[Oneshoot] He’s Back

he s back

“He’s back”

By Carishstea

Staring BTS’s member

Horror || Creepy || General

Length         : Oneshot

Disclimer     : BTS milik tuhan, keluarga dan agensi mereka . Tapi ini cerita murni 100% dari otak author yang sedang berimajinasi ala Spongebob dan Pattrick . Maaf kalau gak ada serem-seremnya sama sekali. Author hanya manusia biasa yang masih amatiran dalam menulis. Sorry with typo which spread everywhere. Oiya posternya juga so soriii TT

-OK, Happy Reading ^^

Summary      :

Bagaaimana mungkin, sosok itu sampai mengikuti mereka ke Bussan. Bagaimana ia bisa menemukan mereka pula di sini?

. . .

Malam yang tadinya sunyi itu, kini dipenuhi oleh suara-suara sambaran petir yang memekikan telinga, akibat badai yang sedang menimpa Kota Bussan, Korea Selatan saat ini. Percikan-percikan air hujan itu ikut membangun sebuah melodi yang padu. Juga ditambah angin yang menderu dengan kencangnya, yang menambah kesan menakutkan bagi keenam namja yang sedang duduk termenung di suatu ruangan yang mereka huni. Bangunan yang mereka tempati saat ini terlihat sudah tua, namun masih berdiri dengan kokohnya, seperti rumah-rumah yang lain. Hari ini mereka baru tiba di Bussan. Dan rumah itulah, satu-satunya rumah sewa yang mereka temukan, dan yang masih bisa dihuni oleh enam orang sekaligus. Memang tempat itu terkesan mewah, tapi anehnya biaya sewanya cukup terjangkau. Ya, mungkin karena bangunan itu memang sudah tua, dan dipenuhi debu.

Pada siang hari, rumah itu nampak seperti rumah-rumah lain pada normalnya. Hanya arsitekturnya yang terkesan bergaya eropa lama. Tapi ketika malam tiba, khususnya di saat badai seperti sekarang ini, rumah itu terlihat sangat menakutkan sebagaimana kastil-kastil mistis yang ada dalam cerita horror. Apakah penghuni rumah itu yang sekarang takut? Tentu saja mereka sedang ketakutan. Tapi ketakutan itu bukan berasal dari kesan angker yang melekat pada rumah baru mereka ini. Mereka lebih terkesan takut pada polisi. Kenapa begitu? Karena mereka telah membunuh seseorang.

Keenamnya kini tengah duduk saling berhadapan di tepi sebuah meja bundar yang menjadi tumpuan lengan-lengan panjang mereka. Tak ada setitikpun penerangan dalam rumah itu sekarang ini. Terkecuali sebuah lampu kecil yang sudah redup, yang tepat berada di atas meja bundar itu. Susana di ruangan itu hanya diselimuti keheningan. Hanya suara gemuruh petir, yang menambah sedikit kengerian di malam itu. Tak ada satupun dari mereka, yang berani untuk membuka mulutnya, walau hanya sekedar untuk basa-basi. Mereka tengah sibuk dengan pikiran masing-masing. Semua terdiam. Mereka semua terlihat cemas. Walau mereka sudah pindah dari Seoul ke Busan, rasa takut pada polisi yang mungkin akan mencurigai, dan menghukum mereka, masih sangat kuat.

“Hyung! Kita mengaku saja,” ujar salah seorang dari mereka yang memiliki paras tampan, dan jangan lupakan wajah polos dan lugunya.

Mendengar ungkapan anak itu, semua mata kini tertuju padanya. Mereka semua menatapnya dengan tatapan yang…, ada yang menatap tak percaya, terkejut, iba, takut, juga tatapan tajam, yang tentunya sangat mengintimidasi bagi anak itu.

“Apa katamu, Taehyung?” ujar seorang namja yang menatap anak tadi dengan tajam.

“Hyung, kita yang bersalah. Harusnya kita mengaku saja, dan kemudian masalah ini akan selesai! Lalu kita tak perlu sembunyi seperti ini lagi dengan dipenuhi ketakutan, Yoongi hyung. Bukankah itu lebih baik?” jelas anak yang dipanggil Taehyung tadi.

“Tapi jika mengaku, masa depan kita akan hancur, Tae,” bela seorang namja yang duduk di sebelah Taehyung.

“Bukankah lebih baik, daripada hidup, dengan selalui dihantui masa lalu. Bukan begitu, Jin hyung?” ujar Taehyung membela diri, menanggapi pernyataan Jin.

“Aku juga setuju padamu, Taehyung-a. Tapi aku tak ingin berakhir di sini,” ujar seseorang yang berada di sebelah Yoongi.

“Nado,” ikut-ikut seorang namja yang duduk di antara Yoongi dan Taehyung, yang seumuran dengan Taehyung.

“Bagaimana denganmu, Hoseok hyung?” tanya Taehyung balas menatap seorang temannya yang sedaritadi hanya diam.

“Sama seperti Jin, Namjoon, dan Jimin. Aku masih punya masa depan, Taehyung-a. Jadi aku tak ingin terhenti hanya karena masalah kecil seperti ini,” balas namja itu.

“Masalah kecil kau bilang, hyung?” protes Taehyung emosi, sambil berdiri dan menggebrak meja tak terima.

“Kecilkan suaramu. Jika tetangga kita dengar, habis sudah riwayat kita,” pinta Yoongi pelan dengan tatapan tajamnya.

“Uuuuh…!!! Ini semua karena kau juga sih, hyung!!!” tuduh namja di sebelah Taehyung yang bernama Jimin, sambil mengacungkan jarinya ke arah Yoongi.

“Apa? Karenaku, kau bilang? Bukankah kau yang menusuknya? Dia juga mati karenamu, pabo!” bela Yoongi tak terima.

“Tapi jika bukan karena dendam bodohmu ini, semua ini tak akan terjadi!” protes Jimin.

“Tapi kau-” belum sempat Yoongi menyelesaikan kalimatnya, ucapannya sudah dipotong oleh Namjoon,

“Sudah, jangan saling menyalahkan. Kita semua sama-sama terlibat. Tak ada yang lebih dominan dalam kejahatan ini. Kita semua sama. Kitalah yang bertanggung jawab penuh atas kematian Jungkook.”

“Tapi aku tak melakukan apapun, hyung!” protes Taehyung.

“Termasuk tak melakukan apapun untuk mencegah kami, dan menyelamatkan Jungkook,” sergah Namjoon.

Mendengar penjelasan Namjoon, Taehyung tertegun. Ya, ia sadar ia juga salah, karena ia tak melakukan apapun untuk menyelamatkan Jungkook. Ia hanya menjadi seorang saksi bisu, yang tak berani mengungkap semua kebenarannya pula.

“Lalu? Apa selamanya kita akan terus bersembunyi seperti ini dari polisi?” tanya Hoseok memecah keheningan.

“Tenanglah. Bukankah polisi sudah menutup kasus itu dengan bunuh diri? Kalian harus berterimakasih padaku dan Jin karena akting kami,” ujar Yoongi santai. Ya, sebelumnya polisi meminta Jin dan Yoongi, selaku yang dianggap saksi, memberikan kesaksian atas kematian Jungkook. Tapi tentunya mereka hanya memberikan kesaksian palsu pada polisi. Mana mungkin mereka mengakui, kalau mereka dan teman-temannya yang telah membunuh Jungkook. Jangan gila! Mereka pastinya tak ingin berakhir di sini, dan kehilangan semua mimpi mereka dengan sia-sia.

“Kenapa kau bisa setenang itu, hyung? Jika kita ketahuan, kau adalah orang pertama yang akan disalahkan dan di jatuhi hukuman atas kasus ini,” ujar Jimin.

“Jaga bicaramu itu, Jim! Jangan khawatir, selama kita diam, tak akan ada yang mencurigai kita,” ujar Yoongi dengan tatapan tajamnya.

“Baiklah, kalau begitu mulai saat ini kita harus diam dan bersikap biasa saja, seakan kita tak pernah membunuh siapapun. Kita harus tenang, dan mulai melupakan semuanya, OK? Anggap tak pernah terjadi insiden apapun, dan mulai hidup normal seperti dulu.” ujar Jin.

Mereka semua pun hanya mengangguk, menuruti usulan Jin dan Yoongi. Mereka tak pernah tahu, kalau tanggapan mereka akan berakibat fatal nantinya pada diri mereka sendiri. Tiba-tiba petir menggelegar begitu saja, sontak membuat mereka yang berada pada ruangan itu pun terkejut bersamaan. Setelah petir itu, sepertinya hujan di luar mulai mereda, menambah kesan sunyi dalam ruangan itu. Dan seketika itu pula, Jin membeku di tempat.

Jin mulai tergagap sendiri. Pandangannya tak lepas dari objek di depannya. Jin mulai membelalakkan mata seolah menatap Yoongi ketakutan. Ia ingin mengatakan sesuatu, tapi mulutnya seakan terkunci, dan tenggorokannya sudah kehilangan suaranya. Yoongi yang mendapat tatapan aneh dari Jin itu pun mulai merasa ada yang tidak beres,

“K.. kau kenapa, hyung?” ujar Yoongi mulai merasa risih dengan tatapan Jin padanya.

Jin masih terdiam.  Ia masih menatap ke arah Yoongi dengan ketakutan. Yang lainnya yang juga merasa aneh pada tatapan Jin itupun, mengikuti arah pandang Jin. Dan setelahnya, mereka semua juga ikut menatap Yoongi dengan mata terbelalak tak percaya,

“Ya! Kenapa kalian menatapku seperti itu? Apa ada sesuatu di wajahku?” tanya Yoongi mulai merasa aneh, dan memegang tengkuknya kikuk.

“Bu… bukan kau, hyung! Tapi seseorang di belakangmu,” ujar Jimin tergagap sendiri. Bisa dilihat dari tatapannya, jika ia sedang ketakutan.

Yoongi yang mulai penasaran akan objek yang bisa membuat semua temannya itu membeku, pun menolehkan kepalanya ke belakang. Dan betapa terkejutnya ia, saat mendapati siluet sesosok mahluk serupa manusia, yang sudah bersimbah darah, juga luka lebam, dan beberapa tusukan di tubuhnya. Di dadanya juga terdapat sebuah lubang, yang tak henti-hentinya mencucurkan cairan berwarna merah segar dari dalam tubuhnya. Mungkin…, jantungnya pecah. Melihat sosok yang begitu mengenaskan itu, Yoongi ikut dibuat membeku ketakutan olehnya juga. Perlahan, ia mulai mengangkat kepalanya, dan menunjukkan wajahnya yang sudah hancur. Dan betapa terkejutnya semua orang di sana mendapati sosok mahluk itu yang tak asing bagi keenamnya. Walau wajahnya telah hancur dan dipenuhi darah, mereka masih bisa mengenalinya dengan baik. Tentu saja kenyataan itu membuat mereka semua tercekat,

“J… Jungkook?” ujar mereka semua bersamaan.

“Kalian bilang ingin melupakan semuanya?” ujar sosok itu memiringkan kepalanya yang hampir putus. Memperlihatkan tulang atlas juga daging yang sudah berlumuran darah yang ampuh membuat semua orang di sana hampir muntah di tempat. ”Kalian bilang kalian tak bersalah?” ujar sosok itu lagi dengan lirih, ”Apa kalian pikir bisa hidup dengan tenang setelah kalian melupakan semuanya? Semudah itukah bagi kalian untuk membunuh seseorang, dan melupakannya? Semudah itukah aku dilupakan? Tanpa tahu sebab yang jelas akan kematianku?” lanjut sosok itu sambil menatap semua orang di sana bergantian, dengan tatapan tajamnya.

Keenam namja itu hanya tercengang sendiri. Bagaaimana mungkin, sosok itu sampai mengikuti mereka ke Bussan. Bagaimana ia bisa menemukan mereka pula di sini?

“Ba… bagaimana bi… bisa k… kau sampai d… di sini?” ujar Yoongi memberanikan diri

Sosok itu hanya tersenyum dan menunjukkan seringaiannya. Butuh beberapa detik untuknya, sebelum menjawab pertanyaan Yoongi. Ia mengambil langkah mendekati Yoongi, dan membisikkan sesuatu di telinganya,

“Karena…,” ujar sosok itu dengan lirih, ”Ini adalah rumahku, sebelum aku ke Seoul, dan bertemu dengan sahabat penghianat seperti kalian,” lanjutnya.

“M… mwo?” tentu saja Yoongi tersentak akan pernyataan sosok menyeramkan itu. Sosok itu pun hanya mengangguk kecil.

“Lalu…, apa yang kau inginkan sekarang?” tanya Namjoon memberanikan diri.

“Membalaskan semua penderitaanku pada orang yang telah membunuhku,” balas sosok itu.

“A…apa?” tanya semua anak di sana tak paham. Tapi sosok itu hanya tersenyum menakutkan, dan kembali menatap tajam semua anak di sana. Dalam sekejap, ia langsung menuju ke arah Yoongi. Yoongi yang sedaritadi sudah tahu ada yang tak beres pun, dengan sigap berhasil menghindar dari serangan sosok itu. Secepatnya, ia langsung berlari melarikan diri dan meninggalkan kelima temannya yang masih terduduk di ruang gelap itu bersama sosok menyeramkan tadi.

Tak berhasil dengan Yoongi, akhirnya sosok itu beralih menatap Jimin. Ia langsung mencekik leher Jimin begitu saja tanpa peringatan. Jimin pun berusaha melepaskan diri. Tapi hasilnya tetap nihil.

“Kau yang telah mengakhiri hidupku. Kenapa? Kenapa kau menusukku waktu itu? Apa aku pernah melukaimu?” tanya sosok itu pada Jimin yang sudah mulai kehabisan nafas.

Empat namja yang melihat Jimin itu pun awalnya terdiam. Tapi tiba-tiba suara seseorang menyadarkan mereka.

“Apa yang kita lakukan? Harusnya kita membantu Jimin! Tak cukupkah bagi kita kehilangan Jungkook? Sekarang kita ingin membiarkan Jimin mati begitu saja?” V mulai bergumam sendiri. Tapi gumaman itu masih sampai di telinga semua temannya, yang membuat mereka semua tertegun.

“Ani. Ayo bantu Jimin!” ujar Jin membalas gumaman Taehyung. Mereka semua pun mencoba menghentikan sosok menyeramkan yang menyerang Jimin itu. Tapi semakin mereka menyerangnya, sosok itu malah semakin mempererat cengkramannya pada leher Jimin.

“Jika benar kau adalah arwah Jungkook, kumohon lepaskan Jimin. Dia sahabatmu Jungkook-a. Apa kau setega itu membunuhnya?” ujar Taehyung mulai menangis.

“Setega ini membunuhnya? Lalu kenapa kalian setega itu membunuhku!?!” bentak sosok itu emosi. Tanpa sadar, ia malah melepaskan cengkramannya dari leher Jimin, dan beralih menghampiri Taehyung. Jimin pun mulai mengambil nafas sebanyak mungkin. Nafasnya memang masih tersenggal, namun beruntungnya ia masih hidup.

“Kau!?! Kenapa kau hanya diam saat itu?” tanya Jungkook pada Taehyung dengan tatapan tajamnya.

“M…maaf J…Jungkook, aku ta…kut,” ujar Taehyung tergagap sendiri. Dan itu membuat Jungkook makin menatap Taehyung dengan tatapan membunuh.

“Jeon Jungkook! Hentikan itu! Jangan sakiti Taehyung! Dia sahabatmu!” bentak Jin langsung berdiri di hadapan Taehyung, menjauhkannya dari sosok menyeramkan itu.

“Sahabat macam apa yang tega membunuh sahabatnya sendiri?!?” teriak Jungkook beralih menatap Jin.

“Kami tahu kami salah. Kami juga sangat menyesalinya. Apa kau pikir hanya kau saja yang merasa terganggu. Bagaimana mungkin kami bisa tenang setelah menghabisi nyawa seseorang?” teriak Hoseok terus terang.

“Lalu apa yang bisa kami lakukan, agar kau melepaskan kami? Maafkan kami. Apa kata maaf kurang cukup?” tanya Jimin dengan suara serak.

Jungkook pun mulai tersenyum. Tidak, kali ini bukan senyum menyeramkan maupun seringaian lagi. Kali ini benar-benar senyum asli seorang Jeon Jungkook, layaknya saat ia masih bersahabat dengan teman-temannya ini.

“Cukup mudah. Bersihkan nama baikku dan keluargaku. Kalian pasti tahu, keluargaku sangat terpukul atas berita kematianku. Dan yang lebih mereka tak bisa terima, adalah karena polisi menyimpulkan bahwa kematianku adalah bunuh diri. Itu berarti setiap orang akan menyimpulkan bahwa keluargaku tak bisa menjagaku dengan baik, sampai-sampai aku ingin mengakhiri hidupku sendiri. Padahal mereka sangat menyayangiku. Aku tak ingin membuat hidup mereka hancur hanya karena berita kematianku yang dipalsukan. Mereka pasti akan menjalani hidup mereka dengan rasa bersalah seumur hidup, dan mungkin dikucilkan masyarakat. Aku tahu ini terdengar egois. Tapi bukankah kebenaran itu lebih baik?” jelas Jungkook.

“Jadi…, kau ingin kami menyerahkan diri?” tanya Hoseok memastikan.

“Bukan menyerahkan diri. Tapi mengatakan kebenarannya,” balas Jungkook, “Aku tahu kalian tak melakukannya dengan sengaja. Kalian melakukannya hanya karena takut dengan Yoongi hyung, bukan? Karena jika kalian tak membunuhku, mungkin ia yang akan membunuh kalian. Aku tahu Yoongi hyung punya banyak sekutu, jadi itu bukanlah hal yang sulit baginya.” lanjut Jungkook.

“Jadi…,” ujar Jin menggantungkan kalimatnya.

“Jika kalian mengakui semua kebenarannya pada polisi, maka hukuman kalian akan diringankan. Bukankah Yoongi hyung yang ada di belakang semua ini? Dia iri padaku, bukan? Itu sebabnya ia tak pernah menyukaiku. Akhirnya malah berakhir seperti ini. Aku tahu ini juga salahku. Jika aku lebih pengertian lagi padanya, mungkin aku juga masih hidup dan berteman baik dengannya hingga kini. Lagipula aku tahu kalian orang baik. Tak akan sulit bagi kalian untuk meraih mimpi kalian, dan melanjutkan masa depan kalian. Walaupun kalian pernah melakukan kesalahan besar, tak apa jika kalian bisa memperbaiki kesalahan itu. Jangan sampai menutupinya seperti sekarang,” nasehat Jungkook.

“Gurae. Kami akan mengakui semuanya pada polisi. Termasuk tentang Yoongi hyung. Tak peduli ia akan membenci kami, ataupun berusaha mencelakai kami. Bukankah tuhan akan melindungi hambanya yang baik?” ujar Namjoon akhirnya.

Sosok arwah Jungkook itu pun hanya mengangguk kecil dan tersenyum manis. Perlahan, tubuhnya mulai meremang, dan akhirnya hilang.

“Terima kasih. Sekarang aku bisa kembali ke alamku dengan tenang,” ujar sosok itu sebelum akhirnya benar-benar hilang.

***

Di sisi lain, seorang namja kini sedang berlari sejauh yang ia bisa. Nafasnya mulai tersenggal karena kelelahan. Tapi ia tetap berlari. Bukan. Kali ini bukan karena takut dengan sosok yang tadi menghantuinya. Namun ia lari dari kejaran gangster-gangster Bussan, yang dulu pernah bermasalah dengannya. Yoongi memang punya banyak sekutu, tapi saat ini ia sedang sendirian, mengingat ia meninggalkan teman-temannya di bangunan tua yang ditinggalinya tadi. Tak mungkin ia melawan segerombol gangster-gangster tadi sendiri. Jadi ia lebih memilih untuk melarikan diri.

Malangnya nasib Yoongi, karena saking fokusnya ia berlari, ia malah melintasi jalan tanpa memperhatikan sekelilingnya. Sebuah truk bermuatan bebatuan menabrak Yoongi begitu saja. Darah kental pun mulai menggenang, memenuhi jalanan kota Bussan itu dengan sendirinya. Jasad Yoongi yang tersisa sangatlah mengenaskan, dengan kepala hancur, rangkanya yang patah dan retak, bola mata yang keluar, dan masih banyak lagi. Para gangster yang tadinya mengejar Yoongi itu hanya terdiam, seraya tersenyum atas kematian musuh abadi mereka itu. Tak ada rasa bersalah, tak ada rasa iba sedikitpun yang terpatri di wajah mereka. Dan akhirnya, mereka berlalu begitu saja, dan bersiap untuk mekukan perayaan atas kematian Yoongi.

***

-FIN-

Nah loh, kok Yoongi tiba-tiba mati? Aduh, author juga gak paham. Anggap aja semacam karma gitu. Kan ceritanya di situ dia bad guy.

Nah, masalahnya ini gak ada serem-seremnya sama sekali. Horrornya dimana coba. Ok, maafin otak author yang lagi macet cari-cari ide. Jadinya ya gini deh.

Last, sorry of my vault, and well, mind to review?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s