[FFINDO PROJECT] SECRET – RED RUM 3

ffindo-red-rum

RED RUM 3 – By: susanokw
Also the last parts:
RED RUM 1
RED RUM 2

Ji Changwook – Kim Taehyung – etc.

Let’s drunk and die.

Jongsuk meletakkan kapas basah berwarna merah di mangkuk stainless berwarna abu-abu. Jemarinya kemudian meraih plester berwarna cokelat di samping mangkuk dan memasangkannya pada kulit yang luka. Bukan, Jongsuk tidak terluka. Seseorang yang meringis dihadapannyalah yang sedang terluka. Pipinya berdarah terkena sabetan pisau dan karena laki-laki itu mengabaikannya cukup lama, ketika sampai di kantor polisi darahnya sudah mengering sehingga Jongsuk cukup kepayahan membersihkan luka itu.

“Sudah. Lukamu sudah di plester.” kata Jongsuk, sedikit ketus. Lelaki jangkung berkulit kuning langsat itu membereskan kotak P3K yang sempat dibongkarnya karena mencari selembar plester.

“Terima kasih. Malam tadi aku ceroboh,” Changwook berkata sambil melihat pantulan dirinya di kamera ponsel. “ouch, sakit sekali.” Ringisnya kemudian.

Terdengar helaan napas tak sabar dari Jongsuk yang sedang menyimpan kotak P3K di lemari, yang membuat Changwook lantas menoleh cepat.

“Kenapa?”

Jongsuk membalikkan badan dan menatap Changwook sebal. “Ceroboh dan bodoh itu beda tipis. Ingat.”

Sedetik kemudian Jongsuk meninggalkan Changwook sendirian di ruangan kantor. Changwook tidak terlalu peduli dengan raut wajah Jongsuk yang sebal padanya, karena sesungguhnya saat sampai di kantor tiga puluh menit yang lalu ia tidak minta diobati. Jongsuk yang berinisiatif untuk membantunya membersihkan luka dan bahkan rela membongkar kotak P3K demi selembar plester lusuh. Tapi Changwook tetap berterima kasih, bagaimanapun ia dan Jongsuk berada dalam satu kubikel yang sama dan tidak mungkin jika ia tidak menjalin hubungan yang baik dengan lelaki itu. Lagipula ia orang baru di kantor ini.

Changwook menatap pisau yang salah satu sisinya berhasil mencium wajahnya. Pisau itu sudah dimasukkan ke dalam kantong plastik bening yang biasa digunakan untuk menyimpan barang bukti kejahatan. Darahnya masih ada di pisau itu, sudah mengering. Changwook menghela napas panjang, otaknya berusaha mereka ulang kejadian yang baru saja terjadi padanya. Ini bukan hal yang baru bagi Changwook, tapi jika tadi ia terlambat satu detik saja, pisau itu bisa mengenai bagian lain dari wajahnya yang mungkin akan menimbulkan dampak yang lebih parah.

Waktu menunjukkan pukul 11 siang. Changwook mengerutkan keningnya samar sambil terus menatap pisau di hadapannya. Tiba-tiba Jongsuk masuk dengan langkah diseret-seret malas, raut wajahnya sudah tidak lagi sebal tetapi terlihat lebih menyedihkan.

“Hey, kau yang sedang berpikir.” Jongsuk memanggil Changwook dengan suara parau.

Changwook mengalihkan pandangannya ke arah pintu dan menemukan Jongsuk sedang bersender lemas di sana. Kedua alis matanya terangkat, isyarat bertanya ‘ada apa?’

“Ayo keluar, aku ingin makan siang.”

Changwook melirik arloji di pergelangan tangannya. “Baru pukul 11, Jong.”

“Aku belum makan sejak kemarin pagi, Wook. Ayolah, berpikir di kedai mie saja.”

Changwook menyadari perubahan sikap tubuh Jongsuk, lelaki itu mulai sedikit merajuk. Sambil tersenyum tipis, akhirnya Changwook berdiri dan menuruti ajakan Jongsuk.

.

.

“Ceritakan, mengapa wajahmu bisa dicium pisau?” tanya Jongsuk seraya memasukkan satu sendok penuh nasi hangat ke mulutnya.

“Itu yang sedang aku pikirkan.” jawab Changwook, sambil menaruh satu potong kimchi di atas sendok mie lalu melahapnya.

“Kau hanya perlu menceritakannya, Wook. Kau yang mengalami kejadian itu, jadi tidak perlu berpikir.”

Changwook berhenti mengunyah, lalu menghela napas panjang. “Aku… lupa.”

Mendengar itu Jongsuk menatap Changwook tajam, dan yang ditatap hanya mengedikkan bahu.

“Omong-omong, Wook,” kata Jongsuk lima detik kemudian. “kau masih berniat untuk menyelidiki kasus kematian Yoojin?”

Changwook mengangguk mantap. “Pisau itu mengenai wajahku saat aku sedang berusaha mencari bukti lain di hutan belakang sekolah.” ujarnya.

Jongsuk mengangguk. “Apa kau menemukan sesuatu?”

Changwook menggeleng pelan, ia meletakkan sumpitnya di samping mangkuk lalu menghela napas panjang. “Ini kasus yang lumayan pelik. Wajahku terluka demi membongkar kasus itu, Jong. Aku mungkin bukan detektif yang hebat, tapi aku punya firasat yang sedikit tidak baik. Bagaimana menurutmu?”

“Menurutku..,” Jongsuk menggantung kalimatnya selama beberapa detik. “sebaiknya kau berhenti saja. Terlalu berbahaya, Wook.”

“Berbahaya?”

“Aku tidak tahu, tapi aku khawatir setelah ini bukan lagi pisau yang akan mampir diwajahmu. Bisa saja pedang samurai atau jenis senjata lainnya.” Jongsuk berkata pelan, jemarinya mengaduk-aduk kuah mie yang sudah dicampur dengan nasi.

Changwook terdiam. Perkataan Jongsuk mungkin ada benarnya. Bahkan sebelum Changwook melakukan penyelidikan lebih jauh pun, sebuah pisau hampir mencelakainya. Hari-hari penyeledikan ke depan akan jauh lebih berat.

“Kau…, pernah mengalami hal yang sama sepertiku, Jong?” tanya Changwook kepada Jongsuk, sedikit hati-hati karena Changwook tahu lelaki dihadapannya ini sudah pernah memegang kasus Yoojin namun tidak tuntas, dan Changwook yakin pasti ada alasan dibalik hal itu.

Jongsuk tidak langsung menjawab. Lelaki itu asyik makan, seakan tidak mendengar pertanyaan dari Changwook.

“Hey, Lee Jongsuk. Aku bertanya padamu.”

“Maaf, aku sedang makan.”

Mendengar nada suara Jongsuk yang berubah dingin, Changwook memutuskan untuk tidak bertanya lagi tentang hal itu.

“Kurasa kau lapar sekali, Jong. Mau ku pesankan potongan ayam tambahan?”

Jongsuk mengangguk pelan, walau sama sekali tidak mengalihkan pandangan dari mangkuk mie. Changwook berdiri, melangkah menuju bagian pemesanan. Laki-laki itu harus mencairkan suasana kembali, siapa tahu setelah lebih hangat Jongsuk mau bercerita. Walau hanya sedikit.

.

.

“Jiyeon, kau sudah mengerjakan PR Kimia?”

“Sudah,” jawabnya. “ada apa?”

Pemuda yang memakai hoodie hitam bertuliskan SWAG itupun tersenyum lebar. “Boleh aku melihatnya? Aku tidak mengerti, jadi semalam aku—“

Belum selesai pemuda itu mengatakan alasannya, gadis bernama Jiyeon itu langsung menyerahkan buku tugas Kimianya. “Kau ketiduran sampai pagi, sehingga tugasmu belum selesai. Taehyung, lain kali carilah alasan yang lain. Sudah ribuan kali kau menggunakan alasan yang sama.”

Taehyung terkekeh pelan. “Kau memang rajin, Jiyeon. Selain pintar mengerjakan PR Kimia, kau juga sempat menghitung alasan yang selalu kupakai. Terima kasih, ya. Akan kukembalikan setengah jam sebelum jam pelajaran kimia dimulai.” Pemuda itu mengacungkan buku bersampul biru langit itu sambil tersenyum, lalu kembali ke tempat duduknya.

I hate chemistry. I also fucking hate this school. Kalau saja si brengsek itu ada di sini, mungkin kelas akan terasa jauh lebih ramai. Setidaknya ada yang bisa aku ajak mengobrol tentang ini itu. Kimia, sungguh, aku membencimu. Bagaimana kau bisa hadir di dun—“ Taehyung menggerutu sendiri sambil menyalin pekerjaan rumah milik Jiyeon ketika tiba-tiba layar monitor di depan kelas menyala dan menampilkan tulisan ‘PERHATIAN.’

Seluruh murid di dalam kelas langsung memerhatikan layar, tidak terkecuali Taehyung. Ada pengumuman penting yang akan disampaikan oleh pihak sekolah kepada seluruh murid. Layar monitor menampilkan foto, sebuah saputangan warna hitam dengan dua garis biru sebagai batas pinggirnya. Foto itu ditampilkan selama satu menit penuh, kemudian diganti oleh sebuah redaksi.

Bagi siapapun yang merasa pernah kehilangan saputangan seperti yang telah ditampilkan sebelumnya, silakan langsung hubungi wali kelas masing-masing. Atau silakan langsung hubungi Detektif Ji Changwook. Terima kasih.

Setelah redaksi tersebut, monitor langsung menampilkan kembali angka yang menunjukkan waktu. Taehyung mengedarkan pandangannya ke seluruh kelas, beberapa diantara teman-temannya ada yang langsung membicarakan siapa kira-kira yang kehilangan saputangan seperti itu sampai harus langsung melapor pada wali kelas atau detektif, sebagian lagi menganggap redaksi barusan hanya angin lalu. Ia sendiri, menghela napas panjang. Acuh tak acuh, ia langsung melanjutkan menyalin pekerjaan rumah Jiyeon pada buku tugasnya.

.

.

“Terima kasih, Pak. Saya sangat mengharapkan ada kabar baik dari murid-murid terkait saputangan tersebut. Semoga kasus ini bisa terungkap secepatnya, mohon dukungan dan bantuannya.” ujar Changwook kepada pihak sekolah bagian kesiswaan, Park Jeong.

“Sama-sama, Detektif Ji. Senang bisa membantu.”

Setelah bersalaman dengan pihak kesiswaan, Changwook pamit untuk melanjutkan pekerjaannya yang lain. Lelaki itu menutup pintu ruangan dengan hati-hati, lalu berjalan menyusuri koridor yang sudah sepi karena sekarang sedang waktunya belajar.

Sedang asyik berjalan, tiba-tiba seorang pemuda berpakaian hoodie hitam bertuliskan SWAG muncul dihadapannya. Changwook hampir berteriak saking terkejut, sebelum akhirnya ia sadar bahwa yang menghadangnya adalah Taehyung.

“Kenapa kau ada di sini? Sekarang waktunya masuk kelas, Kim Taehyung.” kata Changwook sambil berdecak sebal dan geleng-geleng kepala. “Dan kenapa pula kau harus muncul tiba-tiba seperti hantu? Aku hampir saja membuat keributan kalau tidak cepat sadar bahwa itu kau.” gerutunya pada pemuda itu.

“Aku sedang izin ke toilet. Sekarang, ikut aku.”

Tanpa basa-basi, Taehyung berbalik dan berjalan cepat ke arah tangga. Changwook segera mengikutinya dengan langkah lebar-lebar, suara sepatunya menggema di lorong yang sepi.

.

.

“Tak bisakah kau membantuku, Kim Taehyung? Ini untuk kebaikan temanmu juga.” Changwook membujuk Taehyung yang berdiri di hadapannya. Hoodie hitamnya yang kebesaran membuat pemuda itu terkesan tenggelam ditelan hoodie.

“Kenapa kau ingin sekali menyelesaikan kasus ini, Detektif Ji?” Alih-alih menjawab, Taehyung bertanya hal yang lain kepada Changwook.

“Karena dari semua kasus yang ada di kantor, ini yang menarik perhatianku. Bayangkan, kawanku saja tidak berhasil menyelesaikan kasus ini. Aku prihatin melihat seorang ibu yang setiap hari harus duduk sendirian di depan kantorku, mengemis agar kasus temanmu diselesaikan. Orang lain hanya mengurusi masalah laten yang itu-itu saja, tidak terenyuh sedikitpun melihat seorang ibu yang meminta keadilan.

Taehyung, aku ingin membantu seorang ibu. Aku ingin membantu temanmu. Bisakah kau membantuku?”

Taehyung terdiam. Ia tahu ibu Yoojin setiap hari duduk di depan kantor kepolisian, tapi….

“Taehyung.., aku yakin kau mengetahui banyak informasi. Bisakah kau menceritakannya kepadaku? Semua.., ah, tidak. Sedikit saja dulu, beri aku clue supaya pekerjaanku bisa jauh lebih mudah.” Changwook tidak menyerah untuk membujuk pemuda 19 tahun di hadapannya.

“Aku harus kembali ke kelas. Guru Han akan curiga kalau aku tidak kembali secepatnya.” Setelah dua kalimat itu, Taehyung berbalik pergi tanpa memerdulikan Changwook yang keki setengah mati dibawah matahari. Alih-alih menjawab, pemuda itu meninggalkannya sendiri.

“Hey, Kim Taehyung! Pekerjaanku sudah sulit, tak bisakah kau membantu sedikit saja?!” Changwook berteriak, berusaha memanggil Taehyung kembali. Sayang sekali, suaranya menguap dibawah cuaca yang panas.

.

.

“Bagaimana kabarmu?”

Asap rokok langsung menyeruak, memenuhi ruangan yang hanya diterangi oleh cahaya lampu tempel.

“Seperti biasa.” jawabnya.

Taehyung mengangguk pelan. “Berapa batang rokok yang kau habiskan hari ini?”

Samar-samar, terlihat pemuda di hadapannya mengangkat kedua bahu. Sebuah isyarat jawaban tidak tahu, dan bahkan tidak peduli.

Taehyung mengangguk lagi, sambil menghela napas. “Kuharap kau tidak terlalu banyak merokok, Sungjae. Tidak baik untuk kesehatanmu.”

I know. Tapi rasanya sulit untuk berhenti merokok. Kau tahu, hal lain yang bisa membuatku lupa bahwa aku terluka selain dirimu adalah ini.” Sungjae mengacungkan kotak rokok yang masih disegel. Rokok itu baru saja dibelinya, berarti yang sedang ia isap adalah lintingan terakhir.

Taehyung menatap sahabatnya nanar. Rasa sedih sangat terasa, tiap kali kedua pemuda itu duduk bersama. Sungjae terluka, begitupun Taehyung. Keduanya terluka oleh orang yang sama, namun berbeda cerita. Yang beruntung, Taehyung berhasil bangkit. Yang kurang beruntung, Sungjae makin terpuruk.

“Kau sudah tahu?” Taehyung akhirnya membuka percakapan, setelah hening hadir diantara mereka selama 10 menit penuh.

“Apa?”

“Ada seorang detektif yang berusaha membuka kasusnya kembali.”

Sungjae mengangguk. “Lalu?”

“Bagaimana menurutmu?”

Sungjae terdiam. Pemuda itu mengisap rokoknya dalam, menahannya tiga detik, lalu dihembuskan pelan. “Tidak tahu.”

“Ia sudah melakukannya hampir seminggu. Terakhir ku lihat pipinya diplester, mungkin ia baru saja mendapatkan ancaman paling ringan.”

Sungjae mengalihkan pandangannya, menatap Taehyung. “Lalu apa yang akan kau lakukan? Kau tahu sendiri bahwa pemuda yang sedang berbicara denganmu tidak berdaya.”

Taehyung menunduk, jemarinya memainkan butir-butir gelang yang mirip dengan yang Sungjae pakai. “Kurasa aku akan membantunya.”

“Kenapa?” Sungjae bertanya, kali ini suaranya terdengar sedikit parau.

Taehyung mengangkat pandangannya, menatap Sungjae. “Mari kita selesaikan saja semua ini, Sungjae. Anggap saja aku membantu ibunya agar tidak duduk mengemis terus di depan kantor polisi.”

Sungjae terdiam. Manik matanya menatap Taehyung dalam, dan Taehyung dapat melihat kebimbangan di sana. Taehyung tahu, Sungjae menginginkan hal yang sama. Ia ingin kasus ini selesai, ia tidak ingin sembunyi terus. Ia ingin kembali hidup, lepas dari kungkungan rasa sedih dan marah. Tapi…,

“Kau baru saja membuka pintu ajalmu sendiri, Taehyung.” Sungjae berkata pelan, hampir berbisik.

Senyum simpul tersungging di bibir Taehyung. “Aku mohon bantuanmu, Sungjae. Kasus ini, mari kita tuntaskan dengan hati-hati. Bagaimanapun, kau dan aku harus tetap hidup. Terutama kau.”

Hening kembali hadir diantara mereka berdua. Angin yang berhembus lewat jendela yang terbuka membuat api di dalam lampu tempel bergerak-gerak. Gemerisik daun terdengar begitu kentara ditengah suasana yang sepi. Rintik hujan perlahan mulai terdengar jatuh diatas genting.

“Terserah.”

Lalu Sungjae meraih bungkusan rokok yang baru, membukanya, mengambil satu batang, lalu menyulutnya.

Cigarette is heaven.

.

.

 

 

[BEFORE THE STORY BEGINS]

“Aku turut bahagia, Sungjae. Selamat.” Taehyung menepuk bahu Sungjae sambil tersenyum lebar, memberikan selamat kepada sahabatnya. Beruntung, cinta Sungjae tidak bertepuk sebelah tangan dengan Yoojin. Gadis cantik yang mungil itu resmi menjadi pacarnya sekarang.

“Kau harus cepat menyusul, Taehyung! Aku yakin diluar sana banyak sekali gadis yang tergila-gila padamu.”

Taehyung mengangguk sambil tertawa kecil. Walau remuk, ia tidak ingin merusak kebahagiaan Sungjae. “Semoga saja ada yang bersedia menjadi pacarku kelak. Dan semoga gadis itu pintar pelajaran kimia.”

Taehyung dan Sungjae, mereka bersahabat sejak kecil. Bertemu di taman kanak-kanak yang sama, masuk ke sekolah dasar sampai menengah yang sama, dan mempunyai sifat yang hampir sama pula keduanya menjadi sangat akrab satu sama lain. Jahil, senang tertawa keras-keras, senang makan mie kuah kacang merah di kedai murah, dan tentu saja makan sayap ayam pedas malam-malam yang membuat mereka terlihat seperti saudara walau wajah tidak ada kemiripan dari segi manapun.

Beranjak dewasa, bukan hanya kebiasan yang sama. Mereka jatuh cinta pada gadis yang sama. Yoojin, gadis mungil yang selalu terlihat ceria memikat hati keduanya. Berbeda dengan Taehyung yang mengagumi diam-diam, Sungjae lebih terbuka. Dengan terang-terangan Sungjae mendekati Yoojin, mengajaknya makan siang bersama, mengajaknya mengerjakan tugas bersama, bahkan pulang bersama. Taehyung selalu ada di antara mereka berdua, ikut senang tapi mati perlahan. Melihat Yoojin begitu senang dan nyaman bersama Sungjae, ia pun mengalah. Melihat Sungjae yang kembali tersenyum, sejak perceraian orangtuanya dan ayahnya yang jatuh sakit keras membuat Taehyung tidak sampai hati jika harus merusaknya.

Sayangnya kebahagiaan Sungjae tidak bertahan lama. Ayahnya mendadak meninggal dunia, jantungnya tiba-tiba berhenti berdetak dan nyawanya hilang. Pemilik salah satu perusahaan paling besar di Korea Selatan itu pergi dari dunia, meninggalkan aset yang berlimpah dengan putra semata wayang yang masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Sungjae terpukul, rumah yang sebelumnya sudah sepi karena tidak ada sosok ibu sekarang semakin sepi karena ayahnya pun pergi. Sungjae tidak tahu kabar ibunya seperti apa, karena Ayah melarangnya untuk mencari tahu. Bingung harus seperti apa, akhirnya Sungjae melarikan diri dari rumah. Tidak pulang selama satu minggu, keluarga pamannya kelimpungan mencari kesana-kemari.

Taehyung pun sama, biasanya Sungjae pamit jika akan pergi jauh. Namun kali ini tidak ada satupun pesan yang masuk ke ponsel Taehyung kalau Sungjae akan pergi. Yoojin sama-sama kesulitan mencari Sungjae, ponsel pemuda itu tidak aktif. Taehyung kebingungan, berhari-hari mencari Sungjae tapi tidak membuahkan hasil. Melapor ke kantor polisi pun rasanya percuma, mereka sedang sibuk mengurusi kasus pencurian disertai dengan pembunuhan sadis di salah satu kawasan perumahan elite. Pegawai di perusahaan milik Ayah Taehyung tak kalah khawatir, kemana perginya sosok pewaris tunggal perusahaan itu. Untungnya sang Paman dengan tangan terbuka mau mengurusi dulu perusahaan tersebut sampai Sungjae ditemukan, mudah-mudahan dalam kondisi baik-baik saja.

Dua minggu hilangnya Sungjae, Taehyung mendapatkan kabar bahwa pemuda itu telah kembali. Tapi sayangnya Sungjae sedang tidak ingin menerima tamu. Kematian sang ayah membuatnya jatuh ke titik paling rendah dalam hidup, jadi saat ini Sungjae ingin menenangkan diri dulu. Taehyung diperbolehkan berkunjung ke rumah Sungjae kalau kondisi emosi pemuda itu sudah jauh lebih baik.

Taehyung bersyukur, Sungjae kembali. Tidak apa-apa kalau Sungjae butuh waktu untuk sendirian, Taehyung menghormatinya. Asalkan Sungjae hidup, Taehyung bisa bernapas lega.

.

.

Yoojin, aku merindukanmu. Ayo kita pergi piknik besok. Asisten pribadi ayahku akan menjemputmu besok, pagi-pagi sekali.

Begitu bunyi pesan yang masuk ke ponsel Yoojin. Gadis itu melonjak kegirangan, akhirnya Sungjae menghubunginya setelah sekian lama menghilang. Dengan cepat, gadis itu langsung membalas pesan tersebut.

Aku juga merindukanmu, Sungjae. Aku akan bersiap-siap sekarang, sampai bertemu besok.

Tidak ada balasan lagi dari Sungjae. Mungkin pemuda itu sudah tidur, pikir Yoojin. Gadis itu tersenyum geli membayangkan Sungjae dengan wajah polosnya tertidur dengan posisi telangkup dan ponsel yang baterainya hampir habis di sampingnya. Sambil menyunggingkan senyum tipis, Yoojin menyiapkan barang-barang yang akan ia bawa esok untuk piknik bersama Sungjae.

.

.

“Nona Yoojin?”

Yoojin mengangguk sambil tersenyum. “Selamat pagi, Paman.” sapanya pada seorang paruh baya yang membukakan pintu mobil untuknya.

“Selamat pagi, Nona. Sungjae sedang bersiap-siap untuk pergi piknik denganmu. Mari saya antarkan bertemu dengannya.”

Yoojin mengangguk semangat, lalu masuk ke dalam mobil. Ia duduk di kursi penumpang, tersenyum sepanjang jalan. Hal yang pertama kali akan ia lakukan ketika bertemu Sungjae nanti adalah memeluknya, mengatakan pada pemuda itu bahwa ia sangat…, sangat rindu padanya.

.

.

“Sungjae ada di dalam, mungkin sedang sarapan. Ia ingin Nona menemuinya di dalam, barang-barangnya biarkan saya yang membawa.”

Mendengar itu, Yoojin langsung masuk ke dalam sebuah bangunan yang cukup megah. Bangunan itu berwarna abu-abu gelap, beberapa lampu yang dipasang di luar masih menyala. Matahari masih malu-malu untuk muncul di langit, suasana masih sedikit gelap. Yoojin masuk di sambut oleh salah seorang pemuda, mungkin usianya berbeda sekitar 10 tahun dari Yoojin. Berpakaian jas hitam rapi, pemuda itu mengantarkan Yoojin naik ke lantai tiga.

Sepanjang perjalanan, Yoojin mengedarkan pandangannya pada ornamen-ornamen yang membangun gedung tersebut. Kesan eropa klasik sangat kental di dalam gedung itu. Di cat warna putih, dengan lampu berwarna kuning membuat kesan lampau sangat terasa.

“Sungjae ada di lantai berapa?” tanya Yoojin, begitu sadar bahwa ia sudah menaiki banyak anak tangga.

“Tiga.”

Yoojin mengangguk. Gadis itu terus mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, berusaha mengabaikan perasaan tidak enak yang tiba-tiba saja muncul. Entah mengapa, semakin lama suasana di gedung ini semakin dingin, semakin hening. Langkah kakinya terdengar menggema di lorong lantai tiga.

“Sungjae ada di dalam. Silakan masuk sendiri, Sungjae hanya meminta saya mengantarkan sampai ke sini.” ujar pemuda yang mengantarkannya dengan nada suara yang datar. Bukan hanya gedungnya yang terkesan dingin, pemuda yang baru saja ditemuinya ini pun sangat dingin. Tanpa senyum atau bahasa tubuh apapun, pemuda itu berbalik pergi meninggalkan Yoojin yang masih berdiri di depan pintu.

“O-oh, baiklah. Terima kasih.” Yoojin gelagapan, bingung harus bersikap seperti apa. Setelah pemuda itu hilang di balik dinding, Yoojin mengalihkan pandangan pada pintu berwarna cokelat di hadapannya. Gadis itu berdeham beberapa kali, merapikan penampilannya, dan menyiapkan senyum terbaik untuk bertemu Sungjae. Sedetik kemudian, ia membuka pintu.

.

.

“Dimana Sungjae?” Suara Yoojin bergetar ketakutan, tangannya mengepal di samping badan. Dahinya mulai berkeringat.

“Sungjae?” Lelaki bertubuh tegap di hadapan Yoojin tersenyum kecut. “Mati.”

Yoojin melebarkan kedua matanya, tubuhnya mendadak beku. Sendi-sendinya tidak bisa bergerak, mulutnya tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun. Mendengar kata ‘mati’ membuatnya tidak bisa berpikir jernih.

Bukan Sungjae yang ia dapati di dalam ruangan itu.

Sungjae bahkan tidak ada di dalam ruangan itu.

“Benar. Wajahmu mirip sekali dengan Nasoo.” Lelaki itu berbicara kembali, suaranya terdengar serak.

“D-dari mana kau tahu nama ibuku?”

Lelaki di hadapannya tertawa pelan. “Kau boleh tanya ibumu apakah ia mengenalku atau tidak.”

“Siapa kau?”

“Tapi kurasa kau tidak akan bisa menanyakan itu sampai kapanpun.”

“Siapa kau?!”

Yoojin hampir berteriak dalam ruangan remang-remang itu. Sinar kuning yang sedari tadi dilihatnya kini berganti menjadi remang merah. Kesan dingin yang dari tadi ia rasakan, sekarang berganti menjadi menyeramkan dan…., berbahaya.

“Tidak perlu terburu-buru untuk mengenalku, Yoojin. Lebih baik kau duduk, dan kita minum rum bersama. Kau suka rum? Aku pilihkan rum paling enak dan paling mahal hanya untukmu, Yoojin. Kemari dan duduklah.” Lelaki itu menunjuk kursi kosong di seberangnya, seraya menuangkan minuman berwarna cokelat kemerahan ke dalam gelas kecil khusus bir.

“Keluarkan aku dari sini.” Yoojin berkata dengan nada suara yang rendah.

“Keluar? Kau tidak bisa keluar, Yoojin.”

“Mana Sungjae?”

“Mati.”

“Keluarkan aku dar—“

Belum sempat Yoojin menyelesaikan kalimatnya, lampu mendadak padam. Ruangan menjadi sangat gelap, siapapun yang berada di dalam ruangan itu tidak akan bisa melihat apa-apa.

“Aku melihat Nasoo pada dirimu, Yoojin. Ibumu meninggalkanku demi laki-laki brengsek itu, dan ia melahirkanmu. Aku membenci ibumu, beserta suaminya dan keturunannya. Aku membenci kakakku yang sudah mati, beserta keturunannya. Ibumu membuang kebahagiaanku, kakakku melenyapkan impianku. Semua yang kubenci, akan lenyap satu per satu.”

Lelaki itu berujar sendirian. Di tengah ruangan yang gelap dan sepi, ia menenggak rum yang ada di tangannya. Sesekali ia terkekeh pelan, tersirat emosi marah bercampur sedih di dalamnya. Hening, 10 menit penuh. Tidak ada suara, tidak ada cahaya.

Kemudian lelaki itu menjentikkan jari. Lampu kembali menyala, remang berwarna merah.

Matanya memandang lurus ke depan, terlihat kosong. Gelas berisi rum di tangannya sudah habis, sedangkan rum yang tadi ia tuangkan untuk Yoojin masih penuh.

“Pastikan ia mati. Simpan ia di gudang dua hari, kuliti, lalu kuburkan.”

Lelaki itu, memberikan perintah.

.

.

Taehyung sedang membaca komik detektif Conan siang itu. Di sampingnya buku tugas matematika miliknya dan Jiyeon terbuka, pensil dan penghapus tergeletak begitu saja. Pagi tadi, Taehyung sengaja lari pagi dan mampir ke rumah Jiyeon untuk meminjam buku tugas serta buku catatan matematika. Selain payah dalam pelajaran kimia, Taehyung tidak begitu baik dalam pelajaran matematika. Apapun yang berhubungan dengan angka, baik kimia, fisika, matematika, bahkan geografi, Taehyung tidak akan bisa melakukannya dengan baik. Sejak duduk di sekolah menengah pertama, Taehyung membenci angka. Ia tidak tahu mengapa orang-orang zaman dahulu bisa menemukan angka-angka serta teori-teori yang sulit dipahami seperti ini. Bahkan Taehyung berpikir, jika orang zaman dahulu bisa menemukan teori serumit ini mengapa teknologi baru di ciptakan sekarang? Mengapa teknologi tidak diciptakan sejak dulu dan mengapa—ah, terlalu banyak mengapa di pikiran Taehyung. Masa bodoh dengan pertanyaan-pertanyaan itu, Taehyung lebih memilih komik detektif conan untuk menjadi hiburannya.

Tiba-tiba seseorang membuka pintu kamarnya lebar-lebar. Taehyung langsung terlonjak, bangkit dari posisi malasnya begitu melihat siapa orang yang masuk ke daerah kekuasaannya dengan tidak sopan. Bukan, bukan ibunya.

Itu Sungjae.

“Yook Sungjae!” Pekiknya girang. “Astaga! Kau kembali, Yook Sungjae! Ku kira kau mati dimakan singa, ku kira kau membusuk ditengah hutan, kukira—“

“Kau berisik, Taehyung.”

Tidak peduli, Taehyung terus memeluk Sungjae dengan erat. Yang dipeluk awalnya diam, tetapi akhirnya membalas pelukan sahabatnya itu dengan hangat. Senyumnya sedikit terkembang, air matanya menetes pelan.

Sungjae hidup. Sungjae telah kembali.

.

.

“Kemana saja kau selama 2 minggu menghilang?”

Mereka berada di kedai mie kuah kacang merah. Taehyung mentraktir Sungjae, untuk merayakan kepulangannya. Sungjae pesan dua mangkuk, sedangkan Taehyung hanya satu mangkuk. Hari ini, apapun yang Sungjae inginkan akan berusaha Taehyung penuhi. Selama masih masuk akal, bukan sebuah masalah yang besar.

“Jalan-jalan.”

“Jalan-jalan kemana?”

“Menenangkan pikiran.”

“Kemana?”

“Aku lupa.”

Taehyung mendengus sebal. “Lalu sudah puaskah kau 4 hari mengurung diri di dalam rumah?”

“Aku tidak pernah pulang ke rumah.”

“Bohong.” ujar Taehyung. “anak buah pamanmu mengabariku kalau kau sudah pulang sejak 4 hari lalu. Tapi kau tidak mau menerima tamu, baik aku ataupun Yoojin. Jadi kubiarkan kau mengurung diri di rumah sampai puas. Nyatanya, hari ini kau yang datang ke rumahku.” jelasnya, sambil sedikit bersungut-sungut.

Sungjae mengalihkan pandangannya dari mangkuk mie ke wajah Taehyung, keningnya berkerut samar. “Taehyung..”

“Apa? Kenapa?”

Sungjae menelan makanannya perlahan. “Aku baru pulang hari ini. Aku langsung ke rumahmu, aku tidak pernah pulang ke rumah.”

“Kau bohong.”

“Aku bersungguh-sungguh, Kim Taehyung.”

.

.

Telah ditemukan tulang-belulang yang terkubur di hutan yang terletak di belakang Jaewon Highschoo, kemarin. Kuburan tulang tersebut dicurigai oleh salah satu siswa yang sedang mengambil dedaunan kering untuk bahan praktikum. Ia melihat ada gundukan tanah yang dikerubungi oleh lalat dan sedikit berbau busuk. Siswa tersebut langsung melaporkannya pada pihak sekolah, dan setelah dibongkar ternyata gundukan tanah tersebut berisi tulang-belulang. Kepolisian menyatakan bahwa tulang itu adalah tulang manusia, dan sudah cukup lama di tanam di dalam tanah. Setelah diidentifikasi, dinyatakan tulang-belulang tersebut milik salah satu siswa di Jaewon Highschool bernama Kim Yoojin.

Redaksi berita pagi yang menyakitkan bagi Sungjae juga Taehyung. Sarapan yang baru saja dimakan satu sendok tidak lagi tersentuh lantaran keduanya tergugu di depan televisi, melihat tayangan berita pagi yang membuat keduanya hancur.

Pagi itu, dunia Sungjae hancur lagi. Entah yang keberapa kalinya, hal-hal buruk terjadi padanya berturut-turut. Setelah ditinggal oleh ayahnya, ia tidak mau kembali ke rumah. Ia menyewa sebuah apartemen dan hidup di sana. Sesekali ia menginap di rumah Taehyung jika merasa sangat kesepian. Pulang ke rumah mengingatkannya pada sosok ibu dan ayah, beserta dengan pertengkaran dan kekerasan yang ia lihat sejak kecil. Satu tahun yang lalu, ibu Yoojin mengubunginya apakah ia sedang bersama Yoojin atau tidak. Pasalnya, Yoojin menghilang sudah dua hari. Ibunya tidak tahu kemana gadis itu pergi karena dua hari sebelumnya, Yoojin hanya pamit pergi jalan-jalan pagi-pagi sekali. Karena  malamnya ibu Yoojin baru bisa terlelap sekitar pukul 4 pagi, saat Yoojin berpamitan ia tidak terlalu mendengar kemana dan bersama siapa anak gadisnya pergi.

Lebih parah dari Sungjae, Yoojin menghilang lebih dari satu bulan. Pihak kepolisian berusaha mengurus kasus tersebut tetapi kasus baru yang lebih besar selalu muncul. Masalah perdagangan kayu ilegal yang dilakukan oleh salah satu perusahaan terbesar di Korea terungkap. Serius mengurus kasus yang lain, kepolisian distrik setempat lantas lupa dengan kasus Yoojin. Hingga akhirnya 4 bulan kemudian, ditemukan tulang-belulang itu. Sudah hampir keropos, sedikit berbau busuk karena dikubur masih dengan sisa-sisa daging dan darah.

Ibu Yoojin yang dulunya datang setiap hari ke kantor polisi, sekarang lantas hidup di depan kantor polisi. Menyadari bahwa kasus Yoojin adalah kasus pembunuhan paling sadis yang pernah terjadi, polisi akhirnya turun tangan untuk menyelidiki kasus ini. Seorang detektif dari kantor ternama ditugaskan untuk menyelidiki kasusnya, dan berusaha untuk mengungkap siapa yang berada di balik semua penculikan dan pembunuhan ini. Sayangnya, 3 bulan melakukan penyelidikan, alih-alih menemukan hasil yang berarti, detektif itu bahkan hampir mati. Semenjak kejadian kebakaran hebat yang terjadi di kantornya, detektif itu berhenti melakukan penyelidikan. Berkas-berkas kasus Yoojin sebagian hangus terbakar, informasi-informasi yang telah berhasil dikumpulkan menghilang.

Sejak saat itu, pihak kepolisian secara sepihak memutuskan untuk menghentikan penyelidikan. Kasus ini terlalu pelik untuk diselesaikan. Detektif kenamaan hampir mati, terlepas apakah ada sangkut pautnya dengan kasus ini atau tidak, polisi pun menutup kasus ini dan menguburnya dalam-dalam. Berkas yang sudah hilang dibiarkan, seolah memang itulah yang sudah seharusnya. Mereka menjadi buta dan tuli pada kasus ini, bahkan tidak peduli pada seorang ibu yang menuntut kasus anaknya diusut kembali sampai rela hidup di depan kantor polisi. Awalnya pihak kepolisian merasa jengah, tapi lama-kelamaan mereka tidak peduli. Benar-benar tidak peduli.

.

.

“Sungjae kau harus makan, kau harus pergi ke sekolah.” bujuk Taehyung. Malam ini mereka sedang berada di apartemen sewaan Sungjae, duduk memandang kerlap-kerlip lampu kota dan mendengar lenguhan suara klakson panjang dari bawah sana.

Sungjae tidak menjawab. Pemuda itu diam, menatap lurus ke depan. Pandangannya kosong, penampilannya berantakan, bajunya terlihat lusuh seperti sudah tiga hari tidak mandi dan tidak ganti baju. Tubuhnya kurus, seperti seseorang yang telah melewatkan sarapan, makan siang, serta makan malamnya berhari-hari.

Taehyung mengunjunginya karena khawatir. Semenjak pihak kepolisian menutup kasus Yoojin secara sepihak, Sungjae berubah drastis. Kejadian-kejadian buruk yang menimpa dirinya membuat sosok Sungjae yang dulunya kooperatif menjadi pasif namun agresif. Sungjae lebih sering terlihat murung, berdiam diri selama berjam-jam, tidak berkata apapun, tidak menjawab pertanyaan siapapun. Kalau merasa terganggu ia akan membentak siapapun, kalau merasa marah ia tidak segan untuk memukul siapapun, atau mengancam siapapun. Sungjae berubah agresif, sehingga ia ditakuti oleh teman-temannya di sekolah.

Empat bulan berlalu sejak kasus Yoojin ditutup total. Sungjae sudah tidak masuk ke sekolah sejak dua bulan yang lalu karena perilakunya yang dianggap membahayakan. Pihak sekolah menyarankan Sungjae untuk ikut konseling remaja bersama seorang psikolog, tapi Sungjae menolak. Pihak sekolah sudah berusaha berbicara dengan pihak keluarga Sungjae –pamannya –namun hingga saat ini tidak ada perkembangan apapun. Pihak keluarga mengabarkan bahwa Sungjae akan segera melakukan proses konseling untuk mengubah tingkah lakunya, tetapi nyatanya hal itu tidak pernah terlaksana. Sungjae dibiarkan seperti anak hilang, luntang-lantung sendirian tidak tentu arah, tidak tahu apakah akan melanjutkan hidup esok hari atau mati saja malam ini.

Dari semua orang, hanya Taehyung yang berhasil berkomunikasi dengannya. Pemuda itu menerima Sungjae, walau bagaimanapun kondisinya. Rokok, alkohol, permen karet, dan makanan ringan adalah teman-teman Sungjae sekarang. Taehyung menghormatinya, pemuda itu hanya berpesan agar Sungjae tetap dalam kondisi sadar ketika mengonsumsinya. Dan Sungjae sudah berjanji pada Taehyung bahwa ia tidak akan melangkah lebih jauh dari ini. Sungjae ingin hidup, hanya saja ia tidak tahu bagaimana cara membuat hidupnya lebih baik dari sekarang. Rokok, alkohol, permen karet, dan Taehyung yang bisa membuatnya merasa bahwa jantungnya masih berhak berdetak.

Kedua pemuda itu bertemu sesekali. Di sebuah gubuk reyot, yang sama sekali tidak memiliki pencahayaan. Taehyung yang selalu membawa lampu tempel kalau mereka hendak bertemu, karena sekarang Sungjae senang berdiam diri dalam gelap. Membuat dirinya tidak terlihat, membuat dirinya menyatu bersama malam. Kantung mata Sungjae mulai menghitam, tertanda bahwa pemuda itu jarang tidur di malam hari.

Taehyung sebisa mungkin tetap menemani Sungjae, berusaha menjaga agar kondisi sahabatnya tidak bertambah buruk. Makanan sehat terkadang Taehyung bawakan untuk Sungjae. Bagaimanapun kondisi hidup ini, Sungjae harus tetap bernapas.

Taehyung yakin suatu hari kondisi akan berubah menjadi lebih baik.

.

.

[AFTER THE PAST]

Kepala Changwook pening. Seorang laki-laki yang tadi merangsek masuk ke kantor untuk bersembunyi dari kejaran orang-orang ternyata adalah seorang pasien rumah sakit jiwa. Changwook, Jongsuk, dan dua orang lainnya yang hari itu sedang berada di kantor kewalahan menghadapi pasien itu. Semua berkas di meja lobi hampir di acak-acak, berserakan di lantai.

Changwook menghela napas panjang. Sudah hampir satu minggu ia memberikan pengumuman tentang saputangan itu, dan selama itu pula tidak ada satupun kabar yang masuk dari pihak sekolah. Ditambah dengan sikap Taehyung yang membuatnya gemas setengah mati. Changwook tahu, seorang detektif tidak seharusnya bermain perasaan. Tetapi firasatnya mengatakan bahwa pemuda itu pasti menyimpan banyak informasi, namun tidak ingin ia bicarakan padanya. Changwook memutar otak, mencari cara lain agar Taehyung mau bercerita padanya walaupun sekarang kepalanya sedang pusing. Ulah pasien rumah sakit jiwa tadi pagi membuat emosinya terkuras habis.

“Sabar, Changwook. Maklumi saja, itu pasien rumah sakit jiwa. Jiwanya terganggu. Tidak perlu frustrasi, jangan ikut-ikutan terganggu.” gumamnya, lebih pada diri sendiri.

Tiba-tiba pintu ruangannya terbuka, Jongsuk masuk membawa dua cangkir minuman cokelat dingin. Lelaki itu menaruh salah satunya di hadapan Changwook.

“Siapa tahu bisa membantu.” ujarnya sambil tersenyum.

“Terima kasih.”

Keduanya duduk berhadapan, bersender pada kursi masing-masing. Jika yang Changwook rasakan adalah pening, yang Jongsuk rasakan adalah sakit pinggang. Membereskan berkas-berkas yang bertebaran di lantai membuatnya harus membungkuk berkali-kali. Changwook tidak berurusan dengan berkas itu karena ia orang baru, jadi lelaki itu lebih memilih untuk menenangkan si pasien sampai perawat datang menjemput. Jongsuk menghela napas panjang. Ia harus sabar, ia harus maklum. Tadi pagi kantornya disambangi pasien rumah sakit jiwa. Jiwanya terganggu.

“Astaga, pinggangku sakit.” Keluh Jongsuk kemudian. Ia merenggangkan badannya, sambil mengaduh.

“Kau harus istirahat, Kakek Jong.” kata Changwook, yang memerhatikan Jongsuk hanya dengan lirikan mata.

“Apa yang sedang kau pikirkan, Kakek Wook? Kelihatannya kau pusing sekali.” Tidak peduli dengan panggilan Kakek, Jongsuk membalas panggilan itu dengan panggilan yang sama.

Jong dan Wook, begitu cara mereka saling memanggil. Bertemu setiap hari di kubikel kecil yang sama membuat keduanya semakin akrab.

“Kasus Yoojin. Aku yakin pemuda bernama Taehyung itu punya banyak informasi, tapi kenapa ia tidak mau menceritakannya padaku? Padahal aku ingin membantu temannya.” Changwook mengeluh pada Jongsuk.

Terdengar Jongsuk menarik napas panjang, kemudian menghembuskannya perlahan. “Dulu aku yang menangani kasus itu, Wook.” Jongsuk mulai bercerita.

“Aku tahu.”

“Kau tahu kenapa aku berhenti?”

Changwook terdiam.

“Aku hampir mati, Wook.”

Kali ini Changwook mengalihkan pandangannya, menatap Jongsuk. Tatapan keduanya bertemu di udara selama lima belas detik, sebelum akhirnya Jongsuk mulai bercerita.

“Berkas yang ada di tanganmu sekarang, adalah sebuah salinan. Aku yang mengetik ulang. Waktu itu terjadi kebakaran hebat di kantor kami yang sebelumnya. Polisi bilang karena arus listrik pendek, tapi entahlah. Rasanya ada sesuatu yang ganjil dalam kebakaran waktu itu. Semua berkas yang sudah dan belum selesai terbakar, sebagian lagi sudak karena basah terkena air pemadam kebakaran, sebagian lagi entah kemana. Termasuk berkas milik Yoojin.

Tidak ditemukan satu lembarpun setelah kejadian malam itu. Aku terjebak dalam sebuah ruangan, sedang menyelidiki kasusnya setelah menemukan beberapa bukti baru. Kalau saja pemadam kebakaran tidak cerdik melihat lampu ruanganku yang berkela-kelip, mungkin aku akan keluar sebagai seonggok manusia gosong tidak bernyawa. Sejak itu, aku berhenti menyelidiki kasus itu. Bukan hanya itu, sebelum kebakaran hebat itu terjadi aku selalu mendapatkan teror. Mulai dari yang paling ringan, sampai kebakaran itu yang paling parah.

Ketua menyarankanku untuk berhenti saja, dan memutuskan untuk menutup saja kasus itu secara sepihak. Asal kau tahu, kami sudah berusaha memberi pengertian kepada ibu yang hidup di depan sana itu, tetapi wanita itu tetap tidak bisa mengerti. Setiap hari ia datang ke kantor polisi, bahkan mungkin tidak pulang berhari-hari. Aku, sejujurnya, tidak buta atau tuli dengan ratapan ibu itu. Tapi…, kau tahu—“

“Kalian terlalu takut untuk membuka kasus itu?”

Jongsuk mengangguk pelan.

“Karena kalian tidak mau terus-menerus terkena teror?”

Jongsuk mengangguk lagi. “Oleh karena itu aku terus bertanya padamu, apakah kau yakin akan terus melanjutkan penyelidikan kasus ini atau tidak. Pisau itu, kurasa itu teror paling ringan untukmu, Wook. Sadarilah, kau sudah mendapatkan peringatan pertama bahkan sebelum kau melakukan apapun.”

Jongsuk menatap Changwook yang terdiam di hadapannya lama. Kedengarannya begitu egois, seorang detektif tidak mau memecahkan kasus hanya karena takut teror. Tapi perintah dari Ketua harus dipatuhi, itu doktrin yang ditanamkan pada setiap detektif di kantor ini.

Changwook menghela napas. “Aku tahu kasus ini pelik, Jong. Tapi.., aku iba melihat ibu itu terus menerus hidup menderita. Aku hanya ingin membantunya, dan kurasa jika kasus ini tidak dipecahkan. Aku khawatir akan ada korban berikutnya, dan mungkin bisa lebih sadis dari kasus Yoojin.”

“Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang?”

Changwook menunjukkan selembar pengumuman terkait saputangan yang ia temukan. Jongsuk membaca pengumuman itu dengan seksama. “Sudah mendapatkan kabar?”

Changwook menggeleng. “Belum, dan sudah berjalan satu minggu.”

“Apa yang bisa kubantu, Wook?”

Mendengar itu, Changwook tersenyum simpul. “Terima kasih, Jong. Aku akan menghubungimu kalau aku dalam bahaya.”

“Kau memintaku untuk menjadi tameng kalau kau sedang terancam, begitu maksudmu?” nada suara Jongsuk terdengar sinis.

Changwook tertawa kecil. “Tidak, bukan begitu. Aku meminta bantuanmu unt—“

Belum selesai Changwook berbicara, ponselnya berbunyi. Ada sebuah telepon masuk, dari nomor yang tidak dikenal. Lelaki itu bergegas mengangkatnya.

“Halo?”

“Ini aku. Apakah bapak Detektif sedang sibuk? Aku sedang berada di kedai mie kuah kacang merah bersama temanku. Aku tahu siapa yang kehilangan sapu tangan itu, jadi rasanya kita bisa bertemu.”

Mendengar suara itu Changwook langsung menegakkan tubuhnya, bangkit dari posisi bersender. “Oke, tunggu di situ. Aku akan segera ke sana.”

Detik berikutnya sambungan telepon di putus, Changwook bangkit berdiri sambil membereskan berkas kasus Yoojin. “Anak itu berubah pikiran. Aku harus cepat menemuinya. Ini titik terang, aku harus memanfaatkan kesempatan ini dengan baik sebelum anak itu berubah pikiran lagi,” terburu-buru Changwook memasukkan berkas, pisau, serta barang bukti saputangan ke dalam tas.

“Syukurlah. Telepon aku jika membutuhkan bantuan apapun.”

Changwook mengacungkan jempolnya cepat tanpa menoleh ke arah Jongsuk, lalu pergi meninggalkan ruangan.

.

.

“Itu detektif yang kau maksud, Taehyung?”

Taehyung mengikuti telunjuk Sungjae yang menunjuk seseorang di pintu masuk kedai. Lelaki jangkung, dengan pakaikan serba hitam, membawa tas selempang warna hitam berdiri di pintu masuk sambil mengedarkan pandangannya.

“Ya, kau benar.” jawab Taehyung pelan seraya mengangkat tangannya untuk memberikan tanda dimana ia dan Sungjae duduk.

Changwook langsung menghampiri Sungjae dan Taehyung dengan langkah lebar-lebar. Lelaki itu lantas duduk di hadapan kedua pemuda yang sama-sama memakai hoodie hitam bertuliskan SWAG. Sungjae dan Taehyung memang punya beberapa barang yang sengaja dibuat sama.

“Aku tidak terlambat, bukan?”

Taehyung menggeleng, senyum tersungging di bibirnya. “Tidak sama sekali, Paman.”

Mendengar kata Paman, gerakan Changwook yang sedang membenarkan posisi tas selempangnya sontak berhenti di udara. Matanya beralih cepat melihat ke arah Taehyung. “Pa-paman? Sejak kapan kau memutuskan untuk memanggilku dengan panggilan itu?”

“Barusan.”

Changwook mendengus pelan, tapi lelaki itu tersenyum. Setelah posisi duduknya nyaman, ia menatap dua pemuda di hadapannya, menarik napas panjang, lalu berkata, “Jadi, Taehyung. Siapa pemilik saputangan itu? Karena asal kau tahu, aku menemukannya di hutan dan aku mencurigai pemilik saputangan itu yang melakuk—“

“Orang yang sedang duduk di sebelahku ini pemiliknya,” ujar Taehyung. “namanya Sungjae. Yook Sungjae.”

Yook Sungjae.

“Kau yang bernama Yook Sungjae? Anak kenamaan itu? Yang ditakuti seantero sekolah?”

Taehyung melirik Sungjae perlahan, sedangkan Sungjae hanya menatap keluar jendela. Acuh tak acuh dengan keberadaan Changwook di hadapannya.

“Hey, anak muda. Jadi kau yang memiliki saputangan ini?”

“Iya, dia pemiliknya,” ujar Taehyung. “kami memiliki saputangan yang sama, Paman. Lihatlah.” Taehyung mengeluarkan saputangan serupa dari dalam saku hoodienya.

“Wow, kalian ini apa? Saudara?”

“Kami bersahabat.”

Changwook mengangguk paham. “Baiklah. Mengapa saputangan milikmu bisa ada di hutan, Sungjae?”

Sungjae tidak menjawab. Ia hanya melirik Changwook sekilas, lalu mengalihkan pandangannya lagi. Merasa tidak dihargai, Changwook berdecak sebal. Beginikah sikap anak-anak muda generasi sekarang? Sungguh, generasi milenium selain menjunjung prinsip ‘simplicity is a must’ mereka juga kurang menghargai orang yang lebih tu—ah, maksudnya dewasa. Changwook sedikit sensitif dengan kata tua.

“Kurasa dia menjatuhkannya di hutan, Paman. Dia kehilangan saputangan itu sejak dua bulan yang lalu.” Taehyung menjelaskan perlahan. “Ehm, sebelumnya aku ingin paman sedikit maklum. Temanku sulit untuk melepaskan diri dari rasa sedih yang begitu lama, jadi dia pendiam sekali. Jika kau ingin bertanya apapun, aku akan menjawabnya semampuku. Dia butuh cukup waktu untuk menyesuaikan dengan orang baru.”

Changwook mengangguk-angguk mendengar penjelasan Taehyung tentang Sungjae. Dilihat dari sudut pandang Changwook, Sungjae memang sedikit mengerikan. Kantung matanya yang menghitam membuatnya tampak menyeramkan. Gayanya yang tidak peduli –mengunyah permen karet, duduk dengan posisi malas di sofa, memandang ke luar jendela, dan tidak memedulikan kehadiran orang lain – dan tubuhnya yang kurus menandakan pemuda itu mengalami frustrasi yang tidak berkesudahan. Changwook lagi-lagi menghela napas panjang, merasa iba atas keadaan Sungjae.

“Jadi.., informasi apa yang bisa aku dapatkan darimu, Taehyung?”

“Yang ingin aku luruskan pertama kali adalah, jika kau menduga bahwa Sungjae adalah pelaku di balik semua kasus Yoojin karena kau akhirnya tahu bahwa saputangan yang ditemukan di hutan adalah miliknya…, itu salah.”

Changwook mengangguk pelan.

“Kedua, aku akan menceritakan semua kejadiannya dari awal. Jika kau menduga bahwa Sungjae terlibat dalam kasus ini, kau benar. Tetapi Sungjae bukanlah orang yang kau cari, Paman.”

“Oke. Kalau begitu mulailah bercerita,” Changwook mempersilakan Taehyung untuk memulai cerita. “aku akan mencatat poin-poin penting dari ceritamu.”

Taehyung mengangguk mantap, tapi…

“Tapi, Paman. Sebelum aku bercerita, bolehkah aku memesan dua minuman cokelat di kedai ini? Kami berdua suka sekali minuman cokelat di sini, jadi—“

“Pesanlah.”

Taehyung langsung tersenyum lebar.

.

.

 

 

 

[5 MONTHS BEFORE]

Pukul 11.30 malam.

Taehyung baru saja selesai berenang di salah satu gedung olahraga yang buka 24 jam. Gedung tersebut memang diperuntukkan untuk para atlet yang akan menghadapi kejuaraan, karena atlet-atlet itu sering kali berlatih mulai jam 10 malam hingga jam 1 pagi. Dengan rambut yang masih basah, Taehyung berjalan menyusuri jalan yang diterangi lampu dengan cahaya remang-remang. Udara berhembus cukup kencang, daun-daun kecokelatan berguguran ditiup angin. Sebentar lagi musim gugur tiba, udara menjadi lebih dingin dari biasanya.

Pemuda itu merapatkan jaketnya. Hoodie bertuliskan SWAG miliknya sedang dicuci Ibu tadi pagi, jadi ia memakai jaket yang lain. Jalanan sepi, hanya ada beberapa orang yang berjalan berlawanan arah dengan langkah lebar-lebar. Hembusan angin membuat orang-orang masuk ke dalam rumah lebih cepat, mereka tidak mau kedinginan. Sambil bersiul pelan, Taehyung menatap ke depan. Kegiatan berenang yang baru saja dilakukannya adalah salah satu cara untuk mengatasi stres. Baginya, berenang bisa membuatnya menjadi lebih rileks. Berjam-jam berada di dalam air seolah melunturkan semua beban yang menempel pada tubuhnya.

“Kim Taehyung..”

Tiba-tiba ada suara wanita memanggilnya. Serak, parau, pelan.

“Kim Taehyung..”

Suara itu muncul lagi. Taehyung tidak memedulikannya, ia terus berjalan dan tidak berusaha untuk tahu siapa yang memanggilnya.

“Kim Taehyung, tolong. Jangan abaikan aku.”

Langkah Taehyung berhenti. Ia menarik napas panjang, lalu menghebuskannya dengan tidak sabar. Pemuda itu lantas menoleh ke belakang, dan mendapati Yoojin melayang di udara 5 meter dari tempatnya berdiri. Taehyung menatap sosok itu, kemudian sosok itu tersenyum.

.

“Maafkan aku tidak bisa menerima cintamu, Taehyung.”

“Lupakan saja. Itu sudah berlalu begitu lama, jadi aku pun sudah tidak memikirkannya. Aku bisa bahagia dengan caraku sendiri, aku bisa membangun rumahku sendiri walau tanpa dirimu.” Taehyung berkata dengan nada suara dingin.

Yoojin tersenyum. “Sebenarnya aku ingin meminta tolong, Taehyung.”

“Apa?”

“Kau tahu ada detektif yang sedang berusaha membongkar kasusku? Tiga jam yang lalu, kantornya kebakaran. Ada seseorang yang mengotak-atik sambungan listrik di dalam kantor itu sehingga arus pendek listrik terjadi. Mereka berniat untuk membunuh detektif itu, Taehyung. Alasannya karena ia berusaha mencari para pelaku yang menculik dan membunuhku.” Yoojin menjelaskan, masih dengan suara yang pelan, serak, dan parau.

“Lalu?”

“Jika nanti ada orang lain yang berusaha untuk membuka kasusku lagi, tolong ingatkan dia agar cepat berhenti. Aku kasihan pada ibuku yang terus mengemis di depan kantor polisi, tapi mereka terlalu berbahaya. Mereka bisa melakukan apapun, pada siapapun yang berusaha menghalangi langkah mereka. Ibuku akan sadar pada akhirnya, bahwa anak gadisnya memang telah pergi dan tidak perlu dicari kembali. Cepat atau lambat, waktu itu akan datang.”

Taehyung terdiam. Ia menoleh ke sebelah kiri, memandang sosok Yoojin yang duduk di sampingnya. “Jadi aku harus melakukan apa?”

“Jangan beritahu dia tentang apapun, Taehyung. Jangan, walau sedikitpun.”

“Tapi cepat atau lambat kasusmu harus diselesaikan, Yoojin. Mungkin ibumu akan sadar suatu hari nanti, tapi para penjahat itu akan bertindak lebih kejam jika tidak dihentikan.”

Yoojin terdiam, menunduk. “Aku takut.”

“Aku lebih takut.”

“Aku takut kalau nanti mereka juga akan melukaimu dan melukai Sungjae, kemudian melukai ibuku. Mereka tidak akan melakukannya kalau kalian tidak bertindak apapun. Aku ingin kalian tetap hidup. Aku menderita mati dengan cara yang tidak baik, Taehyung..” sosok itu mulai menangis, suaranya bergetar.

“Aku yakin akan ada orang baru yang memaksa ingin menuntaskan kasusmu. Aku tidak akan melakukan apapun bila tidak diperlukan. Tapi, Yoojin dengarkan aku baik-baik. Suatu hari nanti, mungkin aku dan Sungjae akan bangkit dan berusaha membantumu, membantu ibumu. Kau jangan khawatir, sepelik apapun kasusmu kami akan bertindak hati-hati. Kami akan berusaha untuk terus hidup.”

Sosok disampingnya sudah menangis. Taehyung yang melihat air mata bergulir di pipi sosok itu, ingin sekali memeluknya. Tapi percuma, sosok itu serupa angin. Tidak tersentuh.

“Berjanjilah padaku, Taehyung.”

Pemuda itu lantas tersenyum kecil, lalu mengangguk.

“Aku berjanji.”

.

.

[PRESENT TIME]

Changwook menuliskan titik di sebelah kata terakhir yang ditulisnya. Lelaki itu mengangguk-angguk, kemudian menarik napas panjang. “Jadi itu sebabnya kau selalu memintaku untuk berhenti menyelidiki kasus ini?”

Taehyung mengangguk.

“Dia pemilik six sense, Pak Detektif. Dan ia sudah bertemu dengan sosok Yoojin semalam, membicarakan soal dirimu.” ujar Sungjae, yang akhirnya berbicara kepada Changwook walaupun matanya masih mengarah ke luar jendela.

“Tapi kasus ini tidak bis—“

“Ya, aku mengerti. Kasus ini harus di selesaikan. Mungkinkan teman detektifmu sudah bercerita tentang kejadian yang menimpanya waktu itu? Kurasa luka di pipimu merupakan peringatan pertama dari mereka.” Taehyung memberikan isyarat dengan gerakan dagu ke arah pipi Changwook.

“Ah, ya,” lelaki itu menyentuh pipinya yang diplester perlahan. “Aku mendapatkannya dua malam yang lalu.”

Changwook kemudian mengeluarkan pisau yang menyabet pipinya, dan meletakkannya di atas meja. “Ini pisaunya, kau bisa lihat sendiri masih ada darahku di salah satu sisinya.”

Taehyung mengambil ujung plastik yang membungkus pisau itu dengan hati-hati. Pemuda itu memerhatikan pisau tersebut dengan seksama. Mata pisaunya masih mengkilap, mungkin pisau ini baru. Pegangannya dibuat dari kayu, dengan guratan-guratan tegas berwarna cokelat tua. Taehyung menduga kayunya jenis terbaik, mungkin di produksi dari salah satu kayu yang diperdagangkan ilegal.

“Tunggu.” Tiba-tiba Changwook berkata.

Taehyung menurunkan posisi pisau yang sedang dilihatnya dan menatap Changwook heran.

“Coba kau lihat di salah satu sisi pinggir dari pisau itu, Taehyung. Ada sebuah guratan tipis. Mirip sebuah lambang.”

Taehyung lantas memeriksa setiap sisi dari pegangan pisau itu, tapi kemudian ia menggeleng pelan. “Aku tidak menemukan apapun.”

“Aku juga.” celetuk Sungjae.

“Kau sama sekali tidak melihatnya, Yook Sungjae. Coba berikan padaku.” Changwook meminta pisau itu dari Taehyung dan mulai melihat dengan teliti setiap sisi dari pegangan pisau itu.

“Ini. Lihatlah.”

Changwook menunjukkan sebuah goresan tipis namun hampir terukir di salah satu sisi pegangan pisau itu. Bukan goresan biasa, tapi lebih mirip sebuah lambang. Seperti tanda operasi tambah yang garis vertikalnya lebih panjang, kemudian di atas garis horizontal ada goresan seperti bunga ilalang. Mungkin ukiran itu belum selesai dibuat, tapi goresannya sudah cukup terlihat.

“Ah, ya. Benar sekali. Lambang apa itu?”

Changwook menggeleng pelan. “Masuk ke dalam daftar penyelidikan.”

“Boleh aku memotretnya? Aku akan membantumu mencari tahu.”

.

.

“Bagaimana perkembangan detektif itu?”

“Sejauh ini belum terlihat tanda-tanda pergerakan lagi. Semuanya masih di bawah kendali.”

Lelaki itu tersenyum tipis. “Bagus. Jika kalian menemukan lagi pergerakan baru, cepat urus dan selesaikan.”

“Baik.”

Ruangan yang diterangi lampu remang-remang merah itu sepi. Seseorang duduk di balik meja yang lebar. Di hadapannya ada gelas berukuran kecil dan sebotol rum. Lelaki itu mengisap lintingan yang dijepit diantara jari telunjuk dan jari tengahnya, kemudian menghembuskannya perlahan.

“Sebenarnya…, detektif itu temanku.”

Pemuda yang sedang duduk di sofa lantas menoleh, menatap lelaki itu. “Temanmu?”

Lelaki itu mengangguk. “Dia amat baik, dia memanggilku Sun—“

Belum selesai lelaki itu mengatakan kalimatnya, pintu ruangan diketuk pelan. Pemuda tadi sontak berdiri dan buru-buru membuka pintu.

“Pesanan rum merah milik Tuan sudah datang.” ujar seorang pelayan laki-laki di luar ruangan.

“Bawa masuk.”

Pelayan tersebut masuk membawa nampan dengan dua botol rum merah dan gelas berukuran kecil. Ia meletakkannya di atas meja dengan hati-hati, Tuannya tidak suka apabila rum merah kesukaannya tidak diperlakukan dengan baik. Setelah membungkuk, pelayan itu pamit.

“Kau pesan lagi?” tanya pemuda itu setelah menutup pintu.

Lelaki itu mengangguk. “This is the fresh one.”

“Kenapa kau suka sekali rum merah?”

Lelaki tadi terkekeh pelan. Ia berdiri dari kursinya dan menghampiri meja di depan sofa untuk melihat botol rum merah yang baru saja diantarkan.

“Manis.”

.

.

“Apa ini, Paman?”

Taehyung melebarkan matanya terkejut saat Changwook mengeluarkan satu kotak sayap ayam goreng, minuman soda, dan susu strawbery di hadapannya.

“Ini ucapan terima kasih untukmu karena akhirnya mau membantu.” tutur Changwook sambil tersenyum.

“Sebenarnya ini berlebihan, Paman..,” kata Taehyung, nada suaranya terdengar segan. “tapi kalau kau memaksa, aku menerimanya dengan senang hati.” Detik berikutnya pemuda itu langsung membuka minuman soda dan makan sayap ayam goreng kesukaannya.

“Sungjae tidak ikut bersamamu?”

Taehyung menggeleng. “Tadi siang ia meminjam setumpuk buku komik milikku, jadi kurasa malam ini dia akan menghabiskan waktu membaca komik di apartemennya.”

“Begitu..,” Changwook mengangguk pelan. Tangannya kemudian meraih minuman kaleng yang ia beli bersamaan dengan minuman soda dan susu strawbery, lantas menenggaknya perlahan.

“Itu beer?”

“Bukan,” Changwook melirik minuman kaleng di hadapannya sambil berdecak. “ini rum.”

“Ah, rum.”

“Anak sekolah tidak boleh minum rum, hanya untuk orang dewasa.”

Mendengar itu Taehyung langsung mendengus sebal. “Bertanya bukan berarti ingin mencoba.”

“Kau itu laki-laki, tapi mudah sekali sinis.” Changwook tertawa pelan sambil melirik Taehyung dari ekor matanya.

“Rum terbuat dari apa?” Taehyung bertanya lagi, pemuda itu memang sosok yang sangat penasaran.

“Air perasan tebu yang di fermentasi dalam wadah yang terbuat dari kayu pohon ek, atau bisa juga kayu lainnya. Rum ini rasanya sedikit manis, tapi karena hasil fermentasi maka minuman ini beralkohol.” jelas Changwook, tangan kanannya memutar-mutar botol minuman kaleng.

“Ah, ya. Aku ingat. Seseorang pernah menjelaskan padaku cara membuat rum.” Detik berikutnya pemuda itu menjelaskan hal-hal yang baru saja ia ingat. Taehyung mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan gambar tebu yang sedang berbunga pada Changwook.

“Ini gambar tebu, sedang berbunga.”

Changwook hanya meliriknya sekilas, acuh tak acuh. “Kau ini niat sekali.”

“Kau baru saja bertemu dengan pemuda paling niat seantero Korea.”

“Ya, ya. Aku perc—“

Saat Taehyung akan memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku hoodie, Changwook menahannya cepat-cepat.

“Tunggu!”

“Ada apa?”

“Perlihatkan lagi gambar tebu tadi padaku.”

Dengan kening berkerut, Taehyung membuka internet dan memperlihatkan kembali gambar yang tadi ia tunjukkan pada Changwook. “Ini?”

“Bunga ini..,”

“Kenapa?”

“Kau ingat lambang yang kita temukan di salah satu sisi pisau tempo hari?”

Taehyung mengangguk pelan, masih dengan kening yang berkerut.

“Bukankah.., bukankah ini mirip?”

Kerutan di dahi Taehyung semakin dalam. Ia memerhatikan gambar tebu di ponselnya sambil berusaha mengingat-ingat lambang yang Changwook temukan tempo hari. 10 detik kemudian matanya melebar.

“Kau benar! Ini mirip!”

Changwook menjentikkan jarinya bersemangat. “Akhirnya!”

“Tapi aku tidak tahu apa artinya.”

“Yang mirip dengan tanda operasi tambah pada lambang itu disebut Letal, artinya mati. Sedangkan diatasnya ada bunga tebu. Pisau itu milik laki-laki, dan laki-laki di Korea pasti mengonsumsi minuman beralkohol. Salah satu minuman alkohol yang dibuat dari tebu adalah rum. Jadi…,”

Kalimat Changwook menggantung.

“Jadi?”

“Jadi mungkinkah pisau ini milik seseorang yang suka meminum rum?”

Taehyung menatap Changwook dalam, pemuda itu sedang berusaha menyamakan frekuensi dengan pikiran lelaki yang ada di hadapannya.

“Rum yang paling laris di Korea adalah rum merah, Paman.” celetuk Taehyung.

“Dari mana kau tahu?”

“Aku sering melihat berita tentang ekonomi di televisi, dan rum merah terkadang menjadi topik pembahasannya.”

Changwook mengangguk-angguk pelan.

Lambang kematian dan rum. Apa hubungannya antara dua lambang itu? Changwook berbicara dalam hati.

Hening menyeruak diantara Taehyung dan Changwook selama 5 menit penuh. Taehyung kembali asyik makan sayap ayam goreng dan minum soda, sedangkan Changwook berdiam diri, membeku seperti patung. Pikirannya berlarian kesana-kemari, berusaha untuk mencari hubungan diantara kedua fakta yang baru saja ia temukan.

Detik berikutnya, ponsel Changwook berbunyi. Ada sebuah pesan masuk.

Ada sebuah foto yang menunjukkan tangan yang sedang memegang dua botol rum merah yang masih di segel, di sampingnya ada gelas berukuran kecil. Di bawahnya ada pesan teks yang tertulis,

Hey, Wook. Aku baru saja kedatangan pesanan paling fresh seantero Korea. Red rum, my favorite. Ayo minum bersama, percakapan kita tempo hari belum selesai. Kalau aku tidak salah, kau sedang menyelidiki kasus atas nama Yoojin, bukan? Ayo kita bertemu lusa, siapa tahu aku bisa membantu.

Sunbaenim.

Changwook terdiam membaca pesan itu. Matanya menatap lekat layar ponsel yang memendarkan cahaya terang. Bukan, Changwook bukan sedang terkejut karena dikirimi pesan oleh seniornya yang sudah lama tidak bertemu. Yang membuatnya terus terpaku pada foto itu adalah sebuah tato berukuran kecil di bawah telapak tangan.

Lambang kematian dan bunga tebu.

Lambang kematian dan rum. Juga tulisan, R2.

Menyadari detektif dihadapannya tidak kunjung bergerak, Taehyung mendekatkan tubuhnya untuk melihat hal yang membuat Changwook membeku seperti orang mati.

“Ow, shit.” umpat Taehyung pada detik berikutnya.

Angin kembali berhembus menggugurkan dedaunan kering di atas pohon. Waktu terus berjalan memasuki tengah malam.

.

.

.

TO BE CONTINUED.

 

  1. Maaf untuk posting yang terlambat.
  2. Ini adalah bagian ketiga dari dua cerita sebelumnya.
  3. Sorry for typos or anything.
  4. Happy reading. 

Ps: Apa analisamu pada kasus ini? Saya tunggu jawabannya di kotak komentar, beserta kritik dan saran. Terima kasih.

Kalau ada yang bingung tentang lambang Letal (mati) boleh ditanyakan pada kotak komentar, dan saya akan menjawabnya kemudian.

Advertisements

4 responses to “[FFINDO PROJECT] SECRET – RED RUM 3

  1. waaaaahhhhhh ceritanya seru banget !!!!! gk sbar nunggu kelamjutan critanya…..
    tpi emang msih bngung sma mksud dri Letal it sndiri….
    di tunggu next nya !!!!

  2. Taehyung ngumpat gtu d akhir part karna dia ngerasa bkl d datengi m yoojin lg karna mau peringatan ke taehyung buat nyuruh chang wook hati2 saat mau ketemu m seniornya chang wook t kan?!? Pasti gtu deh

  3. Inguk anak buahnya pamannya sungjae? Gitu sih analisa aku haha 😂 serem juga taehyung punya sixth sense

  4. Pingback: [FFINDO PROJECT] SECRET – RED RUM 4 | FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s