Medals (chapter 4)

untitled-200

Title     : MEDALS

Genre  : Romance, Fantasy, Thriller

Main Cast: Lu Han, Ariel Lau (OC)

Other Cast : Find by yourself

Rating : PG 17

Length : Multi chapter

Auhtor : Nidhyun (@nidariahs)

Cover by : Revenclaw @ArtFantasy

MEDALS (chapter 1) | Medals (Chapter 2) | Medals (chapter 3)

 

 

***

Pagi-pagi sekali -sangat pagi- seseorang menarik kaki Ariel dan memaksanya untuk membuka kedua matanya yang masih ingin terpejam cantik. sial! Siapa sih yang dengan kurang kerjaan dan membangunkan Ariel di pagi buta begini?

“Bangun pemalas! Donghae sudah menjemput kita!” Teriak Luhan frustasi -sama sekali tak habis pikir bagaimana bisa terlahir perempuan dengan tingkat kemalasan seperti ini.

Ariel mengerang, dan menarik selimutnya semakin ke atas. Ini gila! Ini masih sangat pagi, dan pria jahat yang sekamar dengannya ini malah membangunkannya dengan kejam.

“Ariel. Aku akan meninggalkanmu sarapan jika kau tidak bangun juga.” Ancaman bodoh. Jika itu adalah Luhan, ia akan tertawa mendengar ancaman ‘tidak diajak sarapan’.

Tapi karena Ariel ini memang sedikit idiot, dia langsung terbangun dan memelototi Luhan, menggerutu tidak jelas dan melakukan teleportasinya untuk masuk ke kamar mandi. Luhan menggeleng pelan, gadis itu benar-benar…

 

***

 

“Ini apa?” Donghae mengangkat lembaran kertas resume milik Ariel, hukumannya semalam dan membuatnya harus menangis lagi karena dikatai tidak becus saat melakukan presentasi.

“Aku dihukum Luhan,” adu Ariel sambil melirik Luhan dari ujung ekor matanya, berharap Luhan akan dimarahi dan ia mendapat pembelaan. Tapi Donghae tidak mengatakan apa-apa dan tetap memperhatikan tulisan demi tulisan yang tertulis pada kertas-kertas di tangannya.

“Boleh dikoleksi untuk PE Library? Kau ingin resume-mu ini dihargai berapa?” Tanya Donghae yang membuat Ariel langsung menjatuhkan rahangnya. Apa? Apa katanya? Apa Donghae baru saja berkata bahwa ia akan membeli…tulisan bodohnya?

“Apa? Harga? Maksudnya…”

“Kenapa? Kalian kan setara ilmuan, apapun yang kalian tulis, jika itu bagus dan berbobot, PE Academy bisa membelinya. Kau mau menjualnya dengan harga berapa?”

Ariel pikir ia pasti sedang bermimpi. Di seumur hidupnya, Ariel lebih terbiasa dikatai ‘bodoh’, ‘idiot’, atau kata apapun yang sejenis. Dan untuk pertama kalinya, ada seseorang yang berkata bahwa Ariel setara dengan ilmuan! Bayangkan! Ilmuan! Ariel yang pernah mendapat C di laporan nilainya, disebut setara dengan ilmuan dan tulisannya akan dibeli!

“Lihat?! Makanya berhenti mengataiku! Coach kita bilang, aku setara ilmuan!” Ariel terlampau senang dan memukul lengan Luhan dengan puas. Selama ini, Luhan lah yang membuatnya merasa sangat bodoh, tapi sekarang, Ariel merasa ia berada di atas Luhan.

Donghae tertawa mendengar ocehan Ariel. Gadis itu masih polos -dan sepertinya dia memang benar-benar tidak mendengarkan pelatihan pertamanya dengan baik. “Dengar, kau disini dianggap sebagai salah satu staff. Kau bekerja untuk lembaga angkasa milik pemerintah. Kau digaji, dan tentu saja karyamu akan sangat dihargai.” Jelas Donghae lagi yang membuat mata Ariel semakin berbinar.

“Kau…dengar itu? Aku digaji!” Pekik Ariel lagi -masih pada Luhan yang masih menampakkan wajah di-a-ko-nyol.

“Kau benar-benar tidak tahu?” Luhan menggeleng dan mengalihkan tatapannya pada Donghae, “Kau harus memotong gajinya. Dia benar-benar idiot.” Ariel menepis telunjuk Luhan yang mengarah padanya.

“Dengar ya! Jika kau sekali lagi mengataiku bodoh atau idiot, akan kukutuk kau berjodoh dengan gadis idiot sepertiku!”

“Hah! Kau kira kau siapa?! Mengutukku? Kau harus melihat cermin di kamarmu sebelum kau berani berpikir untuk mengutukku!”

“Aku Ariel! Gadis yang setara dengan ilmuan!”

Dan Donghae langsung menarik kerah belakang mereka berdua untuk segera pergi ke tempat latihan, “Baiklah anak-anak, kita hentikan dulu kencan kalian berdua. Ini jam latihan dan aku tidak ingin kalian mendapat masalah nantinya hanya karena terlamba latihan.”

“KAMI TIDAK BERKENCAN!”

“KAMI TIDAK BERKENCAN!”

Well, Donghae hanya tersenyum saat mereka berteriak secara bersamaan.

 

***

 

Pelatihan ilmu beladiri. Ariel membaca setiap keterangan yang tercetak manis dan rapi pada kertas yang baru saj aditerimanya. Ini katanya adalah petunjuk sebelu mereka melakukan latihan –dan Ariel harus mendengus panjang setelah mengetahui ia lagi-lagi harus bertemu dengan ilmu beladiri yang membuatnya ingin muntah. Percayalah. Menyempurnakan telekinesis yang hanya bisa dilakukan seujung kuku Ariel jauh lebih menarik ketimbang Ariel harus belajar ilmu beladiri lagi.

“Ariel, dalam datamu tertulis kau pernah sampai di garis empat pada sabukmu. Berarti kau bisa dikatakan mahir dalam beladiri, iya kan?” suara Donghae yang sejernih lautan Poseidon membuat kepala Ariel terasa dingin dan kosong. Ya. Kosong…

Ariel yang duduk bersebelahan dengan Luhan –mereka baru saja melakukan tes daya tahan tubuh—dan saling melirik sinis akhirnya mengalihkan pandangannya pada Donghae, “Percayalah, itu kulakukan semata-mata untuk kebutuhan nilai. Nilai olahragaku sangat payah, jadi aku diberi syarat kelulusan untuk mendalami ilmu beladiri. Makanya aku mati-matian agar bisa sampai di garis empat.” Jelas Ariel dengan harapan agar Donghae tidak berlebihan menanggapi tingkat mahir atau apapun itu dalam setiap spesifikasi yang dimilikinya. Ariel tidak pernah benar-benar serius dalam belajar apapun, jadi ia tidak ingin mengecewakan orang lain yang terlanjur berpikiran aneh ataupun terkagum pada Ariel.

“Kau tidak ikut ujian garis akhir? Mendapat lima garis…”

Ariel menggeleng dan mengibaskan tangannya cepat ke arah Donghae, “Aku tidak lulus. Jadi, percayalah, aku tidak sehebat itu. Nilaiku bahkan pas-pasan sekali.”

“Ya…ya…aku bisa melihat itu dengan jelas di dahimu. Tidak ada satupun dalam dirimu yang hebat, iya kan?” Luhan menyela dan langsung mendapat tatapan sinis dari Ariel. Luhan hanya menyeringai kecil, ia cukup menikmati waktu ‘bermain-mainnya’ bersama Ariel yang mudah terpancing ini.

Donghae mengangguk pelan dan mengambil kertas lain, data tentang Luhan, “Luhan…semua spesifikasimu berporos pada sains dan bahasa. Dan kau cukup ahli dalam meneliti unsur-unsur kimia dan juga penemuan bahan kimia dan obat,” Donghae pun mengangkat kepalanya dan menatap Luhan, “Kekuatan airmu setara dengan Ariel, golongan lima. Tapi sepertinya keseimbanganmu agak kurang karena kau belum pernah belajar ilmu beladiri.”

Luhan mengangguk pelan, “Ya. Aku belum pernah belajar ilmu beladiri sebelumnya,” Luhan pun memutar bola matanya pada Ariel, “Aku juga sempat mencoba membuat senjata, tapi…yeah, itu tugas orang-orang fisika dan kimia.”

Donghae mengangguk dan mulai mencatat sesuatu di dalam buku catatannya, “Baiklah. Hari ini kalian berarti latihan untuk menstabilkan kekuatan air kalian, kemudian melakukan pengecekan tubuh kalian untuk penyesuaian dengan bumi, dan…tugas kalian,” Donghae pun menatap Ariel dan Luhan bergantian, “Pertama, Luhan harus ajari Ariel cara membaca bahasa sains (bahasa inggris) dan Ariel harus ajari Luhan ilmu beladiri. Kedua, kalian harus mulai berdamai dan menghidupkan telepati kalian. Aku tidak mendengar penolakan dan di pertemuan berikutnya, aku akan mengeceknya. Jika kalian belum berhasil, kalian akan dapat hukuman.”

Ariel memejamkan matanya –frustasi. Sungguh. Ia benar-benar tidak cocok dengan misi gila ini.

 

***

 

“Luhan, kenapa kau suka dengan sains?” tanya Ariel setelah mereka beristirahat lima belas menit –Ariel yang membaringkan tubuhnya di atas rerumputan dan Luhan yang sedang membaca sesuatu pada kertas-kertasnya yang tidak terlalu Ariel mengerti.

“Aku suka berhitung, aku suka penemuan, dan aku ingin menjadi seorang yang ikut berpartisipasi untuk kemajuan Poseidon,” sahut Luhan dengan nada datar. Kali ini, mereka sedang dalam keadaan damai.

Ariel mendelik setelah mendengar jawaban Luhan dengan nada arogan seperti itu. Selama ini, Ariel hanya bisa bertingkah arogan di hadapan Bobby, itu pun karena ia selalu menyelesaikan tugasnya leih dulu daripada Bobby, dan sama sekali bukan karena dia sadar bahwa ia memiliki kelebihan seperti Luhan.

“Kau sendiri, kenapa kau mengambil ilmu sosial?” Luhan pun akhirnya ikut berbaring dan menoleh singkat ke arah Ariel.

“Karena aku tidak pintar dalam sains,” jawab Ariel dengan nada setengah bangga –setidaknya itu lah yang terdengar oleh Luhan. Benar-benar bukan jawaban yang berbobot.

“Kau tahu? Seumur hidupku, untuk pertama kalinya aku bertemu dengan seseorang yang sama sekali terlihat bahagia padahal ia tidak bisa melakukan apa-apa,”

Luhan menyindirnya. Ariel pun memutar tubuhnya ke arah Luhan dan langsung menendang pemuda itu tanpa rasa kasihan sedikitpun, dan Ariel langsung kabur dengan menggunakan teleportasinya.

Luhan mendelik sinis ketika mendengr tawa Ariel yang amat keras di ujung lapangan. Dan ketika Luhan hendak mengejarnya, Ariel langsung menggunakan teleportasinya lagi dan menghilang entah kemana –mungkin dia menghilang ke dalam lautan Poseidon dan dimakan oleh hewan air. Baiklah, Luhan berlebihan.

Kemudian, ia pun menyalakan alat telepatinya untuk mengetahui keberadaan Ariel –yang ternyata tersesat ke ruang makan. Yeah, gadis itu sangat pintar bicara dan pintar makan –ah, juga sangat pintar menangis.

 

***

 

“Lu…” Ariel langsung menutup mulutnya dengan tangan kanannya yang sempat melambai ke arah Luhan, kemudian memanggil pria itu lagi sambil melambai kembali dnegan tangan yang satunya, “Tujuh!” panggilnya dengan nada sangat riang.

Luhan mendelik malas ketika melihat gadis itu duduk di dekat jendela –dengan seorang anak laki-laki yang entah siapa dan tersenyum pada Luhan dengan sama idiotnya seperti Ariel. Luhan pun mengambil kotak makanan yang sudah disediakan, kemudian ia pun mengambil tempat duduk di sebelah Ariel.

“Kau lama sekali,” Ariel tersenyum mengejek ketika Luhan sampai dan membuka kotak makanannya.

Luhan tidak menjawab dan hanya menatap sinis Ariel. Gadis sialan. Dia sendiri yang merengek agar mereka sarapan bersama, tapi sekaang gadis itu malah meninggalkannya dengan kekuatan menyebalkannya.

“Dan…kenalkan, dia dipanggil 94,” kata Ariel sambil menunjuk anak laki-laki di depannya tersebut, lalu ia pun mendekatkan wajahnya ke telinga Luhan, “Namanya Sehun. Nama yang bagus, kan?”

Luhan langsung membulatkan matanya ke arah Ariel. Dasar gadis gila! Sudah sangat jelas aturan mengatakan mereka tidak boleh mengungkapkan identitas mereka selain pada partner dan coach, dan dia malah berkenalan dengan—Luhan  melirik pria yang tersenyum dengan nada ramah itu ke arahnya –lelaki yang sepertinya memiliki otak yang juga jongkok seperti Ariel.

“Kau lupa dengan aturannya?” bisik Luhan marah.

Ariel hanya mencebikkan bibirnya dan balik berbisik pada Luhan, “Tapi dia terlihat baik. Dia juga tampan…aw! Kenapa menarik rambutku, brengsek!”

Luhan mengabaikan Ariel yang baru saja memukul punggungnya dengan keras dan menatap serius ke arah lelaki yang menurut Ariel bernama Sehun ini, “Sepertinya kau baru saja berhasil melempar umpan, tapi sayangnya kau salah mencari objek untuk menangkap umpanmu,” suara sinis Luhan membuat Ariel merinding mendengarnya.

Ayolah! Ini hanya sebuah perkenalan biasa dan mereka yang berada di sini pasti mengerti tentang angkasa, bumi, dan semacamnya. Dan intinya mereka memiliki tujuan dan tugas yang hampir sama. Ariel tidak jauh-jauh datang kemari dan meningalkan segala yang ia miliki hanya karena untuk mengenal Luhan dan Donghae saja, kan?

Tapi, tanpa Ariel duga, Sehun justru mendekatkan wajahnya dan balik menyeringai ke arah Luhan, “Tidak ada yang tidak bisa dimanfaatkan dari secuil informasi pun dari PE Academy, 07.” Sehun pun bangun dari tempat duduknya dan mengedipkan sebelah matanya ke arah Ariel sebelum ia meninggalkan kantin.

“Wah! Kau lihat! Dia benar-benar tampan! Dia mengedipkan sebelah matanya padaku! Astaga…” dan Ariel terpaksa mengeram marah pada Luhan –lagi—ketika Luhan menoyor kepalanya keras sekali.

“Kau ini benar-benar idiot atau memang gila? Kau tahu kita bisa mendapatkan masalah jika si brengsek tadi mengambil informasi apapun atau memanfaatkanmu di kemudian hari, kau…” Luhan pun memejamkan matanya ketika Ariel mulai menunduk dan menghapus air matanya –lagi. Astaga… sebelumnya Luhan sama sekali bukan pria yang akan bertindak kasar pada wanita, tapi anak perempuan ini benar-benar keterlaluan dan…yeah, setidaknya Luhan pikir Ariel akan sedikit lebih tangguh daripada perempuan lainnya.

“Kau menangis lagi?” Luhan mulai merasa bersalah ketika Ariel mengambil jarak darinya dan terus menunduk dengan suara bising ingusnya yang khas. Sepertinya Luhan mulai terbiasa dengan suara ingus Ariel.

Ariel tidak menjawab dan terus menghabiskan makannya tanpa mengacuhkan Luhan sama sekali. Dan beberapa menit setelah itu, Ariel pun bangun dari tempat duduknya dan langsung meninggalkan Luhan tanpa sepatah katapun.

“Ariel! Tunggu aku!”

Dan, Ariel terlihat tidak peduli dan terus menyeret kakinya hingga hilang di balik pintu kayu besar yang terlihat sangat kokoh itu. Luhan harap Ariel tidak menggunakan teleportasinya dan membuat Luhan kesusahan untuk mencarinya.

Luhan sudah menduga ini, Ariel akan menghilang setelah Luhan mengejarnya hingga di depan pintumasuk kantin. Ariel tidak bisa berjalan secepat itu untuk meninggalkan lorong yang terbilang cukup sepi saat itu. Luhan pun mendengus panjang dan sedikit berlari menuju tangga ke arah lapang yang sempat ia datangi tadi bersama Ariel sebelum ke kantin. Sepertinya, kali ini Luhan benar-benar harus mencoba berdamai dengan anak cengeng yang sedikit idiot itu.

 

***

 

Luhan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal ketika mendapati siluet Ariel dari jarak seratus meter yang tengah berhadapan dengan Donghae. Luhan mendengus panjang ketika mendapati Ariel masih menunduk –sepertinya gadis itu masih menangis dan kali ini mengadu pada Donghae.

“Kau datang,” sapa Donghae sambil tersenyum. Yeah, coach-nya yang satu ini selalu saja tersenyum di situasi apapun, bahkan di saat Luhan sangat yakin suasana hati Donghae sedang tidak terlalu baik. Luhan merasa perasaannya tidak enak ketika melihat warna mata Donghae ketika menatapnya.

Dan, Ariel menggeser tubuhnya ketika Luhan mengambil tempat di sampingnya. Yeah, sepertinya masalah ini akan menjadi serius karena Ariel masih belum berhenti menangis dan terus saja menunduk.

Donghae pun menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan keras, sepertinya ia mulai lelah dengan dua peserta didiknya yang belum juga akur sejak mereka sampai di PE Academy, “Sudah kukatakan padamu, Luhan…kau adalah partnernya, apakah kau tidak tahu makna partner di sini?”

Luhan tiba-tiba saja merasa terpojok dengan ucapan Donghae. Luhan memang sangat sanat jengkel terhadap anak perempuan yang terpaksa menjadi partner nya ini, tapi Luhan tidak bermaksud dejahat itu hingga membuat Ariel terus-terusan menangis dan menjauhinya seperti sekarang.

“Aku tidak bermaksud sekasar itu,” Luhan pun mencoba memberi pembelaan sembari melirik Ariel dari ekor matanya, “Tapi dia berkenalan dengan anggota lain, dan mereka saling menyebutkan nama,” lanjutnya lagi dengan bola matanya yang sudha bergulir ke arah Donghae.

Donghae mendengus panjang, kali ini ia menatap Ariel, “Apa yang dikatakan Luhan adalah benar, Ariel?”

Ariel pun kembali menghapus ingusnya yang mulai mengucur lagi, “Aku tidak pernah cocok dengan misi ini. Sejak awal aku tidak mau mengikuti misi ini, aku sama sekali tidak cocok dengan semua yang ditetapkan di tempat ini. Aku ingin kehidupan normalku, aku…” Ariel kembali sesenggukan. Ia benar-benar kesal setengah mati ketika memikirkan bahwa ia harus melakukan sesuatu yang tidak ia sukai, dan ia semakin kesal ketika mendengar Luhan terus saja menghinanya seperti tadi.

“Kau bahkan belum mencobanya sampai seminggu, tapi kau sudah ingin mundur begitu saja,” gumam Luhan sambil mencabuti rumput yang berada di sekitarnya.

“Maka dari itu berhenti menghinaku!” marah Ariel yang membuat Luhan terlompat kaget, “Aku tahu kau sangat cerdas dan memiliki prestasi selangit! Tapi bukan berarti kau bisa terus-terusan mengataiku seperti tadi! Ibuku saja tidak pernah menghinaku seperti itu,” Ariel pun menghapus air matanya lagi dengan kasar. Hidung gadis itu sudah memerah, bahkan matanya mulai bengkak.

“A-aku tidak bermaksud seperti itu…”

Donghae pun menepuk tangannya keras, “Baiklah! Kalau begitu…dengar! Karena kalian berdua sama-sama salah, maka ada dua pilihan, pertama…” Donghae pun melirik Ariel yang mash menunduk menyembunyikan wajahnya, “Jika Ariel ingin keluar dan berhenti dari misi ini, aku berikan waktu dua puluh empat jam untukmu menyelesaikan administrasi pengunduran dirimu,” Donghae tersenyum lebar ketika Ariel mendongak dan melebarkan matanya, “…tapi tentunya Luhan juga harus mengundurkan diri, termasuk aku…”

“Ke-kenapa? Luhan dan kau bisa melanjutkan…”

“Itulah aturannya,” Donghae kemudian ikut berjongkok, berhadapan sejajar dengan Ariel, “Aku mengerti ini pasti sangat berat bagimu,” Donghae mengulurkan tangannya dan mengusap pelan kepala Ariel, “Tapi kau tidak berdiri di sini untukmu sendiri. Poseidon sudah mencari tahu tentang mu sejak kau masuk sekolah di awal tahun ini. Dan kaisar memilihmu. Tentu saja ketika kalian dipasangkan sebagai partner dengan perhitungan yang amat matang. Dan jika salah satu dari kalian gagal, maka tim ini akan gagal. Jika salah satu dari kita mengundurkan diri, tim ini juga harus mundur. Lagipula kalian berdua akan mendapatkan imbalan yang cukup setimpal. Yeah…ini mungkin terkesan matrealistis, tapi jika misi ini berhasil sepulang dari bumi kalian akan mendapatkan tempat yang layak di jajaran pemerintahan, kalaupun kalian tidak ingin bekerja…kalian tetap mendapatkan kompensasi setiap bulannya. Cukup menyebalkan, bukan?”

Donghae kemudian menarik tangan Luhan dan tangan Ariel, lalu menyatukan tangan mereka, “Misi ini dilakukan bukan hanya semata-mata karena bayaran dan semacamnya. Bangsa Poseidon membutuhkan berbagai tenaga yang berada di angkasa ini untuk kelangsungan hidup mereka,” kemudian Donghae pun menarik cairan yang kemudian berupa menjadi air dari rumput yang dipijaknya, “Kita bisa melakukan ini sampai sekarang sambil menyeimbangkan dengan teknologi yang kita butuhkan, semuanya bisa berhasil karena berbagai informasi yang didapat bukan hanya dari perkembangan otak bangsa Poseidon, tapi juga informasi dari angkasa ini,” jelasnya lagi sembari memainkan air tersebut di udara, “Bertahanlah! Dan kelak kau akan mengerti mengapa kau bisa terpilih di sini…”

“Jadi…kau akan mengundurkan diri?” tanya Donghae lagi masih berusaha menarik sudut bibirnya hangat.

Donghae tetap tersenyum ketika Ariel hanya diam saja dengan kepala terus tertunduk, “Bertahanlah! Hmm?” Donghae kembali mengusap kepala Ariel.

“Kalau begitu, pengunduran diri kalian diganti dengan sebuah hukuman. Hukuman pertama kalian, aku akan memberi waktu lima belas menit untuk kalian berbaikan. Setelah itu, kita akan memulai latihan.” Donghae pun mengakhiri ceramahnya dengan sebuah cubitan keras di pipi Luhan dan Ariel.

 

***

 

Setelah lima menit berlalu sepeninggal Donghae, Ariel dan Luhan masih saling berdiam diri tanpa mengubah posisi mereka. Well –Luhan sebenarnya ingin mengatakan sesuatu untuk mencairkan suasana mereka yang tidak terlalu menyenangkan ini, tapi pada akhirnya Luhan justru menggaruk kepalanya lagi dan lagi tanpa alasan yang jelas.

“Maaf…” Luhan pun akhirnya mengeluarkan satu-satunya kata yang muncul di kepalanya, “Aku sungguh tidak bermaksud untuk membuatmu sakit hati, apalagi sampai menangis…” Luhan pun menoleh ke arah Ariel dan mengulurkan tangannya pada gadis itu, “Kau mau memaafkanku, kan?”

“Aku membencimu,” Ariel mengabaikan uluran tangan Luhan dan menekuk kakinya, “Aku…benci tempat ini. aku ingin pulang. Aku ingin ibu…” dan suara gadis itu kembali berubah parau.

Luhan pun mendengus panjang. Yeah, Ariel masih terlalu muda untuk mengikuti kegiatan semacam ini. selain memang pada dasarnya Ariel adalah gadis yang cengeng, gadis ini memang cukup sulit menyesuaikan dengan tempat yang memang sudah ia cap dengan rasa bencinya sendiri.

“Aku juga ingin merasa rindu pada ibuku sendiri,” Luhan berujar pelan, “Tapi…bahkan aku tidak tahu bagaimana rupa dari ibuku. Bagaimana aku bisa merindukan seseorang yang bahkan wajah dan namanya saja aku tidak tahu?”

Ariel tiba-tiba saja tertarik untuk memerhatikan Luhan. Suara pemuda itu terdengar sedih, sangat berbeda sekali dengan cara bicaranya yang selalu Ariel dengar arogan dan menyebalkan.

Dengan gerakan kaku, Luhan pun mencoba untuk merangkul gadis yang duduk di sebelahnya, “Berhentilah menangis. Semuanya akan berakhir dengan cepat jika kau juga bisa mulai menerima dan menikmati situasi yang…yeah, memang tidak begitu menguntungkan kita untuk saat ini,” kemudian Luhan menepuk pelan pundak Ariel. Rasanya aneh sekali menyentuh gadis asing dengan cara seperti ini, tapi di sisi lain Luhan merasa ia baru saja melakukan hal yang benar untuk Ariel.

“Omong-omong….Ariel, sebenarnya kau cerdas…”

Ariel menoleh cepat dan menaikkan sebelah alisnya dengan tatapan bingung yang terlempar ke arah Luhan –apa maksud dari ucapan pemuda itu?

 

***

 

Donghae benar-benar kembali setelah lima belas menit meninggalkan kedua anak didiknya. Donghae sama sekali tidak peduli dengan apa yang mereka bicarakan dan apa yang mereka lakukan selama lima belas menit ia tinggalkan, yang Donghae tahu, mereka harus kembali latihan tidak peduli apakah mereka sudah berbaikan atau belum. Tidak peduli dengan wajah mereka yang tertekuk dengan sangat baik.

“Baiklah, jika kalian sudah mendapatkan sertifikat ingkat kekuatan yang kalian miliki, aku pikir aku tidak perlu mengecek kembali kekuatan kalian. Tapi…berhubung aku mendapat angket untuk menilai kalian, aku pikir kalian harus berduel dan menunjukkan aksi langsung kalian saat menggunakan kekuatan,” Donghae masih tersenyum ketika menjelaskan kegiatan mereka hari ini, “Tapi aturan yang paling utama adalah, kalian dilarang mengambil cairan dalam tumbuhan di sekitar kalian untuk mempertahankan diri dari serangan lawan,” Donghae pun menatap Ariel dan Luhan bergantian, “Kalian mengerti dengan apa yang aku jelaskan?”

“Kupikir pipinya pasti akan kram,” celoteh Ariel sambil menaikkan tudung jubahnya. Mulutnya tidak tahan untuk tidak memberi komentar pada Donghae yang terus saja tersenyum hari itu.

Luhan menaikkan sebelah alisnya ketika mendengar gumaman Ariel. Baru beberapa menit lalu gadis ini masih terlihat  mendung, tapi mood Ariel sepertinya langsung kembali membaik dan mungkin sifat alami perempuan yang ia miliki tak bisa ia control : menggosip.

“Bukankah kau suka pria jenis sepertinya? Kau memujinya tampan kemarin-kemarin,” sahut Luhan dengan nada acuh tak acuh. Ia pun mulai ikut menaikkan tudungnya dan memerhatikan Ariel yang mencebikkan bibirnya.

“Tapi laki-laki ini terlalu banyak tersenyum,” balasnya lagi dan mulai mengambil langkah mundur menjauh dari Luhan.

“Itu masih jauh lebih baik ketimbang terlalu banyak menangis, seperti seseorang…” Luhan dengan cepat menunjukkan cengirannya dan menaikkan jari telunjuk dan jari tengahnya yang berbentuk huruf V ketika Ariel mulai memelototinya.

Tapi, sayangnya Luhan tidak tahu Ariel merasakan dadanya mencelos ketika Luhan tersenyum seperti itu. Ia seperti merasakan desiran aneh di dadanya –naluri perempuan Ariel mengenai ketampanan yang Luhan miliki tidak bisa membuat reaksi tubuhnya sejalan dengan emosinya terhadap lelaki itu.

Donghae terkekeh pelan ketika melihat Ariel dan Luhan saling berbisik di balik tudung yang mereka kenakan, “Sudah cukup pacarannya, kalian jadi terlihat seperti sepasang kekasih yang baru berbaikan,”

“AKU TIDAK SEPERTI ITU!”

“KAMI TIDAK PACARAN!”

Donghae mengedikkan bahunya tak acuh dan langsung memberi aba-aba agar mereka berdua langsung mempraktikan apa saja yang mereka ketahui dari kekuatan air mereka. Dan Donghae cukup menikmati ‘pertunjukkan’ yang diberikan oleh Luhan ketika pemuda itu mengambil air dengan tangannya dan mulai meliukkan tangannya –membuat air yang diangkatnya ke udara ikut meliuk mengikuti gerakan tangan Luhan. Pemuda itu memiliki kekuatan telekinesis, dan Donghae cukup terpana dengan kerapihan dari tangan Luhan ketika mulai menyerang Ariel dengan rapi.

Donghae pun mulai memberi nilai pada angket Luhan dan kembali memerhatikan mereka berdua –kali ini cara Ariel menghindari serangan Luhan yang terbilang cukup bertubi-tubi. Donghae menyeringai kecil, Luhan sejak awal memang terlihat sangat kompetitif, bahkan kali ini dengan partner-nya sendiri yang sudah ia buat menangis.

Dari jarak seratus meter, Donghae dapat melihat bagaimana cara Ariel yang lebih banyak menghindari serangan Luhan –sambil menggerutu dan melotot ke arah Luhan. Gadis polos itu benar-benar lucu, pikir Donghae sambil memberi nilai pada angket Ariel. Dan di menit berikutnya, Luhan mulai menyerang Ariel dengan es-es yang ia buat dari air yang ia ambil, sedangkan di sisi lain Ariel terus membuat benteng air untuk menahan serangan Luhan dan terus melayang dan melompat dari serangan Luhan.

Donghae mengerutkan dahinya. Entah karena Ariel pernah mengikuti bela diri –yang mengajarkan untuk tidak menyerang lawan selama memungkinkan dan lebih mementingkan pertahanan diri dengan menghindar—atau memang Ariel takut pada serangan Luhan, tapi sejauh ini Ariel hanya terus mengindari serangan Luhan tanpa perlawanan yang berarti. Padahal, level mereka setara dan harusnya Donghae mendapat pertunjukkan yang lebih menarik daripada ini.

Dan, kali ini tanpa ragu Luhan langsung membuat pedang es di tangannya dan menyerang Ariel dengan lebih gencar dari sebelumnya. Donghae sempat berdiri dari tempat duduknya, khawatir Luhan akan melukai Ariel dengan gerakan pedang di tangannya –tapi sekali lagi Donghae mendapati Ariel yang berhasil menangkis serangan Luhan dan melakukan teleportasi untuk menghindari serangan Luhan.

“Hei! Kau harusnya tidak melakukan teleportasi!” teriak Luhan dengan nada marah pada Ariel .

Dan, di belakang Luhan –ketika Ariel baru saja mengeluarkan serangan pertamanya pada Luhan—gadis itu melelet dan balik menyerang Luhan dengan kata-kata, “Kau kira aku tidak tahu kau menggunakan telekinesismu?!” bahkan Ariel sudah menunjuk Luhan dengan tangan kanannya.

Donghae menggeleng pelan dan terkekeh, pertandingan ini cukup seru karena tingkah konyol mereka berdua. Meskipun sudah dinasehati, tapi sepertinya kedua orang ini memang bernasib untuk selalu berkelahi dengan kata-kata.

Donghae pun kembali duduk ketika Luhan mulai kembali menyerang Ariel dengan serangan air berbentuk ombak yang kemudian berubah menjadi es. Sekali lagi, Ariel berhasil melompatinya tanpa perlawanan berarti. Namun yang menarik perhatian, saat Luhan mulai menyerang Ariel dengan es yang ia buat dan membuat Ariel tanpa sadar terjebak dalam es-es yang Luhan buat di sekelilingnya. Kemudian dengan cepat Luhan membuat kembali pedang es di tangannya dan ia langsung mengangkat pedang esnya untuk dilayangkan ke arah Ariel –namun belum sempat Luhan menipiskan jarak dengan Ariel untuk menunjukkan keberhasila penyerangannya, tanpa diduga Ariel berhasil memecahkan semua es dan…dia membuat Luhan terhempas cukup jauh.

Donghae langsung berdiri ketika Luhan mulai kembali bergerak. Tapi…Luhan bergerak dengan gerakan labil. Donghae langsung mengalihkan pandangannya ke arah Ariel –dan tangan gadis itu bergerak. Tidak. Ariel baru saja menggerakkan Luhan. Donghae yang menyadari situasi tersebut langsung menyerang tangan Ariel dan membekukan tangan gadis itu, dan secara bersamaan Luhan pun ikut terjatuh dengan muntahan darah dari mulutnya.

“Luhan? Kau baik-baik saja?” Donghae melompat cepat ke arah Luhan. Meskipun belum mendapat jawaban, Donghae langsung memutar pandangannya ke arah Ariel yang terjatuh di tanah dan terlihat sangat shock.

Ariel bukan hanya bisa mengendalikan air, tapi dia juga bisa mengendalikan…darah. Sesuatu yang telah ditentang oleh kekaisaran sejak seratus tahun lalu.

 

=to be continued=

20170115 PM0805

FF ini terinspirasi dari kartun Avatar : The Legend of Aang xD

Advertisements

3 responses to “Medals (chapter 4)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s