[Multi Chapter] Stay – 0

Credit: Art by Song17 (Zahra)

STAY

This a letter from me to you (from Blackpink – Stay)

School Life, Friendship, Romance, Teen

하나

Hana

Namanya Dyo, setahun lebih tua dariku, tetanggaku dari zaman kami masih menyusu juga mantan pacarku waktu SD. Cowok dengan segudang talenta berwajah manis, sayangnya terlalu perfeksionis. Ia selalu punya backup rencana dari A sampai Z.

Namaku Hana, tetangga Dyo. Cewek cuek yang biasa-biasa saja. Kegiatannya mulai dari bangun pagi sampai malam hari ‘itu-itu’ saja.

Eomma bilang aku harus berubah, setidaknya untuk masa depan. Apanya yang harus diubah? Eomma bahkan pernah bilang aku harus mencontoh Dyo. Hah?

Masalahnya Dyo sudah pindah. Sejujurnya itu juga merupakan alasannya. Bukan berarti aku bosan hidup. Tidak sama sekali. Sayangnya, meski aku membenci tiap nasihat-nasihat panjangnya, aku selalu menyayanginya. Bahkan saat kami putus hanya gara-gara sebuah popsicle rasa anggur, aku tak pernah membencinya.

Dyo telah pergi. Bahkan tanpa pamit. Ia hanya meninggalkan sepucuk surat yang masih kusimpan rapi dalam kotak pribadi di bawah kasur. Sampai enam tahun kemudian, surat itu tak pernah kubuka. Aku tak mau tahu apa isinya, karena—Demi Tuhan, cerita kami seperti drama—dia pindah setelah kami putus dan mengalami apa yang dinamai ‘percobaan move on’ yang mana kami sama sekali tak saling menyapa. Meskipun kami masih bocah ingusan kala itu, tapi rasanya seperti ada gunung es yang menabrak dan mengancurkan seluruh hidupku.

Apa isi surat Dyo? Aku tidak tahu—tepatnya tak mau tahu. Titik. Kuanggap kalau aku tidak menerima permintaan maaf apa pun.

Semua berubah saat aku duduk di kelas dua SMA. Saat aku sudah punya gebetan baru. Saat aku masih biasa-biasa saja dalam hidup dan hanya bergerak layaknya revolusi bumi mengelilingi matahari alias hal biasa—sebelum kiamat tentunya.

Dyo kembali. Dia datang. Menampakkan alis dan bibir tebalnya tepat di depan hidungku.

Dyo

Namaku asliku Do Kyungsoo. Bisa dipanggil Dio atau Dyo. Aku suka semuanya berjalan rapi dan sesuai rencana. Akan menyalahkan diriku sampai bosan jika ada satu saja terlewatkan. Aku juga tidak menoleransi segala macam bentuk keterlambatan maupun penundaan. Bagiku, mereka yang tidak menghargai waktu tak sepatutnya dekat-dekat denganku. Serius.

Namanya Hana. Tetanggaku dari kami masih berada dalam gendongan Ibu sampai ‘prahara popsicle’ memisahkan interaksi kami. Sialnya, gadis yang berbalikan sifat denganku itu seakan punya magnet tersendiri. Layaknya matahari yang menjadi pusat tata surya maupun seperti buku misterius yang hanya berani dibuka dan dibaca oleh orang tertentu.

Saat kami kecil, jujur saja, di kompleks kami tak ada gadis kecil secantik dia. Bukan berarti dia tampil bak Cinderella. Maksudku dia bersinar. Dengan rambut halus, harum dan wajah menggemaskan. Dibalik sifat cuek dan acuhnya, dia berhasil membuatku memberanikan diri mengungkapkan perasaanku di hadapan kedua ibu kami. Asal kalian tahu, aku masih tujuh tahun saat itu dan Hana enam! Kalian bisa bayangkan rona keterkejutan pada rupa kedua ibu kami saat itu.

Tapi, kami direstui. Sungguh.

Semuanya berjalan mulus sampai tahun keempat kami berpacaran ala anak SD. Terjadilah prahara popsicle sialan itu. Hana menangis, memakiku (bukan dengan kata-kata kasar), mengatakan kalau kami berakhir. Sungguh, rasanya seperti neraka—kalau saja aku tahu apa itu neraka saat umurku sebelas tahun.

Lagi, keluargaku harus pindah mendadak. Ayahku seorang anggota militer dan sudah bisa ditebak kalau kami tak akan tinggal di suatu tempat dalam waktu lama. Kuberanikan diri untuk menulis surat. Kutitipkan pada Eomma Hana saat itu karena aku masih tidak berani menemuinya secara langsung.

Sampai aku benar-benar pergi, aku menyadari kesalahan terbesarku. Hana tak pernah membalas suratku, tak pernah menelponku, tak pernah mengirim email padaku. Seandainya aku menemui Hana lebih dulu. Seandainya popsicle sialan itu tak membuat kami putus… Mungkin kisah kami tak menggantung seperti itu.

Kata eomma, kata ‘andai’ akan membuka pintu setan. Membuat kita hanya akan berangan-angan. Maka, saat aku kembali, aku berencana untuk menjelaskan. Yang namanya cinta sejati itu tak pandang usia. Aku percaya itu.

Tapi, Hana berubah. Bukan berubah secara harfiah. Namanya masih terdiri dari dua huruf. Ia masih cantik, lebih cantik malah. Tapi… tak kusangka kalau dia menatapku seperti itu.

Apa dia tak pernah membaca suratku?

-tbc


Notes:

  • Fyi, Yasmine dan Miss Candy adalah orang yang sama. ^o^
  • Arranged Life dipending dulu, ehehehe~
  • Bagi yang nggak ngebiasin Jisoo, dipersilahkan bebas membayangkan sosok seperti apa si Hana ini. 🙂
  • Terima kasih sudah membaca, ya…

©2017 Yasmine

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s