[FREELANCE] He is My Twins

HE IS MY TWINS.jpg
Title : He is My Twins
Author : N
Cast: Jeon Jungkook (BTS) x OC’s Jeon Tae Ran // Genre: AU, Family // Length: Oneshot // Rating: General // Disclaimer @ BTS
Ini ff pertama yang aku publish, jadi maklumin kalau masih jauh dari kata sempurna. Semoga menikmati.
Happy Reading
Summary:
Kata siapa saudara kembar itu biasanya punya ikatan batin yang kuat. Buktinya aku dan Jungkook tidak punya sama sekali. Jangankan ikatan batin, apa yang ada dipikiran Jungkook saja aku tak tahu. Pokoknya apa yang ada di dalam dan diluar diri Jungkook aku sama sekali tak tahu kecuali kita yang sama-sama suka buah pisang.
Kata siapa saudara kembar itu biasanya punya ikatan batin yang kuat. Buktinya aku dan Jungkook tidak punya sama sekali. Kita memang keluar dari rahim yang sama. Aku lahir hanya berselang 5 menit setelah Jungkook bertemu dengan dunia untuk pertama kali. Tapi jangankan ikatan batin, apa yang ada dipikiran Jungkook saja aku tak tahu. Pokoknya apa yang ada di dalam dan diluar diri Jungkook aku sama sekali tak tahu kecuali kita yang sama-sama suka buah pisang. Biarkan aku sebutkan salah satunya. Dulu sekali, saat kami pertama kali masuk sekolah dasar, si Jungkook itu dengan seenaknya menyuruhku jangan mengaku-ngaku sebagai saudara kembarnya.
“Rannie, jangan panggil aku oppa jika di sekolah. Mengerti?” aku kecil yang tak tahu apa-apa pun menurut. Tapi setelah tahu maksud Jungkook adalah mendiamkanku di sekolah setengah hari penuh dan tak menganggapku ada, aku langsung menangis meraung saat tiba di rumah. Butuh waktu beberapa jam sampai ibuku dapat menenangkanku. Dan Jungkook? Jangan tanyakan pria menyebalkan itu. Si Jungkook yang sialnya adalah kakak kembarku itu malah bermain dengan anak tetangga komplek tanpa memperdulikan adik kembar cantiknya ini. Itu kisah lama yang belum berakhir sampai sekarang aku dan dia memasuki perguruan tinggi karena Jungkook tak mau orang-orang tahu kalau kami adalah saudara kembar. Hanya segelintir orang yang mengetahui hubungan kami sebenarnya. Ibu dan ayahku bahkan tak mempermasalahkannya. Dan sepertinya hanya aku yang tak menyetujui ide gilanya tapi tak urung malah mentaatinya. Sayangnya, aku tak tahu apa alasannya menyuruhku melakukan hal itu dan hari ini rasanya aku harus menghentikan kelakuan konyolnya.
“Kookie oppa” panggilku. Jungkook mendelik kesal sekaligus kaget. Oh, iya. Aku lupa bahwa salah satu peraturan pertama yang di buat Jungkook adalah dilarang memanggil ‘oppa’ apalagi ‘kookie oppa’ saat di area kampus atau didepan anak-anak kampus kecuali 6 teman-temannya yang tak kalah konyol –karena mereka-mereka sudah tahu hubungan kami–
“Yak, Jimin-ah kenapa dia ada disini?” bisiknya lalu kembali membaca buku di tangannya. Jimin –si salah satu 6 teman konyolnya– langsung tersenyum bodoh. Untuk informasi, kita tengah berada di perpustakaan, satu-satunya tempat yang disinggahi Jungkook selain kantin.
“Aku tidak tahu, Jungkookie” Jimin menjawabnya.
“Suruh dia menjauh dariku” kalian pikir aku akan sakit hati dengan ucapannya? Ini kalimat yang sudah beribu-ribu kali kudengar jadi aku ti –sakit hati sih. Aku sebenarnya kesal setengah mati. Tapi mau bagaimana lagi? Ini sikap Jungkook padaku jika kami sudah di luar rumah. Berbeda sekali jika kami sudah menginjakkan kaki ke istana kami. Dia tak akan membiarkanku satu jengkal pun jauh darinya.
“Oppaaaaa ~~~~” aku merengek. Biasanya Jungkook akan luluh. Tapi aku tak yakin jika aku merengek di tempat ini. Ia dengan tak rela akhirnya menutup buku yang tak kuketahui judulnya kemudian fokus menatapku.
“Wae?” tanyanya masih cuek dan untuk beberapa saat mengabaikan kehadiran Jimin.
“Kookie oppa~~~” ia mendesis, memperingati aku untuk tak memanggilnya seperti itu. Tapi apa peduliku. Ini kan salah satu strategi agar yang lain tahu kalau aku saudara kembar Jungkook. Beberapa orang terang-terangan menoleh kearah meja kami. Sebagian merasa terganggu dan lebih banyak karena penasaran. Iya sih, ini bukan tempat yang pas untuk mengobrol, tapi kakakku ini suka berada disini. Begini-begini, Jungkook dan 6 teman konyolnya yang lain termasuk jajaran mahasiswa hits disini. Jadi, biasanya para fans mereka selalu ingin tahu apapun yang menyangkut kakakku dan temannya yang lain.
“Wae? Kenapa tak boleh? Kau kan ka –Hmppppfttt” mulutku di bekapnya. Ah, aku baru saja berkata ‘ka’ dan dia langsung membekapku. Aku lupa lagi, kalimat ‘kakak kembar’ itu kalimat keramat yang tak boleh diucapkan. Tapi aku kan memang sengaja. Aku ingin semua orang tahu kalau aku ini adik kembar kesayangannya. Sekali-kali aku ingin menumpang ketenarannya.
“Kau cari ribut ya dengan oppa?” bisiknya ditelingaku.
“Jimin-ah, bawa dia menjauh dariku” Jimin keliatan bingung. Antara menuruti ucapan Jungkook atau mengabaikannya karena saat ini aku telah menatapnya penuh intimidasi dan tentu saja, dia pasti memilih menuruti ucapan soulmatenya. Ah menyebalkan. Jika tadi aku yang dibekap Jungkook, kali ini si Jimin yang membekapku dan menyeretku keluar perpustakan. Meninggalkan kakak kembarku itu yang kembali fokus dengan bukunya tanpa perduli pandangan gadis-gadis di sekitarnya. Ck.
***
“Sudah!!!! Lepaskan aku oppa” teriakku nyaring. Jimin akhirnya melepaskan lenganku. Lagian kami sudah berada di kantin yang artinya aku tak akan kabur lagi ke perpustakaan karena aku malas kesana. Jauh. Dan benarkan? 6 teman konyol Jungkook pasti ada di kantin karena salah satu dari mereka yang menarikku kesini. Kami duduk melingkar, dengan aku yang kini memasang muka yang kata Nam Joon tak enak diliat.
“Wae? Kenapa kau memasang tampang tak enak diliat, heoh?” See? Kim Nam Joon –termasuk kedalam 6 teman konyol Jungkook– menanyakannya. Aku memalingkan wajah, yang berarti saatnya Jimin untuk mengambil alih.
“Jungkookie” Jimin pintar. Satu nama yang mereka mengerti maksudnya.
“Kali ini apa lagi ulah si kecil ini, hah?” kali ini Tae hyung yang disampingku bertanya. Tangan yang selalu tak bisa diam itu ia gunakan untuk mengacak rambutku gemas. Aku tak menolaknya, si Taehyung memang suka sekali mengcak rambutku dan memanggilku si kecil –ini juga berlaku pada 5 teman konyol Jungkook dan Jungkook sendiri.
“Seperti biasa, si kecil ini merengek di perpustakaan dan berusaha untuk memberi tahu yang sebenarnya pada semua orang” Jimin menyahuti sambil menyambar jus mangga milik Seok Jin. Iuh, dia pasti tak mau keluar uang makanya minum minuman milik Seok Jin oppa.
“Tapi aku kan hanya ingin diakui oleh kakak-ku sendiri” sungutku pasti terdengar manja oleh mereka. Jika umumnya seorang anak yang ingin diakui ibunya maka beda kasus denganku yang ingin diakui kakak kembarku sendiri.
“Rannie-ya, kau kan tahu Jungkook seperti apa” Yoongi menyahut setelah melepas earphone di telinganya. Oh, jadi diam-diam Yoongi mendengar cerita kami. Ku kira hanya mendengar musik saja.
“Aku tidak tahu sekalipun dia saudara kembarku. Kookie oppa sepertinya tak menyayangiku” jawabku kesal. Kapan sih seorang Jeon Tae Ran mengerti isi otak Jeon Jungkook.
“Ya kau tinggal cari tahu saja” Heo Seok menimpali ucapanku dengan cengiran lebarnya. Oh, jika ucapannya semudah itu.
“Aku sudah mencari tahu tapi tidak membuahkan hasil. Kookie oppa tak mengatakan apapun saat aku menanyakan alasan ia menyembunyikanku sebagai adik kembarnya. Kita kan tidak berada dalam film action yang mengharuskan dia menyembunyikanku karena takut aku di sakiti musuhnya” itu sungguh perumpamaan yang buruk. Heo Seok, Jimin, dan Taehyung yang sering kusebut trio kwek-kwek itu malah sudah tertawa terpingkal mendengar ucapanku.
“Bukan disakiti musuhnya Rannie, tapi di sakiti para pria yang mendekatimu”
“Hah?” aku kali ini tak mengerti ucapan Seok Jin. Beneran deh, aku tak mengerti. Lelaki yang paling diam jika disandingkan dengan Min Yoongi, Kim Namjoon, Jung Heo Seok, Park Jimin, Kim Tae Hyung, dan Jeon Jungkook ini suka sekali mengucapkan hal yang tak dimengerti olehku.
“Eoh, Seok Jin hyung. Kau berencana mengatakannya pada si kecil?” aku mengangguk semangat. Semoga saja Seok Jin membeberkan alasannya seperti ucapan Nam Joon.
“Kalian saja yang mengatakannya. Aku tak mau mulut manisku ini ternodai karena harus menceritakan alasan cheesy Jungkook” Seok Jin menolak mentah mentah. Aih, memang kenapa dengan alasan Jungkook? Begitu-begitu juga kakak kembarku tampan.
“Jadi?” aku menatap mereka satu persatu. Menunggu siapa diantara mereka yang mau menceritakannya padaku.
“Baiklah, aku kalah. Aku yang akan menceritakannya” Heo Seok berseru, terlihat sekali terpaksa setelah semua mata terarah padanya.
“Jadi, kenapa Jungkookie menyembunyikan bahwa kalian saudara kembar adalah agar dia bisa mengaku-ngaku jadi pacarmu kalau ada lelaki yang berani mendekatimu”
“Apa? Alasan konyol macam apa itu?” aku terpekik. Konyol sekali. Mana mungkin?
“Eish, makanya jangan terlalu sibuk dengan duniamu sendiri, Rannie. Kau tak mendengar kalau seisi kampus ini sering bergosip tentangmu dan Jungkook? Sudah jadi rahasia umum kalau kau itu kekasih Jeon Jungkook” Ini lebih gila lagi. Kok aku baru tahu ya?
“Konyol sekali orang yang menyebarkan gosip murahan seperti itu”
“Iya, sayangnya orang konyol itu kakakmu, Rannie. Jungkookie sendiri yang bilang kalau kau itu kekasihnya pada laki-laki yang mulai mendekatimu. Dan BOOM, gosip itu tersebar. Makanya sampai sekarang tak ada laki-laki yang berani mendekatimu atau mereka akan berurusan dengan Jeon Jungkook” Apa iya? Apa aku harus percaya ucapan Heo Soeok? Tapi memang iya sih. Entah itu hanya perasaanku saja atau memang setiap pria yang bersamaku terlihat takut. Kukira mukaku yang terlihat menakutkan.
“Tapi, Benarkah? Kalau memang iya, pasti sampai sekarang hidupku tak tenang karena fans kookie oppa pasti sudah berencana untuk membunuhku” yang lain terlihat gemas memandangku sebelum Yoongi menjawab pertanyaanku selanjutnya.
“Rannie-ya, kau pikir Jungkook melakukan hal ini tanpa berpikir panjang? Dia pasti sudah punya rencana matang yang sayangnya menyusahkan kita karena selama beberapa tahun ini dia menyuruh kami berpatroli di sekelilingmu tanpa kau ketahui” sudah sepatutnya mereka kesal sih. Mana ada yang mau di repotkan seperti itu. Tapi tak ada yang tak mungkin bagi Jungkook. Dia pasti punya beribu cara agar mereka menuruti ucapannya.
“Tapi kenapa dia punya rencana konyol seperti itu? Kenapa dia melakukan hal ini?” ada banyak pertanyaan kenapa yang tak bisa kujawab sendiri. Semoga saja para laki-laki disini menjawabnya.
“Kenapa? Karena dia punya pikiran yang mustahil orang normal pikirkan dan karena dia terlampau menyayangimu sebagai adik kembarnya. Percayalah, Jungkook hanya tak mau kau berada di tempat yang salah dan akhirnya kau tersakiti. Dia hanya terlalu menyayangimu, Rannie” jika bukan dalam keadaan seperti ini mungkin aku akan bertepuk tangan karena jarang sekali Taehyung berbicara seperti ini. Tak menunggu lebih lama lagi untuk aku bangkit dan berlari.
“Hey, mau kemana?”
“Aku mau bertemu dengan kekasihku” jawabku berteriak menjawab Jimin. Aku bisa mendengar mereka terkekeh dan siapa peduli. Saat ini aku hanya ingin bertemu kakak kembarku. Atau kusebut saja dia ‘kekasihku’?
Kulihat Jungkook masih membaca buku di tempat yang sama. Dimana lagi kalau bukan di perpustakaan yang sempat kudatangi sebelumnya. Diam-diam aku berjalan di belakangnya.
“Kookie oppa~~~” tubuhnya kaku. Aku yakin sekali jika Jungkook pasti kaget sekali melihatku yang ternyata memeluk dirinya dari belakang sementara sebelumnya ia telah mengusirku.
“Haish, sudah kusuruh si pendek itu membawamu pergi dan kenapa dia malah membiarkanmu kesini lagi?” Sungutnya kesal. Dari samping sini, Jungkook terlihat lucu saat kesal. Aku turut perihatin, mungkin Jimin oppa akan dapat amukaan Jungkook. Kata mereka sih, kakakku ini sangat menyebalkan kalau sudah marah.
“Jimin oppa sudah membawaku pergi kok” jawabku masih memeluknya dari belakang.
“Lalu kenapa kau disini? Kan sudah kubilang anggaplah kita orang yang tak saling kenal saat di kampus. Ini lepaskan. Jangan memelukku sembarangan” tak ku indahi ucapannya, yang ada aku semakin mengeratkan pelukanku saat Jungkook berusah melepaskan lenganku yang berada di lehernya.
“Kalau aku orang lain bagi kookie oppa, kenapa oppa malah mengatakan aku kekasih oppa?” aku yakin sekali kalau Jungkook kaget setengah mati tak menyangka aku mengetahui hal ini. Tuh kan, dia terdiam.
“Darimana kau –“
“Saranghae, kekasihku” ku kecup pipinya dan segera berlari keluar perpustakaan. Aku masih bisa melihatnya terdiam dan tersenyum setelahnya. Mungkin gosip tentang aku yang kekasih Jeon Jungkook itu akan semakin menjadi-jadi. Yah, apa peduliku.
Aku, Jeon Tae Ran memang sama sekali tak mengerti bahkan tak punya ikatan batin yang kuat dengan kakak kembarku, Jeon Jungkook. Tapi sekarang aku tahu satu hal selain kita sama-sama suka sekali buah pisang. Aku tahu jika Jungkook terlampau menyayangiku.
-END-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s