Peach and I

Peach and Ipeach-and-i

•Prologue  •Daughter

- Adaptation


Namjoon membuka matanya, wewangian yang tidak terlalu familiar tapi mungkin akan menjadi sangat familiar baginya mulai tercium lagi, wewangian yang lembut dan menenangkan, wewangian khas, wewangian yang bisa mengingatkannya pada seseorang, seseorang bermata ke abu-abuan yang kini Namjoon dapati berada di hadapannya. Kedua mata itu tertutup hingga Namjoon bisa melihat bulu matanya yang panjang mencuat, dengan perlahan jari telunjuk Namjoon menelusuri pipi putih itu, lembut, nyata. Dan senyum Namjoon terlihat, senyuman seorang ayah yang tengah mengamati wajah tidur putri kecilnya.

Peach.

*

*

*
Sebelum kedatangan Peach

Setelah Namjoon memutuskan membawa Peach untuk hidup bersamanya, dimulailah pengurusan surat-surat kepindahan dan juga pengadopsian Peach yang sangat panjang dan rumit. Anak itu harus berpindah kewarganegaraan setelah dia di adopsi oleh Namjoon, proses pengadopsian juga tidak semudah yang Namjoon dan keluarganya pikirkan. Karena Namjoon dan Julia tidak pernah menikah sangat sulit sekali untuk meminta izin perpindahan anak itu meskipun bukti tes DNA sudah mereka lampirkan, Namjoon harus bolak balik ke kedutaan besar beberapa kali dalam tiga minggu terakhir dan Peach sudah kembali ke negaranya tiga hari setelah proses pengajuan adopsi.

Pekerjaan dan juga pengurusan surat adopsi Peach menyita waktu Namjoon, dia jadi harus merelakan waktu tidurnya jika kedutaan besar ataupun pengadilan memanggilnya. Nyonya Kim meminta Namjoon untuk membereskan apartemen sebelum Peach kembali ke Korea dan menetap di tempatnya, namun pria itu sudah terlalu lelah untuk sekedar menyalakan Vacuum Cleaner dan membiarkan alat itu melakukan tugasnya. Jadi, dia hanya masuk ke kamar dan tidur di sela waktu senggangnya.

Terkadang rasa takut selalu menghampiri Namjoon ketika dia mengingat akan membesarkan putrinya seorang diri, ini tentu saja kali pertama dia berhadapan dengan anak-anak, dia tidak pernah terlibat sekalipun dengan anak kecil di sepanjang hidupnya, jadi memikirkan bagaimana nantinya dia akan bersama-sama dengan Peach selama dua puluh empat jam penuh setiap harinya membuat Namjoon merinding ngeri. Dia takut jika apa yang di lakukannya membahayakan putri kecilnya, semua orang tahu bagaimana Namjoon bersikap, semua orang memanggilnya ‘God Of Destruction’ entah berapa kali dia membuat pintu-pintu dan laci-laci rusak hanya karena menyentuhnya, entah sudah keberapa kalinya dia mengganti pintu kamar mandi dan pintu kamar tidurnya sendiri karena ulahnya. Jadi, dia benar-benar merasa takut akan melukai Peach.

Pikiran-pikiran buruk, rasa khawatir meliputi Namjoon setiap harinya. Ada kalanya dia bersemangat karena menyambut status baru yang akan di sandangnya begitu Peach tiba di Korea, namun dia terlalu sering merasa tidak sanggup menjalani peran seorang ayah yang baik untuk putrinya. Dan, dua bulan sudah berlalu ketika pada akhirnya surat permohonan pengadopsian Peach di terima, Namjoon mendapat panggilan saat dia baru saja hendak memejamkan matanya setelah tiga hari penuh terbangun untuk mengerjakan salah satu lagu milik penyanyi solo dari label musiknya. Dia bergegas penuh semangat ketika petugas kedutaan mengatakan dia harus menandatangani beberapa dokumen untuk pengesahan adopsi putrinya, jadi disinilah Namjoon sekarang menandatangani sejumlah berkas dan diberikan bimbingan singkat mengenai tugasnya dan juga tanggung jawab yang di anutnya setelah pengadopsian. Namjoon mendengarkan dengan seksama dan penuh perhatian.

“Peach akan di berangkatkan ke Korea dalam dua hari, saya harap anda bisa menunggunya dengan sabar.” Ucap si petugas, tersenyum lebar pada Namjoon sambil memasukan berkas-berkasnya.

“Anakku akan berangkat seorang diri?” Tanya Namjoon kemudian, raut wajah khawatir terlihat dengan jelas ketika dia mengatakannya.
Petugas itu tertawa kecil, Namjoon jadi merasa malu karena tanpa sadar dia memanggil Peach dengan sebutan ‘anakku’.

“Tidak, petugas pengadilan dan kedutaan akan menemani putri anda dalam perjalanannya.”

Namjoon mengangguk kaku sebelum berpamitan pada si petugas, memikirkan bagaimana nantinya dia dan Peach tinggal bersama membuat dia sangat bersemangat, rasa takut yang beberapa hari ini menghampirinya mendadak menguap tak bersisa. Moodnya sedang sangat bagus sekarang, maka dia memencet nomor telepon Nyonya Kim dan memberitahu mengenai hal ini, ibunya berteriak kegirangan di sambut suara ayahnya yang terdengar jauh lebih bersemangat dari dirinya sendiri.

“Kau harus segera merenovasi kamar untuk Peach meskipun sedikit! Jangan membuatnya sedih karena kamarnya terlihat seperti gudang, anak perempuan sangatlah sensitive!” Nyonya Kim berkata,

Dan Namjoon mengangguk seperti seorang bocah kecil, dia melirik ke arah jam di tangannya, jam makan siang sudah terlewati dua jam yang lalu. Dia merasa lapar namun tidak terlalu lapar, terdiam sejenak dia memutuskan untuk pergi ke studio tattoo milik Yoongi, dia akan meminta pria itu menemaninya berbelanja, lebih tepatnya mengantarnya dengan mobil karena Namjoon sampai saat ini belum memiliki surat izin mengemudi karena kedua orangtuanya tidak mengizinkan dia mengendarai mobil akibat tingkat kecerobohannya. Tidak perlu menghubungi Yoongi terlebih dahulu, dia langsung saja menaiki bus yang melewati studio sahabatnya tersebut.

Di dalam bus tanpa sadar Namjoon menggumamkan lagu-lagu miliknya sendiri, lagu-lagu sendu dengan tema kesepian dan rasa tidak percaya diri kini berubah menjadi lagu yang indah untuk dirinya, tidak akan ada lagi rasa kesepian yang menjalari hatinya, rasa rindunya pada Julia kini sudah tergantikan dengan sosok yang baru, sosok yang bahkan jauh lebih berharga dari hal berharga lainnya yang pernah dia miliki. Namjoon tidak pernah berpikir jika Julia akan tetap mengandung anaknya, padahal ketika tahu bahwa dirinya tengah mengandung Julia bersikeras untuk menggugurkan kandungannya, passionnya pada music tidak ingin membuatnya merasa terbebani dengan kehadiran seorang anak, dia tidak ingin memiliki keluarga, dia tidak ingin memiliki tanggung jawab akan apapun. Lalu, mengapa Julia tetap mempertahankan Peach?

Mendadak pertanyaan itu melintas di benak Namjoon.

Yoongi tertawa lebar sampai-sampai gusinya terlihat semua ketika Namjoon baru saja menginjakkan kakinya ke dalam studio, disana sudah ada Taehyung, Jimin, Seokjin, Jungkook bahkan Hoseok yang sulit mengambil waktu luang untuk sekedar membalas pesan kakao duduk di sofa sambil memegang sekaleng bir. Entah darimana tapi mereka sudah mengetahui kabar bahwa Peach akan tiba dalam dua hari ke Korea.

“Selamat kawan, kau akan menyandang gelar baru begitu anakmu sampai di Korea!” Hoseok tertawa, melempar sekaleng bir pada Namjoon yang menangkapnya dan duduk di samping Taehyung.

“Aku tidak tahu kalian sangat bersemangat dengan kedatangan putriku,”

“Oh- kalian mendengarnya? Dia mengatakan putriku dari pada menyebut namanya!” Taehyung berkata membuat lima orang lainnya saling berseru dan tertawa meledek Namjoon. Namjoon memukul perut Taehyung yang masih tertawa.

“Ini bagus, kau melakukan tindakan yang bagus, Joon.” Seokjin menimpali.

“Ayolah Seokjin hyung, aku tahu kaulah yang mengompori Taehyung dan Yoongi hyung untuk mengatakan hal-hal menyentuh itu padaku ‘kan?”
Seokjin melirik Taehyung dan Yoongi yang mengangkat bahu mereka bersamaan.

“Tak ada yang membocorkannya padaku, hanya saja, kata-kata indah seperti itu hanya keluar dari seseorang yang memiliki daya imajinasi tinggi sepertimu. Kau harus membuatku percaya bahwa Yoongi akan mengatakan hal seperti itu? Dia bahkan tidak peduli apakah harus berkencan atau tidak, yang dia lakukan selama ini hanyalah menyukai seseorang secara diam-diam.”

Dan Namjoon mendapat tendangan tepat di tulang kakinya dari Yoongi setelah mengatakan hal itu, yang lainnya tertawa melihat tingkah keduanya.
“Bukankah ini berarti kita telah berubah? Kita sudah benar-benar dewasa sekarang.” Ujar Jimin,

“Kau benar, lihatlah bahkan Jungkook sudah memiliki sedikit jenggot,” Hoseok berkata, melingkarkan tangannya ke belakang leher Jungkook sambil memainkan dagu pria itu.

“Ah- hentikan hyung! aku sudah besar!” Pekik Jungkook.

“Aku ingat sekali pertama kali bertemu Jungkook ketika dia masih berusia 15 tahun, tubuhnya penuh dengan luka-luka, dia memakai jaket, tas, topi dan juga sepatu berwarna merah!” Yoongi tersenyum, terlihat sekali memorinya melayang ketika dimana hal itu terjadi. Hoseok tertawa, “Benar, dan kau membawanya seperti kau baru saja menemukan seekor anak kucing hyung.” Ucapnya.

“Saat itu, Jungkook benar-benar seperti kucing liar,” Seokjin menambahkan. “Dia bahkan meneriaki kita yang mencoba mengobati luka-lukanya,” Namjoon berkata di sela hisapan rokoknya.

“Kalian ingat apa yang dia teriakkan saat itu?” Jimin menatap kelima orang di depannya,

“Bajingan!” Ucap keenam orang itu bersamaan di barengi derai tawa. Jungkook memajukan bibirnya, tidak suka, tapi dia tertawa juga mengingat betapa konyol reaksinya saat itu.

Taehyung menepuk pundak Jungkook, “Melihat kau sudah sebesar ini dan menjadi seorang petinju, rasanya aku bangga sekali.”

Mereka kembali tertawa, kembali bercerita mengenai bagaimana satu persatu saling menemukan. Di mulai ketika Yoongi dan Namjoon yang saling bertemu karena kedua orangtua mereka saling mengenal, kemudian Hoseok, di lanjutkan Seokjin, dan tiga orang lainnya. Tidak ada yang pernah berpikir mereka akan sampai disini, tidak ada yang berpikir apa yang mereka lalui selama ini akan mereka tertawakan hari ini. Hal-hal menyedihkan itu kini bisa mereka jadikan bahan lelucon.

Saat itu, Namjoon tahu betul bagaimana sulitnya Jungkook untuk percaya pada orang lain, Seokjin tahu betul bagaimana susah payahnya Jimin membuka dirinya pada orang lain, jujur dan menyadari bahwa dia memerlukan orang lain, Yoongi tahu betul bagaimana perjuangan Hoseok lepas dari obat-obatan yang hampir merenggut nyawanya, dan mereka semua tahu betul bagaimana Taehyung menaklukan rasa putus asa dan ketidakpercayaan dirinya yang mendadak luntur karena ulah orang-orang yang membencinya. Masa-masa itu telah mereka lewati bersama-sama, bertahun-tahun.

“Sebenarnya, kami berkumpul disini karena ingin membantumu,” Tiba-tiba suara Yoongi menghentikan tawa keenam orang tersebut. “Kau pasti cukup kesulitan untuk mengasuh Peach sendirian, aku, Hoseok, Seokjin hyung, Jungkook, Jimin dan Taehyung sudah membicarakan hal ini. Kami tahu betul bagaimana pekerjaanmu, maksudku- jadwal kerjamu yang tidak memiliki aturan. Jadi, kurasa, kami sepakat untuk menggantikanmu mengasuh Peach untuk sementara.”

Namjoon terdiam,

“Bagaimanapun, Peach juga bagian dari kami, dia anakmu, kami akan menjaganya seperti anak kami sendiri.” Seokjin tersenyum,

“Jika kau benar-benar kesulitan dan tidak memiliki waktu untuk menjaganya, kami siap membantu!” Hoseok menambahkan.

Namjoon mematikan rokoknya, dia menunduk dalam, senyumnya mengembang. Benar, inilah mengapa dia yakin betul untuk mengambil Peach bersamanya, karena dia tidak sendirian, diluar keluarganya, dia masih memiliki keluarga yang jauh lebih solid, yang selalu ada untuknya dan siap kapanpun dia memerlukannya.

“Terima kasih, terima kasih sudah menerima Peach.”

.
.
.

“Jadi, bagaimana? Aku harus ke toko mana?” Namjoon bertanya, keningnya berkerut dan dia kebingungan, menoleh kesana kemari dia jadi pusing sendiri karena Mall hari ini terlihat sangat ramai dan penuh sesak oleh orang-orang.

“YA! KIM NAMJOON! Kau bisa bertanya pada spg disana! Disana ada toko khusus penjual baju anak-anak, kalau tidak salah di lantai tiga, bacalah petunjuknya bodoh!” Seokjin membentak Namjoon di ujung telepon.

Namjoon menghela napas, bukan karena dia malu harus membeli baju untuk Peach hanya berduaan dengan makhluk mungil itu, tapi- ya- itulah yang sedang Namjoon rasakan.

“Peach ada bersamamu?” Tanya Seokjin, menengok ke arah Peach yang terdiam sambil memegang erat teddybearnya Namjoon menggumam untuk menjawab pertanyaan Seokjin. “Dengar, kau tidak boleh membiarkannya berjalan, kau harus menggendongnya terutama jika kalian naik eskalator. Sebaiknya kau menggunakan lift dan jangan turunkan Peach dari gendonganmu, mengerti?”

Namjoon bergumam sekali lagi menyetujui ucapan Seokjin, dia mematikan teleponnya dan memandang Peach. Menghela napas, pria itu berjongkok di depan Peach, ayah dan anak itu saling pandang. Namjoon merapikan mantel bulu berwarna merah marun yang Peach kenakan, dia juga merapikan rambut coklat sebahu Peach, bola mata keabu-abuan itu menatap Namjoon lekat-lekat.

“Wha awwe doin here, Dadda?” Tanyanya,

“Um, we’re going shopping Peach. You’ll need clothes and a new book to go to school.”

“Sku?”

“Ah- bagaimana aku menjelaskannya, ini bukan sekolah yang membuatmu terus-terusan belajar, pokoknya Peach akan bertemu banyak sekali teman disana.”

“Teman?”

Namjoon mengangguk. “Maka dari itu, Peach harus bersiap-siap untuk bertemu teman-teman.”

Peach mengangguk kecil, Namjoon kemudian mengangkatnya tinggi-tinggi dan memeluknya dengan erat. Dia menggendong Peach, seperti apa yang di peringatkan Seokjin, dia tidak akan melepaskan Peach sedikitpun untuk hari ini. Jadi, mereka masuk ke dalam lift dan menuju lantai tiga.

Namjoon mendudukkan Peach di dalam troli, ada begitu banyak jenis dan merk pakaian anak yang terpampang di lantai tiga. Melihat ke dalam contekan yang dia bawa dari rumah, Namjoon mulai berkeliling. Pajamas, Underwear, Shirt, Skirts, Socks, Leggings. Dia terdiam di depan jajaran rok-rok anak usia empat tahun, dia bahkan tidak tahu ukuran Peach jadi dia mengintip sebentar ke belakang rok yang kini di pakai oleh Peach, Namjoon asik memilih dan sesekali bertanya pada Peach apakah anak itu menyukai pilihannya atau tidak. Terkadang Peach mengangguk, atau menggeleng, terkadang hanya diam saja.

Setelah satu jam berkeliling, akhirnya Namjoon membayar semua belanjaannya dia begitu terkejut karena baju-baju Peach bahkan jauh lebih mahal di bandingkan dengan baju-baju miliknya. Ayah dan anak itu mampir ke sebuah restoran, Namjoon memesan makanan untuknya dan Peach, namun sebelumnya Peach meminta di buatkan susu dengan susah payah Namjoon menakar air panas dan susunya untuk Peach. Bocah itu mulai menyedot susunya dengan sangat lahap membuat Namjoon terkekeh geli.

“Kurasa kau harus berhenti meminum susu dari botol, Peach, kau sudah besar.” Ujarnya, makanan datang begitu Peach menyelesaikan susunya. Namjoon memisahkan udon ke mangkuk kecil untuk Peach makan dan anak itu makan dengan lahap, beruntungnya, Peach tidak terlalu pemilih untuk urusan makanan.

Namjoon tidak pernah mengira dia akan seluwes ini mengasuh Peach, ketika Peach pertama kali datang ke Korea seminggu lalu, dia sudah takut setengah mati, dengan gemetaran dia memeluk Peach yang berlari ke arahnya. Putri kecilnya masih mengenali siapa dirinya, Peach menatapnya dengan penuh minat, seperti benar-benar sudah mengenalnya sejak pertama anak itu lahir ke dunia. Namjoon mengelus kepala putri kecilnya kemudian berbisik, “Selamat datang.” Dengan sangat lembut.

Hari-hari pertama membuatnya terkejut terutama ketika bangun dari tidur dan mendapati Peach tengah tertidur di sebelahnya, kamar Peach sudah dia persiapkan, bahkan dia mendesainnya dengan sangat cantik karena ibunya berkata bahwa anak perempuan sangatlah sensitif. Namun kenyataannya, setiap malam Peach selalu diam-diam masuk ke dalam kamar ayahnya untuk tidur bersama. Mungkin disana, Peach selalu tidur bersama neneknya karena itulah anak itu terus-menerus kembali ke kamar Namjoon untuk tidur bersamanya.

Untuk pertama kali dalam hidupnya Namjoon menggunakan microwave di dapur hanya untuk memanaskan susu yang akan dia campurkan ke dalam sereal Peach, dia takut Peach akan sakit perut jika susunya dingin. Namjoon juga mulai membeli bermacam-macam buah-buahan untuk di jadikan jus, dia membacanya di sebuah buku jika anak-anak akan menyukai berbagai macam jus dan itu bagus untuk kesehatan. Dia belum berani untuk memasak sendiri, maka dari itu untuk urusan makan siang dan makan malam Namjoon sering sekali mengajak Peach dari satu restoran ke restoran lain, dan beruntung sekali si kecil Peach tidak pernah mengeluh dan menolak makanan yang Namjoon pesan.

“Aku sudah mendaftarkannya,” Namjoon berkata, telinganya menempel pada layar ponsel. Ibunya menelepon.

“Baguslah, kapan dia mulai masuk ke daycare?” Tanya ibunya di ujung telepon.

“Besok, aku memiliki jadwal yang padat sampai minggu depan jadi aku akan mulai menitipkan Peach disana bu.”

“Kau sudah menjelaskannya pada Peach, jika dia akan berada di Daycare sampai kau pulang dari bekerja?”

“Sudah.”

“Bagus joon, ibu tidak pernah berpikir kau akan secepat ini beradaptasi dengan Peach.” Ujar Nyonya Kim kemudian tertawa disana. Namjoon hanya terdiam, sibuk mengisi ulang mangkok Peach yang sudah kosong.

I wonder too.

“Peach makan dengan baik?”

“Dia sangat suka makan, dan susu.”

“Susu? Dia masih menyusu?”

“Menggunakan botol,”

“Aduh, sepertinya Joon kau harus menghentikan kebiasaannya itu, itu akan membuat giginya jelek!”

Eung, kurasa gigi Peach baik-baik saja.

“Dengar? Kau harus menghentikan kebiasaan menyusu dengan botol, berikan dia cangkir untuk minum susu.”

Namjoon hanya menjawab dengan gumaman setiap ocehan ibunya. Dia belum memikirkan bagaimana mengasuh Peach dengan baik, sangat baik, namun dia tengah berusaha, berusaha agar Peach aman dan mendapat pendidikan yang baik.

“Ibu,”

“Ya?”

“Kau melakukan hal ini setiap hari?”

“Apa?”

“Ketika aku kecil,” Namjoon berkata, menatap Peach yang tengah mengunyah mie udonnya.

“Tentu saja,” Jawab ibunya, pelan.

“Kau pernah merasa lelah?”

Dan Namjoon bisa mendengar suara ibunya tertawa, “Kau lelah?” Dan gumaman terdengar sebagai jawaban. Ibunya tertawa lagi.

“Yakinlah, dulu, setiap kali ibu melihatmu tertidur sehabis makan atau sehabis pergi bersama-sama ke suatu tempat, ibu merasa bahagia, karena ibu tahu kau juga tengah merasa bahagia.”

“Aku bahagia,”

Dan Namjoon bisa mendengar suara ibunya tertawa sekali lagi.

Mungkin masih terlalu dini untuk memanggil Namjoon sebagai ayah yang hebat, namun dia tengah berusaha, berusaha menjadi sangat hebat di mata Peach. Berusaha menjadi yang terbaik bagi putri kecilnya.

“Peach, kau senang?” Tanya Namjoon, mencondongkan tubuhnya ke depan, menjajari mata Peach dengan matanya. Kedua bola mata berwarna keabu-abuan itu menatapnya, bola mata besar dan jernih itu. Peach mengunyah dan menelan udon di dalam mulutnya, dan untuk kali pertama Namjoon melihat senyum malaikat kecilnya, tanpa menjawab, hanya memberikan senyuman kecil, Namjoon yakin Peach merasa senang sekarang.

Jadi, dia mengelus puncak kepala Peach dan tersenyum pada bocah itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s