[FFINDO PROJECT] Friendship _ The Coups #3

the-coups1

[BTS] Jung Hoseok – [SVT] Jeon Wonwoo – [EXO] Oh Sehun – [NCT] Lee Taeyong

Support cast’s : find by your self

Genre : Friendship, Drama // Length : Multichapter  // Rate : PG16

Poster by ALKINDI @Indo Fanfictions Arts

 

Disclaimer

Cast’s milik Tuhan, Orang tua dan agensi masing-masing, I only own the story, don’t plagiat or copy-paste without my permission!Hargai penulis yang sudah susah payah mencari ide ceritanya.

Chapter 3 : Decision

ζζ ζζ

Sebuah mobil ambulance berhenti tepat di depan pintu rumah sakit dekat ruang IGD. Beberapa perawat dan seorang dokter muda berlari menghampiri ambulance tersebut. Begitu pintu mobil terbuka, terlihat jelas seorang pasien terbaring lemah tak sadarkan diri di atas stretcher brancard pasien transport1 dengan darah yang terus mengalir dari perutnya. Segera pasien tersebut dipindahkan ke sebuah examination bed2 dan langsung dilarikan ke ruang operasi karena lukanya yang cukup lebar dan dalam sehingga terus mengeluarkan cairan kental berwarna merah pekat itu.

Sunbae, kau yang akan melakukannya?” tanya salah seorang dokter residen pada seorang wanita muda yang diketahui seniornya.

“Tidak, aku percayakan dia padamu. Kau tahu, kelemahanku adalah menangani keluarga dan temanku. Tolong jaga dia, selamatkan dia untukku.” Tutur wanita tersebut.

“Baiklah. Tapi, jangan lupa bersihkan dirimu.” Ucap dokter muda tersebut ketika dilihatnya tubuh seniornya itu penuh dengan bercak darah.

Di sisi lain, Wonwoo masih dengan sabar menunggu penjelasan Seungkwan yang katanya akan menyampaikan top secret yang bisa melumpuhkan O Group, seperti yang disinggung oleh Changmin barusan. Pemuda berjuluk Seungkwan itu terlihat grogi ketika hendak membuka mulut.

“Be-begini, Sunbae-nim, a-aku juga diberikan tugas menyelidiki O Group untuk mencari tahu apapun yang terlihat mencurigakan di sana,” katanya gugup.

“Oke, lalu?”

“La-lalu, aku melihat sesuatu,” sambung Seungkwan ragu,

Wonwoo mulai tak sabar, “Melihat apa?”

“A-aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri.”

“Iya, tapi apa?! Jangan membuatku terlihat seperti orang bodoh!” kesabaran Wonwoo mulai hilang.

Kalimat Seungkwan selanjutnya sukses membuat Wonwoo terbelalak.

Sementara itu, Hoseok duduk dipojokan sel, kepalanya tertunduk, kedua tangannya menjabaki rambutnya yang terlihat kusut. Menyesal? Entahlah, Hoseok pun tak tahu harus menyesal atau tidak. seharusnya sejak awal, sebelum ia memutuskan sesuatu, harusnya ia pikirkan terlebih dahulu akibatnya. Namun saat itu, tak pernah terpikirkan akibat apa yang akan ia terima setelah memutuskan suatu hal. Dan tinggalah dia di sini, dibalik jeruji besi yang dingin, seorang diri. Kegelisahannya semakin bertambah karena waktunya tak lama lagi. Ditambah lagi, tak ada satupun dari sahabatnya yang mempercayainya. Ah, Hoseok lupa, hanya Taeyong lah yang mengetahui kasusnya, andai Wonwoo tahu mungkin saja bocah itu akan mencoba untuk mempercayainya. Setidaknya mencoba.

Operasi berjalan dengan lancar, pasien tersebut yang tak lain adalah Taeyong, kini telah dipindahkan ke ruang rawat pasien. Namun Taeyong masih belum sadarkan diri, terlebih akibat pengaruh anestesi3 yang tadi diberikan padanya sebelum operasi. Kim Yena, wanita muda yang tadi bersama Taeyong ternyata adalah seorang dokter senior di rumah sakit tempat Taeyong dilarikan. Rupanya Tuhan masih menyayanginya, dengan mengirimkan seorang kawan lama saat ia tengah sekarat pasca ditusuk oleh Ayah Hoseok.

Tubuh Taeyong masih tersungkur di atas tanah yang dingin, penglihatannya semakin gelap. Sebisa mungkin Taeyong mempertahankan kesadarannya, namun nihil kesadarannya terenggut, tergantikan kegelapan yang pekat. Namun samar-samar, Taeyong masih bisa mendengar suara seseorang memanggil namanya. Kegelapan semakin membawanya, dan Taeyong memejamkan matanya.

“Taeyong-ah! Hei, Lee Taeyong! Kau bisa mendengarku?!” Yena, orang yang tanpa sengaja melihat Taeyong tersungkur dengan darah yang mengalir di mana-mana dan segera menghampiri Taeyong

Yena merogoh saku jaketnya, mencari benda persegi panjang yang sangat dibutuhkannya saat ini. Dan, dapat! Segera Yena menekan beberapa angka untuk meminta pertolongan. Setelahnya wanita muda itu juga menghubungi salah satu rekannya agar menyiapkan sebuah ruang operasi.

Tak lama sebuah ambulance datang dan langsung membawa Taeyong beserta Yena menuju rumah sakit terdekat.

 

“Dasar bodoh, kalau saja aku tidak keluar dan melihatmu tadi, apa kau akan baik-baik saja?” ucapnya terdengar kesal, “Meski saat ini aku tidak bisa memprediksikan keadanmu baik atau tidak.” nadanya semakin melemah diakhir kalimatnya.

Yena meneteskan air matanya melihat keadaan Taeyong yang tak sebugar biasanya. Tubuh lemah itu tak bergerak sedikitpun, semakin membuat Yena khawatir.

“Ah, aku jadi ingat saat dulu kau dan Sehun bertengkar hanya karena aku.” Yena mengusap air matanya, “Itu salahmu sendiri, kau tahu!”

 

Sehun mencengkeram kerah seragam sekolah milik Taeyong, si anak baru pindahan dari LA. Matanya memanas menatap Taeyong tajam.

“Sekali lagi aku peringatkan, jangan pernah kau dekati pacarku lagi!” nafas Sehun memburu, cengkeramannya semakin ia perkuat, “Kim Ye Na, gadis itu adalah milikku!”

Sehun mendorong tubuh Taeyong hingga membentur tembok belakang sekolah mereka. Taeyong meringis sembari mengusap ujung bibirnya yang sedikit berdarah akibat tinjuan Sehun. Hoseok masih berusaha menenangkan Sehun, sahabatnya.

“Sudahlah, Hun. Kalau sampai pihak sekolah ada yang tahu kita bisa kena masalah besar,”

Sehun terlihat hendak ingin membalas ucapan Hoseok namun langsung dicegah oleh pemuda Jung itu, “Bukan kau, tapi aku dan teman-teman yang lainnya.”

Bagaikan sebuah robot yang dikendalikan oleh pemiliknya, Sehun langsung meninggalkan tempat kejadian sesaat setelah mendengar nasihat Hoseok.

“Hei, maaf ya temanku memang sangat kasar.” Ucap Hoseok sebelum ikut angkat kaki dari sana.

Tinggallah Taeyong sendiri, tersungkur di atas tanah, bersandar pada tembok yang tadi terbentur tubuhnya.

Tanpa mereka sadari hingga setelah mereka dewasa, sepasang mata menyaksikan kejadian tersebut. Dialah Kim Ye Na, gadis yang menjadi tokoh utama perkelahian Taeyong dan Sehun, si anak penyumbang dana terbesar di sekolahnya.

Wonwoo keluar dari tempat pertemuannya bersama atasannya dengan wajah lesu. Penuturan Seungkwan tadi membuat Wonwoo bagai dihantam belati panas sekaligus. Kakinya lemas, terasa tak sanggup lagi untuk menopang tubuhnya. Kembali ingatannya memutar ulang percakapannya dengan Seungkwan beberapa menit yang lalu.

“Se-sebenarnya aku mengikuti Oh Sehun sejak beberapa hari yang lalu, dan hari ini pula aku terus mengikutinya. A-aku melihat pemilik O Grup itu menyeret paksa seorang wanita berpakaian layaknya seorang pegawai kantoran, ku rasa wanita itu punya suatu hubungan spesial dengan Oh Sehun. Dia membawa wanita itu ke sebuah pedasaan dan menyeretnya kembali untuk mengikutinya sampai ke dalam hutan. Mereka terlihat sedang bertengkar, lalu tak lama Oh Sehun menusuk wanita itu dengan belati” Seungkwan nampak menarik nafas terlebih dahulu, tak lupa ia menenggak habis segelas air putih yang tersaji dihadapannya,  “Karena ketakutan, tanpa pikir panjang lagi aku segera menghubungi polisi. Sungguh aku tidak menyangka bahwa akan ada seorang pemuda lain yang juga melihat hal yang sama sepertiku dan menghampiri Oh Sehun. Mereka terlihat sangat akrab, aku rasa pemuda itu adalah orang yang mengenal Oh Sehun. Setelahnya aku tidak tahu lagi apa yang terjadi, karena aku langsung meninggalkan tempat kejadian dan kembali ke kantor. Sugguh aku tidak tahu apa-apa, hanya itu yang aku lihat, Sunbaenim.” Tutur Seungkwan panjang lebar.

 

Wonwoo memukul-mukul setir mobilnya dengan keras. Berusaha melimpahkan segala kekesalannya. Wonwoo berteriak sedikit tertahan, menjambak rambut hitam kelamnya sendiri, terlihat sangat frustasi.

“Dasar tidak berguna!” Wonwoo menghantamkan kepalanya sendiri pada setir mobilnya.

***

Taeyong masih belum memberikan tanda-tanda siuman sama sekali sejak ia dipindahkan ke ruang ICU. Nampaknya pemuda Lee itu masih enggan untuk bangun dari tidur panjangnya. Taeyong begitu asyik menikmati setiap reka ulang tentang kejadian masa lalunya, kebersamaan bersama ketiga sahabatnya. Dalam tidurnya, Taeyong kembali teringat masa-masa sekolahnya bersama ketiga sahabatnya. Terutama masa di mana ia pernah mengalami hal paling menyebalkan seumur hidupnya, pikirnya.

Taeyong berlarian di sekitar koridor sekolah yang sudah mulai sepi. Sinar mentari sore hari turut menyertai setiap langkah kakinya yang panjang. Taeyong menghela nafas sejenak sesaat setelah kakinya berpijak di depan sebuah pintu bertuliskan Ruang OSIS. Bahkan tanpa ketukan sekalipun, pemuda itu langsung menerobos memasuki ruangan tersebut.

“Hei, Ketua!” sapanya pada seorang pemuda begaris wajah tegas seperti dirinya yang tengah duduk di belakang meja, namun terdengar seperti teriakan.

“Jam sekolah sudah berakhir, kenapa kau masih duduk di sini, huh?”

“Bukan urusanmu, anak baru.”

“Waah, kau rajin sekali rupanya. Coba aku lihat…” pergerakan Taeyong berhenti, mulutnya terkunci rapat saat dilihatnya apa gerangan yang tengah menyita waktu pemuda yang dia panggil ketua itu.

“Lagi?” Taeyong terlihat kesal, “Kau melakukan hal bodoh ini lagi?!”

Wonwoo, pemuda yang dipanggil Ketua itu kembali merampas sebuah buku catatan yang tadi diambil Taeyong, dengan kasar.

“Bukan urusanmu.”

“Hei, sudah berapa kali aku bilang? Mereka bukan temanmu, mereka hanya memanfaatkanu saja!”

“Justru karena mereka teman-temanku, aku harus membantunya.”

“Ini namanya bukan membantu, tapi kau dimanfaatkan karena kebaikanmu itu. Kau tahu, kau bagaikan pesuruh mereka saja!”

“Berhenti mencemooh teman-temanku! Kau itu hanya orang baru di sini, kau tidak mengetahui apa-apa, Lee Taeyong!”

“Baiklah, tapi asal kau tahu saja, seorang tean tidak akan pernah bersikap seperti ini pada temannya sendiri. Suatu hari nanti kau akan menyadari perkataanku hari ini, Jeon Wonwoo.”

Entah ada angina dari mana, Lee Taeyong yang terbiasa berbicara dengan nada tinggi, kali ini terdengar lebih tenang dan bijak. Tidak seperti Taeyong yang biasanya. Wonwoo pun menyadari perbedaan Taeyong. Penuturan pemuda itu terdengar berbeda. Meski Wonwoo baru mengenal Taeyong seminggu yang lalu saat ia memergoki Taeyong yang tersungkur di tanah akibat dipukuli oleh Sehun dan teman-temannya. Semenjak itu mereka menjadi dekat dan memutuskan untuk berteman. Meskipun hanya Taeyong yang menganggapnya seperti itu.

“Sudahlah, ayo pulang! Aku akan membantumu setelah sampai di rumah nanti.” Ajak Taeyong sebari membereskan buku-buku tugas yang tergeletak di atas meja Wonwoo.

 

***

Wonwoo memutuskan untuk mengunjungi Sehun kembali yang tengah di rawat di rumah sakit. Pemuda Jeon itu ingin memastikan apa yang ia dengar dari Seungkwan tempo hari. Wonwoo masih iingat betul wajah sendu Hoseok saat ia menjenguknya kemarin. Hoseok menangis pilu meminta maaf pada Wonwoo, mendengarnya justru membuat Wonwoo malah ingin mengatakan apa yang ia tahu sebenarnya saat itu juga. Tapi Wonwoo bukanlah tipe orang yang akan mengatakan berita tanpa fakta. Pemuda itu harus membuktikannya sendiri terlebih dahulu. Maka dari itu, Wonwoo memutuskan untuk menemui Sehun sekali lagi, tak peduli dengan keadaan Sehun yang tengah berada di rumah sakit.

Wonwoo sampai di depan pintu ruang rawat Sehun. Wajahnya nampak ragu-ragu. Wonwoo menghela nafas, mencoba menenangkan diri sebelum akhirnya memilih untuk mebuka pintu tersebut.

Dari ambang pintu, Wonwoo melihat Sehun yang terbaring di atas ranjangnya. Wonwoo melangkahkan kakinya menghampiri Sehun yang terlihat tengah tertidur. Wonwoo memalingkan wajahnya enggan menatap wajah sahabatnya, Sehun. Matanya mulai memanas, namun sebisa mungkin ditahannya agar cairan bening itu tak mengalir sembarangan.

“Sehun-ah…” lirih Wonwoo,

“Aku tahu apa yang sebenarnya terjadi antara kau dan Hoseok. Aku tahu semuanya, jadi-“ Wonwoo menjeda kalimatnya, “Tolong, katakan yang sejujurnya. Apa kau tidak tahu bahwa dalam kurun waktu beberapa hari ini Hoseok terlihat sangat menderita? Kau tahu, dia akan dihukum mati, dan waktunya hanya tinggal beberapa hari lagi?”

“Aku tahu, kau bukanlah orang yang tega  melihat sahabatnya menderita. Terlebih dia itu Jung Hoseok, sahabatmu dari kecil. Aku tahu kau mendengarkanku, jadi tolong jangan biarkan sahabat kita lebih menderita lagi dan mati sia-sia atas kesalahan yang tidak ia lakukan.” Wonwoo menutup kalimatnya dengan air mata yang mengalir begitu saja tanpa ia perintah.

Wonwoo keluar dari kamar inap Sehun, tanpa ia sadari seseorang berbaju hitam mengikutinya semenjak kemarin. Sepeninggal Wonwoo, Sehun membuka matanya. Tak lama cairan bening itu turut menghiasi wajah tampannya yang tampak memucat. Tangan kanannya terangkat, menutup kedua matanya yang berair, dan menangis tersedu-sedu meratapi perbuatannya yang tega membuat sahabat paling berharga dalam hidupnya menderita akibat perbuatan buruknya.

To be continued…

ps.

ffindo project yang sedang kalian baca ini adalah bagian dari rangkaian event “ffindo” yang nantinya akan berujung ke event puncak kami yang bakal melibatkan para reader setia blog ffindo. yang pastinya bakal bikin kamu semua penasaran, dong…

so, stay tuned terus yaa ^^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s