[FFINDO PROJECT] FRIENDSHIP _ THE COUPS – Chapter 4

the-coups1

by Tricila

[BTS] Jung Hoseok – [EXO] Oh Sehun – [SVT] Jeon Wonwoo– [NCT] Lee Taeyong

Support cast’s : find by your self

Friendship, Drama // Multichapter // PG16

Poster by ALKINDI @Indo Fanfictions Arts

Chapter 4 : Gone

Disclaimer

Cast’s milik Tuhan, Orang tua dan agensi masing-masing, Author hanya pemilik seutuhnya dari fanfiction ini. Don’t be a plagiator.

.

“Sekarang apa? Aku harus bagaimana?  Seharusnya aku tidak membunuh wanita itu. Seharusnya Hoseok tidak berada di sana,” berulang kali Sehun mengucapkan kalimat itu setelah Wonwoo pergi dari kamarnya. Tangannya mengepal dan napasnya tak teratur, rambutnya yang acak-acakan serta muntahan makanan yang berada di samping ranjangnya membuat kamar itu tidak boleh dimasuki siapapun.

Tangannya yang bergetar itu bergerak mengambil secarik kertas dan bolpoin di atas nakas. Ia mulai menulis. Air mata yang mengiringi abjad demi abjad yang Sehun tuliskan di sana. Begitu selesai, ia lipat kertas itu dan diselipkan ke dalam saku seragam rumah sakitnya.

“Bawakan sebotol obat penenang,” ucapnya begitu ia tersambung dengan suster bagian depan. Tak lama kemudian, suster datang dengan sebotol obat dalam genggamannya. Dengan ragu, suster itu menyerahkan obat tersebut. Sehun menerimanya dan memberikan secarik kertas yang telah ia sembunyikan tadi. “Jika kau punya kenalan media, berikan ini pada mereka. Kau tidak akan disalahkan setelah kejadian ini. Tapi, bertingkahlah sewajarnya setelah kau keluar dari kamar ini,” Sehun berbisik.

Suster itu hanya mengangguk paham dan meninggalkan kamar itu. Sepeninggal suster, Sehun meneguk obat penenang itu dalam dosis tidak wajar. “Maafkan aku Jung Hoseok,” ucapnya.

***

Wonwoo sedari tadi sadar bahwa ada seseorang yang mengikutinya. Oleh karena itu, ia mempercepat langkahnya agar cepat sampai ke daerah yang lebih ramai daripada jalanan yang dipenuhi toko tutup itu. Bukannya takut seperti anak perempuan yang dikejar orang mesum, tapi sekarang ia harus tetap aman agar bisa membantu sahabatnya yang ada di balik jeruji besi itu.

“Permisi,” panggil seseorang yang sedari tadi mengikuti Wonwoo. Suara itu terdengar masih seperti remaja. Kalaupun anak laki-laki itu mau mencelakaiku, dia cuma bocah, batinnya kemudian menoleh ke belakang.

Sebuah pisau langsung menancap ke perutnya begitu ia berbalik. Dicabut, lalu ditusukkan kembali ke perut bagian lain. Benar saja, yang memanggilnya memang seorang remaja, tetapi di sampingnya adalah bodyguard Sehun yang tadi berjaga di pintu kamar. Ayahnya memang hebat menghilangkan nyawa orang.

***

Orang-orang berpakaian hitam berlalu lalang di rumah duka nomor 2. Foto seorang CEO muda tampan terpampang di atas tumpukan bunga lily putih. Presdir O Grup sebagai orang yang berduka hari itu duduk terpuruk di sebelah meja sesembahan. Ia terlalu sibuk dengan bagaimana ia melanjutkan perusahaannya sampai-sampai ia lupa mengurus anak semata wayangnya itu. Dia terlalu menekan anak itu hingga anak itu memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.

“Kau harus menjadi CEO perusahaan, Oh Sehun!” teriak pria itu dengan amarah meluap-luap. “Aku tidak mau! Aku ini masih berumur 20 tahun, mana mungkin aku bisa memimpin perusahaan? Kau juga tidak bisa egois memutuskan hidupku! Biar aku yang memutuskan langkah apa yang harus kuambil, Ayah!” berontak Sehun kemudian mengambil mantelnya dan pergi dari rumah.

            Sehun merogoh celananya, mengambil ponselnya kemudian menyentuh layarnya. ‘Cepat ke tempat biasa. Aku tidak berada dalam mood yang baik untuk menunggu,’ tulisnya pada grup chat gengnya. ‘Kau ini gila?! Ini sudah jam 10. Aku mau tidur,’ balas Taeyong tanpa rasa bersalah. ‘Ada apa malam-malam, Sehun?’ Hoseok terlihat lebih tenang daripada laki-laki berdarah Amerika-Korea itu. ‘Aku ke sana sekarang,’ Wonwoo hanya lebih singkat dari siapapun.

            Selang 15 menit, Sehun sudah bersama laki-laki berkacamata bulat itu. “Kau belum pulang dari tadi?” tanya Sehun ketika melihat Wonwoo masih dengan tas ransel dan kamera yang menggantung di lehernya. “Aku harus dapat bonus dari tempatku bekerja paruh waktu. Siapa tahu bertemu dengan idol yang sedang berkencan,” jawabnya seraya meletakkan bawaannya.

            Dari jauh, terlihat Taeyong yang berlari kecil dengan jaket yang menutupi separuh wajahnya. “Dasar berandal, kau membuatku begadang lagi,” omelnya di balik jaketnya. “Kita semua itu memang berandal, bodoh,” Sehun tak mau kalah telak. “Aku bukan berandal, Sehun,” sahut Hoseok yang baru datang. Semuanya terkekeh melihat Sehun yang langsung diam tak bisa menjawab Hoseok.

***

Hoseok terkejut begitu detektif yang menangkapnya hari itu memanggil namanya dan membukakan pintu besi itu. Hoseok refleks bangkit dan mendekat ke pintu yang sudah terbuka itu. “Jung Hoseok, dinyatakan bebas dari tuduhan pembunuhan oleh karyawan O Grup,” tutur detektif Hwang.

“Kenapa?”

“Apa maksudmu dengan ‘kenapa’?” detektif Hwang justru tidak mengerti dengan jalan pemikiran tahanan lima hari ini seraya menutup pintu besi itu. “Bagaimana bisa? Apa yang terjadi?” Hoseok mengeluarkan pertanyaan yang muncul dibenaknya ke detektif. Tidak mungkin orang itu menyerahkan dirinya setelah apa yang terjadi. Apa dia gila? Bagaimana dengan perusahaan dan ayahnya? Meskipun aku juga harus mengkhawatirkan ayahku, tetap saja aku sudah berjanji padanya.

“Pelaku sebenarnya, Oh Sehun CEO dari O Grup menyatakan ini dalam wasiatnya. Dia me—“

“Wasiat?” potong Hoseok begitu mendengarnya. “Dia sudah meninggal?” lanjutnya. Detektif Hwang mengangguk. Terkejut? Pastinya. Sedih? Jangan tanyakan itu lagi. Perasaannya sudah berkecamuk. Kehancuran dalam dirinya setelah kehilangan sahabatnya itu. Kesedihannya semakin bertambah ketika seorang bawahan detektif Hwang melaporkan bahwa mayat yang telah ditemukan kemarin pagi berhasil diidentifikasi.

“Jung Ho Jae, 54 tahun dinyatakan meninggal karena menusuk perutnya empat kali di lokasi yang sama lalu jatuh ke jurang,” anak buah detektif Hwang menjelaskan. Hoseok bingung, kenapa nama ayahnya disebut dalam laporan bunuh diri itu. “Jung Ho Jae? Apa aku bisa melihat fotonya?” Hoseok tidak bisa menahan penasarannya lagi.

Foto dalam berkas itu. Orang yang sama dengan yang ada dipikirannya, masih memakai baju yang sama dari satu minggu lalu, pisau yang menancap di perutnya, dan kulitnya yang sudah berubah menjadi pucat. Kaki Hoseok tidak kuat menopang tubuhnya. Ia goyah dan jatuh ke lantai kantor polisi yang dingin itu.

“Aku sendirian?”

***

Tiga hari setelah ayah Hoseok dan Sehun meninggal, Hoseok kembali ke rumahnya di desa. Satu per satu, dibukanya lemari tua milik ayahnya. Baju-baju ayahnya, ia masukkan ke dalam tas besar. Ia berniat memberikan baju-baju itu ke panti ataupun ke tempat daur ulang. Ia ingat betul bahwa ayahnya selalu mengatakan ‘berikanlah barangmu yang sudah tak terpakai namun masih berguna untuk orang lain’. Termasuk baju ini, aku akan menjalankan keinginanmu.

            Sepucuk amplop terjatuh dari lemari ketika Hoseok menarik baju ayahnya bagian bawah. Ia membuka amplop itu dan menemukan surat dan sebuah foto ibunya yang ia inginkan dari dulu.

‘Anakku, Hoseok.

Ini ayah. Mungkin saat kau menemukan surat ini, aku sudah tidak berada di sisimu lagi. Aku minta maaf karena tidak bisa bersamamu untuk waktu yang lebih lama lagi. Aku telah melakukan hal yang tidak seharusnya pada temanmu yang sekarang menjadi detektif itu.

Aku menusuknya, bahkan aku tidak tahu bagaimana keadaannya setelah itu. Waktu itu aku terlalu emosi. Mengapa anak semata wayangku harus dihukum mati karena hal yang bukan kesalahannya? Aku tidak menerima itu. Saat itu, aku melihat pisau di meja dan aku langsung mengambilnya begitu saja dan pergi ke Seoul.

Ayah minta maaf padamu dan temanmu itu. Aku sudah tidak bisa menahan rasa bersalah ini. Semoga kau membaca surat ini dan seterusnya hidup bahagia, Hoseok-a.

Ayahmu, Jung Ho Jae.’

Cairan bening itu tak mampu ditahan lagi. Menetes perlahan ke kertas yang bernoda itu. Dadanya sesak, semuanya terlalu rumit untuk dipahami olehnya. Sekencangnya ia berteriak di rumah yang sepi, hatinya semakin hancur ketika teringat wasiat Sehun yang isinya berulang kali meminta maaf padanya.

Sejenak kemudian, Hoseok berjalan keluar dan duduk di depan anjingnya. Ia mendapat telepon, “Halo?”

“Apa? Lee Taeyong?”

***

Hoseok berlari sekencang yang ia bisa. Dalam hatinya, ia berdoa jika apa yang dibicarakan suster ditelepon itu salah. Taeyong tidak mungkin, jangan, batinnya. Air matanya masih mengalir dan lariannya yang semakin ia percepat. Namun, dipertengah jalan Hoseok melihat suster yang biasa menangani Taeyong mendorong examination bed.

Langkahnya terhenti. Napasnya memburu. Masih berdoa jika orang dibalik kain putih itu bukan sahabatnya, Lee Taeyong. Berjalan mendekatinya, Hoseok semakin takut jika hal itu menjadi kenyataan. “Jung Hoseok-ssi,” panggil suster. Hoseok mengabaikannya dan tangannya bergerak untuk meraih kain itu. Setelah mempersiapkan dirinya, Hoseok membuka kain itu.

-To Be Continued-

Halo, para readers^^ ffindo project ini adalah event yang diadakan ffindo dan bakal ada puncak event yang seru. Pantengin terus ya!!^^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s