COEUR BRISÉ #2— PutrisafirA255

89 copy

COEUR BRISÉ

.

Love can change your life, mind and heart

.

Story by PutrisafirA255

.

Starring by Sehun Hesler and Hanna Kim

.

co-starring by Chanyeol Hesler and Jennie Dornan

.

Chaptered—AU, Angst, Romance, Friendship, Hurt/Comfort, Drama

.

PG-17 (for harsh word)

.

You never know what happend in future. So, don’t make any mistake if you can’t

face the problem.

—anymous

.

2nd part

.

.

.

.

 

Keesokan harinya, begitu menyebalkan ketika mengetahui bahwa Jennie datang lebih awal dari perjanjian yang telah ditentukan. Gadis itu datang pada jam lima pagi dan mengetuk pintu rumahnya dengan begitu bar-bar. Tentu saja setelahnya Hanna marah, namun ketika ia mengetahui yang sebenarnya, barulah ia tahu kalau Jennie sedang mabuk.

“Kenapa harus ke rumahku kalau kau hanya datang dalam keadaan mabuk?” tanya Hanna pada Jennie yang tak lagi sadarkan diri. Gadis Kim itu hanya memapah Jennie hingga ke sofa dan melepaskan high heels yang masih dipakai. Bau alkohol pun tercium begitu menyengat. Membuat Hanna semakin berdecak kesal.

Setelah selesai mengurusi Jennie, barulah Hanna kembali ke kamarnya dan melanjutkan tidurnya. Namun, ketika hendak beranjak, Jennie menggumamkan sesuatu hingga ia pun mengurungkan niat. “Sialan kau Hesler! Kenapa kau suka bermain wanita, huh?” racaunya dengan mata yang masih tertutup.

Hanna pun membeo ria. Sepertinya sahabatnya itu sedang putus cinta. Menggendikkan bahu, akhirnya ia benar-benar meninggalkan gadis itu sendiri di ruang tamu. Kemarin tidurnya tidak begitu nyaman karena berada di pesawat, dan kini ketika ia bisa membuang rasa tak nyaman itu, Jennie malah datang dan mengacaukan tidurnya.

.

.

“Jennie bangun!” panggil Hanna dari dapur yang tak lekas disahut oleh si pemilik nama. Ia pun berkacak pinggang. Sudah membuat dirinya bangun di pagi buta, masih saja merepotkannya. Menghampiri Jennie yang penampilannya sudah lagi tak berbentuk, Hanna pun memekik. “Bangun Jennie!”

Tak cukup dengan teriakan, Hanna pun menarik paksa tangan Jennie agar empunya lekas bangkit dan mendudukkan diri. Namun usahanya sia-sia ketika gadis itu kembali berbaring. “Aku tidak mau berangkat kuliah, nona Kim. Kau berangkat sendiri saja,” sahutnya malas. Ia kembali menutup matanya jikalau Hanna tak mengancam dengan membawa nama ayahnya.

“Aku akan memberitahu ayahmu kalau kau di sini hanya bermain dan—”

Jennie lekas bangkit kembali dan membungkam bibir Hanna hingga kalimatnya terinterupsi. “Ya, aku akan berangkat!” tukasnya final. Ia pun melangkah menuju kamar mandi dan meneriakkan sesuatu dari dalam. “Aku pinjam bajumu!”

Hanna hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya dan menghembuskan napasnya kasar. Sepertinya London sudah merubah sahabatnya yang dulu begitu polos juga penurut. Atau mungkin ada seseorang yang mengubah kehidupannya hingga menjadi seperti itu. Well, semua orang juga bisa berubah. Tergantung bagaimana orang itu sendiri menjaga kehidupannya.

.

Coeur Brisé

.

 

“Chanyeol tidak masuk?” tanya Kai pada Sehun yang sedang menyesap kopinya. Pria itu pun lekas menaruh cangkirnya kembali ketika sahabatnya bertanya mengenai kakak kesayangan ayahnya itu. “Dia akan kembali besok.” Ujarnya tak acuh dan membuang fokusnya sembarangan asalkan tak menatap Kai.

Tanpa tedeng aling, Kai justru terkekeh. Menunjuk Sehun dengan jarinya, kemudian teralih menunjuk dirinya sendiri. “Kau ingin membohongiku? Katakan yang sebenarnya, Mr. Hesler.” Ujar Kai dengan beberapa penekanan pada kata-kata tertentu. Ia sudah mengenal pria itu luar dalam, dan tak ada yang bisa mengenalnya lebih baik dari siapapun selain dirinya.

“Aku membelikannya tiket dan—”

“Kau sengaja menahan Chanyeol di sana,” ucapnya dengan sungguh-sungguh. Spekulasi Kai memang benar—pada dasarnya. Ia tahu betapa bencinya Sehun pada kakak laki-lakinya itu. “Aku hanya tidak suka melihatnya setelah ia sering sekali dipihak oleh ayah.” Sahutnya membela diri. Dan ia yakin, meskipun tanpa mengatakannya, Kai sudah mengerti.

“Aku hanya menginginkan kejujuranmu, Sehun.” Kai melipat tangannya di depan dada. “Apa kau tidak bisa memaafkan Chanyeol? Kau tahu itu bukan kesalahannya,” katanya mencoba meluruskan pemikiran Sehun meskipun itu bukan pertama kalinya ia berujar dengan kalimat yang sama.

Sehun menatap si pria tan itu tajam. “Kau harus tahu batasan sebagai teman, Kai.”

Ya, itu kalimat yang selalu menjadi jawaban jika pembicaraan keduanya menyangkut Chanyeol. Sehun begitu membencinya, bahkan ia lebih memilih mati daripada harus memaafkan pria itu. Semakin ia mencoba melihat kebaikan pria jangkung yang masih ada di kampung halamannya itu, semakin ia membencinya. Semua kebaikan yang Chanyeol lakukan itu selalu dipuji oleh ayahnya, dan berakhirlah Sehun dengan pesan pahit dari sang ayah yang tak pernah mempercayainya. Maka dari itu, Sehun lelah menjadi orang baik. Sungguh.

Hening menjadi jeda sebentar dalam konversasi keduanya. Dan orang pertama yang memecahkan keheningan bukanlah Sehun maupun Kai. Melainkan pria berwajah eropa kental dengan senyum yang selalu mengembang sekalipun sedang dalam masalah. Dia, Jack O’conner.

What’s up, man?” ia mengangkat telapak tangannya untuk high five, namun tak ada yang menyambut. Semuanya tenggelam dalam pikiran masing-masing. Ia memang sering mendapati kedua pria itu bertengkar, tapi tidak dengan kebisuan semacam ini. “Kalian sedang berkelahi?” tebaknya, yang hanya ditanggapi satu tangan terangkat milik Sehun. Isyarat enggan menanggapi.

I’ll go. Have a nice day, guys!

Sehun bangkit dan meninggalkan kedua temannya itu. Ia tidak mau bertengkar, terlebih dengan Kai. Ia sebenarnya sadar bahwa dirinya memiliki tingkat emosi yang tinggi dan tidak bisa mengendalikan. Sehingga, ia lebih memilih pergi dan tak menambah masalah lagi. Masalah keluarga memang masalah yang sensitif baginya.

.

Coeur Brisé

.

“Kau yakin akan bekerja di perusahaan itu?”

Hanna yang mendapat pertanyaan pun lekas mengangguk. “Ya, aku akan mengambil pekerjaan itu, selagi bisa.” Sahutnya yakin. Meskipun warisan dari ibunya bisa membiayai kehidupannya sepuluh tahun yang akan datang, tetap saja uang itu akan habis. Belum lagi keperluan yang mendesak, suatu saat nanti.

Jennie yang tidak setuju pun menggeleng. “Ini bukan hanya sekedar resepsionis hotel, Hanna. Ini sekretaris pribadi! Bagaimana kalau bosmu adalah orang mesum dan memanfaatkanmu untuk kesenangannya sendiri?” tuturnya tak mendukung. Hanna tak perlu bekerja, karena ia bisa membantunya. Namun, dari sudut yang lain, dirinya tahu bahwa Hanna adalah orang yang tidak suka bergantung dengan orang lain.

Alih-alih berubah pikiran, Hanna justru menggendikkan bahunya. “Well, kalau untuk itu, aku hanya bisa berpasrah kepada Tuhan. Toh, selama aku hidup di Las Vegas, aku bisa menjaga diriku.” Ia mengingatkan kepada Jennie, juga sedikit menyindir gadis itu. Keperawanan adalah harga diri, dan ia akan menyerahkannya kepada pria yang memang benar-benar mencintainya. Bukan hanya sekedar permainan semata.

“Terserah padamu. Aku akan ada jadwal sore. Kau sudah hafal rute pulang, ‘kan?”

Hanna tersenyum. “Sekarang internet canggih, Jennie. Jangan khawatirkan aku,” ujarnya, sebelum kemudian Jennie membalas senyum dan membuka pintu guna kembali ke kelasnya lagi. Meninggalkan si gadis Kim itu sendiri di dalam mobil.

Tak segera pulang, Hanna justru menjelajahi alam bawah sadarnya. Semua yang dikatakan Jennie memang benar adanya. Ia sering sekali dijebak agar melakukan seks, mengingat bahwa Las Vegas benar-benar mengerikan. Namun, ia bisa menghindar karena ada ayahnya yang berkuasa di sana. Tetapi, sekarang ia berada di negara orang dan tak tahu bagaimana caranya untuk menghadapi situasi semacam itu.

Mengenyahkan pemikiran buruknya, ia pun lekas menghidupkan mesin mobil dan menginjak pedal gas. Hendak kembali ke apartemennya, namun urung berkat ketidaksiapannya dalam menjalankan mobil milik Jennie.

 

Bruk!

Entah hari ini adalah hari sialnya atau itu karena Hanna yang tidak fokus, dirinya menabrak sebuah mobil hitam di depannya. Good job, Hanna!—batinnya menggerutu.

Tak lama kemudian, pemilik mobilnya pun turun. Langkahnya yang pasti dan gerakan memutar tubuhnya yang tegas, sudah membuat Hanna tak bisa berpikir lebih panjang. Hanna tahu bahwa mobil di depannya itu sangat mahal, mengingat bahwa Mercedes Benz GL 350 termasuk mobil termewah di dunia.

 

Tok..tok..tok

Ketukan dari kaca mobilnya pun terdengar. Hanna yang sudah menyiapkan sedikit mentalnya pun lekas menoleh. Tangannya pun tergerak membuka pintu, lantas turun dari mobil. Yang hanya bisa ia lakukan adalah menunduk dan meminta maaf sebanyak mungkin—bisa saja pria itu akan memaafkannya.

Sorry, sir. Ini adalah kesalahanku dan aku akan menggantikan kerugiannya,” ucapnya, dengan posisi kepala yang masih menunduk. Hanna pun menggigit bibir bawahnya, kebiasan yang tak bisa hilang ketika dilanda kegelisahan.

Yang diajak bicara malah terdiam. Tak sekatapun dikeluarkan dari baritonnya. Matanya masih menatap gadis yang ada di hadapannya. Semua makian pun lenyap, tergantikan dengan kebahagiaan yang sedang membuncah dalam dirinya.

“Kau, bukankah yang ada di pesawat itu?”

Hanna yang merasa terpanggil pun mendongak. Menerawang pria di depannya sembari mengingat. “Pesawat?” dirinya membeo. Ia tidak begitu ingat, tapi wajah pria itu tidaklah asing baginya. Hanna pun berpura-pura ingat, mengambil keuntungan dari secercah kesempatan yang ada. “Me—Ya, that’s me!” serunya sok ingat, padahal tidak.

“Wah, ini sebuah keajaiban! Tetapi, kau tak bersikap seperti di pesawat. Syukurlah,” ia menggumam, dan Hanna tidak tahu apa maksudnya. Ia hanya mengulas senyum di bibir tipisnya, kemudian menyinggung kembali perihal mobil yang baru saja ia hancurkan.

“Aku rasa mobilmu harus segera diperbaiki,”

Ia menggendikkan bahunya acuh. “Tidak perlu menggantinya, yang terpenting aku bisa menemukanmu tanpa perlu mencari,” sahutnya, begitu ringan dan tak peduli dengan keterkejutan Hanna. “Mencariku? Apakah kau seorang pebisnis prostitusi?”

Oh, tidak! Hanna tak memikirkan apa yang baru saja ia katakan. Dirinya pun membulatkan mata, menyadari kebodohannya saat berbicara dalam keadaan gugup. Tetapi, itulah yang terlintas dibenaknya. Bisa saja, ‘kan?

“Pria setampan aku kau bilang pebisnis prostitusi?” pria itu mengulang. Jari telunjuknya pun mengarah kepada diri sendiri sembari memasang muka tak percaya. “Wajahmu cantik tapi matamu sakit,” dengusnya dengan nada sepelan mungkin, namun hebatnya Hanna bisa mendengarnya.

Hanna pun naik pitam. “Kau bilang mataku sakit?” ia melipat tangannya di depan tubuh, kemudian mencibir si lawan bicara. “Kita belum saling mengenal dan kau memakiku? Memangnya kau pikir siapa dirimu, huh!” sungutnya tak terima. Hanna lekas memutar tubuh, kemudian masuk ke mobil Jennie. Meninggalkan pria itu sendiri dan melupakan atas dosa apa yang baru saja ia lakukan. Well, amarah bisa menghilangkan apa saja yang sedang terjadi.

.

Coeur Brisé

.

Are you had an accident, Mr. Hesler?”

Dicecar dengan pertanyaan semacam itu, Sehun pun mendengus kesal. Wanita itu kabur setelah apa yang diperbuatnya. “Ada kucing di parkiran dan aku menabraknya,” sahut Sehun asal, lalu melangkahkan kakinya. Tetapi, penjaganya itu kembali mencecarnya dengan pertanyaan setelah melihat goresan di bagian samping kiri. “Anda menabrak kucing, tetapi kenapa goresannya panjang sekali? Apakah ketika Anda menabrak, kucing itu sempat mencakar mobilnya?”

“Memangnya kucing bisa tahu kalau aku akan menabraknya dan mengelak?” Sehun membalasnya pertanyaan dengan nada kesal. Ia pun kembali berbalik menghadap penjaganya. “Ah, sudahlah! Tolong ganti itu dengan Audi A3. Aku bosan dengan Mercedes. Kuharap besok sudah ada di garasiku, kau bisa melakukannya, ‘kan, Taylor?” Ujarnya tanpa pikir panjang.

Pria yang dipanggil Taylor itu pun mengangguk paham. “Akan kuusahakan.”

“Tapi, jangan jual Mercedes itu. Perbaiki bagian yang rusak dan masukkan lagi dalam garasi. Aku ingin memberikannya kepada seseorang.” Tambahnya lagi. Kini, ia benar-benar masuk ke dalam rumah—atau lebih tepatnya penthouse.

“Welcome, sir.”

Ketika langkahnya menginjak ruang tamu yang tak jauh dari mini bar, suara sopran wanita paruh baya pun mengisi gendang telinganya. Ia pun membalas senyum, kemudian menaiki anak tangga dan segera memasuki kamar tidurnya.

Hari ini, banyak perdebatan yang mengganggu pikirannya. Ayahnya ingin sekali ia memegang jabatan wakil direktur, menemani Chanyeol yang akan menjadi seorang direktur. Tentu saja Sehun menolaknya mentah-mentah. Sayangnya, semua direksi di perusahaan pusat—di Ediburgh—sudah menyetujuinya dan Sehun tak bisa berbuat banyak. Menyebalkan bukan menjadi silsilah keluarga Hesler?

Tubuh tegapnya pun tersungkur ke atas ranjang dengan sengaja. Hati, tubuh dan pikirannya sudah lelah. Ia tak bisa dijadikan sebagai boneka bisnis dan juga dianggap seperti ini. Dalam hal apapun, dalam aspek apapun, Chanyeol selalu menang. Ia benci kenyataan itu, juga benci kasih sayang ayahnya berpindah tempat. Ia hanya menginginkan itu kembali, tak lebih. Tapi, kenapa rasanya susah sekali?

I hate you, Chanyeol.” Ia bergumam. Iris coklatnya menatap langit-langit kamarnya, kemudian memiringkan kepala dan menemukan ponselnya berdering. Sontak, tangan kanannya pun meraih benda persegi panjang itu dari nakasnya dan melihat ID caller yang tertera.

Ia pun mendengus. Ternyata, ayahnya.

What happend, dad?” tanyanya tak tertarik, namun masih bersikeras mendengarkan. “Besok, datanglah ke kantor setelah jam kuliah pagimu. Kau akan bertemu dengan sekretaris pribadi yang telah aku pilih. Dia juga berasal dari universitas yang sama denganmu.”

Sehun menghela napasnya kesal. Demi, Tuhan! Bisakah aku hidup sekali saja tanpa kesusahan? Ia membatin. Ingin sekali rasanya tak mengatakan itu, namun yang keluar justru kata-kata terkutuk yang selalu terucap setiap situasi seperti ini ada. “Okay.

Final. Inilah pilihannya. Menurut dan akan terus seperti itu.

.

—Coeur Brisé—

.

Hanna mengacak surainya kasar. Dasar bodoh! Umpatnya. Bagaimana nanti reaksi Jennie terhadap mobilnya yang sudah hancur di beberapa bagian itu. Lampu sen-nya hancur, namun masih bisa menyala. Pun dengan bagian lainnya yang tak bisa Hanna ungkapkan. Ia hanya takut jika Jennie akan marah dan tak mau berbicara dengannya.

“Hanna!”

Pekikkan milik Jennie menggema. Ia pun pasrah saat gadis itu mencengkeram bahunya dengan kasarnya. “What happened to you?” nadanya menukik, khawatir mendominasi setiap kalimatnya. Hanna hanya mengulum bibirnya, kemudian membalas sebisanya. “Maaf, aku merusaknya.”

Alih-alih marah, Jennie justru menggeleng. “Bukan. Bukan itu maksudku,” tangannya memaksa Hanna memutar menghadapnya. “Tapi, kau Hanna. Apa kau baik-baik saja? Apa ada yang terluka?”

Hanna tersenyum ringan setelah mengetahui apa yang sebenarnya Jennie maksudkan. “Aku bai-baik saja, Lena. Maaf aku sudah merusak mobilmu. Aku akan menggantinya jika gajiku sudah ada. Sekali lagi, aku minta maaf.”

Jennie menggelengkan kepalanya lagi, menyanggah pernyataan yang dilontarkan sang sahabat. “No, Hanna. You’re my family, my sister. That’s just a car, don’t worry about it.” Ucapnya, menenangkan si gadis Kim yang agaknya masih takut. Ayahnya bisa membelikan mobil baru kalau perlu, karena usaha penerbitan yang dimiliki sudah membumbung tinggi—terkenal. Maka dari itu, daripada repot-repot memikirkan hal semacam itu, lebih baik memikirkan bagaimana melupakan pria. Itu lebih sulit—menurutnya.

What?” Seolah bisa membaca pikiran Jennie, Hanna bertanya. Jiwa mereka sudah menyatu, sehingga apapun yang satunya rasakan, maka yang lainnya juga. Mereka terlalu dekat untuk dikatakan sebagai saudara, dan terlalu jauh untuk dikatakan satu darah. Mengingat, Hanna hanyalah seorang anak perempuan yang ditinggal mati ibunya dan keluarga yang tak mengurusnya dengan baik.

Jennie mendongak. “Aku hanya memikirkan sesuatu. Tapi, jangan buat dirimu mengkhawatirkannya juga. Aku baik-baik saja.”

“Tidak, ceritakan padaku! Semalam kau mabuk. Pasti ada masalah yang sangat besar. Kau juga menggumamkan nama Hesler. Siapa dia?” tanyanya. Hanna bukan orang bodoh yang tidak bisa membaca situasi, dan ia tak suka jika Jennie menyembunyikan masalah seperti ini darinya.

“Itu—” Jennie kehabisan kata-kata. Ia tak tahu darimana harus memulai ceritanya. “—kau tahu, di sini aku sudah berkencan dengan banyak pria.” Sambungnya ketika yakin. Hanna sebagai pendengar pun mengangguk. “Dan, dari mereka semua, aku menyukai—tidak! Aku bahkan mencintainya. Hanya dia, Mr. Hesler.”

“Nama depannya?” ia mengajukan pertanyaan pertamanya mengenai masalah Jennie. Si lawan bicara pun menggelengkan kepalanya, tak mau menjawab. “Biarkan hanya aku yang mengingat. Aku tak mau kau malah mengingat masalahku. Biarkan aku menyelesaikan dan melupakannya.”

Well, untuk yang satu ini, Hanna mengalah. Ia pun melanjutkan pertanyaan yang kedua. “Lalu, seberapa jauh hubungan kalian?”

Jennie tersenyum masam. “Every Saturday, we make a love. And he is like Cristian Grey, the dominant. I can’t touch him, if he not wants. Just like that our relationship, no more.” Ia pun menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa. “We not had something special. Just, you know—fucked harder and then like a friend.

Miris mendengarkan kenyataan, Hanna pun mengubah alur pembicaraan. “Sekarang, kalian bertengkar?”

“Dia mendapatkan mainan baru. Seperti anak laki-laki kebanyakan, mereka akan meninggalkan mainan lamanya dan memainkan yang baru. That’s common in London, Hanna.” Jennie lekas bangkit, ingin membersihkan diri setelah bermandikan rumus-rumus rumit di kampus tadi. Tak lupa, seperti biasa ia memeluk Hanna sebelum pergi. “I love you. Thanks to hear my problem.

Senyum lebar dan anggukan pun diberikan. “Sure,

.

—Coeur Brisé—

.

Suara alarm pun menggema di kamarnya. Hari ini, ia akan mengikuti wawancara. Menjadi sekretaris pribadi yang tak memakan waktu banyak dan dapat gaji banyak tidak boleh di sia-siakan. Oleh karena itu, Hanna lekas bangun dari tidurnya.

Kedua tangannya terangkat ke atas, menutup mata, kemudian menguap. Kemarin ia tak mendapatkan waktu tidur yang banyak, mengingat Jennie bercerita banyak mengenai masalahnya di London. Dan sebagai teman yang baik, ia tak mungkin menolak.

Maka dari itu, ia kemudian melangkah menuju kamar mandi. Membersihkan diri dan menyiapkan semua keperluannya.

Introduce myself, my name is Hanna Kim. You can call me Hanna. I’m from Las Vegas, but I came here because I want to study business.” Gumamnya, mengingat-ingat kembali bagaimana kalimat yang sudah ia rancang jauh-jauh hari. Ia ingin mendapatkan pekerjaan ini dan hidup tanpa bergantung kepada orang tua Jennie. Gaji dalam tiga bulannya cukup untuk menggantikan mobil Jennie yang rusak.

Setelah selesai dengan riasannya—meskipun hanya rambut panjang yang dikuncir kuda, polesan lipstik berwarna pink muda, dan kemeja putih yang dipadu rok berwarna navi—ia lekas mengambil tasnya dan melangkahkan kakinya ke luar flatnya. Tak lupa, sebelum berjalan menuju halte, ia menelpon Jennie terlebih dahulu.

“Hai, Jennie. Hari ini aku tidak bisa masuk jam kuliah pagi. Bisakah kau mengatakan pada dosenku?—okay, thanks. I love you,” Pun kemudian ia melanjutkan kembali perjalanannya. Hesler Interprises Holdings, yang tak jauh dari Sungai Thames. Dan hanya butuh dua puluh menit untuk sampai di sana menggunakan bus kota.

Di sepanjang perjalanan, ia memandangi bagaimana masyarakat London hidup dengan tentram. Warganya yang terkenal ramah, juga penuh dengan toleransi membuat semua orang berlomba-lomba datang untuk mengunjungi London. Dan satu lagi, alasan mengapa Hanna mau datang ke kota itu karena William Shakespeare. Jika saja dunia tidak kejam dengan keadaan ekonominya, mungkin ia akan mengambil sastra inggris.

Dua puluh menit sudah berlalu, Hanna pun turun dan sampai di depan gedung tujuannya. Suara degup jantungnya mungkin bisa didengar seluruh warga London—saking gugupnya. Tungkainya mencoba berani mengambil langkah. Memasuki lobby dengan tatapan kagum yang luar biasa. Bagaimana tidak? Semua yang ada di sana hanyalah orang-orang yang berpakaian rapi dan elegan. Tak ada kesan santai sedikitpun.

Excusme, miss. Where is Mr. Hesler room?” tanyanya pada resepsionis. Wanita yang ada di hadapannya juga cantik, dengan setelan seragam kantor berwarna abu-abu, dan rambut pirangnya yang digelung. “Pardon me, Mr. Sehun Hesler or Mr. Chanyeol Hesler?”

Oh, Hanna bisa gila. Bagaimana ia tak tahu nama bosnya sendiri?

“Mr. Chanyeol Hesler.” Semoga pilihannya benar. Wanita berambut pirang tadi menundukkan kepalanya sejenak. Lalu, jemari lentiknya meraih gagang telepon dan menekan tombol. Setelah melakukan panggilan dan mengabaikannya dua menit, wanita pirang tadi bangkit, kemudian mempersilahkan Hanna mengikutinya. “This way, miss.

Hanna pun mengekori dengan teramat pelan. Hingga mereka berjarak sekitar satu setengah meter. Ia terlalu gugup, atau mungkin yang lebih tepat…takut? Entahlah, dirinya sendiri pun tak tahu.

“Beliau ada di dalam, silahkan masuk.”

Tangannya tergerak menuju kenop pintu. Wanita tadi sudah menghilang entah sejak kapan, dan kini hanya tersisa keberaniannya saja di sana. Okay, ready to the first trouble.

Mr. Hesler?” Hanna memanggil sesosok jangkung yang tengah memunggungi meja kerjanya. Pria itu tinggi, badannya atletis, dan tatanan rambutnya sangat menawan. Dalam hitungan detik pun Hanna bisa terperangkap dengan cepat saat pria itu juga menatapnya. Dewi batinnya bersorak gembira, namun tak melupakan tempatnya.

“Chanyeol Hesler,” ucapnya dengan tangan terulur dan kemudian Hanna melakukan hal yang sama, mereka saling berjabat tangan. “Hanna Kim.”

Have a sit, Mrs. Kim.” Chanyeol mempersilahkan Hanna untuk mengambil duduk di kursi depan meja kerjanya. Hanna pun lekas menurut, kemudian menatap Chanyeol dalam diam. Menunggu apa yang ingin pria itu tanyakan untuknya.

“Kau mau jadi sekretaris? Apa yang membuatmu mau menjadi sekretaris pribadi?”

Oh, sudah dimulai. Batinnya gugup. Ia berdehem kecil guna membersihkan kegugupan yang melanda, lalu menjawab, “Ya, tuan. Saya membutuhkan uang untuk kuliah, begitu juga dengan pengalaman kerja yang pastinya akan Saya butuhkan ketika telah lulus nanti.”

Chanyeol menganggukkan kepalanya, menyukai alur pembicaraan keduanya dan pemikiran wanita bermarga Kim itu. “Aku tak suka basa-basi. Nilai IPK-mu bagus, tapi aku tidak akan menerimamu. Karena, dalam hitungan ke-lima, akan ada orang yang datang ke sini dan mengambilmu dariku.”

Hanna terkesiap. Apakah ia baru saja ditolak? Tapi, pria itu mengatakan bahwa nilai IPK-nya bagus. Apa yang pria ini bicarakan sebenarnya?

Three, four, five—

Pintu besar yang dilewatinya tadi terbuka dengan cara yang sangat tidak sopan. Memunculkan sesosok pria yang tak asing dimata Hanna, hingga ia hampir pingsan jika lupa dimana tempatnya berpijak. Atmosfer berubah secara drastis, kedua pria kini saling bertatapan, tak ada yang memerdulikannya.

Fuck all your rules, Chan. Don’t make me angry now!

Si sulung terdiam. Rautnya begitu tenang, hingga membuat si bungsu yang agaknya tersinggung secara emosional menatapnya garang. “I just help you to find great secretary. And she has.”

I don’t care about it. You, stand up. Your place is not here.” Tatapannya menuju pada Hanna yang hanya membungkam bibirnya takut. Ia tak terbiasa dengan pertengkaran laki-laki semacam ini, dan dirinya hanya bisa bangkit, kemudian mendahului Sehun yang mengikutinya beberapa detik kemudian.

Follow me,

Hanna yang ingin mengumpat—namun tak bisa—sekali lagi mengikuti keinginan pria itu. Langkah pria itu menuju lift, dan Hanna mengikutinya dalam diam. Di dalam lift pun, pria itu hanya terdiam. Rautnya begitu dingin, atau lebih tepatnya menahan marah. Hanna pikir, kesalahan seperti ini hanya akan membuatnya tidak terima. Bukan menjadi pertengkaran hebat antar saudara.

Sorry, I don’t know if you’re my boss. This company has two people who named Hesler.”

Sehun mengumpat lebih banyak dalam hati. Namun, ia hanya bisa memendamnya. Saat ini, ia hanya ingin bercinta dengan jalang untuk melepaskan segala amarahnya, atau mungkin menyakiti mereka. Itu biasa, dan tak ada yang mempedulikannya berlaku seperti itu.

And sorry about your car. I think you will angry—

Shut up!” Sehun bergumam, tetapi nyaris tak terdengar. Ia tak mau mendengar siapapun berceramah ketika ia sedang marah dan hilang kendali. Sayangnya, mereka hanya berdua di lift itu dan Hanna bisa mendengarnya meskipun samar. “Kau mengumpat padaku?”

Sehun mendelik ke arah Hanna, tetapi bukan untuk marah. Melainkan mengacak surai hitam pekat miliknya kasar. Ia ingin marah, tapi tidak bisa. Ia ingin memaki, mengumpat kebodohan gadis di sampingnya tapi tak bisa. Sebenarnya, apa yang terjadi dengan otak dan tubuhnya saat ini?

What’s your name?” Sehun mengalihkan suasana. Hanna menatap sebentar Sehun, kemudian menjawab, “Hanna Kim. You can call me Hanna.”

Belum Sehun melanjutkan pertanyaannya, pintu lift terbuka. Pria itu melangkah dengan angkuhnya menuju ruangannya, dan Hanna hanya bisa mengekor. “Masuk,” perintahnya, dan Hanna menurut. Well, di sini jabatannya berbeda. Dan ia bisa menempatkan diri dalam situasi seperti ini.

“Duduk,” Sekali lagi, suaranya bagai diktator, sangat mengintimidasi. Tetapi, Hanna tak punya pilihan lain. Ia pun duduk di kursi depan meja kerja Sehun dan menundukkan kepalanya. “Aku akan memberitahu mengenai pekerjaanmu. Catat,”

Hanna pun mendongak, sepersekian detik kemudian mengambil buku catatan kecil di tasnya. “Yang pertama, aku hanya akan masuk kerja hari Senin sampai Kamis pada minggu pertama, dan sisanya aku akan kuliah. Untuk minggu selanjutnya, Senin sampai Kamis aku akan kuliah dan sisanya aku akan berada di kantor. Kemudian berlanjut seperti itu,”

“Yang kedua, kau hanya akan bekerja denganku. Orang sepertimu mudah sekali disuruh oleh senior. Di sini, aku yang menggajimu, bukan mereka. Jadi, dengarkan perintahku dan hanya perintahku,”

Tukang memerintah, batin Hanna mencibir.

“Yang ketiga, kau akan berada di mana pun aku ada. Kau punya ruangan sendiri dan itu ada di sebelah ruanganku. Datang jika kuperlukan dan pergi jika aku tidak membutuhkanmu. Itulah gunanya sekretaris pri-ba-di. Ada pertanyaan?” Suara bossy-nya benar-benar menggema di telinga Hanna. Dengan sombong dan tatapan yang masih mengintimidasi. Namun, Hanna harus bertanya sesuatu.

“Bagaimana dengan gajiku?”

Sehun tersenyum tipis. “Benahi dulu kesopanan dalam berbicaramu, baru aku akan memberikanmu gaji. Sekarang, revisi semua proposal ini. Aku harus mendapatkan tanda tangan Chan—ehm, maksudku Mr. Chanyeol Hesler hari ini juga.” Ia mengangsurkan lima map sekaligus di hadapan Hanna.

Okay,” sahut Hanna malas, dan di detik selanjutnya ia membulatkan mata, kemudian membenahi. “Yes, sir. I will finish it,

.

—Continue—

.

 

Hai! Chap dua sudah rilis 😉 entah ini apa aku pun tak tahu, semoga kalian suka dengan ceritanya yang agak gak masuk akal. Saran dan kritikan akan diterima. Terima kasih 😀

.

Don’t forget to leave a comment 😀

Advertisements

3 responses to “COEUR BRISÉ #2— PutrisafirA255

  1. ayeeeeee.. uda publish lagiiiiii, thor ngomong” knpa si sehun jadi sensi bgt sm hanna pdhl kan awal” ktmu uda yg semangat bgt..bahkan ada niatan buat cari hanna kan, wkwkw apa gegara pas insiden nabrak mobil itu trs omongan hanna nyolot..kok kayanya sehun uda ga tertarik sm hanna, atau cuma emosi sesaat..jaim mungkin hihihi..tapiiii aku makin suka kok sm ff mu ini, serius bikin penasaran.. ga sabar pengen baca chap slnjutnya thorr…

  2. HALOHAAA KETEMU LAGI SAMA NIH KELUARGA HESLER SALAM NASYI U’DUG BANG-KAI (dibacanya pake qalqalah). Kok deg-degan gini bacanya, si sehun suka mainin cewek ya kak? Trus si jennie itu dimainin sama chan atau sehun? Intinya penasaran oke udah itu aja sekian, di tunggu kelanjutannya ya kak….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s