[Multi Chapter] Arranged Life – 04

Credit: Art by Song17 (Zahra)

© Miss Candy | Do Kyungsoo, Kim Jongin, Kim Yoon Ae (OC) |

| Politic – Sad – Romance – Family – School Life |

Do not Copy!

Previously: [3]

Huwon, Changdeok-gung.

Pangeran Kim menelpon sebuah nomor dari dalam kamar pribadinya. Sembari menunggu panggilannya diangkat, ia mengingat percakapannya dengan Yoon Ae tadi sore. Ia penasaran dengan anak laki-laki yang dilempar sepatu oleh Yoon Ae. Sepupunya itu mengatakan bahwa anak asing yang ditemuinya di Gyeonghoeru kemungkinan bukanlah putra presiden. Menurut Yoon Ae, penampilan anak itu tidak meyakinkan untuk menjadi putra orang nomor satu di negara ini.

Kai sudah menghubungi pihak pengelola tur Cheongwadae untuk hari di mana Yoon Ae bertemu si anak asing, tapi pihak tur mengatakan bahwa tidak ada sekolah yang melakukan tur hari itu karena Ibu Negara akan meninjau Cheongwadae. Great! Kai mengangguk-anggukkan kepalanya dalam diam seraya menelpon nomor yang sama untuk ketiga kalinya.

Jadi kemungkinan besar dia adalah putra presiden,’ pikir Kai.

Entah apa yang membuat Kai sangat tidak senang dengan pertemuan Yoon Ae dan si anak presiden. Meskipun, Kai tahu keduanya pasti belum mengenal satu sama lain. Kai memutuskan untuk tidak memberitahu Yoon Ae jika si anak asing adalah benar putra presiden. Lagi-lagi entah kenapa, Kai tak mau Yoon Ae mengetahuinya. Ia tidak suka pertemuan mereka.

Sang pangeran langsung berdiri ketika panggilannya sudah diangkat. Terdengar suara pria paruh baya dari seberang telepon.

Yeoboseyo, siapa ini?” tanya suara di seberang.

Ah, Ne. Lama tak menghubungi Paman. Ini aku. Jongin,” jawab Kai, kini sudah berada di balkon kamarnya. Anak laki-laki itu mengusap belakang tengkuknya, sedikit ragu-ragu untuk menyampaikan tujuan mengapa ia menelpon pria itu. Ada sekitar satu jam Kai berunding serius dengan pria yang sudah ia anggap sebagai paman sendiri. Ketika ibunya mengetuk pintu kamar, Kai buru-buru mengakhiri panggilan itu.

“Baik Paman, nanti aku hubungi lagi. Terima kasih banyak. Dan tolong—ini untuk kita berdua saja. Ne. Terima kasih,” Kai mengakhiri pembicaraan itu tepat saat Ibu sudah berada di sampingnya.

“Siapa yang kau telpon, Kai?” tanya Nyonya Kim.

Kai tidak pernah bisa berbohong pada Ibu dalam hal apa pun. Tapi untuk yang satu ini, ia merasa harus. Sial! Mendadak ia gugup. Mungkin karena Ibu bertanya dengan nada penuh selidik barusan. Ia berusaha mengatasi kegugupannya dengan mengacak rambutnya pelan.

Ah. Seorang teman, Ibu,” dusta Kai.

Reaksi Ibu terlihat kurang puas. Kedua alisnya semakin bertaut. “Teman yang kau panggil… paman?”

“Bukan–maksudku—dia tidak di rumah. Temanku tidak di rumah. Ayahnya yang mengangkat panggilanku.” Kai menjawab gugup. Ia mengamati perubahan wajah Ibu. Semoga yang Ibu dengar hanya kata ‘paman’ saja.

Untunglah, karena setelah beberapa detik wajah Nyonya Kim memperlihatkan tanda-tanda percaya. Beliau mengangguk-angguk.

“Ayo, kita makan malam,” ajak ibunya sambil mengamit lengan Kai.

Perasaan lega mulai merayapi kaki Kai. Ia sangat bahagia bisa memiliki Ibu seperti Nyonya Kim. Berkat beliau, masa lalu kelamnya telah terkubur dalam-dalam. Bahkan, Kai bersyukur karena tak memiliki gambaran seperti apa kedua orang tua kandungnya—mereka meninggalkan Kai di halaman belakang istana. Saat Nyonya Kim dan keluarga kerajaan menemukannya, Kai masih bayi.

“Kai? Kai?” Nyonya Kim menyapukan telapak tangannya di hadapan Kai yang melamun. “Kau tak mendengarkan ibu?”

“Ma-maaf. Apa yang Ibu bicarakan tadi?” Kai baru fokus menatap ibunya yang kini sudah duduk di seberang meja makan.

“Minggu ini ada upacara minum teh dengan keluarga presiden di Gyeongbok. Sepertinya mereka juga akan membicarakan pernikahan Yoon Ae dan Kyungsoo,” Nyonya Kim mengulangi pembicaraannya.

Air muka Kai menjadi kaku. Ia tak bisa mencegah rahangnya yang mengeras. Seperti ada sebuah tinju mendarat telak di dadanya. Rasanya sakit. Kali ini semakin sakit saat mendengar kata ‘Pernikahan Yoon Ae’.

Sejak kapan perasaan sakit ini menggelayutinya, Kai tidak ingat. Bukan hanya sewaktu membahas masalah pernikahan, Kai juga merasa sakit jika Yoon Ae bersedih. Berkali-kali pula Kai meyakinkan dirinya bahwa itu adalah perasaan spontan terhadap adikmu yang bersedih, namun sepertinya perasaan Kai sudah melewati batas. Pernikahan itu tidak boleh terjadi! Kai juga yakin Yoon Ae tak mau melakukannya. Pernikahan Yoon Ae dan… dan siapa tadi?

“Kai?” Nyonya Kim kembali memanggil Kai yang melamun lagi.

“Siapa nama anak tadi, Ibu? Yang mau dinikahkan dengan Yoon Ae, siapa namanya?” Suara Kai terdengar mendesak, membuat Nyonya Kim semakin heran dengan sikap Kai. Ia menatap putra angkatnya dalam-dalam. Sebenarnya kenapa dengan putranya ini?

“Do Kyungsoo. Kau tidak mengenalnya? Ia satu SMA dengan kalian. (Kai dan sahabat-sahabatnya).”

Kai tidak menjawab pertanyaan Ibu. Hilang pula nafsu makannya.

Kyungsoo’s House

Kyungsoo memainkan spaghetti dengan garpunya. Menggulung, mengurai, menggulung lagi kemudian membanting garpunya. Nafsu makannya hilang. Tapi, ia tak mau berdebat dengan Ayah hanya karena tidak makan malam. Meskipun, di meja yang besar ini, Kyungsoo makan seorang diri.

Ayah hanya berpesan pada pengurus rumah untuk memastikan bahwa Kyungsoo-harus-makan. Putra presiden melihat ke seluruh penjuru ruang makan dengan bosan. Ada empat pelayan yang berdiri mengawasinya. Ia menghela napas panjang dan bersuara. “Apa para bibi tidak lapar?” tanyanya bosan. Tak ada yang menjawab. “Bibi juga harus makan. Aku tak enak makan dengan diawasi seperti ini.” Kyungsoo melanjutkan. Keempat pelayan hanya menunduk.

“Bibi makan saja. Aku akan habiskan ini. Aku berjanji,” Kyungsoo membujuk para pelayannya untuk pergi. Setelah saling bertukar pandang satu sama lain, mereka berempat membungkuk pada Kyungsoo dan berlalu pergi.

Setelah kepergian para pelayan, Kyungsoo meletakkan garpunya. Mana bisa ia menjejalkan makanan ke dalam mulut sementara perutnya berontak.

Hanya tinggal menghitung hari ia harus kembali ke sekolah. Menuju tempat di mana ia tak memiliki banyak teman. Hanya Yixing—anak duta besar China—dan Oh Sehun si anak menteri olahraga yang menjadi teman dekatnya. Itu pun Kyungsoo tak bisa menceritakan segala keluh kesahnya pada mereka. Ibu selalu berpesan supaya ia berhati-hati pada siapa pun.

Jika kau masuk dalam dunia politik, meskipun kau hanya anak para politikus dan masih muda, kau harus berhati-hati pada teman dekatmu sekalipun. Sekali saja kau salah berkata, suatu saat tak ada jaminan mereka tak menggunakannya untuk menusukmu. Mungkin bukan mereka, tapi keluarga mereka.

Teringat pesan Ibu dalam benak Kyungsoo. Ia tak menyangka keadaan akan menjadi semakin sulit ketika Ayah berhasil meraih mimpi sebagai orang nomor satu di negara ini. Apalagi upacara minum teh akhir pekan nanti cukup mengganggu pikirannya.

Jika perhitungannya tak meleset, ‘calon istrinya’ juga pasti ada di sana. Apa yang harus dia lakukan? Jika perhitungannya benar, ‘gadis sepatu tumit datar’ adalah dia. Kyungsoo tahu persis kalau hatinya tak mudah untuk menerima orang baru dalam kehidupannya, terlebih orang ini akan menjadi istrinya.

Sebagai seorang laki-laki, entah kenapa ia merasa bodoh ketika tak bisa membaca situasi seperti ini. Haruskah ia acuhkan saja calon istrinya itu? Kyungsoo tak suka basa-basi berbau modus berlebih. Lagi pula, tak ada jaminan ia bisa jatuh cinta meskipun gadis itu seorang putri mahkota.

Kyungsoo bukannya tak pernah jatuh cinta. Ada seseorang yang ditunggunya sampai saat ini. Tapi, Kyungsoo tahu gadis itu hanya menganggapnya sebagai adik. Tidak lebih. Dan lagi Kyungsoo juga tak pernah mengungkapkan perasaannya secara jujur pada si gadis pujaan karena merasa tak yakin—atau lebih tepatnya takut jika hubungan mereka berakhir tidak baik.

Kyungsoo merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel, mencari nama si gadis, berpikir masak-masak apakah ia akan menghubunginya atau tidak. Rasa penasaran mengalahkan kegugupannya. Pemuda itu mengumpulkan keberaniannya, menyentuh tombol panggil dan menunggu jawaban.

“Yeoboseyo~”

Deg! Kyungsoo bingung harus menjawab apa setelah si gadis mengucapkan salam. Ia berdiri dan malah berjalan mondar-mandir di dalam ruangan itu.

Yeoboseyo~ Siapa ini?” Suara halus gadis itu bagai lagu di telinga Kyungsoo. Suara yang sangat dirindukannya.

Yeo—Yeoboseyo, Sica nuna?”

Changdeok-gung.

Putri mahkota sedang menunggu Tuan Jo di ruang kerjanya. Tangannya membolak-balik asal album foto kerajaan yang ada di meja untuk menerima tamu. Ada foto dirinya, kedua orang tuanya, saat bersama dayang-dayangnya, saat bersama bibinya dan Kai.

Mungkin album kerajaan akan bertambah satu. Album pernikahan milik putri mahkota. Yoon Ae langsung menutup album itu dan meletakkannya kembali di atas meja. Jika mengingat upacara minum teh akhir pekan nanti, sekujur tubuhnya menggigil.

Yoon Ae tak tahu bagimana ia harus bersikap saat berhadapan dengan calon keluarga barunya dan… suaminya. Sebagai seorang putri, semua sopan-santun, pendidikan dasar dan pendidikan umum sudah diterimanya. Akan tetapi, Yoon Ae belum pernah menerima pendidikan pranikah. Dan putri yakin, itu salah satu cabang ilmu yang tak akan pernah siap untuk ia aplikasikan—setidaknya dalam usianya yang sekarang.

Jauh di lubuk hatinya, putri ingin merasakan jatuh cinta secara alami. Tapi sekarang hal itu seperti mengangkat takhta raja alias mustahil. Yoon Ae sudah terlanjur menyetujui keputusan perjodohan mereka. Ia juga tidak memiliki usaha untuk membatalkannya.

Satu-satunya usaha Yoon Ae adalah rasa percaya pada Ayah; bahwa Ayah tidak akan pernah mencelakai putrinya sendiri dan Ayah mungkin sudah melihat sosok anak laki-laki’ yang baik untuk dirinya. Tak mungkin Ayah setuju akan keputusan presiden tanpa berpikir terlebih dahulu.

Lamunan Yoon Ae buyar ketika Tuan Jo memasuki ruangan. Keduanya saling memberi hormat. Setelah itu Yoon Ae langsung pada topik kenapa ia menunggu di sini.

“Bagaimana, Paman? Sudah dapat fotonya?” Yoon Ae bertanya dengan tak sabaran.

“Duduklah dulu, Tuan Putri,” Tuan Jo duduk di hadapan Yoon Ae yang jelas sudah tak sabar dengamn hasil apa yang didapat Bapak Kepala Dayang itu. Tuan Jo mengulurkan sebuah foto close up yang diminta Yoon Ae. Lama sekali putri memandangi foto itu.

Selang beberapa detak jantung, Yoon Ae menyadari sesuatu. Dilihat dari potongan rambutnya, anak ini…

“Itu foto terbarunya, Yang Mulia. Saya berhasil mendapatkannya,” kata Tuan Jo.

Yoon Ae hanya mengangguk-angguk dengan dwimanik melekat pada kertas foto itu. Ia bahkan tak mengindahkan Tuan Jo untuk kesekian kalinya.

“Anda—Bagaimana perasaan Tuan Putri setelah melihatnya?” Rupanya Tuan Jo malah khawatir.

Putri masih belum menjawab. Ada getaran aneh yang belum pernah Yoon Ae rasakan dari dalam tubuhnya. Hanya dengan menatap kertas bergambar sosok tak dikenal itu, entah kenapa hatinya seperti berdesir. Bukan, bukan karena takut. Perutnya bereaksi abnormal bukan karena ingin muntah. Hatinya pun berdegup kencang bukan karena salah minum obat. Akibat dari reaksi yang saling paralel itu, Yoon Ae malah tersenyum lebar.

“Yang Mulia?” Tuan Jo mengulangi.

“Terima kasih, Paman. Tolong jaga ini dari ayah dan ibu,” pintanya.

Tuan Jo terkejut dengan reaksi Yoon Ae yang malah terlihat sumringah setelah melihat foto itu.

Foto Do Kyungsoo.

.

.

.

Yoon Ae jatuh cinta.

Huwon

Putri mahkota menghampiri Kai di Huwon keesokan harinya. Ia berlari kecil menuju kediaman Kai. Semilir angin lembut membelai wajahnya yang berseri-seri serta menerbangkan sebagian rambutnya yang tak terikat. Putri ingin segera memberitahu saudaranya tentang foto calon suaminya. Ia juga sudah tidak sabar menantikan hari pertemuan mereka. Yoon Ae tahu sikap terburu-buru. Itulah mengapa ia membutuhkan saran dari saudaranya.

Dari semalam putri mahkota tidak bisa tidur karena terus memandangi foto Kyungsoo. Bahkan ia merasa sudah seperti orang gila karena berulangkali tersenyum. Apalagi fakta menyenangkan yang lainnya datang. Ia akan bersekolah di SMA tempat Kyungsoo belajar. Sungguh menyenangkan, bukan?

Yoon Ae tidak tahu kalau Kai merasakan yang sebaliknya. Alih-alih mendukung perasaan sepupunya, Kai malah menampakkan tatapan ‘aku-tidak-mau-tahu’. Pangeran Kim hanya mengangguk-angguk ketika tuan putri bercerita bahwa Tuan Jo yang membantunya mencari tahu info tentang Kyungsoo.

Rasa tidak suka mendengar nama Kyungsoo terus disebut-sebut menjalari hatinya. Dia benci cara Yoon Ae bercerita seolah perjodohan ini merupakan mukjizat dalam hidup mereka.

Yoon Ae melewatkan bagian kalau ia terlena sepanjang malam oleh sosok Do Kyungsoo lewat sebuah foto. Ia juga tak memberitahu Kai kalau sekarang foto itu ada di dalam saku roknya. Sebenarnya Yoon Ae sengaja membawa foto Kyungsoo ke mana pun ia pergi agar para dayang tak menemukannya saat membersihkan kamar tidur.

“Kau akan ikut upacara minum teh ‘kan, Kai?” tanya Yoon Ae setelah meneguk teh hijaunya. Sang putri masih tak menyadari kalau lawan bicaranya menatapnya dengan penuh kekesalan. Wajar saja, Kai bukan pemuda yang ekspresif.

“Bagaimana, ya, aku mungkin punya janji dengan Luhan,” jawabnya berbohong sambil menggosokkan kedua tangannya.

Putri langsung cemberut mendengar hal itu. “Kau ‘kan kakakku dan semua keluarga kerajaan harus ikut, Kai!”

Ya, kakak. Yoon Ae hanya menganggapku sebagai seorang kakak—memangnya mau bagaimana lagi. Kai menghela napas berat. Rasa sakit itu kembali menusuk hatinya. Seharusnya ia tahu kemana ini akan mengarah. Tak pernah ada tempat di hati Yoon Ae untuknya lebih dari sebatas keluarga.

Sementara Yoon Ae masih menunggu respon Kai. “Kenapa? Apa janji dengan Luhan-ssi lebih penting dari acara keluarga kita?” Yoon Ae tak percaya bila urusan antar lelaki sampai harus mengorbankan kepentingan keluarga. Dia memang tak pernah punya teman.

“Bagaimana kalau ia tak sama denganmu?”

Pertanyaan Kai semakin membuat Yoon Ae geram. “Apa maksudmu?”

Sambil memijit pelipisnya, Kai berusaha mencari kata-kata yang tepat. “Anak presiden itu… Bagaimana kalau dia tak suka bertemu dengan Anda, Yang Mulia?” tanya Kai tanpa ba-bi-bu.

Yoon Ae terhenyak, bola matanya membesar. Bodoh! Aku benar-benar bodoh! Kenapa ia tak berpikir sampai ke titik itu? Apakah ceritanya terlalu berlebihan? Apa sangat terlihat kalau aku menyukai Kyungsoo? Kedua matanya menembus milik Kai, perasaan sedih mulai menggelayutinya. Kai benar. Bagaimana kalau Kyungsoo tak suka dengan pernikahan ini? Bunga-bunga di hatinya seakan layu begitu saja. Tak ada lagi perasaan bahagia, ia tak mampu berkata apa-apa lagi.

Sang putri bangkit dari duduknya seperti orang linglung. “Aku… aku mau pulang.” Suara Yoon Ae terdengar parau saat berbalik dan berlari kecil meninggalkan Huwon sebelum Kai sempat menahannya.

Nakseonjae, Changdeok-gung.

Raja, Ratu, Tuan Jung (kakek Luhan) dan Yoon Ae sedang menikmati makan malam di Naksonjae. Kecuali Yoon Ae, yang lain sedang berunding tentang upacara minum teh hari minggu nanti. Putri hanya mendengarkan samar-samar. Ia diam seribu bahasa.

Ratu Jung sesekali melirik putrinya yang tampak murung. Ratu salah mengerti bahwa Yoon Ae murung karena pernikahan itu, padahal Yoon Ae murung karena ucapan Kai tadi. Memikirkan hal itu berulang kali sambil memakan supnya pelan-pelan, hatinya benar-benar mati rasa hanya dalam sehari.

“Putri?” panggilan Raja membuyarkan lamunan Yoon Ae. Ia segera mengelap bibirnya dan tersenyum.

“Ya, Ayah. Ada apa?”

“Kau akan masuk sekolah yang sama dengan putra presiden dan di upacara minum teh nanti Ayah harap kalian dapat berkenalan dengan baik,” Raja berkata sambil mengusap kepala Yoon Ae dengan penuh rasa sayang. Putri mahkota hanya mengangguk. Memangnya ia harus bereaksi apalagi. Ia sudah tahu semuanya dari Tuan Jo. Hanya saja Yoon Ae merasa tak tepat untuk bercerita pada ibu dan ayahnya bahwa ia…

Ah, mungkin hanya karena dia tampan.’ Yoon Ae berusaha berpikir sederhana.

“Yoon Ae, setelah ini ibu ingin bicara denganmu. Di kediamanmu,” Ratu bersuara dengan tiba-tiba. Mendadak ruang makan itu menjadi hening. Lagi, Yoon Ae hanya mengangguk sambil menyendok sisa supnya. Satu peraturan tak tertulis di istana adalah kalian tak boleh menyisakan makanan. Kalau kalian ragu, maka ambilah sedikit saja.

Kyungsoo’s House

Kyungsoo sedang membaca buku di meja belajar, membuka buku tata negaranya dengan perasaan senang. Setelah menelpon Jessica tadi, perasaannya menjadi lebih baik. Ayah Jessica adalah duta besar Korea untuk Jepang yang terpilih untuk kedua kalinya, jadi Jessica masih tinggal di Jepang bersama keluarganya. Percakapan di telepon tadi dikategorikan obrolan biasa saja, bahkan sama sekali tak menyinggung soal pernikahan negara.

Putra presiden menghafal beberapa alinea dari buku itu sambil bersenandung riang tanpa menyadari kalau Ayah sudah duduk di ranjangnya—di belakang kursi tempat Kyungsoo membaca buku. Tuan Do menatap punggung putranya dengan perasaan bersalah. Tak seharusnya ia menunjuk-nunjuk putra semata wayangnya dengan marah pada hari itu. Keputusan yang dibuatnya sudah sangat berat bagi Kyungsoo dan beliau sadar wajar jika Kyungsoo marah padanya.

Tuan Do berdeham untuk menandakan kehadirannya, membuat Kyungsoo terlonjak dari kursi dan menoleh. Ia menatap Ayah yang tersenyum padanya.

Aneh, pikir Kyungsoo.

“Maaf Ayah langsung masuk. Sepertinya kau sedang serius membaca. Tapi, ada yang harus kita bicarakan,” kata Tuan Do.

Kyungsoo membalik kursi supaya bisa berhadapan dengan Ayah. Ia mengangguk memberi isyarat bahwa ia setuju dengan pembicaraan yang akan dilakukan.

Tuan Do menghela napas pendek. “Bisakah kau lebih mendekatkan kursimu?”

Kyungsoo semakin merasa aneh dengan sikap lembut ayahnya, namun ia menurut saja. Ditariknya kursi belajar sampai hanya tersisa jarak selangkah saja di hadapan Ayah. Selama beberapa detik mereka hanya saling tatap. Kyungsoo hendak bicara lebih dulu untuk minta maaf pada ayahnya, tapi Tuan Do lebih dulu buka suara.

“Ayah minta maaf,” katanya bijak sambil menatap Kyungsoo hangat. Tatapan seorang Ayah.

Ya?” Kyungsoo terkejut bukan main. Ini adalah pertama kali Ayah meminta maaf padanya. Perasaan Kyungsoo jadi campur aduk. Tuan Do memegang kedua bahu Kyungsoo dengan erat.

“Dengar, Nak. Ayah tahu ini berat dan akan selalu berat untuk kita semua. Ayah hanya ingin kau tahu, Ayah tak pernah berusaha untuk sengaja menyakitimu. Semua yang Ayah lakukan adalah untuk kebaikan kita.  Untuk semua keluarga kita. Jika suatu hari kau mendengar alasan di balik semua keputusan kami, Ayah harap kau sudah dewasa untuk menerimanya. Jadilah pria yang baik. Ayah mohon padamu, lakukanlah keputusan Ayah dengan tulus,” Tuan Do menatap Kyungsoo dalam-dalam. Matanya mulai berair. Kyungsoo merasa seakan ada pisau yang mengorek isi perutnya ketika melihat ayahnya sendiri hampir menangis. Ayah, pria yang selalu Kyungsoo anggap sebagai sosok tegas, penuh wibawa dan juga idolanya, memintanya melakukan hal berat dengan cara seperti ini. Kyungsoo tak sanggup.

Putra presiden menunduk. Ia tak sanggup menatap ayahnya dan berharap bahwa air matanya tak ikut menetes.

“Kau mau ‘kan, Nak?”

Hati Kyungsoo benar-benar sakit. Tak disangka seberat inikah usaha Ayah untuk melindungi semua keluarganya. Kyungsoo paham dunia politik memang kejam. Kau tak akan tahu mana teman dan musuhmu yang sebenarnya. Kyungsoo menyalahkan dirinya sendiri. Kenapa ia tak bisa berpikir panjang bahwa Ayah juga menanggung beban berat. Ya, demi keluarga. Kyungsoo tak bisa menolak.

“Baik, Ayah. Aku akan melakukannya.” Kyungsoo menjawab mantap dan ia dikejutkan dengan pelukan hangat dari sang Ayah.

Yeoboseyo, Jung-nim. Ada yang ingin saya sampaikan,” kata sebuah suara di seberang telepon.

“Ada apa?” tanya Tuan Jung pada sahabatnya itu.

“Pangeran Kim menelpon saya untuk menanyakan undang-undang pernikahan. Aku tak tahu kenapa dia tiba-tiba menanyakan hal itu. Sepertinya dia tak setuju dengan pernikahan putri mahkota. Aku menghubungimu karena aku khawatir padanya. Aku takut dia meminta informasi pada orang yang salah. Kau tahu kan, Jung-nim. Organisasi itu… kita tak tahu pasti siapa saja anggota mereka.”

Tuan Jung mengernyitkan dahi. “Apa maksudmu? Pangeran Kim masih terlalu muda untuk berpikiran seperti itu.”

“Maka dari itu aku menelponmu. Jika ada orang organisasi itu tahu bahwa Jongin sepertinya tak setuju dengan pernikahan negara, aku takut akan ada sesuatu yang terjadi.” Suara di seberang berubah cemas.

Tuan Jung mengambil keputusan. “Dengar, ingat bahwa presiden dan raja menginginkan kita untuk merahasiakan penyelidikan. Awasi semuanya mulai sekarang, termasuk Pangeran Kim. Jangan sampai ia mencium sesuatu. Beri tahu aku jika anak itu mendekati organisasi!”

-tbc


Notes:

  • Sewaktu-waktu, fanfiction ini akan diproteksi atau mungkin kucabut dari FFIndo.
  • Terima kasih. ^^

©2017 Yasmine / Miss Candy

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s