PEACH AND I

peach-and-iprologue

- Daughter


Namjoon menatap kertas berisi tulisan yang mengatakan bahwa hampir seratus persen, Peach adalah putri kandungnya. Menghisap kembali rokok yang sedari tadi bertengger di antara jarinya dia menyandarkan punggung ke kursi kayu di taman, menatap langit, dia tidak pernah berpikir hal seperti ini terjadi di dunia nyata. Ya, sepengetahuannya ini hanya terjadi dalam novel yang di tulis oleh Seokjin. Seorang pria yang kedatangan seorang gadis kecil tanpa di undang.

Sialan. Apakah ini benar-benar terjadi padanya? Mencubit kecil lengannya sendiri, Namjoon tahu ini bukan mimpi. Ini sebuah kenyataan, tapi dia ingin menghindari kenyataan yang tengah dia rasakan. Bagaimana mungkin dia memiliki seorang putri bahkan menikahpun belum, oh ya okay, dia memang melakukan sex before married but hey semua orang melakukannya! Bukankah ini terlalu bodoh karena dia melakukannya dan tidak pernah mengetahui bahwa gadis yang dia tiduri hamil serta melahirkan seorang anak? Ponselnya berdering ketika berbagai omelan mampir di benaknya.

Ibunya. Oh sialan.

“Ya bu?”

“Joon, kau sudah dapat hasilnya?” Namjoon bisa menebak ibunya mungkin jauh lebih resah di banding dirinya, ah- tentu saja itu karena baru saja beberapa minggu lalu adiknya mengatakan bahwa ia hamil dan ibu serta ayah terburu-buru mengadakan pernikahan untuknya.

“Ya,”

“Bagaimana?”

Namjoon terdiam, menelan ludahnya sendiri, mematikan rokok dan meneguk sekaleng kola dingin, berharap bekunya es di dalam kaleng juga bisa membekukan otaknya yang hampir saja menyembul keluar.

“Dia seratus persen anakku,”

Tak ada jawaban, tak ada helaan napas. Ibunya terdiam seperti patung di ujung telepon.

“Pulanglah dulu, mari kita bicarakan ini di rumah bersama dengan ayahmu.”

Ibu memutus sambungan telponnya terlebih dahulu, Namjoon bahkan sudah tidak berpikir harus mengatakan apa lagi untuk membuat ibunya sedikit lebih tenang. Namjoon menengadahkan kepalanya, menatap langit yang mulai menguning, petang sudah datang. Suara pintu besi terbuka terdengar ketika Namjoon masih menatap langit, tidak perlu menebak siapa yang datang menghampiri dia sudah hapal betul suara langkah kaki orang tersebut.

“Seratus persen, uh?” Suara yang sudah Namjoon dengar sejak usianya 15 tahun kini berada tepat di sebelahnya,

“Kau tahu dari mana?” Namjoon bertanya, masih tetap menatap langit.

“Hoseok,”

Bahu Namjoon terangkat. Tertawa getir.

Si mulut ember itu, dia menyesal harus mengecek di Laboratorium dimana Hoseok bekerja.

“Cek kakao grup, dia memberitahukan hal tersebut pada yang lain.”

Namjoon menoleh dan mendapati pria bertubuh kecil serta blonde di sampingnya tengah menyeringai sambil menatap penuh cemooh padanya.

“Sialan!”

Yoongi terkekeh sampai-sampai asap rokok keluar dari hidungnya juga, belum selesai tawanya terdengar, suara tawa lain terdengar dari belakang Namjoon.

“Ya hyung! Kau terjebak juga akhirnya!” Tepukan di bahu dari Taehyung membuat darah Namjoon semakin mendidih.

“Diamlah, ini bukan sesuatu yang bisa kalian jadikan lelucon!”

Yoongi dan Taehyung sama-sama menatap Namjoon, “Kami tidak menganggap ini lelucon,” Ucap mereka bersamaan. Namjoon menghela napas. Cih, mereka berencana untuk mengatakan kata-kata tersebut.

“Bukankah ini sesuatu yang mengejutkan? Kami tidak pernah menyangka kau dan Julia benar-benar melakukannya,” Yoongi berkata, Taehyung mengangguk, “Kau tahu, Julia seperti tidak memiliki minat padamu.” Dan senyum cemooh itu terlihat lagi.

“Kami berpacaran selama empat tahun,”

“Wah, kau dengar itu Tae?” Yoongi menyenggol lutut Taehyung dengan ujung sepatunya sambil memiringkan kepalanya untuk menunjuk Namjoon.

Taehyung terkekeh, “Julia benar-benar pintar menyembunyikannya.”

Namjoon menyentuh keningnya, dia tidak ingin adu mulut dengan keduanya.

“Lalu, apa yang akan kau lakukan?” Suara Yoongi terdengar serius, rokoknya telah habis, dia sedang menenggak bir kalengan sekarang.

“Entahlah, aku bahkan tidak pernah berpikir untuk mengambilnya dan menjadikan dia bagian dari keluarga Kim. Aku tahu dia anakku, tapi-”

“Tapi, bukankah dia akan di ambil oleh pemerintah negaranya jika dia tidak segera di ambil oleh ayahnya sendiri?” Taehyung menyela.

“Aku tahu- hanya saja- bukankah itu bagus? Dia akan di biayai oleh pemerintah! Apa yang harus di pikirkan lagi? Hidupnya akan jauh lebih nyaman di bandingkan hidup denganku.” Namjoon berkata, menjelaskan alasannya.

“Kau tidak percaya diri untuk mengasuhnya?” Tanya Yoongi,

“Oh yang benar saja,”

“Kurasa dia tidak memiliki kepercayaan diri,” Taehyung menimpali.

“Sialan, diam kau!”

Yoongi dan Taehyung terkekeh.

Yoongi menyentuh tato di lengannya, dan tersenyum kecil. “Kau tahu, jika aku berada di posisimu aku mungkin akan melakukan hal yang sama. Maksudku, lihat tampilanku, hampir di seluruh bagian tubuhku tertutupi tato, piercing, orang-orang menatapku takut karena ini semua. Aku- tidak akan memiliki kepercayaan diri untuk mengasuh seorang anak,” Dia kemudian menatap Namjoon, “Tapi kau tidak berpenampilan sepertiku ‘kan, kau bekerja di sebuah perusahaan musik benefit dengan gaji yang lebih dari memuaskan, kau memiliki apartemen sendiri, dan apa yang anakmu butuhkan nantinya kau bisa memenuhinya. Lalu, apa yang kau takutkan?”

Namjoon terdiam, tidak menjawab pertanyaan Yoongi. Yoongi tersenyum kecil, menepuk bahu Namjoon dan berlalu dari duduknya. Taehyung menatap Namjoon sambil terus mengunyah permen karet di mulutnya,

“Kau tahu hyung, kau beruntung karena bekerja di balik layar, jika aku yang mengalaminya aku bertaruh karierku di dunia perfilman akan hancur dengan berita semacam ini. Aku yakin kau bisa berpikir jernih dan mengambil keputusan yang bagus.”

Kedua sahabatnya tersebut pergi berlalu meninggalkan Namjoon sendirian, Taehyung membuka pintu besi dan melihat Yoongi yang tengah bersandar di tembok dekat tangga menunggunya sambil berbicara di telepon dengan seseorang. Taehyung tersenyum lebar ketika Yoongi menunjukkan layar ponselnya, wajah Seokjin terlihat disana.

“Kalian mengatakannya?” Tanya Seokjin,

“Ya, hyung, kau tahu ‘kan aku aktor terkenal di Korea.” Taehyung berkata,

“Aku menghapal setiap kata dengan sangat baik, aku bertaruh seorang produser akan menawariku bermain opera sabun jika dia melihat aktingku.” Yoongi menimpali, Seokjin tertawa renyah disana.

“Dia harus mengambil gadis kecil itu bersamanya, karena Julia menginginkan hal tersebut. Dia tidak ingin putri kecilnya masuk dalam penampungan meskipun masa depan Peach akan jauh lebih tertata disana. Julia merasa menyesal karena tidak bisa menjaga Peach sampai putri kecilnya itu besar.”

“Kau masih berhubungan dengan Julia bahkan di akhir hidupnya?” Yoongi bertanya,

“Tidak, dia menghubungiku ketika Peach berusia dua tahun dan saat itulah dia tahu penyakitnya sudah sangat parah. Dia memberitahukan ku bahwa dia memiliki seorang anak dengan Namjoon, dia khawatir Namjoon tidak akan mempercayainya, dia takut Namjoon tidak menganggap Peach sebagai anaknya.”

“Tapi kau tahu ‘kan, Namjoon hyung orang yang sentimental-” Taehyung terkekeh,

“Karena itulah aku mengambil cara ini lewat kalian berdua, dia tidak akan mendengarkan nasehat seperti ini jika keluar dari mulutku.”

Ketiganya kembali tertawa,

“Lagipula, ayah Namjoon juga menginginkan Peach. Yah- bagaimanapun, gadis kecil itu putri dari anaknya.”

Namjoon menatap kertas putih di tangannya, otak pria itu masih berpikir, mencari jalan dan keputusan terbaik untuk gadis kecil tersebut. Peach. Ini di luar perkiraannya, dia tidak pernah menyangka Julia tetap mempertahankan anak di rahimnya, sebelum mereka putus Namjoon menemukan hasil tespek positif di kamar mandinya. Namjoon bertanya pada Julia apakah itu adalah anaknya, namun perempuan itu menjawab dengan sinis bahwa dia tak akan melahirkan anak tersebut.

Dia tidak menginginkan seorang anak.

Namjoon dan Julia bertemu karena urusan bisnis, perempuan itu seorang composer sama sepertinya, jalan pikiran mereka sama, obrolan mereka cocok karena itulah keduanya terjalin dalam sebuah hubungan meskipun beberapa kali Julia kembali ke negaranya dalam waktu yang tidak sebentar. Jarak dan waktu tidak pernah menjadi permasalahan yang rumit bagi mereka sampai tespek bergaris dua itu di temukan oleh Namjoon, dia ingin menikahi Julia, namun Julia bersikeras menolaknya. Wanita itu tidak ingin menikah di usia muda.

Keduanya berpisah begitu saja, Namjoon beberapa kali mencoba menghubungi Julia dan mencari kabar terbaru mengenai wanita itu dari beberapa koleganya. Namun, hasilnya nihil. Bagai di telan bumi wanita itu menghilang begitu saja, bahkan dia tidak menulis ataupun membuatkan lagu untuk seseorang lagi. Ketika Namjoon pikir segalanya telah usai, tidak ada lagi yang bisa menghubungkannya dengan Julia, tiba-tiba gadis kecil ini hadir dengan wajahnya yang hampir 90 persen mirip Julia, mengaku sebagai anaknya.

Pria itu menghela napasnya sekali lagi, seperti yang di katakan Yoongi, untuk menjadi orangtua dia tidak memiliki sesuatu yang memalukan. Well, dia memiliki beberapa piercing di telinganya namun tidak sebanyak Yoongi, dia tidak memiliki tato juga. Tidak seperti Taehyung yang bekerja sebagai seorang entertainer, dia hanya bekerja di balik layar, dia hanya bekerja di dalam studio dan hanya namanya yang terpampang di beberapa album tidak dengan wajahnya. Maka, berita dia memiliki seorang putri tanpa menikah bukanlah sebuah skandal besar.

Lalu, apa yang dia khawatirkan?

Kariernya?

Waktu luangnya?

Atau menjadi orangtualah yang menjadi kekhawatiran terbesarnya?

Tentu saja, itu bisa menjadi faktor terbesarnya saat ini. Namjoon sama sekali tidak mengenal Peach, gadis kecil berusia empat tahun ini, dia tidak mengenal kepribadiannya. Bagaimana mungkin dia bisa menyetujui untuk mengambilnya bahkan nama panjangnya pun dia tidak tahu. Dia menghela napas sekali lagi, dia harus kembali berpikir di dalam kereta menuju kampung halamannya, dia harus bertemu dan membicarakan hal ini kepada kedua orangtuanya. Apa yang harus dia lakukan?

.

.

.

Ibu Namjoon masih mendengarkan putrinya berbicara di ujung telepon ketika gadis kecil bernama Peach itu tengah duduk sambil memakan semangkuk kecil puding mangga yang di bukakan oleh suaminya. Nenek Peach meninggalkan gadis kecil itu disana untuk membereskan persiapan pemindahan Peach, orangtua tersebut yakin betul keluarga Namjoon akan mengambil cucu kecilnya.

“Jadi bu, kurasa jauh lebih baik jika Peach ikut kita.” Putrinya menyudahi pernyataannya di ujung sana,

“Kau mengatakan hal itu dengan sangat mudah, kau pikir membesarkan seorang anak itu seperti membalikkan telapak tangan? Kau juga sebentar lagi akan menjadi ibu dan akan merasakan bagaimana beratnya mendidik mereka. Lagipula, kita tidak membahas materi disini, ibu sangat yakin Namjoon bisa membiayai anaknya jauh lebih baik dari pemerintahan di negara anak ini berasal. Hanya saja, kau tahu ‘kan, kakakmu memiliki jam kerja yang tidak masuk di akal. Dan lagi, dia masih sering mengadakan konser-konser dengan kumpulan penyanyi cepat yang tidak ada di televisi itu, apa namanya-”

“Uh? Oppa masih ikut dalam kumpulan rapper underground?” Tanya Minjoon

“Eoh, itu- Dia masih sering melakukannya, dia akan pergi ke berbagai negara dengan mereka. Kau tahu? Kakakmu pernah tidak pulang sebulan hanya karena ikut dengan para kumpulan penyanyi cepat tersebut,”

“Rapper bu,”

“Ibu tidak bisa melafalkannya, jadi, ibu hanya mengkhawatirkan bagaimana dia mengasuh anaknya sendiri. Kau tahu jelas bagaimana kakakmu, dia bahkan tidak bisa membuat apartemennya sendiri rapi.” Nyonya Kim memijat keningnya sendiri, dan melirik sekali lagi ke arah Peach, “Tapi, semakin ibu perhatikan, Peach benar-benar mirip Joon ketika dia masih kecil.”

“Heol-“

“Ya!” Dan tawa Minjoon terdengar di ujung telepon, “Kalau begitu, ibu saja yang mengasuhnya.”

“Jangan melucu, kau tahu ibu dan ayahmu masih sibuk mengurusi penjualan rumah-rumah baru di daerah sini. Ibu tidak akan memiliki waktu yang cukup untuk menjaganya.”

Minjoon kembali melontarkan pendapatnya, ibunya mendengarkan dengan seksama.

“Lagipula, Peach berbicara dengan bahasa inggris anak usia empat tahun, ibu bahkan tidak mengerti bahasa inggris orang dewasa. Ibu dan ayah kesusahan untuk mengartikan apa yang dia mau,”

Minjoon kembali tertawa di ujung telepon.

Namjoon datang ketika ibu dan Minjoon mengakhiri pembicaraan mereka di telepon, pria itu datang dengan membawa sebungkus donat panas di tangannya. Ketika ibunya bertanya itu untuk siapa, Namjoon hanya menjawab untuk dirinya sendiri walaupun pada akhirnya Peachlah yang menghabiskan semuanya.
Ketiganya duduk di ruang keluarga dan mengobrol dengan serius. Kekhawatiran Namjoon sama persis dengan apa yang ibunya khawatirkan, ini bukan masalah materi, tapi masalah waktu. Namjoon berpikir waktu kerjanya akan membuat dia kewalahan dalam mengasuh Peach, anak itu masih berusia empat tahun, mungkin dia bisa mengantarnya ke sebuah Daycare center di pagi sampai sore hari, tapi dia bukanlah orang kantoran yang akan pulang tepat waktu di jam yang sama. Jika pekerjaannya belum selesai, dia akan tetap di dalam studionya seharian bahkan semalaman.

Nyonya Kim mengatakan jika sebenarnya dia tidak ingin Peach di bawa oleh orang-orang dari pemerintahan di negara anak itu berasal karena bagaimanapun, Peach adalah cucunya. Anak kandung Namjoon. Namun, dia juga tidak bisa berjanji pada Namjoon untuk menjaga Peach.

“Kau bisa meminta teman-temanmu untuk menjaga Peach, Yoongi memiliki banyak waktu,” Ayahnya kemudian berkata setelah terdiam sekian lama, mendengarkan istri dan anaknya saling berdebat mengenai Peach.

“Yoongi?!” Nyonya Kim menatap suaminya penuh rasa terkejut ketika nama itu disebutkannya pertama kali, “Yeobo, kau tahu ‘kan pekerjaan Yoongi apa?”

“Tatto artist? Hanya penampilannya saja yang menakutkan, dia tidak seperti itu, aku tahu Yoongi sejak dia masih berusia 12 tahun. Aku juga mengenal kedua orangtuanya,”

Nyonya Kim memutar bola matanya setelah mendengar jawaban suaminya, oh tentu saja bukan cuma suaminya yang mengenal orangtua Yoongi. Dia juga mengenalnya, bahkan Nyonya Kim berteman akrab dengan ibu dari anak lelaki itu, hanya saja, Yoongi yang menjaga Peach? Di tempat kerjanya yang penuh rokok dan orang-orang setengah mabuk datang untuk minta digambari tubuhnya sendiri? Oh tidak- membayanginya saja membuat bulu kuduk Nyonya Kim berdiri.

“Seokjin juga memiliki banyak waktu, dia seorang novelis, dia jago masak juga. Atau kau bisa meminta Jungkook untuk menjaga Peach di sasana tinjunya. Dia pintar dalam bergaul dengan anak kecil, ah- mungkin Jimin? Dia memiliki Dance studio yang luas dan banyak anak-anak kecil disana, Peach bisa bergaul dengan mereka.” Tuan Kim terus berbicara mengenai orang-orang yang akan menjadi alternatif Namjoon untuk menitipkan Peach jika dia benar-benar harus terjebak di dalam studionya.

Nyonya Kim terdiam begitu pula dengan Namjoon yang bahkan tidak bisa berkata apapun pada ayahnya.

“Ayah hanya tidak ingin kau menyerah untuk mengambil Peach, Ayah tidak ingin kau menyia-nyiakan kesempatan ini,” Tuan Kim berkata, melirik Namjoon yang kini menatapnya. “Bukan karena aku sudah jatuh dalam pesona gadis kecil itu, tapi- kau tahu, darah jauh lebih kental di bandingkan air. Sejauh apapun kalian terpisah, faktanya, Peach adalah anakmu. Dia anak kandungmu, Joon. Sebagai seorang ayah, kau harus bertanggung jawab atas kehidupannya. Entah dia berasal dari sebuah kesalahan atau bukan, dia adalah harta satu-satunya yang kau miliki suatu hari nanti. Seorang istri atau kekasih mungkin akan meninggalkanmu, tapi seorang anak- dia akan tetap berada di sisimu, walau suatu hari nanti dia pergi, dia akan tetap kembali. Karena, dia anakmu dan kau adalah ayahnya.”

Namjoon terdiam, dia bisa melihat punggung kecil Peach yang masih menatap layar televisi menonton kartun kesukaannya. Perkataan ayahnya benar, dia memang harus bertanggung jawab atas kehidupan Peach itulah mengapa sekarang dia sedang berpikir apa yang terbaik untuk gadis kecil itu. Dia tidak ingin Peach merasa kesepian jika dia terlalu banyak bekerja, dia tidak ingin Peach merasakan apa yang dia rasakan ketika dia masih kecil dan orangtuanya sibuk bekerja. Dia tidak ingin mengatakan hal ini pada ayahnya, tapi- ayah dan ibunya mungkin tidak pernah tahu bagaimana rasanya sendirian di dalam rumah ketika kau tumbuh sebagai seorang remaja. Namjoon hanya tidak ingin apa yang terjadi padanya terulang kembali pada generasi penerusnya.

“Aku akan mengambil Peach,” Kata-kata itu kemudian terlontar dari mulut Namjoon hingga dia pun terkejut mendengar suaranya sendiri berkata demikian.

“Kau yakin?” Ibunya bertanya,

“Ya, sebenarnya aku tidak yakin penuh untuk mengurusnya hanya saja, aku tidak bisa lari dari tanggung jawa sebagai seorang ayah. Seperti yang ayah katakan, bagaimanapun dia adalah anakku. Bagaimana mungkin aku meninggalkan anakku begitu saja kepada orang-orang yang tidak di kenal?”

Nyonya Kim menghela napas dan tak berkata apapun lagi. Namjoon berdiri dari duduknya, berjalan ke arah Peach yang masih asik dengan televisi di depannya sembari memeluk teddy besar miliknya, pria itu berjongkok di depan Peach yang kini menatapnya.

“Hello, you know who i am?” Tanya Namjoon,

Gadis kecil itu mengangguk,

“Mowmy twell me aboufh you,” Jawab Peach,

Mata Namjoon membulat mendengar jawaban Peach, dia tidak pernah berpikir Julia akan mengenalkan dirinya pada Peach.

“Then, tell me who i am.”

“Dadda,”

“Uh?”

“Mowmy said, youw are ma dadda,”

Namjoon terdiam sejenak sebelum akhirnya senyumnya mengembang lebar dan menampilkan dua lesung pipinya sekaligus, dia tersenyum dengan sangat lebar sampai-sampai matanya hanya terlihat segaris saja. Dia menepuk lembut kepala Peach yang masih menatapnya tidak mengerti. Entah mengapa hatinya merasa sangat bahagia, mungkin itulah mengapa ketika nenek Peach meninggalkannya disini sendirian gadis kecil itu tidak menangis, karena Julia sudah menceritakan tentangnya pada Peach itulah mengapa Peach bertingkah seolah-olah ini adalah rumahnya sendiri ketika pertama kali datang. Memang anak ini tidak berjalan di sekitar dan tetap diam di sofa sambil terus memperhatikan Namjoon dan kedua orangtuanya, namun dia tidak menangis dan merasa asing berada disini. Julia. Dia benar-benar mempersiapkan segalanya, bukan? Dia seperti mempersiapkan pertemuan Peach dengan keluarga Namjoon hingga membuat anak ini tidak merasa canggung sedikitpun.

“So, Peach, its okay to stay with Dadda for now?”

Peach terdiam sebentar dan kemudian mengangguk.

“Bwecause i can’t meet mowmy anymoh, mowmy told me to stha wifh dadda..”

Namjoon mengangguk, mengelus kepala putrinya sekali lagi. Dia yakin bisa menjaga putrinya, dia yakin bisa membesarkan putrinya seorang diri, gadis kecil ini adalah buah cintanya dengan Julia. Gadis yang dia cinta selama empat tahun dan membuatnya putus asa ketika pergi tanpa pamit sedikitpun. Julia. Dia mengirim gadis kecil ini padanya untuk selalu mengingatnya, mengingat keberadaannya, mengingat bahwa dahulu seorang Kim Namjoon pernah jatuh cinta pada seorang wanita bernama Julia.

“Can you tell me what is your name?”

Peach mengeluarkan kalung dari dalam bajunya, kalung dengan ukiran nama. Peach, Günther

Advertisements

4 responses to “PEACH AND I

  1. WUAAAHHHH.. yeongieomma comeback…
    kangeennn bgt eommaa..
    ditunggu eomma karyanyaa
    .gasabar mo baca ff ini..
    semangat..

  2. Pingback: Adaptation | FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s