[FFINDO PROJECT] SECRET – RED RUM 4

image_13e1d32

RED RUM 4 – By: carishstea
Also the last parts:
RED RUM 1

RED RUM 2

RED RUM 3

Ji Changwook – Kim Taehyung – etc.

Changwook terdiam membaca pesan itu. Matanya menatap lekat layar ponsel yang memendarkan cahaya terang. Bukan, Changwook bukan sedang terkejut karena dikirimi pesan oleh seniornya yang sudah lama tidak bertemu. Yang membuatnya terus terpaku pada foto itu adalah sebuah tato berukuran kecil di bawah telapak tangan.

Lambang kematian dan bunga tebu.

Lambang kematian dan rum. Juga tulisan, R2.

Menyadari detektif di hadapannya tidak kunjung bergerak, Taehyung mendekatkan tubuhnya untuk melihat hal yang membuat Changwook membeku seperti orang mati.

“Ow, shit.” umpat Taehyung pada detik berikutnya.

 

Angin kembali berhembus menggugurkan dedaunan kering di atas pohon. Waktu terus berjalan memasuki tengah malam.

.

.

“Ow, shit.”

PLAKK

Changwook secara refleks memukul kepala Taehyung usai anak itu berteriak.

“Kau bisa membuatku tuli jika berteriak di depan telingaku!” jelas Changwook kesal.

Taehyung yang masih mengelus kepalanya itu hanya bisa mengerang kesakitan. Detektif Ji memang benar. Namun ia berteriak juga karena refleks. Siapa juga yang tahu kalau Yoojin akan muncul seperti itu.

“Paman,” panggil Taehyung. Changwook lantas menaikkan alisnya, menunggu penjelasan Taehyung.

“Kau lihat bayangan di botol kaca itu?” ujar Taehyung sambil menunjuk foto di layar ponsel Changwook.

Changwook pun menolehkan wajahnya kembali ke arah ponsel, menamatkan foto botol rum yang dimaksudkan Taehyung. Tepat seperti dugaan Taehyung, detektif itu ikut membulatkan matanya setelah mendapati bayangan di kaca merah itu.

“Siapa orang yang mengirimimu pesan itu, paman?” tanya Taehyung yang mulai bergidik ngeri setelah mendapati bayangan sahabat lamanya.

“Gong Yoo Sunbaenim…,”

“Siapa?” tanya Taehyung lagi, lantaran Detektif Ji mengatakannya dengan sangat pelan.

“Aku harus pergi, Tae,” Changwook langsung saja melangkahkan tungkainya menjauh, menghampiri mobil hitam yang terparkir tak jauh dari tempat Taehyung duduk. Ia menginjak pedal gas cukup keras, membuat mobilnya hilang di telan cakrawala dalam sekejap. Meninggalkan Taehyung sendirian.

“Hah,” Taehyung menghela nafasnya berat. Kenapa Yoojin bisa muncul di bayangan kaca itu? Di tambah tubuh penuh darah itu, kenapa ia muncul dengan tampilan yang menyeramkan begitu? Kenapa tatapan mata itu, matanya seolah tengah menatap tajam ke orang yang melihat fotonya. Berbagai pikiran kenapa lainnya terus saja memenuhi otak Taehyung. Pening. Sangat pening.

 

 

Krik… Krik… Krik

Angin kembali berhembus menggugurkan dedaunan kering di atas pohon. Waktu terus berjalan memasuki tengah malam. Malam ini benar-benar sunyi. Hanya beberapa suara kecil dari binatang malam yang terdengar. Taehyung berjalan sendirian di sebuah gang kecil menuju apartemen Sungjae. Ia memasukkan tangannya ke dalam hoodie, berharap udara dingin  sedikit terperangkap di kain hangat itu, dan tak mengusiknya.

Dingin. Kali ini dingin kembali menyelip masuk di sekeliling Taehyung. Terasa seperti ada yang tengah mengikutinya. Mungkin semacam mahluk ghaib menyeramkan lainnya. Angin terus saja berhembus, seolah membisikkan serentet kalimat di rungu Taehyung. Tapi pemuda itu bersikap seolah ia tuli. Untuk sekarang, ia sedang tak ingin diusik.

Bipp… Bipp… Bipp…

Taehyung terlonjak kaget mendapati suara ponselnya yang tiba-tiba. Dengan sebelah telapak yang masih mengelus pelan dadanya, ia mengangkat ponsel itu dengan kesal. Namun selang beberapa detik, matanya mulai membulat sempurna.

Dengan tangan yang bergetar, Taehyung menggeser tombol hijau yang tertera di layarnya, lantas mendekatkan benda kotak itu ke dekat telinganya.

“H-ha… halo?”

.

.

“Kau belum makan, bukan?” Taehyung meletakkan plastik berisi makanan ke meja tamu Sungjae. Seperti biasa, apartemen itu gelap, jika Taehyung tak menyalakan lampunya.

“Aku baru membaca lima,” ujar Sungjae dari pojok ruangan.

“Apa?”

Sungjae lantas menunjuk setumpuk komik yang dipinjamnya dari Taehyung tempo hari.

“Kenapa kau berhenti membacanya?” Taehyung kini menautkan alisnya tak mengerti seraya merajut langkah perlahan mendekati sang karib. Setelah sekiranya satu langkah dari tempat Sungjae, Taehyung menjongkokkkan kakinya, sekedar menyejajarkan dirinya.

Taehyung merasa janggal. Sungjae sedaritadi seolah tak ingin melihatnya. Pria itu tetap menenggelamkan kepala di antara kedua lututnya, walau tahu sahabatnya datang. Itu bukan kebiasaan Sungjae.

“Kenapa?” Taehyung memberanikan diri bertanya.

Suara isakan mulai terdengar dari Sungjae. Lantas dengan mata sembab, ia mulai mendongak dan menatap Taehyung dengan tatapan yang tak bisa diartikan.

“Kau kenapa? Kau kenapa Yook Sungjae?!” Taehyung panik melihat Sungjae yang menagis begitu. Ada apa lagi yang menimpa sahabatnya ini?

Setelah mencoba menenangkan dirinya dari isakan tangis, Sungjae kembali membuka suara,

“Taehyung, aku… a-aku…,”

“Iya, kau apa?”

“Aku… aku tahu siapa pembunuh ayah,” ujar Sungjae akhirnya.

“Sungguh?”

 

 

[Rumah Konglomerat Gong Yoo]

Sebuah mobil hitam terparkir di depan bangunan megah itu. Sang pengemudinya terlihat sangat ahli dalam hal menyetir. Dengan kecepatan tinggi, ia masih bisa memarkirkan mobilnya dengan mulus.

Sementara itu, seseorang dari lantai atas memerhatikan bagaimana Changwook keluar dari mobil hitamnya. Gelas kaca berisi rum di tangannya ia goyang-goyangkan pelan, lalu diangkatnya untuk ia cicipi sedikit. Setelah terteguk, pria itu mengeluarkan senyum miringnya, lantas bergumam,

“Dia di sini.”

.

.

“Wookie!!” Gong Yoo langsung menyambut kawan lamanya tepat setelah pria itu membuka pintu. Tanpa permisi, ia langsung saja memeluk sahabat lamanya.

Changwook tersenyum lebar mendapati sambutan Gong Yoo. Ia lantas membalas pelukan Gong Yoo sama eratnya. Kedua lelaki paruh baya itu pernah satu sekolah di sekolah menengah. Mereka dulunya kenal dari organisasi. Sama-sama menjadi anggota OSIS, dan kelompok pecinta alam. Hingga saat ini, hubungan mereka masih dekat, walau jarang beratatap muka. Baik Changwook maupun Gong Yoo, mereka masih saling mengirimi pesan satu sama lain.

Setelah melepas pelukannya, Changwook barulah berujar,

“Bagaimana kabarmu, Sunbaenim?”

“Yah, kau tahu seperti apa keadaanku saat ini,” balas Gong Yoo dengan senyum lebar-lebar. “Bagaimana denganmu? Kudengar kau dipindah tugaskan,” lanjut Gong Yoo, lantas merangkul kawannya menuju meja tamu.

Changwook menarik kursi yang berhadapan dengan kursi kawannya.

“Aku dipindahkan ke daerahmu, sunbaenim,” Changwook membalas dengan senyum manisnya, membuat siapapun akan ikut tersenyum ketika melihatnya.

“Sungguh?!” teriak Gong Yoo seolah terkejut.

Changwook pun balas mengangguk kecil.

“Kenapa kau tak memberitahuku, bocah? Sudah sejak kapan kau di sini?” Gong Yoo mulai menuangkan sebotol rum kesukaannya ke gelas Changwook.

“Segera setelah sampai di sini, aku menangani kasus yang cukup berat. Aku terlalu fokus pada pekerjaanku. Aku lupa memberitahu Sunbaenim. Maafkan aku haha,” jelas Changwook sambil menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal.

“Ck, kasus macam apa yang membuatmu sampai lupa padaku, huh?”

“Ah, ah benar Sunbaenim. Sejak kapan kau memiliki tato letal di tanganmu?” tanya Changwook terceplos.

Gong Yoo diam, membiarkan jawabannya menggantung. Ia sadar. Ia sadar pertanyaan barusan dari Changwook bukan basa-basi.

“Aku sudah lama memilikinya. Kau tak pernah melihat tato ini?” balas Gong Yoo akhirnya seraya memutar-mutar pergelangan tangannya di udara. “Aku sungguh terpuruk setelah kematian kakakku, anggota terakhir keluarga intiku. Saat itu tanpa sadar aku mentato permanen tangan ini. Kenapa? Ada yang salah?” lanjut Gong Yoo.

“Ah, bukan apa-apa. Aku hanya penasaran. Kupikir itu semacam logo. Kau mentatonya di mana?” Karena sudah terlanjur, Changwook memilih melanjutkan mengorek informasi dari Gong Yoo. Mungkin ia bisa membantu menyelesaikan kasus ini.

“Kenapa? Kau juga ingin mentato tubuhmu?” taya Gong Yoo balik.

“Em, kalau hasilnya memang bagus, kenapa tak aku coba?” balas Changwook yang masih bersih keras soal tato ini.

“Salah satu anak buahku yang mentatonya. Aku yang memintanya menggambar seperti itu. Mungkin karena aku menyukai rum? Meminum rum sampai mati. Haha… ha,” Gong Yoo tertawa hebat di sunyinya malam.

Tapi Changwook hanya diam. Ia tak mengerti kenapa Gong Yoo sampai tertawa lepas seperti itu.

“Aku sangat menyukai benda ini, Wookie. Bagaimana aku bisa berhenti? Dia selalu ada di saat-saat penting. Bahkan aku sempat meminumnya bersama kakakku, sebelum ia pergi. Sungguh disesalkan ia harus pergi,” lanjut Gong Yoo dengan tatapan sendu. Atau hanya tatapan kosong? Entahlah.

“Oh, benar. Sekarang kau yang harus mengurusi semua asset perusahaannya. Kau pasti juga sangat sibuk, Sunbaenim,” tanggap Changwook.

“Yah, ada banyak hal yang perlu diurus, kau tahu?”

.

.

 

Sungjae dan Taehyung kini berada di dalam taksi. Mereka dalam perjalanan menuju perusahaan yang seharusnya memang milik Sungjae. Mereka berniat untuk masuk ke ruangan ayah Sungjae. Mereka ke sana untuk mencari sesuatu pasal ayah Sungjae.

Sesampainya di tempat parkir gedung, sebuah mobil melaju cepat, dan hampir menabrak keduanya. Syukurlah, Taehyung sangat sigap menghindarinya. Beruntungnya ia juga berhasil menarik Sungjae menghindar. Saat itulah, mata mereka tak sengaja menangkap bayangan mobil dari dinas. Dari detektif barang kali.

“Bukankah mobil ini dari kantor detektif? Kode platnya…,” Taehyung menggantungkan kalimatnya.

“Kau benar,” sambung Sungjae, “Mungkin pamanku meminta mereka menyelidiki sesuatu di perusahaannya. Entahlah,” lanjut Sungjae.

“Ayo ke atas,” ajak Sungjae berusaha mengalihkan topik.

Mereka sampai di kantor pribadi presdir atas ijin sekertaris kepercayaan ayah Sungjae dulu. Kini mereka menggeledah ruangan presdir, untuk mencari sesuatu yang berhubungan dengan ayah Sungjae.

Ya, mereka mendapatkan buku semacam kumpulan foto yang disimpan presdir. Salah satunya ada foto Kim Nasoo bersama Kim Yoojin, putrinya. Ia semakin tak mengerti dengan pamannya. Darimana paman Sungjae bisa mengenal Yoojin dan ibunya?

Sebelumnya Sekertaris Kim pergi ke apartemen Sungjae, dan langsung bersujud meminta maaf. Katanya ia menyesal bekerja bersama dengan orang yang membunuh mantan presdir. Ya, Sekertaris Kim membawakan hasil penyelidikan diam-diamnya kepada Sungjae. Sebuah black box yang tak sengaja merekam beberapa scene kematian mantan presdir. Paman Sungjae sendirilah yang melakukan kekejaman itu kepada kakaknya.

Taehyung yang tak sadar Sungjae telah menemukan sesuatu, masih saja sibuk mencari berkas-berkas di dalam kantor. Tanpa sengaja, ia mendapati semacam laci rahasia di dalam kantor itu. Dengan sedikit kekuatan Taehyung, akhirnya laci itu berhasil terbuka dan menampakkan sebuah map coklat cukup tebal. Taehyung yakin ini bukan dokumen biasa, melihat laci tempat menyimpannya saja tersembunyi.

Tanpa pikir panjang, Taehyung segera membuka segelnya, dan membaca tulisan yang tertera di sana. Matanya membulat sempurna setelah baru membaca beberapa lembar. Itu surat penandatanganan transaksi illegal.

“S… Sungjae-ya!”

 

 

Changwook ditinggal seorang diri oleh Gong Yoo di ruangan pribadinya. Gong Yoo terpaksa harus meninggalkan Changwook di sana, karena ada seorang tamu penting yang datang. Sebenarnya juga tak sepenuhnya sendirian. Beberapa penjaga rumah Gong Yoo masuk ke dalam, untuk memastikan Changwook tak melakukan hal-hal yang aneh.

Changwook berjalan berkeliling di ruangan pribadi Gong Yoo. Tempat ini sungguh tertutup. Dinding-dindingnya bahkan terisi penuh oleh rak-rak berisikan ratusan buku dan arsip bisnis.

Pria yang mulai bosan itu pun mengambil salah satu buku tua, namun terlihat bersih, tak seperti buku-buku punuh debu yang lain. Artinya belum lama ini, sunbae-nya itu membaca buku ini. Sampulnya bergambar bebungaan indah. Mungkinkah sebuah diary? Pikir Changwook.

Tangan Changwook tergerak untuk membukanya. Satu lembar ia buka, dan pria itu tertawa kecil setelah melihat yang ada di sana,

“Tulisannya memang tak pernah membaik,” gumam Changwook.

Lembar 1: Dia tersenyum bagai malaikat yang selalu memancarkan sinar dari tubuhnya. Dia benar-benar cantik. -7 Maret 1992

Lembar 29: Kami satu kelas. Doa yang selalu kupanjatkan akhirnya terkabul. Mulai sekarang, kami resmi berteman. -21 Januari 1993

Lembar 35: Hari ini aku membawanya ke rumah. Syukurlah… sepertinya orang tuaku menyukainya. -24 Juli 1993.

“Oh, kupikir ini lembar terakhir. Ck, Gong Yoo sunbae ternyata juga suka menulis yang seperti ini. Kkkk,” Changwook terkekeh sambil menutup buku di tangannya. Ia pun berniat mengembalikan buku itu di tempatnya. Tapi…

 

Changwook mengambil selembar kertas yang baru terjatuh dari buku itu. Itu sebuah foto. Dan…, tunggu dulu, foto itu, Changwook seperti mengenal orang di dalam sana.

“Kim Yoo Jin?” gumam Changwook.

Setelah ia tamati lekat-lekat, pikirannya berubah. Bukan. Foto itu bukan Kim Yoo Jin. Tampak seperti… yah, di sudut bawah sana terdapat tulisan kecil,

Kim Nasoo, 2 September 2005

Kim Nasoo? Ibu Kim Yoojin?

Mata Changwook cepat-cepat menelisik seluruh isi ruangan ini. Baru saja ia akan melangkah pergi, kakinya tersandung oleh sebuah tonjolan di karpet. Usai ia membuka karpet itu, ia mendapati sebuah kotak tipis kecil. Aneh. Benda apa di bawah rak-rak besar itu?

Dengan mengerahkan sedikit tenaganya, berhasillah Changwook menarik kotak kecil itu yang ternyata adalah sebuah ponsel. Sepertinya sudah lama ada di sana, tanpa seorang pun yang sadar. Ponselnya juga nampak sudah rusak.

Dengan sedikit harapan, Changwook kembali ke kursinya. Ia mengeluarkan power bank-nya, berharap baterai ponsel itu masih berfungsi dengan baik. Ya, sedikit demi sedikit baterainya mulai terisi.

Beberapa saat setelah itu, setelah dayanya sudah cukup untuk dinyalakan, Changwook membuka ponselnya.

Tik…

Tik…

Tik…

Ruangannya begitu sunyi dengan hanya diiringi suara denting jam dinding. Setelah menunggu sesaat, akhirnya ponsel itu berhasil menyala. Menampakkan wallpaper seorang gadis manis bersama seorang pria di dalam sana.

“Wow. Dia tampan jika saja mau tersenyum,” ujar Changwook dengan dirinya sendiri. Hatinya perih melihat pria yang terlihat sangat cerah di foto itu berubah menjadi seorang yang sangat dingin di masa sekarang. “Yoojin pasti tak senang melihatnya berubah.”

Ponsel itu disandi. Namun tak sulit untuk Changwook sekedar memecahkan hal kecil begitu. Setelah berhasil terbuka, Changwook segera mengotak-atik isinya, termasuk membuka memo dan perekam suara.

Ia lalu tersenyum puas setelah membaca apa yang tertulis di sana. Termasuk pesan-pesan yang tak sempat dan tak bisa terkirim akibat tak ada signal. Beruntung sekali Yoojin itu anak yang pintar.

.

.

“Selamat malam, Wookie. Maaf karena harus kutinggal lama tadi. Lain kali, ayo bertemu lagi,” ujar Gong Yoo dari ambang pintunya, “Hati-hati di jalan! Ini sudah lewat dari tengah malam.”

“Aku tahu. Terimakasih atas makan malam dan rum terbaikmu, Sunbaenim. Selamat malam,” pamit Changwook.

“Oh, Wookie!” teriak Gong Yoo tiba-tiba.

Yang diteriaki namanya itu pun balas menoleh.

“Kau menjatuhkan ini,” ujar Gong Yoo setelah memungut sebuah gantungan ponsel berwarna merah muda dari tanah. “Apa ini liontin ponsel? Kau juga memakai yang seperti ini? Model perempuan? Merah muda?” lanjut Gong Yoo seraya menahan tawa.

Changwook pun balas tertawa seraya mengulurkan tangan mengambil gantungan ponsel Yoojin, “Kau belum mengenal aku yang sekarang saja, Sunbae. Belakangan benda-benda semacam ini menarik perhatianku.”

“Kau tahu, benda itu terlihat pasaran. Sepertinya aku pernah melihatnya sebelum ini,” ujar Gong Yoo.

“Benarkah? Aku yakin kau pernah melihatnya di suatu tempat. Baiklah, aku pulang dulu Sunbae,” pamit Changwook.

Gong Yoo walau masih berusaha mengingat, memberikan senyum terbaiknya juga lambaian tangan kepada Changwook. Setelah itu, ia kembali berpikir keras, mencoba mengingat-ingat di mana ia pernah melihat gantungan ponsel Changwook. Sikapnya yang terlalu ingin tahu memberatkan dirinya sendiri tentu saja. Tapi itulah Gong Yoo.

Changwook pun lantas menuju mobilnya dan menancapkan pedal gas keras-keras, kembali membelah angin malam di jalanan sepi.

Selang beberapa detik setelah itu, lengkungan senyum menghiasi bibir Changwook. Ia puas. Ia puas telah menemukan satu lagi petunjuk. Gong Yoo ikut terlibat dengan kasus Yoojin. Pisau itu kemungkinan terbesarnya adalah milik Gong Yoo. Dan semua yang ada di ruangan tadi, oh, Changwook sungguh berterima kasih kepada tamu yang tiba-tiba datang itu.

Lampu merah menghentikan mobil Changwook di sana. Pria itu melirik ke kaca bagian depannya, berniat sekedar bercermin. Tapi seorang pria misterius dengan masker dan topi hitamnya, kini berada di mobil di belakang mobil Changwook.

Menit demi menit terus berlalu, dan mobil hitam yang ditumpangi si pria misterius masih saja membuntut di belakang Changwook. Changwook pun kembali menekan pedal gas keras-keras, membiarkan si pria misterius beradu balap dengan dirinya.

Tanpa Changwook prediksi, dua buah mobil ikut bergabung untuk mengejarnya. Di jalanan yang sudah sepi, beberapa peluru mereka luncurkan ke arah Changwook. Mereka memaksa mobil Changwook memasuki jalanan hutan. Membiarkan ban mobil masing-masing bergulat dengan kerikil-kerikil kasar di sana.

Hingga akhirnya,

DARRR

Salah satu peluru itu berhasil mencium ban mobil milik Changwook, membuat mobilnya menjadi berjalan tak stabil. Tak lama setelah itu, ban lainnya ikut tertembak. Mobil Changwook kian berguncang hebat, sampai akhirnya mobil itu melaju ke arah salah sebuah pohon.

“Sial,” Changwook ikut menembakkan beberapa peluru kendati posisinya tidak dalam keadaan baik. Kurang dari lima meter lagi, mobil Changwook akan menghantam pohonan hutan. Tepat tiga detik sebelum mobil itu menabrak pohon, Changwook memutar kemudinya dengan sangat cepat, dan berhasil menghindari pohon tadi.

Namun tanpa disengaja, mobilnya malah terpleset menuruni lembah di sana. Mesinnya mati. Mobil itu terjungkal. Lalu berhenti begitu saja di dasar lembah. Si pengemudinya tak sadarkan diri dengan darah yang mengucur dari kepalanya.

Di saat yang seperti itu, Changwook mengeluarkan ponselnya. Langsung menghubungi kantor kepolisian dan Jongsuk tentu saja. Mereka harus segera tertangkap.

Dengan penglihatan yang mulai memburam, Changwook menembakkan dua buah peluru, dan salah satunya mengenai pergelangan kaki sang musuh. Bukan Changwook sendiri yang terjebak di sini setidaknya.

Changwook harus menahan mereka di sini sampai polisi tiba. Berbelas-belas peluru ia luncurkan dari pisol hitamnya. Banyak yang meleset memang. Namun setidaknya, yah, ia harus mengulur waktu.

Selang sekitar sepuluh menit, Changwook mampu mendengar sirine polisi. Ia lega. Jemari berlumuran darah yang mulanya ia gunakan untuk memegang pistol erat-erat, kini telah tergeletak lemah di sebelahnya. Setelah itu, semuanya murni menjadi hitam di mata Changwook.

.

.

Buram.

Masih buram ketika Changwook mulai membuka kelopaknya. Ia mendapati dirinya terbaring dengan balutan perban di mana-mana. Langsung saja mata itu menyapu si ruangan serba putih, hingga akhirnya berhasil menemukan manusia di dalam sana.

“Kau sudah bangun?” sapa Jongsuk setelah bertemu pandang dengan Changwook.

“Apa Kau menangkap pelakunya?” tanya Changwook yang mencoba mendudukkan dirinya bersandar pada dinding.

“Kau masih bertanya seperti itu di keadaanmu yang begini?” ejek Jongsuk.

“Aku tak akan mau seperti ini jika tak ada hasilnya. Katakan! Kau menangkap pelakunya, bukan?” ulang Changwook.

Jongsuk menghela nafasnya panjang mendengar kata-kata Changwook. Ia mengeluarkan sebuah dokumen dari dalam tasnya, lalu mengulurkan dokumen itu ke arah Changwook.

Changwook mengulurkan tangannya menerima dokumen Jongsuk. Ia membalik-balikkan kertas itu, meniliti apa saja yan tertulis di benda putih itu. Tak berselang lama, air muka Changwook langsung berubah drastis.

“Seo In Guk?” Changwook mengerutkan dahinya seraya menatap Jongsuk dengan tatapan meminta penjelasan.

“Dia yang kau tembak kakinya kemarin. Tak ada alasan untuk mengelak dia bukan salah satu pelakunya kalau begitu. Aku juga sangat terkejut,” jelas Jongsuk.

Changwook mengalihkan pandangannya dari Jongsuk. Ia menunduk dalam, memikirkan semua hal yang mengganggunya.

“Dunia memang tempat yang sangat sempit ternyata. Dunia sangatlah kejam,” ujar Changwook entah kepada siapa.

“Kau masih akan melanjutkannya?” tanya Jongsuk.

“Apa?”

“Kasus Kim Yoojin.”

“Aku tak berjalan sejauh ini untuk hal yang sia-sia,” balas Changwook.

Jongsuk lantas tersenyum.

“Kau sampai sejauh mana? Kau tak bisa menangkap orang dengan tubuh seperti ini. Katakan apa yang bisa kulakukan untuk menangkap dalangnya,” tawar Jongsuk yang kini duduk di sebelah ranjang Changwook.

Pria itu lantas membalas senyuman Changwook tak kalah manis.

.

.

.

Suara mobil polisi menggema di mana-mana. Rumah besar super megah itu kini telah dipenuhi oleh para polisi. Dengan bermodalkan ponsel berisi semua kejahatan si pemilik rumah, juga sebuah dokumen yang dikirim oleh seseorang yang tak diketahui identitasnya, para detektif member surat perintah kepada kepolisian untuk menangkap dalang dari semua ini.

Para polisi itu langsung saja masuk tanpa permisi. Bahkan para pelayan di sana beberapa berteriak saking terkejut akan operasi tiba-tiba ini. Salah satu dari mereka mengatakan tuannya berada di ruangan pribadinya. Tentu selanjutnya tempat itu menjadi tujuan utama polisi.

Mereka masuk tanpa permisi seperti sebelumnya. Namun hanya kosong yang mereka dapati. Tak ada seorang pun di dalam sana.

.

.

“Sial!” Changwook membanting remote TV di tangannya setelah Jongsuk datang, dan memberitahunya pasal Gong Yoo.

“Dia pasti sudah tahu akan berakhir seperti ini. Jelas saja. Dia bahkan langsung mengejarmu setelah menyadari kau mendapat bukti,” ujar Jongsuk.

Mereka kemudian hanyut dalam pikiran masing-masing. Tak ada satu pun yang berbicara, hingga akhirnya sebuah suara telepon memecah keheningan yang ada. Itu ponsel Changwook.

“Halo?”

“Ahjussi kau masih di rumah sakit?”

“Taehyung? Iya, aku masih di sini. Ada apa?”

“Apa kau tak keberatan menemuiku sebentar? Aku di apartemen Sungjae.”

“Bukan masalah. Tapi ada apa?”

“Kau akan tahu setelah sampai. Cepatlah ne, Ahjussi.”

Taehyung langsung memutus sambungan teleponnya setelah itu.

“Taehyung?” tanya Jongsuk memastikan.

“Bicaranya agak aneh. Kuarasa ada yang salah,” ujar Changwook dengan tatapan serius kepada Jongsuk.

“Aku akan membawa beberapa polisi untuk berjaga-jaga,” tanggap Jongsuk, lantas langsung keluar menyiapkan mobil dan yang lainnya.

.

.

Mereka sampai di apartemen Sungjae dalam lima belas menit. Changwook meminta Jongsuk berjaga di dalam mobil sementara dirinya masuk. Perasaannya mengatakan ia harus sendiri. Biarlah Jongsuk mengawasi keadaan di luar.

Changwook masuk ke alamat yang diberikan Taehyung lewat pesan teks. Ia sempat takut sebelumnya. Tapi ketakutannya itu ternyata hanya sebuah ketakutan tak bermakna. Taehyung dan Sungjae tengah duduk di kursi tamu sambil memakan beberapa ayam.

Si pria berjas hitam itu pun tersenyum, kemudian mengambil duduk di kursi lainnya.

“Ada apa?”

“Ahjussi makanlah ayamnya,” pinta Taehyung dengan mulut yang masih penuh makanan.

“Aku masih kenyang, Taehyung-ssi. Katakan saja apa yang ingin kau sampaikan,” tolak Changwook. Memang sebelumnya ia baru saja mendapat jatah makan siang dari rumah sakit.

“Sungjae,” kode Taehyung kepada Sungjae.

Yang dipanggil itu, tanpa melihat ke arah Changwook, langsung menyodorkan sebuah map coklat cukup tebal.

Changwook meraih mapnya, dan segera membuka dokumen itu.

“Kami kemarin ke perusahaan milik Sungjae. Ternyata sudah banyak yang berubah di sana,” jelas Taehyung, sementara Changwook membaca-baca berkasnya.

Setelah lembar demi lembar dibacanya, mata Changwook membulat mengisyaratkan keterkejutannya akan apa yang tertera di sana.

“Bukankah perdagangan illegal ini terlalu besar? Bagaimana polisi bisa tak mencium kasus sebesar ini?” gumam Changwook.

“Ia bekerja sama dengan perusahaan pembuat Rum yang cukup besar. Kabarnya mereka membentuk sebuah kelompok perdangan organ manusia. R2. Kurasa itu nama kelompoknya. Aku pernah melihat seorang teman pamanku mengenakan tato bertuliskan R2. Tak hanya satu orang, tapi cukup banyak. Menurutku mereka akan saling membantu jika ada yang kesulitan,” jelas Sungjae.

“Di TV tadi, kami melihat rumah Sungjae yang dulu dipenuhi para polisi. Apa paman itu sudah tertangkap?” tanya Taehyung.

Changwook menggaruk belakang kepalanya yang makin pusing. Jika benar mereka adalah kelompok pedagang gelap, kasus ini tak akan selesai dengan cepat. Bagaimana jika Gong Yoo sudah melarikan diri dari Korea. Akan lebih sulit lagi untuk menangkapnya. Jika ia sekejam itu pada anak sekolah seperti Kim Yoojin, lalu bagaimana nasib orang-orang lainnya?

“Oh benar! Ada satu hal lagi,” celetuk Taehyung tiba-tiba.

“Kami menemukan pelaku pembunuhan yang sebenarnya dari kasus kematian ayahnya Sungjae,” lanjut anak itu.

“Apa?”

“Kami punya rekaman black box-nya, dan surat wasiat presdir sebelum meninggal. Ia meninggalkan pesan kecil kepada Sungjae. ‘Rum’. Tapi Sungjae salah mengartikannya. Sungjae pikir ayahnya ingin rum sebagai persembahan. Pesan itu, seperti hal-hal paranoid di pikiran Sungjae. Ia kira ruh ayahnya yang menulis itu. Tapi detektif tahu? Kami baru sadar itu petunjuk soal pelakunya. Ayah Sungjae mungkin mengetikkannya dengan tergesa di detik-detik terakhir nafasnya masih berhembus. Ia ingin Sungjae juga berhati-hati terhadap pamannya, yang mungkin juga akan menyingkirkan Sungjae nanti,” jelas Taehyung.

Sungjae diam membiarkan tetes-tetes air matanya kembali menghujani tanah. Sementara Changwook, ia kembali berpikir cukup keras. Jika seperti ini, Gong Yoo memang harus segera ditangkap. Masalahnya adalah bagaimana.

“Sungjae-ya,” panggil Changwook sehingga Sungjae agak mendongak. “Bagaimana kalau kita pulang ke rumahmu? Di sana tak ada pamanmu lagi. Rumah itu tak berpemilik. Bukankah kau harus menjaga apa yang telah ayahmu susah payah kerjakan selama hidupnya? Jangan sampai orang lain merusak jirih payah ayahmu. Bukankah seharusnya kau kembalikan lagi perusahaan ayahmu ke jalan yang benar? Aku harus memastikan satu hal lainnya juga untuk menangkap pamanmu. Kurasa ini adalah cara yang tepat,” terang Changwook pelan.

Mulanya Sungjae diam. Namun lama-kelamaan sifat kerasnya itu melunak juga. Ia membiarkan dagunya mengangguk, mengiyakan semua perkataan Changwook. Benar, ia tak bisa membiarkan usaha keras ayahnya hancur begitu saja. Apalagi oleh orang yang menghancurkan hidupnya.

“Kalau begitu, kita langsung saja ke sana. Kajja Sungjae-ya! Aku sungguh merindukan rumah setengah istana milikmu itu. Ngomong-ngomong PSP-mu masih disimpan bukan, seharusnya? Aku akan mengalahkan rekorku sendiri,” ujar Taehyung, yang balas ditanggapi oleh tawa Sungjae. Begitu pula Changwook.

.

.

Tuan muda itu disambut dengan meriah oleh para pelayan di sana. Begitu meliha tuan mereka kembali, cepat-cepat pelayan-pelayan di sana berbaris, memberikan sambutan sebaik mungkin walau dibilang cukup mendadak.

“Aku mau ke ruangan yang biasanya pamanku pakai,” ujar Sungjae cepat. Beberapa pelayan pun menunjukkan jalannya kepada Sungjae, sehingga sampailah mereka di ruangan remang milik paman Sungjae.

Changwook dengan cepat langsung melesat ke salah satu rak buku raksasa. Ia kembali ke tempat di mana ia membaca buku diary milik Gong Yoo. Tepat di samping buku bersampul bebungaan itu, terdapat buku lain berwarna kuning dengan berpolakan maple tua. Changwook mengambilnya. Ia pun lekas membukanya mencari satu kepastian lagi.

Di bawah derai hujan musim gugur, kau menemuiku lagi Kim Nasoo. Sudah lima tahun aku mengenalmu. Kali ini kau datang dengan semburat amarah yang terlihat amat jelas di tulang wajahmu. Aku tak mengerti kenapa kau sampai marah begitu. Aku hanya menyingkirkan seekor tikus kecil. Dan itu untukmu. -4 Maret 1997

Changwook pun membuka lembar lainnya dengan selisih yang cukup jauh.

Aku mencintaimu Kim Nasoo. Jangan pergi. -1 Juli 1997

Aku mencintaimu Kim Nasoo. Jangan pergi. -5 Juli 1997

Aku mencintaimu Kim Nasoo. Jangan pergi. -13 Juli 1997

Aku mencintaimu Kim Nasoo. Jangan pergi. -27 Juli 1997

Aku mencintaimu Kim Nasoo. Jangan pergi. -8 Desember 1997

Kali ini adalah Selasa yang suram untuk kami berdua. Mungkin bukan baginya. Ini hanya berlaku untukku. Setelah sekian lama, kurasa ia mulai melupakanku. Ia mulai bahagia dengan dunianya. Bahkan saat ini ia tengah mengenakan gaun putih panjang lengkap dengan sebuket bunga, layaknya seorang ratu. Asal dia tahu, perasaanku padanya masih sama hingga sekarang. -9 Agustus 1998.

Changwook menutup bukunya dengan senyuman puas. Namun tersirat rasa iba kepada seniornya itu yang terlalu terobsesi. Sungjae yang ikut membaca, menutup mulutnya tak percaya. Mungkinkah pamannya yang tampan itu kini telah berubah menjadi sosiopat?

“Paman, kau tega sekali padaku,” lirih Sungjae dengan tenggorokan yang ia paksakan untuk menahan erangan tangisnya.

“Sekarang aku mendapat cara untuk menangkap Gong Yoo sunbaenim. Kalian juga akan membantuku, bukan?” ujar Changwook seraya memegang pundak Sungjae, berharap beban yang baru diterimanya sedikit berkurang.

Taehyung dan Sungjae balas mengangguk. Mereka kini menuruni tangga, berniat melaju ke kantor kepolisian. Tapi setelah sampai lantai dasar…

“Ah, Sungjae-ya!” panggil Taehyung tiba-tiba.

Baik Sungjae maupun Changwook, keduanya menoleh kea rah Taehyung.

“Ahjussi maukah kau menunggu selama dua puluh menit? Berikan aku waktu setidaknya dua puluh menit bersama Sungjae,” kini Taehyung malah mengajukan permintaan kepada Changwook.

“Kalau begitu aku akan ke kantor kepolisian lebih dulu. Kalian bisa segera menyusul setelah selesai. Mengerti?” tawar Changwook.

“Tentu saja,” Taehyung memberikan wink terbaiknya untuk Changwook, yang malah membuat pria paruh baya itu malah merasa jijik.

Selepas Changwook pergi, Sungjae kembali menaikkan alisnya, meminta penjelasan pada Taehyung.

Tak membalas pertanyaan Sungjae, Taehyung malah menarik tangan sahabatnya itu menuju ke ruangan favorit mereka. Ruangan game milik Sungjae.

“Temani aku bermain PSP-mu,” ujar Taehyung setelah mengambil duduk di depan layar.

“Apa?” Sungjae hanya bisa tertawa mendengarnya. “Kau minta waktu dua puluh menit untuk bermain?” lanjut Sungjae yang lantas mengeluarkan alat-alatnya.

“Aku sungguh ingin bermain bersamamu untuk saat ini,” jelas Taehyung dengan tawa renyah.

“Sikapmu aneh. Tapi aku tak keberatan untuk bermain,” ujar Sungjae akhirnya.

Taehyung pun lantas melebarkan senyumnya, lalu menyamankan posisi duduknya dan bersiap bermain.

“Temani aku untuk terakhir kalinya,” ujar Taehyung dalam hati.

 

“Kim Nasoo-ssi. Aku sungguh butuh bantuanmu. Tolong kerja samamu, kumohon,” Changwook tengah berada di kedai yang tak jauh dari kantornya. Ia bersama ibunya Yoojin. Setelah menceritakan semuanya, berakhirlah paragraf Changwook pada permintaan tolong kepada ibu Yoojin.

“Tapi kau tak bisa memainkan perasaan orang lain, Detektif,” tolak Nasoo.

“Kau tahu bagaimana putrimu harus mati hanya karena keegoisannya. Kau tahu bagaimana mantan suamimu terbunuh. Kau tahu bagaimana Sungjae, putramu, hancur karena perceraian itu dan hal buruk lainnya. Kita semua tahu, ia layak mendapat hukuman,” jelas Changwook.

“Cinta bukanlah sesuatu yang salah. Kita tak bisa melarang orang lain untuk mencintai. Tapi ketika cinta itu berubah menjadi keserakahan, maka sudah tak ada lagi cinta di sana. Itu hanyalah sebuah ambisi kosong, yang akan memenuhi kepuasan pribadi saja,” lanjut Changwook.

Nasoo tertunduk. Ia berpikir cukup lama, hingga akhirnya ia mau merespon. Nasoo menganggukkan dagunya, mengiyakan permintaan Changwook.

“Aku sungguh berterima kasih,” tanggap Changwook.

.

.

BIPP… BIPP…

Dering ponsel cukup menggema di mobil yang tenang itu. Ada sebuah pesan baru.

“Bawakan kami lima ratus juta won, barulah pemilik ponsel ini akan selamat.”

BIPP… BIPP…

Sebuah pesan masuk lainnya tiba-tiba datang lagi. Kali ini sebuah foto. Foto seorang wanita paruh baya yang tengah disekap dengan tangan dan kaki yang terikat erat.

“Hentikan mobilnya!!” teriak Gong Yoo tiba-tiba kepada supir di depan.

Mobilnya tentu berhenti mendadak karena Gong Yoo berteriak.

BIPP… BIPP…

Sekali lagi, Gong Yoo mendapat pesan masuk dari nomor yang sama. Itu sebuah alamat, yang kemudian dilanjutkan dengan berbagai macam ancaman kejam.

“Kita kembali ke Seoul,” ujar Gong Yoo pada supirnya. “Ikuti alamat ini,” lanjut Gong Yoo seraya menunjukkan layar ponselnya kepada si supir.

.

.

Dengan kecepatan maksimum, sampailah Gong Yoo dengan koper hitam berisi uang yang diminta si peneror. Ia masuk ke dalam gudang kumuh itu tanpa rasa takut. Hatinya terlalu mencintai Nasoo. Ia tak mungkin membiarkan gadis pujaannya itu mati di tangan para penjahat. Ia terlalu peduli.

Gong Yoo masuk, mengikuti arahan seseorang dari dalam telepon. Kakinya terus saja merajut langkah menyusuri koridor sepi, tanpa gentar sedikitpun. Akhirnya sampailah pria itu di depan pintu coklat penuh bercak darah. Kali ini hatinya mulai merasa takut. Tak mungkin bukan, Nasoo…

“Gong Yoo-ya!” tiba-tiba sebuah suara manis mencapai rungu Gong Yoo.

Pria itu membeku di tempatnya setelah sekian lama tak mendengar si empunya suara menyapanya. Gong Yoo lantas membalikkan tubuhnya, hingga mendapati Nasoo tengah berdiri tepat di hadapannya.

“N-Nasoo-ya. Kau… b- baik… ba-ik saja?” selaput tipis air mata menghiasi mata indah Gong Yoo. Sungguh, pria itu begitu lega ketika Nasoo muncul dengan keadaan tanpa luka sedikit pun. Ia hendak memeluk Nasoo spontan. Tapi dengan halus, Nasoo melangkah mundur, menghilangkan senyum di wajah Gong Yoo.

“Nasoo-ya?”

“Kau apakan putriku? Bagaimana kau bisa seperti itu pada kakakmu sendiri?” ujar Nasoo dengan tubuh bergetar. Jemarinya menggenggam erat menahan semua emosi di dalam tubuh mungil itu.

Gong Yoo diam. Ia sungguh tak bisa membalas apa-apa.

“Oppa! Bahkan sampai sekarang aku tak akan bisa melupakan bagaimana kita dulu. Tapi kau tahu sesuatu? Semua itu hanya masa lalu. Maafkan aku karena memberi kenangan bodoh seperti itu kepadamu. Maafkan aku yang membuatmu jadi seperti ini. Kau tak seharusnya hidup di dunia seperti itu. Aku yakin kau akan punya orang lain yang tulus menyayangimu. Aku sungguh minta maaf, Oppa,” ujar Nasoo dengan kelopak yang sudah tertutup. Matanya saat ini pedih oleh bendungan air mata.

Puluhan polisi langsung saja muncul tiba-tiba dan menodongkan pistol mereka ke arah Gong Yoo. Gong Yoo memang sudah terjebak. Namun dengan santainya, ia masih bisa tersenyum miring, membiarkan semuanya bertanya-tanya dalam diri mereka sendiri.

“Apa kau pikir bisa tenang setelah berkhianat menangkapku, huh?” teriak Gong Yoo ke arah Changwook.

Jongsuk beserta polisi lainnya mengerutkan dahi mereka tak mengerti, juga menolehkan kepala mereka kepada Changwook. Namun pria yang ditatap itu malah balik mengerutkan dahinya polos.

“Terima kasih telah memecahkan kasusnya,” ujar Taehyung tiba-tiba. Ia yang mulanya di belakang Changwook, berjalan ke depan, lalu berbalik menghadap Changwook. Changwook pun balik tersenyum menanggapinya. Tapi ia merasa aneh tersenyum seperti itu.

“Yoojin ada di sini,” lanjut Taehyung. “Ia tengah menatapku tajam. Aku tahu seharusnya aku tak begini. Tapi Ahjussi, bukankah kenaifan diri seseorang adalah sesuatu yang wajar? Kenaifan itu akan baik-baik saja jika kita bertanggung jawab, bukan?”

Changwook terdiam di tempatnya. Apa yang Taehyung katakan sebenarnya?

“Apa yang kau bicarakan Taehyung-ssi?” tanya Changwook kebingungan.

“Dia pelakunya!!! Aku tak membunuh Kim Yoojin sendirian! Setidaknya bocah itu ikut bekerja sama dalam kejahatan ini,” teriak Gong Yoo cukup keras.

DEG

Semua mata kini tengah menatap Taehyung dengan tatapan meminta penjelasan. Namun Taehyung hanya menunduk kecil seraya tertawa malu.

“Aku berbohong soal melihat hantu Yoojin sebelumnya. Tapi kali ini aku tak bohong. Kini ia di dekatmu Detektif. Ah, bukan! Dia di hadapanku untuk sekarang. Dialah yang memang selama ini membisikkan kata-kata ‘jangan’ kepadamu. Karena ia takut kau akan berakhir seperti ayahnya. Ayah Yoojin harus merenggang nyawanya hanya untuk membuka fakta kematian Yoojin. Ia takut kau juga akan berakhir demikian. Ia tak mau ada korban jiwa berjatuhan lagi hanya karena dirinya. Ia bilang ia minta maaf. Tapi ia berterima kasih karena kau akhirnya berhasil,” jelas Taehyung menirukan semua yang Yoojin katakan.

“Tangkap aku, Ahjussi. Aku akan merasa senang jika kaulah yang menangkapku. Aku baik-baik saja,” Taehyung tersenyum manis seraya berujar. “Dan Sungjae, aku sangat senang bisa mengalahkanmu untuk yang terakhir kalinya. Terima kasih kau sudah menjadi sahabatku, walau aku bukan sahabat yang baik,” lanjut Taehyung dilanjutkan dengan ringisan khasnya.

Taehyung menggerakkan tangan Changwook. Ia memaksa Changwook untuk memborgol tangannya, walau Changwook tak berniat menangkap Taehyung. Setelah tangannya selesai diborgol, Taehyung kembali tersenyum cerah seolah tak terjadi hal buruk apapun padanya.

Semua kini terfokus pada Taehyung. Melihat situasi yang bagus, Gong Yoo mengambil kesempatannya untuk melarikan diri dari polisi. Ia menjauhi tempat itu, dan mencari jalan keluar sendiri. Namun,

DARRR

Jong Suk dengan sigap menembak kaki Gong Yoo. Ia terperangkap. Dikeluarkanlah pistol miliknya, dan ia acungkan ke seluruh polisi, menembak mereka seperti orang gila. Sayang, para polisi lebih sigap, dan malah membalas tembakan Gong Yoo dengan rentetan tembak yang lebih menyakitkan. Gong Yoo terbaring di tanah dengan tubuh besimbah darah. Di keadaan seperti itu, bisa dipastikan. Ia telah merenggut nyawanya sendiri.

.

.

-Flashback

@1 Juni 2016

Taehyung tengah terduduk sendirian di bangku taman Kota. Kini tak ada lagi Sungjae yang biasa menemaninya menghabiskan waktu. Pria itu tengah merajut hubungannya dengan Kim Yoojin, perempuan idaman Taehyung. Dan kini Taehyung ditinggal seorang diri di liburan yang membosankan.

“Hei, nak,” seorang pria paruh baya mengambil duduk di sebelah Taehyung. “Kau temannya Sungjae?”

Taehyung terkejut mendengar nama Sungjae disebut. Apa paman di sebelahnya ini mengenal Sungjae?

“Aku tahu kau sedang kesal pada bocah nakal itu. Apa kau mau aku membantumu menghilangkan semua kekesalanmu?” Gong Yoo bertanya dengan antusias. Namun Taehyung hanya menatap pria di depannya tanpa ekspresi. “Jika Yoojin tak akan menjadi milikmu di dunia, bukankah lebih baik tak ada siapapun yang boleh memilikinya?” lanjut Gong Yoo dengan seringaian.

“Apa maksudmu?”

.

.

@29 Juni 2016

“Katakan kepada Kim Yoojin untuk datang besok. Bujuk dia semaksimal mungkin. Dia harus datang,” ujar Gong Yoo dari dalam telepon.

“Apa kau yakin Sungjae telah kembali? Lalu bagaimana Yoojin akan bersama denganku jika kau selalu mendekatkannya dengan Sungjae?” balas Taehyung dari seberang.

“Kau tak perlu khawatir. Dia mungkin akan menjadi milikmu selamanya setelah ini. Kupastikan hal itu,” ujar Gong Yoo. “Oh, kau tak boleh memberitahu siapapun tentu saja,” lanjutnya.

.

.

@31 Juni 2016

Taehyung terduduk di depan tubuh Yoojin yang bersimbah darah. Matanya sungguh perih akan air mata. Sungguh, ia tak sengaja menancapkan pisau itu ke perut Yoojin. Kini ia ketakutan. Setelah tahu Gong Yoo menyekap Yoojin semalaman, Taehyung langsung saja datang ke paman itu. Namun ketika bertemu Yoojin, tangannya sudah memegang pisau begitu saja, dan akhirnya meregang nyawa Yoojin. Taehyung benar-benar merasa dibodohi.

Setelah kejadian itu, ia dan Gong Yoo memilih untuk merahasiakan kejadian pilu itu diam-diam. Taehyung tak pernah tahu bahwa organ dalam Yoojin akhirnya diperjualbelikan secara illegal. Yang ia tahu, Gong Yoo akan menutupinya sebagai tersangka pembunuhan. Kata Gong Yoo, tak akan ada yang bisa memecahkannya. Jadi Taehyung memilih diam, dan bersikap seolah Yoojin tengah diculik dan hilang.

“Kau yang membunuhnya, Kim Taehyung,” ujar Gong Yoo sambil menyeringai.

Pemuda di depannya masih dipenuhi linangan air mata yang menghujani pipinya sendiri dengan teramat deras. Ia baru sadar, yah, ia baru saja dibutakan oleh cemburu. Kini ia harus kehilangan dua. Gadis yang amat dicintainya, juga sahabat sejatinya. Ia menghancurkan persahabatan itu secara tak langsung, walau tak ada yang menyadarinya.

.

.

@Sehari sebelum polisi mengerumuni rumah Keluarga Yook

Bipp… Bipp… Bipp…

Ponsel Taehyung berbunyi, menandakan sebuah panggilan masuk. Tertera sebuah nama tak asing di layar itu. “Gong Yoo”.

“H-ha… halo?”

“Taehyung-ah. Bunuh Sungjae besok. Atau kau akan tertangkap polisi. Lebih buruknya kau bisa ikut mati seperti Kim Yoojin.”

“Apa maksudmu, Paman? Aku sudah menolaknya berulang kali. Aku tak ingin dan tak akan pernah merenggut nyawa orang lain lagi. Dan kenapa aku harus membunuh sahabatku sendiri?” Taehyung berkata lirih dengan ragu. Ia juga takut akan berakhir seperti Yoojin.

“Ada detektif baru yang terlalu percaya diri. Ia ingin membuka kasus Yoojin.”

“Lalu?”

“Ia akan datang ke rumahku nanti. Dan setelah itu, ia akan mengakhiri hidupnya tanpa tahu apapun,” ujar Gong Yoo lantas tertawa lepas.

Taehyung teridam di tempatnya. Kali ini ia sungguh membeku. Namun setelah panggilannya dengan Gong Yoo berakhir, ia segera menelpon ayahnya. Anak itu meminta sang ayah dan para rekannya datang ke kediaman Gong Yoo, setidaknya membiarkan Detektif Ji untuk menggeledah ruangan Gong Yoo dengan leluasa.

Kali ini ia memutuskan untuk membuka kebenarannya. Ia lelah. Taehyung lelah selalu berakting tak tahu apa-apa. Ia jengah selalu terbebani dengan pikiran tentang Yoojin dan Sungjae. Jadi biarlah semua berjalan seperti yang semestinya. Jikalau harus berakhir sedih untuknya, maka biarlah ia terima, sehingga yang lain bisa mendapatkan akhir bahagia mereka.

Hanya itu. Taehyung tak ingin orang lain susah lagi karena kebodohannya. Biarkan semua berakhir dengan cerita yang mereka seharusnya terima. Karena takdir memang berjalan demikian.

.

.

-FIN

 

Okee, pertama author mau minta maaf karena ini telat banget dari jadwal publish. Emang gara-gara belakangan ini, sibuk banget jadwal author.

Author juga minta maaf apabila masih terdapat typo. Ehehe… sumpah ini ngebut banget nulisnya 😛

Semoga kalian pada suka sama ceritanya. Maaf kalau kurang mengena Huhu TT

Last but not least, FF Indo bakal ngadain event seruu nih. Bagi kalian yang suka baca, pantengin terus aja FF Indo. Lumayan loh, cuman baca, like, ninggalin comment, atau barang kali kalian nge-share, bakalan dapet hadiah menarik dari FF Indo. Wohooo…… Kapan lagi ada kesempatan bagus kaya gini. Ayolah, ramaikan FF Indo :’).

Well, thanks for reading yak ^^

Advertisements

7 responses to “[FFINDO PROJECT] SECRET – RED RUM 4

  1. WAH AKHIRNYA hehe. Lah, ga nyangka Taehyung ternyata terlibat:( aku pikir dia tau banyak hal garagara bisa ngomong sama Yoojin.
    Jahat ya emang pamannya Sungjae, obsesi huhu.
    Eh, ini udah part terakhir ya? Overall aku suka sih. Buat aku, yang ga bisa ketebak itu ya Taehyung ternyata bener bener terlibat.
    Semoga bisa bikin ff yang menarik lagi yaaa 😀

    • Wah makasih banget reviewnya 😊
      Iya, pamannya Sungjae(Gong Yoo/bisa kepikiran nama ini yah 😂) terlampau obsesian. Untung ibunya Yoojin namanya bukan Go Eun /eh? /*plaakkk
      Wihhh syukur deh kalau kamu suka. Makasih udah baca dari awal sampai end. Thanks for commenting too 😍😍😍

  2. endingnya nyesek bnget…..
    gak nyangka klw Taehyung juga ikut andil dlm kasus pembunuhan Yoojin……
    di tunggu next project nya !!!!

    • 😭😭😭 iyaa endingnya nyesek huhu.
      Taehyung terlibat iyaa 😢
      Ditunggu yaa buat next projectnya 😉. Semoga lebih menarik lagi nanti 👊
      Btw makasih udah baca dari awal sampai akhir. Makasih comment nya jugak 😍😍😍

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s