SUICIDE FORUM [Part 4 : The Beginning (2)]

 

Suicide Forum fix

-cont

Kantor kepolisian metro Seoul, 10.00 A.M

“ Kapten, selamat pagi!”

Seorang pria paruh baya yang sedang menyesap kopinya terkejut ketika seseorang mengejutkannya dari belakang. Dan ketika ia menyadari siapa yang telah mengganggunya, ia sedikit mendengus.

“ Detektif Sungyeol, haha. Kau masih hidup rupanya. Siapa yang mengizinkanmu masuk kantor, hah?”

Sungyeol mengangguk-angguk saja, ia tahu akan diperlakukan seperti ini oleh atasannya. Tapi dengan wajah yang tetap bersemangat, ia buru-buru merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan selembar kertas dari sana kemudian menunjukkannya pada sang kapten.

“ Lihat. Aku dapat petunjuk baru.”

“ Apa itu?”

“ Dokter Son Naeun yang terkenal itu, dia mengirim email pada Kim Myungsoo. Melalui aku. Lihat, ini screenshotnya.”

Sang kapten sedikit melotot sembari merampas kertas dari tangan Sungyeol, membacanya lekat-lekat.

“ Anak TK juga bisa membuat seperti ini, bodoh. Jangan tipu aku dan lupakan saja kasus itu. bisakah kau hidup tenang? Kasus Kim Yura sudah lama ditutup, apa lagi yang kau cari? Dia bunuh diri. BUNUH DIRI! Berapa kali lagi harus kukatakan padamu, hah!?”

Sungyeol menarik nafas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan kesabarannya yang hampir habis.

“ Kalau kau bilang anak TK bisa membuatnya, untuk apa aku pindah tempat tinggal dan rela didiskors dari kedinasan selama sebulan olehmu? Lebih baik aku suruh anak TK dekat sini saja yang membuat ini.”jawabnya sembari mengetuk-ngetuk pelipisnya dengan jari telunjuk, entah sedang bercanda atau sedang mendebat atasannya itu.

“ Oke. Anggaplah ini bukti yang valid. Tapi sayang sekali, aku tidak mau peduli. Berurusan dan menyelidiki masalah internal The King, keluarga dokter Son, atau keluarga besar Leeves Entertainment itu terlalu berbahaya, berapa kali harus kuulang perkataan ini? Kenapa kau tidak paham-paham juga?”

“ Tapi—“

“ Lagipula ini hanya kasus bunuh diri, Sungyeol-ssi. Kim Yura bunuh diri seperti ribuan orang lain yang teracuni oleh forum populer itu. case closed. Mencari tahu siapa pembunuhnya hanya akan membuatmu gila.”

Sungyeol terdiam sejenak, tubuh tingginya masih berdiri dengan kaku.

“ Tapi kau.. mengizinkanku.. menyelidikinya. Walaupun kau tidak memberiku fasilitas, walaupun kau membiarkanku melakukannya sendirian. Tapi.. kau mengizinkanku.”

“ Ya. Aku mengizinkanmu dengan harapan kau menyerah saja. Aku tidak menyangka kau justru semakin gigih, seakan hanya untuk itu saja kau bersusah payah menjadi polisi. Kalau kau memang menginginkan promosi jabatan, aku bisa memberimu berkas kasus lain yang tidak perlu bersentuhan dengan tiga keluarga konglomerat itu.”

Kini Sungyeol mengarahkan mata bulatnya ke arah petugas-petugas lain serta rekan-rekannya yang tengah bekerja di kantor. Mereka semua memperhatikannya. Entah dengan tatapan meledek atau justru prihatin.

“ Aku bertahan pada kasus ini bukan karena aku menginginkan kenaikan jabatan, tapi karena aku—”

“ Karena kau penggemar fanatik Kim Yura? Ckckck, bayangkan jika semua polisi korea sepertimu, mungkin negara ini sudah hancur.”

Sungyeol masih sabar.

“ Ya. Memang itu salah satunya. Yura adalah idolaku, temanku, seseorang yang penting bagiku. Tapi alasan itu bukan yang utama, kapten. Sebagai orang yang sepanjang hidupnya menyibukkan diri untuk memperhatikan Kim Yura, aku bisa merasakan bahwa kasus kematiannya bukanlah bunuh diri.”

Sang kapten meletakkan cangkir kopinya dan dengan malas berjalan menuju rak arsip, mengambil satu berkas kasus dari sana dan membukanya, menunjukkan suatu data pada detektif jangkung di depannya.

“ Kau lihat ini?”

DarkAngel.”jawab Sungyeol pelan, “…akun yang mengindikasikan niat bunuh diri Yura.”

“ Inilah petunjuk utamanya, bodoh! Tapi apa kau sudah menyelidikinya? Pasti belum dan tak akan mungkin, The King melarang keras polisi untuk menyentuh akun ini karena isi status-status yang ditulis disana sangat sensitif dengan masalah internal keluarga mereka. Jadi jangan bermimpi untuk bisa menyelesaikan kasus ini!”sang kapten menutup map berkasnya dan memukul kepala Sungyeol dengan benda itu berulang kali.

Sungyeol mengusap-usap kepalanya, ia kelihatan masih ingin mengotot.

“ Jadi, kau menyuruhku menyerah dengan kasus ini karena menurutmu Yura memang bunuh diri.. atau karena kau takut dengan kekuasaan The King?”

“ Menurutku, Yura memang bunuh diri.”

“ Aku tidak yakin.”sindir Sungyeol sembari mengeluarkan kembali print out screenshot email yang sempat ia banggakan di depan kaptennya itu, melipat kertasnya dengan rapi dan menyelipkannya di saku atasannya itu.

“ Simpan saja bukti baru dariku itu, captain. itu informasi berharga, sekarang hanya kita berdua saja polisi yang tahu bahwa putra kandung The King punya hubungan asmara dengan putri tunggal keluarga dokter Son yang sudah menikah. Skandal besar, bukan?”

Sungyeol mengerlingkan matanya pada sang kapten sembari memberi hormat dan pergi meninggalkan kantornya. Ia tahu kaptennya semakin tak tahan dengan perilakunya, namun ia sama sekali tak peduli karena prinsipnya untuk mengusut tuntas kasus Kim Yura masih belum terpatahkan.

Lelaki itu memasuki mobil dinasnya dan meluncur keluar dari area kantornya, mengarahkan kendaraannya tersebut menuju columbarium (rumah abu jenazah) tempat hasil kremasi jasad Kim Yura disimpan. Hari ini, ia berniat menyampaikan perkembangan usahanya mengungkap kasus kematian gadis itu, dengan harapan gadis itu mendengarnya dan merasakan sedikit ketenangan dan keadilan.

Lee Sungyeol sudah menghabiskan sebagian umurnya untuk menjadi penggemar fanatik Kim Yura selama gadis itu menjadi duta mahasiswa di masa-masa kejayaannya. Sederhananya, ia hanya satu dari sekian banyak mahasiswa yang mengidolakan putri dari The King itu.

Sedikit banyak, berbagai orasi dan inspirasi yang selalu Yura bagikan pada kalangan mahasiswa membuat Sungyeol terbantu dan bersemangat menjalani pendidikan kerasnya di akademi kepolisian beberapa tahun yang lalu. Yang membuatnya lebih senang adalah, pada akhirnya ia bisa mengenal gadis itu secara personal setelah ia lulus dan tidak butuh waktu lama untuk mereka menjadi teman akrab karena Yura senang menemukan lelaki humoris seperti Sungyeol. Hal inilah yang membedakan Sungyeol dari penggemar-penggemar Yura yang lain, ia menjadi salah satu yang beruntung karena bisa menjadi teman bagi gadis itu.

Alasan yang konyol, namun seperti itulah kenyataannya. Yura memang sangat memerlukan figur laki-laki yang menyenangkan dalam hidupnya, dan ia tak menemukan itu pada saudara kembarnya sendiri –Myungsoo, yang membencinya karena perebutan tongkat kekuasaan The King–, dan nihil pula pada kekasihnya, Woohyun maupun Jaehwan, lelaki yang sudah lama terang-terangan mencintainya. Tentu karena Woohyun tidak peduli apalagi mencintainya, dan tentu karena Jaehwan terlalu frontal mengungkapkan perasaannya. Kehadiran Sungyeol merupakan suatu keuntungan bagi Yura, meski ia sama sekali tak berpikir untuk mengencaninya. Hatinya sudah terlanjur jatuh pada Woohyun.

Lagipula rasanya seperti takdir, mereka sama-sama anak yang memiliki saudara kembar fraternal.

Sungyeol pun sudah puas dan nyaman dengan pertemanan mereka, ia tak pernah berpikir untuk mengencani Kim Yura terlebih saat ia tahu bahwa gadis itu benar-benar putri dari The King. Apalagi, gadis itu juga memang tak bisa mengubah perasaannya untuk Woohyun. Jadi hubungan mereka hanyalah sebatas teman yang saling mempercayai satu sama lain, dan hanya kepada Sungyeol-lah Yura mau menceritakan semua masalah pribadinya. Mereka seperti sahabat pada umumnya, sesederhana itu. hanya saja memang tak banyak yang tahu, Yura menyembunyikan persahabatannya dengan Sungyeol untuk menjaga perasaan Woohyun dan mencegah persepsi-persepsi negatif dari The King yang ‘anti’ dengan polisi.

Dan kini, Sungyeol tak mengerti apa yang terjadi pada dirinya. Pertemanannya yang terlalu nyaman dengan Yura membuatnya ikut sakit hati dengan kematian mendadak gadis itu hingga harus berbuat sejauh ini.

***

Naeun telah selesai membereskan kliniknya, ia keluar dari ruangan praktek mewahnya dengan satu kardus barang-barang yang ia ambil dari sana dan ia perlukan di tempat praktik barunya di rumah.

Gadis itu menatap Eunji, perawat sekaligus asistennya yang biasanya selalu sigap membantunya kini nampak diam saja di belakang meja administrasi, ia kelihatan tak ingin bicara apalagi membantu Naeun karena sepertinya ia takut sang dokter bertanya lagi tentang kartu pasien milik Kim Myungsoo.

BRUK!

Dengan sengaja, Naeun meletakkan dusnya di atas meja administrasi, membuat sang perawat terkejut.

“ Bawa.”titahnya.

“ Ini?”Eunji masih takut-takut berinteraksi dengannya, “…kemana?”

“ Klinik darurat di rumahku. Aku perlu kau disana. Jadi ayo kita pergi.”

Aish..” Eunji merasa benar-benar sial, tentu saja ia tak punya pilihan selain menerimanya. Kesempatannya untuk menghindar semakin kecil.

Ia dan Naeun pun berjalan bersama menuju lobi utama medical center dengan didampingi beberapa staf keamanan, jemputan serta awak media sudah berkumpul disana. Dokter Son benar-benar ‘mengumpan’ mereka dengan menyuruh Naeun pergi melalui lobi utama. Setelah ini, berita tentang ‘mogok kerja’nya Naeun dari medical center pasti akan tersebar luas dimana-mana.

“ Kalau mereka bertanya, tentang Jaehwan, insiden kemarin, atau apapun itu, diam saja.”bisik Naeun, Eunji mengangguk saja, ia bahkan menundukkan kepalanya ketika wartawan mulai menyerang mereka dengan ribuan pertanyaan dan menghalangi jalan mereka untuk masuk ke mobil.

Disaat Eunji menundukkan kepalanya, Naeun justru menempatkan fokusnya pada hal lain. Disaat ia sibuk menghindari para wartawan, mata beningnya menangkap sebuah taksi yang berhenti di depan pintu timur medical center.

Meski agak jauh, Naeun yakin bahwa orang yang turun dari taksi tersebut adalah Chorong…

Bersama Myungsoo.

Bahkan supir taksinya terlihat membantu Chorong mendudukkan Myungsoo di kursi roda sebelum mereka memasuki pintu timur medical center.

Jantung Naeun berdebar keras, mengapa lelaki itu harus datang disaat ia harus pergi?

Hatinya juga terasa panas, kebencian tanpa sadar menguar ke permukaan hatinya melihat Park Chorong mendampingi lelaki itu.

“ Tidak.. Myungsoo-ku.. tidak boleh..”

***

Tap.

Setibanya di columbarium, Sungyeol menghentikan langkahnya di balik dinding saat menyadari bahwa ada orang lain yang juga tengah mengunjungi loker abu Kim Yura.

Seorang pria dengan tubuh jangkung dan wajah yang tertutup rapat dengan topi dan masker. Meski ia hampir tak dikenali, Sungyeol sangat yakin bahwa itu adalah sang artis, Ken—atau Jaehwan. Selama vakum dari industri musik, selain mengamuk dan merepotkan banyak orang setiap hari, mengunjungi Kim Yura juga merupakan rutinitas hariannya.

Beberapa staf keamanan nampak berdiri di belakang Jaehwan, mengantisipasi kalau saja tiba-tiba ia meledak lagi.

“ Everyone else in the world knows my heart. But its so frustrating, why don’t you know? I’m in love with you.. I’m waiting for you..”

Jaehwan nampak bernyanyi kecil, mengeluarkan suara indahnya sembari memegangi kaca loker dan menempelkan keningnya disana.

“…hei Yura-ssi, apa aku perlu memasukkan lagu yang kunyanyikan barusan ke album FIX yang baru? Aku sendiri yang menulis liriknya selama di sel rumah sakit jiwa. FIX akan comeback dua bulan dari sekarang. Tapi kenapa.. rasanya sulit bagiku untuk kembali naik ke atas panggung.” Jaehwan mulai berbicara sendiri.

“…tidak. Tidak, Kim Yura. Bukan karena kau. Aku merasa sulit untuk kembali membangun karirku karena ada teror aneh yang menghantui hidupku setelah kau tiada.”

“…DarkAngel membuatku takut dan marah. Bagaimana ia bisa muncul dengan akun VIP dan tiba-tiba menertawaiku? Hanya orang tolol yang masih percaya bahwa itu adalah kau. Aku sangat yakin bahwa pembunuhmulah yang sedang bersenang-senang dibalik akun itu.”

Sungyeol terkejut mendengarnya.

DarkAngel. Ucapan kaptennya benar, akun itu merupakan petunjuk utama atas kasus kematian Kim Yura.

“ Jadi sekarang akun itu muncul lagi? Bagaimana ceritanya…?”Sungyeol mengeluarkan catatan kecilnya dan menulis disana karena itu merupakan petunjuk baru.

“ Tuan, ada telepon dari ayah Anda.”seorang staf keamanan nampak menghampiri Jaehwan dan menyerahkan sebuah ponsel yang menyala pada lelaki itu.

“ Apa lagi sekarang?”dengan malas Jaehwan menerimanya. Selama beberapa detik, ia diam mendengarkan apa yang diucapkan oleh ayahnya di telepon.

“ APA!? AKU!? DITUNTUT?” ia tiba-tiba bicara dengan nada tinggi, beberapa staf keamanan mulai siaga untuk mencegah amarahnya.

“…TIDAK. AKU TIDAK AKAN PERNAH SUDI MINTA MAAF. KELUARGA DOKTER SIALAN!”

BRAK!

Jaehwan melempar ponselnya ke  dinding hingga menimbulkan suara keras dan sontak membuat kegaduhan di tempat yang seharusnya sepi dan tenang itu. Para peziarah lain merasa terganggu dan memperhatikan tingkah lelaki itu, beberapa dari mereka sudah berteriak marah karena Jaehwan mengganggu sesi doa mereka. Dan Jaehwan nampaknya tidak sadar bahwa orang-orang mulai mengumpat padanya, ia justru semakin agresif ketika para staf keamanan menenangkan dirinya.

“ Hei hei! Tenang! Tenang!”

Sebelum keadaan semakin kacau, Sungyeol terpaksa keluar dari persembunyiannya dan memperlihatkan kartu identitasnya sebagai anggota kepolisian pada semua orang sembari memungut ponsel Jaehwan yang terbongkar di lantai dan mendekati pemiliknya yang masih tak tenang. Beruntung ia berhasil mengendalikan situasi dan membuat para peziarah yang tadinya berteriak marah menjadi diam. Ia membantu staf keamanan untuk mendiamkan Jaehwan dengan memborgol tangan sang artis.

“ Siapa kau hah!?” tembak Jaehwan kesal sembari berusaha melepaskan tangannya yang sudah diborgol di belakang punggungnya.

“ Aku suka sekali mendengar lagu-lagumu, Ken-ssi. Kau bisa sebut aku seorang penggemar.”jawab Sungyeol santai sembari menyeret Jaehwan ke pintu keluar, para staf keamanan mengikutinya.

“…tapi sayang sekali, aku juga seorang polisi, jadi aku harus tetap menjalankan kewajibanku menangkap perusak situasi seperti kau. so, ayo kita mengobrol dalam bentuk interogasi di kantorku. Kau berhak untuk tetap diam sebelum kita sampai kesana.”sambungnya sembari memasukkan Jaehwan ke mobilnya. Para staf keamanan tak bisa berbuat apapun karena mereka tak akan melakukan tindakan apapun pada petugas kepolisian tanpa arahan terlebih dahulu.

Sungyeol mulai menjalankan mobilnya menuju kantor setelah memastikan Jaehwan aman dan tak mungkin lolos darinya.

“ Lee Jaehwan, sahabat lama Kim Myungsoo. Bisakah ia menjadi kartu AS-ku yang kedua?”

***

“ Kenapa aku harus pakai topi dan masker? Rasanya sesak.”

Myungsoo sedikit mengeluh sepanjang jalannya menyusuri gedung besar medical center dengan Chorong yang masih mendorong kursi rodanya dari belakang.

“ Menurut saja.”jawab dokter wanita itu.

“ Kita kemana sekarang? Apa aku akan bertemu orangtuaku?”

“ Asrama dokter.”

“ Apa aku akan bertemu mereka disana?”

“ Tentu saja tidak.”

“ Kenapa?”

Chorong tak menjawab pertanyaannya dan terus berjalan. Agak jauh. Ia memasuki kawasan lain dari medical center dan menghentikan kursi rodanya di depan sebuah pintu kamar. Sepertinya mereka telah tiba di asrama dokter.

Namun sebelum membuka pintunya, Chorong berpindah dan kembali berlutut di hadapan pasien tampannya yang tak berdaya itu.

Dan berhasil membuatnya gugup setengah mati.

“ Aku bisa saja membawamu pada orangtuamu jika aku mau. Tapi kurasa sekarang belum saatnya.”ucap gadis itu.

“ Kenapa?”

“ Kau harus muncul di hadapan mereka dengan posisi berdiri. Berdiri dengan fisik dan hati yang sudah kuat, serta pikiran yang sudah jernih. Saat ini kau belum mencapai itu,  kan? Jadi, tidak sekarang.”

“ Kenapa aku harus dalam keadaan sebaik itu untuk bertemu mereka?”

“ Tentu saja agar mereka menerimamu. Mau tidak mau, suka tidak suka.”

Seperti biasa, jawaban Chorong atas pertanyaan-pertanyaan yang sangat ingin Myungsoo ketahui jawabannya justru selalu menimbulkan rasa penasaran yang baru.

“ Jadi untuk apa kau membawaku kesini?”

“ Setelah aku selesai dengan urusanku dengan orangtuamu, mari kita lakukan CT Scan.”jawab Chorong sembari menepuk kedua kaki panjang Myungsoo yang sudah berbulan-bulan tak berdaya, “…mari kita mulai tahap demi tahap untuk kakimu.”

Myungsoo mengangguk kecil. Kendati ia merasa kecewa karena Chorong memberinya harapan palsu untuk bertemu orangtuanya, namun ia merasa cukup senang karena gadis itu rupanya ingin memulai penyembuhan intensif untuknya.

“…jadi, selama aku bertemu orangtuamu. Kau tunggulah disini. Ini adalah  kamarku.” Chorong berdiri dan mulai menekan password untuk membuka pintu kamarnya itu. setelah terbuka, ia segera membawa Myungsoo untuk masuk.

“ Kau tinggal disini?”tanya Myungsoo sembari memperhatikan sekeliling, ruangan kamar itu sungguh bersih, tidak terlalu luas dan tidak banyak barang di dalamnya. Hampir terlihat seperti kamar baru.

“ Dulu aku tinggal disini, sekarang tidak lagi, hanya kugunakan saat piket malam saja.”jawab Chorong seraya membantu Myungsoo untuk duduk di atas tempat tidur.

“ Ooh… jadi kau sudah punya rumah sekarang?”

“ Tidak.”Chorong menggeleng, “…aku mengontrak. Setelah punya anak, aku tidak bisa lagi tinggal di asrama ini.”

Anak?

Jantung Myungsoo terasa seperti ditusuk oleh benda tajam dan panas.

“ Kau.. sudah menikah dan punya anak?”

“ Apakah harus menikah untuk punya anak?”Chorong justru bertanya balik sekaligus menghindar untuk menjawab jujur secara langsung, karena Myungsoo pasti akan kesulitan memahaminya.

“ Jadi bagaimana yang sebenarnya?”

“ Butuh waktu lama untuk bercerita tentang itu. lagipula sebaiknya kau tidak perlu tahu banyak masalah kehidupan pribadiku. Bagaimanapun juga kita hanya dokter dan pasien, hanya sebatas itu.”

Myungsoo diam dan mengangguk saja. Meski jelas, hatinya berkata sebaliknya. Lagipula seorang amnesia mana yang tidak penasaran setelah tahu cinta pertamanya ternyata sudah punya anak namun tidak menikah? Myungsoo tentu akan mencari tahu jawabannya, ia sudah muak dengan berbagai teka-teki masa lalunya. Sebelum semakin gila, ia ingin memecahkannya satu per satu.

“…aku pergi sekarang. Kau jangan kemana-mana, cukup beristirahatlah disini. Dan ingat, aku akan tahu jika kau menyentuh dan memindahkan barang-barangku. Jadi berhati-hatilah.”

Chorong merapikan jas putihnya dan keluar dari kamar, meninggalkan Myungsoo yang masih melamun kebingungan.

“ Siapa kau sebenarnya, Park Chorong?”desis lelaki itu dengan penuh kegalauan. Tangannya meraih remote yang tak jauh darinya dan menyalakan televisi untuk menghibur dirinya.

Hingga di hadapan matanya langsung muncul sebuah tayangan berita.

“ Pagi ini, sekitar pukul 10, terlihat dokter Son Naeun bersama asistennya keluar dari gedung medical center dan siap untuk pindah melaksanakan praktik dan konseling di klinik darurat di kediamannya, untuk sementara waktu. Sebelumnya, representative pihak keluarga dokter Son mengkonfirmasi bahwa mereka telah melayangkan tuntutan perminta-maafan pada member boygroup FIX, Ken, sekaligus putra tunggal dari CEO Leeves Entertainment atas tindakan tidak menyenangkan yang ia lakukan pada dokter Son Naeun kemarin, dimana Ken datang secara tiba-tiba ke klinik dokter Son Naeun dan menyeret sang dokter untuk pergi mengikutinya disaat ia masih harus praktik dan melayani pasiennya yang lain. Keputusan berhenti praktik di medical center untuk sementara oleh dokter Son Naeun dilandasi alasan bahwa ia merasa takut dan resah apabila mantan pasiennya itu datang dan mengganggunya lagi. Dan sebagai bentuk demonstrasi, pihak keluarga dokter Son juga menyatakan bahwa dokter Son Naeun tak akan kembali ke medical center apabila Ken tidak juga meminta maaf padanya. Dan apabila keadaan ini berlangsung terlalu lama, pihak keluarga dokter Son menyatakan bahwa mereka tidak ragu untuk membawa masalah ini ke jalur hukum, karena menurut mereka, Ken telah mencoreng nama baik dokter Son Naeun sebagai selaku putri tunggal dari pemilik medical center, serta telah menimbulkan kegaduhan yang seharusnya tidak boleh terjadi di lingkungan medical center.

Sebelumnya diketahui bahwa dokter Son Naeun adalah dokter jiwa yang bekerja menangani gangguan depresi yang dialami Ken pasca kematian akibat bunuh diri yang dialami Kim Yura, putri tunggal The King yang juga terungkap sebagai wanita yang disebut-sebut akan menikah dengan Ken beberapa tahun kedepan. Meski rumor yang menyebar menyebut mereka akan dinikahkan karena bisnis, namun pada kenyataannya Ken selalu terang-terangan mengungkapkan pada publik bahwa ia memang mencintai Kim Yura.

Terkait dengan babak baru kasus konflik Ken dengan dokter jiwanya sendiri, Son Naeun, begitu banyak spekulasi dan rumor yang telah bertebaran, salah satunya adalah anggapan bahwa masalah mereka kali ini juga berkaitan dengan Kim Yura, sebab diketahui bahwa pada insiden kemarin, Ken menarik paksa dokter Son Naeun untuk mengikutinya ke columbarium dimana abu jasad putri tunggal The King itu disemayamkan.

Dan sampai saat ini, belum ada klarifikasi maupun konfirmasi apapun dari pihak Ken. masyarakat menunggu-nunggu tindakan apakah yang akan mereka ambil sebagai bentuk pertanggung-jawaban? Akankah mereka meminta maaf atas perbuatan Ken dan menyelesaikan masalah dengan cepat?”

 

Myungsoo sedikit menganga menyaksikannya. Tadi, saat ia baru saja sampai di medical center, ia memang melihat kerumunan wartawan memenuhi lobi utama. Sudah pasti Naeun ada disana.

“ Kalau dia berhenti praktik, bagaimana caranya kami bertemu lagi?” pikir lelaki itu dengan agak kecewa, “…apa Chorong akan membawaku ke klinik daruratnya?”

Ia mematikan televisi dan berguling, turun dari tempat tidur dan dengan susah payah mendudukkan dirinya di atas kursi roda. Meski Chorong sudah memperingatkannya untuk diam dan beristirahat, ia tak ingin menurut.

Berdiam diri hanya akan membuatnya tersiksa dengan banyaknya teka-teki yang terus berputar dalam kepalanya. Ia merasa harus bergerak dan mencari hal-hal baru yang lain untuk mengalihkan perhatiannya.

Jadi, dengan tanpa keraguan, lelaki itu keluar dari kamar asrama Chorong dan mulai menggerakkan kursi rodanya untuk mengeksplorasi kawasan medical center.

“ Semoga aku tidak ketahuan.”batinnya sembari menekan tombol lift dan segera masuk setelah pintunya terbuka. Ia sedikit kebingungan hendak pergi kemana karena begitu banyak lantai dan tempat-tempat khusus di rumah sakit besar itu.

“…oke, mulai dari lantai paling bawah saja.” Myungsoo menekan tombol liftnya dengan sedikit gugup namun excited, sudah lama ia tidak melihat ‘dunia luar’ dan kini ia punya kesempatan untuk berkeliling di rumah sakit besar dan mewah. Meski hanya bermodalkan nekat.

Ting.

Pintu lift terbuka, ia telah tiba di lantai dasar dan terkejut mendapati begitu banyak orang yang menunggu di depan pintu. Mereka semua kelihatannya adalah para staf.

Sembari masuk dan memenuhi lift, dengan inisiatif mereka membantu Myungsoo untuk keluar.

“ Hei, seharusnya kau pakai lift khusus penyandang disabilitas.”salah satu dari mereka menegur sebelum menutup pintu liftnya, Myungsoo mengangguk dengan sedikit malu, ia tak tahu bahwa ada lift khusus untuk orang cacat seperti dirinya.

Ia mulai menggerakkan kursi rodanya tanpa tujuan sembari melihat-lihat suasana lantai dasar rumah sakit tersebut dengan takjub. Suasananya begitu sibuk. Dan ia sedikit terkejut karena ternyata mobil mewah milik keluarga dokter Son serta kerumunan wartawan masih ada di depan pintu utama. Apa dokter Son Naeun belum pergi juga? Dia sedang melayani pertanyaan wartawan atau ia masuk lagi ke medical center?

Myungsoo penasaran, namun memilih untuk tak peduli saja, toh ia tak akan mungkin juga bertemu dengan dokter terkenal itu apabila situasinya seperti ini. Melihatnya dari jauh beberapa saat yang lalu saja sudah merupakan keuntungan.

Lelaki itupun menghentikan kursi rodanya di depan sebuah layar besar yang menampilkan presentase angka kasus bunuh diri yang terjadi di Korea Selatan dan presentase angka penerimaan pasien darurat akibat bunuh diri yang diterima oleh medical center. Angkanya terus meningkat setiap tahun, dan rupanya medical center menerima 15% dari 20% total masyarakat Korea Selatan yang melakukan bunuh diri.

“ Mengapa dampak situs itu kuat sekali, ya? Aku saja yang sudah mengunjunginya berkali-kali masih harus berpikir panjang untuk bunuh diri. Member di forum juga selalu membatalkan niat mereka dan malah ingin saling bertemu.”ia berbicara sendiri karena prihatin dengan informasi yang ia baca.

“ Itu semua karena karakter manusia berbeda-beda. Sebagian dari mereka adalah orang-orang yang lemah, dan sebagiannya lagi adalah orang-orang yang sebaliknya. Semua tergantung cara mereka menghadapi masalah pribadinya masing-masing. semua orang punya strategi coping yang berbeda.”

Myungsoo terhenyak, tiba-tiba suara seorang gadis muncul di dekatnya dan berbicara panjang seolah menjawab pertanyaannya. Dan rasanya, ia pernah mendengar statement itu sebelumnya.

Ia menoleh kesana-kemari, mengira bahwa Son Naeun muncul di dekatnya. Namun rupanya ia salah, suara itu muncul dari layar canggih di depannya, itu hanya suara rekaman talkshow dimana dokter jiwa itu menjadi pembicaranya. Pantas jika Myungsoo merasa ia pernah mendengar perkataan itu sebelumnya.

“…haha, mengapa aku sebodoh ini? Mana mungkin dia ada disini dan menghampiriku?”lelaki itu memukul pelan kepalanya sendiri.

“ Aku akan menghampirimu dengan perlahan, jadi tunggulah.”

Seorang gadis nampak merasa puas menatap Myungsoo meski dari kejauhan dan melalui kaca mobil yang belum berjalan. Matanya tak berkedip dan terus lurus mengawasi lelaki berkursi roda yang tengah duduk sendirian di depan layar informasi. Meski pandangannya terhalang para wartawan, ia tetap puas dan menikmatinya.

“ Dokter Son, bisakah kita pergi sekarang? Para wartawan bisa merusak mobil ini jika kita tidak pergi juga. Lagipula apa yang kau tunggu?”

Naeun akhirnya pasrah dan menyandarkan dirinya di kursi mobil, merelakan pemandangan indahnya untuk ia tinggalkan.

“ Tidak ada yang kutunggu. Justru, akulah yang ditunggu.”

“ Apa yang kau bicarakan?”Eunji tak mengerti, Naeun hanya tertawa misterius.

“ Tidak ada. Jalan saja.”

Myungsoo menatap mobil mewah yang sejak tadi bertahan di depan pintu utama akhirnya berjalan meninggalkan kawasan medical center.

Lelaki itu tersenyum tipis.

“ Semoga kau selalu baik-baik saja, dokter Son.”

*

“ Selamat pagi.”

Chorong memasuki ruangan rapat dan sedikit terkejut karena di dalamnya hanya terdapat presdir The King, Nyonya Kim, serta Woohyun di tengah-tengah mereka. Ia sedang menghadapi satu keluarga jahat, rupanya.

“ Duduk.”titah sang predir, gadis itu menurut dan duduk di seberang mereka.

Drrt.

Sesaat setelah ia baru saja menempati kursi, ponselnya bergetar. Dengan sembunyi-sembunyi, ia membuka pesan yang masuk ke ponselnya.

From : Nam Woohyun

Bersiaplah. Ini akan lebih mengerikan dari sidang tesis.

 

Gadis itu mengangkat kepalanya, Woohyun terlihat mengirimkan kode dengan wajah licik. Ia sangat benci direndahkan seperti ini, jadi ia membalas pesannya.

“ Aku tidak takut.”

“ Kau bisa mulai sekarang.”presdir Kim terdengar memberi perintah, dan Woohyun langsung membuka berkas yang sejak tadi ia pegang.

“…dokter Park, dengarkan dokter Nam dengan baik.”lanjut sang presdir, Chorong mengangguk pelan, ia begitu benci menatap Woohyun yang kelihatannya sudah sangat siap memojokkannya.

“ Jadi, ini adalah catatan data perkembangan Myungsoo dengan lampiran catatan dari instalasi farmasi terkait obat-obatan yang diambil oleh Anda untuk Kim Myungsoo, dokter Park. Aku akan membacakannya dan menarik kesimpulan apakah kau sudah melaksanakan tugasmu dengan benar atau tidak.”jelas Woohyun. Aktingnya sungguh sempurna, ia bisa memanggil Chorong dengan seformal itu tanpa beban.

“…sebagai dokter kedua yang merawat Kim Myungsoo, seharusnya kau hanya perlu melanjutkan prosedur yang dilakukan oleh dokter Howon, yang sudah tertulis jelas di dalam berkas. Pekerjaanmu sangat mudah, tapi kau mempersulit dirimu sendiri dengan mengganti prosedurnya hampir seratus persen. Catatan pertama : kunjungan untuk Kim Myungsoo yang seharusnya dilakukan hanya satu atau dua bulan sekali, kini kau lakukan setiap hari. Sampai kau bersusah payah mengajukan pengunduran jam praktik pagimu pada ketua departemen bedah. Sampai di catatan pertama, apa kau mau membuat pembelaan?”

Chorong menghela nafas sejenak, mencoba tenang.

“ Pasien seperti Kim Myungsoo jelas tidak bisa dikunjungi satu atau dua bulan sekali. Ia justru perlu perawatan intensif. “

“ Jawablah berdasarkan perintah dari The King, bukan medis. Kalau itu aku juga tahu jawabannya.”

Dasar sialan. Sepertinya bukan tanpa alasan Woohyun memperlakukannya seperti ini, ia kelihatan ingin menghilangkan persepsi negatif tentang rumor perselingkuhannya dengan Chorong pada kedua orangtua angkatnya.

“ Aku menjawab berdasarkan keduanya. Secara medis, tentu dia memerlukan perawatan intensif. Berdasarkan perintah dari The King, jelas aku melanggarnya karena menurutku tidak ada gunanya juga mengunjungi di jika hanya 1-2 bulan sekali, jika ingin dia mati, lebih baik tidak perlu ada kunjungan sama sekali.”

Keras kepala. Woohyun semakin semangat memojokkannya.

“ Baiklah.. lalu catatan kedua : tidak ada perintah untuk menggantikannya perban setiap hari, tapi kau melakukannya. Yah.. aku tidak perlu mendengar pembelaanmu tentang ini. Anggap saja kau yang terlalu rajin.”

“ Ya. Aku bahkan membuatkannya sarapan pagi. Rajin, bukan? The King, kalian bisa menyarankanku untuk memberi racun pada sarapannya, tapi pastikan racun itu tidak mengubah cita rasa masakanku, karena Myungsoo sudah terbiasa dengan rasanya dan dia akan tahu jika aku menambahkan racun sembarangan di dalamnya.”

Kepala Woohyun mulai memanas, presdir Kim masih menahan amarahnya. Sementara Nyonya Kim justru mendengarkannya dengan antusias. Mendengar bahwa Myungsoo diperlakukan sebaik itu sadar tidak sadar membuat hatinya sedikit lega dan tenang.

“ Catatan ketiga : Alprazolam dosis tinggi yang sudah kami sediakan kau ganti dengan diazepam dengan dosis pas, dan catatan keempat : Demerol dan Darvocet dengan dosis tinggi yang sudah kami sediakan juga kau ganti dengan piroxican dan naproxen kualitas terbaik, dengan dosis yang pas juga, tentunya.”

“ Apapun yang berdosis tinggi itu tidak baik, dokter Nam.”

“ Sudah kubilang jawablah berdasarkan perintah The King, bukan medis.”

“ Oke. The King, apa tujuan kalian memberikan alprazolam dan Demerol serta Darvocet berdosis tinggi untuk Myungsoo? Efek samping utama dari obat-obatan itu adalah mimpi buruk dan tingkah laku agresif. Bukannya membunuh Myungsoo, kalian malah akan membuat dia menjadi monster.”

“ Dia bisa mati karna overdosis.”

“ Oke, aku setuju. Mungkin dia bisa juga mati karna overdosis, tapi bayangkan jika dia bisa bertahan dan hanya mengalami efek samping saja? Bayangkan dia mengalami mimpi buruk setiap hari. Secara psikologis, biasanya mimpi merupakan manifestasi dari masa lalu yang tersimpan di alam bawah sadarnya. Dan seperti yang kalian tahu sekarang, Myungsoo kehilangan sebagian ingatan masa lalunya, bagaimana jika ingatan yang hilang itu muncul di mimpinya akibat obat-obatan bodoh yang kalian berikan ini? Bagaimana jika ingatan yang hilang dan muncul di mimpinya itu adalah tentang The King? Justru semakin berbahaya jika ingatannya pulih dan dia kembali menjadi putra pembangkang yang membuat kalian stress lagi seperti dulu.”

“ Penjelasanmu tentang dinamika psikologis sepertinya lebih baik daripada Son Naeun, aku terkesan.”

Woohyun tertawa meledek, namun Chorong tahu itu kebiasaannya setiap kali kalah debat.

“ Kalian seharusnya berterimakasih karena aku menghentikan pemberian obat itu dan menggantinya dengan diazepam berdosis seperlunya untuk membuat dia tenang, dan piroxican atau naproxen yang hanya untuk sekedar mengurangi nyeri pada otot-ototnya yang masih trauma akibat kecelakaan. Ia jarang bermimpi buruk lagi setelah itu, dan sampai sekarang nama The King masih jauh dalam ingatannya. Ia tidak ingat apa-apa tentang kalian. Bukankah itu bagus?”

“ Ya. Terimakasih, dokter Park. Aku anggap kau benar kali ini. Tapi jangan berbangga hati dulu, daftar dosamu masih banyak.”

“ Apa lagi?”

“ Catatan kelima : semua obat pengganti yang kusebutkan di atas dibeli oleh uang pribadimu, ditambah lagi dengan pembelian vitamin termahal dari instalasi farmasi serta pembelian cairan infus beberapa kali.”

“ Uang pribadi. Kau kaya juga, rupanya.”komentar Nyonya Kim.

“ Uangku cukup untuk membeli itu. lebih tepatnya.”sahut Chorong.

“ Tapi kau tahu kan tidak ada perintah untuk itu?”tanya Woohyun.

“ Aku mengabaikannya karena aku menggunakan uangku sendiri. Aku berhak menggunakan uangku untuk membeli apapun, kan?”

“ Tidak jika itu berkaitan dengan tugasmu sebagai dokter untuk Myungsoo.”

“ Oke, berarti aku salah. Lain kali mungkin aku beli di apotik luar saja, membeli di instalasi farmasi pasti akan terdeteksi olehmu.”

Tangan Woohyun kini mengepal, sama seperti presdir Kim yang semakin jengkel. Sedangkan Nyonya Kim semakin menikmati perdebatan antar dua dokter pintar ini.

“ Aku lanjutkan dosa berikutnya. Catatan keenam : aku menemukan data bahwa kau merencanakan operasi reposisi tulang untuk Kim Myungsoo serta fisioterapi yang kau targetkan akan menghasilkan kesembuhan total hanya dalam waktu dua bulan. Yah.. tentu saja aku percaya kau bisa melakukan itu, dokter Park. Tapi apakah The King mempekerjakanmu untuk itu?”

Clap.. clap.. clap..

Presdir Kim bertepuk tangan dengan wajah sinis setelah Woohyun selesai dengan kalimat ‘pembantaian’nya.

“ Kau bekerja keras sekali, dokter Park. Tanpa kau melakukan ini semua pun kami sudah tahu kau dokter yang jenius. Tapi dokter Nam benar, apakah kami, The King, mempekerjakanmu untuk itu? jelas TIDAK. Tugasmu hanyalah mengirim Kim Myungsoo perlahan-lahan pada kematian, bukan memamerkan kemampuanmu menyembuhkan dia dalam waktu dua bulan.”

Chorong mulai tersulut.

“ Ah.. jadi begitu, ya? Aku jadi kecewa karena tidak bisa memberikan kontribusiku sebagai dokter bedah ortopedi. Aku hanya gemas melihat kaki Myungsoo yang jelas-jelas masih bisa diperbaiki. Aku menyesal mengapa tidak mengoperasinya saja sejak awal.”

“ Jadi kau tetap ingin melanjutkan dosamu yang ini meski kami sudah melarangnya?”

“ Apa bahayanya membiarkan Myungsoo bisa berjalan kembali? Sekalipun dia sudah bisa berjalan, dia tak akan berjalan pulang ke rumah The King. Dia tidak ingat apapun tentang kalian.”

“ Dia pandai berdebat, kan? Aku sudah terbiasa dengan ocehan argumentatifnya selama bertahun-tahun.”Woohyun bicara pada kedua orangtuanya sekaligus meledek Chorong.

“ Balas dia. Aku tidak mau tahu.”ucap sang presdir, lama-lama ia tak tahan dengan arogansi dokter wanita di depannya.

“ Baiklah. Jadi.. apa masih kurang jelas, dokter Park? The King ingin Myungsoo mati pelan-pelan melalui tanganmu, bukan ingin dia bisa berjalan lagi. Kecuali kau mau membunuhnya di ruang operasi, tentu saja kami mengizinkan kau melanjutkan operasi yang kau rencanakan.”ucap Woohyun pelan, dan masih dengan nada mengejeknya.

“ Baiklah. Akan kubatalkan rencana operasi reposisi tulang itu. tapi sepertinya aku perlu berbicara angka, kalian harus membeli kekecewaanku karna tidak jadi melaksanakan operasi itu.”

Mengapa Chorong tiba-tiba menjadi pemeras? Woohyun sungguh tak mengerti dengan alur permainan gadis itu.

“ Aku akan menyerahkan berapapun yang kau mau setelah rapat ini selesai.”jawab sang presdir tanpa beban.

“ Terimakasih, presdir.”

Chorong tersenyum licik menatap Woohyun yang kebingungan membaca strateginya. Namun lelaki itu kelihatan tak ingin menyerah.

“ Baiklah. Daftar dosa dokter Park di berkas ini sudah habis. tapi aku punya satu yang kusimpan di dalam kepalaku.”ucap Woohyun sembari membalas senyuman licik kekasihnya itu, “…anggap saja sebagai catatan ketujuh.”

Presdir dan Nyonya Kim mengizinkan Woohyun mengungkapkannya.

“…catatan ketujuh : meski belum kudapatkan konfirmasinya dari departemen psikiatri, tapi kau merencanakan rujukan konsultasi untuk Kim Myungsoo dengan dokter jiwa, entah dokter jiwa yang mana. Tapi kau sudah memperoleh izin dari ketua tim, alias dokter Howon. Dan catatan keenam ini kuperoleh dengan cara yang spesial, karena aku mendengarkannya sendiri.”

Chorong memucat.

“ Itu—”

“ Apa, huh? Apa?”

Dasar brengsek. Sekarang Woohyun benar-benar terlihat jahat padanya.

Chorong mulai gugup. Ini masalah yang sangat sensitif, salah sedikit berbicara, tindakannya yang sudah mendaftarkan Myungsoo sebagai pasien Naeun akan terungkap. Namun di satu sisi ia merasa lega karena Woohyun belum memperoleh konfirmasi apapun dari departemen psikiatri, itu artinya Eunji menjaga rahasia mereka dengan rapat.

“ Itu.. kesepakatanku dengan dokter Howon, dan masih sebatas rencana. Baik aku dan Howon, selama menjadi dokter Myungsoo, kami sering mendengar keluhan masalah mimpi buruknya. Kami tidak bisa membantu banyak untuk itu, jadi kami ingin ‘melempar’nya saja ke dokter jiwa.”

Kenapa melibatkan Howon? Woohyun berusaha menebak-nebak alur pembalasan dari Chorong. Gadis itu jelas sedang berbohong karena Howon sesungguhnya justru menentang rujukan ke dokter jiwa tersebut.

“ Jadi? Kesimpulannya?”

“ Kesimpulannya, catatan keenam bukan dosaku sendiri. Tapi dosa dokter Howon juga yang memberiku izin.”

“ Panggil dokter Howon kesini.”titah presdir Kim yang sejak tadi sudah memijat-mijat kepalanya. Dengan terus menatap Chorong penuh curiga, Woohyun menuruti perintah ayah angkatnya itu dan menghubungi Howon.

Chorong pasrah, sebenarnya ia tak mau melibatkan ketua timnya lagi. Tapi ia tak bisa memikirkan pembelaan lain.

“ Semoga Howon tidak meminta imbalan macam-macam setelah ini.”batinnya.

***

“ Hah.. kenapa jadi begini sih?”

Sungyeol bersandar dengan kesal di mulut pintu kantor polisinya, lelah melihat rekan-rekan kantor bahkan atasannya yang justru berkerumun dan meminta tandatangan Jaehwan serta memberikan makanan untuk sang artis.

Sungyeol sempat disemprot lagi oleh kaptennya karena nekat menangkap artis terkenal sekaligus putra tunggal salah satu orang terkaya di korea. Dan sekarang, bukannya diinterogasi atas keributan yang sudah ia timbulkan di columbarium, Jaehwan justru diperlakukan dengan sangat baik di kantor polisi. Konyolnya, itu dianggap sebagai wujud perminta maafan pihak kepolisian atas kebodohan Sungyeol yang menangkapnya.

Memang begitu, ya. Sungyeol tak tahu sebegini kotornya pekerjaannya sebagai polisi. Ia merasa sia-sia saja menjalani pendidikan keras bertahun-tahun jika hasilnya ia tetap tak bisa memproses orang-orang yang punya uang dengan jalur hukum.

“ Hei tolol, sebelum dia dijemput pulang, kau harus minta maaf padanya.” Sang kapten lewat dan berbisik sambil memukul kepalanya lagi. Sungyeol semakin kesal namun ia mengiyakan saja daripada dimarahi lagi.

Polisi jangkung itupun menghampiri Jaehwan disaat ia akhirnya ditinggalkan sendirian agar bisa makan dengan tenang di pojok ruangan.

“ Mi kantor polisi enak ya.”komentar sang artis ketika Sungyeol menghampirinya.

“ Tidak tahu jajangmyeon?”

“ Tahu, lah. Tapi baru kali ini aku memakannya.”

“ Kalau begitu aku tidak usah minta maaf. Setidaknya karena kau kutangkap, kau jadi bisa merasakan makan mi kantor polisi.”

Jaehwan tertawa dengan saus kacang hitam yang belepotan di wajah tampannya.

“ Aku justru berterimakasih. Aku menyesal juga sudah membuat keributan di tempat peristirahatan Yura. Dia pasti akan marah padaku.”

“ Dia pasti memaafkanmu.”

“ Darimana kau tahu?”

“ Aku teman Yura, aku tahu dia pemaaf.”

Jaehwan tertawa lagi, bahkan dengan keras. Membuat Sungyeol merasa sepertinya dia lebih mengarah pada bipolar ketimbang mengalami gangguan depresi.

“ Mana mungkin Yura berteman dengan orang sepertimu?”

Sungyeol sabar saja, iapun mengeluarkan ponsel Jaehwan yang sudah sedikit ia perbaiki.

“ Ini punyamu.”

“ Oh, terimakasih. Apa kau membuka-buka isinya?”

“ Tentu saja. Aku detektif, punya rasa ingin tahu yang besar.”

“ Sialan. Apa saja yang sudah kau lihat!?”

“ Semuanya. Termasuk situs bunuh diri yang masih sering kau buka.”

Jaehwan memucat.

“ Semua orang akan marah jika mereka tahu aku masih mengakses situs itu. jadi tolong jangan bilang siapa-siapa.”

“ Memangnya untuk apa kau masih mengaksesnya? Masih ingin bunuh diri?”

“ Tidak. Aku penasaran dengan DarkAngel. Sampai sekarang aku masih yakin itu bukan Yura.”

Sama. Batin Sungyeol. Ia semakin merasakan pertanda baik jika ia bisa mengakrabkan diri dengan Jaehwan, sama seperti strateginya mengakrabkan diri dengan Myungsoo.

“ Aku juga yakin, Yura tidak mungkin bunuh diri, dia wanita yang penuh semangat hidup.”

“  Kau benar-benar temannya?” Jaehwan masih tak percaya.

“ Coba buka galeri hpmu, kulihat kau banyak menyimpan foto Yura saat dia masih jadi mahasiswa dan melakukan orasi dimana-mana.”

“ Untuk apa?”

“ Buka salah satu gambarnya.”

Jaehwan menuruti perkataan Sungyeol dan membuka salah satu gambar di ponselnya, “ Ini yang paling bagus menurutku, saat dia menyemangati peserta ujian universitas Seoul. Foto ini hasil tangkapan Myungsoo—“

Perkataan sang artis terputus, ia langsung menunduk dan meneteskan airmatanya.

“…Myungsoo, dia dimana ya sekarang? Kadang-kadang.. aku juga merasa dia masih ada disini, dia belum jauh dariku.”Jaehwan sedikit terisak, Sungyeol menepuk-nepuk bahunya, merasa prihatin. Seandainya saja keadaan memungkinkan, Sungyeol begitu ingin mempertemukan Jaehwan dengan Myungsoo, meski sepertinya Myungsoo tak akan ingat siapa sahabatnya.

“ Sabarlah. Jangan menangis, airmatamu menetes ke mi kantor polisimu, nanti rasanya jadi aneh.”

Jaehwan mengangkat kepalanya dan menghapus airmatanya sambil tertawa kecil.

“ Haha, dasar. Jadi untuk apa kau memintaku membuka foto ini?”

“ Lihaaat~” Sungyeol menekan tombol zoom in pada sekelompok mahasiswa yang berdiri mendampingi orasi Yura, “…perhatikan baik-baik, ini anggota organisasi mahasiswa yang dipimpin Yura. Kalau kau lihat lebih dekat, ada aku disitu.”

“ Haha. Mana?”

“ Itu.. yang kepalanya agak botak.”

“ Hahaha!” Sungyeol berhasil membuat Jaehwan tertawa lagi, “ Apa yang terjadi dengan kepalamu?”

“ Saat itu aku masih pendidikan kepolisian, makanya model rambutku seperti itu.”

“ Aah.. jadi disini kau kenal Yura.”

“ Ya, dan baru jadi teman akrab setelah kami sama-sama lulus.”

“ Kenapa aku tidak pernah tahu?”

“ Dia memang menyembunyikannya.”

“ Haha, mungkin dia malu punya teman yang konyol sepertimu.”

Sialan. Untung saja Sungyeol sudah kebal dengan penghinaan.

“ Terserahlah. Tapi temannya yang konyol ini sedang berusaha mengungkapkan keadilan atas kematiannya. Apa kau mau bergabung dan membantuku?”

Jaehwan terdiam sejenak, terkejut.

“ Kau.. sedang.. menyelidiki.. kasus kematian Yura?”

“ Hm.”

“ Kasusnya kan sudah ditutup.”

“ Bagiku belum. Makanya, apa kau ingin bergabung dan memecahkan ini bersama-sama denganku?”

“ Tentu saja aku—“

“ Hei, sudah. Hentikan itu.”

Sungyeol tiba-tiba merasakan bahunya dicengkeram erat oleh kaptennya. Sudah pasti ia akan diomeli lagi setelah ini.

“…Ken-ssi, kau sudah dijemput oleh perusahaan. Pulang dan beristirahatlah. Sekali lagi maafkan kami, terutama petugas bodoh yang sudah seenaknya menangkapmu ini. Kami berjanji hal seperti ini tidak akan terjadi lagi kedepannya.” Atasan Sungyeol itu mempersilahkan Jaehwan untuk pulang, beberapa staf keamanan pun nampak datang untuk mengantar sang artis untuk keluar dari kantor polisi.

“ Oke.”Jaehwan hanya menjawab singkat dan berdiri, berjalan keluar kantor sembari melambaikan tangannya pada Sungyeol.

“ Sampai jumpa nanti, jajangmyeon.

“ Namaku Lee Sung—“

BUK!

Lagi-lagi sang kapten memukul kepalanya. Setelah memastikan Jaehwan benar-benar sudah pergi, ia menarik nafas dalam-dalam.

“ Jangan coba-coba memanfaatkan dia untuk penyelidikan bodohmu ini. Dia sudah punya cukup banyak masalah. Kau akan tahu akibatnya jika kau mengabaikan perkataanku ini, detektif Lee.”

“ Aku hanya—”

“ Dan aku memohon untuk kesekian kalinya padamu. Berpikirlah untuk menyerah dengan kasus Kim Yura ini. Kau tidak akan pernah bisa memecahkannya, tidak akan bisa. Bukankah aku sudah bilang jika kau tidak bisa menggali lebih dalam tentang DarkAngel, semua penyelidikanmu akan sia-sia?”

Sungyeol mengangguk-angguk.

“ Ya.. ya.. aku memang tidak bisa berbuat apa-apa. Aku memang tidak tahu caranya mengetahui siapa DarkAngel. Tapi setidaknya aku punya kartu AS.”

“ Kim Myungsoo?”

“ Ya. Pemilik akunnya.”

Wow. Berani sekali menjatuhkan vonis. Sang kapten tertawa sinis.

“ Huh? Atas dasar apa kau mengatakan itu?”

 

“ Beri aku waktu untuk mengumpulkan bukti lengkapnya.”

***

“ Dokter Howon, apakah Anda mengakui bahwa Anda memberikan izin pada dokter Park Chorong mengeluarkan rujukan untuk Myungsoo ke poliklinik kejiwaan?”

“ Woah.. sialan sekali kau..” Howon yang baru saja tiba di ruang rapat dengan seragam ruang operasi langsung mengumpat dengan berbisik di telinga Chorong ketika presdir Kim menginterogasinya.

“ Aku akan membayarmu nanti.”Chorong balas berbisik.

“ Apapun yang kumau?”

“ Ya. Apapun.”

Howon tersenyum sinis dan akhirnya mengangguk setuju. Woohyun mulai panas melihat baku bisik di antara mereka berdua.

“ Ya. Aku mengizinkannya.”jawab Howon, “…ini salah kami, terutama aku.”

“ Ke dokter jiwa mana kalian merujuk Myungsoo?”

Howon menoleh ke arah Chorong karena ia memang tidak tahu.

“ Belum tahu.”jawab Chorong singkat, dan bohong, tentunya. Selama Eunji masih menyimpan rahasia mereka, Chorong yakin status Myungsoo yang sudah resmi menjadi pasien Naeun akan aman-aman saja.

“ Jangan buang-buang waktu kalian dan batalkan saja rujukan itu. lagipula kami tak akan pernah mengizinkan kalian membawa Myungsoo ke medical center.

“ Lalu siapa yang aku temui barusan?”Howon tiba-tiba bergumam, Chorong mendengarnya.

“ Apa?”

“ Saat perjalanan ke ruangan ini, aku lihat Myungsoo. Itu pertama kalinya aku melihat dia di luar apartemen. Dia berkeliaran sendiri di lantai dasar dengan kursi rodanya. Lalu dia masuk lift khusus disabilitas, entah ke lantai berapa.”bisik Howon.

“ HAH!?” Chorong benar-benar panik. Mengapa Myungsoo harus mengabaikan pesannya? Akan sangat berbahaya jika orang The King menemukan lelaki itu.

“ Kau yang membawanya kesini?”

“ Yah.. begitulah.”

“ Ada apa?” Woohyun semakin tak tahan melihat mereka terus berbisik-bisik, ia juga penasaran mengapa Chorong tiba-tiba panik.

“ Maafkan aku. Tapi aku harus keluar sekarang.” Chorong terpaksa berdiri dan memberi hormat secepat kilat lalu berlari keluar dari ruang rapat. Ia harus segera menemukan Myungsoo.

Sial. Woohyun benar-benar ingin mengejarnya, namun ia tak bisa pergi jika kedua orangtua angkatnya masih ada disini.

“ Ckck.. dia dokter jenius yang sombong dan tidak punya sopan santun.” Presdir Kim semakin geram, “…haruskah aku memberhentikannya? Sepertinya berbahaya mempercayakan dia sebagai dokter pribadi Myungsoo.”

“ Aku memberitahunya bahwa ada pasien darurat. Makanya dia keluar.”jawab Howon membela Chorong., Woohyun tahu ia hanya berbohong, dan lelaki itu tak akan membiarkan Howon meminta imbalan macam-macam pada gadisnya nanti.

“ Tidak semudah itu memberhentikan dokter Park. Memberhentikan dia hanya akan menjadi bumerang untuk kita. Kau harus ingat juga waktu Myungsoo kritis, dia adalah orang pertama yang menindaknya. Dokter Park sudah terlanjur banyak mengetahui masalah Myungsoo.”pesan Nyonya Kim.

“ Kalian bisa mempercayakan aku untuk mengawasinya. Jadikan aku dokter pribadi untuk Myungsoo juga, aku akan percepat proses kematiannya.” Woohyun menawarkan diri, Howon mencibir.

“ Kau harus siaga di medical center hampir 1×24 jam per hari, dokter Nam. Sebagai ketua tim, aku sangat tahu kau adalah dokter yang paling diperlukan dan dipercaya oleh pasien di departemen kita, apalagi kalau sudah berurusan dengan penanganan pasien korban bunuh diri. Kalau kau membagi waktumu untuk menjadi dokter pribadi Myungsoo, rasanya sayang sekali.”

Woohyun kesal, sangat jelas bahwa dibalik kata-kata pujian itu Howon berniat mencegahnya.

“ Lalu bagaimana caranya agar dosa-dosa kalian terhadap perintahku untuk membunuh Myungsoo perlahan-lahan ini tidak terulang lagi?”tanya presdir Kim langsung.

“ Lebih banyak dosa dokter Park, kan? Jadi tenang saja. Aku yang akan mengawasi dan mengingatkannya, sebagai ketua tim dan sebagai dokter yang juga tahu kondisi Myungsoo. Percayalah padaku.”

Dan sekarang dibalik kata-kata manisnya pada presdir Kim, Woohyun tahu Howon punya motif tersendiri. Apa lagi kalau bukan memanfaatkan dan menerima imbalan sebanyak-banyaknya dari Chorong? Terlebih Woohyun tahu sudah lama Howon ingin memiliki Chorong.

 Ia tak akan membiarkannya.

“ Jika dosa-dosa ini terulang lagi, kau dan dokter Park harus mengembalikannya sepuluh kali lipat padaku.”

Presdir Kim tiba-tiba mengeluarkan selembar cek dan sedikit melemparnya pada Howon melalui permukaan meja. Howon buru-buru memeriksa isinya.

 

300 juta won.

***

Myungsoo masih berada di tengah-tengah gedung medical center dan tangannya sudah mulai pegal karena terus menggerakkan kursi rodanya kesana-kemari. Selama beberapa jam, ia sudah mengeksplorasi belasan lantai di gedung rumah sakit besar itu.

Dan kini, ia justru tersesat disaat berniat untuk pulang ke asrama dokter, dengan tangan yang sudah lelah ia menggerakkan kursi rodanya menuju bagian informasi.

“ Permisi, boleh aku tanya kemana aku harus pergi dari sini jika ingin ke asrama dokter?”

“ Gedung ini terlalu besar. Tidak satupun staf rumah sakit hafal semua jalannya. Jadi kami menyediakan fasilitas komputer di setiap lantai untuk berbagai informasi lengkap yang ingin Anda ketahui. Anda bisa lihat denahnya sendiri.”jawab petugasnya sembari menunjukkan beberapa komputer yang berjajar tak jauh dari meja informasi.

“ Ah.. jadi ini untuk melihat denah?” Myungsoo baru sadar, ia menemukan komputer-komputer yang sama pada setiap lantai yang sudah ia kunjungi. Ia segera menggunakan salah satunya untuk menemukan jalan pulang.

“…kembali dulu ke lantai dasar, pintu masuk asrama dokter di bagian selatan lantai dasar, lalu naik lift khusus untuk asrama dokter. Wah, jauh juga.”

Myungsoo memutuskan untuk beristirahat sejenak karena tangannya benar-benar pegal. Iseng, ia memeriksa komputer di depannya lagi yang ternyata tersambung dengan internet.

“ Wah. Kebetulan sekali. Mungkin aku bisa bilang pada Sgyu89 kalau aku sedang di medical center. Siapa tahu bisa bertemu.”

Tanpa pikir panjang, ia membuka forum bunuh dirinya lagi dan melakukan login ulang. Ia ingin mengatakan pada teman-teman forumnya bahwa ia berada di medical center.

Kim_Myungsoo : Hai. Aku sedang berada di medical center. Mungkinkah ada yang sedang disini juga?

6969 : Sgyu89 sudah hampir sebulan dirawat disana. Tapi kakinya di gips, tidak mungkin bisa berjalan menemuimu kecuali kau yang menemukan ruangannya, haha

Kim_Myungsoo : aku berharap bisa menemukannya. Tapi aku saja sedang tersesat disini, lol

Kim_Myungsoo : ini rumah sakit yang terlalu besar

DarkAngel : mau kutunjukkan jalannya?

DarkAngel : aku penguasa rumah sakit ini 🙂

 

Brengsek.

Myungsoo segera menutup forumnya dan pergi menjauhi komputer itu dengan panik. Pikiran-pikiran buruk mulai menghantuinya. Bagaimana jika DarkAngel si peneror itu sedang ada di tempat ini juga? Bagaimana jika ternyata ia sedang diawasi sekarang?

Lelaki itu mulai mempercepat jalannya menuju asrama dokter meski tangannya masih sangat pegal. Ia menyesal berkeliling medical center seorang diri.

*

Night, 20.00 P.M

“ Jadi, dokter Chorong memarahimu?”

“ Ya.. begitulah. Lagipula salahku juga berkeliling rumah sakit sendirian. Aku juga tersesat.”

“ Tapi dia tetap mengajakmu melakukan CT scan, kan?”

“ Ya. Dengan tidak bicara apa-apa. Dia pasti sangat marah. Aku menyesal.”

Malam itu Myungsoo dijemput oleh Sungyeol untuk pulang dari medical center atas permintaan Chorong. Dan sebelum mereka pulang ke apartemen, Sungyeol mengajak Myungsoo untuk makan malam di rumah makan yang tak jauh dari medical center.

“ Lalu dia kemana? Apa masih bekerja?”

Myungsoo mengangguk, “ Ya, mungkin. Dia bilang belum bisa meninggalkan medical center, dia juga bilang akan pulang sendiri.”

“ Yah, baguslah. Oh ya, Myungsoo..”

“ Hm?”

“ Kau pucat sekali. Apa CT scan rasanya mengerikan?”

“ Haha, tidak..” Myungsoo tertawa paksa, ia memang masih ketakutan dengan pesan DarkAngel yang ia lihat di komputer itu.

Namun tiba-tiba ia justru teringat dengan pesan dari teman-teman forumnya.

Ia perlu bertanya kapan Sungyeol piket malam dan tak pulang ke apartemen.

“…Sungyeol-ssi, bagaimana hari pertamamu bekerja lagi setelah cuti?”tanya Myungsoo berbasa-basi.

Sungyeol terdiam sejenak. Memilah jawaban yang bisa ia sampaikan pada Myungsoo.

“ Sedikit keren. Aku menangkap seorang artis hari ini. Tapi dia lepas begitu saja. Biasalah, polisi kadang malas menangani mereka, urusannya pasti panjang.”

Mwo? Siapa?”

“ Ken. FIX Ken.”

Myungsoo terkejut, “ Bagaimana ceritanya? Kebetulan.. aku baru dengar juga dia dituntut oleh dokter Son Naeun untuk minta maaf masalah insiden di kliniknya itu.”

“ Ya, karena itulah dia mengamuk dan hampir membuat kegaduhan di tempat yang seharusnya tenang dan damai. Aku menangkapnya di gedung penyimpanan abu jenazah. Bukan menangkapnya sih, cuma mengamankannya sebentar di kantor polisi. Tak satupun dari atasanku yang mau memprosesnya.”

“ Apa dia sedang mengunjungi abu jenazah Kim Yura disana?”

“ Hm. Kau benar. Ken bilang hampir setiap hari dia kesana.”

“ Pasti masih sangat berat baginya untuk merelakan.”

“ Ya, begitulah. Aku kasihan padanya.”

“ Oh ya, apa kau punya piket malam?” Myungsoo langsung ke pertanyaan inti setelah merasa cukup berbasa-basi.

“ Besok aku berencana untuk tidur di kantor, walaupun tidak piket. Hari-hari berikutnya juga.”

“ Dalam rangka apa?”

“ Demonstrasi.”

“ Demonstrasi?”

“ Ya. Aku sedang marah pada atasanku.”Sungyeol memilih jujur. Lagipula Myungsoo tak akan mengerti karena ia lupa segalanya.

“ Marah kenapa?”

“ Ada lah pokoknya.”

Sungyeol masih enggan terbuka. Ia takut salah ucap dan kelepasan jika memilih ‘curhat’.

“ Jadi kau akan menginap di kantormu mulai besok?”tanya Myungsoo lagi karena masih tak percaya.

“ Hm. Di lantainya malah. Sampai atasanku mau mengabulkan apa yang kuinginkan.”

Aigoo.. memangnya apa yang kau inginkan darinya, Sungyeol-ssi?”

Sungyeol hanya tersenyum.

“ Aku ingin dia mengizinkanku untuk membuktikan bahwa Kim Yura dibunuh oleh saudara kembarnya sendiri.”

***

“ Masuklah. Ayo kita pulang dan jemput Chohyun. Hari ini aku bebas dari Naeun, jadi kita bisa lebih santai.”

Chorong yang masih menunggu taksi di depan medical center malam itu tak menyangka mobil Woohyun menghampirinya. Mereka memang sama-sama baru menyelesaikan praktik rutin masing-masing.

“ Kalau kau menyuruhku masuk untuk berdebat lagi sepanjang jalan, aku tidak mau. Lebih baik naik taksi.”sahut gadis itu dari luar, bagaimanapun juga perasaannya masih tidak nyaman, dan tentu saja rasa dendamnya pada Woohyun yang memojokkannya di ruang rapat masih ada.

“ Jika kau tidak membahas masalah di ruang rapat itu duluan, maka aku tak akan membahasnya juga. Deal?

Chorong menghela nafas dan terpaksa masuk ke mobilnya.

“ Apa Naeun masih di klinik daruratnya?”

“ Hm. Dia bilang akan tidur di rumahnya malam ini.”

“ Jadi kau sendirian malam ini?”

“ Mau menemaniku?”

“ Tidak.”

“ Kalau begitu Chohyun saja yang menemaniku.”

“ Lalu aku yang sendirian!?”

“ Tidak adil, kan? Kenapa tidak bertiga saja?”

“ Terserahlah.”

“ Sudah makan malam?”

“ Tidak lapar.”

“ Kalau begitu aku juga tidak lapar.”

Chorong mencibir, antara kesal dan gemas. Entah mengapa, bahkan setelah Woohyun sejahat itu padanya tadi siang, ia tetap tak bisa benar-benar membenci lelaki itu. Jangankan demikian, disaat Chorong sudah mengetahui beberapa bukti tentang DarkAngel yang mengarah pada Woohyun pun ia masih berusaha menyangkalnya, meski memang pikirannya menjadi tidak tenang karena hal itu.

“ Bisa antar aku ke suatu tempat?”tanya gadis itu.

“ Kemana?”

“ Studio Myungsoo.”

Rahang Woohyun tiba-tiba mengeras.

“ Untuk apa?”

“ Kemarin aku dan Hakyeon melihat..” Chorong menjawab sembari terus berpikir, “…kami melihat kacanya pecah, seseorang pasti masuk kesana.”

“ Lalu kenapa memangnya? Bisa saja itu maling. Tak usah peduli.”

Tapi maling itu menggunakan mobil ini, sialan. Chorong benar-benar ingin mengatakannya.

“ Aku ingin lihat keadaan di dalamnya. Aku penasaran.”

Chorong menyesal mengapa baru terpikirkan sekarang untuk memeriksa isi studio Myungsoo untuk mencari petunjuk lain atas penemuannya dengan Hakyeon yang mungkin ada disana. Jika saja ia sudah dapat ide ini dari awal, tentu ia memilih naik taksi.

Namun tak disangka, Woohyun mengabulkan keinginannya, lelaki itu mengarahkan mobilnya menuju studio Myungsoo, sepanjang jalan, ia juga tak mau banyak tanya tentang keinginan Chorong memasuki tempat itu. entah karena menghindari sesuatu, atau karena ia tak ingin berdebat lagi dengan kekasihnya.

Mereka sampai.

“ Aku tunggu disini.”Woohyun menghentikan mobilnya dan membukakan kunci pintu untuk Chorong.

“ Tidak mau turun? Tidak penasaran dengan keadaan di dalam?” Chorong memancing.

“ Tidak. Hanya akan menyakitkan hatiku saja, dia banyak menyimpan foto-fotomu di dalam sana, kan?”

Bagaimana Woohyun tahu? Dia tahu dari dulu atau karena kemarin membongkar semuanya? Chorong mulai overthinking.

“ Oh ya, apa kau tahu password pintunya? Aku lupa.”Chorong memancingnya lagi.

“ Mana kutahu.”jawab Woohyun, “…kalau kau lupa, masuk saja lewat jendelanya yang sudah pecah itu. tapi berhati-hatilah, jangan sampai kulitmu tergores kaca.”

Apa kau yang memecahkannya kemarin? Chorong semakin gemas. Ia pun segera masuk sendirian melalui jendela meski ia tahu password pintunya. Ia terpaksa berpura-pura lupa agar Woohyun tak mencurigainya.

Studio yang dulunya rapi dan mewah itu kini berantakan tak karuan, beberapa barang seperti pot bunga dan hiasan dinding nampak hancur dan rusak di lantai. Seseorang yang memasuki tempat ini kemarin jelas telah mengacak-acaknya dengan brutal.

“ Ya Tuhan..” Chorong terkejut ketika ia mendekati meja kerja Myungsoo. Begitu banyak cetakan foto dirinya bertumpuk dan tersebar di atas sana, bahkan tak sedikit juga yang jatuh ke lantai. Banyak. Sangat banyak. Ia tahu Myungsoo mengumpulkan ini semua selama bertahun-tahun menjadi orang yang terobsesi dengannya. Namun siapa bajingan yang sudah membongkar isi studio Myungsoo dan mengeluarkan semua foto ini?

Chorong kembali menoleh ke arah luar, memastikan Woohyun masih menunggunya di mobil.

“ Apa aku harus berterus terang? Apa aku harus..menuduhnya sekarang..?” gadis itu nampak bingung dan mondar-mandir sejenak di dalam, hingga matanya menemukan sesuatu di pojok ruangan.

Satu botol wine yang sudah kosong. Tetesan sisa winenya mengotori lantai, tanda bahwa botol itu memang bekas diminum, bukan rongsokan studio.

Gadis itu meraihnya dengan wajah penuh harapan.

Wine.. ini pasti milik DarkAngel. Woohyun tidak pernah mengonsumsi alkohol.. ya.. pasti bukan dia.. pasti.. aku harus beritahu oppa..

Dengan gemetaran Chorong meraih ponselnya dan menghubungi Hakyeon. Ia harap Woohyun masih mau sabar menunggunya di luar.

Baru saja aku ingin menelponmu.” Hakyeon menjawab panggilannya, “…apa kau akan ke markas malam ini? Staf kita sedang menggali sesuatu lagi malam ini. Aku sedang menunggu mereka.”

Oh, no. sepertinya akan ada petunjuk baru. Chorong merasa hatinya belum siap meski kini ia merasa tengah memegang petunjuk yang kuat juga untuk menyelamatkan Woohyun dari tuduhan Hakyeon.

Oppa!” Chorong masih gemetaran, “…maaf, maafkan aku. Mungkin aku tak bisa ke markas malam ini, tapi.. sekarang aku ada di dalam studio Myungsoo. Aku menemukan sesuatu disini.”

“ Apa? Bagaimana ceritanya kau ada disana?”

“ Woohyun mau mengantarku kesini.”

“ Woohyun!?”

“ Hm. Dia bukan pelakunya,  oppa. Aku menemukan botol wine bekas disini. Woohyun sama sekali bukan pengonsumsi alkohol.”

“ Kau yakin?”

“ Seratus persen.”

“ Cek dasbor mobilnya, siapa tahu dia menyimpan wine disana.”

Mengapa Hakyeon harus sebenar ini? Chorong ingat tadi pagi ia mendapati botol wine di dasbor mobil Woohyun.

“ Ada wine disana, tapi itu untuk Naeun. dia tidak menyentuhnya sama sekali.”

“ Bagaimana bisa kau percaya itu hanya dengan perkataannya saja?”

Chorong mulai jengkel, Hakyeon masih sulit mempercayainya.

“ Baiklah, terserah jika sekarang kau belum mau percaya padaku. Aku akan menunggu bukti apa lagi yang bisa diungkap oleh staf kita kali ini. Jika kemarin kau beranggapan bulan lahir dan jenis kelamin itu bukti kuat untuk menuduh Woohyun, maka hari ini aku menganggap botol wine yang kutemukan adalah bukti kuat untuk tidak menuduhnya lagi.”

“ Turunkan nada suaramu, Chorong-ah. Aku tahu kau marah. Tapi kita punya tujuan yang sama, bukan?”

Chorong tak peduli, ia memutuskan teleponnya dan keluar dari studio kosong itu, meninggalkan botol winenya disana agar Woohyun tidak curiga.

“ Sudah selesai?”tanya Woohyun ketika ia kembali ke mobilnya.

“ Hm.”

“ Sebenarnya apa yang kau cari disana?”

“ Tidak ada.”

“ Tapi kudengar kau menelpon seseorang saat di dalam.”

“ Woah, kau ada di dalam sini tapi bisa mendengarku di dalam?”

“ Telingaku tajam dan sensitif dengan suaramu.”

Dasar pria mengerikan.

“ Bukan urusanmu.”jawab Chorong kesal.

“ Hakyeon atau Howon? Pasti salah satunya.”

“ Hakyeon! Puas?”

“ Bukan Howon, kan?”

Chorong menggeleng, “ Lagipula untuk urusan apa aku menelpon dia?”

“ Kau lupa dengan baku bisik yang kalian lakukan di ruang rapat? Rasanya mustahil dia berada di pihakmu jika kau tidak menjanjikannya imbalan.”

“ Sudah lama aku dan dia janjian untuk makan malam bersama malam minggu nanti. Paling-paling hanya itu imbalannya.”

“ Kau yakin hanya itu? apa saja bisa terjadi setelah seorang pria dan wanita makan malam bersama. dia bisa meminta lebih.”

“ Tidak masalah, akan kuturuti.”

“ Tidak jika itu tubuhmu.”

“ Apa hakmu melarang-larang? Suamiku saja bukan.”

“ Haruskah kita berdebat lagi?”

“ Tidak. Aku bosan menang terus.”

Woohyun mendengus kesal. Ia kalah.

*

Hakyeon masih memperhatikan lima stafnya yang masih sedang beristirahat dan makan bersama di tengah ruangan. Mereka begitu berisik, mulai dari Sungjong yang membicarakan pekerjaannya membuat fitur live untuk situs mereka hingga memperbincangan forum-forum bunuh diri yang menarik di situs mereka sendiri.

Hakyeon tak sabar untuk menggali fakta baru lagi tentang DarkAngel dengan bantuan mereka, namun ia tak ingin merusak istirahat mereka dulu. Lelaki itupun memilih untuk mulai bekerja sendiri meski hari ini ia merasa cukup lelah karena ia terus berlatih untuk comebacknya setiap hari.

“ Aish! Kenapa tidak ada yang mendengarkan aku!? Rasanya sia-sia sekali aku bekerja keras untuk fitur live itu!” terdengar suara Sungjong mengomel karena rekan-rekan gadis di depannya sibuk dengan laptop mereka masing-masing sembari terus menyantap makan malam mereka.

“ Sudahlah.. kami sudah paham kok,”jawab Yoojoo enteng.

“ Kuanggap kalian semua setuju aku menempatkannya di deep web.”

“ Yaa.. yaa.. kami setuju.”sahut Jiyeon.

“ Fitur livenya siap aku luncurkan besok. Jadi kalian punya pekerjaan tambahan untuk memantau situs deep web kita.”

“ Oke.. kami mengerti. Itu akan sangat melelahkan, makanya kami perlu hiburan dulu.”jawab Yerin sembari terkekeh di depan laptopnya bersama gadis yang lain.

“ Kalian sedang apa sih!?” Sungjong akhirnya bergabung dengan mereka.

“ Ini, membaca forum yang baru saja menempati #1 di situs kita.”jawab Jungyeon sembari melakukan scrolling.

“ Apa yang menarik disitu?”

“ Baca! Ini bukan forum bunuh diri, tapi.. forum bunuh diri. Haha. Entah kita sebut bagaimana. Tapi pembuat forumnya sangat pandai mengambil keuntungan dari situs kita.”

Sungjong memasang kacamatanya dan membaca forum tersebut.

“ Ditulis oleh Kim Taeyeon, tiga bulan yang lalu. Menerima jasa ramal akun yang akan mati. Maksudnya?”

“ Jadi pembuat forum ini mengklaim dirinya bisa meramal para pengguna situs kita, dia bilang dia bisa menebak kapan para pengguna situs itu mati bunuh diri. Orang-orang hanya perlu menyetor satu username yang ingin mereka ketahui waktu kematiannya. Mereka juga bisa menanyakan username mereka sendiri.”jelas Jiyeon.

“ Yap, dan harga satu akun untuk diramal 10.000 won.”tambah Yerin, “…aku sudah coba akunku sendiri dan dia bilang aku tidak akan mati bunuh diri, hehe.”

“ Itu bodoh dan tidak masuk akal.”cibir Sungjong.

“ Tapi ramalannya selalu benar. Dia bahkan meyakinkan orang-orang bahwa dia paranormal sejati.”ucap Yoojoo sembari menunjukkan tulisan dalam forum tersebut, “…lihat, dia menulis : aku bukan paranormal palsu yang menipu orang lain untuk memperoleh keuntungan. Benar adanya, aku memiliki kemampuan. Seorang wanita paling kaya di negara ini pun meminta bantuanku untuk memanggil arwah anaknya yang sudah mati. Jangan ragukan aku dan berikanlah nama untuk aku ramal! 10.000 won.”

“ Haha, ujung-ujungnya promosi.”

“ Wanita terkaya di negara ini? Siapa?” Hakyeon yang mendengar perbincangan mereka mulai tertarik mendengarnya.

“ Untuk apa dipikirkan? Paling-paling dia hanya penipu.”Sungjong geleng-geleng kepala, sementara yang lain mulai berpikir.

“ Gara-gara Hakyeon oppa, aku jadi penasaran..” Jungyeon mulai mengetik komentar di forum tersebut, “…siapkan 10.000 won lagi, aku ingin tahu ini.”

“ Apa?”tanya yang lain penasaran.

“ Bagaimana jika kita tanya akun DarkAngel pada peramal ini? Kira-kira apa jawabannya?”

“ Aiiih.. benar juga. Kau jenius!”

“ Kalian sudah gila. Lagipula yang pakai username itu banyak sekali. Kita saja susah mencari yang benar apalagi peramal.”cibir Sungjong.

“ Sudah.. sudah.. kembali pada pekerjaan kalian. Mengapa mengandalkan peramal yang belum tentu benar, huh?”ucap Hakyeon, “…sudah sampai mana penyelidikan kalian?”

“ Kami mengirim transkrip proses transaksi pembelian akun VIP oleh DarkAngel padamu, dan itu sudah susah payah kami temukan karena pembelian akunnya sudah dari beberapa hari yang lalu. Mungkin kau bisa melacak dengan metode apa pembayaran akunnya. Jika dia menggunakan kartu kredit, akan sangat mudah menemukan namanya, kan?”lapor Yerin.

“ Benarkah?”

“ Biar aku yang kerjakan. Ini cukup mudah. Lagipula proyek fitur live-ku sudah selesai.” Sungjong meminta Hakyeon menyingkir dari komputernya. Ia memang ‘pacar’ yang bisa diandalkan.

Hakyeon menunggu dengan harap-harap cemas.

*

Naeun’s Emergency Clinic, Morning, 06.00 A.M

 

Good morning.”

Naeun terkejut ketika mendapati Woohyun muncul di depan pintu klinik barunya pagi itu.

Sunbae? Kenapa datang sepagi ini?”

“ Apa kau memulai praktikmu sepagi ini juga?’ Woohyun malah bertanya balik sembari masuk karena ia kedinginan di luar.

“ Tidak. Kami akan buka jam 8.”Eunji yang ada di dalam menjawab.

“ Hai, perawat. Bisa kau keluar sebentar? Aku ingin berduaan dengan istriku.”

Naeun mengeryitkan dahinya, tak mengerti. Sementara Eunji menurut saja dan keluar dari ruangan.

“ Kau mau apa, hah?”tanya Naeun, ia benar-benar geli dengan cara Woohyun memperlakukan dirinya di depan orang lain.

“ Tentu saja mengunjungimu. Kemarin aku sudah janji, kan?”

“ Terimakasih. Tapi aku yakin tujuanmu tidak hanya itu.”

“ Haha, pastilah.”

“ Kau mau apa lagi?”

Woohyun sedikit mendekat dan berbisik.

“ Rasanya memalukan, tapi aku harus tetap bilang.”

“ Apa?”

“ Aku kesini untuk minta uang padamu.”

Mwo?

“ Kartu kreditku hilang. Selama ini aku pakai uang cash. Dan kemarin uang cashku habis saat membayar biaya penitipan Chohyun, disitulah aku baru sadar kalau kartu kreditku tidak ada, entah kemana.”

Naeun terdiam sejenak. Namun setelah itu tanpa banyak bicara ia membuka brankas di bawah mejanya dan menyerahkan satu lembar cek pada suaminya itu.

“ Lain kali hati-hati.”

Thanks.”

“ Pergi sana. Urusanmu sudah selesai kan?”

“ Kau mengusirku?”

“ Hanya memberimu kesempatan untuk bebas bertemu Chorong sunbae, mumpung aku disini.”

“ Tidak perlu seperti itu.”

“ Tidak tidur dengannya tadi malam?”

Woohyun mengangguk, “ Tapi dia sudah pergi begitu saja sebelum aku bangun. Mungkin karna kami sempat bertengkar dia jadi tidak mau lama-lama bersamaku.”

“ Kau mengajaknya tidur di rumah kita?”

“ Hm, Chohyun juga. Jangan khawatir, aku menyuruh semua pegawai rumah untuk pulang.”

“ Ck, dasar. Bertengkar apa lagi sekarang?”

Woohyun tak mau menjawabnya.

“ Apa kau akan tinggal disini selama bekerja di klinik darurat?”

“ Entahlah. Tapi tentu saja aku merasa lebih nyaman disini dibandingkan tinggal denganmu.”

“ Kalau begitu tinggal saja disini.”

“ Kau tidak masalah?”

“ Aku berencana tidur di medical center jika malam ini atau malam-malam berikutnya Chorong tidak mau tidur denganku lagi.”

“ Hah?”

“ Aku tak bisa tidur sendirian di rumah, aku sudah terlanjur menyuruh pergi semua pegawai.”

“ Tidak biasanya kau penakut seperti ini.”

“ Akhir-akhir ini aku merasa aneh dengan diriku sendiri. Aku merasa Kim Yura sedang menghantuiku. Aku selalu melihat wajahnya setiap kali mengantar dan menjemput Chohyun di rumah penitipan itu. Aku tidak bohong.”

Naeun terpaku mendengarnya.

“ Sejak..kapan?”

Woohyun terdiam sejenak, mengingat-ingat.

“ Aaah.. aku ingat sekarang.”lelaki itu tiba-tiba berubah sangat serius.

“ Apa?”

“ Teror itu muncul diawali dari mimpi. Aku pernah bermimpi buruk, aku bermimpi bertemu Yura untuk pertama kalinya. Dan ketika aku bangun, ada infus menancap ditanganku, dan itu adalah ulahmu.”

Naeun mengunci mulutnya sejenak.

“ J..jadi.. apa maksudmu? Aku hanya—”

“ Mungkinkah kau memasukkan obat yang membuatku mengalami mimpi buruk dan halusinasi hingga sekarang di lewat infus itu?”

Gadis itu kaku, ia buru-buru menggeleng.

“ Tidak! Untuk apa aku melakukannya!?”

“ Jujur saja, Son Naeun.”

“ Jangan salahkan orang lain atas dosa yang kau perbuat, sunbae.”

Woohyun menyerah, ia berdiri dan bersiap untuk pergi saja.

Kriiing~

Tiba-tiba terdengar bunyi telepon masuk dari meja kerja Eunji. Walau belum diperintah untuk masuk, Eunji tetap kembali ke ruangan dan mengangkat teleponnya.

“ Halo? Klinik darurat kediaman keluarga dokter Son. Jung Eunji disini, ada yang bisa saya bantu?.”

“ Rupanya kalian sudah disana.”

Eunji terkejut, ia sangat kenal dengan suara ini.

“ Ken-ssi?”

“ Ya. Panggil saja Jaehwan. Dimana Naeun?”

“ Dia—“

“ Ya? Aku disini.”

Naeun meraih telepon dari tangannya dan  mengambil alih panggilan.

“ Selamat atas kepindahanmu dari medical center ke klinik darurat. Suatu kehormatan bagiku bisa membuatmu pindah tempat kerja seperti ini. Hahaha”

“ Haha. Terimakasih, kau membuatku merasakan suasana baru.”balas Naeun, Woohyun yang ada di sampingnya membatalkan kepergiannya sejenak karena ia penasaran dengan pembicaraan mereka.

By the way, apa kau mau aku minta maaf?”

Naeun tertawa sinis. Jelas, Jaehwan hanya sedang mengejeknya.

“ Terserah. Bukan aku juga yang rugi jika kita tidak berdamai.”

“ Itulah letak ketidak-adilannya, nona Son. Makanya aku memutuskan untuk mengalah.”

“ Mengalah? Kau ingin minta maaf?”

“ Aku malas menjelaskannya sendiri. Silahkan bicara dengan mediator kita.”

“ Halo? Naeun-ssi?”

Naeun terkejut ketika mendengar suara wanita yang mengambil alih telepon Jaehwan.

“ Hei, Bomi-ssi. Apa kabar?”

“ Baik. Mungkin kau lupa, tapi aku menunggu jawabanmu untuk tampil di talkshow-ku lagi. Kau belum menjawabnya sampai sekarang. Dan hari ini, Ken datang padaku, dia menerima tawaranku untuk tampil juga disana. Dan aku berharap kau juga menerimanya, karena Ken akan menyampaikan perminta maafannya padamu melalui talkshow-ku.”

“ Apa..?!”

“ Jebakan. Pasti jebakan. Dia akan bicara tentang Myungsoo di talkshow itu. aku yakin.”bisik Woohyun, menyadarkan Naeun agar tetap menolak tawaran Bomi.

Naeun masih diam, berpikir.

“ Sebaiknya kau datang dan tampil bersama Ken, dokter Son. Perdamaian kalian akan terlihat lebih indah di mata masyarakat. Sayang sekali jika kau menolak ini. Jika kau menolaknya, kau akan dianggap tidak menerima perminta maafan Ken.” jelas Bomi.

“ Jangan. Kubilang jangan.”Woohyun berbisik lagi padanya, Naeun masih berpikir.

“ Di episode berapa kami tampil?”tanya Naeun.

“ 334, minggu depan, live. Bagaimana?”

“ Ya. Aku akan datang.”

“ Terimakasih dokter Son.”

Telepon terputus.

“ Kau sudah gila!? Itu terlalu beresiko. Jaehwan ingin tampil di acara itu bukan tanpa alasan!” Woohyun kesal karena Naeun tidak mendengarkannya.

“ Aku tidak punya pilihan.”

“ Kau punya. Pikirkanlah baik-baik jika kau tak ingin nama Myungsoo atau masa lalumu dengan dia dipangkas habis oleh Jaehwan di acara itu.”

Woohyun benar-benar keluar dari ruangan kliniknya. Lelaki itu nampak gusar.

“ Myungsoo?” Eunji yang ada disana menjadi satu-satunya yang tak mengerti, namun nama itu tentu saja akrab di telinganya karena Chorong membawa lelaki dengan nama itu ke klinik Naeun dengan pembuatan kartu pasien yang harus dirahasiakan data-datanya oleh Eunji.

“ Sekarang kau mengerti kan mengapa aku sangat ingin melihat data kartu pasiennya?”sahut Naeun, Eunji mendadak gemetar, ia tak bisa lagi menghindar.

“ Itu.. kartu pasiennya..” Eunji benar-benar tak berani memberikannya jika tanpa seizin Chorong.

“ Kenapa sulit sekali memberikannya padaku?”

“ Data kartu pasiennya tertinggal di medical center.”Eunji beralasan.

“ Ambil sekarang.”

“ A..apa?”

“ Kubilang ambil sekarang.”

Eunji tak dapat mengelak, ia terpaksa keluar. Ia akan menggunakan kesempatan ini untuk menemui Chorong, namun ia mendadak panik mengingat Chorong baru akan praktek jam 12 di medical center. Menunggu hingga jam 12 akan sangat lama dan pasti membuat Naeun curiga. Ia semakin panik karena tak tahu dimana alamat rumah Chorong atau kontaknya.

“ Aku harus bagaimana sekarang?”

Hingga matanya menangkap sosok Woohyun yang belum pergi dari kawasan kediaman keluarga dokter Son. Lelaki itu baru saja hendak memasuki mobilnya. Tanpa pikir panjang, Eunji berlari ke arah dokter bedah itu.

“ Dokter Nam Woohyun!”

“ Ya?” Woohyun terpaksa keluar lagi dari mobilnya.

“ B.. bisakah.. aku minta nomor telepon dokter Park Chorong?”

“ Untuk apa?”

Seperti biasa. Woohyun harus selalu ingin tahu urusan Chorong dengan semua orang.

“ Ada keperluan penting, aku harus menghubunginya sekarang.”

“ Ya. Keperluan apa itu?”

“ Tolong beritahu aku dulu nomor teleponnya. Aku tidak punya banyak waktu.”

“ Tidak sebelum kau beritahu aku ada urusan apa kau dengan dia.”

“ Aish..” Eunji menyerah, ia benar-benar menyesal mengapa harus meminta tolong dokter menyebalkan di depannya ini, ia pun menyibukkan dirinya sendiri mencari kontak dokter lain di ponselnya yang sekiranya bisa membantu dia memberikan nomor telepon Chorong.

“ Ah.. mungkin dokter Howon tahu nomor telepon— YA!!” Eunji terkejut karena Woohyun tiba-tiba merampas ponselnya ketika ia baru saja hendak menghubungi Howon untuk meminta nomor telepon Chorong.

“ Maaf, perawat Jung. Aku terlanjur penasaran dengan urusan kalian. Apalagi melihatmu sepanik ini. Sepertinya penting sekali. Aku tidak bisa melewatkannya.”

“ Kembalikan—“

Woohyun mengeluarkan ponselnya sendiri dan ia mulai menelpon Chorong dengan mengaktifkan mode loudspeakernya.

“ Ini, gunakan saja milikku. Aku baik, kan?”

Eunji gugup, Chorong sudah mengangkat panggilannya.

Ada apa, Woohyun-ah

“ Haha. Aku hanya sedang menolong seorang perawat yang punya urusan denganmu.”

“ Ada apa?”

“ Bicaralah.”titah Woohyun, namun Eunji diam seribu bahasa.

“…kalau kau tidak bicara, jangan harap ponselmu kembali.”

“ HEI! Nam Woohyun, apa yang sedang kau lakukan?” Chorong mulai curiga, Woohyun tertawa licik.

“ Aku hanya penasaran ada urusan apa kau dengan perawat dari poliklinik kejiawaan. Pasti urusan yang menarik.”

“ Brengsek!”

Setelah mendengar perkataan jahat lelaki itu, Chorong langsung menutup teleponnya untuk menghindar, sedangkan Eunji masih gugup.

“ Bisa kutarik kesimpulannya. Urusan kalian adalah urusan yang tak boleh aku ketahui. Haha, semakin menarik jadinya.”Woohyun mengembalikan ponsel Eunji dan akhirnya pergi dengan mobilnya.

Bahkan ketika sudah dibebaskan, Eunji masih tak bisa bernafas lega.

“ Dokter sialan!”jeritnya kesal.

Naeun yang memperhatikan mereka sejak tadi melalui jendela klinik hanya tertawa sinis.

“ Dia memang sialan.”

***

From : Kim_Myungsoo

To : Sgyu89, Sungwonapplecandy, EjJung_K93, OHaesook96, Manonfire_4, Anonim1, Lmao_r, 6969, Yesterday_a, XXX_Lee03

 

Halo teman-teman. Seperti yang kujanjikan, aku akan memberitahu kalian kapan kita bisa bertemu dan dimana letak apartemenku.

Ini adalah apartemenku : [link location]

Tetangga polisiku menginap di kantornya mulai hari ini, ia tak akan pulang selama beberapa hari. Jadi kurasa kita bisa bertemu besok malam, jam 11. Bagaimana? Jangan malam ini, aku perlu membereskan apartemenku dulu.

 

Setelah Chorong pulang dari apartemennya, Myungsoo membuka kembali komputernya dan mengirimkan pesan pribadi pada teman-teman forumnya –kecuali DarkAngel, tentunya—, tentang rencana pertemuan mereka. Beberapa detik setelah pesannya terkirim, chat baru mulai masuk di forum.

Anonim1 : Sudah kuterima pesanmu, Myungsoo. Terimakasih!

Sgyu89 : sayang sekali aku tak bisa datang TT

Sungwonapplecandy : whoa thanks

Manonfire_4 : besok malam ya? Ok

6969 : hoho, malam minggu

XXX_Lee03 : jangan terlalu repot beres2

Lmao_r : bawa senjata masing2. Siapa tahu kita ingin bunuh diri besok

Yesterday_a : LOL

EjJung_K93 : haruskah aku datang saja? Aku kesal sekali dengan pekerjaanku

Anonim1: Ayoo datang saja

EjJung_K93 : sepertinya tetap tidak bisa -_-

OHaesook96 : kyaa aku baru membaca pesan dari Myungsoo. aku sedang di supermarket. Mau kubelikan sesuatu untuk perkumpulan besok?

DarkAngel : terimakasih

XXX_Lee03 : hul -_- apa lagi maksudmu hah?

Kim_Myungsoo : jangan khawatir, aku tidak mengirimkan pesan padanya

Sgyu89 : by the way, forum kita sudah tidak di #1 lagi

Sungwonapplecandy : memang sudah lama turun ranking, hyung. Penghuninya kan hanya kita2 saja, yg lain sudah mati

Manonfire_4 : yap. Sekarang forum #1nya adalah forum peramal aneh

Anonim1 : Siapa yg peduli dengan ranking? Aku lebih excited dengan fitur live yang baru diluncurkan

Lmao_r : LIVE?

6969 : yap, tapi hanya ada di killyourself khusus deep web, domainnya garlic

Yesterday_a : ada yg bisa mengaksesnya? Aku penasaran TT

XXX_Lee03 : aku bisa. Haruskah kita coba live saat bertemu besok?

Kim_Myungsoo : wahh..

DarkAngel : Menyenangkan.

 

“ Orang gila ini.. kapan dia akan berhenti?” Myungsoo masih tak bisa mengurangi rasa takutnya. Ia berharap pertemuan besok dengan teman-teman forumnya berjalan baik-baik saja.

***

Saturday Night. 21.00 PM

 

“ Sialan, ini pasti ulahmu!”

Chorong melangkahkan kakinya dengan gontai menuju departemen bedah medical center malam itu. rencana makan malamnya dengan Howon batal karena ia terkena piket malam. Ia yakin Woohyun adalah orang yang membuatnya seperti ini dengan kekuasaan yang ia punya. Apalagi, sudah sejak kemarin mereka tidak akur. Woohyun pasti tidak segan-segan berbuat tega padanya.

Karena terlalu malas untuk berjalan ke asrama dokter, Chorong untuk memilih tidur di ruang istirahat dokter saja selama piketnya. Ia berharap partner piketnya adalah dokter perempuan juga sehingga mereka bisa sama-sama tidur di satu ruangan dengan nyaman, namun…

Ternyata laki-laki.

“ Hai, seperti takdir saja kita piket bersama. Mungkin kita ditakdirkan kencan disini saja.”

Howon sudah berada di ruang istirahat sejak tadi, ia terkejut sekaligus senang dengan kedatangan Chorong.

“ Hanya kita berdua saja?”tanya Chorong sembari meletakkan tasnya dan melepas ikat rambutnya.

“ Hm. Aku kira aku sendiri. Mengapa kau tiba-tiba ditugaskan?

“ Paling-paling ulah dokter bedah sialan itu.”

“ Dia pasti menyesal kalau tahu aku ada disini juga.”

“ Biar saja.”

“ Tapi kudengar sejak kemarin dia tidak pulang kerumahnya dan selalu tidur disini.”

Mwo?”

“ Berharap saja tidak lagi malam ini. Aku ingin berdua denganmu.”

Chorong tertawa sinis, pasrah ketika Howon menariknya untuk duduk merapat.

“ Kau tidak lupa dengan imbalan untukku, kan? Aku sudah membuang harga diriku di depan The King untukmu.”

“ Aku tidak lupa. Tapi makan malam kita batal dan kita malah terdampar disini. Lantas apa yang kau mau?”

Perlahan, Howon semakin mendekat dan mulai bernafas di rambut gadis itu. Chorong sudah menduga apa yang akan terjadi selanjutnya.

“ Dokter Park!!!”

BRAK!

Keduanya sontak saling menjauh ketika seseorang membuka pintu ruangan.

Jung Eunji. Perawat itu memang sejak kemarin mencari-cari Chorong, dan ia kelihatan lega karena akhirnya bisa menemukan sang dokter. Wajahnya nampak stress karena Naeun terus mendesaknya untuk memperlihatkan data kartu pasien Myungsoo.

“ Hah.. ganggu saja.”dengus Howon, namun ia tak peduli, tangannya segera menarik Chorong untuk keluar dan bicara.

“ Aku benar-benar ingin menemuimu sejak kemarin, kenapa kau sulit sekali ditemui?”keluh Eunji.

“ Kita sama-sama menghindar dari Woohyun. Dan sialnya dia terus ada dimana-mana. Itulah sebabnya. Maafkan aku.”jawab Chorong.

“ Jadi begini, aku—”

“ Kau perawat darimana?”

Eunji terpaksa menunda pembicaraannya karena Howon mengikuti mereka dan nampak penasaran padanya.

“ Kejiwaan VVIP.”jawabnya singkat.

Heol, asisten Son Naeun?”

“ Ya. Jadi begini, dokter Park, aku—”

“ Ada urusan apa kau dengan Chorong?”

“ Pribadi. Bisakah Anda menjauh sebentar?”

“ Bicara saja, aku tidak peduli juga.”

“ Lebih baik jangan dengarkan kami, kumohon.”

“ Aish.. dasar.” Howon pun masuk dan menunggu Chorong dengan sabar. Eunji segera melanjutkan laporannya pada Chorong.

“ Naeun ingin melihat data kartu pasien Myungsoo sejak kemarin. Aku beruntung hari ini bisa menghindar darinya karena dia pergi entah kemana. Tapi aku takut dia akan menagihnya lagi saat dia pulang.”jelas Eunji, “…apa yang harus kulakukan?”

Chorong mendadak blank. Ragu, sebab ia menulis profesinya sebagai administrator situs bunuh diri sebagai profesi Myungsoo dalam data itu. ia tak tahu berbahaya atau tidak jika Naeun mengetahuinya, ia harus memikirkan hal ini matang-matang.

“ Aku ragu..”

“ Ayolah, dokter Park.. aku tidak punya banyak waktu. Kalau begini rasanya aku tertekan bekerja dengan dokter Son. Dia seolah ingin membunuhku jika aku tidak segera memberikan datanya.”desak Eunji.

“ Bagaimana ini..”

“ Sialan. Sial. Itu dokter Nam Woohyun, kan?” Eunji semakin panik ketika melihat sosok Woohyun muncul dari koridor kiri dan berjalan menuju ruang istirahat dokter. Benar, sepertinya lelaki itu ingin menginap lagi disini.

Chorong ikut gemetar, kakinya refleks hendak berlari masuk ruangan, namun Eunji menahannya.

“ Jawab dulu, dokter Park! Aku harus bagaimana!?”

“ Berikan saja datanya! Berikan!” jawab Chorong pasrah karena Woohyun semakin dekat, Eunji mengangguk dan segera pergi ke arah yang berlawanan, terpaksa mengambil jalan memutar asalkan tak berpapasan dengan dokter yang sempat menindasnya kemarin siang.

Sementara Chorong langsung berlari masuk ke dalam ruang istirahat dan dengan sengaja mengunci pintunya agar Woohyun tak bisa masuk.

“ Ada apa?”Howon tak mengerti karena Chorong mengunci pintunya.

BRAK!!

“ Hei!! Buka! Park Chorong!”

“ Woohyun?”tanya Howon, Chorong mengangguk.

“ Aku tidak mau bertemu dengannya, aku tidak mau diinterogasi olehnya, aku tidak mau melihatnya..”

“ Aku juga tidak mau dia mengganggu kita.”

“ Siapa di dalam!?” Woohyun masih berusaha menerobos masuk dan ia semakin emosi ketika mengintip dari celah pintu, hanya ada Chorong dan Howon di dalam sana. Ketakutannya tentang ‘imbalan’ Chorong untuk Howon semakin menjadi-jadi.

“ Pergi sana!” Howon berteriak dari dalam, membuatnya semakin naik darah dan..

BRAK!!!

Berhasil mendobrak pintunya.

“ Apa yang kau lakukan dengan Chorong disini hah!!??”

BAK! BUK! BAK! BUK!

Ia menghajar Howon tanpa ampun, seperti sedang kerasukan setan.

“ Aku tidak melakukan apapun!!! Sialan!!!”

BUK!

Howon tak terima dan ia langsung membalas. Perkelahian pun terjadi.

“…lagipula kau siapa hah!!? Apa urusanmu jika aku tidur dengan Chorong disini!!? Kau bukan siapa-sia—”

“ DIA MILIKKU!”

BUK!!

Woohyun semakin terbakar dan bernafsu memukuli rekannya itu.

“…kau ingin tahu aku siapa, huh!? Aku kekasihnya, aku orang yang menguasainya, aku ayah dari anak yang dia lahirkan, aku orang yang memperkosanya setahun yang lalu! Apa lagi? Apa lagi yang ingin kau tahu!? Kalau tidak ada, jauhi dia dan ambil 300 juta won itu!”

Chorong terpaku, malu sekaligus marah, tak menyangka Woohyun berani bicara terang-terangan. Lelaki itu benar-benar sudah sinting.

“ Ya, sepertinya aku memang tidak usah membagi uang dari The King denganmu. Kau sudah membohongiku selama ini, jalang.”geramnya pada Chorong, ia masih kesulitan untuk berdiri.

Chorong benar-benar ingin meledak.

“ Nam Woohyun, sadarkah kau sudah—”

“ Diam, daripada aku semakin emosi dan membahas rujukanmu atas Myungsoo pada Naeun, aku sudah tahu semuanya. Aku bisa membunuhmu sekarang juga kalau aku mau.”

Woohyun menunjuk wajah gadis itu berulang kali lalu berjalan menuju tempat tidur berantakan di pojok ruangan sembari melepas jasnya, ia membanting dirinya ke tempat tidur dan membiarkan luka akibat pukulan Howon begitu saja di wajahnya tanpa diobati.

Howon yang terkapar di lantai mulai bangkit dengan wajah berdarah sembari melangkah terseok-seok keluar dari ruang istirahat dan sempat-sempatnya membanting pintu dengan penuh amarah, membuat Chorong tersentak dan merasa bersalah.

“ Howon-ssi, kau mau kema—“

“ Kalau kau keluar dan menyusulnya, kau akan tahu akibatnya.” Ancam Woohyun dengan mata yang sudah terpejam.

Chorong menatap lelaki itu dengan geram.

“ Ada apa denganmu, Nam Woohyun?”

“ Aku marah.”

“ Karena?”

“ Banyak.”

“ Aku tahu beberapa. Beritahu yang belum kuketahui.”

Woohyun membuka matanya.

“ Bencana datang.”

“ Maksudmu?”

“ Naeun menghilang. Dia tidak ada di klinik daruratnya. Memang sedang libur, tapi aku tidak tahu dia kemana, kukira dia kesini. Aku takut kejadian 8 tahun yang lalu terulang lagi, aku takut dokter Son menilaiku lalai lagi, apalagi sekarang aku adalah suaminya.”

Naeun menghilang. Chorong juga sempat dengar dari Eunji beberapa saat yang lalu. Kemana gadis itu pergi? Berpisah rumah dengan Woohyun selama dua hari sepertinya membuat dia merasa bebas pergi dan mabuk wine dimana saja.

“…dan sekarang aku tahu kau merujuk Myungsoo pada Naeun, itu artinya Naeun sudah tahu Myungsoo masih hidup. Dan sekarang dia menghilang, entah kemana. Menurutmu apa yang akan dia lakukan?”sambung Woohyun, Chorong mulai ketakutan.

“ Mereka tidak mungkin bertemu.”

***

22.55

 

“ Yah. Beres.”

Myungsoo telah selesai merapikan apartemennya meski tak begitu maksimal. Ia masih menunggu teman-teman forumnya untuk datang malam ini, sesuai kesepakatan.

Sembari menunggu, lelaki itu membawa kursi rodanya keluar sejenak dari apartemennya dan memeriksa apartemen Sungyeol yang berada tepat di samping pintunya, memastikan polisi itu memang sedang tak ada di tempatnya.

“…ini akan aman.”batinnya, ia pun mundur dan hendak kembali masuk, namun terhenti ketika mendengar suara lift di lantainya.

Satu dari mereka telah datang! Entah mengapa Myungsoo merasa excited.

Muncul seorang gadis dengan wajah bermasker dari dalam lift, berpakaian serba hitam, menghampirinya.

“ Ah.. sepertinya aku pendatang pertama.”gadis itu terkekeh, “…kau Kim_Myungsoo, kan?”

“ Ya.. aku Kim Myungsoo. Kau?”

“ Aku pemilik akun OHaesook96, panggil saja aku Haesook.”

“ Ooh, Haesook. Baiklah. Oh ya.. kau bisa lepas maskermu..”

“ Maafkan aku, aku tidak bisa. Aku.. gagal operasi plastik. Itulah sebabnya aku kadang merasa ingin bunuh diri. Aku terlalu malu dengan wajahku. Dan sepertinya.. harga diriku semakin rendah bertemu lelaki setampan dirimu, Myungsoo-ssi.”

“ Oh, begitu ya. Maafkan aku. Aku tidak tahu. Jangan terlalu merendah.”

“ Apa aku boleh masuk?”

“ Ya. Tunggulah yang lain di dalam. Aku ingin menyambut mereka di pintu, hehe.”

Gadis itu masuk ke apartemennya, sementara Myungsoo masih menunggu yang lain dengan antusias.

“ Ini akan menjadi malam yang penuh cerita tragis.”

***

9 jam kemudian…

 

“ Dokter Nam! Dokter Nam Woohyun!”

Woohyun terbangun dari tidurnya di ruang istirahat dokter ketika beberapa perawat menggedor pintu dan memanggil-manggil namanya.

“ Ada apa!?”sahutnya malas.

“ Ada pasien darurat!”

“ Aku sedang tidak piket! Aku hanya menumpang tidur disini!”

“ Tolong kami, dokter. Kami tidak tahu dokter Lee Howon dimana, sekarang dokter Park Chorong sedang menanganinya sendiri, ia perlu bantuanmu.”

“ Ugh..” Woohyun terpaksa bangkit dan segera meraih jas putihnya, ia tak bisa diam saja jika Chorong yang membutuhkannya.

Lelaki itu tiba di UGD dan melihat Chorong yang tengah melakukan tindakan pertolongan pertamanya dengan susah payah. Pasien daruratnya rupanya seorang gadis berwajah rusak yang nampak kejang hebat.

“ Apa yang terjadi?”tanya Woohyun, Chorong masih sibuk melakukan transfusi darah, tangan putih gadis itu sejak tadi memegang pergelangan tangan pasiennya.

“ Aku perlu kau untuk menambal urat nadinya.”

“ Bunuh diri lagi?”

“ Sepertinya. Polisi yang membawa dia kesini.”

Woohyun memeriksanya dan dalam hitungan detik ia sudah menyerah.

“ Dingin sekali. Apa dia ada di luar dalam waktu yang lama?”

“ Kami menemukannya terkapar di belakang minimarket dini hari tadi, entah sudah berapa lama dia disana.”jawab polisi yang membawanya.

“ Dia sudah kehabisan banyak darah, penambalan urat nadi atau transfusi darah tidak akan menolong, dia sudah terlalu lama tersiksa di luar. Dia akan mati kedinginan dan kelelahan.”

“ Kau benar.”sambung Chorong, ia melepas tangannya ketika sang pasien akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya.

“ Sayang sekali. Aku masih tidak bisa menghubungi keluarganya. Tolong nyatakan saja dulu waktu kematiannya.”ucap sang polisi sembari menyerahkan kartu identitas sang pasien. Chorong menyerahkan semuanya pada Woohyun.

“ Pasien wanita atas nama Oh Haesook, usia 20, telah dinyatakan meninggal dunia akibat hipotermia dan hipoksia hipoksis pada pukul 05.18 pagi.”

To be Continued

 

Next >> Part 5 : Painkiller

Advertisements

10 responses to “SUICIDE FORUM [Part 4 : The Beginning (2)]

  1. Yakin 100% DarkAngel itu Naeun. Di part sebelumnya dia ngirim foto Chorong dan dia bilang dia ngehancurin semuanya kan. Dan di part ini, studio Myungsoo berantakan sama foto Chorong, ditambah lagi ada wine yang biasa Naeun minum. Whuzzz.
    Sebel banget sama Woohyun jadinya. Ganggu hubungan Naeun-Myungsoo aja 😦
    Ayooo ditunggu selanjutnya!

  2. ehhh sumpah yaaa.. baca suicide forum jamm segini lumayan horor juga 😂
    yawlahhh ko gemes yaa, itu yg membunuh haesok pasti naeun *lessemot
    btw kak cit aku agak kecewa di part ini krn gk ada MyungEun moment edisi romance ughhh… T.T
    aku menebak-nebak endingnya ntar gimana, kesalahan akan berada pada siapa ? naeun ? myungsok ?? the king ?? tp makin kesini aku ngerasa kalau karakter naeun didorong untul jd antagonis :’3
    keep writing kak, nggak sia2 aku nunggu sebulan lebih dan dapat 2part sekaligus *tjium myungsoo

  3. Aaaah.. Ini darkangel pasti naeun. Yakin!! 😄😄
    Kim taeyeon paranormal. Jangan” wktu nyonya kim conseling sama naeun bilang kalau dia sering ke paranormal buat ngidupin kim yura itu emang bener. Makanya kim yura bisa hidup lagi. Trus yang ngirim mimpi” buruk ke nam wo hyun itu si taeyeon. And then, kartu kreditnya NWh yg ilang itu jangan” dipake naeun buat bayar akun Vip dark angel.
    Auuuuuuh… Rumit.. Penuh dengan teka teki. But i like it so much. 😍😍😍😍
    Ditunggu selalu kak kelanjutannya. 🎊🎉🎊🎉

  4. Wah, ini dia yang ditunggu tunggu, akhirnya update juga. Dua lagi! Belum dibaca sih, tapi aku dah penasaran nih…
    Keep writing ya, ’cause i love so much all of your story from beggining ’till now. Anyeong.

  5. nahkannnn bener kan dugaanku kalo sungyeol itu ada maunya deketan sama myungsoo..
    dan dia kok bisa tau kalo yg bunuh yura itu myungsoo??yaampun..jgn sampe dia ngebongkar rahasia itu..
    .
    dan juga benerr kan kalo taeyong itu mbah dukun..pasti dia yg ngidupin arwahnya yura..
    dan darkangel 100% pasti naeun..iyakan??
    dia kabur itu pasti dia mau ke apartementnya myungsoo.. tapii..
    oh haeseok ko bisa mati y??kenapa??mrk ga lagi mati bersama kan?n bukan myungsoo atau naeun kan yg bunuh?duhh penasaran bgt T.T
    .
    dan juga yg ke studionya myungsoo kemaren pasti naeun.. dia jg yg bawa minum” kesana pake mobilnya woohyun,trs dia juga yg nyuri atmnya woohyun buat bikin akun vip..
    yeah smg tebakanq ini bner..
    dan gasabar pengen baca endingnya..wkwk
    semoga aja endingnya bahagia kaya ff” ka citra yg sebelum”nya..
    semangaat ka citra nulisnyaa^^

  6. blm pernah komen part sebelum2nya, baru sempet di part ini…

    itu si sungyeol kok bisa tau kalo myungsoo yg bunuh yura??? arwah yura dipanggil lagi sama taeyon? jadi selama ini chohyun main sama arwah yura?? darkangel itu naeun kan?? atau jgn2 yg mainin lagi akun darkangel itu si yura???

    astaga masih penuh teka-teki ini ff.. selalu suka sama ff bikinan kak citra yg cast mya myungsoo-naeun hahaha

    ditunggu momen myungsoo-naeun sebanyak mungkin ya kak, bosen kebanyakan momen chorong-woohyun nya mulu hehe..

  7. Beneran deh kakk. Aku kepo banget sama semuanyaaa. Sungyeol kok bisa banyak tau gituuu. Terus kenapaa itu si haesook bisa meninggal. Aku juga kepo sama yuraaa, aduh pokoknya masih banyak yang bikin aku bingung banget unn. Selalu bakal nunggu ff kak citt!!! Semangat terus kak.
    Jaga kesehatann yang terpenting! Kak citra ayafluuuuu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s