Coeur Brisé #1— PutrisafirA255

89 copy

COEUR BRISÉ

.

Love can change your life, mind and heart

.

Story by PutrisafirA255

.

Starring by Sehun Hesler and Hanna Kim

.

co-starring by Chanyeol Hesler and Jennie Dornan

.

Chaptered—AU, Angst, Romance, Friendship, Hurt/Comfort, Drama

.

PG-17 (for harsh word)

.

You never know what happend in future. So, don’t make any mistake if you can’t

face the problem.

—anymous

.

.

.

.

.

London adalah ibu kota Inggris dan Britania Raya, merupakan wilayah metropolitan terbesar di Britania Raya dan juga zona perkotaan terbesar di Uni Eropa menurut luas wilayah. Berlokasi di sepanjang Sungai Thames, London telah menjadi permukiman utama selama dua milenium sejak didirikan oleh Romawi pada abad ke-1 dengan nama Londinium.

Kota global terkemuka ini unggul dalam bidang seni, bisnis, pendidikan, hiburan, mode, keuangan, kesehatan, media, layanan profesional, penelitian dan pengembangan, pariwisata, serta transportasi. London, bersama dengan New York City, merupakan pusat keuangan terkemuka di dunia, dan menjadi kota dengan PDB terbesar kelima di dunia, atau yang tertinggi di Eropa. Kota ini dikatakan sebagai pusat kebudayaan dunia. London juga menjadi kota yang paling sering dikunjungi, dan tercatat sebagai kota dengan bandar udara tersibuk di dunia berdasarkan lalu lintas penumpang internasional. 43 universitas di London pun membentuk konsentrasi pendidikan tinggi terbesar di Eropa.

Salah satu dari banyak universitas terkemuka di kota itu adalah London Business School. Sebagai salah satu sekolah bisnis terunggul di dunia, banyak pengusaha yang menginginkan anaknya kuliah di sana untuk meningkatkan pengetahuan juga derajat. apalagi pada tahun 2010, program MBA-nya mendapatkan penilaian tertinggi di dunia oleh Financial Times.

Maka dari itu, salah satu pengusaha terkenal dari Skotlandia bernama Stephen Hesler menyekolahkan anaknya di sekolah itu untuk membuat kedua anak prianya pantas menggantikan posisinya sebagai pemilik salah satu perusahaan bank terbesar, RBS(The Royal Bank of Scotland Group).

“Bagaimana sekolah kalian di sana?” tanya suara bariton dari pria paruh baya yang sedang memimpin makan malam kali ini. Si sulung mendongakkan kepalanya menatap sang adik, sedangkan si bungsu justru tak peduli dengan pertanyaan itu dan masih sibuk memakan tenderloin steaknya. “Baik-baik saja,” sahut pria jangkung yang duduk di samping adiknya itu.

Tn. Hesler pun mengangguk, kemudian melanjutkan makannya. Tetapi, pada suapan kedua, pria itu kembali buka suara. “Kapan kau akan berubah, Sehun?”

Pria yang dipanggil Sehun itu pun meletakkan garpu dan pisaunya kasar di sisi piring. Punggungnya dihempaskan pada sandaran kursi, setelahnya berujar, “Aku akan selalu menjadi diriku yang sebenarnya.” Ujarnya sarkastik, kemudian bangkit dan meninggalkan sebuah amplop di atas meja untuk sang kakak. “Chan, aku akan kembali malam ini. Itu tiket untukmu jika kau ingin ke London,”

Setelahnya, pria berbadan tegap itu menetapkan langkah tegasnya menuju pelataran mansion milik ayahnya. Meninggalkan kedua pria yang masih bergeming di ruang makan tanpa melakukan apapun. “Maaf, ayah. Aku tidak bisa mengubahnya.” Ucap Chanyeol pada ayahnya. Pria itu menunduk, merasa bersalah tak bisa menyelesaikan tanggungjawab yang dibebankan untuknya.

Senyum tipis pun ditunjukkan oleh Tn. Hesler. “Masih ada waktu sebelum dia benar-benar berubah.”

.

—Coeur Brisé—

.

“Tak perlu, aku bisa sendiri.” Tolak Sehun ketika sopir pribadi sang ayah menawarkan bantuan untuk membawakan kopernya. Pria dengan setelan jas hitam itu pun mengangguk, kemudian meninggalkan Sehun di bandara. Membiarkan tuannya berkehendak sesuka hati, namun masih memasang mata dengan jarak jauh guna mengawasi. Itulah kebiasaan Tn. Hesler yang sejak dahulu tak pernah hilang dan begitu Sehun benci.

Langkah panjangnya lekas mengukir jejak. Mencari tempat duduk sebelum pesawatnya akan lepas landas. Ia pun sempat mengedarkan pandangan, hingga fokusnya berhenti pada suatu objek yang berhasil mencuri atensinya. Seorang gadis dengan kemeja berwarna senada celana jeansnya yang robek di beberapa bagian. Tak menampilkan kesan anggun sama sekali meskipun bisa Sehun katakan tubuhnya benar-benar seksi.

Gadis itu sedang bercakap-cakap dengan seorang pria muda yang lumayan tampan. Senyumnya pun benar-benar manis, dan itu bisa melumpuhkan kinerja otaknya yang selalu memandang orang berdasarkan tahta. Aku sudah gila—batinnya meracau.

Ketika nomor pesawatnya sudah diumumkan melalui speaker bandara, Sehun pun lekas memutuskan tatapannya dan meraih kopernya. Mengambil langkah guna memasuki pesawat yang akan ditumpangi. Sebelum masuk, ia terlebih dahulu dimintai paspornya untuk dicek, kemudian dipersilahkan masuk.

Sepanjang kakinya melangkah, ia masih saja berpikiran mengenai gadis itu. Sepertinya ia pernah melihatnya, tapi memorinya tak bisa menggambarkan lebih spesifik. Entahlah, jangan mengajak Sehun untuk mengingat sesuatu yang tak akan dapat jawabannya. Karena itu adalah hal yang paling menyebalkan.

Setelah ia memutuskan untuk tak mengingat lagi, seketika itu juga sosok gadis itu berjalan mendahuluinya. Oh Tuhan! Jangan katakan jika. . apakah ini yang dinamakan jodoh? Ia bertemu kembali dengan gadis yang sudah memenuhi otaknya sedari tadi.

Meskipun nampak bodoh, Sehun memilih mengikuti gadis itu dibelakang dengan tatapan yang begitu menelisik. Kembali mencoba mengingat meskipun pikirannya justru berkelana kemana-mana. Tak perlu terkejut bagaimana pemikiran Sehun selalu bergeser jauh dari norma. Dia adalah penghafal club di London yang handal.

 

Menarik, dia menarik.

.

—Coeur Brisé—

.

Perjalanan begitu membosankan ketika dirinya hanya bisa menatap layar lima inci dalam genggaman. Tak ada yang menarik selain foto Miranda Kerr yang ia jadikan sebagai wallpaper ponsel. Maka dari itu, guna membuang kebosanan, ia mencoba berjalan menuju toilet. Melewati beberapa orang yang sudah terlelap karena memang perjalanannya begitu lama dan sangat melelahkan.

Mungkin keberuntungan benar-benar sedang berpihak padanya. Terbukti ketika gadis itu kembali muncul. Masih dengan pakaian yang sama, namun dengan raut muka yang berbeda. Jika sebelumnya di bandara dia begitu cantik dengan senyum dan lesung pipit di pipi kirinya, kali ini wajahnya begitu dingin.

Sekali lagi, Sehun jatuh dalam pesona gadis itu. Ia semakin penasaran bagaimana sebenarnya. Maka dari itu, ia mendekati gadis itu dan berdiri tepat di sampingnya. Sembari menunggu toilet yang masih dipakai itu, Sehun sesekali melirik gadis di sampingnya. Melihatnya dari dekat benar-benar berbeda.

Masih dengan menatap si gadis yang menghujam lurus ke depan, tiba-tiba saja keduanya mendengar suara desahan dari balik pintu toilet itu. Seketika saja Sehun membulatkan mata dan mengusap tengkuknya canggung. Kenapa malah ini yang terjadi, oh sial! Racau Sehun dalam hati.

Alih-alih terkejut, gadis di sampingnya itu justru mengetuk pintu di hadapannya dan mengatakan sebuah kalimat yang membuat Sehun menatap aneh ke arahnya. “Cepat selesaikan, ini bukan pesawatmu!”

Setelahnya, gadis itu pergi meninggalkan Sehun sendiri. Ia begitu tertegun dengan reaksi gadis itu yang nampak biasa atau mungkin menurutnya itu biasa saja. Tentu saja Sehun semakin ingin mengetahui lebih jauh gadis itu. Ah, ataukah ia harus memfotonya dan menyuruh Jack—teman satu jurusannya—untuk mencarinya ketika di London?

Bukankah ini suatu kebetulan yang begitu menguntungkan baginya? Sehun akui, ia belum pernah merasa tertarik dengan gadis hanya dengan sekali pandang.

.

—Coeur Brisé—

.

Berjam-jam berada di pesawat, akhirnya ia bisa sampai di Bandar Udara Internasional London Heathrow. Perjalanannya begitu melelahkan, tapi juga menyenangkan. Apalagi ketika takdir mempertemukan keduanya dengan begitu anggun. Seolah memang seharusnya bertemu untuk bersama. Ah, mungkin pikiran Sehun terlalu jauh.

Tetapi, dari sekian pikiran kotornya yang bersarang di otak cerdasnya, tidak sekalipun ia berpikir untuk menidurinya—seperti yang sudah-sudah. Ia justru malah ingin mendekatinya dan mencoba bagaimana membuat komitmen dan merasakannya meskipun hanya sekali. Setidaknya, ia sudah memiliki niat. Tinggal bagaimana ia melaksanakannya.

“Hei, man. Lihat bagaimana mukamu begitu cerah,” cela pria berkulit tan yang tingginya tak jauh darinya. Sapaan khas seorang sahabat—sindir Sehun dalam hati. “Have a new slave, huh?” Kai—nama pria itu—sekali lagi meracau dan tak membiarkan sang sahabat yang baru saja datang untuk tenang sebentar. Sehun yang enggan ambil pusing pun menarik kopernya dan meninggalkan Kai menuju mobil di pria itu.

Setelah keduanya berada dalam mobil dan meninggalkan bandara, barulah Sehun angkat bicara. “Aku rasa yang ini bukan lagi mainan, aku ingin menjadikannya partner, Kai.” Ujarnya bersungguh-sungguh guna menghentikan suara bass itu, namun Kai masih saja tak percaya. “With your slave? Sejak kapan kau setia dengan jalang, hm?” tanyanya dengan senyum miring dan sebelah alisnya yang terangkat.

Not to be my slave. Tapi juga partner dalam berkomitmen.” Jawabnya sembari membuang fokusnya menuju jendela mobil. Senyum manisnya pun tak bisa lagi ditahan, ia harus benar-benar mencari gadis itu. Kai yang merasa gerak-gerik sang sahabat begitu berbeda lantas kembali buka suara. “Siapa? Stella? Julia? Atau jangan-jangan Jennie?!”

Sehun yang semakin kesal pun memukul kepala pria itu. “Sejak kapan aku menyukai mereka, huh? Jangan bercanda, bung!” pekik Sehun tak terima dengan nama-nama gadis yang disebutkan Kai. Semua gadis itu memang menyukainya, sering berciuman atau bahkan melakukan yang lebih. Tapi, bagi Sehun itu hanya permainan biasa. Keistimewaan menyentuh kulit tanpa perlu membuat sebuah hubungan. Meninggalkan mereka ketika sedang terlelap tanpa busana, lantas mencari mainan lebih baik lagi.

“Aku rasa kau terbentur sesuatu di Skotlandia. Apa ayahmu memukulmu dengan tongkat baseball milik Chanyeol?”

Sehun mendengus kesal sebelum melipat tangannya dan menyandarkan punggung tegapnya pada sandaran kursi. “Diam dan jalankan saja mobilnya!”

.

—Coeur Brisé—

.

Baginya, hidup jauh dari keluarga itu adalah pilihan yang begitu bagus. Hidupnya sudah buruk sejak lahir. Ibunya meninggal saat ulang tahunnya. Ayahnya kemudian menikah dengan seorang janda beranak satu yang begitu menyebalkan. Mencoba mencari kesalahannya dan akhirnya ialah yang selalu disalahkan.

Menginjakkan kakinya di London pun juga merupakan hasil jerih payah ibu tirinya yang menginginkannya jauh dari ayahnya. Mungkin saja wanita licik itu sedang membuat rencana untuk membunuh dan menguasai harta ayahnya. Ia tak akan peduli. Toh, harta warisan ibunya jatuh ketangannya. Dengan jumlah yang mampu membiayainya sampai sepuluh tahun kedepan.

Hi, Hanna! I miss you so much!

Pekikkan sopran itu membuat Hanna mendongak. Gadis bernama lengkap Hanna Kim itu melukiskan segaris senyum manisnya. Ia segera bangkit dan menerima rengkuhan itu dengan ringan tangan. Ah, memiliki teman yang begitu baik padanya sangat menguntungkan, bukan?

“Jennie, I miss you to.” Hanna berujar dengan dagu yang bertumpu pada bahu sang sahabat. “Oh God! Bertemu denganmu rasanya seperti mimpi, tahu?” Jennie berujar sok benar-benar rindu, meskipun Hanna sendiri tahu sahabatnya itu memang rindu dengannya. “Kau masih sama seperti dulu,” cerewet dan menyebalkan, tapi bisa diandalkan—tambahnya dalam hati.

Mengambil jarak, Jennie pun menjelaskan beberapa point penting untuk Hanna yang baru saja tinggal di London. Namun, sebelum berbicara, ia lebih dahulu mendudukkan tubuhnya pada tepi ranjang Hanna. “Besok kau akan kujemput tepat pukul tujuh pagi. Kita akan berangkat bersama-sama,” kata Jennie yang hanya disambut anggukan oleh Hanna.

“Aku senang kita satu universitas, tapi kenapa kita harus berbeda kelas?” gerutunya seolah meminta Hanna untuk merubahnya. Mendekati Jennie, Hanna pun meletakkan satu tangannya di bahu gadis itu. “Setidaknya kita bisa bertemu setiap hari, bukan?” Hanna mencoba menghibur sahabatnya itu.

“Benar juga,” sahut Jennie yang kemudian berpikir kembali. “Tapi, melihatmu setiap hari itu benar-benar agenda membosankan,” tatapannya berubah meremehkan. Alih-alih marah, Hanna justru mengangguk. “Aku juga. Bukankah lebih baik mencari pria tampan?” ujarnya sarkastik.

Bukan, mereka bukan saling bertengkar. Tetapi, itu bukti kedekatan keduanya yang sudah saling terbiasa menjaga satu sama lain. Terbukti setelah dua kalimat itu terucap, keduanya terkekeh bersama. Ya, bukankah sahabat memang harus saling menghibur, mengisi kekosongan dan menutupi kekurangan sahabat dengan kelebihan masing-masing?

.

—Coeur Brisé—

.

.

Salam kenal buat readers FFI. Author baru dengan cerita baru di sini. Aku 00 liner, jadi jangan sungkan untuk berkomentar se-enjoy kalian aja 😀

Mungkin buat yang udah kenal aku (sebelumnya), it’s not my style. Jarang bikin fanfict dengan rating 17. Karena, aku pengen karakter Sehun yang mischievous itu kelihatan banget dan itulah titik berat masalahnya. Sedangkan untuk OC, udah sering sekali aku pake nama Hanna. Bukan maksud hati tak bisa memilih nama, /ceilah/ karena nama ini udah melekat banget dan gampang buat diinget.

Yang terakhir, semoga suka sama jalan ceritanya. Don’t forget to leave a comment. Have a nice day!

.

.

.

[Main cast]

6bd28180429b2004078339cc91020867

Sehun Hesler- 26 y.o

3bc992d9b34a847ac1162076df52db4c

Hanna Kim- 21 y.o

463a1686d7affb7b1a0a42cfb79f878d

Chanyeol Hesler- 28 y.o

a594fb61c800380f165edb280cebc8fds

Jennie Dornan- 21 y.o

cr for London by wikipedia; photo main cast by pinterest
Advertisements

2 responses to “Coeur Brisé #1— PutrisafirA255

  1. YA ALLAH ITU SUMPAH SEHUN GANTENG BANGET GILA KAYA ABANG ABANG BILOR ALIAS BIHUN TELOR (apasih tijel). Gpp kak pake hanna biar gampang diinget wkwkwk, ditunggu ya kak kelanjutannya….

  2. MENARIKK MENARIK BGT dedek author ff nya.. oh iya annyeong aku 96L ugh keliatan tua, ff km yg 1435 aja aku blm selesaiii bacaaa smpai chap 10 ehhh uda ada ff baruu yg bikin aku penasaran bgt pada akhirnya aku baca iniii, & see bolehkan aku bilang klo aku lngsung jatuh Cinta sm ff iniiii, ceritaaaaaaaa seriuss nikmat bgt dibacanya wkwkwk..aku suka suka sukaaa, cocok bgttt dehh sm harapann akuu..kerennnn dekk..
    semangaatttt yaaaaaaa ….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s