[Ficlet] Her

A SEQUEL OF ENCOUNTER

HER

{ a story by Atatakai-chan }
picture credit to owner and uploader

|| AU, slight!School-Life, Comedyslight!Fluff — Ficlet — ||

.

starring
Produce 101 Moon-bok as Jang Moon-bok
and
Original Character (OC) Mun Jin-hee

.

originally posted in 暖かいの世界

[ Moonbok’s POV ]

Hari yang kutunggu-tunggu akhirnya tiba. Hari ini aku resmi menjadi seorang siswa sekolah menengah atas —aku benar-benar merasa terpacu; khawatir dan semangat menjadi satu.

Kusisir rambut panjangku, sebagaimana mungkin aku tata agar rapi. Sudah dari lama sekali aku ingin memangkas pendek rambutku tetapi hanya dengan cara inilah aku menonjol di antara orang-orang lainnya. Selagi aku masih bisa merawat rambut panjang ini, mengapa tidak?

.

.

.

Gerbang sekolah dipenuhi banyak orang, membuatku sedikit merasa gugup. Tanpa sadar aku menggenggam erat tali tas ranselku seraya melangkah melewati gerbang untuk menuju ke pekarangan sekolah.

Banyak mata memandang ke arahku dan itu adalah hal yang selalu terjadi kemanapun aku melangkah semenjak aku memanjangkan rambutku —kira-kira semenjak dua tahun lalu ketika aku masih berada di bangku sekolah menengah pertama.

DUG.

Aku menoleh ke samping kananku, seorang siswi baru saja menyenggol tubuhku. Sangat mengejutkan sekali ia tidak menyadari hal tersebut —tetapi bagian yang lebih mengejutkan lagi adalah ia sama sekali tak melihat kearahku!

Untuk beberapa saat aku tertegun. Semenjak aku memanjangkan rambutku ini adalah kali pertamanya ada seseorang yang tidak memerhatikanku. Kesadaranku kembali ketika teman-teman SMPku mengerumuniku, beberapa di antara mereka sekelas denganku dan tanpa ragu mereka mengundangku untuk masuk ke kelas bersama-sama. Dan tentu saja, aku menyetujuinya.

.

.

.

Pelajaran pertama adalah pelajaran favoritku semenjak SD, yaitu olahraga. Aku mulai membuka kancing baju seragamku. Berganti pakaian bagian atas di kelas sudah menjadi kebiasaanku dan selama ini tak ada yang bisa menghentikanku. Namun, aku rasa kebiasaan ini akan segera berakhir. Kedua mataku menangkap sosok yang tak asing —siswi yang tadi menyenggolku di pekarangan sekolah.

Berdasarkan penilitianku, gadis dengan tipe wajah sepertinya adalah orang yang pendiam dan well bisa dikatakan pemalu juga. Dari caranya mengigiti bibir bagian bawahnya menandakan bahwa ia adalah orang yang mudah panik ———kembali aku tertegun untuk beberapa saat, ‘kenapa aku memerhatikannya sampai sejauh itu?’ begitulah pikirku.

“Hey, Moonbok! Tumben kau tidak melepas atasan seragammu.”

Hanya beberapa detik aku kehilangan fokus dan aku pun kehilangan sosok gadis yang namanya belum kuketahui itu sehingga mau tak mau aku berfokus saja pada Jaehyun, lelaki yang baru saja menyapaku.

“Ah… Entahlah. Aku merasa malu karena tadi di kelas masih banyak anak perempuan,” aku mengutarakan alasanku yang sesungguhnya pada Jaehyun.

“Oh? Aku pikir urat malu-mu sudah putus, sob. Hahaha!”

Aku ikut tertawa seraya melanjutkan kegiatan berganti pakaianku di dalam kelas yang saat ini hanya berisi diriku dan teman-teman SMPku —termasuk si Jaehyun itu.

“Kenapa harus malu juga ‘sih? Jangan-jangan ada yang menarik perhatianmu, ya?”

Dari nadanya berbicara, aku tahu Jaehyun tengah bergurau. Biasanya aku tidak akan terlalu mempedulikannya, tetapi kali ini aku benar-benar memikirkan gurauannya: Apa mungkin gadis itu telah menarik perhatianku?

oOOo

DUG!

Hari ini sudah kedua kalinya aku disenggol oleh orang dan begitu aku menoleh, lagi-lagi gadis yang sama dengan yang menyenggolku pagi tadi. Entah apa yang mendorongku untuk mengetahui namanya saat itu juga sehingga aku langsung memutar tubuhku untuk menyentuh pundaknya. Namun, hal tersebut tidak berjalan lancar karena pergerakanku yang tiba-tiba itu menyebabkanku kehilangan keseimbangan.

Tiba-tiba saja aku merasakan genggaman kuat pada pergelangan tanganku —dan ternyata gadis itulah yang melakukannya. Aku bergegas memperbaiki posisi berdiriku, dengan tangan terbuka menerima bantuannya untuk mencegahku terjatuh.

“Terimakasih uh…” Aku dapat mendengar suaraku sendiri. Terdengar jauh lebih tinggi dari biasanya.

“Jin-hee. Mun Jin-hee.”

Genggaman tangannya pada pergelangan tanganku perlahan dilepasnya.

“Nama yang bagus,” sebenarnya bukan itu yang hendak aku katakan tetapi entah mengapa mulut dan otakku tidak sinkron.

“… Perkenalkan, namaku Moon-bok. Jang Moon-bok.” Aku balas memperkenalkan diriku.

.

.

.

Lari keliling lapangan adalah hal yang selalu dilakukan ketika pelajaran olahraga dan aku cukup menikmatinya karena dengan berlari aku merasa rasa stressku berkurang. Ketika tengah berlari di putaran yang ketiga, aku merasakan ada yang memerhatikanku dan aku tak dapat menghentikan diriku untuk menoleh untuk mencari tahu siapa yang tengah memerhatikan orang lain ketika tengah berlari.

Aku memperlambat lariku untuk memastikan apakah aku tidak salah lihat. Dari arah yang berseberangan Jinhee menatap ke arahku. Aku melemparkan senyum padanya beberapa detik setelah ia melakukannya.

Jantungku terasa amat terpacu, dan aku tahu ini bukan efek berlari keliling lapangan karena rasanya berbeda dari biasanya.

.

.

.

Lagi-lagi padangan kami bertemu. Aku baru saja mencetak poinku yang kesepuluh ketika kedua pasang mata kami bertemu. Tak ingin melewatkan kesempatan untuk menyapanya dengan senyuman, aku langsung melakukannya begitu mata kami bertatapan.

Ia mengacungkan kedua ibu jarinya padaku. Sepanjang pengalamanku menjadi anggota tim basket di bangku SMP, aku belum pernah merasa sebangga ini telah mencetak sepuluh angka di dua-puluh menit terarkhir.

.

.

.

Entah mengapa ide gila muncul di benakku. Aku melihatnya duduk di bangku dekat ruang ganti dan muncul ide untuk mengajaknya berbincang. Aku pun kemudian duduk di samping kirinya. Untuk beberapa saat aku diam, mencoba memikirkan apa yang sebaiknya aku bicarakan padanya.

“Hey Moon—”

Sambil menunggu bahan pembicaraan muncul di benakku, aku melepas seragam olahraga bagian atasku secara refleks karena tidak mengganti baju di ruang ganti sudah menjadi kebiasaanku.

Aku melemparkan seragam olahraga bagian atasku yang sudah terlepas ke lantai dan aku mendengar suara teriakan yang cukup keras. Hal itu membuatku sadar apa yang baru saja kulakukan.

Aku melepas seragam olahraga bagian atasku di depan perempuan!

Refleks aku menoleh ke arah Jinhee untuk mengecek reaksinya dan ia tengah memalingkan wajahnya. Tak lama kemudian Jinhee dan beberapa siswi lainnya yang semula tengah berbincang dengannya berlari memasuki ruang ganti perempuan.

“Astaga…” aku dapat mendengar helaan napasku sendiri.

“Sekarang aku harus bagaimana?”

END.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s