[FFINDO PROJECT] FANTASY – Our Last Trip

cats__

 

Our Last Trip by wineonuna

 Changsub BTOB – Chorong Apink | Oneshot | Fantasy, relationship | 15+

sebelumnya: reinkarnasi

 Ini bukan liburan biasa tapi perjalanan untuk mengembalikan gairah bercinta.

 

“Kita batalkan saja pernikahan ini!” ucap seorang wanita muda kepada seorang pria yang berdiri di hadapannya dengan wajah penuh kekesalan.

“Baiklah, kita batalkan!” balas pria itu tak mau kalah kesal dengan menekuk wajahnya.

 

Keduanya berpisah dengan berjalan menjauh saling membelakangi sambil mendumel. Hari itu, matahari bersinar cukup terik dan udara musim panas yang kering menambah kekesalan keduanya. Sementara yang lain masuk ke dalam taksi dan menghilang di tengah keramaian lalu lintas, yang lainnya membuka pintu café dan masuk ke dalam.

Wajahnya masih menekuk saat mengantri pesanan di kasir. Tiba gilirannya, sang kasir tersenyum dan menyapanya ramah. Ice Americano menjadi pilihannya. Selalu. Ia menghela napas panjang dan berjalan menuju meja yang kosong, membawa alarm untuk mengambil pesanannya nanti.

Seseorang duduk di hadapannya, “Wajahmu semakin jelek saat sedang kesal, Lee Changsub.”

“Bagaimana bisa— ah, ini cafému ya. Aku lupa.” Ucapnya datar.

“Hahaha. Kau sedang ada masalah?” tanya pria itu.

“Chorong membatalkan pernikahan kami.” Jawabnya lesu.

“BA—tal?” suara yang tadinya memekik seketika mengecil setelah sadar keadaan sekitarnya.

“Lalu kau setuju?” sambungnya.

Changsub merendahkan kepalanya sampai keningnya menyentuh meja lalu menggangguk pelan. Ada penyesalan dalam dirinya sekarang. Ia mengerti kesalahannya karena mudah menyetujui permintaan Chorong tapi tak mengerti bagaimana cara memperbaiki keadaan yang terlanjur runyam karena menuruti egonya.

“Apalagi kesalahanmu, Changsub? Chorong pasti sangat kesal sampai berani membatalkan pernikahan kalian yang dua minggu lagi berlangsung.”

Changsub mengangkat kepalanya memandang dengan wajah memelas, “Jika kukatakan ‘aku tidak tahu’, apa kau akan percaya, Park Chanyeol?”

“Hahaha. Tentu saja tidak. Pria memang tidak benar-benar tahu kesalahannya padahal ia melakukan kesalahan. Lalu, sekarang bagaimana?” tanya pria yang bernama Park Chanyeol.

“Entahlah.” Suaranya kembali lesu, ia meraih alarm yang bergetar dan berjalan menuju kasir untuk mengambil pesanannya. Bukannya kembali ke meja, Changsub malah berjalan menuju pintu keluar.

“Changsub!” panggil Chanyeol.

Changsub menoleh dan menunggu Chanyeol tiba di hadapannya sembari menyesap ice Americano. Chanyeol menyodorkan sebuah kartu nama yang langsung diambil Changsub, ia membacanya dan memandang Chanyeol saat selesai membaca nama di kartu yang diberikan Chanyeol. Im Yoona.

“Kau memberikan kartu nama istrimu.”

“Dia konselor hubungan yang sangat hebat. Hehehe. Aku akan memintanya memberikanmu diskon jika kau berhasil mengajak Chorong.” Chanyeol mengedipkan sebelah matanya.

 

 

“Bukan, bukan membatalkan. Hanya menjadwalkan ulang pernikahan kami. Ada sedikit masalah jadi kami berdua sepakat untuk menjadwalkan ulang pernikahan. Aku tidak tahu sampai kapan. Aku akan menghubungi segera setelah menyelesaikan masalah kami. Ya, terimakasih banyak. Jangan khawatirkan kami, kami baik-baik saja.”

Changsub memutus sambungan teleponnya untuk yang kesepuluh kali. Sejak memutuskan untuk mengurus pernikahan tanpa bantuan jasa wedding organizer, baik Changsub maupun Chorong turun tangan langsung memenuhi kebutuhan pernikahan mereka. Karena itulah dari pagi Changsub tak berhenti melakukan panggilan telepon untuk memberitahu perihal penundaan pernikahan mereka.

Benar. Pernikahan keduanya ditunda bukan dibatalkan seperti yang Chorong pinta dan Changsub setujui. Changsub masih memiliki keinginan untuk menjadikan wanita yang dikencaninya selama empat tahun sebagai istrinya. Berawal dari pertemuan tidak sengaja di pernikahan teman sekolah mereka, keduanya langsung akrab dan menjalin pertemanan yang berubah menjadi persahabatan hingga akhirnya di musim semi empat tahun lalu, Changsub menyatakan perasaannya pada Chorong yang saat itu baru putus dari pria berkebangsaan jepang.

Sebuah pesan singkat masuk ke ponsel Changsub, ia membaca sesaat lalu langsung menghubungi pengirim pesan singkat itu.

“Kau yakin itu Chorong? Dia benar-benar berada di kantor istrimu? Aku akan segera ke sana. Terimakasih, Park Chanyeol.”

Changsub bergegas, ia mengambil dompet dan kunci mobil dalam laci meja, lalu berlari menuju pintu. Ini adalah kesempatannya bertemu dengan Chorong setelah wanita itu memblokir semua koneksi mereka. Benar-benar memblokir koneksi mereka. Changsub tak bisa menghubungi Chorong di kantor atau di rumah. Semua teman-teman mereka tak ada yang berani membantu. Ia sebenarnya heran kenapa tidak ada bantuan sama sekali tapi Chorong memang dikenal sebagai wanita berkeinginan kuat dan tipe pengontrol.

Pedal gas bekerja bergantian dengan rem. Changsub akan menginjak pedal sedikit dalam saat jalanan sepi lalu menggantinya dengan rem di situasi tertentu. Perjalanan 20 menit tak lagi terasa panjang saat menemukan Chanyeol sudah berdiri menunggu kedatangannya.

Changsub keluar dari mobil setelah memarkirkan mobilnya. Chanyeol berjalan mendekat dan berbisik. “Aku benar kan, kau memiliki kesalahan fatal.  Aku berdoa untuk keselamatanmu, Lee Changsub.”

Kesalahan fatal? Apa itu? – batin Changsub. Changsub masuk bersama Chanyeol, mereka berjalan menuju sebuah pintu yang akan menghubungkannya pada ruangan dimana Chorong berada. Degup jantungnya menderu, kepalanya penuh dengan rencana yang mungkin bisa dilakukannya untuk membuat Chorong bicara dan memaafkan juga menarik lagi ucapannya tentang pembatalan pernikahan.

Chanyeol mengetuk pintu kemudian membuka pintu ruangan itu, Changsub menarik napas dalam. Pintu terbuka lebar dan Changsub dengan mudah menemukan sosok Chorong yang sedang duduk menghadap Yoona, istri Chanyeol.

“Oh sayang, kau sudah datang. Masuklah Changsub, ada Chorong di sini.” ujar Yoona ramah.

Unnie, tidak ada Changsub dalam perjanjian kita.” bisik Chorong.

Wanita itu masih terlihat kesal dengan Changsub, ia bahkan tak memutar kursinya atau sekedar melirik ke Changsub yang masuk bersama Chanyeol. Yoona berdiri menghampiri Chanyeol dan mendaratkan pelukan ringan, adegan seperti ini seringkali membuat Changsub protes atau mencibir tapi pria itu terlalu sibuk memperhatikan kepala belakang Chorong.

“Kau bisa melubangi kepala Chorong, Lee Changsub.” Goda Chanyeol.

Chorong yang mendengar ucapan Chanyeol hanya mendengus kesal. Memperhatikan tanpa mengucapkan sepatah katapun padahal pria itu tahu ada Chorong di sana. wanita itu berdiri dan memutar tubuhnya hingga akhirnya bertemu mata dengan Changsub.

Jantung Changsub berdetak cepat, tak tahu apa yang harus dilakukannya dan yang akan terjadi. Saat ini, ia hanya mematung melihat Changsub. Ada kerinduan dalam dirinya yang bersiap membuncah jika tak melihat Chorong berjalan mendekat dan mulai menekuk alisnya.

Unnie, aku pergi dulu. Nanti saja kita bicara.” Pamitnya.

“Eeyy, Chorong. Aku dan suamiku memang sengaja membuat kalian bertemu.” Cegah Yoona.

“Tidak ada yang perlu kami bicarakan lagi, Unnie.” Jawab Chorong datar.

“Banyak.” Balas Changsub bersamaan dengan suara Yoona.

“Ada banyak yang harus kalian bicarakan. Duduklah dulu, Chanyeol akan membuatkan teh yang paling enak untuk kita. Ah, tapi jika kalian tak nyaman dengan keberadaan kami—“

“Tidak. Unnie dan Chanyeol Oppa harus mendengar sebanyak apa Changsub bicara.” Chorong berjalan menuju sofa berwarna gading yang ada di tengah ruangan. Ia duduk disusul Changsub yang juga duduk di hadapannya. Chanyeol dan Yoona saling memandang dan tersenyum lalu berpisah karena Chanyeol berjalan menuju mini pantry untuk membuat teh sementara Yoona duduk bersebelahan dengan Chorong.

“Bicaralah, Lee Changsub.” Ucap Chorong datar.

Changsub gugup. Apa yang harus dibicarakannya saat ini? Darimana ia harus memulai semuanya? Changsub menarik napas sedikit dalam, melembutkan pandangannya ke Chorong meski wanita itu masih menatapnya dengan tatapan kesal.

“Aku sudah melakukannya.” buka Changsub.

Chanyeol datang dengan membawa nampan dimana ia menata cangkir berisi teh dan mulai meletakkan cangkir-cangkir teh itu di atas meja, lalu mengambil tempat di sebelah Changsub.

“Tapi bukan membatalkannya, aku menundanya.” Sambung Changsub

“Bukankah kita sudah sepakat? Menikah saja dengan wanita lain supaya paket pernikahan itu tak sia-sia.” Sinis Chorong.

“Jika pada akhirnya aku menikah dengan wanita lain, untuk apa aku repot-repot turun tangan mengurus semua perintilan yang bahkan aku tak tahu namanya. Karena aku ingin menikah denganmu makanya aku mau melakukan hal-hal seperti itu. Karena kau, Rong.” Suara Changsub melembut dan terdengar tulus.

Chorong diam mendengar ucapan Changsub. Hatinya mulai tersentuh tapi kemudian ingatannya tentang malam itu dan bukti-bukti yang ia temukan mengeraskan hatinya kembali. Ia kembali menatap sinis Changsub.

“Apa kau tahu kesalahanmu, Lee Changsub?” tanya Chorong dingin.

Mata Changsub membulat, pertanyaan yang dihindarinya mencuat. Chanyeol menyikut Changsub, “Semoga Tuhan memberkatimu, sobat.”

“Kemana kau pergi dua minggu lalu? Apa kau benar-benar melakukan perjalanan dinas atau sebenarnya kau sedang berselingkuh dengan jalang di pulau Jeju?” Chorong menggeram. Ia meremas tas yang berada dalam pangkuannya.

Changsub terkejut. Bagaimana tidak, ia benar-benar tidak mengerti apa yang dibicarakan Chorong. Ia sudah mendapatkan pertanyaan ini saat mereka bertengkar hebat hingga Chorong membatalkan pernikahan mereka, lalu kenapa ia kembali mendapatkan pertanyaan yang sama?

“Aku sudah menjelaskannya. Aku ke Jeju untuk menghadiri undangan seminar. Bukan berselingkuh seperti yang kau tuduhkan, Rong.” Jawab Changsub.

Chorong mengambil sesuatu dalam tasnya. Sebuah amplop cokelat berada dalam genggaman Chorong, wanita itu meletakkannya di atas meja. Changsub mengambil amplop cokelat tersebut dan mulai membukanya. Wajahnya terlihat terkejut melihat isi dalam amplop itu.

Beberapa foto dengan gambar dirinya bersama wanita dalam berbagai pose, dari yang biasa sampai tak pantas. Jelas ini membuatnya terkejut. Changsub menatap Chorong, “Aku bisa menjelaskannya.”

“Akui saja kau berselingkuh.” Ucap Chorong.

“Tentu saja tidak. Jika aku ingin selingkuh, aku bisa memilih waktu di tahun pertama, kedua, ketiga dan bukan di hitungan minggu kita akan menikah, Rong. Saat itu semua sedang mabuk berat, karena itu adalah hari terakhir jadi semua yang hadir sepakat untuk membuat sebuah pesta perpisahan. Aku bahkan tidak ingat apa yang terjadi di sana. Kau bisa menghubungi Taekun untuk mengkonfirmasi semuanya. Aku berkata jujur, Rong.” Jelas Changsub.

Giliran Chorong yang diam setelah mendengar penjelasan Changsub. Chanyeol dan Yoona yang masih berada di sana saling memandang dan Yoona mengambil sikap, “Kalau boleh aku memberi usul, bagaimana kalau kalian mengambil waktu untuk berlibur? Benar-benar sebuah liburan dimana kalian menghabiskan waktu berdua, menikmati alam dan berbicara dari hati ke hati antara kau dan Changsub. Bukan hanya memikirkan bagaimana masa depan hubungan kalian berdua tapi juga membuka kotak memori tentang semua yang telah kalian lalui berdua.”

“Ah benar, aku dan Yoona sering melakukan itu jika kami bertengkar.” Imbuh Chanyeol.

“Kami punya rumah musim panas di daerah pegunungan barat. Jika kalian mau—“

“Tidak perlu, Unnie.” Potong Chorong.

“Kita perlu melakukannya, Rong. Baiklah, kami akan melakukannya. Berikan alamat kalian. Kita berangkat besok pagi, Rong.”

Changsub terlihat bersemangat meski Chorong masih bermuka masam. Setelah mendapatkan alamat rumah musim panas milik Chanyeol dan Yoona yang ada di kaki gunung, Changsub mengajak Chorong untuk pulang. Tentu saja dengan sedikit memaksa karena Chorong masih bersikap dingin kepada Changsub walaupun Changsub telah kembali ke dirinya yang manja.

“Ah, tunggu! Jika kalian melihat sebuah kuil, mampir dan berdoalah dengan tulus di sana. Mungkin kalian akan menemukan keajaiban di sana.” Yoona menghentikan langkah sepasang kekasih itu.

“Terimakasih, Noona.” Balas Changsub.

 

 

Mereka tiba di rumah musim panas milik Chanyeol dan Chorong setelah menempuh perjalanan selama tiga jam. Rumah bergaya tradisional itu menyambut mereka bersama semilir angin khas pegunungan. Chorong masuk ke dalam rumah lebih dulu sementara Changsub mengambil tas dan belanjaan mereka untuk persediaan selama berada di sini.

“Tuan Park?”

Changsub menoleh mendengar seseorang memanggil.

“Oh, aku pikir kau tuan Park. Apa kau penyewa di sini?” tanya pria tinggi yang mulai berjalan menghampirinya.

“Ah… bisa dibilang begitu. Apa kau mengenal pemiliknya?” tanya Changsub balik.

“Tuan Park? Aku dan istriku mengenal tuan Park dan istrinya dengan baik. Aku Oh Sehun.” Sehun memperkenalkan dirinya.

“Lee Changsub. Apa kau tinggal di dekat sini? Ah mari masuk.” Ajak Changsub yang mulai membawa semua barang-barang miliknya dan Chorong ke dalam. Sehun turut membantu dengan membawakan kantong berisi belanjaan.

Di dalam Chorong terpaku pada sebuah lukisan yang dipajang di ruang utama, “kau bisa mengoyak lukisan itu dengan tatapanmu, Rong.” Goda Changsub yang membuat Chorong mendengus kesal lalu berbalik. Saat berbalik, ia menemukan sosok Sehun yang berjalan di belakang Changsub.

“Eh? Halo.” Sapa Chorong reflek.

Sehun merunduk kecil, “Halo.” Balasnya

Chorong tersenyum kecil. Wanita tetaplah wanita, ia akan merona setiap kali melihat bertemu pria tampan yang ramah bahkan tak peduli dengan kekasihnya yang pandangannya terdapat pedang tajam. Chorong mengekor Changsub ke ruangan lain hingga tiba di dapur.

Changsub mendekat ke Chorong, “ia sudah memiliki istri dan kau akan menjadi istriku, Rong. Sadarlah.”

Chorong tampak tak peduli, ia duduk di lantai dan menarik kantong belanjaan yang Sehun taruh lalu mengeluarkan isinya. Tentu saja yang ia keluarkan bir kaleng, “apa anda mau?” tanya Chorong. Sehun tersenyum kembali dan mengambil bir kaleng yang ditawarkan Chorong.

Gantian Changsub yang mendengus kesal melihat kelakuan Chorong, “Oh iya, dia Park Chorong. Calon istriku.”

Dalam hitungan kurang dari satu detik, Chorong menatap sinis ke Changsub yang dibalas pria itu dengan senyuman manis plus eye smile miliknya. Sehun tertawa kecil melihat keduanya lalu berpamitan untuk kembali ke rumahnya, saat melewati ruang utama Sehun menghentikan langkahnya untuk melihat lukisan yang Chorong lihat tadi.

“Apa kau tahu tentang lukisan ini?” tanya Chorong yang ternyata mengekor.

“Hmm… tidak banyak. Aku hanya tahu nama wanita dalam lukisan itu Ixia.” Jawab Sehun lalu kembali melangkah keluar.

“Ah… jika kalian berjalan-jalan dan melihat sebuah kuil, mampirlah.”

Changsub dan Chorong saling memandang. Keduanya memiliki pemikiran yang sama, kenapa mereka menyarankan untuk mampir ke kuil? Ada apa dengan kuil itu?

 

 

“Sebenarnya untuk apa kita ke sini?” tanya Chorong tiba-tiba saat mereka sedang bersiap untuk tidur.

“Yoona noona kan bilang kita harus mengembalikan gairah bercinta kita. Apa kau tidak kedinginan, Rong? Mendekatlah ke Oppa.” Changsub mengangkat selimutnya.

“Kau mesum sekali, Changsub!” Chorong membelakangi Changsub.

Changsub terkekeh, “kau ingat, Rong? Saat itu musim panas seperti ini juga dan kita sedang berjalan mengelilingi hutan di Jepang, hari itu sangat cerah tapi kemudian hujan lebat turun tanpa aba-aba dan kita berlari mencari tempat berteduh. Padahal ramalan cuaca saat itu mengatakan cuaca akan sangat panas dari biasanya dan kita berakhir di sebuah bangunan tua. Hari itu kau terlihat sangat cantik. Lebih cantik dari biasanya, jantungku berdegup kencang saat berdekatan denganmu. Saat itu aku sadar bahwa aku ingin memilikimu, bahkan saat itu aku sudah bertekad untuk menikahimu.”

Visual dari ingatan Changsub sangat jelas meski sudah 4 tahun berlalu. Chorong yang masih membelakangi Changsub hanya tersenyum kecil. Sesaat ia bersyukur Tuhan mempertemukannya dengan Changsub. Meski hubungan mereka tak selalu tentang cinta dan tawa yang disuguhkan Changsub lewat leluconnya, Chorong tetap bersyukur memiliki Changsub menjadi kekasihnya.

“Rong… Apa kau ingat juga tentang ini? Hari itu tahun kedua kita berpacaran, pria Jepang itu kembali menemuimu dan memintamu kembali dengannya. Pria itu bahkan tak peduli meski ia melihatku berdiri menggenggam tanganmu, lalu kau dengan keren menarikku melewatinya tanpa mengucapkan sepatah katapun. Padahal jelas pria itu lebih tampan dan mapan dari aku yang saat itu masih residen spesialis.” Changsub kembali membuka lembar kenangannya bersama Chorong.

“Aku tidak pergi begitu saja. Aku bilang padanya ‘tidak, terimakasih’. Cih, begitu saja tidak ingat.” Sahut Chorong.

“Hahaha, Aku menyayangimu, Rong. Aku ingat betul tentang itu tapi sengaja agar kau mau berbagi kenangan denganku.” Changsub berguling ke arah Chorong, membuatnya jarak keduanya memendek.

Chorong mendengus kesal, “Tidurlah. Selamat malam.” Chorong menarik selimutnya sampai menutupi setengah wajahnya sedang Changsub mulai meninggalkan selimutnya dan menyusup ke selimut Chorong. Menarik Chorong masuk ke dalam pelukannya lalu mulai memejamkan mata.

“Aku mencintaimu, Park Chorong.” Bisiknya lembut.

 

 

“Lee Changsub, cepatlah! Atau aku akan pergi duluan!” ancam Chorong.

Changsub keluar dengan membawa tas dukung berbahan rajut, ia memasukkan sebotol air yang sudah diisinya dengan irisan lemon, stroberi dan daun mint. Ia segera menyusul Chorong yang sudah lebih dulu berjalan. Mereka berjalan beriringan ke arah hutan. Setelah mencari info tentang tempat ini, ada sebuah kuil yang cukup terkenal berada di tengah hutan. Entah kuil ini adalah kuil yang sama dengan yang dimaksud Chanyeol dan Sehun atau bukan tapi keduanya tertarik untuk melihat kuil itu.

“Apa kau masih marah denganku, Rong?”

“Biasa saja.” jawab Chorong singkat.

Changsub meraih tangan Chorong dan menggenggamnya erat sambil berjalan. Memasuki hutan, langit yang tadinya cerah berubah menjadi keabuan. Semilir angin mulai terasa dingin dan bau hujan semakin kental tercium.

“Tidak lagi.” ucap keduanya bersamaan. Changsub dan Chorong bergegas masuk semakin dalam ke hutan dan tetesan air hujan mulai terasa di kulit mereka. Sebuah bangunan tua yang seperti kuil mulai terlihat sembari hujan yang turun semakin deras. Changsub menarik tangan Chorong saat berlari hingga tiba di bawah atap kuil untuk berteduh.

Chorong menatap sekeliling kuil dan mulai berkeliling sementara Changsub langsung menemukan sebuah alas di depan meja persembahan. Ia berjalan menuju meja persembahan dan mulai mengeluarkan barang yang dibawanya, kemudian menyusun bawaannya di atas meja. Changsub menyatukan tangannya, memejamkan mata dan mulai berdoa diiringin suara hujan.

“Oh! Halo…” sapa Chorong kikuk, ia terkejut menemukan seorang wanita dengan rambut tersurai yang dihias bunga dan daun.

“Halo. Kalian pelancong?” tanyanya lembut.

“Benar. Anda penghuni kuil ini?” tanya Chorong pelan.

“Bisa dibilang begitu. Tunggu! Jangan-jangan kalian temannya tuan Park?”

“Benar. Kau tahu Chanyeol Oppa?” tanya Chorong balik.

“Ya, dia dan istrinya sangat baik kepadaku. Apa yang bisa kulakukan untuk kalian?”

“Tidak. Kau tidak perlu melakukan apapun. Kami hanya menumpang berteduh di sini karena hujan.” Tolak Chorong halus.

“Begitu, tapi aku mendengar pria itu berdoa. Aku akan mencoba melakukan yang terbaik untuk mengabulkan doanya.”

“Apa kau seorang dewi? Kenapa kau harus mengabulkan doanya?” Chorong melihat ke tempat Changsub dan menemukan persembahan yang sudah disusun Changsub, “Chang—“

“Dia pria yang baik. Apa kau ingin tahu yang apa yang ia doakan?” tanya wanita itu lembut.

“Umm… Tidak. Aku yakin dia mendoakan agar akhir tahun ini ia bisa naik jabatan. Dia pria yang terlalu mencintai pekerjaannya, aku sampai cemburu karena ia lebih sering bersama pasiennya daripada menemaniku memilih kayu langsung dari penebang.” Keluh Chorong yang membuat wanita cantik itu terkekeh dan seketika wajah Chorong bersemu karena merasa kelepasan bicara.

“Pria itu mengisi doanya dengan namamu, nona Chorong. Meskipun doanya sedikit lucu tapi aku bisa merasakan ketulusannya dalam berdoa. Ia memulai doa dengan namamu dan sekarang telah mengakhirinya menggunakan namamu. Kurasa, aku tidak perlu memberitahu apa yang ia doakan. Kau pasti bisa melihat dan merasakannya nanti.”

“Oh iya, namaku Krystal. Sebenarnya aku tak begitu bisa mengabulkan permintaan orang tapi aku selalu ikut berdoa agar Tuhan berkenan mengabulkan doa kebaikan yang orang-orang ucapkan di kuil ini.” sambung wanita yang bernama Krystal.

Changsub sudah selesai berdoa, ia berdiri dan mulai melihat sekitar untuk mencari sosok Chorong. Saat menemukan Chorong, ia langsung berjalan mendekati kekasihnya itu. Meski bertanya siapa wanita yang tersenyum kepada Chorong, Changsub tetap menyapanya sopan.

“Oh kalian benar-benar mampir ke kuil ini?”

Changsub dan Chorong melihat Sehun, pria yang kemarin datang membantu, keluar dari ruangan lain kuil ini menggunakan pakaian yang senada dengan yang Krystal gunakan. Sehun berdiri di sebelah Krystal, seolah menjelaskan sesuatu, baik Changsub dan Chorong mengerti hubungan kedua orang itu. Namun, Chorong tergelitik pada kenyataan Krystal yang bisa mendengar doa Changsub, “Krystal… Jika kau bukan seorang dewi, lalu kau dan tuan Sehun apa?”

Krystal dan Sehun saling memandang dan tersenyum, “Penunggu hutan ini.” jawab keduanya singkat.

Kecuali Changsub yang mulai bergidik, Chorong tampak bisa menerima jawaban Krystal dan Sehun. Mereka mulai mengobrol ringan tentang hal-hal yang berhubungan dengan Krystal dan Sehun sebagai penunggu hutan lalu meningkat ke cerita pertemuan keduanya sampai bagaimana mereka mengenal Chanyeol dan Yoona. Hari yang tadinya hujan deras, sekarang mulai memunculkan bias-bias cahaya matahari jingga dari sela-sela daun yang menjulang tinggi.

“Hari sudah sore, kalian harus pulang selagi matahari masih menerangi jalan di hutan. Ah, suamiku akan mengantar kalian kembali rumah tuan Park.”

Benar yang dikatakan Krystal, mereka harus segera kembali selagi langit masih terang. Saat sudah bersiap untuk kembali, Krystal memanggil Chorong, “Katakan saja ‘Ya’, nona Chorong.”

 

 

“Selamat atas pernikahan kalian.”

Ucapan selamat dari para tamu undangan tak heri diterima oleh Changsub dan Chorong. Kebahagiaan jelas tergambar indah dalam pernikahan yang mereka rancang dan urus sendiri. Diantara tamu undangan yang hadir, Chanyeol dan Yoona menjadi salah satunya.

“Selamat untuk pernikahanmu, Changsub.” Ucap Chanyeol saat menghampiri sepasang pengantin itu bersama Yoona.

“Ngomong-ngomong, bagaimana kau bisa meyakinkan Chorong lagi?” sambung Chanyeol.

“Itu semua karena kekuatan cinta.” Jawab Changsub bangga.

Chorong menyikut Changsub, “Krystal memintaku menjawab ‘ya’, Oppa, dan inilah yang terjadi karena aku menjawab ya.”

 

-END-

 

^NOTE^

Maaf banget buat tim karena baru posting hari ini, seharusnya minggu kemarin tapi karena kesalahanku jadi baru diposting sekarang Y____Y udah telat postnya ffnya begini lagi, tbvh awalnya ff ini punya feel yang lebih kalem tapi dasar playlist mp3ku random jadi mood ikut random >,< maaf banget buat para pembaca.

Dan…

Begitu project FF ini selesai, ffindo bakal ngadain sesuatu yang menarik sebagai puncak dari project ini. jadi, kalian –para author dan readers- sebaiknya rajin-rajin mampir ke sini dan kasih feedback ke ff dari para author di sini XD

Have a good trip in ffindo guys~

Advertisements

One response to “[FFINDO PROJECT] FANTASY – Our Last Trip

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s