[FFindo Project] Family – Complicated

ffindo-project-2

credit pic: Zulaipatnam

Park Chanyeol, Park Chaeyoung, Oh Sehun, and others.

cerita sebelumnya: Cut  | Closer

“Karena begitulah keluarga, tidak perlu basa basi dan mengekang seolah kau berlagak khawatir.”

“KAU?!” Suara lantang Chanyeol terdengar. “Sejak kapan kau bicara dengannya? Sejak kapan kau tersenyum padanya?!” Sebenarnya Chanyeol tidak ingin berteriak ataupun marah pada adiknya tapi yang tadi itu sungguh mengganggu. Bagaimana jika saudara kembar mantan kekasihnya itu malah menghina dan bertingkah jijik ketika tahu Chaeyoung dan penyakit AIDS-nya? Apalagi ketika dia tahu Oh Sena, mantan kekasihnya, menentang keras seseorang yang mengidap penyakit itu. Chanyeol menjadi semakin takut adiknya terkucil.

“Aku bahkan baru bertemu dengannya tadi.” Terdengar lirih dari bibir Chaeyoung, ditambah kepala yang terus menunduk karena tak berani bersitatap dengan sang kakak. Lagi pula, apa salahnya dengan seseorang yang serta-merta menyapa ketika berada di ruang tunggu yang sama? Mereka hanya berkeluh kesah karena bosan menunggu. Chaeyoung rasa kakaknya terlalu berlebihan.

“Bagaimana jika dia tahu penyakitmu?! Bagaimana jika dia jijik lantas menghina?! Kau harus berhati-hati berbicara dengan seseorang, Chae!”

Ini yang terkadang membuat Chaeyoung tak habis pikir. Seharusnya Chanyeol-lah yang harus berhati-hati menilai seseorang. Lelaki yang tak sengaja menyapa tadi bahkan tak tahu namanya, bagaimana bisa dia lantas menghina?

“Dia hanya menyapa karena antrean begitu lama dan—“

“Dan kemudian dia mengetahui penyakitmu dan kemudian dia mengejekmu!” Chanyeol memotong ucapan adiknya.

“Tidak bisakah kakak tidak berpikir begitu?! Apa penyakit ini terlalu bersalah hingga orang lain tak boleh mengenalku dan menyapa?!”

Chaeyoung bukanlah adik yang suka membantah, sebenarnya, tapi rasa tertekan ini sudah menjadi berkali lipat sehingga tak mampu lagi untuk ia tahan. Chanyeol sendiri bahkan paham jika penyakit ini tidak akan sembuh hingga nyawanya menghilang. Chaeyoung bahkan berusaha mengerti jika semua yang Chanyeol lakukan adalah upaya untuk melindunginya, tapi tetap saja, hal seperti ini sama sekali tidak membantu. Chaeyoung bahkan muak dengan segala sikap kaku dan over protective yang ditunjukkan sang kakak. Bukankah seharusnya Chanyeol membuatnya lebih bahagia mengingat bahkan mereka tidak tahu sisa waktu yang Chaeyoung miliki?

“Aku melakukan ini untuk kebaikanmu?!”

“Jika untuk kebaikanku, bukan seperti ini yang seharusnya kaulakukan! Kau seharusnya memikirkan sedikit perasaanku!” Chaeyoung bahkan berteriak mengakhiri kalimatnya. Masa bodoh dengan sopan santun, yang ia butuhkan saat ini adalah Chanyeol yang mengerti.

Chaeyoung bisa menerima ketika Chanyeol melarangnya datang ke acara temu kembali teman-teman sekolah karena barangkali beberapa di antara mereka membenci Chaeyoung lantas bermaksud menjelekkan, tapi kali ini, bagaimana bisa Chanyeol menyalahkan seseorang yang dengan maksud baik menyapanya?

Namun, perdebatan itu terhenti dengan bunyi pintu masuk rumah mereka yang terbuka. Itu pasti Byun Baekhyun, teman dekat kakaknya yang berkunjung.

“Ada apa lagi?” Komentar Baekhyun kala memasuki ruang keluarga. Wajah memerah milik Chanyeol dan airmata yang sudah membasahi pipi Chaeyoung mengusik Baekhyun. Dia sendiri tidak yakin kapan terakhir kali melihat kakak beradik ini tergelak nikmat oleh hal lucu, hidup mereka sudah terlalu penuh dengan drama menyedihkan.

“O, Baek. Tunggulah, aku akan mengganti bajuku,” ucap Chanyeol yang menolak untuk menjawab komentar Baekhyun. Dia lantas memacu langkah menuju kamarnya.

“Kali ini ada apa? Masalah reuni lagi?” Baekhyun menuntun Chaeyoung untuk duduk. Dia juga mengambil beberapa helai tisu untuk Chaeyoung menghapus airmatanya.

Gadis itu menggeleng.

“Lalu?” tanya Baekhyun lagi.

“Seseorang menyapaku.”

“Dan?”

“Dan Kak Chan menghardiknya lantas memarahiku.”

“Dia menghardik seseorang yang menyapamu? Orang tak dikenal?” tanya Baekhyun tak percaya. Entah bagaimana cara Baekhyun menanggapinya, yang jelas, itu terdengar lucu sekali. Dia bahkan tidak bisa berkata apa-apa lagi dengan sikap keras teman dekatnya terhadap adiknya yang lemah itu.

“Kak Chan bilang itu adalah adik Kak Sena.” Meskipun Chaeyoung belum pernah bertemu dengan Oh Sena, dia tahu sekali bagaimana hubungan kakaknya dengan Sena yang dimaksud.

Baekhyun kembali menarik beberapa helai tisu untuk Chaeyoung. Kalau sudah berurusan dengan Oh Sena, Baekhyun paham sekali kenapa Chanyeol bersikap seperti tadi. “Chae, aku tahu ini sangat menekanmu. Tapi, percayalah, semua yang Chanyeol lakukan adalah yang terbaik untukmu.” Baekhyun sebenarnya ikut muak dengan sikap khawatir berlebihan yang ditunjukkan Chanyeol, dia juga ingin sekali melihat Chaeyoung tersenyum seperti waktu dahulu. Tapi, barangkali beginilah yang harus dilakukan agar Chaeyoung tidak dihakimi oleh penyakitnya yang terbilang aneh.

Chaeyoung bahkan belum genap berumur dua puluh tahun, dia juga bahkan tidak pernah mencoba hal tidak senonoh sehingga ia mendapatkan penyakit kotor itu. Chaeyoung hanyalah seorang korban.

“Tapi, aku juga ingin tersenyum untuk orang lain, Kak. Aku juga ingin bergurau dengan orang lain.” Chaeyoung menghapus lagi airmata yang tak kunjung henti.

Baekhyun membelai lembut rambutnya, “Apa kau pernah dengar kalimat semua akan indah pada waktunya?”

Chaeyoung melirik Baekhyun dengan mata sayunya.

“Kau akan mendapatkan kebahagiaan itu, Chae,” ucap Baekhyun dengan senyumannya.

***

“Tunggu sebentar!” Chaeyoung mengoceh sendiri. Suara dering pintu rumah yang ditekan terburu-buru membuatnya kesal. Itu bukan kakaknya, karena jika Chanyeol yang datang, dia tidak perlu menekan bel. Itu juga pasti bukan Byun Baekhyun, teman dekat kakak, karena Baekhyun bisa dengan sendirinya masuk rumah mereka, lelaki itu tahu kunci pengaman rumah mereka.

Kala pintu terbuka, Chaeyoung terkejut. Salahnya sendiri kenapa tidak memeriksa terlebih dahulu sebelum membuka.

“K—Kau?”

“Hai.” Lelaki itu tersenyum dengan lambaian tangannya.

“Bagaimana bisa tahu rumahku?” Chaeyoung ingin menghalangi, tapi lelaki itu malah semena-mena masuk rumahnya dan melepas sepatu.

“Tanya Kak Sena,” ucapnya dengan semena-mena pula duduk di ruang tamu, dia menepuk sofa di sebelahnya mengajak Chaeyoung duduk.

Ah, Chaeyoung hampir saja lupa jika lelaki ini adalah adik mantan kekasih kakaknya. Kendati belum pernah bertemu dengan Oh Sena, mantan kekasih kakaknya, tapi sudah beberapa kali Chaeyoung mencuri lirik Sena yang datang ke rumahnya. Chanyeol selalu menyuruhnya berdiam di kamar ketika Sena datang.

“Kenapa datang?” Sebenarnya Chaeyoung panik. Chanyeol memang sedang tidak ada di rumah, tapi bagaimana jika dia tiba-tiba datang dan melihat ada adik Sena di rumahnya, mungkin Chanyeol akan mengamuk.

“Aku hanya menebus obat ayah sebulan sekali, dan aku tidak punya alasan lain untuk menjengukmu di rumah sakit selain ketika mengambil obat ayah. Jadi, kuputuskan untuk datang.”

“Bagaimana jika Kak Chan menghardikmu lagi!”

“Kau pikir aku takut dengan Kak Chanyeol?” Lelaki itu tersenyum dan menarik tangan Chaeyoung agar duduk di sampingnya.

Merasa jarak mereka terlalu dekat, Chaeyoung menggeser bokongnya sedikit menjauh.

“Namaku Oh Sehun,” ucap lelaki itu, “kita belum sempat kenalan waktu itu,” tambahnya lagi.

“O, H—hai. Chaeyoung, Park Chaeyoung, namaku.” Chaeyoung berucap terbata-bata. Degup jantungnya tak beraturan. Barangkali karena ini pertama kali seorang lelaki mendatanginya selain Baekhyun, teman kakaknya, atau juga karena rasa khawatirnya akan tepergok oleh kakak lelakinya yang menyeramkan.

“Jadi bagaimana kabarmu?” Oh Sehun menggeser duduknya mendekati Chaeyoung. Tapi, baru saja Chaeyoung akan memberi respon, Sehun kembali mengeluarkan suaranya, “O, apa ini? Kau juga dapat undangan ini?” Sehun merogoh kertas undangan berwarna biru yang sudah koyak di atas meja. Chaeyoung ingat, dia meremas lantas melempar begitu saja karena kesal dengan keputusan kakaknya beberapa hari lalu.

“Wah, aku tak menyangka kau bersekolah di tempat yang sama denganku.”

Chaeyoung tersenyum kaku, dia tidak yakin bagaimana harus memberi respon karena Oh Sehun terlalu bersikap blak-blakan.

“Tapi, aku sudah lulus tiga tahun lalu, kau?” tanya Sehun kemudian.

“Tahun lalu.” Chaeyoung tersenyum lagi.

“Aku juga dapat undangan yang ini,” ucap Sehun sembari merapikan kertas undangan yang sudah koyak itu, “jadi, kau akan datang?” tanya Sehun setelahnya.

Cukup lama tak terdengar suara dari bibir Chaeyoung. Saat Sehun melirik, gadis itu tertunduk sendu dan menggigit bibirnya. Padahal Sehun suka wajah itu, meskipun terlihat lesu dan pucat, wajah Chaeyoung masih memancarkan keindahan. Matanya yang sayu pun terlihat memikat untuk Oh Sehun. Itulah bagaimana dia terjatuh begitu saja sejak pertama kali berjumpa.

Sehun tahu cukup sulit untuk Chaeyoung menjawabn. Apalagi dengan penyakit yang diidapnya, Sehun yakin bukan satu dua orang yang nanti akan semena-mena berprasangka.

“Ayo pergi bersamaku?” ajak Sehun kemudian. Dia tahu ini akan beresiko besar pada Chaeyoung tapi dia juga yakin dengan wajah ragu yang Chaeyoung tunjukkan, Sehun yakin gadis ini menginginkannya.

Chaeyoung lantas mengangkat wajahnya melirik Sehun. Lelaki dengan senyum penuh pengharapan itu membuat Chaeyoung menjadi bimbang. Detak jantung yang sejak tadi bahkan tak berhenti jumpalitan, kini malah bertambah dengan kupu-kupu di perut yang menggelitik.

Hanya enam atau tujuh detik memang dirinya terpesona, karena setelahnya dia tersadar akan kakaknya yang menentang keras. Chaeyoung menggeleng kepalanya. “Aku tidak akan datang,” ucapnya lirih dan kembali menunduk.

“Kenapa?”

Pertanyaan membuat Chaeyoung kembali memandang lelaki di sebelahnya lantas berucap, “pulanglah Sehun ssi. Kita tidak bisa—“

Chaeyong tidak sempat lanjutkan ucapannya, dia malah tersentak tatkala mendengar pintu rumah yang terbuka. Wajah terperanjat dan ketakutan bahkan tak bisa ia tahan saat tahu siapa yang datang. Park Chanyeol, kakaknya, mendekati dengan geram.

“Mau apa kau kemari?!” Tanpa basa basi, suara itu juga membuat Sehun terkejut dan beranjak dari posisi duduknya.

“Hai, Kak Chan, aku—“ Bahkan belum sempat kalimat itu terucap oleh Sehun, Chanyeol sudah menarik kerah baju dengan dengan sikap tak santai.

“Wow, wow, Kak. Santai dulu.”

“Mau apa kau datang?! Kau ingin menghinanya? Kau ingin mengejeknya?!” Mata Chanyeol bahkan merah menakutkan.

“Aku bahkan tidak mengerti maksudmu.” Sebenarnya Sehun tahu arah pembicaraan Chanyeol, tapi ia bersikap seolah dirinya tak tahu menahu.

“Tidak usah sok lugu. Toh kau sama saja dengan Oh Sena!”

Sehun bahkan tidak mau membahas hubungan kembarnya dan Park Chanyeol yang sudah hancur, tapi Chanyeol sungguh keterlaluan. Padahal, jika ingin marah atas nama kembarnya, seharusnya Sehun yang berhak di sini, apalagi karena Chanyeol yang memutuskan hubungan secara sepihak dengan kembarnya.

Tak tahan dengan sikap Chanyeol, Sehun ikut menarik kerah baju milik Chanyeol. “Jangan bersikap seolah kau yang selalu benar! Kau bahkan menyakiti hati Kak Sena!” bentak Sehun memberanikan diri. Padahal jika Chanyeol tak membahas Sena, mungkin dia bisa menahan dirinya.

“Hei, hei, hei, hei, hei! Apa-apaan ini?!”

Acara tarik-menarik kerah baju itu pun terhenti kala Byun Baekhyun yang baru muncul dari balik pintu datang melerai. “Kalian pikir sudah hebat, huh?!” bentak Baekhyun. “Kau siapa?” tanyanya juga pada Sehun.

Namun, dengan segera Chaeyoung menangkap tangan Sehun dan menariknya keluar dari rumah. Sudah saatnya Sehun pulang, sebelum semuanya hancur berantakan.

***

Sehun mengumpat kecil sejurus dengan tubuhnya yang terhempas di sofa ruang keluarga. Jika saja tadi tidak ada yang melerai, barangkali sudah ada beberapa lebam di wajahnya. Chanyeol yang dia kenal selama ini memang bukanlah Chanyeol yang penyabar, bukan sekali dua kali dia mendengar Kak Sena dan Chanyeol yang bertengkar.

“Oi, kurir penebus obat! Ada apa dengan wajah yang dilipat itu?” Ejekan bercampur kekeh itu mengejutkan Sehun. Ah, dia baru ingat jika nanti malam adalah makan malam keluarga, itulah mengapa kembarnya sudah bertandang di rumah orang tua mereka sore ini.

Ketika Oh Sena, kembarnya, memilih duduk bersebelahan, Sehun dengan segera memutar wajah untuk melirik. “Hei, ada yang ingin kubicarakan padamu,” ucap Sehun pada kakaknya.

“Apa? Jika itu komentarmu tentang iklan sabunku, oh maaf, aku menolak.”

“Sena, aku serius.”

“Sehun, kau pikir aku bercanda?” ujar Sena acuh tak acuh.

“Oh, Ayolah, ini tentang Park Chanyeol.”

Mendengar nama itu Sena segera menoleh, melirik adiknya dengan tatap sadis. “Kenapa dengannya?” tanya Sena

“Kenapa kau putus dengannya?”

“Dia mencampakkanku, Hun. Ouh, kau bahkan tahu itu, kenapa masih bertanya!” ucapan Sena terdengar kesal. Lagi pula Sehun ingat dengan yang satu ini, dia ingat bagaimana Sena yang tersedu-sedu di pundaknya merengek semalaman dan mengumpat kasar Park Chanyeol.

“Bukan itu maksudku. Dia tidak mungkin serta-merta mencampakkanmu jika kau tidak berbuat kesalahan.”

“Aku ini perfect, Oh Sehun. Aku tidak punya kesalahan!”

Sehun mendesah kesal. Dia masih ingat ucapan Chanyeol yang mengejek kakaknya tadi. Bagaimana bisa tidak ada kesalahan jika mantan kekasih sang kakak itu terlihat kesal?

“Ah, apa gara-gara itu? Tidak mungkin.” Sena tiba-tiba teringat sesuatu, tapi tiba-tiba pula dia menggeleng.

“Itu apa?” Sehun ikut penasaran.

“Malam itu dia bertanya bagaimana pendapatku tentang orang yang mengidap penyakit AIDS.”

“Lalu kau jawab?”

“Tentu saja aku tidak suka, aku bahkan malas sekali mengenal orang dengan penyakit menjijikkan itu. Hih, orang dengan penyakit seperti itu adalah pendosa, orang-orang kotor!”

“BODOH!!” Sehun mengumpat lantas beranjak dari duduknya. “Wah! Itulah mengapa kau perlu sekolah yang tinggi dan keluar dari iklan sabun itu! Otakmu hanya satu perdelapan!”

“AISH! Kau mengejekku!!” Sena berseru.

“Chanyeol berkata begitu karena adiknya yang mengidap penyakit itu. Dan kau tahu, Park Chaeyoung tidak memiliki catatan kotor sedikit pun sejak ia lahir. Dia bahkan belum pernah melakukan hal tidak senonoh dengan lawan jenisnya.” O, yang ini pastinya Sehun tahu dari Eunhee. Dia sudah menggali hingga dalam data-data tentang Park Chaeyoung.

“Tunggu dulu!” Sena mengerut dahinya. “Apa katamu? Chanyeol punya adik?” Dia bahkan tidak tahu hal yang satu ini. Chanyeol tidak pernah cerita tentang seorang adik padanya.

***

Saat mendengar suara pintu rumah yang terbuka, Chanyeol terburu-buru menghampiri. “Baek, kau tidak bilang ingin datang malam sekali—“ Kalimatnya terputus karena teryata bukan Baekhyun yang muncul dari balik pintu masuk rumah, tapi malah gadis lain yang Chanyeol kenal.

“Kau tidak mengganti kunci pengaman rumahnya?” tanya gadis itu dengan senyuman.

Tidak menjawab, Chanyeol malah menariknya masuk menuju kamarnya. Ia tahu setelah ini mereka akan berdebat, dan Chanyeol tidak ingin adiknya yang sedang tidur mendengar perdebatan mereka.

“Mau apa datang?” tanya Chanyeol dengan sikap dingin. Jika boleh jujur, ingin sekali ia berlari dan memeluk gadis ini. Lagi pula ia sadar jika hubungan mereka yang hancur adalah karena dirinya yang terlalu egois. Dia terlalu takut gadis ini membenci adiknya yang memiliki penyakit menjijikkan, sehingga terpaksa dirinya begitu saja melepas gadis ini.

Padahal, Oh Sena terlalu berharga untuknya.

“Kau tidak pernah bilang jika kau punya seorang adik perempuan.” Sena memulai pembicaraan. Dia lantas duduk di pinggir ranjang milik Chanyeol.

“Kalaupun aku mengatakannya, kau pasti akan membencinya, kau akan jijik dengannya karena dia kotor, dia pendosa.”

Sena menutup matanya, mengingat kembali kata-kata kasarnya di malam hari jadi mereka yang ketiga. Jika ia tahu kalimat itu akan menghancurkan hubungannya dengan Chanyeol, mungkin Sena akan memikirkan kembali sebelum mengatakannya.

“Aku tahu itu salahku. Tapi, jika dari awal kau mengatakan jika itu adalah yang menimpa adikmu, mungkin aku akan menerima, karena aku percaya denganmu, aku percaya dengan adikmu. Dia tidak akan bertingkah kotor, Yeol!” ucap Sena, “tapi apa? Kau malah semena-mena memutuskan hubungan tanpa penjelasan sama sekali. Kau bahkan tidak menjawab teleponku setelah malam itu. Kau sungguh kekanakan!” Suara Sena terdengar sedikit berteriak.

Chanyeol teringat kembali akan malam itu. Barangkali benar, itu mungkin memang salahnya. Padahal, jika saja Sena tidak mengganggap jijik adiknya, Chanyeol berencana untuk melamarnya malam itu. Ah, sekali lagi, mungkin benar ini adalah salahnya. Bahkan jijik yang Sena maksud malam itu bukan berarti adiknya karena Sena tidak pernah tahu dirinya yang memiliki adik perempuan.

“Jika kau benar menyayangiku, seharusnya sejak awal kau berkata jujur. Kau bahkan tahu siapa ayahku, ibuku, dan adikku. Bagaimana bisa aku tidak tahu dengan adikmu? AH! Jangan-jangan kau juga berbohong tentang orang tuamu!”

Ah, iya. Chanyeol bahkan mengaku jika ayah dan ibunya tinggal di luar negeri untuk urusan bisnis. Dia tidak pernah mengatakan keluarganya yang hancur karena penyakit AIDS yang menjijikkan.

“Jika kau menyayangi adikmu, seharusnya kau mengakui tanpa rasa malu akan hal lain yang merusaknya! Jika kau menyayanginya, seharusnya kau menuntutku untuk ikut memberi rasa sayang untuknya agar ia tak merasa terkucil dan terasingkan, bukan malah menyembunyikannya!”

Sena juga tahu ini adalah salahnya. Mungkin Sehun benar dia terlalu bodoh sehingga tidak bisa membaca keadaan atau pun mencari tahu lebih banyak tentang Park Chanyeol. Tapi, dia balik semua itu, dia juga kecewa dengan Park Chanyeol yang menolak untuk jujur.

“Karena begitulah seharusnya keluarga, Yeol. Tidak perlu basa basi dan mengekang seolah kau berlagak khawatir. Yang perlu kau lakukan hanyalah mengakuinya dan memberi rasa nyaman untuknya.”

Sena mengakhiri ucapannya. Dia juga menghapus airmata yang mengalir begitu saja di pipinya. Setelah itu, ia memacu langkah meninggalkan Chanyeol dan kamarnya. Berharap saja lelaki itu mengerti apa yang ia maksud.

***

.

.

.

First, thanks for reading and i hope you enjoyed. Cerita ini adalah bagian dari FFindo project yang puncaknya nanti akan diadakan sebuah event yang bisa diikuti oleh semua orang yang sesuai dengan syarat nantinya dan juga disediakan beberapa hadiah untuk pemenang event-nya. So, I also hope you guys don’t mind to participate in the next event. See ya~

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s