[FFINDO PROJECT] Fantasy – When Petals Fall Off Orchid

sestal-petal_edit

When Petals Fall Off Orchid by nchuhae

Oh Sehun & Krystal Jung | Oneshot | Fantasy, Romance | G

.

.

So, do tell me, do you get butterflies when you see me?

Sebelumnya: Reinkarnasi

***

Sehun menggeser pintu kaca yang menghubungkan kamar tidurnya dengan balkon yang menghadap langsung ke taman. Sepoi angin musim gugur langsung menyapa kulit wajahnya, membuat pemuda itu refleks merapatkan syal rajut yang melilit lehernya. Dengan tangan kanan, ia menarik selimut berbahan flanel yang terlipat rapi di atas sebuah sofa panjang, menjatuhkan tubuh kurusnya di sana, kemudian menutup kakinya dengan kain tebal itu. Satu tangannya masih menggenggam ponsel yang sejak tadi belum berhenti menyala. Di seberang sana, ibunya terus berceloteh, menyampaikan sederet hal yang harus dan tidak boleh dilakukan Sehun selama setidaknya tiga bulan ke depan.

“Pokoknya, kalau sampai kau merasa tidak enak badan sedikit saja, langsung hubungi Dokter Lee. Ibu sudah memberitahukan alamat vila kita kepadanya, dan ia berjanji akan segera meluncur ke sana jika mendapat panggilan darimu. Ingat, jangan pernah jauh-jauh dari ponsel dan botol obatmu. Kita tidak pernah tahu kapan penyakitmu akan kambuh lagi.”

Sehun mendesah malas. Jika tidak salah hitung, ini sudah kali keenam belas ibunya mengulangi kalimat barusan. Sejak ia pertama kali mengutarakan keinginannya untuk tinggal sementara di tempat ini sembari menunggu pihak rumah sakit mendapatkan donor jantung yang cocok untuknya, wanita paruh baya itu terus-menerus menasihatinya dengan kalimat yang hampir selalu sama setiap waktu. Sehun jelas jenuh dengan bentuk perhatian berlebihan seperti itu. Akan tetapi, ia juga paham betul bahwa ibunya berlaku demikian karena rasa sayang yang teramat besar terhadap dirinya. Maka seperti biasa, pada akhirnya ia tetap menyahuti perkataan ibunya dengan patuh. “Aku mengerti, Eomma.”

Sehun melayangkan pandangan tanpa minat ke arah hutan yang berada tidak jauh dari vila. Semilir angin meniup-niup pepohonan tinggi itu hingga pucuknya bergerak dalam irama teratur yang seolah meninabobokan siapapun yang melihat. Sehun mengangkat kaki dan meluruskannya hingga menutupi seluruh sofa, lalu membetulkan posisi selimut flanelnya agar ia tetap merasa hangat. Di ujung saluran telepon, ibunya masih terus berbicara panjang lebar mengenai jadwal minum obat serta makanan apa saja yang tidak boleh ia konsumsi.

Ibu Sehun memang sangat protektif. Kesehatan putranya yang tidak begitu baik membuatnya kadang bisa jadi sangat cerewet hingga tak jarang Sehun merasa risih. Perhatian itu bertambah berkali lipat sejak setahun lalu, ketika Sehun tiba-tiba jatuh tidak sadarkan diri dan harus dirawat intensif di rumah sakit selama hampir dua bulan.

Darling,” ujar Ibu Sehun setelah ia selesai dengan petuah panjangnya, “setelah Ibu pikir-pikir lagi, mungkin ada baiknya Ibu menyusulmu ke sana. Bagaimanapun juga—”

Eomma, jangan mulai lagi,” potong Sehun sebelum ibunya sempat menyelesaikan perkataannya. “Kita sudah membahas masalah ini berulang kali, ingat?”

“Tapi—”

“Di rumah sakit ada lebih banyak pasien yang membutuhkanmu, Eomma. Keberadaanmu di sana jelas lebih dibutuhkan,” ujar Sehun mengingatkan. “Lagi pula, udara di sini sangat segar dan suasananya juga tenang. Aku pasti akan baik-baik saja, jadi tidak usah terlalu mengkhawatirkan aku, oke?”

Sehun bisa mendengar ibunya mendesah panjang di seberang sana, tapi pada akhirnya wanita itu mengalah juga. “Baiklah kalau begitu, Kepala Batu. Terserah apa katamu saja. Tapi ingat, akhir minggu depan Ibu sudah mengosongkan jadwal, jadi jangan kaget kalau sampai kau bangun tidur dan Ibu sudah ada di sana bersamamu.”

Sehun tertawa ringan. Untuk urusan yang satu ini, dia jelas tidak bisa menolak. Ini sudah menjadi bagian dari kesepakatan mereka tempo hari. “Jangan lupa bawakan susu stroberi kalau Ibu datang nanti,” ujarnya seraya menyudahi sambungan telepon.

Sehun lalu merogoh saku jaket, meraih earphone dari sana. Setelah menyambungkan kabel putih itu ke lubang di bagian atas ponselnya dan memasang ujung yang satunya lagi di kedua telinga, pemuda dua puluh tiga tahun itu membuka aplikasi pemutar musik dan membiarkan musik klasik gubahan Mozart memenuhi indra pendengarannya. Ia bersandar di sofa untuk mengendurkan otot punggungnya yang kaku akibat menempuh perjalanan selama hampir tiga jam dari pusat Kota Seoul ke vilanya yang terletak jauh di pinggiran Busan.

Pandangan pria itu kembali terarah pada hutan di belakang vila. Angin masih mengayun ujung pohon-pohon tinggi itu seperti sebelumnya. Yang berbeda kali ini adalah keberadaan sekawanan burung yang beterbangan mengitari pusat hutan. Selama beberapa belas menit, Sehun memperhatikan hal itu dari tempatnya duduk, membiarkannya menjadi pemandangan yang mengantar pria itu menuju alam mimpi.

***

Sehun bosan. Sejak tiba di vila ini, ia praktis tidak melakukan sesuatu yang berarti. Segala keperluan sudah dipersiapkan oleh pelayan. Setiap kali Sehun menawarkan diri untuk membantu, mereka pasti menolak. Hal tersebut disebabkan oleh ibunya yang sudah sejak jauh hari mewanti-wanti semua penghuni tempat ini untuk tidak membiarkan Sehun melakukan apapun yang bisa membuatnya terlalu lelah. Satu-satunya hiburan yang diperoleh Sehun adalah saat ia diizinkan berjalan-jalan di sekitar vila pada pagi dan sore hari, itu pun dengan keberadaan perawat yang senantiasa berada beberapa langkah di belakangnya.

Sekali waktu ia berhasil membujuk tukang kebun untuk mengizinkannya membantu merapikan rumput di taman belakang, tapi Tuan Choi, kepala pelayan yang sudah mengabdi kepada keluarga Oh selama dua generasi, memergokinya bahkan saat pemuda itu belum sempat melakukan apa-apa. Hasilnya, Sehun harus menghabiskan waktu dua jam untuk membujuk ibunya yang bersikeras ingin membawa dirinya pulang ke Seoul hari itu juga. Padahal tujuan utama Sehun ke vila ini adalah untuk menjauhkan diri dari sifat protektif ibunya, tapi sepertinya pria itu salah perhitungan. Keadaan di sini tidak jauh beda dengan di rumah.

Sehun hanya butuh waktu empat hari sampai rasa jenuhnya mencapai puncak. Nekad, ia memutuskan untuk berjalan-jalan sedikit lebih jauh pagi itu.

Menurut pengamatan Sehun, aktivitas di tempat ini dimulai setidaknya pukul enam pagi, jadi demi menjalankan rencana besarnya, pagi itu Sehun sengaja bangun lebih awal. Setelah memasukkan obat, sebotol air mineral, dan beberapa bungkus makanan ke dalam tas punggung kecil berwarna hitam, pria itu menyelinap keluar dari pintu di dekat dapur, kemudian berjalan mengendap-endap menuju hutan di belakang vilanya.

***

Matahari sudah bergerak meninggi ketika Sehun sampai di tepi sebuah danau. Beberapa tahun lalu, saat tubuhnya belum selemah sekarang, ia dan adiknya sering bermain bersama di tempat ini. Adiknya sangat suka memetik bunga liar yang tumbuh di tepi danau kemudian merangkainya menjadi mahkota. Setelah itu, mereka berdua akan berpura-pura menjadi raja dan ratu, sementara seluruh isi hutan ini menjadi rakyatnya.

Sehun bersandar pada batang pohon ek tua untuk menikmati sarapan sekaligus mengistirahatkan tubuhnya yang lelah. Seusai makan, ia iseng melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya, sedikit terkejut ketika mendapati waktu sudah menunjukkan hampir pukul delapan pagi.

Dulu, perjalanan menuju danau ini tidak terlalu menguras banyak tenaga. Dengan kakinya yang masih pendek dan jangkauan langkahnya yang tidak seberapa lebar, ia bisa sampai ke sini tanpa rasa lelah yang berarti. Sekarang, di saat ia sudah tumbuh dewasa, semua justru terbalik. Terlalu lelah berjalan membuat pandangannya mulai berkunang-kunang tak lama setelah ia memasuki hutan. Belum lagi tarikan napasnya yang mulai memendek dan tak beraturan, membuat pria itu harus berhenti berkali-kali sampai akhirnya ia bisa sampai di danau ini.

Sehun menatap pemandangan di depannya sekali lagi, menikmati setiap detil yang bisa tertangkap indra penglihatannya. Ada beragam jenis pohon dan tumbuhan liar yang mengelilingi danau tersebut. Di bagian tengah, sekumpulan teratai putih juga tumbuh menutupi sebagian permukaan danau hingga airnya yang selalu jernih tidak lagi memantulkan bayangan langit biru secara sempurna. Beberapa ekor belalang tampak melompat dari satu pucuk tumbuhan ke pucuk lain dengan lincah, dan sejenak Sehun berpikir betapa dia akan sangat bahagia jika bisa merasakan kebebasan seperti itu. Di salah satu sisi danau, terdapat dermaga kayu dan perahu kecil yang tampak sudah mulai lapuk, termakan usia.

Sehun ingat, saat masih kecil, salah satu harapan terbesarnya adalah naik ke perahu itu, mendayung sampai ke tengah danau, kemudian meloncat dan berenang di sana hingga tubuhnya menggigil. Sebuah harapan yang tidak pernah terwujud, tentu saja, karena setiap kali hendak melakukan hal yang sedikit berbahaya, ia akan langsung terbayang raut penuh kekhawatiran di wajah ibunya. Hanya dengan bayangan itu saja, keinginan Sehun untuk bersenang-senang akan langsung tergerus habis.

Seulas senyum pasrah terbit di wajah Sehun. Mungkin keinginan itu selamanya akan menjadi impian yang tidak bisa terwujud. Pria itu cukup tahu diri bahwa dengan keadaan fisiknya yang lemah, dia tidak seharusnya berharap banyak. Bisa berada di tengah hutan tanpa diawasi perawat saja sudah menjadi sebuah kemewahan baginya.

Pria itu bersedekap. Sembari memejamkan mata, ia menghirup dalam-dalam segar aroma dedaunan dan tanah, serta menikmati suara serangga yang menggema ke seluruh penjuru hutan. Rasanya begitu damai, dan untuk sesaat, Sehun berharap ia bisa selamanya berada di tempat ini.

Sehun membuka mata tidak lama kemudian karena merasakan sesuatu menyentuh wajahnya. Ketika kelopak matanya sudah benar-benar terbuka, ia mendapati seekor kupu-kupu bertengger di pucuk hidungnya. Pelan, Sehun menggerakkan tangan di depan wajah, dan kupu-kupu tersebut pun mulai mengepakkan sayap putihnya hingga ia melayang di udara.

Pria itu tersenyum. Ia mengulurkan tangan sedikit lebih ke depan untuk menjangkau makhluk kecil di depannya, tapi seolah ingin mempermainkan Sehun, kupu-kupu itu malah terbang menjauh. Senyuman Sehun berubah menjadi tawa ringan karena ulah makhluk bersayap putih itu. Memutuskan bermain-main sebentar, ia berdiri dan mulai mengejar kupu-kupu itu.

Sehun berjalan—setengah berlari—menyusuri pepohonan yang menjulang tinggi di kiri dan kanannya, melewati sungai kecil yang permukaannya tertutup dedaunan kering, menembus semak belukar, bertemu dengan sekawanan berang-berang yang tengah sibuk membuat sarang, tapi tidak juga berhasil menangkap kupu-kupu itu. Kalau bukan karena kepalanya yang pusing dan napasnya yang kembali tersengal-sengal, Sehun pasti tidak akan menghentikan langkah.

Seolah tahu bahwa Sehun berhenti mengerjarnya, kupu-kupu bersayap putih itu pun berhenti terbang menjauh. Ia hinggap di pucuk sebuah tanaman merambat dan baru terbang lagi ketika menyadari bahwa Sehun tengah mengendap-endap mendekatinya.

Sehun tergelak. “Kau sungguh ingin bermain-main denganku, huh?”

Pria itu kembali berlari. Senyum gembira terlukis di wajahnya seiring tapakan langkah yang ia ambil untuk mengejar teman barunya itu.

Ketika akhirnya ia berhasil menangkap makhluk tersebut, Sehun menyadari bahwa ia sudah berlari terlalu jauh ke dalam hutan. Pemandangan di sekitarnya benar-benar asing. Semua pohon tampak sama. Jangankan menemukan jalan pulang, pria itu bahkan tidak bisa lagi membedakan mana barat, mana timur.

Ia membuka kepalan tangannya, membebaskan kupu-kupu yang menjadi penyebab ia tersesat. Makhluk itu terbang di depan wajah Sehun yang berkeringat. Sambil memasang muka sebal yang dibuat-buat, pria itu berkata, “Kau senang melihatku jadi anak hilang, ‘kan?”

Sehun mengambil ponsel dari dalam tas  punggungnya, membuka aplikasi penunjuk arah, berharap benda itu bisa menunjukkan jalan keluar kepadanya. Ketika dua menit berlalu dan lokasinya belum juga bisa diperbaharui, ia baru sadar bahwa teknologi canggih itu tidak berguna tanpa dukungan sinyal yang stabil.

“Setidaknya hari masih terang,” ujarnya menghibur diri.

Sehun melanjutkan perjalanan sambil berusaha mengingat-ingat jalan yang tadi ia lalui. Pria itu bersiul riang meski sadar ia terancam tidak bisa pulang sebelum matahari tenggelam. Sehun merasa perjalanannya kali ini sungguh menyenangkan, apalagi kupu-kupu yang tadi ia kejar masih setia menemaninya.

Pria itu baru menghentikan langkah sekitar sejam kemudian untuk mengistirahatkan tubuhnya yang mulai mengeluarkan keringat dingin, dan selayaknya seorang teman yang baik, kupu-kupu di samping Sehun juga berhenti mengepakkan sayap. Ia hinggap di atas daun kering, tidak jauh dari tempat Sehun beristirahat.

Belum juga Sehun meneguk air mineral untuk membasahi kerongkongannya yang kering akibat terlalu lama berjalan, tetes-tetes air dari langit sudah terlebih dulu jatuh membasahi bumi. Pria itu kontan bangkit dan berlari mencari tempat berteduh. Teman kecilnya juga ikut terbang, tapi Sehun sudah tidak lagi memperhatikan ke mana makhluk bersayap itu pergi. Beruntung baginya, ia menemukan sebuah gua sebelum hujan membuat tubuhnya basah kuyup. Tanpa pikir panjang, Sehun memasuki gua tersebut.

Tempat itu tidak luas, namun yang menarik perhatian Sehun adalah keberadaan patung setinggi lutut berbentuk wanita yang mengenakan jubah panjang. Di depannya, ada tiga buah pinggan perunggu yang sudah tertutup debu tebal. Di sudut-sudut gua itu terdapat banyak sarang laba-laba yang menunjukkan bahwa tempat ini sudah sangat lama tidak didatangi orang. Tidak butuh waktu lama bagi Sehun untuk menyimpulkan bahwa tempat ini dulu merupakan kuil pemujaan salah satu dewi.

Sehun melepaskan syal merah yang melilit lehernya, kemudian menggunakan benda itu untuk membersihkan sarang laba-laba dan debu yang menumpuk di permukaan patung dan pinggan perunggu yang ia yakini sebagai tempat meletakkan persembahan. Sesekali ia terbatuk karena debu, bahkan matanya juga sempat berkunang-kunang akibat terlalu banyak bergerak, tapi pada akhirnya senyum puas menghias wajah pria itu kala pekerjaannya selesai.

Sehun lantas merogoh tasnya, dengan asal mengambil sebatang cokelat dan meletakkannya di atas salah satu pinggan di depan patung itu. Keyakinannya memang tidak mengajarkan untuk memuja dewi mana pun, tapi Sehun merasa perlu melakukan sesuatu untuk menunjukkan rasa hormat terhadap tempat ini. Bagaimanapun juga, pikirnya, tempat tersebut sudah melindunginya dari guyuran air hujan yang jatuh nyaris tanpa peringatan. Terakhir, pria itu tidak lupa melipat tangan di depan dada. Dengan mata terpejam, ia berdoa agar hujan segera berhenti dan ia bisa menemukan jalan pulang.

“Sudah lama sekali aku tidak melihat seseorang berdoa di sini.”

Suara lembut itu kontan membuat Sehun menoleh. Tanpa sadar, alisnya bertaut ketika melihat sesosok gadis sedang berdiri di mulut gua, menatap penasaran ke arahnya. Gadis itu ayu, dengan kulit pucat dan bibir yang berona merah, serta rambut keemasan yang terurai hingga pinggang. Matanya biru pucat, dibingkai bulu mata lentik yang berwarna senada dengan rambutnya. Tubuh mungil gadis itu dibalut pakaian putih panjang yang membuat penggunanya tampak begitu anggun. Sehun bahkan merasa perlu memicingkan mata untuk meyakinkan diri bahwa pakaian itu benar-benar berbahan dasar kelopak bunga yang terjalin sedemikian rupa hingga membentuk gaun yang memukau.

“S-siapa kau?” tanya Sehun terbata-bata.

Sosok feminin itu tidak langsung menjawab. Ia hanya mengulas senyum tipis lantas berjalan menuju patung di sisi lain gua. Saat melintas di depan Sehun, pria itu baru menyadari bahwa kaki lawan bicaranya tidak menapak permukaan tanah. Ia memang mengayun tungkai selayaknya orang berjalan, tapi telapak kakinya yang telanjang melayang beberapa senti di udara. Sehun menelan ludah, dalam hati menolak percaya pada penglihatannya sendiri. Takut-takut, ia bertanya, “Kau … hantu?”

Yang ditanya hanya tertawa ringan, dan Sehun bersumpah tawa itu terdengar terlalu merdu untuk dicap sebagai tawa hantu. “Aku penjaga hutan ini,” beritahu sang gadis. Ia lalu mengulurkan tangan ke arah pinggan perunggu di depan patung hingga cokelat yang sebelumnya diletakkan Sehun sebagai persembahan melayang menuju telapak tangannya. Alisnya sedikit bertaut memperhatikan makanan itu. “Aku tidak pernah melihat benda seperti ini,” katanya.

Sedikit ragu, Sehun meraih cokelat dalam genggaman sang gadis, membuka bungkusnya, dan menyuapkan makanan itu seperti ia menyuapi keponakannya yang masih kecil.

“Makanan ini namanya cokelat,” beritahu Sehun. “Ibuku membelinya saat berlibur ke Belgia.”

“Belgia?”

Sehun mengangguk. “Sebuah tanah yang berada jauh dari sini.” Pria itu menjelaskan sembari memperhatikan sosok di depannya mencicipi cokelat yang ia berikan. “Kau suka?” tanyanya kemudian.

Gadis di depan Sehun mengangguk dengan mata membulat penuh kegembiraan. Ia mengambil cokelat itu dari tangan Sehun dan menghabiskan sisanya dengan cepat.

Sehun tertawa melihat kepolosan makhluk di depannya. Rasa takut yang sempat melintasi benaknya menguap begitu saja. Siapa pun dia, di mata Sehun makhluk cantik itu terlihat sangat lucu saat ia menatap cokelat pemberiannya dengan wajah bingung, terlebih lagi ketika ia menyantap makanan tersebut dengan penuh semangat seolah itu adalah makanan terenak yang pernah ia cicipi.

“Kalau saja aku tahu kita akan bertemu,” kata Sehun, “aku pasti membawa lebih banyak cokelat dari rumah.”

Sang gadis menggeleng penuh pemahaman. “Sudah lama sekali sejak aku melihat seseorang membersihkan dan berdoa di tempat ini. Kau bahkan memberikan makanan persembahan untukku. Yang kau lakukan sudah lebih dari cukup, Anak Adam.”

“Sehun,” beritahunya. “Itu namaku.”

“Sehun,” ulang sang gadis dengan suara pelan, nyaris seperti orang berbisik. “Kau ingin pulang ke tempat asalmu, bukan?”

Pria itu mengangguk, namun dahinya berkerut tak yakin. “Kau sungguh bisa mengabulkan doaku?”

Sosok cantik itu menjawab dengan tersenyum tipis kemudian berjalan menuju mulut gua. Ia menengadahkan tangan dan menangkup beberapa tetes air hujan sebelum membiarkannya jatuh mengikuti aturan gravitasi. Ketika air yang jatuh dari telapak tangannya mencapai tanah, seketika itu juga hujan berhenti. Matahari perlahan muncul dari balik awan mendung. Sinarnya yang cerah menimpa gadis itu hingga kulitnya yang tadi terlihat pucat kini tampak berkilau seperti kristal. Sehun takjub, namun tidak ada kata yang bisa ia utarakan untuk mengungkapkan perasaan itu.

Seakan belum cukup ia memberi pertunjukan penuh daya magis di depan Sehun, gadis itu lalu mengayunkan tangan di udara kosong, seperti hendak menangkap sesuatu yang tidak terlihat oleh mata. Ketika ia membuka kepalan tangannya, seberkas cahaya terang muncul dari sana. Cahaya itu berangsur meredup, dan tampaklah seekor kupu-kupu putih seperti yang Sehun lihat sebelum hujan turun.

“Hai, Teman Kecil,” sapa sang gadis kepada makhluk mungil yang baru saja ia ciptakan. Kupu-kupu itu beterbangan dengan lincah di udara, mengingatkan Sehun pada Vivi, anjing ras Bichon Frise peliharaannya. Setiap kali makhluk berbulu putih itu menunggu perintah dari tuannya, Vivi akan meloncat ke sana-kemari dan mengibaskan ekornya dengan antusias, persis seperti yang dilakukan makhluk bersayap di hadapannya. “Tuntun tamu kita keluar dari tempat ini,” perintah gadis itu, dan kupu-kupu tersebut pun perlahan terbang menjauhi gua.

“Apa kita bisa bertemu lagi?” tanya Sehun.

Gadis itu tersenyum lembut. “Kita akan selalu bertemu selama kau menginginkannya.”

Sehun menelengkan kepala sedikit ke kanan, tidak begitu paham maksud lawan bicaranya. Namun, alih-alih menyuarakan kebingungannya, ia memilih tersenyum dan mengangguk, dalam hati merasa sangat yakin bahwa ini tidak akan menjadi pertemuan terakhir mereka.

Sehun baru melangkah beberapa meter dari bibir gua ketika ia berbalik untuk menatap gadis itu lagi.  “Aku belum tahu namamu,” katanya.

“Aku tidak punya nama,” beritahu sang gadis. “Dulu orang-orang memanggilku Peri Hutan, beberpa memujaku sebagai Dewi Keselamatan, tapi kurasa itu bukan nama yang kaumaksud, ‘kan?”

“Memang bukan,” sahut Sehun. Ia memperhatikan gadis itu dari atas hingga ke bawah, dan senyumnya terbit ketika sebuah ide melintas di benaknya. “Kalau aku memberimu nama,” kata pria itu lagi, “apa kau bersedia memakainya?”

Sang gadis hanya diam, terlihat bimbang memutuskan.

“Krystal,” cetus Sehun. “Kau cantik dan berkilau seperti kristal, jadi bolehkah aku memanggilmu demikian?”

Meski terlihat masih ragu, namun kali ini sang gadis mengangguk.

Senyum puas mengembang di wajah Sehun. “Kalau begitu, sampai bertemu lagi, Krystal,” pamitnya sebelum berbalik arah, berjalan mengikuti kupu-kupu putih yang akan menuntunnya keluar dari hutan.

***

Kepala pelayan menyambut kepulangan Sehun dengan raut cemas bercampur lega terpatri jelas di wajahnya. Pria yang sebenarnya masih berada di usia akhir 50-an itu tampak lebih tua lantaran tuntutan pekerjaannya selama ini. Mengawasi pelayan di sebuah vila mewah saja sudah cukup menguras pikiran, dan kelakuan Sehun yang kadang sedikit nakal memperparah semuanya.

“Astaga, Tuan Muda, syukurlah Anda sudah kembali! Kupikir terjadi sesuatu pada Anda. Seharian ini kami semua mencari keberadaan Anda tapi tidak ada petunjuk. Aku sudah hampir putus asa dan melapor ke Nyonya,” serunya.

Sehun bisa dengan jelas menangkap nada khawatir dari cara pria itu berbicara, dan  langsung merasa tak enak hati. Pulang setelah matahari terbenam seperti sekarang memang bukan bagian dari rencananya saat meninggalkan vila tadi pagi, tapi bagaimanapun juga, kehebohan yang ia timbulkan adalah sesuatu yang jelas salah.

“Aku minta maaf, Ahjussi. Aku bosan, jadi aku mencoba jalan-jalan sedikit jauh. Tadinya niatku cuma mengunjungi danau yang dulu sering kutempati bermain dengan Hayoung, tapi ternyata aku kesulitan menemukan jalan pulang,” jelas Sehun sambil memasang muka bersalah. Ia melihat pria tua di depannya menghela napas panjang, persis seperti yang diingat Sehun sering dilakukan pria itu setiap kali mendapati dirinya berbuat nakal saat masih kecil dulu. Sadar mengenai apa yang menjadi sumber kekhawatiran terbesar sang kepala pelayan, buru-buru Sehun menambahkan, “Tapi tenang saja, aku tidak lupa membawa obatku,” katanya seraya meraih botol obat dari dalam tas punggungnya.

Pria paruh baya di depan Sehun menghela napas panjang sekali lagi. “Baiklah kalau begitu. Yang penting Anda baik-baik saja,” ujarnya menutup pembicaraan. Setelah itu, ia melangkah meninggalkan Sehun yang masih berdiri tak enak hati di ruang tamu.

Selama tiga hari berturut-turut, karena rasa bersalah atas kelakuannya yang membuat seisi vila cemas, Sehun memutuskan untuk berlaku baik. Ia menjalani hari sesuai pesan ibunya: tanpa banyak melakukan kegiatan yang bisa membuat tubuh lemahnya kelelahan. Hampir sepanjang hari ia hanya berada di kamar, membaca buku astronomi dan menyelinginya dengan menonton Discovery Channel tanpa minat. Sesekali ia memandang ke arah hutan, dalam hati bertanya-tanya apa yang sedang dilakukan Krystal, serta apakah gadis itu juga merindukannya. Pada pagi dan sore hari ia tetap berjalan-jalan di sekitar vila. Bagaimanapun juga, dokter menganjurkannya untuk melakukan kegiatan itu secara rutin agar kinerja jantungnya tetap terjaga. Sehun melakukan itu semua di bawah pengawasan perawat, dan berkat kepatuhannya itu, kepala pelayan akhirnya menghadiahinya dengan kalimat, “Saya tidak pernah melarang Anda pergi ke mana pun, Tuan Muda. Asalkan ponsel Anda terus bisa dihubungi dan botol obat terus berada di tas Anda, saya pikir berjalan sedikit jauh tidak ada salahnya.”

Sehun langsung menghambur ke arah pria tua itu dan memeluknya erat. “Kau memang yang terbaik, Ahjussi!”

Keesokan harinya, ketika Sehun mengunjungi hutan itu lagi, sebuah hal ajaib terjadi. Makhluk kecil yang tempo hari mengantarnya pulang langsung menyambut Sehun begitu ia melangkahkan kaki melewati pagar belakang vilanya. Kupu-kupu itu beterbangan tidak jauh di depan Sehun, seolah sudah lama menunggu untuk menunjukkan jalan kepadanya.

“Hai, Teman Kecil,” sapa Sehun, yang hanya dijawab oleh kepakan sayap dari makhluk putih di hadapannya.

Kupu-kupu kecil itu menuntun Sehun menyusuri jalan setapak yang dikelilingi pepohonan tinggi. Selama perjalanan, beberapa kali pandangan pria itu berubah gelap lantaran terlalu lelah, tapi ia tidak menghentikan langkah. Keinginannya untuk segera bertemu Krystal mengalahkan rasa nyeri yang menusuk-nusuk dadanya.

Gadis cantik itu terlihat sedang berdiri di tepi danau yang sama seperti yang didatangi Sehun tempo hari. Merasakan keberadaan pria itu di dekatnya, sang gadis langsung berbalik. Seulas senyum terlukis di wajahnya yang ayu.

Saat melangkah mendekati Krystal, Sehun menyadari sebuah perubahan terjadi di tempat ini. Ranting pohon yang semula menggugurkan daunnya berhenti sejenak, bunga bakung di sela-sela pohon perlahan tumbuh, sulurnya memanjang dan melilit-lilit batang pohon dengan anggun. Bunga-bunga kuncup dan bermekaran di sekitar mereka. Sekawanan kupu-kupu datang, terbang mengitari keduanya.

Sehun memperhatikan semua itu dengan takjub, lalu pandangannya beralih ke manik biru Krystal. “Itu perbuatanmu?”

Sang gadis tersenyum tipis. “Terjadi tanpa bisa kukendalikan,” jawabnya. Ia melayang untuk berpindah ke atas sebuah batu besar di tepi danau. Sehun mengikuti dan duduk di sampingnya. Mereka berdua tengah memandang belalang melompat di atas teratai yang tumbuh di permukaan danau ketika Krystal melanjutkan penjelasannya, “Suasana hatiku mempengaruhi keadaan hutan. Bunga-bunga bermekaran jika aku bahagia, dan hujan turun jika aku bersedih.”

Sehun langsung teringat hari pertama mereka bertemu. Hujan tiba-tiba turun padahal sebelumnya langit begitu cerah. Dalam hati pria itu bertanya-tanya apa gerangan hal yang telah membuat Krystal bersedih, tapi tidak berani mengutarakan rasa ingin tahunya. Ia takut hal tersebut malah akan mengorek kesedihan yang ingin dilupakan gadis itu.

Mengalihkan pembicaraan, pria itu lalu membuka tasnya. “Untukmu,” katanya sembari mengangsurkan sekotak besar cokelat kepada Krystal.

Gadis itu menerima pemberian Sehun dengan wajah sumringah. Penuh semangat, ia melahap satu per satu makanan manis tersebut. Di sampingnya, Sehun memperhatikan hal itu sambil tersenyum. Hebat sekali, pikirnya, bagaimana seorang makhluk bisa tampak anggun dan kekanakan di waktu bersamaan.

Ketika seluruh isi kotak itu habis dan Sehun mendapati ada sedikit sisa cokelat di sudut bibir Krystal, pria itu refleks menggerakkan tangannya ke sana. Dengan ibu jari, ia menyeka cokelat itu dan memasukkannya ke dalam mulutnya sendiri. Sehun baru menyadari akibat dari tindakannya sesaat kemudian, ketika Krystal menatapnya lurus ke manik mata, tampak sedikit terkejut.

Secepat Sehun mengulurkan tangan ke wajah gadis itu, secepat itu pula ia menariknya. “Maafkan kelancanganku,” katanya.

Berkebalikan dengan apa yang dipikirkan Sehun, Krystal pelan berujar, “Kau bisa menyentuhku.”

“Apa?”

“Kau. Menyentuhku. Tidak ada makhluk mana pun yang bisa melakukannya selama ini,” beritahu Krystal. Suaranya begitu pelan, mengawang di udara, seolah tak yakin dengan apa yang baru saja terjadi. Cepat, ia meraih tangan Sehun, dan seperti sebelumnya, kulit mereka bersentuhan. Tangan Sehun yang hangat beradu dengan kulitnya yang dingin.

“Apa fakta bahwa aku bisa menyentuhmu merupakan sesuatu yang salah?” tanya Sehun ragu.

“Aku tidak tahu,” jawab Krystal. Ia melepaskan genggamannya di tangan Sehun, kemudian menambahkan, “Aku selalu hadir di gua itu setiap kali ada yang berdoa kepadaku. Beberapa orang bisa sekilas melihatku, tapi kebanyakan tidak bisa melakukannya. Kau bisa melihatku, kupikir itu masih wajar, tapi … menyentuhku?”

Sehun tidak tahu harus menjawab apa, jadi dia memilih diam sampai akhirnya Krystal melanjutkan, “Aku tidak berpikir ini adalah hal buruk, tapi karena hal yang sama tidak pernah terjadi sebelumnya, aku jadi sedikit kaget.”

“Aku akan menganggap hal ini sebagai sesuatu yang baik.” Sehun menyimpulkan. Ia kembali meraih tangan Krystal, menautkan jari-jarinya dengan gadis itu. Lembut, ia berujar, “Aku merasa kau nyata sekarang, dan aku suka itu.”

Krystal tersenyum. “Aku juga suka,” katanya.

Di belakang gadis itu, bunga bermekaran dalam jumlah yang jauh lebih banyak dibanding sebelumnya, kupu-kupu terbang dengan lincah di atas kepalanya, sepoi angin datang mempermainkan rambut keemasannya, dan cicit burung-burung kecil mulai terdengar, mendendangkan nyanyian alam yang terdengar sangat merdu di telinga Sehun.

Selama beberapa saat, mereka hanya duduk di atas batu sambil berpegangan tangan. Tidak ada kata yang terucap, tapi Sehun merasa itu sudah lebih dari cukup.  Diam-diam ia memanjatkan doa di dalam hati, berharap kebersamaan seperti ini bisa berlangsung lama.

Di ujung keheningan yang menyenangkan itu, Krystal berkata, “Terima kasih sudah kembali lagi ke tempat ini.”

“Aku tidak punya alasan untuk tidak kembali,” tukas Sehun. Ia menoleh, mendapati Krystal sedang menatap ke arahnya. Pandangan gadis itu menyiratkan kompleksitas yang tidak ingin ia pahami. Mengeratkan genggamannya di tangan dingin Krystal, pria itu kemudian berujar, “Hei, kau tahu….”

Setelahnya, Sehun menghabiskan waktu dengan menceritakan kenakalan-kenakalan masa kecilnya kepada Krystal. Ia menikmati bagaimana gadis itu mendengarkan ceritanya dengan penuh perhatian. Kalau bukan karena hari yang berangsur gelap, pria itu mungkin tidak akan ingat bahwa di vilanya, kepala pelayan sudah menunggu kepulangannya dengan cemas.

Sehun pulang setelah berjanji bahwa ia akan datang lagi keesokan harinya. Kupu-kupu putih yang sama seperti yang menjemputnya di pinggir hutan tadi pagi muncul lagi, terbang di hadapannya seolah sudah tahu bahwa sore itu ia punya tugas mengantar Sehun meninggalkan hutan.

***

Kunjungan Sehun ke hutan untuk bertemu dan menghabiskan hari bersama Krystal jadi sesuatu yang rutin. Setiap pagi setelah sarapan dan minum obat, ia akan langsung kembali ke kamar untuk mengambil tas punggungnya, mengisi benda itu dengan berbungkus-bungkus cokelat, kemudian mengayun tungkai menyusuri jalan setapak di dalam hutan untuk menemui Krystal.

Sehun mendapati dirinya menemukan hobi baru: mengenalkan kehidupan dunia modern kepada sang gadis. Pria itu selalu senang setiap kali Krystal menatapnya dengan takjub kala bercerita. Padahal, yang ia bagi hanya pengetahuan astronomi dasar seperti benda luar angkasa yang mengelilingi matahari  dan fenomena alam yang terjadi dalam kurun waktu ratusan tahun sekali. Sehun tidak akan pernah lupa ekspresi Krystal ketika ia memberitahu bahwa bintang yang indah itu sebenarnya hanyalah bongkahan batu raksasa yang diselubungi gas, juga bahwa di luar angkasa sana, ada tempat yang sangat luas dan seluruh permukaannya tertutup air.

“Tidak ada tanaman indah dan binatang lucu?” tanyanya, yang langsung dijawab oleh gelengan mantap oleh Sehun.

Beberapa kali pria itu juga bercerita tentang film dan buku favoritnya. Krystal, seperti halnya kebanyakan gadis, menyukai kisah cinta. Sehun pernah menceritakan beberapa dongeng Disney kepada Krystal, dan selama tiga hari berturut-turut, gadis itu selalu meminta Sehun mengulang cerita Cinderella untuknya.

Perkenalannya dengan Krystal membuat Sehun jadi lebih rajin membaca buku dan artikel-artikel menarik di majalah online. Setiap malam menjelang tidur, yang ia lakukan adalah mengakses internet demi mencari sesuatu yang menarik untuk diceritakan kepada sang gadis. Sehun yang hampir selama 23 tahun menjalani hidup hanya untuk menunggu mati, kini punya tujuan untuk bertahan lebih lama di dunia ini. Ia ingin terus bersama Krystal.

***

Sehun bukanlah satu-satunya yang mendominasi setiap obrolan mereka. Ada kalanya, Krystal ganti bercerita. Dan seperti halnya gadis itu menyimak cerita-cerita Sehun dengan antusias, Sehun pun mendengarkan semua yang dikatakan makhluk cantik itu dengan saksama.

Gadis itu tidak ingat kapan ia tercipta. Yang jelas, ia sudah mendiami hutan sejak tanah ini masih bernama Silla. Ia menyaksikan bagaimana manusia dan alam berubah, sementara dirinya tetap seperti itu; cantik, hidup, kesepian.

Di sepanjang eksistensinya yang sudah berlangsung sekitar ribuan tahun, boleh dikata Krystal menjalani hari-hari yang statis. Yang dilakukannya setiap waktu adalah berkeliling hutan, mengobati binatang-binatang yang terluka atau menggunakan kekuatannya untuk membantu tunas-tunas liar agar bisa secepatnya tumbuh. Sesekali, ia bercengkrama dengan sesama makhluk abadi demi mengusir kejenuhan, tapi itu juga jarang terjadi.

Sekali waktu, hutan ini dihuni oleh sepasang vampir bernama Chanyeol dan Yoona. Dari cara gadis itu bercerita, Sehun bisa menyimpulkan bahwa mereka berteman dekat.

“Mereka baik,” kata Krystal. “Tuan Park selalu menyapa dan tersenyum ceria setiap kali bertemu denganku. Istrinya juga begitu. Dia bahkan sering memberiku makanan yang enak setiap kali pulang dari sebuah tempat bernama pasar. Aku paling suka buah bulat bernama apel. Rasanya manis dan bisa membuatku kenyang selama berhari-hari.”

“Apa kau tahu mereka hidup dengan menghisap darah manusia?”

“Mereka tidak menghisap darah manusia, karena itulah aku mau berteman dengan mereka.”

“Kalau bukan darah manusia, lalu apa?”

“Binatang,” beritahu Krystal. “Dan berbeda dengan kebanyakan Penghisap Darah yang pernah kulihat, mereka tidak membuat mangsanya mati kehabisan darah. Kupikir mereka sudah belajar cara mengontrol nafsu makan. Setiap kali mereka makan, aku akan ada di sana untuk membantu menyembuhkan luka dari binatang yang mereka mangsa.”

“Kenapa kau membantu mereka?”

“Karena setiap makhluk berhak untuk hidup, Sehun, dan aku menghargai bagaimana kedua Penghisap Darah itu mempertahankan eksistensi mereka dengan tetap menghargai makhluk hidup lain.”

Sehun mengangguk takzim untuk menanggapi cerita Krystal. Kekagumannya terhadap gadis itu kontan bertambah. Krystal ternyata bukan hanya cantik, tapi juga mampu melihat kebaikan dari setiap hal.

Vampir bukan satu-satunya makhluk abadi yang pernah hidup di hutan ini. Dari cerita Krystal, Sehun juga belajar bahwa pohon berusia lebih dari seribu purnama akan memiliki cukup kekuatan yang memungkinkannya memiliki wujud seperti manusia. Gadis itu berteman dengan semua ruh pohon yang ada di hutan ini. Salah satu alasan hujan turun di hari pertama mereka bertemu adalah karena ruh pohon yang selama ini menjadi sahabat baik Krystal tiba-tiba lenyap.

“Manusia menebangnya. Mereka mengambil kayunya untuk dipahat, dijadikan patung,” jelas gadis itu.

Sehun menangkap wajah murung Krystal saat bercerita, karenanya, alih-alih mengungkapkan rasa penyesalan atas kepergian sahabat gadis itu, Sehun memilih untuk membahas hal lain, berharap gadis itu bisa segera melupakan sedihnya. “Apa setiap bertemu dengan teman-teman abadimu, bunga selalu bermekaran seperti sekarang?”

Krystal menggeleng. “Cuaca pasti cerah, tapi tidak pernah ada bunga dan kupu-kupu.”

“Berarti, kehadiranku membuatmu bahagia. Setiap kali kita bertemu, bunga-bunga di sekitar sini bermekaran, padahal sekarang sudah musim gugur,” ujar Sehun jahil, membuat wajah Krystal langsung berona merah.

Gadis itu memalingkan muka demi menyembunyikan ekspresi malu-malunya. Ia meringis ketika pandangannya tertuju pada bunga yang bermekaran indah, juga kupu-kupu kecil yang mengepakkan sayap dengan anggun di udara. Mereka membuat ia sama sekali tidak berdaya untuk menyembunyikan perasaannya. Langit pun tampaknya mengkhianati upaya gadis itu. Awan mendung yang sejak pagi menutupi matahari perlahan bergeser hingga cahaya terang menimpa wajah mereka berdua.

Sehun tergelak, tahu betul bahwa perubahan cuaca yang tiba-tiba itu tidak lepas dari suasana hati sosok feminin di sampingnya. Ia tidak menuntut jawaban apa-apa lagi, karena meski tidak mengatakan apa-apa, Krystal jelas telah menjawab pertanyaannya.

Tanpa peringatan Sehun mendaratkan bibirnya di pipi gadis itu. Tubuh Krystal membeku seketika, namun hatinya bergejolak karena rasa bahagia. Salju di sekitar mereka perlahan meleleh, tunas-tunas tumbuhan muncul dari sela batu, tumbuh meninggi hanya dalam hitungan detik. Perubahan itu tidak terlepas dari pengamatan Sehun, dan ia langsung tahu bahwa tindakan spontannya barusan bukan sebuah kesalahan.

“Aku pun merasakan yang sama, Krystal,” bisik Sehun sebelum ia mengecup bibir gadis itu.

Bibir Krystal dingin, kering, manis, dan Sehun bersumpah kalau saja jantungnya yang berdegup kelewat cepat itu tidak mendadak terasa sakit akibat luapan perasaannya sendiri, ia bisa mencumbu Krystal sampai napasnya benar-benar habis.

“Aku berharap bisa selamanya sebahagia ini denganmu.”

***

Musim yang berganti dan suhu yang berangsur semakin dingin dari hari ke hari tidak menghalangi Sehun untuk datang ke hutan. Kecuali saat ibunya berkunjung ke vila untuk menengok keadaannya, pria itu pasti mengusahakan untuk menemui Krystal di tempat mereka biasa berbincang.

Sehun selalu takjub setiap kali menyaksikan rentetan keajaiban menyambutnya kala ia melangkahkan kaki memasuki hutan. Tidak peduli di luar sana musim sudah berganti dan salju berjatuhan dari angkasa, di dalam hutan ini ia merasa musim semi yang sejuk terjadi sepanjang waktu.

Seiring semakin dekatnya hubungan mereka berdua, Sehun menemukan dirinya memiliki satu lagi kebiasaan baru: tidur telentang di atas rumput, membiarkan Krystal mempermainkan rambut cokelatnya, sementara gadis itu menyenandungkan irama merdu untuknya.

Sehun tidak pernah bertanya makna di balik lagu yang dibawakan Krystal. Bagi Sehun, beberapa hal cukup dinikmati saja, tanpa perlu pemahaman yang terlalu dalam akannya. Kalau saja ia bertanya, maka pria itu pasti tahu bahwa yang disenandungkan Krystal adalah irama kesedihan. Karena di mata Sehun, gadis itu melihat ada sinar kehidupan pelan-pelan meredup seiring bergulirnya hari.

***

“Kau habis berkencan, ya?”

Sehun  tersentak ketika ia membuka pintu kamar dan suara itu langsung terdengar olehnya. Di atas sofa panjang yang terletak di salah satu sisi kamar, Hayoung, adik perempuan yang lebih muda dua tahun darinya, sedang duduk santai sembari menonton televisi. Di pangkuannya, ada anjing kecil berbulu keriting yang langsung menyalak begitu melihat Sehun.

Hayoung melepaskan anjing itu, membiarkannya berlari menuju tuannya. Sehun menyambut makhluk mungil tersebut dan langsung memerangkapnya dalam pelukan sayang. Ia lalu berjalan menuju sofa yang diduduki Hayoung dan mendaratkan tubuh di sana. Dengan tangan masih mengelus bulu halus anjing peliharaannya, ia berujar santai, “Kenapa kau ada di sini?”

“Vivi rewel terus karena tidak ada kau di rumah, jadi Eomma menyuruhku untuk membawanya menemuimu,” beritahu Hayoung.

Sehun mendelik curiga. “Itu bukan sesuatu yang kau buat-buat agar punya alasan menengok keadaanku di sini, ‘kan?”

Hayoung tergelak. “Aku memang tidak bisa menyembunyikan apapun darimu, huh?”

Sehun langsung menjawil pipi adiknya, gemas. “Aku sangat mengenalmu, Young-ah….”

Hayoung balik menjawil pipi tirus kakaknya dengan tidak kalah gemas. “Dan aku juga sangat mengenalmu, Oppa. Kau tadi habis berkencan, ‘kan?”

Sehun mendengus. “Berikan satu alasan kenapa aku harus membenarkan dugaanmu, Nona.”

Hayoung menahan diri untuk tidak memutar bola matanya. “Kalau saja kau melihat senyum bodoh yang tadi tersungging di wajahmu saat memasuki kamar, kau pasti tahu kenapa aku langsung berpikir seperti itu.”

Sehun bahkan tidak sadar bahwa tadi ia tersenyum. Ah, jangan-jangan senyumannya itu sudah ada sejak ia meninggalkan hutan?

“Lihat! Lihat! Kau tersenyum lagi.” Hayoung berseru heboh sambil menunjuk-nunjuk wajah kakaknya. Di pangkuan Sehun, Vivi menggonggong penuh semangat, seolah ikut antusias dengan pembahasan dua orang di dekatnya. Sembari menyenggol pelan bahu Sehun, Hayoung berujar dengan mata menyipit jenaka, “Katakan padaku, siapa gadis beruntung ini?”

“Ra-ha-si-a!” jawab Sehun sok misterius.

Hayoung mengerang sebal. “Ah, tidak asyik!” keluhnya seraya melipat tangan di depan dada. Bibirnya dimajukan hingga mengerucut maksimal. “Padahal seingatku baru beberapa minggu lalu kau bercerita betapa membosankan hidupmu di sini, sekarang kau sudah menemukan seseorang yang membuatmu mulai belajar menyimpan rahasia dariku.”

Sehun hanya mengerling nakal. Mengalihkan pembicaraan, ia bertanya, “Bagaimana kuliahmu?”

Menyadari bahwa kakaknya tidak berniat membocorkan rahasia mengenai gadis yang sudah berhasil membuatnya menyunggingkan senyum laksana orang bodoh, Hayoung lantas bercerita mengenai kehidupannya sebagai dokter magang di rumah sakit tempat ibunya bekerja sebagai kepala.

“Jadi, kenapa kau ke sini padahal tugasmu menggunung?” tanya Sehun setelah Hayoung memberitahukan perihal keberadaan setumpuk laporan yang harus ia serahkan dua hari lagi kepada pembimbingnya. “Dan jangan bilang ini demi Vivi.”

“Tentu saja untuk menjemputmu,” sahut Hayoung santai.

“Ke mana?”

“Rumah sakit.”

“Rumah sakit?”

Gadis muda itu mengerutkan alis. “Eomma belum memberitahumu?”

“Memberitahu apa?” tanya Sehun tidak sabar.

“Jadwal operasimu sudah keluar.”

Sehun diam. Lidahnya mendadak kelu mendengar kata itu. Padahal, selama beberapa bulan belakangan, ia sudah nyaris lupa pada keadaan jantungnya yang lemah. Kebersamaannya dengan Krystal membuat ia merasa normal. Tapi di saat ia sudah merasa nyaman dengan hari-harinya bersama gadis tersebut, satu kata itu kembali lagi di hadapannya. Operasi.

“Bagaimana bisa kau tahu lebih dulu daripada aku?”

Hayoung tersenyum salah tingkah. “Kau tahu ‘kan aku menyukai Dokter Lee?”

Dan gadis itu tidak perlu menjelaskan lebih banyak lagi. Sudah sejak lama Sehun mengetahui bahwa adiknya menyimpan rasa suka terhadap Lee Donghae, dokter yang selama ini menangani penyakitnya. Kalau ibu Sehun sering bertanya kepada Dokter Lee karena benar-benar ingin tahu perihal perkembangan kondisi putranya, maka Hayoung mengajukan pertanyaan seputar kesehatan kakaknya hanya agar punya alasan mengajak dokter berusia 33 tahun itu mengobrol.

Eomma tidak memberitahu apa-apa, padahal semalam dia menelponku.”

“Jadwalnya memang baru keluar tadi siang. Eomma mencoba menghubungimu, tahu. Dokter Lee dan pihak rumah sakit juga sudah mengirimkan surel pemberitahuan kepadamu.”

Sehun kontan teringat pada ponsel yang sepanjang hari terabaikan olehnya. Setelah mengaktifkan benda itu lagi, di layar langsung tertera dua buah surel dan sebuah pesan dari operator yang memberitahukan bahwa ia punya 26 panggilan tidak terjawab dari ibunya.

Eomma harus menjadi pembicara seminar di Kyoto dan baru bisa kembali dua hari lagi, jadi dia memintaku menjemputmu. Kata Dokter Lee, sebaiknya seminggu sebelum operasi kau sudah mulai dirawat di rumah sakit. Kau tahu ‘kan, mereka harus melakukan banyak hal untuk mempersiapkan tubuhmu menerima jantung baru,” jelas Hayoung.

“Apa Dokter Lee memberitahu seberapa besar peluangku bertahan hidup?”

“Sekitar tujuh puluh persen. Cukup tinggi, menurutku.”

Sehun diam, dan adiknya mengartikan sikap diamnya itu sebagai sebuah reaksi wajar atas informasi yang baru saja ia sampaikan. Operasi yang akan dijalani Sehun memang sudah lama direncanakan, tapi mengetahui bahwa setidaknya ada tiga puluh persen kemungkinan hidupnya berakhir di meja operasi jelas bukan hal yang mudah diterima siapa pun.

Gadis itu bangkit, bersiap-siap kembali ke kamarnya. “Istirahatlah,” ujarnya seraya meremas pelan bahu Sehun. “Besok pagi kita berangkat.”

Sehun memperhatikan adiknya melangkah keluar ruangan tanpa berkata apa-apa. Setelah pintu kamarnya tertutup, selama dua menit ia hanya memandang kayu oak merah itu dengan tatapan kosong. Pikirannya melayang ke suatu tempat di dalam hutan, di mana Krystal biasa menunggu kedatangannya. Pria itu lantas meraih jaket dan bergegas meninggalkan vila. Di benaknya hanya ada satu hal: ia tidak boleh pergi tanpa berpamitan pada Krystal.

***

Sehun berjalan terseok-seok menembus kegelapan malam dengan sebuah pot berisi tanaman anggrek di tangannya. Kupu-kupu yang selalu menuntunnya menuju Krystal berada beberapa meter di depannya, terbang dengan sayap bercahaya layaknya kunang-kunang. Pandangan pria itu gelap lantaran terlalu lelah. Jika biasanya ia menghabiskan malam dengan beristirahat agar keesokan harinya punya cukup tenaga untuk berjalan menyusuri hutan, maka malam ini jadwal istirahatnya terpaksa ditiadakan demi bisa menemui Krystal.

Gadis itu terlihat sedang duduk bersandar di batang pohon sembari menatap langit yang penuh bintang. Ia langsung menoleh ketika merasakan keberadaan Sehun di sampingnya. Krystal menatap mata pria itu, dan kesedihan yang terpancar dari sana seolah memberi tahu bahwa sebuah akhir akan segera tiba.

Tidak seperti hari-hari sebelumnya dimana seluruh isi hutan seolah berdendang kala pria itu datang, malam ini tidak ada bunga bermekaran, tidak pula kupu-kupu beterbangan mengelilingi mereka. Hening berkuasa. Kesedihan meraja.

“Kau sudah tahu, ya?” tanya Sehun membuka pembicaraan.

Alih-alih menyahuti pertanyaan yang jawabannya sudah jelas itu, Krystal memilih berujar, “Berjanjilah bahwa kau akan kembali.”

Sehun memaksakan seulas senyum agar terbit di bibirnya. Menunduk, pria itu menatap pot kecil berisi anggrek bulan yang ia bawa.

Dari sejumlah artikel yang ia baca, Sehun menyimpulkan bahwa anggrek adalah kado yang paling cocok untuk diberikan kepada Krystal. Tanaman itu secara sempurna menggambarkan sang gadis, tidak hanya dari segi keindahan, tapi juga makna. Suku pedalaman di Kepulauan Calayan di Filipina mempercayai bahwa anggrek bertugas sebagai penjaga hutan. Pada era Ratu Victoria di Inggris, anggrek dipakai untuk menunjukkan rasa cinta dan kasih sayang. Sedangkan di Tiongkok, anggrek dipercaya sebagai lambang kesempurnaan.

Anggrek yang dibawa Sehun masih setinggi sepuluh sentimeter. Dulu, ia berencana memberikan anggrek itu ketika bunganya sudah mekar, namun setelah tahu bahwa ia memperoleh donor jantung jauh lebih cepat dari dugaan, Sehun berpikir ini mungkin menjadi satu-satunya kesempatan ia bisa menyerahkannya kepada pemiliknya.

Sembari meletakkan anggrek tersebut di pangkuan Krystal, pria itu berujar menenangkan, “Aku akan kembali, dan bersama-sama kita akan melihat anggrek ini berbunga. Kau akan menungguku, ‘kan?”

Krystal mengangguk meski ia sendiri tak yakin akan kebenaran kata-kata itu.

Sehun tersenyum seraya meraih tangan kanan gadis itu. Lembut, ia melipat jari-jari lentik Krystal hingga yang teracung hanya kelingking. Sehun menautkan miliknya dengan gadis itu, kemudian berujar, “Manusia berjanji dengan cara seperti ini.”

Krystal menunduk. Sejenak, ia menatap jemari yang bertaut itu tanpa berkata apa-apa, namun sebelum suasana di antara mereka sepenuhnya jatuh dalam keheningan, gadis itu kembali menatap pria di depannya. Mengulas senyum yang sama lebarnya dengan yang  Sehun berikan, ia berkata, “Aku akan menunggumu, Sehun.”

Mereka melewatkan sisa malam itu dengan berbaring melihat bintang sambil berbincang seperti biasa. Sehun dengan cepat mengalihkan topik tentang kepergiannya ke berbagai hal lain yang lebih menarik. Krystal, seperti biasa, menyimak cerita Sehun dengan penuh kekaguman. Satu hal yang tidak disadari oleh keduanya, malam itu mereka telah mengucapkan janji yang mungkin tidak akan pernah terwujud.

***

Eomma, aku akan baik-baik saja, kan?”

Nyonya Oh menggenggam erat tangan dingin putranya. Selayaknya seorang ibu, wanita paruh baya itu bisa membaca dengan jelas ketakutan yang membayang di wajah pucat Sehun. Ia pun merasakan hal yang sama. Meski peluang keberhasilan operasi ini tergolong tinggi, sebagai seorang dokter dengan pengalaman lebih dari dua puluh tahun ia tahu betul statistik tidak berguna di meja operasi. Namun demi menguatkan putranya, ia membuang jauh-jauh keraguan dari benaknya.

“Tentu, Darling. Dokter Lee adalah kardiolog terbaik yang pernah Eomma kenal. Ia memegang rekor sempurna di setiap operasi yang ia tangani. Donormu juga berasal dari seorang mantan atlet. Kau akan punya jantung baru yang lebih sehat.”

“Kalau sampai operasiku nanti gagal,” ujar Sehun ragu, “jangan lupa pada pesanku semalam.”

Nyonya Oh menggigit bibir bawahnya demi menahan tangis yang siap tumpah. Entah kenapa perasaannya mendadak berubah tidak enak.

“Operasimu akan berjalan lancar, Oppa.” Hayoung yang sejak tadi berdiri di belakang ibunya ikut bersuara. Gadis itu meraih tangan kakaknya, meremasnya pelan demi memberi sokongan moril. “Kau akan baik-baik saja.”

“Apa yang dikatakan adikmu benar, Sehun. Kami akan mengusahakan yang terbaik, jadi jangan khawatir, oke?” tambah Dokter Lee.

Sehun melemparkan senyum kepada ketiga orang itu—senyum pasrah yang bercampur rasa takut. Ibunya dan Hayoung bergantian mengecup keningnya, membisikkan kata sayang dan harapan agar operasi Sehun berjalan lancar. Setelah itu, perawat mendorong tempat tidurnya memasuki ruang operasi, meninggalkan Nyonya Oh dan Hayoung yang menunggu dengan khawatir di balik pintu.

Sehun tidak tahu kenapa ia begitu pesimis dengan operasi ini. Padahal semua orang sudah berusaha meyakinkannya. Sejak masuk rumah sakit seminggu lalu, Hayoung serta Dokter Lee secara bergantian memeriksa kondisinya, dan mereka memastikan bahwa kondisi fisik pria itu sudah lebih dari siap untuk menjalani operasi. Ibunya bahkan menunjukkan berbagai artikel kedokteran yang berkaitan dengan pencangkokan jantung, mencoba menenangkan Sehun yang selalu berpikir ajalnya sudah dekat.

Lampu berdaya tinggi kemudian dinyalakan. Denting alat-alat operasi terdengar. Botol cairan dan kantung darah disiapkan. Dokter dan perawat mulai mengenakan masker. Alat pendeteksi detak jantung mulai dipasang. Jarum-jarum ditusukkan ke badan ringkih Sehun.

“Kau akan baik-baik saja. Percayalah padaku,” ujar Dokter Lee, sekali lagi berusaha menenangkan pasiennya.

Sebelum anastesi mengambil alih kesadarannya, air menetes dari sudut mata Sehun. Untuk pertama kali dalam 23 tahun hidupnya, ia merasa benar-benar takut menghadapi kematian. Ia ingin hidup. Ia ingin bertemu Krystal lagi.

***

Menjadi makhluk abadi membuat Krystal punya toleransi yang sangat longgar mengenai waktu. Ia bisa menghabiskan beberapa dekade hanya dengan berkeliling hutan, menyapa semua makhluk hidup yang ada. Tapi sejak mengenal Sehun, ia jadi lebih menyadari bagaimana waktu bergulir. Sehari terasa begitu berarti. Semalam terasa begitu panjang.

Krystal menghitung, 42 hari sudah berlalu sejak kepergian Sehun. Anggrek yang diberikan pria itu di pertemuan terakhir mereka sudah berbunga. Warnanya merah muda, dan gadis itu ingat betul Sehun pernah bercerita bahwa setiap warna memiliki arti. Merah muda adalah perlambang cinta yang tulus. Krystal merawat bunga itu dengan begitu telaten. Ia bahkan membawa pot kecil tempat anggreknya tumbuh ke mana pun ia pergi. Rasanya, dengan begitu Sehun selalu ada di sampingnya.

Krystal baru saja selesai menyiram anggreknya dengan sinar matahari yang ia himpun langsung dengan kedua tangannya ketika gadis itu merasakan kehadiran manusia di dalam hutan ini. Ia segera berlari—melayang, sebenarnya—ke arah danau tempat ia dan Sehun biasa bertemu.

Sayangnya, bukan pria itu yang ia dapati. Seorang gadis dengan wajah mirip Sehunlah yang berdiri di ujung dermaga. Pakaiannya serba hitam. Di pelukannya ada sebuah tembikar berwarna senada dengan bajunya. Gadis itu tampak murung. Matanya berkaca-kaca menatap danau yang airnya membeku. Tangan gadis itu lantas bergerak mengambil sesuatu dari dalam tembikar yang ia bawa, kemudian menaburkannya di permukaan danau sambil menangis tanpa suara.

Seakan ingin membenarkan firasat buruk Krystal, kelopak bunga anggrek yang selama ini ia jaga dengan sepenuh hati satu per satu gugur hingga yang tersisa hanyalah batang yang kesepian. Semilir angin datang, menerbangkan kelopak berwarna merah muda itu di udara selama beberapa detik yang singkat, sebelum menjatuhkannya di atas permukaan danau yang beku.

Secepat kesadaran menghampiri benaknya, secepat itu pula Krystal merasa ada sesuatu yang patah di balik rongga dadanya. Sehun telah mengingkari janjinya. Pria itu tidak kembaali kepadanya.

“Pembohong!” maki Krystal seraya membanting pot anggreknya ke tanah.

Langit tiba-tiba berubah gelap, petir bergemuruh, angin kencang bertiup, burung-burung yang hinggap di dahan pohon beterbangan mencari tempat berlindung, dan hujan pun jatuh membasahi tanah yang tertutup salju.

“Kau bisa membunuh adikku, tahu.”

Suara yang kelewat familiar itu membuat Krystal menoleh. Di sampingnya, Sehun menunduk untuk mengambil benda yang sebelumnya dijatuhkan dengan kasar oleh sang gadis.

“Kau—”

Krystal tidak kuasa menyelesaikan kalimatnya. Ia bingung dengan keberadaan Sehun di sampingnya. Terlebih lagi karena penampilan pria itu kini hampir mirip dirinya; bercahaya dan melayang. Seolah semua itu tidak cukup, Sehun kembali membuat Krystal mengerutkan alis tidak percaya kala ia mengayunkan tangan dan batang anggrek yang bunganya baru saja gugur itu pelan-pelan kembali memunculkan kuncup baru.

“Sudah kubilang, aku akan kembali dan bersama-sama kita akan melihat anggrek ini mekar.”

“Bagaimana bisa kau—”

Sehun mengedikkan bahu. “Aku juga tidak begitu paham. Yang kuingat, aku berada di meja operasi, berbaring telentang, menunggu mati sambil membayangkan tempat ini. Dan dirimu, tentu saja. Lalu gelap. Dan tiba-tiba, ketika kegelapan itu berakhir, aku sudah ada di sini.”

Selama beberapa saat, Krystal hanya menatap Sehun tanpa berkata apa-apa. Namun suasana hati gadis itu jelas berubah lebih baik, terbukti dari langit yang berangsur cerah dan burung-burung yang kembali bernyanyi.

Sekilas, Sehun melirik ke arah Hayoung yang memandang ke sekeliling hutan ini dengan kening berkerut. Setengah berlari, gadis itu meninggalkan hutan dengan raut ngeri terlukis jelas di wajahnya. Sehun berharap adiknya tidak terlalu memikirkan perubahan cuaca yang kelewat ekstrim ini dan berusaha mencari penjelasan logis tentangnya.

Mengalihkan pandangan kembali kepada Krystal, Sehun berujar ringan, “Perubahan suasana hatimu ternyata bisa jadi sangat mengerikan, huh? Padahal aku lebih suka bunga dan kupu-kupu.”

Krystal tahu Sehun berusaha bercanda demi mencairkan suasana, tapi perasaan gadis itu sudah kepalang kacau. Tidak pernah sebelumnya dalam eksistensinya yang sudah berlangsung ribuan tahun, ia merasa sedih, bahagia, dan bingung di saat yang bersamaan. “Kupikir kita tidak akan bertemu lagi,” akunya.

Sehun terkekeh ringan. Hatinya mendadak dihinggapi kegembiraan setelah menyadari seberapa besar pengaruh dirinya terhadap Krystal. “Kupikir juga begitu, tapi sepertinya Sang Pencipta punya skenario lain.”

“Jadi, apakah mulai sekarang kita akan bersama sepanjang waktu?”

“Sepertinya begitu,” jawab Sehun. “Kecuali kalau kau bosan melihatku setiap hari, kupikir itu akan jadi masalah.”

Krystal menggeleng cepat. “Aku tidak keberatan bertemu denganmu setiap hari di sepanjang keabadian.”

Sehun tercenung karena kalimat itu. Sepanjang keabadian. Tidak pernah terbayang sebelumnya bahwa ia punya waktu sebanyak itu untuk melakukan sesuatu, terlebih lagi ini menyangkut seorang makhluk cantik dengan pesona yang selalu berhasil membuat dirinya takjub.

Sesuatu berdesir di dalam tubuhnya, seolah-olah bayangan kebersamaannya dengan sosok feminin itu terlalu indah hingga dadanya sesak oleh kebahagiaan. Sehun jadi bertanya-tanya bagaimana mungkin ruh seperti dirinya masih bisa merasakan luapan perasaan yang demikian hebat.

Tersenyum, Sehun menatap Krystal dan menjawab, “Aku juga tidak keberatan.”

End.

Author’s Note:

Gak berasa Author Project di FFindo udah masuk minggu ketiga, dan gak berasa aku ngetiknya udah sampe panjang banget gini. Maafkan jari-jariku yang kelewat bersemangat menebarkan terlalu banyak moment SeStal di ff ini. Semoga ceritanya berkenan di hati.

Kalau ada yang bersedia ngasih saran/komentar, I’ll really appreciate it. Kalau gak juga gak apa-apa kok, tapi jangan lupa buat stay tuned terus ya di blog ini, karena setelah semua ff dalam event ini dipublish, bakalan ada hadiah istimewa menanti para reader 🙂

Advertisements

16 responses to “[FFINDO PROJECT] Fantasy – When Petals Fall Off Orchid

  1. Akupun gak bakal keberatan menghabiskan waktu di sepanjang keabadian kalo yg nemenin makhluk unyu macam oh sehun 😂😂😂
    And that dokter lee really took my attention. Selalu ya, kamu kalo bikin cerita, kalo gak pake donghae jd tokoh utama, dia seolah wajib nyempil biarpun cuma jadi cameo. Hahaha.
    Anyway, aku jadi ingat dokter lee di ffmu yg satu lagi, yang sama jessica. Itu kapan dilanjut ya?

  2. Wah seru kak, puas bacanya. Jadi si sehun itu gagal ya operasinya? Rela kok sepanjang waktu kalau sama sehun mah (eh). Semangat ya kak!!!

  3. Aku baru tau lho kamu author di ffindo. Padahal aku dulu sering main ke sini, tp baru nemuin tulisanmu sekitaran setahun lalu, itu pun via blog lain.
    Aku suka cerita ini. Premisnya menurutku gak begitu unik, tp eksekusinya bagus. Kata-kata yang dipake udah pas buat ngasih gambaran unsur-unsur magic yg coba dikemukakan. Biasanya kalo di kebanyakan ff romance kupu-kupu cuma mengepakkan sayap di perut tokoh utama (and really, I kinda hate this description, dont know why), tp di sini kupu-kupunya nyata. So yes, soojung literally gets butterflies when she sees oh sehun. Oh, dan nama castnya. Krystal, krn tokoh utamanya bercahaya spt kristal. Ini pas banget! Dan dialog terakhir juga kece. Sepanjang keabadian. Ini kok berasa uhuy bgt. Udah pas lah sehun akhirnya meninggal, krn akhirnya harapannya buat bs sama2 krystal utk waktu yg lama bs terwujud.

    • Aku emg baru gabung di sini. Hihi..
      And have I told you that I really like your every comment on my story? Aku suka krn semua unsur dlm cerita kamu komenin. Makasih ya 🙂

  4. Ada yg resolusi tahun barunya pengen belajar manage word count kalo bikin ff, yet here you are kak, making another long oneshot :p
    Akhirnya, setelah selama ini disuguhi sad atau dark romance yg endingnya bikin gemes, aku bs liat ada ff mu yg endingnya beneran happy. Yah, sehun meninggal sih, tapi dgn begitu dia justru bisa sama-sama dgn krystal lbh lama.
    Oh iya, kalau aku gak baca cerita sebelumnya, ngaruh gak? Belum baca soalnya. Apa ada penjelasan soal penyakit sehun juga di cerita sebelumnya?

    • Ini aku buat sebelum akhir tahun kok, jd ga kehitung bagian resolusi /alesan/ 😜😜
      Ffindo preject kali ini formatnya smaa kaya tetralogi 4 musimnya ilana tan, jd kamu ttp bisa baca seri ke 2 tanpa baca yg pertama, tp tokoh utama di 2 cerita itu punya hubungan.

  5. woahhhh, daebak daebak
    kirain bakalan sad ending tapi author mempunyai skenario lain yg kebih menarik. yg jadi pertanyaan aku thor sehun itu roh atau peri hutan kayak krystal ya?
    author ada wp pribadi?

    • Halo vera, makasih ya udah baca ff ini. Sehun itu roh, udah aku sebutin kok di bagian dkt2 ending. Tp setelah dipikir2 lagi, dia bagusnya jd peri hutan aja sih. Haha.. /failed/
      Ada. Silakan berkunjung ke https:/iamwonderfulelf.wordpress.com

  6. Damn! Aku sukaaaa banget sama ff ini hahaha. Bahasanya rapi, plotnya bagus, ada Krystal n Sehun (walaupun lebih prefer sama L atau Kai sih wkwk), dan atmosfer ceritanyaa rada2 gloomy gimana gt. Favorit banget lah. Keep writing yaaah TT^TT. Btw itu endingnya bitter sweet bgt ❤ ❤

    • Ada dua alasan aku milih sestal jd cast. Pertama, krn nama Krystal cocok aja buat ngisi adegan “bolehkah aku memanggilmu krystal, krn kau bercahaya spt kristal”. Sehun dgn postur kurus dan kulit pucatnya jg berasa pas buat dijadiin org penyakitan. Kedua, dan sbnrnya ini alasan utama, adalah krn mereka otp favoritku. Haha..
      Makasih ya udah baca ff ini biarpun pairingnya bukan favorit kamu. Dan makasih jg buat pujiannya. Your comment really made my day! 🙂

      • well, that Krystal’s part sounds a bit cheesy actually, tapi saya tetep suka sih X)
        kamu author ke-3 yang gaya berceritanya cocok sama seleraku, n I’m really happy to find u cz 2 author lain yg aku sukai sudah hiatus bertahun2 -_- ditunggu next ff yah :3

  7. Pingback: [FFINDO PROJECT] FANTASY – Our Last Trip | FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s