[Multi Chapter] Stay – 2

Credit: Art by Song17 (Zahra)

STAY

Previously: [1]

Do not Copy!

(Chapter ini menggunakan sudut pandang orang ketiga ^^)

***

‘Bayanganmu tak pernah jauh.’

***

Dyo

 –

Pagi itu sekolah menengah umum negeri tempat Dyo menimba ilmu di Busan sedang melakukan pameran sekolah sekaligus orientasi. Jelang hari masuk sekolah, kegiatan ini bermanfaat untuk para siswa baru untuk mengenal teman-temannya sebelum tahun ajaran baru dimulai.

Dyo merasakan sekali manfaatnya. Tahun lalu, ia berangkat seorang diri. Ia tak paham seluk-beluk Busan, bahkan dialeknya terdengar jelek karena bercampur-campur. Ia berharap, waktu itu, Busan akan mengubah isi harinya menjadi lebih berwarna. Dyo tidak mudah menemukan teman. Agendanya berjalan-jalan ke pameran sekolah juga hanya untuk mengusir jenuh. Tak pernah terpikir olehnya kalau ia hanya meninggali kota ini selama setahun.

Pil pahit yang harus ditelan Dyo adalah kesamaan dengan kehidupan sekolah sebelumnya. Rombongan gadis-gadis yang tampaknya lebih mengerikan setelah pubertas. Ia sudah berusaha menyembunyikan diri dan bertingkah tak kentara, namun gagal. Dyo ditunjuk sebagai perwakilan sekolahnya untuk maju ke kejuaraan menyanyi dan dia menang. SMA-nya heboh. Namanya ada di mana-mana; di gerbang, di kantin, di kelas, di buku harian para gadis bahkan toilet sekolah.

Kalau ingat bagaimana kepala sekolah memintanya secara langsung, Dyo merasa tak enak hati untuk menolak. Seni musik dari sekolah ini harus mendapat perhatian juga, begitu katanya.

‘Ya, sudahlah. Setidaknya tinggal sebentar lagi.’

Meja-meja panjang berderet di halaman sekolah. Spanduk, banner, pengeras suara berbunyi dari segala penjuru. Umbul-umbul berbagai warna terpasang di atas kepalanya. Rasanya seperti déjà vu. Bersekolah di sini tidak terlalu buruk. Ia punya beberapa teman, namun kini harus meninggalkan mereka lagi. Kalau dipikir-pikir, Dyo merasa tak benar-benar memiliki teman.

Minhyuk melambai padanya dari kejauhan. “Kyung, di sini!” Tampak sedang menjaga stan klub seni musik. Dia penabuh drum kalau kalian mau tahu.

Begitu Kyungsoo mendekat sambil merapatkan jaketnya, tangan Minhyuk merangkulnya. “Hey, lama banget, Bung!—menoleh pada kerumunan—Nah, ini dia! Ikon sekolah kami, DO KYUNGSOO! Ayo, daftar ke klub seni musik, kawan-kawan!”

“Sialan kamu, Min!” Kyungsoo mendesis di telinga Minhyuk.

Sambil terkekeh, pemuda berponi miring itu mengeratkan rangkulannya, balas berbisik, “Anggap saja ini pengabdian terakhirmu pada kami. Bukannya kamu mau pergi?”

Dyo hanya menyeringai samar. Ia tidak tersenyum pada kerumunan yang semakin banyak. Hanya berdiri dan sesekali ikut membagikan brosur pada anak-anak baru itu (kebanyakan wanita).

Hyunsik tergopoh-gopoh membawa box berisi peralatan musik dibantu Jaehyun. Mereka membongkarnya, menyiapkan standing mic, menyetel gitar dan keyboard yang lebih dulu ada di sana.

“Buat apa?” Dyo menunjuk benda-benda itu.

“Hah-hah, buat promosi lah, hah-hah,” Hyunsik menjawab jengkel sambil mengatur napasnya, “bantuin, dong!”

Dyo mengeluarkan tangannya dari saku celana, membetulkan posisi standing mic sementara Hyunshik mencolokkan kabel-kabel.

“Kamu mau nyanyi?” tanya Dyo setengah tak percaya.

Hyunshik berdiri, menyeka keringat, “Aku? Nyanyi? Hahaha~ Dulu sih pernah kepikiran, tapi nggak deh makasih,” jawabnya berlebihan.

Dyo jadi ingat iklan shampoo. Ia hanya mengangguk-angguk prihatin. “Terus siapa?”

You lah,” telunjuk Hyunshik mengarah ke dada Dyo. “Buat perpisahan, Bro—No, no, no, jangan menolak!” Isyarat tangannya jelas tak mau ada penolakan.

“Nggak mau,” kekeuh Dyo, “aku belum cek vocal pagi ini.”

“Alasan!” sambung Minhyuk dari belakang mereka. “Paksa dia, Shik!”

“Panggil aku Hyunshik, Babo!” Hyunshik tak terima dengan nama panggilannya, sedikit menggaruk telinga. Minhyuk hanya mengibaskan tangan dan kembali melayani beberapa murid baru. “Nah, Kyung, please, sekali lagi kau memanjakan kami dengan suaramu. Kamu bakalan pergi dan kami bakal kelaparan lagi karena nggak bakal ada cewek-cewek memberi bekal pada kami.”

“Jijik!” dengus Dyo bergidik. “Oke, oke. Satu lagu saja,” Tak tega melihat rupa memelas Hyunshik, Dyo menarik kursi ke depan standing mic, mengatur napasnya dan mengetes suara. Ia duduk dan memberi instruksi pada Hyunshik untuk memainkan gitarnya.

“Mau lagu apa?” tanya temannya.

“James Arthur, Say You Won’t Let Go,” jawab Dyo. Hyunshik mengacungkan jempolnya. Jaehyun sudah selesai menyetel speaker mereka dan pertunjukkan terakhir Dyo di SMA-nya dimulai.

I know I loved you then, but you’d never know…

Cause I played it cool when I was scared of letting go.

I know I needed you, but I never showed

But I wanna stay with you…

Just say you won’t let go…

***

하나

Hana

 –

We’ve come so far, my dear…

Look how we’ve grown

And I wanna stay with you

Just say you won’t let go…

Hana berhenti sejenak di depan rumahnya. Menatap hunian hampa dan kosong di seberang sana. Di telinganya masih mengalun bagian reff dari lagu milik James Arthur. Ia sengaja memasang earphone-nya.

Boleh ‘kan baper sebentar?

Tidak ada kegiatan bersih-bersih hari ini. Rumah itu kosong. Halamannya sudah lebih rapi. Tak ada rumput liar dan sampah dedaunan. Dindingnya sudah di cat ulang. Beberapa pot bunga diletakkan berderet di anak tangganya.

Benarkah akan ada orang baru tinggal di sana?

Surat Dyo semalam belum dibukanya. Kembali ia letakkan di dasar kotak rahasia di bawah kasur. Tidak ada yang lebih buruk ketimbang menerka-nerka apa isi surat itu sekarang.

Hana mengambil napas dalam-dalam, memutar tubuhnya menuju toko roti. Di dalam tas kecilnya sudah ada catatan bahan kue yang akan dibelinya. Suara James Arthur menghilang dan dengan kasar Hana menarik earphone-nya, menyakunya kembali. Dia hafal bait lagu itu sampai kelewat berharap.

Dyo tak akan kembali ke sini. Sudahlah, Hana… Jangan mimpi…

Selesai dengan bahan belanjaan rotinya, Hana memutuskan untuk istirahat sejenak. Ia menenggak isi minuman kalengnya. Duduk sendirian di salah satu bangku pinggir jalan dan mengamati orang berlalu-lalang. Ia malas pulang.

Buat apa pulang kalau sekarang kepalanya terus-terusan menoleh ke rumah Dyo—ralat bekas rumah Dyo. Ia mengecek ponselnya, tidak ada pesan. Eomma pasti sedang sibuk bersama geng ibu-ibunya di rumah Tante Junhee. Appa tidak akan menghubunginya sebelum jam istirahat dan kakaknya belum menelponnya lagi sejak dua hari lalu.

Pikirannya melayang ke posisi Jeonghan saat ini. Kakaknya itu masuk wajib militer sebagai tentara aktif dan Hana sempat menangis sampai ingus keluar dari hidungnya sewaktu kakaknya berangkat. Jeonghan mengusak pelan rambutnya saat itu, “kakak akan pulang,” katanya, “kalau dapat libur, aku pasti pulang, Honey.”

Hubungan mereka bisa dibilang tidak manis. Jeonghan suka usil dengan membawa beberapa temannya ke rumah, mengenalkannya pada Hana dan membuat lelucon tak jelas. Hana tak habis pikir, apa cuma Jeonghan yang bangga memamerkan adik perempuannya pada teman-temannya? Setahu Hana, kebanyakan kakak laki-laki tak mengizinkan teman-temannya mengganggu adiknya.

Bagusnya, tidak ada satu pun teman Jeonghan yang naksir pada Hana. Ia sukses memerankan gadis dingin dan anti-sosial. Hah.

Hana kembali menenggak sisi minuman kalengnya, kali ini sampai habis. Ia meremas kaleng kosong itu tepat saat sebuah pesan masuk ke ponselnya.

Tring!

(Oh Sehun)

Aku dalam perjalanan ke rumahmu. J Kamu di rumah, ‘kan?

WHAT?!” Tanpa sadar Hana berteriak. Bergegas berdiri, membuang kaleng minumnya ke tempat sampah dan berlari pulang. Ketika teringat plastik belanjaannya ketinggalan, gadis itu balik lagi ke bangku tempatnya duduk. Merutuki kebodohannya.

Mau apa sih dia? Eommaaa~’

Eh, bodohnya aku. Kenapa harus lari-lari segala?’ Hana berhenti, meremas bagian perutnya yang kram. Ia mengibaskan rambutnya karena kepanasan. Mengisi paru-parunya dengan perlahan supaya napasnya tak terdengar ngos-ngosan. Satu tikungan lagi ia akan memasuki kompleks rumahnya.

Pesan Sehun tak dibalas. Sengaja. Kalau pemuda itu mendapati rumah kosong, pasti ia mengurungkan niatnya berkunjung. Entah kenapa Hana baru memikirkan ini setelah turun dari bus dan berlari setengah jalan setelahnya.

Gadis itu berjalan perlahan. Perutnya masih sedikit kram, tapi suhu tubuhnya sudah stabil. Plastik transparan di tangan kanannya digenggam erat, batinnya berdoa semoga Sehun tidak ada di sana. Atau dia bercanda datang ke rumahku, atau apa saja… Aku tidak mau dia melihatku kumal begini. Hana memang tak melakukan perawatan apa-apa selama liburan. Ia juga makan lebih banyak. Ia lupa menimbang berat tubuhnya pagi tadi.

‘Bagaimana kalau aku terlihat lebih berisi?’ pikirnya panik. ‘Ah, tidak-tidak. Eomma bilang aku cantik… sepuluh tahun lalu. Ha~’

Mulut Hana menganga lebar. Ia segera mengatupkannya begitu tersisa beberapa jarak lagi menuju rumahnya. Mengambil jalan berputar pun percuma. Sehun masih berdiri di sana. Di depan gerbang rumahnya dengan sebuah motor besar terparkir di sebelahnya.

Pemuda tampan itu memakai celana putih dan kemeja denim. Sebelah tangannya menjinjing tote bag putih besar. Iya, Sehun sangat tampan. Dandan sederhana seperti itu saja membuatnya bersinar. Hana tidak menyangkal itu. Mimpi apa dia semalam sampai Sehun menyambangi pintu rumahnya.

Sialnya lagi, meski tampak menunggu lama Sehun malah tersenyum saat melihat Hana.

‘Ah, jangan senyum itu lagi,’ Hana semakin panik. Ia melangkah dengan hati-hati dan tersenyum samar. “Mau apa kemari?”

Sehun mengernyit. “Biasanya seorang gadis akan bilang, ‘maaf sudah lama menunggu, ya’,” ledeknya.

Hana tak merespon.

“Oh, ya aku lupa… Kamu bukan gadis. Kenapa tidak membalas pesanku? Cuma di-read doang,”

“Kupikir kamu bakal balik,” elak Hana.

“Tidak mungkin aku balik lagi. Kalaupun kamu pulang sampai malam, aku tetap menunggu di sini,” ujar Sehun.

Woah… bercandanya keterlaluan. Bisa gawat kalau aku meleleh, pikir Hana. Namun, anehnya hati Hana berkata kalau itu sungguhan. Ini mulai nggak bagus buat otak dan hatiku yang mulai berlawanan.

“Dari mana?” Pertanyaan Sehun memecah keheningan mereka.

Kau harus kuat, Hana. Jangan ke-ge er-an.

“Beli bahan roti. Eomma menyuruhku karena sedang pergi,” Hana menjawab jujur.

“Pergi?” Sehun tampak kecewa. “Sayang sekali padahal aku mau mampir lebih lama.”

Dheg. Oh, ingin aku memukul wajahnya yang menawan.

“K-kamu mau masuk?” Hana menawarkan dengan sedikit gugup.

Pemuda itu menggeleng. Ia mengangsurkan tote bag bawaannya pada Hana. “Nggak baik cuma berdua di dalam rumah. Aku titip ini untuk ibumu, ya.”

Saat menerimanya, Hana sempat melongok isi tas tersebut. Ada dua kotak di dalamnya. Satu berukuran besar dan satunya kecil. “Semua untuk eomma-ku?” tanyanya polos.

“Memangnya kamu mau oleh-oleh apa?” Sehun mendekatkan wajahnya. Refleks, Hana mundur selangkah.

“Bu-bukan itu… Maksudku—“

“—lain kali kalau kamu mau menjemputku akan kubelikan. Hyesoo bilang dia nggak berhasil mengajakmu ke bandara. Asal kamu tahu aku sedih banget.”

Hana memutar bola matanya. Ia harus segera memangkas pembicaraan yang membuat lututnya gemetar ini. “Lupakan saja. Terima kasih oleh-olehnya buat eomma-ku, nanti kusampaikan. Masih ada lagi?”

Jurus pertahanan terbaikku; menjadi cuek dalam sekejap.

Sehun tertawa. Biar Hana memberi tahu kalian. Sehun sebenarnya dingin bukan main. Selalu menolak interaksi dengan para siswi di sekolah kecuali untuk hal penting saja. Hana sendiri tidak tahu kenapa Sehun bisa berubah 180 derajat di hadapannya. Termasuk mengejar-ngejarnya untuk menjadi partner di kepengurusan Student Council. Padahal mereka sebelas-dua belas dalam hal mengacuhkan.

“Nggak ada. Well, aku pulang, ya. Sampai jumpa di sekolah. Bye,” Sehun menuju sepeda motornya dan memakai helm. Sebelum menyalakan mesinnya ia membuka kaca helm, berpesan, “Lain kali beritahu aku posisimu, jadi kamu nggak perlu lari-lari lagi,” Ia mengedipkan sebelah mata dan berlalu pergi dengan motor besarnya.

Oh, bagus. Dia berniat menjadi super heromu, Han. “ Tunggu… Bagaimana dia bisa tahu kalau aku lari-lari?” Ia mengamati oleh-oleh Sehun di tangannya kemudian masuk ke dalam rumah.

Karena penasaran, Hana membuka oleh-oleh Sehun terlebih dulu dan mengabaikan tas belanjaannya di atas meja dapur. Ia membuka pemberian Sehun di ruang tengah. Kotak yang besar berisi sembilan wagashi (kue manis jepang) berbagai bentuk. Hana meraih ponselnya, mengambil gambar kue itu. Sayangnya ia tidak berani meng-upload di mana pun. Bisa heboh nanti. Kemudian matanya tertuju pada kotak biru yang lebih kecil. Karena terlalu ringan, Hana mengocoknya. Terdengar bunyi berdenting pelan dari dalam.

Setelah membukanya, Hana membaca memonya lebih dulu.

Tolong jangan dilihat dari harganya. Tapi, dari maknanya.

Sehun

“Ini…” Hana mengambil benda itu. Furin (lonceng angin). Benda itu kembali berdenting saat Hana mengangkat pengait di bagian atasnya. Kacanya bening dengan semburat merah muda. Dari tengahnya, menjuntai  tali panjang dengan ujung dibentuk seperti bunga berkelopak empat dan dikaitkan dengan selembar kertas warna merah muda bertuliskan ‘Karena Hana berarti bunga, semoga kau selalu ceria.’

“… untuk eomma-ku?” Hana tersenyum. Pipinya merona. Tidak mungkin hadiah itu untuk ibunya.

Tiba-tiba Hana teringat sesuatu. Ia belum sempat mengucapkan selamat pada Sehun atas kemenangannya di final pertandingan sepak bola. Ponselnya bergetar sebelum ia meraihnya lebih dulu.

Tring!

(Oh Sehun)

Kuharap ibumu nggak marah karena kamu lari-lari.

Telurnya nggak pecah semua, ‘kan?

Demi Tuhan! Hana hampir meloncat dari sofa. Ia bergerak cepat menuju meja dapur. Membuka plastik putih belanjaannya tadi. Ia lupa kalau paman penjual di toko roti tidak memberikannya telur dalam wadah kemasan. Ia mengangkat plastik berisi cangkang telur bercampur dengan isinya. Tubuhnya gemetar karena kesal.

Matanya menatap nanar pada kotak wagashi Sehun di ruang tengah. “Oh, Wagashi… semoga kalian bisa menghibur eomma-ku.”

***

Dyo

Setelah pertunjukan dadakan yang diakhiri gemuruh tepuk tangan dari penonton, Dyo memutuskan untuk pamit membeli minuman pada Hyunshik.

“Kalian mau nitip apa?”

“Apa saja boleh, Kyung,” Hyunshik menjawab. Pemuda itu menepuk bahu Kyungsoo, “Good job, Bung. Kuharap kamu terus menyanyi di sekolah barumu nanti. Sayang sekali gadis-gadis itu nggak tahu kalau kamu bakal pindah. Semoga mereka tidak keluar begitu tahu kamu nggak ada nantinya,” Ia menyilangkan tangan di dada sambil mengamati Minhyuk dan Jaehyun yang kelabakan mengurusi para siswi baru yang mendaftar ke klub musik.

Dyo tersenyum samar. Ia balas menepuk bahu sahabatnya. “Keluarkan pesonamu niscaya kharismamu akan bersinar,” katanya.

Jijik!” Balas Hyunshik.

Dyo tertawa. “Ya sudah, aku beli minum dulu.”

Mesin minuman dingin ada di dekat kantin. Dyo lupa kalau kantin juga buka saat festival berlangsung. Ia memasukkan beberapa koin dan memilih tiga jus apel kalengan.

“Ternyata kamu ke sini juga, ya?” Seorang gadis bertanya saat Dyo bangkit mengambil minumannya.

Dia Jung Hyemi. Ketua Cheerleader baru di sekolah ini. Baru terpilih sebelum liburan kemarin. Kalau ingat pidato terima kasih gadis itu, rasanya Dyo mual. Bagaimana tidak? Dyo ada dalam daftar ucapan terima kasih gadis itu. Bahkan Hyemi keceplosan menyatakan perasaannya secara tidak langsung.

“Ya. Bosan di rumah,” jawab Dyo singkat.

“Nari bilang kalau kamu tadi nyanyi. Sayang banget aku melewatkannya,” Gadis itu berujar lesu sambil memilin ujung rambut pirangnya.

“Banyak di youtube. Cari aja,” Lagi, Dyo menjawab singkat. Mimpi apa dia semalam sampai harus berurusan dengan gadis ini lagi.

Hyemi terkekeh. “Pasti banyak yang merekam, ya? Kamu nggak mengadakan perpisahan atau apa gitu?”

“Nggak. Sudah, ya, Hyunshik dan Minhyuk menunggu minuman ini,” ujar Dyo melewati bahu gadis itu.

Mungkin gadis itu kebanyakan nonton drama atau drama memang terinspirasi dari kisah nyata. Sekarang tangan Hyemi menahan lengan Dyo. Setengah kaget, Dyo menatap gadis itu dengan mata bulatnya yang melebar.

Sorry,” katanya sambil menarik tangannya kebalik punggung, “Tapi, kuharap sebelum pergi kamu bisa menjawab perasaanku yang waktu itu.”

“Perasaan?” Dyo kebingungan.

“Pidatoku waktu itu. Aku nggak masalah dengan LDR, kok.”

Jadi, dia nembak aku begitu?

“LDR? Maksudnya apa, ya?”

Hyemi mengerucutkan bibirnya. “Long Distance Relationship! Masa’ kamu nggak tahu istilah itu, sih?”

“Aku tahu singkatannya,” Dyo menimpali dengan jengkel, “Tapi, maaf, aku nggak akan LDR-an sama siapa pun. Sudah, ya, sukses terus untuk klubmu. Bye.”

Dyo melangkah pergi tanpa menoleh sedikitpun. Agak kejam juga sih menolak anak gadis dengan cara seperti tadi. Tapi, menurutnya gadis terlalu pede seperti Hyemi perlu disadarkan keras-keras supaya bisa terbangun dari mimpinya.

Kalau ada yang mau kuajak LDR-an, aku tahu siapa orangnya.

***

하나

Hana

Kamu berhutang banyak padaku,” celetuk Hyesoo. Gadis itu dihubungi Hana untuk membeli telur ayam. Momen yang sangat pas saat Hana menelponnya, gadis itu sedang berada dekat pusat perbelanjaan. Kini temannya itu sedang menonton acara di sebuah saluran televisi di ruang tengah sementara Hana mencuci telur yang baru di dapur. Telur-telur yang pecah sudah dibuang ke tempat sampah depan rumah. Hana memastikan tak ada jejak kelalaiannya tertinggal.

Woy, kamu dengar nggak?!” teriak Hyesoo.

“Iya, tahu. Hyesoo sayang… kapan-kapan aku traktir kamu deh,” Hana memberikan aegyo-nya.

Temannya bergidik ngeri. “Tahu begitu kamu langsung hubungi Sehun lagi. Suruh dia balik ke sini dan mengantarmu beli telur. Ugh~ kapan kalian punya momen dan skinship—WADAW!” Sebuah sandal rumah menimpuk kepala Hyesoo yang langsung terdiam dan bersungut-sungut.

Hana yang cemberut, mengelap tangannya dan mengambil kembali sandalnya. “Kamu bisa pulang sekarang, tugasmu selesai!”

Sial. Hana tahu kalau Hyesoo kadang tak bisa menjaga mulutnya. Sudah kepalang tanggung saat gadis itu masuk ke rumah dan melihat kotak wagashi serta furin tergeletak di atas meja ruang tengah. Hana tidak mungkin berkilah lagi. Jelas-jelas kedua barang itu dari Jepang.

“Galak amat, Han. Kalian serasi, tahu—Oke, oke, maaf. Turunin sandalmu,” Hyesoo merapat ke pinggir sofa begitu melihat Hana sudah mengacungkan sandalnya lagi.

“Dia cuma bercanda, Soo,” ujar Hana sambil duduk di sebelah Hyesoo dan menghidangkan sirup jeruk di hadapan temannya. “Dia nggak serius.”

“Oh, ya? Masa’ sih? Aku satu SMP dengan Sehun dan aku belum pernah lihat dia ngejar-ngejar gadis,” balas Hyesoo.

“Itu nggak bisa jadi patokan, Soo. Lagipula apa yang dia lihat dariku? Dia cuma mau aku bantuin tugasnya di kepengurusan SC (Student Council).” Anehnya, Hana sedikit sedih saat membuat pengakuan ini.

Hyesoo meminum suguhannya. “Siapa tahu, Han. Kamu nggak bisa menunggu si ‘itu’ terus-terusan. Move on, Sweetheart.” (Hyesoo bersekolah di SD yang sama dengan Hana dan Dyo)

Hana menatap temannya, “Aku nggak nunggu siapa-siapa,” bantahnya, tapi tidak lama kemudian ia menunduk lesu. “Anak bau kencur… memangnya tahu apa kami soal perasaan waktu itu…” sambungnya lirih.

Sebuah pesan masuk ke ponsel Hyesoo. Gadis itu mengotak-atik ponselnya beberapa saat dan tampak terkejut. “Link kiriman dari Junmyeon… Kamu mau lihat?” Dia menawarkan pada Hana.

“Lihat apa?” Saat Hana mendongak, Hyesoo sudah menyajikan layar ponselnya tepat ke mata Hana. Sebuah video sedang dimainkan.

“Siapa tahu bisa mengobati kangenmu. Kamu serius nggak mencari tahu soal dia?”

Hana mematung sambil mendengarkan suara Dyo menyanyikan lagu milik James Arthur. Mulutnya terkatup rapat. Dyo sudah berubah menjadi pemuda tampan dan disoraki banyak gadis. Sepertinya dia sangat populer. Hana tersenyum kecut. Kalau begini sih, makin kecil kans-nya mengharapkan Dyo.

Tapi Hyesoo benar… Hana merindukan suara itu. Suara yang tak lagi bocah, namun lebih berat dan lembut. Dyo memang suka menyanyi. Mereka bahkan punya lagu favorit yang sama di masa lalu. Melihat Dyo menyanyi dengan lepas, membuat air mata Hana merebak.

Do you know how much I miss you, Dyo?

***

-tbc


Notes:

  • Maaf kalau bab ini kaku banget, absurd pula… Mungkin bab selanjutnya pakai sudut pandang orang pertama saja ya… hahaha.
  • Koreksi untuk typo(s) dan lain-lainnya aku terima karena webe lagi lengket banget jadi kuharap pembaca maklum…
  • Terima kasih sudah membaca.
  • See you~ ^^

© Yasmine 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s