[Oneshot] The Monster

THE MONSTER

{ a fanfiction by Atatakai-chan based on the song “Monster” by Super Junior}
poster by 
Atatakai-chan

|| AU, AngstDark!Thrillerslight!Romance — Oneshot — PG ||

.

starring
TeenTop Changjo as Choi Jonghyun
Original Character (OC) Kwon Hyunmi

.

❝Don’t get caught, I’m dangerous
more than a starved beast.

.

Apakah kau percaya bahwa di antara sinar bulan dan bintang di malam hari ada sepasang mata yang mengintaimu?

Kedua kaki Jonghyun melangkah cepat, membimbingnya berjalan menyusuri gang sempit yang berada di sebelah kanan jalan. Gang sempit dan panjang itu terasa mencekam akibat angin dingin malam yang berhembus ditambah bentuknya yang bak labirin membuat tempat itu terasa lebih panjang dari kondisi yang sebenarnya.

Langkah lelaki itu terhenti bersamaan dengan berdirinya bulu kuduk yang berada di sekitar lehernya.

Bukan hembusan angin malam yang menyebabkan lelaki itu berdiri terpaku di tempat.

Keadaan gang yang mencekam dalam gelapnya malam juga bukan alasannya mengapa tak bisa bergerak.

Kehadiran sepasang mata yang mengawasinya dapat ia rasakan dari balik punggungnya. Tanpa perlu menoleh pun ia tahu kedua netra itu ada di sana, mengawasinya di suatu tempat di antara gelap malam.

Suara kucing yang mengeong dari ujung gang seolah menjadi mantra, lelaki yang menyandang marga Choi itu kembali berjalan. Namun belum jauh ia melangkah, ia kembali berhenti. Tiba-tiba saja banyak sekali hal yang terjadi di benaknya –hal-hal yang membawanya pada suatu sosok dengan sebuah nama: Kwon Hyunmi.

Jonghyun sadar saat ini bukanlah saatnya untuk membayangkan surai panjang Hyunmi yang berkibar teriup angin pantai. Ia sadar saat ini juga bukanlah saat yang tepat untuk mengingat bagaimana perempuan itu memeluknya erat di kala ia berduka.

Choi Jonghyun menggelengkan kuat kepalanya dalam upaya menghilangkan pikiran-pikiran itu.

‘Jung Hyunmi…’

Terdengar sebuah bisikan bersamaan dengan berhembusnya angin malam mengenai indra pendengaran pemuda Choi yang masih berdiri diam di tempat. Lelaki itu yakin bahwa suara itu adalah milik sepasang mata yang beberapa saat lalu mengawasinya.

Dengan cepat ia berputar membalikkan badannya dan berlari ke arah ujung gang asal kedatangannya. Ia tidak tahu apa itu, yang jelas ia merasakan bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi pada perempuan yang bahkan saat ini masih berada di dalam benaknya.

Lampu-lampu jalan menemani trotoar di malam bulan April dengan cahaya remang-remang yang meskipun begitu tak menuai banyak protes dari para pejalan kaki. Di seberang jalan tampak sebuah cafe yang masih ramai. Tempat yang selalu dipenuhi oleh alunan musik klasik itu tampak menghidupi jalanan yang sepi.

Dengan napas terengah-engah Jonghyun membungkuk dengan posisi kedua tangan berada di atas masing-masing lutut –ia tengah mengatur napasnya yang sedang tak beraturan.

Didongakan kepalanya, melihat menembus pintu kaca yang menjadi satu-satunya penghalang antara pejalan kaki dengan cafe. Sosok yang ia kenali terlihat sedang mengantarkan satu nampan makanan pada pengunjung cafe sehingga membuatnya tanpa segan mengetuk-ketuk pintu kaca di hadapannya hingga sosok tersebut menoleh.

“Jonghyun? Apa yang sedang kau lakukan di sini?” Seorang pegawai cafe yang menggunakan nametag ‘Hyunmi, Kwon’ di bagian kanan seragam menghampiri lelaki yang masih nampak kesulitan mengatur napasnya itu.

“Hyunmi noona… Apa kau baik-baik saja?”

Perempuan bernama Hyunmi itu mengerenyitkan keningnya, “tentu saja aku baik-baik saja. Ada apa?”

Hembusan napas lega lolos dari mulut Jonghyun sebelum lelaki itu membenahi posisi berdirinya. Kini ia berdiri tegak di hadapan perempuan yang lebih pendek darinya itu.

“Syukurlah…”

“… Ada apa, Jonghyun? Apa kau baik-baik saja?”

Jonghyun mengangguk sebagai respon. Ia kemudian membuka mulutnya, bersiap untuk berbicara namun kembali dirasakan sepasang mata itu mengintainya –dan kali ini Hyunmi pun diintai.

Tanpa memberikan penjelasan pemuda Choi itu menarik Hyunmi berlari bersamanya, membiarkan sang perempuan yang ditarik mengikutinya berlari dalam kebingungan. Langkah keduanya berhenti di sebuah jalan buntu jalanan yang hanya diterangi oleh sebuah lampu jalan yang menjulang tinggi –di siang hari tempat ini adalah tempat pembuangan sampah toko-toko dan cafe-cafe yang berada di sekitaran.

“Jonghyun… A-ada apa?” Dengan napas tersengal-sengal Hyunmi bertanya.

“Tadi ada yang mengawasi kita, dari seberang jalan. Kau tahu gang yang menuju ke blok tempat tinggal kita ‘kan? Tadi aku berjalan melewati tempat itu dan —”

“Jonghyun, tenanglah!” Hyunmi meletakkan kedua tangannya di masing-masing sisi bahu Jonghyun.

Melakukan sesuai dengan apa yang dinstuksikan dari perempuan yang berusia dua tahun lebih tua darinya itu, Jonghyun berhenti berujar seraya mengatur napasnya. Dadanya turun naik menandakan bagaimana ia berusaha untuk tenang.

“Siapa yang mengawasi? Apakah kau melihat sosoknya?”

Pertanyaan dari Hyunmi dijawab dengan gelengan oleh Jonghyun.

“Bagaimana kau tahu itu bukan kesalahpahaman? Bagaimana kalau sebenarnya yang kau sangka sedang mengawasimu itu sebenarnya hanya orang yang lewat dan kebetulan melihatmu?”

Pemuda Choi itu tidak tahu bagaimana ia harus menjelaskan pada Hyunmi. Ia memang tak melihat pemilik sepasang mata yang mengawasinya, ia bahkan tak bisa melihatnya –namun ia merasakannya. Ia tahu ada sepasang mata yang mengawasinya.

Hyunmi menghela napas. Diusapnya dengan lembut kedua sisi lengan Jonghyun untuk menenangkan lelaki itu –ia sudah terbiasa melakukan ini sejak dahulu. Jonghyun dan dirinya adalah tetangga yang sering bermain bersama semenjak keduanya masih anak-anak, bahkan saat ini pun mereka masih sering menghabiskan waktu bersama-sama. Jonghyun yang kehilangan kedua orangtuanya ketika masih berada di bangku sekolah menengah atas sudah dianggapnya sebagai adik sendiri.

“Sudah, sudah, tidak apa-apa. Kau tidak perlu takut, oke?”

Suara lembut Hyunmi yang tertangkap oleh indra pendengaran Jonghyun membuat lelaki itu dengan sendirinya mencondongkan wajahnya dan mempersempit jarak di antara wajah keduanya. Dan sebuah kecupan ringan begitu saja mendarat di bibir Hyunmi yang secara otomatis membuat perempuan berambut panjang sebahu itu melangkah mundur.

Kedua mata Hyunmi melebar dalam shock sambil menatap lelaki yang berjarak beberapa langkah di depannya. Putri tunggal keluarga Kwon itu tak pernah mengira hal seperti ini akan terjadi.

“M—Maaf, Hyunmi noona,” dengan suara bergetar Jonghyun berujar.

“… Aku— aku tidak berkmaksud.” Kembali ia berujar.

Hyunmi masih diam tak merespon apapun karena kejadian barusan begitu memukul dirinya. Sementara itu di sisi lain, kedua tangan Jonghyun terkepal erat.

“Aku tidak tahu— Mungkin… Mungkin selama ini aku begitu menyu—”

Tidak. Menyukai bukanlah kata yang tepat.

“Aku… Aku begitu mencintaimu… Ya, aku mencitaimu.”

“Maafkan aku, Jonghyun-ah…” Akhirnya Hyunmi bersuara namun bukan kata-kata itu yang diharapkan oleh Jonghyun yang saat ini masih menatap ke dalam kedua matanya.

“Aku… Aku tidak dapat membalas perasaanmu. Kau sudah aku anggap seperti adik kandungku sendiri,” Hyunmi menghela napas panjang.

“… Lagipula,” Perempuan yang masih mengenakan seragam tempat kerjanya itu memamerkan tangan kanannya di mana sebuah cincin tersemat di jari manisnya. Cincin pertunangan yang satu hari lalu disematkan oleh tunangannya itu tampak bercahaya di bawah sinar lampu jalan.

Jonghyun mengarahkan tatapan matanya ke bawah bersamaan dengan Hyunmi yang mulai berjalan menjauh darinya. Langkah kaki Hyunmi dapat didengarnya semakin menjauh dan ia pun mulai kembali menengadahkan kepalanya perlahan.

Kedua mata Jonghyun kini terpaku pada punggung Hyunmi yang semakin lama terlihat semakin menjauh. Air mata mengalir di pelupuk mata kirinya ketika perempuan yang amat ia cintai itu berjalan meninggalkannya.

“Hyunmi noona—” Dengan suara tercekat ia memanggil. Kedua kakinya mulai melangkah, mencoba untuk menyusul sosok Hyunmi yang belum berada terlalu jauh dari pandangannya.

“AAAAAHH!”

Tiba-tiba saja sesosok bayangan hitam nampak menarik Hyunmi kembali ke tempat semula dengan kecepatan yang bukan main. Disudutkannya perempuan itu ke pojokan jalan buntu dan suara hantaman keras terdengar ketika kepala Hyunmi beradu dengan tembok.

“Tidak— tidak— jangan,” Jonghyun berlari mendekati sosok bayangan yang tengah berkali-kali menghantam kepala Hyunmi pada tembok. Namun sosok bayangan yang menyadari kehadirannya dengan mudah mencekiknya. Jonghyun merasa sesak, tubuhnya tak dapat bergerak. Di saat itulah ia sadar bahwa makhluk itu tak lagi asing baginya.

ANDWAEE! JONGHYUN! TOLONG AKU!”

Suara teriakan Hyunmi begitu keras dan memekakan telinga Jonghyun. Dengan sekuat tenaga Jonghyun mencoba menggerakkan tubuhnya namun sia-sia saja. Sosok bayangan berwarna hitam itu sangat kuat dan… mengerikan –dua buah tanduk seperti ranting pohon terdapat di kepalanya, kedua matanya menyala kontras dengan warna tubuhnya. Tangan panjangnya dilengkapi oleh jemari-jemari panjang yang tajam.

Kedua mata Jonghyun terbelakbak ketika sosok bayangan itu mengarahkan kuku tajamnya pada Hyunmi dan…

“AAAAKKH!” Teriakan dengan rintihan kesakitan lolos dari mulut Hyunmi ketika sesuatu yang sangat tajam menancap di dadanya.

Tak hanya sekali, sesuatu yang sangat tajam itu menikamnya berkali-kali di dada, kemudian di bagian perut. Jonghyun yang menyaksikan kejadian di depan matanya mengerang. Marah dan takut menjadi satu mengaduk-aduk emosinya.

Jonghyun dapat mendengar suara tawa makhluk menyeramkan itu ketika leher Hyunmi digoroknya dengan kuku tajamnya yang mengerikan. Seketika itu juga, suara Hyunmi tak lagi terdengar. Menyisakan erangan dan tangisan Jonghyun memenuhi lorong jalan buntu.

Pemuda Choi itu tak lagi merasakan sesak. Sosok menyeramkan itu telah menghilang entah kemana begitu Hyunmi sudah tak bernyawa. Raga perempuan bermarga Kwon itu tergeletak di sudut jalan buntu dengan kondisi yang mengerikan. Darah merembes di pakaian kerjanya, bekas tikaman pada dada dan perutnya menunjukkan kebrutalan seekor binatang, jangan lupakan lehernya yang memiliki bekas luka dalam. Kedua matanya yang sudah tak ada cahaya kehidupan masih terbuka dan mulutnya menganga.

“Tidak— tidak. Hyunmi noona—” Jonghyun berlutut di samping raga Hyumi yang sudah tak berjiwa kemudian memeluknya dengan erat.

Air mata membasahi pipinya dan erangannya kembali terdengar memancing orang-orang yang tinggal disekitaran memutuskan untuk memanggil pihak yang berwajib karena suara-suara yang berasal dari jalan buntu itu juga mengganggu mereka.



PROLOG

Detektif Hyunwoo duduk bersandar. Di hadapannya duduk sosok lelaki yang menunduk dengan posisi kedua tangannya yang terborgol berada di atas meja.

Detektif Hyunwoo menghela napas frustasi karena sudah berjam-jam dirinya duduk di ruangan penyelidikan dengan sang tersangka pembunuhan dan ia belum menemukan titik terang. Yang ia dapatkan hanyalah cerita mengenai bagaimana sesuatu yang bukan manusia membunuh Kwon Hyunmi.

“Coba ceritakan lagi kronologi kejadian tadi, Jonghyun-ssi.”

“… Sudah kubilang. Sosok bayangan hitam itu tiba-tiba saja muncul dan membunuhnya. Kalau kau tidak percaya, silakan lihat bekas cekikan pada leherku! Monster itu mencekikku ketika ia menikam Hyunmi noona!”

Detektif Hyunwoo menghela napas, “tapi, Jonghyun-ssi. Yang berbekas di lehermu adalah bekas guratan jari Hyunmi-ssi.”

Percayakah kau bahwa monster pemilik sepasang mata yang mengintaimu di malam hari itu hidup di dalam dirimu?

.


❝… Don’t misunderstand, when I see you
I’m merely a, thirsty, anxious, blind fool❞

END.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s