SUICIDE FORUM [Part 5 : Painkiller] -1

 

Title :

Suicide Forum

 

Author :

Citra Pertiwi Putri / Citrapertiwtiw­­­­­

 

Genre :

Romance, Mystery, Suspense, Horror-Thriller

 

Main Casts :

INFINITE’s L / Kim Myungsoo

A Pink’s Son Naeun

INFINITE’s Nam Woohyun

A Pink’s Park Chorong

 

Casts :

Girl’s Day Yura / Kim Ahyoung

VIXX’s Ken / Lee Jaehwan

VIXX’s N / Cha Hakyeon

INFINITE’s Lee Howon/Hoya

INFINITE’s Lee Sungyeol

INFINITE’s Lee Sungjong

A Pink’s Jung Eunji

SNSD’s Kim Taeyeon

 

Rating :

NC17+ for so many mature contents

 

Type :

Chaptered

 

Ringkasan cerita sebelumnya :

Teka-teki tentang siapa seseorang yang bersenang-senang di balik akun DarkAngel sedikit demi sedikit telah terungkap, entah berupa petunjuk maupun pertanyaan baru yang semakin menjebak dan memusingkan.

Yang pasti, seseorang di balik akun itu telah resmi memulai permainannya, dengan Myungsoo yang (entah mengapa) menjadi sasaran utamanya. Tak hanya sekedar teror omong kosong, sang malaikat kegelapan pun menunjukkan pada Myungsoo bahwa ia adalah orang yang bisa masuk ke dalam studio lelaki itu bahkan membongkar semua foto Park Chorong yang ‘tertimbun’ selama bertahun-tahun disana. Yang membuat Myungsoo semakin merasa heran, mengapa DarkAngel begitu marah dengan apa yang ia temukan? Teror demi teror pun terus berlanjut, DarkAngel semakin intens mengirim pesan pada Myungsoo dan membuat lelaki itu disiksa rasa takut, kesal, marah, dan penasaran.

Namun hal tersebut tak membuat Myungsoo meninggalkan situs bunuh diri tersebut, ia tetap merasa betah dengan percakapan demi percakapan yang ia lakukan dengan sembilan orang lainnya di dalam forum, bahkan menjadi semakin tertarik ketika terbentuk suatu perjanjian untuk saling bertemu. Bagian menyenangkannya terletak pada keputusan mereka mengadakan pertemuan itu di apartemen Myungsoo, tentu saja disaat Sungyeol sedang tak ada di apartemen.

Bicara tentang Sungyeol, rupanya polisi muda itu bukanlah sekedar petugas biasa yang menjadi tetangga Kim Myungsoo secara kebetulan. Bahkan jika dikatakan, ia memang bukan hanya seorang petugas, ia seorang detektif yang menjalani pendidikan keras kepolisian di masa lalu dengan Kim Yura sebagai sumber motivasinya, dan kemunculannya kini sebagai tetangga dan teman untuk Myungsoo adalah langkah awalnya untuk mengungkap kebenaran atas kematian Kim Yura, seorang teman yang begitu ia hormati dan hargai. Meski kasus Kim Yura telah ditutup dan ia memperoleh hujatan dari instansinya sendiri, ia tak menyerah dan bahkan akan memulai strateginya menggunakan Jaehwan sebagai petunjuk. Tak hanya itu, ia pun merahasiakan email yang dikirimkan oleh Son Naeun pada Kim Myungsoo untuk alasan tertentu.

Pada situasi lain, dokter Son Naeun harus menelan kekecewaan karena kesempatannya untuk berjumpa secara langsung dengan pasien-tak-terduganya mungkin terhambat karena ia tak lagi bekerja di medical center untuk sementara waktu dan membuka klinik darurat di rumahnya sendiri, semua karena keluarganya tak terima dengan tindakan kasar Jaehwan kepadanya dan mengajukan tuntutan. Ia tak punya pilihan selain menurut, lagipula ia merasakan sedikit keuntungan berpisah untuk sementara waktu dengan suaminya, Nam Woohyun, yang sedang dilanda ketakutan karena sosok Kim Yura mulai menghantuinya, kehadiran mendiang putri tunggal The King itu bahkan melibatkan Chohyun, putra yang sangat ia jaga sama halnya dengan Chorong.

Dibalik itu, Woohyun tak menyadari bahwa saat ini dirinya tengah menjadi sorotan bagi Hakyeon dan staf situs bunuh dirinya karena dicurigai sebagai pengguna akun DarkAngel. Beberapa bukti telah terkumpul, mulai dari bulan lahir dan jenis kelamin, hingga penemuan mobil sang dokter yang terparkir tengah malam di depan studio milik Kim Myungsoo. Bahkan, Hakyeon dan Chorong melihat kaca jendelanya yang pecah hingga di hari berikutnya Chorong menemukan bukti baru, yakni sebotol wine yang sudah habis di dalam sana. Hal ini membuat Hakyeon dan Chorong berdebat panjang, dan Hakyeon ingin segera menyudahinya dengan terus mencari bukti baru mengandalkan semua stafnya. Apalagi, Jaehwan semakin tidak sabaran.

Dan sepertinya, sebuah misteri baru muncul ke permukaan tepat setelah Myungsoo mengadakan pertemuan dengan para member forum bunuh dirinya.

Selengkapnya lihat di :

Part 1 : Log In

Part 2 : Who is Who (full flashback part)

Part 3 : Different

Part 4 : The Beginning 1 | The Beginning 2

 

Note : Sebelum masuk ke cerita, maafkan author yang ingin sekedar sharing dulu *curhat terselubung sih sebenarnya, hehe*.

Jadi.. ini hanya sekedar pengungkapan aja sih. Akhir-akhir ini aku merasakan perasaan tidak nyaman selama menulis part ini. Kenapa? Alasannya aneh sih, gara-gara ngeliat berita yang sempat viral dan mungkin sampai sekarang masih jadi perbincangan masyarakat kita : kasus pria yang bunuh diri secara live di facebook. Dan sialnya, aku juga penasaran dan ngeliat rekaman livenya tersebut hingga moodku langsung… entahlah, gaenak aja.

Masalahnya, tiba-tiba inget kalo di ff ini juga aku memasukkan plot dimana killyourself.com mengeluarkan fitur live, yang tujuannya agar siapapun yang berniat bunuh diri disitu bisa lebih ‘ekspresif’ dan ‘gila’ dalam mengakhiri hidupnya. Dan aku beneran gak nyangka gak lama setelah ide ini muncul gitu aja dipikiranku, kasus realnya tiba-tiba beneran ada -_-

Aku kira ini bakalan jadi salah satu bagian yang menarik untuk ditulis, tapi kasus dan video bunuh diri real yang aku liat beberapa hari yang lalu bikin aku buyar dan justru takut, rekaman livenya disturbing banget imo, bikin aku tiba-tiba inget dengan proses kematian orang gantung diri yang ditulis DarkAngel di forum part 1 :

DarkAngel : Pertama, gantung diri. Aku yakin salah satu dari kalian akan mencoba cara ini. Ya.. mudah saja sih, tinggal beli tali tambang dari forum sebelah, kemudian gunakan itu untuk mengikatnya di leher kalian. Tapi biar kuberitahu, kalian perlu waktu beberapa menit untuk mati. Sebelumnya, sel-sel otak kalian dulu yang mati dan perlahan berhenti bekerja karena tak ada oksigen yang masuk. Kalian akan sesak napas dan wajah kalian akan membiru. Penderitaan itu.. mungkin kurang lebih berlangsung selama 15 menit. Tapiii… itu jika kalian memasang talinya dengan benar, lho. Kalau kepala kalian miring, dan talinya tidak kena saluran pernafasan, maka penderitaan itu akan semakin panjang, hehe. Jadi kalau kalian mau coba cara ini, kalian harus berhasil sampai mati. karena kalau gagal, sel-sel otak kalian sudah terlanjur rusak dan kalian akan hidup dengan mata buta, telinga tuli, atau bahkan cacat mental. Ujung-ujungnya kalian hanya akan merepotkan para dokter di rumah sakit.

Serem sendiri pas inget sempet nulis ini -_-

 Tapi.. aku bakal tetep professional(?), aku akan tetap tulis adegannya pada timing yang tepat. Di part ini bukan ya? Liat sendiri aja deh, selamat membaca! ^^

[as usual, part ini bakalan ada teka teki dan petunjuk bertebaran :)]

 

SUICIDE FORUM : http://www.killyourself.com | Part 5 : Painkiller (Penawar Rasa Sakit)

 

Author’s POV

 

“ Selamat Pagi, pemirsa. What’s Up Seoul on Sunday siap mengisi pagi hari Anda, bersama saya Yoon Bomi, yang akan membawa berita pagi terhangat untuk semua penduduk Korea Selatan, khususnya Seoul.

Jika minggu pagi biasanya diisi dengan berita seputar olahraga dan kuliner, maka pagi ini izinkan What’s Up Seoul on Sunday menyajikan berita yang berbeda. Berita pagi ini akan saya buka dengan isu yang tentu semakin hari semakin tak asing bagi warga Korea Selatan. Ya, bunuh diri. Kasus bunuh diri terjadi untuk kesekian kalinya. Kini, korbannya adalah seorang gadis belia.

Hari ini, tepat pada pukul 04.45 pagi, petugas kepolisian metro Seoul menemukan seorang gadis terkapar sendirian dalam keadaan kejang hebat dan pergelangan tangan tersayat tepat di belakang minimarket The Eight. Gadis tersebut kemudian dilarikan ke Son’s Medical Center untuk segera ditindak, namun naas, nyawanya tak terselamatkan setelah beberapa menit tiba disana. Dokter yang menangani memberikan keterangan bahwa gadis itu telah tersiksa selama berjam-jam berada di luar melawan udara dingin dan rasa sakit akibat urat nadinya yang terputus. Sampai saat ini, pihak kepolisian maupun pihak medical center masih merahasiakan identitas dan detail mengenai korban karena menunggu persetujuan keluarga. What’s Up Seoul on Sunday akan terus melakukan follow-up atas kasus ini…”

 

“ Huh?”

Myungsoo terbangun dari tidurnya dan tangannya langsung bergerak liar mencari-cari remote televisi yang ia harap berada di atas tempat tidurnya. Bukan untuk mengecilkan volumenya karena terganggu, lelaki itu justru semakin ingin mendengar berita yang berhasil membuatnya mendadak terbangun.

Ia terlambat, berita telah berpindah ke topik lain. Namun ia bisa bersyukur karena lupa mematikan televisinya tadi malam, setidaknya ia bisa menangkap secuil informasi dari berita bunuh diri barusan.

“…minimarket The Eight..”

Mata elangnya kemudian menoleh ke arah satu kantong plastik berisi cumi-cumi kering yang terletak di meja makannya bersama dengan beberapa botol soju yang sudah kosong, sisa dari pertemuannya dengan teman-teman forumnya semalam.

The Eight minimarket. Tertulis disana.

***

 

“ Keluarga Oh Haesook menghubungi pihak kepolisian dan mereka setuju dengan autopsi, tadi petugas menghubungi kami dan mengatakan keluarganya meminta autopsi eksternal saja. Mereka juga minta dilakukan dengan segera. Anda harus terlibat sebagai dokter ahli karena Anda dokter yang pertama kali menangani korban. Tim forensik menjadwalkan autopsi dua jam kedepan di—”

“ Ya.. ya.. aku tahu dimana ruangannya. Terimakasih.”

“ Kalau begitu saya permisi, dokter Nam.”

Woohyun menghela nafas dengan berat setelah menerima laporan dari asistennya. Setelah melirik jam sekilas, ia bersandar sejenak di kursi kerjanya untuk beristirahat sejenak, ia sedikit lelah dan suntuk setelah melayani pertanyaan beberapa wartawan yang ingin meliput kematian pasien yang baru saja ia tangani.

“ Maafkan aku, Woohyun-ah.”

Suara seorang wanita muncul bersamaan dengan aroma kopi. Woohyun menegakkan duduknya lagi ketika sadar bahwa Chorong datang menemuinya. Sesuatu yang sangat jarang terjadi. Biasanya gadis itu akan menghindarinya sebisa mungkin selama jam kerja di medical center.

“ Maaf apa?”tanya Woohyun sembari menyesap kopinya, sedikit jual mahal. Chorong masih salah tingkah.

“ Seharusnya.. bukan kau yang bertanggung jawab atas pasien bunuh diri itu. kau kan tidak piket tadi malam. Ini pasti merepotkanmu, apalagi kudengar kau harus melakukan otopsi—“

“ Tidak sama sekali. Piket tidak piket, itu memang tugasku sebagai dokter. Kenapa harus merasa bersalah?”

“ Bagaimanapun juga aku harus minta maaf.”

“ Apa Howon masih menghilang?”

Chorong menganggukkan kepalanya, ia masih merasa sangat tak nyaman. Ia takut sesuatu yang buruk terjadi setelah perkelahian Woohyun dan Howon semalam. Karena mereka tak sekedar adu jotos, Woohyun telah terang-terangan mengungkap hubungan kelamnya dengan Chorong di depan Howon.

“ Kalau dia muncul nanti, tolong minta maaf padanya.”

“ Siapa? Aku? Minta maaf? Haha.”

Sudah kuduga. Batin Chorong. Selain karena masih kesal, Chorong tahu Woohyun memang bukan tipe pria yang suka mengalah.

“ Kita akan terancam kalau kau tidak minta maaf. Bagaimana jika Howon menyebarkannya di lingkungan medical center dan sampai ke telinga keluarga dokter Son atau mungkin The King? Kita akan hancur, Nam Woohyun.”

“ Huh.. memang aku bilang apa sih kemarin malam?” Woohyun masih saja tertawa sinis, “…aah.. apa aku bilang bahwa kita memang punya hubungan? Aku yang memperkosamu dan bayi yang kau lahirkan adalah anakku? Haha.. mengerikan sekali kalau sampai tersebar, tapi apakah ada buktinya aku bicara begitu?”

Dasar bajingan, ia sedang bangga dengan dosa-dosanya? Jika dia bukan Nam Woohyun mungkin Chorong akan menamparnya. Tapi lelaki itu benar juga, meski Chorong merasa tidak benar saja jika Woohyun tak meminta maaf pada Howon, apalagi semalam ia yang menghajar Howon duluan, yang notabene tidak salah apa-apa. Bagaimana cara membujuknya kalau sudah begini?

“…tidak ada CCTV di ruang istirahat dokter, tidak ada perekam atau semacamnya disana saat aku bilang begitu pada Howon. Jadi untuk apa aku takut dia menyebarkannya? Tidak akan ada yang percaya.”

“ Tapi tetap saja—“

“ Aku masih punya banyak hal untuk dipikirkan, jadi sudahlah.”

Woohyun berdiri dan mengambil kunci mobilnya, bersiap untuk pergi.

“ Naeun?”tanya Chorong singkat.

“ Ya. Aku masih belum tahu kabarnya.”

“ Tolong katakan kau sekhawatir ini hanya karena tak ingin keluarga dokter Son menyalahkanmu lagi, bukan karena kau benar-benar memperhatikan istrimu.”

“ Aku juga khawatir karena kau merujuk Kim Myungsoo padanya, itu sangat berbahaya. Kau tidak ingat itu?”

Chorong mematung untuk sesaat. Apa ia benar-benar sudah ketahuan? Jika memang demikian, ini akan menjadi pertama kali baginya kalah debat dari Woohyun.

“ Bagaimana kau tahu tentang rujukan itu?”

Woohyun tertawa sinis dengan agak keras.

“ Hahaha. Jadi itu sungguhan? Semalam aku hanya menebak-nebak saja, tapi melihat reaksimu.. sepertinya itu benar.”

“ Menebak-nebak?”

“ Aku tidak bodoh, Park Chorong. Kau berurusan dengan perawat Jung Eunji, dia asisten Naeun. Apa lagi urusan kalian jika bukan tentang Myungsoo? Permainanmu kurang mulus kali ini.”

“ Yah.. jadi benar aku ketahuan.”

“ Apa kau sadar telah melakukan sesuatu yang berbahaya? Apa yang kau harapkan jika Naeun benar-benar sudah tahu Myungsoo masih hidup? Kau mau menghancurkan aku?”

Woohyun mulai serius, ia bahkan meletakkan kunci mobilnya lagi. Chorong sedikit kelu untuk memberi penjelasan. Meski ia melakukan sesuatu yang benar, ia tetap dianggap salah karena ia berada di pihak Woohyun.

“ Apa salahnya membiarkan mereka berdua bertemu lagi? Lagipula.. Myungsoo tidak ingat apa-apa tentang Naeun.”

“ Tapi Naeun ingat, dia ingat segala kenangannya dengan Myungsoo sampai ia menjadi penggila alkohol. Bisa kau bayangkan bagaimana efeknya jika dia benar-benar mendapati bahwa selama lima bulan lebih ia ditipu tentang kematian Myungsoo?”

“ Jika bukan pada Myungsoo, pada siapa kau akan membuang Naeun nanti? Ketika kau benar-benar sudah mendapatkan yang kau mau dari keluarganya, kemana kau akan melempar Son Naeun? Jangan bilang kau akan selamanya menjadi suaminya.”

“ Aku tidak peduli. Setelah aku memegang penuh kepemilikan medical center ini, urusanku dengan Son Naeun dan keluarganya selesai. Aku akan menceraikannya dan membiarkan keluarganya menyesal seumur hidup karena telah mempercayaiku.”

Kalimat jahat itu. Chorong sudak muak dan semakin tak mengerti dirinya sendiri, mengapa ia bisa mencintai lelaki yang bisa mengeluarkan kata-kata sekejam itu?

“ Apa kau yakin itu akan tercapai? Berapa lama lagi aku harus menunggu?”

Woohyun nampak melunak, tangannya meremas bahu Chorong dan menatap gadis itu tajam.

“ Segala tujuanku akan hancur jika Myungsoo masuk lagi dalam kehidupan Naeun, jadi jangan berbuat macam-macam. Jangan tanya berapa lama kau harus menunggu karena kau sendiri yang selalu menghambat rencanaku. Mari kita bekerjasama, Chorong-ah. Bukankah itu yang harus dilakukan dua orang yang saling mencintai?”

“…”

Chorong tak memberikan jawaban meski kata-kata bujukan Woohyun selalu melemahkan batinnya. Mengapa ia harus berada dalam posisi sesulit ini? Mengapa Woohyun selalu berhasil membuatnya goyah?

“…Chorong-ah, aku memberimu kesempatan untuk menarik rujukan itu, sebelum Naeun benar-benar bertemu Myungsoo. Aku baik, kan?”

Sekarang lelaki itu mencairkan suasana. Chorong tahu itu hanya strategi agar ia mau menurut, tapi anehnya ia tetap saja luluh. Gadis itu menganggukkan kepalanya pelan dan tersenyum kecil, tanda menerima perdamaian dan tak ingin memperpanjang masalah.

“ Baiklah.”

Woohyun tersenyum puas.

“ Tidak biasanya kau langsung mengalah. Kau tidak bohong, kan?”

Chorong menggeleng, “ Anggap saja ucapan terimakasih karena kau sudah membantuku menangani korban bunuh diri itu.”

“ Tapi dia meninggal, kita berdua gagal menyelamatkannya.”

“ Itu bukan salah kita, kau sendiri yang bilang dia terlambat dibawa kesini. Aku berterimakasih karena kau mau mengurus kematiannya sampai akhir, seharusnya itu tanggung jawabku atau Howon yang piket tadi malam.”

“ Tidak apa-apa. Sesama rekan dokter harus saling membantu, kan?”

Chorong tertawa kecil. Rasanya menggelikan mendengar Woohyun berbicara formal.

“ Beritahu aku hasil otopsinya nanti.”

“ Oke. Otopsinya akan dimulai dua jam kedepan, sekarang aku harus pulang dulu, terimakasih kopinya.” Woohyun mengecup bibirnya singkat dan meraih kunci mobilnya lagi, keluar duluan dari ruangan dengan sedikit berjalan cepat.

Chorong mematung sejenak, dengan perasaan bimbang mengeluarkan ponsel dari saku jas putihnya, mencari-cari kontak Eunji dengan jari berkedut.

 

“ Haruskah aku menarik rujukan itu?”

***

 

“ Ugh..”

Dengan susah payah, Myungsoo berguling dan mendudukkan dirinya di atas kursi roda sembari terus mengumpulkan nyawanya. Semalam ia sempat mabuk ringan karena dipaksa menenggak soju. Namun ia termasuk kuat dalam menoleransi alkohol, jika tidak, mungkin pagi ini ia masih merasa linglung dan tidak sepenuhnya sadar seperti sekarang.

Setelah membersihkan diri dengan sedikit terburu-buru di kamar mandi, kursi rodanya segera melaju ke depan komputer, membuka forumnya dengan rasa penasaran.

Benar saja. Ia sudah tertinggal beberapa chat.

 

Yesterday_a : HEI APA KALIAN MELIHAT WHAT’S UP ON SEOUL?

Yesterday_a : BERITA PERTAMANYA

Anonim1 : AH BARU SAJA AKU BARU MAU BILANG INI JUGA!

XXX_Lee03 : sudah! Sudah~ kenapa

Lmao_r : kenapa? Bukannya berita bunuh diri sudah biasa setiap hari? -_-

Sungwonapplecandy : yang berbeda cuma ini pertama kalinya presenter Bomi membawakan berita bunuh diri, lol. Biasanya dia presenter topik2 yg ceria

6969 : talkshownya jg membahas situs bunuh diri ini terus, sprtinya dia sedikit terobsesi

Anonim1 : fokus! Fokus!

Anonim1 : bukan presenternya. Maksudku, korban bunuh dirinya. Tidakkah kalian memikirkan seseorang yg kita kenal?

Yesterday_a : NAH!

Manonfire_4 : aku? Lol

6969 : ^berhenti bercanda, sepertinya mereka serius

Sgyu89 : KORBANNNYA DIBAWA KE MEDICAL CENTER

Sgyu89 :aku baru bangun dan dengar pembicaraan bbrp org perawat disini

Sungwonapplecandy : seorang gadis kan

EjJung_K93 : apa yang aneh

XXX_Lee03 : kau benar anonim-ssi, aku memikirkan seseorang yang kita kenal.

XXX_Lee03 : satu2nya gadis yg ikut dalam pertemuan tadi malam karena EjJung_K93 tidak ikut.

Manonfire_4 : OHaesook96?????

Lmao_r : Haesook? Tidak mungkin.

Sungwonapplecandy : um.. tapi dia belum muncul2 jg daritadi, aku jd khawatir

Lmao_r : Kim Myungsoo jg belum muncul sejak tadi, apa kita bisa bilang dia mati? Lol

Yesterday_a : korbannya seorang gadis -__-

Anonim1 : so.. am I the one who thinks it’s Haesook?

XXX_Lee03 : aku msh ragu

EjJung_K93 : bagaimana mungkin itu Haesook

Manonfire_4 : dia baik2 saja tadi malam

Sgyu89 : oh man aku jd penasaran

Lmao_r : tidak tidak mungkin dia

6969 : calm down guys

6969 : penyebab kematiannya tdk cocok dgn keberadaan dia tadi malam. Jadi bukan dia.

6969 : yg mati di berita itu katanya tak tertolong karena sudah berjam-jam tersiksa di luar. Kemarin malam kita melakukan pertemuan jam 11 malam sampai jam 4 pagi. Jika 05.18 pagi dia sudah meninggal, itu artinya dia tidak tersiksa selama berjam-jam. Jadi bukan Haesook.

Lmao_r : nah, masuk akal

Yesterday_a : Haesook pasti tertawa membaca pembicaraan kita ini hahaha

Sungwonapplecandy : bagaimana dgn minimarketnya? Dia beli makanan dan minuman untuk kita di The Eight, bukan?

Anonim1 : nah, itu jg yg kupikirkan

EjJung_K93 : dia tdk kelihatan aneh kan kemarin malam? Apa dia bilang akan bunuh diri dalam waktu dekat?

XXX_Lee03 : tidak

XXX_Lee03 : dia berbaur dgn kami

XXX_Lee03 : tapi dia tdk melepas maskernya, katanya malu dgn wajahnya yang gagal oplas

Yesterday_a : tidak ada yang salah dengan itu, kan?

 

Myungsoo menggigit bibirnya. Mengapa ia berperasaan tak nyaman?

Klik. Klik.

Dibanding bergabung dalam pembicaran, lelaki itu mencoba membuka profil Haesook, berniat membaca status-statusnya. Mungkin ada sesuatu yang bisa digunakan untuk meyakinkan penghuni forum agar mereka tidak khawatir.

Atau mungkin sebaliknya.

 

“ Ada apa dengannya?” Myungsoo terkejut ketika membuka profil akun OHaesook96, teman perempuan forumnya yang semalam datang pertama ke apartemennya itu menuliskan status-status yang menyudutkan seseorang.

Seseorang yang Myungsoo tahu.

 

Status : 10 jam yang lalu

OHaesook96 – MELIHAT WAJAHMU MEMBUATKU SEMAKIN YAKIN MENINGGALKAN DUNIA INI. DUNIA INI KEJAM DAN TIDAK ADIL. Bagaimana mungkin ada seorang malang dan jelek seperti aku dan wanita cantik, seorang dokter, populer, dan kaya raya sepertimu tinggal di dunia yang sama? I HATE YOU BITCH!

 

Status : 11 jam yang lalu

OHaesook96 – DOKTER SON NAEUN, AKU YAKIN KAU OPERASI PLASTIK!!! Wajahmu mengintimidasiku, brengsek!!!

 

Status : 12 jam yang lalu

OHaesook96 – APA YANG SUDAH KAU LAKUKAN DI KEHIDUPANMU SEBELUMNYA? KENAPA KAU HIDUP TERLALU BERUNTUNG? AKU MEMBENCIMU! SHIT! MENGAPA KITA HARUS BERTEMU!?

 

“ Dokter Son Naeun? mengapa dia terlibat?” Myungsoo tak mengerti, namun tangannya segera aktif membuat capture status-status Haesook untuk kemudian ia bagikan pada forum.

 

Kim_Myungsoo : [mengirim foto]

Kim_Myungsoo : aku tidak bilang aku percaya yg mati adalah Haesook, tapi lihat apa yg dia tulis. Apa pendapat kalian?

Anonim1 : WTF

Lmao_r : dokter Son Naeun????

6969 : WOW apa yg terjadi?

Yesterday_a : kurasa ia bertemu dokter Son irl dan harga dirinya terluka. Pasti dokter Son benar2 cantik di kehidupan nyata

Sungwonapplecandy : dia memang benar2 cantik tapi ini keterlaluan, dia ditakdirkan cantik so what’s wrong???

Sgyu89 : seorang buruk rupa miskin yg gagal oplas bertemu dgn seorang dokter kaya raya yg super cantik, BOOM!

Manonfire_4 : Haesook isn’t dead, her self esteem is dead lol

XXX_Lee03 : membenci seseorang karena dia cantik, how pathetic

EjJung_K93 : wait.. dokter Son Naeun? dimana dia bertemu Haesook?

Kim_Myungsoo : idk, hanya itu yg kudapatkan

DarkAngel : Ouch, kasar sekali status-statusnya 😦

Anonim1 : ^bisakah kau tidak muncul disaat2 seperti ini, sialan

Lmao_r : kami bisa lebih kasar jika kau tidak pergi dari sini, DarkAngel-ssi 🙂

Sungwonapplecandy : aku kesal ugh

Yesterday_a : ABAIKAN SAJA DIA

 

“ Mungkin kalian bisa mengabaikannya. Tapi aku tidak..” batin Myungsoo, ia ragu apakah harus offline atau tetap memantau pembicaraan di grup jika malaikat kegelapan itu sudah muncul. Karena biasanya setelah bicara aneh di forum, akun sinting itu akan mengirimi Myungsoo pesan pribadi yang mengerikan.

Ting!

Benar, kan? Satu pesan pribadi masuk ke dalam akun Myungsoo. Seperti biasa, lelaki tampan itu menarik nafas panjang untuk sejenak mempersiapkan mentalnya.

 

DarkAngel : Good Morning 🙂 daripada mengkhawatirkan Haesook, sebaiknya khawatirlah pada dirimu sendiri.

***

 

Ckit.

Woohyun menghentikan mobilnya di lobi utama kediaman keluarga dokter Son. Suasana rumah keluarga penguasa sektor medis korea selatan itu nampak terasa berbeda. Beberapa mobil mewah terparkir di halaman, sepertinya hampir seluruh anggota keluarga besar mereka sedang berada di tempat ini.

Benar. Baru saja Woohyun melangkahkan kakinya memasuki ruang utama, pemandangan yang pertama kali ia lihat adalah meja pertemuan besar yang diisi sekitar dua puluh orang dewasa berpakaian formal kerja, dengan jas dokter yang masing-masing dipegangi oleh staf keamanan yang berdiri mengelilingi meja.

“ Selamat pagi. Maaf aku datang terlambat.”

Untungnya Woohyun sudah terbiasa dengan situasi formal ini, ambisi besarnya menjadi penguasa medical center membuatnya terpaksa harus belajar juga kebiasaan kaku keluarga dokter Son.

“ Woohyun-oppa..!”

Lelaki itu terkejut, menyadari sosok Naeun yang sejak tadi duduk di tengah-tengah ayah dan ibunya tiba-tiba berdiri, berlari kecil dan memeluknya erat-erat kemudian menangis di dadanya.

“ Hei.. ada apa!?”

Entah apa yang berkecamuk dalam pikiran Woohyun saat ini, apakah ia lega karena Naeun ternyata sudah berada disini dan tak lagi menghilang, atau ia harus memikirkan berbagai spekulasi buruk karena gadis itu tiba-tiba bertingkah seperti seorang istri yang sedang ketakutan dan memerlukan suaminya? Apa Naeun benar-benar sedang punya masalah?

“ Maaf.. maafkan aku, oppa.. seharusnya kemarin malam aku izin padamu untuk pergi sendirian. Aku menyesal.. aku menyesal jalan-jalan sendiri dan membuatmu khawatir dan mengira aku menghilang.. maafkan aku, oppa.. maafkan aku..”ia terisak dan bicara dengan tersendat-sendat, airmatanya membanjiri kemeja Woohyun.

Jadi itu? Woohyun tak menyangka Naeun akan meminta maaf dengan cara seperti ini. Rasanya aneh. Apa ia hanya sedang pencitraan di depan keluarganya? Tapi aktingnya terlalu bagus, ia benar-benar menangis dan gemetaran.

“ Baiklah.. tidak apa-apa. Yang penting kau pulang dengan selamat.”jawab lelaki itu seadanya dan berusaha melepaskan dekapan erat Naeun, namun gadis itu masih belum mau melepaskannya.

“ Maafkan aku.. aku menyesal.. aku menyesal..”

“ Apa yang kau sesali, huh?”

“ Dokter Nam, kau menangani seorang gadis yang mati bunuh diri tadi pagi, kan?”tanya salah seorang anggota keluarga Naeun, seorang dokter penyakit dalam.

“ Ya. Dia tidak selamat karena terlambat dibawa ke medical center.”jawab Woohyun, dengan Naeun yang masih memeluknya erat. Sial, ia benar-benar risih, ini tidak biasanya.

“ Namanya Oh Haesook, bukan?”tanya salah satu dari mereka lagi, kali ini seorang dokter mata.

“ Ya, namanya Oh Haesook. Bagaimana kalian tahu? Namanya bahkan belum dipublikasikan di media oleh polisi.”

“ Naeun yang memberitahu kami.”

“ Apa?!”

Naeun terdengar mengeraskan tangisannya.

“ Makanya aku menyesal.. aku menyesal..”isaknya, “…aku bertemu dengan nona Haesook dua hari berturut-turut di sebuah minimarket saat aku membeli wine murah, dan kami.. kami memang sempat cekcok karena masalah kecil disana. Tapi percayalah, bukan aku yang memulai. Hanya saja.. aku tetap takut ia mati bunuh diri karena aku. Aku takut.. oppa.. apa yang harus kulakukan? Ya Tuhan aku benar-benar takut..”

Woohyun tersentak. Masalah apa lagi sekarang?

“ Jadi kau bertemu dengan gadis bunuh diri itu? apa masalah kalian di minimarket?”

“ Seharusnya bukan itu yang kau pertanyakan, dokter Nam. Seharusnya kau sadar ini adalah salahmu yang membiarkan Naeun pergi dan membeli wine murah sendirian malam-malam.”potong dokter Son, “…kami sudah mendengar apa masalahnya dan putri kami tidak bersalah, itu hanya masalah konyol.”

“ Hanya saja aku takut jika aku terseret dalam kasusnya..”sambung Naeun dengan raut wajah yang masih sedih, dibarengi anggukan keluarganya.

“ Karena kami anggap ini salahmu yang sudah menelantarkan Naeun kemarin malam, kami ingin kau bertanggung jawab, kau harus melakukan sesuatu agar Naeun tidak menjadi incaran wartawan lagi, atau bahkan polisi meski hanya sebagai saksi. Kami tidak ingin Naeun terlibat.”jelas dokter Jung, ibu Naeun.

“ Apa yang harus aku lakukan? Aku hanya dokter yang menanganinya, aku tidak berurusan dengan kasusnya—“

“ Kau harus ikut dengan staf kami untuk menyogok polisi yang menyelidiki kasus ini. Kami tahu, sebenarnya ini bukan tugasmu, anggap saja hukuman karena telah menelantarkan Naeun kami.”

Rahang Woohyun mulai mengeras, kesal.

“ Tapi ini bukan tugasku, aku masih punya banyak pekerjaan yang—“

“ Setelah kalian pisah rumah karena Naeun bekerja di klinik darurat, seharusnya kau harus lebih perhatian pada istrimu. Kenapa kau malah tidak menemuinya dan tidur di medical center?”salah satu anggota keluarga mulai menyerangnya.

“ Jangan-jangan rumor hubungan gelapmu dengan dokter Park Chorong itu benar.”salah satu dari mereka menyahut, membuat Woohyun nyaris keringat dingin.

Keluarga sialan. Jika bukan karena medical center kalian yang menggiurkan, aku tidak sudi menjadi bagian dari kalian. Batinnya.

“ Jangan bawa-bawa dia.”jawab lelaki itu cepat, “…baiklah, kuanggap ini salahku. Aku minta maaf, dan aku akan turuti permintaan kalian. Menyogok polisi bukan masalah besar.”

“ Kau juga harus menyogok pemilik minimarketnya, dia melihat aku dan nona Haesook. Aku takut dia menyebut namaku saat diinterogasi polisi.” Naeun mengangkat kepalanya dan menatap Woohyun dalam-dalam.

 

“…tolong lindungi aku ya, please.”gadis itu bahkan ber-aegyo, membuat Woohyun ingin meledak karena terlalu kaget dengan tingkahnya hari ini.

***

 

“ Hei, detektif jangkung. Bangun!”

DUK!

“ Aw!”

Sungyeol tersentak ketika satu gulung koran menampar bokongnya, kepalanya refleks menghantam ujung meja kerjanya. Dalam keadaan setengah sadar ia meringis kesakitan sembari menahan rasa pegal di sekujur tubuhnya yang semalaman terbaring di lantai kantor.

“ Selamat pagi, kapten.”ucapnya dengan susah payah, sang atasan yang membangunkannya masih mau berlaku kejam, ia meraih satu map berisi berkas kasus dan melemparnya pada Sungyeol.

“ Sudah dua malam berturut-turut kau tidur di lantai kantor, tapi sayangnya aku sama sekali masih belum niat memenuhi keinginanmu untuk mengajukan penyelidikan ulang atas kasus Kim Yura. Jadi sebenarnya yang kau lakukan ini sia-sia.”

“ Yah.. yah aku tahu.. kau sudah sering mengucapkan kalimat itu sampai aku hafal.”jawab Sungyeol santai, “…berkas kasus apa ini, kapten?”

“ Bunuh diri. Selidiki sana.”

Mainstream. Tidak mau.” Sungyeol hendak meletakkannya lagi ke meja, namun sang kapten melempar mapnya lagi ke depan wajahnya.

“ Sebelum menyelidiki kasus Kim Yura yang menurutmu rumit dan misterius, urus dulu kasus kecil seperti ini, bodoh! Ini lebih bermanfaat dan mengesankan aku daripada tidur di lantai kantor.”

Sungyeol tertawa licik, “ Kalau aku berhasil mengusut kasus ini, kau akan mengizinkan aku melakukan penyelidikan ulang untuk kasus Kim Yura. Bagaimana? Deal?

“ Kau pikir kau siapa mengajakku kompromi? Cepat selidiki kasus ini dan enyah dari kantor!”

Setelah menggetuk kepala Sungyeol dengan mapnya, sang kapten pergi karena malas berdebat lagi.

Sungyeol bangkit dari lantai dan menghela nafas kesal, sembari bersiap untuk pergi, ia membuka berkas kasusnya.

“ Kejadiannya baru tadi pagi? Wow. Gadis muda macam apa yang bunuh diri di belakang minimarket..”

“ Kunjungi minimarket TKP dan interogasi pemiliknya!!”teriak sang kapten yang masih mengawasinya dari jauh.

“ Iya iya aku tahu!!!”Sungyeol balas berteriak dan langsung meraih kunci mobil dinasnya, melangkah gontai menuju pintu keluar.

Hingga saat menghirup udara pagi, ia teringat akan sesuatu.

 

 “ Myungsoo pasti sedang sangat bosan. Apa aku ajak saja dia menemaniku bekerja?”

*

 

“ Ancaman apa lagi sekarang?”

Myungsoo masih mematung di depan komputernya, membaca berulang-ulang pesan dari DarkAngel yang baru saja ia terima dan memilih untuk tidak membalasnya. Ia semakin larut dalam pembicaraan dalam forum yang mendiskusikan Haesook, gadis itu memang belum muncul juga dalam forum dan membuat semua member merasa khawatir.

“…padahal dia tidak kelihatan aneh waktu pertemuan kemarin..”pikir lelaki itu, tangannya kini mengarahkan mouse menuju tab baru, berniat memutar ulang rekaman live yang sempat ia lakukan dengan teman-teman forumnya saat pertemuan kemarin.

 

Kilas balik, 5 jam yang lalu . . .

Siaran langsung : http://www.killyourself.com/account/Kim_Myungsoo

Title : First Meeting! (bukan video bunuh diri, lol)

“ Apa kita sudah mengudara?”

“ Sudah!”

Myungsoo menatap layar komputernya yang kini mengaktifkan webcam dan merefleksikan dirinya dan teman-teman forumnya yang tengah berkumpul. Setelah diajari mengakses deep web, ia dan teman-teman forumnya sepakat untuk mencoba fitur live yang baru saja dikeluarkan oleh pengembang web bunuh diri tempat mereka berkumpul.

“ Oke.. jadi.. aku saja yang bicara duluan? Baiklah.. hari ini.. di apartemenku.. untuk pertama kalinya kami yang tergabung dalam salah satu forum memutuskan untuk bertemu. Mungkin yang menonton mengharapkan bunuh diri massal, tapi sayangnya, kami masih sedikit bersabar untuk itu. kami menggunakan waktu hidup yang sia-sia ini untuk saling berkenalan terlebih dahulu.”

Sgyu89 : kalian benar-benar berkumpul? Daebak!

“…woah, ada yang menonton dan berkomentar. Ah.. ternyata penghuni forum yang tidak bisa datang. Halo, Sgyu89-ssi!”

Sgyu89 : perkenalkan diri kalian. Aku melihat wajah2 baru selain 6969 lol

EjJung_K93 : I’m watching you guys.. sambil bekerja. Perkenalkan diri kalian!

Myungsoo mempersilahkan satu per satu teman-temannya untuk memperkenalkan diri serta menyebutkan alasan mereka

“Aku sungwonapplecandy, nama asliku Cha Sungwon. Kenapa aku ingin mati muda? Aku muak dengan skripsi.”

“Aku Manonfire_4, nama asliku Jun Wonsik. Alasanku ingin bunuh diri.. aku gagal untuk debut menjadi idol, uang penaiknya tinggi. Shit! Padahal aku berbakat!”

“Haha. Kalau aku.. pemilik akun Lmao_r, nama asliku Song Hyungwon. kadang-kadang aku merasa ingin mati cepat karena lingkunganku mendiskriminasi penderita HIV/AIDS. Aku lega teman-temanku disini mau menerimaku dengan baik, meski mereka menolak untuk berbagi makanan dan minuman denganku.”

“Aku adalah 6969. Nama asliku Jeongin. Alasanku ingin mati mungkin terlalu konyol bagi kalian, tapi aku benar-benar sakit hati ditinggal oleh mantan kekasihku.”

“ Hi! Aku si pembuat forum yang mempersatukan kita, XXX_Lee03. Nama asliku Lee Gun. Mereka semua tahu aku ingin mati karena orangtuaku bercerai. Aku sedang mengulur-ulur waktu untuk tidak bunuh diri, berharap mereka mau rujuk.”

“ Aku si pemilik akun Anonim1, aku tidak akan menyebut nama asliku. Selamanya aku adalah anonim. Maafkan aku. Alasanku ingin bunuh diri? Hmm.. aku pernah dipenjara dan karna riwayat sebagai seorang narapidana, aku jadi sulit mendapatkan pekerjaan. Jadi.. ya begitulah.”

“Okay, Oh Haesook?”Myungsoo mempersilakan satu-satunya perempuan yang ada di tengah-tengah mereka. Gadis itu hanya mengunci mulutnya sejak tadi.

“Ah.. aku.. aku pemilik akun OHaesook96, aku ingin bunuh diri karena.. aku gagal operasi plastik, dan aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk memperbaiki wajahku. Karena tidak mungkin ada laki-laki yang mau denganku, lebih baik aku mati saja.”

Para lelaki yang berkumpul sempat saling tatap, namun berpura-pura menjadi pendengar yang baik.

“Tapi kau punya mata yang indah, Haesook-ssi!” komentar Sungwon.

“ Kulitmu juga putih seperti susu.”sahut Gun.

 “Bodimu juga bagus!”tambah Wonsik, membuat semua tertawa. Tapi dia benar, Myungsoo setuju dengan hal itu. Haesook tidak seburuk yang ia pikirkan.

“ Perlihatkan wajahmu pada kami, kami janji tidak akan tertawa!”pinta anonim, namun Haesook buru-buru menggeleng dan mengalihkan pembicaraan.

“ Terakhir kau, Kim Myungsoo! Perkenalkan dirimu.”ucap gadis itu.

“ Pemilik apartemen yang tertampan di antara kita semua.”komentar Jeongin, Myungsoo tertawa kecil, wajahnya mendekat pada webcam beberapa sentimeter.

“ Hai. Kim Myungsoo disini. Siapapun yang menonton, hubungi aku jika kalian kenal aku. Aku lupa dengan segala yang pernah terjadi di masa laluku, dan itu membuatku tersiksa. Belum lagi kaki lumpuh ini.. sepertinya rasional saja jika aku ingin mati.”

“ Kau lebih ingin tahu apa yang kau lupakan atau kau lebih ingin mati?” tanya Haesook tiba-tiba, Myungsoo menoleh ke arah gadis itu dan tersenyum tipis.

 

“Jika ada jalannya, tentu aku lebih ingin mengetahui apapun yang telah aku lupakan.”

“ Sesakit apapun itu?”

“ Ya. Sesakit apapun itu.”

*

 

“ Apa benar kau yang mati, Haesook-ssi?” Myungsoo kembali me-replay video live itu karena masih merasa penasaran.

TOK! TOK! TOK!

Lelaki tampan itu tersentak. Seseorang mengetuk pintu apartemennya dari luar.

“ S…s..siapa!?” tanyanya gugup. Sialan, ini karena pesan dari DarkAngel.

“ Sungyeol.”

“ Oh! Sungyeol..”

Myungsoo panik, ia buru-buru mematikan videonya dan kebingungan karena apartemennya masih sangat berantakan. Jika ia membiarkan Sungyeol masuk, tentu saja polisi itu akan curiga mengapa begitu banyak remah-remah makanan dan botol bekas soju di dalam apartemennya.

“ Ada apa!?”lelaki lumpuh itu sedikit berteriak, meski merasa tidak sopan.

“ Buka dulu pintunya!”

“ T..tidak bisa!”

“ Kenapa?”

“ Aku..”

“ Apa?”

“ Aku.. sedang telanjang.”

“ HAHAHA! Sesama laki-laki kenapa harus malu? Apa kau kesulitan memasang celana atau bajumu? Biar kubantu!”

“ Tidak..tidak apa-apa. Kau baru pulang dari kantor?” Myungsoo mencoba basa-basi, ia tak akan membiarkan Sungyeol masuk.

“ Ya.”

“ Lalu ada apa mengunjungiku?”

“ Apa dokter Chorong sudah datang? Aku mau mengajakmu pergi.”

Pergi? Entah mengapa Myungsoo selalu excited jika diajak bepergian. Ia benar-benar masih kurang hiburan.

“ Belum sih. Tapi bisa saja dia datang terlambat, semalam dia piket, mungkin dia lelah.”

“ Jadi kau mau ikut denganku?”

“ MAU! MAU!!”

“ Mudah sekali diajak, aku bahkan belum bilang kita mau kemana.”

“ Aku tidak peduli mau kemana, yang penting keluar dari sini.”

“ Haha. Kalau begitu cepatlah keluar.”

Setelah mematikan komputer dan mencoba menenangkan diri dari pesan teror DarkAngel, Myungsoo mengarahkan kursi rodanya ke pintu dan membukanya, setelah keluar, dengan cekatan –dan sedikit repot karena ia berada di kursi roda-, ia segera menutup pintunya lagi dan menguncinya, tak membiarkan Sungyeol mengintip barang sedikit ke dalam.

“ Hai.”sapanya basa-basi pada lelaki muda berseragan polisi yang bersandar di dinding koridor, menungguinya.

“ Wah. Kau benar-benar bisa memasang pakaian sendiri. Hebat.”puji Sungyeol, memperhatikan sweater abu-abu dan denim selutut yang dikenakan Myungsoo, “…baju gelandangan seperti ini saja bisa bagus jika kau yang pakai. Aku heran.”

Myungsoo tertawa, dalam hatinya bersyukur karena Sungyeol tidak mempertanyakan keadaan apartemennya.

“ Bagaimana rasanya tidur di lantai kantor dua hari?”tanya lelaki lumpuh itu kemudian, sesaat setelah Sungyeol mulai mendorong kursi rodanya untuk masuk lift.

“ Haha. Sia-sia. Kapten menyuruhku mengusut satu kasus lagi hari ini, katanya lebih berguna daripada demonstrasi di lantai.”

“ Woah, kasus apa?”

“ Biasalah, bunuh diri.”

“ Hah?”

“ Kenapa kaget begitu?”

“ Tidak apa-apa.. sekarang.. kau mau mengajakku kemana?”

“ Katanya tidak peduli mau kemana.”canda Sungyeol, Myungsoo kikuk.

“ Aku hanya ingin tahu.”

“ Kitaaa.. akan ke minimarket.”jawab Sungyeol sembari membantu Myungsoo untuk masuk ke mobilnya dan melipat kursi rodanya.

“ Kau mau belanja?”

“ Tidak. Kau saja yang belanja.” Sungyeol memasuki mobilnya dan mereka mulai melaju ke tempat tujuan.

“ Aku tidak bisa, Sungyeol-ssi. Aku tidak punya uang—“

“ Pakai uangku, lah. Aku tahu kau punya banyak kebutuhan, apalagi makanan. Tetangga macam apa aku jika membiarkan orang sakit sepertimu mengonsumsi ramen hampir setiap hari? Kau juga perlu menyiapkan suguhan kecil kan untuk dokter Park Chorong yang rajin memeriksamu setiap hari.”

“ Benar juga. Ya sudah. Kalau akan keajaiban aku akan ganti uangmu.”

Sungyeol terkekeh, “ Jangan pikirkan itu. haha.”

“ Lalu kau sendiri ada keperluan apa ke minimarket kalau bukan belanja?”

“ Aku ingin menemui saksi disana. Kebetulan minimarket itu TKPnya.”

“ A..apa??”

“ Iya.. begitu. Kenapa kau kaget lagi?”

“ Tidak apa-apa. Aku.. hanya penasaran bagaimana ceritanya bunuh diri di minimarket?”Myungsoo berusaha menutupi keterkejutannya, beruntung Sungyeol tidak curiga.

“ Tuh, lihat saja.”

Sungyeol menunjuk satu map berkas kasus yang terletak di permukaan dasbor mobilnya, Myungsoo buru-buru meraih dan membukanya, wajah tampannya memucat.

 

“ Benar. Oh Haesook. Bagaimana bisa?”

*

 

“ Klinik darurat poli psikiatri dokter Son Naeun akan dibuka 15 menit lagi.”

Setelah memberi pengumuman pada para pasien VVIP yang sudah menunggu di lobi mewah klinik darurat kediaman keluarga dokter Son, Eunji menoleh ke arah dokter muda di belakangnya. Naeun masih sibuk dengan ponselnya sembari menikmati menu sarapan mewahnya.

Ia kelihatan begitu tenang setelah menangis tersedu-sedu dalam pelukan Woohyun beberapa saat yang lalu. Eunji kadang takjub karena Naeun begitu mudah mengendalikan suasana hatinya.

“ 15 menit lagi.”sang perawat mengingatkan, Naeun mengangguk saja.

“…hari ini bukan hanya pasien yang datang, tapi juga beberapa PR. Mereka perwakilan dari beberapa brand iklan dan majalah yang telah kau setujui untuk interview dan menjadi model. Hari ini kau akan menandatangani beberapa kontrak.” tambah Eunji.

“ Aku ingin berterimakasih karena kau sudah mengurus soal itu juga, unnie. Seorang perawat seharusnya tidak berurusan dengan itu, kan. Tapi.. untuk apa aku berterimakasih pada orang yang tidak menepati janjinya padaku.” pancing Naeun, Eunji langsung paham apa maksudnya.

Data pasien Myungsoo. Meski sudah mendapat izin dari Chorong untuk memperlihatkannya pada Naeun, entah mengapa Eunji masih merasa sangat ragu, karena kemarin Chorong juga memberikan keputusan disaat ia sedang panik sebab Woohyun datang tiba-tiba.

“ Jadi mana.. data pasien rujukan dari dokter Park Chorong? Kim Myungsoo.” tagih Naeun langsung, Eunji tak punya pilihan, ia mulai mencari datanya di lemari arsip, Naeun menungguinya dengan tenang.

Kring…~

Eunji menghentikan kegiatannya sejenak dan berlari kecil menuju telepon yang berbunyi di atas meja kerjanya.

“ Klinik darurat dokter Son Naeun, perawat Jung Eunji disini. Ada yang bisa saya bantu?”

“ Eunji-ssi! Ini aku, Chorong.”

“ Dokter Park Chorong??”

Naeun sontak menoleh dan menatapnya tajam, Eunji menepuk bibirnya, menyesal sudah bicara begitu keras.

“ Apa ada Naeun disana?”tanya Chorong.

“ Ya.”

“ Apa kau sudah memberikan data Kim Myungsoo padanya?”

“ Belum. Hampir saja.”

“ Bagus. Jangan berikan padanya.”

“ Kau berubah pikiran?”

“ Ya. Kemarin aku tidak berpikir jernih. Dan setelah kupikir-pikir, sepertinya aku memberi perintah yang salah.”

“ Jadi apa yang harus kulakukan jika dia menagihnya? Dia menagihnya sekarang!” Eunji mulai panik, tatapan Naeun mulai mengintimidasinya.

“ Kirim file datanya padaku sekarang. Setelah dikirim, kau hapus datanya, kau tidak perlu menyimpan salinannya. Begitu juga berkas yang sudah dicetak, musnahkan.”

“ Hah?”

“ Kau mengerti, kan? Lakukan itu sekarang dan katakan pada Naeun, kalau dia menginginkan data Kim Myungsoo, ia harus langsung menemui aku.”

“ Ada apa dengan Kim Myungsoo? Sepertinya dia penting sekali bagi kalian berdua.”

“ Lakukan saja perintahku sekarang.”

Eunji menutup teleponnya. Dengan tanpa suara ia membuka komputernya dan mulai menjalankan perintah dari Chorong, tak peduli dengan mata Naeun yang semakin tak berkedip mengawasinya.

“ Ada apa?”Naeun mengalah dan akhirnya membuka suara duluan, Eunji masih membisu. Setelah selesai dengan komputernya, ia berjalan kembali menuju lemari arsip, mengambil satu berkas data dari sana.

“…apa itu berkasnya?”Naeun bertanya lagi dan kini ia berdiri, wajah cantiknya menunjukkan ketidaksabaran.

Namun Eunji mundur beberapa langkah dan dengan sedikit gemetar mengeluarkan korek api dari sakunya, menyalakan korek tersebut di bawah ujung map berkas di tangannya hingga dalam hitungan detik kobaran api yang semakin membesar menghabisi benda itu.

“ HEI!!! APA YANG KAU LAKUKAN!?” Naeun menjerit dan ingin merampasnya, namun Eunji segera membuangnya ke perapian yang ada di dalam ruangan dan menutup perapian itu dengan cepat, Naeun kebingungan dan nampak stress.

“…MENGAPA KAU MELAKUKAN INI!!?? KENAPA—“

“ Sstt.. nanti didengar orang di luar.”Eunji berusaha tenang, “…ini.. permintaan dokter Park. Aku sudah mengirimkan file berkas padanya, dan aku sudah tidak punya salinannya sama sekali. Jadi.. jika kau ingin melihat berkas pasien itu, kau harus menemui dokter Park, langsung.”

Naeun terdiam, kemudian merasa bodoh karena sudah berteriak dua kali.

“ Oh.”

Meski lega karena Naeun tak lagi bersuara keras, Eunji tetap heran karena Naeun bisa berubah tenang lagi dalam hitungan detik. Ia dokter yang benar-benar pandai mengelola jiwanya.

“…oke. Aku akan menemuinya sekarang.”sambung Naeun pasrah sembari melepas jas putihnya, menggantungnya dan meraih kunci mobil di atas meja kerjanya.

“ Praktikmu akan dibuka 5 menit lagi!” Eunji mengingatkan, Naeun tersenyum kecil.

“ Undur 1 jam.”

“ Semudah itu?”

“ Jika mereka protes, suruh mereka pergi. Lagipula tak satupun dari mereka yang punya masalah besar. Mereka hanya artis-artis dan pejabat-pejabat yang stress karena gila dengan uang. Sejujurnya aku jenuh melayani konsultasi dengan orang-orang semacam itu.”

“ Lalu apa spesialnya pasien rujukan itu, dokter Son? Kim Myungsoo? Jika dibandingkan dengan pasien-pasienmu yang ada di luar sekarang, apa yang terjadi padanya hingga kau benar-benar memperhatikannya?”

“…”

Naeun tak menjawab, ia tetap keluar melalui pintu belakang. Eunji menghela nafas pasrah, ia menyalakan kembali mikrofon yang ada di dalam ruangan.

 

“ Pengumuman, praktik klinik darurat poli kejiwaan dokter Son Naeun akan dibuka dalam satu jam. Mohon maaf atas ketidaknyamanan ini. Terimakasih.”

***

 

“ Selamat pagi, saya detektif Lee Sungyeol, dari kepolisian metro Seoul. Bisa minta waktu Anda sebentar?”

Myungsoo menatap Sungyeol dengan sedikit takjub, temannya itu nampak keren juga saat memperkenalkan diri sembari menunjukkan kartu identitas dan lencana polisinya pada pemilik minimarket yang kebetulan sedang menjadi kasir.

“ Ah.. pasti tentang bunuh diri itu. sudah kuduga aku akan didatangi sepagi ini. Tapi aku tidak bisa ikut denganmu ke kantor polisi, aku tidak bisa menutup minimarket ini.”

“ Kami memberi Anda waktu sampai jam 12 untuk membuka minimarket ini sebelum kepolisian mengelilinginya dengan garis kuning. Mohon maaf atas ketidaknyamanannya, tapi seseorang sudah mati di belakang tokomu, mau tidak mau kau harus terlibat.”

“ Sialan. Gadis gagal oplas itu.. sudah mati saja masih merepotkanku.”

Myungsoo terkejut. Kasar sekali. Apa Haesook gadis yang seburuk itu?

“ Belanjalah. Jangan menguping.”Sungyeol sedikit bergurau, namun ia benar-benar meminta Myungsoo untuk pergi berkeliling minimarket saja, “…ambilkan aku dua kaleng soda, dan ambilkan juga sesuatu untuk dokter Park.”

Meski sangat ingin mendengar keterangan sang pemilik The Eight, Myungsoo tak bisa mengotot, ia menurut dan mulai menjelajahi minimarket.

“ Jadi.. apa yang kau tahu tentang nona Oh Haesook dan perkara kematiannya?”tanya Sungyeol sembari menyalakan perekam yang tersembunyi di balik jaket kulitnya, memulai interogasinya dengan sedikit lunak agar saksinya mau bicara jujur.

“ Sudah bertahun-tahun dia menjadi pelangganku. Aku sedikit bersyukur dia mati.”

“ Kenapa?”

“ Walaupun dia langganan disini, tapi kerjaannya hanya membuat keributan dengan gadis-gadis cantik yang berbelanja di minimarketku, dia seperti dengan sengaja mengajak mereka berkelahi agar bisa melukai wajah cantik mereka. Aku kesal dan sering mengusirnya, tapi dia tetap datang. Akhirnya aku paham dia seperti itu karena gagal operasi plastik,dia juga sering bilang bahwa dia ingin bunuh diri karena itu. aku tidak peduli dan justru berharap dia cepat-cepat mati saja.”

“ Kapan terakhir kali kau melihatnya?”

“ Kemarin, tidak lama sebelum dia diberitakan meninggal.”

“ Menurutmu apa yang membuat dia benar-benar mengakhiri hidupnya?”

“ Hmm.. sebenarnya, selama dua hari berturut-turut, dia bertemu dengan dokter cantik dan terkenal disini.”

“ Huh?”

“ Son Naeun. kau tahu, kan? Dokter jiwa yang menangani Ken FIX itu. dia berbelanja disini. Hanya beli wine murah, sih. Aku sendiri tidak menyangka minimarket ini didatangi dokter sekaya dan sepopuler dia.”

Sungyeol menoleh ke belakang sejenak, memeriksa keberadaan Myungsoo sebelum memasang telinganya lagi.

“ Jadi, dokter Son Naeun kesini?”

“ Ya. Hari itu juga Haesook ada disini. Aku mungkin melakukan sesuatu yang membuatnya marah karena aku mendahulukan dokter Son untuk membayar di kasir duluan. Aku melakukannya bukan karena dokter Son secantik bidadari, tapi karena belanjaan Haesook sangat banyak dan aku tak mau dokter Son yang hanya membeli sebotol wine menunggu lama. Aku tidak salah, kan?”

Sungyeol mengangguk-angguk saja, bibirnya tak dapat menahan senyum kebahagiaan karena sepertinya ia akan memperoleh informasi berharga yang dapat menunjang penyelidikannya terhadap kasus Yura.

“…dan yah.. Oh Haesook dan kebiasaannya, dia langsung marah-marah dan ia tiba-tiba menuduh dokter Son operasi plastik. Aku yakin harga dirinya benar-benar terluka melihat wajah dokter Son yang secantik itu.”

Sungyeol memasang wajah bingung, namun ia tetap mendengarkan.

“ Lalu?”

“ Dokter Son ternyata benar-benar malaikat, dia sama sekali tidak membalas dan justru merekomendasikan dokter bedah plastik untuk Haesook. Tapi bocah sialan itu malah semakin tidak terima, dia memaki-maki dokter Son disini. Pelangganku sampai tidak fokus berbelanja dan malah memperhatikan mereka.”

“ Wow. Lalu?”

“ Lalu aku melerai mereka, aku menyuruh dokter Son untuk segera pergi setelah pembayarannya selesai. Tapi dokter Son tidak pergi, ia menunggu transaksiku dengan Haesook selesai, entah kenapa. Mungkin dia serius ingin membawa Haesook ke dokter bedah plastik, dia benar-benar berhati malaikat!”

Sungyeol tersenyum sinis, “ Hm. Kemudian?”

“ Ternyata saat hendak bayar, uang Haesook tidak cukup. Tolol sekali, bukan? Dia belanja soju dan makanan ringan sangat banyak, dia bilang untuk meet up dengan teman-temannya. Akhirnya bisa kau tebak?”

“ Dokter Son yang membayarinya?”

“ Bingo! Dan Haesook semakin terinjak-injak harga dirinya, apalagi ketika beberapa pelangganku menghujatnya. Tapi dia masih tak tahu diri, dia mengajak  dokter Son untuk bertemu lagi di tempat ini besok harinya, untuk mengganti uangnya.”

“ Dan mereka benar-benar bertemu lagi keesokan harinya disini?”

“ Ya. Aku tidak menyangka dokter Son yang sesibuk itu menyempatkan dirinya untuk kesini lagi dan memenuhi keinginan bocah sinting itu.”

“ Haesook mengganti uangnya?”

“ Tidak! Dia penipu, dia malah memeras dokter Son dan belanja lebih banyak lagi, hari itu dia ingin meet up dengan teman-temannya dan dia bilang belanjaannya yang kemarin belum cukup. Benar-benar ular, kan? Maksudku.. sejak awal apa salah dokter Son?!”

“ Tapi dokter Son benar-benar membayarinya lagi?”

“ Hm. Yah, aku tahu dia kaya raya, tapi kasihan kan, Haesook mati-matian menjatuhkan harga dirinya, tapi justru harga dirinya sendiri yang terluka karena itu, dia benci keberadaan dokter Son di dunia ini,katanya.”

“ Wow.”

“ Aku tidak bohong, detektif. Makanya aku yakin Haesook bunuh diri karena kekesalannya sendiri.”

“ Yang bilang kau bohong juga siapa? Aku hanya takjub mendengar ceritamu. Apa ada CCTV untuk menunjangnya?”

“ Ada. Akan kuberikan file rekamannya padamu.”

“ Apa ada CCTV juga di belakang minimarketmu? Di tempat tepat dimana Haesook meninggal?”

“ Sayang sekali tidak ada. Kupikir tidak ada gunanya memasang CCTV di belakang toko, aku agak menyesal juga jadinya.”

“ Kau tidak mendengar suara apa-apa dari belakang minimarketmu ini? Menurut informasi yang kami dapatkan, dokter menduga Haesook memulai aksi bunuh dirinya sebelum tengah malam hingga sempat tersiksa berjam-jam di belakang minimarketmu sebelum ditemukan polisi.”

“ Aku tidak dengar apapun, lagipula setiap malam minggu minimarketku selalu ramai, jadi aku tidak sempat juga memeriksa halaman belakang.”

“ Oh ya,  artinya Haesook bertemu dulu dengan dokter Son disini sebelum ia meninggal?”

“ Ya.”

“ Siapa yang pulang duluan?”

“ Haesook. Dokter Son sempat menawarinya tumpangan, tapi tentu saja dia menolak dengan kasar. Bocah tidak tahu diri, bukan?”

“ Hmm..” Sungyeol menulis beberapa poin penting di buku catatannya, “…terimakasih informasinya. Ini akan menarik karena ada nama dokter Son Naeun dalam kasus ini, haha.”

“ TIDAK! TIDAK ADA! SERAHKAN REKAMANMU!”

Sungyeol dan sang pemilik minimarket terkejut karena beberapa pria berdasi tiba-tiba memasuki minimarket dan seolah-olah sedang ‘melabrak’ mereka.

*

 

Woohyun bersandar dengan malas di dalam mobilnya, menunggu para staf keluarga dokter Son yang sedang berusaha menyogok polisi dan saksi yang kebetulan sedang melakukan proses interogasi di dalam minimarket. Dokter muda itu malas untuk turun dari mobil karena masih tidak sepenuh hati menjalankan ‘hukuman’ dari keluarga dokter Son, ia masih merasa ini bukan tugasnya.

Drrt..drrt..

Lelaki itu mendengus, kesal karena salah satu staf di dalam menghubunginya.

“ Apa!?”

“ Dokter Nam, kami sedikit kesulitan membujuk polisinya. Dia sudah merekam proses interogasi dan tidak mau menyerahkan rekamannnya pada kami.”

“ Sudah kalian tawarkan berapa won?”

“ Dua puluh juta.”

“ Wow. Polisi sombong macam apa..”

“ Turunlah, dokter. Yakinkan dia.”

“ Ck, mengapa harus aku yang melakukan ini!?” Woohyun mematikan teleponnya dan akhirnya turun dari mobil, memasuki minimarket dan langsung berhadapan dengan seorang polisi yang masih bersitegang dengan para staf.

Sungyeol sedikit gemetar, tak menyangka bahwa Woohyun tiba-tiba muncul di hadapannya. Woohyun memang tak mengenalnya, tapi Sungyeol sebaliknya, ia sangat kenal dokter jenius nan jahat yang memanfaatkan Kim Yura selama bertahun-tahun sebagai jembatan memasuki kerajaan The King. Telinga Sungyeol sempat panas selama bertahun-tahun pula mendengar Yura memuji dokter sialan ini setinggi langit atas nama cinta.

Dan sekarang Woohyun muncul di depannya sebagai suami Son Naeun, sungguh bajingan. Sungyeol harus tahu cara melawannya.

“ Ah…jadi kau seorang detektif? Apa gaji detektif lebih besar dari 20 juta won?”tanya Woohyun, dengan pembawaan tenang yang justru membuat Sungyeol terbakar.

“ Aku tidak bekerja untuk uang kali ini. Aku memang penasaran apa nona Oh benar-benar bunuh diri.”jawab Sungyeol. Sialan, suaranya sedikit bergetar.

“ Dia bunuh diri, detektif-ssi. Aku dokter yang menanganinya, untuk kau ketahui.”

“ Oh..”

Bodoh. Mengapa Sungyeol malah menganga takjub? Ia buru-buru menyadarkan dirinya.

“…apa buktinya dia bunuh diri? Apa sudah dilakukan otopsi?”

“ Otopsinya akan dilakukan hari ini dan aku terlibat sebagai dokter ahli. Hasilnya akan semakin meyakinkanmu bahwa dia bunuh diri. Jadi jangan berpikiran untuk memperpanjang kasus ini dengan melibatkan dokter Son.”

“ Aku hanya akan memintanya sebagai saksi.”

“ Itu juga tidak perlu, detektif.. Lee Sungyeol-ssi.”jawab Woohyun tenang sembari membaca ID card Sungyeol, “…kau tahu betapa populernya dokter Son sekarang, dia begitu sibuk dan tidak punya waktu untuk berurusan dengan kasus ini. Ini hanya kasus kecil, aku menangani puluhan bahkan ratusan Oh Haesook dalam sebulan, bahkan yang lebih parah, bukan sekedar memotong urat nadi.”

“ Jadi kau ingin aku memanipulasi hasil interogasiku?”

“ Ya. Benar sekali. Kalau 20 juta won tidak cukup, berapa—“

“ Sungyeol-ah, menurutmu dokter Park Chorong suka sayuran atau tidak, ya? Atau aku belikan dia roti saja?”

Woohyun tersentak. Perkataannya sontak terhenti ketika seorang lelaki tampan menghampiri Sungyeol dengan kursi roda, tangan kirinya memegang satu paket sayuran dan tangan kanannya memegang satu bungkus roti, dengan polos bertanya karena ia memang terlihat bingung.

Ini situasi yang benar-benar aneh!

Woohyun mencoba menahan gejolak dalam dadanya, ia benar-benar tak menyangka harus bertatap muka dengan Myungsoo dalam situasi seperti ini. Ia menatap mantan musuh besarnya itu dengan waspada, takut jika Myungsoo mengingatnya.

“ Sungyeol-ah, aku bingung. Aku tidak tahu seleranya dokter Park Chorong.” Myungsoo mengulang pertanyaannya, sedikit tak peduli dengan situasi yang sedang berjalan.

Ubun-ubun Woohyun memanas. Mengapa mereka harus bertemu disaat Myungsoo sedang memikirkan Chorong, juga? Sudah sedekat apa hubungan dokter dan pasien di antara mereka? Woohyun sungguh ingin meledak.

Ia harus mengendalikan situasi ini.

“ Dokter Park Chorong? Dia suka sayuran, tapi lebih suka makan daging. Kau bisa membelikannya roti jika kau tidak bisa memasakkan steak untuknya, dia juga suka roti, tapi dia suka yang gurih, bukan yang manis.”

Myungsoo terhenyak, sedikit heran karena lelaki yang nampak asing di matanya justru menjawab pertanyaannya.

“ Mengapa rasanya seperti aku pernah bertemu dia sebelumnya?” batin Myungsoo. Tidak asing, sebenarnya. Lelaki itu merasa familiar, namun ia tak bisa memaksa otaknya untuk mengingat.

Woohyun sedikit nervous, menunggu reaksi Myungsoo mengapa terasa seperti menunggu pengumuman pemenang lotre? Ia benar-benar tegang.

“ Kelihatannya kau kenal dokter pribadiku. Apa kau juga seorang dokter?” tanya Myungsoo ramah.

Gila. Sedrastis inikah perubahan kepribadian Myungsoo pasca kecelakaan? Woohyun terkejut setengah mati.

“ Ya. Aku rekannya di medical center. Kami sama-sama dokter bedah.”jawab Woohyun, Myungsoo mengangguk-angguk.

“ Terimakasih informasinya. Kalau begitu aku beli roti saja.”

“ Beli daging juga kalau mau, aku yang akan masak steaknya nanti.”sela Sungyeol, Myungsoo sedikit tersenyum girang dan mengangguk.

“ Aku saja yang ambilkan, kasihan kalau kau harus bolak-balik dengan kursi roda.”sang pemilik minimarket inisiatif pergi menuju tempat daging. Myungsoo membungkukkan badannya tanda berterimakasih.

Woohyun mengambil dompet di sakunya, mengeluarkan selembar cek dan meletakkannya di atas meja kasir.

“ 30 juta won untuk rekaman interogasimu. Deal?

Sungyeol menghela nafas kasar, dengan terpaksa mengeluarkan alat perekamnya dan menyerahkannya pada Woohyun. Dokter muda itu tersenyum puas dan kembali mendorong lembaran ceknya.

“ Terimakasih kerjasamanya, detektif.”

Myungsoo menganga, tak mengerti.

“ Kalau begitu urusan kita sudah selesai. Dokter Nam, kau bisa kembali ke medical center sekarang. Jadwal otopsi akan tiba sebentar lagi.”salah satu staf memberi informasi dan bersiap untuk mengajak Woohyun keluar.

Namun lelaki itu ragu, ia benar-benar ingin tahu kemana Myungsoo pulang. Alamat apartemen Myungsoo adalah hal yang selama ini ia buru, Chorong benar-benar bungkam tentang itu, ini kesempatannya untuk selangkah lebih maju dari Chorong.

“ Oh ya, kami harus memastikan kau tidak lagi mewawancarai saksi, jadi kami akan biarkan kalian keluar duluan dari sini.”salah satu staf menyuruh Sungyeol dan Myungsoo untuk pergi duluan, Sungyeol mendengus kesal sementara Myungsoo masih nampak bingung, Woohyun benar-benar gemas melihatnya.

“ Ayo.”

Sungyeol mulai mendorong kursi roda Myungsoo keluar dari minimarket setelah transaksi mereka di kasir sudah selesai.

“ Dokter.”

Woohyun terkejut, Myungsoo menyentuh lengan bajunya ketika melintas, Sungyeol menghentikan kursi rodanya sejenak.

“ Ya?”tanya Woohyun, masih berusaha biasa-biasa saja.

“ Siapa namamu?”

“ Panggil saja aku dokter Nam.”

Woohyun masih sangat ragu memberitahu nama aslinya. Sungyeol yang mampu membaca ketegangan itu tersenyum penuh kemenangan, tentu saja ia akan memberitahu nama lengkap sang dokter pada Myungsoo suatu saat nanti.

“ Aku Kim Myungsoo. Aku.. pasien pribadinya dokter Park Chorong.” Myungsoo ikut memperkenalkan dirinya dan sukses membuat Woohyun terbakar lagi.

“ Kemana kalian pulang?”dokter bedah itu tak lupa menanyakan sesuatu yang benar-benar ingin ia ketahui.

“ Jauh.”jawab Sungyeol seadanya kemudian lanjut mendorong kursi roda Myungsoo keluar.

 

“ Sampai jumpa, dokter Nam.”

Lelaki cacat itu menoleh kebelakang dan tersenyum pada Woohyun.

 

“ Sialan kau, Kim Myungsoo.”

***

 

“ Kenapa jadi aku yang menunggumu? Kau sudah membuang waktuku.”

Chorong menyambut sinis Naeun yang baru saja tiba di atap medical center untuk menemuinya. Dokter jiwa itu menghampirinya dan membungkukkan badannya, entah tulus atau tidak meminta maaf dengan cara formal. Sejak Naeun menikah dengan Woohyun, hubungannya dengan Chorong jelas menjadi sangat buruk. Padahal, mereka teman yang cukup dekat saat kuliah, Chorong bahkan sering mengerjakan semua tugas Naeun yang menuntut nilai sempurna.

Keadaan benar-benar sudah berubah.

“ Maaf karena aku terlambat. sepanjang jalan aku terus memikirkan Myungsoo. Aku benar-benar masih syok dengan kenyataan bahwa ia masih hidup. Aku benar-benar blank dan nyaris kecelakaan beberapa kali karena pikiranku hanya terfokus padanya.”

Chorong menoleh, menatap wajah Naeun yang memang nampak sendu.

“ Kau pasti marah karena sudah dibohongi berbulan-bulan tentang kematiannya.”

“ Sangat.”

“ Apa yang akan kau lakukan untuk melenyapkan kemarahan itu?”

Naeun terdiam sejenak.

“ Tidak ada. Cukup bertemu dengan Myungsoo, semua emosi negatif dalam diriku akan hilang.”

“ Bagaimana caranya kau menemuinya?”

“ Kau tidak ingin menolongku?”

Chorong tertawa sinis, ia menggeleng.

“…kenapa, sunbae?”

“ Cukup sampai disini pertolonganku untukmu, Naeun. jika bukan karena rujukan itu, mungkin kau tidak akan pernah tahu Myungsoo masih hidup.”

“ Aku sangat berterimakasih untuk itu. tapi tidak bisakah kau benar-benar membawa aku padanya?”

“ Aku berencana mengatur jadwal untuknya berkonsultasi lagi denganmu. Tapi Woohyun sudah terlanjur tahu semua tindakanku. Dia sangat membenci keputusanku dan dia akan sangat panik jika tahu bahwa kau sudah mengetahui bahwa Myungsoo masih hidup. Aku sudah melakukan banyak hal yang bertentangan dengan prinsip Woohyun, aku tak ingin berbuat lebih jauh, aku mencintainya dan aku tidak mau kehilangan dia hanya karena memperjuangkanmu dengan Myungsoo.”

“ Tapi jika aku kembali dengan Myungsoo, aku dan Woohyun akan bercerai. Bukankah itu yang kau mau, sunbae?”

“ Tidak sesederhana itu. kalian hanya akan bercerai jika Woohyun sudah mendapatkan apa yang ia mau.”

“ Ah.. aku tahu.”

“ Kadang-kadang aku berharap ia bisa dihentikan, tapi kadang-kadang aku juga ingin dia mendapatkan apa yang dia mau. Aku tidak mengerti dengan diriku sendiri. Yang jelas aku mencintainya. Apapun yang dia lakukan, aku mencintainya.” Chorong menunduk dan menahan tangisnya.

“…apa kau tidak takut suatu saat Woohyun benar-benar menyingkirkan keluargamu dan menguasai medical center?”

Naeun justru tersenyum kecil.

“ Aku tidak mengerti, tapi di kepalaku sekarang, Kim Myungsoo lebih berharga dari medical center.”

“ Bagaimana dengan keluargamu?”

“ Aku tidak tahu. Aku hanya menginginkan Kim Myungsoo.”

“ Tapi kau bahkan tidak menangis saat mendengar kabar bahwa dia ‘mati’, terkadang aku heran dengan itu. apakah aku yang memang tidak melihat tangisanmu atau perawatan jiwamu di Jerman berhasil?”

Naeun memasang wajah datarnya, kemudian tersenyum tipis.

“ Anggap saja terapi kejiwaanku berhasil. Aku tidak menangis karena keyakinanku bahwa Myungsoo tidak mungkin pergi semudah itu.”

“ Berarti Woohyun mengambil keputusan  yang tepat membawamu ke Jerman saat itu.”

“ Aku kadang heran mengapa dia masih baik padaku. Ia berbuat baik tanpa rasa malu, padahal aku sudah tahu semua niatnya.”

“ Karena itu jangan membencinya. Bahkan jika kau berencana menyingkirkannya karena ia berbahaya bagi keluargamu, singkirkan dia dengan lembut.”

“ Aku tak berniat menyingkirkan siapapun jika Kim Myungsoo ada di sisiku dan menjadi milikku lagi. Aku tak akan peduli apapun lagi.”

Mengapa ia terdengar sangat obsesif? Chorong mengira Naeun akan sangat emosional dan ekspresif membicarakan Myungsoo, tapi yang ia lakukan hanya berbicara dengan tenang dan mengungkapkan keinginan sederhananya untuk kembali pada Myungsoo.

“ Sekali lagi kukatakan, cukup sampai disini bantuanku. Menjadi dokter pribadi Myungsoo bukan berarti bisa membuatku bebas mempertemukan kalian. Bukan hanya karena Woohyun, tapi The King juga semakin mengawasiku. Mereka ingin Myungsoo mati pelan-pelan di tanganku, kemudian aku yang menjadi kambing hitam atas kematiannya.”

“ The King..” Naeun kemudian bergumam, entah apa yang ia pikiran.

“ Sudahlah, aku tidak ingin banyak bicara tentang pekerjaanku sebagai dokter pribadi Myungsoo. Itu bukan pekerjaan  yang menyenangkan, asal kau tahu.”sambung Chorong.

“ Tetap saja aku membencinya.”

“ Membenci…apa?” Chorong tak mengerti.

“ Sekalipun itu bukan pekerjaan yang menyenangkan, tapi kau bertemu Myungsoo. Kau bertemu dengannya. Kau melihat wajahnya. Kau.. bicara dengannya. Aku benci itu.”

Chorong sedikit bergidik. Haruskah Naeun cemburu disaat-saat seperti ini? Sulit dimengerti.

“…datanya. Mana?” sekarang dokter jiwa itu langsung pada permintaan intinya, Chorong bisa merasakan kehausannya akan informasi sudah meletup-letup, sudah berhari-hari Eunji merahasiakan data pasien Myungsoo ini darinya.

“ Kau mau ini?” Chorong mengeluarkan satu flashdisk berisi file data pasien Myungsoo, Naeun mengangguk berulang kali.

“…bercerailah dengan Nam Woohyun terlebih dahulu, baru kau bisa mendapatkannya.”

“…”

Naeun memucat.

“ Syarat macam apa itu, sunbae!?”

Chorong tahu Naeun akan marah. Namun hanya ini yang bisa ia lakukan untuk merahasiakan pekerjaannya sebagai administrator situs bunuh diri, yang sudah ia tuliskan sebagai profesi Myungsoo di dalam berkas itu. Chorong masih tak tahu akankah berbahaya jika Naeun mengetahui hal itu, makanya ia masih ingin melindungi rahasianya.

“ Aku tidak main-main, Naeun-ssi. Aku ingin kau berpisah dulu dengan Woohyun.”

“ Tapi—“

“ Kau ingin data ini, kan?”

“ Sangat.”

“ Maka turutilah keinginanku.”

“ Kau sendiri yang bilang aku hanya akan bercerai dengan Woohyun jika ia sudah mendapatkan apa yang dia mau.”

“ Tepat. Jika kau tidak bisa menghentikannya, maka berikan saja apa yang dia mau dan berpisahlah.”

Naeun mulai merasa panas, Chorong terlalu blak-blakan dan membuatnya terkejut.

“ Kau pikir semudah itu menyerahkan medical center?”

“ Kau bilang Kim Myungsoo lebih berharga dari apapun, bukan?” Chorong tertawa sinis sembari memain-mainkan flashdisk di tangannya.

Naeun terdiam sejenak, menghela nafas beberapa kali kemudian mendadak melunak.

“ Baiklah. Simpan saja dulu data itu. aku akan mengambilnya setelah berpisah dari Woohyun.”

Chorong tak mengerti mengapa Naeun berubah pikiran dan tak lagi protes. Tapi ia lega.

“ Kuharap kau segera mengambilnya.”

*

 

“ Dokter Chorong?”

Myungsoo terkejut ketika pintu lift apartemennya terbuka dan terlihat sosok Chorong berdiri di depan pintu kamarnya. Sudah berapa lama dia menunggu?

“ Darimana kalian?” tanya Chorong dengan wajah jenuh.

“ Kami belanja. Maaf ya.”Sungyeol menunjukkan beberapa kantong belanjaan di pangkuan Myungsoo, “…Myungsoo sudah kehabisan banyak keperluan, jadi dia perlu memenuhinya.”

“ Kau punya uang?” Chorong sedikit bergurau, Myungsoo tertawa malu.

“ Uangku, lah. Lagipula aku dapat sogokan hari ini. Cukup banyak sampai aku bingung menghabiskannya.”

“ Hah? Sogokan apa?”

“ Tidak perlu tahu. Yang jelas hari ini kita bisa makan steak. Hei, cepat masuk, aku harus segera masak. Jam 12 aku harus kembali lagi ke kantor.” Sungyeol menegur Myungsoo yang sejak tadi diam saja dan tak membuka kunci apartemennya.

Myungsoo benar-benar takut dan bimbang. Apartemennya masih sangat berantakan. Ia semakin takut karena sekarang ada Chorong, ia yakin sang dokter akan marah besar jika tahu ia minum minuman keras.

“ Cepatlah, aku juga harus praktik jam 12.”sekarang Chorong yang mendesaknya, Myungsoo jelas tak punya pilihan lagi.

Perlahan tangannya menekan-nekan password pintunya, dalam hati terus berdoa agar Chorong dan Sungyeol tidak berkomentar apapun terhadap keadaan kamarnya, meski rasanya tidak mungkin.

Klak. Pintu terbuka. Myungsoo memejamkan mata dan telinganya, tak siap mendengar reaksi dokter dan polisi di belakangnya.

“ Wow! Myungsoo, kau membereskan ini semua sendirian???”

“ Bagaimana bisa? Ini terlalu rapi dan bersih!”

Membereskan? Rapi?

Myungsoo membuka matanya, dan mata elangnya benar-benar membesar ketika melihat keadaan kamarnya.

Apartemennya yang luar biasa kotor dan berantakan itu kini benar-benar rapi, bersih, tertata, dan bahkan ketika lelaki itu menarik nafas, udara pengharum ruangan yang menenangkan tercium dengan paduan udara sejuk dari AC.

INI GILA. SIAPA YANG MEMBERESKANNYA?!

Disaat Sungyeol dan Chorong mengaguminya, Myungsoo justru merasa ketakutan.

 

Jelas, seseorang telah memasuki apartemennya.

***

 

“ Selamat pagi.”

Woohyun tiba di ruang otopsi dengan masker bedah menutupi mulut dan hidungnya. Sembari merapikan jas putihnya, ia menyapa tim forensik yang sudah menunggunya bersama jenazah Oh Haesook yang terbaring telentang dan siap untuk diautopsi.

“ Keluarga nona Oh masih dalam perjalanan jauh menuju Korea, tapi mereka ingin hasil autopsi dengan segera. Jadi kita akan gunakan rekaman verbal untuk mencatat hasilnya untuk kemudian kita serahkan juga pada pihak kepolisian. Dokter Nam, kami ingin kau yang berbicara.” Ketua tim forensik menyerahkan sebuah alat perekam pada Woohyun.

“ Aku? Baiklah..”meski rasanya ingin menolak karena pikirannya masih terganggu oleh pertemuannya dengan Myungsoo hari ini, Woohyun tak kuasa. Ia tetap menerima alat perekam dari tangan sang ketua tim forensik.

“ Katakan kalau kau sudah siap.”

“ Aku siap. Mari kita mulai.”

Woohyun menyalakan alat perekam ditangannya dan memulai proses otopsi dengan rekaman verbalnya.

 

“ Kami memulai proses autopsy pada pasien wanita atas nama Oh Haesook, usia 20 tahun, yang telah meninggal dunia pada hari Minggu, 11 Juni 2017 pukul 05.18 waktu Korea Selatan, dimana waktu kematiannya telah ditentukan oleh Dokter Nam Woohyun, spesialis bedah, yang kali ini akan turut serta dalam proses autopsy pada nona Oh.

Dugaan penyebab kematian yang telah disebutkan ialah hipotermia dan hipoksia hipoksis karena nona Oh diduga berada dalam ruang terbuka bersuhu dingin dalam waktu lebih dari 4 jam, namun yang diduga menjadi pencetus kematian ialah terjadinya pemutusan urat nadi di pergelangan kanan nona Oh dan membuatnya kehabisan banyak darah.

Kami akan mulai mengidentifikasi karakteristik subjek berdasarkan keterangan tim forensik.

Subjek mengenakan pakaian berwarna hitam atas bawah, berupa celana berbahan jeans dan kaus polos berlengan pendek. Subjek juga ditemukan mengenakan masker wajah yang diduga bertujuan untuk menutupi bentuk hidungnya yang mengalami kegagalan dalam prosedur bedah plastik.

Subjek bermata hitam, rambut lurus berwarna hitam dengan panjang 6 cm di bawah bahu, dan subjek telah dipastikan berkewarganegaraan Korea Selatan.”

Woohyun menjeda rekamannya sejenak dan membantu tim forensik menyingkirkan kain penutup jenazah hingga terpampang tubuh telanjang dan dingin sang korban.

Sang dokter memasang sarung tangannya dan mulai mengelilingi jenazah, sementara tim forensik melakukan observasi dengan tetap diam di tempat mereka.

Ia menyalakan kembali rekamannya.

“ Kami akan mulai mengidentifikasi ciri-ciri khusus fisik subjek, yang sekiranya dapat mungkin dijadikan bukti atau dugaan penyebab kematian.

Pertama, pergelangan kanan nona Oh yang robek akibat sayatan benda tajam dengan sengaja. Sayatannya cukup dalam, sekitar.. 2-3 cm, disayat dengan posisi vertikal, nadinya jelas robek dan mengeluarkan banyak darah, disini terdapat banyak noda darah kering yang tidak hilang di area pergelangan kanan nona Oh. Jika aku boleh berspekulasi, nona Oh atau siapapun yang memotong urat nadinya sangat tahu prosedur pembunuhan yang efektif. Orang awam biasanya menyayat urat nadi mereka dengan posisi horizontal dan tidak terlalu dalam hingga akhirnya gagal menemui kematian. Tapi sayatan pada nona Oh sangat sempurna.

Kedua, bentuk hidung asimetris pada subjek. Diduga sebagai kegagalan dari prosedur bedah plastik rhinoplasty. Tak ada yang dapat kami simpulkan selain menduga bukti ini menjadi salah satu faktor subjek melakukan bunuh diri akibat rasa malu. Jika memang subjek terbukti bunuh diri.

Ketiga..”

 

“ Sudah cukup, dokter. Hanya ini.”tim forensik memberi isyarat untuk menghentikan rekaman, namun Woohyun masih memperhatikan jenazahnya lekat-lekat dan teliti. Ia masih menyalakan rekamannya.

 

“…ketiga, kuku subjek rusak pada jemari tangan kiri. Bukan tidak mungkin kuku ini menjadi pertanda bahwa subjek sempat melakukan perlawanan pada sesuatu. Kuku tangan kanannya baik-baik saja karena pergelangan tangan kanannya sudah terluka dan ia tidak bisa menggunakan tangan ini untuk melawan. Tangan kiri adalah tangan yang lemah bagi orang non-kidal, oleh sebab itu nona Oh tidak bisa menyelamatkan dirinya.”

“ Dokter Nam, kau berpikir subjek dibunuh?”tanya ketua Tim forensik, dibarengi anggukan para anggota.

“ Simpulkan saja sendiri dengan bukti-bukti yang ada.”jawab Woohyun, “…sekarang balikkan jenazahnya, aku ingin melihatnya dalam keadaan tiarap.”

Meski enggan, mereka tak bisa menolak. Tim mulai membalik tubuh jenazah perlahan-lahan. Woohyun semakin memicingkan matanya, sesuatu yang lain menarik perhatiannya.

“…keempat, terdapat tato permanen hitam di bagian tengah punggung subjek. Tato dengan tulisan : (22.54F) 7.003”

Tim forensik tercengang, namun dengan sigap mereka langsung mencari apa makna dibalik tato tersebut. Sementara Woohyun meraba tato itu berulangkali dan kembali menyalakan perekamnya.

“…dilihat dari warna dan teksturnya, tato yang tergambar adalah tato baru. Warnanya masih mencolok dan kulit di sekitar area tato masih berwarna kemerahan sebagai reaksi alergi dari mesin tato.”

Woohyun mematikan rekamannya, tim forensik bertepuk tangan kecil, mengapresiasi ketelitiannya.

“ Sudah menemukan sesuatu tentang (22.54F) 7.003?”tanyanya.

“ Kami tidak menemukan apa-apa tentang tulisan di tato itu. mungkin hanya subjek yang tahu.”

“ Pasti ada artinya. Kalian harus cari tahu.”

Namun mereka justru saling bertatapan.

“ Ini hanya kasus bunuh diri biasa, dokter Nam. Kau sering menangani yang seperti ini, kan? Kenapa harus diperpanjang?”

Woohyun merasa sedikit malu, ia baru saja mengucapkan kalimat yang serupa pada Sungyeol saat di minimarket.

“ Ya. Tapi melihat kukunya yang rusak dan tato ‘fresh’nya ini membuatku merasa ini bukan bunuh diri. Belum lagi sayatan di pergelangan tangannya yang ‘sempurna’, rasanya janggal. Maafkan aku, tapi itu yang aku rasakan.”

“ Nona Oh juga bunuh diri di ruang terbuka, yah.. walaupun ruang terbuka di belakang minimarket, rasanya aneh, sih. Biasanya seseorang yang berniat memotong nadi mereka pasti melakukannya di dalam ruangan tertutup.”sahut salah satu anggota tim.

“ Percuma kita membicarakan ini. Pihak medical center belum tentu mengizinkan kita memperpanjang kasus yang terlalu sederhana seperti ini. Biasanya mereka mementingkan keadilan untuk pasien VVIP saja.”ucap ketua tim, “…kau seharusnya tahu betul hal itu kan, dokter Nam?”

Woohyun tertawa sinis, tak habis pikir. Ia memang tahu keluarga dokter Son memperlakukan pasien dengan cara seperti ini. Ketidakadilan yang mereka buatlah yang juga kadang-kadang membuat Woohyun semakin ingin merebut kekuasaan mereka.

“ Kebijakan macam apa itu? siapa yang peduli seseorang VVIP atau bukan kalau sudah mati begini?”dengusnya, “…kita serahkan hasil rekaman verbal ini seadanya, jika ada dugaan pembunuhan, maka harus kita katakan.”

“ Aku baru saja menerima telepon dari pihak atas. Kalian benar, pihak medical center mendoktrin kita agar menyembunyikan bukti dugaan pembunuhan dan hanya diminta menyebutkan bukti penyebab bunuh diri saja.”salah satu anggota tim masuk ke dalam ruangan dan memberi pengumuman.

Apa ini karena Naeun? mereka benar-benar tak ingin Naeun terseret meski hanya sekedar menjadi saksi. Pikiran Woohyun mulai terganggu.

“ Nah, kalau begitu aku yakin hasil rekaman ini akan diedit, pihak medical center pasti akan menghapus bagian kuku yang rusak dan tato itu, mereka juga mungkin akan menghapus bagian komentarmu tentang sempurnanya sayatan nona Oh.”ucap sang ketua tim.

“ Kita lupakan saja kuku dan tato ini daripada memperpanjang masalah.”

“ Aku sangat ingin tahu juga jika memang ini pembunuhan, tapi nona Oh bukan pasien VVIP, sayang sekali.”

“ Ya. Jadi kita lupakan saja. Daripada kita berurusan lagi dengan pihak medical center.

Pihak medical center. Woohyun sungguh muak. Ingin rasanya ia segera naik ke tahta kepemilikan rumah sakit ini dan memporak porandakan semua kebijakan mereka yang tidak masuk akal.

“ Aku bagian dari keluarga dokter Son, aku lebih dari pihak atas. Jika ada yang mengedit rekaman ini, aku tak akan tinggal diam.”Woohyun meletakkan alat perekamnya di atas meja dan keluar duluan sembari melepas maskernya dengan kasar.

 

Hingga saat dirinya benar-benar berada di luar ruangan otopsi, otaknya kembali berpikir.

 

“ (22.54F) 7.003 ? apa maksudnya?”

 

TO BE CONTINUED [50 pages, font 12]

(disambung ke part bagian 2)

yeah! halo readers! maafkan update yang selalu telat dari cerita ini. Sebagai gantinya, aku buat part 5 yang cukup panjang, lho. Sampai harus aku bagi jadi tiga bagian, wkwk. Jadi per bagian aku post sebanyak 50 halaman, semoga gak bikin mabok wkwk

Jadi kapan part bagian 2 dan 3nya? Tenang, gak harus nunggu sebulan lagi. Lagian Yura, Jaehwan, dan Hakyeon belom muncul dan menggebrak plot twist(?) Myungsoo dan Naeun juga dipastikan akan ketemu di part 5 ini, hehe.

Aku akan post next weekend, sesuai jadwal posting pinkfinite chatroom yang terpaksa libur dulu XD karna kayaknya nyiksa banget kalo harus garap chatroom juga, nulis ff komedi bareng ff serius njelimet gini kan konflik batin wkwk

Okay, sampai jumpa minggu depan dan semoga puas dengan part ini! Petunjuk apa yang sudah kalian temukan?

Advertisements

11 responses to “SUICIDE FORUM [Part 5 : Painkiller] -1

  1. Yaampun keren banget kak😂😂 aku penasaran lanjutannya kaya gimana. Aku jd bingung, disini kayaknya perannya gaada yang baik. Pada punya pikiran kotor semua😅 lah yg baik malah dead duluan hhaha. Tapi keren kok ceritanya, aku suka ❤❤

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s