[FREELANCE] All We Know

unnamed

[Songfic] All We Know
Story by whitelil
Cast : (BTS) Park Jimin X (I.O.I) Kim Sejeong || Genre : Romance || Rating : PG – 15 || Lenght : Oneshot || Disclaimer: The plot originally mine, inspired by The Chainsmoker ft Phoebe Ryan – All We Know. Enjoy❤
Credit Poster : Kyoung @Poster Channel
***
‘Cause this is all we know
This feeling’s all we know
***
Kleneng. Sejeong menoleh saat bel berbunyi. Suara tersebut diikuti oleh masuknya seorang pria ke dalam tokonya. Usianya masih awal 20-an. Dengan berluti shoes berwarna tan, dan jaket kulit hitamnya, ah juga kacamata oakley yg juga berwarna hitam. Pria itu berhenti di depan meja kasir, tempat dimana Sejeong berdiri, lalu melepas kacamatanya. Sejeong tertegun sejenak memandang mata berbentuk bulan sabit itu.
“You busy?” tanyanya.
“Not really..”
“Can you.. pick one of the best flower here? For a woman of course”
Sejeong tersenyum, “It’s white lily, of course. Wait a sec” Sejeong pun menuju ke corner berisi bunga lily lalu mengambil beberapa tangkai.
Saat Sejeong kembali, pria itu tengah memantik NewPort menthol miliknya, lalu menghisapnya dalam.
“Do you mind?” tanya pria itu, takut Sejeong merasa keberatan ia merokok disana.
“Nope” ucap Sejeong lalu menunjukkan lily di tangannya, “wrapped?” tanyanya kemudian.
“Beauuutifullyy. That’s for my favorite…”
“Got it” ucap Sejeong lalu membungkus lily tersebut dengan wrapping paper dan pita berwarna pink. Setelah selesai, ia memberikannya pada pria itu.
“So what’s ur name?” pria itu mengambil lilynya lalu tersenyum. Cukup manis tapi Sejeong tidak tertarik.
Saat tak mendapat respon, ia mengulurkam tangannya pada Sejeong, “I’m Jim..”
Sejeong masih terdiam, “it’s 20 dollar” jawabnya.
“Come on…” Jimin menghela nafas lalu merogoh sakunya mengeluarkan dompet, mengambil selembar 50 dollar lalu meletakannya di meja kasir.
Sejeong mengambil uang tersebut, lalu mengembalikan 30 dollar milik pria itu.
“I don’t need that. I need a name.. a name…”
“Did you pay 30 dollar for my name?” tanya Sejeong sarkastis.
Pria bernama Jim itu memutar bola matanya, “that’s not what i mean. I just…”
“Kim Se Jeong” jawab gadis itu pada akhirnya. Jim terdiam beberapa saat.
“Okay..” pria itu kemudian tersenyum, “I know it, from the first time i saw you, i know you’re a Korean” pria itu tersenyum.
“Namaku Park Ji Min. Kau cukup memanggilku Jim, seperti yg lainnya” pria itu tiba-tiba berbicara dalam bahasa Korea.
Sejeong sesungguhnya tidak terlalu terkejut karna mata bulan sabit miliknya. Hanya saja pria ini berbicara English dengan sangat fasih, membuat Sejeong berpikir ia mungkin lahir dan besar disini sehingga tak bisa berbahasa Korea.
“Bangapseumnida” ucap Jimin lagi.
“Ini kembalianmu, terimakasih. Jangan lupa datang lagi” ucap Sejeong mengucapkan kata yang sudah ia ucapkan ratusan kali pada setiap pembeli itu
Jimin menghela nafas lalu kembali tersenyum, “kau memintaku untuk kembali lagi? Of course i will” ucapnya.
Sejeong memandang Jimin datar, “it’s up to you”.
***
Satu hari berlalu dan rutinitas Sejeong masih sama. Menjaga toko bunga. Pagi itu, gadis itu cukup bisa bersantai. Ditemani secangkir kopi dan alunan musik boygroup kesukaannya, gadis itu bersenandung ringan. Sejeong memang sangat menyukai tanah kelahirannya. Negaranya, budayanya, segala sesuatu tentangnya. Walaupun kenyataannya ia hanya tinggal disana selama 7 tahun, tapi Korea selalu lebih cocok dengannya.
“Oneul manhi manhi yaa.. Manhi manhi.. Oneul manhi manhi yaa.. Manhi manhi manhi manhi” yeoja itu memejamkan mata lalu menganggukkan kepalanya, mengikuti hentakan musik.
Kleneng. Dan gadis itu bahkan tidak sadar seseorang baru saja memasuki tokonya.
“Excuse me” Sejeong terkejut saat seseorang berbicara dengan lembut di dekatnya. Gadis itu buru-buru mematikan musik lalu menoleh.
Jimin berdiri disana memperhatikannya, membuat Sejeong memutar bola matanya lalu menghela nafas. Pria ini, lagi.
“I’m not on my mood today. Can you please leave me alone, sir?”
“Jangan berbicara bahasa itu padaku. Kau tau, kita berdua Korean” ucap Jimin. Sejeong kembali menghela nafas.
“Jebal kka” ucap Sejeong singkat.
“Geurae” Jimin mengambil kertas kecil dan pulpen di samping Sejeong, lalu menuliskan sederet angka.
“Tepat disaat mood mu kembali, telfon aku” ucap Jimin lalu keluar dari toko tersebut.
Sejeong meremas kertas itu lalu membuangnya ke tempat sampah.
***
Hari-hari berlalu tanpa ada satupun panggilan dari Sejeong. Jimin memutuskan, hari itu ia akan kembali ke toko bunga. Saat membuka pintu toko, keningnya berkerut. Ia mendekati meja kasir, lalu memandang sekeliling.
“Where’s the young girl?” tanyanya pada seorang wanita paruh baya yang tengah memotong duri-duri mawar.
“What girl?” wanita itu berdiri menatap Jimin.
“The shopkeeper, a Korean lady”
“Did you mean Sejeong? She move to the Coast tonight so she can’t come”
“COAST? Which coast? Can you give me her address?”
“Who are you? I can’t give her address”
“Old friend” jawab Jimin sekenanya. Wanita itu pun akhirnya memberikan alamat Sejeong. Jimin segera keluar dari toko dan masuk ke mobilnya.
~
I’ll ride my bike up to the world
Down the streets right through the city
I’ll go everywhere you go
From Chicago to the coast
~
Ia mengendarai ferrari nya dengan kecepatan tinggi. Setelah berkendara selama hampir sepuluh menit, tiba-tiba ponselnya berbunyi dan masuklah sebuah pesan. Jimin membukanya cepat.
Goodbye.
Jimin meraih ponselnya lalu menelfon nomor tersebut. Ia yakin itu pesan dari Sejeong. Nomornya sudah tidak aktif membuat Jimin memukul stir penuh emosi.
“Goodbye? Bagian mana yang baik dari sebuah perpisahan? You fool” ucap Jimin kesal. Ia terus berkendara dan tidak butuh waktu lama untuknya menemukan rumah Sejeong. Jimin kembali meraih ponselnya dan menelfon nomor itu sekali lagi. Masih tidak aktif.
Ia menyesali kenapa tadi hanya meminta alamatnya. Seharusnya ia bertanya lebih banyak hal tentang Sejeong pada wanita itu. Pria itu memperhatikan rumah tersebut. Rumah itu terlihat sepi. Sebuah rumah sederhana di pinggir Chicago.
Jimin memutuskan untuk menunggu, entah sampai kapan ia harus menunggu. Mungkin hingga esok pagi, saat Sejeong sudah siap pergi ke Coast. Tiba-tiba sesosok wanita berjalan pelan di samping jendela lantai 2. Itu jelas Sejeong. Jimin segera menaiki tembok samping pembatas rumah dan meraih jendela tersebut. Benar saja, Sejeong sedang duduk menghadap cermin. Jimin mengetuk jendela beberapa kali hingga akhirnya gadis itu menoleh.
Sejeong menampilkan ekspresi kaget, begitu pun Jimin karena… gadis itu terlihat kacau dengan mata yang sembab. Gadis itu buru-buru mencari buku gambar miliknya dan menuliskan sesuatu di buku itu.
Salyeojusseyo
Jimin terlihat kaget membaca pesan Sejeong. Ia menatap mata gadis itu lalu mengangguk beberapa kali.
“Aku akan menyelamatkanmu” ucap Jimin. Sejeong kembali menulis di bukunya.
Tidak ada siapapun di rumah ini. Mereka sedang pergi ke grocery.
Cepatlah
“Calm down… Sekarang bawa semua keperluanmu. Baju dan barang yang kau butuhkan, oke? Aku akan mencoba membuka pintunya. Setelah kau selesai segera turunlah ke bawah. Calm down Sejeong-a” ucap Jimin menenangkan. Sejeong mengangguk cepat lalu mengambil tasnya dan memasukkan segala keperluannya. Jimin turun dari genteng dan segera menuju mobilnya mencari pencapit dan kawat di dashboard.
Ia menuju ke pintu dan memasukkan pencapit ke lubang kunci, lalu memasukkan kawat dan memutarnya perlahan. Krek. Setelah mendengar bunyi itu, ia pun membuka pintu dan segera masuk ke dalam dengan tergesa. Sebuah tangga langsung menjulur di hadapan Jimin tak jauh dari pintu yang terbuka, dan tak lama turunlah Sejeong seraya berlari.
“Jim…” Jimin melangkah cepat lalu memeluk Sejeong begitu saja.
“You fool” hanya kata itu yang Jimin ucapkan. Sejeong terdiam di dalam dekapan Jimin. Gadis itu sudah menangis sejak tadi, dan menjadi. Jimin sendiri merasa Sejeong membuatnya sangat takut kehilangan gadis itu.
“Aku takut..” uca gadis itu. Jimin menempelkan telunjuknya di bibir Sejeong.
“Arra. Tetaplah bersamaku” ucap Jimin lalu menggandeng tangan gadis itu menuju mobilnya.
Mereka pun meninggalkan rumah tersebut perlahan. Sementara menyetir, Jimin terus menggenggam tangan Sejeong dengan eye-smilenya. Tidak bermaksud menuntut penjelasan -tentang apa yang sebenarnya terjadi- dari Sejeong. Rasanya ia pun tak butuh penjelasan selama Sejeong tetap bersamanya.
~
You tell me hit this and let’s go
Blow the smoke right to the window
Cause this is all we know…
~
Gadis itu tiba-tiba bergerak panik saat melihat sebuah ford dari kejauhan.
“Jim.. itu mereka..” ucap Sejeong menggenggam tangan Jimin lebih erat.
“Nuu..” Jimin hendak bertanya, tapi sedetik kemudian ia paham. Jimin bergerak cepat memantik NewPort nya lalu memberikannya pada Sejeong.
“Tiupkan asapnya ke jendelamu”
“Tapi aku tidak…”
“Right now!” Sejeong mengambil cigarette itu lalu menghisapnya dan menghembuskan asapnya ke jendela di sebelah kanannya yang tertutup. Meskipun setelahnya, gadis itu terbatuk beberapa kali, tapi hal ini cukup efektif membuat jendela mereka tak terlihat dari luar.
“Gwenchana?” tanya Jimin memastikan.
“Eo”
***
Cause this is all we know..
This feeling’s all we know…
~
Jimin memarkirkan ferrari nya di sebuah penthouse mewah di tepi Rainbow beach, di kawasan Chicago park district. Rumah itu milik keluarganya, tentu saja. Ia pun membukakan pintu mobil untuk Sejeong dan membawakan tasnya, membuat gadis itu merasa tak enak. Langit mulai berwarna orange dan matahari sebentar lagi terbenam.
“Jim.. ini rumahmu?” tanya Sejeong saat memasuki penthouse.
“Ini rumah keluargaku. Aku tinggal sendiri disini sedangkan mereka datang hanya saat berlibur”
“Memangnya dimana mereka tinggal?” tanya Sejeong tak berhenti terpana memperhatikan seisi penthouse.
“Apakah kau mulai tertarik padaku?” Jimin memandang Sejeong dengan smirk-nya.
“Aninde” Jimin tertawa mendengar jawaban Sejeong.
“Mereka tinggal di Seoul” ucap Jimin lalu menaiki tangga.
“Kau bisa tidur di kamarku, aku akan tidur di bawah” ucap Jimin dan mendapat gelengan kepala dari Sejeong.
“Aku terlalu takut. Aku ingin bersamamu” Jimin terdiam sesaat lalu menelan ludah.
“Jangan berpikir tentang sesuatu yang aneh” lanjut Sejeong menghancurkan imajinasi Jimin seketika.
“Aah arrasseo. Sekarang mandilah, setelah itu kita ke pantai” ucap Jimin lalu kembali turun ke bawah.
***
Jimin dan Sejeong berjalan beriringan di pantai saat matahari terbenam, menimbulkan kesan romantis, ditambah angin sejuk yang laut berikan untuk mereka. Namun keduanya hanya terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Jimin dengan seribu pertanyaannya pada Sejeong soal tadi siang. Sejeong dengan beribu terimakasihnya pada Jimin yang telah menyelamatkannya.
“Gomawo.. Jim” ucap gadis itu pada akhirnya.
“Mwoga?” tanya Jimin menghentikan langkahnya lalu memandang Sejeong.
“Karena telah menyelamatkanku…”
“Aku tidak akan bertanya apapun soal itu, jangan khawatir” ucap Jimin menenangkan Sejeong.
“Dia ayah angkatku. Orang Chicago asli. Tapi ia sering melecehkanku. Dan besok pagi, ia akan membawaku ke Coast dan menjualku pada seorang mafia…” Sejeong bercerita secara tiba-tiba. Jimin hanya terdiam, tak tau harus bereaksi seperti apa.
“Kau aman bersamaku” ucap Jimin menampilkan eye-smile nya.
Mereka akhirnya duduk di sepasang ayunan kayu di bawah pohon.
“Kenapa kau percaya padaku? Padahal kau baru mengenalku” pertanyaan itu sejak tadi membuat Jimin penasaran.
“Jim.. tatapan matamu sangat teduh dan aku merasa aman saat menatapnya… Eye-smile mu membuat.. hatiku tenang.. dan aku.. tidak memiliki alasan untuk takut padamu” ucap Sejeong tulus.
“Kim Sejeong, sudah satu bulan aku memperhatikanmu setiap hari di toko bunga. Tapi aku tidak pernah berani mendekat. Baru belakangan aku berani mendekatimu. Aku.. jatuh cinta padamu really really at the first sight” dan Sejeong tidak menemukan kebohongan dari mata Jimin.
Mereka berpandangan cukup lama.
“Aku menyukai mata bulan sabit itu, at the first time i saw you. Aku menyukai senyum itu, at the first time i saw you, aku suka mendengar suaramu, at the first time i hear you. And i like you from your top until your toe…” ucap Sejeong jujur. Jimin tersenyum, kembali menampilkan eye-smile kesukaan Sejeong.
~
Matahari semakin tenggelam dan langit malam mulai muncul. Jimin dan Sejeong kembali berjalan di pantai beriringan. Jimin tiba-tiba menendang sedikit ombak yang menyentuh kakinya ke arah Sejeong.
“Omo omo. Aku tidak tau jika itu akan mengenaimu…” ucap Jimin berpura-pura kaget. Sejeong mendelik.
“YAAA PARK JIMIN” Sejeong pun menendang ombak yang juga mengenai kakinya keras-keras ke arah Jimin.
“Omo omo omo, aku tidak tau jika itu akan mengenaimu Jimin-ssi.. Mian” ucap Sejeong meniru kata-kata Jimin.
Jimin mencoba meraih gadis itu tapi Sejeong berlari menghindar. Mereka pun berkejaran satu sama lain. Jimin akhirnya mendapatkan Sejeong dan menariknya mendekat. Ia merangkul pinggang Sejeong dan memandangnya lekat-lekat, membuat jantung Sejeong berhenti berdetak. Jimin memangkas jarak antara wajahnya dan wajah Sejeong lalu mencium bibir gadis itu lembut. Sementara Sejeong memejamkan matanya merasakan cinta yang Jimin berikan padanya.
***
We’re falling apart, still we hold together
We passed the end, so we chase forever
‘Cause this is all we know…
This feeling’s all we know…
***
END.

Advertisements

4 responses to “[FREELANCE] All We Know

  1. Baru pertama kali baca ff jimin x sejeong. Haha. Ternyata punya kemistri juga ya.
    Saling cinta pada pandangan pertama ya:) wkwk
    Jimin wae so sweet > <

    • Hai dollyeon terimakasih sudah menyempatkan baca^^

      Random bgt yaa ini sebenernya tbtb ngeship Jimin sejeong huehehe aku pun gatau kenapa tbtb suka sama ship mereka:”) semoga suka ya sama ceritanya:)

  2. FF-nya baguus.. aku suka ceritanya, simpel dan gak neko-neko. Bacanya sambil senyum-senyum sendiri.. bener-bener kebayang gimana ekspresi Jimin di ff ini~~
    Good really job

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s