan itu. Selanjutnya mereka berlari keluar dorm, menemui Bang Si Hyuk barangkali. Melaporkan bahwa dorm mereka sekarang berhantu.

“Ck… kubilang juga apa? Mereka hanya sekumpulan anak-anak penakut,” Yoongi membuka tudung hitamnya dan melepas topeng putih menyeramkan yang tengah ia kenakan. Di pintu dapur, Sekjin berulangkali menggelengkan kepala melihat tingkah kawan-kawannya.

“Mereka tak akan bisa tidur tenang selama seminggu, Yoon,” ujar Seokjin sembari tertawa dengan dirinya sendiri.

“Masa bodoh. Tahu dibuatkan lagu, malah berisik. Mana bersikap overdose begitu,” Yoongi lanjut tertawa dan kembali ke studio musiknya. Kembali bergulat dengan melodi indah dalam imajinasinya.

Ngomong-ngomong tentang game itu, Yoongi dan Seokjin sering mamainkannya berdua. Jawaban yang mereka terima selalu konyol. Dan setelah sekian lama, mereka akhirnya berhasil menyimpulkan. Ada sesuatu yang lain di dorm mereka. Setiap memanggil Charlie, malah mahluk itulah yang muncul.

Namun dari pengalaman Yoongi, mahluk itu hanya jahil. Ia tak akan mengganggu jika tak diganggu. Jadia biarlah semua ini hanya untuk keseruan semata. Jika mereka hidup dengan baik di dorm, tak akan terjadi masalah apapun. Semoga saja. Yah, siapa yang tahu?

.

.

.

-FIN

A/N: Okay, ini adalah ff pertama yang kupublish *give applause* /apaan ini :v

Maafkan kalau ga serem. Soalnya emang gaada niatan bikin serem. wkwkwk… Okay, hope you like it ^^. THANKS FOR READING!! 😀

Well, mind to review?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s