[DRABBLE] Little Monster

1483142011848.jpg

 

Little Monster || hunn24 present || drabble || Oh Sehun (EXO) and Oh Hanna (OC) || fluff, romance, family, comedy |

I hope you enjoy it ^^ warn! typo’s everywhere.

.

.

.

Halo yang di dalam sana, Monster Kecil.

“Aku pulang.”

Suara itu terdengar sangat lelah. Oh Hanna, yang menunggu pria itu dari tadi langsung saja segera mendekati suaminya itu yang baru pulang bekerja. Entah kenapa, melihat Sehun pulang membuatnya sangat senang. Wanita itu tersenyum-senyum sendiri, membuat Sehun yang melihatnya tersenyum tipis.

“Kau lelah, ya?” Hanna membantu Sehun melepas jas hitamnya. Sehun hanya mengangguk, “kalau begitu, kau ingin mandi dulu atau makan? Aku sudah memasak makan malam,” sambung Hanna.

Gemas, Sehun mengecup kening gadis itu, “aku akan mandi dulu, baru makan,” ujarnya lalu berlalu menuju kamar mereka.

Hanna tersenyum girang. Buru-buru wanita itu beranjak ke dapur, mulai menata meja makan. Sesekali wanita itu bersenandung ria, ia terlihat sangat senang sekali malam ini. Terakhir, ia menaruh sebuah amplop berwarna pink dengan pita merah di atasnya di sebelah piringnya. Tak lama kemudian, Oh Sehun datang. Pria itu memakai baju kaus biru donker dan celana kain pendek bermotif kotak-kotak. Membuatnya terlihat sangat tampan. Ia segera duduk di hadapan Hanna.

“Kau memasak sup ayam?” tanya Sehun begitu memperhatikan apa yang istrinya masak untuk  makan malam hari ini.

“Iya,” jawab Hanna cepat. Wanita itu mengambilkan nasi untuk suaminya, tidak lupa ia beri kuah sup ayam yang ia masak lalu memberikannya pada Sehun, “selamat makan,” ujarnya girang.

Sehun hanya tersenyum dan mengangguk. Ia segera melahap makanannya, begitu juga Hanna. Di tengah-tengah acara makan malam mereka, Hanna melirik sedikit ke arah amplop pink tersebut di sebelahnya. Apakah sekarang waktunya? Setelah cukup lama meyakinkan dirinya, Hanna menarik nafas dalam, membuat Sehun menoleh kepadanya.

“Kau kenapa?” tanya Sehun.

“Sehun,” bukannya menjawab, wanita itu malah memanggil Sehun, membuat Sehun semakin heran, “apa yang kau pikirkan tentang bayi?”.

“Bayi?” ulang Sehun.

“Iya, bayi.”

Sehun menyuap nasinya, “mereka menangis terlalu banyak,” Sehun berkomentar, “kau tahu temanku, Jongin? Lingkaran matanya bertambah parah tiap harinya karena bayinya sering terbangun dan menangis saat malam,” Sehun bergidik ngeri, “aku tidak bisa membayangkan itu terjadi,”.

Sementara Hanna, ia merasa kecewa. Tapi ini masih pertanyaan pertama, Oh Hanna! Akhirnya, Hanna kembali membuka mulutnya, “kau berpikir begitu? “.

“Mereka juga merepotkan,” Sehun menambah komentarnya tentang anak-anak, membuat Hanna yang menunduk, menoleh pada Sehun dengan tatapan heran, “Chanyeol bilang, kalau mereka mau bepergian bersama, dua bayi kembarnya selalu poop atau kelaparan di tengah jalan, mereka jadi sering mampir di jalan dan memperlambat perjalanan,” tambah Sehun.

“Ah, begitu.”

“Ah, iya,” oh, tampaknya Sehun masih punya banyak komentar tentang bayi, “mereka juga keras kepala,” apa lagi ini? Hanna sangat kecewa, “ku dengar dari Joonmyun, kalau mereka ingin sesuatu, harus di belikan saat itu juga, bahkan kadang-kadang Joonmyun sering keluar tengah malam untuk membelikan anaknya biskuit di super market.”

“Lalu, apa kau ingin punya bayi?”

Sehun cuek, masih sibuk dengan makanannya, “aku tidak pernah berpikir tentang itu.”

“Sama sekali tidak?”

Mendengar nada aneh dari sang istri, Sehun mengangkat wajahnya dan menoleh kepada Hanna. Wanita itu menunduk, memainkan makanannya dengan sendok di tangannya. Lalu Sehun mengangguk, “sama sekali tidak pernah,” jawab Sehun.

“Lagi pula untuk apa kau bertanya tentang ini?”

Braak!

Detik berikutnya, Hanna memukul kasar meja makan, membuat Sehun cukup terkejut. Terkejut karena mata dan pipi wanita itu sudah di basahi air mata. Ada apa ini?

Hanna mengambil amplop pink di sebelahnya, melemparnya kasar ke arah Sehun, “karena aku hamil, Oh Sehun!”

Dengan air mata mengalir, Hanna berlari ke kamarnya setelah membentak Sehun.

Oh Tuhan, apa yang baru saja Sehun lakukan?

 

***

 

Hanna tidak pernah menyangka suaminya akan mengatakan hal-hal semacam itu. Ia kira malam ini akan berjalan lancar, ternyata tidak. Ia menghela nafas kasar, dan menatap langit malam dari balkonnya, masih berpikir keras tentang kejadian tadi. Kalau Sehun memang tak suka dan tak menginginkan anak di rahimnya ini, Hanna rela berpisah dengan pria itu asal bayinya aman di dalam sana sampai lahir. Ya, tidak apa-apa. Detik berikutnya, sebuah mantel hangat tersampir di pundaknya.

“Kau bisa mati kedinginan berdiri di luar hanya memakai kaus tipis,” ujar Sehun datar.

Hanna hanya membisu, menatap ke arah lain. Sementara Sehun terlihat canggung, ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

Sehun menarik nafas, “dengar, Hanna, untuk yang tadi itu aku ti-”

“Aku sudah berpikir, Oh Sehun,” potong Hanna.

“Eh?”

Hanna menatap Sehun pasti, memegang perutnya yang datar, “jika kau memang tidak menginginkan bayi ini,” ia menarik nafas sebelum melanjutkan kalimatnya, “ayo kita berpisah saja.”

“Kau gila, hah?!” sebut saja jantung Sehun kembali kambuh mendengar kalimat istrinya.

“Aku tidak gila, Oh Sehun?!” bentak Hanna balik, “dari pada menggugurkan bayi yang tidak bersalah apa pun, lebih baik kau dan aku berpisah saja,” jelas Hanna di akhir.

“Tidak ada yang menyuruhmu menggugurkan bayi itu!”

“Lalu kau ingin aku melakukan apa?!”

Keduanya berada di puncak emosi.

Hanna kembali menangis, dan jiwa Sehun seakan kembali di tarik ke bumi. Oh, apa yang baru saja ku lakukan?

Langsung saja Sehun merengkuh tubuh mungil itu, “mencium berkali-kali puncak kepala Hanna. Sementara Hanna, ia ingin menolak, namun ia tahu ia tidak akan bisa melakukan itu. Ia hanya menangis dipelukan Sehun. Sumpah, demi apa pun di dunia ini, Sehun tidak pernah merada sebersalah ini. Ia semakin mengeratkan pelukannya.

“Aku minta maaf, sayang,” ujar Sehun, “kenapa kau tidak bilang dari awal kepadaku kalau kau hamil?”

“Aku ingin memberitahumu tadi, tapi…” Hanna tak bisa melanjutkan perkatannya. Tangisannya semakin menjadi-jadi.

“Aku sangat menyesal , sayang,” ujar Sehun. Ia mengelus-elus rambut panjang sang istri.

Beberapa saat kemudian, ketika tangisan Hanna mereda, Sehun menarik wajah manis itu. Ia merasa sangat bersalah tatkala memperhatikan mata sang istri yang basah dan sembap. Ia mencium kening Hanna, kemudian menatap Hanna penuh arti.

“Kau itu oksigen untukku, musthil bagiku untuk hidup tanpamu,” Sehun berkata, “jadi jangan pernah berpikir untuk meninggalkan aku, okay?”

Hanna hanya membisu dan mematung.

“Dan aku tidak pernah bilang aku tidak menginginkan bayi ini,” Sehun melanjutkan perkatannya, memegang perut datar Hanna, “sungguh, aku berani bersumpah, sayang, walaupun anak kita akan banyak menangis, merepotkan, atau keras kepala, aku tidak masalah selama kau bersamaku.”

Hanna terharu.

“Kau mau merawat anak ini bersamaku, bukan?” Sehun bertanya, “kita akan merawat dan membesarkannya bersama sampai ia menjadi anak yang kuat nantinya.”

“Kau bersungguh-sungguh?” Hanna bercicit pelan.

Sehun tersenyum memastikan, mengecup bibir ranum istrinya, “iya, aku bersungguh-sungguh.”

Hanna hanya mengangguk, kemudian mengalungkan kedua lengannya di leher Sehun, mengecup sekilas bibir tipis Sehun lalu menaruh wajahnya di dada Sehun, “ayo kita besarkan anak ini bersama-sama.”

Kemudian Sehun berlutut, wajahnya tepat di perut Hanna. Ia mengusapnya pelan dan tertawa kecil.

“Halo yang di dalam sana, Monster Kecil,” Sehun menyapa, “maafkan Ayah tadi tidak menyangka keberadaanmu, dan Ayah malah menjelek-jelekkan kau,” Sehun mengusap pelan, “tapi yang perlu kau tahu, Ayah dan Mama sangat menyayangimu, kami tidak sabar bertemu denganmu.”

Hanna tertawa kecil, ia mengusak rambut hitam Sehun saking gemasnya.

“Oh ya, jangan buat ibu mu kelelahan atau kesakitan, okay? Ayah akan memarahimu kalau kau ketahuan membuatnya lelah dan sakit,” Sehun mengucapkannya dengan nada curiga. Membuat tawa Hanna pecah.

“Astaga, ya Tuhan, ini terasa sangat menyenangkan,” tawanya.

Sehun hanya tersenyum, ia mengecup perut sang istri, “ayah sayang padamu, Monster Kecil,” katanya.

Oh, Monster Kecil, ayah dan ibu mu memang pasangan yang aneh.

 

Kkeut!

Fanfic abal-abalan muncul lagi, wkwkk. Entah apa ada yg suka. Tapi kalau ada yang suka, aku berniat buat bikin kelanjutannya, jadi semacam drabble-series gitu, hehee. Oya, jangan lupa like dan comment nya ya yg sudah baca. Tanggapan kalian itu sangat berguna buat aku meningkatkan kualitas menulis aku (apasih -_-“). Sekian dari aku, lots of love for u all *lopelope.

Manusia Abnormal

-Hunn24

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

One response to “[DRABBLE] Little Monster

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s