[Multi Chapter] Arranged Life – 03

Credit: Art by Song17 (Zahra)

© Miss Candy | Do Kyungsoo, Kim Jongin, Kim Yoon Ae (OC) |

| Politic – Sad – Romance – Family – School Life |

Do not Copy!

Previously: [2]

Gyeonghoeru

Hari sudah semakin sore saat Yoon Ae memasuki Paviliun Gyeonghoeru. Matahari awal musim semi menyoroti bagian dalamnya. Tempat itu kosong. Isi bangunan ini masih sama seperti pertama kali dibangun. Sebagai harta nasional, Gyeonghoeru tidak boleh dimasuki sembarang orang. Pengunjung harus mendapat izin terlebih dahulu dari KTO itupun tak boleh sampai memasuki ruangan di dalamnya.

“Tempat yang bagus untuk sembunyi,” gumam Yoon Ae.

Ia melangkah menuju balkon, melongok ke kolam bunga teratai di bawah paviliun. Yoon Ae sudah sering melihat banyak teratai di kolam kerajaan, namun kali ini ia merasa sedih melihat kuncup-kuncup bunga itu. Nasihat dari Ibu terngiang di telinganya:

“Yoon Ae, apa kau tahu filosofi dari bunga teratai? Mereka hidup di air yang tenang dan berlumpur di mana banyak serangga dan sumber penyakit. Bahkan daun mereka biasanya menjadi loncatan katak. Orang akan berpikir teratai sebagi bunga yang kotor. Akan tetapi, mereka tetap mekar dengan menawan dan bertahan hidup. Mereka hidup penuh keindahan dan kebersihan tanpa dipengaruhi oleh lingkungannya yang kotor. Betapa pun kotornya tempat dia hidup, tapi keindahannya tetap terjaga dengan baik bahkan menambah keindahan pula bagi lingkungan di sekitarnya. Begitu juga denganmu, kau memiliki hasrat dan keinginan untuk mencapai tujuan lain, dan kau hidup di lingkungan yang keras dan kadang penuh cara kotor. Tetapi, pahamilah Yoon Ae. Hasrat dan keinginanmu harus  kau jalani dengan kebaikan, sehingga pada akhirnya akan memberikan suatu keindahan bagi semuanya.”

Yoon Ae memahami nasihat Ibu. Apa pun keinginannya untuk kebebasan dirinya sendiri tidak akan pernah tercapai. Tidak akan pernah. Kebaikan yang Ibu maksud adalah untuk kerajaan. Tapi, ia masih berharap kalau suatu saat nanti akan tiba masanya untuk bahagia karena melakukan ini semua dengan tulus. Ia merapatkan outer-nya dan mulai menggigil.

Tunggu dulu.

Tulus? Ia tak yakin. Ia tak berani menentang percakapan raja tadi pagi bukan karena ia mau melakukan keputusan presiden. Tetapi, karena ia tak mau melihat ayah menjadi lebih sedih lagi. Lantas sekarang bagaimana? Rasanya aku bukan diriku saat ini.

Keresahan memenuhi benaknya. Putri berbalik dan menuju sudut paviliun. Ia duduk dengan kedua lutut ditekuk, menggigit bibir dan mulai menangis lagi. Yoon Ae selalu berusaha menuruti semua perintah. Kebodohannya adalah memercayai kalau perasaannya tidak mungkin diatur. O, dia salah besar. Bahkan Yoon Ae tidak menyangka akan secepat ini.

Sosoknya mulai terisak dibalik bayang-bayang pilar. Ia tidak hidup dalam dunia dongeng. Tidak mungkin ia menemukan pangeran baik hati sebagai pasangannya.

“Harta Nasional nomor 224. Bertiangkan 48 tonggak granit.”

Sebuah suara menghentikan tangisnya. Yoon Ae mendongak, menghapus air matanya. Itu suara laki-laki. Tak lama kemudian rungunya menangkap langkah kaki mendekati paviliun terlarang ini. Derap langkah itu mulai menaiki tangga. Memberanikan diri untuk keluar dari persembunyiannya, Yoon Ae terkejut begitu melihat anak laki-laki itu sudah memasuki bagian dalam paviliun. Ia kembali merapat ke dinding, berharap nakas kecil itu menyembunyikan figurnya.

Bagaimanapun Yoon Ae tak pernah berinteraksi dengan orang asing. Kini pikirannya mulai kacau. Bermacam-macam dugaan negatif memenuhinya.

Yoon Ae bisa melihat sosok itu dari belakang. Tingginya sekepala lebih rendah dari Kai. Anak itu mengenakan kaus warna biru tua dan celana jeans. Jaket merah melingkari pinggangnya ditambah sneaker merah sebagai alas kaki. Anak itu terus mengetukkan jemarinya di pembatas balkon tempat Yoon Ae berdiri tadi. Suaranya hanya samar-samar terdengar.

Mau apa dia? Apa dia sedang memutuskan untuk mencuri atau apa? Kenapa dia bisa masuk sembarangan ke sini? pikir Yoon Ae dengan posisi siaga. Yang jelas ia bukan orang baik, pasti! Dengan segenap keberanian yang dimilikinya, Yoon Ae mengendap-endap menuju salah satu pilar untuk mendekati si anak. Setelah merasa posisinya tepat, ia melempar sebelah flat shoes-nya bersamaan dengan teriakan anak laki-laki itu.

“TIDAAAKKK!!!”

Benda itu melayang, tepat mengenai sasaran. Pemuda itu berbalik sambil memegangi tengkuknya. Pandangan marahnya menyapu ke segala penjuru paviliun. Ia tak bisa melihat Yoon Ae yang berdiri tertutup bayangan pilar tinggi.

Kau siapa?!” pekik Yoon Ae sewaktu pemuda itu memungut sepatunya. Ia lupa dengan bahasa formal yang seharusnya ia gunakan saat bertemu dengan orang asing. “Tolong jawab aku! Siapa kau?!” bentaknya lagi. Suaranya terdengar mencicit alih-alih berani. Kedua tangannya mengepal, bersiap diri kalau-kalau pemuda itu menerjangnya.

“Kau sendiri siapa? Kenapa kau sembarangan masuk kesini?! Ini bukan tempat umum!

Balasan itu tak disangka-sangka oleh sang putri.

Daejojeon, Changdeok-gung.

Dayang Choi sedang membantu sang putri mengobati lecet di telapak kaki kanannya. Yoon Ae meringis sesekali menahan perih.

“Sebenarnya apa yang terjadi, Yang Mulia?” tanya sang dayang untuk yang kesekian kalinya.

“Seperti yang tadi kukatakan kalau aku terpeleset ke kolam teratai Huwon,” Yoon Ae berbohong dan berusaha menghindari kontak mata, “sepatuku tercebur ke dalam kolam, jadi aku berjalan tanpa alas kaki ke Daejojeon,” sambungnya sambil mengamati wajah pengasuhnya.

Apakah dayangku percaya?

“Berjalan kaki tidak akan menimbulkan luka seperti ini, Yang Mulia,” Dwimanik Choi-nim membekukan Yoon Ae. Sang putri tahu kalau tak ada gunanya menambahkan cerita.

“Lain kali aku akan berhati-hati, Choi-nim. Aku janji,” Yoon Ae mengangkat tangan kanannya, bersumpah.

Pengasuhnya menyerah. Wanita itu membereskan kotak P3K dan berdiri. “Apa yang ingin Anda makan untuk makan malam, Yang Mulia?” tanyanya.

Eum, aku lelah sekali hari ini. Aku ingin beristirahat saja dan,” Yoon Ae mencari kata-kata yang tepat, “aku akan sangat berterima kasih kalau ini—menunjuk luka di kakinya–hanya antara kita berdua saja. Aku mohon…”

Meski terlihat geram, Dayang Choi mengangguk. “Baik, Yang Mulia. Beristirahatlah,” Dayang Choi membungkuk dan meninggalkan Yoon Ae.

Yoon Ae baru bisa bernapas lega setelah Dayang Choi benar-benar pergi. Kakinya terasa luar biasa nyeri. Ia berjalan pincang menuju kamar mandi. Air hangat di dalam bak sudah disiapkan. Ia tak mencelupkan kaki kanannya ke dalam bak. Takut kalau perihnya semakin menjadi.

“Kau sungguh bodoh, Yoon Ae. Kenapa kau yang harus lari?” keluhnya di sela-sela berendam. “Siapa anak itu, ya? Aish, memalukan!” Saking malunya pada diri sendiri, Yoon Ae menenggelamkan kepalanya.

Sang putri kembali mengingat pertemuan tadi sore. Ketakutannya semakin bertambah saat anak asing itu balas meneriakinya. Karena tak tahu harus melakukan apalagi, Yoon Ae berbalik dan berlari sekuat tenaga. Ia terus berlari tanpa melihat ke belakang sampai keluar dari Gyeongbok-gung. Ia tidak peduli kalau sepatu sebelah kanannya tertinggal bersama si anak asing.

Langkahnya pincang saat menyusuri trotoar. Ia memutuskan untuk naik taksi daripada berpapasan dengan orang yang mengenalnya. Putri mahkota memang jarang tampil di televisi maupun surat kabar, tapi tetap saja pasti ada satu-dua orang yang akan mengenali wajahnya. Ketika sopir taksi bertanya ke mana ia akan pergi, Yoon Ae berbohong. Dia turun dari taksi sekitar 50 meter jauhnya dari Changdeok-gung. Yoon Ae tak mau pak sopir memergokinya memasuki istana.

“Aku seperti Cinderella abad 21,” gumam Yoon Ae saat kepalanya menyembul dari air. “Dasar pemuda kurang ajar! Kenapa malah aku yang dianggap sembarangan masuk? Aku masuk dengan plakat istana!” gerutunya jengkel. Busa di dalam baknya sudah mulai menguap.

Hanya selang sepersekian detik, Yoon Ae menyadari kesalahan fatal yang dibuatnya. “Omo~ Apakah dia…”

Kyungsoo’s side

Do Kyungsoo sedang dalam perjalanan pulang ke rumah bersama ibunya. Ia duduk di kursi belakang, berselancar di dunia maya dengan ponselnya. Sementara Ibu duduk di kursi depan sambil mendiskusikan banyak hal dengan Pak Lee, sopir pribadi mereka yang sudah seperti keluarga sendiri.

Dear, tadi kau jalan-jalan ke mana saja di Cheongwadae?” Nyonya Do menoleh pada Kyungsoo.

Kyungsoo menatap ibunya datar, “Di situ saja. Berputar-putar,” jawabnya singkat.

“Bagaimana? Kau suka kediaman baru kita?” tanya Nyonya Do lagi, kali ini sambil mengecek sesuatu di ponselnya.

“Sesuka Ibu menyukai tempat itu,” jawaban Kyungsoo membuat Nyonya Do kembali menoleh pada putranya.

Oh Dear, please~ Apa kau masih marah gara-gara tadi pagi?”

Kyungsoo hanya menggeleng, tak menjawab. Terlalu malas untuk membahasnya lagi. Usahanya menolak perintah Ayah tak akan membuahkan hasil. Bahkan jika ia bunuh diri sekali pun, ia tak yakin keputusan Ayah akan berubah. Tapi, Kyungsoo pantang menjadi pengecut. Ia tak mau mengakhiri hidupnya dan dikenang sebagai ‘Putra Presiden yang Bunuh Diri karena Tidak Mau Menyelamatkan Negara’. Perjalanan hidupnya akan sangat ternodai!

Bosan dengan ponselnya, Kyungsoo teringat pada sebuah benda di dalam ransel. Terbesit dalam pikirannya kalau Ibu mungkin tahu siapa gadis tadi. Haruskah aku cerita saja? Tangannya yang sudah setengah jalan meraih ranselnya kembali ke pangkuan. ‘Tidak mungkin ibu tahu,’ pikirnya.

Sesampainya di rumah, Kyungsoo menolak ajakan Ibu untuk makan malam bersama. Ia enggan bertatap muka lagi dengan Ayah setelah kejadian tadi pagi. Meski terluka, Kyungsoo tetap menaruh hormat pada ayahnya. Ia kecewa karena tak bisa menemukan jalan keluar selain pemberontakan ala remaja.

“Ada banyak pejabat yang kemari, kau tak mau menemui orang-orang hebat itu?” bujuk Nyonya Do untuk yang kesekian kalinya.

“Tidak, Ibu,” tolak Kyungsoo yang langsung menaiki tangga menuju kamarnya. “Ibu,” katanya menoleh pada Ibu yang tampak frustasi karena memiliki anak bersifat kepala batu, “aku ingin mandi dan langsung tidur. Aku tak mau diganggu. Terima kasih, Ibu. I love you~” Kyungsoo memberikan kiss bye pada sang Ibu dan berlari menaiki tangga.

“Dasar anak aneh!” gerutu Nyonya Do.

Kyungsoo melempar ranselnya ke tempat tidur, bercermin dan mengacak rambutnya. “Dasar gadis aneh! Untung ttulang tengkorakku kuat,” rutuknya.

Ia beralih menuju kamar mandi, melepas pakaiannya, membiarkan air membasahi seluruh tubuhnya yang lelah. Perasaannya jadi sedikit lebih baik. Seandainya masalahnya dengan Ayah bisa selesai secepat air mengalir, Kyungsoo akan sangat bersyukur. Kejadian pagi tadi adalah pertama kalinya Kyungsoo berteriak di depan Ayah. Pertama kalinya juga bagi Ayah menunjuknya dengan sangat marah. Bahkan Ibu tak bisa melakukan apa-apa.

Hanya dengan berbalut handuk dan rambut setengah basah, Kyungsoo melenggang menuju tempat tidurnya. “Kaki manusia apa yang sekecil ini?” gumamnya sambil menimang-nimang sebuah flat shoes yang diambilnya dari dalam tas.

Gambaran kejadian tadi sore kembali muncul. Gadis pemilik sepatu ini langsung berlari kencang ketika Kyungsoo balik bertanya padanya. Kyungsoo hanya mengejar gadis itu sampai kolam teratai paviliun. Berharap si gadis sadar kalau sepatunya tertinggal dan kembali lagi untuk mengambilnya—sehingga Kyungsoo tak perlu repot-repot mencari tahu siapa dia. Namun, dugaannya salah. Gadis itu—yang Kyungsoo ingat hanya rambut panjangnya—berlari kencang meninggalkan Gyeongbok-gung.

“Kujamin kakinya pasti lecet-lecet. Pembalasan dari Tuhan,” Kyungsoo tertawa. Hari ini ia sedikit terhibur dengan aksi si gadis. Tapi, kenapa gadis itu menganggapku orang asing yang masuk sembarangan? Kyungsoo ‘kan anak presiden dan masuk bersama Ibu Negara.

“Kau yang penyusup!” Kyungsoo berbicara pada flat shoes di hadapannya. “Haruskah aku mencarimu dari rumah ke rumah? Pfttt, seperti Cinderella saja,” kelakarnya.

Namun, sesuatu yang penting terlintas di benaknya. Kyungsoo berdiri, memegangi handuknya yang nyaris melorot. Matanya melotot pada sepatu itu. Kau… Jangan-jangan…

“Tidak mungkin!”

Keesokan harinya, ada panggilan masuk ke Istana dari Dewan Parlemen yang memberitahukan bahwa keluarga kerajaan akan pindah ke Cheongwadae dalam kurun waktu seminggu lagi. Bertepatan dengan tahun ajaran baru dimulai dan Yoon Ae pada akhirnya masuk SMA yang sama dengan Kai.

Raja mengadakan rapat singkat di Balai Huijeong. Membahas apa saja acara yang akan dilakukan di Cheongwadae. Menurut dewan parlemen, selain penyambutan secara resmi, presiden menginginkan adanya upacara minum teh bersama keluarga kerajaan. Mengingat tidak lama lagi mereka akan menjadi keluarga besar.

Kai akhirnya menemui Yoon Ae untuk pertama kali semenjak keputusan presiden tentang pernikahan diberitakan. Yoon Ae sedang berada di sebuah istal bagian belakang istana, membantu Pak Song—pengurus peternakan kerajaan—memberi makan kuda-kuda kerajaan. Yoon Ae tak tahu lagi harus mengerjakan apa di sisa enam hari liburannya. Daripada Dayang Choi menyuruhnya mengulang hafalan seputar kerajaan lagi—yang mana bagi Yoon Ae sudah di luar kepala—jadi ia menemui Pak Song di kandang kuda. Berulang kali Pak Song menyuruhnya kembali ke Daejojeon, tapi Yoon Ae terus merengek tak mau pergi.

Suasana kandang berubah saat Kai melambaikan tangan sambil bersandar di pintu istal. Yoon Ae senang bukan main. Akhirnya ia bisa menceritakan semuanya pada Kai. Gadis itu menjatuhkan ember makanan di depan Ahn, kuda hitam kesayangannya lalu mengucapkan terima kasih pada Pak Song. Ia berlari kecil sekaligus pincang menghampiri Kai.

Saudaranya mengernyitkan dahi. “Ada apa dengan kakimu, Yang Mulia?” tanyanya sambil memerhatikan kaki Yoon Ae.

Ah~” Yoon Ae meringis malu. Entah kenapa ia selalu merasa malu kalau ditanya soal kakinya. Di saat gadis normal di luar sana bisa lebih berani menghadapi pemuda asing, ia malah lari terbirit-birit. Meninggalkan sepatunya pula. Yoon Ae berpikir ulang untuk menceritakan kejadian memalukan kemarin pada Kai. “Aku cuci tangan dulu, ya? Akan kuceritakan semuanya,” katanya sambil menepuk bahu saudaranya.

Yoon Ae dan Kai menikmati suguhan teh hijau di gazebo kecil dekat Daejojeon. Yoon Ae telah meminta beberapa dayang yang sudah menyiapkan camilan untuk mengerjakan hal lain. Ia tak mau ada yang mendengar obrolannya dengan Kai.

Ketika hanya tersisa mereka berdua, Kai adalah yang pertama buka suara. “Kenapa kakimu, Yang Mulia?” Dia mengulang pertanyaannya. Tampak jelas dari sorot mata Kai kalau pertanyaan itu harus dijawab.

Yoon Ae meletakkan cangkirnya kemudian ragu-ragu untuk mulai bercerita. “Kemarin aku mencarimu, kau tidak ada. Kau pergi ke mana?” tanya Yoon Ae basa-basi sambil berpura-pura membetulkan posisi bantal duduknya.

“Jawab aku dulu. Apa kakimu terluka, Yang Mulia?” Kai bersikeras menuntut jawaban. Sudah bisa ditebak kalau Kai bukan orang yang bisa dialihkan ke hal-hal lain. Yoon Ae sangat memahami hal itu.

“Kecelakan memalukan,” jawab Yoon Ae terpaksa.

Kai semakin tak paham. “Maafkan aku, aku tidak mengerti.”

Yoon Ae menghela napas dan mulai bercerita kejadian sesungguhnya. Ia bercerita bagaimana Ayah menemui dan memintanya menuruti keinginan presiden dan Yoon Ae tak bisa menolak saat sang Ayah terlihat begitu berharap.

Kai mendesah pelan, sekilas ada guratan kecewa di wajahnya. Ia sendiri tak tahu sebenarnya perasaan aneh apa yang mengganggunya akhir-akhir ini setelah presiden mengumumkan rencana pernikahan negara. Ia merasa lebih sensitif dengan semua yang berhubungan dengan Yoon Ae. Saat di mana cerita Yoon Ae sampai pada kepergian gadis itu ke Paviliun Gyeonghoeru seorang diri, Kai cepat-cepat menyela. “Penjaga memperbolehkanmu masuk? Mereka tak bertanya kenapa kau kesana sendirian?”

“Aku—aku bilang aku datang bersama Tuan Jo,” Yoon Ae menarik sehelai rambutnya ke belakang telinga.

“Kau melanggar aturan lagi, Yang Mulia!” Kai menggelengkan kepalanya. “Seharusnya kau menghubungiku! Aku akan menemanimu,” imbuhnya sambil menyilangkan kedua tangan di dada.

Putri mahkota mengangguk gugup. “A—aku tahu. Kemarin harusnya aku tidak se-nekat itu. Aku menyadari betapa berbahayanya pergi seorang diri tanpa tahu mau ke mana. Untung Gyeongbok-gung tidak terlalu jauh,” Ia kembali menyeruput teh hijaunya. “Kau tidak minum, Kai?” tanyanya. Ia sedikit risih dengan tatapan tajam Kai.

“Lalu,” Kai mencondongkan tubuhnya ke meja, tak menjawab Yoon Ae, “bagian di mana kau mendapat luka di kakimu?”

Yoon Ae menarik keluar kaki kanannya, masih sedikit sakit dengan posisi duduk di mana kau harus menduduki telapak kakimu. “Ini,” tunjuknya pada telapak kaki penuh plester, “aku berlari dari Gyeonghoeru tanpa alas kaki,” lanjutnya pelan sambil mengamati perubahan ekspresi wajah Kai. Yoon Ae merasa aneh dengan sikap Kai hari ini. Kenapa dia protektif sekali? pikir Yoon Ae.

“Lari? Memangnya apa yang terjadi di sana, Yang Mulia?”

Yoon Ae memilin ujung rambutnya. Dia bingung bagian ‘itu’ harus diceritakan atau tidak. Kai mungkin tak akan melapor apa pun pada orang tuanya, tapi tidak ada jaminan kalau Kai tidak marah padanya.

“Yang Mulia, kau lebih suka kalau aku menganggap sesuatu mengerikan terjadi kemarin dan melapor pada raja?” Kai mengedikkan kepalanya ke arah Yoon Ae.

Gadis itu menyerah. “Jangan—Oh, baiklah!” ratapnya sembari menutupi wajahnya dengan kedua tangan. “Di Gyeonghoeru ada anak laki-laki asing masuk ke sana. Kulempar sepatuku dan mengenai tengkuk kepalanya. Aku takut kalau dia akan melakukan sesuatu yang jahat. Tapi—” Yoon Ae melirik manik mata Kai yang mulai melebar, “—tapi, dia malah berteriak padaku seakan-akan akulah yang sembarangan masuk ke sana!”

Kai seakan berusaha mencerna cerita Yoon Ae. Keheningan menyelimuti keduanya. “Dan kau lari begitu saja?” tebak Kai, “tanpa memakai sepatu yang kau lempar itu, benar ‘kan?”

Hebat! pikir Yoon Ae. Sungguh luar biasa saudara angkatnya ini, bisa tahu apa yang ia lakukan setelahnya.

“Eh, iya, benar sekali! Kau hebat, Kai. Bisa tahu bagaimana kelanjutannya,” Yoon Ae mengacungkan jempolnya ke wajah Kai. Air muka Kai tampak meremehkan. Pemuda itu hanya tersenyum sinis membuat Yoon Ae siap memukul tangan Kai, tapi ia mengurungkan itu.

“Mudah ditebak. Kau kadang sembrono, Yang Mulia. Seharusnya kau melapor kepada penjaga. Bagaimana jika anak itu malah mengejar dan mencelakaimu. Itu lebih parah lagi.” Kai merasa puas menggoda adik angkatnya. Diangkatnya cangkir teh hijaunya yang sudah dingin dan meminum isinya.

Yoon Ae hanya berekspresi datar. Dia kesal. “Nyatanya tidak,” Yoon Ae ikut menyeruput tehnya, “tadinya aku berpikir kalau dia adalah putra presiden, tapi sepertinya bukan.”

Kalimat terakhir Yoon Ae membuat Kai hampir tersedak kue beras yang sedang ia kunyah. “Putra presiden?”

“Siapa lagi yang boleh masuk ke sana selain keluarga kerajaan dan keluarga presiden? Tapi, sepertinya bukan. Mungkin dia pelajar yang menyusup di sela-sela tur Cheongwadae. Mungkin saja ada tur hari itu,” jelas Yoon Ae.

Kai tak bertanya lagi. Ia mencengkeram erat pegangan cangkirnya.

Aku ingin semuanya terus memantau perkembangan yang terjadi. Baik di istana, maupun kabinet presiden. Jika terlihat tanda-tanda pernikahan itu dibatalkan, kita harus bergerak!” kata suara di seberang telpon Tuan Park.

Pria tua itu tampak terkejut dengan keputusan ketua mereka. “Jadi, Anda setuju? Bukankah itu tidak menguntungkan kita?”

“Itu akan menguntungkan! Kau akan terkejut nantinya. Bahkan, ini lebih dari menguntungkan,” lanjut suara itu. Tuan Park tersenyum dan hanya menjawab ‘Baiklah’. Ia percaya ketuanya pasti punya rencana yang lebih hebat dari sebelumnya.

Kembang api yang akan mereka lesatkan lebih besar.

-tbc

©Yasmine/Miss Candy 2017


Notes:

  • Maaf banget update-nya telat, ya… semoga masih bisa dinikmati.
  • Terima kasih buat yang udah baca dan tolong jangan sungkan-sungkan untuk like atau memberi komentar karena lanjut atau tidaknya FF ini ku-publish di sini tergantung atas feedback pembaca.
  • See you~ ^^
Advertisements

2 responses to “[Multi Chapter] Arranged Life – 03

  1. Pingback: Arranged Life – 04 | FFindo·

  2. Pingback: [Multi Chapter] Arranged Life – 04 | FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s