[ONESHOOT] Break?

tumblr_oi8nhqcn3v1uqzpkko1_r1_540

Break? || Oneshoot || Hunn24 present’s || romance, lil’ hurt, fluff, absurd || Oh Sehun and OC || warn, typos everywhere.

Never thought that we would end up here,
Should’ve known it from the start
I know you mean it when you say you love me,
But we’re trying way too hard

Oh Sehun jenuh, begitu juga Kim Hanna.

Keduanya bosan, namun masih ingin bertahan satu sama lain. Ada perasaan ingin sesuatu yang baru, namun tidak rela untuk melepaskan. Egois memang, tapi keduanya tak bisa terbantahkan. Pasangan yang terikat oleh benang percintaan itu hanya duduk diam di salah satu restoran, tempat di mana Sehun memulai semua ini. Dan sepertinya akan menjadi tempat di mana Sehun juga akan mengakhiri yang ia mulai. Setiap pertemuan akan selalu ada perpisahan, bukankah begitu kata orang? Satu jam lamanya di sana, tanpa nafsu untuk menyantap pasta di hadapan masing-masing, keduanya hanya diam, mematung, membisu, namun memikirkan banyak hal di kepala mereka masing-masing.

Saat ini pilihan satu-satunya yang mereka bisa ambil hanyalah berpisah, bukan?

“Dan kita sampai di titik terjenuh kita, bukan?”

Hanna menoleh kepada pria di hadapannya, hanya tersenyum tipis. Entah maksudnya menyetujui ucapan Sehun, atau tidak menerimanya. Sementara Sehun, sudah banyak kata-kata yang terangkai di kepalanya, namun mulutnya seakan merasa tega melihat wanita di hadapannya. Tapi Sehun harus mengatakannya. Atau keduanya hanya semakin menyakiti satu sama lain.

Sehun sibuk dengan posisinya sebagai CEO di perusahaan ayahnya, dan Hanna sibuk menyelesaikan skripsinya. Dan selama ini mereka terlalu berusaha keras memaksakan sesuatu di dalam hubungan mereka. Cinta. Keduanya berusaha terlalu keras, meyakinkan diri masing-masing bahwa mereka masih mencintai satu sama lain. Dan Sehun, begitu juga Hanna, pada akhirnya tahu bahwa mereka telah melakukan hal sia-sia.

Sehun membuka bibirnya kembali, “harusnya aku sudah tahu dari awal,” ia memainkan garpu di hadapannya, “tak pernah ku sangka kita akan berakhir di sini.”

“Aku juga tak menyangkanya,” dan Hanna menatap Sehun. Pria itu bisa melihat, wanita itu kecewa pada hubungan mereka.

Sehun menumpukan dagu runcingnya di kedua kepalan tangannya, “aku tahu kau benar-benar sangat mencintaiku ketika kau bilang kau mencintaiku.”

“Kau tahu akan hal itu,” Hanna berlirih pelan.

“Tapi kita terlalu memaksa hubungan ini,” Sehun menambahkan, “Hubungan ini tidak seharusnya begitu.”

“Ya, kau benar.”

Used to think that we would last forever,
How could I’ve been so wrong
Never thought I’d be the one to say this,
What if our time has come and gone?

Hanna tertawa pelan, “lucu rasanya, mengingat jika dulu aku berpikir kita akan bertahan sampai akhir.”

Sehu hanya diam, membiarkan perempuan itu melanjutkan perkataanya.

“Ternyata aku salah jika berangapan seperti itu.”

Sehun menghela nafas, “sepertinya begitu.”

Hanna, ia sama seperti Sehun. Dia pikir, hubungan ini hanya sia-sia, dan menyakiti hati mereka saja. Ia jenuh. Terlampau jenuh. Mereka berkencan, tapi tidak merasakan apa-apa. Sehun menciumnya, namun jantungnya tidak berdebar seperti dulu. Ia menceritakan segalanya kepada Sehun, dan ia tahu itu hal yang percuma. Lucu saja, mengingat jika mereka selama ini seperti melakukan sandiwara. Dan malam ini mereka akan menentukan akhir dari sandiwara yang mereka jalani saat ini.

“Dulu saat kau menyatakan perasaanmu padaku, ku pikir itu memang waktu di khususkan untuk kita,” Hanna menatap kosong ke depan, seakan-akan menerawang, “dan sekarang, ku pikir waktu itu telah pergi.”

Sumpah, demi apa pun, tidak pernah terlintas di otak Hanna ia akan mengatakan hal semacam itu.

You, you don’t mean no harm
But you’re stringin’ me along and I don’t have the time to spare
And I, I’m trying hard to breathe
But you’re suffocating me, this time I’m coming up for air

Air

Sehun menarik tangan Hanna, menggenggamnya erat.

“Dengarkan aku,” ia meminta, “kau tidak perlu merasa bersalah bila kita berakhir.”

Hanna tersenyum, mengerti apa yang di maksud Sehun, “yah, kau sibuk, begitu juga aku,” Hanna berujar, “dan kita sudah membohongi satu sama lain.”

Sehun mengangguk, menepuk-nepuk pelan kepalan tangan Hanna, “kita membohongi satu sama lain, bahwa kita saling mencintai satu sama lain,” pria tampan itu menambahkan, dan menarik tangannya kembali.

“Kau seperti mencekikku, di saat aku berusaha keras untuk bernapas.”

“Begitu pun yang kau lakukan kepadaku,” kata Hanna.

Sehun tersenyum, entah senang hubungan mereka berakhir, atau mengerti apa yang di maksud oleh Hanna, “tapi kita akan bebas menghirup udara bebas setelah ini, bukan begitu?”

“Yah, kau benar,” kata Hanna.

Always tryna put your two cents in
Then expecting me to change
Tried to fix me up but I’m not broken,
All you do is leave me stained

“Hun,” panggil Hanna.

Sehun hanya meberikan tatapan bertanya. Hanna tersenyum manis, “boleh aku mengeluarkan segala unek-unek yang ku pendam selama ini untukmu?”

Kening Sehun otomatis membentuk perempatan, namun detik berikutnya ia tahu apa yang Hanna mau. Sehun hanya menangguk, “silahkan.”

Hanna menarik nafas dalam, ia menatap keluar dinding kaca restoran.

“Kau selalu berkomentar tentang apa yang ku pakai, atau yang ku gunakan,” Hanna menatap Sehun kosong, “lalu kau berharap aku berubah menjadi seperti yang kau inginkan.”

Hanna kembali tertawa pelan, “dan baru ku sadari, aku bukanlah yang kau inginkan,” Sehun mengerti apa yang Hanna coba katakan, “aku tidak bisa menjadi apa yang kau inginkan.”

“Aku benci merasa seperti itu,” cicit Hanna di akhir, dengan kepala tertunduk.

Sehun mendesah, “Maafkan aku, sudah membuatmu merasa begitu.”

Hanna menggeleng, “ini tidak apa-apa, serius,” potong Hanna, “biarkan aku melanjutkan lagi.”

“Kau juga berusaha memperbaiki diriku,” Hanna memainkan gelas tangkainya, “memberitahuku lebih baik melakukan ini dari pada itu, menyuruhku melakukan semua yang kau katakan,” Hanna berlirih, kata-katanya seakan di tiup angin. Namun Sehun masih dapat mendengarnya.

“Padahal aku tidak rusak sama sekali.”

Sehun mengernyit.

Hanna menambahkan, “dan pada akhirnya kau meninggalkanku dengan semua noda yang kau taruh di diriku.”

Sehun tahu ke mana arah pembicaraan ini bermuara. Malam itu, di mana ia merebut mahkota berharga gadis itu. “Aku benar-benar menyesal.”

“Tidak apa-apa .”

Salah satu sifat buruk Hanna, menganggap semuanya ringan dan hanya angin lalu. Ia terlalu mudah memaafkan seseorang.

Told you not to tell me down quickly
Take it slow it’s not a race
And you keep on tryna reel me in but,
All I really need is space

Sehun kembali ragu.

“Tapi, apa kau benar-benar ingin mengahiri ini semua?”

Hanna meneguk sisa wine di gelas tangkainya, “apa sekarang kau ragu?”

Sehun mengangkat kedua bahunya acuh, “tidak, hanya saja, apa kita tidak terlalu buru-buru?” Hanna semakin bingung, “kita harus santai saja, ini bukan balapan.”

Hanna menghela nafas, “dan kau kembali menarikku,” ia memutar bola matanya malas.

“Yang ku butuhkan sekarang hanyalah ruang, Hun.”

Sehun setuju. Pria itu hanya membisu. Hanna benar, keduanya butuh ruang. Untuk berpikir, apa yang harusnya mereka lakukan. Karena tiba-tiba saja, Sehun menjadi egois kembali. Ia tidak ingin melepas Hanna. Tapi rasa jenuh itu kembali menghantui.

Keduanya kembali menciptakan atmosfer hening lagi. Sibuk pada pemikirannya masing-masing. Tak mau munafik, Hanna juga tak ingin melepas pria jangkung tersebut. Namun ia dan Sehun, sama-sama tahu, kalau keduanya butuh waktu untuk menata ulang hati mereka masing-masing.

Ya, Hanna sadar.

Mereka hanya butuh waktu.

“Hun.”

Sehun memberikan Hanna tatapan bertanyanya.

“Kau dan aku, kita, tidak perlu mengakhiri hubungan ini,” Hanna berkata.

“Apa maksudmu?”

“Kita melakukan hal sia-sia lagi jika berpikir untuk mengakhiri semua ini,” Hanna kembali melanjutkan “sementara kau dan aku, kita masih saling mencintai satu sama lain.”

Sehun menggeleng, “aku tidak mengerti.”

“Kita berdua hanya perlu waktu, untuk menata ulang hati kita. Apa kau sadar akan hal itu?”

“Ya, aku sadar.” Sehun berlirih.

“Jadi sekarang kau mengerti?” Hanna menatap Sehun.

“Kita hanya perlu waktunya. Dan jika memang di bolehkan, kau dan aku bisa bertemu lagi.” tambah Hanna.

Wanita itu sudah memasang kembali syal dan mantelnya, mengeluarkan beberapa won dari dompetnya dan menaruhnya di atas meja mereka. “Aku duluan.”

Sehun, ia masih mematung. Mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi. Dan tepat sebelum Hanna melangkah lebih jauh, Sehun berkata agak keras.

“Tapi kapan kita akan bertemu kembali?”

Hanna hanya tersenyum, “kau akan tahu begitu waktunya tiba.”

****

Tiga bulan, dan Hanna, mau pun Sehun, keduanya sama-sama menepati janji mereka untuk menata ulang hati mereka. Tiga bulan juga, Sehun mencoba menyibukkan dirinya, bekerja dengan rajin, melakukan perjalanan bisnis ke Jepang, dan bercoba bertemu dengan beberapa gadis seperti yang di sarankan temannya, Kim Jongin.

Tapi, entah kenapa, bayang-bayang Hanna selalu menghantuinya kemana pun ia pergi.

Dan baru Sehun sadari, ia tak bisa terlepas dari bayang-bayang Hanna.

Sekarang, seperti ada perasaan yang menggebu-gebu di dalam dirinya. Perasaan yang membuatnya ingin melihat wajah manis kesukaannya sekarang juga.

Kim Hanna seperti toksin. Perlahan-lahan meracuni. Namun Sehun candu akan hal itu.

Hilangnya kontak dengan Hanna, rasanya membuat Sehun kewalahan. Gadis itu biasanya akan mengingatkanya untuk berhenti bekerja dan beristirahat. Lalu gadis itu akan menceritakan seluruh kejadian yang terjadi di kampusnya kepada Sehun. Sehun suka dan tidak lelah mendengar gadis itu mengoceh tentang dosen botak menyebalkan yang mengajar di kampusnya. Bahkan jika sampai jam dua dini hari, Sehun masih sanggup.

Sehun butuh Hanna.

Dan semua temannya tahu itu.

“Kenapa kau tidak cari saja dia?” tanya Chanyeol.

Sehun menghela nafas, memijit pelipisnya yang berdenyut, “sudah ku katakan, aku tidak mau mencarinya. Kami akan bertemu jika sudah saatnya.”

Jongin mendengus kesal mendengar jawaban temannya itu, “tapi kau sudah seperti orang gila tanpa wanita itu.”

Chanyeol mengangguk menyetujui.

Sehun mendesah, “mau bagaimana lagi?” ia kembali melanjutkan, “kami sudah berjanji untuk menata ulang hati masing-masing.”

“Bukannya tertata rapi, tapi hatimu semakin kacau dan berantakan, Hun,” Chanyeol berkata.

Jongin menambahkan, “dan kau tau itu karena ulah siapa.”

Sehun mendongak, menatap langit-langit kantin perusahaannya.

“Ya, itu semua karena Kim Hanna.”

****

Tiga bulan terakhir ini, Hanna menunda skripsinya, dan mengambil cuti. Ia memutuskan mengunjungi neneknya di Jeju, sambil refreshing dari tumpukan tugas, omelan dosen, danya, Oh Sehun tentunya. Si pria jangkung yang selalu membayangi Hanna kapan pun.

Kapan ia akan hilang dari pikiranku?

Hanna, tak jauh berbeda dari Sehun. Ia sama berantakannya dengan Sehun, namun ia pandai menyembunyikannya. Ia mungkin tersenyum, tertawa, dan bergaul. Tapi jauh di lubuk hatinya, ia merasa kurang tanpa Oh Sehun.

Dan kini ia duduk di halaman rumah neneknya. Menghirup udara bebas yang ia wanti-wanti dari dulu. Ia menghirup udara, namun lehernya masih terasa seperti dicekik. Oh Sehun bohong, bukannya merasa bebas dan baikkan, ia semakin buruk setelah lama tak bertemu pria tersebut.

Dan Jeon Jungkook paham akan hal itu.

“Tidak baik melamun,” tegur Jungkook.

Hanna gelagapan menyadari adik sepupunya menghampiri, “aku tidak sadar kalau aku melakukan hal itu.”

Jungkook hanya membisu. Nafasnya masih tidak beraturan setelah bermain basket bersama teman-temannya tadi.

“Kook, apa dia baik-baik saja di sana?”

Jungkook tahu siapa yang di bahas sekarang, dan ia memutar bola matanya malas.

“Kalau kau memang khawatir, harusnya kau tanya langsung,” ujar Jungkook, “kalian hanya terpisahkan oleh laut, bukan samudera.”

Hanna tertawa pelan, “kau benar. Tapi rasanya kami sejauh benua.”

Jungkook berdiri, beranjak menjauh memasuki rumah, “aku tidak mengerti jalan pikir kalian. Jika kalian masih saling mencintai, kenapa harus melakukan hal seperti ini?”

“Itu sulit untuk di jelaskan.”

“Kau bukannya melupakannya, tapi semakin merindukannya.” tambah Jungkook.

Iya, aku rindu Sehun.

****

“Hei, Oh Sehun, tunggu aku!”

Sehun segera menahan pintu lift tersebut sebelum pintu tersebut tertutup sempurna. Tubuh tinggi Park Chanyeol masuk, ia tersenyum lebar pertanda terima kasih, namun Sehun hanya diam. Keduanya terdiam di dalam kotak yang bergerak ke atas tersebut. Chanyeol bingung ingin membicarakan apa, namun ia teringat akan sesuatu.

“Kau besok pergi ke Jeju?”

Sehun menyatukan alisnya tanpa menoleh kepada Chanyeol, “Jeju? Untuk apa aku ke sana?”

“Pembukaan pabrik barumu, Bodoh,” pria yang lebih tua itu memukul kepala Sehun pelan, “kau harus hadir di sana.”

Sehun meringis, masih merasakan kepalanya nyeri di pukul oleh pria tengik di hadapannya ini, “tapi aku sedang malas,” katanya menolak, “baru dua hari yang lalu aku pulang dari Kyoto.”

“Kau itu CEO utama, tuan Oh, kau harus hadir,” Chanyeol mengucapkannya dengan nada yang tak bisa di bantah.

“Dan kau berani memerintah atasanmu?” geram Sehun.

Chanyeol menoyor kening pria tersebut, “pergi, atau ku adukan ke paman.”

Sengeri-ngerinya Chanyeol, Sehun lebih takut kepada ayahnya. Jadi pria itu hanya membisu, Begitu pintu lift terbuka, Sehun segera keluar, meninggalkan Chanyeol sendirian.

“Ya, Oh Sehun!” teriaknya, “Kau pergi?”

“Pesankan saja tiketnya.”

****

Hanna masih asik menyiram bunga-bunga milik neneknya di halaman belakang. Ia menoleh begitu Jungkook memanggil namanya.

“Hanna Noona!”

“Ada apa?”

Jungkook berloncat-loncat kegirangan, “aku di terima bekerja di salah satu pabrik di sini.”

“Baguslah, jangan kecanduan jadi pengangguran,” Hanna menaikkan sudut bibirnya.

Tak memperdulikan ejekan kakaknya tersebut, Jungkook kembali berbicara, “pabrik tersebut baru buka, dan besok akan ada pesta untuk merayakannya.”

“Lalu? Kau ingin memintaku menemanimu ke sana?”

Jungkook terkekeh. “Kau tahu apa yang ku mau, bukan?”

Hanna menantang, “kau berani bayar berapa?”

Jungkook membulatkan matanya, “kau ini keterlaluan sekali,” protesnya.

Hanna sukses di buat tertawa oleh pria tersebut.

“Astaga, dasar. Kau selalu berlebihan, Jeon Jungkook.”

****

Sehun dan Chanyeol sampai di Jeju dan langsung menuju lokasi pabrik tersebut. Tadi mereka mengajak Jongin, namun pria tan itu menolak lantaran kakaknya sedang sakit dan ia harus merawat keponakannya. Sehun dan Chanyeol hanya memaklumi.

“Selamat datang Tuan Oh dan Tuan Park.”

Seorang pria berumur menyambut mereka. “Ah, terima kasih, Tuan Gong.” balas Sehun ramah.

“Di mana semua orang?” Chanyeol bertanya.

Tuan Gong tersenyum, “mereka semua di dalam, menunggu anda.”

Sehun membenarkan jas hitamnya.

“Baiklah, kita langsung masuk saja. Kita tidak boleh membuat mereka menunggu lama.”

****

Hanna dan Jungkook sudah menunggu lama di acara tersebut. Perut Jungkook sudah keroncongan, dan beberapa kali ia merengek kepada Hanna untuk mengizinkannya barang menyicip kue kukus di sebelah sana. Namun Hanna melarangnya, berkata bahwa Jungkook harus sopan dan sabar menunggu CEO utama dari Seoul datang baru pria itu boleh makan.

“Ku rasa aku akan mati kelaparan,” Jungkook mengeluh.

Hanna berdecak, “kau ingin di gajih atau tidak?”

Dan Jungkook hanya bisa diam, merutuk dalam hati. Tak lama kemudian, orang-orang mulai ricuh. Ada yang berteriak, mengatakan bahwa CEO utama sudah sampai di sini. Ratusan orang di sana langsung saja berdiri tegap, tidak sabar melihat CEO utama yang sudah di tunggu-tunggu dari tadi.

Hanna mematung. Tubuhnya kaku tiba-tiba.

Matanya menangkap sosok jangkung dengan rambut blonde memasuki ruangan ini. Oh shit, Hanna seketika merasa sesak. Ia masih berusaha bersikap tenang, sedikit mundur dari tempatnya agar pria yang di sebut CEO itu tidak menyadari keberadaannya.

Kenapa dia di sini?

Kenapa Oh Sehun bisa di sini?

****

Sejauh ini, acara pembukaan pabrik tersebut berjalan dengan lancar. Sehun memberikan pidatonya, memotong pita merah, dan menuang sampanye. Entah mengapa Sehun menikmati acara ini. Sementara Hanna, gadis itu berusaha mati-matian agar Sehun tidak menyadari keberadaannya.

Sehun asik berbicara dengan Tuan Wu, si pemilik saham terkenal di Cina yang berniat menaruh sahamnya di pabrik Sehun. Obrlan mereka harus terputus saat Chanyeol membisikkan sesuatu kepada Sehun, “Kau harus bertemu manajer pengiriman.” bisik Chanyeol.

Seun mengangguk paham, “Saya permisi dulu, Tuan Wu. Nanti kita berbincang-bincang lagi,” tersenyum pada Tuan Wu.

“Ah, baiklah.”

Detik berikutnya, lengan Sehun sudah di tarik Chanyeol ke sudut lain ruangan. Ia bertatap muka dengan seorang pria muda berambut cokelat. “Salam, kenalkan saya Jeon Jungkook, bertugas sebagai manajer pengiriman di sini.”

Sehun menyambut uluran tangan pria tersebut, “senang berkenalan denganmu,” kata Sehun. Baik Sehun, mau pun Jungkook, keduanya tidak menyadari Hanna berdiri tidak jauh di belakang mereka dengan harap-harap cemas.

“Kau datang sendiri, Tuan Jeon?” Sehun mencoba berbasa-basi.

Jungkook menggeleng, “aku bersama kakakku, tapi dia menghilang,”

Sehun hanya tersenyum mendengarnya.

Sampai Jungkook menunjuk ke arah belakang Sehun, membuat Sehun menoleh, “itu kakakku, Tuan Oh,” ujar Jungkook.

Sehun diam. Mematung, dan mulutnya seakan-akan tak bisa terbuka melihat gadis itu setelah sekian lama. Hanna terlihat lebih kurus, namun tetap cantik dengan gaun selutut berwarna merah marun dan sepatu hak lima senti meter yang senada.

Sementara Jungkook, ia tidak mengerti apa yang sedang terjadi sekarang karena atasannya itu menatap kakak sepupunya dengan tatapan aneh. Namun detik berikutnya baru ia sadari betapa bodohnya dia membawa Hanna ke sini.

Ia ingin mengatakan sesuatu, namun keburu di sela oleh Sehun

“Aku ada urusan sebentar.”

****

Mereka kembali lagi seperti tiga bulan lalu. Berdua, dan menciptakan atmosfir hening juga canggung. Bedanya, kini mereka memilih atap pabrik ketimbang restoran. Hanna, yang tadi di tarik Sehun ke sini hanya bisa memandang ke arah lain, berusaha menghindari mata elang Sehun yang kini menatapnya tajam. Sementara Sehun, tak sedetik pun ia melepaskan pandangannya dari Hanna. Ia ingin merengku gadis itu sesaat setelah mereka bertemu, namun ia takut jika Hanna akan menamparnya.

“Sedang apa kau di sini?” Hanna membuka pembicaraan.

Sehun mengangkat bahu acuh, namun masih memandang Hanna lekat-lekat, “aku yang membuka pabrik ini.”

“Ah, benar. Aku baru ingat.”

“Iya.”

Dan mereka kembali canggung.

Seakan-akan mereka dua orang asing yang baru bertemu.

Namun Sehun memecah keheningan, “jadi ini yang kau maksud waktu itu?”

“Apa kau bisa bernafas lega sekarang?” bukannya menjawab, Hanna malah bertanya balik.

Sehun hanya diam. Bingung harus bagaimana dan mengatakan apa. Berhadapan dengan Hanna, membuat lidahnya menjadi kaku tiba-tiba.

Tapi Sehun tidak mudah menyerah, “jadi kau di sini selama ini.”

Hanna tertawa canggung, “hanya mencoba menenangkan diri,” ia berlirih.

“Dan kau berhasil menenangkan diri?”

Hanna terdiam.

“Tiga bulan tanpa diriku, apa kau tenang?” Sehun bertanya lagi.

“Entahlah,” perkataan Hanna seperti angin lewat, “bagaimana dengan dirimu? Apa kau bahagia tanpa diriku?”

Sehun sudah bertekad. Ia harus membuat gadis ini kembali padanya.

“Bagaimana aku bisa bahagia jika kau pergi dariku?”

Hanna menoleh, namun detik berikutnya ia sudah berada di rengkuhan Sehun, pria itu memeluknya erat. Dan entah sejak kapan, kemeja Sehun sudah basah oleh air mata Hanna. Dan Sehun baru menyadari jika tubuh gadis ini sangat pas di dalam rengkuhannya. Ia mengelus rambut pendek gadis tersebut. Setelah tangisan Hanna mereda, Sehun masih mengelus rambutnya.

Sehun menyentuh dagu gadis itu dan membuatnya menatap dirinya, “aku bukan pria yang pandai merangkai kata-kata, tapi yang ku tahu,” Sehun menarik nafas, “aku tak bisa hidup tanpamu.”

Dan Hanna terharu.

“Kau oksigenku, dan aku tak bisa hidup tanpamu.” Sehun berkata lagi.

“Kau jahat! Kau minta putus tiga bulan lalu!” Hanna memukul-mukul dada bidang Sehun.

Sehun menahan gerakan tangan Hanna, “aku menyesal. Aku berani bersumpah aku sangat menyesal.”

Hanna hanya terdiam, namun isakannya masih terdengar walau tidak senyaring sebelumnya.

“Sekarang, aku ingin kita kembali bersama-sama. Menulis cerita baru di lembaran baru,” Sehun berujar, “kau mau, bukan?”

“Tentu saja, Bodoh!”

Hanna kembali merengkuh pinggang pria itu.

“Jangan tinggalkan aku lagi.”

“Tidak akan.”

END

Ini ff hasil dari stalking Shawn Mendes dan suka banget lagunya yg Air. hehee, ff ini juga diupdate di wattpad pribadi aku. Kalo mau main ke wattpad aku id nya hunn24 . Numpang promote, hehe. Reviewnya yaaa.

Manusia Abnormal

-Hunn24

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

2 responses to “[ONESHOOT] Break?

  1. ini kereeeennnnn…. seriuss..
    kumau jadi cewenya T.T
    btw ditungguu cerita” manis mereka lainnya yaaa..
    semangaatt 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s