[Chaptered] Evergreen Love (Chapter 1)

EVERGREEN LOVE

{ a fanfiction by Atatakai-chan }
poster by Seulchan@StoryPosterZone

|| AUHurt/ComfortRomance — Chaptered — ||

.

starring
IU as Lee Jieun
History Kyungil as Song Kyungil



– Chapter 1 –



Hujan membasahi kota Seoul secara merata. Kali ini hujan turun lebih deras dibandingkan hari-hari sebelumnya selama musim hujan ini. Terlihat payung demi payung yang dibawa oleh para pejalan kaki menghiasi pemandangan kota dari atas sebuah gedung tempat di mana seorang perempuan duduk di meja kerjanya. Kegiatan yang monoton itu tak diragukan lagi membuat si perempuan yang mengenakan nametag Lee Jieun merasa bosan.

Paras manisnya yang setelah berjam-jam lamanya menatap layar komputer kini menyerah dan memutuskan untuk menatap jalanan yang diguyur air hujan. Warna-warni dari payung yang terlihat berlalu-lalang di jalanan cukup untuk membuat perempuan itu tersenyum.

“Lee Jieun-ssi!”

Tiba-tiba saja terdengar suara yang memanggil berasal dari balik pintu ruang kerjanya. Perempuan dengan rambut panjang sebahu itu sedikit terperanjat –bagaimana tidak terperanjat? Sang empunya suara yang memanggil namanya adalah sang atasan, Tuan Lee Joonki.

“I-iya Lee Joonki-ssi?” Kedua mata Jieun mengerjap-kerjap seraya kedua tangannya mulai membenahi pakaiannya yang terhalangi oleh meja kerja.

“Apa kau sudah selesai mengecek data-data para calon internship?”

Lee Joonki menghela napas melihat reaksi dari Jieun. Perempuan yang menyandang marga yang sama dengannya itu nampak menggigiti bibir bagian bawah –menandakan kepanikan yang dapat disimpulkan sebagai tanda bahwa ia belum menyelesaikan pekerjaannya.

Jieun menggeleng pelan, dengan apa adanya menjawab pertanyaan dari sang atasan yang kini terlihat sedang menggeleng-geleng juga sambil menghela napas.

“M-maafkan aku, Lee-ssi… Akan segera aku selesaikan.” Untuk menembus rasa bersalah yang ia rasakan, Jieun beranjak dari tempat duduknya dan membungkuk sembilan-puluh derajat kepada sang atasan.

“Sebaiknya begitu. Jangan sampai terlambat lagi.”

Jieun menghela napas lega begitu melihat sosok atasannya semakin lama semakin menjauh dari ruangannya. Perempuan berpakaian serba merah itu kembali duduk di meja kerjanya –kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.

Data demi data secara teliti Jieun telaahi. Menyaring individu demi individu yang mendaftar internship pada perusahaan tempatnya bekerja. Banyaknya jumlah peminat sempat membuat Jieun terkejut, ia tidak habis pikir mengapa ada banyak sekali orang yang tertarik dengan pekerjaan membosankan seperti ini. Namun mengingat jumlah gaji bulanan yang ia terima, ia sadar bahwa faktor yang mayoritas menjadi pendorong dalam mendaftar pekerjaan adalah gaji.

“Jieun-ah!”

Sebuah suara kembali mengejutkan perempuan yang lahir di tahun 1993 itu. Kali ini ia bahkan sampai perlu mengusap-usap dadanya untuk menghilangkan rasa kaget yang menyentaknya.

Sang pemanggil terlihat terkekeh mendapati reaksi rekan kerjanya yang menurutnya sangat lucu itu.

“Sooji-ah! Jangan mengagetkan aku seperti itu!” Jieun menggerutu sambil menatap rekan kerjanya yang berada di ambang pintu ruang kerjanya.

“Maafkan aku, Jieun,” perempuan yang dipanggil Sooji itu kini berjalan mendekat pada meja kerja Jieun yang dipenuhi oleh banyak benda termasuk tumpukkan laporan keuangan perusahaan-perusahaan client.

“Habis kau terlihat tegang sekali tadi. Aku hanya ingin membuatmu rileks, chingu.” Sooji mengeluarkan suara tawa kecil.

“Yang ada aku malah semakin tegang, tahu!” Jieun kembali menggerutu namun kali ini pandangannya sudah kembali pada layar komputer kerjanya.

“Astaga! Berhentilah menatap benda mati itu terus menerus seolah ia adalah kekasihmu! Ayo kita makan dulu, sudah waktunya untuk istirahat makan siang.”

.

.

.

 

Jieun mengerucutkan bibirnya, kedua pipinya menggembung. Langit yang terlihat dari jendela ruang kerjanya sudah gelap dan jam digital pada layar komputer yang sudah ia tatap hampir seharian menunjukkan pukul delapan lewat empat-puluh dua menit –dan ia masih belum selesai menyeleksi semua data calon internship.

Kedua matanya menatap lelah pada layar komputer bersamaan dengan pamit demi pamit yang terdengar dari rekan-rekan kerjanya.

Tiga menit berlalu dan Jieun memutuskan untuk beristirahat sejenak. Perempuan itu menyandarkan punggungnya yang lelah pada sandaran kursi dan tubuh bagian atasnya ia regangkan. Kedua matanya terpejam kuat seraya ia melakukan peregangan kecil tersebut.

Masih tersisa data lima orang lagi yang harus ia seleksi dan lima-belas menit lagi sebelum deadlinenya. Lee Joonki pasti sudah menanti laporan darinya dengan gusar di ruang kerjanya yang berada di lantai atas. Membayangkan ekspresi masam sang atasan akibat menunggu cukup mendorong semangat Jieun untuk kembali.

.

.

.

Jieun mengetuk ruangan sang atasan.

“Lee Jieun-ssi? Kau ‘kah itu?”

“I-iya. Ini saya, Lee Joonki-ssi.”

“Masuklah,”

Jieun mengangguk meskipun lawan bicaranya belum dapat melihatnya kemudian memegang gagang pintu untuk mendorong pintu ruang kerja atasannya.

“Aku harap kau kemari tidak dengan tangan kosong.” Kembali terdengar sang atasan berujar bersamaan dengan terbukanya pintu.

Jieun hanya memamerkan senyum tipis yang ia paksakan untuk menghiasi wajahnya. Sudah tiga tahun ia bekerja di perusahaan ini di bawah pimpinan yang sama dan ia paham betul bahwa sebenarnya Lee Joonki bukanlah seorang atasan yang menyebalkan hanya saja terkadang tanpa sadar pria yang usianya lima tahun lebih tua darinya itu menyinggung dan bahkan menyakiti orang-orang dengan perkataannya.

Dengan perlahan Jieun meletakkan sebuah flashdisk di atas meja atasannya, bersebelahan dengan map yang berisi data-data para calon internship yang menurutnya sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh perusahaan mereka saat ini.

“Data-data para calon internship sudah saya kumpulkan menjadi satu di dalam flashdisk dan saya juga sudah mencetak hardcopynya.”

Lee Joonki yang tengah merapikan barang-barangnya menatap sekilas kepada Jieun dan juga barang-barang yang diletakkan oleh sang bawahan di atas mejanya. Ia kemudian mengangguk-angguk, “oke, oke. Good job.”

Jieun menganggukan kepalanya dengan cepat, “terima kasih, Lee Joonki-ssi.”

Hembusan napas lega dikeluarkan oleh Jieun, sebuah pujian dari sang atasan selalu berhasil membuatnya merasa lebih baik meskipun sebenarnya tak jarang ia diberikan pujian yang serupa. Jieun kemudian melepaskan kacamatanya dan mulai memijati pangkal batang hidungnya untuk menghilangkan rasa pegal pada kedua netranya.

“Kalau begitu saya permisi dulu, Lee Joonki-ssi.” Masih dalam kondisi kedua mata yang terpejam Jieun berpamitan pada sang atasan.

Tak kunjung adanya respon dari sang atasan sontak membuat Jieun membuka matanya. Tiba-tiba saja pria berpakaian formal itu sudah berdiri di depannya dengan jarak yang cukup dekat –sebuah senyum tampak tersungging di bibir pria yang asli berasal dari Seoul itu.

Jieun mengerjap-kerjapkan kedua matanya dalam heran.

“Aku selalu menyukai sepasang matamu, Jieun-ah.”

Apa yang baru saja diucapkan oleh sang atasan membuat Jieun menarik lehernya dalam keterkejutan diikuti dengan kedua alisnya yang mengkerut.

“Kedua matamu terlihat cantik di balik kacamata yang selalu—”

Belum selesai Lee Joonki berkata, Jieun sudah melangkah mundur. Sebuah senyum terlihat terukir di kedua sudut bibirnya, “terima kasih atas pujian Anda, Lee Joonki-ssi. Saya sangat menghargainya. Saya permisi dulu,” ia membungkuk hormat pada sang atasan sebelum meninggalkan ruang kerja yang berada satu lantai di atas ruang kerjanya tersebut.

.-oOOo-.

Efek dari hujan cukup deras yang turun sepanjang siang sampai sore pada hari ini meninggalkan jejak berupa genangan-genangan air yang ada di jalanan. Jieun melangkah perlahan-lahan mengindari genangan-genangan air karena ia tidak ingin menodai sepasang highheels yang baru dibelinya dua hari lalu.

Cuaca dingin dan hembusan angin sejuk yang ditawarkan oleh sang malam ditambah dengan keadaan sekitar yang sudah sepi membuat perjalanannya dari kantor ke halte bus terasa cukup memakan banyak waktu –padahal kenyataannya jaraknya hanya lima-belas menit.

Beberapa orang terlihat di halte bus menunggu kendaraan bermotor dengan empat roda tiba di sana dan mengantarkan mereka ke tempat tujuan mereka masing-masing. Jieun ikut duduk di kursi halte bus. Perempuan itu menyandarkan kepalanya pada tiang penyangga dengan harapan melakukan hal tersebut dapat mengurangi rasa lelah yang ia rasakan.

Banyak hal terjadi di dalam benak perempuan asal Busan itu. Mulai dari masalah pekerjaan hingga masalah pribadinya yang mencakup asmara. Ia tidak buta dan ia memiliki hati. Selama ini kode yang diberikan oleh Lee Joonki sudah terlampau jelas –sangat jelas sekali pria yang sempat mengajaknya berkencan di malam tahun baru tahun lalu itu menaruh perasaan padanya. Ia tahu hal itu namun ia tidak tahu harus merespon apa –Lee Joonki adalah seorang pria baik-baik hanya saja Jieun memandangnya sebagai seorang pria biasa, tak ada bedanya dengan pria-pria lainnya.

Helaan napas tanpa sengaja dihembuskan cukup kencang oleh Jieun sehingga menarik perhatian beberapa orang lainnya yang juga berada di halte bus. Beruntung tak lama kemudian bus datang sehingga Jieun tak perlu merasa canggung.

Bersama dengan para penumpang lainnya, Jieun mulai memasuki bus. Perempuan dengan postur tubuh yang tak terlalu tinggi itu memutuskan untuk duduk di barisan kedua dari depan karena halte tujuannya adalah halte pertama yang akan dilalui oleh bus yang dinaiki.

Cahaya lampu-lampu jalanan yang terlihat menambah pencahayaan di malam hari dapat dilihat dengan jelas oleh Jieun melalui kaca jendela bus. Pemandangan seperti ini selalu berhasil membuatnya merasa terhibur karena pemandangan malam hari di manapun sama saja, yang berarti begitu jugalah pemandangan malam hari di kota asalnya.

Laju bus yang semakin melambat ditangkap sebagai tanda bahwa sebentar lagi bus akan tiba di halte tujuannya sehingga Jieun merapikan barang-barangnya, bersiap untuk turun dari kendaraan umum tersebut.

.

.

.

Jieun bukanlah penggemar sepatu hak tinggi namun pekerjaannya sebagai pekerja kantoran mengharuskannya untuk mengenakan alas kaki yang tak nyaman untuk dikenakan itu. Persimpangan jalan menuju ke tempat tinggalnya hanya diterangi oleh dua buah lampu jalan yang menjulang tinggi. Setiap kali ia melewati tempat itu ia harus berlari karena keadaan gelap begitu mengganggunya –salahkan kejadian buruk yang dulu menimpanya di malam hari sepulangnya dari tempat kerja. Kejadian yang tak ingin diingat olehnya itu terjadi dua tahun lalu, tak lama setelah kepindahannya dari Busan.

Jieun melepaskan highheelsnya dan menenteng keduanya menggunakan tangan kiri sementara tangan kanannya ia gunakan untuk memegang erat tas tangan miliknya yang selalu menemaninya ke tempat kerja.

Setelah yakin ia memegang erat baik high-heels dan juga tas tangannya, Jieun segera berlari menembus jalan yang sedikit gelap itu hingga menuju ke gedung apartment tempatnya tinggal selama tiga tahun terakhir.

Telapak kakinya yang telanjang bersentuhan langsung dengan jalanan yang basah akibat hujan yang turun pada siang sampai sore hari. Bayangan gedung apartmentnya terlihat dan Jieun semakin mempercepat larinya. Kedua kakinya yang sudah lelah tak dapat diajak bekerjasama sehingga ia pun terjatuh dengan posisi terlungkup. Dengan cepat ia membalik wajahnya ke samping agar tak seluruh bagian wajahnya terjerembap. Pipi kirinya mendarat dan bergesekkan dengan aspal, menimbulkan luka gores di kulit yang semula mulus miliknya.

“Aduh…” Jieun meringis. Lutut dan pipinya terasa perih.

Perempuan bermarga Lee itu melepaskan pegangannya pada high-heels dan tas tangan miliknya dan menggunakan kedua tangannya tersebut untuk menopang dan mengangkat tubuhnya ke dalam posisi duduk.

Setelah beberapa saat terdiam, akhirnya Jieun memutuskan untuk berdiri. Ia mengubah posisinya menjadi jongkok sebelum langsung berdiri karena rasa sakit juga ia rasakan pada pinggangnya.

Baru ketika ia hendak berdiri, ia dikejutkan oleh sosok seorang pria yang tiba-tiba muncul di hadapannya.

“Kau tidak a—”

“AAAH!” Jieun menjerit dan kehilangan keseimbangannya. Ia goyah dan bokongnya nyaris kembali menyentuh aspal kalau pria yang berada di hadapannya itu tidak dengan sigap meraih lengan Jieun dan memeganginya dengan kuat sehingga mencegahnya kembali terduduk di aspal.

“Hati-hati!” Pria tersebut berujar.

“Te-terima kasih,” ujar Jieun dengan sangat pelan. Dengan bantuan pria yang tak dikenalnya itu akhirnya ia dapat kembali berdiri dengan tegak.

“Sama-sama…” Pria itu balas berujar.

“Sekarang bolehkah aku meminta bantuanmu, nona?”

Jieun menelan ludah. Ingatan akan kejadian yang dulu menimpanya kembali muncul dan hal itu membuat sekujur tubuhnya bergetar dalam ketakutan. Rasa takutnya semakin menjadi ketika pria di hadapannya itu mengangkat sedikit baju yang dikenakan. Jieun sudah bersiap untuk menjerit kalau-kalau pria itu akan melakukan sesuatu padanya.

“… Bantu aku menjahit luka tusukan ini.” Suara si pria terdengar lemah.

Di balik baju hitam yang dikenakan sang pria tampak sisi kiri perutnya yang terluka parah. Jieun baru menyadari bagaimana darah merembes keluar dari pakaian si pria, menandakan pendarahan sudah terjadi cukup lama.

“Astaga! Pendarahanmu harus segera dihentikan!” Dengan panik Jieun berujar. Diarahkannya kedua tangannya ke perut si pria dan ditekannya luka tersebut, bermaksud menghentikan pendarahan si pria asing yang menolongnya.

.

.

.

“….”

“….” Jieun menggigit bibir bawahnya ketika jarum yang sudah ia sterilkan menembus kulit perut si pria asing yang saat ini berbaring di lantai sambil bersandar pada sofa.

“Mmh.” Si pria asing juga menggigit bibir bawahnya ketika ia merasakan kulitnya tertembus jarum. Rasanya tetap saja sakit walau tak sebanding dengan pisau yang sebelum ini menembus kulitnya.

Keheningan terjadi cukup lama, tepatnya sampai Jieun selesai menjahit luka pada sisi kiri perut sang pria. Helaan napas lega dihembuskan oleh keduanya bersamaan dengan selesainya proses yang menyakitkan itu.

“Terima kasih, nona.” Sang pria berujar setelah mengatur napasnya yang berat akibat menahan rasa sakit yang dirasakannya semenjak beberapa saat lalu.

Jieun tersenyum sembari menatap pria yang menghanturkan ucapan terima kasih padanya itu, “tidak, tidak. Tak perlu berterima kasih. Lukamu memang harus segera dijahit untuk mencegahnya semakin parah.”

Pria itu balas tersenyum pada Jieun, “tetap saja. Aku harus berterima kasih padamu yang sudah bersedia membantuku.”

Pria dengan tinggi yang berkisar seratus delapan-puluh sentimeter itu mencoba untuk berdiri namun langsung dicegah oleh Jieun.

“Tunggu, tunggu! Jangan bergerak dulu! Kau harus beristirahat, setidaknya sampai besok pagi. Biar kutelepon dokter,” Jieun merogoh tas tangannya untuk mencari ponsel pintarnya namun kini gilirannya yang dicegah oleh sang pria.

Dengan tatapan memelas sang pria pun berujar, “jangan… Kumohon jangan dokter. Aku– aku memiliki trauma dengan dokter.”

Jieun berhenti mencari ponselnya. Ia mengerti betul apa yang pria itu rasakan –trauma akan sesuatu. Tetapi luka pria itu cukup parah dan ia tak mungkin membiarkan luka pria tersebut semakin parah.

“Tapi—” Jieun menghetikan ucapannya karena saat ini si pria asing itu tengah menatapnya dengan galak.

“Sudah kubilang aku tak mau ke dokter! Tolong jangan menyuruhku untuk mengunjungi rumah sakit.”

Jieun tak merespon, terlalu takut untuk melakukannya.

“… Maaf— Aku tak bermaksud membentakmu. Hanya saja—”

Jieun masih tak bergeming. Sebenarnya bisa saja ia mengusir pria asing itu karena telah membentaknya setelah ia tolong. Namun, ia tidak sanggup membiarkan seorang pria terluka berada di jalanan. Ditambah lagi, luka yang didapatkan oleh pria itu cukup dalam menandakan bahwa pria itu bukanlah mencelakai dirinya sendiri tanpa sengaja melainkan diserang oleh seseorang.

Pria asing tersebut tak melanjutkan kata-katanya karena tak adanya respon dari Jieun. Keduanya kembali berada di dalam keheningan.

“… Kalau kau bersikeras tak mau ke dokter, biarkan aku merawat lukamu sampai membaik.”

Tercengang. Itulah yang diekspresikan oleh si pria asing begitu mendengar perkataan Jieun.

Jieun kembali menatap pria di hadapannya itu, “jangan salah paham. Aku— aku hanya tidak bisa membiarkan seseorang yang terluka cukup berat berkeliaran begitu saja tanpa perawatan. Aku tak akan bisa tidur nyenyak apabila nanti kau tahu-tahu saja meninggal karena infeksi.”

Seketika itu juga tawa si pria asing memenuhi ruangan.

“Hahaha. Aku tidak tahu bagaimana kau bisa berpikir seperti itu tapi aku rasa luka seperti ini tak akan menyebabkan infeksi yang kemudian akan membunuhku,”

Pria itu mengarahkan lengan kanannya mendekati kepala Jieun dan mendaratkan beberapa tepukan ringan di kepala perempuan berambut hitam itu.

“Tetapi, baiklah… Kalau kau begitu khawatir,” pria itu menyunggingkan sebuah senyum.

“Namaku Kyungil.” Kembali pria itu berujar.

“Terima kasih atas bantuanmu, nona—”

“Jieun. Lee Jieun.” Dengan segera Jieun merespon.

TBC.

Advertisements

6 responses to “[Chaptered] Evergreen Love (Chapter 1)

    • Selamat pagi!
      Terima kasih sudah meninggalkan komentar pada fanfiksi ini walaupun komentarnya berupa kritikan

      Saya ingin meminta maaf apabila ternyata sudah ada film Jepang dengan judul yang sama. Tapi perlu Anda ketahui bahwa tidak semua orang mengikuti perfilman Jepang, termasuk saya 🙂

      Saya suka jejepangan, tetapi yang saya ikuti hanya musiknya saja. Untuk film dan drama yang saya tahu hanyalah yang ada idola saya di dalamnya: Mackenyu, Yamada Yuuki, Hideaki Ito, Furuka Haruka, dll

      Judul fanfiksi ini murni merupakan ide yang muncul dari sebuah lagu dalam bahasa Jepang yang berjudul EVERGREEN yang kebetulan waktu itu baru rilis ketika saya terpikirkan untuk menulis fanfiksi ini. Tapi adanya film dengan judul yang sama benar-benar diluar pengetahuan saya.

      Apabila Anda bersikeras bahwa tak ada gunanya menulis fanfiksi yang ternyata judulnya sama dengan film, Anda tidak perlu kok untuk repot-repot membaca fanfiksi ini beserta kelanjutan-kelanjutannya, saya tidak memaksakan Anda harus membaca karya saya ini 🙂

      Sekali lagi terima kasih atas waktunya
      Semoga hari Anda menyenangkan

  1. Kesamaan dalam judul itu udah biasa kali elah itu yang diatas kayak orang baru ajha didunia per fanfic kan,lagi pula selama jln cerita gk sama mah gk papa😒heran sama orang yang cmn bisa hina tanpa berfikir dulu . .
    Ok kembali ke intinya,ff nya keren ko thor😊laki laki yang ditolong jieun jahat apa engga thor ? Ditunggu yah next nya😗

    • Hmm jahat apa engga ya laki-lakinya? Ditunggu aja episode selanjutnya, ya! 😉

      Terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk membaca fanfiksi ini dan meninggalkan jejak ❤

      Have a great day ahead, chingu!

  2. hello there! sebenernya gue cuma silent reader yg hobi jd gelandangan di ffn. trus gue iseng nih mau cari ff lain gitu gue buka situs ffn, etautaunya ada ff Kyungil:( anjir dah dr bbrp bulan yg lalu naksir berat sm perutnya yg kotak2 eh skrg ada ffnya:’) all hail author. btw, alurnya aku suka. kirain bakal rada suspense tuh yg pas IU jatoh, tp ternyata malah ke fluffy yah=)))
    coba gw tebak, Kyungil preman ya yg hobi berantem? atau mafia? i hope both of it. soalnya gw suka bgt yg badass2 gt:( tpkan gw bukan authornya ya wkwk anjir jd curhat.
    btw, suka juga sm posternya!!! grunge tp WAY TOO BEAUTIFUL. anw, semangat terus authornim! Godspeed.

    • Hello there chingu! ❤
      Wahhh akhirnya menemukan juga yang suka sama Kyungil hahaha aku kira cuma aku yang suka dia di sini /eh

      Hahaha daya tariknya roti sobek ya memang :") kalau kata temenku sih roti sobek rasa cokelat :"D

      Yaps jatuhnya ke fluffy karena… ya namanya juga ff romance hahaha tapi sebisa mungkin aku bakal tambahin suspensenya untuk ff ini karena it's not just all about romance and lovey dovey stuff

      Hmmmm ayo ditebak aja ditebak kira-kira Kyungil badboy apa bukan 😛

      NAH! SETUJU BANGET! POSTERNYA MEMANG BIKIN AKU SEMANGAT NULIS FFNYA. Kalau mau kamu juga bisa kok request poster di StoryPosterZone 😀

      Thanks a bunch for your comment!
      Harap ditunggu kelanjutan cerita ini, ya ❤

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s