[DRABBLE] Wait For Me, Okay?

14515826_1656326064677606_1278792590732296192_n

Hunn24 present || drabble || romance, fluff || Kim Minggyu (Seventeen), Jeong Eunha (GFriend) || enjoy it^^

Aku sudah kenal Kim Mingyu sejak dari dalam perut, itu berarti sudah dua puluh tahun lamanya kita bareng-bareng. Seluk beluk seorang Kim Mingyu itu sudah ku taklukan. Sampai kebiasaan dia tidur di kamar mandi pun aku tahu. Bayangkan saja, dua puluh tahun lamanya aku dan dia saling kenal, kita sudah seperti adik-kakak. Ya, walau pun orangnya agak rada-rada, but he treat me like a princess everytime I need.

Dan jujur, ini kah yang namanya jatuh cinta?

Atau hanya sekedar terbawa perasaan saja?

Karena jujur saja, sejak awal tidak pernah ada niatan untuk jatuh cinta pada makhluk abstrak satu itu. Sama sekali tidak ada terlintas di benakku walau hanya pikiran.

Tapi akhir-akhir ini baru ku sadari, semenjak aku tahu kakak kelas yang ku taksir ternyata sudah punya kekasih, Kim Mingyu jadi lebih perhatian padaku. Dan aku jadi semakin terbawa perasaan. Setiap kali aku melihat Kim Mingyu, ujung bibirku secara spontan melengkung, membentuk senyuman.

Dan makin hari, perasaan ini makin tak bisa ku tahan.

Jadi, sekarang aku sedang menunggu di taman sekolah.

Aku meminta Mingyu untuk menemuiku di sini dengan alasan ada yang ingin ku katakan padanya.

Ya, aku akan mengaku padanya tentang perasaanku.

Di terima atau tidak, itu urusan belakangan.

“Woi!” aku menoleh begitu pundakku di sentuh, “udah lama nunggunya?” Mingyu tersenyum dan memberikan sebotol air mineral kepadaku.

Lihat, bagaimana aku tidak terbawa perasaan dan jatuh cinta? Dia tersenyum kepadaku dan memberiku botol mineral. Kalau di ingat-ingat, aku hanya perempuan normal yang biasa, jadi wajar saja jika terbawa perasaan, bukan?

Aku menggeleng, “gak, kok. Nyantai aja.”

“Kamu mau ngomong apa memangnya?” dia memperhatikan sekeliling taman, “penting banget sampai harus di sini?” tambahnya lalu menoleh padaku dengan alis bersatu.

“A-anu, itu,” sial, kenapa aku jadi gugup begini?

Mingyu berdehem, “anu apa, Eun? Beri tahu saja.”

Baiklah, aku akan mengatakannya sekarang.

Di terima atau tidak itu urusan belakangan bukan?

“Gyu, aku suka sama kamu!”

***

“Eunha, gak datangin Mingyu? Minggu depan dia pergi ke Jepang tahu. Katanya, sih, mau ngelanjutin kuliah di sana.”

Kalimat itu seperti radio rusak di kepalaku, terus menerus memutar bagian yang sama persis seperti yang ku dengar sepuluh menit lalu saat ibu Mingyu bertandang ke rumah dan memberitahu berita tentang Mingyu ingin melanjutkan kuliah di Jepang.

Kim Mingyu brengsek.

Hanya itu yang ada di kepalaku saat ini tentang Mingyu.

Setelah menggantung perasaanku begitu saja selama seminggu, tiba-tiba ia ingin pergi menjauh, begitu?

Di hari aku mengatakan bahwa aku menyukainya, Mingyu mengatakan padaku agar menunggu.

Menunggu apanya?

Ia ingin aku menunggu sampai kulitku berkeriput dan uban memenuhi kepalaku?

Oh tidak.

Memang benar kuliah hanya beberapa tahun saja, tapi bisa saja ia bertemu seorang wanita di sana, bukan?

“Kim Mingyu!”

“Ketuk dulu pintunya sebelum masuk. Bahaya kan kalau misalnya aku belum makai baju.”

Aku hanya berdecak kesal saat mendengar nada peringatan bercampur waspada dari pria di hadapanku. Otakku sudah tak bisa berpikir lagi. Toh, aku dan dia juga sudah pernah mandi bersama-sama sewaktu kecil.

Aku mendekati dia dengan langkah cepat, “kamu mau pergi gitu aja?”

Mingyu menatapku sekilas, lalu kembali fokus pada PSP di hadapannya.

“Kamu sudah dengar ternyata.”

Aku tertawa canggung, tak bisa menerima kenyataan, “jadi benar? Kamu mau ke Jepang?”

“Dari dulu sudah ku bilang bukan,” Mingyu berkata tanpa menoleh ke arahku, “salah satu impianku itu adalah kuliah di Jepang.”

“YA, TAPI BUKAN BEGINI JUGA, KIM MINGYU!”

Dan bentakanku berhasil membuat Mingyu menghentikan aktifitas bermain PSP-nya. Kedua bola mata kami bertemu. Ah, cowok sialan ini menatapku saat mataku mulai berkaca-kaca.

Aku menghela nafas, “se-enggaknya kasih aku kepastian, Gyu,”

“Eun-“

“Jangan pura-pura gak tahu dan pergi begitu aja. Itu pengecut namanya.”

****

Semenjak kejadian itu, aku dan Mingyu sama sekali tak ada hubungan lagi. Aku yang malas bertemu, dan Mingyu yang semakin sibuk dengan kepindahannya ke Jepang. Ah, lihat, memikirkannya saja sudah membuat dadaku sesak.

“Eunha sayang, gak mau ngantar Mingyu ke bandara?” Mama masuk kamar, menunjukkan kepalanya dari balik pintu, “dia lagi siap-siap, tuh, sebentar lagi berangkat,” ah si Mama, mengintip tetangga depan lagi.

Aku menggeleng, memeluk erat gulinganku, “gak, Ma. Biarin aja dia.”

Bodo amat lah.

Mau si Mingyu berangkat atau mati, aku juga tak peduli.

Toh, ia juga tidak peduli pada perasaanku, bukan?

Mengabaikan perasaan seseorang dan pergi begitu saja, memang bukan kriminal, tapi menurutku Kim Mingyu pantas untuk di penjara seumur hidup.

Tepat beberapa menit kemudian, yang di pikirkan mengirim pesan. Hamdalah, panjang umur.

Pesawatnya berangkat jam 13.20.

-Mingyu

Terus apa?

Dia ingin aku mengantarnya begitu?

Setelah dia menggantungkan perasaanku begitu saja?

Sebenarnya kata apa yang pantas untuk menggambarkan makhluk seperti dia?

Egois? Dia lebih dari itu.

Bodoh? Percayalah, kata ini masih terlalu manis.

Ku lirik jam di atas nakas. Masih jam 12.35.

Ya, 12.35

12.40

12.55

Sial, dua puluh lima menit lagi.

***

Dan di sini aku.

Mengkhianati perkataanku sendiri.

Akhirnya aku datang juga untuk mengantar Mingyu.

Ku lirik jam tanganku. 13.10, itu artinya masih tersisa 10 menit lagi.

Aku memperhatikan seluruh penjuru bandara. Air mataku sudah akan turun jika saja aku tak ingat tempat. Hingga sebuah tangan menyentuh bahuku. Aku menoleh.

“Eun-“

“MINGYU!”

Saat sosok tinggi itu berada di hadapanku, langsung saja aku melompat dan memeluknya erat. Ia terlihat kesal.

“Kebiasaan mencelamu itu harus di hilangkan, tahu tidak?”

“Bodo banget,” ujarku, masih memeluknya erat.

Mingyu mengelus pelan rambutku, “aku pikir kamu gak mau ikut ngantar,” ia tertawa pelan.

Kami terdiam setelahnya. Menjadi tontonan karena aku yang tak mau melepas pelukanku.

“Jangan pergi, Gyu.”

“Eh?”

Ia terlihat terkejut. Aku melepas pelukanku, menatapnya nanar.

Ia tertawa begitu melihat wajahku, “ya ampun, Eunha, kok sampai nangis gini?” ah, rupanya air mataku sudah jatuh tanpa ku pinta dan ku sadari.

Aku mengusap air mataku di pipi, “Gyu, tolong jangan pergi,” pintaku lagi.

“Apa?”

Aku menghela nafas.

“Gapapa kamu musuhin aku, cuekin aku, gak ngomong sama aku,” aku berujar, “tapi asal kamu jangan pergi,” tambahku lagi.

“Kenapa gitu?” Mingyu bertanya.

Aku menatapnya penuh harap, “karena ngeliat kamu aja itu sudah cukup buat aku,” aku melanjutkan lagi, “aku gak butuh hubungan yang lebih selama aku masih bisa lihat kamu setiap hari.”

“Bodoh,” Mingyu tertawa, “gak butuh hubungan lebih? Terus kemarin apa yang minta kepastian?”

Sial, cara dia menggoda itu sangat berbahaya bagi keselamatan jantung.

Aku gelagapan, “aku ini cewek, Gyu!” sentakku. “Gak ada cewek yang suka di gantungin. Kalau gak suka, ya bilang aja gak suka.”

“Lagi pula, seharusnya cewek tidak mencuri start duluan sebelum cowok,” cicitku di akhir.

“Ya memang. Harusnya cowok yang mulai duluan,” Mingyu berucap, “kamunya aja yang gak sabar nunggu aku.”

Aku mendongak, mataku membulat, “eh?”

Detik berikutnya, Mingyu sudah berlutut di hadapanku. Dan, oh, kapan dia mengeluarkan kotak kecil itu?

Mingyu membuka kotak tersebut, terlihat sebuah cincin putih yang sangat cantik. Dan aku bersumpah, wajahku sekarang pasti hancur karena lelehan air mataku. Ugh, dasar cengeng.

Mingyu menatapku penuh keyakinan, “Jeong Eunha, aku tahu aku ini cowok brengsek,” akhirnya dia sadar, “aku nyuekin kamu itu karena merasa bersalah.”

“Gyu, apa mak-“

Mingyu mencela, “aku sudah suka kamu sejak lama,” dan aku bersumpah, lututku sekarang lemas seperti jeli, “dan aku sadar, kalau aku masih anak mami. Apa-apa masih minta sama Mama Papa.”

Ia menatapku lebih dalam lagi, “kalau aku belum bisa dapat uang sendiri, gimana aku kasih kamu sama anak-anak makan nanti?”

Anak-anak?

Anak-anak apa?

Dia ini mabuk?

“Maksud kamu apa, Gyu?” aku bertanya pelan.

Dia memakaikan cincin tadi di jemariku, “kalau kita nanti sudah nikah, aku gak mungkin bisa nafkahin keluarga kita kalau aku gak kerja.”

“Jadi, aku minta sama kamu, tolong tunggu aku,” tambahnya.

“Mingyu?”

“Tunggu aku selesai kuliah di Jepang dan dapat pekerjaan tetap. Kalau aku sudah mapan, aku janji bakal kembali ke sini buat nikahin kamu.”

Dan selanjutnya, aku menariknya berdiri dan langsung memeluknya erat. Mingyu merengku tubuhku, membuat tubuhku hangat di dalam rengkuhannya.

“Aku gak nyangka kamu bakalan se-romantis ini,” aku tertawa pelan.

Mingyu ikut tertawa, lalu dia kembali mengelus rambutku.

“Jadi, kamu mau kan nunggu aku?”

“Sampai kepalaku penuh uban pun aku mau asal itu dirimu, Kim Mingyu.”

Mingyu merengkuhku semakin erat.

“Aku sayang kamu.”

“Aku juga.”

.

.

.

.

.

.

“Gyu?”

“Ya, babygirl?”

“Pesawat kamu sudah mau lepas landas, bukan?”

“Aish, sialan!”

Kkeut!

 

Aku tau ini aneh, gaje, dan gak normal. Tapi setidaknya reviewnya ya please^^

Manusia abnormal

-Hunn24

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

One response to “[DRABBLE] Wait For Me, Okay?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s