[CHAPTER] LOVESICK (Ep. 03)

lovesick_2

LOVESICK

starring: Lee Taemin | Son Naeun | Kim Seokjin | Lee Byunghun | Chou Tzuyu

genre: slice of life | teenager | romance | sad | au

lenght: chaptered

storyline: Gea Arifin

poster: sifixo @poster channel 

review; Teaser 1 // Teaser 2 // Teaser 3 // Teaser 4 // Ep. 01 // Ep. 02 // Ep. 03

#3ㅡMemory

**

“…Ya, memang seharusnya kita menunggu mereka lulus terlebih dahulu. Setelah itu kita bisa langsung mendiskusikan tanggal pertunangan…”

‘Bagaimana bisa?’ Pikir Taemin.

Bagaimana bisa Kakak dan Bibinya itu menjodohkannya dengan seorang Son Naeun? Dan, hei, gadis itu menyetujuinya? Ia harus memutar otaknya untuk berdiskusi dengan Naeun –harus.

Meskipun sesuatu di masa lalu akan terus mengusiknya mulai sekarang.

Masa lalu, orang menyebutnya sebagai memori –dan memori tidak akan pernah hilang, hanya sebatas dilupakan. Entah kapan memori itu pasti akan muncul kembali ke permukaan, sehingga setiap orang akan kembali mengingat memori yang mereka lupakan. Mau tak mau, pahit atau pun manis, memori itu akan dirasakan sendirian.

Dan kali ini menyangkut.. Perjodohan.

Pertemuan keluarganya dan keluarga Son untuk sebuah perjodohan adalah hal konyol. Kenapa bukan Jinki saja yang dijodohkan? Pria itu lebih pantas untuk segera menikah. Tapi, kenapa harus Son Neun yang dijodohkan dengannya?

Mengenai memori. Ada satu memori yang begitu ingin dilupakannya. Namun malam itu, disaat mereka berada di satu ruang yang sama, memori yang sudah sangat tenggelam dalam hatinya kembali terangkat dengan sendirinya.

“Lee Taemin.” Seseorang duduk di hadapannya, menyenggol buku yang ada dalam genggamannya. Kedua matanya mengerjap beberapa kali, alam sadarnya telah kembali, dan pemandangan perpustakaan terpapar di hadapannya –beserta Joe.

“Aku sudah menemukan beberapa bukunya, kita hanya akan menyerahkan buku sejarah tradisi yunani ini pada Jung ssaem.”Joe menyodorkan tiga buku yang didapatkannya dari perpustakaan ke depan Taemin. Pemuda itu mengibaskan telapak tangannya, “Taemin?”

Lee Taemin terkesiap. “Eoh –sudah selesai?”

Joe memicingkan kedua matanya. “Kau melamun.”Seru Joe, pemuda itu seolah tahu isi pikiran Taemin.

Taemin menunjukkan buku yang dipegangnnya pada Joe. “Aku sedang membaca buku sambil menunggumu. Lihat!”Sementara pemuda yang duduk di depannya itu menahan tawanya agar tak meledak.

“Sejak kapan kau mahir membaca buku terbalik seperti itu, Tuan?”Ledek Joe, yang masih berusaha keras menahan tawanya –ingat, ini di perpustakaan. Pemuda itu beranjak dari kursinya. “Sebaiknya kita cepat keluar dari sini. Perutku sakit menahan kekonyolanmu. Pft..

Taemin mendengus. Ia melemparkan buku yang dipegangnya tadi ke atas meja dengan pelan dan memasukan alat tulisnya dengan asal ke dalam tas, kemudian menyusul langkah Joe yang sudah terlihat jauh di depannya.

**

“Masih memikirkan perjodohanmu itu?”Tanya pemuda yang berjalan di sampingnya. Siapa lagi jika bukan Joe. “Dari kemarin kau tertangkap sedang melamun saat jam pelajaran, tidak bosan di keluarkan terus dari kelas?”

“Tidak.” Jawab Taemin, pemuda itu memasukan kedua tangannya ke saku celana seragamnya. Mereka tengah menuju kantin.

“Tidak untuk tidak memikirkan perjodohanmu, atau tidak untuk tidak bosan dikeluarkan dari kelas?”

“Keduanya.”

Oh –yang benar saja. Jika bukan keduanya, jadi apa yang kau lamunkan, Taemin? Bukan kah seseorang melamun karena ada hal serius? Aku yakin kau memikirkan perjodohanmu, karena itu adalah hal serius.”Taemin melirik Joe, sejak kapan pemuda di sampingnya itu jadi terlalu cerewet?

“Kau bisa menceritakan masalahmu padaku. Setidaknya kadar melamun-mu itu akan berkurang.”

Taemin menghela nafas dalam-dalam. Sepertinya ia memang harus berbagi masalahnya dengan Joe, karena hanya pemuda itu yang bisa dipercaya. Tapi keraguan menghampirinya, Joe bukan orang terdekatnya, meskipun ia adalah roomatenya sendiri.

Jadi bagaimana menjelaskan semuanya pada Joe?

“Kita bicarakan setelah berada di asrama saja –aku rasa…”Setidaknya Taemin tidak harus menjelaskan masalahnya sekarang, dan Joe pun hanya menyetujuinya tanpa berkata apapun lagi.

**

“Apa kau tidak bosan dengan buku-buku itu, Jin-ah?”Tanya Naeun begitu ia menyelesaikan makan siangnya. Jin yang masih menyantap lunchnya sambil membaca buku dengan berbagai macam rumus di dalamnya itu menggeleng. Pemuda itu akan sangat lambat dalam segala hal ketika sudah fokus pada buku pelajaran.

“Aku akan membeli susu pisang, kau mau?”Naeun beranjak dari kursi, ia terlalu bosan jika harus duduk menemani Jin tanpa melakukan apapun.

Chankkan.“Jin menyingkirkan alat makannya setelah semuanya telah tandas. Naeun berjalan di depannya, ia sudah kehilangan beberapa langkah dengan gadis itu. Maka setelah Jin menutup bukunya, ia mempercepat langkahnya untuk menyusul Naeun.

“Kau tidak ingat jika aku baru pindah kemari? Jadi aku harus menyesuaikan pelajaran yang sudah ku dapat di Bronxville dengan pelajaran disini.”

Naeun mengangguk-angguk sambil menikmati susu pisang dingin miliknya. “Kau benar. Kenapa tidak masuk kelompok Apollo saja? Kau pandai dalam seni juga, Jin-ah. Bukan kah Ares sangat memberatkan? Mereka hanya berurusan dengan buku, angka-angka, dan penelitian, ugh.

Jin menyenggol lengan Naeun, untung saja gadis itu memegang botol susu pisangnya dengan erat sehingga tidak terjatuh. Naeun menatap Jin tajam, namun pemuda itu hanya terkekeh dan mempercepat langkahnya.

“YA, Lee Seokjin!! Awas kau, YAA!”

Jin sudah berada jauh dari Naeun, senyum di wajah cerah Jin tadi menghilang begitu saja karena sekarang hanya kemurungan yang terlukis disana.

‘..seandainya kau tahu kenapa aku masuk di kelompok Ares, Naeun-ah.’ Batin Jin.

**

Ia sedang berjalan di Shinebridge untuk menuju asrama, beberapa siswa pun terlihat di sepanjang jembatan itu. Awalnya tidak ada yang menarik perhatiannya, bahkan pemandangan danau buatan yang memancarkan sinar senja pun nampak tak menarik bagi seorang Taemin. Itu sebelum ia mendapati seorang pemuda jangkung yang berhasil menarik perhatiannya.

Kim Seokjin. Pemuda itu sedang berada di pinggir jembatan, kedua tangannya bertumpu pada pinggiran jembatan. Wajahnya terlihat memandang ke danau buatan ECUA yang terlihat indah saat sore hari, pemuda itu seperti sedang menerawang sesuatu.

Langkah Taemin melamban. Entah apa yang membuatnya mendekat pada pemuda itu dan berdiri di sampingnya, melakukan hal yang sama seperti yang Jin lakukan. Taemin sadar jika Jin meliriknya sekilas, dan pemuda itu kembali dengan aktifitasnya tanpa berkata apapun pada Taemin.

Mwohae? (sedang apa?)”Taemin ingin mengutuk mulutnya sendiri karena tanpa sengaja ia membuka percakapan diantara mereka.

Jin menghadap Taemin, ia membenarkan tali ransel yang hampir merosot dari bahunya. “Kita tidak dalam situasi yang sangat dekat, bukan? Jadi, apapun yang aku lakukan bukan urusanmu. Begitu pun sebaliknya.”

Seokjin benar, mereka tidak dalam situasi hubungan yang dekat –dan bodohnya Taemin mendekati pemuda itu. Taemin hanya berdiri disana, melihat punggung Jin yang semakin menjauh dari pandangannya.

Butuh beberapa detik bagi Taemin sebelum kembali melangkahkan kakinya. Tanpa pemuda itu sadari, seseorang berada di belakangnya –menatapnya dengan curiga.

**

Wattseo?

Eung.“Naeun menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur setelah melewati Wendy yang sedang membaca webtoon di meja belajarnya. “Dimana Soojung?” Naeun mengedarkan pandangannya. “Dia belum datang?”

Wendy memalingkan wajahnya dari layar laptop dan memutar kursinya untuk menghadap Naeun. “Kemana saja kau, sampai kabar temanmu sendiri tidak tahu?” Ujar Wendy, ia meraih ponselnya dan menunjukkan group chatt mereka pada Naeun.

Kedua netra Naeun membesar. “Eommo! Jadi sekarang dia sedang bersama Myungsoo Oppa?” Wendy mengangguk. “Sejak kapan, eoh?”

“Tadi saat kami di perpustakaan, dia mendapat telpon dari Myungsoo Oppa jika dirinya sedang berada di loby ECUA. Myungsoo Oppa baru kembali dari Jerman dan langsung menemui Soojung, lihat saja di tempat tidurnya, banyak oleh-oleh –dan Soojung langsung menemui kekasihnya itu, huft.

Naeun ingin memastikan sesuatu, dengan terburu-buru ia menuju lantai tempat tidur Soojung yang ada di atas tempat tidurnya. Dan benar saja, disana banyak sekali tumpukan bingkisan. “Apa salah satu dari paper bag itu milik kita, Wen?”

Wendy menggelengkan kepalanya melihat tingkah Naeun yang selalu antusias jika melihat bingkisan oleh-oleh.

“Berdoalah, semoga Soojung berbaik hati untuk membaginya dengan kita.”

Naeun kembali ke tempat tidurnya. “Aku iri pada Soojung. Myungsoo Oppa sangat memerhatikannya.”

“Kenapa tidak mencari pacar saja, uhm?”

Naeun mencibir. “Tidak semudah itu, bodoh.”Gadis itu melemparkan boneka miliknya pada Wendy, gadis itu ternyata memiliki refleks yang bagus –sehingga wajahnya tidak menjadi korban lemparan Naeun.

“Akhir-akhir ini kau terlihat dekat dengan.. siapa, siswa dari Ares itu? Seok-jin, keuttchi?”

Naeun menghela nafas dalam. “Dia hanya teman kecilku, Wen-ah. Dia seperti seorang Kakak untukku.”

Wendy mengangkat bahunya. “Ya, sekarang kau bisa berkata seperti itu. Kau tidak pernah tahu Naeun-ah, sahabat kecil itu bisa saja menjadi cinta.”Gadis itu kembali fokus pada layar laptopnya yang menampilkan gambar dari webtoon kesayangan seorang Wendy Son.

Keheningan tercipta begitu saja di ruangan kamar ketiga gadis dari kelompok Athena tersebut. Naeun memegang sesuatu di lehernya, sebuah kalung. Kalung yang terbuat dari emas putih denga liontin berbentuk Tinkerbell itu sudah bersamanya selama hampir sepuluh tahun. Ia memeganginya, liontin itu sangat berharga baginya karena benda itu adalah sebuah pemberian dari sahabat kecilnya –sesorang yang telah menetap di hatinya sampai sekarang.

Semakin ia menggenggam liontin itu, semakin alam sadar menariknya kebelakang. Ke masa lalunya.

**

“Kau juga, Julie. Jaga kesehatanmu. Aku baik-baik saja, disini sangat nyaman. Weekend depan aku bisa menemuimu, yaya.. good night, Julie. I love you –eung, keuno.

Taemin sedang duduk di depan meja belajarnya. Ia menyeruput coklat hangat yang dibuatnya bebera menit lalu sambil mengamati kembali tugas sekolahnya. Setelah memastikan tugasnya selesai dan tersusun rapi, pemuda itu melirik Joe yang sedang berbaring di atas sofa sambil memainkan game dalam gadgetnya.

“Kau sibuk menelpon kekasihmu Bagaimana dengan tugasmu, Joe?”

“Aku sudah mengerjakannya tadi sore.”Jawab Joe tanpa mengalihkan pandangannya. Taemin tak menghiraukan Joe. Ia lebih memilih untuk segera tidur.

*

Rasanya ia baru memejamkan kedua matanya. Namun otaknya memaksanya untuk terjaga. Taemin memandangi langit langit tempat tidurnya. Seharian ini masalah perjodohan itu mengganggu pikirannya. Son Naeun seolah terus berputar di kepalanya, untung saja seharian ini ia tak bertemu dengan gadis itu karena terkadang kelompok Apollo dan Athena tidak ada jadwal di kelas yang sama.

Mungkin sedikit musik ballad dapat membuatnya terlelap. Taemin meraih ponselnya dan menghubungkannya pada headphone miliknya yang terletak di atas nakas. Pemuda itu sibuk memilih playlistnya. Lagu The Name I Loved milik boygroup SHINee membuatnya sedikit tenang untuk terti..

Drrt

Drrt

Drrt

Marcella is Calling

Swipe For Answer

Taemin hampir terlonjak dari tempat tidurnya ketika seseorang bernama Marcella menghubunginya.

‘Tengah malam begini?’Pikir Taemin.

Beberapa detik pemuda itu merasa ragu untuk mengangkat panggilan tengah malam itu, namun Taemin pikir tak masalah jika ia mengangkatnya, mungkin gadis itu ingin mengatakan sesuatu yang sangat penting.

Yeo –yeoboseyo?

Taemin berdeham pelan untuk menetralkan suaranya ketika ia sudah mendengar sapaan dari seberang telpon. “Hmm, yeoboseyo.

Kau belum tidur?

“Menurutmu?”

Maaf –sudah mengganggu.”

“Ada apa? Katakan dengan cepat –aku butuh istirahat.”

“Eumm, masalah perjodohan itu. Aku hanya merasa terganggu, bagaimana denganmu? Aku hanya ingin tahu pendapatmu saja.”

Taemin diam untuk sebentar, ia memikirkan sesuatu untuk dibicarakan. Pembicaraan ini terasa aneh untuknya dan Son Naeun –si Marcella itu yang menelponnya lebih dulu. Taemin hampir lupa kapan terakhir kali ia berbicara dengan gadis itu lewat telepon.

“Taemin?”

“Jika kau merasa terganggu, lupakan saja. Bilang pada orangtuamu untuk membatalkan perjodohan ini, bukan kah itu mudah?”

“Tidak semudah itu, Taemin.”

“Buat semuanya jadi mudah, bukan kah itu keahlianmu? Sudah lah, aku lelah. Aku tutup teleponnya!”

Flip.

Merasa bersalah?

Taemin merasakan sesuatu yang tak nyaman dalam dirinya. Bukan hanya dirinya, tapi gadis itu pun merasa terganggu.. dan kali ini ia makin merasa bersalah pada Naeun karena mengabaikan pembicaraan yang dimulai oleh gadis itu.

Son Naeun.

Gadis itu adalah hal rumit baginya.

Gadis itu adalah hal yang membuatnya terluka.

Gadis itu adalah hal yang membuatnya tak ingin mengingat apapun.

Gadis itu, adalah memori yang ingin ia kubur dalam-dalam.

*

*

To be continue.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s