SUICIDE FORUM [Part 4 : The Beginning (1)]

Suicide Forum fix

 

Title :

Suicide Forum

 

Author :

Citra Pertiwi Putri / Citrapertiwtiw­­­­­

 

Genre :

Romance, Mystery, Suspense, Horror-Thriller

 

Main Casts :

INFINITE’s L / Kim Myungsoo

A Pink’s Son Naeun

INFINITE’s Nam Woohyun

A Pink’s Park Chorong

 

Casts :

Girl’s Day Yura / Kim Ahyoung

VIXX’s Ken / Lee Jaehwan

VIXX’s N / Cha Hakyeon

INFINITE’s Lee Howon/Hoya

INFINITE’s Lee Sungyeol

INFINITE’s Lee Sungjong

A Pink’s Jung Eunji

SNSD’s Kim Taeyeon

 

Rating :

NC17+ (aware for so many mature contents)

 

Type :

Chaptered

Note : Hello! Maaf dengan update yang lama (seperti biasa haha). As usual, ini part yang panjang dan sudah kujanjikan penuh kejutan. Mohon maaf juga karena covernya diganti serta aku adakan karakter Woohyun dan Chorong disana, karena sepanjang penulisan ff ini author merasa peran mereka setara dengan karakter utama (Myungsoo & Naeun), daaan kalau diperhatiin, list cast ff ini juga jadi makin banyak, hahaha. Sepertinya sampe kapanpun aku susah bikin ff dengan cast yang sedikit, lebih enak pakai banyak cast biar makin ribet #plak!

(Btw aku excited juga masukin Taeyeon jadi mysterious cast disini, efek belum move on dengan karakternya di The Portal, haha)

Okay, selamat membaca! ^^ (Tips : mari peka dengan beberapa clue yang ada, you’ll find who’s DarkAngel easily!)

*oh ya, jangan kaget kalau ada beberapa adegan dewasa, ya. Ratingnya udah jelas NC17, hehehe. Bijak-bijak aja ngebacanya gimana *ngeles*

Ringkasan cerita sebelumnya :

Terkurung dalam apartemen dan tak berdaya tak membuat Kim Myungsoo menyerah untuk menggali masa lalunya. kepingan demi kepingan telah ia temukan meski tak satupun yang telah ia pahami secara utuh. Meski masih memiliki keinginan untuk mengakhiri hidupnya saja, Myungsoo merasa kurang jika ia harus meninggalkan dunia tanpa mengingat apa yang pernah terjadi di masa lalunya.

Ambisi besar Chorong untuk menyembuhkannya membuatnya memiliki kesempatan untuk bertemu Naeun, sebab Chorong merujuknya untuk melakukan konsultasi pada dokter jiwa terkait keadaan psikologisnya pasca kecelakaan. Hal itu dilakukan Chorong diam-diam tanpa sepengetahuan Woohyun dan beresiko tinggi, karena Chorong memalsukan profesi Myungsoo dalam kartu pasien VVIPnya : seorang administrator website bunuh diri killyourself.com—yang sesungguhnya adalah pekerjaan rahasianya dengan Hakyeon.

Sayang, pertemuan Myungsoo dengan sang dokter jiwa yang sedang terkenal –sekaligus kekasihnya yang terlupakan- itu harus batal karena Jaehwan secara tak sengaja menghalaunya. Alasannya? Jaehwan semakin menggila setelah tahu bahwa akun DarkAngel yang membuatnya murka kini justru memasuki forumnya dalam situs killyourself.com, akun misterius yang dipercaya milik mendiang Kim Yura itu seolah menakut-nakuti sekaligus mengejeknya. Hal itu membuat Jaehwan semakin yakin bahwa kematian Yura jelas bukanlah kasus bunuh diri, melainkan pembunuhan yang entah dilakukan oleh siapa namun jelas memiliki keterkaitan erat dengan keberadaan akun DarkAngel. Karenanya, Hakyeon semakin terdesak untuk segera mencari tahu jawabannya karena ia sudah terlanjur berjanji pada Jaehwan.

Dan seandainya Jaehwan tahu, Myungsoo pun ikut dibuat hampir gila oleh DarkAngel. Teror akun itu juga masih berlanjut pada Myungsoo, bahkan dengan lebih mengerikan.

Di sisi lain, Woohyun mulai menyadari bahwa kematian Kim Yura tak bisa menjadi sekedar angin lewat dalam jejak kehidupannya. Berulang kali bermimpi dan merasa Yura ada di dekatnya membuat lelaki itu ketakutan. Ia bahkan masih tak mengerti mengapa mantan kekasihnya itu muncul di penitipan anak tempat Chorong setiap harinya menitipkan putra mereka, Chohyun. Halusinasi atau tidak, yang jelas Woohyun sungguh terganggu dan rasa bersalahnya atas kematian Yura semakin membesar. Namun meski demikian, ambisinya untuk meraih tahta tertinggi dalam The King dan penguasaan Medical Center masih belum padam.

Sedangkan Naeun, disaat Jaehwan masih membencinya setengah mati, disaat kehidupan pernikahannya dengan Woohyun bahkan terasa tidak seperti sebuah pernikahan, ia terlihat menjalani hidupnya dengan datar dan tak peduli dengan popularitasnya yang menanjak pasca menjadi dokter jiwa pribadi Ken alias Jaehwan. Ketergantungan parahnya dengan alkohol saja yang menjadi pertanda jelas bahwa ia masih sangat hancur akibat kepergian Myungsoo.

Namun mengapa gadis itu bahkan tak mengeluarkan airmatanya saat ia mendengar kabar bahwa Myungsoo meninggal lima bulan yang lalu?

Dan mengapa ia justru tertawa saat membaca tulisan Myungsoo yang kini menjadi pasiennya?

 

Part ini akan menuntun kalian pada jawabannya. Selamat membaca.

***

SUICIDE FORUM : http://www.killyourself.com | Part 4 : The Beginning (Permulaan)

 

Author’s POV

 

Medical Center—Naeun’s VVIP consultation room, 09.15

 

“ Lama sekali. Apa yang kau lakukan?”

“ YA!!”

Naeun terlonjak, terkejut karena entah sejak kapan Woohyun berdiri di belakangnya, ia segera menyembunyikan kertas yang masih ada dalam dekapannya dengan terburu-buru dan berharap suaminya itu belum sempat melihat isinya. Kalaupun Woohyun terlanjur melihatnya, ia harap lelaki itu tak membaca nama Myungsoo atau mengenali tulisannya.

“ Haha, kenapa terkejut sekali? Kau kira aku hantu?”Woohyun meledeknya.

“ Bukan hantu, kau iblis.”balas Naeun ketus, ia kembali membuang mukanya dan menghapus airmata yang masih sedikit membekas di pipi halusnya.

“ Woah, kau bermulut kejam lagi. Padahal aku sudah buang-buang waktu untuk menjemputmu.”

“Aku tidak minta. Aku bisa naik taksi, tadi juga aku kesini dengan itu.”

“ Mana mungkin aku membiarkanmu setelah tahu apa yang terjadi padamu hari ini?”

Naeun menunduk, sedikit dongkol mengingat kekasaran yang Jaehwan lakukan padanya tadi siang. Artis itu kembali ‘kumat’ karena menemukan akun DarkAngel memasuki forum artisnya di situs bunuh diri dan seolah-olah menantangnya. Ia menarik paksa Naeun untuk minta maaf di depan abu jenazah Kim Yura karena telah mempercayai bahwa kematian saudara kembar Myungsoo itu merupakan bunuh diri. Naeun terpaksa menurut saja daripada Jaehwan semakin murka, ia bisa lihat keyakinan Jaehwan bahwa Yura mati dibunuh semakin kuat.

Dan untuk alasan tertentu, tentu saja Naeun merasa terancam karena hal itu.

“ Artis bajingan itu. jika saja dia tidak datang, mungkin mimpiku sudah menjadi kenyataan.”gumamnya, membuat Woohyun sedikit heran.

“ Mimpi apa yang kau bicarakan?”

“ Tidak ada.”Naeun mengangkat kepalanya dan merapatkan jas putihnya, semakin melindungi ‘surat konsultasi’ dari Myungsoo yang ia sembunyikan dibaliknya.

“ Perempuan aneh. Kau baik-baik saja?”tanya Woohyun kemudian, membuat Naeun sedikit geli, lelaki di depannya ini masih saja bertingkah seperti seorang sunbae yang harus memastikan dirinya baik-baik saja.

“ Ya.”

“ Jaehwan tidak menyakitimu?”

“ Tentu saja dia menyakitiku. Tapi bukan masalah besar.”Naeun menggerak-gerakkan lengan kanannya yang sedikit nyeri karena Jaehwan sempat mencengkeramnya sekuat tenaga.

“ Dia sudah keterlaluan. Lakukan visum, kau bisa menuntutnya.”

“ Tidak perlu. Ini tidak seberapa sakitnya dengan dia yang kehilangan Yura karenamu.”

“ Kim Yura lagi~ aku menyerah.” Woohyun membuang nafas kesal dan keluar dari ruangan, menghindari pembicaraan.

“…apa yang kau lakukan disini? Ayo pulang.”ajak lelaki itu kemudian, “…aku penasaran kenapa kau harus kesini dulu dan tidak langsung ke rumah.”

Naeun tersenyum dan mendekap surat yang ada dalam jasnya, kemudian keluar dan mengikuti langkah Woohyun menuju gedung parkir.

“Ada sesuatu berharga yang harus kuambil disini.”

“ Apa? Ponselmu?”

“ Bukan.”

“ Pastikan ponselmu ada, jangan mengamuk lagi seperti kemarin.”

“ Sudah kubilang aku bukan kehilangan benda itu kemarin.”

“ Lalu apa? Wine? Jangan bodohi aku.” Woohyun masuk ke dalam mobil dan mulai menyalakan mesinnya.

“ Siapa suruh kau menyembunyikan alkohol seratus persennya.”balas Naeun sembari duduk di sampingnya.

Woohyun menghela nafas dengan kasar dan mulai menjalankan mobil mereka, keluar dari medical center.

“ Kau mau ke Jerman lagi? Doktermu disana harus tahu aku tidak sanggup melihat wanita mabuk setiap malam, dia harus memberimu intervensi yang lain.”

“ Kau bisa pergi kalau tidak mau melihatku mabuk. Mengapa repot-repot ingin membawaku ke Jerman lagi?”

“ Aku memperdulikan kondisimu, nona Son. Sekarang saja aku mau menjemputmu, padahal aku punya banyak pekerjaan.”

Naeun tertawa remeh.

“ Haha! Kenapa kau masih bersikap seperti ‘Woohyun sunbae’ku yang dulu? Kau tidak sadar kalau kau sendiri yang sudah mengubah keadaan? Kau pikir kita masih bisa berhubungan sebaik dulu?”

Woohyun sudah lama ingin mendengar pertanyaan ini dari Naeun.

“ Kau pesimis kita tidak bisa sebaik dulu?”

Gadis itu mengangkat bahunya, “ Entah, sampai sekarang aku masih tak mengerti mengapa masih memperlakukanku dengan baik. Aku hanya takut terlena dengan sikap manismu lalu tiba-tiba terbunuh karena tidak waspada.”

Woohyun mengangguk-angguk, ia terlihat tak terkejut mendengar pengakuan istrinya itu.

“ Pasti rasanya menggelikan melihatku masih bersikap seperti ini disaat kau sudah tahu siapa aku sebenarnya. Aku paham, Naeunnie. Jadi, apakah itu alasanmu mengabaikanku hingga sekarang?”

“ Ya. Aku merasa tidak punya alasan lagi untuk terlalu berbaik hati padamu.”

“ Kau tidak ingat apa yang aku ucapkan di hari kita menikah?”

“ Janjimu untuk tidak menyakitiku meski kau punya niat jahat?”

“ Niat jahat? Bisakah kau perhalus lagi? Itu hanya cita-cita, dan aku merasa mampu menggapainya dengan kemampuan yang aku miliki.”Woohyun tertawa, “…aku masih tak mengerti mengapa keinginanku menguasai The King atau medical center keluargamu itu dianggap niat jahat.”

“ Tapi Kim—“

“ Kim Myungsoo? Aku bukan orang yang menyingkirkannya sebagai putra The King, dia sendiri yang membuat dirinya dimusuhi ayah dan ibunya.”

Rahang Naeun mengeras, ingin marah.

“ Tapi tetap saja dia—“

“ Oke, sebagai kekasih yang baik dan setia aku tahu kau pasti membelanya. Aku tidak mau tahu.”potong Woohyun sinis, ia memang semakin tak suka membahas Myungsoo karena hanya akan mengingatkannya akan tugas Chorong saat ini sebagai dokter pribadi musuh besarnya yang sudah tak berdaya itu. ia sedang memiliki masalah besar karena ia sangat yakin Chorong sedang mencoba menentangnya dan berniat menyembuhkan Myungsoo.

Naeun masih tak ingin kalah dalam perdebatan.

“ Jika menurutmu Myungsoo tersingkir bukan karena ulahmu, bagaimana dengan Kim Yura, sunbae?”

Yura lagi. Yura lagi. Seandainya bisa Woohyun ingin sekali membuang semua memori otaknya tentang gadis itu. ia muak sekaligus takut.

“ Aku juga bukan orang yang membuat Kim Yura mati.”jawabnya cepat. Meski tentu saja, dengan keraguan.

“ Kau yakin?”

Lelaki itu terdiam sekarang. Sebab memang, tak peduli sekeras apapun ia membohongi dirinya sendiri, kematian Kim Yura sesungguhnya masih sangat menghantuinya, ia termasuk orang yang percaya bahwa gadis itu mati bunuh diri karena pengkhianatan yang ia lakukan. Perasaan cemas yang konyol bahwa Kim Yura akan datang menghantuinya untuk balas dendam masih ia rasakan sampai sekarang. Hanya saja ia menyembunyikan perasaan itu karena tak ingin fokus untuk menggapai ambisinya terganggu karena hal tersebut.

“ Sebelum pulang, aku ingin mengambil Chohyun dulu di tempat penitipan. Hari ini aku harus menjemputnya duluan tanpa sepengetahuan Chorong, aku tidak sudi jika dia menitipkannya lagi di tempat itu besok. Aku akan cari tempat penitipan yang lebih dekat dan aman.”

Woohyun mengalihkan pembicaraan dan membawa mobil mereka menuju tempat penitipan anak dimana Chohyun dititipkan. Sepanjang jalan, lelaki itu masih bertanya-tanya mengapa rute menuju kesana bisa sama dengan rute yang ia lalui dalam mimpinya di siang bolong dua hari yang lalu? Rasanya masih terlalu aneh. Terlebih ia melihat sosok Yura baik di dalam mimpinya maupun saat pertama kali datang kesana. Apa ia benar-benar sedang dihantui? Woohyun masih membantah hal itu kuat-kuat dalam hatinya.

Naeun bersandar dengan santai dan ia kembali tertawa karena Woohyun lagi-lagi menghindari pembicaraan tentang Yura. Sejujurnya bukan hanya karena itu, dua lembar surat yang masih tersimpan di balik jasnya juga merubah suasana hatinya malam ini.

Tangan putihnya kemudian membuka dasbor mobil, meraih sebotol wine di dalam sana, membuka dan menenggaknya dengan nafsu. Woohyun pasrah saja karena memang ia yang sengaja meletakkan minuman keras itu dalam mobilnya, ia tahu Naeun pasti mencarinya sewaktu-waktu.

“ Jangan mabuk dulu. Aku ingin kau yang turun dan menjemput Chohyun.” ucap Woohyun kemudian karena mereka sudah mulai dekat dengan tempat tujuan.

“ Haha, mabuk apanya? Alkoholnya hanya enam puluh persen. Payah.”

“ Terserahlah, yang penting tolong aku untuk menjemput Chohyun.”

Naeun mengangguk-angguk dengan malas.

“ Ah.. aku penasaran, apakah Yura tahu kau juga sempat menghamili Chorong sunbae dan punya anak? Jika dia tahu, aku tidak heran kalau dia sampai bunuh diri. Pasti rasanya menyakitkan untuk terus hidup setelah tahu lelaki yang dia cintai ternyata sebajingan itu.”

Sialan. Seandainya saja yang bicara dengannya bukan seorang Son Naeun, mungkin Woohyun akan menendangnya keluar dari mobil sekarang juga.

“ Mau dia tahu atau tidak aku tak peduli. Lagipula dia sudah ma—“

TIIIIIIIIIIIN!!! CKIT!!!

“ HEI!” Naeun protes karena Woohyun tiba-tiba menekan klakson sekeras mungkin dan menghentikan mobil mereka secara mendadak di tengah jalan, wine yang ada dalam genggaman Naeun sedikit tumpah dan menodai roknya.

“…”

Woohyun masih membisu, ia menghentikan mobilnya sebab ada seorang gadis dengan satu kantong belanjaan yang tiba-tiba menyeberang jalan dan nyaris ia tabrak. Anehnya, meski sudah diklakson, gadis itu tetap saja berjalan lurus dengan tenang.

“ Tidak.. tidak mungkin..”

Woohyun segera membenamkan wajahnya ke setir mobil dengan gemetar dan ketakutan ketika melihat gadis itu melintasi kaca depan mobilnya.

Ia melihat wajah Kim Yura, lagi.

***

“ Kacau, ini benar-benar kacau!”

Hakyeon nampak frustasi dan mondar-mandir di dalam markas, sementara Chorong masih setia duduk di samping Yerin yang tengah sibuk dengan komputernya, yang bisa ia lakukan hanya menyemangati stafnya itu agar menemukan jalan keluar yang tengah mereka hadapi.

Kemarin, Hakyeon merasa sudah memiliki harapan karena para stafnya mampu melacak akun DarkAngel setelah akun misterius yang disebut-sebut milik Kim Yura itu melakukan pembelian akun VIP dan memasuki forum selebriti dimana Jaehwan berada, rasanya tinggal selangkah lagi mereka mengungkap siapa orang yang ada dibaliknya dengan cara mendeteksi lokasi pengguna. Namun hari ini, mereka kehilangan jejak ‘malaikat kegelapan’ itu.

Hanya memiliki 5 orang staf untuk satu situs yang menampung jutaan pengguna, jutaan aktivitas web, dan jutaan kali akses per harinya tentu sangat tidak mudah. Baik Yerin, Jiyeon, Jungyeon, Yoojoo, dan Sungjong, mereka memiliki tugas rutin masing-masing yang tak kalah sulitnya hingga kurang memungkinkan bagi mereka untuk terus mengawasi satu akun saja.  Sekarang, DarkAngel luput dari pengawasan mereka dan pencarian pun dilakukan kembali.

“ Maafkan kami, oppa. Kukira akan mudah saja, tapi sangat banyak pengguna yang menggunakan nama DarkAngel. Ini salah kita yang memperbolehkan orang-orang menggunakan username yang sama.”keluh Yerin, matanya sudah berkedip-kedip berulang kali karena lelah menatap layar komputer.

“ Aku juga minta maaf. Pertama, aku sama sekali tidak sempat menyentuh komputer hari ini karena mulai latihan untuk persiapan comeback. Kedua, akulah yang menetapkan agar orang-orang boleh memakai username sama, tujuanku hanya agar beberapa orang yang ingin bunuh diri secara sembunyi-sembunyi bisa terjaga anonimitasnya.”jawab Hakyeon, “…aku hanya.. menjadi frustasi saja karena Jaehwan semakin tak terkendali, padahal kita sudah mulai fokus untuk kembali ke atas panggung, tapi DarkAngel mengacaukan hati dan pikirannya lagi.”

“ Jaehwan benar-benar datang ke medical center dan ‘menculik’ Naeun?” tanya Chorong tak percaya, seharian ini ia banyak menghabiskan waktunya di ruang operasi dan tak mengetahui apapun, ia juga menyesal karena tidak melakukan follow-up terhadap pasien rumahan spesialnya –Kim Myungsoo—yang hari ini diantar oleh Sungyeol ke medical center untuk menemui dokter jiwa, yang tak lain dan tak bukan adalah Naeun.

“ Ya. Dan menurut staf keamanan yang mengikuti Jaehwan, dokter Son sampai harus meninggalkan pasien terakhirnya untuk mengikuti Jaehwan ke tempat penyimpanan abu jenazah Kim Yura.”

“ Apa?!”

Brengsek. Chorong benar-benar gemas mendengarnya, ia tahu Myungsoo adalah pasien terakhir karena ialah yang mendaftarkannya kemarin di unit kejiwaan. Ia sudah sangat menanti kabar pertemuan Naeun dengan Myungsoo, namun ternyata Jaehwan mengacaukan semua rencananya.

“ Kenapa? Kau terkejut sekali kelihatannya.”Hakyeon nampak sedikit curiga.

“ Ah? Tidak.. aku hanya.. tidak menyangka Jaehwan akan semarah itu.”

“ Makanya aku harus menemukan DarkAngel itu dengan segera.”

Chorong menutup mulutnya, moodnya langsung berubah buruk. Ia benar-benar sudah mengira Naeun akan bertemu Myungsoo hari ini. Karena kegagalan hari ini, terpaksa ia harus kembali bermain ‘petak umpet’ dengan Woohyun dan menjadwalkan kembali jadwal konsultasi Myungsoo. Kemarin saja ia sudah takut Woohyun mengetahui semua tindakannya.

“…sebanyak apa akun dengan nama DarkAngel? Sudah kalian pisahkan dengan yang VIP?”tanya Hakyeon sembari mendekati komputer Yerin, gadis itu mengangguk berulang kali.

“ Banyak sekali oppa. Dan kalau dilihat dari tanggal-tanggal pembuatannya, nama DarkAngel semakin banyak digunakan setelah kasus bunuh diri Kim Yura heboh. Jadi meski sudah kupisah dengan yang VIP, tetap saja banyak.”

“ Sialan, orang-orang sangat mudah menciptakan tren. Apa kau sudah mencoba mencarinya lewat grup selebriti Jaehwan?”

“ Sudah, oppa. Tapi nihil, pasti DarkAngel sudah meninggalkan grup itu juga, jelas sekali dia masuk grup itu hanya untuk menakut-nakuti Jaehwan.”

“ Aih.. aku bisa gila!”

Chorong menunduk, pasrah. Mata bulatnya kemudian memeriksa jam yang melingkar di pergelangan putihnya.

“ Kalau kau masih mau stress disini, aku pulang dengan taksi saja. Aku juga harus menjemput Chohyun dulu di penitipan.”gadis itu berdiri dan meraih tasnya, bersiap untuk pergi.

“ Kau mau pergi sekarang?’ Hakyeon kelihatan kecewa.

“ Ya. Aku perlu tidur, aku sangat lelah. Chohyun juga mungkin akan bingung jika aku tidak datang-datang juga menjemputnya.”

“ Mana mungkin aku membiarkanmu naik taksi.” Hakyeon ikut bergerak dan meraih kunci mobilnya.

“ Semangatlah. Aku yakin kalian bisa melakukannya.”Chorong menepuk bahu Yerin kemudian meletakkan beberapa kotak susu dari tasnya di atas meja untuk para staf, “…jaga juga kesehatan kalian, jangan lagi tidur di atas jam 12. Oke?”

Yerin dan yang lain mengangguk dan berterimakasih. Mereka merasa beruntung karena sang dokter lebih memperhatikan kondisi mereka ketimbang idola mereka sendiri –Hakyeon.

“ Ayo.”Hakyeon membuka pintu markas yang terkunci rapat.

Oppa, kau akan kembali, kan?”Sungjong sedikit berteriak karena masih fokus dengan pekerjaannya di depan komputer.

“ Ya. Aku akan tidur disini.”sahut Hakyeon.

“ Kalau begitu aku akan menunggumu pulang.”

“ Oke.”

Chorong menggelengkan kepalanya dan menertawakan Hakyeon sekeluarnya mereka dari markas.

“ Kalian benar-benar saling mencintai?”tanya gadis itu.

“ Siapa? Aku dan Sungjong? Kau pikir aku sudah sinting?”jawab Hakyeon sembari masuk ke dalam mobilnya.

“ Kalau begitu kenapa kau sampai berpacaran dengannya? Bertahun-tahun kita saling kenal, aku sangat yakin kau bukan gay. Atau kau yang pandai menyembunyikannya dariku?” Chorong duduk di sampingnya dan masih menertawakannya.

Hakyeon menghela nafas dengan berat.

“ Sungjong adalah orang pertama yang tahu bahwa kitalah yang ada di balik situs killyourself. Saat fansigning setahun lalu, dia datang dan mengatakan itu padaku. Kukira ia hanya fans gila yang sedang bercanda, tapi dia menghadiahiku print out data-data yang ia temukan sampai ia mampu meyakinkan aku bahwa dia berhasil melacak kita. Dia berkali-kali lipat lebih jenius dari aku dalam urusan cyber, jadi aku tidak bisa mengelaknya. So, aku membuat kesepakatan dengannya hingga kita bisa seperti sekarang. Sungjong justru memegang peran penting untuk situs kita, walaupun aku harus menuruti keinginannya untuk menjalin hubungan sesama jenis.”

Chorong terhenyak, ia merasa sangat prihatin.

“ Jika situs ini terus berjalan, maka kau akan terus menjalin hubungan dengannya?”

“ Tentu saja. Kau juga, perlakukanlah dia dengan baik. Dia aset kita sekarang, dan harus tetap seperti itu. aku sudah berkorban banyak untuk situs kita. Jadi jangan pernah membuatku kecewa.”

“ Kau bisa percayakan masalah situs padaku. Tapi tentang Woohyun.. aku sangat menyesal karena tidak bisa menurut padamu. Aku tahu ini membuatmu sangat kecewa, tapi—“

“ Sudahlah, sudah. Mendengar nama bajingan itu membuat moodku semakin kacau. Jika saja membunuh itu legal, sudah lama aku menghabisinya untuk Jaehwan.”

Chorong tersenyum getir, “ Aku juga berpikir begitu. Seharusnya dia mati saja sebelum membuatku jatuh cinta.”

“ Aku tidak melarangmu untuk jatuh cinta, Chorong-ah. Tapi kau perlu menikah, bukan? Aku bisa membayangkan betapa orang-orang di medical center mempertanyakan siapa laki-laki yang membuatmu melahirkan Chohyun. Kau pikir akan berapa lama lagi jika kau menunggu bajingan itu merebut kekuasaan The King dan medical center dulu?”

Oppa—“

“ Aku ingin kau menikah bukan tanpa alasan. Kau memang perlu seseorang yang melindungimu dan Chohyun. Bahkan jika kau jadi menikah dengan Woohyun, aku masih khawatir. Apa lelaki jahat seperti dia bisa menjagamu?”

“ Lalu kau ingin aku menikah dengan orang lain?”

“ Bukankah dokter Howon menyukaimu?”

“ Ah.. kenapa dia?”Chorong mencibir, namun teringat bahwa ia punya janji untuk makan malam dengan ketua timnya itu.

“ Haruskah aku tetap pergi meski Woohyun sudah memberiku peringatan?”

***

“ Aku yang turun?”

Naeun meletakkan winenya dan bersiap untuk turun setelah Woohyun menghentikan mobilnya tepat di depan rumah sederhana tempat dimana Chohyun dititipkan.

“ Ya. Tolonglah.”jawab Woohyun pelan tanpa menoleh, wajahnya masih pucat karena tak percaya dengan apa yang ia lihat beberapa saat lalu di perjalanan.

“ Tunggulah.”Naeun membuka pintu mobilnya, namun Woohyun meraih tangannya.

“ Sebentar.”

“ Apa lagi sekarang?”

“ Aku.. minta tolong lagi.”Woohyun mengeluarkan ponselnya dan menelpon ke ponsel Naeun, “…angkat.”

Naeun mengeluarkan ponselnya juga dan menuruti perkataan suaminya itu, “ Lalu apa?”

“ Biarkan tersambung seperti ini. Aku ingin mendengar pembicaraanmu dengan pemilik tempat penitipan ini.”

“ Ada sesuatu yang ingin kau ketahui?”

“ Ya. Tanyakan apakah ada orang lain yang mengasuh Chohyun selain si pemilik tempat itu.”

“ Ck, kenapa tidak turun sendiri, sih?”Naeun sedikit mendengus dan akhirnya turun dari mobil, Woohyun segera meletakkan ponsel di telinganya.

Suasana langsung terasa sangat sepi sesaat setelah Naeun keluar dari mobil, hanya suara mesin kendaraannya itu saja yang terdengar karena Woohyun memang tidak mematikannya.

Tempat yang aneh. Naeun tak mengerti mengapa perasaannya sedikit tak karuan menginjak lingkungan sepi ini. Kemarin pagi saja saat ia dan Woohyun menitipkan Chohyun di tempat ini, Woohyun tiba-tiba berubah aneh, ia pun merasakan hal yang hampir sama saat pertama kalinya bertemu dengan pengasuh Chohyun.

“ Kenapa ada tempat penitipan anak di lingkungan sepi seperti ini?” batin Naeun sembari berjalan pelan menuju pintu rumah sederhana tempat penitipan anak itu. Tangannya menekan bel.

Sembari menunggu dibukakan pintu, ia mengarahkan pandangannya pada lorong gelap yang berada tepat di samping rumah. Lebih tepatnya, pada bangunan agak tinggi yang berada di ujungnya.

“ Bangunan itu.. apa itu apartemen?”

“ Apa yang kau bicarakan?”

Naeun menyadari bahwa Woohyun mendengar gumamannya karena telepon mereka masih tersambung.

“ Tidak, aku hanya berpikir apakah bangunan di ujung lorong itu adalah apartemen.”jawab Naeun.

“ Ah..”

Woohyun ikut menatap bangunan di ujung lorong itu. Jika mimpi buruknya benar, maka itu adalah apartemen tempat Myungsoo diasingkan. Namun sekali lagi, ia masih merasa terlalu bodoh jika mau mempercayai mimpinya.

“…belum dibukakan pintu?”lelaki itu mengalihkan pembicaraan.

“ Belum.”Naeun menyahut singkat sembari sekali lagi menekan bel.

KLAK!

Sebuah kotak di bagian bawah pintu tiba-tiba terbuka dan muncullah Chohyun yang tengah berbaring di dalamnya bersama tas perlengkapan serta selembar kertas.

“ Apa-apaan ini?”Naeun tak mengerti dan segera mengambilnya, sembari menjaga Chohyun dalam lengannya, ia membaca apa yang tertulis dalam kertas tersebut.

“…total semuanya : 600.000 won. Letakkan saja di kotaknya, terimakasih.”

“ Hah? Chohyun hanya diserahkan lewat kotak sialan di bawah pintu?” Woohyun menyahut dengan nada jengkel di telepon.

“ Begitulah.”

“ Tidak bisa. Suruh keluar pengasuhnya!”

Dasar bajingan tukang perintah. Naeun memutar bola matanya dan menekan bel untuk kesekian kalinya.

“ Ada lagi yang kau butuhkan?”terdengar suara wanita dari dalam.

“ Bisakah Anda keluar sebentar? Saya ingin bicara.”sahut Naeun.

Pintu terbuka, muncullah seorang wanita muda berpakaian tidur dengan rambut hitam sebahu yang sedikit berantakan serta celak tebal di matanya. Dia pengasuhnya, yang Naeun temui kemarin pagi.

“ Ah.. kau lagi, dokter Son Naeun. aku merasa malu didatangi oleh dokter terkenal dalam keadaan seperti ini, hehe.”ucapnya kikuk.

“ Tidak apa-apa. Aku juga minta maaf karena mengganggu malam-malam.”

“ Ada lagi yang kau perlukan?”

“ Tidak ada. Hanya saja.. aku heran, mengapa kau tidak keluar dan hanya meletakkan Chohyun di kotak—“

“ Aah.. tapi bukankah biasanya seperti itu?”

“ Maaf?”

“ Biasanya memang seperti itu, nona. Chohyun datang dengan hanya diletakkan di kotak ini, begitu juga saat ia dijemput. Aku bahkan tidak pernah bertemu langsung dengan eomma-nya. Kalau tidak salah.. dokter Park Chorong namanya. Aku hanya menerima uangnya setiap hari.”

“ Oh ya?”

“ Makanya.. jujur aku sedikit heran mengapa sejak kemarin kau ikut mengantar dan sekarang menjemput Chohyun kesini? Kau juga datang dengan seorang pria, kan?”

“ Ah.. iya..” Naeun sedikit bingung menjawabnya, “…dia.. appanya Chohyun.”

“ Benarkah? Jadi dia suami dokter Park? Mengapa dia datang denganmu?”

“ Mereka… tidak menikah.”

“ Maksudnya?”

“ Oh ya, apa kau mengasuh Chohyun sendirian? Apa ada orang lain di rumah ini?” Naeun mengalihkan pembicaraan sekaligus menanyakan sesuatu yang sangat  ingin Woohyun ketahui.

“ Ya.. ada seorang gadis dewasa seumuranmu disini. Dia.. keponakanku.”

“ Oh.”

Sebagai seorang dokter jiwa, Naeun tentu sensitif dengan sesuatu bernama kebohongan. Gadis itu bisa merasakan bahwa wanita di depannya sedikit ragu saat menyebut kata ‘keponakan’. Cukup jelas dari intonasi bicara dan matanya yang sedikit mengalami penurunan fokus sepersekian detik.

“ Keponakanku itu.. dia yang menemani Chohyun sepanjang hari.”wanita itu menyambung kalimatnya, mungkin ia tahu bahwa Naeun meragukan ucapannya barusan.

“ Oh ya? Dimana dia sekarang? Kupikir aku harus mengucapkan terimakasih.”

“ Memangnya kalau boleh tahu.. apa hubunganmu dengan Chohyun? Aku sedikit tak menyangka bocah lucu ini kenal dengan seorang dokter terkenal.”

Ini obrolan ringan yang terasa seperti interogasi, Naeun mulai merasa tak nyaman.

“ Dulu, aku membantu persalinan dokter Park, jadi aku merasa akrab juga dengan Chohyun.”jawab Naeun sekenanya, “…jadi, dimana keponakanmu itu?”

“ Ah.. begitu ya. Tentang keponakanku.. dia belum pulang.”

“ Dari mana…?”

“ Dia sering pergi berbelanja malam hari. Siang hari dia tidak bisa keluar rumah karena menjaga Chohyun.”

“ Belanja?”

Woohyun yang masih mendengar pembicaraan Naeun dan sang pemilik rumah melalui telepon kini kembali pucat. Jelas, ia masih ingat wajah Kim Yura yang hampir ia tabrak beberapa saat yang lalu, gadis itu nampak berjalan dengan satu kantong belanjaan.

“…gila.. itu tidak mungkin..”

“ Tugas selesai.”pintu mobil terbuka dan nampak Naeun masuk bersama Chohyun dan tasnya, Woohyun menoleh dengan wajah terkejut karena ia melamun sangat dalam.

“ Terimakasih.”sahutnya kemudian, meski masih dengan linglung karena wajah Kim Yura masih memenuhi pikirannya.

“ Namanya Kim Taeyeon.”

“ Siapa?”

“ Penjaganya tadi.”

“ Oh.”

“ Akan sangat lucu jika Chorong sunbae bahkan tidak tahu itu.”

Woohyun menjalankan mobilnya dan meremas setirnya dengan emosi tertahan. Ia jengkel, Chorong sangat terkesan tak peduli dengan putra mereka.

“…aku sempat melihat mobil Hakyeon beberapa meter di belakang kita sebelum kita pergi. Pasti Chorong sunbae juga ada disana dan ingin menjemput Chohyun.”ucap Naeun, Woohyun terkejut.

“ Kenapa baru bilang sekarang?!”

“ Kalau aku bilang sejak tadi memangnya kau mau apa? Turun dan menamparnya?”

“ Setidaknya dia harus tahu aku tidak suka dengan caranya memperlakukan anaknya sendiri.”

“ Jangan kesal pada Chorong sunbae. Mungkin dia memang belum siap punya anak. Salahkan dirimu yang menghamilinya secara paksa.”

“ Bilang saja kau iri, kau bahkan sama sekali tak pernah tidur dengan Myungsoo, kan?”balas Woohyun kejam.

Gadis itu hanya tersenyum sinis, tangannya kembali meremas dua kertas di balik jasnya.

“ Kukira aku punya kesempatan untuk itu.”

*

“ Sudahlah, pasrahkan saja. Jemput saja dia besok.”

Hakyeon membujuk Chorong yang marah karena Chohyun ‘diculik’ lebih duluan oleh Woohyun. Sudah cukup lama mobil mereka tiba di daerah ini juga. Melihat mobil Woohyun dan Naeun disana membuat Chorong enggan turun dan hanya memperhatikan mereka dari jauh, namun ia tak bisa menahan kekesalannya karena Woohyun tak berkata apa-apa padanya dan mengambil Chohyun begitu saja.

“ Jadi aku harus merelakan Chohyun malam ini? Jadi aku terpaksa tidur sendiri malam ini? Sialan.”gadis itu masih tak terima, Hakyeon menatap mobil Woohyun yang semakin menjauh.

“ Mau aku kejar mereka?”

“ Huh?”

“ Kalau kau mau, sih.”

“ Kejar.”

Sebagai kakak yang baik, Hakyeon mengabulkannya, lelaki itu menyalakan mesin mobilnya dan mulai menyusul mobil yang sudah menghilang di depannya.

“ Hei, siapa ini?”

Chorong melihat sebuah panggilan masuk di telepon mobil Hakyeon, sebuah panggilan dengan nomor yang aneh.

“ Itu markas. Angkat saja.”jawab Hakyeon sembari terus fokus menyetir dan terus menambah kecepatannya.

Gadis itu menurut kemudian dengan sengaja menyalakan speaker agar suaranya terdengar jelas.

“ Hakyeon! Hakyeon oppa!!”

Terdengar suara Yoojoo yang agak keras, entah ia sedang panik atau girang.

“ Ya? Ada informasi?”

“ Kami.. kami menemukan DarkAngel!”

“ Oh ya!?” Hakyeon dan Chorong saling bertatapan dan mulai dipenuhi oleh harapan sekaligus ketakutan.

“ Tapi.. susah untuk di-keep karena arus aktivitas web terus berjalan dan kami juga harus mengawasi itu. Jadi kami terpaksa menggali informasi sedikit demi sedikit.”

“ Mereka pintar.”puji Chorong, Hakyeon tersenyum bangga.

“ Ya, jadi informasi apa yang sudah kalian peroleh?”

“ Di profil DarkAngel yang telah kami buka, kami mendapat sedikit informasi personal yang dia pasang secara private. Dia menuliskan jenis kelamin dan bulan lahirnya.”

“ Oh ya? Bulan lahirnya?”

Februari.”

CKIT!

Hakyeon langsung menghentikan mobilnya di pinggir jalan, sementara Chorong mulai blank mendengar hal itu.

“ Jenis kelaminnya?”

Laki-laki.”

Hakyeon menutup teleponnya dan menatap Chorong yang semakin memucat.

Diskusi dimulai.

“ Apa kau punya opsi lain selain dokter bedah yang kau cintai itu?”

Chorong menggeleng dengan mata kosong berulang kali. Bukan karena ia tak punya opsi, namun tentu saja karena ia tak bisa percaya.

“ Terlalu dini jika kita menyimpulkan bahwa itu Woohyun hanya dengan dua petunjuk saja.”ucapnya kemudian, “…aku bicara objektif, oppa. Kau setuju, kan?”

Hakyeon tertawa sinis, sudah menduga.

“ Aku setuju. Tapi aku juga ingin tanya, apa kau setuju bahwa laki-laki yang lahir di bulan Februari ini adalah pembunuh Kim Yura? Entah siapapun dia, jika kau masih tak mau memvonis Nam Woohyun.”

“ Tapi—“

“ Kim Yura seorang perempuan dan dia lahir bulan November. Jelas sekali bahwa akun DarkAngel itu bukanlah milik Yura. Sekarang aku baru bisa percaya pada Jaehwan bahwa gadis itu benar-benar mati dibunuh.”

“ Tapi dia sendirian saat itu, siapa yang datang dan membunuhnya? Woohyun ada di gereja untuk upacara pernikahan, dia tidak mendatangi Kim Yura hari itu!”

“ Siapa yang tahu? Mungkin saja sebelum upacara dimulai dia pergi ke kediaman The King.”

“ Itu tidak masuk akal.”

“ Tentu saja masuk akal.”

Chorong meremas rambutnya dengan gusar, memikirkan argumen lain.

“ Saat itu.. Woohyun menawarkan dirinya untuk menjadi dokter yang mengautopsi jasad Kim Yura, tapi The King menolak otopsi. Itu artinya Woohyun juga ingin tahu penyebab kematiannya, jelas bukan dia pembunuh—“

“ Bisa saja dia ingin mengautopsi agar bisa memanipulasi penyebab kematiannya dan mengatakan itu murni bunuh diri. Dia pria dengan banyak akal jahat, kan?”

Perdebatan ini membuat Chorong teringat kembali akan tragedi lima bulan lalu, dimana Myungsoo datang ke UGD dan membuatnya panik setengah mati karena ia terluka parah. Dan diambang kritisnya, Woohyun justru datang dan ingin membunuhnya dengan suntikan potassium. Jika Chorong tak ada disana dan menghentikannya, mungkin Myungsoo sudah bergabung dengan kembaran fraternalnya di alam baka.

Jika berpacu dengan tingkah laku Woohyun pada hari itu, memang wajar jika ia menjadi salah satu yang bisa dijadikan tersangka atas kematian Kim Yura. Terlebih sekarang ia menentang keras pekerjaan baru Chorong sebagai dokter pribadi Myungsoo.

“ Tapi apa dia sejahat itu? membunuh kembar fraternal The King.. rasanya tidak mungkin.. itu bukan caranya menyingkirkan orang yang menghalangi tujuannya..”Chorong terus membantah meski ia sendiri merasakan ketakutan di relung hatinya yang paling dalam.

“ Sekali lagi kukatakan, Chorongie.. siapa yang tahu? Mungkin saja itu satu-satunya kejahatan yang ia sembunyikan, karena akan sangat fatal jika The King mengetahuinya.”

“ Tidak, oppa. Tidak.. hentikan spekulasimu, hentikan.” Chorong menutup telinganya dan mulai menangis, Hakyeon menjadi bimbang apakah ia harus lanjutkan pembicaraan ini atau tidak. Baginya, informasi dari Yoojoo yang sesepele itu merupakan petunjuk besar, ia tak bisa memikirkan orang lain selain Nam Woohyun.

“ Bersiaplah untuk petunjuk selanjutnya. Kupastikan para staf meyakinkanmu bahwa memang dia orangnya.”

Hakyeon menyalakan mobil dan melanjutkan perjalanan, Chorong mendadak gemas.

“ Jadi kau akan melanjutkan penyelidikan ini dengan subjektif? Galilah dengan mindset bahwa kita masih belum tahu siapa orangnya setelah ada bukti yang jelas. Bukankah itu kesepakatan kita dan para staf sejak awal!?”omel gadis itu, Hakyeon bisa memakluminya meski ia merasa kesal.

“ Oke.. aku akan tetap objektif. Tapi tak ada salahnya juga kan bersiap mental untuk menerima petunjuk selanjutnya?”

“ Kau bicara seolah-olah itu adalah Woohyun.”

“ Karena aku memang yakin dia pelakunya. Puas?”

“ Turunkan aku disini.”

“ Cih, dasar pemarah.”

Hakyeon tak menurut dan tetap melanjutkan perjalanan, membiarkan Chorong yang masih berpikir keras untuk mendebatnya.

Oppa, aku tahu Nam Woohyun lebih dari siapapun.”

“ Tapi dia lebih tahu siapa dirinya sendiri, dibanding kau.”

Benar juga. Chorong sungguh benci jika pembelaannya dipatahkan.

“ Ah.. bagaimana jika profil yang dipasang DarkAngel itu adalah profil palsu? Seorang pembunuh tidak mungkin terang-terangan mengungkap data dirinya yang asli, kan?”

“ Ya, makanya data itu di-private. Kalau datanya visible, baru aku bisa percaya bahwa itu palsu. Jika di-private seperti ini, sangat mungkin itu asli.”

Gadis itu kalah lagi.

“ Laki-laki yang lahir di bulan Februari itu banyak.”

“ Tapi yang kelihatannya ingin menyingkirkan Kim Yura dan membenci Jaehwan hanya satu orang. Aku tidak heran mengapa DarkAngel rela membeli akun VIP hanya untuk menakut-nakuti Jaehwan di grup selebriti, ia pasti dendam karena Jaehwan menghajarnya di medical center.

Chorong memutar bola matanya, semakin jengkel, dan lebih jengkel lagi ketika ia sadar bahwa Hakyeon sengaja memutar-mutar perjalanan mereka dan tak mengantarnya pulang ke rumah untuk memperpanjang perdebatan mereka di jalan.

“ Bisakah kau berhenti mengarahkan semuanya pada Woohyun? Mengapa bangga sekali dengan dua petunjuk kecil saja?!”

“ Mungkin ini akan menjadi petunjuk besar.”

Hakyeon tiba-tiba menghentikan memperlambat laju mobilnya dan memberi Chorong kesempatan untuk sadar dimana mereka berada sekarang.

“ Ini.. bukannya studio Myungsoo?! Sudah lama tempat ini dibiarkan kosong..” gadis itu menegang ketika melihat satu mobil terparkir di depan gedung ruko yang dulunya menjadi tempat tinggal Myungsoo itu.

Mobil itu, mobil milik Woohyun. Chorong hafal nomor platnya.

“ Aku tidak sengaja mengarahkan mobil kita kesini, aku bersumpah. Ternyata kita menemukan ini. Seperti takdir saja.”ucap Hakyeon, ia sedikit tak tega melihat Chorong yang semakin kacau.

“ Tidak.. untuk apa Woohyun kesini!? Apa dia masih bersama Naeun dan Chohyun?”

Hakyeon mengangkat bahunya, ia semakin mendekatkan mobil mereka pada mobil Woohyun yang terparkir untuk melihat ke dalam karena jendelanya sedikit terbuka.

Kosong.

“ Sepertinya dia datang sendiri. Kalau memang dengan Naeun, setidaknya tas perlengkapan Chohyun ditinggal di dalam mobil, kan?”ucap Hakyeon setelah selesai memeriksa keadaan.

“ Bisakah aku turun, oppa? Aku ingin masuk!”Chorong memohon, namun Hakyeon buru-buru menggeleng.

“ Aku takut terkena masalah. Lihat itu!” Hakyeon menunjuk jendela studio yang kacanya telah pecah. Sudah pasti siapapun yang kini sedang berada didalam sana masuk lewat jendela itu.

“…lingkungan studio Myungsoo ini juga kadang menjadi sarang wartawan malam, karena disini sempat tertangkap foto Jaehwan dan Yura yang datang berdua. Kau masih ingat kan? Semua orang berpikir itu skandal, padahal sesungguhnya Jaehwan hanya mengantar Yura untuk menemui Myungsoo setelah malam pertemuan keluarga. Aku takut jika wartawan masih ada yang berkeliaran di sekitar sini, jadi lebih baik kita pergi sekarang. Aku tak ingin terkena masalah.”

Chorong terpaksa menurut meski ia penasaran dan emosi setengah mati. Matanya tak bisa lepas dari mobil Woohyun yang masih terparkir disana, dan tentu saja, kaca jendela yang pecah itu juga.

“ Nam Woohyun, inikah dirimu yang sesungguhnya?”

***

00.15

 

“ Kenapa belum ada berita tentang kedatangan Jaehwan ke klinik kejiwaan VVIP tadi siang, ya? Bukannya banyak saksi mata saat itu?”

Myungsoo terus memindah-mindah channel televisinya dengan rasa penasaran, Sungyeol yang duduk sembari mengunyah cemilan disampingnya terkekeh.

Leeves Entertainment, agensi Jaehwan sangat pintar mengendalikan media. Mereka mungkin sudah menyuap para saksi mata untuk tidak menyebarkan apapun.” sahut Sungyeol dengan mulut penuh cemilan, “…para polisi juga tak jarang disogok untuk membebaskan para member FIX yang tersandung pelanggaran hukum ringan. Mereka artis-artis yang kadang tak tahu diri, tapi kuakui mereka juga memang berbakat dan punya modal lebih dari cukup untuk memperoleh banyak fans.”

“ Ah.. begitu ya? Hebat sekali.”Myungsoo berdecak kagum sekaligus prihatin, “…tapi.. untuk kasus ini, sepertinya jadi sedikit tak adil untuk dokter Son Naeun.”

“ Menjadi tak adil untuk dia atau kau?”goda Sungyeol.

“ Haha. Kenapa aku?”

“ Kau juga merasa tak adil kan karena tidak jadi bertemu dengannya hari ini?”

Myungsoo tersenyum malu, “ Ya.. begitulah.”

“ Aku juga, hehe.”sahut Sungyeol, “…jadi, apa saja yang kau tulis untuknya tadi? Kau menulis cukup lama.”

“ Hmm.. yaa.. sesuai yang ia inginkan, apapun yang kuingat.”

“ Tapi aku yakin kau melupakan sesuatu.”

“ Apa itu?”

“ Kau tidak menuliskan kontakmu di kertas itu? padahal.. siapa tahu dokter cantik itu menghubungimu.”

Benar juga. Myungsoo menyesal, mengapa baru terpikirkan sekarang?

“ Benar juga, ya. Aku tidak punya ponsel, tapi setidaknya aku punya alamat email. Seharusnya aku tulis saja.”

“ Nah, karena kau lupa, makanya aku yang tulis.”

“ Hah?”

“ Aku menulis alamat emailku di belakang kertasmu sebelum kita pergi dari klinik, hehe. Aku pintar, kan?”

Myungsoo tertawa kecil sekaligus merasa bangga, “ Kau benar-benar cepat tanggap, Sungyeol-ssi.”

“ Tapi maaf karena aku menulis alamat emailku sendiri, aku tidak tahu apa alamat emailmu, hehe.”

“ Tidak masalah, itu sama saja.”

“ Semoga saja dokter Son Naeun mau mengirim email untukmu. Tapi jangan banyak berharap, sih. Hahaha. Pokoknya nanti aku beritahu jika ada email darinya untukmu.”

Myungsoo mengangguk, “ Terimakasih banyak, Sungyeol-ssi. Aku sangat merepotkanmu hari ini, semoga kau tidak jera.”

“ Santai sajalah. Selamat beristirahat, kawan. Terserah jika kau mau begadang, tapi aku tidak bertanggung jawab jika dokter Park Chorong mengomel besok.” Sungyeol berdiri dan pamit untuk pulang ke kamarnya, Myungsoo mengangguk dan mengucapkan terimakasih sekali lagi.

Sekeluarnya Sungyeol, Myungsoo mematikan televisinya dan mengarahkan kursi rodanya ke hadapan komputer.

Hari ini ia belum membuka forum favoritnya. Entah, meski ia cukup senang hari ini karena berkesempatan melihat ‘dunia luar’, palung hatinya yang paling dasar masih menjerit bahwa ia ingin bunuh diri. Myungsoo sendiri tak bisa menjelaskan mengapa perasaan itu masih saja ada meski ia merasa kehidupannya sudah sedikit membaik karena kehadiran dokter Chorong dan teman sebaik Sungyeol.

Ada perasaan-perasaan mengganjal dalam hati dan kepalanya, entah apa itu, rasanya seperti perasaan bersalah yang memaksa batinnya untuk terus melanjutkan niat bunuh dirinya. Seandainya saja memorinya tidak hilang sebagian, jelas Myungsoo akan langsung tahu darimana asalnya perasaan buruk ini.

“ Apa aku pernah melakukan dosa besar di masa lalu? Mengapa aku terus berpikir untuk mati agar bisa menebus perasaan tak nyaman ini?” Myungsoo bergumam sendiri sembari melakukan scrolling pada laman forum yang sudah diaksesnya.

“…uh.. aku ketinggalan banyak chat hari ini.” Myungsoo membaca forum dimana ia bergabung yang telah memiliki ratusan chat baru.

>>recent chats<<

Manonfire_4 : Hi guys, masih hidup semua, kan?

Manonfire_4 : aku punya ide

OHaesook96 : Apa itu?

Manonfire_4 : Let’s meet up. Dari beberapa pembicaraan kita disini, aku tahu kalian semua menunda bunuh diri karena alasan masing-masing. Aku juga demikian

Manonfire_4 : jadi mari kita bertemu dan saling mengenal dulu. Kalau sudah begitu, akan enak jika tiba saatnya untuk kita semua mengakhiri hidup.

Sungwonapplecandy : whoaaa.. interesting.

XXX_Lee03 : sebagai pembuat forum, aku setuju!

Anonim1 : Ide bagus. Mari bertemu.

6969 : sebelum bunuh diri, minum-minum bersama memang tak ada salahnya

Lmao_r : kita juga mungkin bisa sharing cerita tragis satu sama lain dengan lebih nyaman

Yesterday_a : @Manonfire_4 aku suka idemu. Kelompok lain mungkin hanya bertemu saat benar2 ingin bunuh diri saja, tapi kita justru menjalin perkenalan dulu. Itu bagus.

Manonfire_4 : ini kulakukan agar aku punya banyak teman setelah mati, entah dimanapun itu. surga, neraka, atau tengah-tengahnya. Lol

Sgyu89 : mau bertemu kapan dan dimana? Sial sekali aku tidak bisa bergerak kemanapun, aku masih di medical center, kakiku juga masih menyedihkan.

Sungwonapplecandy : hehe, baru ingat tetua forum kita masih tak berdaya.

6969 : seandainya bisa kita bertemu di medical center saja, di tempat Sgyu89, tapi tidak mungkin -_-

XXX_Lee03 : Kim Myungsoo juga lumpuh, ia tidak bisa kemana2. Bertemu di apartemennya mungkin bisa.

OHaesook96 : kemana dia? Tidak muncul seharian ini

EjJung_K93 : kurasa aku tak akan ikut, aku sibuk dengan pekerjaan sialanku. Padahal aku sangat ingin -_-

Kim_Myungsoo : ingin meet up? Wow

OHaesook96 : kau setuju kan? Bagaimana tempatmu???

Kim_Myungsoo : apartemenku… tidak begitu luas. Dan.. berantakan. Kalian yakin ingin disini?

Yesterday_a : jika kami ke tempat lain, maka kau tidak bisa ikut 😦

Lmao_r : yap, mari usahakan banyak yang hadir. Sgyu89 dan Ej_Jung_K93 sudah tidak bisa ikut

EjJung_K93 : aku akan ikut pertemuan selanjutnya, aku janji!

Anonim1 : so, bagaimana Kim Myungsoo-ssi?

Kim_Myungsoo : kapan? Yang jelas jangan pagi, pagi hari dokter pribadiku datang.

Kim_Myungsoo : oh ya, tetanggaku jg seorang polisi. Kita memang tidak merencanakan bunuh diri, tp jika ada pembicaraan2 tentang bunuh diri, aku khawatir dia mendengarnya.

Sungwonapplecandy : Hmm.. jd kita harus tentukan waktu yang bukan pagi hari, dan disaat tetanggamu tidak berada di apartemen

XXX_Lee03 : terlalu lucu untuk minum alkohol siang hari. Malam saja

OHaesook96 : yap! Cari tahu kapan tetangga polisimu itu piket malam dan tidak pulang ke apartemen

Kim_Myungsoo : dia sedang cuti, jadi aku tidak yakin. Tapi.. akan kutanya padanya nanti

6969 : nah, jika sudah, segera beritahu alamat apartemenmu dan kapan kami bisa datang kesana

Kim_Myungsoo : ok

DarkAngel : woah. Meet up. Bolehkah aku ikut?

 

Tangan Myungsoo kembali bergetar. Akun menakutkan itu kembali.

Manonfire_4 : oh shit

Sgyu89 : haha.. jangan lupa bahwa forum ini punya sampah yang tak bisa dibuang

EjJung_K93 : wow, DarkAngel menggunakan akun VIP sekarang. Apa kau sedang meneror forum artis juga? Lol

Sungwonapplecandy : -_-

Lmao_r : untuk apa kau ikut, DarkAngel? Ingin menceramahi kami secara langsung bahwa bunuh diri itu tidak baik untuk kesehatan kami? Lol

DarkAngel : itu akan menarik

Yesterday_a : ew… NO

OHaesook96 : hmm.. kalau begini, rasanya tidak aman jika Myungsoo membagikan alamat apartemen dan waktu pertemuan kita disini, kita tak akan tahu apa yang akan dilakukan oleh DarkAngel sialan ini

Kim_Myungsoo : jangan khawatir, aku akan mengirimkan alamat dan waktu pertemuannya lewat personal chat pd kalian semua, kecuali dia

Sungwonapplecandy : yeah! Itu bagus!

XXX_Lee03 : kami menunggu kabar darimu, Kim Myungsoo-ssi.

DarkAngel : aku juga menunggu 🙂

 

Myungsoo semakin bergetar. Bukan, bukan karena balasan akun aneh itu, namun karena sesuatu yang lebih mengerikan kini terlihat lagi di depan matanya.

DarkAngel kembali mengiriminya pesan pribadi.

Seperti biasa, setelah mengumpulkan seluruh keberanian, Myungsoo membukanya.

From : DarkAngel

To : Kim_Myungsoo

 

Jangan remehkan aku. Jangankan alamat apartemenmu, aku saja tahu siapa cinta pertamamu. Haha.

 

Myungsoo memucat.

“ Apa dia ingin menakutiku lagi!? Cinta pertama? Lelucon macam apa—“

Lelaki lumpuh itu menghentikan penenangan dirinya. Sungguh, ia kini benar-benar bergetar.

Email DarkAngel tak berhenti sampai disana. Sebuah pesan masuk kembali dengan proses yang cukup lama karena sang pengirim mengirimkan beberapa buah foto.

Myungsoo membukanya satu per satu dengan tak percaya, seluruh tubuhnya langsung terasa nyeri melihat gambar-gambar di depannya.

Foto-foto yang dikirim DarkAngel, adalah sebuah meja yang dipenuhi cetakan foto seorang gadis.

Dan gadis itu.. adalah dokternya sendiri, dokter Park Chorong.

Begitu banyak foto Chorong di atas meja itu, mungkin ribuan, karena sangat banyak gambar foto-foto di meja yang ia terima. Semua foto itu candid, menjadi tanda bahwa gadis dalam foto itu tak sadar bahwa seseorang menangkap gambarnya.

Sebuah pesan pun masuk lagi, Myungsoo terlalu kacau untuk membacanya lagi, namun rasa penasaran dan takut yang menggila sudah menyelimutinya.

From : DarkAngel

To : Kim_Myungsoo

 

LIHAT!? LIHAT ITU SEMUA!? Biar kuingatkan, itu semua hasil tangkapanmu selama bertahun-tahun. MENGAPA KAU MASIH MENYIMPAN SEMUANYA, KIM MYUNGSOO?! KAU SUDAH KALAH, SUDAH KALAH, MENGAPA KAU MASIH MENYIMPANNYA!?

 

Dengan tangan yang gemetar, Myungsoo menulis balasan dengan terburu-buru.

From : Kim_Myungsoo

To : DarkAngel

Aku sama sekali tak mengerti. Darimana kau dapat semua gambar itu? apa itu milikku?

 

Pesan bingung itu dibalas secepat kilat.

From : DarkAngel

To : Kim_Myungsoo

KAU MEMBUATKU SANGAT MARAH HINGGA AKU TERPAKSA MEMPORAK PORANDAKAN ISI STUDIOMU.

SO, YEAH.. IT’S YOURS.

 

“ Studio? Aku punya studio? Aku memiliki tempat lain selain apartemen ini!?” Myungsoo sungguh ingin meledak sekarang, amnesia benar-benar menyiksanya.

Dan fakta yang ia temukan hari ini adalah yang paling mengejutkan baginya.

BRAK!

Dengan secepat kilat, ia mematikan komputernya dan mundur, tangannya meraih obat di atas meja dan meminumnya buru-buru, berharap segera mengantuk dan melupakan apa yang baru saja ia temukan. Namun ia menjadi takut untuk tidur, ia seakan tak ingin bertemu hari esok.

Ia tak bisa lagi bersikap biasa-biasa saja pada dokter pribadinya.

*

“ Kenapa lagi dia?”

Sungyeol mematung sebentar di depan dinding yang paling dekat dengan kamar apartemen Myungsoo, ia bisa mendengar jelas suara komputer yang dimatikan secara kasar oleh tetangganya itu.

“…sudahlah, aku ngantuk.”

Setelah memastikan tak ada lagi suara ribut, polisi muda itu mematikan lampu apartemennya dan melangkah dengan gontai ke atas tempat tidur.

Namun matanya masih terbuka, mulutnya pelan-pelan menghitung hingga angka 60.

“ 57..58..59..60.”

Ting!

Sinar lampu ponsel tiba-tiba memancar di tengah gelapnya kamar apartemen diikuti bunyi singkat yang agak nyaring, Sungyeol buru-buru meraih benda itu.

“ Jika dugaanku benar, pasti ada email baru.”gumamnya tak sabaran.

Benar. Sebuah email masuk.

From : Sne_psychiatrist@seoulmedicalcenter.co.kr

To : Lsy_08@xmail.com

 

Kau nyata, kan?

Beritahu aku bahwa ini bukan mimpi.

Bahkan jika ini mimpi, aku tak ingin bangun lagi.

Tapi aku yakin kau nyata.

Pelarianku yang nyata.

Penghancur hidupku yang nyata.

 

Sungyeol bangkit dari tempat tidurnya dan membuka pintu kamarnya, keluar sejenak dan berjalan menuju muka pintu apartemen Myungsoo.

Namun tangannya seakan tertahan untuk mengetuk pintu itu.

Ia berbalik dan kembali ke kamarnya.

 “ Petunjuk baru ini terlalu berharga untuk kubocorkan.”

***

06.00 A.M

 

“ Selamat pagi!”

Myungsoo menyapa Sungyeol yang sudah mengetuk pintu kamarnya pagi ini. Tetangganya itu nampak berseragam polisi dengan rapi dan membawa satu baki berisi makanan di tangannya.

“ Aku mendengar sedikit kegaduhan tadi malam. Apa kau baik-baik saja?” tanya Sungyeol sembari masuk ke apartemen Myungsoo dan meletakkan makanan yang dibawanya ke atas meja makan.

“ Yah.. aku baik-baik saja, kok.” Myungsoo terpaksa berbohong, rasanya terlalu memalukan jika ia bercerita sejujurnya, meski Sungyeol nampaknya bisa dipercaya.

“ Kalau ada sesuatu beritahu aku, ya. Oh ya, kau sudah sarapan? Aku bawa sup jagung untukmu, buatanku sendiri, hehe. Jadi maklumi saja rasanya. Nanti siang aku akan beli ayam goreng.” Sungyeol menyiapkan satu mangkuk sarapan untuk Myungsoo.

“ Terimakasih banyak, Sungyeol-ssi. Padahal kau tidak perlu repot-repot.”

“ Hehe, santai saja. Aku berbagi makanan denganmu karena yang aku masak dan aku beli selalu berlebihan.”

“ Oh ya, apa ada email dari dokter Son Naeun untukku?”

Email? Haha, tidak ada.”

Myungsoo mengangguk-angguk, meski kecewa ia sadar diri saja, untuk apa dokter sekelas Son Naeun mau menyempatkan diri mengirim email untuk pasiennya?

“…oh ya Sungyeol-ssi, apa agendamu hari ini?”

“ Aku mulai masuk bekerja hari ini.”jawab Sungyeol sembari menyodorkan mangkuk supnya pada Myungsoo, “…kau ingin jalan-jalan, ya?”

“ Haha, yaa.. begitulah. Tapi kau bekerja hari ini, apa boleh buat.”

“ Mau ikut denganku ke kantor?”

“ Mau!”

Sungyeol takjub, Myungsoo menjawab bahkan tanpa berpikir.

“ Yakin? Kau hanya akan meringkuk di mobil seharian menungguiku selesai. Jalan-jalannya mungkin hanya saat kita pergi makan siang.”

“ Tidak apa-apa. Yang penting aku tidak berada disini.”

Myungsoo benar-benar kekurangan hiburan, Sungyeol merasa kasihan.

“ Baiklah. Eh.. tapi.. apa dokter Chorong sudah datang? Kau tak bisa pergi sebelum diperiksa, kan?”

“ Oh iya..” Myungsoo sedikit memukul kepalanya, “…tumben sekali ia belum datang jam segini.”

Meski di satu sisi ia merasa bersyukur. Ia masih tak siap bertemu sang dokter setelah apa yang ia lihat dari DarkAngel semalam.

***

“ Alarm sialan! Kenapa aku tidak bangun!?”

Chorong baru saja membuka matanya dan ia terkejut karena jam sudah menunjukkan pukul 6 lebih. Jelas, ia terlambat mengunjungi pasien rumahan kesayangannya.

Gadis itu buru-buru bangkit dari tempat tidur sembari merapikan wajah dan rambutnya, tangannya secepat kilat menyambar handuk dan membuka pintu kamarnya yang selalu terkunci rapat.

“ AAAAAH!!”

Ia tiba-tiba menjerit, terkejut bukan main karena bentuk setting ruangan di rumah kontrakan sempitnya nampak berubah 180 derajat, dan ia lebih terkejut lagi ketika mendapati sesosok lelaki berbadan kekar dengan kemeja putih tengah bekerja di dapurnya.

“ Selamat pagi, dokter tulang.”

Lelaki itu berbalik dan tersenyum padanya sebelum akhirnya kembali meneruskan kegiatannya membuat sarapan pagi.

“ Apa yang kau lakukan disini, Nam Woohyun?”tanya Chorong heran sembari pelan-pelan menghampirinya, namun terhenti sejenak ketika ia menemukan Chohyun yang berbaring dengan tenang di dalam kereta bayi, putranya itu telah rapi dan wangi, tanda bahwa Woohyun sudah memandikannya pagi-pagi sekali.

“ Mengunjungimu. Kita kan tidak bertemu kemarin karena sama-sama sibuk.”

“ Sejak kapan kau disini?”

“ Sebelum matahari terbit.”

“ Huh?”

Woohyun selesai dengan kegiatan terakhirnya, ia keluar dari dapur dan mengambil handuk yang tersampir di bahu Chorong.

“ Aku menumpang mandi, ya. Membereskan gubuk sempit ini membuatku lelah. Kau benar-benar berantakan.”

Lelaki itupun masuk ke kamar mandi tanpa persetujuan Chorong. Gadis itu masih menganga keheranan.

Rumah kontrakan kecilnya telah rapi dan sangat bersih, Woohyun membereskan semuanya entah sejak jam berapa. Ia sama sekali tak menyangka lelaki itu datang diam-diam dan melakukan ini semua untuknya. Ia justru mengira mereka akan bermusuhan hari ini karena masalah penitipan Chohyun.

Namun tetap saja, perdebatannya dengan Hakyeon kemarin malam masih terngiang-ngiang di telinganya hingga ia sulit untuk tidur dan pada akhirnya bangun terlambat. informasi dari Yoojoo tentang DarkAngel yang dipersepsikan dengan berbagai spekulasi oleh Hakyeon masih sangat menganggu pikirannya, belum lagi dengan mobil Woohyun yang jelas ia lihat semalam terparkir di depan studio Myungsoo.

“ Aku sudah selesai. Giliranku menjaga Chohyun.”

Setelah beberapa lama, Woohyun keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk putih yang melilit di pinggulnya. Chorong cukup mengagumi keindahan tubuhnya dalam hati, ia masih terlalu gengsi dan akhirnya masuk kamar mandi tanpa bicara sepatah katapun.

“…ada apa dengannya?” Woohyun sedikit tak mengerti, satu-satunya yang ia pikirkan mungkin Chorong hanya malu karena diberi ‘kejutan’ seperti ini. Lelaki itu memang memutuskan untuk seperti ini saja daripada harus berdebat panjang dengan Chorong masalah putra mereka. Menciptakan keributan dengan Chorong hanya akan membuat gadis itu semakin ‘membencinya’.

Woohyun meraih semangkuk bubur bayi yang telah ia siapkan untuk Chohyun, ia duduk di depan kereta bayi dan mulai menyuapi putranya itu dengan hati-hati.

“ Chohyun-ah, apa benar setiap hari kau dijaga oleh gadis itu? itu bukan Kim Yura, kan? Katakan padaku bahwa itu bukan dia..” gumamnya pelan, ia masih dihantui oleh perasaan takut.

Namun Chohyun hanya menggoyang-goyangkan kepalanya sambil tersenyum lebar, ia nampak senang mendengar nama itu : Kim Yura. Hari ini, sepertinya Woohyun tak bisa bersembunyi, ia harus tahu siapa yang sesungguhnya menjaga Chohyun setiap hari. Mau tidak mau, suka tidak suka, ia harus memberanikan dirinya.

“ Pakai pakaianmu, kenapa masih begitu?” Chorong pura-pura mengomel saat keluar dari kamar mandi karena masih mendapati Woohyun topless di depannya, ia masih terlalu kesal untuk mengagumi lelaki itu.

“ Aku lupa bawa pakaian baru. Bagaimana ini?”jawab Woohyun santai sembari tetap menyuapi Chohyun.

Dan Chorong mulai overthinking. Mengapa Woohyun tidak membawa pakaian ganti? Kemeja yang barusan ia pakai pasti kemejanya yang kemarin, apa setelah dari studio Myungsoo ia tidak pulang dulu dan langsung ke kontrakan Chorong?

Gadis itu berusaha membuang pikiran-pikiran buruknya meski rasanya sangat sulit karena ia tak bisa membantah informasi yang ia dapatkan dari Yoojoo kemarin malam.

“ Aku menyimpan pakaian untukmu. Tunggu sebentar.” Chorong berjalan ke kamarnya, namun Woohyun berdiri dan menahan lengannya.

“ Nanti saja. Aku tidak terburu-buru.”

“ Kau tidak praktik pagi?”

“ Aku mengajukan pengunduran jam terhitung hari ini. Aku akan sama sepertimu, memulai praktik jam 12.”

“ Kenapa?”

“ Agar sebelum jam itu aku bisa terus mengawasimu, seperti ini.”

Chorong terkejut.

“ Kau sudah gila ya?”

“ Anggap saja begitu. Rasanya terlalu berbahaya jika aku membiarkanmu menitipkan Chohyun dengan semena-mena setiap hari. Aku harus mengawasi bagaimana caramu memperlakukan anak kita. Jadi jangan terlalu percaya diri, nona Park. Aku melakukan ini demi Chohyun.”

Ah.. jadi itu. Chorong memang sudah yakin Woohyun akan bertindak setelah tahu caranya yang tercela dalam menitipkan Chohyun. Namun jika harus seperti ini, Chorong lebih memilih untuk berkelahi saja dengan Woohyun, diawasi oleh lelaki itu hanya akan menghambat pekerjaan pentingnya sebagai dokter untuk Myungsoo.

“ Kau pasti sangat marah padaku.”desis Chorong pelan, ia tak berani menatap Woohyun karena merasa bersalah.

“ Kalau kau sadar aku marah, bukankah seharusnya kau membujukku?”

Gadis itu tertawa kecil, untuk sejenak ia membuang semua pikiran buruknya dan menarik tubuh kekar Woohyun untuk merapat padanya, lalu mempertemukan bibir mereka dengan lembut. Lelaki itu menyambutnya dengan sentuhan yang dalam dan penuh kerinduan. Wangi sabun menyeruak di antara mereka.

“ Aku punya rutinitas penting sebelum pergi. Sebaiknya kau tidak usah melihatnya.”Chorong melepas ciumannya dan berjalan ke dapur, ia mengambil satu botol susu dan sebuah alat dari dalam buffet.

“ Memompa ASI? Yang benar saja?”Woohyun justru mendekatinya, Chorong tak peduli, ia melonggarkan pakaian mandinya dan memasang breast pump di payudara kirinya, Woohyun menggelengkan kepalanya berulang kali.

“ Kau sama sekali tidak sempat menyusui Chohyun setiap pagi? Apa kondisi Kim Myungsoo separah itu hingga kau harus mengunjunginya pagi-pagi sekali setiap hari?”

Kim Myungsoo pun terbahas. Chorong menarik nafas sejenak, mengumpulkan tenaganya untuk berjaga-jaga jika saja terjadi perdebatan.

“ Jangan salah paham, aku melakukan ini juga karena semakin lama semakin susah untuk keluar. Jadi aku terpaksa memompanya.”

“ Wajar, Chohyun sudah 6 bulan, masa ASI eksklusifnya akan segera habis.”

“ Tapi seharusnya masih bisa, kan?”

“ Ya. Dan sia-sia saja kau menggunakan alat ini.” Woohyun melepasnya dengan paksa, “…kau dokter yang pintar tapi tidak tahu masalah sesederhana ini, ya?”

“ Apa?”

“ Kau stress, Park Chorong. Kelihatan dari wajahmu, itulah sebabnya ASImu terhambat. Apa yang kau pikirkan, huh? Kau masih ketakutan jika aku tak bisa menikahimu?”

“ Cih, kau terlalu percaya diri.”

Woohyun tertawa, tangannya melempar alat pemompa itu ke tempat sampah.

“ Alat itu hanya akan membuat keindahanmu rusak. Jangan berpikir untuk memakainya lagi.”

Chorong merasakan tangan lebar Woohyun kini berada di kedua payudaranya, memijatnya pelan. Bibir lelaki itu memenuhi bibirnya lagi. Chorong menegang, sudah lama ia tak melakukan hal ini dengan Woohyun. Pertama dan terakhir kalinya.. hanyalah pemerkosaan setahun lalu itu. jika dipikir-pikir, mereka belum pernah sempat berhubungan intim dengan ‘damai’.

“ Kau trauma?”Woohyun bisa merasakan nafas Chorong yang memburu hanya dengan sentuhan sesederhana ini, ia jadi sedikit merasa bersalah.

“ Tidak.. tidak.”

“ Aku hanya membantumu untuk rileks, agar kau bisa menyusui dengan lancar.”

“ Ah.. jadi hanya itu?”

“ Tapi melihat reaksimu, aku jadi ingin lebih.”

“ Woohyun-ah—“

“ Kita praktik jam 12, dan sepertinya bukan masalah besar jika kau tidak mengunjungi Myungsoo tepat waktu atau tidak sama sekali hari ini. Kau lebih memilih aku, kan?”

Chorong mengangguk tanpa berpikir panjang, ia sudah terlanjur terbawa suasana. Ia baru sadar bahwa ia terlalu senang dengan kedatangan Woohyun pagi ini. Untuk pertama kalinya, ia tidak merasakan kehampaan saat baru saja bangun dari tidurnya.

Woohyun adalah pria yang baik, setidaknya padanya. Masih pantaskah Chorong mencurigainya sebagai dalang dibalik pembunuhan Kim Yura?

Gadis itu mencoba melupakannya dan memfokuskan seluruh perhatiannya pada setiap sentuhan Woohyun, kini lelaki itu memperlakukannya sangat berbeda dari pemerkosaan setahun yang lalu. Setiap sentuhannya seolah-olah menyembuhkan rasa traumanya yang masih tersisa. Ia begitu berhati-hati.

“ Rileks.. kubilang rileks.”lelaki itu beberapa kali tertawa kecil sebab Chorong masih saja gemetar karena oksitosin yang meledak-ledak dalam tubuhnya.

“ Hanya foreplay, kan?”gadis itu masih menjaga gengsinya, meski tangannya tak mampu lepas dari abs Woohyun sementara lelaki itu bernafas di lehernya dan meraih pinggang kecilnya, mendudukkannya di atas meja makan.

“ Aku anggap kau lebih memilih Myungsoo daripada aku jika kau ingin berhenti sekarang.”jawabnya sinis, tangannya kembali memijat pelan payudara Chorong, jemarinya juga berulang kali menarik lembut dan memutar nipple ranumnya secara perlahan untuk menstimulasi air susunya, kemudian menjilat serta menghisapnya pelan-pelan secara bergantian.

“ Apa kau pernah.. melakukan ini dengan Naeun? bagaimanapun juga kalian adalah.. suami-istri” tanya Chorong hati-hati, ia tak ingin merusak moment namun terlanjur penasaran.

“ Sudah kubilang dia selalu mabuk, untuk sekedar tidur saja kami tak pernah seranjang.”

“ Tapi di pagi hari seperti ini dia tidak mabuk,kan?”

“ Tidak. Tapi aku tidak tertarik.”

“ Saat di Jerman?”

“ Kau berpikir kami benar-benar berbulan madu?”

“ Kau membawanya ke dokter jiwa.”

“ Ya. Kupikir tidak perlu kuulang-ulang lagi. Dia mendekam di rumah sakit selama di Jerman, dan aku tidur di hotel. Apa lagi yang perlu kujelaskan?”

“ Kau belum pernah cerita bagaimana proses pengobatan Naeun di Jerman padaku.”

“ Tidak tepat jika kita bicarakan disaat seperti ini, sayang.”

Chorong mengangguk saja dan mengizinkan Woohyun melanjutkan sentuhannya, namun rasanya masih ada yang mengganjal dalam hatinya.

“ Naeun…dia sangat cantik. Apa kau yakin tak pernah bersentuhan dengannya?”

Woohyun membuang nafasnya dengan agak kasar karena kesal.

“ Lalu Kim Yura bagaimana menurutmu? Aku berpacaran lebih dari delapan tahun dengan gadis secantik itu.”

“ Kau terus bersama wanita-wanita yang nyaris sempurna, wajar jika aku mempertanyakan—“

“ Aku hanya ingin kau, dokter Park. Mungkin terdengar gila, tapi nafsuku hanya membludak saat melihatmu saja.”

“ Aku—“

Chorong tak melanjutkan perkataannya sebab Woohyun membungkam bibirnya lagi, mempercepat tempo permainan kecil yang mereka lakukan pagi ini dengan sedikit mendominasi. Ia berkata benar, nafsunya pada Chorong memang mengerikan, terlebih saat pemerkosaan itu, Woohyun benar-benar seperti kerasukan setan, dan jujur.. terkadang Chorong masih takut jika harus mengingat bagaimana rasanya. Terlalu sakit. Beruntung Chorong bisa memaafkan itu atas nama cinta.

Terlebih sekarang, Woohyun seakan sedang menebus perlakuan kasarnya, dengan intens ia terus memberikan sentuhan yang memanjakan gadis itu, tangannya yang mahir menggunakan peralatan bedah rupanya mahir pula mengeksplorasi tubuh Chorong tanpa membuat gadis itu merasa sakit. Tangan lebar itu sudah berada diantara kedua paha lembut Chorong yang perlahan-lahan menjarak, memberi Woohyun kesempatan untuk menangkup area yang ia senangi disana, yang sudah berkedut tak karuan. Chorong semakin gelisah ketika Woohyun menggerakkan jemarinya di bawah sana tanpa memberinya kesempatan untuk mengeluarkan sedikit desahan, lelaki itu masih tak melepaskan ciumannya.

“ Apa kau masih mau menikah meski kita punya kesempatan untuk melakukan ini?” Woohyun melepas ciumannya dan menatapnya dalam, Chorong menggigit bibirnya yang sedikit basah, terdiam sejenak sembari memperhatikan tangannya yang masih meraba-raba abs sempurna milik lelaki di depannya.

“ Aku tidak ingin di dapur. Setidaknya jika kita menikah, kita bisa melakukannya di tempat tidur. Itu lebih nyaman.”

Woohyun tertawa kecil dan mengelus rambut indah Chorong berulang kali.

“ Aku mengajakmu di dapur karena pagi ini aku perlu sarapan.”

Gadis itu tersenyum malu, wajah cantiknya semakin merah padam. Ia mengizinkan Woohyun untuk melanjutkan permainan mereka ke level berikutnya.

***

“ Wah, sial.”

Naeun menghentikan mobilnya ketika ia baru saja memasuki gedung parkir VVIP Medical Center, gadis itu melihat mobil mewah The King serta mobil milik keluarga dokternya memenuhi tempat itu.

Artinya, mereka semua ada disini.

Naeun memang sudah diberitahu bahwa hari ini The King dan keluarga dokter Son akan mengadakan rapat darurat untuk membicarakan perlakuan kasar Jaehwan terhadap Naeun kemarin. Sebagai keluarga terhormat, mereka tentu tak terima dengan insiden itu. meski Jaehwan juga berasal dari salah satu keluarga konglomerat, keluarga dokter Son merasa lebih menang karena memiliki The King di sisi mereka.

Dan Naeun sesungguhnya sangat malas jika ada konflik antar-keluarga-kaya seperti ini, ia tak ingin memperpanjang urusannya dengan Jaehwan karena tak ingin juga sahabat Myungsoo itu semakin membencinya dan pada akhirnya bicara macam-macam di media tentang Myungsoo. Namun hari ini, sepertinya ia tak bisa menghindar karena rupanya The King dan keluarga dokter Son menggelar rapat darurat mereka di medical center. Mungkin agar mereka bisa ‘memaksa’ Naeun atau mungkin Woohyun untuk bergabung dengan mudah.

Gadis itu memundurkan mobilnya dan berpindah ke gedung parkir umum, mencoba untuk sembunyi dan mengambil jalan pintas menuju kliniknya.

Bahkan jika ayah atau ibunya sudah memerintahkan stafnya untuk mengundur jam praktiknya demi rapat darurat, Naeun harus tetap datang ke kliniknya sekarang. Ia harus melepaskan dahaganya akan rasa penasaran tentang pasien terakhirnya.

Tentang Kim Myungsoo, tentunya. Naeun berpikir ia bisa mendapatkan informasi lain tentang kemunculan lelaki itu lagi dalam kehidupannya tak hanya dari dua lembar kertas konsultasi yang ditulisnya kemarin. Gadis itu merasa wajib untuk tahu mengapa lelaki itu bisa muncul dengan cara yang tak terduga : menjadi pasiennya melalui Chorong. Meski ia sedikit merasakan kemarahan dalam hatinya, karena Chorong mengetahui keberadaan lelaki itu lebih dahulu daripada dirinya.

“ Dimana Eunji?” Naeun yang telah tiba di klinik kejiwaan VVIPnya segera menghampiri meja administrasi yang biasaya diisi oleh Eunji kini ternyata tengah dijaga oleh perawat lain.

“ Selamat pagi, dokter Son. Jadwal praktik Anda diundur 2 jam karena Anda harus ikut rapat—“

“ Aku tahu. Dimana Eunji?”

“ Dia ada di ruangan Anda, bersih-bersih. Tapi sepertinya dia belum keluar karena sedang menemani Nyonya Kim dari The King.”

“ Nyonya Kim ada disini?!”

“ Ya. Dia datang dengan suaminya juga, tapi ia datang sendiri kesini untuk menemuimu secara khusus, katanya.”

“ Jadi beliau ada di ruanganku sekarang?”

“ Ya.”

“ Sialan, sejak kapan ruanganku bisa dimasuki seenaknya?”gadis itu sedikit mendengus, namun mengurungkan niatnya untuk marah karena setidaknya, dia ibu Kim Myungsoo.

“ Selamat pagi. Maaf karena membuatmu menunggu.” Naeun memasuki ruangannya dan terlihat Eunji tengah menemani Nyonya Kim dan kucing angoranya di sofa. Eunji tersenyum lega karena ia bisa pergi sebentar lagi, sedangkan Nyonya Kim mengangguk, memaafkannya.

“ Kalau begitu saya akan kembali ke depan. Saya perlu membuat pengumuman khusus untuk pengunduran jam praktik dokter Son hari ini.” Eunji berdiri dan berpamitan dengan sopan, namun ketika sang perawat melangkah menuju pintu keluar, Naeun segera menahan lengannya dan berbisik di telinganya.

“ Perlihatkan padaku kartu pasien terakhirku yang kemarin. Tidak hanya kartunya, tapi data-datanya juga.”

Eunji mendadak gemetar. Dalam hatinya merutuk, mengapa Naeun harus meminta hal ini padanya? Bagaimanapun juga ia sudah berjanji pada Chorong untuk merahasiakan data kartu pasien milik Myungsoo. Memang, pada awalnya pun ia sudah berpikir ini akan sangat sulit terlebih Naeun sebagai dokternya berhak tahu hal ini, namun paksaan dan uang yang Chorong berikan padanya membuat ia tak punya pilihan selain menurut.

“ Nyonya Kim sudah lama menunggumu. Layani saja dulu beliau.” Eunji mengalihkan pembicaraan dan pelan-pelan melepaskan tangan Naeun yang masih meremas kain seragam perawatnya, setelah itu segera keluar dari ruangan dengan pucat. Wajar, selama ini ia selalu melakukan pekerjaannya dengan jujur, hal semacam ini adalah pertama kali baginya. Ia harus ekstra berhati-hati dan tentu saja ia harus membicarakan hal ini dengan Chorong sesegera mungkin.

Melihat reaksi Eunji, Naeun langsung tahu bahwa jelas ada yang ia sembunyikan. Tapi ia tak akan menyerah, Eunji bukan satu-satunya orang yang bisa membantunya menggali informasi. Masih ada dokter Park Chorong, yang jelas-jelas ‘mengirimkan’ Kim Myungsoo padanya.

“ Sudah kuduga kau akan kesini dulu sebelum ke ruang rapat. Kau pasti lewat jalan pintas. Karena kalau lewat pintu masuk dari gedung parkir VVIP mungkin kau sudah digiring staf keamanan ke ruang rapat.”

Naeun sedikit terkejut karena Nyonya Kim mengetahui apa yang ia lakukan, ia segera duduk di hadapan Nyonya besar kerajaan bisnis The King itu dengan salah tingkah.

“ Ada sedikit keperluan, jadi aku kesini dulu.”jawab Naeun seadanya, Nyonya Kim mengangguk-angguk.

“ Maaf ya karena aku tidak memberi kabar dulu akan datang lagi kesini. Sebenarnya jika keadaan memungkinkan, hari ini aku ingin konsultasi lagi denganmu.”

“ Konsultasi..lagi?”

“ Ya, dengan lebih jujur dan terbuka.”

Naeun tersenyum tipis, mengingat sesi konseling mereka yang pertama beberapa hari yang lalu.

Flashback

 

“ Tapi.. tapi aku tidak gila.. aku tidak gila.. aih.. aku malu sekali berada disini.. kenapa suamiku menganggap aku gila!?”

“ Tidak.. tidak.. itu bukan berarti kau gila. Naeun pasti memahami Anda. Iya kan?”dokter Jung melirik Naeun sesaat, dan gadis itu mengangguk.

“ Bahkan jika memang aku gila, jangan keluarkan diagnosisnya.. aku tidak mau menanggung malu.”

“ Kita mengobrol dulu hari ini, bu.”ucap Naeun ramah, ia segera menuntun mertuanya itu untuk masuk ke ruangannya.

Sementara otaknya mulai menganalisa, apa yang sedang terjadi pada ibu dari kembar fraternal Myungsoo dan Yura ini?

Suasana ruangan Naeun hening sejenak, gadis itu tengah memberi kesempatan pada Nyonya Kim selaku pasiennya untuk berbicara duluan. Namun wanita paruh baya itu hanya menutup mulutnya dan sibuk mengelus bulu-bulu halus kucing angora hitam yang ada dalam lengannya.

“ Bagaimana kabar Anda, bu?”tanya Naeun pada akhirnya, membuka sesi dengan sedikit berbasa-basi.

“ Aku.. aku tidak gila. Catat itu dulu.”

Naeun mengangguk sambil tersenyum, seaneh apapun jawaban pasiennya, seorang konselor yang baik memang harus memakluminya.

“ Tentu saja Anda tidak gila. Siapa yang mengatakan sebaliknya?”

Nyonya Kim terlihat menegang.

“ Aku.. hanya seorang ibu yang terpukul karena kehilangan anaknya. Itu hal yang wajar, bukan? Tapi suamiku mengatakan aku gila.”

Naeun membisu sejenak. Ini sedikit menusuk ulu hatinya juga karena berkaitan dengan Kim Myungsoo. Namun ia yakin seratus persen, Nyonya Kim hanya akan membuka mulutnya tentang Kim Yura, beliau tak mungkin membicarakan Kim Myungsoo karena memang status putra The King yang disandang lelaki itu dirahasiakan serapat mungkin dari keluarga dokter Son.

“ Ya.. aku mengerti.”Naeun menanggapinya dengan tenang dan memberi isyarat agar Nyonya Kim melanjutkan keluhannya.

“ Justru suamiku yang gila, bukan? Dia seperti tak punya penyesalan atas kematian putra dan putri kami..”

“ Putra dan putri?” Naeun memancingnya, Nyonya Kim tersadar dan langsung meralat kalimatnya.

“ Putri kami, maksudku. Kim Yura.”

“ Aku juga terpukul dengan hal itu, ibu. Kim Yura adalah panutanku selama menjadi mahasiswa.”

Nyonya Kim menunduk, buliran-buliran air bening mulai turun dan melunturkan riasan matanya hingga terlihat sedikit.. mengerikan. Wajar, wanita pejabat ini memang selalu memiliki tampilan luar yang nyentrik, tak hanya apa yang dipakainya dan kucing angora yang selalu dibawanya, namun juga riasan tebal di wajahnya.

“ Aku harap kau tidak menceritakan apa yang kukatakan pada keluargamu. Ini hanya akan merusak ikatan pernikahan bisnis yang sudah kita jalin. Tadinya, aku sangat ragu untuk datang padamu, aku ingin berkonsultasi dengan dokter jiwa yang lain atau ke psikolog saja. Tapi suamiku yang memaksaku kesini. Mungkin ia sengaja agar aku tidak bisa bicara dengan bebas.”

Naeun bisa merasakan konflik batinnya. Namun gadis itu merasa beruntung karena akhirnya ia berkesempatan untuk tahu lebih dalam tentang apa yang dirasakan ibu kandung Myungsoo ini.

“ Aku menganggap ini adalah bagian dari pekerjaanku, dan pembicaraan kita adalah pembicaraan antara dokter dan pasien. Jadi aku memegang kode etik yang ada dan tak akan menyampaikan isi pembicaraan ini pada orang lain. Tenang saja.”

“ Tapi bagaimanapun juga kau adalah menantuku.”

“ Percayalah, aku tak akan menanggapinya dengan bias.”

“ Meski begitu aku tetap tak bisa bicara dengan bebas.”

“ Maka konsultasi ini tidak akan berhasil.”

Nyonya Kim nampak dilema, Naeun tahu satu-satunya yang menjadi alasan adalah Kim Myungsoo. Nyonya Kim merasa tak mungkin menyampaikan kedukaannya tentang Myungsoo karena keluarga dokter Son sama sekali tak boleh tahu tentang hal itu.

Namun, dengan teknik cerdas, Naeun yakin suatu saat ia bisa membuat Nyonya Kim mau berbicara jujur tentang Myungsoo. Semuanya hanya soal proses.

 

“ Kalau begitu, kembalilah nanti, disaat kau sudah siap bercerita dan menganggapku sebagai doktermu sepenuhnya. Mari lakukan ini secara bertahap. Aku akan membantumu.”

Nyonya Kim tersenyum getir dan mengangguk.

“ Aku akan belajar mempercayaimu, dokter Son.”

*

Dan disinilah Nyonya Kim sekarang, ia datang lagi pada Naeun dengan wajah penuh pengharapan. Benarkah ia sudah siap dengan proses konsultasi yang sesungguhnya?

“ Jadi, bagaimana kabar Anda hari ini?”

Naeun tak boleh terburu-buru, Nyonya Kim-lah yang harus membuka mulutnya tanpa desakan.

“ Kau datang dengan Woohyun?” beliau justru balas bertanya, Naeun menggeleng.

“ Oh.. aku.. tidak datang dengannya. Hari ini kami pakai mobil masing-masing karena Woohyun ada urusan.”

“ Urusan apa?”

Apa lagi kalau bukan Park Chorong dan anak mereka? Seandainya saja Woohyun tak memperlakukannya dengan baik, Naeun bisa saja bicara jujur dan menjatuhkan lelaki itu hanya dengan satu kalimat.

“ Dia sedang belanja beberapa hadiah untuk pasien-pasiennya. Anda tahu sendiri kan dia dokter yang sangat perhatian.”jawab Naeun berbohong, bahkan dengan bumbu pujian. Woohyun harus membayarnya nanti.

“ Ah.. begitu ya. Tapi, dia akan ikut rapat darurat, kan?”

“ Dia harus ikut?”

“ Tentu saja, dia suamimu. Jangan bilang kau bahkan belum memberitahunya bahwa akan ada rapat hari ini.”

“ Maafkan aku.” Naeun berdiri sejenak dan mengeluarkan ponselnya lalu menjauh beberapa meter, dengan terpaksa menghubungi Woohyun, meminta suaminya itu untuk segera datang ke medical center.

“ Kau dimana?” Naeun buru-buru bertanya sesaat setelah Woohyun menerima panggilannya.

Rumah Chorong.

Dan terdengar suara-suara desahan si pemilik rumah samar-samar. Naeun langsung dapat menebak apa yang sedang dilakukan suaminya itu disana. Dan ingin rasanya ia mengumpat pada dua dokter jenius ini.

“ Cepatlah ke medical center, ada rapat darurat hari ini.”

Sialan. Kenapa mendadak?”

“ Aku lupa memberitahumu, brengsek. Cepat saja kesini.”

“ Aku tak bisa membayangkan sebahagia apa rumah tangga kalian hingga kau bisa memanggil suamimu sendiri dengan sebutan brengsek.”

Naeun tersentak dan buru-buru kembali ke sofa setelah menutup teleponnya. Telinga Nyonya Kim tajam juga, ia kira beliau tak bisa mendengarnya karena ia sudah menjaga jarak.

“ Kami sudah dekat sejak kuliah. Aku bahkan pernah menunjukkan jari tengahku padanya.”

Nyonya Kim tertawa, Naeun memang sengaja membawanya pada situasi yang santai agar beliau semakin nyaman dan semakin mau mempercayainya.

“ Sayang sekali kalian belum membawa kabar gembira. Ini sudah hampir enam bulan pernikahan kalian, kukira kau akan hamil dengan cepat karena gaya hidup kalian berdua sama-sama sehat.”

Siapa bilang? Naeun hanya bisa tertawa miris karena sesungguhnya Kim Myungsoo sudah membuat seluruh aspek kehidupannya hancur, ia sudah lama meninggalkan gaya hidup sehatnya karena kehilangan lelaki itu membuatnya ketergantungan dengan alkohol. Dan lagipula, pria yang menjadi suaminya sekarang bahkan berhubungan seks dengan wanita lain saat ditelepon barusan. Jadi apa yang bisa mereka harapkan?

Mereka hanya refleksi nyata dari definisi rumah tangga paling aneh dan berantakan.

“ Kami tidak terburu-buru juga.”tanggap Naeun, masih dengan berusaha santai.

“ Apa Woohyun memperlakukanmu dengan baik?”

“ Memangnya kenapa, Nyonya?”

“ Mengingat bahwa dia adalah penyebab kematian Yura, membuatku terganggu. Sebenarnya itulah masalah utamaku.”

Oke, proses konsultasi dimulai.

Naeun sudah menduga hal ini. Nyonya Kim tentu tak hanya sekedar berduka, kenyataan bahwa Yura sempat menjalin hubungan dalam waktu yang lama dengan Woohyun dan mengalami patah hati hebat hingga mati tentulah sangat menyakitkan. Tentu, karena beliau juga merupakan orang yang percaya bahwa putrinya bunuh diri. Naeun masih ingat bahwa beliau adalah orang pertama yang menemukan jasad Yura di kolam renang dan langsung menghubungi Woohyun sambil menangis histeris.

“ Lantas mengapa kemarin kau bilang bahwa suamimu.. maksudku.. presdir Kim.. menyebutmu.. gila?”

“ Dia bilang aku gila karena aku masih sangat berharap Yura kembali ke dunia ini.”

“…”

“ Itu gila, bukan?”

Naeun tak bisa langsung mengiyakan, meski siapapun yang mendengar hal ini tentu akan langsung menilainya gila. Tapi jika dilogikakan, tentu wajar jika seorang ibu masih memiliki pengharapan yang demikian pada anaknya yang sudah meninggal. Hanya saja, memang akan menjadi masalah jika ia terlalu percaya bahwa harapan itu benar-benar bisa terjadi.

“ Untuk menerima kenyataan yang menyakitkan, memang tak bisa instan, Nyonya. Anda hanya perlu waktu—“

“ Tidak, dokter Son. Kurasa selamanya aku tak akan bisa terima. Jadi sesungguhnya, daripada aku meminta konselor untuk menyembuhkan luka hatiku, aku lebih memilih meminta tolong seseorang yang bisa memenuhi harapanku.”

“ Maksudmu.. seseorang yang bisa.. mengembalikan Yura kesini?”

“ Terdengar sinting, tapi aku memang sudah menemui.. entah aku menyebutnya apa. Dukun, cenayang, paranormal, entahlah, yang jelas semacam itu. aku rela membayar berapapun jumlahnya asal aku bisa melihat putriku lagi.”

Naeun terhenyak, tak menyangka bahwa Nyonya Kim sudah berbuat sejauh ini. Namun ia memaklumi keputusannya, ia tahu karakter Nyonya Kim yang sangat percaya hal-hal spiritual dan keberuntungan karena Myungsoo pernah menceritakannya.

Kucing angora hitam yang ada di lengannya itu buktinya. Myungsoo pernah mengatakan bahwa kucing itulah sumber keberuntungan beliau. Selama kucing itu masih hidup, beliau percaya bahwa keberuntungan selalu berpihak padanya.

“ Itu.. bukankah..”

Sesuatu menarik perhatian Naeun saat ia menatap kucing itu lebih dalam, matanya terfokus pada kalung emas yang melingkar di leher hewan itu. terdapat ukiran tulisan bahasa Perancis berukuran kecil, namun masih dapat terbaca olehnya.

“Parfois les miracles viennent en paires”

Kadang-kadang, keajaiban datang berpasangan. Apa lagi keajaiban bagi Nyonya Kim jika bukan sepasang kembar fraternal yang ia lahirkan? Naeun menjadi sangat paham akan keadaan Nyonya presdir The King saat ini.

“ Benar. Kadang kita harus melakukan hal gila untuk mengembalikan sesuatu yang masih ingin kita miliki.”

***

“ Rapat darurat? Ada masalah apa?”

Chorong penasaran, ia dan Woohyun terpaksa mengakhiri moment langka mereka setelah Woohyun menerima panggilan dari Naeun barusan.

“ Entahlah, bikin kesal saja.”jawab Woohyun sembari memasang kemejanya, “…haruskah kita punya jadwal seks seminggu sekali?”

Chorong tertawa sinis sembari membantu lelaki itu memakai dasinya.

“ Kau bicara seolah-olah kita sudah menikah.”

“ Anggap saja masa latihan.”

“ Haha. Bagaimana jika aku hamil lagi?”

“ Justru itu bagus. Kau semakin tidak bisa pergi dariku.”

“ Brengsek.”

“ Aku anggap kau setuju dengan tawaranku barusan.”

Mereka berciuman lagi untuk kesekian kalinya.

“ Woohyun-ah, kau benar-benar tidak tahu mengapa ada rapat darurat?”

“ Mungkin mereka akan membahas masalah Jaehwan.”jawab Woohyun menebak-nebak –dan benar–, “…keluarga dokter Son tak mungkin diam saja setelah Naeun diperlakukan begitu, dan sepertinya The King juga ingin ikut-ikutan memojokkan Jaehwan, karena dia juga sering berbuat kasar padaku dan menuduhku pembunuh.”

‘menuduhku pembunuh’. Chorong lagi-lagi teringat tentang DarkAngel serta petunjuk yang membuatnya berdebat panjang dengan Hakyeon tadi malam.

“ Kau.. lahir di bulan Februari, kan?”tanya gadis itu tiba-tiba, dengan mata kosong.

Woohyun nampak heran, “ Kenapa tiba-tiba menanyakan itu? tentu kau sudah tahu.”

“ Kemana saja kau tadi malam?”

Meski masih heran, Woohyun tetap menjawabnya.

“ Menjemput Naeun, lalu menjemput Chohyun. Itu saja.”

“ Setelah itu?”

Woohyun menggeleng, “ Kau pasti sedang curiga akan sesuatu padaku.”

“ Tidak! Tidak sama sekali!”Chorong segera membantah dan menjauh, “…ayo kita pergi sekarang, kau bisa terlambat.”

“ Aku bukan orang jahat, Chorong-ah. Setidaknya, aku berpikir begitu.”

Dia memang pria tak tahu diri.

“ Bahkan jika kau memang orang jahat, berbaiklah hanya padaku.”

“ Sayang sekali, kau harus membeli kebaikanku.”

“ Dengan apa?”

“ Menuruti apapun yang kukatakan. Itu saja.”

“ Oke. Jadi apa yang harus kuturuti sekarang?”

“ Titipkan Chohyun dengan benar.”jawab Woohyun sembari mengeluarkan putra kecil mereka bersama kereta bayinya keluar rumah, mengeluarkan Chohyun dari sana dan melipat kereta bayinya sebelum masuk ke dalam mobil.

“ Sudah kubilang aku tidak tahu lagi dimana tempat penitipan yang lain.” Chorong menyusulnya dan duduk di sampingnya.

“ Aku tidak menyuruhmu pindah tempat.”

“ Lantas?”

“ Jangan lagi letakkan dia di pintu, serahkan dia secara langsung pada orang yang mengasuhnya. Kau harus tahu dengan siapa dia menghabiskan waktunya setiap hari.”

“ Oke, ini memang salahku. Maaf.”

“ Sekarang kita menitipkannya kesana lagi, dan kau harus berkenalan dengan pemilik tempatnya atau pengasuhnya.”

“ Aku mengerti, tukang perintah.”

Woohyun memeriksa jam, ia pun terpaksa mengebut karena sudah pasti The King dan keluarga dokter Son tengah menunggunya sekarang.

“ Sejak kapan ada wine di dalam mobilmu?” Chorong membuka dasbor mobil dan menemukan beberapa botol wine mahal dengan kadar alkohol rendah disana.

“ Sejak aku menjadi suami Naeun.”

“ Apa?”

“ Bukan aku yang mengonsumsinya. Itu untuk Naeun, aku harus mengendalikan kebiasaan minumnya agar otaknya tidak sampai ‘rusak’, makanya aku beli yang beralkohol rendah.”

“ Cih, suami yang perhatian.”

“ Bukan saatnya cemburu masalah itu. turun sana.”

Woohyun menghentikan mobilnya karena mereka sudah tiba di depan rumah penitipan itu.

“ Kau tidak ikut turun?”

Lelaki itu menggeleng. Jelas, karena ia masih trauma dengan wajah Kim Yura yang sempat dilihatnya disana.

“…kenapa tidak ikut?”

“ Cepat saja, aku harus segera datang ke rapat darurat.”

“ Turun, kau harus kenal juga dengan pengasuh anak kita, bukan?”

“ Kau yang lebih harus mengenalnya.”

“ Kita berdua. Jadi kau turun juga. Sekarang.”

Chorong tak ingin berdebat lagi, ia turun duluan dengan Chohyun. Woohyun menghela nafas pasrah dan terpaksa menurut. Sesaat setelah ia turun dan mendekati pintunya yang tertutup, telinganya langsung mendengar suara salah satu lagu FIX yang disetel dengan volume keras di dalam sana.

Lelaki itu semakin takut. Keadaannya sama seperti saat ia bertemu ‘Kim Yura’ di tempat ini. Chorong tak mengerti mengapa Woohyun terlihat tak nyaman, namun ia tak peduli karena lebih memperhatikan Chohyun yang nampak menari-nari kecil mendengar lagu dari dalam.

“ Apa dia tidak dengar suara belnya?” Chorong menekan bel sekali lagi.

Dan seperti biasa, kotak di bawah pintu terbuka, tanda bahwa Chohyun hanya perlu diletakkan disitu.

“…aku ingin bertemu. Tolong buka pintunya!”Chorong sedikit berteriak sembari menekan bel untuk kesekian kalinya.

Suara lagu di dalam perlahan mengecil dan pintu terbuka, seorang wanita muda dengan celak tebal di matanya menyambut mereka.

“ Halo. Aku Park Chorong, ibu Chohyun.”

“ Aaah.. jadi kau orangnya? Senang akhirnya bisa bertemu. Kau seorang dokter, kan?”

“ Ya.. ayahnya juga seorang dokter.”

Woohyun mengangguk dengan sopan meski ia masih tegang, “ Aku Nam Woohyun. Kau.. Kim Taeyeon, kan? Naeun memberitahu namamu.”

Wanita tu mengangguk, “ Oh ya, kau yang sempat kesini dan marah karena keponakanku tidak membukakan pintu, kan?”

Chorong menatap Woohyun dengan heran, Woohyun mengangguk saja dengan salah tingkah.

“ Ya.. aku hanya kesal karena Chohyun disuruh untuk diletakkan di bawah pintu. Aku minta maaf.”

“ Justru aku yang harus minta maaf. Keponakanku itu.. dia memang tidak bisa meninggalkan televisi kalau sudah tayang lagu-lagu FIX, dia seorang penggemar.”

“ Jadi kau punya keponakan disini?”tanya Chorong.

“ Ya, dan sebenarnya dialah yang bersama Chohyun sepanjang hari. Aku punya pekerjaan lain. Dia dan Chohyun sudah sangat dekat, gara-gara dia, Chohyun jadi senang juga setiap kali mendengar lagu-lagu FIX, hahaha.” Taeyeon bercerita sambil tertawa santai, namun sukses membuat Woohyun gemetaran karena satu-satunya yang lelaki itu pikirkan tentang ‘keponakan’ Taeyeon adalah gadis dengan wajah persis seperti Kim Yura.

“ AAH!!”

Woohyun mendadak tersentak, ia ketakutan dan melangkah mundur. Benar saja, tak lama gadis yang menghantui pikirannya muncul di belakang Taeyeon, entah sejak kapan. Mata besarnya mengarah pada Woohyun dan ia tersenyum. Senyum ramah namun jelas terasa menakutkan.

“ Ada apa?” Chorong tak mengerti, Taeyeon ikut heran melihatnya.

“ Itu.. dia.. dibelakang.. siapa..”lelaki itu bicara tak jelas dengan gemetaran, Taeyeon segera menoleh.

“ Siapa? Tidak ada.”Taeyeon tak mengerti, “…keponakanku ada di kamarnya, dia mengurung diri saat tahu kau datang. Dia merasa bersalah karena sempat tidak sopan padamu. Jadi, maafkan dia ya. Dia janji kedepannya akan membukakan pintu untukmu,”

Tidak. Sebaiknya tidak usah. Woohyun benar-benar tak mau kembali lagi ke tempat ini. Ingin rasanya ia pergi sekarang juga meski wajah Yura di belakang Taeyeon sudah menghilang, tapi Chorong belum menunjukkan tanda-tanda ia ingin pamit.

“ Bisa panggil dia kesini? Kami ingin berkenalan dengannya.”ucap Chorong, Woohyun semakin gemetar.

“ Hei, tidak usah.. aku buru-buru.”bisik lelaki itu panik, Chorong tak peduli.

“ Kau sendiri yang bilang aku harus kenal dengan siapa Chohyun menghabiskan waktunya disini.”

“ Tapi—“

“ Sebentar ya, aku panggilkan.” Taeyeon masuk sebentar, Woohyun tak tahan dan ia pergi, masuk ke dalam mobilnya.

“ Sialan.. sialan.. apa yang terjadi padaku?” Woohyun membenturkan keningnya berulang kali pada setir mobil, tak lama Chorong masuk dan mencegahnya untuk melakukan hal bodoh itu.

“ Kau kenapa hah?”

“ Kau bertemu dengannya?!”tanya Woohyun cepat, dan tentu saja masih panik. Chorong menggeleng.

“ Taeyeon bilang dia sedang mandi, jadi ya..tidak ketemu.”

Woohyun menyandarkan tubuhnya dan menggosok mata serta kepalanya berulang kali hingga rambutnya berantakan.

“ Kenapa aku harus sesial ini, sih?”

“ Kau aneh. Sejak kemarin-kemarin kau aneh.”ucap Chorong, “…aku masih ingat kau sempat mengigau tentang Kim Yura saat kau tidur di ruang istirahat dokter. Apa yang terjadi sebenarnya?”

Woohyun berhenti bersandar dan mulai bersikap biasa-biasa saja.

“ Aku tidak apa-apa.”

Karena rasanya memalukan jika ia harus jujur bahwa ia sedang merasa diteror dan ketakutan setengah mati.

“ Kau yakin?”

“ Ya. Aku hanya lelah. Jadi sekarang kemana kita?”lelaki itu mengalihkan pembicaraan, Chorong terdiam sejenak.

Seharusnya Chorong mengunjungi Myungsoo seperti biasa, ia bahkan sudah telat hari ini. Tapi bagaimana mungkin ia bisa bergerak jika masih ada Woohyun bersamanya?

“…ah.. aku baru ingat kau harus mengunjungi pasien rumahan kesayanganmu. Kebetulan sekali aku ada disini, aku bisa mengantarmu.” Woohyun tertawa licik, Chorong mulai geram.

“ Aku turun disini saja. Bukannya kau harus segera rapat?”

“ Aku akan rapat setelah mengantarmu ke apartemennya. Aku juga ingin tahu dimana letak tempat itu.”

Tak akan kubiarkan. Batin Chorong. Terlebih sesungguhnya mereka sudah sampai di tempat tujuan. Hanya tinggal menyusuri lorong di samping rumah penitipan, mereka sudah bisa menjumpai apartemen terpencil tempat Myungsoo diasingkan.

Ternyata memang sulit jika Woohyun harus mengawasinya setiap pagi seperti ini, Chorong tak bisa lancar melakukan rutinitasnya menitipkan Chohyun dan langsung mengunjungi Myungsoo.

“ Dia bukan urusanmu, dia urusanku. Jadi tidak perlu repot-repot.” Chorong membuka pintu mobilnya untuk keluar, namun Woohyun menguncinya hingga tak bisa ia buka secara manual.

“ Akan menjadi urusanku jika kau masih tidak menurut dan memberikan obat yang benar untuknya.” Woohyun merogoh tas kerja Chorong dan membukanya tanpa izin, Chorong merampasnya lagi dan terjadilah rebutan konyol di dalam mobil.

Woohyun mengalah ketika ponselnya kembali berbunyi. Kali ini presdir Kim yang langsung menghubunginya.

“ Keluar sana.”lelaki itu akhirnya membukakan pintu untuk Chorong dengan berat hati karena ia tak punya waktu lagi, ia harus segera rapat di darurat di medical center.

“ Rasanya baru beberapa detik yang lalu kita telanjang bersama karena saling mencintai, sekarang kita harus bertengkar lagi. Lucu sekali.”ucap Chorong sarkastis sembari turun dari mobil dan membanting pintunya. Meski kesal, di satu sisi ia lega karena Woohyun tak jadi mengikutinya ke apartemen Myungsoo.

“ Jika kau tak mau memberitahuku dimana letak apartemennya, The King pasti memberitahuku, bahkan informasi lain yang lebih dari itu. Aku punya kuasa, aku selalu ribuan langkah di depanmu, sayang. Camkan itu.”

Chorong ingin mengumpat lagi mendengar kesombongan Woohyun, namun kesempatannya hilang karena lelaki itu langsung melesat pergi dengan kecepatan tinggi.

“ Bajingan!”

***

“ Kau tidak akan mengatakan apapun yang kuceritakan tadi, kan?”

Nyonya Kim masih saja ragu pada Naeun, ia duduk disamping gadis itu di ruang rapat. Nampaknya ia mulai membangun kepercayaan pada menantunya itu.

Naeun hanya mengangguk, ia berusaha menjaga sikapnya di depan presdir Kim dan kedua orangtuanya serta beberapa orang pengacara di tempat ini. Rapat belum dimulai karena Woohyun belum datang.

“ Selamat pagi. Maaf aku terlambat.” Woohyun memasuki ruang rapat dengan tangan yang masih sibuk merapikan jas dokternya.

“ Darimana?” tanya presdir Kim datar, satu kata itu saja terdengar mengerikan jika keluar dari mulutnya.

“ Aku—“

“ Naeun bilang dia pergi membeli hadiah untuk pasien-pasiennya.”Nyonya Kim yang menjawab, Naeun mengangguk. Woohyun tersenyum tipis kearah gadis itu, merasa berhutang.

“ Ya. Naeun benar.”jawabnya kemudian, mengikut alur kebohongan, setelah itu mengambil duduk di sebelah kiri istrinya itu, dan..

Cup.

“ Selamat pagi, istriku. Aku menyesal meninggalkanmu disaat kau masih tidur. Maafkan aku ya.”

Naeun terkejut, Woohyun mencium bibirnya sekilas dan mengucapkan kebohongan yang… uh, menggelikan. Aktingnya benar-benar sempurna dan membuat keluarga mereka terkesan melihatnya.

“ Akan kubunuh kau nanti.”bisik Naeun geram.

“ Bunuh saja kau bisa.”balasnya.

“ Melihat kalian seharmonis ini, kurasa rumor tentang dokter Nam dan dokter Park Chorong tidak benar.”komentar dokter Son, diikuti tatapan mengerikan dari presdir Kim.

“ Ya.. ya tentu saja itu tidak benar. Kami hanya teman.”jawab Woohyun cepat.

“ Jadi kau berhubungan intim dengan temanmu tadi pagi?”bisik Naeun sarkastis, dan Woohyun tak mau menanggapinya.

“ Dan melihat kalian seharmonis ini, aku rasa Woohyun tentu saja marah dengan perlakuan Jaehwan pada Naeun kemarin.”ucap dokter Jung, ibu Naeun, sekaligus membuka rapat.

“ Ya. Tentu saja. Aku menyesal tidak ada disana dan menolong Naeun.”jawab Woohyun, masih dengan akting ‘suami yang baik’nya. Naeun benar-benar mual.

“ Karena itulah kita berkumpul disini. Keluarga dokter Son berencana untuk menuntut pihak Jaehwan atas ini semua. Bukan hanya karena Jaehwan mempermalukan dokter Naeun, tapi dia juga sudah menimbulkan kegaduhan di poliklinik VVIP medical center.”jelas presdir Kim, “…dan kami, The King, akan membantu mereka mengajukan tuntutan ini. Mengingat Jaehwan juga sering menunjukkan indikasi bahwa dia menuduh dokter Woohyun sebagai pembunuh Kim Yura.”

Woohyun dan Naeun saling tatap, seakan sama-sama sedang mengancam satu sama lain untuk tidak membuka mulut.

“ Akan tetapi, apabila kita mengingat status yang ditulis Yura dalam situs bunuh diri sebelum kematiannya. Apakah Anda setuju bahwa ia memang mati karena dokter Nam Woohyun?”tanya salah seorang pengacara disana, Naeun merasakan tangan lemah Nyonya Kim meremas tangannya, wanita paruh baya itu tentu sedih dengan pembahasan ini.

Sementara Woohyun memilih untuk menutup mulutnya saja, bayang-bayang Kim Yura di rumah penitipan itu masih belum meninggalkan benaknya.

“ Apapun penyebabnya, Yura mati karena pilihannya sendiri. Dia bunuh diri dan itu membuatku kecewa.”jawab presdir Kim, “…tapi aku tahu, aku tak mungkin kecewa pada anakku sendiri. Jadi daripada menyesali ini semua, lebih baik aku menerima kematiannya dengan lapang dada. Ya.. aku akui, saat itu Yura memang memperkenalkan dokter Nam sebagai kekasihnya pada kami, tapi itu adalah kesalahannya karena aku tak pernah mengizinkannya berhubungan dengan lelaki manapun, aku sudah mempersiapkan rancangan pernikahan untuknya dan Lee Jaehwan. Jadi, jika pada akhirnya aku justru mengangkat dokter Nam sebagai putraku dan dia sakit hati karena itu, itu adalah konsekuensi yang memang harus diterimanya sebagai putri yang lahir dengan sendok emas The King.”

Presdir Kim menyampaikan pernyataan kejamnya dengan cara yang bijak, sehingga siapapun di ruangan itu yang mendengarnya tak mampu membantahnya.

“ Yah, lagipula dokter Nam juga setuju untuk merelakan hubungannya dengan Yura dan memilih untuk menikahi putri kami.”sambung dokter Jung, ibu Naeun.

“ Lagipula kau tidak merasa bersalah atas kematian Kim Yura, kan? Kau memang tidak perlu merasa bersalah karena Yura sendiri yang memilih untuk mati.” ucap presdir Kim pada Woohyun. Semakin dan semakin membuatnya terlihat kejam.

Woohyun menggeleng pelan meski hatinya berkata sebaliknya.

“ Aku hanya bisa berdoa ia bahagia di surga sekarang.”

Naeun tersenyum sinis. Ini rapat yang benar-benar menggelikan.

“ Kembali lagi pada masalah Naeun dan Jaehwan. Aku sebagai orangtuanya dan pemilik medical center sudah mengatur bagaimana tuntutan ini akan berjalan, dan di rapat ini, aku akan meminta persetujuan dokter Nam sebagai suami dan wali dari Son Naeun untuk melakukan hal ini.”dokter Son bersiap untuk menyampaikan inti dari rapat darurat yang mereka adakan.

“…terhitung hari ini, dokter Son Naeun menghentikan praktiknya di poliklinik VVIP medical center sebelum Lee Jaehwan/Ken meminta maaf padanya atas insiden yang terjadi kemarin. Alasan yang akan kita sampaikan ke media terkait berhentinya praktik dokter Son adalah ketakutan jika Jaehwan mendatanginya lagi ke medical center. Jika Lee Jaehwan/Ken tidak juga meminta maaf secara kekeluargaan, maka kita baru akan membawanya ke jalur hukum dan membuat dia mempertaruhkan karirnya sebagai seorang penyanyi.”

“ Apa!? Tidak.. tidak bisa..!” Naeun langsung tak setuju.

Ia bahkan belum menjadwalkan pertemuan ‘nyata’nya dengan Myungsoo, pasiennya.  Ia tak bisa berhenti begitu saja hanya karena masalah bodoh ini.

“ Aku belum selesai, dengarkan dulu.”sahut sang ayah pelan namun tegas, Naeun terpaksa menutup mulutnya.

“ Selanjutnya. Selama masa ‘mogok kerja’nya dari medical center, dokter Son Naeun hanya bisa menerima pasien di klinik darurat yang bertempat di kediaman keluarga dokter Son. Dengan kata lain, untuk sementara sampai Lee Jaehwan meminta maaf padanya, dokter Son Naeun akan membuka praktiknya di klinik darurat. Selain itu, dokter Son Naeun juga diizinkan untuk menerima tawaran-tawaran seperti interview, talkshow, atau menjadi model iklan dan sebagainya, karena masalah ini tidak boleh menjadi penghalang bagi popularitasnya yang sedang menanjak sejak menjadi dokter jiwa untuk Jaehwan.”

“ Mengapa harus seperti itu..” Naeun mengeluh, namun ayahnya nampak tak peduli.

“ Bagaimana, dokter Nam? Apa kau menyetujuinya?”tanya dokter Son langsung, Naeun buru-buru memberi kode agar Woohyun menolak usulan itu, namun apa yang bisa ia harapkan dari lelaki licik ini?

“ Tentu saja aku setuju. Ini sangat tepat untuk kebaikan Naeun. ia akan lebih aman bekerja di klinik darurat untuk sementara waktu.”tanggap Woohyun, Naeun tak bisa lagi mengelak.

“ Bagaimana denganmu, dokter Nam? Haruskah kami mengajukan tuntutan juga atas sikap sinis Jaehwan padamu?”tanya presdir Kim, Woohyun segera menggeleng.

“ Aku tidak seperti Naeun yang bisa pindah tempat praktik dengan mudah, aku tidak pernah tahu berapa banyak pasien yang aku hadapi setiap hari.”

“ Yah, tentu saja. Itu salahmu karena tidak mau pindah ke klinik VVIP dan betah di departemen bedah lantai bawah yang menerima semua kalangan. Itu pasti melelahkan.”ucap dokter Jung.

“ Mengapa kau masih belum mau pindah juga ke VVIP?”tanya Nyonya Kim.

Woohyun tak mungkin menjawab bahwa satu-satunya alasan adalah keberadaan Chorong disana.

“ Aku merasa berguna mengurangi korban bunuh diri disana yang datang hampir setiap hari. Di poli bedah VVIP mungkin aku hanya akan banyak diam, aku tidak suka itu.”

“ Kau dokter yang berdedikasi, tapi beritahu aku jika suatu saat kau lelah dan ingin keluar dari ruang operasi, aku akan mengurus posisi baru untukmu.”

“ Ya, tentu.”

“ Oke, jadi.. terhitung hari ini, Naeun bisa meninggalkan kliniknya. Klinik darurat di rumah sudah dipersiapkan dan kau boleh membawa asisten atau perawat jika kau perlu.”jelas dokter Jung, Naeun masih mematung karena benar-benar tak menginginkan hal ini.

“ Kau punya 30 menit untuk membereskan klinikmu, jemputan akan datang di lobi utama, beberapa wartawan berkumpul disana. Mereka harus meliput kepergianmu agar orang-orang percaya kau melakukan itu karena takut dan menuntut perminta maafan Jaehwan.”sambung dokter Son.

Benar-benar permainan yang mulus. Naeun yakin Jaehwan justru akan semakin murka saat mengetahui hal ini.

“ Aku akan menemuimu nanti. Semangatlah.”Woohyun tersenyum palsu padanya, membuatnya kesal dan ingin cepat-cepat pergi.

Ia pun keluar dengan berat hati, diikuti kedua orangtuanya yang juga berdiri dan ingin pergi ke lobi depan untuk melayani awak media yang memang sudah dipanggil untuk meliput tuntutan mereka.

“ Oh ya, karena kami kebetulan sedang di medical center, aku jadi ingin melakukan rapat internal The King. Jika Anda mengizinkan.”kata presdir Kim pada dokter Son, Nyonya Kim dan Woohyun terkejut karena tidak ada rencana untuk rapat internal sebelumnya.

“ Tentu. Gunakan saja ruangan ini. Jangan khawatir, tidak ada kamera CCTV sama sekali.”dokter Son dan dokter Jung mengizinkan dan mereka pamit untuk keluar lebih dulu dari ruangan disusul oleh staf yang lain.

Kini, di ruangan itu hanya ada Woohyun bersama pasangan suami-istri The King yang telah lebih dari setahun menjadi orangtua angkatnya.

“ Kalian pasti tahu apa tujuanku mengadakan rapat kecil mendadak kali ini.” Presdir Kim membuka pembicaraan.

“ Tentang Kim Myungsoo.”tebak Nyonya Kim dengan nada getir, presdir Kim mengangguk dan ia menyerahkan sebuah berkas pada Woohyun yang sejak tadi ia simpan di belakang kursi rodanya.

“ Itu data perkembangan Myungsoo dengan lampiran catatan dari instalasi farmasi terkait obat-obatan yang diambil dokter Park Chorong untuk Myungsoo. Aku tidak mengerti cara membacanya, jadi tolong beritahu aku. Dan katakan padaku jika dokter Park tidak melaksanakan perintah dengan tepat.”

Woohyun membukanya dan ia tersenyum sinis, sudah menduga bahwa Chorong memberikan penanganan yang tepat untuk Myungsoo, tidak sesuai yang diinginkan oleh The King. Dan tentu saja, tidak menuruti permintaannya.

“ Ya, mempekerjakan dia sepertinya adalah suatu kesalahan.”ucap Woohyun sembari membolak-balik berkas itu berulang kali.

Presdir Kim mulai geram.

“ Panggil dia kesini.”

***

“ Selamat pagi. Maaf aku benar-benar terlambat hari ini. Ada urusan yang tidak bisa kutinggalkan.”

Chorong memasuki apartemen Myungsoo dan mendapati pasien tampannya tengah duduk di hadapan komputer.

Myungsoo terlonjak, sesegera mungkin ia menutup tab emailnya bahkan mematikan komputernya. Ia sedang melihat-lihat kembali gambar foto-foto Chorong yang dikirimkan DarkAngel semalam, ia masih sangat bertanya-tanya akan hal itu.

Dan kini, lelaki itu menjadi lebih tegang ribuan kali lipat bertemu dengan dokter pribadinya. Hatinya terus bertanya-tanya. Apa dia sungguh cinta pertamaku? Bagaimana ceritanya? Lalu mengapa ia harus datang sebagai dokterku sekarang? Apa saja masa lalu yang tersembunyi diantara kami?

“ Bagaimana keadaanmu?” Chorong menghampirinya, gadis itu berlutut dan menyentuh kakinya yang terbalut perban, lalu dengan pelan mulai menggantinya sembari mengobatinya terlebih dahulu.

“ Biasa.. saja.”jawab Myungsoo gugup, membuat Chorong sedikit heran.

“ Kemana Sungyeol?”

“ Dia mulai bekerja hari ini.”

“ Oh. Oh ya, kudengar kau tidak sempat bertemu dokter Son Naeun kemarin.”

“ Ya, kami tidak sempat bertemu.”

“ Sayang sekali.”

“ Apa dia baik-baik saja?”

“ Maksudmu?”

“ Aku menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri, dia ditarik paksa oleh seorang artis bernama Ken. Mungkin kau tahu kabarnya sekarang, aku sedikit khawatir.”

“ Aku akan mengatur jadwal pertemuan berikutnya untuk kalian, jadi nanti kau tanya saja sendiri.”

Drrt..drrt..

Myungsoo melihat ponsel Chorong yang tergeletak di lantai bergetar dan menyala. Ada sebuah panggilan masuk.

“Nam.. Woo..Hyun?”lelaki itu membaca nama pemanggilnya sebelum Chorong akhirnya meraih benda itu dan menerima panggilannya. Kemudian dengan segera menoleh ke arah mejanya dan menatap sebongkah kamera rusak di atas sana, benda yang ia temukan sebagai petunjuk pertama akan masa lalunya. Ia masih ingat betul, bahwa note misterius dengan pengirim tanpa nama yang ditinggalkan bersama kamera itu memuat nama ‘Nam Woohyun’ di dalamnya.

Kau pernah bilang benda ini adalah hidupmu yang bahkan jauh berharga dibanding aku.

Seperti inilah hidupmu sekarang, Kim Myungsoo. Hidupmu telah hancur.

Keluargamu bahkan meninggalkanmu, aku tak punya alasan untuk mempertahankanmu.

Jadi, maafkan aku. Kita cukup sampai disini saja.

Aku ingin punya masa depan yang cerah, aku tak ingin hancur bersamamu.

Mulai sekarang, aku akan mencoba menjalani semuanya dengan Nam Woohyun.

Selamat tinggal.

Myungsoo masih ingat jelas, bahkan ia masih menyimpan catatan itu.

Mungkinkah…Chorong…

Tidak. Tidak. Myungsoo masih ragu jika Chorong yang menulis catatan itu untuknya, meski ia mendapatkan fakta juga bahwa dokter wanita ini adalah cinta pertamanya. Kehadiran DarkAngel yang menerornya terus menerus membuatnya berpikir bahwa masa lalunya jauh lebih rumit dari yang ia bayangkan.

“ Apa?”terdengar Chorong menjawab panggilannya dengan malas sekaligus kasar, Myungsoo tak mengerti.

Kau dimana?”tanya Woohyun, suaranya terdengar pelan dan penuh gengsi karena ia sedang berada di tengah presdir dan Nyonya Kim.

“ Aku? Tentu saja sedang berada di apartemen pasien rumahanku.”jawabnya sengaja dengan unsur memanas-manasi.

“ Kau dipanggil presdir. Sekarang.”

Chorong tidak terkejut. Ia pasti akan diminta melaporkan kondisi Myungsoo, atau mungkin akan dibantai jika ketahuan menjalankan prosedur yang tak sesuai keinginan keluarga jahat itu.

“ Oh ya? Hei, Myungsoo, aku dipanggil orangtuamu. Mereka ada di medical center sekarang.”dengan sengaja, Chorong berbicara pada Myungsoo, dan sukses membuat Woohyun naik darah di seberang sana.

Myungsoo terkejut, “ B..benarkah?”

“ Ya. Kau mau bertemu mereka?”

“ Park Chorong, jika kau nekat membawa Kim Myungsoo kesini, kupastikan kau tak akan selamat—”Woohyun mulai mengancamnya, Chorong tertawa sinis.

“ Aku akan datang. Tunggulah.”

Chorong memutus teleponnya disaat Woohyun masih mengoceh mengancamnya, gadis itu menyelesaikan pekerjaannya mengganti perban Myungsoo kemudian berdiri dan menyentuh tangan pucat lelaki tampan yang tak berdaya itu.

“Ayo, ikut aku ke medical center.”

*

Advertisements

11 responses to “SUICIDE FORUM [Part 4 : The Beginning (1)]

  1. Akhirnya update jg. 😄😄
    Sempet diawal ngira naeun si pemilik akun darkangel. Kemudian curiga ke taeyeon.. Eeeh kenapa skrang semakin curiga ke NWH. Oooo..oo
    And then.. Jangan” kim yura memang masih hidup?
    Aku penasaran banget kak 😂😂😂
    Jangan lama” ya kak update nya. Semangaaaaat!!!!

  2. Tebakan aku sih yang gunain DarkAngel itu Naeun. Bukannya dulu yang buat user DarkAngel itu Myungsoo bareng Naeun? Makanya jenis kelamin laki-laki tapi bulan lahir Februari, bulan lahir Naeun. Eh iya ga sih? Wkwk.
    Woohyun nya makin picik aja. Naeun sama Myungsoo juga kapan ketemunya. Greget 😦

  3. Mau nambah komen lagi wkwk. Kayak baca riddle ini, jadi greget sendiri. Itu Yura nya berarti reinkarnasi gitu ya? Ada magic magic nya(?) :’D

  4. ya ampun, banyak rahasia mulai terkuak disini
    awalnya aku kira darkAngel itu naeun, eh malah aku jadi berubah fikiran kalo darkAngel itu woohyun
    trus itu kayaknya keponakan taeyeon beneran yura yg hidup lagi deh, firasatku doang sih,
    bener2 suka sama idenya chorong yg ngajakin myung ke medical center euy, semoga dia ketemu naeun disana atau ken mungkin??
    next chapter keep writing ya
    haduuh mesti nunggu lagi, tapi gk apa2, yg penting diposting ya kk citra

  5. Wah, ini dia yang ditunggu tunggu, akhirnya update juga. Dua lagi! Belum dibaca sih, tapi aku dah penasaran nih…
    Keep writing ya, ’cause i love so much all of your story from beggining ’till now. Anyeong.

  6. yeyyy.. finnalyyyy ka citraa yg ditunggu tunggu update jugaa.. pass bgt updatenya di hari ultahnya mas eL kesayangan..wkwk udh niat ya kak??hahaha
    .
    .
    btw ku belum baca ff nya..masih baca notenya aja udh dibikin penasaran..wkwkwkwk
    ffnya ka citra emang kereenn.. dari jaman baheula sampe w mau lulus gini gapernah bosen sama ff nya ka citra..
    btw ga punya niat buat nerbitin novel kak??sayang loh padahal tulisan ka citra kerennn bgt..
    udh deh cuap”nya..mo tidur dulu,besok pagi bangun langsung baca..wkwk
    mangaaat ka citra^^
    .
    .
    .
    ps : btw kujuga ga bisa move on dr karakternya taeyon eomma kak..
    dan satu lagi..
    karakter antagonis ka citra yg sampe skrg belum ilang di hati,tiap denger namanya langung bikin darah tinggi wkwk..
    GOO WOORI..wkwkwk
    masih inget ga ka cit???hahahaha
    entah tulisan ka citra yg trlalu ngena apa dirikunya yg terlalu menghayati sampe” kebawa sampe skrg tuh rasa jengkelnya..wkwk maafkan dakuu kak

  7. aduh bingung aq mau komen darimana…
    baca chap 3&4 part 1 ngabisin waktu hampir seharian kak cit.. wkwk efek otakq yg lemot bgt ngecerna ff ini .. maklum diriku gaada darah” detektivnya sama sekali wkwkwk..
    satu kata buat ff ini
    “DAEBAKK” baru chap awal aja kita udh dibikin pusing buat mecahin clue” yg udh diselipin ke ff ini..but inilah yg bikin seru..
    btw otak ka citra terbuat dr apasih kok bisa bikin ff sekeren ini??wkwk salut bgt pokonya..
    dan liat sosok naeun aq jadi bayangin ka citra..wkwk kalo gasalah ka citra kuliah jurusan psikologi kan??kereen bgt kak..
    .
    .
    btw menurutq yg jd darkangel itu pasti naeun ya??dan juga naeun pasti tau kalo myungsoo itu blm mati.. kan yg bikin akun itu kan si myung sama naeun pasti naeun tau dong sama pw’nya..
    dan juga soal surat di kamera itu ,itu pasti surat yg dikirim orang lain mungkin woohyun kali ya atas nama naeun .biar myungsoo ngiranya Naeun udh gamau sama dia n pindah ke Woohyun biar si myungsoonya depresi..

    .
    terus yg dateng ke studionya myungsoo itu pasti naeun ya?trs dia nge porak porandain studionya myungsoo, dan nemuin koleksi foto chorong disana ..trs baru dia kirim fotonya ke myungsoo lewat akun darkangel..kan di pesannya kayanya akun darkangel itu marah sama myungsoo.. mungkin aja dia cemburu n marah myungsoo sering bgt curi” foto chorong makanya dia chat myungsoo dgn capslock gitu..hahaha,tebakan macam apa ini..
    .
    .
    dan Taeyeon itu sbnernya dukun kan??trs si yura emang hantu yg dihidupin kembali buat emaknya myungsoo kan?pantesan tiap mau ktmu yura pasti ada aja alesanya.. dan waktu dijalan yg mau ditabrak woohyun itu,itu emang hantunya yura kan??smg aja tebakanq bner.
    .
    .
    dan buat sungyeol..dia pasti punya peran besar disini,, kesel ih sama dia.. maksudnya apa nyembunyiin pesannya naeun buat myungsoo itu..lagian ngapain sih dia nulis emailnya segala.. ntar kalo Naeun ngechat di emailnya sungyeol gmn??smg aja sungyeol di pihaknya myungsoo dan bukan trmasuk karakter jahat disini..
    .
    .
    dan buat myungsoo ,cepatlah ingatt sayangg.. greget akunya nebak” mulu..
    semoga aja tebakanku ini bener.
    dan maaf ya kak kalo komenq kepanjangan..

  8. Waah alurnya makin misterius emang bener2 nggak bisa ketebak. Keren author eonni ditunggu ya lanjutannya ^^

  9. Setiap selesai baca update’an ff terbaru kak cit.. aku selalu speechless:”) bener-bener gaktau mau ngomong apa, mau comment apa. Makin seru aja parahhhh ff ini, kepo bangettt aku sama yang punya akun DarkAngel. Parahhh. Hahahaha. Oiyaaa senengg banget part 2 nya juga langsung di publish. Makasih banyak kakk, ayafluuu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s