[Multi Chapter] Stay – 1

Credit: Art by Song17 (Zahra)

STAY

prolog [0]

하나

Hana

Kalau ada yang ingin kubungkam saat ini adalah Coldplay. Bukan dalam artian sesungguhnya. Chris Martin, vokalis band itu, sedang menembangkan The Scientist di tengah hawa panas dapur lewat MP3 Player warna merah di atas meja. Iya, lagunya memang bagus. Perpaduan lirik dan melodi yang sempurna. Tapi, bukan berarti lagu itu cocok sebagai original soundtrack aktivitasku membanting-banting adonan donat sampai kalis. Tanganku terlalu lengket dan penuh gumpalan tepung untuk menggulirkan lagu lain lewat layar benda itu.

Keluargaku tidak membuka usaha toko donat. Eomma memang suka membuat aneka macam kue untuk camilan. Yang akhir-akhir ini kadang berakhir basi.

Bagaimana tidak basi. Di rumah hanya ada aku dan eomma. Kakakku, Junghyun, sedang menjalani wajib militer sejak enam bulan lalu. Appa bekerja di sebuah perusahaan di Seoul, pulang hanya setiap akhir pekan karena terlalu sibuk. Itulah kenapa sebagian donat-donat ini bakal eomma bagikan secara gratis pada para tetangga. Percaya atau tidak, anak-anak tetangga di area kompleks kami sangat menyukai kue buatan eomma. Bukan hanya karena enak, tapi embel-embel gratisnya itu. Menurut anak-anak itu, eommaku bagai ibu peri roti.

Hah.

Ibu peri memang cantik, lembut dan baik hati. Tapi, tidak dengan putrinya. Kebanyakan orang bilang aku tidak seperti eomma. Hana yang semestinya berarti bunga, bunga yang umumnya indah dan menarik, menjelma menjadi gadis cuek seperti aku yang sekarang mulai berkeringat. Aku tidak suka basa-basi. Jadi kalau menurutku itu lucu, maka aku akan tertawa. Jika itu cantik, secara jujur akan kubilang cantik. Dan jika itu jelek, ya sudah, jelek saja. Tidak perlu penambahan apa-apa.

‘Lebih baik kejujuran yang menyakitkan daripada kesempurnaan yang dusta.’

Aku mengelap kening dengan ujung kausku. Eomma akan mengomel jika donat buatan kami berakhir bantat. Eomma sudah mengomel tadi pagi saat aku sedang berbaring di atas sofa bersama Eleanor dan Park yang menutupi sebagian wajahku.

‘Mandi sekarang! Kita mau beli bahan roti,’ perintah eomma. Meski kesal karena diganggu saat membaca buku, aku tetap beranjak bangun. Begini-begini aku anak yang akan tetap mematuhi ibu dan ayahku.

Nggak usah mandi ya, Eomma,’ kataku, ‘biar nggak kelamaan.’

Kamu itu jorok sekali!’ Lidah eomma berdesis.

‘Masyarakat bumi harus menghemat air, Eomma,’ elakku sambil menggaruk leher. Sebuah bantal sofa melayang, menghantam tengkukku. Eomma masih mengomel bahkan saat aku bersedia mengalah untuk mandi.

Eleanor dan Park di atas meja ruang keluarga tergeletak begitu saja. Belum sempat kusentuh lagi bahkan sepulang dari toko bahan roti. Eomma kembali memberi perintah lain untuk menguleni adonan lengket ini sementara ia membeli gula halus yang terlupa.

Aku mengabaikan puluhan dentang notifikasi pesan masuk di ponselku nun jauh di sana, di sebelah Elanor dan Park. Pasti di antaranya ada pesan dari Sehun. Ketua sementara student council yang ganteng di sekolahku. Dia menjabat sebagai ketua sementara setelah ketua sebelumnya ketahuan menyelewengkan dana yang harusnya dibagi-bagikan untuk berbagai jenis kegiatan sekolah.

Alasan dia menghubungiku? Yah, begitulah. Dia memaksaku untuk jadi asistennya. Serius. Padahal jabatannya baru sementara. Itu terjadi gara-gara dia menemukan jurnal pribadiku yang berisi tulisan-tulisan tentang plot sebuah cerita. Katanya tulisanku bagus. Terserahlah. Sudah jadi rahasia umum kalau dia selalu merecokiku di sekolah.

He has a crush on you,’ suara lembut Hyesoo, sahabatku, seperti menggelitik daun telingaku.

Memangnya aku peduli? celetukku dalam hati. Alpha male seperti Sehun tidak sederajat dengan ordinary girl seperti aku. Bisa-bisa aku hanya jadi bulan-bulanan saja.

Libur panjang tinggal tiga hari lagi. Kegiatanku akan kembali seperti semula; sekolah dan kembali ke rumah. Kalau aku beruntung, maka Oh Sehun tidak akan mengekoriku ke mana-mana sambil meminta aku jadi asistennya. Kalau aku beruntung, mungkin Sehun benar-benar naksir padaku dan itu bagus. Sangat bagus. Hey, meskipun aku tidak suka dibuntuti, tapi siapa yang tidak mau bersanding dengan cowok hampir sempurna macam dia. Sebuah ironi.

Lalu giliran Sam Smith menyanyikan Stay with Me. Demi Tuhan, kenapa lagu yang terputar semuanya tentang percobaan move on yang gagal. Aku menarik napas sejenak. Peluh sudah membasahi jidatku dan eomma masih belum pulang.

Lagi, lagi dan lagi. Aku kembali menghantamkan adonan ke dalam baskom. Kali ini terbungkus oleh perasaan kesal yang memburu dalam hati. Sampai hari ini pikiran itu masih terus menggangguku. Kisah dua bocah bau kencur yang semestinya sudah terkubur.

‘Sial, sial, sial!’

Pada hantaman terakhir—adonan itu telah kalis—baskom plastik itu pecah jadi dua. Mataku terpaku dan bahuku merosot. Tenagaku seakan direnggut seutuhnya.

Kalau ada orang bilang centong yang digunakan penjual bubur adalah rahasia kelezatan buburnya, maka eomma-ku memiliki baskom ini.

‘Apa yang harus kulakukan? Ini baskom kesayangan eomma…’

 

Dyo

Kardus-kardus tertumpuk rapi di salah satu sudut kamarku. Lengkap dengan keterangan di setiap tutup atasnya. Ruangan bercat putih ini nantinya bakal kosong melompong setelah aku pergi. Salah satu bagian dinding yang tadinya penuh poster sudah kembali bersih. Meninggalkan bekas persegi panjang tempat poster-poster tadinya terpasang.

Selesai dengan aktivitas menempelkan label-label pada tumpukan kardus tadi, aku masih duduk bersila di lantai kamar. Berpindah tempat tinggal bukan hal yang asing bagiku dan keluarga Do. Sudah banyak kota di Korea yang pernah kami tempati. Yang paling lama adalah Suwon, Gyeonggi-do. Tempat kami akan kembali menjalani hidup setelah selesai dengan Busan.

Kembali ke Suwon berarti kembali ke rumah lama kami. Rumah nomor sepuluh di depan rumah… Hana.

Aku tersenyum kecil. Pertama kali mendengar Appa memutuskan untuk kembali ke Gyeonggi aku sudah bersuka cita. Tak perlu ada protes seperti sebelum-sebelumnya. Segera kuurus segala hal terkait kepindahanku. Mengundurkan diri dari klub vocal, berpamitan pada guru, memilih sekolah di Suwon dan lain-lain.

Dalam hal memilih sekolah di Suwon, aku sempat mengontak Junmyeon—teman lamaku di Gyeonggi—untuk menanyakan di mana Hana bersekolah. Percuma jika aku menghubungi Hana. Gadis itu seolah sengaja menyembunyikan diri. Tak pernah membalas surat yang kutinggalkan terakhir kali, tak pernah menelpon, tak mau lagi menjalin koneksi denganku. Aku bahkan tak tahu nomor ponselnya. Dia tidak aktif di SNS.

Benar-benar gadis langka.

Potret Hana yang kupunya adalah saat gadis itu masih berusia sepuluh tahun. Sebelum kisah hangat kami menguap tak bersisa. Potret itu masih kusimpan di dalam dompetku.

Aku kuno? Ya, memang. Aku bukan remaja lelaki pengumbar janji. Meskipun aku memiliki cukup banyak fans wanita di sekolahku, tidak ada yang kutanggapi. Mereka selalu menggunjing kalau aku dingin dan tak berperasaan. Tapi, sifat angkuhku itu nyatanya tidak serta merta mengenyahkan mereka.

Lokerku selalu penuh surat cinta. (Aku jijik, sungguh!) Tiap pagi di mejaku sudah tersaji tumpukan bekal. Semuanya bakal raib saat Hyunshik dan Minhyuk, teman-teman terdekatku, melahap semuanya. Para gadis itu tidak pernah berhenti menerorku meski bukan aku yang menikmati sajian mereka.

Tiap kali aku mengisi acara dengan menyanyi, mereka akan berteriak-teriak heboh lengkap dengan bosur warna-warni di tangan mereka. Jika salah satu dari mereka berpapasan denganku di jalan, selalu saja mereka bertingkah lebay. Umumnya mereka akan bergerombol dan cekikikan sampai kehabisan napas.

Andai Hana menjadi salah satu dari mereka, aku tak akan menolak. Andai Hana yang meletakkan bekal di bangkuku, tak akan kuizinkan Hyunshik dan Minhyuk menandaskannya. Andai ada Hana…

Aku menggeleng keras. Eomma selalu melarangku berandai-andai. Penyakit pemalas, katanya.

Masa-masa ini kapan berakhir? Aku pernah bertanya. Doaku terjawab sebulan lalu. Akhirnya bisa pergi dari mereka. Bisa merasakan suasana baru, bisa bertemu… Hana.

Nikmat Tuhan mana yang engkau dustakan, Dyo?

Suara eomma memanggilku dari lantai bawah. Aku bergegas menutup dompetku. Dengan bersenandung kecil, kutinggalkan kamarku. Ah, kapan terakhir kali aku sebahagia ini?

하나

Hana

Nggak,” kataku tegas. Suara mencicit dari seberang telepon terdengar lebih memelas. “Kubilang nggak, Hyesyuuyaa! Aku mau baca Eleanor dan Park sampai tamat hari ini!” Kali ini Hyesoo terdengar marah dan mulai memaki-maki. Kuputar kedua bola mataku dengan jengah. “Well, terserah kamu, Syuuya~ Kututup, yah?!”

Apa yang lebih buruk dari baskom kesayangan eomma yang pecah adalah paksaan Hyesoo untuk mengajakku menjemput rombongan Sehun di Bandara Gimpo. Sehun adalah atlet sepakbola di sekolah kami. Dia dan kelompoknya, ‘para pangeran’ menurut gadis-gadis di sekolahku, baru pulang setelah bertanding final dengan salah satu SMA negeri di Jepang.

Bagus. Sekolah kami akan heboh di hari pertama nanti berkat kemenangan The Princes (Itu julukan Hyesoo dan para gadis lain untuk Sehun dkk. Aku tak pernah memakainya). Aku mendengus lesu. Eleanor dan Park kembali tergeletak begitu saja di sampingku. Mereka punya kegiatan mengasyikkan saat libur panjang, sementara aku hanya membantu eomma membuat kue-kue.

Aku tidak menyalahkan siapa pun. Hyesoo pernah mengajakku pergi ke Seoul untuk berbelanja maupun melihat grup idolanya, tapi aku selalu menolak. Hanya sekali aku setuju, itu pun saat kakakku mendapat jatah libur hingga aku bisa bersua dengannya.

“Hana, antarkan ini ke rumah Pak Kim,” Eomma sudah ada di ambang pintu kamarku. Dengan tangan menjinjing bungkusan donat yang sudah matang tadi.

“Jauh sekali,” keluhku lesu.

“Astaga, Hana… Cuma beda satu blok kau bilang jauh? Mau antar ini atau ganti bas—“

“—oke, oke,” potongku. Aku tidak mau kalau harus membeli baskom. Akan lebih jauh lagi jaraknya. Kuambil jaket hitamku dan bingkisan dari tangan eomma. Akan kulakukan tugas mulia ini sebagai pengganti Ibu peri roti.

Senja pergantian musim merekah di ufuk barat. Burung-burung melintas di atas kepalaku. Mereka pasti bahagia karena sebentar lagi musim semi akan benar-benar tiba. Musim sudah berganti dan Hana yang ini, yang habis mengantar donat, tidak mengalami perubahan signifikan dalam masa remajanya.

Bodo amat.

Langkahku terasa ringan saat pulang dari rumah Pak Kim. Tanganku kini membawa seplastik jeruk manis sebagai pertukaran donat dari Pak Kim. Sudah kutolak dengan sopan, namun istri Pak Kim tetap memaksaku membawanya. Untungnya Kim Jieun sedang tidur siang, jadi aku tidak perlu repot-repot menyapa balita itu. Bukan berarti aku tak suka anak kecil. Mereka yang takut padaku.

Mataku menatap suatu yang ganjil. Tidak seperti biasanya rumah kosong di depan rumahku terlihat berbenah. Ada seorang pria paruh baya membersihkan halamannya. Pintu rumah itu juga terbuka dan terdengar suara bising saat aku mendekati pagar rendahnya.

Perasaanku tidak enak.

Ahjussi yang sedang membersihkan halaman melambai padaku dengan tangannya yang bebas. Calon tetangga baru? Aku mengangguk sekilas padanya, sembari tersenyum samar.

Kulangkahkan kakiku menyeberangi jalan. Kali ini terasa lebih berat. Selalu berat setiap kali mencuri-curi pandang ke rumah kosong itu. Seolah memori yang terkunci dalam benak dan hatiku, kenangan picisan masa-masa sekolah dasarku, muncul kembali dengan begitu saja. Anak lelaki bau kencur yang selalu tersenyum padaku di ambang pintu saat aku menghampirinya tak pernah luput dari kilasan masa laluku. Entah kenapa setiap menatap pintu rumahnya yang tertutup, hatiku seperti tersengat sesuatu. Ini sudah enam tahun berlalu dan rasanya tak pernah berubah.

Kini penghuninya akan berganti setelah kosong selama enam tahun lamanya. Bayangan anak bau kencur itu juga mungkin akan hilang. Kutatap sekali lagi rumah itu. Meski aku tidak pernah terang-terangan memintanya, tapi… apa Dyo benar-benar tak akan kembali?

Haruskah kubuka suratmu sekarang?

Eomma dan aku sedang makan malam berdua. Ada alasan kenapa aku tak mau pulang terlalu larut karena eomma akan makan malam sendirian. Rasanya makan malam sendiri pasti tidak enak (begini-begini aku anak yang tahu diri dan menyayangi keluargaku). Aku pernah mengalaminya, makan malam sendirian. Saat Jeonghan oppa masih kuliah di ibukota, appa tidak pulang dan eomma sedang mengunjungi nenek yang sakit. Terpaksa aku tidak ikut ke Busan (rumah nenek) karena sedang ujian kala itu. Otomatis Hyesoo dan antek-antek centilku yang lain tak bisa menginap di sini.

Getir saat harus mengunyah dan menelan makanan seorang diri. Belajar pun tak fokus karena volume televisi sengaja kuperbesar sebagai pengusir sepi.

Getaran merambati pahaku. Berkali-kali. Bisa dipastikan grup Line kelasku sedang heboh sekarang. Meskipun aku tidak terlalu hyper di sosial media maupun grup, benda metal itu tak pernah jauh dariku. Seakan menunggu kabar entah dari siapa.

Karena penasaran, aku membuka notifikasinya. Benar. 124 chat dari anak-anak perawan kelasku. Kebanyakan foto Sehun dan anggota The Princes lainnya di bandara. Mataku melotot dan sumpitku terjatuh. Apa benar mataku ini? Mereka pakai rangkaian bunga di leher.

“Apa-apaan ini? Memangnya mereka habis dari Hawai?” cibirku. Kubalik ponselku sampai berbunyi ‘duk’ setelah kumatikan notifikasi grupnya.

“Tidak main handphone saat di meja makan, Darling,” eomma mengingatkan dengan halus. Tangannya menjauhkan ponselku ke ujung meja.

Kudekatkan lagi benda itu. “Nanti jatuh dong, Ma,” rengekku. Kedua netra eomma setengah membeliak. “Oke, oke. Hana minta maaf,” kataku menciut sambil menangkupkan kedua telapak tangan.

Dipikir-pikir aku memang tidak mirip eomma. Mirip appa juga hanya sebagian. Junghyun mewarisi segalanya dari kedua orang tua kami. Setinggi dan setampan appa, bahkan rambutnya sebagus milik eomma. Yang bagus dariku hanya rambut tebal hitamku saja. Tubuhku kecil, kakiku pendek, suaraku cempreng, otakku pas-pasan. Sempat terlintas di benakku kalau kedua orangtuaku tidak mengerahkan seluruh tenaga mereka saat ‘membuatku’. Ha.

Kuaduk supku dalam diam. Melamun. Oh Sehun ganteng juga di foto tadi. Apa dia benar-benar naksir padaku? Impossible, Hana. Kau harus menunggu komet Halley melintas sebelum Sehun memujamu.

Ponselku kembali bergetar. Di bawah tatapan tajam eomma, mana berani aku membukanya. Setelah membereskan meja makan eomma sedang menonton televisi. Ia akan membuat roti lagi besok. Rencananya sih Croissant isi keju.

“Hana, besok eomma ada acara di rumah Tante Junhee. Kau belanja, ya? Jangan bangun kesiangan,” katanya sambil menyerahkan daftar belanjaan pada selembar kertas.

“Harusnya dibeli sekalian tadi,” gerutuku pelan.

“Oh, ya? Tangan eomma cuma dua, Darling. Sayang sekali putri tercantik eomma tidak mau ikut membawa belanjaan,” sindirnya pedas.

Yah, itu sih bisa-bisanya eomma saja. Padahal sengaja biar dapat nota banyak untuk potongan diskon.

Aku kembali mengkeret. Kulipat daftar belanjaan itu sebelum bertanya untuk mengalihkan wacana, “Ada acara apa di rumah Tante Junhee? Eomma arisan lagi?”

“Urusan ibu-ibu, kau tak perlu tahu,” sahut eomma. “Jangan ganggu eomma dulu, dramanya sedang seru.”

Wajahku memberengut. Dasar ibu-ibu!

Tiba-tiba aku teringat sesuatu sebelum beranjak pergi. “Eomma,” panggilku hati-hati, “kita bakal punya… tetangga baru?”

“Siapa?” Dwimanik eomma masih menatap layar kaca meski menyahut.

“Err… bekas rumah Dyo sedang dibersihkan. Jadi…” Menyebut namanya membuat lidahku mengecap rasa getir.

“Yah, mungkin. Syukurlah. Bisa-bisa rumah itu jadi rumah hantu. Hiiiy~” Eomma malah bergidik ngeri.

Aku hanya bisa tertegun. Setengah tak rela kalau kenangan bau kencur kami benar-benar menguap.

Kututup pintu kamar sepelan mungkin. Dadaku naik-turun dengan gelisah. Selalu begini saat hendak memutuskan membaca surat dari Dyo. Jarak pintu kamar menuju ranjang seperti seabad lamanya. Aku sudah enam belas tahun, tidak pantas rasanya kalau harus galau karena puppy love jaman sekolah dasar.

Dyo sudah pergi. Dyo tak akan menemuiku lagi. Meski Korea tak seluas Rusia, kesempatan kami bertemu setipis benang.

Di bawah ranjangku kotak itu berada. Kotak warna merah muda dengan gembok bersandi. Sandinya pun masih tanggal putus kami. Kenapa bukan tanggal jadian? Karena aku tidak ingat. Yang jelas tanggal perpisahan kami sangat membekas dalam otakku.

Kubuka kotak itu dengan ragu-ragu. Selembar amplop berwarna putih tulang dengan stempel lilin berupa huruf D pada penutupnya. Tanganku gemetar hebat saat hendak mencongkel stempelnya. Desiran aneh menguasai tubuhku.

Aku ingat saat aku membentaknya. Aku ingat saat tak mau bertemu dengannya. Aku ingat saat Dyo menangis di depan pintu rumahnya sebelum pergi untuk pindah.

Mungkinkah kau membenciku? Apa suratmu berisi kata-kata marahmu padaku?

Aku tidak sanggup. Mataku memerah dan air mata mulai merebak. Sambil menengadahkan kepala, aku meletakkan kembali amlop Dyo di dasar kotak.

Aku sudah jahat padamu. Bahkan meskipun suratmu berisi salam perpisahan yang tulus darimu, aku tak pantas mendapatkannya. Dyo-ya… bisakah kau kembali? Aku… aku mau minta maaf padamu.

-tbc.


Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s