We Walk [Part 2]

Memang lucu.  Dalam selintas kilat aku terpikat.

Tapi seperti aliran air nil, susah untuk aku hentikan.

Seorang teman

Shin Soo Mi (OC) & Park Chanyeol (EXO)

          Byun Baekhyun (EXO), Park Luna (OC)

Friendship x Romance x Random

Part 1

Aku menemukan banyak definisi kata maaf sejak mengucapkannya di usia balita. Pertama kali aku mengucapkan maaf ketika tidak sengaja menjatuhkan seloyang adonan kue milik ibu. Aku tidak mengingat sepanjang apa atau sebanyak apa omelan ibu, yang aku ingat setelah aku mengucapkan “Maaf, ibu…” ibu kemudian menarik nafas panjang lalu mengusap lembut kepalaku. Hari itu aku tahu, bahwa kata maaf adalah pengobat luka.

Saat aku mulai sekolah, Jongin entah sengaja atau tidak – aku sungguh tidak tahu – menyenggol bahu Soojung hingga membuat segelas soda digenggamannya membasahi baju si gadis. Soojung marah, tentu saja. Semua orang di sekolah tahu Jongin hanya mengganggu Soojung dan Soojung membenci Jongin karena itu. Soojung menyumpah serapah Jongin selama hampir sepuluh menit. Anehnya Jongin hanya tersenyum sarkastik kemudian berkata, “Maaf Soojung..” Soojung buru-buru berbalik meninggalkan Jongin setelah itu, mengabaikan tatapan bingung semua orang yang terlanjur asyik menonton keributan mereka. Hari itu aku tahu, bahwa kata maaf bukan sekedar cara kita untuk mengakui kesalahan tapi juga bisa menjatuhkan musuh di saat bersamaan.

Di lain waktu, aku tahu bahwa maaf bisa jadi ungkapan ‘santun’ seperti yang sering dilakukan Baekhyun. Dengan tubuh kecilnya – tentu saja jika dibandingkan dengan tubuhku – Baekhyun sering terjebak di antara kerumunan orang-orang dan selalu kesulitan untuk keluar dari kerumunan itu. jika sudah begitu, Baekhyun akan berteriak “Maaf!” sambil mendorong orang-orang yang menghalanginya. “Aku bersalah karena mendorong mereka yang menghalangi jalanku tapi coba kau pikir, aku tidak benar-benar melakukan kesalahan karena mereka menghalangi jalanku” Begitu pembelaannya.

Aku sendiri bukan tipe yang suka mengumbar kata maaf. Bagiku, kata maaf sakral dan hanya bisa diucapkan jika aku memang melakukan kesalahan yang menyakiti. Dalam satu tahun, aku mungkin hanya mengucapkan maaf satu kali saja atau bahkan tidak sama sekali. Dulunya aku pikir begitu. Lalu aku kembali bertemu dengan Shin Soo Mi.

Yaps, gadis ini masih Shin Soo Mi yang sama yang membuat aku patah hati beberapa tahun yang lalu di hari wisudaku. Hari itu aku mendengar Baekhyun menyatakan perasaan pada Soo Mi. Aku punya pilihan untuk tidak menguping dan bersabar mendengar cerita Baekhyun tapi aku justru melangkah mendekat dan dengan jelas melihat Soo Mi memeluk Baekhyun dengan senyuman tipis yang sialnya sangat manis dan selalu berhasil membuat jantungku berdebar. Setelah melihat pelukan yang lamanya serasa seabad bagiku itu, aku kabur dari kampus tanpa berpamitan. Kehilangan minat pada cerita Baekhyun. Kehilangan semangat untuk memamerkan surat panggilan kerja dari sebuah perusahaan di Tokyo kepada Soo Mi yang pada akhirnya aku sia-siakan.

Berapa tahun yang aku habiskan untuk melarikan diri dengan harapan tidak perlu lagi bertemu dengan Soo Mi? Bukan apa-apa, setiap kali Baekhyun bercerita sepulang pergi dengan Soo Mi, aku selalu merasa jantungku diremas-remas tangan milik wolverine lengkap dengan besi di antar buku jarinya. Sakit dan berdarah-darah. Aku selalu memiliki dorongan di dalam diriku untuk menonjok muka imut Baekhyun hingga babak belur biar sekalian Soo Mi tidak bisa mengenalinya lagi. Barangkali dengan begitu Soo Mi bisa melihatku. Sayangnya, aku tidak punya cukup nyali untuk merealisasikan pikiranku. Baekhyun dan Soo Mi adalah orang yang berharga di dalam hidupku setelah kedua orang tuaku. Aku tidak bisa menyakiti orang-orang yang aku sayangi. Karena itu aku lebih memilih untuk menghilang.

Sialnya, sudah sejauh ini aku pergi, Soo Mi tetap saja muncul. Bodohnya, aku bukannya menghindari Soo Mi yang bahkan tidak menyadari keberadaanku, aku malah menghampirinya. Gilanya lagi, aku memanfaatkan ketidaktahuan Luna untuk menghabiskan hari berkeliling Tokyo bersama Soo Mi.

Di sini kata maaf mengucur seperti keran bocor, tidak bisa dihentikan sekalipun sudah aku bekap sumber alirannya. Aku sungguh merasa bersalah bahkan kepada diriku sendiri.

Maaf untuk Luna yang tidak bisa mendengarkan penjelasan yang benar kenapa aku dan Soo Mi bisa saling mengenal dan maaf karena memanfaatkan dirinya agar aku bisa menghabiskan hari bersama Soo Mi. Maaf untuk Soo Mi karena aku kembali muncul dihidupnya. Dan maaf untuk Baekhyun karena kali ini aku sungguh tidak ingin mengalah lagi.

“Aku pikir kau tidak akan pernah meninggalkan Seoul.”

Soo Mi menyeruput lagi espressonya. Aku suka ekspresinya setiap kali meminum espresso. Wajahnya berjengit menikmati rasa pahit kopi seakan yang dia minum adalah segelas soju. Soo Mi tidak pernah mengganti espresso double shoot-nya dengan minuman lain.

“Kenapa berpikir begitu?” tanyaku berusaha terlihat kasual.

Sudah lewat tiga hari sejak pertama kali kami bertemu kembali. Nyaris 24 jam sehari yang aku pikirkan hanya bagaimana caranya mengajak Soo Mi bertemu dengan berbagai alasan tapi niatku selalu gagal di huruf pertama. Aku tidak bisa memikirkan alasan yang tepat. Lalu, pagi ini aku terbangun dengan tangan yang menggenggam ponsel yang masih terbuka pada halaman pesan dengan nama Soo Mi tertulis pada bagian penerima pesan. Segera setelah bangkit dari tempat tidur, tanpa berpikir, tanpa menyebutkan alasannya, aku mengirim pesan ajakan bertemu pada Soo Mi.

To : Soo Mi

Belum memulai kuliahnmu,kan? Aku jemput jam 10. Kenakan pakaian yang tebal, ramalan cuaca bilang hari ini suhunya akan lebih dingin dibanding kemarin.

Hanya begitu saja dan di sini kami sekarang, duduk di antara puluhan pengunjung kedai kopi franchise favorit Soo Mi.

Great position, great salary, a house, I could’nt find reasons for you to leave your job.” Jawabnya sarkastik.

“I have no passion. Beberapa tahun lagi aku mungkin sangat menginginkannya, tapi sekarang tidak. Belum. Kau tahu apa yang aku inginkan sebenarnya.”

Aku mendengar decih pelan dari mulut Soo Mi sambil memalingkan wajah ke samping lalu gadis itu menggumam, “Seperti aku yang paling mengenal dirimu saja.” Mungkin Soo Mi pikir aku tidak mendengarnya, tapi aku mendengar apa yang dikatakannya. Dengan sangat jelas.

“People change, Chan~a, so do you.” Lanjutnya lagi.

“You know what, its scare me sometime, when I realized that time flies and nothing changes in my life, Shin. Hidupmu mungkin berubah tapi aku tidak.”

Long pause. Soo Mi berkali-kali membuka lalu menutup lagi mulutnya setiap kali tidak berhasil mem-verbalkan apa yang ada dipikirannya. Aku terkekeh pelan, ekspresinya seperti ikan yang terdampar di daratan. Lucu sekali.

“Enough. Lets get rid this silly conversation. Aneh kita membicarakan hal tidak penting setelah bertahun-tahun tidak bertemu.” Ucup Soo Mi akhirnya.

“Kau yang memulai.”

Aku mengalihkan pandangan darinya kemana saja. Sebentar aku menatap keluar jendela yang memperlihatkan butiran-butiran salju yang mulai turun. Sebentar aku menatap pasangan di seberang meja kami yang sedang terlibat pembicaraan serius. Kemana saja, asal tidak bertatapan dengan Soo Mi.

“Waaah, salju pertama.”

Jeritan antusias Soo Mi membuat aku mau tidak mau ikut kembali melihat butiran hujan salju yang tadi sempat aku lihat sebelumnya.

“Ingat yang sering Baekhyun katakan setiap kali kita melihat salju pertama?” Sekarang Soo Mi memalingkan wajah padaku setelah menyeruput seteguk lagi kopinya.

“You will fall with the one who sees first snow with you.” Aku terkekeh lucu sambil membalas tatapannya.

Soo Mi menundukkan kepala. Telunjuk kanannya memutari bibir gelas espressonya. “Bertahun-tahun melihat salju pertama bertiga denganmu dan Baekhyun membuat aku tidak pernah ingin mitos seperti itu terjadi di hidupku.” Ucapnya pelan.

“Karena kau melihatnya saat ada aku dan Baekhyun bukannya dengan Baekhyun saja?”

Soo Mi menggeleng cepat.“Karena yang aku harapkan bukan begitu.”

Bagus. Ada yang aku tidak tahu selama bertahun-tahun menghantui hari-hari Soo Mi dulu. Ternyata bukan aku dan Baekhyun, ternyata ada laki-laki lain yang diharapkannya. Menyedihkan sekali hidupmu Park Chanyeol. Aku tidak bisa menghentikan bibir-ku membentuk smirk. Soo Mi terlihat kaget lalu buru-buru bersikap acuh dan mengalihkan pandangan.

“Kau masih melihat salju pertama setiap tahun seperti ini, dengan Baekhyun?” tanyaku ragu.

Soo Mi menggeleng cepat, “Terakhir kali bertiga denganmu. Baekhyun terlalu sibuk dengan pekerjaannya sementara kau menghilang.” Jawabnya dengan yakin. Kata terkahir bahkan diucapkan dengan penuh penekanan.

Aku yakin tidak salah ketika melihat sorot terluka dari mata Soo Mi, walaupun sepersekian detik kemudian Soo Mi mengulas senyum tipis super manisnya yang berhasil membuatku merasa sangat bersalah. Bolehkan aku berharap kalau Soo Mi merasa kehilangan diriku?

“Rindu padaku, heem? Kehilanganku?” dengan percaya diri aku mengucapkan kalimat bercanda paling serius yang terlintas dipikiranku.

“Kau sahabatku, tentu saja aku merasa kehilangan. Nyaris 20 jam satu hari yang aku habiskan lebih dari 4 tahun denganmu, lalu kau tiba-tiba menghilang. Dasar konyol.” Demi apa, ekspresinya bahkan datar. Teramat datar sebagai respon selorohanku sebelumnya.

Oke. Jawaban paling jujur semacam ini yang aku benci.

Ribuan kali aku memikirkannya, aku tidak pernah menemukan alasan yang tepat kenapa setiap kali Soo Mi mematahkan candaanku dengan jawaban dan muka datar aku tidak pernah bisa kembali membalas malah justru bungkam. Aku seperti tersihir lalu mengaminkan saja ucapannya.

Café semakin ramai pengunjung dan aku bisa melihat salah satu pelayannya mendelik kesal kearahku. Beberapa orang terlihat berdiri di depan pintu masuk. Sebagian berteduh menghindari hujan salju yang semakin lebat, sebagian lagi mungkin pelanggan yang terpaksa menunggu karena sudah tidak mendapatkan tempat duduk di dalam café. Soo Mi sepertinya tidak menyadari tatapan kesal si pelayan karena posisi duduknya yang memunggungi. Aku memilih tidak perduli, toh aku bukannya tidak memesan apapun.

Dihadapanku, Soo Mi tersenyum sambil mengetikan sesuatu di ponselnya yang aku yakini sebuah pesan karena bunyi khas sebuah aplikasi chatting terus terdengar dari ponselnya.

“Baekhyun bilang baca pesannya.” Ucapnya sambil kembali meletakkan ponselnya di atas meja.

Hah! Byun Baekhyun! Pria cantik menyebalkan itu bisa membuat Shin Soo Mi tersenyum sumringah saat membalas pesannya? Memangnya pria itu pernah menyelamatkan warga satu desa di kehidupan sebelumnya? Kenapa dikehidupan sekarang dia sangat terberkati, dia mendapatkan Soo Mi lengkap dengan segala atensinya. Aku tidak suka.

“Bilang padanya, kalau mau menyerah jangan setengah-setengah. Membuat orang merasa bersalah saja.” Aku mendengus kesal. Aku tahu ini kekanakan tapi aku tidak bisa mengontrol diriku.

Soo Mi mengerutkan kening. Ekpresi bingung menggemaskannya membuatku tidak tahan ingin mencubit kedua pipinya. Kalau sudah begini, bagaimana aku bisa mengalah lagi pada Baekhyun. Yang bertahun-tahun kemarin saja rasanya sangat menyiksa.

Aku sungguh boleh berharap, kan? Aku boleh berfantasi kehadirannya di sini karena menyusulku, kan? Tapi dia bilang dia tidak tahu keberadaanku di sini, Baekhyun tidak mengatakan apapun padanya. Lalu untuk apa gadis ini di sini?

“What are you doing here, Shin? In Tokyo.”

Sesekali aku memang perlu melakban atau sekalian menjahit mulutku agar bisa bekerja berurutan. Otakku belum selesai mengirimkan perintah kepada mulutku untuk berbicara tapi mulutku sudah mengeluarkan kalimat itu. Matilah aku kalau sampai Soo Mi menangkap maksud pertanyaanku.

“Kuliah. Dulu kau biasa menyebutnya dengan mengejar mimpi.” Soo Mi menjawab acuh.

“Kenapa Tokyo?”

Lagi! Stupid Park Chanyeol!

“Kenapa perduli?”

“Kau tidak pernah bisa tinggal jauh dari rumah, ingat? Tidak melupakan rengekanmu memintaku untuk mengantarmu pulang di tengah malam saat kita camping waktu kuliah dulu kan? Itu bahkan belum 24 jam kau meninggalkan rumah.”

Oh, shit! Ya ya ya, teruslah berbicara. Kau bahkan berani melawan perintah otakku, dasar mulut kurang ajar!

“Lucu sekali kau masih mengingatnya.”

“Jadi…”

Demi Tuhan, aku mohon, hentikan!

“Karena aku ingin. Karena Waseda menawarkan beasiswa yang tidak bisa aku dapatkan di universitas manapun di Seoul.”

“Hanya itu?”

Terserahlah. aku pasrah. Sungguh.

“Hanya itu.”

Soo Mi terkesiap, aku yakin dia menyadari ekspresi terlukaku mendengar jawabannya. Ah, memangnya jawaban apa yang aku harapkan.

“Kau berharap aku menjawab apa?”

Damn it! Soo Mi memang si tukang observasi ulung. Dia mampu menilai seseorang bahkan hanya dengan mengamati orang itu dalam beberapa saat saja. Aku benci mengakui latar belakang pendidikannya sangat mempengaruhi cara dia berpikir.

“Nope. Tidak penting.”

Soo Mi berjengit sangsi tapi tidak kembali bertanya ataupun mendebat. Dia meneguk sisa espressonya sampai habis, memasukkan barang-barangnya yang tergeletak di atas meja lalu berkata, “Ayo tunjukan padaku apa yang kau sebut dengan ‘passion’,” sebelum beranjak keluar dari coffe shop menuju mobilku yang terparkir di sebrang jalan.

Aku harus bagaimana menunjukannya, Soo Mi~aa.


 

 

Shin~ie

Kau yakin dia Park Chanyeol?

 

ByunBaek     

Kenapa memangnya?

 

Shin~ie

Dia sedikt…

Entah lah.

Menurutku cara dia menatapku sedikit aneh.

 

ByunBaek

Dia sudah menatapmu begitu sejak dulu.

Kau saja yang tidak sadar. Bodoh.

 

Shin~ie

LIER!

Ya!!! Berhenti memanggilku bodoh!

ByunBaek

Tanya sendiri kalau tidak percaya

Suruh dia balas pesanku

 

Shin~ie

Katanya…

Kalau mau menyerah jangan setengah-setengah.

Membuat orang merasa bersalah saja.

 

 

ByunBaek

Dasar budak perasaan!

Suruh dia mati saja sana

 

Shin~ie

Bisa jelaskan aku sedang terlibat dalam hal apa?

 

ByunBaek

Tanya dia saja sana.


 

Hallloww..

Aku bikin part ini ga di satu waktu yang sama, cukup khawatir ceritanya jadi nggak nyambung tapi semoga aja nggak.

Selamat membaca ^^

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s