SUICIDE FORUM [Part 3 : Different]

suicide-forum-new

Title :

Suicide Forum

 

Author :

Citra Pertiwi Putri / Citrapertiwtiw

 

Genre :

Romance, Mystery, Suspense, Horror-Thriller

 

Casts :

INFINITE’s L / Kim Myungsoo

A Pink’s Son Naeun

INFINITE’s Nam Woohyun

A Pink’s Park Chorong

Girl’s Day Yura

VIXX’s Ken

VIXX’s N

 

Rating :

NC17 (aware for some mature contents)

 

Type :

Chaptered

Note :

Ringkasan cerita sebelumnya :

Dalam satu part cerita sebelumnya, benang merah antara Kim Myungsoo, Son Naeun, Nam Woohyun, dan Park Chorong bahkan Kim Yura dan Lee Jaehwan telah terungkap. Masa lalu mereka menyimpan banyak rahasia besar. Mulai dari niat dan tujuan serta rencana keji Nam Woohyun untuk menguasai The King dan Medical Center, bisnis misterius Park Chorong dan Cha Hakyeon, hingga pembunuhan berencana atas kematian Kim Yura dengan menggunakan situs bunuh diri yang hanya diketahui oleh Kim Myungsoo dan Son Naeun.

Apakah semua hal itu akan terungkap meski pada keadaan kini Kim Myungsoo bahkan tak bisa mengingat apapun tentang masa lalunya?

Selamat membaca.

 

SUICIDE FORUM : http://www.killyourself.com | Part 3 : It’s All Different (Semuanya Berbeda)

 

Author’s POV

 

“ Dokter Nam, seperti yang kau minta.. aku mencatat daftar obat-obatan yang diambil dokter Park Chorong pagi ini untuk pasien kunjungan rumahnya.”

“ Biar kulihat.” Woohyun buru-buru meraih catatan dari petugas farmasi medical center malam itu, membaca tulisan disana dengan teliti.

“ Sepertinya dokter Park terpaksa membayar obat-obatan ini dengan uang pribadinya karena dia mengambil obat yang berbeda dari yang diperintahkan ketua Tim. Besok, dia bilang akan meminta obat-obatan lagi.”sambung sang petugas lagi, membuat mata Woohyun semakin memicing.

“ Jadi dia benar-benar ingin menyembuhkan Kim Myungsoo? Inilah mengapa aku masih tidak percaya dengan janjinya barusan.” batin lelaki itu sembari tersenyum sinis, ia jelas tahu semua obat yang diambil Chorong adalah obat-obatan yang benar dan mendukung kesembuhan Myungsoo, bukan obat-obatan salah yang biasanya digunakan Howon untuk membunuh putra The King itu pelan-pelan.

“ Kalau begitu aku minta obat-obatan yang diperintahkan dokter Howon.”ucapnya pada sang petugas, “…itu dianggap gratis, kan?”

Petugas farmasi itu terpaksa menurut, meski sebenarnya ia harus tetap menjalankan prosedur dengan mencatat keperluan Woohyun mengambil obat-obatan di instalasi farmasinya. Namun ia tak punya cukup keberanian untuk bertanya karena dokter didepannya itu adalah suami dari putri tunggal pemilik medical center.

“ Atas nama dokter siapa pengambilan resep ini? Apakah tetap dokter Park Chorong?”tanya sang petugas hati-hati.

“ Jangan. Namaku saja.”

“ Ah.. baiklah.”

Woohyun ingin usaha The King untuk membunuh Kim Myungsoo pelan-pelan tetap berjalan, namun ia tak akan membiarkan Chorong terjebak begitu jauh dalam rencana jahat itu. Jadi untuk saat ini, ia ‘jual’ saja dulu namanya sebelum menemukan jalan keluar untuk melepaskan Chorong dari tugasnya menjadi dokter pribadi Myungsoo.

Menjengkelkan rasanya. Seandainya saja The King tidak berpikir untuk menjadikan Chorong dokter pribadi Myungsoo, ia tak perlu repot-repot seperti ini, bahkan jika memang ia tak menemukan jalan keluar apapun nantinya, ia sudah sangat siap untuk langsung turun tangan mengurus Myungsoo. Ia yakin setelah membunuh lelaki itu, The King akan melakukan apapun untuk menutupi kejahatannya. Ia sangat bersedia melakukan itu, asal Park Chorong aman dan tetap dalam kendalinya. Namun sepertinya, kekasihnya itu mulai ‘bandel’ dan tak ingin lagi terlalu menurut padanya. Apalagi, ini tentang Kim Myungsoo. Perdebatannya dengan Park Chorong ketika Myungsoo berada di UGD dalam keadaan kritis lima bulan lalu masih sangat segar dalam ingatannya, kadang ia menyesal terlalu luluh dengan kekasihnya itu dan tak jadi membunuh Myungsoo.

“ Terimakasih.”

Setelah mendapatkan obat-obatannya, Woohyun segera berlari kecil meninggalkan instalasi farmasi dan menuju tempat parkir, memasuki mobilnya dan bersiap untuk pergi ke tujuan utamanya sebelum terlambat.

Apartemen Kim Myungsoo.

Ia ingin menukar obat-obatan dari Chorong yang sudah ada disana dengan obat-obatan ‘pembunuh’ yang baru saja ia ambil dari instalasi farmasi. Meski rasanya akan sangat aneh bertemu Kim Myungsoo lagi setelah terakhir kali menangani lelaki itu di UGD, ia tak peduli. Entah, ia benar-benar ingin menghentikan niat Chorong untuk menyembuhkan putra kandung The King itu.

Mobilnya melaju dengan kecepatan cukup tinggi, karena ia memang harus melakukan ini dengan cepat sebelum Chorong mengetahui tindakannya.

“ Jangan mengebut. Kau tidak ingin mati sepertiku, kan?”

Woohyun tersentak ketika suara perempuan memasuki rongga telinganya, memecah kesunyian dalam mobilnya yang masih melaju kencang.

Tidak mungkin. Ia sedang sendirian.

Ia justru semakin mempercepat laju mobilnya dengan sedikit peluh dingin, perjalanannya sedikit jauh karena ia harus pergi menuju pinggiran kota Seoul, dimana apartemen terpencil tempat Myungsoo diasingkan berada. Semakin dekat dengan tempat tujuan, jalanan di depannya semakin sepi dan gelap. Jam digital mobilnya pun telah menunjukkan pukul 9 malam.

“ Seharusnya jam 9 belum sesepi ini.”

Dokter muda itu menghentikan mobilnya di depan satu bangunan rumah yang bersebelahan dengan lorong kecil yang menjadi satu-satunya akses masuk ke dalam apartemen kecil tempat Myungsoo berada. Ia turun dan bersiap.

“ Baik..bilang saja aku dokter yang diutus untuk menukar obatnya. Dia tak akan curiga. Aku yakin bajingan itu tak mengenaliku lagi..”

Lelaki itu menyalakan flashlight dari ponselnya karena jalanan begitu gelap, ia mulai melangkah memasuki lorong.

“ Mau kemana?”

Suara perempuan itu lagi.

Woohyun berbalik. Tak ada siapapun.

“ Brengsek.. ada apa denganku?” ia berpikir bahwa suara itu hanya berasal dari pikirannya yang sedang dilanda gelisah karena terpaksa melakukan hal gila malam itu, ini semua karena Park Chorong yang membuat ulah.

“ Boleh aku ikut?”

Suara itu terdengar lagi, dan Woohyun masih menolak untuk berpikir bahwa ia tak sendirian di lorong gelap gulita yang tengah ia lalui. Jadi, ia mempercepat langkahnya.

“ Aku ikut, ya.”

“ Tidak! Tidak..”suara itu masih mengganggunya, dan ia mulai frustasi, “…diam.. diamlah, tidak ada yang ikut denganku. Tidak ada.”

Tap.. tap..

Suara perempuan itu menghilang dan berganti dengan bunyi langkah kaki yang semakin mendekat, entah dari arah mana.

Tap.. tap..

“ Argh!!”

Woohyun tak tahan, dengan terpaksa ia berbalik arah dan berlari kencang menuju mobilnya dan masuk kesana dengan terburu-buru, menutup dan mengunci semua pintunya dengan rapat, tangannya gemetaran memasukkan kunci.

“ Kenapa tidak jadi? Padahal aku juga ingin mengunjungi saudara kembarku.”

Suara perempuan itu datang lagi, dan kali ini membuatnya benar-benar tersentak ketika menatap spion dalam mobilnya. Seorang gadis berwajah pucat dengan seluruh tubuh yang basah kuyup tengah duduk di bangku belakang mobilnya dengan sedikit menyeringai.

 

“Kim Yura?”

***

 

“ AAAAH!!!!”

 

Woohyun tersentak, nyaris terjatuh dari kursi yang ia duduki selama tertidur di samping matras tempatnya meletakkan Naeun yang pingsan beberapa saat yang lalu. Ia terkejut, rasanya baru saja ia menjaga istrinya itu hingga tertidur dengan posisi duduk, mengapa secepat itu ia mendapat mimpi buruk? Di siang hari, pula.

“ Kau baik-baik saja?”

Naeun masih berbaring dengan tubuh menghadap ke depannya, gadis itu telah sadar dan nampaknya sudah baik-baik saja, padahal rasanya baru saja ia tak sadarkan diri di lobi medical center pasca kepulangan Ken hingga membuat Woohyun khawatir setengah mati.

“…”

Woohyun masih diam, mencoba meluruskan pikirannya yang sedikit kacau karena mimpi yang baru saja ia alami. Ia tak pernah mengalami hal semacam ini sebelumnya.

“ Kapan kau siuman?” lelaki itu tak menjawab pertanyaannya dan justru bertanya balik.

“ Kenapa kau disini menjagaku? Seharusnya kau praktek, kan?” Naeun tak mau kalah, ia juga tak menjawab dan justru melontarkan pertanyaan baru.

“ Bagaimana mungkin aku meninggalkanmu sendirian setelah melihatmu pingsan di lobi? Kau pasti sangat kelelahan menangani Ken selama ini.”

Naeun tersenyum tipis.

“ Kau juga pasti kelelahan, jadi aku berbagi energi denganmu.”

Setelah mendengar tanggapan istrinya itu, Woohyun menyadari bahwa jarum infus yang tadinya ia pasang di punggung tangan Naeun kini telah berpindah ke tangannya.

“ Apa yang kau lakukan, hah?” Woohyun melepasnya tanpa merasa sakit sedikitpun, ia juga heran mengapa ia tidak sadar dan merasakan apa-apa ketika Naeun memindahkan jarum infus itu ke tangannya.

“ Kubilang aku berbagi energi denganmu, kau juga kelihatannya kelelahan sampai-sampai tertidur disini.”jawab Naeun polos.

“ Aku tidak kelelahan. Jadi jangan lakukan hal aneh lagi.”Woohyun berdiri dan bersiap untuk keluar dari ruangan, ia merasa bersalah juga telah lalai dan meninggalkan pasien-pasien yang seharusnya sudah ia layani sejam yang lalu.

“ Tidak mungkin, kau pasti kelelahan. Memikirkan segudang rencana untuk menjadi pewaris The King dan medical center sampai memikirkan Chorong dan Chohyun pasti menguras pikiranmu setiap hari, kan?”

“…”

Woohyun terdiam sejenak, sedikit tertawa sinis dan berbalik, menatap Naeun dengan lebih jengkel.

“ Son Naeun, haruskah kau mengungkit—“

“ Ah.. apalagi Kim Yura bisa saja tiba-tiba datang menghantuimu, kau pasti perlu tenaga ekstra untuk menghindar.”

“ Son Naeun, kau—“

“ Hahaha! Apa aku menakutimu, sunbae?”Naeun justru semakin meledeknya. Woohyun semakin heran, ada apa dengan perempuan ini? Jelas sekali tadi pagi ia masih terlihat stress karena Jaehwan hingga berakhir jatuh pingsan di lobi, mengapa setelah sadar suasana hatinya seolah berubah 180 derajat?

“ Bagaimana denganmu, Son Naeun? Bisa saja Kim Myungsoo menghantuimu juga.”

Naeun justru tersenyum lebar.

“ Bagus sekali jika itu terjadi, asalkan itu adalah Kim Myungsoo, siapa yang peduli dia hantu atau manusia?”

“ Pulanglah. Akan kuhubungi pegawai rumah untuk menjemputmu, kau perlu istirahat banyak setelah melepas Jaehwan hari ini.” Woohyun menyerah dan tak ingin memperpanjang pembicaraannya dengan gadis itu, setelah itu merapikan jas putihnya dan keluar dari ruangan dengan sedikit berjalan cepat.

Naeun masih tersenyum tanpa alasan yang jelas setelah lelaki itu pergi.

“ Kim Myungsoo..”

Tangannya kemudian meraba saku jas putihnya, mencari sesuatu.

“…sialan, kenapa tidak ada?”

Wajah cantiknya kembali pucat, ia mulai panik dan melompat dari matras, mencari sesuatu yang hilang dari saku jasnya.

“ Tidak.. aku tidak boleh kehilangannya. Aku bisa mati. Aku bisa mati!”

***

 

8.00pm

 

Terimakasih. Datanglah lagi, aku merasa lebih baik hari ini karenamu..

“ Ah.. tidak. Jangan seperti ini..”

Myungsoo kembali menekan tombol backspace pada keyboard komputernya, menghapus tulisan yang ia ketik pada kolom balasan atas email dokter Park Chorong yang sudah sejak tadi siang ia terima.

Tentu saja aku mau pergi ke rumah sakit. Kapan kau akan mengajakku kesana?

“ Ah.. jangan.. jangan ini juga..”

Myungsoo menghapusnya lagi. Mengapa ia jadi salah tingkah sendiri? Bukankah ia hanya perlu berterimakasih kepada dokter barunya yang ternyata memperlakukannya lebih baik daripada dokter pribadinya yang kemarin?

Lelaki itu hanya berpikir, ini pasti bukan pertama kalinya ia bertemu dengan dokter barunya itu –Park Chorong-, dan ia begitu penasaran apa yang membuat mereka saling mengenal di masa lalu. Karena sekeras apapun ia mencoba mengingatnya, ia tak menemukan jawabannya.

Dokter Park, apa aku boleh menanyakan sesuatu di luar kondisi kesehatanku?

Enter. Sent.

 

Myungsoo menunggu dengan grogi, ia tak bisa lagi menahan rasa penasarannya. Sejak Chorong pulang dari apartemennya tadi pagi, ia tak bisa berhenti memikirkan dokter wanita itu. Bukan hanya karena ia cantik, ramah, atau lebih perhatian. Tapi karena dokter itu sengaja tak sengaja mengatakan bahwa mereka pernah saling mengenal di masa lalu. Kendati menurutnya itu tidak penting, Myungsoo terlanjur penasaran.

 

Apa yang ingin kau tanyakan? kurasa lebih baik kita lebih banyak bicara tentang kondisimu.

 

Email itu dibalas dengan cepat. Myungsoo mencoba untuk lebih santai.

 

Tapi sejujurnya aku.. tidak begitu peduli dengan kondisiku. Aku lebih ingin mengetahui semua yang kulupakan.

 

“ Aku bahkan lebih ingin mati. Tapi aku tidak ingin mati sebelum mengingat semua yang sudah hilang dari kepalaku.”batin Myungsoo sembari menekan enter untuk kedua kalinya, membalas email dari sang dokter dengan penuh harapan.

Hingga matanya sedikit mendelik, membaca pesan yang tepat berada di bawah pesan terakhir Chorong. Sebuah pemberitahuan pesan terakhir yang ia terima di akun pribadinya pada situs bunuh diri yang ia akses kemarin malam.

 

From : DarkAngel

To : Kim_Myungsoo

 

Syukurlah kau membalas pesanku. Aku tahu kau masih hidup. Aku selalu tahu itu 🙂

 

“ Orang gila ini.. syukurlah dia berhenti setelah kuabaikan.” Myungsoo tersenyum sinis dan menutup pesan itu, sama sekali tak berniat untuk membalas meski kadang-kadang rasa penasaran menyiksanya.

*

 

“ Dokter Son Naeun pingsan sesaat setelah kau meninggalkan medical center, pasti sangat berat baginya merawatmu selama ini.”

Hakyeon menghampiri Jaehwan yang masih betah duduk di dalam studio musik mereka. Setelah kurang lebih lima bulan vakum dari dunia hiburan karena gangguan depresi yang dideritanya, Jaehwan memang merasa rindu untuk bernyanyi lagi dan memilih untuk berlatih hingga malam, menyanyikan lagu-lagu yang ia ciptakan di dalam sel.

“ Oh ya? Bagus, berarti aku berhasil menyusahkannya.”lelaki itu menyahuti perkataan Hakyeon dengan santai, mata besarnya masih tetap fokus pada ponsel mewahnya.

“ Kenapa masih saja membencinya? Tidak pernah berpikir kalau dia juga sudah pasti berduka sepertimu?”

“ Bahkan setelah Kim Myungsoo dikatakan meninggal, tak pernah sekalipun aku melihat Son Naeun menangis di depanku. Tiba-tiba ia justru muncul sebagai dokter jiwa yang ingin menyembuhkan depresiku, apa menurutmu aku masih pantas mengasihaninya? Apalagi dia menikah dengan—“

“ Kau berpikir itu sesuatu yang jahat?”

“ Tentu saja.”

“ Bukan sesuatu yang aneh?”

Jaehwan terdiam sejenak, mencoba mencerna pertanyaan Hakyeon yang entah mengapa ia benarkan dalam benaknya.

“…aku juga kadang heran, kurasa tak seorangpun yang mengetahui hubungannya dengan Kim Myungsoo pernah melihat airmatanya pasca kabar kematian Myungsoo, dia justru pergi ke Jerman dengan Nam Woohyun tak lama setelah itu, lalu tiba-tiba muncul sebagai dokter jiwa untukmu seolah-olah tak terjadi sesuatu.”sambung Hakyeon, pikiran itu memang sudah lama berada dalam kepalanya dan ingin ia diskusikan setelah Jaehwan keluar dari sel.

“ Dia sama saja iblisnya dengan Nam Woohyun.”tanggap Jaehwan dingin, ia masih sangat kesal membicarakan Naeun yang mungkin selamanya akan terus ia anggap sebagai pengkhianat.

“ Tapi jika kau pertimbangkan hubungannya dengan Myungsoo yang berjalan hampir delapan tahun, sepertinya sangat tidak mungkin dia move on semudah itu, kan?”

“ Lalu apa yang kau harap muncul di pikiranku?”

“ Jadi, daripada berpikir Son Naeun jahat, sebaiknya berpikirlah kalau mungkin saja ada sesuatu yang janggal.”

Jaehwan terdiam lagi. Semua perkataan Hakyeon ada benarnya, ia akui itu. Namun kebenciannya pada Son Naeun membuatnya tak bisa berpikir apa-apa lagi selain menyalahkan gadis itu.

“ Kenapa bukan kau saja yang pikirkan itu? Kalau kau memang menemukan sesuatu yang janggal, beritahu aku.”sahut Jaehwan singkat, ia menolak untuk membahas ini lebih lanjut.

“ Ah.. aku biarkan saja itu terjawab dengan sendirinya. Aku tak tega menyelidiki hidup Naeun, nanti aku malah semakin menyukainya.”

“ Cih.” Jaehwan semakin muak dan memilih untuk kembali fokus saja pada ponsel mewahnya. Jemarinya aktif membuka situs yang telah lama tak ia kunjungi.

 

CELEBRITY CORNER (VIP ONLY)

Diposting oleh : AOA_Seol | 08.12 PM

Problem : Skandal, komentar negatif, kekerasan verbal/non verbal dari haters, kerja over-time, black ocean, diperlakukan seperti binatang, diteror sasaeng fans, aku tahu kalian semua pernah dan mungkin bahkan sedang mengalami itu semua. Dunia idol memang gelap, tapi setidaknya aku mengenal kalian. Kawan-kawan sesama selebriti, pernahkah kalian berpikir untuk mengakhiri semua ini? Mundur dari dunia hiburan tidak menyelesaikan masalah, mungkin kita harus mundur juga dari kehidupan di dunia ini.

Setuju? Buat akun VIP dan bergabunglah!

 

-Newest Comments-

(see all 642.434 comments)

BTS_Jin92 : Uri Ken a.k.a Lee Jaehwan telah kembali dari sel kejiwaan! Hei, apa kau benar-benar sudah sehat dan tak lagi berpikir untuk menyusul Kim Yura?

Jieun_lee : Congratulations~ salah satu penyanyi terbaik telah kembali. Jangan leave grup ini meski kau tidak ingin bunuh diri lagi, hehe.

Ryu_JY : Aku masih merinding, nyanyianmu untuk Kim Yura di presscon tadi pagi masih terngiang-ngiang di telingaku. Kupikir kau belum sepenuhnya move on, lol.

AOA_Seol : Selamat atas kesembuhanmu, oppa!

Hanihani92 : Masih tak percaya kau sembuh, lol. Apa dokter Son Naeun yang cantik itu benar-benar menanganimu dengan baik?

Jaehyo_Ahn : Dokter Son Naeun menjadi populer sekarang. Dan aku berakhir menjadi fanboynya, lol. Aku jadi ingin sakit mental juga jika dokter jiwanya seperti dia XD! Well, selamat atas kesembuhanmu, Ken-ssi. Dokter cantik itu pasti menanganimu dengan baik.

ImLikeTTjustlikeTT : Jaehwan-oppa! Sapa kami, kami semua merindukanmu~ jangan bilang kau akan leave T.T

Jaehwany_Ken : Halo 🙂 well, aku akan leave jika kalian masih membahas dokter Son Naeun. Aku serius.

Jaehyo_Ahn : Eh? Kenapa? Aku penggemarnya 😦

Hanihani92 : Apa dokter itu menyebalkan? Tapi dia cukup terkenal dan kliennya kaum jetset semua, heol~

Jaehwany_Ken : Tak apa.

AOA_Seol : Pasti ada sesuatu -_- ceritakan saja!

Jaehwany_Ken : Aku hanya tidak suka dengan dokter, siapapun itu. Aku muak. Jadi sudahlah :’D

Ryu_JY : Serius?

Jaehwany_Ken : Ya. Jadi sudahlah.

Sandeul_ie : Hei! Maaf baru muncul. Senang Jaehwannie sudah kembali. Pas sekali, aku membawa kabar lhoo

BTS_Jin92 : Kau selalu terlambat -_- kabar apa sekarang?

Jieun_Lee : Bad or good news?

Sandeul_ie : Idk.

Jaehwany_Ken : Why? What?

Sandeul_ie : Beberapa hari yang lalu aku iseng stalking forum sebelah. Ada war disana. 10 vs 1, lol.

ImLikeTTjustlikeTT : Aahh.. aku tau itu. Konyol sekali.

Hanihani92 : Then what’s the problem?

Sandeul_ie : Satu username kontra itu namanya DarkAngel.

[Sandeul_ie mengirim screenshot]

AOA_Seol : Hah? Kebetulan saja mungkin.

Jaehyo_Ahn : Sudah dilihat profilnya?

Sandeul_ie : Di private mode.

 

“ DarkAngel? Tidak mungkin..”

Jaehwan mendadak pucat, jemarinya mulai bergetar untuk menyentuh touchpad ponselnya.

“ Ada apa?” Hakyeon menyadari kegelisahannya, dan ia menggeleng saja.

“ Siapa orang ini..?” Jaehwan masih gemetar namun berapi-api pula pada saat yang bersamaan, matanya bahkan terasa mulai berkunang-kunang tanpa alasan, mungkin karena ia terlalu terkejut dengan kabar yang dibawa oleh salah satu rekan selebritinya ke dalam forum.

Hyung.

“ Hm?” Hakyeon menoleh setelah Jaehwan memanggilnya dengan sedikit berbisik.

“ Apa yang terjadi dengan akun DarkAngel sesaat setelah kematian Yura? Aku tidak tahu apapun karna langsung masuk rumah sakit. Mungkin.. kau tahu.”

“ Maksudmu—”

“ Maksudku, apakah akun itu masih ada? Atau menghilang?”

Hakyeon sedikit menggaruk pelipisnya, mencoba mengatur kalimat dengan hati-hati dalam kepalanya sebelum menjawab.

“ Setahuku, saat kasusnya masih sangat hangat, banyak sekali orang yang mencari akun itu lewat mesin pencari di killyourself, dan ketemu.”

“ Darimana kau tahu?”

“ Aku… juga mencobanya.”

“ Jadi, akun itu masih ada sampai sekarang?”

“ Bukankah justru aneh jika akun itu tiba-tiba hilang disaat pemiliknya sudah mati?”

“ Tapi… akan lebih aneh jika akun itu masih ada dan tiba-tiba aktif kembali.”

“ Apa? Apa maksudmu?”

Jaehwan mengunci mulutnya sejenak, masih ragu apakah ia harus menceritakan temuannya. Ia hanya tak mau Hakyeon menceramahinya lagi untuk tidak mengakses situs bunuh diri itu.

“ Tidak, hanya berandai-andai saja. Aku kan tidak tahu apa-apa.”

“ Yakin? Tidak ada yang sedang kau sembunyikan dariku, kan?”

“ Tidak ada. Cepat saja temukan siapa dalang di balik akun itu sebelum aku membuka mulutku lagi di depan media, kau tahu aku bukan orang yang bisa bersabar lama-lama.”

Hakyeon tertawa kecil dan bangkit dari sofa, meraih jaketnya yang menggantung di belakang pintu.

“ Bagaimana jika memang itu adalah Kim Yura? Akankah kau berhenti menuduh dokter Nam Woohyun sebagai pembunuh?”tanya lelaki itu sembari memasang jaketnya dan mengambil kunci mobil di meja.

Jaehwan menurunkan ponselnya, menatap Hakyeon dengan sedikit tajam.

“ Tentu saja tidak. Bagaimanapun juga bajingan itu yang sudah membuat Yura dan Myungsoo menghilang dari dunia ini.”

“ Baiklah, aku mengerti. Aku pergi dulu.”

“ Apa kau masih dekat dengan uri doctor?”

Hakyeon menghentikan langkahnya, berbalik sejenak. Ia sangat akrab dengan sebutan uri doctor yang baru saja disebut Jaehwan. Tentu saja yang ia maksud adalah dokter pribadi yang sempat mengurus grup mereka selama tiga tahun.

“ Chorong? Ya. Sampai kapanpun aku tak mungkin jauh dengannya.”

“ Kutebak sekarang kau ingin pergi menemuinya.”

“ Haha, memang. Sudah agak lama juga kami tidak bertemu.”

Jaehwan mengangguk-angguk sembari kembali menatap layar ponselnya.

“ Kenapa kau tidak menikahinya saja, hyung? Myungsoo dulu sangat mencintainya karena dia wanita yang sangat hebat, makanya sekarang aku tidak tega melihatnya menempel seperti orang bodoh pada Nam Woohyun. Dia dokter yang jenius tapi nasibnya malang sekali.”

“ Kenapa tidak kau saja? Lagipula kau batal menikah dengan Kim Yura, kan?”

“ HEI!” Jaehwan geram dan melemparnya dengan bantal sofa, “…mana mungkin aku sudi mengurus bayinya!”

Hakyeon tertawa dan keluar dari studio.

 

“ Begitu juga aku.”

***

 

“ Hah.. lama-lama aku bisa gila…!”

Chorong berdiri dari hadapan komputernya, mengabaikan email dari Myungsoo yang baru saja ia terima dan berlari kecil menuju kamar putranya, sesegera mungkin ia mengangkat tubuh Chohyun yang gelisah di atas tempat tidur dan mengayun-ayun tubuh mungil bayinya itu.

“ Hei.. don’t cry.. don’t cry..

“ Sepertinya ia takut melihat orang asing.”

“ YA!” Chorong terkejut karena mendapati Hakyeon berdiri di mulut pintu rumah kontrakan kecilnya, “…sejak kapan kau disini?”

“ Baru saja.”

“ Aih.. seperti maling saja!”

“ Tidak merindukanku?”

“ Aku tidak punya waktu untuk itu.”

“ Tapi kau selalu punya waktu untuk Nam Woohyun.”

“ Kalau kau kesini hanya untuk bicara aneh-aneh lebih baik pulang saja.”

“ Hahaha! Kenapa sensitif sekali? Sedang ada masalah?” Hakyeon mendekat dan mengacak-acak rambut coklatnya, Chorong tertawa malu dan sedikit meninju perut kakak angkatnya itu.

“ Jadi ada apa kau kesini?”

“ Situs kesayangan kita semakin terkenal, tidakkah kau tertarik untuk membicarakan itu denganku?”

“ Ah.. jadi tentang itu.” Chorong buru-buru keluar dengan tetap mempertahankan Chohyun dalam gendongannya, ia kembali pada komputernya, menutup tab email dari Myungsoo sebelum Hakyeon melihatnya.

“ Tidak ada masalah, kan?” Hakyeon mengikutinya, Chorong menggeleng cepat.

“…aku ada.”sambung Hakyeon, “…tadinya mau aku atasi sendiri, tapi kurasa aku perlu bantuanmu.”

“ Ada apa? Masalah besar?”

“ Tergantung bagaimana kau menanggapinya. Bisakah kita tidak membicarakannya disini? Mobilku terparkir di luar, aku takut ada wartawan atau orang lain melihatnya. Kita harus ke tempat yang lebih sepi.”

Chorong melirik jam analog yang menggantung di atas pintu kamarnya, “ Sebenarnya aku juga ingin pergi sebentar lagi.”

“ Oh ya? Kemana?”jawab Hakyeon sembari mengambil Chohyun dari Chorong, mengajak bayi berusia 6 bulan itu berkenalan.

“ Piket malam.”

“ Hah? Dokter senior sepertimu masih harus kena piket malam?”

“ Begitulah.” Chorong beranjak dan berpindah ke meja rias, mulai memakai make upnya, “…The King dan keluarga dokter Son semakin membenciku, sepertinya. Mereka memperlakukanku seperti sampah di medical center.

Jinjja? Apa mereka mulai mencium hubunganmu dengan Woohyun?”

“ Entahlah. Mereka sampai memasang CCTV di ruanganku, bukankah itu gila? Sedang ada gosip juga yang tersebar di rumah sakit. Apa aku terlihat seperti wanita penggoda?”

“ Pasti Woohyun tidak bisa menahan dirinya untuk mendekatimu di rumah sakit.”

“ Ya. Laki-laki sialan itu terlalu menyukaiku.”

“ Dan lebih sialannya lagi kau juga menyukainya meski sudah tahu dia bajingan.”

“…”

Chorong menunduk sejenak, menahan sesak di dadanya.

“ Aku masih sangat ingat kau pernah bilang padaku, jika suatu saat aku menemukan Woohyun ternyata tak sebaik yang kukira, aku harus segera mundur dan melupakannya. Aku minta maaf karena tidak menurut. Dan aku berterimakasih karena kau menghargai keputusanku.”

“ Ah.. kau membuatku ingat saja bahwa dulu aku pernah sangat mendukungmu dengan Woohyun, aku bahkan membantumu pindah kesini agar bisa bertetangga dengan bajingan itu. hal paling bodoh yang pernah aku lakukan seumur hidup.”

“ Aku minta maaf.”

“ Apa alasanmu bertahan hingga sekarang?”

“ Tentu saja karena aku percaya dia mampu menguasai The King dan medical center.” Chorong mengangkat wajahnya lagi dan tersenyum optimis, “…aku sudah bosan mendengar janji-janjinya, tapi aku tidak punya kekuatan untuk berhenti mempercayainya.”

“ Kau masih tidak puas dengan kekayaan yang sudah kita peroleh dari situs kita?”

“ Ah.. entahlah. Jangan mewawancaraiku.” Chorong menutup telinganya dengan headset dan meraih ponselnya, menelpon seseorang.

“ Hah.. Jaehwan benar, nasibmu malang sekali.” Hakyeon mendengus sembari memutar bola matanya.

 

“ Nam Woohyun.. kau dimana sih?” Chorong mulai jengkel karena Woohyun tak juga menjawab panggilannya.

“ Halo? Chorong-ah?”

PRANG!!!

“ Kau menyembunyikannya kan!? KAU MENYEMBUNYIKANNYA KAN!!!??”

Chorong segera menurunkan volume suara teleponnya, terkejut karena mendengar suara pecahan gelas dan teriakan perempuan di seberang sana. Apa yang sedang terjadi? Woohyun bahkan terdengar kesulitan untuk bicara.

“ Chorong-ah, kau kesana saja duluan, aku juga akan segera kesana. Oke? Bye.

Panggilan terputus. Chorong melepas headsetnya dengan jengkel.

*

 

Woohyun masih berlutut di lantai dan memunguti beling-beling yang berserakan disana meski tangannya sudah terluka, ia baru saja pulang dari medical center dan ingin beristirahat, namun ternyata Naeun telah memporak porandakan seisi kamarnya, dan gadis itu masih belum berhenti hingga sekarang, ia masih mengacak-acak seisi kamar hingga tak karuan. Sejak pulang lebih duluan dari medical center, Naeun diserang panik tanpa alasan dan mencari sesuatu yang hilang darinya.

“ Dimana kau menyembunyikannya, hah? DIMANA!?”

“ Katakan dulu apa yang kau cari.”

“ Jangan pura-pura! Berikan saja padaku!”

Dan anehnya, Naeun terus seperti ini, menuduh Woohyun namun tak mau menyebutkan apa sesuatu yang hilang itu. karena Woohyun terus mengelak, ia semakin jengkel bahkan sampai memecahkan banyak gelas wine di rumah mereka.

“ Jaehwan sembuh, tapi justru dokternya yang sekarang menjadi gila.”

“ KAU SENGAJA KAN!?”

“ KATAKAN DULU KAU KEHILANGAN APA!”

Para pegawai rumah yang berbaris di muka pintu saling merapatkan diri, ketakutan. Mereka memang sudah sering mendengar keributan antara Woohyun dan Naeun. Lebih dari itu, mereka juga sudah sangat sering mendengar banyak rahasia baik tentang hubungan Naeun dan Myungsoo, atau Woohyun dan Chorong. Jika bukan karena Woohyun yang menggaji mereka dengan jumlah besar, mungkin mereka sudah gatal untuk melaporkan semua yang mereka lihat dan dengar di rumah ini pada The King maupun keluarga dokter Son.

“ Aku tidak punya banyak waktu. Ada wanita yang harus lebih kuperhatikan dari kau.”

Woohyun menyerah dan berdiri sembari meraih kunci mobilnya lagi, Naeun nampak kebingungan.

“ Kemana? Mau kemana sunbae? Kembalikan dulu padaku! Kembalikan!”

Woohyun tak peduli, ia justru menutup pintu dan mengunci Naeun dari luar.

“ HEI! BUKA! KENAPA KAU SUKA SEKALI MENGURUNGKU!!?”

Sekarang Woohyun tersenyum kikuk pada pegawai rumah yang masih berbaris di belakangnya.

“ Psikiaternya di Jerman memang pernah bilang dia akan sering kacau seperti ini jika belum mengonsumsi alkohol per hari. Tapi aku harus membuatnya terbiasa, apalagi dia sendiri juga psikiater. Haha, jangan khawatir, urus saja pekerjaan yang lain.”

Mereka menurut dan membubarkan diri, Woohyun menatap pintu yang masih dibuka paksa oleh Naeun dari dalam.

“ Sekali lagi aku tanya, kau kehilangan apa?”

“ Jangan kunci aku!!!”

“ Aku terpaksa.”

“ Kenapa!?”

“ Siapa yang tahu jika mungkin kau kehilangan sesuatu yang lebih berharga dari Kim Myungsoo?”

*

 

Han River, 23.00pm

 

Dokter, kenapa kau tidak membalas emailku? Aku minta maaf jika pertanyaanku tidak berkenan. Aku hanya tidak bisa menahan diriku untuk bertanya. Ini salahmu karena telah mengatakan kita pernah bertemu sebelumnya.

Well, selamat malam. Sampai jumpa besok. Aku akan bangun lebih pagi.

 

Chorong, yang masih menunggu kedatangan Woohyun tiba-tiba menerima email baru lagi dari Myungsoo. Ia merasa miris dengan betapa canggungnya pembicaraan mereka kini, ia tak pernah membayangkan Kim Myungsoo yang dulu sering meneror dan begitu ditakutinya kini berubah seratus delapan puluh derajat menjadi sosok malang yang tak ingat apapun dan membutuhkan bantuannya.

Gadis itu membuka email lamanya dengan Myungsoo, isinya sungguh berbeda. Mengapa tiba-tiba ia jadi rindu dengan perilaku lelaki itu yang dulu begitu sering mengirim foto-foto dirinya yang diambil secara sembunyi-sembunyi hampir setiap hari? Tak hanya sekedar foto, semua kalimat dalam emailnya pun seringkali membuat Chorong ketakutan hingga memutuskan untuk pindah rumah.

“ Apa reaksinya jika kuperlihatkan ini padanya, ya?”batinnya, “…haruskah aku melakukannya?”

“ Melakukan apa?”

“ YA!”

Chorong terkejut karena wajah Woohyun muncul di kaca jendela tepat di sampingnya, rupanya mata lelaki itu sudah memperhatikan layar ponselnya sejak tadi.

“ Bukakan pintu untukku, sayang.”titahnya manis, Chorong memutar bola matanya dan membukakan kunci mobilnya dengan malas.

Woohyun segera berpindah dan memasuki mobil, duduk di jok depan tepat disamping Chorong dengan wajah bingung.

“ Tumben sekali kau bawa mobil. Mobil siapa ini?”

“ Mobilku. Kenapa?”

“ YA!”sekarang lelaki itu yang terkejut, karena Hakyeon muncul dari jok belakang dan bicara di dekat telinganya.

“ Dia mengantarku.”sambung Chorong, Woohyun menyembunyikan wajah tidak sukanya dan menunduk dengan sopan pada Hakyeon beberapa detik sebelum mengambil Chohyun dari lengan sang artis.

“ Dia sudah akrab denganku.”ucap Hakyeon sengaja, “…jangan salahkan aku kalau saat besar dia mengira akulah ayahnya.”

“ Haha, kupastikan itu tidak akan terjadi.”

“ Haha. Lucu sekali.”sela Chorong sarkastis, matanya kemudian melirik telapak Woohyun yang sedikit berdarah.

“ Sesuatu terjadi di rumah?”

“ Hm, Son Naeun.”

“ Aaah.. istrimu itu!?” sela Hakyeon sengaja, tak peduli dengan Chorong yang langsung memelototinya.

“ Dia kenapa? Dia melukaimu?”tanya Chorong sembari meraih tangan Woohyun dan mengambil kapas dari tasnya kemudian mulai mengobatinya dengan pelan-pelan.

“ Hm, dia melukaiku.”

“ Payah sekali. Mengapa hanya segini? Seharusnya dia langsung membunuhmu saja.”

“ Hei..”

Chorong tertawa kecil, “ Apa yang terjadi dengan Naeun? aku dengar dia berteriak. Aku jadi ragu menitipkan Chohyun di rumah kalian malam ini.”

“ Dia kehilangan sesuatu dan menuduh aku yang menyembunyikannya.”

“ Kehilangan apa?”

Woohyun mengangkat bahunya, “ Dia sampai menghancurkan kamar kami.”

“ Kamar kami? Kalian tidur bersama?” lagi-lagi Hakyeon menyela, Chorong mengambil nafas berat untuk menahan kekesalannya.

“ Tidak. Dia mabuk setiap malam, mana mungkin aku tidur dengannya.” jawab Woohyun tenang.

“ Bagaimana dengan Kim Yura? Kau pasti sempat tidur dengannya, kalian pacaran lebih lama daripada dengan Chorong, kan?”

Oppa!!” Chorong nampak tak tahan, namun Woohyun masih tetap tenang, ia tahu Hakyeon mulai ingin memisahkannya dengan Chorong sejak ia membuka jati dirinya. Ia memang kakak yang baik, sayang sekali Chorong lebih berpihak pada Woohyun.

“ Kim Yura memang sangat menggoda, tapi sayang sekali harta keluarganya lebih menggoda untukku. Jadi aku lebih fokus pada hartanya daripada tubuhnya.”jawab Woohyun santai dan tentu saja berhasil membuat Hakyeon ‘kalah’ debat.

“ Tetap saja kau pacaran dengannya.”sindir Chorong, Woohyun tertawa.

“ Dokter sepintar dirimu cemburu pada orang yang sudah mati? Yang benar saja..”

“ Sadarlah dia mati karenamu.”sela Hakyeon lagi, dan ucapannya berhasil membuat Woohyun terdiam.

“ Sudahlah, jangan ada yang menyebut namanya lagi. Oke? Sekarang bawa saja Chohyun, aku harus segera ke medical center untuk piket.”Chorong mengalihkan pembicaraan dan mengambil tas perlengkapan putranya itu untuk diserahkan pada Woohyun.

“ Kau yakin menitipkan Chohyun di rumah mereka malam ini? Bukankah Naeun sedang kacau?”tanya Hakyeon, Chorong jadi ragu kembali.

“ Apakah akan baik-baik saja?”tanya Chorong, Woohyun kembali mengangkat bahunya.

“ Tergantung, aku hanya bisa berharap Naeun menemukan sesuatu yang hilang itu. aku sama sekali tidak menyembunyikan barangnya.”

“ Apa dia kehilangan ini?” Chorong mengambil sesuatu dari tasnya, sebuah ponsel mewah, “…kurasa dia menjatuhkannya di lobi saat pingsan tadi siang, aku menemukannya.”

“ Ah.. bisa jadi!” Woohyun segera mengambilnya, “…pasti ini yang dia maksud.”

“ Hanya kehilangan ponsel sampai berteriak-teriak? Bukankah dia sangat kaya? Haha, imut sekali.”komentar Hakyeon, “…tapi saat kehilangan Myungsoo dia tidak menunjukkan reaksi apa-apa. Aneh, ya?”

“ Ah, mungkin dia sengaja ingin membuatku kesal saja.”tanggap Woohyun singkat, “…ya sudah, aku kembali sekarang. Aku tak mau kau terlambat piket, Chorong-ah.”

“ Kau tidak bisa melepaskannya dari tugas piket? Tidak seharusnya dia dikenakan piket lagi. Kudengar pihak medical center semakin memperlakukan Chorong dengan tidak baik. Kenapa kau tidak bertanggung jawab?” Hakyeon menyela lagi, kali ini dengan lebih serius.

“ Maaf, aku mengadu.”bisik Chorong, Woohyun menghela nafas pasrah.

“ Tenang, aku tidak mungkin diam saja jika sesuatu terjadi padamu.”

“ Ya sudah, pergilah. Oh ya, ini alamat tempat penitipan anaknya. Titipkan Chohyun disana besok pagi seperti yang biasa kulakukan.”Chorong mengeluarkan kartu nama dari dompetnya, “…tolong urus anak kita dulu untuk sementara.”

“ Baiklah.. baiklah.. ini memang kewajibanku.”

“ Menikahi Chorong juga kewajibanmu, ingat itu.”Hakyeon masih belum puas menyela, Woohyun mengangguk saja dan beringsut mengecup kening serta bibir Chorong bergantian.

“ Kau masih mau menunggu untuk itu, kan?”

***

 

“ Nona Son, ada titipan dari tuan Nam Woohyun.”

Naeun yang tengah terduduk lemas di atas tempat tidurnya segera bangkit ketika salah seorang pegawai rumah akhirnya membukakan pintu kamarnya.

“ Apa?”

“ Ini.”

Naeun terkejut dan segera meraih ponselnya, “ Terimakasih. Dimana dia sekarang?”

“ Di atas. Dengan bayinya.”

“ Tolong bereskan itu.”

Setelah menyuruh pegawai rumah untuk membereskan kamarnya, Naeun segera berlari kecil menuju lantai atas.

Ia merindukan putra kecil itu. Tak ada orang lain yang tahu bahwa Naeun adalah orang pertama yang mengurus Chohyun ketika ia dilahirkan. Gadis itu menolong Woohyun saat Chorong melakukan persalinan sendiri di rumahnya karena sangat tak mungkin membawanya ke rumah sakit kala itu. Beruntung Woohyun adalah dokter bedah yang hebat dan mampu menyelamatkannya, Naeun juga sangat tulus membantu mereka tanpa sepengetahuan Myungsoo, yang saat itu masih sangat dendam dan menyibukkan dirinya untuk menghancurkan pernikahan Woohyun dan Naeun.

Sayang, Chorong tak pernah menganggap jasanya dan terus membencinya hingga sekarang.

 

“ Halo, Nam Chohyun. Lama sekali tidak bertemu.”

Naeun memasuki salah satu kamar dimana Chohyun berada dan menghampiri tempat tidur dimana bayi kecil itu berbaring.

“ Apa benda itu yang kau cari?”Woohyun muncul dari belakangnya dengan sebotol susu dan selimut baru, ia nampak tidak suka melihat Naeun menghampiri anaknya.

“ Bukan.”jawab gadis itu singkat, “…ponselku memang hilang, tapi bukan itu yang aku cari.”

“ Lalu kenapa kau tenang sekarang? Apa yang sesungguhnya kau cari sudah ketemu?”

“ Sudah. Aku tahu kau menyembunyikan alkohol 100 persennya di kamar mandi.” Naeun mengangkat gelas wine di tangannya, sengaja membuat Woohyun jengkel.

“ Itu yang kau cari!? Yang benar saja.. sulit dipercaya.”

“ Tidak percaya juga tidak apa-apa.”

“ Keluar sana. Aku tidak mau anakku didekati orang mabuk.”

“ Ahh.. aku sudah tidak kuat turun ke bawah.” Naeun justru meneguk wine terakhirnya dan meletakkan gelasnya yang sudah kosong di meja, kemudian berbaring di samping Chohyun sembari mengusap rambut halus putra kecil itu.

“…tidurlah..cepatlah besar.. biar kau tahu betapa brengseknya ayahmu ituu.. hahaha.”

“ Sialan.”Woohyun tak bisa berbuat apa-apa lagi jika Naeun sudah mabuk seperti ini, “…Son Naeun, kemarilah.. aku antar ke b—“

“ Myungsoo.. lihat.. bayi kita.. lucu kan? Kalau dia sudah besar.. kau harus mengantarnya ke sekolah setiap hari, itu.. tidak akan mengganggu pekerjaanmu, kan? Aku tidak bisa mengantarnya.. aku harus bekerja di rumah sakit dari pagi. Hiks..”

Airmata Naeun mulai mengalir tak terkendali, Woohyun masih membiarkannya mabuk sepuasnya.

“ Menyedihkan. Apa Myungsoo tak pernah menyentuhmu sama sekali?”

“…”

Naeun sontak berhenti menangis, bibirnya tersenyum tipis.

 

“ Dia menyia-nyiakan aku begitu saja. Tapi aku suka caranya menyia-nyiakan aku.”

***

 

Kilas balik, 5 bulan yang lalu.

 

“ Bahkan jika kau sudah menikah, bersenang-senanglah denganku saja. Bukankah aku pelarianmu satu-satunya?”

Naeun merapatkan dirinya pada tubuh hangat Myungsoo yang berbaring di sampingnya, jemarinya mengusap pipi lembut lelaki itu. Ia sudah terlalu sering mendengar kalimat itu, namun ia tak pernah merasa bosan.

“ Apakah ‘bersenang-senang’ itu akan naik ke taraf berikutnya bahkan setelah aku menikah?”

“ Kau membicarakan seks?”

“ Kau tidak mau Nam Woohyun menyentuhku duluan, kan?”

“ Ia tidak akan menyentuhmu.”

“ Mengapa kau bisa bilang begitu?”

“ Karena dia tidak menyentuh Kim Yura. Obsesinya hanya Park Chorong. Dia memang bajingan, tapi dia laki-laki yang setia.”

“ Kau memuji Woohyun?”

“ Hah, kau yang membuatku terpaksa mengucapkan itu.”

“ Makanya jawab pertanyaanku.”

Myungsoo ikut memindahkan tangannya ke pipi Naeun, mengelusnya sejenak kemudian mendekat dan mulai menciumi wajah kekasihnya itu berulang kali. Naeun merasa sesuatu yang baru akan datang pada dirinya dan Myungsoo tidak mengatakan itu secara verbal, lelaki itu langsung menjawab pertanyaannya dengan tindakan yang memabukkan.

Dan gadis itu terlena, tangannya mulai sibuk melucuti pakaiannya sendiri, dengan tak sabaran ia melempar kemeja dan rok kerja yang dikenakannya untuk bergabung dengan jas dokter yang sudah sejak tadi ia biarkan tergeletak di lantai. Hari hujan yang dingin di musim semi saat itu tak membuatnya takut merasa dingin meski kini ia membiarkan dirinya hanya dengan satu stel pakaian dalam berwarna favorit kekasihnya. Ia bahkan mulai tak sabar, tubuhnya bergerak gelisah, meminta agar Myungsoo menjelajahi bagian tubuhnya yang lain.

“ Kau lebih indah dari yang kubayangkan.”lelaki itu berbisik seduktif di telinganya, membuatnya semakin ditelan hasrat yang menggila. Ia bahkan tak peduli jika Myungsoo menganggapnya seperti pelacur malam ini.

Ia hanya menginginkan lelaki itu benar-benar bersatu dengannya. Dan itu bukan keinginan yang keliru, ini sudah lebih dari tujuh tahun sejak mereka memutuskan untuk menjadi sepasang kekasih. Terlebih, hari pernikahannya dengan Nam Woohyun semakin dekat, ia ingin masa lajangnya yang akan segera berakhir memiliki sedikit memori erotis dengan satu-satunya lelaki yang ia cintai.

“ Jadi, aku bisa menginap di studiomu malam ini, kan?”

Myungsoo tersenyum kecil dan memeluknya, tangannya meraih selimut tebal di bawah kaki mereka dan menutup tubuh setengah telanjang gadis di sampingnya.

“ Tentu saja tidak, pulanglah saat hujan berhenti.”

“ Ah.. mengapa kau tega sekali?” Naeun merengek dan menendang selimutnya, “…aku ingin bangun di sampingmu, memberimu ciuman selamat pagi, dan membuatkanmu sarapan.”

“ Dan aku ingin mandi bersama denganmu setelah itu.”sambung Myungsoo, “…tapi akankah itu menyenangkan jika di kepalaku masih ada dendam? Aku benar-benar belum bisa bersenang-senang sekarang.”

Naeun menghela nafas kesal dan sedikit menjauh, mata indahnya mulai berair.

“ Jadi kau menolakku?”

“ Aku masih normal, nona Son. Aku akan menghabisimu setelah dendamku selesai.”

“ Hanya itu alasanmu menundanya?”

Myungsoo tertawa geli melihat Naeun yang merajuk di sampingnya, lelaki itupun duduk sejenak dan melepas kaosnya, membiarkan dirinya bertelanjang dada meski udara sedang sangat dingin.

“ Kemarilah, sentuh aku kalau kau mau. Tapi jangan terlalu parah, kalau aku kehilangan akal, kita berdua bisa mati.”

Naeun menoleh, wajahnya tersipu menatap Myungsoo yang begitu menggoda di depan matanya, namun ia masih tak mengerti apa maksud kekasihnya itu.

“ Jadi, apa alasanmu?” tanya gadis itu sembari menaati perintah Myungsoo dan menempatkan tubuh rampingnya di atas tubuh kokoh lelaki itu. Bukan, bukan karena ia patuh, namun karena ia memang haus akan sensasinya.

“ Kau putri tunggal keluarga dokter Son, kau ingat itu kan?”

“ Ya, lalu?”Naeun masih mendengarkannya meski bibirnya sibuk mengecupi dada bidang Myungsoo, menikmati wangi parfum kesukaannya disana.

“ Apa reaksi keluargamu jika mereka tahu kau sudah pernah bersentuhan dengan lelaki lain sebelum menikah dengan Nam Woohyun? Kau seorang putri tunggal dengan pengawasan ketat, hanya selama bersama denganku saja kau lupa dengan fakta itu.”

“ Aku tidak akan membuat mereka tahu, jadi jangan khawa—“

“ Tentu saja mereka akan tahu. Karena aku tak ingin hanya sekedar bercinta denganmu. Saat kita sepakat untuk melakukannya, kau harus hamil di tanganku, itu yang aku inginkan.”

“ Myungsoo—“

“ Karena aku juga tidak mau pakai kondom, haha.”

“ Kau serius, huh?”

“ Aku serius, sayang.”

Naeun masih tak ingin memisahkan dirinya dari tubuh Myungsoo meski pembicaraan mereka tak lagi ringan.

“ Oke, katakanlah sekarang kau menghamiliku. Bukankah itu bisa menjadi alasan untukku batal menikah dengan Woohyun? Ini cara yang lebih praktis daripada kau harus membunuh saudara kembarmu di hari pernikahanku.”

“ Haha! Kau masih saja naif, kukira setelah mengenal aku kau sudah tidak berpikir sepolos itu.” Myungsoo mencubit pipinya dengan gemas.

“ Ada yang salah?”

“ Pikirkanlah, Naeunku. Aku baru saja menekankan bahwa kau adalah putri tunggal keluarga dokter Son. Apa kau pikir dengan hamil saja keluargamu akan menunda pernikahanmu? Tentu saja tidak. Kau putri mereka satu-satunya, yang mereka lakukan pertama-tama sudah pasti memburu dan membunuhku, dan The King tidak mungkin menghalangi itu karena mereka juga sudah membenciku. Kemudian apa? Mereka tetap akan menikahkanmu dengan Nam Woohyun, mereka akan menyuruh Woohyun menganggap siapa yang ada dikandunganmu adalah anaknya. Woohyun pasti tak akan keberatan dengan itu karena ia sama sekali tidak memperdulikan apalagi mencintaimu. Itu hanya akan membuatmu semakin menderita.”

Masuk akal. Tapi Naeun benar-benar ingin membantahnya.

“ Bagaimana jika ternyata mereka tidak punya pilihan lain dan menikahkan kita berdua? Bukankah masih dianggap pernikahan bisnis juga?”

“ Kau percaya dengan happy ending di film-film, huh?” Myungsoo justru menertawakannya, “…The King tidak mungkin menikahkan aku denganmu, aku bukan dokter. The King perlu dokter seperti Nam Woohyun agar mereka bisa mengendalikan medical center dengan mudah.”

“ Lalu apakah dengan idemu membunuh Kim Yura akan membuat kita bisa bersatu?”

“ Kematian Yura bisa membuat The King terpukul sekaligus menjadi pembuka kejahatan Woohyun. Itu bisa menjadi kesempatan bagiku untuk diakui lagi sebagai putra The King. Jika aku sudah meraih posisi itu, aku bisa menikahimu dengan mudah. Keluargamu tidak mungkin menolak seorang putra The King, kan? Ini juga mencegah agar keluargaku tidak bisa mengendalikan medical center keluargamu dengan mudah, karena aku sama sekali tidak tertarik dengan kekayaanmu, aku hanya ingin memilikimu saja.” Myungsoo menjelaskannya dengan pelan agar Naeun tak lagi keras kepala, “…yang perlu kupastikan hanyalah, aku harus membunuh Yura sebelum kau dan Woohyun mengucapkan janji suci pernikahan. Kabar kematian Yura pun harus sudah sampai ke gereja sebelum itu.”

“ Myungsoo.. apakah kau yakin—“

“ Fokuslah untuk menghancurkan Nam Woohyun, bukan diri kita sendiri. Bersabarlah, sudah kubilang aku masih normal, aku akan menghabisimu setelah dendamku selesai.”

Naeun mengangguk lemah dan memeluk tubuh Myungsoo erat, membenamkan wajah cantiknya di bahu telanjang lelaki itu.

“ Aku akan membunuhmu jika rencana ini tidak berhasil.”

Myungsoo ikut melingkarkan lengan kuatnya di pinggang kecil Naeun, memeluk gadis itu dengan lebih erat.

 

“ Percaya saja pada ‘DarkAngel’, oke?”

 

-flashback ends-

***

 

“ Hah.. sial, emailku benar-benar tidak dibalas lagi. Aku harus jelaskan padanya besok bahwa aku tidak bermaksud apa-apa.”

Myungsoo menutup tab emailnya dengan Chorong dan merasa malu sendiri. Kini ia mengarahkan mouse komputernya untuk membuka situs bunuh diri yang masih asyik ia telusuri. Hanya di forum itu ia bisa berinteraksi dengan orang lain dan tidak merasa kesepian. Meski ia berbicara dengan orang-orang yang sudah putus asa menjalani hidup mereka dan memutuskan untuk bunuh diri.

 

Kim_Myungsoo : Hello there! Sepi sekali. Kalian belum mati, kan? Mari lanjutkan obrolan tadi siang.

 

Entah apa yang dilakukannya, ia hanya kesepian.

 

Sungwonapplecandy : Myungsoo hyung~!

Sungwonapplecandy : kenapa kau selalu muncul tengah malam?

Sungwonapplecandy : Tapi baguslah, aku sedang kesepian.

Kim_Myungsoo : aku juga. Dimana yang lain? Mereka belum mati kan?

 

Ting!

Myungsoo menerima pesan baru di akun pribadinya. Dan sesaat setelah membukanya, jantung lelaki itu berdebar keras karena ketakutan.

 

From : DarkAngel

To : Kim_Myungsoo

KAU KESEPIAN? PADAHAL KAU BISA BALAS INI AGAR TIDAK KESEPIAN.

 

From : DarkAngel

To : Kim_Myungsoo

BALAS. AYO BALAS. KAU TAK AKAN KESEPIAN.

 

“ Tidak.. konyol sekali kalau aku takut dengan orang gila ini..”

Myungsoo mempersiapkan jemarinya dan mulai mengetik balasan dengan berapi-api.

 

SETAN SIALAN. BERHENTI MENGGANGGUKU.

 

“ Ah, tidak..” Myungsoo menghapusnya, “…jangan ini.”

 

LEBIH BAIK AKU KESEPIAN DARIPADA BICARA DENGANMU.

 

“ Tidak.. tidak juga.”

 

BERHENTI MENGGANGGUKU! SHIT!

 

“ Jangan, terlalu kasar.”

 

AKU MEMBALASNYA. SENANG?

 

Enter. Sent.

 

Ting!

Pesan itu dibalas kembali dalam hitungan detik, dan Myungsoo merasa bodoh karena jantungnya masih saja berdebar ketakutan.

 

From : DarkAngel

To : Kim_Myungsoo

Aku belum senang kalau kita belum bertemu 🙂

 

“ Aku menyesal membalasnya.”Myungsoo tak mau menghiraukannya lagi karena tak ingin mendapat jawaban yang lebih mengerikan nantinya, ia memilih kembali pada forumnya.

 

Yesterday_a : Aku disini. Tetap dalam kehampaan. Aku masih belum membunuh diriku karena kupikir aku masih bisa bicara dengan kalian, hehe.

Lmao_r : Same here. Aku masih menikmati self-mutilating.

XXX_Lee03 : Kukira setelah membuat forum ini, aku bisa segera mati bersama kalian. Tp aku masih ingin berbincang2 disini sampai bosan.

Sgyu89 : Aku tidak tahan lg berada di medical center dengan kaki di gips. Untung saja dokter piketnya malam ini sangat cantik, jadi aku batal bunuh diri.

Manonfire_4 : Sejak kemarin itu saja alasanmu, lol

Sgyu89 : Hei, aku serius. Aku suka dengan dokternya!

6969 : Dokter Son Naeun bukan?

Lmao_r : Ahh dokter cantik itu T.T

Sgyu89 : Bukan, Son Naeun itu dokter jiwa. Dia juga sedang sangat populer, seisi medical center membicarakannya.

Manonfire_4 : Sebelum bunuh diri, konsultasi dengan dia boleh juga :3

EjJung_K93 : dia di klinik VVIP, gaji kalian setahun pun tdk akan cukup membayar biaya konsultasi dengannya.

OHaesook96 : dia sudah menikah. Berhenti bermimpi.

Kim_Myungsoo : Haha, sedang membicarakan siapa?

XXX_Lee03 : Kau tidak tahu dokter jiwa yg sedang terkenal itu?

Kim_Myungsoo : Aku bahkan tidak tahu siapa Ken FIX itu, hehe

Sungwonapplecandy : heol~ kau hidup di dimensi mana, Myungsoo hyung?

Kim_Myungsoo : sepertinya aku ketinggalan banyak berita. Hahaha

Sgyu89 : sudah terlalu banyak yg menyukai Son Naeun. aku pilih dokter bedah ortopedi yg sedang piket di tempatku saja, lagipula dia belum menikah :3

Manonfire_4 : kenalkan padaku, jadi aku punya alasan menjengukmu ke medical center!

Sgyu89 : cari sj fotonya di website medical center. Namanya dokter Park Chorong.

6969 : sudah kucari. Dia cantik!!

Yesterday_a : aku jg mencari, haha. Profilnya menakjubkan.

 

“ Woah, jadi dia sedang piket sekarang?” Myungsoo tertawa kecil, “…apa aku bilang saja ke mereka bahwa dia juga dokter pribadiku? Aku penasaran reaksi Sgyu89..”

Ting!

Myungsoo batal mengetik ketika satu pesan masuk lagi ke akunnya, ia terpaksa membukanya karena penasaran.

 

From : DarkAngel

To : Kim_Myungsoo

KENAPA TIDAK MEMBALASNYA LAGI!? KENAPA!?

 

“ Jadi sekarang dia tidak muncul di grup dan hanya menguntitku saja? Sial.” Myungsoo menulis balasan lagi dengan sabar.

 

APA MAUMU!?

 

Ting!

Seperti biasa, dibalas dengan secepat kilat.

 

From : DarkAngel

To : Kim_Myungsoo

KIM MYUNGSOO. AKU MAU KIM MYUNGSOO.

***

 

“ Chorong-ah, keluarlah. Aku masih menunggumu disini.”

 

“ Hah, yang benar saja..” Chorong menatap jam digital yang menyala di atas pintu ruang unit gawat darurat tempatnya berada saat ini, sudah menunjukkan pukul 2 dinihari. Ia takjub karena Hakyeon benar-benar menungguinya hingga ia menganggur di gedung parkir medical center.

“…tolong urus sisanya. Ia sudah baik-baik saja dan tinggal dipindahkan ke ruang rawat inap nanti pagi.”Chorong meminta para perawat untuk mengurus pasien bunuh diri yang baru saja ia tangani, kemudian melangkah keluar untuk menemui kakak angkatnya itu, berjalan sendirian menuju gedung parkir medical center.

Sepi. Rumah sakit mewah itu benar-benar telah sunyi. Chorong memperlambat langkahnya untuk sekedar menikmati arsitektur tempat bekerja impiannya itu.

Son’s Medical Center bagaikan bangunan tanpa ujung. Banyak juga yang menyebut tempat ini adalah kota yang beratap. Karena memang, tempat ini tak hanya sekedar rumah sakit dengan ratusan klinik yang dibagi sesuai ‘kasta’ pasien, namun juga memiliki asrama dokter, museum, bahkan pusat perbelanjaan dan taman bermain di dalamnya. Keluarga dokter Son membangun tempat ini secara bertahap dan turun temurun, tak heran jika mereka dianggap sebagai keluarga dokter paling terhormat di negaranya.

Sebagai rumah sakit terbesar dan termewah di Asia, tentu banyak dokter bermimpi untuk bekerja di tempat ini, tak terkecuali Chorong, yang tak menyerah untuk mendaftar meski berkali-kali kecerdasannya tak diakui oleh keluarga dokter Son. Maka itu ia sama sekali tak rela jika Woohyun berniat memindahkannya ke tempat lain hanya karena ia menjadi buah bibir di tempat ini. Meski kini orang-orang yang berada di tempat ini tak bersahabat dengannya, Chorong akan tetap bertahan. Bukan hanya karena tempat ini adalah mimpinya, namun ia juga menunggu hari dimana Woohyun berhasil menguasai tempat ini dan membawanya untuk ikut menikmati kekuasaan itu, sesuai janji yang selalu dijualnya.

Chorong yakin ia tidak naif, ia murni percaya Woohyun mampu melakukannya. Dengan kecerdasannnya, dengan kelicikannya.

“ Bahkan jika kau gagal menguasai tempat ini, kau akan tetap hidup kaya denganku, Nam Woohyun.”

Gadis itu tersenyum tipis sembari menatap layar ponselnya, memeriksa jumlah penghasilan yang diterimanya sebagai keuntungan situsnya dengan Hakyeon hari ini.

 

Killyourself.com

For : Administrator

Akun terdaftar hari ini : 137.473 reguler | 1522 VIP

Aktivitas web : 9 juta++ | Aktivitas Layanan VIP : 1 juta++

Total keuntungan hari ini : 700,000.00 USD

***

 

“ Tujuh ratus ribu dolar? Itu lebih kecil dari yang kemarin.”

“ Ya, tidak sampai 1 miliar. Hanya sekitar 800 juta won.”

Hakyeon tertawa sembari tetap serius mengemudikan mobilnya di atas jalan raya yang sepi dinihari itu, “ Ah… aku merasa sombong mengatakan itu jumlah yang kecil.”

Chorong menggelengkan kepalanya, “ Sampai kapan kita menimbun uang sebanyak ini? Aku bahkan masih tinggal di kontrakan yang sempit. Kita benar-benar kaya tapi aku tidak bisa merasakannya.”

“ Tergantung nasib macam apa yang akan kita hadapi nanti. Aku sudah berencana menikmati uang itu setelah kontrakku dengan agensi selesai 5 tahun lagi, aku tidak akan memperpanjangnya lagi. Aku sudah terlalu lelah menjadi idol.

“ Aku mungkin..”

“ Menunggu sampai Woohyun menikahimu?”potong Hakyeon dengan nada mengejek.

“ Ah, sudahlah. Sebenarnya kau mau membawaku kemana sekarang? Ketua Tim bisa membantaiku jika dia tahu aku meninggalkan piket.”

“ Haha, mana mungkin Howon tega membantaimu.”

“ Dia benar-benar membenciku sekarang.”

“ Oh ya? Sayang sekali, padahal aku setuju jika kau menikah dengannya saja.”

“ Sudahlah. Jadi sebenarnya kita mau kemana?”

“ Ke kantor.”

“ Kantor?”

“ Ah.. kusebut apa, ya? Kantor? Markas? Lihat saja sendiri.”

Hakyeon membawa mobilnya menuju salah satu gedung tua bekas pabrik tekstil yang letaknya ternyata berada di tengah kota Seoul.

“ Kantor situs kita? Apa kau gila menempatkannya di tempat seramai ini?! Ini sangat mudah ditemu—“

Chorong membisu karena rupanya Hakyeon membawanya masuk ke dalam ruang bawah tanah, jauh di belakang gedung itu. ia kira tempatnya akan mengerikan, namun ia tercengang menatap satu ruangan berukuran sedang yang cukup terang, lampu di dalamnya bahkan menerangi lantai bawah tanah yang gelap gulita.

“ Kau membangun tempat ini sendirian? Bekerja disini sendirian!?” Chorong mulai mengoceh saat turun dari mobil dan berjalan menuju ruangan itu karena ia benar-benar terkejut, ia memang menyerahkan hampir delapan puluh persen pengurusan situs pada Hakyeon karena ia begitu sibuk dengan pekerjaannya sebagai dokter, lagipula ia juga bukan ahli komputer seperti kakak angkatnya itu.

“ Tentu saja tidak. Aku selalu takut sendirian. Apalagi di tempat seperti ini. Jadi..”

“ Jadi?”

“ Aku harus punya pegawai.”

“ Pegawai!? Kita punya pegawai!?”

Hakyeon mengangguk, Chorong semakin tak sabaran ketika ia memasuki ruangan yang dipenuhi dengan perangkat komputer itu. beberapa anak muda sedang sibuk di depan komputer mereka masing-masing.

“ Halo teman-teman.. kukira kalian semua sudah tidur. Kerja bagus!”

Para anak muda itu berdiri dan segera berkumpul di depan Hakyeon dan Chorong, mereka bahkan memberi hormat dengan sopan. Chorong tersenyum canggung.

“ Hanya lima orang. Tidak banyak, kan?”bisik Hakyeon, Chorong masih diam, matanya tak lepas dari para ‘pegawai’nya hingga ia menyadari sesuatu.

“ Kenapa lebih banyak perempuan? Hanya ada satu laki-laki.”sahut sang dokter, Hakyeon tertawa ringan.

“ Nanti kau tahu.”

Oppa, apa ini dokter Park Chorong?”salah satu dari mereka bertanya, Hakyeon mengangguk cepat.

“ Ya. Ini dokter Park Chorong, adik angkatku sekaligus spesialis bedah ortopedi yang sering kuceritakan pada kalian, dia juga sempat mengurus FIX selama tiga tahun sebelum bekerja di medical center. Aku baru bisa memperkenalkannya pada kalian karena dia sangat sibuk, saat ini saja dia bahkan sedang piket di medical center. Lihat? Dia masih memakai jas dokternya.” Hakyeon memperkenalkan Chorong pada pegawainya, Chorong membungkukkan badannya dengan ramah karena tentu mulai saat ini ia akan mulai bekerja sama dengan lima anak muda yang entah-Hakyeon-temukan-dimana itu.

“ Halo semuanya.”

“ Wah.. kami dengar kau adalah dokter terhebat di Korea.”

“ Haha, itu berlebihan. Bagaimana dengan kalian?”

“ Kami semua.. adalah fans Hakyeon oppa.

“ Fans?” Chorong tak percaya dan melirik Hakyeon, “…pantas saja lebih banyak perempuannya.”

“ Tapi aku tidak memilih mereka sembarangan, sungguh.”sela Hakyeon, “…mereka semua ahli di bidang cyber. Dan pekerjaan mereka sebelumnya hanyalah fans yang menyedihkan, jadi lebih baik mereka kurekrut kesini.”

“ Kenapa harus fansmu?”

“ Karena aku mempercayai mereka lebih dari siapapun. Cinta seorang fans pada idolanya benar-benar tulus dan murni, aku tidak perlu khawatir mereka akan mengkhianatiku, mereka pasti melakukan pekerjaan terbaiknya untukku.”

“ Hakyeon oppa benar!” mereka menimpali, “…apalagi kami juga digaji disini.”

Chorong mengangguk mengerti, ia tak menyangka Hakyeon bisa terpikir untuk memanfaatkan penggemarnya sendiri.

“ Nah, kenalkan.. ini Jiyeon dan Yerin, mereka mengurus segala sesuatu yang berhubungan dengan akun VIP, mulai dari pembelian akun sampai pemesanan paket kematian. Kalau ini Yoojoo dan Jungyeon, mereka yang bertugas mengendalikan aktivitas web khususnya pada pengguna akun reguler yang sangat banyak, berkat mereka situs kita tidak pernah down lagi sebanyak apapun orang yang mengaksesnya, mereka juga yang setiap hari mengkategorisasikan pengguna yang sudah mati atau masih hidup.”

“ Wah.. kerja bagus.”

“ Terakhir, Sungjong, dia satu-satunya laki-laki disini dan menjadi ketua Tim, ia khusus bertugas dalam pengembangan web. Sekarang dia sedang ingin memasukkan fitur live untuk setiap akun bahkan forum di situs kita. Bukankah akan sangat menarik jika orang-orang bunuh diri secara live?”

“ Itu benar-benar akan menjadi bukti utama yang diambil oleh polisi.”

“ Disitulah letak menariknya.”

“ Aku tidak tahu kau sudah berbuat sejauh ini untuk situs kita. Aku sedikit malu karena pekerjaanku hanyalah memantau situs itu.”

“ Pekerjaanmu sebagai administrator utama cukup berat, kau menjadi satu-satunya dari kita yang bisa berinteraksi dengan pengguna jika mereka punya complain dan sebagainya. Hal itu otomatis membuatmu harus berdiri paling depan saat orang-orang seperti polisi atau petugas pemerintahan mencari tahu siapa orang dibalik situs bunuh diri ini. Karena hanya akun adminmu yang tertera di situs kita, walaupun anonim.”

“ Dan aku bisa menebak apa tugasmu.”

“ Oh ya?”

“ Melindungi aku dari orang-orang yang mencari tahu itu, bukan?”

“ Ya. Dan mengatasi segala error yang ada.”

Chorong tersenyum bangga, “ Mari kita bekerjasama dengan baik.”

“ Pastikan kau bersahabat dengan mereka.”

“ Haha, tentu saja. Bagaimana denganmu? Salah satu dari mereka pasti sudah ada yang menjadi pacarmu.”

“ Woah, bagaimana kau tahu?”

“ Jadi benar!?”

Kelima anggota tim di depan Hakyeon dan Chorong tertawa, “ Ya, salah satu dari kami sudah beruntung menjadi kekasih Hakyeon oppa.”

“ Siapa? Jiyeon? Yoojoo? Yerin? Jungyeon?”

“ Sungjong!”

“ APA!?”

“ Nanti kujelaskan.”bisik Hakyeon, karena Chorong langsung nampak syok.

“…oke.. oke.. daripada membahas hal itu, ada satu hal yang lebih penting, yaitu alasanku datang kesini. Jadi tolong dengarkan.”

Hakyeon meminta timnya untuk semakin merapat karena ia ingin menyampaikan sesuatu yang penting, yang Chorong pun belum tahu.

“ Kau ingin menjelaskan masalah yang sedang kau alami?”bisik Chorong, Hakyeon mengangguk saja.

“ Jadi, begini, teman-teman. Kalian tahu kan bahwa Ken sudah keluar dari unit kejiwaan medical center? Aku adalah orang yang paling banyak berada di sampingnya selama masa-masa sulitnya menghadapi kenyataan bahwa Kim Yura, gadis yang dia cintai serta Kim Myungsoo, atau fotografer L, sahabatnya sejak kecil menghilang darinya. Dan keluarnya Ken hari ini dari medical center bukanlah pertanda bahwa ia telah sembuh, seperti yang dianggap oleh penggemar lain di luar sana.”jelas Hakyeon.

Ia melanjutkan, “…Ken keluar dari medical center karena ia menyerah dengan semua terapi yang diberikan dokter Son Naeun. Ia masih sangat depresi, dan satu-satunya alasan dibalik itu adalah keyakinannya bahwa akun DarkAngel bukanlah akun milik Yura. Ken punya keyakinan penuh bahwa Yura tidak bunuh diri, melainkan dibunuh.”

“ Dan dia menuduh Woohyun sebagai pembunuhnya?”tanya Chorong.

“ Ya. Jika aku jadi Ken, tentu saja aku juga menuduh Woohyun, tapi masalahnya, sama sekali tak ada bukti atas tuduhan itu, itulah yang membuat Ken depresi, karena ia tidak bisa membuktikannya. Jadi dia memintaku untuk menyelidiki siapa yang ada di balik akun DarkAngel itu, meski temuan polisi jelas-jelas menunjukkan bahwa itu adalah milik Kim Yura.”

“ Ah.. DarkAngel itu.” para anggota langsung menangkap apa yang dimaksud Hakyeon.

“ Bukankah jelas-jelas itu milik Kim Yura? Akun itu terregistrasi di ponselnya, dan ponsel itu ada di TKP. Jelas sekali Kim Yura menulis status dulu sebelum menikam dadanya dengan pisau dan mati mengambang di kolam renang.”ucap Yerin.

“ Aih.. tidak usah se-detail itu, aku jadi merinding.”Jungyeon menggosok pergelangan tangannya yang mendadak meremang.

Chorong masih menutup mulutnya. Mendengar nama Yura hanya mengingatkannya pada kejahatan Woohyun yang memanfaatkan saudara kembar Myungsoo itu selama bertahun-tahun sebagai jembatan hingga ia bisa menjadi putra angkat The King. Jika memang Yura mati karena Woohyun terlalu menyakitinya, Chorong sama sekali tidak heran. Tapi jika Woohyun yang dituduh membunuhnya, Chorong masih sulit menerima hal itu, ia tahu bahwa membunuh bukan cara Woohyun menyingkirkan orang yang sudah tidak berguna baginya.

“ Kenyataannya memang begitu. Sangat jelas bahwa itu bunuh diri. Tapi Ken tidak mau menerima fakta itu.”

“ Apa karena dulu Yura adalah duta anti bunuh diri? Dia bahkan berhasil membuat banyak mahasiswa dan pelajar yang stress batal bunuh diri di masa-masa kejayaannya sebagai mahasiswa populer.”ucap Sungjong.

“ Ya, bahkan aku berpikir jika Kim Yura masih hidup, dia pasti menentang situs kita habis-habisan. Bukan menjadi salah satu penggunanya dan bunuh diri begitu saja.”tambah Yoojoo.

“ Apa Ken tahu kau adalah orang dibalik situs ini? Mengapa dia memintamu untuk mencari tahu siapa DarkAngel?”tanya Chorong khawatir, Hakyeon buru-buru menggeleng.

“ Tidak. Yang Ken tahu aku adalah hyung lulusan seni komputer, itu saja. Makanya dia mengandalkanku untuk menyelidikinya. Dia tak hanya sekedar minta tolong, dia juga mengancam jika aku tidak mendapatkan jawabannya, dia akan membuka mulut di hadapan publik tentang fotografer L, atau Kim Myungsoo, yang sesungguhnya merupakan saudara kembar fraternal Kim Yura dan putra kandung The King. Sampai sekarang Ken juga masih terpukul karena sampai mati, sahabatnya itu tidak memperoleh pengakuan sebagai bagian dari The King. Yang lebih membuatnya terpukul lagi, ia tak tahu dimana Myungsoo dikuburkan. Kabar kematiannya sangat singkat dan sulit dipercaya. Aku sampai berpikir apakah The King membuang Myungsoo ke laut begitu saja.”

Chorong membisu lagi, ia memang sama sekali tak memberitahu Hakyeon bahwa sesungguhnya Myungsoo masih hidup dan diselamatkan olehnya dan Woohyun di UGD saat putra The King itu dilarikan ke medical center. ia takut untuk menceritakan hal itu karena ia sudah menandatangani perjanjian tutup mulut dengan The King.

Hakyeon melanjutkan penjelasannya.

“…jadi, intinya, aku punya tugas untuk mencari tahu siapa DarkAngel itu. Aku memperoleh informasi yang sangat sedikit dari kepolisian karena mereka juga menganggap kasus Kim Yura adalah murni bunuh diri seperti pengguna situs kita yang lain, hanya saja berita kasus ini sempat booming karena yang meninggal adalah putri dari The King, yang juga pernah terlibat skandal dengan Ken. Meski media sangat haus berita tentang fakta kematiannya, polisi tidak mau menyelidiki lebih lanjut karena sudah jelas itu bunuh diri. Perihal motif dan lain-lain, polisi tidak menyelidikinya karena The King tak ingin masalah keluarga mereka diketahui publik. So, apakah kalian bisa membantuku? Ah.. bukan, bukan membantuku, tapi.. membantu Ken. Aku sangat ingin dia sembuh, mungkin jika ia diperlihatkan bukti yang nyata, perlahan-lahan ia bisa menerima kenyataan.”

“ Kita buktikan saja bahwa akun itu terregistrasi di ponsel Kim Yura. Selesai.”sahut Jiyeon.

“ Mari fokus dengan mencari tahu siapa DarkAngel itu sesungguhnya, anggap bahwa kita tidak tahu siapa dia. Jika semua temuan kita mengarah pada Kim Yura, maka kenyataan bahwa dia memang bunuh diri baru kita anggap sah.” saran Chorong, meski sesungguhnya ia sangat tak ingin berurusan lagi dengan kasus ini. Namun ia juga penasaran apakah Woohyun patut dicurigai, ia ingin membuktikan bahwa Woohyun bukan pembunuhnya.

“ Dokter Park benar, aku setuju.”ucap Sungjong, dibarengi anggukan yang lain.

“ Jangan terlalu terbebani dengan hal ini, aku akan melakukan pencarian sendiri, jika aku memerlukan bantuan kalian, baru aku akan menghubungi markas. Tetaplah fokus pada tugas utama kalian.”pesan Hakyeon.

“ Apakah ada yang perlu kami bantu sekarang?”

“ Ya. Ada, untuk Yoojoo dan Jungyeon. Besok, aku ingin kalian mencatat aktivitas web dengan keyword DarkAngel, apapun itu. yang lain, kalian bisa fokus pada pekerjaan utama kalian dulu. Sekarang, kalian boleh tidur.”

Copy that, sir!” para anggota segera bubar dan merenggangkan otot-otot mereka yang pegal setelah seharian bekerja di hadapan komputer. Hakyeon tersenyum dan menoleh pada Chorong yang masih berada di sampingnya.

“ Kuantar kau ke medical center lagi. Ayo.”

“…”

“ Chorong-ah.”

“ Ah! Iya!” Chorong yang melamun sejak tadi langsung tersadar dan mengikuti Hakyeon untuk kembali ke mobil. Ia sengaja berjalan di belakang kakak angkatnya itu, matanya kembali menatap layar ponselnya karena sebuah email baru masuk lagi untuknya meski sudah dinihari.

 

From : Kim Myungsoo

To : dr. Park Chorong

 

Maaf. Maaf sekali jika aku mengganggumu lagi. Aku memang seorang cacat dan amnesia yang tidak berguna dan tak tahu lagi harus meminta pertolongan siapa untuk memberiku ingatan.

Aku tahu kau sedang piket malam, jadi aku yakin kau membuka emailku ini. Aku mohon jawab pertanyaanku yang satu ini, aku sangat membutuhkan jawabannya.

Apa kau tahu sesuatu tentang DarkAngel?

******

 

“ Kenapa tiba-tiba bertanya tentang itu?”

Pukul 6 pagi itu Chorong sudah berada di apartemen kecil Myungsoo, ia datang sangat tepat waktu dan bahkan membawakan infus untuk pasien rumahannya tersebut.

“ Kenapa kau menginfusku?”tanya Myungsoo kikuk, ia masih merasa sangat malu karena telah ‘mengebom’ email pada dokter barunya itu kemarin.

“ Kau pasti begadang semalaman sampai-sampai mengirimiku email jam 3 pagi. Dengan kondisi seperti ini kau belum boleh begadang, atau kau akan cepat runtuh. Aku memberimu infus agar kau bisa segar kembali.”

“ Maaf.”

“ Tentang?”

“ Email-email kemarin. Kau pasti sangat terganggu.”

“ Kau belum menjawab pertanyaanku. Kenapa tiba-tiba bertanya tentang itu?”

“ DarkAngel?”

“ Ya. Ada apa?”

“ Aku..ah, sebentar. Apa kau tahu sesuatu tentang DarkAngel itu?”

“ Jawab dulu pertanyaanku, Kim Myungsoo. Kenapa kau bertanya tentang hal itu?”

Myungsoo menggeleng, takut. Pesan-pesan yang ia terima dari akun DarkAngel itu membuatnya merasa seperti sedang diteror. Ia mulai overthinking bahwa sesuatu bisa saja terjadi padanya jika ia berani menceritakan masalahnya pada orang lain.

“ Dokter Park.”

“ Ya?”

“ Lupakan saja tentang DarkAngel itu, lupakan saja.”

“ Kenapa aku harus melupakannya?”

“ Itu.. tidak penting.”

“ Kau yakin?”

“ Ya.”

Chorong justru semakin penasaran. Ia berfirasat Myungsoo menemukan sesuatu. Jika lelaki itu memilih untuk tutup mulut seperti ini, terpaksa ia mencari tahu sendiri nantinya.

“…tapi, bisakah kau menjawab pertanyaan lain di emailku yang kemarin?” tanya Myungsoo hati-hati, “…aku sangat malu, tapi aku sangat berharap kau mau menjawabnya.”

“ Baiklah.. kita lihat apa pertanyaanmu kemarin..” Chorong mengangguk mengerti, ia pun mengeluarkan ponselnya dan membuka emailnya.

“…Aku lebih ingin mengetahui semua yang kulupakan.. yang itu?”

“ Ya.”

“ Apa yang ingin kau ketahui?”

Myungsoo berpikir sejenak.

“ Hmm.. sederhana saja dulu, kapan dan dimana kita bertemu di masa lalu?”

Chorong menghela nafas, ia paling tak suka mengingat masa lalunya dengan Myungsoo karena masa-masa tersebut hanya diwarnai kegilaan lelaki itu padanya.

“ Kau tahu, Myungsoo-ssi. Dulu kita juga sangat sering bertukar email.”jelas Chorong sembari mempersiapkan makan pagi untuk pasiennya itu, “…aku masih menyimpan pembicaraan lama kita.”

“ Oh ya? Boleh aku melihatnya?” Myungsoo nampak antusias dan tak sabar.

“ Sembuhlah dulu, baru akan kuperlihatkan padamu.”

“ Aishh.. mengapa kau suka sekali membuatku penasaran?”

Chorong tersenyum tipis, “ Kau perlu kekuatan dan kesiapan lebih untuk mengetahui semua yang telah kau lupakan. Nikmati saja dulu proses menuju kesembuhanmu ini. Jika aku jadi kau, aku malah ingin bisa melupakan masa laluku. Haha.”

“ Seandainya aku sudah sembuh dan sudah siap, kau akan memberitahu aku segalanya?”

“ Kita lihat nanti.”

“ Mengapa kau sangat tertutup denganku, dokter Park? Apakah hubungan kita di masa lalu kurang baik? Apakah kau membenciku atau sebaliknya?”

Chorong menggeleng saja, Myungsoo putus asa untuk bertanya lagi.

“ Dokter Howon menulis di laporan keluhan, kau sering bermimpi buruk. Apa kau masih mengalaminya?”tanya Chorong, mengalihkan pembicaraan. Meski tak sepenuhnya bermaksud begitu, ia memang ingin mengetahuinya juga.

“ Ya. Aku sadar kadang aku sampai berteriak-teriak tengah malam. Dan setiap bangun dari mimpi itu, aku selalu mendadak agresif, pasti ada saja barang yang kuhancurkan. Tetangga di sebelahku sampai memaki-maki setiap malam.”

Sang dokter mengedarkan pandangannya ke seisi apartemen. Berantakan, dan penuh barang rusak berserakan di lantai.

“ Itu efek samping obat. Aku sudah mengganti obatnya dengan yang lebih baik. Jadi jangan khawatir.”

“ Aku tidak peduli jika itu efek samping obat, aku hanya penasaran mengapa mimpi buruk yang kualami selalu sama setiap malam.”

“ Oh ya? Mimpi macam apa yang kau alami?”

“ Aku tidak melihat apapun dalam mimpiku, aku hanya mendengar banyak suara orang-orang yang tidak kukenal. mungkin lebih tepatnya, aku hanya lupa mereka siapa. Suara-suara itu.. semuanya menghujatku, dengan sangat menyakitkan. Suara-suara itu mengatakan bahwa aku memang pantas hidup seperti ini, bahkan mereka berharap aku mati saja secepatnya. Tapi.. di akhir dari mimpi itu, aku juga selalu mendengar suara seorang perempuan, suara perempuan itu satu-satunya yang mengatakan bahwa aku harus tetap menjalani hidupku, dia mendukungku.. aku tak tahu itu siapa, dan itu membuatku penasaran setengah mati..”

Mungkinkah itu suara Son Naeun? Pikir Chorong. Namun Naeun tahu Myungsoo hidup saja tidak. Ini membingungkan.

“ Maaf, aku mungkin tak bisa banyak menolong tentang itu selain hanya memberimu obat. Aku dokter bedah ortopedi, disini sesungguhnya aku hanya perlu fokus dengan kakimu yang masih lumpuh, tapi aku ingin tahu kondisimu secara keseluruhan.”

“ Terimakasih, dokter Park. Setidaknya kau jauh lebih baik dari dokterku yang sebelumnya.”

“ Apa tadi malam kau bermimpi lagi?”

“ Aku tidak tidur sama sekali tadi malam. Aku terjaga.” Myungsoo mengaku, namun ia tak akan mengatakan bahwa itu karena ia takut dengan pesan dari DarkAngel yang terus memenuhi notifikasi akunnya di killyourself.com.

“ Kalau begitu tidurlah sekarang. Aku akan kembali ke medical center.”

“ Apa kau terburu-buru, dokter?”

“ Tidak juga, sih. Apa kau masih memerlukanku?”

“ Aku.. hanya perlu teman bicara.”

“ Hanya itu hiburanmu satu-satunya? Menonton TV lebih menyenangkan. Lagipula mengobrol denganku sama sekali tidak menarik, aku orang yang membosankan.”Chorong mencairkan suasana dan meraih remote televisi yang tergeletak begitu saja di lantai dan menyalakan TV berukuran sedang yang menempel di dinding apartemen.

 

“ Selamat malam pemirsa, baik yang menyaksikan langsung maupun yang berada di rumah. Jumpa lagi bersama saya, Bomi Yoon, dalam talkshow ‘What Do You Think’, langsung dari studio 1 Seoul TV!”

 

Kenapa pas sekali? Ini siaran ulang acara talkshow dimana Naeun menjadi bintang tamunya. Batin Chorong. Ia mendadak nervous dan ingin tahu bagaimana reaksi Myungsoo.

 

“…fenomena bunuh diri belakangan ini seolah menjadi tren di tengah masyarakat Korea Selatan. Tak dipungkiri, selain banyaknya beban hidup yang dirasakan oleh masing-masing individu, kehadiran salah satu website populer http://www.killyourself.com membuat tingkat bunuh diri di Negara kita melonjak naik hingga dua puluh persen dari tahun sebelumnya. Berdasarkan hasil survey dari tim ‘What Do You Think’ terhadap website tersebut, delapan puluh persen dari semua pengguna website tersebut berniat untuk bunuh diri dengan latar belakang stress, depresi, hingga frustasi. Oleh karena itu, pada malam ini saya menghadirkan nona Son Naeun, seorang dokter jiwa, sebagai narasumber kita. Kepada dokter Son, silahkan perkenalkan dirimu.”

 

“ Ah, acara ini membicarakan situs bunuh diri itu?” gumam Myungsoo, Chorong mendengarnya.

“ Kau tahu tentang situs bunuh diri?”tanya sang dokter, Myungsoo buru-buru menggeleng.

“ Tidak. Aku tidak tahu.”jawabnya berbohong, ia berpikir Chorong akan menceramahinya jika ia mengaku.

 

“ Selamat malam. Saya Son Naeun, dari Son’s Medical Center. Saya akan menjadi narasumber malam ini.”

 

Chorong gemetar menatap wajah Naeun yang mulai menghiasi layar televisi, matanya sesegera mungkin melirik ke arah Myungsoo yang masih menatap televisi dengan tanpa ekspresi.

 

“ Woah, dia dokter dari tempat kerjamu?” tanya Myungsoo, “…apa medical center hanya merekrut dokter-dokter yang cantik?”

Reaksi yang konyol, Chorong tak tahu harus tertawa atau terharu mendengarnya. Namun yang jelas, satu ide tiba-tiba terlintas dalam benaknya.

“ Myungsoo-ssi, tadi aku bilang aku tak bisa menolong banyak masalah mimpi burukmu. Mungkin aku perlu merujukmu ke dokter jiwa, mereka lebih memahami masalah itu.”

“ Dokter.. jiwa?”

***

 

“ Wah, ada siaran ulang talkshowmu. Pasti ratingnya sangat tinggi sampai mereka menayangkannya lagi.”

Woohyun menyalakan televisi di mobilnya dalam perjalanan mereka menuju medical center untuk bekerja pagi itu. Naeun yang mengemudi disampingnya tersenyum tipis.

“ Bomi menghubungiku, ia memintaku untuk menjadi pembicara lagi. Tapi untuk episode kali ini, Ken juga akan diundang. Bomi juga tertarik untuk mengundangmu, katanya ia perlu narasumber dokter yang membedah banyak pasien korban bunuh diri.”jelas Naeun.

“ Hah.. kenapa mereka masih saja ingin menayangkan episode bunuh diri? Seperti tidak ada topik lain saja.”

“ Hanya itu yang sedang hangat di negara kita sekarang.”

“ Aku tidak tertarik.”

“ Tidak tertarik atau mengingatkanmu pada Kim Yura?”

“ Haha, haruskah kita ribut lagi? Ini masih terlalu pagi.”

Naeun tertawa kecil, “ Jadi? Kau menolak tawaran Bomi?”

“ Ya. Sebaiknya juga kau menolaknya kalau tak ingin Jaehwan mempermalukanmu di depan kamera. Terlalu beresiko berada dalam satu acara dengannya.”

“ Baiklah.. Bomi memberiku waktu dua minggu untuk berpikir.”

“ Oh ya, jangan lupa untuk mampir sebentar ke tempat penitipan anak. Aku harus menitipkan Chohyun.” Woohyun menatap putranya yang masih tertidur pulas dalam lengannya.

“ Dimana alamatnya?”

“ Ini.” Woohyun menyerahkan kartu nama tempat yang ia terima dari Chorong kemarin malam. Naeun segera mengarahkan mobilnya menuju alamat yang tertera disana.

“ Lumayan jauh, ya. Aku akan sedikit mengebut.”

Sementara Woohyun mulai merasa bingung, sepertinya ia kenal dengan rute yang ia lalui.

“ Ini kan..”

Benar saja, setibanya mereka di depan rumah kecil tempat penitipan Chohyun, Woohyun baru mengingat dengan jelas mengapa ia merasa familiar.

Rute dan pemberhentiannya, persis dengan yang ada dalam mimpi-buruknya-bertemu-Yura kemarin siang. Mimpi yang aneh baginya, karena ia bermimpi pergi ke apartemen Myungsoo yang bahkan pada kenyataannya ia sendiri tak tahu tepatnya berada dimana.

Rumah kecil yang berada di samping lorong itulah tempat penitipan anak yang dimaksud Chorong. Jika mimpinya benar, maka di ujung lorong adalah apartemen Myungsoo.

Tapi rasanya terlalu konyol jika ia mempercayai mimpinya.

Woohyun buru-buru turun dari mobil dengan membawa Chohyun serta tas perlengkapannya, dalam hati terus berusaha mengingkari mimpinya yang masih ia ingat dengan jelas.

 

“ Selamat pagi.”

Woohyun menekan bel rumah tersebut, namun tak ada jawaban. Suara televisi yang menayangkan video klip FIX terdengar sangat jelas dan keras dari dalam. Apa pemilik rumahnya tidak dengar suara bel karena suara televisinya terlalu keras? Pikir Woohyun.

“ SELAMAT PAGI!”

Kali ini ia memilih untuk sedikit berteriak dan menekan belnya berulang kali.

“ Yaa.. ada perlu apa?” terdengar jawaban oleh seorang perempuan dari dalam rumah, Woohyun memutar bola matanya dengan kesal.

“ Aku ingin menitipkan bayiku.”

KLIK!

Sebuah lubang persegi yang terletak di bawah pintu nampak terbuka.

“ Letakkan saja bayinya disana! Nanti akan kuambil!”

Woohyun tercengang dan semakin jengkel.

“ Kau kira bayiku benda mati yang bisa kuletakkan disitu seenaknya?! Keluar!”teriaknya marah.

“ Aiiih… bagaimana kau ini? Kalau begitu tunggu aku sebentar. Aku.. sedang.. menonton FIX, tunggu sampai habis dulu. Aku tidak bisa melewatkannya! Aku ingin melihat Ken dulu!”

“ Brengsek.. anak kecil macam apa dia..” wajah Woohyun mulai memerah, jika Chohyun tak ada dalam lengannya, ingin sekali ia menonjok pintu di depannya. Dalam hati ia juga bersumpah akan mengadili Chorong nanti karena setiap hari menitipkan anak mereka di tempat seperti ini.

“ KELUAR SEKARANG SEBELUM KUTENDANG PINTUNYA!!”

 

“ Apa yang terjadi?”

Naeun yang menunggu di dalam mobil terkejut mendengar teriakan suaminya dari luar. Ia segera turun, namun Woohyun yang melihatnya keluar dari mobil justru langsung mengisyaratkannya untuk tidak mendekat.

Gadis itu menurut, ia mondar-mandir saja di depan mobil sembari sesekali menatap ujung lorong yang sedikit gelap meski hari telah pagi.

“ Tempat apa ini? Apa di ujung sana ada apartemen? Kelihatannya ada bangunan bertingkat.”

 

BRAK!

Woohyun benar-benar menendang pintunya, meski tidak begitu keras karena ia tak ingin merusaknya. Hanya mulutnya saja yang semakin kencang berteriak karena si pemilik rumah justru semakin menambah volume televisinya.

“ AKU PERGI KE TEMPAT LAIN SAJA!!”

Dokter bedah itu menyerah dan balik kanan karena tak ingin semakin emosi, namun tak lama terdengar suara pintu dibuka dengan terburu-buru.

“ Maaf.. maaf.. jangan pergi.. kemarikan Chohyun, aku ingin bermain dengannya!” sang pemilik rumah langsung meminta dengan nada memohon.

Woohyun tertawa sinis dan kembali berbalik.

“ Bagaimana bisa kau langsung tahu nama anak—“

Kalimatnya terputus. Bagai disengat listrik, lelaki itu mendadak merasa ingin mati saja ketika melihat siapa wanita yang berdiri di depannya sekarang.

“ K..kau.. kau..”

“ Ada apa? Kemarikan bayinya.”

Woohyun berjalan mundur dan terus menggelengkan kepalanya, seluruh tubuhnya gemetar dan mulai berpeluh dingin.

“ Tidak mungkin.. Kim Yura.. tidak mungkin..”

“ Kim Yura?”

“ SIALAN!”

Lelaki itu tak tahan, ia berlari dan segera masuk ke dalam mobil dengan panik, tangannya buru-buru menyalakan mesin meski Chohyun masih berada dalam lengannya, Naeun yang melihatnya langsung ikut masuk ke mobil meski tak mengerti apa yang terjadi.

“ Hei, apa yang terjadi?? Kenapa Chohyun belum dititipkan!?”

Woohyun tak menjawab dan terus membawa pergi mobil mereka dengan kecepatan tinggi.

“…STOP! STOP!”

“ TIDAK!!”

“ Kita tidak mungkin membawa Chohyun ke medical center, sunbae!”

Naeun mencoba menghentikannya dengan hati-hati sebelum mereka sampai ke medical center. Bagaimanapun juga Chohyun belum dititipkan.

CKIT!

Woohyun menginjak rem secara mendadak, lelaki itu langsung membenamkan wajahnya di setir mobil.

“ Gila.. gila.. apa aku gila? Apa aku gila?”

“ Aku akan segera tahu kau gila atau tidak nanti. Sekarang minggir, kita harus kembali ke tempat tadi!”

“ TIDAK! Jangan kesana! Jangan kesana!!”

“ Ada apa?”

“ Kubilang jangan kesana!”

“ Lalu kita harus kemana lagi?” Naeun menggeser paksa Woohyun agar berpindah, ia segera mengambil alih kemudi dan memutar balik mobil agar kembali ke tempat mereka berhenti barusan.

“ Jangan.. Chohyun tidak boleh bertemu dengannya.. tidak ada..” Woohyun masih saja ketakutan dan memeluk putranya erat-erat, tapi Naeun terpaksa tega merebut bayinya setelah mereka kembali ke tempat penitipan tersebut.

“ Biar aku saja yang titipkan.” Setelah berhasil mendapatkan Chohyun yang masih tenang, Naeun segera turun dari mobil dan menekan bel rumah kecil tempat penitipan anak itu. sementara Woohyun kembali membenamkan wajahnya di dalam mobil, ketakutan.

“ Tidak mungkin Kim Yura ada disini.. tidak mung—“

“ Sudah.” Naeun muncul dan masuk kembali ke dalam mobil tanpa Chohyun, ia segera menjalankan kembali mobil mereka.

Woohyun buru-buru menghadap ke belakang, nampak seorang wanita masih berdiri di depan pintu rumahnya dengan menggendong putranya.

“ Itu.. siapa?”

“ Tentu saja orang yang kutitipkan.”jawab Naeun dengan sedikit dongkol karena hari ini justru Woohyun yang bertingkah tidak jelas.

“ Tempat itu aneh.” Woohyun mengumpulkan kesadarannya dan duduk dengan lemas.

Naeun menatap kaca spionnya, menatap sosok wanita yang tengah menggendong Chohyun itu juga.

 

“ Ya. Sangat aneh.”

***

 

“ Jadi bagaimana? Kau mau aku rujuk ke dokter jiwa?”

Chorong bertanya sekali lagi sebelum ia benar-benar meninggalkan apartemen Myungsoo, Myungsoo yang mengantarnya sampai pintu masih sedikit ragu.

“ Tapi.. aku tidak gila.”

“ Yang datang ke dokter jiwa tidak harus gila. Anggap saja kau sedang mencari teman bicara yang menyenangkan, dokter jiwa biasanya sangat asyik diajak mengobrol.”

“ Baiklah. Aku yakin kau tahu yang terbaik untukku.”

“ Kalau begitu aku akan mengatur jadwal untukmu ke medical center. Sampai jumpa.”

Chorong melambaikan tangannya dan memasuki lift, Myungsoo masih terpaku di depan pintu bersama kursi roda dan tiang infusnya.

“ Kau wanita yang menarik, dokter.”

 

“ Siapa yang menarik?”

“ YA!!” Myungsoo terkejut, nampak seorang lelaki seumurannya berdiri di depannya entah sejak kapan dan membuyarkan lamunannya.

“ Hehe, maaf mengejutkanmu. Aku baru datang kesini, senang rasanya langsung bisa melihat tetangga.”

“ Tetangga?”

“ Ya. Aku.. baru pindah kesini.”lelaki itu menunjuk salah satu pintu apartemen yang terletak di dekat pintu Myungsoo.

“ Ah.. jadi si pria tua yang sering memaki itu sudah pindah..?”Myungsoo terkejut.

“ Iya. By the way, itu ayahku, hehe.”

“ Eh? Benarkah? Maaf, aku tidak bermaksud—“

“ Hahaha! Bercanda!”

Myungsoo nampak salah tingkah, lelaki di depannya ini benar-benar……

“…dia pelatihku. Dia memang suka memaki, bahkan aku sering dipukulinya, haha. Tapi berkat dia aku jadi polisi yang kuat.”

“ Kau.. polisi?”

“ Iya, hehe. Panggil saja aku petugas Yeol. Namaku Lee Sungyeol.”

Mereka bersalaman.

“ Aku Kim Myungsoo. Maaf, kurasa pelatihmu pindah karena aku terlalu berisik. Kau juga mungkin akan terganggu. Jadi sebelum kau complain, aku harus katakan dulu, setiap aku berisik, itu bukan berarti aku sengaja—”

“ Eits.. sudah.. sudah.. santai saja. Aku juga berisik kok, apalagi kalau sudah nonton gag show. Haha. Santai saja.”Sungyeol menepuk bahunya, “…mau kuantar ke dalam? Sepertinya kau kesulitan mendorong kursi roda dan tiang infus bersamaan.”

Myungsoo mengangguk dengan malu, “ Terimakasih.”

“ Woah.. kau menonton talkshow ini juga?” Sungyeol melihat televisi Myungsoo yang masih menyala ketika mereka masuk.

“ Tidak. Tadi hanya—“

“ Woaahh.. dokter Son Naeun memang seperti bidadari. Bukan hanya wajah dan bodynya saja, otaknya juga seksi.” Sungyeol menarik kursi dan ikut duduk menyaksikan televisi dengan berapi-api, “…aku belum sempat menonton talkshownya, kemarin saat ini tayang aku sedang dinas malam.”

“ Dia sedang sangat populer, ya?”Myungsoo keheranan.

“ Sangat! Dia menangani FIX Ken yang mengalami depresi berat setelah ditinggal mati pacarnya. Ah.. bukan pacarnya juga sih, jadi Ken itu sangat menyukai putri tunggal The King, dan dia meninggal. Begitu.”

“ The..King?”

“ Yeah, The King. Kau tahu kan? Penguasa korea selatan, haha. Polisi saja dianggap setara rakyat jelata oleh mereka.”

Myungsoo mendadak merasakan sakit yang menusuk di kepalanya setelah mendengar dua suku kata itu –The King, namun ia tahan. Ia tak ingin Sungyeol pergi dan membiarkannya istirahat, ia masih ingin mendengar ocehan polisi muda ini karena ia cukup lucu dan menyenangkan.

“ Wah.. ternyata Bomi memberikan pertanyaan-pertanyaan tentang Ken juga.”Sungyeol semakin serius menonton talkshownya, sementara Myungsoo ikut menyaksikannya meski tak mengerti apa-apa.

 

“ Anda tahu bahwa yang berkembang di masyarakat adalah Ken stress akibat kematian Kim Yura, kekasihnya?”

“ Ya.”

“ Dan Anda membenarkan hal tersebut?”

“ Ya. Pihak medical center mengizinkan saya membenarkan hal ini di muka publik karena masyarakat juga jeli dalam mengamati kasus ini, jadi rasanya sia-sia saja jika kami berusaha menutupinya.”

“ Akan tetapi, dokter Son, apakah Anda tahu ada lagi hal baru yang berkembang di masyarakat terkait penyebab stress Ken?”

“ Hmm.. aku tak mampu menebaknya. Apakah itu?”

“ Pertanyaan dari akun twitter @xyz123. Dokter Son Naeun, apakah benar bahwa Ken juga stress karena seseorang bernama Kim Myungsoo?”

-Commercial Break-

 

“ Hah?”

Myungsoo dan Sungyeol saling tatap, tak mengerti.

“ Dia.. dia menyebut Kim Myungsoo kan.. barusan?”tanya Sungyeol, Myungsoo mengangguk pelan karena masih mencerna maksudnya, ia terkejut sekaligus bingung.

“…dan.. namamu.. namamu tadi.. Kim Myungsoo, kan?”sambung polisi muda itu, Myungsoo mengangguk lagi, mata elangnya menatap televisi yang kini menayangkan iklan begitu saja.

“ Kenapa langsung di cut ya?” ucap Myungsoo tak mengerti.

“ Kau.. kau kenal Ken FIX ya?”

“ Tidak, aku tidak tahu dia siapa.”

“ Kau yakin? Bagaimana dengan dokter Son Naeun? kau mengenalnya?”

Myungsoo kembali merasakan sakit di kepalanya.

 

“ Amnesia sialan.”

***

 

Oh my God..

Naeun berlari kecil menuju klinik VVIPnya dengan perasaan bersalah, ia terlambat beberapa menit dan telah membuat banyak pasien menunggu. Meski hari ini sedikit tak ia mengerti karena jumlah pasiennya semakin banyak saja, terlihat beberapa pejabat bahkan artis mengantri menungguinya.

“ Dokter Son, selamat pagi. Ini data pasien hari ini.” seorang perawat masuk ke dalam ruangannya dan meletakkan setumpuk kertas di atas meja.

“ Selamat pagi, Eunji unnie. Kenapa pasien kita banyak sekali hari ini? Aku tidak yakin mereka semua punya gangguan mental.”keluh Naeun sembari memasang jas putihnya dan mengikat rambutnya.

“ Ya, mereka semua rata-rata hanya ingin konsultasi. Ini salahmu juga yang semakin terkenal.”

Naeun tertawa kecil dan menggelengkan kepalanya, “ Hah.. ini akan menjadi hari yang panjang. Ya sudah, panggil pasien pertama.”

“ Oh iya, nyonya presdir The King ada disini juga untuk berobat. Haruskah aku memanggilnya duluan? Ia tidak mungkin mengantri, kan?”

“ Nyonya presdir!?” Naeun terkejut.

“ Ya, ibu mertuamu.”

Dia ibu Kim Myungsoo, tepatnya. Batin gadis itu. ia beringsut menuju jendela dan menemukan sosoknya dengan cepat. Wanita dengan pakaian nyentrik dan seekor kucing angora dalam lengannya itu tengah duduk di ruang tunggu, berbincang dengan dokter Jung, ibu Naeun.

“ Aku harus menjemputnya. Dia pasien VVVVVVVIP.” Naeun keluar dari ruangannya diikuti perawat Eunji di belakangnya.

 

“ Selamat pagi. Maaf aku dan Woohyun datang terlambat hari ini.”Naeun membungkukkan badannya dengan sopan, kedua wanita paruh baya di depannya mengangguk.

“ Apa yang terjadi sampai terlambat?”tanya dokter Jung berbasa-basi, Naeun mulai bingung karena tak mempersiapkan kebohongan. Mana mungkin ia mengatakan bahwa mereka-menitipkan-bayi-Woohyun-dan-Chorong terlebih dahulu.

“ Aku sedikit kurang sehat, kemarin aku sempat pingsan di lobi. Jadi gerakanku.. lambat.”Naeun sedikit mengarang, “…tapi sekarang aku baik-baik saja.”

“ Nak.. kau belum hamil?” nyonya presdir bertanya tiba-tiba, Naeun buru-buru menggeleng. Jangankan hamil, tidur dengan suaminya saja ia tak pernah.

“ Mereka sama-sama sibuk bekerja. Kita harus bersabar.”ucap dokter Jung, Naeun mengangguk-angguk saja.

“ Ada yang bisa kubantu? Kurasa aku punya pasien spesial hari ini.” Naeun mengalihkan pembicaraan dan tak ingin lagi mendengar basa-basi.

“ Nah, anakku sudah siap menerima pasien.”ucap dokter Jung, namun nyonya presdir langsung nampak gelisah dan menggeleng berulang kali.

“ Tapi.. tapi aku tidak gila.. aku tidak gila.. aih.. aku malu sekali berada disini.. kenapa suamiku menganggap aku gila!?”

“ Tidak.. tidak.. itu bukan berarti kau gila. Naeun pasti memahami Anda. Iya kan?”dokter Jung melirik Naeun sesaat, dan gadis itu mengangguk.

“ Bahkan jika memang aku gila, jangan keluarkan diagnosisnya.. aku tidak mau menanggung malu.”

“ Kita mengobrol dulu hari ini, bu.”ucap Naeun ramah, ia segera menuntun mertuanya itu untuk masuk ke ruangannya.

Sementara otaknya mulai menganalisa, apa yang sedang terjadi pada ibu dari kembar fraternal Myungsoo dan Yura ini?

*

 

12.00pm

 

“ Semoga berhasil.”

Chorong selesai memperbaiki make up dan jas dokternya, ia baru saja tiba di medical center dan kakinya berjalan agak cepat menyusuri koridor poliklinik umum. Beberapa mata staf rumah sakit memperhatikannya dengan sinis dari atas ke bawah, namun ia tak peduli.

Hari ini, ia terpaksa berdandan sedikit mencolok untuk merayu Howon agar ketua Timnya itu mau mendengarkan laporannya tentang kondisi Myungsoo dengan baik dan memberikan izin untuknya mengeluarkan rujukan ke unit kejiwaan. Meski hubungannya dengan lelaki itu tidak baik hingga sekarang, ia berharap usahanya kali ini berhasil karena ia sangat berambisi untuk membawa Myungsoo ke medical center.

Klik.

Chorong membuka ruang istirahat dokter tempat dimana ketua Tim yang pemalas itu berada. Benar saja, Howon ada disana dan sedang mengerjakan disertasinya.

“ Hai.”

“…”

Lelaki itu membisu, mungkin heran. Atau terpesona, entahlah.

“ Kau.. sedang sibuk? Apa kau mau dengar laporanku hari ini?”

“ Laporan kunjungan rumah?”

Chorong mengangguk.

“ Kim Myungsoo?”

Chorong mengangguk lagi. Howon tertawa sinis.

“ Kau benar-benar mengunjunginya setiap hari? Wah wah.. lama-lama aku sinting mendengar laporanmu setiap hari.”

“ Oke. Tidak perlu dengar laporanku kalau tidak mau. Tapi beri aku izin saja.”

“ Izin apa?”

“ Aku ingin pasien Kim Myungsoo dirujuk ke—“

Chorong memutuskan kalimatnya ketika ia melihat sesosok dokter muda yang tengah tidur pulas di ranjang berantakan yang terletak di sudut ruangan.

“ Sejak kapan Woohyun disitu?”

“ Kenapa memang?”Howon mulai curiga.

“ Aku hanya tanya.”

“ Baru saja. Dia membedah banyak pasien bunuh diri lagi hari ini, dia pun masih punya jadwal jam 2 sampai malam. Makanya dia kelelahan.”

“ Begitu ya.”

“ Tadi kau mau bicara apa? Cepat. Aku sibuk.”

Chorong sedikit nervous, ia harap Woohyun benar-benar sedang pulas.

“ Aku ingin merujuk Kim Myungsoo ke unit kejiwaan. Dia perlu konsultasi. Aku butuh izinmu.”

“ Dasar pembangkang sejati. Kau masih tidak paham setelah kujelaskan apa tugas kita dari The King sesungguhnya?”

“ Aku tidak peduli. Aku dokter, tugasku menyembuhkan, bukan membunuh. Bukankah kita sudah disumpah begitu?”

“ Terserah kaulah.”

“ Terserah!? Jadi boleh!?”

Howon menghela nafas, ia berdiri.

“ Sabtu malam, jam 7. Aku akan menjemputmu.”

Chorong tertawa.

“ Agendanya?”

“ Makan malam saja.”

“ Kenapa tiba-tiba..?”

“ Kau sangat cantik hari ini.”

Howon keluar ruangan setelah mencolek dagunya sekilas, Chorong menghela nafas pasrah setelahnya.

“ Sedikit murahan, tapi setidaknya aku berhasil.”

Kini matanya melirik Nam Woohyun yang masih pulas di ranjang berantakan itu. kakinya menghampiri sang kekasih pelan-pelan.

“ Ada bagusnya juga kau selelah ini. Meski bajingan kau masih berdedikasi untuk pasienmu.”

“ Bilang sekali lagi.”

“ Huh?” Chorong sudah menduga Woohyun akan membalas perkataannya meski matanya masih terpejam.

“ Bilang sekali lagi.”

“ Tidur lagi sana. Ah!”

Woohyun menariknya dengan paksa untuk ikut berbaring di ranjang sempit dan berantakan itu.

“…bodoh! Lepaskan aku! Aku harus praktik!”

“ Bohong, kau praktik jam 1.”

“ Siapapun bisa masuk kesini, Nam Woohyun. Kita akan tamat.”

“ Aku tidak peduli.” Woohyun tiba-tiba mencekiknya, meski tidak begitu keras, ia hanya sedang mengancam.

“ Argh! Apa salahku!?”

“ Silahkan berkencan sabtu malam dengan Howon, tapi pastikan kau menitipkan Chohyun di tempat yang benar.”

Chorong terdiam. Jika sudah membahas bayi mereka, gadis itu yakin Woohyun tidak sedang bermain-main.

“ Ada yang salah dengan tempat penitipannya?”

“ Bagaimana bisa kau menitipkan anak kita ke tempat penitipan anak yang jauh dan aneh? Apa kau meletakkan Chohyun ke dalam lubang pintu saja setiap hari tanpa melihat siapa yang akan menjaganya?!”

Chorong takut, ia bisa melihat dengan jelas kemarahan di mata Woohyun. Namun dimarahi oleh Woohyun adalah hal yang paling ia benci. Ia selalu punya keinginan untuk membantahnya.

“ Maaf.. aku sangat terpaksa. Aku tidak tahu lagi dimana bisa menemukan tempat penitipan yang aman di Seoul. Di tengah kota memang banyak, tapi aku takut mata-mata The King. Kau tahu sendiri semakin banyak yang bertanya-tanya tentang bayi siapa yang kulahirkan, termasuk keluarga angkatmu yang kejam itu. makanya aku sengaja mencari tempat yang agak jauh.”

Woohyun melepaskan tangannya dari leher Chorong, menghela nafas kesal.

“ Kalau begitu mulai hari ini biarkan Chohyun di rumahku saja. Biar dia diurus oleh pegawai rumah.”

Chorong mengangkat sebelah bibirnya, sinis. Ia siap untuk melawan lagi.

“ Bagaimana jika The King atau keluarga dokter Son mengunjungi rumahmu?”

“ Aku bisa menyembunyikannya.”

“ Kalau dia menangis dan terdengar suaranya?”

“ Ada ruangan kedap suara di rumah.”

“ Bagaimana jika dia membutuhkanku?”

“ Aku akan menjemputmu kapan saja.”

“ Permintaan ditolak. Chohyun harus tetap denganku.”

“ Aku tak akan membiarkannya dititipkan di tempat itu lagi.”

“ Selama ini dia baik-baik saja dititipkan disana. Kenapa kau khawatir sekali!?”

Woohyun kembali mendengus kesal, ia masih nampak lelah dan kembali pada posisi berbaringnya, ia memejamkan matanya lagi, namun tangannya menarik tubuh Chorong agar menempel padanya.

“ Jangan pergi dengan Howon atau Chohyun tak akan kukembalikan.”

“ Cih, ancaman macam apa itu?”

“ Aku serius. Jangan berbuat aneh-aneh atau kau akan menyesal.”

“ Dia sudah baik padaku, tak ada salahnya hanya makan malam.”

“ Baik? Dengan memberi izin merujuk Kim Myungsoo ke unit kejiwaan?”

“ Kau menguping pembicaraan kami?”

“ Kalau iya kenapa?”

“ Sialan.” Chorong merasa tak siap untuk berdebar, ia segera bangkit, namun Woohyun tak melepaskannya begitu saja.

“ Kau mau mempertemukan Myungsoo dengan Naeun, hah!?”

“ Kim Myungsoo tak punya apa-apa untuk masuk ke klinik VVIP.”

“ Tetap saja kau berniat menyembuhkannya.”

“ Itu—“

“ Karena kita sudah disumpah dokter? Konyol sekali. Bilang saja kalau kau tidak ingin lagi menurut padaku.”

“ Woohyun-ah, aku—“

“ Padahal aku melakukan ini semua untukmu juga..” lelaki itu tiba-tiba berubah memelas dan bergelayut manja di tubuh Chorong, menciumi pelipis kekasihnya itu sembari menyingkap rok selututnya untuk sekedar mengelus pangkal pahanya dengan lembut. Woohyun memang picik bahkan dari caranya mempengaruhi pikiran Chorong setiap kali mereka berselisih.

“…menurutlah padaku, ini demi anak kita. Jangan lagi berniat menyembuhkan Myungsoo, ya?”bisiknya lembut, Chorong mencoba bertahan untuk diam meski rayuan lelaki itu selalu membuatnya luluh.

“ Woohyun, aku—“

“ Dan jangan pergi dengan Howon.”

“ Woohyun-ah, aku—“

“ Ssstt, aku lelah. Jam 2 ada operasi besar lagi, disusul jadwal malam. Aku akan mati diruang operasi kalau tidak istirahat.”

Gadis itu membiarkan Woohyun untuk tidur lagi dalam pelukannya. Selain tak ingin dibantah, ia tahu Woohyun memang masih lelah. Ia hanya terpaksa bangun karena ingin menguping pembicaraannya dengan Howon beberapa saat yang lalu. Chorong hanya bisa berharap tak ada siapapun dulu yang memasuki ruang istirahat dokter tempat mereka berdekatan secara intim saat ini, ia ingin Woohyun benar-benar mengumpulkan energinya.

“ Kim Yura..”

Chorong tersentak, namun ia menunggu. Ia yakin Woohyun sudah benar-benar lelap dan hanya sedang mengigau.

“…Kim Yura.. aku melihat dia.. sejak kemarin.. aku.. takut.”

“ Bagaimana mungkin?” Chorong tak mengerti, ia semakin terhenyak karena tanpa ia duga, untuk pertama kalinya ia melihat airmata Woohyun tiba-tiba mengalir keluar dan membasahi jas putihnya.

“ Aku tidak membunuhnya.. sumpah.. aku tidak membunuhnya.. kenapa harus aku?”

Meski masih tak mengerti sepenuhnya, Chorong bisa merasakan bahwa Woohyun sepertinya tengah mengalami sesuatu yang aneh baru-baru ini, dan ia tak tahan melihat Woohyun menangis dalam tidurnya, ia memeluk lelaki itu dengan lebih erat.

 

“ Ini semua karena kau jahat, Nam Woohyun. Beruntung aku masih mencintaimu.”

***

 

04.00pm

 

“ Bagaimana? Enak kan?”

Myungsoo mengangguk-angguk saja ketika Sungyeol memperdengarkan sebuah lagu padanya.

“…dari semua lagu solo Ken, lagu ini yang paling aku suka. Sedihnya menyayat hati.”ucap Sungyeol lagi, “…lagunya rilis sebulan sebelum Kim Yura meninggal, seperti pertanda saja.”

“ Oh ya?”

“ Kau benar-benar tidak ingat apapun? Bahkan setelah kuperdengarkan suara Ken?”

Myungsoo menggeleng saja, Sungyeol menggaruk kepalanya.

“ Aku masih bingung saja kenapa ketika Bomi bertanya tentang seseorang bernama Kim Myungsoo pada dokter Son Naeun, siarannya langsung iklan. Apa dokter Son Naeun menjawab pertanyaannya atau bagaimana? Aneh sekali di cut seperti itu.”

“ Ah.. sudahlah.. mungkin saja Kim Myungsoo yang dimaksud bukan aku. Siapa tahu ada Kim Myungsoo-Kim Myungsoo lain di luar sana.”tanggap Myungsoo, meski sejujurnya dalam hati ia masih sangat penasaran. Tapi ia tak ingin menyiksa dirinya untuk berpikir keras.

“ Bisa jadi. Tapi apa salahnya mencari tahu?” Sungyeol kemudian berdiri dan meletakkan music playernya, “…kau boleh meminjamnya dulu, siapa tahu mau dengar lagu-lagu Ken yang lain, hehe. Aku pulang ya, aku sama sekali belum membereskan barang-barangku.”

“ Oh.. ya.. terimakasih petugas Yeol. Maaf aku tidak bisa membantu, padahal aku berharap bisa berguna—“

“ Aih sudahlah.”Sungyeol tertawa dan keluar dari apartemennya.

“…oh ya Kim Myungsoo!”polisi muda itu berbalik lagi.

“ Ya?”

“ Cepat sembuh dan ingat segalanya. Siapa tahu memang kau yang dimaksud presenter Bomi di TV barusan, haha.”

Myungsoo geleng-geleng kepala mendengarnya, ia meraih music player milik Sungyeol dan memutar lagu-lagu lain disana.

“ Semua lagunya bagus. Bagaimana mungkin aku kenal dengan penyanyi sehebat ini? Konyol.”

“Dokter Son Naeun, apakah benar bahwa Ken juga stress karena seseorang bernama Kim Myungsoo?”

“ Aah!”

Myungsoo selalu seperti ini. Setiap kali ia penasaran akan sesuatu, maka hal itu akan terus menghantuinya selama rasa ingin tahunya belum terpuaskan.

“ Note perpisahan di kameraku yang hancur, siapa Nam Woohyun, apa hubunganku dengan dokter Park Chorong di masa lalu, DarkAngel, dan sekarang apa hubunganku dengan seorang penyanyi bernama Ken? Jika memang yang dimaksud itu aku. Haha, yang benar saja..”

Myungsoo memukul-mukul kepalanya berulang kali dengan kesal, kemudian dengan terpaksa mengarahkan kursi roda dan tiang infusnya untuk menghadapi komputer lagi.

“ Oke, aku akan cari jawabannya sekarang.”

Lelaki itu mengakses laman mesin pencari terbesar di jagat internet dan jemarinya mulai gatal untuk mengetik. Ia akan menggunakan cara paling instan untuk memuaskan dahaganya akan ingatan, dan ia harap ia tak memperoleh informasi yang menyesatkan.

“…baiklah. Jadi, apa yang paling membuatku penasaran?”batinnya, terlalu banyak pertanyaan dalam kepalanya justru membuatnya muak dan bingung.

 

“ Son.. Na.. Eun..?”

 

Enter.

 

Myungsoo justru menekan klik pada sesuatu yang tak seharusnya ia cari hanya karena nama itu kebetulan tertera sebagai salah satu pencarian teratas.

“ Son Naeun.. psikiater VVIP Son’s Medical Center. Dan.. ah.. jadi dia juga putri pemilik medical center.

Myungsoo membaca profilnya dengan seksama, dan jemarinya berhenti melakukan scrolling ketika foto sang dokter memenuhi layar komputernya.

“ Cantik sekali. Lebih kelihatan seperti model daripada dokter.” Myungsoo tertawa sendiri, mungkin karena menyadari sense fotografernya yang belum hilang.

“…apa dia juga menyenangkan seperti yang dokter Chorong katakan, bahwa dokter jiwa biasanya asyik diajak bicara? Kulihat di acara talkshownya, dia lebih kelihatan suram dan sinis.”

Myungsoo diam beberapa saat, terus mengamati wajah di monitornya tanpa berkedip.

“…ah, lupakan. Aku tak mungkin dirujuk oleh dokter Chorong padanya, biaya konsultasi dengannya pasti selangit.”

Myungsoo mengarahkan kursornya untuk menutup apa yang sedang ia lihat.

Namun..

“ Baiklah. Hanya satu ini saja.”

Myungsoo memindahkan kursornya lagi pada foto itu.

 

Right click.

Save.

***

 

08.00pm

 

“ Kau merujuk pasien pribadimu pada dokter Son?”

Chorong mengangguk pada perawat Eunji yang masih bertugas di unit kejiwaan VVIP malam itu, “ Ya, pasienku perlu konsultasi. Dia korban kecelakaan.”

“ Ah.. bagaimana ya.. dokter Son sudah punya banyak pasien, dia berpesan padaku agar tidak menerima pasien lagi untuk besok. Kurasa aku perlu persetujuannya dulu jika—“

“ Aku lebih senior darinya, dia tidak mungkin berani menolak rujukanku. Lagipula dia akan menyesal seumur hidup jika menolaknya.”

“…”

Sorry.” Chorong sadar dirinya terlalu emosi. Ini karena ia sedang terburu-buru dan takut jika Woohyun selesai dengan jadwal operasinya dan mencarinya. Lelaki itu tak boleh tahu dulu bahwa Chorong tetap nekat melakukan sesuatu yang sudah dilarang olehnya.

“ Kalau begitu aku telepon saja dokter Son sekarang. Dia baru saja pulang, semoga saja dia belum istirahat.”

Chorong menunggu dengan tak sabar, sesekali matanya melirik jam dengan gelisah, Woohyun akan menyelesaikan operasinya jam 08.15, dan ia selalu tepat waktu. Chorong tak bisa menyesal datang ke tempat ini di waktu yang sudah semakin sempit karena ia sendiri baru saja menyelesaikan praktik rutinnya.

“ Halo? Dokter Son? Dokter? Kau bisa dengar aku, kan?” Eunji agak panik karena Chorong semakin gelisah di depannya.

“…halo? Dokter Son Na—“

“ Sialan, dia pasti sedang mabuk wine lagi.”Chorong semakin jengkel dan langsung merampas gagang teleponnya, dan Eunji tak bisa berbuat apa-apa.

“…Naeun, aku Chorong. Aku punya pasien pribadi dan besok—“

“ Chorong sunbae!? Aah.. ada apa menelponku? Pakai nomor medical center pula, kau mencari Woohyun? Bajingan itu belum pulang, makanya aku bisa bebas! Ha..ha..ha..”

Benar. Naeun sedang mengonsumsi alkohol malamnya, ia memang tak bisa melepaskan rutinitas itu sejak Myungsoo menghilang darinya dan mengguncang jiwanya.

“ Tolong terima pasienku besok, dia perlu konsultasi.”ucap Chorong singkat, namun tegas dan memaksa. Ia tak ingin berlama-lama bicara karena jawaban Naeun sudah pasti tak tentu arah.

“ Siapa? Aku sudah melayani banyak orang, aku capek! Artis-artis tidak berguna, sampai nyonya presdir The King. Ah, tapi tidak apa-apa.. itu ibunya Myungsoo-ku. Haha.. tidak apa-apa.”

Chorong masih mencoba sabar.

“ Naeun, dengar—“

“ STOP! Aku tidak menerima pasien lagi. Bye. Hahaha.”

“ Melayani ibu Myungsoo saja sudah senang, bagaimana jika Kim Myungsoo yang kubawa padamu?”

“ Huh?”

“ Berikan saja aku izin atau kau akan menyesal.”

“ Tadi kau bilang.. Kim Myungsoo..”

“ Ya.”

“ Urutan terakhir! Aku tahu kau bohong, mana mungkin Kim Myungsoo. Hahahahaha!”

“ Dasar gila.” Chorong memutuskan teleponnya karena sudah terlanjur kesal.

“…beri pasienku nomor urut terakhir, Naeun menerimanya.”

Eunji mengangguk dan mulai mencatat.

“ Apa pasienmu sudah punya kartu pasien VVIP?”tanya sang perawat.

“ Belum. Bisakah aku yang membantu untuk mengurusnya? Dia tidak bisa datang sendiri kesini, dan jadwalku masih terlalu padat untuk menjemputnya.”

“ Sebenarnya ini sudah terlalu malam untuk mengurus kartu pasien.”

“ Jadi kau tidak mau membantuku?”

“ Lupakan.” Eunji tak ingin memperpanjang debat dan akhirnya menyerahkan formulir pada Chorong, “…isi disana data pasienmu, selengkap-lengkapnya. Lalu siapkan delapan belas juta won untuk biaya pembuatan kartu.”

“ Bukan masalah besar.” Chorong buru-buru mengisinya karena waktunya semakin sempit, namun ia terhenti pada satu form.

“ Apa wajib menulis profesi, nama perusahaan dan penghasilan per bulan?”

“ Tentu saja, itu yang menentukan Anda pantas menjadi pasien VVIP atau bukan.”

“ Sialan. Sekarang bagaimana?” Chorong semakin panik, namun otak jeniusnya langsug mendapatkan ide kurang dari satu detik.

“…apa aku harus tulis..”

Gadis itu melirik jam, waktunya semakin sempit. Woohyun akan segera selesai di ruang operasi dan mencarinya.

“ Ada masalah?”tanya Eunji, Chorong mengangguk pelan.

“ Aku ragu menuliskan profesi dan penghasilan per bulan pasienku.”

“ Memangnya kenapa?”

“ Dia..”

“ Kau harus mengisinya jika mau mendapatkan akses ke klinik VVIP.”

Drrt.. drrt.. Chorong semakin panik ketika merasakan getaran dari ponsel yang ada di saku jasnya.

Tepat pukul 08.15, Woohyun menelponnya.

“ Aku tak punya pilihan.”

Chorong kembali menulis dan buru-buru mentransfer uang ke rekening pribadi Eunji lewat ponselnya yang masih bergetar karena ia mengabaikan panggilan Woohyun.

“ Kenapa kau transfer ke rekening pribadiku? Jumlahnya juga lebih dari 18 juta—” Eunji yang memeriksa hasil transfernya sedikit complain.

“ Karena aku perlu kau mengurus kartu pasiennya dengan mulut tertutup.”

Chorong mendorong formulir yang sudah ia selesaikan, dan gadis itu segera pergi meninggalkan unit kejiwaan.

 

Eunji buru-buru membaca isi formulirnya.

 

Nama Pasien : Kim Myungsoo

Tempat & Tanggal Lahir : Seoul, 13 Maret 1992

Golongan Darah : O

Profesi : Administrator website

Penghasilan per bulan : 30,000,000,000 USD

Perusahaan : http://www.killyourself.com

***

 

HYUNG! HAKYEON HYUNG!”

Hakyeon mematikan musik di ruangan latihan dancenya dan segera membuka pintu karena seseorang menggedornya keras-keras.

“ Ada ap—“

“ Aku menyesal tidak bilang padamu dari awal. Aku menyesal!!!” Jaehwan memasuki ruang latihan dan tiba-tiba mengamuk tak karuan, tangannya berkeringat dingin dan menggenggam ponsel mewahnya erat-erat.

“ Bilang tentang apa?!”

“ Ini.” Jaehwan membanting ponselnya ke sofa dan ia langsung menjeduk-jedukkan kepalanya ke dinding, Hakyeon benar-benar panik dan segera melihat apa yang ada dalam ponsel teman satu grupnya itu.

 

http://www.killyourself.com

CELEBRITY CORNER (VIP ONLY)

-newest comments-

 

Sandeul_ie : Beberapa hari yang lalu aku iseng stalking forum sebelah. Ada war disana. 10 vs 1, lol.

ImLikeTTjustlikeTT : Aahh.. aku tau itu. Konyol sekali.

Hanihani92 : Then what’s the problem?

Sandeul_ie : Satu username kontra itu namanya DarkAngel.

[Sandeul_ie mengirim screenshot]

AOA_Seol : Hah? Kebetulan saja mungkin.

Jaehyo_Ahn : Sudah dilihat profilnya?

Sandeul_ie : Di private mode.

Jaehwany_Ken : Dari forum mana dia berasal?

Sandeul_ie : Cek kesini [Link]. Lihat sendiri.

Jieun_Lee : Jangan pernah berpikir itu Kim Yura. Mungkin kebetulan saja namanya sama.

BTS_Jin92 : Aih.. Sandeul-ah, tidak seharusnya kau beritahu hal konyol semacam ini pada Jaehwan -_-

Sandeul_ie : Hehe, maaf. Rasanya aneh saja, sih.

Jaehwany_Ken : It’s okay. Akan aku cek sendiri.

DarkAngel : Tidak usah. Aku disini 🙂

 

Shit..”

Hakyeon benar-benar tak mengerti mengapa ini bisa terjadi.

“ JELAS, KAN? JELAS KAN AKUN ITU MASIH ADA!!? BERARTI ITU BUKAN YURA! ITU PEMBUNUH! PEMBUNUH YURA! PASTI NAM WOOHYUN.. DIA MENANTANGKU SEKARANG, DIA MENANTANGKU DENGAN MUNCUL DI GRUP—“

“ Tenang.. tenang..” Hakyeon menahan Jaehwan yang semakin agresif dan terus memukuli dirinya sendiri, ia sampai memanggil beberapa petugas keamanan untuk mengendalikan Jaehwan yang tak bisa diam.

 

Setelah Jaehwan diamankan, Hakyeon segera meraih ponselnya dan menjauh, menghubungi pegawai-bawah-tanahnya.

 

“ N oppa! Baru saja kami ingin menghubungimu!” terdengar suara Jungyeon yang mengangkat panggilannya.

“ Cepat laporkan apa yang kalian temukan hari ini.”

“ Hari ini akun dengan nama DarkAngel terdeteksi membeli akun VIP sekitar pukul 08.00 dan mengakses grup.. “CELEBRITY CORNER”. baru itu saja aktivitas webnya hari ini.”

Hakyeon mengacak-acak rambutnya dengan stress.

 

“ Terus awasi dia,”

***

 

Pagi, 07.00 am

 

“ Ke medical center? Hari ini? Ke dokter jiwa?”

Myungsoo terkejut karena Chorong memberi kabar tiba-tiba padanya.

“ Hm. Tapi kau pasien urutan terakhir. Jadi kau bisa datang agak siang saja.” Jawab Chorong sembari melepaskan infusnya.

“ Bisa aku pergi sekarang saja?”tawar Myungsoo, “…lagipula aku sudah mandi.”

“ Kenapa sekarang?”

“ Aku.. bosan berada disini.”

“ Kalau kita pergi sekarang, aku tidak bisa menemanimu di medical center. Setelah ini aku ada jadwal operasi.”

“ Aku.. punya.. teman, kok.”

“ Oh ya?”

Annyeong,”

Chorong terkejut karena seorang lelaki seumuran Myungsoo tiba-tiba masuk dengan santainya.

“ Kau..”

“ Kau kenal aku?”

“ Kau polisi, kan?”

“ Haha, bagaimana kau tahu?”

“ Aku teman saudaramu.”

“ Ah..kau pasti dokter Park Chorong. Howon pernah menyukaimu, kan?”

Chorong tertawa kecil, “ Senang bertemu denganmu, petugas Yeol.”

“ Kalian saling kenal?”tanya Myungsoo.

“ Tidak. Dokter Chorong adalah big crush saudara kembarku, haha.”sahut Sungyeol.

“ Dokter Howon kebetulan sempat menjadi dokter pribadiku juga.”

“ Oh ya?”

“ Kalian saudara kembar?”

“ Ya. Kembar fraternal, sih. Kembar beda karakteristik. Bahkan sampai besar profesi kami beda, dia dokter, aku polisi, tapi polisi lebih terhormat, haha.”

Chorong tertawa kecil, “ Kau orang yang menyenangkan, petugas Yeol. Beda sekali dengan Howon.”

“ Ada ya kembar fraternal seperti itu?”ucap Myungsoo polos dan membuat Chorong merasa iba.

“ Tentu saja, kembar fraternal laki-laki dan perempuan pun ada.”jawab sang dokter, mencoba menguji apakah Myungsoo ingat secuil hal tentang statusnya. Namun sepertinya nihil karena Myungsoo justru merasa takjub dengan apa yang baru saja ia katakan.

“ Wahh, aku belum pernah melihat kembar fraternal sepasang. Pasti sangat keren kalau aku bisa bertemu dengan kembaran seperti itu.”sahut Sungyeol.

“ Teman barumu ini punya saudara kembar fraternal perempuan.”pancing Chorong, Myungsoo terkejut.

“ Aku? Siapa?!”

“ Cari tahu sendiri.”

“ Ckck, jangan diajak bercanda seperti itu. Myungsoo malang sekali tidak bisa ingat apa-apa.”Sungyeol bertingkah membela Myungsoo, ia memang selalu bisa mencairkan suasana.

“ Haha. Aku serius, kok.”jawab Chorong enteng sembari bersiap untuk pergi, “…oh ya, bisa kau antar dan temani Myungsoo ke medical center hari ini? Kau punya mobil, kan? Apa kau dinas hari ini?”

“ Aku.. sedang cuti. Tapi aku punya jatah mobil dinas sih, hehe.”

“ Bagus. Jadi bisa, kan?”

“ Bisa, tentu saja.” Sungyeol mengangguk tanpa beban, sementara Myungsoo merasa tak enak hati.

“ Dia pasien nomor terakhir di klinik kejiwaan VVIP hari ini, tapi dia ingin berangkat sekarang karena bosan di apartemen. Aku tidak bisa mengantarnya karena sebentar lagi aku ada jadwal operasi.”jelas Chorong, ia mengeluarkan sejumlah uang dan menyerahkannya pada Sungyeol, “…titip Myungsoo, ya. Ini untuk rokok dan bensinmu.”

Setelah itu sang dokter pergi tanpa pamit, mungkin karena sudah terburu-buru.

“ Tapi aku tidak merokok dan bensinku masih penuh.”ucap Sungyeol polos, Myungsoo tertawa.

“ Sungyeol-ssi, tidak apa-apa, kan? Aku pasti merepotkanmu hari ini.”

Sungyeol justru tersenyum-senyum sendiri, ia menepuk bahu Myungsoo berulang kali dengan bangga.

“ Tentu sangat tidak apa-apa. Karena.. akhirnya.. kau membuatku.. berkesempatan.. BERTEMU DOKTER SON NAEUN!!! AAARGGHH!!! JACKPOT!” Sungyeol berteriak kegirangan, “…aku dandan dulu! Kau bersiaplah juga! Oke? Bye! Yeaaah!”

Sungyeol keluar dan kembali ke apartemennya dengan melompat kegirangan, sementara Myungsoo mendadak blank.

 

“ Dokter Son Naeun? bagaimana bisa dokter Chorong merujukku kesana?”

***

 

3 jam berlalu.

 

“ Woah, pasiennya banyak sekali. Berapa lama lagi sampai nomor urut terakhir yang dipanggil? Semoga tidak lama lagi, aku tidak sabar bertemu dokter yang sedang terkenal itu.”

Sungyeol masih duduk dengan sabar di ruang tunggu unit kejiwaan VVIP medical center bersama Myungsoo dan kursi rodanya.

“ Maaf, Sungyeol-ssi. Ini keinginanku untuk berangkat pagi. Melihat orang lalu lalang begini sangat menyenangkan daripada terkurung di apartemen..” ucap Myungsoo.

“ Ini pertama kalinya kau keluar dari apartemen setelah lima bulan, kan? Tidak apa-apa. Aku senang melihatmu bertemu dunia luar lagi, hehe.”

“ Terimakasih.”

“ Oh ya, kau lihat perawat yang ada di meja sana? Sepertinya sejak kita datang dia memperhatikan kita terus.”

“ Oh ya?”

Sungyeol menunjuk perawat dengan papan nama “Eunji Jeong” yang tengah melayani administrasi pasien.

“ Tapi aku tidak tahu dia memperhatikan aku, atau kau.”

 

Eunji masih berusaha menyembunyikan rasa penasaran sekaligus takutnya, ia tidak bisa menahan dirinya untuk tidak memperhatikan Myungsoo. Ia berpikir bahwa Chorong telah membawa pasien yang mengerikan.

Seorang administrator situs bunuh diri yang terkenal itu. mustahil, namun Eunji tak bisa berbuat apa-apa dan tetap membuatkan kartu pasien untuknya. Sesuai pesan Chorong, dengan ‘mulut tertutup’, karena ia merahasiakan data formulir Myungsoo yang ia terima dari Chorong kemarin malam.

“ Oke, setelah ini urutan terakhir.”ia bersiap untuk memanggil Myungsoo karena pasien yang berada dalam ruangan Naeun telah selesai dan keluar.

 

“ Panggil pasien berikutnya. Pasien rujukan dari dokter Park Chorong, bukan?”

Eunji menerima telepon singkat dari Naeun, ia menatap lelaki tampan nan malang berkursi roda yang sudah sangat lama berdiam diri di ruang tunggu itu.

“ Pasien atas nama Kim—“

“ Minggir! Minggir!!! Aku harus masuk!!!”

Panggilan Eunji terputus ketika seseorang memasuki kawasan unit dengan banyak petugas keamanan. Di belakangnya, banyak orang berkerumun karena ingin menyaksikan ‘keributan’ yang ia timbulkan.

“ FIX Ken!/” Eunji terkejut, sang artis datang dengan wajah geram dan tingkah agresif, ia terus meronta-ronta karena dijaga ketat oleh staf keamanan.

“ MANA DOKTER SON NAEUN? MANA!!!??” teriak sang artis pada sang perawat dengan tak sabaran.

 

“ Di dalam. Dia di dalam. Masuklah.”

Eunji terpaksa membatalkan panggilan untuk Myungsoo dan mempersilakan sang artis yang sudah kacau untuk masuk, ia takut keadaan bertambah buruk jika ia tak mengabulkan keinginan Ken.

 

“ Sialan, bukankah itu FIX Ken? Dia masuk begitu saja. Padahal sekarang giliranmu.”Sungyeol merasa syok sekaligus kesal, sementara Myungsoo terdiam dan tak mengerti.

“ Tapi dia sekacau itu, pasti sedang ada masalah besar. Biar saja.”sahutnya.

“ Eh, aku jadi ingat talkshow kemarin. Apa Kim Myungsoo yang mereka maksud benar-benar kau?”

Myungsoo menggeleng.

“ Entahlah.”

 

“ HALO DOKTER SON.. APA KABAR?!”

Naeun sontak berdri karena yang masuk ke ruangannya justru pasien lama yang memusuhinya –Lee Jaehwan, apalagi wajah sang artis nampak seperti ingin menerkamnya.

“ Ada apa, Jaehwan? Apa—“

“ Aku tidak gila karena menganggap Yura-ku mati dibunuh. Itu benar. Yura dibunuh. YURA DIBUNUH!! DARKANGEL ITU MASIH ADA!!! Jadi tarik diagnosamu sekarang, aku tidak gila!!!”

Naeun berusaha tenang.

“ Aku mengatakan kau punya gangguan depresi mayor, bukan skizofrenia. Jadi kau memang tidak gila.”

“ Bukan itu jawaban yang mau kudengar.”

“ Lalu?”

“ KAU TIDAK DENGAR!!?? DARKANGEL ITU MASIH ADA! DAN AKU YAKIN ITU NAM WOOHYUN!! KAU PASTI TAHU ITU KAN!??”

“ Tidak. Aku tidak tahu. Yang aku tahu, Yura bunuh diri.”

Karena Naeun sudah bersumpah akan terus merahasiakan perbuatan Myungsoo sampai kapanpun.

“ DIA TIDAK BUNUH DIRI!!!!!!” Jaehwan menjerit, ia lantas menunjuk wajah sang dokter dengan geram, “…kau.. kau harus minta maaf pada Kim Yura! Kau menuduhnya bunuh diri, padahal dia dibunuh. KAU HARUS MINTA MAAF!”

Naeun terkejut karena kini Jaehwan menarik tangannya kuat-kuat, ia tak mampu melawan karena tenaga sang artis jauh lebih besar.

“ Ikut aku.. kau harus minta maaf pada Yura, KAU HARUS MINTA MAAF!!”

Jaehwan membuka pintunya dan menyeret Naeun keluar, seluruh staf keamanan langsung mengikuti mereka. Eunji benar-benar gelagapan dan pasrah melihat sang dokter justru pergi meninggalkan ruangannya karena Jaehwan.

 

“ Hei! Apa-apaan itu!?” Sungyeol ingin mendekat dan melihat, namun ia tak mungkin meninggalkan Myungsoo.

Melihat insiden yang terjadi di depan matanya membuat Myungsoo teringat kembali dengan talkshow yang ia tonton kemarin.

“ Apa seberat itu masalah Ken?” batinnya.

“ Hei, maaf.. maaf sekali atas ketidaknyamanannya.. ini sama sekali tidak diduga-duga. Seharusnya kalian sudah bertemu dokter Son.” Eunji menghampiri Sungyeol dan Myungsoo yang masih mematung di pojok ruang tunggu.

“ Jadi kami harus bagaimana?”tanya Sungyeol, Eunji nampak masih bingung.

“ Begini—“

Eunji batal melanjutkan kalimatnya karena Naeun menghubungi ponselnya, ia buru-buru mengangkatnya.

“ Halo? Dokter Son?”

“ Berikan teleponnya pada pasien terakhirku. Aku harus minta maaf.”

“ Kau baik-baik saja, kan?”

“ Ya, Jaehwan hanya memaksaku untuk ikut dengannya ke makam Kim Yura. Sekarang berikan teleponnya pada pasien terakhirku.”

“ Baik.”

Eunji menyodorkan ponselnya pada Myungsoo, Sungyeol ikut mendekat karena ingin menguping.

“ Halo?”ucap Myungsoo pelan, ia sedikit gemetar karena harus bicara dengan dokter yang… uhm, sedang populer.

“ Ya. Halo. Kau pasien terakhir, kan? Aku minta maaf karena kita tidak bisa bertemu hari ini. Mungkin kau ikut melihat apa yang terjadi barusan.”

“ Ya. Aku melihatnya.”

“ Kau.. belum pulang dari medical center, kan?”

“ Belum.”

“ Anggap saja hari ini kita sudah bertemu. Jadi, aku perlu data pertemuan. Kudengar dari perawat Eunji, kau punya masalah dengan kognitifmu pasca kecelakaan..”

“ Ya. Amnesia. Semi-amnesia.”

“ Nah, bolehkah aku memintamu untuk menulis sebelum kau meninggalkan medical center?”

“ Menulis?”

Ya. Tulis apapun yang kau ingat tentang dirimu.kau juga bisa menuliskan keluhan yang kau rasakan. Anggap saja kau sedang berkonsultasi denganku lewat tulisan. Aku pasti akan membacanya dan memberikan solusi terbaik untukmu di pertemuan kita yang berikutnya.”

“…”

“ Oke?” Naeun memastikan sang pasien setuju dengan permintaannya.

“ Baiklah.”

“ Terimakasih. Sekali lagi aku minta maaf.”

“ Tidak apa-apa.”

“ Kalau begitu sampai jum—“

“ Dokter Son Naeun.”

“ Ya?”

“ Senang bisa berbicara denganmu.”

********

 

Night, 09.00pm

 

Naeun berjalan dengan langkah gontai di koridor unit kejiwaan VVIP yang sudah sepi, berjalan menuju ruangannya. Ia menyempatkan diri untuk kembali ke medical center untuk mengambil tulisan dari pasien terakhirnya.

Klik.

Gadis itu membuka pintu ruangannya dan melihat dua lembar kertas penuh tulisan yang rapi dan indah terletak disana. Ia tak membuang waktu dan segera membacanya.

Ia sangat kenal bentuk tulisan ini.

 

Pertama-tama. Aku ingin menulis keluhanku dulu.

Aku menonton siaran talkshowmu. Sebelum ke inti masalah, izinkan aku untuk mengatakan bahwa kau sangat cantik di acara itu.

Tapi pikiranku lebih tertuju pada salah satu pertanyaan presenternya. Ia menyebutkan namaku, dia mengaitkannya dengan masalah depresi seorang selebriti bernama Ken, pasienmu. Dan sialnya, kau tidak menjawab pertanyaan itu (entah dijawab atau tidak, yang jelas tayangannya di-cut disana)

Yah, mungkin ada banyak nama yang sama denganku di luar sana, tapi aku sebagai salah satu pemilik nama itu dan kebetulan sedang kehilangan ingatan tentu saja penasaran dengan apa maksudnya. Aku tak bisa berhenti berpikir, “apakah itu aku?”

Jujur, ini membuatku semakin tertekan. Banyak kepingan-kepingan kecil masa lalu yang kutemukan petunjuknya, namun tak satupun yang bisa kupahami seutuhnya, dan aku tak punya daya serta upaya untuk memuaskan dahagaku akan ingatan tentang itu semua karena aku terkurung disini dengan segala kecacatan dan keterbatasan.

 

Kedua, seperti yang kau minta, aku menuliskan apapun yang aku ingat tentang diriku sekarang.

Secara konsep matematika, bahasa, fungsi benda atau komputer, aku masih ingat semuanya. tak ada masalah dengan itu.

Aku lahir tanggal 13 Maret 1992

Aku seorang fotografer

Aku begini karena kecelakaan, tapi aku tidak ingat mengapa kecelakaan itu bisa terjadi, atau apapun yang terjadi sebelumnya

Aku suka warna hitam

Aku kesepian, dan aku merasa sebelum itupun aku kesepian.

Sungguh sedikit, bukan? hanya itu yang aku ingat. Bantu aku menggalinya lebih dalam, dokter. Terimakasih.

 

Regards,

Kim Myungsoo (aku masih ingat namaku juga)

 

Naeun meremas kertasnya, erat. Mencoba menahan gejolak dahsyat yang mendadak menghantam dadanya. Sesegera mungkin ia menutup wajahnya yang mulai berair dengan kertas di tangannya.

Bibirnya justru mulai mengembang, tertawa.

 

“ Jadi benar ini kau, Kim Myungsoo-ku. Hahaha.”

 

TO BE CONTINUED

 

Aaaa leganya bisa kelar part panjang ini, perjuangan nulisnya bener-benerrrr… 😄

Jangan lupa komen yaa, author sudah mempersembahkan (?) part panjang yang membingungkan (mungkin), jadi author sangat memohon feedback dari kalian 🙂

Sampai jumpa di part berikutnya!

 

Next >> Part 4 : The Beginning

Advertisements

20 responses to “SUICIDE FORUM [Part 3 : Different]

  1. Kak citraaaaa ya ampun aku penggemar semua ff-mu loh😭😭 apalagi aku juga myungeun and pinkfinite hardshipper huhu

    Tp maapkeun karena baru komen diff yg ini soalnya baru buat wp hehe :’3 gomen gomen🙏

    Demi bulu ketek Patrick ya, aku ga suka bgt sm woohyun disini, huh jahat sekali. Sukurin dihantuin kan sm yura!😤😤

    Dan dan itu tbc-nya demi apa mengganggu sekali hik hik padahal lg seru serunya T____T

    Yasudah kayaknya ini komen kepanjangan, aku tunggu karya2 kak citra selanjutnya😗

  2. YA AMPUN KAK CITTTTT SENENG BANGET AKUUUU AKHIRNYA DI POST JUGAAAAAAAA PART 3 NYAAAA. BINGUNG MAU NGOMONG APA LAGIIII, BENER BENER PENASARAN SAMA KELANJUTANNYA. SEMANGAT TERUS YA KAK!!! SEHAT SEHAT YA KAK CITRAAAA~

  3. Aku sukaaaa 😢 Maaf ya telat bacanya 😢 Aku kepo gimana Naeun sama Myungsoo ketemunya 😔 Itu kenapa N bisa sama Sungjong pula? Kan aku shock 😱 Terus itu Choyun kok melas ya/? Semua punya sisi gelapnya masing masing ya, jadi sedih/? Aku kangen ff mu yang Myungsoo nya suka gombalin Naeun, yang humor yang romantis, baca ini kok kepo horror gitu 😂🔫 Baru inget juga OSIR gak dilanjut kak? 😂 Udah ah kepanjangan komen nya 😂 Ditunggu ya kak next chap. Semangat!

  4. hwhwhwhwhwh…
    asli alur ceritanya belibet banget jd makin semangat dan greget buat baca *0*
    nggak sabar sama myungsoo-naeun kapan ketemunya T.T hwhwhwhwh sumpahhh greget banget sama myungsoo kalau udh interaksi sama darkangel.. greget juga sama dia yg amnesianya nggak waras2/? yawlah myungEun cepatlah bersatu *ehhh
    aku harap ff ini ntar happy ending seperti the portal T.T
    kak aku tunggu next chap…
    kalau bisa nextchap update lebih cepat xD

  5. Mari kita berikan applause untuk tulisan kak Citra yg selalu bikin dag dig dug ser 🎉🎆🎇🎊

    Padahal ngga sabar banget nungguin pasien terakhir ketemu sama dokter cantik-nya :” Geregetan sama Ken astaga … Kak, aku salfok sama username di situs itu yg namanya diambil dari lirik lagu 😂 Jujur ya, menurut aku tulisan kak Citra sejak era The Portal itu berasa kayak drama Korea. Ribet, bikin penasaran, baper, tapi kece parah. Dan hari ini aku baru tahu kalau kakak punya wattpad. Cerita ini ada di wattpad juga kan?? Dan aku berharap suatu saat nanti bakal ada penerbit yang tertarik sama tulisan-tulisan kakak dan bakal diterbitkan dalam versi novel! Dari situ di bayangan aku cerita kakak ntar booming terus diadaptasi jadi drakor dan booming juga di sana. Soalnya cerita kakak ini sayang banget kalau nggak dituangkan ke dalam visualisasi bagus ala-ala drama Korea TT /ebentar, ini kok malah curhat/ Balik ke alur cerita. Di sini yg paling bikin aku penasaran banget sampek mentok adalah si Dark Angel (kebetulan banget dulu masku pernah pake nama ini jadi username apaa gitu, aku lupa) Aku udah punya tersangkanya di otak, tp keliatannya itu salah karena kakcit pasti ngasih kejutan tak terduga.

    Semangat buat kak Citra! Jangan menyerah kalau lagi WB. Terkadang WB itu baik untuk kita. Semoga kakak diberi kelancaran dalam mengerjakan aktivitas apapun. Biglaf ❤❤❤

  6. kak CITRAA.. aku seneng bgt baca part ini,
    mulanya aku cuma ngefans myungsoo, nggak ngefans sama naeun, tapi setelah baca ff kk citra yg the portal, aku jadi nge shipper mereka berdua,
    dan part ini bikin aku gemes sama mereka berdua
    kk citra emang pinter bikin aku guling2 sama couple favorite aku..
    keep writing ya kak, aku selalu nungguin ff ini, jalan ceritanya makin greget.. next next

  7. Tbc nya bikin keseeel!! Penasaran banget sama kelanjutannya gimanaaaa. Akaknkah narun bertemu dengan myungsoo?? Terus myungsooo inget semuanya lagiii?? Terus myungsoo sembuh dari kelumpuhannyaa? Pokoknya penasaran bangeett!! Itu yang tempat penitipan cohyun, apa bener emang yura? Atau cuma woohyun aja yang halu?? Teruss siapa yang megang akun dark angel itu? Yang tau kan cuma myungsoo sama naeun. Sedangkan naeun aja baru tau kalo myungsoo masih idup. Arrrrgh misteri banget ini jalan ceritanyaa. Pokoknya ditunggu sangat kelanjutannya thor 😁😁

  8. Pingback: SUICIDE FORUM [Part 5 : Painkiller] -1 | FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s