[Oneshot] Remembrance

remembrance.jpg

| Remembrance |

©2017 HyeKim’s Fanfiction Story

—Lu Han Kim Hyerim—

with Lu Hyunjoon—

Fantasy, Sad, lilRomance & Marriage Life — PG-17 — Oneshot

Deypratiwi @Indofanficart For The Poster—

standart disclaimer applied, copy-paste without permission and plagiat are prohibited

—the sad memories that comes back—

Luhan merupakan malaikat pencabut nyawa yang diutus Dewa. Para malaikat pencabut nyawa seperti dirinya adalah seorang pendosa yang dihapus ingatannya untuk menebus dosa yang mereka lakukan semasa hidupnya. Hingga suatu hari Luhan mendapatkan kepingan pahit memori masa lalunya yang berhubungan dengan wanita bernama Hyerim, istrinya yang sebentar lagi menjemput maut.

—Inspiration From Goblin—


HAPPY READING

║ ♫  ║ ♪  ║ ♫  ║ ♪  ║

Hembusan angin yang kelewat menusuk tubuh ringkih manusia hari ini, berhembus dengan santainya. Langit pun seakan berbelasungkawa dengan kegelapan yang mendominasi. Layaknya barang rongsokan, dedaunan coklat yang layu itu bertebaran ke sana-sini di trortoar maupun aspal jalanan raya yang dibelah oleh kendaraan beroda, yang mana hal tersebut membuat dedaunan makin terhempas ke lain sisi dengan malangnya. Alam seakan merajuk, bahkan rinai hujan pun turut andil saat ini.

‘Tap! Tap!’

Suara derap langkah tungkai kaki yang dilapisi oleh sepatu pentovel itu terdengar. Buahan suara dari ketukan sepatu yang sedang dipakai melangkah di trortoar itu seakan bergema ditengah alam yang sedang merajuk. Pemilik tungkai sepatu pentovel itu ialah seorang pemuda yang well, cukup tampan dengan tampang tanpa ekspresi bahkan mungkin terlihat dingin. Tuxedo hitam dan topi hitam lebar miliknya seakan memancarkan karisma kuat dari pemuda itu.

Luhan, setidaknya pemuda dengan ingatan terbabat habis itu masih diberi kesempatan mengetahui namanya saat dulu masih diberikan kesempatan menghembuskan napas. Tungkai miliknya terhenti di ujung jalan dengan kepala terangkat, lantas logam matanya menelisik jalanan raya yang padat. Sekon selanjutnya, Luhan mengangkat tangannya disertai sebuah kartu nama yang tertulis dengan tinta merah tebal.

“Kim Jongdae, dua puluh tiga tahun, kecelakaan motor dikarenakan jalanan yang licin,” bibir Luhan yang kemerahan lantaran dinginnya hari ini pun berucap. Matanya lalu kembali menelisik liar jalanan raya.

Sesuai prediksinya, pemuda dengan motor sport berwarna merah terang tampak melaju di aspal jalanan. Senyum tipis terkulum dibibir Luhan saat motor sport itu melaju urak-urakan, menghiraukan jalanan licin yang disebabkan hujan. Sementara hujan makin lebat bukan main, Kim Jongdae pun tambah meningkatkan kecepatan motornya hingga matanya mutlak melebar—kaget, kala dua buah mobil tiba-tiba berada di hadapannya, kesempatannya menyalip pun tidak ada. Akhirnya sesuai dengan tugas Luhan di sini, Jongdae kehilangan fokusnya hingga motornya terjatuh lantaran aspal yang licin juga menyebabkan tubuhnya terpental dan berguling beberapa kali di aspal licin itu. Finalnya saat benturan keras menyebabkan helm yang ada dikepala pemuda itu pecah menyebabkan ajal menyambutnya.

Sementara Luhan—Si Malaikat Pencabut Nyawa, hanya tersenyum samar dan mulai menderapkan langkah untuk melaksanakan tugasnya.

║ ♫  ║ ♪  ║ ♫  ║ ♪  ║

Hyungnim, apa aku akan ke Surga?” vokal Jongdae, pemuda yang beberapa menit lalu dijemput Luhan itu, terdengar dengan mata bergerak-gerak menyelusuri ruangan yang saat ini berdiri dirinya bersama Luhan.

Ditanyai begitu, Luhan yang ada di sebelah Jongdae pun melirik pemuda itu lantas mengangkat bahu. “Aku hanya diutus menjemputmu, sekarang yang harus kau lakukan adalah membuka pintu di hadapanmu dan naiki tangga untuk menuju dunia yang abadi.”

Walau pertanyaannya tak terjawab, Jongdae menoleh pada Luhan dengan seuntas senyum hangat kemudian membungkukan badannya. “Terimakasih sudah mengantarku, hyungnim. Aku pergi sekarang.” itulah ucapan terakhir Jongdae sebelum membuka pintu kecoklatan yang melihatkan tangga yang berada di tengah-tengah langit biru yang berhias awan, tungkainya lantas mengiring diri ke mana tangga itu tertuju.

Kepergian Jongdae hanya disambut Luhan dengan senyum pahit, yang kemudian bibirnya pun melontarkan kata. “Kau akan berada di Eden, Jongdae-ssi. Meskipun tidak, kau tidak melakukan dosa besar hingga Dewa menghapus ingatanmu dan menjadikanmu malaikat pencabut nyawa…” sebentar Luhan menghentikan ucapan. “… seperti diriku misalnya.”

║ ♫  ║ ♪  ║ ♫  ║ ♪  ║

Alam yang merajuk seperti kemarin sore sudah menghilang pagi ini. Mentari menyinari kota Seoul dengan angkuhnya. Langit pun melukis hamparan biru keindahan dengan awan-awan putih terpajang. Angin tak berhembus sangat menusuk tubuh ringkih para manusia.

Di sudut kota Seoul, lebih tepatnya di sebuah rumah minimalis, wanita bersurai hitam panjang dengan wajah ayunya itu membuka jendela rumahnya. Suasana bersahabat alam hari ini menyebabkan senyum nampak diwajahnya. Kepalanya mendongak sejenak ke langit kemudian setelah puas menikmati suasana pagi, Kim Hyerim pun membalikan badan dan berjalan ke arah dapur.

“Hyerim-ah!” vokal riang dari sahabatnya bernama Yoo Ara itu terdengar, sahabatnya itu dengan santainya duduk di kursi bar dapur Hyerim. “Yang cepat, ya sarapannya.” dasar tidak tahu diri, yang tuan rumah Hyerim tapi Ara malah seenak jidat saja.

Suruhan sahabatnya itu membuat Hyerim mendengus tapi tetap melongos ke arah dapur. Sambil sibuk dengan kegiatannya di dapur dan berposisi memunggungi Ara yang sedang memakan kacang dari toples yang ada di meja bar, Hyerim berkata.

“Omelette saja, ya. Juga hari ini aku ingin pergi.”

Lontaran tanpa aksara itu menyebabkan Si Gadis Yoo melayangkan tatapan pada punggung Hyerim yang mulai sibuk dengan alat masaknya, air wajah Ara mencetak keheranan dengan alis berjungkit. “Pergi ke mana?”

Pertanyaan santai juga ringan tersebut layaknya menghantam Hyerim sampai ulu hati, gerakannya tertunda dengan perasaan sesak menjelajari. Perlahan, tubuh Hyerim bergerak memutar hingga berhadapan dengan Ara yang masih berlagak santai serta memakan kacang yang tertampung di toples.

“Ara-ya…” panggil Hyerim dengan suara lemah, gumaman singkat Ara dengan wajah bertanya pun merupakan respon Si Sahabat. Senyum tipis terukir diparas Hyerim. “Hari ini peringatan kematian suami juga putraku.”

Suara lemah Hyerim yang sepenuhnya untuk menenggelamkan getaran nada itu, membuat Ara tersedak kacang hingga terbatuk-batuk. Tangan gadis bernama Yoo Ara itu bergerak memukul-mukul dadanya, lalu ia melekatkan tatapan pada sosok Hyerim yang menyuarkan aura sendu dengan kuluman senyum tipis penuh akan artian. Ara menampilkan mimik tak enaknya dengan senyum yang sama.

“Maaf, Hyerim, aku lupa. Aku—”

Gelengan kepala Hyerim menyebabkan kata-kata Ara tak disambungkan lebih lanjut, wanita itu melempar senyum lembutnya. “Tak apa, aku malah sudah bersemangat untuk bertemu Hyunjoon dan…” sejenak ucapan Hyerim terhenti dengan pandangan menerawang serta wajah sendu, bibirnya kembali bercakap walau terasa pedih. “… dan juga Luhan.”

║ ♫  ║ ♪  ║ ♫  ║ ♪  ║

Rantai pohon itu terlihat malang, sudah terjatuh, terinjak hingga retak pula dikarenakan sepatu pentofel tanpa belas kasihan itu menginjaknya. Si Pemilik tungkai sepatu itu pun mengangkat pandangan dan menyisir keadaan sekitar. Disaat pemuda dengan pakaian serba hitam itu mengambil satu kotak susu serta meminumnya, sebuah tangan menyentak bahunya menimbulkan Luhan—Si Pemuda yang menjadi sorotan dari tadi, menoleh.

“Hai Luhan, lama kita tidak bersitatap ya.” itulah sapaan Si Pelaku penepuk bahunya disertai senyum ramah tersemat diwajah.

Luhan yang sedang menyeruput susu kotaknya pun, menjauhkan minumannya dan balas tersenyum dengan anggukan. “Ya, Chanyeol-ssi, dirimu sedang mengurusi jiwa yang menghilang ya akhir-akhir ini?”

Anggukan dengan wajah kecewa lengkap oleh desahannya itu merupakan respon dari Chanyeol. “Begitulah, para jiwa yang hilang yang merepotkan. Tapi mungkin itu namanya mukjizat juga yang membiarkan mereka lolos dari maut,”

Dengusan Luhan tercipta mendengar jawaban Chanyeol yang menyentil gendang telinganya. “Mukjizat yang membuat kita berkerja lebih,” tawa pelan Chanyeol pun terdengar, sementara Luhan memilih kembali menyeruput susu kotaknya sampai habis.

Orang-orang terus berlalu lalang melewati makhluk tak kasat mata seperti Luhan dan Chanyeol. Keduanya sedang terduduk di kursi halte bus yang lenggang, menunggu jam penjemputan nyawa yang sudah ditentukan. Sekali-kali arloji yang melingkar dipergelangan tangan pun, dilirik oleh bola mata keduanya.

“Luhan-ssi,” tiba-tiba Park Chanyeol memanggil, lantas membuat Luhan menoleh padanya dengan tampang tanda tanya. Chanyeol memutar kepala dan mulai bersajak lagi. “Apa kau pernah berpikir untuk mengingat masa lalumu? Para Dewa hanya membiarkan nama kita saja yang kita ingat, apa kadang kau tidak merasa hampa?”

Bergeming seketika dilakukan Luhan karena sajakan frasa dari bibir Chanyeol, bibirnya mengatup dengan otak yang berpikir. Setelah waktu terbuang beberapa menit, Luhan mengangkat bahu kemudian membuang pandang ke arah depan.

“Entahlah, Dewa sudah merencanakannya sedemikian rupa. Kadang aku hanya penasaran, kesalahan apa yang kuperbuat,”

Di sebelah Luhan pun, timbal balik Chanyeol adalah anggukan pertanda setuju. “Aku pun demikian, walau sebenarnya mengingatnya akan menimbulkan rasa pedih.” napas Chanyeol terhela saat mengakhiri ucapannya, di lain sisi Luhan malah menatapnya lekat dengan alis menyatu.

“Pedih?” Luhan membeo tak paham, ia memiringkan kepala untuk menatap profil Chanyeol yang sekon ini sedang mengangkat kaki untuk bertumpu disatu kakinya serta melipat tangan.

Beoan Luhan pun menarik Chanyeol untuk menatapnya lurus. “Aku yakin memori yang dihapus adalah memori yang tak mengenakan. Aku pernah dengar ada malaikat pencabut nyawa yang mengingat masa lalunya, kemudian dirinya menangis memohon pada Dewa untuk membiarkan targetnya tidak mati karena Si Target adalah orang yang dulu ia bunuh keluarganya.” lagi-lagi final ucapannya disertai helaan napas dengan tatapan terbuang ke arah jalanan yang padat.

Luhan sendiri pun sudah membatu, mencerna ucapan Chanyeol. Apakah semasa hidupnya ukiran aksara albumnya dipenuhi oleh dosa besar seperti membunuh? Tidakah ada kenangan manis tersematkan di dalamnya? Pikiran pemuda Lu itu sudah berkecabang ke mana-mana, berharap juga dalam hati dapat melihat setitik masa lalunya. Karena akhir-akhir ini, Luhan selalu merasakan rasa sesak tak beralasan apalagi ketika melihat padang luas berjejeran rapi bunga baby breath.

Tepukan dibahu Luhan disarangkan Chanyeol membuat Luhan tersentak serta menoleh ke pemuda Park itu, nampak Chanyeol menunjuk satu objek dengan dagunya. Fokus mata Luhan langsung melayang ke objek tersebut, seorang lelaki setengah baya yang sedang menyetir dengan tenang.

Sebelum Luhan melakukan penggerakan, Chanyeol melayangkan telunjuknya ke arah pemuda paruh baya itu yang kali ini dengan ujaran. “Targetmu pria itukan? Semangat.”  

║ ♫  ║ ♪  ║ ♫  ║ ♪  ║

“Luhan-ah,” panggilan lembut yang berasal dari bibir seorang perempuan terdengar, Kim Hyerimlah namanya. Hyerim sedang menata meja makan sampai sebuah tangan melingkar diperutnya yang berisi disertai dagu yang diletakan dibahunya.

Semilir aroma parfum yang menyeruak kedalam hidungnya membuat Hyerim dapat mendeteksi siapa gerangan yang sedang memeluknya. “Hmm, sepertinya makan siang hari ini adalah menu kesukaanku,” ujaran Luhan—Si Oknum pemeluknya, terlafalkan membuat Hyerim memutar tubuh dan langsung dihadiahi kecupan dibibirnya oleh Luhan.

“Lu…” panggil Hyerim dengan pipi merona tapi Si Suami hanya menampilkan senyuman dan menempelkan hidungnya dengan Hyerim lalu mengelus sayang perut istrinya yang sedang mengandung.

“Aku harap anak kita laki-laki dan bisa menjadi detektif handal sepertiku,” ucap Luhan penuh harap sambil menatap kandungan Hyerim.

║ ♫  ║ ♪  ║ ♫  ║ ♪  ║

Rumah persemayaman yang berada di tengah kota Seoul itu terlihat tidak terlalu ramai. Jejeran rapi lemari-lemari yang berisikan guci dengan abu orang terkasih yang telah tiada itu seketika membuat hati perih ketika mengunjungi tempat tersebut. Rasa perih itu menyeruak memasuki rongga dada apalagi tatkala netra ini menjatuhkan diri pada bingkai foto yang terpajang, membuat rasa rindu menyesaki jiwa pada orang yang telah pergi itu. Hal tersebut nyatanya dialami Kim Hyerim yang sedang terpaku di depan lemari kaca yang menampakan dua guci berisi abu putra serta suaminya. Potret kedua orang terkasih yang ada di bingkai tepat di hadapannya membuat liquid bening itu nampak disudut obsidian milik Hyerim.

Setelah berusaha untuk tidak meneteskan air mata, Hyerim mengulum senyum dan menatap foto Hyunjoon, putranya. “Hyunjoon-ah, ibu datang,” sapa Hyerim dengan nada lembut lalu tangannya terangkat mengelus kaca lemari yang membatasi dirinya untuk langsung menyentuh bingkai foto putranya.

Lantas pandangan Hyerim beralih ke guci di sebelah milik Hyunjoon, sinar netra yang tersirat menyimpan beribu rindu serta luka dalam. Potret pemuda tampan dengan senyum menawannya itu sontak membuat seorang Kim Hyerim jatuh kepada penjara cinta kesekian kalinya. Seluas apapun rasa benci yang membelengu, Hyerim tetap merindukan Luhan. Setitik air mata itu mulai merembet.

“Luhan-ah…” Hyerim mulai memanggil nama tersebut kemudian maniknya terpejam diikuti kedua tangan menangkup, kepala wanita Kim itu menunduk. Hatinya pun melafalkan beberapa doa untuk suami serta putranya diiringi kepala yang memutar kembali kejadian pahit setahun silam.

‘Dor!’

“Umma…”

Darah berceceran di lantai tersebut, seorang anak lelaki yang lahir dengan nama Hyunjoon itu terkapar dengan tangisnya yang mengaung. Namun Luhan—selaku oknum pencetus senjata itu, malah melihatkan tatapan berkobarnya.

“Hiks, ayah,” isakan lolos dari bibir Hyunjoon yang lantas menatap Luhan, Sang Ayah, nanar.

“Tidak, kenapa, kenapa… dirimu… harus cacat?” ujar Luhan dengan bola mata berapi-api lalu kembali mencondongkan senjata api ke arah putra semata wayangnya yang makin histeris.

Peluru hendak mencuat, akan tetapi secepat kilat, sosok Hyerim hadir dan mulai mencegah dengan menampar pipi Luhan. “Ya! Kamu ini kenapa? Hanya anak kita lumpuh semenjak kecelakaan itu, obsesimu tidak terealisasikan begitu?!” jerit Hyerim dengan mata berair.

Jeritan itu nyatanya hanya angin yang melewati runggunya, sosok Luhan malah menyarangkan tatapan berapi-api pada istrinya. Masih jauh dalam benaknya, menginginkan putranya menjadi sepertinya namun pupus sudah karena Hyunjoon yang mengalami kecelakaan saat mengendarai sepedahnya lalu berakhir ditabrak sebuah mobil. Kaki putranya lumpuh selamanya.

“Memangnya kenapa dengan obsesiku?!” Luhan balas menjerit membuat bibir Hyerim bergetar menahan isakan, sementara di lain sisi pun, Hyunjoon mulai meredakan tangis walau masih terlihat cairan bening membasahi pipi.

“Kau…” Hyerim menatap Luhan lamat-lamat. “… kau bukan Luhan yang kukenal.”

Hening menyapa keluarga kecil itu, sampai suara pistol yang siap mencetuskan tembakan terdengar. Signal tersebut membuat Hyunjoon membola dengan kepala menggeleng, ayahnya yang sudah setengah gila itu mencondongkan kembali pistol ke arahnya dengan mata membara.

“Michinggeoya?! (Kau gila ya)” tampik Hyerim pada pistol tersebut tetapi tak berefek apapun kala pistol yang digenggam Luhan tak berakhir jatuh sesuai ekspetasinya.

“Ibu, ayah…” Hyunjoon memekik tatkala Luhan menyarangkan tatapan tajam pada Hyerim yang napasnya tersenggal-senggal sepertinya, keduanya menahan amarah tak terbendung.

Dengan amarah membuncah, Luhan mendorong Hyerim menjauh hingga istrinya terpental jauh dengan kepala menabrak ujung meja, menimbulkan suara ‘krang’ nyaring diikuti tubuh Hyerim yang terjatuh di lantai rumah serta darah diujung kepala yang mulai nampak, pandangannya pun mulai buram. Merasa tak ada hambatan lagi, Luhan menatap Hyunjoon yang sedang menatap Hyerim dengan mata berair.

Fokus Hyunjoon berganti pada Luhan, dirinya tetap menangis serta menggeleng. “Ayah, jangan… ayah… ay—“

‘Dor!’

Tetapi semua lafalan kata ayah yang ingin ia ujarkan tertelan saat pelatuk tersebut ditarik mencetuskan gemaan terhadap peluru yang menyarang dipelipisnya. Dengan kesadaran beberapa persennya, Hyerim menatap nanar putranya yang beberapa meter di hadapannya mulai kehilangan kesadaran.

“Hyunjoon, Hyun… joon..” panggil Hyerim terbata namun jawaban pahit sebelum dirinya pingsan pun didapatkan, ditandai darah yang mengalir bak sungai di lantai rumahnya.

Sekon selanjutnya, entah mengapa, suara tembakan kembali mengaung. Menggunakan sisa tenaganya, Hyerim melirik dan mendapati Luhan menembakan peluru kepelipisnya sendiri. Lantas tubuh pemuda itu ikut ambruk di lantai rumah, cairan pekatnya merembes mengikuti cairan milik putranya.

“Hah!” napas Hyerim tersenggal lalu matanya terbuka, kepalanya menggeleng kuat mengingat untaian masa lalu pilu itu. Tubuhnya mulai merangsek turun dengan bahu bergetar disertai tangisan tanpa lolongan isakan miliknya.

║ ♫  ║ ♪  ║ ♫  ║ ♪  ║

‘Kring! Kring!’

Suara lonceng kecil di kantornya membuat Luhan mendongakan kepala menatapnya. Semilir angin dengan kuat mendorong terus benda kecil itu hingga mengaung terus-menerus tanpa ampun. Baru saja Luhan mengantar targetnya beberapa sekon lalu, tapi mengapa lonceng di kantornya berbunyi? Mendadak pandangan Luhan mengabur, kepalanya dilingkupi perasaan pening hingga tangannya pun terangkat memegangi samping kepalanya.

“Luhan, aku mencintaimu,”

“Aku ingin anak kembar,”

“Lu Hyunjoong? Jangan, terlalu pasaran,”

“Hyunjoon lebih baik,”

“Lihat, anak kita tampan pasti keturunan dariku,”

“Tidak bisa, Hyunjoon tampan karena aku cantik,”

Suara-suara seorang wanita terus merasuki otaknya, membuat pening itu bertambah. Dilengkapi juga sosok wanita berwajah samar dengan surai hitam panjang yang muncul disudut pandang Luhan. Lalu Luhan melihat dirinya sendiri, dirinya yang memeluk Si Wanita, menciumnya, mengelus perutnya yang sedang mengandung, mengacak-acak sayang rambutnya. Bahkan kepingan nyata saat keduanya bersumpah di depan altar pun turut andil. Dilanjutkan kepingan saat keduanya tersenyum bahagia setelah seorang balita lelaki yang lahir di dunia.

“Kim Hyerim, sungguh aku tidak menyesal menikahimu,”

“Baby breath? Kenapa kamu suka sekali bunga itu?”

“Kata dokter, jabang bayimu berkelamin laki-laki. Bayangkan, pasti dirinya tampan sepertiku.”

“Aku mencintaimu, mencintai putra kita juga,”

“Aku ingin Hyunjoon menjadi detektif sepertiku,”

“Akh,” Luhan memekik sakit dengan mata berair, kepalanya menunduk dan terlihat binar mata yang terpancar merasa frustasi. Memori yang kembali mendatanginya sangat mengikatnya akan sesuatu yang dinamakan sesak dan sakit, entah mengapa.

Kepingan itu kembali berlari, menyelusuri lingkup otaknya yang kosong itu dijejali. Luhan merasa liquid beningnya turun menyelusuri pipi. Kepingan akhir yang nampak ini membuat hatinya tersayat. Pemandangan anak lelaki berumur enam tahun yang terkapar dengan banyak darah. Sosok wanita yang ia panggil Hyerim, juga terkapar dengan luka disudut kepala. Sementara sosok dirinya tampak termangu dengan beribu penyesalan, hingga senjata api yang ia genggam pun ditaruh dipelipisnya dan…

Mata Luhan terpejam dengan air mata merembet ketika memori itu masuk kedalam otaknya, suara ‘dor’ dalam kenangan pahitnya membuat Luhan tergetar bukan main. Tubuhnya yang berada dalam lingkup memorinya itu terjatuh mengikuti tubuh istri dan putranya.

“Apa ini? Dan siapa pula Hyerim dan Hyunjoon?” gumam Luhan dengan wajah merintih dan obsidiannya yang sudah terbuka memancarkan kebingungan. Kenangan yang menerobos masuk kedalam dirinya menyimpan banyak beribu pertanyaan yang belum bisa terjawab.

║ ♫  ║ ♪  ║ ♫  ║ ♪  ║

“Dia mengingat kembali masa lalunya,” suara yang mengaum ditengah semilir angin di langit itu terdengar. Dua sosok agung bernama Dewa itu terlihat memperhatikan sosok Luhan yang tampak tersiksa setelah didatangi memori masa lalunya.

“Kenapa kau melakukannya?” lawan bicaranya pun bertanya tanpa mengalihkan tatapan dari Luhan yang terlihat miris.

Dewa yang pertamapun tampak menghela napas lalu mulai mengeluarkan jawabannya. “Istrinya merindukannya dan sebentar lagi mendapat giliran menuju Eden. Jadi mungkin tak salah juga memberikan memori masa lalu Luhan semasa hidupnya karena dirinyalah yang akan menjemput Hyerim, istrinya.”

║ ♫  ║ ♪  ║ ♫  ║ ♪  ║

Baby breath. Bunga tersebut kadang kala dipakai sebagai buket bunga pengantin. Warna keputihan bunga itu terpancar luas di ladang bunga yang sedang diperhatikan oleh sepasang manik pemuda bernama Luhan itu. Manik matanya tak membinarkan kekaguman pada bunga itu, namun sebuah nanar akan luka yang menganga—yang dirinya sendiri tak mengerti, terpancar dari kilatan netranya.

“Luhan-ssi,” sebuah suara bass khas Park Chanyeol menyentil telinga Luhan, lantas yang dipanggil pun menoleh dengan senyum samar serta air wajah sendu. Hal tersebut membuat Chanyeol heran. “Kau kenapa?”

Kembali Luhan menatap ladang bunga baby breath lalu menghela napas, kepalanya langsung menggeleng. “Aku rasa kau benar. Kenangan masa lalu yang dihapus Dewa adalah kenangan yang pedih.”

Meski heran, Chanyeol hanya bungkam menatap profil samping Luhan yang masih memancarkan aura sendu. “Kau… mengingat masa lalumu?” setelah paham, Chanyeol bertanya dengan mimik kaget.

Kepala Luhan menoleh lalu bahunya ia angkat, pertanda tak tahu. “Entah, mungkin ya.”

Jawabannya itu langsung dihadiahi Chanyeol tepukan dibahu untuk memberi semangat, entah untuk tabah atau apapun itu agar Luhan tidak terlalu terlarut akan kenangan pahit yang menyarang kembali dalam otaknya.

“Ngomong-ngomong, aku punya tugas untukmu,” ucap Chanyeol setelah sebelumnya menurunkan tangan dari bahu Luhan.

Pria yang sama-sama malaikat pencabut nyawa itupun, terlihat mengambil sesuatu disaku mantel hitamnya. Luhan sendiri sudah memperhatikan lawan konversasinya itu dengan alis berjungkit. Sebuah amplop hitam tersodorkan ke arah Luhan oleh tangan Chanyeol yang menyunggingkan senyum.

“Seperti kataku, mukjizat membuat kita repot. Ini segelintir dari jiwa yang hilang yang kartu namanya telah sah. Karena terlalu banyak, jadi aku disuruh membaginya kebeberapa malaikat maut,” ujarnya dengan kekehan. Tanpa bertanya pun, Luhan tahu isinya ialah kartu nama target selanjutnya dan segera menerimanya.

Chanyeol yang sudah serah terima itu memasukan kedua tangan ke saku mantelnya lalu menatap hamparan baby breath di hadapannya. Sembari menghela napas, Chanyeol melontarkan kata. “Kau tahu tidak, kartu nama manusia yang kuberi itu mempunyai kisah yang tragis.”

Rasa penasaran nyatanya mengelitik Luhan yang sudah memandang bunga-bunga baby breath, ia pun melirik Chanyeol dari ujung mata sambil menaikan alis. “Dia seorang wanita yang ditinggalkan oleh suami dan putranya secara tragis.” Chanyeol memulai dongeng dengan wajah sedih, seakan kesedihan wanita yang ia sebut dirasakan juga olehnya.

Jantung Luhan rasanya bergetar hebat, pandangannya seketika menerawang dengan pikiran yang terbang. Garis start cerita Chanyeol seakan menghantarkannya pada sebuah jalinan benang yang terhubung akan kepingan memori yang hinggap diotaknya. Tapi Luhan tak ingin menyela dan berusaha jadi pendengar yang baik tentang targetnya nanti.

“Harusnya dia meninggal satu tahun lalu, bersama dengan suami dan putranya. Tapi nyatanya Dewa berbaik hati, merasa tak pantas wanita sebaik dan sesabar dirinya meninggal dengan tragis. Kematiannya setahun lalu seharusnya karena penyakit jantung yang diakibatkan saat ia sadar dari pingsannya, dirinya terlalu terkejut saat tahu putra serta suaminya meninggal,” kembali untaian dongeng itu Chanyeol hantarkan membuat kepala Luhan berdengung hebat.

Tak peka akan keadaan Luhan, dongeng yang terucap diranumnya kembali ia sambung dengan santainya. “Wanita itu…” kepala Chanyeol menggeleng dramatis. “… dia wanita kuat dan sabar saat suaminya menjadi stress karena putra mereka lumpuh selamanya dengan tidak bisa berjalan. Suaminya terlalu terobsesi ingin putranya menjadi detektif juga tertekan karena tak bisa menyelamatkan putranya yang berada di hadapannya saat itu.”

Manik Si Pendengar lantas melebar, realita mengatakan bahwa jalinan benang itu memang benar. Kepala Luhan mulai memutar suatu perkara.

“Hyunjoon!” pekikan itu pecah, namun tungkainya tak sanggup mendekat. Hingga mobil itu menabrak putra semata wayangnya sampai terpental ke pinggir jalan beberapa meter. Jeritan panik terlontar di mana-mana, tangisan putranya pun pecah sambil menggumam memanggilnya.

“Setelah itu, suaminya malah menembak putra mereka dan menyakiti wanita itu. Si Suami yang merasa bersalah pun memilih bunuh diri dengan menembak diri sendiri,” vokal Chanyeol menyadarkan Luhan yang tampak syok akan kejadian yang baru menerobos ingatannya itu. “Dewa memberika mukjizat agar Si Wanita tetap hidup, setidaknya Dewa ingin wanita itu meninggal dengan keadaan damai dan bahagia. Walau aku tak tahu dia meninggal seperti apa nanti, masalahnya selama ini, wanita itu hidup sendiri dengan berusaha tegar.”

Air mata mengenang dipelupuk Luhan, kedua tangannya terkepal serta bergetar. Bibirnya pun begitu. Sementara Chanyeol masih sibuk menatap hamparan baby breath di depannya. “Ngomong-ngomong kau tahu tidak apa arti bunga baby breath?”

“Baby breath? Kenapa kamu suka sekali bunga itu?” Luhan bertanya heran ketika Hyerim selalu saja membeli bunga itu untuk ia taruh di ruang tengah petak rumah keduanya.

Istrinya itu tampak mengatur baby breath baru yang menggantikan bunga baby breath yang layu itu ke dalam vas. “Arti bunga ini sangat bagus tahu. Kesucian, ketulusan, kebahagiaan, cinta sejati yang tak pernah berakhir,” bibir Hyerim menjawab demikian lalu menatap Luhan yang sudah balas menatapnya. “Aku ingin keluarga kita nanti bahagia selalu dengan cinta sejati yang tak pernah  berakhir.”

Kata-kata Hyerim dengan senyum lembutnya itu membuat Luhan ikut tersenyum lalu menarik istrinya yang sedang mengandung empat bulan itu kedalam pelukannya. “Pasti, kita akan bahagia,”

“Kesucian, ketulusan, kebahagiaan, cinta sejati yang tak pernah berakhir,” bibir Luhan menjawab pertanyaan Chanyeol dengan mata nanar. Lalu dirinya melirik amplop berisi nama targetnya itu sendu, sekon kemudian menarik isinya dan membaca pahatan hanggul berwarna merah.

Kim Hyerim. 35 tahun. Serangan jantung. Pukul 21.00. Air mata itu merembes. Dengan siluet bayangan wanita dengan senyum menawan melintasi benaknya. Luhan mengingatnya. Kenangan pedih itu telah kembali. Di lain sisi, Chanyeol hanya terpaku lalu menghela napas. Ia diperintahkan Dewa untuk melakukan ini, menceritakan tentang ingatan Luhan dan membiarkan rekannya itu menjemput istrinya yang akan menjemput maut malam ini.

║ ♫  ║ ♪  ║ ♫  ║ ♪  ║

“Iya? Baguslah dirimu mempunyai tempat tinggal sekarang. Serius? Sepertinya Dewi Fortuna memihakmu, ya. Restoran mana? Seocho-gu? Kau yakin bisa memasak ayam? Oh, hati-hati ya saat menghitung uang, kasir bukan pekerjaan sembarangan. Iya, iya, aku akan berkunjung ke tempat kerjamu nanti. Sip, Sunshine’s Chickhen, Seocho-gu…” sosok Kim Hyerim itu terus saja sibuk berteleponan sambil mengiring jalannya. Dirinya tak tahu ada sosok lain yang terus mengikutinya dengan tatapan sendu.

Luhan. Melihat wanita yang dikehidupannya dulu bahkan hingga detik ini, berstatus istrinya. Membuat hatinya teriris. Bekuan yang membelengunya seakan kropos tergantikan luka, rasa beku yang hampa tak terjejal apapun kembali dihantarkan oleh rasa sakit yang dulu menganga. Penyesalan serta maaf terus ia lafalkan.

“Andai dulu aku tidak egois, dirimu bisa menjadi ingatanku, Hyerim-ah. Ingatan yang membahagiakan tentu saja,” gumam Luhan dengan senyum tipis dan obsidiannya yang berair.

“Ara-ya, aku tutup ya.” sambungan telepon itu terputus, terlihat Hyerim sibuk menekan benda kotak bernama ponsel itu kemudian memasukannya ke tas selempang yang ia bawa. Wanita itu menghembuskan napas yang menampakan uap dingin, tangannya ia lindungi di saku mantel setelah itu tungkainya kembali berjalan.

Derap langkah Luhan pun masih mengekori Hyerim yang mengiring langkah santai di tanjakan menuju rumahnya. Netra Luhan tak lepas barang sedetikpun dari sosok Kim Hyerim. Langkah wanita Kim itu terhenti lalu terpaku pada kaca toko yang sudah tutup dan membiaskan bayangannya. Sebagai pengekornya, Luhan ikut berhenti dan menatap bayangan toko. Tampak sosok istrinya itu tersenyum samar.

“Kau merindukanku, ya?” saat ucapan itu terlontar dari bibir Hyerim, dahi Luhan mengerut. “Luhan.” mata Luhan membola seketika mendengar Hyerim memenggal namanya lalu memutar tubuh sampai keduanya sah berhadapan, Si Wanita pun menyunggingkan senyum.

Mulut Luhan membuka, menutup beberapa kali dengan paras tak percaya. “Bagaimana bisa…” kata-katanya tersendat seperti air keran yang tersumbat.

Jeosong-saja (malaikat maut), awalnya aku tidak percaya,” desah Hyerim lalu mengembungkan pipinya, walau lagaknya santai, binar wajah yang terpatri melihatkan kesenduan saat bertatapan dengan Luhan. “Ada saat orang yang akan mati bisa melihat sesuatu yang tak biasa. Seperti malaikat maut.” Hyerim menatap Luhan lurus, begitu sebaliknya membuat dua manik itu bersibobrok.

Dengan senyum agak lebarnya, Hyerim lagi-lagi bersuara membuat Luhan tambah tak bisa merajut frasa. “Dan ternyata malaikat mautnya bersosok seperti mendiang suamiku dulu,” kekehannya lolos namun terlolongkan dengan sebuah kepedihan mendalam.

Peduli setan atau apapun, rengkuhan itu langsung terjadi lantaran Luhan yang menarik wanita di hadapannya ini kedalam dekapan hangat serta erat. Hidung Hyerim seperti tersumbat dengan mata panas. Luhan pun demikian bahkan tetesan kristal itu sudah menganak sungai dipipinya. Kedipan diobsidiannya pun lantas membuat anakan sungai air matanya pun ikut nampak layaknya Luhan, Hyerim lelah menangis tapi melihat sosok yang mendekapnya membuatnya kembali ingin menangis sebanyak-banyaknya.

“Maaf,” bisik Luhan tepat menyentil disebelah telinga kanan Hyerim. Respon berupa anggukan itu diterima oleh Luhan, kembali dirinya berbisik. “Maaf, maaf tak bisa menjagamu dan Hyunjoon.” kembali gelengan diterima oleh Luhan dari Hyerim. “Maafkan aku, aku begitu menyesal sekarang aku begitu egois hingga membuatmu menangis.” Hyerim menggelamkan wajah dibahu Luhan dan kembali menggeleng dengan bibir juga bola mata bergetar.

“Luhan… aku… akan menjadi ingatanmu,” kepala Hyerim mendongak lalu mengulum senyum dan menghapus jejak air mata diwajah Luhan yang masih setia mengeluarkan kepingan air mata itu. “Aku akan menjadi ingatanmu yang indah setelah ini, aku janji. Mengingat sesuatu yang pedih sampai mati itu sangat menyakitkan, aku tahu. Aku tak apa sungguh, malah aku mengkhawatirkan dirimu selama ini.”

Wajah Luhan mulai condong pada wajah Hyerim, bibir keduanya terpaut diiringi lumatan bercampur air mata. Jalanan lenggang dengan satu pencahayaan lampu remang-remang jalanan, menjadi bukti nyata Hyerim menghembuskan napas terakhir dengan perasaan bahagia. Jantungnya bergetar hebat hingga menyiksa runggu, lalu dirinya merasa sesuatu mendorongnya keluar namun Luhan berhasil mendekapnya membuat raganya jatuh ke aspal jalanan. Roh Hyerim itu menatap Luhan lalu mulai berdiri dari limbungnya, netranya itu menatap tubuhnya yang sudah tak bernyawa.

“Kim Hyerim. 35 tahun. Serangan jantung. Pukul 21.00.” lafalan Luhan terdengar dan terlihat pemuda itu memegang kartu nama, fokus matanya kemudian teralih pada sosok Hyerim yang sudah tersenyum padanya. “Walau aku sudah mengingat kenangan pahit kita. Mari kita berkumpul di Eden bersama Hyunjoon dan membuat kenangan yang indah.”

Tanpa ragu bahkan menunggu lama, kepala Hyerim mengangguk. Tangan wanita bernama lengkap Kim Hyerim itu meraih tangan Luhan yang terulurkan untuknya. Derap langkah keduanya tercipta menuju keabadian. Mencoba menciptakan kenangan yang lebih bahagia untuk diingat.

“Tunggu seratus tahun untuk aku bergabung dengan kalian, tugasku sebagai malaikat maut akan dilepas setelah seratus tahun untuk menghapus segala dosaku semasa hidup,” itulah ucapan Luhan sebelum Hyerim menghilang di balik pintu dengan petakan tangga menuju Eden.

║ ♫  ║ ♪  ║ ♫  ║ ♪  ║

EPILOG

“Sayang, jangan lari-lari,” suara ayu nan lembut itu terdengar dari ranum seorang wanita berpakaian serba putih. Dirinya memperingati putranya yang berlarian ke sana- ke mari.

“Shireo (tidak mau), ayah datang hari ini aku harus—“

‘Bruk!’

Tubuh mungilnya menabrak sosok lain di hadapannya membuatnya mengaduh. Namun sebuah tangan seketika mengendong tubuh mungilnya lalu melempar senyum. “Jagoan ayah sudah merindukan ayah, ya?”

“Ayah!” pekik anak lelaki itu lalu menghambur kedalam pelukan sosok yang mengendongnya. Sosok pria yang mengendongnya itu lantas menatap wanita yang sudah tersenyum ke arah keduanya.

“Hyerim, aku tetap mengingat kalian,” gumamnya pada sosok wanita di hadapannya.

—END—


Don’t forget to visit my personal blog!

[ http://www.hyekim16world.wordpress.com ]

HyeKim’s Fingertale :

HUAHAHAHA EFEK GRIMTREAPER SANGAT MEMBEKAS DIRI INI SAMPE BUAT EPEP MACEM GINI, NTAH AKU LUPA AWAL MULA IDE INI MENCLOK /TABOK/

Ini hapy ending kan? Iyakan? Iyalah Luhan tetep inget kok dan mereka ngumpul lagi walau di dunia lain. Dunia lain? LOL

Penampakan Luhan jadi Grimtreaper kayak gimana? Mau tahu?

011516_luhan_01

Ta-da, kira-kira begini hampir sama kayak Om Dongwook kan? Huahahah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s