[Multi Chapter] Arranged Life – 02

arranged-life-zahra

Credit: Art by Song17 (Zahra)

© Miss Candy | Do Kyungsoo, Kim Jongin, Kim Yoon Ae (OC) |

| Politic – Sad – Romance – Family – School Life |

Do not Copy!

Previosly: [1]

Selang beberapa jam setelah konferensi pers Presiden Do, beberapa pejabat parlemen dan petinggi kerajaan melakukan pertemuan rahasia di sebuah kasino di tengah kota Seoul. Mereka berkumpul untuk membahas keputusan raja dan presiden yang menjadi topik panas di seluruh Korea bahkan mungkin dunia. Pertemuan tersebut telah diatur oleh seseorang supaya tak terlalu mencolok dan menarik perhatian media dan masyarakat.

Sejumlah pejabat parlemen dan beberapa petinggi kerajaan yang berkumpul di sana sudah saling percaya satu sama lain. Beberapa pertemuan rahasia seperti sekarang sudah pernah terjadi. Mereka duduk mengelilingi meja panjang di dalam ruangan terbesar di kasino itu.

“Ketua tak datang?” Seorang petinggi kerajaan bertanya dari sudut meja.

“Tidak. Akan mencurigakan jika dia datang kemari sekarang,” jawab pejabat parlemen di sebelahnya. “Ia harus mengurus banyak hal.”

“Siapa yang setuju denganku kalau keputusan presiden kita sangat konyol? Menikahkan dua anak remaja untuk menyelamatkan negara. Yang benar saja… Hahahaa…” Seorang anggota parlemen tertawa mengejek setelah menenggak segelas soju.

“Itu keputusan sepihak. Kami tak pernah diberi tahu. Kami tak diizinkan mendengar perundingan presiden dan raja saat di Balai Huijeong,” Tuan Park, petinggi kerajaan yang sepertinya paling sebal dengan keputusan tadi, angkat bicara.

“Tidakkah ada hal yang aneh? Terlalu sederhana jika alasannya hanya untuk ‘menyelamatkan sesuatu yang memberi nilai’. Aku curiga,” Pejabat parlemen yang paling senior menimpali. Pernyataannya membuat seluruh peserta rapat mengangguk-angguk setuju.

“Kita harus menyusun rencana baru dan lekas bergerak. Dari awal aku sudah tidak setuju dengan presiden yang terlalu berjiwa sosial tinggi seperti dia. Terlalu lembek!” Seorang pejabat parlemen dari partai oposisi tiba-tiba berdiri dan berseru pada yang lainnya.

“Tuan Hwang benar! Meskipun kita dari dua kubu berbeda, kita harus tetap tahu di mana kita berdiri. Ingat itu!” Seorang petinggi kerajaan ikut berdiri. Dia mengangkat gelas sojunya, mengajak yang lain untuk bersulang. Gerakannya diikuti seluruh peserta.

“Untuk kita semua! Pejuang Kebebasan!”

ESOK HARINYA. DAEJOJEON.

Yoon Ae terbangun dari tidurnya. Wajahnya lusuh dan sembab lengkap dengan kantung mata melingkari netranya. Ia belum beranjak dari ranjang. Mengedipkan berulang kali matanya, Yoon Ae coba mengingat peristiwa semalam. Gambaran itu datang. Gambar saat presiden baru mengatakan bahwa beliau dan raja membuat keputusan untuk menjodohkan putra-putri mereka.

Yoon Ae menutup matanya rapat-rapat, menarik selimutnya menutupi seluruh wajah. Ia takut kalau harus mendengar keputusan presiden lagi. Menikah di usia dini dengan anak laki-laki yang belum pernah sama sekali ia lihat dan tentu saja tidak ia cintai sama sekali. Ia tahu suatu saat hal ini tetap akan terjadi pada dirinya. Ia tahu bahwa ia harus mengutamakan kepentingan orang banyak daripada perasaannya sendiri. Yang Yoon Ae tidak tahu, kenapa harus sekarang? Kenapa bukan ayah dan ibunya tidak pernah membahas masalah ini dengannya? Andai saja Yoon Ae tahu lebih awal, maka ia akan langsung bertolak ke Amerika saat Ibu menyuruhnya. Ia pikir akan hidup dengan damai setelahnya. Ternyata bermimpi terlalu tinggi agaknya tidak baik sama sekali.

Dan yang paling menyebalkan di pagi hari ini adalah kembali terbangun.

“Yang Mulia, paduka raja datang berkunjung,” Dayang Choi memberitahu Yoon Ae dari balik pintu kamarnya.

Yoon Ae menyibak selimutnya dan segera bangkit. “Ya,” jawabnya singkat kemudian berdiri dan hendak keluar kamar ketika Dayang Choi membuka pintu kamarnya. Yoon Ae terkejut saat raja langsung memasuki kamarnya. “A-ayah? Saya kira kita akan bicara di luar,” Yoon Ae menunduk memberi hormat.

“Kita bicara di kamarmu saja. Ayah sudah lama tak masuk kesini,” raja berbalik pada beberapa pengikutnya, “Kami akan bicara berdua. Tolong tinggalkan kami.”

Setelah pintu kamar ditutup, suasana ayah dan anak itu menjadi canggung

“Yoon Ae, Ayah—”

“Maafkan saya, Ayah. Saya belum membersihkan diri,” potong Yoon Ae.

“Tidak apa-apa… Duduklah,” raja menanggapi dengan senyuman. “Kenapa kau terus menunduk? Ayah ingin melihat wajah putri ayah yang cantik,” Ia mengangkat dagu Yoon Ae dan tertegun melihat wajah putrinya yang bengkak.

“Maafkan saya, saya seharusnya bangun lebih pagi. Jadi Yang Mulia tidak melihat saya seperti ini. Maafkan saya…” Yoon Ae berusaha menahan air matanya. Raja menghela napas berat dan memegang kedua bahu anak satu-satunya itu.

“Yoon Ae, maafkan ayah. Kelak kau akan tahu bahwa semua ini untuk kepentingan banyak orang. Maafkan ayah karena tidak memberitahumu lebih awal. Maafkan ayah yang tidak bisa menemukan jalan keluar lain. Hanya itu yang bisa ayah katakan padamu,” raja berkata lembut sambil membelai pelan rambut putrinya.

Sang putri terkejut. Hatinya sakit melihat Ayah saat ini. Wajahnya diselimuti rasa bersalah yang mendalam. Yoon Ae belum pernah melihat wajah ayahnya se-putus asa seperti sekarang. Ia harus bagaimana? Jika ia menumpahkan segala keluh kesahnya, ia takut Ayah menjadi semakin sedih.

“Ya, Ayah… Saya mengerti dan,” Yoon Ae menghela napas, “Ayah tak perlu meminta maaf. Ini semua juga demi Ayah. Karena… Aku menyayangi Ayah,” Yoon Ae menggenggam tangan ayahnya.

“Ayah tahu, kau putri yang sangat bijaksana. Terima kasih, Nak. Terima kasih.”

Di luar kamar Yoon Ae, Ratu Jung yang mendengar pembicaraan itu menghela napas pelan. Ratu menyuruh Dayang Choi untuk tak memberitahukan kedatangannya. Meski masih sanggup berdiri dengan tenang, hatinya bergejolak. Beliau menyadari bahwa dirinya juga bersalah, tapi tak sanggup meminta maaf pada Yoon Ae.

RUMAH KYUNGSOO.

Presiden Do dan istrinya sedang menikmati sarapan di ruang makan keluarga sambil berbincang tentang kapan mereka semua akan pindah ke Cheongwadae (Blue House – Gedung Biru).

Tuan Do meletakkan garpunya dan bertanya pada seseorang pelayan yang berdiri di dekat pintu. “Apa Kyungsoo belum bangun? Ini sudah jam delapan lewat.”

“Maaf, Tuan. Saya sudah membangunkannya. Akan saya coba lagi.” Ketika pelayan itu berbalik, ia nyaris menabrak Kyungsoo yang melewatinya menuju ruang makan.

“Maaf, aku terlambat,” Kyungsoo menarik kursi di sebelah ibunya dan duduk dengan kasar.

Nyonya Do menyikut lengan putranya. Matanya seolah berkata‘kau tidak memberi hormat pada ayahmu?’.

Kyungsoo memberi anggukan pelan kepada ayahnya yang dari tadi mengawasinya dalam diam. Ia langsung mengoles selai kacang ke rotinya tanpa basa-basi lagi. Tuan Do memukul pelan meja makan, membuat semua terkejut.

“Tolong tinggalkan kami bertiga,” pintanya pada beberapa pelayan. Semua pelayan mengangguk patuh dan keluar dari ruang makan yang di dominasi warna putih itu.

Nyonya Do meletakkan garpunya dan menyilangkan kedua tangan di pangkuan. “Family meeting, please,” katanya lembut, membuat Kyungsoo meletakkan kembali rotinya di piring.

“Kau punya sesuatu untuk disampaikan padaku?” tanya Tuan Do pada Kyungsoo.

“Tidak ada,” jawab Kyungsoo singkat tanpa menatap ayahnya. Ibu kembali menyikutnya pelan, tapi Kyungsoo tak peka atau lebih tepatnya acuh saja.

“Kau tahu ini jam berapa?” tanya Ayah lagi.

“Delapan lewat dua puluh.” Lagi, Kyungsoo tak menatap ayahnya.

“Ayah tak akan bertanya kenapa kau bangun sesiang ini karena ini hari libur. Yang akan ayah tanyakan adalah kenapa wajahmu seperti itu? Kau tak mau menatap ayah?” Ayah masih berusaha untuk bersabar.

Kyungsoo hanya terdiam sambil memutar-mutar pisau roti dengan tangan kanannya.

“Itu bukan sikap laki-laki dewasa, Kyungsoo. Katakan! Kenapa kau bersikap seperti ini?!” Suara Ayah meninggi. “Ayah tak suka aksi diam yang kaulakukan!”

Nyonya Do menepuk bahu Kyungsoo pelan. “Jawablah, Kyung-ie. Kenapa, Nak?”

Kyungsoo menyeringai, membuat ayah dan ibunya bertukar pandang. “Apa pendapatku masih dipertimbangkan? Kalau iya, aku akan menjawabnya,” jawab Kyungsoo asal.

“Kyungsoo!” Tuan Do tak tahan lagi untuk tidak membentak kali ini. Demikian pula Kyungsoo, ia mengepalkan kedua tangannya dan sudah berdiri dari kursi.

“Apa Ayah tak tahu kalau Ayah sudah gila? Ayah anggap apa sebuah pernikahan? Kenapa Ayah melakukan itu padaku? Aku tidak mau dijodoh-jodohkan!” teriaknya frustasi.

Nyonya Do menarik lengan Kyungsoo untuk duduk. “Kyung-ie, tenang. Duduklah,” bujuknya.

Kyungsoo tak bergeming, ia masih berdiri. Tuan Do terkejut dengan sikap putranya pagi ini. Ayah mulai marah dan ikut berdiri. “Untuk siapa kau bicara?! Jangan hanya mementingkan dirimu sendiri. Ini untuk Negara, Kyungsoo! Dan Ayah tak pernah mengajarimu sikap kurang ajar seperti itu!”

Nyonya Do memijit pelipisnya. Memiliki dua pria keras kepala dalam keluarga kecilnya membuatnya pusing.

Telinga Kyungsoo memerah. Ia sudah tak sanggup lagi untuk menurut. Kalau pemberontakan ini berhasil, maka ia tidak akan menikah dengan gadis antah berantah—meskipun gadis itu seorang putri mahkota—hanya untuk menyelamatkan negara.

Kyungsoo menyembur lagi. “Ayah adalah seorang presiden, bukan?! Tugas Ayah adalah mengatur negara ini, bukan malah menjadi mak comblang putra Ayah sendiri! Ayah harusnya pikirkan jalan keluar lain! Ayah harusnya tahu bagaimana peran seorang presiden!” Dadanya sesak karena penuh amarah. Udara dalam paru-parunya seperti hendak menjebol tulang rusuknya. Ia tahu ini sebuah kesalahan besar, bahkan ibunya sampai ikut berdiri karena saking kagetnya.

“Aku tahu peranku, Kyungsoo! DAN SUDAH SAATNYA KAU TAHU PERANMU!” Ayah mengeluarkan kalimat terakhirnya sambil menunjuk Kyungsoo kemudian berbalik meninggalkan meja makan.

“Kyungsoo… Ya Tuhan, Ibu… Ibu tak tahu lagi harus berkata apa.” Ibunya hanya menggeleng tak percaya menatap Kyungsoo. “Yeobo[1], tunggu.”

Ruang makan kembali lengang. Kyungsoo menghempaskan tubuhnya ke kursi. Ia mengusap wajahnya dengan kasar. Benar-benar membuatnya frustasi semua peristiwa belakangan ini. Ia tahu Ayah sangat tegas terhadap semua keputusannya, meski memiliki jiwa sosial yang tinggi. Kyungsoo rasa akibat jiwa sosial yang terlalu tinggi itu malah membuat ayahnya memutuskan hal paling tak masuk akal.

Entah bagaimana lagi harus meyakinkan Ayah bahwa ia tak mau melakoni perjodohannya dengan putri mahkota. Kedua tangan Kyungsoo memukul meja makan berulang kali. Matanya memerah. Antara marah dan kecewa. Menyebalkan jika harus meneteskan air mata karena ketidakberdayaannya.

“Kau tak tahu peranmu sebagai seorang ayah untukku,” gumamnya lirih.

KAI’S BASECAMP.

Kai sedang berada di sebuah tempat khas anak muda. Sebagian dinding ruangan itu tertutup poster pemain sepak bola dan foto-foto anggota geng-nya. Duplikat dari senapan berlaras panjang, papan tembak dan keranjang basket mini menempel di sisi lainnya. Rak di sudut ruangan berisi tumpukan majalah otomotif dan olahraga. Cukup rapi dan bersih untuk ukuran nongkrong anak muda.

Kai duduk di sofa panjang, melemparkan anak panah kecil yang menancap tepat sasaran di tengah papan tembak. Kegiatannya terhenti ketika seorang temannya masuk.

Hey, Bro. Sudah lama di sini?” sapa Luhan, anak lelaki keturunan Korea-Cina. Ayahnya orang Cina dan ibunya keturunan bangsawan korea, cucu dari Tuan Jung—penasihat raja.

Luhan menepuk punggung Kai kemudian duduk di sampingnya. Kai hanya mendengus dan kembali melempar anak panah yang kelima. Luhan sudah terhitung sebagai saudara bagi Kai, jadi ia tak perlu memanggil Kai dengan sebutan pangeran atau yang mulia.

“Mana yang lain?” tanya Luhan sambil celingak-celinguk.

Sepi.

“Aku sendirian,” jawab Kai singkat tanpa menatap Luhan. Ia melempar anak panah yang keenam. Kali ini meleset jauh. Luhan mengambil anak panah terakhir dari tangan Kai.

“Hyung[2]!” Kai memprotes tindakan Luhan.

“Dengar, Jongin-ah. Kebiasaan burukmu kumat lagi, ya? Kauanggap apa aku ini, hah?” Luhan menjitak jidat Kai.

Sang pangeran melengos. Ia tahu kalau kebiasaan buruknya—menyimpan segala unek-uneknya sendiri—beberapa kali membuat Luhan kesal. Tapi menurutnya, itu hal yang wajar. Ia tak mau dianggap kaleng rombeng mengingat dirinya adalah seorang pangeran yang harus ‘tahu adat’.

Hyung pasti sudah tahu. Sampai siang ini beritanya masih menjadi trending topic dimana-mana,” Kai menyandarkan punggunya ke sofa.

Luhan mengangguk kemudian melempar anak panah ke papan tembak. Tentu saja meleset. Ia berdecak sebal. “Tsk, aku tak pernah tepat sasaran!” geramnya.

Senyum samar menghiasi wajah kusut Kai.

Luhan ikut menyandarkan punggungnya ke sofa. “Jongin, ada hal-hal yang diluar kendali kita meskipun kita pikir kita mampu mengatasi semuanya. Kurasa presiden baru kita dan raja berpikir begitu. Semoga ini yang terbaik untuk kita semua,” nasihatnya.

“Menurutku, ‘kami’ seharusnya dibubarkan saja!” tukas Kai kesal.

Temannya terlonjak kaget. “Hey! Cobalah melihat dari sudut pandang berbeda, Jongin. Ada 200 orang lebih yang menggantungkan hidupnya di istana. Raja tak mungkin melakukan pemberhentian kerja secara massal. Sebagian besar dari mereka tak punya penghasilan maupun pengetahuan lain selain ‘kerajaan’,” ceramah Luhan panjang lebar.

Kai memejamkan matanya dan memikirkan Yoon Ae. Ya, Luhan benar. Itu keputusan yang baik bagi 200 orang itu, tapi bagaimana dengan sepupuku?

“Bagaimana keadaan putri mahkota?” tanya Luhan.

“Aku belum menemuinya, Hyung. Aku tak sanggup menatapnya. Bebannya pasti sangat berat. Aku tak tahu penghiburan apa yang tepat untuknya sekarang,” jawab Kai masih dengan menutup mata. Kepalanya mulai berdenyut-denyut. Luhan mengangguk dan menatapnya prihatin.

Sesaat keheningan melingkupi keduanya. Tiba-tiba Kai berdiri, membuat Luhan kaget.

“Hyung!” setunya antusias.

Ada apa?

“Anak itu… Anak itu satu sekolah dengan kita, bukan?” Kai berjalan mondar-mandir membuat Luhan semakin bingung.

“Anak yang mana?”

“Anak presiden baru kita. Dia ada di jurusan apa?”

Kai masuk jurusan seni tahun ketiga dan Luhan masuk jurusan manajemen tahun terakhir. (SMA mereka ditempuh selama empat tahun. Ini karanganku aja, sih.)

“Tak tahu. Lagi pula mau apa kau?”

“Apa diantara Baekhyun, Chanyeol dan Chen ada yang mengenalnya, Hyung?” Tangannya bermain dengan layar ponsel sekarang. Mengirim pesan singkat pada semua anggota geng-nya.

Tak tahu! Kau mau apa?” tuntut Luhan jengkel

Kai menatapnya serius, “Santai, Hyung. Aku hanya ingin berkenalan dengan calon iparku setelah liburan usai.”

ISTANA GYEONGBOK.

Tuan Jo, yang bertanggung jawab di bidang kedisiplinan Dayang dan Istana, sedang mengawasi beberapa dayang, pelayan kerajaan dan beberapa tenaga bantuan dari luar istana yang ikut membenahi beberapa ruangan di Gyeongbok-gung (istana utama yang terletak di sebelah barat Istana Changdeok—Kediaman Raja). Ia diberi tanggung jawab tersebut oleh raja dan presiden. Mengingat dalam seminggu kedepan presiden baru dan keluarganya akan pindah ke Cheongwadae (Blue House) yang terletak di komplek Gyeongbok-gung.

Tuan Jo sibuk ke sana-kemari. Menegur beberapa pelayan yang salah meletakkan artefak-artefak di Yeongbingwan (Guest House). Menurut Tuan Jo, ruangan tersebut harus sesuai dengan permintaan ibu negara, sederhana dan tertata rapi.

“Beliau akan meninjau kemari sebentar lagi. Tolonglah lebih rapi dan hati-hati!” tegurnya.

“Baik, Tuan,” jawab beberapa pelayan.

Setelah Yeongbingwan, Tuan Jo bergegas menuju bangunan utama Gyeongbok-gung. Ia berhenti tepat di bawah gerbang belakang istana dan keheranan melihat Dayang Choi ada di sana. Wanita itu memberi hormat padanya.

“Dayang Choi? Kenapa kau kemari? Apa tuan putri sendirian?” tanyanya.

“Paduka Raja menyuruh saya dan beberapa dayang lain ikut membantu Anda, Tuan. Lagi pula, raja memberikan waktu pribadi untuk putri mahkota,” Dayang Choi menjelaskan.

Tuan Jo mengangguk. “Ah, begitu. Baiklah. Mari kita bergegas.”

“Tapi, Tuan—”

Tuan Jo menghentikan langkahnya dan berbalik. “Ada apa, Dayang Choi?”

“Saya khawatir dengan putri mahkota, Tuan,” Dayang Choi menatapnya dengan cemas.

“Dia akan baik-baik saja. Dia putri yang bijaksana. Kau bisa memercayainya,” Tuan Jo berusaha meyakinkan Dayang Choi. Wanita itu mengangguk ragu.

DAEJOJEON

Yoon Ae mengendap-endap keluar dari kediamannya. Ia mengawasi halaman Daejojeon sebelum melangkahkan kaki keluar. Kosong.

Bagus, pikirnya. Raja benar-benar mengabulkan permintaannya untuk menyendiri kali ini. Yoon Ae berjalan secepat mungkin menuju Huwon, kediaman Bibi Kim dan Kai. Ia melewati Pendopo Juhamnu (Perpustakaan kerajaan) dan kolam bunga teratai di depan Huwon. Namun, kekecewaan segera menjalarinya ketika Dayang Oh, dayang kediaman Kai, memberitahunya kalau Bibi Kim dan Kai tak ada di tempat.

Yoon Ae melamun di pinggir kolam bunga teratai. Tadinya ia ingin mengajak Kai keluar istana, tapi sepupunya itu tidak ada. Ia bingung harus ke mana lagi untuk melepaskan penat dalam otaknya. Ia tak pernah keluar istana seorang diri. Bahkan, Yoon Ae tak hafal jalan menuju ke sekolahnya!

Kembali melewati Juhamnu, Yoon Ae bersenandung pelan. Ia sedang malas membaca dan tak tertarik duduk di balkon perpustakaan itu.

Tiba-tiba saja Yoon Ae sudah mendapati dirinya kembali di depan gerbang Daejojeon lagi. Oh, menyebalkan, kesalnya dalam hati.

Setelah merenung sekian lama, Yoon Ae memutuskan untuk nekat pergi keluar istana seorang diri. Ia berlari ke dalam Daejojeon, mengambil ponsel dan tas selempang warna hitamnya. Yoon Ae tak mau menyia-nyiakan kebebasan yang diberikan oleh Ayah. Ia melengkapi stripped dress-nya dengan cardigan hitam dan langsung melesat menuju Gerbang Donhwa—gerbang utama Changdeok-gung.

Penjaga tinggal sedikit, mungkin sedang ikut menata Istana Gyeongbeok, pikir putri mahkota itu. Dengan ajaib, ia lolos dari penjagaan dan mulai menyusuri trotoar. Langkahnya terhenti saat teringat ia tak punya tempat tujuan.

“Wah, harus ke mana aku?”

Seperti ada yang membisikkan sesuatu ke telinganya, Yoon Ae memutuskan untuk melihat Cheongwadae. Kalaupun ia kepergok oleh penjaga ada di sana, itu jauh lebih aman daripada tersesat di dalam kota. Lagi pula ia penasaran, mungkin saja ia bertemu dengan orang baru.

CHEONGWADAE

Do Kyungsoo berulang kali mendengus bosan. Ia menyesali keputusannya untuk menemani Ibu untuk meninjau Cheongwadae.

“Kalau kau tak mau ikut masuk ke dalam, kau bisa berkeliling sesukamu,” pesan ibunya tadi.

Maka sang putra presiden mengikuti ke mana pun kakinya melangkah. Jujur saja, Kyungsoo merasa sangat bangga ketika akhirnya bisa masuk ke dalam Cheongwadae tanpa birokrasi bertele-tele. Ia bahagia bisa tinggal di dalam sini selama lima tahun ke depan—kalau Ayah tak lengser sebelum itu.

Memorinya berputar. Kyungsoo senang ketika Ayah akhirnya bersedia untuk dicalonkan sebagai presiden. Ia semakin bangga pada Ayah yang berhasil memenangi pemilu. Namun, kebanggaan itu musnah begitu saja saat Kyungsoo mendengar keputusan gila dari Ayah tentang pernikahan untuk menyelamatkan negara. Dahinya mengerut. Apa benar tak ada jalan lain? Ah, masa bodoh!

Kyungsoo berdiri di halaman luas Cheongwadae. Sungguh indah bangunan ini, pikirnya. Semua ubin dan gentingnya berwarna biru, bergaya khas Korea dimana Gunung Bugak menjadi latar belakangnya. Perpaduan antara ubin biru dan bentuk kurva halus dari atap gedung induk membuat bangunan tersebut tampak sangat elegan.

Kyungsoo beralih menuju bagian sebelah kanan dari Cheongwadae dan lagi-lagi berdecak kagum melihat Chuncugwan, bangunan mewah dengan 18 pilar, tempat diadakannya konferensi besar dan pertemuan penting.

“Haruskah aku selfie di sini?” gumam Kyungsoo senang. Tapi, mau dipamerkan kepada siapa? Ia hanya punya sedikit teman di akun SNS-nya. Kyungsoo bahkan jarang membuka SNS. Menurutnya hal itu hanya buang-buang waktu.

Entah apa yang membawa Kyungsoo berjalan memasuki Istana Gyeongbok. Ia sedang berjalan menyusuri kolam bunga teratai menuju sebuah paviliun. Pemuda itu membaca tulisan ‘Paviliun Gyeonghoeru’ yang menggantung di atapnya.

“Harta Nasional nomor 224. Bertiangkan 48 tonggak granit,” kagum Kyungsoo sambil menggelengkan kepalanya. Ia hafal hampir semua hal berbau kerajaan—kecuali, siapa putri mahkota saat ini yang akan menjadi istrinya dengan segera.

Anak lelaki itu menaiki tangga masuk ke Paviliun. Suasana di dalam sana lengang. Bilah-bilah sinar matahari sore menerobos masuk lewat tiang-tiang paviliun, menciptakan bayangan pilar-pilar di lantai kayu. Kyungsoo berdiri di tepi Paviliun yang menghadap ke kolam teratai, memandang jauh ke depan. Pikirannya melantur ke mana-mana. Masa bujangnya tinggal menghitung hari, padahal usianya masih 18 tahun.

“Apakah aku juga akan menduda kalau masa jabatan ayah habis?” bisiknya.

Kejam sekali kalau itu terjadi. Bayangan mengerikan muncul di benak Kyungsoo. Bagaimana kalau mereka harus segera punya anak? Bagaimana kalau saat kuliah nanti ia sudah menjadi seorang ayah? Ketika teman-teman sebayanya sedang antusias dalam meniti karier dan cinta, ia malah semakin tua dalam berpikir. Tidak, ini tidak bisa terjadi!

“TIDAAAKK!!!” Kyungsoo terkejut ketika benda asing menumbuk tengkoraknya dari belakang. Matanya menatap awas ke segala penjuru Paviliun yang gelap akibat bayang-bayang pilar.

Siapa tadi yang berteriak bersamaan dengannya? Benda itu tergeletak di atas lantai. Sebuah flat shoes berwarna putih. Jadi, dia dilempari benda ini? Sang putra presiden memungut benda itu. Ia masih menggosok-gosok bagian belakang kepalanya yang berdenyut.

“Siapa kau?! Hey, Kau?!” Sebuah suara mengejutkannya.

Kyungsoo berdiri, berusaha memastikan sosok apa dibalik bayangan pilar itu. Dari suaranya tadi, pastilah dia seorang perempuan.

“Tolong jawab aku? Siapa kau?!” perintah gadis itu padanya.

Sungguh. Siapapun dia, betapa kurang ajar sikapnya melempari anak presiden dengan sepatu! geram Kyungsoo. “Kau sendiri siapa? Kenapa kau sembarangan masuk kesini? Ini bukan tempat umum!” Kyungsoo balik membentak gadis itu.

Yang dibentak hanya berdiri kaku di balik bayang-bayang.

-bersambung

***

Catatan kaki:

Yeobo (Korea): panggilan istri untuk suami atau sebaliknya.

Hyung (Korea): panggilan untuk kakak lelaki dari adik lelaki.

***

-tbc


Notes:

  • Bab dua, semoga masih bisa dinikmati. ^^
  • O, ya… jangan sungkan untuk meninggalkan komentar karena suatu saat pada bab tertentu pasti diberi password yang akan dibagikan hanya untuk pembaca yang baik 🙂
  • Terima kasih… ^^

©2017 Miss Candy

 

 

Advertisements

One response to “[Multi Chapter] Arranged Life – 02

  1. Pingback: [Multi Chapter] Arranged Life – 03 | FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s