SUICIDE FORUM [Part 5 : Painkiller] -3

 

 

 

-cont

 

“ Bukti apa lagi yang harus kutunjukkan padamu, Chorong-ah? Apa ini belum cukup!?”

Chorong masih menggeleng berulang kali sembari menutup telinganya, tak ingin lagi mendengar suara Hakyeon yang terus mendesaknya.

“ Tidak.. tidak mungkin Woohyun..”hanya itu yang diucapkannya berulang kali, membuat Hakyeon semakin panas.

“ Pertama, kita lihat profil akunnya yang dipasang private, DarkAngel menuliskan bahwa dia laki-laki yang lahir bulan Februari. Kedua, kita berdua lihat dengan mata kepala sendiri, mobil Woohyun terparkir di depan studio Myungsoo. Ketiga, kartu kredit atas nama Nam Woohyun yang membeli akun VIP kita. Apa lagi yang kau mau, Park Chorong? Apa itu belum cukup membuktikan!?” Hakyeon agak berteriak sekarang agar Chorong mau tak mau mendengarnya.

Chorong masih menggeleng dan hendak menangis, para staf merasa iba namun mereka memilih untuk pura-pura tak peduli dan bermain-main dengan Chohyun yang ikut dibawa ke markas.

“…Chorong-ah, buka telingamu.”

“ Tidak..tidak..tidak..”

“ DENGARKAN!!” Hakyeon memaksanya untuk menurunkan tangannya, tangis Chorong pun pecah. Hakyeon merasa paling lemah jika Chorong sudah seperti ini.

“…ada lagi yang harus kau dengar, Chorong-ah.”

“ APA LAGI!? Aku tidak mau percaya! Tidak mungkin Woohyun.. tidak mungkin.. aku menemukan botol wine di studio Myungsoo! Kenapa kau tidak menjadikan itu pertimbangan untuk tidak menuduh—“

“ Aku tahu.. aku tahu. Beri aku kesempatan bicara dulu, oke?”

Chorong terdiam meski masih sedikit terisak, ia mencoba menahan untuk tidak menangis lagi karena Chohyun memperhatikannya dengan wajah polos dan kebingungan.

“ Jungyeon, beritahu dia.” Hakyeon tiba-tiba meminta salah satu stafnya untuk bicara.

“ Ah.. kenapa aku sih?” Jungyeon agak kesal karena ia sedang asyik bermain dengan Chohyun, ia pun berdiri dan duduk di depan komputernya.

“ Chorong unnie, kami menemukan sesuatu yang mengejutkan di situs kami saat kami sedang menyelidiki DarkAngel.”ucap Jungyeon, sambil terus sibuk dengan komputernya untuk memperlihatkan bukti.

“ Apa?”tanya Chorong sembari berdiri dan mendekati komputernya.

“ Ini.” Jungyeon menampilkan profil sebuah akun.

“…ini profil Kim Myungsoo, akun inilah satu-satunya yang paling sering diganggu oleh DarkAngel.”

Chorong syok, merasa seolah telah disambar petir. Ia tak pernah tahu Myungsoo punya akun di situsnya.

“ Apa Myungsoo masih hidup??” tanya Yoojoo langsung, “…kami sangat terkejut saat menemukan itu.”

“ Ya. Setahu kami Myungsoo kan sudah mati dan mayatnya entah dibuang kemana oleh The King sampai itu membuat Ken gila.”sahut Jiyeon.

“ Kalau benar Kim Myungsoo masih hidup, ada dimana dia selama ini?” tanya Yerin.

“ Dan yang aneh, bagaimana ceritanya DarkAngel menemukan Myungsoo?” Sungjong heran, “…kami yakin akun Kim_Myungsoo itu adalah milik Myungsoo putra The King.”

“ Apa jangan-jangan kau sudah tahu dia masih hidup dan kau menyebunyikan fakta itu dariku? Dari kami?”tanya Hakyeon, seolah bisa menebaknya dari reaksi yang timbul di wajah Chorong.

Chorong berdiri, menatap semuanya kemudian membungkukkan badannya beberapa detik tanda meminta maaf.

“ Maaf karena tidak jujur sejak awal. Ya, Myungsoo masih hidup. Dan bahkan.. sekarang aku adalah dokter pribadinya.”

Jelas, semuanya nampak kaget, Hakyeon langsung memegangi kepalanya, tentu saja ia sangat syok.

“…aku urung memberitahu kalian karena aku takut ini akan sampai ke telingan Jaehwan. Kalian bisa membayangkan bagaimana dampaknya jika Jaehwan tahu hal ini? Ia akan semakin tak terkendali. Myungsoo memang masih hidup, tapi dia dalam keadaan yang tidak memungkinkan untuk menampakkan dirinya. Sekarang dia lumpuh dan lupa ingatan. Dia kebingungan dengan identitas dan masa lalunya sendiri. Dan aku? Jangan kalian kira aku hadir sebagai dokter pribadi untuk menyembuhkannya, aku diperintah The King untuk membunuhnya pelan-pelan.”

“…”

Semua terdiam mendengar penjelasan Chorong. Hakyeon mengacak-acak rambutnya, mulai stress dengan situasi ini.

“ Jadi siapa saja yang tahu dia masih hidup?”tanyanya.

“ Aku, The King, Woohyun.”

“ Woohyun tahu?”

“ Tentu saja. Aku dan Woohyun yang menyelamatkan nyawanya saat ia kritis setelah kecelakaan.”

“ Woohyun tahu dia hidup. Itu semakin menguatkan asumsiku bahwa dia memang DarkAngel.”

Chorong merasa tak terima, tapi ia tak tahu dengan cara apa lagi ia harus membela Woohyun karena ia sendiri pun penasaran apa memang lelaki itu pelakunya. Bahkan setelah bukti yang terkumpul sudah sejauh ini mengarah padanya, Chorong masih tak mau mempercayainya.

“…oh ya, bagaimanapun juga aku berterimakasih karena kau sudah mau jujur meskipun terlambat.”ucap Hakyeon, ia kemudian menatap satu per satu stafnya.

“…tolong jaga rahasia ini, terutama dari Jaehwan.”

Mereka mengangguk, Chorong bisa sedikit merasa lega.

“ Dan.. karena kita menemukan akun Kim Myungsoo, kita jadi lebih mudah memonitor DarkAngel. Ini beberapa rangkaian interaksi mereka yang kami temukan. Mengejutkan memang, DarkAngel seolah sedang meneror Myungsoo tanpa henti.” Jungyeon mempersilakan Chorong untuk duduk ditempatnya agar bisa melihat layar komputernya dengan lebih jelas.

Chorong terkejut berkali-kali. Terutama pada bagian dimana DarkAngel mengirimkan gambar ribuan foto-foto dirinya yang berserakan di meja pada Myungsoo.

“ Tanggal pengiriman foto-fotomu itu sama dengan tanggal saat kita menemukan mobil Woohyun di depan studio Myungsoo.”ucap Hakyeon, sembari duduk di samping Chorong, Chorong masih menggeleng tak percaya dan hendak menangis lagi, dan Hakyeon segera memindahkan kepala gadis itu ke dadanya dan memeluknya erat.

“ Tidak mungkin Woohyun, oppa..tidak mungkin..”

Hakyeon tak bisa lagi memaksa Chorong untuk percaya, ia membiarkan gadis itu menangis sepuasnya hingga ia bisa menerima kenyataan itu sendiri.

“ Jangan lupakan interaksi terakhir mereka..” Sungjong mengingatkan, ia berdiri dan melakukan scrolling.

“…DarkAngel baru saja mengirimkan lokasi studio Myungsoo, Myungsoo menanyakan alamat studionya pada DarkAngel.”

Chorong semakin gusar. Tak menyangka bahwa DarkAngel yang mereka buru tak hanya sekedar peneror biasa yang sempat menakut-nakuti Jaehwan, namun juga ternyata merupakan peneror Kim Myungsoo yang menunjukkan terornya dengan kata-kata obsesif dan mengerikan. Chorong akhirnya bisa memahami mengapa Myungsoo sering terjaga dalam tidurnya atau bermimpi buruk. Chorong merasa bersalah karena tidak peka dan tidak menyadari bahwa ternyata Myungsoo sedang tertekan saat ini.

 

“ Aku tak akan membiarkan Myungsoo pergi ke studionya sendirian.”

***

 

“ Jadi kau mengunjungi rumah Kim Taeyeon lagi tadi siang?”

Wanita paruh baya itu hanya bisa menunduk mendengar pertanyaan bernada keras yang baru saja dilontarkan suaminya, tangan wanita itu terus mengelus bulu kucing angora di pelukannya untuk mengurangi kecemasannya.

“…jawab aku!”suaminya kini mendesak dengan lebih keras.

“ YA! YA! AKU KESANA! Kenapa? Kau tidak suka!? Aku hanya ingin menemui anakku! Aku ingin melihat Kim Yura!!!”

Sang suami yang mendengar jawaban keras istrinya langsung memberi kode pada staf keamanan yang berdiri di setiap sudut ruangan rumah mewahnya untuk pergi dan meninggalkannya berdua dengan sang istri.

“ Kau tidak berpikir bagaimana jika cenayang itu bercerita ke orang-orang? Bagaimana jika dia bercerita bahwa ia dimintai tolong oleh seorang Nyonya besar The King untuk memanggil roh anaknya? Kau sudah menodai reputasi The King!”

“ Persetan dengan The King! Aku hanya ingin Kim Yura kembali! Bahkan tak hanya Kim Yura… tapi juga.. Kim Myungsoo..” Nyonya Kim mulai menangis, airmatanya melunturkan celak tebal di matanya dan menetes di bulu halus kucingnya. “…tidakkah kau punya perasaan peduli sedikit pada mereka?? Mereka berdualah darah daging kita yang sesungguhnya! Apa di otakmu hanya ada The King?!”

BRAK!!!

Wanita itu terkejut, sang presdir memukul meja dengan keras hingga retak.

“ Kau tidak bisa mengharapkan Kim Yura kembali karena dia sudah mati. Dan kau juga tidak perlu mengharapkan Kim Myungsoo kembali karena keputusanku untuk membunuhnya pelan-pelan sudah tidak bisa diganggu gugat. Paham?”

“ Kenapa kau masih sekeras itu pada Myungsoo? Dia—“

“ Kau tahu persis aku melakukan ini tanpa alasan. Mungkin orang-orang yang mengetahui tindakanku akan mengataiku ayah yang sangat kejam. Tapi kau.. kau tahu aku melakukannya bukan tanpa alasan. Aku sudah jelaskan itu berkali-kali padamu.”

Nyonya Kim memeluk kucingnya erat, meremas kalung yang dikenakan peliharaannya itu sembari menangis lebih dalam.

“ Sampai kapanpun aku tak akan percaya Myungsoo membunuh Yura. Mereka anak kita.. mereka kembar.. mereka tidak mungkin..”

Presdir Kim menghela nafas, menatap kolam renang tempat Yura terbunuh yang tak jauh dari posisinya sekarang.

“ Aku paham. Kau menutup matamu akan fakta itu karena mereka adalah anakmu. Tapi aku, aku membuka mataku karena mereka juga adalah anakku.”

“ Kenapa kau begitu yakin Myungsoo yang melakukannya!?”

“ Apa lagi yang Myungsoo inginkan selain tahta The King? Pada awalnya, aku juga mengingkari ini, tapi instingku sebagai orangtuanya terus memaksaku untuk mengakui apa yang kurasakan. Aku yakin Myungsoo yang membunuh Yura dan membuatnya seolah-olah itu adalah bunuh diri. Yura bukan tipe orang yang akan bunuh diri hanya karena ia patah hati, sebagai orangtua, semestinya kau tahu itu.”

Nyonya Kim masih terisak. Presdir Kim pun nampak menahan matanya yang sudah berkaca-kaca.

“ Sialan, seharusnya kita tak usah membahas ini lagi.”sang presdir membasuh matanya yang sudah berair.

 

“ Selamat malam.”

“ Woohyun?”

Nyonya Kim langsung menyeka airmatanya dan berpura-pura terlihat baik, sementara sang presdir langsung menegakkan duduknya, menyambut kedatangan putra angkatnya itu.

“ Maaf tidak memberi kabar. Aku ingin tidur disini malam ini, Naeun tidur di rumah dokter Son, aku tidak bisa memaksanya pulang. Aku takut jika harus tidur sendiri di rumah kami.”jelas Woohyun sembari memberi hormat.

“ Ya sudah, cepatlah istirahat. Aku duluan.” Presdir Kim menjawab singkat kemudian memanggil staf keamanan untuk mendorong kursi rodanya ke kamar.

“ Ah.. karena kau datang mendadak, jadi belum ada kamar yang siap. Tunggu disini ya, aku akan beritahu pegawai untuk menyiapkan kamar untukmu.” Nyonya Kim berdiri dan menyuruh Woohyun untuk menunggu.

“ Tidak perlu, aku bisa tidur dimana saja—“

“ Jangan. Seorang dokter yang kelelahan harus tidur di tempat yang nyaman.” Nyonya Kim terdengar memaksa, ia kemudian pergi memanggil para pegawai rumah.

Woohyun terpaksa menurut, ia membanting tubuhnya yang lelah di sofa mewah lobi utama kediaman The King itu, hingga matanya menangkap beberapa foto berukuran raksasa yang terpajang berjajar di dinding.

Foto keluarga utuh The King, dan wajah mereka satu per satu –presdir Kim, Nyonya Kim, Kim Myungsoo dan Kim Yura. Entah mengapa keluarga konglomerat ini sama sekali tidak tersenyum dalam satupun foto mereka, semuanya menunjukkan wajah yang kaku dan angkuh. Woohyun tersenyum sinis, merasakan kemenangan dalam hatinya karena sepasang kembar fraternal mereka kini sudah ‘tersingkir’ dan tergantikan olehnya.

Hingga matanya terkunci beberapa saat pada foto wajah sempurna Kim Yura yang lama kelamaan terasa seakan tengah menatapnya dengan tajam dan dingin.

Sialan. Ia merinding lagi.

“ Apa masih lama? Aku ingin segera ke kamar, ish.”dengus lelaki itu, matanya tak bisa berhenti menatap foto Kim Yura. Mata besar gadis itu seolah mengikutinya kemanapun meski ia berdiri dan berjalan ke berbagai arah.

Ia harus pergi dari ruangan ini.

Kepalanya menoleh ke arah kolam renang di luar. Setelah memastikan ada staf keamanan yang berjaga disana, ia keluar sembari melepas kancing kemejanya.

Seolah lupa dengan insiden mengerikan apa yang pernah terjadi di kolam renang itu, Woohyun memutuskan untuk berenang malam untuk sejenak, ia berharap bisa menyegarkan kepalanya yang penuh beban seharian ini.

BYUR!

Sembari mencoba rileks, ia mulai menggerakkan tubuh atletisnya merenangi kolam.

Hingga ketika ia berdiri, ia menyadari bahwa para staf keamanan yang barusan dilihatnya masih berjaga di area kolam kini sudah menghilang. Disaat ia kebingungan mencari mereka, hidungnya mencium aroma darah yang menyengat.

Benar saja. Air kolam yang bening itu kini terlihat mulai berubah warna, cairan kemerahan menyebar dari suatu tempat. Woohyun tak mengerti apa yang sekarang terjadi.

“ BRENGSEK!!!”

Ia mendapati satu tubuh wanita dengan pisau menancap di dadanya mengambang di dekatnya, mengeluarkan banyak darah. Dengan secepat mungkin ia berenang ke pinggir kolam untuk pergi, namun tiba-tiba ia merasakan satu tangan dingin meraih kakinya, menariknya kuat-kuat dan menenggelamkan tubuhnya.

*

 

“ AHH!!”

Woohyun tersadar, mendapati dirinya sudah berada di atas tempat tidur yang nyaman lengkap dengan pakaian tidur. Terlihat Nyonya Kim terkejut melihatnya bangun.

“ Kau baik-baik saja?”tanya ibu angkatnya itu, dengan kucing angora yang tak pernah lepas dari lengannya.

“ Kenapa aku—“

“ Kau tenggelam. Kukira kau bisa berenang. Untung saja staf keamanan cepat menolongmu.”

“ Apa?”

“ Ah..tenang saja.. yang memberimu nafas buatan, mengeringkan badanmu, sampai menggantikan pakaianmu, semuanya pegawai laki-laki. Jangan khawatir.”

Woohyun masih linglung, namun ia bisa menghela nafas lega karena ternyata ia masih hidup.

“ Tidurlah. Ini kamar yang paling nyaman di rumah ini.” Nyonya Kim berdiri dan hendak meninggalkannya.

Woohyun menatap sekelilingnya. Ia berada di kamar super mewah yang…

Terpajang foto raksasa berwajah Kim Yura di dindingnya. Foto yang sama seperti di lobi utama.

“ Ini kamar Yura?!”

“ Ya. Kamarnya adalah kamar yang paling nyaman di rumah ini karena dia rajin menata dan membersihkannya. Kau pasti bisa tidur dengan nyaman disini.”

Nyonya Kim tersenyum dan mematikan lampunya, kemudian menghilang di balik pintu yang ditutup rapat.

Bencana macam apa lagi sekarang? Woohyun justru tak bisa memejamkan matanya sama sekali. Meski suasana kamar kini gelap gulita, mata besar Yura dari foto tersebut terlihat sedikit ‘menyala’.

Tangan lelaki itu bergerak liar mencari lampu, atau minimal ponselnya yang bisa ia nyalakan untuk menerangi kamar, namun ia merasakan dirinya ditarik, kedua tangannya dikunci agar tak lagi mencari penerang.

Tubuhnya terasa berat, seolah ada seseorang yang menindihnya.

Ia merasakan jemari yang dingin dan basah menyusuri wajahnya, bersamaan dengan sensasi geli dari rambut yang menjuntai. Ingin berteriak, mulutnya mendadak seperti berhenti berfungsi dan tetap terkatup rapat sekeras apapun ia mencoba untuk bersuara.

“ Inilah yang aku impikan sejak dulu. Tidur dengan pria yang kucintai, di kamarku, menghabiskan malam~”

Telinganya menangkap bisikan mengerikan. Jemari dingin dan basah itu kini menyusuri badannya yang gemetaran.

“ HENTIKAN!”

CTAK!!

Dengan sekuat tenaga Woohyun memaksa dirinya untuk berteriak, tangannya pun berhasil meraih lampu meja dan menyalakannya dengan kasar.

Sunyi.

Woohyun mendapati dirinya setengah telanjang. Sekujur tubuhnya yang sempat disentuh oleh jemari dingin itu basah dengan air kolam. Lelaki itupun memeriksa kaki kanannya yang sempat ditarik di dalam kolam meninggalkan bekas biru lebam.

Ia memukuli kepalanya, jengkel dan merasakan takut yang luar biasa.

Dengan badan lemas ia berdiri, mencari-cari kunci mobil dan ponselnya. Ia tak mungkin bisa tidur di tempat ini, ia harus pergi.

Bukan kunci mobil ataupun ponsel, ia justru menemukan satu kotak hadiah berukuran sedang tergeletak di samping lemari besar milik mantan kekasihnya itu. Ia tak ingin peduli, namun tulisan ‘For : Nam Woohyun’ di permukaan penutup kotak itu menarik perhatiannya.

Lelaki itu menyalakan lampu besar dan meraih kotak itu.

Ini adalah hadiah pernikahan untuknya. Woohyun tak menyangka Yura mempersiapkan hadiah pernikahan untuknya.

Ia membukanya, hingga terlihat satu jas putih dokter yang terlipat rapi di dalam sana, bersama satu amplop surat yang terselip di kerahnya.

Dengan gemetar, Woohyun membukanya karena penasaran.

“ Hei. Selamat atas pernikahanmu. Plot twist macam apa ini? Selama ini aku selalu mendengar rumor bahwa kau punya hubungan gelap dengan dokter Park Chorong bahkan punya anak darinya, namun nyatanya kau menikah dengan dokter Son Naeun. siapa wanita yang benar-benar kau cintai, Woohyunie?

Yang jelas bukan aku, kan?

Rasanya terlalu sakit. 8 tahun kebersamaan kita bukan waktu yang sebentar. Dan kenyataan bahwa kau memiliki anak dari Park Chorong, dan pernikahanmu dengan Son Naeun adalah puncak dari rasa sakit ini.

Rasa sakit bisa menimbulkan kematian, sebagai seorang dokter tentu kau tahu itu, kan?

 

If I were dead after this, I will be you dark angel. No, I’m not gonna kill you, I choose to kill your future children.

Haha!! It’s joke! Congratulations on your wedding, my love. Thank you for all the pain that you gave to me.

 

With love and pain,

Kim Yura”

 

Woohyun menjatuhkan hadiahnya, mendadak blank sekaligus paranoid.

I choose to kill your future children. Ia ingin membunuh Chohyun? Karena itukah ia muncul dan menjadi pengasuh Chohyun? Woohyun mulai merasakan ketakutan yang irasional, ia segera berdiri, berlari keluar dari kamar Kim Yura bahkan dari kediaman The King setelah menemukan kunci mobilnya.

 

“ KENAPA KAU TERUS MENDATANGIKU SIALAN!!! APA YANG KAU INGINKAN SEKARANG!? APA!!!?? BUKAN AKU YANG MEMBUNUHMU!!!! BUKAN AKU!!! KENAPA HARUS AKU?? JALANG!!!!”

Sepanjang jalan lelaki itu terus berteriak depresi. Mungkin sepanjang malam ia hanya akan terus berkeliling tanpa tujuan, ia tak bisa lagi memejamkan matanya meski tubuhnya diserang lelah yang luar biasa.

Semua karena Kim Yura, Woohyun kini sadar ia tak bisa menganggap sepele kematian gadis itu.

***

 

05.00 a.m

 

Setelah menghabiskan bensin mobilnya berkeliling kota tanpa tujuan, Woohyun akhirnya datang ke medical center dengan wajah suntuk luar biasa. Ia membuka ruang istirahat dokter dan mendapati dokter Howon pulas mengisi tempat tidurnya.

“ Ah.. sialan. Apa aku tidak bisa tidur sebentar saja?”

Ia akhirnya terpaksa merelakan waktu tidurnya dan mengganti pakaian tidur yang masih ia pakai dengan setelan dokter untuk siap bekerja lagi hari ini.

BRAAAAKKKKKK!!!!!!!!!!!!!!!!!

 

“ Suara apa itu?”

Woohyun terkejut. Suara jatuh yang sangat keras mengejutkannya. Sempat ia ingin menduga Kim Yura lagi, namun nyatanya Howon terbangun juga akibat suara itu.

“ Hei ada apa!?”tanyanya.

“ Mana kutahu!”

Howon mengucek matanya dan membuka jendela.

“ YA TUHAN!” pekiknya, ia segera bangkit dari tempat tidur dan meraih jas putihnya, memasangnya sembari lari tunggang langgang keluar dari ruang istirahat dokter.

Woohyun yang penasaran langsung ikut melihat ke jendela, dan ia terkejut bukan main melihat seseorang terkapar di halaman luar medical center bersama kursi roda yang rusak parah dan darah segar yang terus keluar membanjiri aspal

Jelas, orang itu telah jatuh dari lantai gedung medical center yang tinggi.

***

 

“ Korban diidentifikasi bernama Kim Sunggyu. Dia pasien lama disini dan sudah hampir 3 bulan diopname di bangsal umum nomor 13 unit ortopedi karena mengalami patah tulang berkali-kali sebagai percobaan bunuh diri. Kurasa kali ini ia mencoba bunuh diri lagi dan berhasil.”

Woohyun yang ikut mengerumuni jasad Sunggyu yang masih diidentifikasi oleh tim forensik dan dokter-dokter lain yang tengah piket tak bisa berkata apa-apa. Ia ingat betul bahwa semalam ia baru saja berbicara dengan pria ini tentang hasil otopsi Oh Haesook. Mengapa kini ia justru jatuh dari atap gedung medical center dan meninggal di tempat?

“ Ah.. aku tahu. Dia salah satu pasien lama dokter Park Chorong.”tambah Howon, “…apa tak ada satupun yang melihat dia naik ke atap gedung?”

Para staf rumah sakit yang berkumpul disana menggeleng bersamaan.

“ Kami sudah menghubungi polisi. Kami juga menghubungi dokter Son, beliau perlu tahu hal ini karena kejadiannya tepat sekali disini. Ini pasti akan menimbulkan kegaduhan bagi semua pengunjung rumah sakit.”lapor beberapa staf, “…oh ya, kami juga sudah mengabari dokter Park Chorong.”

 

Benar saja, tak lama Chorong datang dan berlari dengan panik memasuki kerumunan, sang dokter nampak syok berat hingga menutup mulutnya.

“ Apa yang terjadi!?” jeritnya, Woohyun segera mendekatinya dan mengelus punggungnya, menenangkannya.

Polisi berdatangan dan langsung membantu para staf rumah sakit untuk mengamankan mayat dan kursi rodanya. Tak lama setelah itu mobil keluarga dokter Son ikut datang menyusul, mereka begitu cepat bergerak setelah mendapat kabar mengerikan ini.

Woohyun menarik Chorong yang masih syok untuk menjauh sejenak dari kerumunan.

“ Para staf bilang dia sudah berkali-kali melakukan percobaan bunuh diri. Benarkah?”tanya Woohyun pelan-pelan, Chorong masih nampak gusar.

“ Ya. Dia memang sudah sering mencoba bunuh diri, dan yang selalu ia lakukan adalah menjatuhkan diri, tapi selalu gagal dan hanya berakhir patah tulang.”jawab Chorong, tapi ia masih nampak tak mempercayai kematian pasiennya itu.

“…tapi akhir-akhir ini aku melihat dia ada kemajuan dan semangat untuk hidup. Aku tak menyangka dia akan bunuh diri lagi, aku tidak percaya..”

“ Aku juga tidak percaya. Baru saja kemarin malam dia mencegatku dan bertanya hasil otopsi Haesook.”

Chorong menatap Woohyun dan mengangguk-angguk.

“ Ya! Aku baru ingat kau bilang itu padaku tadi malam! Dia mencegatmu di depan lift dan memaksamu menjelaskan hasil otopsi Haesook, kan!? Apa dia terlihat kehilangan akal dan ingin bunuh diri??”

“ Tidak. Dia terlihat baik-baik saja. Dia bahkan terlihat senang ketika aku bersedia menceritakan hasil otopsinya.”

“ Benarkah?”

“ Ya. Karena itulah aku juga tidak mengerti mengapa ia tiba-tiba mati seperti ini.”

Chorong menarik nafas beberapa saat, mencoba menenangkan dirinya hingga ia menyadari sesuatu.

“ Woohyun-ah, kenapa kau ada disini sepagi ini? Bukannya kau pulang ke rumah?”

Woohyun jadi dongkol mendengar pertanyaan ini, mengingatkannya pada teror beruntun Kim Yura yang dialaminya tadi malam.

“ Aku diteror Kim Yura semalaman, dan aku tidak bisa tidur dimanapun, jadi aku kesini.”jelasnya singkat dan jujur, namun membuat Chorong heran/

Gadis itu masih teringat akan siapa DarkAngel yang ia temukan di markas dengan para stafnya. Dugaan mereka masih mengarah pada Woohyun. Dan semalaman, Chorong tahu bahwa kerjaan DarkAngel hanyalah mengganggu Myungsoo, jadi apakah Woohyun sedang berbicara jujur saat ini?

“ Jadi kau ada dimana saja tadi malam? Apa saja yang kau kerjakan tadi malam?”

Woohyun, yang moodnya sedang buruk merasa tersinggung, pertanyaan Chorong seolah tak mempercayai jawabannya.

“ Jadi kau tidak percaya aku diteror Kim Yura?”

“ Apa buktinya?”

Chorong hanya ingin benar-benar memastikan Woohyun bukanlah DarkAngel yang semalam menggangu Myungsoo, ia ingin sekali mematahkan tuduhan Hakyeon. Mungkin caranya ini akan membuat Woohyun marah, tapi ia tak peduli lagi.

“ Aku pulang ke rumahku, dia ada dan menggangguku. Aku pulang ke rumah The King, dia semakin menggangguku. Dia ada dimana-mana dan aku merasa tidak bisa tidur dimanapun aku berada, jadi aku berkeliling tanpa tujuan dan aku ke rumah sakit ini sejam yang lalu. Tak lama setelah aku tiba disini, aku mendengar suara jatuhnya pasienmu ini, tanya Howon kalau tidak percaya.”

Woohyun menjelaskannya dengan singkat, padat, dan jelas, sekaligus dengan nada kesal karena Chorong terlihat tak mempercayainya.

“ K..kau bicara jujur, kan?”tanya Chorong, tak peduli Woohyun akan semarah apa, ia hanya ingin terus dan terus memastikan.

“ Apa lagi yang harus kukatakan!? Kau kira aku melakukan apa tadi malam!?” tembak lelaki itu jengkel, “…seharusnya aku yang bertanya padamu, Park Chorong. Kau selalu punya urusan sendiri dengan Hakyeon, aku tidak pernah tahu apa yang kalian lakukan.”

“ Kami tidak melakukan apa-apa!” Chorong ikut terpancing, ia tak bisa membaca situasi, ia tak tahu mood Woohyun sedang buruk-buruknya.

“ Lalu kenapa kau tiba-tiba seperti ini padaku? Tidak mempercayaiku? Aku sudah bilang, aku merasa kau sedang mencurigai aku, entah curiga tentang apa.”

“ T.. tidak..”

“ Tidak perlu bohong. Aku sudah bisa membaca tingkahmu sejak awal. Kau pernah tiba-tiba bertanya apakah aku lahir bulan februari, padahal kau sudah tahu jawabannya, kau pernah tiba-tiba memintaku mengantarmu ke studio Myungsoo dan kau menelpon Hakyeon di dalam sana, entah apa yang kalian bahas, dan saat berbicara di depan ruang operasi kemarin kau sempat bicara padaku seolah-olah menuduh bahwa aku adalah pemegang akun DarkAngel. Aku tidak bodoh, Park Chorong..”

Gadis itu gemetar, ia tak menyangka Woohyun bisa semarah ini.

“ Aku tidak curiga apapun.”

“ Bohong. Kau dan Hakyeon menyembunyikan sesuatu dariku.”

“ Tidak.”

“ Tidak salah lagi?”

“ Terserahlah!” Chorong memilih menghindar, ia menjauh dan memanggil taksi, terpaksa memilih untuk pergi mengunjungi Myungsoo saja daripada bertahan di halaman depan medical center yang masih ramai dan bertengkar dengan Woohyun. Padahal ia ingin sekali memantau proses identifikasi jasad pasiennya.

Rahang Woohyun mengeras, suasana hatinya semakin buruk.

“ Lihat saja, aku akan cari tahu apa yang kau curigai dariku.”

Setelah itu ia terpaksa bergabung lagi ke kerumunan. Mendekati keluarga dokter Son yang masih menyaksikan proses pembersihan TKP yang masih berjalan. Dokter Son datang bersama keluarganya –istrinya dan Naeun, bahkan bersama Eunji. Mereka terlihat sangat gusar.

Dokter Son jelas kewalahan karena tragedi semacam ini terjadi di medical centernya. Ini akan mengundang ketakutan sekaligus kegaduhan bagi semua pengunjung maupun pasien rawat inap. Rumah sakitnya akan menjadi headline news hari ini.

Sementara Naeun diam, menatap iba mayat korban yang sudah dalam posisi tak karuan karena semua tulangnya patah akibat terjatuh dengan sangat keras. Eunji yang berdiri di sampingnya nampak berkeringat dingin karena tahu bahwa yang mati adalah salah satu teman di forumnya lagi.

Dengan tangan gemetar, gadis perawat itu mengeluarkan ponselnya dan memberitahukan berita mengejutkan ini di forumnya.

*

 

EjJung_K93 : [foto]

Lmao_r : DAMN! Siapa itu?!

XXX_Lee03 : APA ITU!!?? MAYAT???

Sungwonapplecandy : gila! Pagi2 sudah kirim gambar mengerikan, merusak moodku saja

Yesterday_a : iiissh darahnya 😦

Manonfire_4 : siapa itu???????

Anonim1 : mengerikan 😦 apa maksudmu mengirim gambar ini!?!

6969 : wait.. seseorang dgn kursi roda…

 

Myungsoo, yang benar-benar berkomitmen tidak tidur dan duduk di depan komputer semalaman langsung membaca pesan yang masuk ke forumnya. Ia terkejut karena EjJung_K93 mengirim foto mengerikan sesosok mayat yang terkapar di aspal dan dibanjiri darah, bersama kursi roda yang rusak parah di dekatnya.

 

Kim_Myungsoo : Ya Tuhan. Siapa itu?

EjJung_K93 : ini Sgyu89

Sungwonapplecandy : HAH!?

Manonfire_4 : JANGAN BERCANDA

XXX_Lee03 : TIDAK MUNGKIN

6969 : WTF!!??? Aku sudah menduga tp ini terlalu mengerikan untuk terjadi!

Yesterday_a : JADI MAKSUDMU ADA YANG MENINGGAL (LAGI)????

Lmao_r : TOLONG JELASKAN APA YANG TERJADI

Anonim1 : INI GILA

EjJung_K93 : aku di medical center sekarang, gaduh sekali disini. Mayatnya sudah diidentifikasi dan dia memang Sunggyu, Sgyu89

EjJung_K93 : diduga menjatuhkan diri dari atap medical center. Kejadiannya baru sekali, mungkin setengah jam yang lalu.

 

Myungsoo terkejut bukan main. Namun saat ia hendak menulis chat di forumnya lagi, terdengar suara ketukan pintu.

Chorong datang.

Lelaki itu menutup tab forumnya agar tak terlihat Chorong, kemudian segera membukakan pintu untuk sang dokter.

“ Hai.” Chorong tersenyum tipis dan masuk ke apartemennya.

“ Tumben datang sepagi ini.”Myungsoo berbasa-basi, Chorong menatap wajah tampannya dan merasa iba dengan lingkaran hitam yang tergambar jelas dibawah mata elangnya. Gadis itu tak bisa marah karena tahu semalaman Myungsoo tak bisa tidur karena DarkAngel.

“ Ada kejadian mengerikan di medical center. Pasienku jatuh dari atap gedung dan meninggal di tempat. Aku terpukul, jadi sebaiknya aku menghindar dulu dan datang kesini.”

Myungsoo langsung dapat mengaitkannya dengan Sunggyu. Ia pasien Chorong, rupanya. Ingin sekali Myungsoo bertanya lebih lanjut karena ia juga sama terpukulnya, namun tentu saja ia ragu.

“ Ya ampun. Beritanya sebentar lagi pasti akan ada di TV.”

“ Sudahlah. Aku sedih membahasnya.”

“ Jadi kau akan langsung kembali ke rumah sakit setelah ini?”

Chorong tahu Myungsoo seolah ‘mengusirnya’ karena hari ini lelaki itu akan pergi mengunjungi studionya setelah menerima lokasi dari DarkAngel. Chorong tak akan membiarkannya pergi sendirian.

“ Tidak tahu. Memangnya kenapa? Kau dan Sungyeol mau pergi lagi?”

“ Sungyeol dinas pagi. Jadi aku tidak bisa kemana-mana.” Myungsoo berbohong, padahal ia sedang berpikir keras bagaimana caranya meninggalkan apartemen tanpa Sungyeol.

“ Ooh. Kalau begitu aku bisa disini sepanjang hari.”pancing Chorong, Myungsoo panik.

“ Eh.. tidak.. tidak.. kurasa aku akan pergi.”lelaki itu terpaksa jujur, bagaimanapun juga ia harus ke studionya untuk minimal sekedar mengambil foto agar ia bisa melakukan pendaftaran sebagai fotografer pribadi Naeun karena hari ini hari terakhir hiringnya.

“ Sudah kuduga. Kau mau kemana?”tanya Chorong, ia berharap Myungsoo jujur saja.

“ Ke suatu tempat. Bisakah kau bantu aku mencarikan taksi?”

Myungsoo masih tak ingin memberitahu tujuannya.

“ Suatu tempat itu dimana?”

“ Tolong aku memesan taksi saja, please.

“ Beritahu aku kau mau kemana.”

“ Ini urusan pribadi.”

“ Tapi kau pasienku, malah sebenarnya aku tidak bisa membiarkanmu pergi sendirian.”

Myungsoo nyaris putus asa. Ia masih terlalu malu untuk mengatakan ingin pergi ke studionya, ia yakin Chorong akan ikut dan melihat begitu banyak foto-fotonya di studio itu. Myungsoo merasa sangat malu meski itu hanya bagian dari masa lalu mereka.

“…kalau tidak mau jawab ya sudah, aku akan disini sepanjang hari.”Chorong mengancam dengan halus sembari mulai memeriksa Myungsoo, memasang tensi di lengan lelaki tampan itu.

Myungsoo menarik nafas beberapa kali, mencoba untuk tidak merasa malu.

“ Aku ingin ke studioku.”

Akhirnya jujur juga. Chorong tersenyum.

“ Aku tahu dimana letaknya. Ayo kita kesana bersama setelah ini.”

“ Tidak. Aku ingin sendiri.”

“ Kenapa?”

“ Aku—”

“ Malu karena menimbun foto-fotoku disana?”

Myungsoo menunduk, tak sanggup bicara apa-apa lagi. Chorong nampak berpikir beberapa saat.

“…Myungsoo, kau sendiri yang bilang kau penasaran dengan hubungan kita di masa lalu. Izinkan aku mengantarmu ke studiomu, nanti akan kuceritakan bagaimana hubungan kita dulu, sebelum kau lupa ingatan.”

“ Benarkah!?”

Meski masih malu, Myungsoo merasa antusias. Ia benar-benar ingin mendengar ini sejak awal bertemu Chorong.

 

“ Ya. Jadi jangan pergi sendiri.”

*

 

Myungsoo telah duduk di dalam taksi bersama Chorong. Mereka langsung melakukan perjalanan menuju studionya setelah Chorong memeriksanya seperti biasa

Myungsoo masih diam seribu bahasa, sementara Chorong nampak membuka-buka ponselnya, gadis itu membukakan sesuatu di ponselnya untuk Myungsoo lihat.

“ Myungsoo.”

“ Ya?”

“ Lihat ini.”

Myungsoo menerima ponsel gadis itu. Terlihat banyak email lama disana.

“ A..apa ini?”

“ Itu.. semua email yang pernah kau kirimkan untukku selama bertahun-tahun.”

Myungsoo penasaran, ia membukanya satu per satu. Semua email itu hanya berisi foto-foto candid Chorong yang diambil secara diam-diam.

“…dulu.. kau pernah menyatakan perasaanmu padaku. Tapi aku menolaknya. Dan sejak saat itu, kau terus mengikutiku kapanpun dan dimanapun, memotretku kemudian mengirimkan hasil fotonya ke emailku, seolah sedang meneror karena tidak terima telah ditolak.” Chorong bercerita dengan gamblang, “…saking menyeramkannya terormu itu, aku sampai memutuskan untuk pindah rumah.”

“ A..apa?”

Wajah Myungsoo sontak memerah, malu luar biasa.

“ Aku bicara sejujurnya. Seperti itulah hubungan kita dulu. Kau selalu mengatakan padaku bahwa aku adalah cinta pertamamu, dan kau juga selalu bilang padaku bahwa kau tidak akan membiarkanku hidup tenang karena sudah menolakmu.”

Chorong sengaja bercerita apa adanya, ia harap Myungsoo tak lagi penasaran.

“ Apa dulu aku sejahat itu?”gumamnya, Chorong menggeleng.

“ Aku tidak mengatakan kau jahat, tapi itulah yang kau lakukan di masa lalu.”

“ Lalu kenapa sekarang kau mau menjadi dokter pribadiku?”

Karena The King ingin membunuhmu pelan-pelan. Seandainya saja Chorong sanggup mengucapkan kalimat itu.

“ Aku ingin menolongmu. Itu saja.”jawab gadis itu seadanya, Myungsoo masih menunduk malu.

“ Yah.. lagipula tak mungkin terjadi something lagi di antara kita. Kau sudah punya anak.”

Chorong mengangguk saja, tak ingin membahas sampai kesana dulu.

“ Aku akan cari tahu sendiri siapa orang yang telah mengalahkan aku dalam memenangkan hatimu di masa lalu. Aku tidak akan bertanya apapun lagi mulai sekarang. Terimakasih atas kejujuranmu.”

“ Sama-sama.”

Sekarang Chorong yang jadi merasa tak nyaman. Myungsoo terlihat muram sekaligus menahan rasa malu yang teramat sangat setelah mendengar cerita singkatnya.

Mereka tiba di depan studio, Chorong segera turun dan membantu Myungsoo untuk duduk di kursi rodanya. Myungsoo menatap bangunan ruko studionya dan memang merasa familiar.

“ Bisakah kau biarkan aku masuk sendiri?”tanya Myungsoo kemudian.

“ Tapi kau sudah setuju aku menemani—“

“ Kumohon. Aku tak mau kau melihat isi studioku, aku.. akan sangat malu.”

“ Tidak usah merasa malu, aku hanya akan menemanimu, itu saja. Ya?”

“ Jangan. Tolong tinggalkan aku.”

Chorong tak menyangka Myungsoo akan seperti ini, rasanya menyesal juga bercerita tentang masa lalu mereka pada lelaki itu.

“ Kalau aku meninggalkanmu, dengan apa kau akan pulang?”

“ Aku akan pikirkan sendiri.”

Chorong menyerah, Myungsoo terlihat tak ingin dibantah.

“ Baiklah. Gunakan ini untuk menelpon jasa taksi atau Sungyeol, aku menyimpan nomor Sungyeol juga disana.” Chorong menyerahkan ponselnya pada Myungsoo.

“ T..tidak usah.” meski Myungsoo membutuhkannya karena ia tak punya ponsel, ia terpaksa menolaknya karena ini membuatnya semakin malu.

“ Ambillah. Dengan apa kau akan pulang jika tidak punya alat komunikasi?” Chorong meletakkan ponselnya di tangan Myungsoo, “…jika kau tak ingin aku ikut masuk, setidaknya turuti yang satu ini.”

Myungsoo terpaksa menerimanya. Ia pun mengamati bangunan ruko studionya lagi hingga menyadari sesuatu.

“ Kenapa kacanya pecah ya?”

Chorong menatap kaca jendela yang pecah itu, yang juga masih menjadi misteri bagi ia dan Hakyeon. Sampai detik ini Chorong masih tak mau percaya Woohyun yang memecahkan kaca itu.

“…ah.. mungkin dia..” Myungsoo terdengar bicara sendiri, ia ingat DarkAngel sempat mengacak-acak studionya, ia semakin tak sabar untuk masuk, namun ia terhenti di depan pintu karena lupa password pintunya.

“…dasar bodoh.. tolol.. padahal ini studioku sendiri.” Lelaki itu merutuk dan memukuli kepalanya, “…amnesia sialan!”

Chorong yang berdiri di belakangnya pun maju dan menekan passwordnya hingga pintunya terbuka.

“ 1002? Angka apa itu? mengapa aku menggunakan angka itu?” meski malu karena Chorong mengantarnya masuk, Myungsoo tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.

“ Tanggal lahir seseorang yang penting untukmu.”jawab Chorong singkat.

“ Tanggal lahirmu?”

“ Bukan.”

“ Lantas?”

“ Kau bilang akan mencari tahu sendiri. Aku tak bisa menemanimu sampai disini, kan?” Chorong menghentikan kursi rodanya dan menuruti keinginan Myungsoo untuk pergi meninggalkan lelaki itu sendirian.

Myungsoo mengangguk pelan.

“ Maafkan aku, dokter.”

Chorong terpaksa keluar meski ia sangat khawatir dengan kondisi Myungsoo di dalam, ia takut DarkAngel muncul karena bagaimanapun juga ia telah mengirimkan lokasi studio ini pada Myungsoo.

Dokter bedah itu tak bisa melepaskan pandangannya dari bangunan studio Myungsoo meski ia sudah melesat dengan taksinya.

 

“ Semoga tak ada orang lain di dalam sana.”

*

 

“ Jadi.. inikah studioku? Suasananya memang familiar.. pasti sudah sangat lama aku hidup dan bekerja di tempat ini..”

Myungsoo menatap sekelilingnya sembari menjalankan kursi rodanya, menatap isi studionya yang mewah namun berantakan tak karuan, semua hiasan dinding telah berserakan di lantai bersama pot bunga dan koran serta beberapa buku fotografi. Myungsoo tak lagi merasa heran karena ini ulah sang ‘DarkAngel’ beberapa waktu yang lalu, ia hanya bisa berharap psikopat gila itu tidak menampakkan dirinya sekarang karena ia merasa tak sanggup melawan dengan keterbatasan fisiknya.

“ Itu dia..”

Myungsoo menemukan meja besar dimana ribuan foto Chorong terhambur di atasnya, bahkan ada beberapa yang tercecer ke lantai saking banyaknya. Myungsoo tak bisa membayangkan jika Chorong ikut masuk dan melihatnya, ia akan malu setengah mati.

Myungsoo mengambil salah satu fotonya.

“ Masuk akal aku jatuh cinta pada dokter secantik ini. Tapi kenapa aku bisa segila ini?”batinnya, “…aku bahkan sama sekali tidak ingat pernah memotret sebanyak ini..”

Ia pun teringat akan persyaratannya untuk mendaftar sebagai fotografer Son Naeun, yakni mengirim hasil foto terbaiknya, mengambil foto-foto yang bagus memang menjadi tujuan utamanya ke tempat ini.

“…aku ambil dari sini saja.” Myungsoo mengambil satu demi satu foto-foto Chorong dan memasukkannya ke dalam sebuah amplop kosong dari tasnya, semuanya begitu cantik dan sempurna. Ia yakin foto-foto ini bisa membuatnya terpilih menjadi fotografer untuk Naeun.

Setelah merasa cukup, Myungsoo berniat menjelajahi isi studionya untuk mengumpulkan petunjuk tentang jati dirinya, ia yakin ia akan mengingat banyak hal dari tempat ini.

Tangannya kini membuka laci di bawah meja besar tersebut, dan matanya membesar ketika mendapati begitu banyak potongan lembar berita dari koran, majalah bisnis, maupun surat kabar di dalam sana.

“ The King Didaulat Menjadi Perusahaan Terkaya di Korea Selatan…

Keluarga The King Resmi Menjadi Keluarga Terkaya Korea Selatan dengan Kekayaan Lebih dari US$ 2 Miliar..

The King Umumkan Akan Ungkap Penerus Tahta Kerajaan Bisnis Mereka Pada Tahun 2015

[RUMOR : UNCONFIRMED] The King Punya Anak Kembar Fraternal?

Seorang Fotografer ‘L’ Mengaku Dirinya Putra Tunggal The King, Presdir The King : “Dia Hanya Mencari Sensasi”

Seorang Dokter Muda Dikabarkan Akan Menjadi Putra Angkat The King

The King Umumkan Pernikahan Bisnis dengan Keluarga Dokter Son

The King………”

Myungsoo tak mengerti, mengapa ia begitu banyak mengumpulkan berita tentang ‘The King’?

Nama itu memang terasa tak asing bagi Myungsoo, namun ia tak mampu mengingat apa kaitan dirinya dengan kerajaan bisnis ini?

Ia pun mengambil semua potongan berita itu dan memasukkannya ke dalam tasnya, ia akan mempelajari semua isi berita itu.

Myungsoo semakin bernafsu untuk mencari hal lain yang bisa membantunya menggali masa lalunya. Kini kursi rodanya bergerak menuju satu ruang kamar di pojok studio. Itu pasti kamarnya sendiri.

Ckit.

Kursi rodanya berhenti di tengah jalan ketika ia melihat seorang lelaki keluar dari kamar tersebut dengan kepala menunduk karena tengah memainkan ponsel. Ia terkejut, rupanya ada orang lain di tempat ini selain dirinya.

Jangan bilang dia adalah..

“ S..siapa kau!?”

Lelaki itu mengangkat kepalanya dan menatap Myungsoo, ia ikut terkejut.

“ Dokter Nam?!”

“ K..kau..”

“ Sedang apa kau di studioku!?”tanya Myungsoo, berbagai pikiran aneh langsung mendera kepalanya, ia tak menyangka dari semua orang, dokter muda inilah yang ia temui lagi.

“ Aku.. jangan salah paham.. aku disini hanya..”

“ STOP! Jangan mendekat!” Myungsoo sedikit berteriak ketika Woohyun berjalan mendekatinya, ia takut jika lelaki di depannya ini adalah psikopat gila yang terus menerornya dibalik akun DarkAngel.

“ Aish..”

Woohyun merasa sial, tak menyangka harus bertemu Myungsoo lagi di situasi seperti ini. Ia datang ke studio ini semata-mata untuk mencari tahu apa yang sedang Chorong (dan Hakyeon) sembunyikan darinya. Namun nihil, ia tak menemukan apa-apa di studio Myungsoo kecuali rasa heran mengapa kaca jendelanya pecah dan isinya berantakan tak karuan, bahkan foto-foto Chorong tumpah ruah di atas meja.

“…kenapa tempat ini berantakan sekali? Sepertinya ada maling yang masuk.” Woohyun membuka pembicaraan agar Myungsoo tak berpikir macam-macam tentangnya.

“ B..bu..bukan kau yang masuk kesini dan mengacaukan semuanya?”sahut Myungsoo, dengan masih gemetaran tak jelas. Sebab ia sudah terlalu yakin lelaki di depannya ini adalah DarkAngel, tangan Myungsoo pun perlahan-lahan memundurkan kursi rodanya karena mulai ketakutan.

“ Hah? Aku?”

“ Kau.. kau yang.. selalu menggangguku..kan?” Myungsoo ingin sekali marah, namun ia masih dikuasai rasa takutnya.

Tapi.. Woohyun terlihat tak mengerti arah pembicaraannya.

“ Kenapa kau berpikir begitu?”

“ Apa kita saling kenal di masa lalu?”

“ Melihat aku memasuki studiomu, tentu saja jawabannya ya.”

“ Siapa kau?”

“ Bukankah sudah kubilang panggil saja aku dokter Nam?”

“ Namamu.”

“ Nam Woohyun, puas?”

Myungsoo tersentak. Ia teringat pesan kecil nan menyakitkan yang sempat ia temukan di kameranya yang rusak. Tentu ia langsung berasumsi bahwa Choronglah yang menulis pesan itu untuknya.

“ Apa tujuanmu kesini?”

“ Yang jelas bukan menemuimu. Aku saja kaget kau bisa muncul disini.”

Myungsoo dibuat bingung. Jika benar demikian, apa dokter lelaki di depannya itu memang bukan DarkAngel?

Namun ia merasa harus tetap waspada.

“ Lalu apa tujuanmu kesini?”

“ Kenapa ponsel Chorong ada di tanganmu?”

Myungsoo kesal karena pertanyaannya tak dijawab.

“ Agar aku bisa menghubungi taksi atau temanku untuk menjemputku.”

“ Ikut denganku saja. Ayo keluar.”

“ Tidak.” Myungsoo langsung menolak, tentu karena ia masih curiga.

“ Kenapa? Kau takut aku mencelakaimu?”

“ Aku.. aku tidak begitu kenal kau siapa.”

“ Kau sangat mengenalku, Kim Myungsoo. Hanya saja kau tidak ingat.”

“ Apa kita teman?”

Woohyun tertawa, meledek amnesia Myungsoo.

“ Kalau kau ingin tahu ayo keluar denganku sekarang.”

“ Aku masih ingin disini, aku.. ingin mencari banyak hal dulu untuk mengingat apa yang kulupakan.”

“ Tidak ada petunjuk apapun yang bisa kau dapat disini. Semuanya sudah berantakan dan diambil maling. Sudahlah.” Woohyun membalikkan kursi roda Myungsoo dan membawa lelaki itu keluar.

Sebenarnya Woohyun tak ingin Myungsoo memasuki kamar itu, begitu banyak foto Naeun di dalam sana, akan bahaya jika Myungsoo mendapat ingatan tentang Naeun. Di satu sisi ia lega karena menemukan Myungsoo di tempat ini.

Lelaki lumpuh dan tak berdaya itu terpaksa menurut, ia masuk ke dalam mobil Woohyun yang ternyata terparkir di belakang gedung ruko. Sang dokter melipat kursi rodanya dan masuk ke mobil, membawanya pergi menjauhi studio.

“ Darimana kau tahu alamat studiomu? Kau lupa ingatan, kan?”tanya Woohyun, Myungsoo masih bimbang, apakah ia harus melanjutkan kecurigaannya pada dokter ini?

Dilihat dari sikapnya, ia memang tidak seperti DarkAngel. Tapi entah jika ia sedang menipu.

“ Dokter Park Chorong mengantarku kesini.”

Sialan. Woohyun berpikir Chorong mengantar Myungsoo agar lelaki lumpuh ini bisa bebas untuk menggali ingatan masa lalu di dalam studionya. Ia langsung menganggap Chorong masih tak sepenuhnya menuruti perintah dan keinginannya.

“ Kembalikan ponsel Chorong padaku.”pinta Woohyun kemudian, Myungsoo menggeleng.

“ Untuk apa?”

“ Berikan saja padaku.”

“ Kau bukan hanya sekedar rekan kerja dokter Chorong, kan?”

Woohyun tertawa sinis.

“ Tanya saja sendiri dengan Chorong nanti.”

“ Kau..”

“ Apa lagi?”

“ Bukan DarkAngel, kan?”

Woohyun mendengus. Heran mengapa akhir-akhir ini terus mendengar kata ‘DarkAngel’. Namun di satu sisi penasaran juga mengapa Myungsoo bisa tahu nama itu, bukankah itu nama akun bunuh diri Yura? Pikirnya.

“ DarkAngel apa maksudmu?”

Baiklah. Mungkin memang bukan dia. Myungsoo menyerah.

“ Lupakan.”jawab Myungsoo singkat.

“ Masih tidak mau memberi ponsel Chorong padaku?”

“ Untuk apa aku berikan padamu?”

“ Untuk kukembalikan pada pemiliknya. Puas?”

“ Aku saja yang kembalikan.”

Dasar keras kepala. Desis Woohyun.

“ Aku beri kau satu permintaan, akan kuturuti sekarang juga asal kau berikan ponsel Chorong padaku.”

Dokter menyebalkan ini pintar sekali mendesaknya. Myungsoo terpaksa mengungkapkan keinginannya.

“ Antar aku ke kantor pos.”

“ Kantor pos? untuk ap—“

“ Dan jangan bertanya apa tujuanku kesana.”

Woohyun memutar bola matanya, ia pun mengarahkan GPS mobilnya menuju kantor pos dengan rasa penasaran.

Myungsoo pun meletakkan ponsel Chorong di dasbor mobil Woohyun. Kini ia mempersiapkan foto-foto yang akan ia kirim lewat pos untuk mendaftarkan dirinya sebagai fotografer Son Naeun.

“ Setelah dari kantor pos aku akan kembali ke rumah sakit. Kau mau kuantar pulang?”tawar Woohyun.

“ Aku naik taksi saja.”

“ Jangan. Kuantar saja.”

Kalau begitu kenapa bertanya? Batin Myungsoo dongkol.

“ Apartemenku jauh dari tengah kota.”

Woohyun tersenyum sinis.

 

“ Sejauh apapun itu, aku harus tahu dimana letaknya.”

***

 

“ Hei! Pengumuman!! Siapa yang mau ikut denganku ke medical center? Keluarga dokter Son bagi-bagi uang untuk polisi, kita disuruh menyelidiki orang yang baru saja jatuh dan meninggal dari atap kemudian disuruh menyimpulkannya sebagai kasus bunuh diri.”

Para anggota polisi yang tengah sibuk di kantor langsung antusias mendengar pengumuman kapten mereka, tak terkecuali Sungyeol.

“ Kita diberi uang untuk melakukan penyelidikan?!” semua nampak girang.

“ Bukan untuk penyelidikan, tapi untuk menyimpulkan kasus itu sebagai kasus bunuh diri.”

“ Walaupun nanti ternyata hasil penyelidikannya mengindikasikan bukan bunuh diri?”tanya Sungyeol.

“ Bingo!”

Oh. Kasus serupa Oh Haesook lagi ternyata. Sungyeol tak habis pikir mengapa kaptennya begitu bangga melakukan pekerjaan kotor seperti ini dan tidak menghormati seragam polisi yang dipakainya.

“…keluarga dokter Son tentu saja tidak mau ada kegaduhan berkepanjangan di rumah sakitnya. Orang-orang pasti memaklumi saja jika itu kasus bunuh diri, karena memang itu sudah biasa terjadi akhir-akhir ini. Jadi.. yang mau uang, ikut denganku!”seru sang kapten, Sungyeol melihat semua rekan detektifnya angkat tangan dengan semangat.

“…yah..yah.. terlalu banyak. Aku ajak satu orang saja.”sang kapten mencoba memilih. Sungyeol geleng-geleng kepala melihat rekan-rekannya yang memohon.

“ Ckckck, kalian ini polisi atau bukan? kenapa kalian mau-maunya melakukan pekerjaan kotor—“

“ Lee Sungyeol.”

“ Ya?”

“ Mau uang?”

“ Mau lah.”

“ Ikut denganku.”

“ Aku?”

“ Ya. Kau saja.”

“ YAAAHHH!!!” semua rekannya protes, Sungyeol terpaksa berdiri dan mengikuti sang kapten dengan salah tingkah.

*

 

“ Ini sisa tagihan biaya perawatan pasien atas nama Kim Sunggyu. Keluarganya belum memberi konfirmasi pada pihak medical center untuk membayar. Jadi kami akan membuat surat tagihan—“

“ Tidak usah, biar aku saja yang bayar.”

“ Benarkah? Kalau begitu silahkan tandatangan disini dan siapkan uang sejumlah tagihannya.”

Chorong yang telah kembali ke medical center menyempatkan dirinya untuk mengurus administrasi Sunggyu di instalasi rawat inap. Kematian pasien lamanya itu tak membuatnya lepas tangan sebagai dokter yang bertanggung jawab sekaligus empati.

“ Baru kali ini kulihat dokter yang membayar administrasi almarhum pasiennya. Kau pasti sangat kehilangan Sunggyu.”

Chorong terkejut karena Howon tiba-tiba muncul di sampingnya.

“ Yah.. begitulah. Aku tidak menyangka saja dia meninggal, padahal tinggal satu operasi lagi dia akan sembuh total.” sahut gadis itu, di satu sisi ia merasa senang karena Howon menyapanya duluan, ia kira ketua timnya ini masih marah besar padanya dan Woohyun.

“ Dia dirawat berbulan-bulan disini. Apa tagihannya besar?”

“ Lumayan.”

By the way, aku yang pertama kali dengar suara jatuhnya Sunggyu. Aku dan Woohyun, sih.”

“ Oh ya?”

“ Ya. Suaranya keras sekali. Aku lari kencang-kencang, berharap dia masih hidup dan bisa diberi tindakan, tapi ternyata dia langsung mati ketika menyentuh aspal.”

“ Ya Tuhan.. aku masih tak mengerti kenapa ini bisa terjadi..”

“ Aku juga.”

 

“ Howon!!”

Howon terkejut karena mendengar suara seseorang memanggilnya. Rupanya Sungyeol, saudara kembar fraternalnya itu muncul dari dalam lift dengan seragam polisi dan berlari kecil ke arahnya.

“ Sedang apa kau disini?”tanya Howon pura-pura sinis, Sungyeol langsung meninju bahunya.

“ Tugas, lah. Eh, ada dokter Park. Sedang apa kalian berdua disini?” Sungyeol sedikit menggoda mereka dan Howon langsung memelototinya.

“ Apa kau datang kesini untuk menyelidiki kasus Sunggyu?”tanya Chorong, Sungyeol mengangguk kecil.

“ Sebenarnya kaptenku, sih. Aku hanya membantunya.”

“ Ooh.. aku lega kau ikut menyelidiki kasus ini.”

“ Kudengar dari para staf rumah sakit, yang pertama kali dengar suara jatuh dan menyadari Sunggyu terjun dari atap rumah sakit adalah dokter Nam Woohyun dan dokter Lee Howon. Aku cari dokter Nam kemana-mana untuk dimintai keterangan tapi tidak ketemu, aku wawancarai kau saja dulu.”ucap Sungyeol pada Howon sembari mengeluarkan alat perekamnya.

“ Aku harus jawab jujur atau bohong?”tanya Howon, “…jawab bohong tak masalah, kan? Paling-paling kau sudah disogok pihak atas juga untuk menyimpulkan ini sebagai kasus bunuh diri.”

“ Iyasih, hahaha.”

Chorong geleng-geleng kepala. Sepertinya semua dokter sudah tahu persis karakter keluarga dokter Son jika menghadapi kasus-kasus yang berpotensi menurunkan reputasi rumah sakit mereka.

“…tapi aku tetap minta keterangan jujur. Please.” pinta Sungyeol.

“ Baiklah. Jadi.. memang aku yang pertama kali dengar suara jatuhnya Sunggyu, aku dan Woohyun. Suaranya keras sekali. Setibanya di TKP aku dan Woohyun yang memeriksanya dan memastikannya meninggal. Aku yang menyatakan waktu kematiannya. Tepat jam 5 pagi.”

“ Apa akan dilakukan otopsi?”

“ Sepertinya tidak. Semua orang percaya dia bunuh diri. Dia pasien yang dikenal memang sering melakukan percobaan bunuh diri hingga berkali-kali patah tulang. Iya kan?” Howon melirik Chorong yang melamun. Chorong hanya mengangguk pelan.

Karena meski Sunggyu pasien yang seperti itu, Chorong begitu yakin ada faktor lain yang membuatnya meninggal dunia.

“ Sungyeol-ssi.”

“ Ya, dokter Park?”

“ Apapun hasil penyelidikannya, akan tetap dikatakan bunuh diri?”

“ Yah.. begitulah. Dokter Son sudah membayar kepolisian untuk itu, dia tidak mau memperpanjang kasus ini karena tak mau membuat pengunjung medical center merasa resah.”

“ Sayang sekali.” Chorong nampak kecewa, ingin sekali ia benar-benar mengetahui apa penyebab kematian Sunggyu yang sesungguhnya.

“ Nah. Aku ditelepon kapten, disuruh kembali ke kantor.”

“ Ooh.. jadi pekerjaan kotormu sudah selesai?”sindir Howon, Sungyeol langsung meninju perutnya dengan sebal.

“ Ya sudah. Aku pamit ya. Bye!” Sungyeol melambaikan tangannya dan masuk lagi ke dalam lift, menekan tombol panah bawah untuk pergi ke lantai dasar.

 

“ Halo, detektif Sungyeol.”

Sungyeol terkejut mendengar suara seorang gadis di belakangnya.

“ Dokter Son Naeun?”

“ Hai. Apa kabar?”

Naeun ternyata berada satu lift dengannya dan berdiri di belakangnya. Dokter jiwa itu tersenyum pada sang detektif.

“ Baik, hehe. Oh ya.. sedang apa disini? Kukira kau di klinik darurat.”

“ Kau sendiri sedang apa disini?”

“ Aku? Yah.. tentu saja mengurus kasus yang baru terjadi tadi pagi.”

“ Oh, yang jatuh dari atap itu ya.”

“ Iya, hehe.”

Kenapa pembicaraan ini terdengar aneh bagi Sungyeol?

“ Sudah sejauh mana penyelidikanmu?”

“ Ah.. baru sedikit sekali.”

“ Maaf, karena keluarga kami menyogok polisi untuk kasus ini. Kami hanya tidak mau suasana medical center menjadi penuh keresahan dan menimbulkan ketidaknyamanan bagi pasien maupun pengunjung.”

Sungyeol mengangguk-angguk, “ Ya.. aku mengerti. Oh ya.. tadi aku tanya.. kau sedang apa disini? Kukira kau di klinik darurat.”

Naeun tersenyum aneh lagi, atau ini perasaan Sungyeol saja?

“ Aku hanya rindu suasana medical center. Sudah lama aku tidak kerja disini sejak pindah ke klinik darurat. Tadi juga aku ikut keluargaku untuk melihat TKP.”

“ Oooh.. begitu ya.”

“ Iya.”

Entah mengapa Sungyeol merasa awkward. Ia ingin cepat-cepat keluar dari lift.

Ting.

Pintu lift telah sampai ke lantai dasar.

“ Kau tidak keluar?”tanya Sungyeol yang tadinya ingin mempersilakan Naeun keluar duluan.

“ Tidak. Aku mau keliling-keliling dulu. Aku akan rindu suasana rumah sakit ini karena selama 2 bulan kedepan aku tidak menjadi dokter aktif.”

“ Ooh.. begitu. Ya sudah, aku duluan.” Sungyeol pamit dan melangkah keluar dari lift.

Namun Naeun menahan tangannya sebentar.

“ Ada apa, dokter?”

Gadis itu tersenyum lebar pada sang detektif.

 

“ Semangat untuk penyelidikanmu, Sungyeol-ssi.”

***

 

“ Bagaimana pekerjaanmu sebagai dokter pribadi Myungsoo?”

Howon mengajak Chorong untuk minum kopi bersama di ruang istirahat terbuka yang ada di departemen bedah sebelum mereka menjalankan kegiatan praktek rutin masing-masing.

“ Baik-baik saja.”jawab Chorong seadanya sembari menyesap kopinya.

“ Kau masih tidak menuruti keinginan The King dan mengobati Myungsoo dengan baik?”

“ Sudahlah. Biar jadi urusanku. Aku tak akan menyeretmu lagi.”

“ Seret saja, aku mau kalau diberi 300 juta won lagi seperti kemarin.”

Chorong tertawa, “ Dasar..”

“ Kau tidak marah kan karena aku tidak membagi uangnya denganmu? Lagipula semua uangnya sudah terpakai untuk biayaku membangun klinik pribadi.”

Bagi Chorong, uang sejumlah itu tak ada artinya lagi dibanding pendapatannya dengan Hakyeon dari situs bunuh diri mereka.

“ Tidak. Aku tidak marah. Anggap saja permintamaafanku juga karena sudah berbohong tentang—“

“ Ya.. ya.. sudah kumaafkan.”

“ Kau memaafkan aku atau Woohyun?”

“ Tentu saja kau. untuk apa aku memaafkan bajingan itu?”

“ Sudahlah.. kita satu departemen, akan sulit jika kalian bermusuhan.”

“ Aku heran kenapa kau masih mau membelanya. Jawab aku, jika bukan karena anak kalian, apa kau akan tetap disisi Woohyun?”

Chorong juga sering mempertanyakan itu pada dirinya sendiri.

“ Mungkin.”

“ Huh.. aku bisa saja jika ingin menyebarkan hubungan gelap kalian ke orang-orang. Tapi aku terlalu sibuk, jadi berterimakasihlah.”

Chorong tersenyum getir.

“ Terimakasih, Howon.”

“ Pacarmu datang, aku malas bicara dengannya.” Howon pun berdiri dan pergi karena mendapati sosok Woohyun muncul memasuki area departemen, Chorong ingin pergi juga karena masih kesal.

BRUK.

Namun satu ponsel tiba-tiba jatuh ke pangkuannya, Woohyun sedikit melempar benda itu kemudian duduk di sampingnya.

Chorong menganga ketika menyadari bahwa itu adalah ponselnya, yang ia berikan pada Myungsoo tadi pagi.

“ Kaget?”tanya Woohyun, Chorong nampak salah tingkah.

“ Kau.. bertemu Myungsoo?”

“ Ya.”

“ Kau bertemu dia di—“

“ Di studionya. Kenapa? Mau menuduhku DarkAngel juga? Kalian berdua ini kenapa?”

Chorong tak berani bicara lagi. Sebenarnya melihat sikap Woohyun yang seperti ini membuatnya agak lega dan bisa menduga bahwa sepertinya memang bukan Woohyun si peneror di balik akun DarkAngel itu.

“ Sedang apa kau di studionya?”

“ Aku hanya mencari sesuatu yang mungkin bisa menjadi petunjuk mengapa kau akhir-akhir ini mencurigaiku. Tapi aku tidak menemukan apa-apa dan malah kebetulan bertemu Myungsoo.”

“ O..oh.”

“ Kau sudah gila ya?”

“ Apa?!”

“ Kenapa membiarkan Myungsoo pergi ke studionya? Kau tahu sendiri disana banyak sekali tersimpan memorinya dengan Naeun. bukankah sudah berkali-kali kubilang rencanaku akan hancur jika mereka berdua bertemu lagi?”

Chorong merasa seperti tertangkap basah lagi telah melakukan kesalahan.

“ Maaf. Aku tidak berpikir sampai kesana.”gadis itu memilih untuk mengalah.

“ Untung saja aku berhasil membawanya keluar.”

Chorong terkejut.

“ Jadi dimana dia sekarang?”

“ Di apartemennya.”jawab Woohyun sembari menampakkan senyum licik yang lebar, “…kau tahu apa artinya?”

“ Kau sudah tahu alamat apartemennya.”

“ Bingo!”

Chorong menghela nafas pasrah, otak jeniusnya tiba-tiba berpikir untuk memindahkan tempat tinggal Myungsoo, namun ia tak tahu harus kemana. Mulai sekarang ia akan kesulitan mengunjungi pasien pribadinya itu dan memberinya perawatan yang benar, Woohyun pasti akan mengawasinya.

“ Apakah.. Myungsoo bertanya tentang hubungan kita?”

“ Tentu saja.”

“ Kau jawab apa?”

“ Kubilang tanya saja padamu.”

“ YA! Kenapa membebankan aku?”

“ Aku malas menjelaskan banyak hal padanya, dia terus bertanya-tanya apakah aku DarkAngel DarkAngel DarkAngel.. aku kesal mendengarnya. Kenapa dia tahu nama itu? bukankah itu hanya akun bunuh diri Kim Yura?”

Chorong mulai yakin bahwa Woohyun memang bukan orangnya, meski tetap waspada karena pada dasarnya Woohyun sangat pandai berbohong dan bersikap manipulatif.

“ Entahlah.”Chorong tak mau berkomentar, lebih baik pura-pura tidak mengerti.

Drrt..drrt..

Woohyun menerima telepon yang masuk ke ponselnya. Chorong sempat melirik layarnya dan tahu bahwa Naeun yang menghubungi lelaki itu.

“ Ada apa? Hah? Malam ini juga? Ck, baiklah.” Woohyun menutup teleponnya dengan cepat.

“ Kenapa?”

“ Malam ini keluarga besar dokter Son akan mengadakan rapat untuk membahas insiden kematian Sunggyu tadi pagi. Mereka benar-benar tidak tinggal diam dan merasa reputasi medical center akan jatuh karena insiden mengerikan ini terjadi di medical center, jadi sepertinya mereka akan menyusun rencana untuk mengubur kasus ini lebih dalam. Menyogok polisi untuk menyatakan kasus ini bunuh diri saja tidak cukup.”

Mwo?” Chorong nampak sedih mendengarnya, “…jadi.. tak ada satupun usaha untuk mencari tahu penyebab kematiannya yang sebenarnya?”

“ Kurasa begitu. Keluarga dokter Son hanya akan fokus pada bagaimana agar masalah ini segera dilupakan oleh orang-orang.”

“ Tidak bisakah kau memperjuangkannya? Sebagai dokternya.. aku sangat ingin tahu kenapa dia mati mendadak dengan cara setragis itu. kau juga ingin tahu, kan? Aku yakin kau merasa ada yang janggal dengan kematiannya karena sebelumnya dia memaksamu menjelaskan hasil otopsi Haesook.”

Woohyun menatap Chorong dan mengelus rambut indah gadis itu.

“ Sabarlah. Akan kucoba membujuk mereka saat rapat nanti. Tapi jangan terlalu banyak berharap.”

“ Kumohon.”

Woohyun mengangguk. Chorong tersenyum lega dan berterimakasih dengan bersandar di bahunya, bisa sedikit melupakan kekesalannya pada Woohyun karena keinginan sederhananya untuk mencari keadilan atas kematian Sunggyu didukung oleh lelaki itu.

“ Oh ya. Tapi aku minta maaf.”ucap Woohyun.

“ Untuk apa?”

“ Aku tidak bisa bertemu Chohyun lagi malam ini. Padahal aku ingin menebus kesalahanku yang kemarin dan mengajaknya jalan-jalan.”

“ Apa kemarin kau tak jadi menjemputnya karena benar-benar diteror Kim Yura?”

“ Ya. Bahkan teror itu terus-terusan.. sudahlah, aku ngeri menceritakannya. Lagipula kau tidak akan percaya.”

“ Aku percaya. Kau sudah sejahat itu padanya, tentu saja dia akan dendam.”

“ YA!”

Chorong tertawa, “ Sudahlah.. kumaafkan masalah Chohyun kemarin. Malam ini biar aku dan Hakyeon oppa yang membawanya jalan-jalan.”

“ Dia pasti akan banyak jajan. Kau perlu uang ekstra? Jangan sampai minta uang Hakyeon untuk membelikan Chohyun ini itu, nanti aku semakin direndahkan olehnya.”

Chorong kembali tertawa kecil, ia pun kini menggunakan otak cerdasnya untuk memancing Woohyun.

“ Ya sudah, sekarang berikan kartu kreditmu padaku.”

“ Kartu kredit?”

“ Hm.”

“ Kartu kreditku sudah lama hilang, sudah sebulan ini aku pakai uang cash.

Chorong terkejut.

“ B..benarkah?”

“ Iya. Tak percaya? Lihat saja dompetku.”

“ Percaya! Aku percaya!”

Chorong merasakan kelegaan yang teramat sangat dalam hatinya. Ia harus segera memberitahu Hakyeon bahwa Woohyun bisa terbebas dari daftar ‘tersangka’ di balik akun DarkAngel. Kali ini ia akan benar-benar marah jika Hakyeon masih tak mempercayainya nanti.

“ Kenapa kau segirang itu?”

“ Aku selalu yakin bukan kau orangnya.. syukurlah!” Chorong nampak sangat lega dan tersenyum bahagia, bibirnya mengecup bibir Woohyun sekilas dan memeluk lelaki itu erat-erat.

 

Meski heran, Woohyun senang diperlakukan seperti ini.

Tak peduli sejahat apapun dirinya, tak peduli sesering apa mereka bertengkar, Chorong tetap tak bisa melepaskannya.

***

 

“…”

Myungsoo melamun di apartemennya. Ia sama sekali tak punya gairah untuk tidur meski semalaman ia terjaga.

Sebab perasaan tak aman itu masih saja terasa. Ingin rasanya ia mengacak-acak apartemennya dengan sengaja, melihat apartemennya serapi dan sebersih ini justru membuatnya merasa cemas.

Lelaki itupun menyalakan komputernya lagi, membuka forum yang sudah dapat ia tebak apa isinya.

Sungwon, Wonsik, Hyungwon, Jeongin, Gun, dan sang anonim marah-marah, kesal mendapat kabar dari Eunji bahwa kasus kematian Sunggyu ditutup begitu saja seperti halnya kasus Haesook. Keduanya sama-sama dinyatakan murni bunuh diri. Padahal, banyak pertanyaan yang tersimpan di forum ini yang mengisyaratkan kejanggalan atas kematian mereka berdua.

Kim_Myungsoo : mungkin ini yg terbaik. Aku jg merasa janggal, tapi.. ayo kita doakan Sunggyu dan Haesook.

Myungsoo tak bisa berbuat apa-apa selain mengirimkan pesan agar mereka bersabar.

Lmao_r : tapi dia mati saat hendak menyampaikan sesuatu yg penting pd kita!

XXX_Lee03 : ya! Dia mati setelah mendengar penjelasan dokter tentang hasil otopsi Haesook…

Sungwonapplecandy : dan yg aneh, rekaman live itu dihapus. DIHAPUS!

Yesterday_a : dan kami yakin bukan dia yg menghapusnya

Manonfire_4 : damn. Aku ingin marah dan membanting semua orang

EjJung_K93 : kau kira aku tidak kesal? Aku tidak bisa berbuat apa2 jg

Anonim1 : aku tahu sunggyu hyung memang sering melakukan percobaan bunuh diri, tp.. timingnya sekarang benar2 tidak tepat

6969 : dia jg selalu pamit tiap ingin bunuh diri, tidak mati mendadak seperti ini.

DarkAngel : uuh.. jatuh dari atap.. pasti tulangnya patah semua 😦

 

“ Brengsek ini..”

Myungsoo heran karena semakin hari sepertinya DarkAngel justru semakin senang memancing emosi para member. Jika saja ia tidak diteror sedemikian mengerikan seperti ini, mungkin ia sudah berkata-kata kasar pada akun sialan itu seperti yang lain.

Munculnya komentar DarkAngel membuat Myungsoo teringat kembali pada Woohyun, yang ditemuinya beberapa saat lalu di studionya. Ia masih tak tahu apakah memang lelaki itu orangnya. Jika dilihat dari sikapnya, mungkin bukan. Namun mereka bertemu secara kebetulan di studio, membuat Myungsoo tetap merasa curiga, apalagi Woohyun tidak menyebutkan tujuan sesungguhnya mendatangi studionya.

Tak ingin memperdulikan DarkAngel, Myungsoo menutup komputernya sejenak. Ia benar-benar mengantuk namun masih terlalu takut untuk tidur.

Ia pun meraih tasnya dan mengambil potongan-potongan berita yang ia ambil dari laci studionya, mencoba membaca berita itu satu per satu.

 

Sebab ia heran. Mengapa ia mengumpulkan banyak artikel tentang The King?

 

***

 

09.00 p.m

 

Seperti yang telah dijadwalkan, keluarga besar dokter Son berkumpul dan membahas tentang insiden jatuhnya Kim Sunggyu dari atap medical center yang harus setengah mati mereka kubur demi keamanan reputasi medical center mereka.

“ Kudengar korban adalah pasien dokter Park Chorong.”ucap salah satu anggota keluarga.

“ Park Chorong spesialis bedah ortopedi itu?” tanya dokter Son, ia tentu kenal dengan dokter cerdas yang sempat menolak beasiswa darinya dan membuatnya kesal beberapa tahun yang lalu.

“ Ya. Setahuku.. dokter Park adalah orang yang kritis, bagaimana jika dia menuntut keadilan dan ingin mencari tahu penyebab kematian korban yang sebenarnya?”Woohyun angkat bicara, Naeun yang duduk di sampingnya tertawa sinis.

“ Haha. Sedang menjadi penyalur aspirasinya?”bisik gadis itu dengan nada mengejek, Woohyun tak mempedulikannya.

“ Aku juga memikirkan itu. dokter Park Chorong pasti akan protes setelah hasil otopsi palsu kita keluarkan.”sahut salah satu anggota keluarga lagi.

“ Dia juga keras kepala dan senang diajak berdebat. Sial sekali korban ini adalah pasiennya.”sahut yang lain.

“ Jangan khawatir. Kita hanya perlu berhati-hati. Lagipula dokter Park tidak punya wewenang untuk menentang kita, pihak atas.”ucap Naeun tenang, Woohyun langsung meliriknya dengan sinis dan dendam karena semua anggota keluarga setuju padanya.

 

“ Tidak usah kesal begitu. Memang seperti ini kelicikan keluargaku sejak dulu.” Naeun menenangkan Woohyun yang masih saja muram ketika rapat selesai.

“ Jangan salah paham. Aku tidak hanya memperjuangkan keinginan Chorong, tapi aku juga penasaran dengan penyebab kematiannya.”sahut Woohyun, ia malas untuk bicara lagi karena usahanya sudah gagal, lelaki itu berdiri dan meraih kunci mobilnya.

“ Kau mau kemana?” tiba-tiba dokter Jung, ibu Naeun menghalanginya, “…tidak tidur disini dengan Naeun?”

Sial. Woohyun baru ingat ia berada di mana. Ia berada di rumah keluarga dokter Son yang sedang berkumpul. Jika ia pulang, tentu akan menimbulkan tanda tanya.

“ Ahh.. aku.. tidur disini.. tentu saja.”jawabnya terpaksa sembari menoleh ke arah Naeun yang juga mengangguk-angguk dengan terpaksa.

“ Semua kamar tamu penuh karena semua anggota keluarga bermalam disini. Tidur di kamar pribadi Naeun saja, ya?”

“ Jangan!” gadis itu langsung menyela.

“ Kenapa?”

“ Kamarku.. berantakan.”ucap Naeun, “…siapkan kami kamar kosong, please. Tidak usah kamar yang besar, asalkan kamar kosong.. tidak apa-apa.”

“ Huh.. ya sudah.” Dokter Jung berlalu dan memanggil pegawai rumah untuk menyiapkan kamar.

“ Sial, jadi kita akan sekamar malam ini?” Woohyun mendengus kesal.

“ Kau kira aku mau?”balas Naeun sengit.

*

 

Pada akhirnya, malam itu keduanya tak bisa tidur.

Woohyun menggelar selimut di lantai, ia tak punya keinginan sama sekali untuk tidur seranjang dengan Naeun. Tapi ia hanya terus berbaring dan tak bisa memejamkan matanya karena terganggu dengan suara beberapa ekor anjing yang menggonggong di luar. Anjing-anjing itu adalah milik beberapa anggota keluarga Naeun yang diletakkan sengaja di area pintu masuk klinik darurat untuk menjadi penjaga. Dan sialnya, kamar yang ditempati Woohyun dan Naeun sekarang jaraknya cukup dekat dengan area pintu masuk klinik darurat tersebut hingga mereka akhirnya bisa mendengar suara anjing-anjing itu dengan sangat jelas.

Sunbae.. ambilkan aku.. satuuu saja..”

Sementara Naeun berguling kesana kemari, gelisah karena belum mengonsumsi wine. Ia juga salah satu penyebab Woohyun tak bisa tidur, gadis itu terus rewel meminta diambilkan wine dari dasbor mobilnya. Woohyun tak menurutinya. Namun semakin diabaikan, Naeun semakin menganggunya.

…Woohyun.. please.. aku mau mati rasanya.. aku ingin minum..”

“ Tidur saja bisa tidak!? Jangan ganggu aku!”omel lelaki itu.

Naeun justru mendekatinya dan menatapnya licik.

“ Aku akan lapor pada ayah dan ibu kalau kau tidur di lantai dan tidak mau tidur denganku.”

“ HEI!” Woohyun benar-benar emosi, Naeun menghalalkan berbagai cara untuk mendapatkan sebotol wine saja, benar-benar gadis aneh.

“ Makanya ambilkaaan…”

Woohyun terpaksa keluar sebentar dan mengambil satu botol wine dari mobilnya, melemparnya pada Naeun kemudian kembali ke lantai.

Sunbae..” meski sudah memegang botol wine, nyatanya Naeun masih mengajak Woohyun bicara dari atas tempat tidur.

“ Apa lagi!?”

“ Besok.. aku tidak praktik lagi.”

“ Huh?”

“ Besok aku mulai menjalani pemotretan, syuting iklan, interview, dan lainnnya. Aku menerima banyak kontrak dan semua kontrak itu baru akan selesai dalam dua bulan.”

“ Kenapa baru bilang sekarang? Kenapa tidak izin padaku?”

“ Apa pentingnya izin padamu?”

Oh ya. Woohyun sadar dia bukan suami yang dihormati.

“ Terserahlah. Lalu apa kau sudah punya manajer? Jangan bilang kau mempekerjakan Eunji.”

“ Tidak. para PR mencarikanku fotografer sekaligus manajer baru, dan aku akan bertemu orangnya besok di lokasi pemotretan.”

“ Baguslah.”

Sunbae.”

“ Apa lagi?”

“ Tidak mau tidur di atas sini? Hm?”

Woohyun tak terkejut mendengar pertanyaan itu. Ia tahu Naeun sudah mulai mabuk.

“ Tidak.”

“ Apa aku yang harus turun? Apa kita harus melakukannya di lantai?”

Naeun semakin seduktif, membuat Woohyun jengkel dan memilih untuk pura-pura tidur saja meski suara gonggongan anjing di luar masih mengganggunya.

“…uh.. jadi kapan malam pertama kita? Sudah hampir enam bulan kita menikah..”

“ Tidak ada malam pertama.”

“ Takut dengan Chorong ya? Ahahahahaha….~”

“ Tidak takut, aku hanya memang mau dengannya saja.”

Woohyun merasa tolol karena masih terpancing untuk menjawabnya.

“ Kukira aku mau denganmu!? Aku hanya mau Kim.. Myung..Soo…~”

“ Lalu kenapa kau menggodaku?”

“ Aku ingin melakukannya denganmu… tapi membayangkannya seolah dengan Myungsoo.”

“ Kau ini bicara ap—“

“ Ayo lakukan, kau boleh bayangkan sedang melakukannya dengan Chorong.”

“ Dasar gila.”

Sunbae.. ayoo..” Naeun mulai menyentuh perutnya, Woohyun langsung berguling dan menjauh. Ia sungguh merasa sial harus sekamar dengan Naeun disaat ia mabuk berat seperti ini. Rasanya sama-sama mengerikan seperti menghadapi Kim Yura.

“ Kalau kau menyentuhku lagi, aku akan memukulmu. Paham?”

“ Pukul saja.. aku akan langsung visum dan lapor keluargaku.”

Woohyun menghela nafas berat dan berbalik, mencoba tidur dengan menutup telinganya karena suara-suara anjing di luar masih saja bersahutan dan mengganggunya.

Nam Woohyun ~ kau tahu tidak kenapa anjing menggonggong keras-keras?”

Woohyun sungguh tak mau peduli, ia akan biarkan Naeun bicara sendiri sampai puas.

“…kalau anjing menggonggong keras-keras di tengah malam, itu artinya mereka melihat hantu.”

“ Aku tidak peduli.”

“ Kalau hantunya Kim Yura, apa kau akan peduli?”

“ DIAM!”

Naeun tertawa karena Woohyun berhasil dibuat kesal lagi olehnya.

“ Kim Yura datang~ dia akan menemanimu di lantai.. hii~”

Woohyun bangkit dari tempat tidurnya dengan emosi tertahan, ia membuka-buka tas kerjanya, mengambil satu kotak pil obat tidur dan langsung meminumnya dua butir, lalu meletakkan kotaknya di meja dengan agak keras.

“ Daripada menggangguku lebih baik minum itu saja.”ucapnnya kesal, ia kembali berbaring dan dalam hitungan menit ia benar-benar tertidur meski suara anjing-anjing itu masih terdengar mengganggu.

Naeun tersenyum gemas menatap Woohyun yang terlelap dengan cepat di lantai kamarnya.

“ Selamat tidur, bajingan. Sayang aku tidak mempan dengan obat tidur. Lalu aku harus bagaimana?”

***

 

Rabu, 14 Juni.

07.00 p.m

 

“ Aih.. kenapa baru diberitahu pagi ini..”

Myungsoo nampak panik pagi itu setelah menerima sebuah email. Setelah mandi dan memakai pakaiannya dengan terburu-buru –dan susah payah, tentunya-, bersama kursi rodanya, ia keluar sejenak memeriksa apartemen Sungyeol, rupanya teman polisinya itu sudah pergi dinas.

“…aku harus bagaimana? Tidak ada yang bisa mengantarku.. aku tidak mungkin tidak pergi..”pikirnya, ia menatap pintu lift di luar beberapa saat.

“…bisa. Aku bisa pergi sendiri. Untung aku sudah pinjam uang Sungyeol sedikit.”batinnya. ia pun meraih tas dan kameranya dari atas meja dan bercermin sejenak.

Sial. Wajah tampannya sungguh suntuk, lingkaran hitam semakin jelas terlihat di bawah matanya. Sudah dua malam ini ia tak bisa tidur sama sekali karena masih saja merasa tak aman berada di apartemennya sendiri.

Setelah meninggalkan pesan untuk dokter Chorong yang belum datang di muka pintu, dengan tas kamera dan penampilan seadanya, Myungsoo keluar dari apartemennya dan memasuki lift, berniat untuk pergi ke suatu tempat seorang diri meski tak tahu apakah ia akan berhasil menemukan taksi atau tidak nantinya.

 

Tiba di lantai dasar, lelaki itu mulai gugup ketika roda kursinya menyentuh tanah. Ini pertama kalinya ia nekat untuk pergi sendiri. Jika bukan karena sesuatu yang mendesak, ia tak berani untuk sejauh ini.

“ Jadi aku harus kesana?” Myungsoo menatap ujung lorong, ia harus kesana untuk mendapatkan taksi. Tangan pucatnya kembali menjalankan kursi roda, memasuki lorong yang rupanya cukup gelap meski di pagi hari.

Tap.. tap..

Lelaki itu berhenti sejenak dan menoleh ketika mendengar suara langkah kaki di belakangnya. Namun tak ia temukan apa-apa. Ia pun meneruskan perjalanannya menyusuri lorong yang rasanya tidak sampai-sampai juga ke ujungnya.

Tap. Tap.

Ia menoleh ke belakang lagi dengan peluh dingin yang sudah mulai keluar dari dahinya. Myungsoo merasa hendak gila, apa perasaan tidak aman yang ia rasakan di dalam apartemen harus terbawa-bawa sampai keluar?

Sungguh. Ia merasa tidak sendiri di lorong ini.

“ Hah!”

Nafasnya mendadak berderu cepat ketika merasakan kursi rodanya didorong dari belakang hingga ia cepat sampai ke ujung lorong. Kepalanya langsung menoleh cepat ke belakang.

Nampak seorang gadis berparas cantik dan tinggi berdiri di belakangnya dengan tangan yang masih memegang handle kursi rodanya. Myungsoo gugup, siapa lagi yang ia temui sekarang?

“ S..siapa?”

Gadis itu terdiam beberapa saat mendengar pertanyaan Myungsoo, nampak terkejut karena tak menyangka lelaki itu akan bertanya siapa dirinya.

“ Kau..tidak tahu?”

Myungsoo menggeleng. Ia masih gugup sampai-sampai berpikir ini adalah saatnya bertemu DarkAngel.

Walaupun.. gadis ini kelihatannya baik.

“ Maaf mengagetkanmu, aku hanya ingin membantu. Kau terlihat kesusahan berjalan sendiri.”jawab gadis itu, dengan nada yang gugup juga.

“ Ooh.. terimakasih. Maaf aku bereaksi berlebihan.”Myungsoo mengganguk pelipisnya dengan salah tingkah dan tersenyum canggung.

“ Kenapa ada pria berkursi roda yang jalan sendiri di pagi hari seperti ini?”

Gadis itu terdengar sangat peduli.

“ Ah.. aku ingin tanya, apa ada taksi yang lewat di sekitar sini?”

“ Hmm.. jarang. Tapi kalau kau menunggu, pasti ada saja yang lewat.”

“ Begitu ya. Baiklah..”

“ Kalau tidak keberatan,,  aku akan menemanimu menunggu disini.”

“ Oh, terimakasih banyak. Apa kau tinggal di sekitar sini?”

“ Ya. Aku tinggal disana.” Gadis itu menunjuk sebuah rumah sederhana di samping lorong bertuliskan ‘Terima Penitipan Anak Bayi & Balita’.  Myungsoo baru sadar ada tempat semacam itu di lingkungannya.

“ Aku tinggal di apartemen itu. nomor 218.”Myungsoo ikut menyebutkan tempat tinggalnya, sang gadis mengangguk-angguk.

“ Tinggal sendiri?”

“ Ya. Sendiri.”

Gadis itu terdiam sejenak, wajahnya lagi-lagi menunjukkan ketidaksangkaan.

Tak lama, satu taksi datang. Myungsoo bernafas lega karena ia tak menunggu selama yang ia bayangkan.

“ Terimakasih sudah menemaniku.”lelaki itu tersenyum ramah, “…oh ya, siapa namamu?”

Gadis itu kembali terlihat agak terkejut mendengar pertanyaannya.

“ Aku..”

“ Aku Kim Myungsoo.” Myungsoo mengulurkan tangan pucatnya duluan, “…kau?”

“ Kim Yura.” Gadis itu menjabat tangannya, kedua tangan putih pucat mereka bersalaman beberapa detik.

“ Wah, kita sesama Kim, rupanya. Berapa usiamu?”

Gadis itu tersenyum getir.

“ 28.”

“ Wah, sama lagi. Bulan berapa? Bagaimanapun juga kita harus tahu siapa yang lebih tua.”

“ November.”

Heol. Kita di bulan yang sama.”

“ Apa kau akan bertanya tanggalnya sekarang?”

“ Aku 13 November.”

“ Aku juga.”

Mata Myungsoo melebar, wajah tampannya yang polos benar-benar nampak terkejut.

“ Apakah kita harus menyamakan jamnya juga?” lelaki itu tertawa kecil, Yura ikut terkekeh.

“ Tentu. Kita akan bahas itu nanti.”

Myungsoo mengangguk-angguk dan memberi senyuman ramah sebelum benar-benar masuk ke dalam taksi.

“ Terimakasih telah menemaniku, Kim Yura-ssi.”

“ Hati-hati di jalan. Kim Myungsoo-ssi.”

“ Sampai jumpa.”

“ Senang bertemu denganmu.”

Taksi pun melesat pergi setelah Myungsoo memberitahu alamat tujuannya pada sang supir. Lelaki itu merasa cukup senang karena mendapatkan teman baru lagi.

“ Kim Yura..”

Ia menoleh ke belakang, ingin melambaikan tangan. Namun gadis itu sudah menghilang.

“…cepat sekali.”gumamnya kecewa.

“ Kau ingin pergi ke kantor Majalah Style?”sang supir bertanya, memastikan alamat yang diberikan Myungsoo.

Ne. um.. tapi..” Myungsoo melirik jam hitam yang melingkar di pergelangan putihnya sejenak, “…masih ada waktu 1 jam. Bisakah kau antar aku ke salon pria yang bagus di kota ini?”

“ Salon pria?”

“ Ya.”

“ Apa yang mau kau lakukan disana, nak? Kau sudah setampan itu.”

Myungsoo tertawa canggung, menatap refleksi wajah tampannya yang pucat di spion taksi.

“ Antar saja aku kesana, jebal.

***

 

“ AAAAAAAA!!!!!!!!!!!!!!!!! MATI!!! SEMUANYA MATI!!!”

Terjadi kegaduhan di rumah keluarga dokter Son, 5 anjing mahal penjaga klinik darurat ditemukan tak bernyawa lagi. Para anggota keluarga yang memiliki mereka marah besar hingga menangis dan menyalahkan pegawai rumah, apalagi ketika anggota keluarga yang merupakan dokter hewan memvonis kematian 5 anjing ini semuanya karena keracunan makanan.

“ Inilah mengapa aku benci berkumpul di tengah-tengah keluargamu.” Woohyun yang mendengar kegaduhan itu dari ruang makan hanya bisa mengomel pada Naeun yang ada di sampingnya.

“ Kenapa sampai mati ya..” Naeun terlihat tidak nafsu makan dan resah dengan keributan di rumahnya.

“ Bukannya sepanjang malam mereka berisik dan terus-terusan menggonggong?”

“ Entahlah.”

Naeun nampak berdiri dan memasang wajah tenang, menghampiri beberapa anggota keluarganya dan merangkul mereka hingga kegaduhan agak mereda. Gadis itu memang dokter jiwa sejati bagi keluarganya. Tapi tetap saja Woohyun tak suka situasi ini.

Beberapa pegawai rumah yang dituduh meracuni anjing-anjing itu masih nampak memelas, takut jika dipecat. Tak satupun dari mereka yang mengaku memberikan makanan beracun pada 5 ekor peliharaan mahal yang mati mendadak itu.

Woohyun menyelesaikan sarapannya dan menghampiri mereka dulu, setidaknya menunjukkan sedikit kepedulian meskipun sesungguhnya ia malas.

“…jam berapa kau tidur tadi malam?”

Naeun mendengar Woohyun berbisik di telinganya.

“ Aku tidur tidak lama setelah kau. aku bosan karena tidak ada yang bisa aku ganggu lagi.”

Woohyun gemas mendengar jawabannya, ia memilih untuk pergi sekarang saja ke medical center karena tak tertarik berlama-lama disana dan mengurusi anjing-anjing mati, walaupun ia punya sedikit rasa penasaran mengapa mereka bisa mati mendadak.

Naeun mengejarnya hingga pintu keluar.

“ Tidak usah mengantarku, aku akan dijemput mobil perusahaan ke lokasi pemotretan.”

Woohyun tertawa sinis.

“ Siapa juga yang mau mengantarmu?”

“ Ish.. dasar jahat.”

“ Selamat untuk pemotretan pertamamu. Tapi aku tidak akan beli majalahnya.” Woohyun mengacak-acak rambut istrinya itu kemudian masuk ke mobilnya, Naeun bertingkah kesal dan menyandarkan lengan di jendela mobilnya.

“ Apa kau akan pulang kesini lagi malam ini?”

“ Tidak. Lebih baik aku tidur di kontrakan Chorong daripada harus kesini lagi.”

“ Kenapa? Kau terganggu dengan gonggongan anjing itu?”

“ Itu salah satunya.”

“ Tapi anjing-anjing itu kan sudah… mati.”

Woohyun hanya geleng-geleng kepala. Setelah mengisyaratkan agar Naeun menjauh dari mobilnya, ia melesat menuju medical center.

***

 

Naeun turun dari mobil perusahaan yang menjemputnya dan siap menjalankan aktivitas kontrak pertamanya : menjadi wajah sampul untuk majalah wanita. Selain pemotretan, ia juga akan melakukan interview.

Gadis itu merapikan gaun jingga pastel yang dikenakannya dan berjalan gugup dengan heelsnya memasuki lokasi pemotretan di dalam gedung perusahaan majalah terkenal. Ia tak menyangka akan melakukan ‘pekerjaan artis’ semacam ini, semuanya karena Jaehwan yang telah membuat identitasnya sebagai dokter biasa kini menjadi dokter populer.

Setibanya di ruang make up, ia segera mengangkat telepon yang masuk ke ponsel mewahnya berkali-kali.

Ia menepati janjinya melakukan briefing lewat telepon dengan Bomi dan Jaehwan untuk talkshow mereka minggu depan. Ini acara yang sangat penting bagi Naeun karena ia yakin Jaehwan tak hanya akan sekedar minta maaf padanya di depan publik, dokter jiwa itu yakin sang artis yang terobsesi mencari keadilan atas kematian Kim Yura itu akan mengatakan sesuatu yang berbahaya. Entah itu tentang Kim Yura atau mungkin… Kim Myungsoo. Naeun yakin Jaehwan akan memanfaatkan talkshow nanti untuk memancing publik agar memberi perhatian lagi pada kasus Kim Yura yang dianggapnya bukan kasus bunuh diri.

Naeun merasa terancam akan hal itu, tentu karena ia merasa bertanggung jawab menjaga rahasia dosa besar Myungsoo sampai mati.

Oleh karena itu ia tak bisa melewatkan briefing ini, ia harus membuat kesepakatan dengan Jaehwan agar idol stres itu tidak bicara macam-macam.

 

“ Halo.. selamat pagi menjelang siang. Dokter Son, apa Anda sudah siap mengikuti briefing?”

Naeun memulai briefing via teleponnya sembari wajahnya di make-up oleh staf karena waktu pemotretannya juga sudah dekat.

“ Ya. Aku siap.”

Baik. Kita sedang melakukan conference call dengan Jaehwan. Ternyata dia juga tidak bisa menemuiku hari ini karena bentrok dengan jadwal syuting MV baru untuk comeback FIX. Kuharap briefing ini tetap bisa berjalan efektif walaupun hanya lewat telepon.”

“ Yaa.. yaa.. aku mendengarkan.”terdengar suara Jaehwan menyahut.

“ Baiklah, langsung saja. Aku beritahukan dulu apa tujuan briefing ini. Jadi, tujuannya adalah menyepakati apa saja yang akan kalian lakukan dan katakan saat talkshow nanti. Mengingat disini aku bertugas sebagai presenter yang memfasilitasi dua pihak yang sedang berkonflik, aku harus tahu apakah kalian benar-benar akan saling memaafkan di talkshowku nanti?”

Naeun sengaja diam, ia menunggu Jaehwan menjawabnya duluan.

“ Aku benar-benar akan minta maaf atas perlakuanku pada dokter Son waktu itu. Soal dimaafkan atau tidak, tergantung dokter Son dan keluarganya.”jawab Jaehwan.

“ Bagaimana, dokter Son?”tanya Bomi.

“ Ya. Tentu saja akan kumaafkan. Dengan begitu konflik selesai dan aku bisa kembali bekerja di medical center.” jawab Naeun tenang.

“ Bagus. Kami selaku pihak acara akan membuat perdamaian kalian terasa lebih manis di muka publik, jadi mungkin akan ada sedikit bumbu dramatisir nantinya untuk menaikkan rating. Apa kalian setuju?”

“ Dramatisir apa?”seloroh Jaehwan, Naeun juga menanyakan hal yang sama.

Mungkin kami akan mempersilakan kalian bersalaman dan berpelukan. Apalagi kalian teman sejak lama, bukan? Mungkin kami juga akan mengajak kalian untuk berbincang tentang sejarah kalian menjadi teman.”

Naeun yakin Jaehwan sedang tersenyum licik di seberang sana. Ini topik yang sensitif, bagaimanapun juga di masa lalu, Naeun dan Jaehwan saling mengenal karena Myungsoo yang memperkenalkan mereka satu sama lain. Satu-satunya kalimat yang dapat menyimpulkan sejarah Naeun dan Jaehwan di masa lalu adalah : mereka berdua sama-sama orang terdekat yang paling berharga bagi Myungsoo.

“ Aku setuju.” sesuai dugaan, Jaehwan akan menyetujuinya. Ia pasti merasa punya kesempatan untuk berbicara tentang Myungsoo.

“ Ya. Aku juga. tapi jangan memancing kami untuk bicara hal yang bersifat pribadi.”tambah Naeun.

“ Kenapa? Kau takut akan sesuatu?” Jaehwan terdengar mengejeknya, Naeun tak peduli.

Baiklah. Terimakasih atas persetujuan kalian. Jangan khawatir, kami punya batasan.”sela Bomi, “…selanjutnya.. sekarang aku ingin kalian sama-sama memberitahu aku apa saja yang rencananya akan kalian katakan di dalam talkshowku. Apapun yang kalian sampaikan adalah konsumsi publik, jadi pertimbangkanlah baik-baik. Aku beri kesempatan dokter Son Naeun terlebih dahulu untuk bicara.”

Naeun berpikir sejenak.

“ Tidak banyak. Aku hanya akan mengatakan aku memaafkan Jaehwan, aku juga akan berterimakasih karena dia membuatku populer.”

Terdengar suara Jaehwan tertawa sinis.

“ Itu saja?”tanya Bomi.

“ Aku juga akan mengatakan bahwa aku bersedia menjadi dokter jiwa Jaehwan lagi, sampai dia bisa move on dari Kim Yura.”

Suara tawa sinis Jaehwan semakin keras.

“ Sekarang giliranmu, Jaehwan.” Bomi mempersilahkan.

“ Aku? Haha. Tidak banyak juga. Aku hanya akan minta maaf pada Naeun, tapi setelah itu aku juga akan bilang pada publik bahwa aku yakin Yura dibunuh. Aku akan membuat orang simpatik padaku dan membuat petisi pada polisi agar mereka melakukan penyelidikan ulang atas kasus Kim Yura.”

Naeun mulai berdebar. Ia sudah menduga ini.

“ Wow, itu akan sangat mengundang perhatian publik. Bagaimana, dokter Son? Kau setuju saja kan?”

Tidak. Tidak boleh. Tapi bagaimana cara Naeun melarangnya? Gadis itu kebingungan. Ia yakin Jaehwan sedang menertawakannya sekarang,

 

Make up Anda sudah selesai. Dokter Son, silakan ke studio. Fotografer Anda sudah menunggu.”

Bersamaan dengan itu, Naeun diarahkan untuk memulai sesi pemotretannya. Dengan masih kebingungan dan ponsel yang tetap menempel di telinganya, ia berdiri dan berjalan dengan pikiran kacau menuju studio. Bagaimanapun juga ia tak mau membuat fotografernya menunggu lama, ini hari pertama mereka bekerja bersama.

 

“ Jadi bagaimana, dokter Son? Apa Anda menyetujui apa saja hal yang ingin disampaikan Jaehwan dalam talkshow—“

BRUK!

Ponsel Naeun mendadak terlepas dari tangan gadis itu ketika ia baru saja memasuki studio, ponsel mewahnya terjun bebas ke lantai dan menimbulkan suara jatuh yang agak keras.

Namun Naeun tak peduli. Matanya terkunci pada lelaki berambut blonde serta berpakaian rapi yang tengah duduk di kursi roda tepat di belakang kamera, ia nampak sibuk mendengarkan arahan dari staf sembari mempelajari isi kontrak yang ada di pangkuannya.

“ Fotografer Kim, dokter Son sudah datang.”

Lelaki itu menoleh kesana kemari setelah mendengar pemberitahuan dari salah seorang staf hingga akhirnya ia menemukan sosok yang dicarinya.

Naeun gemetar dan hanya bisa diam terpaku di tempatnya, pandangan mereka kini terkunci satu sama lain.

“ Sebentar, ya.”lelaki itu meminta izin untuk meninggalkan staf yang sedang memberinya pengarahan untuk sejenak, tangannya kemudian mendorong kursi rodanya ke arah dokter wanita yang sudah lama ingin ia temui itu.

Dengan susah payah, setelah tiba di hadapan Naeun, lelaki itu menunduk sejenak dan meraih sebuah ponsel yang masih tergeletak di lantai, kemudian menyodorkan benda itu pada pemiliknya sembari tersenyum ramah.

“ Terimakasih.”

Naeun menerimanya dengan kaku sembari dengan sengaja menyentuh tangan dingin dan pucat lelaki itu, membuat ia sedikit salah tingkah dan merasa canggung.

“ Kuharap kau tidak kecewa karena akulah yang akan bekerja denganmu. Namaku Kim Myungsoo.”

Tidak ada kekecewaan apapun jika itu bersamamu, Kim Myungsoo.

Naeun tak percaya dengan apa yang ada di hadapannya sekarang.

Kim Myungsoo. Lelaki yang amat dicintainya itu muncul lagi di depan matanya. Meski dalam keadaan yang telah berbeda seratus delapan puluh derajat, rupanya ia tetap bertahan pada kecintaannya pada kamera dan dunia fotografi hingga mampu bertemu dengan Naeun dalam situasi ini, menjadi fotografer bagi gadis itu sekaligus membuka lembaran baru bagi hubungan mereka berdua yang sudah berakhir dengan tragis.

Hingga satu dialog terlintas dalam relung hati Naeun, kata-kata yang pernah Myungsoo ucapkan padanya di masa lalu tentang begitu keras kepalanya lelaki itu mempertahankan kecintaannya pada dunia fotografi tak akan pernah sanggup ia lupakan.

 

“ Aku hanya ingin menjadi diriku sendiri. Aku hanya ingin mengikuti keinginanku sendiri. Tak peduli sesalah apapun itu, tak peduli seburuk apapun itu. Selama aku menikmatinya, aku tak akan peduli pada siapapun yang menentangku, termasuk The King. Mereka tidak bisa mengubah aku dan citaku-citaku.”

“ Tapi pikirkanlah, Kim Myungsoo. Jika kau tidak sekeras ini, bayangkan betapa mudahnya hubungan kita. Jika kau sejak awal mau menjadi dokter, kau akan dijodohkan denganku dan kita bisa bahagia dengan semua orang. Apa kau tidak menyesali—“

“ So, you wanna hate me for this, Son Naeun?”

“ …”

“ Answer me.”

“ No,  I will love you more.”

 

Naeun mencoba mengendalikan gejolak dalam dadanya. Berbagai memori masa lalunya bersama Myungsoo mulai dari yang paling membahagiakan hingga yang paling menyakitkan terus berputar bergantian dalam kepalanya sepanjang menatap mata elang lelaki itu.

Mungkin memang hubungan sesulit dan serumit serta semenyakitkan ini hubungan yang ditakdirkan untuk mereka berdua.

Setelah mencoba mengendalikan suasana hatinya yang tak karuan, Naeun berlutut, menyamakan tingginya dengan Myungsoo yang terduduk di kursi roda.

“ Kau pasien rujukan dari dokter Park Chorong, bukan?”tanya gadis itu, tak kalah ramah dengan sapaan awal Myungsoo.

Lelaki lumpuh itu tersenyum seperti anak kecil yang tampan, tak menyangka sang dokter akan mengingatnya.

“ Ya. Aku.”

“ Mengapa kita bisa bertemu di situasi seperti ini?”

“ Takdir, mungkin. Kita belum melakukan konsultasi sama sekali. Dokter Park selalu lupa mengatur jadwalnya.”

Naeun tertawa kecil dan menatap dalam lelaki itu.

“ Kurasa sekarang kita tak perlu bantuannya lagi untuk mengatur jadwal bertemu.”

“ Karena kita akan terus bertemu selama 2 bulan kedepan?”

Gadis itu mengangguk, “ Terimakasih atas keinginanmu bekerja denganku.”

“ Kau tidak kecewa karena aku yang terpilih? Maksudku.. aku cacat dan tidak bisa—”

“ Aku tidak menuntutmu untuk melakukan banyak hal, Kim Myungsoo. Cukup diam dan teruslah berada di sisiku, itu saja.”

“ Selama dua bulan?”

Naeun mengangguk, meski hatinya berkata lain.

 

“ Selamanya. Harus selamanya.”

***

 

“ Sedang apa disini?”

Woohyun baru saja tiba di medical center dan melihat Chorong berdiri sendirian di depan TKP kematian Sunggyu yang telah dikelilingi garis kuning polisi, gadis itu nampak murung dan menggesek-gesekkan kakinya pada aspal yang terkena tumpahan darah Sunggyu yang mengering dan tak bisa hilang. Jelas, ia masih merasa cukup sedih dengan kepergian pasien lamanya, Woohyun jadi merasa bersalah karena tak bisa memperjuangkan keinginan gadis itu dalam rapatnya bersama keluarga dokter Son kemarin malam.

“ Hai.”Chorong hanya menyapanya singkat kemudian kembali menunduk menatapi aspal berdarah di depannya.

“ Tidak ke apartemen Myungsoo seperti biasa?”

Chorong menggeleng, “ Dia tidak ada di apartemennya.”

“ Hah? Orang cacat seperti dia bisa pergi dari apartemennya sendiri?”

“ Entahlah. Dia hanya meninggalkan pesan di pintu, dia bilang dia dapat pekerjaan dan harus pergi ke tempat kerjanya, jadi aku tak perlu memeriksanya hari ini.”

“ Pekerjaan? Apa?” Woohyun terkejut sekaligus langsung penasaran.

“ Aku juga ingin tahu. Dia penuh kejutan, dia tidak pernah bilang sedang mencari kerja, mungkin pada Sungyeol juga dia tidak bicara apa-apa.”

Dan perasaan Woohyun mendadak tak nyaman, ia langsung penasaran setengah mati tentang pekerjaan Myungsoo. Apa ada hubungannya dengan permintaan lelaki itu yang kemarin ingin diantarkan ke kantor pos olehnya? Entahlah. Woohyun bersumpah akan segera mencari tahu.

“…tak apalah tidak bertemu Myungsoo hari ini. Lagipula hari ini aku masih sedikit terbebani tentang Sunggyu.”Chorong menyambung perkataannya sembari menatap nanar TKP, sekaligus memberi kode agar Woohyun memberitahu hasil rapat keluarga dokter Son semalam.

Woohyun merangkul gadis itu pelan-pelan.

“ Kau pasti ingin tahu hasilnya.”

“ Apa hasilnya?”

“ Maafkan aku.”

“ Oh. Aku mengerti.”

Hanya dengan permintamaafan Woohyun, Chorong sudah paham, itu artinya Woohyun gagal memperjuangkan keinginannya untuk mencari tahu penyebab kematian Sunggyu yang sesungguhnya. Keluarga dokter Son pasti akan mengeluarkan pernyataan bahwa pasiennya itu bunuh diri, apapun alasannya.

“ Jangan sedih begitu. Ikut aku, sini.”

Melihat Chorong kecewa, Woohyun tiba-tiba menggandeng tangannya untuk meninggalkan TKP dan memasuki gedung medical center dan menaiki tangga darurat.

“ Kita mau kemana?”

“ Kau ingin tahu penyebab kematian pasienmu yang sesungguhnya, kan? Ayo kita cari tahu sama-sama.”

Chorong terkejut, rupanya Woohyun mengajaknya untuk pergi ke kamar mayat secara sembunyi-sembunyi untuk memeriksa mayat Sunggyu yang belum dijemput keluarganya. Ia tak menyangka Woohyun terpikir untuk melakukan ini demi dirinya, lelaki itu memberinya kesempatan agar setidaknya ia melakukan pengamatan singkat untuk memastikan bahwa memang pasiennya benar bunuh diri, setidaknya agar ia merasa lega dan terima jika polisi dan keluarga dokter Son mengumumkan vonis itu pada publik.

“ Cepat masuk. Jangan sampai kita ketahuan.”

Woohyun mendorong tubuhnya duluan untuk memasuki kamar mayat setibanya mereka disana, kemudian ia menyusul masuk dan menutup pintunya rapat-rapat lalu memegang erat tangan Chorong yang mendadak menggigil karena mereka kini berada di ruangan dengan suhu empat derajat celcius.

“ Woohyun-ah, kenapa kau mau melakukan ini untukku? Dengan apa aku harus berterimakasih?”

“ Ini belum seberapa dibandingkan kesabaranmu menghadapi aku selama ini. Seharusnya aku yang lebih banyak berterimakasih.”jawab Woohyun sembari menarik satu loker mayat hingga keluarlah tubuh mati Sunggyu yang sudah putih dan dingin seperti es.

Kedua dokter itu memakai masker juga sarung tangan mereka dan mulai mengamati mayat tersebut. Chorong menggerak-gerakkan mayatnya yang terasa seperti jelly karena semua tulangnya telah patah akibat jatuh. Sementara Woohyun memeriksa seluruh permukaan kulitnya dengan seksama karena siapa tahu saja ia menemukan hal menarik seperti yang ia temukan pada mayat Haesook.

“ Kau menemukan sesuatu? Aku tidak melihat apa-apa kecuali patah tulang dimana-mana.”tanya Woohyun, Chorong nampak serius mengamati tangan kiri mayat pasiennya itu.

“ Ada hematoma yang tidak wajar disini.”

Huh?

“ Lihat.” Chorong menunjukkan tangan kiri Sunggyu hingga ke jemarinya yang menampakkan luka biru memar. Woohyun mengamatinya.

“ Bentuk hematomanya melingkar, bagian tengah tangannya tidak ikut memar.”ucap Woohyun, Chorong mengangguk setuju.

“ Memar ini hampir pasti disebabkan karena dia menggenggam sesuatu terlalu erat dan keras.”sambung gadis itu.

“ Dia pasti mempertahankan suatu benda di tangan kirinya di detik-detik kematiannya, karena luka ini masih terlihat baru.”

“ Ya. Masih terasa bengkaknya.”Chorong meraba memar itu sembari terus berpikir, “…dia mempertahankan sesuatu.. itu artinya.. ada yang berusaha merebutnya?”

“ Mungkin. Tapi apa?” jawab Woohyun sembari mengangkat bahunya, mempersilakan Chorong menyimpulkannya sendiri.

Sementara lelaki itu memeriksa keadaan sekitar untuk memastikan keadaan aman, ia menemukan sesuatu di pojok ruangan.

“ Chorong-ah, lihat itu.”

Chorong menoleh, terkejut ketika mendapati satu kursi roda yang sudah rusak parah dan berdarah terletak di pojok ruangan mayat.

“ K..kenapa kursi rodanya ada disini?”gadis itu tak mengerti.

“ Keluarga dokter Son bahkan tidak mau menyerahkan ini sebagai barang bukti ke polisi dan meletakkannya disini..”Woohyun geleng-geleng kepala dan menghampiri benda yang menjadi saksi bisu kematian Sunggyu itu dengan rasa penasaran, sementara Chorong masih sibuk mengamati memar di tangan kiri almarhum pasiennya.

“ Brengsek.”

“ Hei, ada apa?” Chorong terkejut karena Woohyun yang sedang mengamati kursi roda yang rusak itu tiba-tiba berkata kasar.

“ Ini gila.”

“ Apa?”

“ Aku semakin yakin Haesook dibunuh. Sunggyu juga dibunuh.”

“ A..apa maksudmu!?” Chorong terkejut dan menghampiri Woohyun yang nampak melemas.

“ Lihat.” Woohyun menunjukkan handle kursi roda yang rusak itu, terdapat tulisan kecil dari spidol berwarna hitam disana.

 

“ (3.06F)38.103”

 

Sebuah kode baru dengan pola tulisan yang sama dengan tato di punggung Haesook.

Sesungguhnya apa yang sedang terjadi?

***

 

Night, 10.00 p.m

 

“ Kim Myungsoo-ssi, kau tahu? Beberapa staf dan PR sempat ribut besar saat mereka memilihmu untuk menjadi fotografer pribadi untuk dokter Son Naeun, banyak dari mereka yang tidak mau mengambil resiko mempekerjakan orang cacat, tapi kau terpaksa dipilih karena hasil fotomu paling bagus dibandingkan pendaftar yang lain. Terbukti kan hari ini? Pimpinan redaksi majalah memuji foto dokter Son hasil tangkapanmu.”

“ Haha.. terimakasih banyak..”

Myungsoo sedikit tersipu malu mendengar cerita supir mobil perusahaan yang malam itu mengantarnya pulang ke apartemennya.

Naeun, yang duduk tenang di sampingnya hanya bisa diam dan menikmati wajah cerah lelaki itu. Meski sudah hampir seharian bekerja bersama di ruang studio, Naeun tak puas jua menatapi wajah Myungsoo sebab selama bekerja, wajah tampan yang ia sukai itu lebih banyak tersembunyi di belakang kamera.

“ Sudah berapa lama menjadi fotografer professional, Myungsoo-ssi?” tanya gadis itu kemudian dengan tatapan dalam, mencoba memancing ingatan lelaki itu.

Myungsoo menggeleng, “ Tidak tahu. Aku lupa.”

“ Tapi hebatnya kau masih ingat semua tekniknya.”

“ Ya.. aku juga tidak mengerti. Aku menggunakan kamera dengan instingku saja. Mungkin ingatanku sudah hilang, tapi bakatku masih ada.”jawab lelaki itu dengan sedikit bercanda, membuat dada Naeun bergejolak untuk kejutaan kalinya hari ini.

“ Dan meski sudah kehilangan banyak ingatan, kau tetap konsisten dengan cita-citamu. Kau hebat.”

Myungsoo menggeleng pelan, “ Jujur, dokter. Saat aku bangun, aku bertanya-tanya mengapa aku seorang fotografer disaat ada pekerjaan menjanjikan lain seperti dokter, sepertimu.”

Itu karena kau menentang The King, bodoh. Naeun semakin gemas hingga ingin menangis.

“ Jadi sekarang kau ingin menjadi dokter?”gurau gadis itu sebagai usaha melarang airmatanya untuk keluar.

“ Yah.. tentu saja. Aku ingin sekali menjadi dokter. Tapi umurku sudah terlalu tua untuk belajar.”Myungsoo ikut menjawabnya dengan gurauan, “…jadi mungkin.. aku ingin menikah dengan seorang dokter saja.. kurasa itu bagus. Walaupun mungkin tak ada dokter wanita yang mau menikah dengan pria cacat sepertiku.”

Naeun tersenyum getir.

“ Siapa tahu ada. Memangnya dokter apa yang kau inginkan?”

Myungsoo meliriknya dengan malu.

“ Dokter.. jiwa. Ia pasti akan memahamiku lebih dari siapapun.”

Naeun tertawa kecil, menutupi rasa sakit di dadanya yang kembali bergejolak.

“ Pasti ada dokter jiwa yang mau dinikahi pria setampan dirimu, Kim Myungsoo. Percayalah.”

“ Apa aku masih tampan? Haha, sejujurnya aku kurang percaya diri dengan penampilanku.”Myungsoo tertawa malu.

“ Karena kau mengubah warna rambutmu?”

Kali ini Myungsoo terkejut.

“ Darimana kau tahu.. aku mengubah warna rambutku?”

Naeun terdiam sejenak. Sial, ia tak sengaja mengucapkan sesuatu yang mencurigakan.

“ Kau kelihatan masih kaku dan sering menyentuh rambutmu. Tentu saja aku bisa menebaknya, aku kan ahli psikologi.”

“ Ah.. begitu ya.”

Beruntung Naeun bisa memberinya jawaban cerdas. Lagipula, gadis itu juga merasa terkejut dengan perubahan penampilan kekasih lamanya itu. Ia kini terlihat seperti orang yang sangat berbeda dari masa lalu.

Tapi apa peduli Naeun? ia tetap mencintai Myungsoo karena lelaki itu selalu terlihat sempurna di matanya.

“ Kalau boleh tahu.. kenapa kau mengubah warna rambutmu?”tanya Naeun penasaran sembari menunjuk rambut blonde yang membuat wajah tampan Myungsoo terlihat semakin bersinar.

“ Ah… ini..” Myungsoo menggaruk pelipisnya dengan grogi, “…ini juga terpikir mendadak dan begitu saja saat aku hendak datang ke lokasi pemotretan. Tadinya penampilanku sangat lusuh dan tidak rapi, aku malu jika harus bertemu denganmu dalam keadaan seperti itu. dan alasanku mewarnai rambut.. simple saja, aku merasa hari ini adalah hari keberuntunganku karena aku dapat pekerjaan, aku ingin berusaha hidup lebih optimis mulai hari ini, jadi aku mewarnai rambutku.. aku ingin menjadi orang yang berbeda dari Kim Myungsoo yang kemarin.”

Naeun tersenyum, hatinya merasakan ketenangan tanpa alasan mendengar penuturan Myungsoo.

Mobil perusahaan tiba di depan apartemen Myungsoo. Sementara sang supir menyiapkan kursi rodanya, Myungsoo bersiap untuk turun.

“ Terimakasih banyak untuk hari ini, dokter Son. Sampai bertemu besok di jadwal berikutnya.”

Lelaki itu berpamitan dengan sopan, namun Naeun benar-benar tak rela melepaskannya.

“ Myungsoo.”

“ Ya?” Myungsoo agak terkejut karena Naeun memanggilnya dengan informal, tangan putih sang dokter juga meremas tangannya.

“ Sejujurnya. Aku sedikit.. terkejut. Karena kau bersikap sepolos ini, Myungsoo.”

“ Sepolos..apa?” Myungsoo tak mengerti karena Naeun bicara sedikit berbisik dengan nada yang dingin.

“ Kau tidak menerima emailku waktu itu?”

“ Email? Email..apa?”

Naeun kelihatan tersentak. Sementara Myungsoo masih tak mengerti maksud gadis itu. hingga setelah beberapa detik berpikir, ia ingat sesuatu.

“ Aku menulis alamat emailku di belakang kertasmu sebelum kita pergi dari klinik, hehe. Aku pintar, kan?”

“ Kau benar-benar cepat tanggap, Sungyeol-ssi.”

Myungsoo ingat bahwa Sungyeol menuliskan alamat emailnya pada kertas konsultasi Myungsoo pada Naeun waktu itu.

Apakah itu artinya Naeun telah mengiriminya email dan Sungyeol tidak memberitahunya? Myungsoo mendadak kecewa dengan polisi muda itu. mengapa Sungyeol menyembunyikan ini darinya?

“ Maaf. Mungkin.. temanku lupa memberitahu aku. Alamat email yang ditulis di kertas konsultasi itu adalah alamat email temanku, bukan alamat emailku.”

Naeun memucat.

“ T..temanmu?”

“ Ya. Aku akan segera membalas emailmu nanti, dengan emailku sendiri.”

Gadis itu terdiam sejenak, namun kemudian mengangguk pelan.

“ Baiklah.”

“ Bisa aku turun sekarang? Sudah malam dan kau juga harus segera pulang.”

“ Aku akan menemanimu masuk.”

“ Tidak perlu.”

“ Aku ingin.”

Myungsoo tak bisa melarangnya lagi, ia pun turun bersama Naeun dan sang dokterlah yang mendorong kursi rodanya menyusuri lorong menuju apartemen sederhananya.

“ Lain kali aku sendiri saja. Aku tidak tega membiarkanmu jalan di lorong segelap ini.” Myungsoo terdengar tak nyaman.

“ Tak apa. Aku suka kegelapan.”

Myungsoo hanya geleng-geleng kepala mendengar jawaban gadis itu.

“…apa kau betah tinggal disini, Myungsoo-ssi?”tanya Naeun kemudian, Myungsoo pun langsung teringat segala hal yang membuatnya gila di dalam apartemen.

“ Sejujurnya.. awalnya aku merasa baik-baik saja. Tapi sekarang aku sedang diteror— ah sudahlah, nanti aku cerita saat kita punya jadwal konsultasi saja.”

“ Diteror apa?”

Sepertinya Naeun terlanjur penasaran, Myungsoo menyesal sudah menyebutkannya.

“ Sesuatu, pokoknya.”jawab Myungsoo seadanya, “…dan akhir-akhir ini teror itu semakin parah, hingga aku sampai merasa tidak aman dalam apartemenku sendiri. Aku sudah dua malam tidak tidur karena perasaan tidak aman itu semakin mengganggu.”

“…”

Myungsoo menunggu tanggapan Naeun, namun sang dokter nampak sibuk mempercepat jalannya agar segera keluar dari lorong.

“ Jika kau merasa tidak aman, itu artinya ada sesuatu yang mengawasi dan memperhatikanmu.” jawab Naeun, tepat saat mereka keluar dari lorong dan mulai memasuki apartemen.

“ A..apa? jangan menakut-nakuti aku, dokter.” Myungsoo sontak merasa cemas, Naeun terkekeh pelan sembari memasukkan Myungsoo dan kursi rodanya ke dalam lift.

“ Aku tidak menakut-nakuti. Hanya bicara fakta. Setiap manusia punya insting yang bisa menerima sinyal-sinyal negatif ketika ada sesuatu yang mengawasinya, sinyal-sinyal negatif itulah yang membuatmu merasakan perasaan tidak aman.”

“ Jadi maksudmu.. ada yang mengawasiku di dalam apartemen?”

“ Entahlah. Berdoalah semoga itu hanya perasaanmu saja.”

Myungsoo mengangguk pelan. Meski masih cemas, perkataan Naeun yang lembut bisa membuatnya sedikit tenang.

.

“ Myungsoo.. Kim Myungsoo..! duh.. dia kemana sih? Dapat pekerjaan dimana dia sampai jam segini belum pulang?”

Sungyeol mengetuk-ngetuk pintu apartemen Myungsoo yang masih terkunci rapat, ia ingin minta makanan. Sebenarnya ia bisa saja masuk karena sudah tahu password pintunya, tapi ia merasa tak sopan masuk sembarangan tanpa izin pemiliknya.

Ting.

Polisi muda itu tiba-tiba mendengar suara lift yang terbuka, nampak Myungsoo keluar dari sana dengan seorang gadis yang sama sekali tak asing baginya.

“ T..tidak mungkin.. Son Naeun..”

Lutut Sungyeol melemah, ingin kabur ke kamarnya, namun..

“ Wah.. detektif, kita bertemu lagi.”

Naeun terlanjur melihatnya. Gadis itu bahkan langsung menyeringai tanpa alasan, membuatnya ketakutan tanpa alasan. Jelas, ia seperti sedang ‘tertangkap basah’ karena ketahuan berbohong, sebelumnya ia terlanjur mengaku pada Naeun bahwa ia tak mengenal Myungsoo.

“ Kalian saling kenal?”tanya Myungsoo dengan polos.

Naeun menatap Sungyeol lagi dengan seringai yang semakin lebar. Sungyeol tak mengerti mengapa Naeun memperlakukannya seperti ini. Baik, baiklah, ia ketahuan berbohong, tapi haruskah Naeun memberinya senyum mengerikan seperti itu? Sungyeol merasa terancam tanpa alasan.

“ Ya.. kami pernah bertemu, hehe.”jawab Sungyeol awkward, “…aigoo! Myungsoo~ kau mewarnai rambutmu!? Kau kelihatan keren sekali seperti aktor hollywood! Ckckck..”

Sungyeol mengalihkan pembicaraan –meski ia juga terkejut dengan transformasi Myungsoo. Ia harap Naeun mau tertawa, tapi nyatanya gadis itu masih saja menatapnya dengan seringai itu.

“ Aku yang terpilih jadi fotografer pribadi dokter Son.” ungkap Myungsoo dengan agak dingin –karena ia kecewa Sungyeol tak memberitahunya tentang email itu-, Sungyeol semakin terguncang mendengarnya.

“ Ya. Dia sudah bekerja keras untuk pemotretan hari ini. Jadi sebaiknya biarkan dia istirahat.”tambah Naeun, “…aku akan pulang sekarang.”

“ Terimakasih banyak untuk hari ini, dokter Son. Senang bertemu denganmu.” ucap Myungsoo ramah, Naeun mengangguk dan tersenyum.

“ Sebelum tidur dan minum obat, jangan lupa untuk mandi dulu dengan air hangat agar badanmu segar, oke? Selamat malam.” Naeun menepuk lembut bahu Myungsoo kemudian kembali menatap Sungyeol dan menyunggingkan seringai anehnya.

“…selamat malam juga, detektif.”

Ia berjalan mundur memasuki lift. Bukan untuk membalas Myungsoo yang melambaikan tangan, namun untuk terus menunjukkan seringainya pada Sungyeol hingga pintu lift memisahkan mereka.

Sungyeol sadar bahwa dirinya sudah banjir keringat dingin. Mengapa ia merasa takut hingga berlebihan seperti ini? Ia pun mengalihkan perhatiannya dan langsung menegur Myungsoo yang masih menekan-nekan tombol password apartemennya.

“ B..bagaimana bisa kau kerja dengannya? Kau tidak cerita apa-apa padaku—“

“ Aku lelah. Aku mau tidur.” Myungsoo memotongnya dengan dingin, ia masih kecewa pada Sungyeol karena sudah tahu polisi muda itu menyembunyikan email dari Naeun yang ditujukan untuknya.

“ Oh.. ya sudah.” Sungyeol tak bisa memaksa dan akhirnya membiarkan Myungsoo masuk ke apartemennya.

Lagipula ia tak bernafsu lagi meminta makanan. Rasa laparnya hilang dan tergantikan dengan rasa ngeri akan seringai dokter cantik yang hari ini terus bertemu dengannya.

*

 

Myungsoo melamun untuk sejenak di dalam apartemennya yang sunyi, tepat di depan komputernya.

Secara keseluruhan, sesungguhnya hari ini lelaki lumpuh itu merasakan kesenangan yang teramat sangat. Memperoleh pekerjaan, bertemu teman baru yang sangat baik bernama Kim Yura, dan mengenal seorang dokter cantik dan populer yang nyaris sempurna di matanya –Son Naeun, Myungsoo merasa hari ini adalah titik awal untuk kehidupannya menjadi lebih baik.

Namun ia masih belum bisa menghilangkan keinginannya untuk tetap mengakses situs bunuh diri dan berbincang dengan teman-teman forum yang selalu mengisi hari-harinya yang membosankan. Terlebih dua dari mereka baru saja meninggal tak wajar dalam waktu yang amat berdekatan, Myungsoo sedikit merasa berdosa juga karena harus mendapatkan kebahagiaan disaat-saat seperti ini.

“ Aku ingin tahu bagaimana perkembangan tentang kematian Sunggyu, tapi.. aku tak mau moodku rusak. Maafkan aku.”lelaki itupun memilih untuk tak menyentuh komputernya meski sudah terlanjur ia nyalakan.

Ia memilih untuk mengikuti saran Naeun saja, pergi mandi dengan air hangat sebelum minum obat dan tidur. Myungsoo berharap saran sang dokter bisa membuatnya tidur nyenyak dan melupakan perasaan tak aman yang masih saja menyiksanya.

Lelaki itupun masuk ke kamar mandi, menanggalkan semua pakaiannya dan beringsut duduk lalu mulai membersihkan dirinya di bawah kucuran shower yang menghujaninya dengan air hangat. Ia merasa benar-benar rileks.

“ Dokter Son, saranmu sepertinya berhasil. Terimakasih. Aku merasa damai malam ini..”gumamnya sembari tersenyum kecil.

Hingga untuk sejenak Myungsoo mematikan showernya dan meraih kamera yang ia bawa masuk ke kamar mandi. Ia sejenak melupakan psikopat sialan bernama DarkAngel yang entah bagaimana ceritanya bisa mengirimkan kamera ini padanya, kini ia fokus untuk menatap kameranya yang kini terisi foto-foto hasil tangkapannya dalam sesi pemotretan Son Naeun hari ini. Sempurna. Brand majalah memujinya karena Naeun terlihat begitu cantik di potretnya meski hanya dengan gaun pendek sederhana berwarna jingga.

“ Son Naeun..” lelaki itu tersenyum, melakukan zoom pada setiap foto Naeun, memperhatikan dengan detail fisik sempurna sang dokter dari ujung kepala hingga ujung kaki sembari terus meneguk salivanya. Semuanya nyaris tanpa cela. Myungsoo tak bosan mengulang-ulang kegiatannya mengamati lekuk tubuh Naeun dalam kameranya hingga ia mulai kehilangan kesadaran.

Dengan mata yang tetap tak lepas dari kameranya, Myungsoo mulai mengisi tangannya dengan sabun dan menyentuh alat kelaminnya yang mulai menegang akibat fantasi liar yang mendadak terputar dalam kepalanya sepanjang ia mengamati foto-foto Son Naeun. Lelaki lumpuh itu mulai masturbasi dengan kamera dan foto-foto sang dokter jiwa di tangannya.

“ Ah.. ah..”

Ia berusaha untuk bersuara sekecil mungkin, takut jika Sungyeol mendengar dan memergokinya. Ia menarik nafas berulang kali dan mengambil waktu untuk mengalihkan pandangannya sejenak karena menatap foto Son Naeun terlalu lama membuat fantasi dalam kepalanya semakin menjadi-jadi.

“…apa itu?”

Namun ketika Myungsoo mengalihkan pandangan, ia baru menyadari bahwa terdapat sinar kecil berwarna hijau yang menyala di antara botol-botol sabun dan shampoo di pojok kamar mandinya, ia pun menyimpan kameranya sejenak dan beringsut menghampiri sesuatu yang menyala itu karena penasaran.

DAMN!!! BRENGSEK!!!!”

Lelaki itu menjerit, dengan panik dan refleks ia meraih handuknya setengah mati dan menutupi tubuh telanjangnya ketika menyadari bahwa lampu tersebut merupakan lampu sebuah kamera yang berukuran sangat kecil dan tersembunyi.

Ting!!

Disaat ia masih dilanda syok yang hebat, terdengar suara notifikasi dari komputernya. Myungsoo tahu betul bahwa itu adalah notifikasi pesan baru di akun situs bunuh dirinya.

Dengan susah payah dan wajah yang masih syok, ia mendudukkan dirinya di atas kursi roda dan buru-buru keluar dari kamar mandi, memeriksa pesan yang masuk ke dalam akunnya.

 

From : DarkAngel

To : Kim_Myungsoo

 

Bless my eyes. Kau selalu terlihat lezat di mataku, Kim Myungsoo 🙂

 

Myungsoo sungguh merasa ingin mati detik ini juga.

 

To be Continued (length : 78 pages, font 12)

Total lengths : 50 + 59 + 78 = 187 pages!

Waduh, panjang sekali ya part 5 ini? Hehe.. bagaimana? Pasti puas dong? (puas engga, makin bingung iya #dor). Tapi author berharap banget kalian puas, karna author sendiri napsu banget nulis part ini sampe kadang lupa makan dan tidur tepat waktu, hahaha

Well, part ini menunjukkan banyak sekali petunjuk tentang siapa DarkAngel sesungguhnya, author yakin kalian semua udah tau siapa orangnya. Apa belum yakin karena ada kode kode misterius? Tenang.. itu gak mungkin selamanya jadi misteri karena akan ada jawabannya di part berikutnya 🙂 tapi author sangat mengapresiasi reader

Part berikutnya kapan? ya bulan depan lahh.. seperti biasa, kalau ada keajaiban baru aku update cepet, hahaha. Harap maklum harus menunggu lama kelanjutan demi kelanjutan fanfic ini, karena aku ga sekedar nulis, tapi perlu banyak riset ini itu dan nyusun dinamika plot biar dapet misterinya. Ini pertama kalinya aku nulis genre thriller psikologi, jadi mesti hati-hati 🙂 #lahcurhat

Oh ya, mulai part berikutnya nanti, karena Myungsoo diceritakan merubah penampilannya dengan rambut pirang, silahkan bayangkan figur dia seperti ini :

 

 (tampan sekali ciptaan Tuhan yang satu ini :” #woy)

 

BY THE WAY…. aku menyempatkan post part ini disaat besok aku harus sidang penelitian lho, hehe. Jadi mohon doanya yaa.. dan mohon jangan lupa untuk meninggalkan vote dan komentar, sangat diharapkan agar tidak menjadi silent reader :’)

Akhir kata, sampai jumpa di part 6 !!!

Next : Part 6 >> The Past, The Present, and The DarkAngel

Advertisements

14 responses to “SUICIDE FORUM [Part 5 : Painkiller] -3

  1. akhirnyaa selesai juga baca chap ini..
    setelah diganggu berbagai macam cobaan pas baca ini..wkwk
    .
    yeayyy akhirnyaaa L ketemu jugaa sama naeun..
    tp sedih L masih gaada tanda” inget naeun..T.T
    btw yura punya dendam sama myungsoo ya???
    please yur jangan gangguin myung gangguin woohyun aja sono.. pls jangan berbuat macem” sama diaT.T
    yeah mskipun myungsoo juga pelaku pembunuhnya T.T
    .
    btw kok perasaanku naeun ya yg bunuh hoseok sama sunggyu… + anjing”nya juga..
    naeun keliatan kaya terobsesi bgt sama myungsoo..dan dia sendiri kan yg bilang bakal jaga nama baik myungsoo sampe mati supaya ga ketauan kalo dia pelaku pembunuhnya yura..
    mungkin gegara ini naeun sampe rela berbuat apapun buat nutupin perbuatannya myungsoo..
    .
    buat namu ..jepet insaf deh sayangg..jangan diterusin perbuatan kamu,drpd ntar kena inbasnya dr the king & keluarga son..
    kan kasian juga chorong sama chohyun pasti ntar kena imbasnya T.T.
    .
    next chap banyakin mommentnya myungeun pls kak >.< Wkwkwk kangen mereka..smg deh L cpt inget ingatannya..
    gasabar nunggu last chap.. yeah meskipun masih lama kayanya..hahaha.
    .
    . semangaat ka cit buat nulisnya + buat sidangnya jugaa..
    meskipun nunggu sebulan..dd sabarr kok..
    puassssss banget sama chapter 5 ini..hihihiww

  2. Gurih banget ya pict nya myungsoo 😍
    Uuuuh. Teka teki sudah semakin ke buka secara perlahan.
    Aaaaak tak sanggup ku menunggu kak. 😄😄
    Kak cit semangaaat penelitian ya. Aduduu.. Terharu, disaat kak citra lagi sibuk buat penelitian masih sempet”in apdet. Gomawo kak. Jeongmal gomawooo 😍😍😍

  3. Aku yakin nya sihhh darkangel itu Naeun, tapi masih butuh kepastiann(?) nya lagiiii nihhh kakk wkwkw. Selalu excited setiap kakcit update FF, apalagi pas baca nyaa. Senengg banget akuuu. Makasiii yaa kakk selalu ngasih cerita” yangg bagusss seru kerennnn. Sehat selalu kak cittt, suksesss!!!!

  4. O M G
    gila, ini parah banget
    parah banget kerennya kak citraaa 😀
    sumpah ga sabar nungguin part 6
    dark angel itu naeun kah?
    pengen banyakin momen myungeun nya dong, hehe
    semangat kak cit 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s