[Multi Chapter] Stay – 3

Credit: Art by Song17 (Zahra)

STAY

Previously: [2]

Do not Copy!
-

***

‘Menemukanmu.’

***

Dyo

Aku tidak menyangka perjalanan ini begitu menyenangkan. Jasa pindahan sudah membawa barang-barang keluargaku sejak kemarin. Satu kardus berwarna hitam berukuran kecil sengaja kupisahkan dari tumpukan barang. Kuputuskan untuk membawanya hari ini bersamaku. Isinya? Koleksi kaset dn CD album jaman dulu. Album dari musisi yang kukagumi. Ada diantaranya lagu favoritku bersama Hana. Kamis sering mendengarkannya di jam istirahat sekolah, maupun saat di rumah.

Mungkin Hana lupa dengan lagu favorit kami. Dia tak punya kesukaan yang spesifik. Menerima semua masukanku tentang lagu bagus dan akan tersenyum lebar saat mendengarkannya. Dia ikut bersenandung meski tak tahu liriknya. Dan kami akan duduk di bangku yang sama sambil berbagi pemanja telinga.

Minhyuk dan Hyunshik berkunjung kemarin pagi. Mata Hyunshik memerah entah karena apa. Aku curiga dia menangis. Dia merangkulku sepanjang kami mengobrol. Antara tidak rela kehilangan seorang vokalis keren atau memang benar menangisiku sebagai teman. Entahlah. Meski baru saling mengenal selama setahun, kami lumayan dekat—selain berbagi bekal makanan yang diberikan padaku oleh para gadis di sekolah. Yah, kami memang sempat bergabung dalam satu band. Sebenarnya aku dipaksa, tapi sayang kalau tidak dicoba. Dari dulu aku suka menyanyi.

Bahkan bangga memamerkan suaraku di depan Hana.

Setelah dua teman band-ku datanglah manusia paling tak kuinginkan. Siapa lagi kalau bukan Hyemi dan beberapa teman gadisnya. Aku sempat menolak untuk menemuinya. Kalau bukan karena eomma-ku yang bersikeras aku harus bersikap sopan, bisa saja aku berangkat lebih dulu ke Suwon.

“Kamu sudah menghubungi Hana, Nak?” Eomma bertanya dari kursi penumpang depan.

Aku tersenyum kecut lalu menggeleng.

“Belum dapat nomornya?” kali ini giliran appa dibalik kemudi yang bertanya.

Aku kembali menggeleng. Ngomong-ngomong, harusnya hari ini aku sudah masuk sekolah. Ada sedikit kendala dalam pengurusan administrasi kepindahan appa.

Appa-ku dulunya ingin aku jadi tentara. Tapi, aku tidak mau. Hubungan kami sempat renggang sampai eomma berhasil meluluhkan appa. Sebenarnya karena appa melihat deretan piala kemenanganku dalam lomba menyanyi. Namun, sampai hari ini appa memberikan syarat padaku kalau aku harus belajar bela diri. Jadi, aku memilih judo. Levelku sudah lumayan tinggi. Ha. Sombong sedikit boleh, ‘kan?

Pendek-pendek begini aku bisa membanting orang.

Tapi, kuharap tidak ada yang perlu kubanting di Suwon. Semua sudah terencana. Termasuk menemui Hana dengan gagah berani.

Kuharap dia hanya anti-sosial bukan antipati padaku.

Sebenarnya dua hari lalu Junmyeon bilang padaku kalau dia membagikan link pertunjukanku pada Hyesoo. Tapi, aku tidak melihat ada tanda-tanda gadis itu merespon. Junmyeon pernah menawarkan nomor telepon Hana padaku, tapi aku tidak mau. Rasanya pengecut sekali tiba-tiba menghubunginya berbekal nomor pemberian orang lain.

Nomor Hana harus kudapatkan sendiri. Suwon, aku datang.

Lagu milik Ed Sheeran mengalun merdu di telingaku.

… And baby our smile’s forever in my mind and memory…

I’m thinking ‘bout how people fall in love in mysterious ways…

… Maybe it’s all part of a plan… That maybe we found love right where we are…

하나

Hana

… Loving can hurt sometimes…

You know it can get hard sometimes…

It’s the only thing that makes us feel alive…

Hana, sarapan sudah siap!” Eomma mengetuk pintu kamarku. “Kebiasaan, ya, mandimu lama kalau mau berangkat ke sekolah!” Sebuah omelan menyusul.

“Ya, Ma. Sebentar.”

Sebenarnya aku sudah siap dari tadi. Tapi, kuluangkan waktu sejenak untuk melihat apa yang tersaji di balik jendela. Para petugas jasa pindahan berlalu lalang memindahkan isi dalam mobil box besar ke dalam rumah kosong di depan rumahku. Kegiatan itu sudah dimulai dari kemarin sore.

Benarkah kami akan mendapat tetangga baru? Tidak ada kabar rumah itu dijual, tapi juga tidak ada kabar kalau keluarga Do akan kembali ke Suwon. Furin di atas kepalaku berputar, loncengnya berdenting halus. Sengaja kukaitkan benda itu di ambang jendela untuk memberi suara di dalam kamarku yang sepi.

Ngomong-ngomong soal furin, Dyo tidak pernah memberiku hadiah berupa aksesoris. Dia hanya membagikan kaset-kaset miliknya. Ya, Dyo selalu membeli dua kaset album kesukaannya, bahkan band rock sekalipun. Entah itu berbentuk CD maupun kaset (dia juga penggemar lagu lawas), dia akan membagi salah satunya untukku. Tapi, kami hanya memutar miliknya saat mendengarkan lagu bersama-sama. “Punyamu bisa rusak kalau diputar terlalu sering. Pakai punyaku saja,” katanya dengan suara besar.

Aku lebih suka mendengar Dyo yang menyanyi, bukan para penyanyi nggak kukenal itu.

Aku bohong pada Hyesoo kalau aku tak mau melihat video Dyo sedang menyanyi lewat link kiriman Junmyeon. Aku mendengarkannya sepanjang malam.

Di pangkuanku ada album masa kecil kami yang nyaris tak pernah kubuka lagi. Entah kenapa pagi ini aku merasa tergelitik untuk membukanya.

Inilah kami sesungguhnya. Dengan gigi tanggal dan muka penuh keceriaan tanpa beban. Foto akan mengikat masa lalu kami selamanya. Bahwa kami pernah bersama… Waktu membeku di dalam album ini dan Dyo selalu bersamaku. Kami tak pernah tumbuh, tak pernah sakit hati dan tak pernah kehilangan…

Dyo tak pernah bilang ‘wait for me come home’ seperti dalam lagu Ed Sheeran yang sedang kudengarkan. Dyo tak pernah berjanji akan kembali. Jadi, kenapa aku menunggunya?

Lonceng Furin kembali berdenting, tirai jendelaku tersibak angin. Rumah kosong itu akan segera berpenghuni dan itu bukan Dyo.

Kututup dengan kasar album kenangan di pangkuanku, melemparnya ke kasur. Kalau hanya aku yang hanya terus berharap seperti ini, rasanya bodoh sekali.

We made this memories for ourselves…

Where our eyes are never closing, hearts were never broken, time’s forever frozen, still…

Eh, Hanaaaa~” Itu Hyesoo yang berteriak di sepanjang koridor. Dia berlari menghampiriku, merangkul bahuku. “Welcome to senior year~” katanya bahagia.

Kusambut ucapannya dengan tampang biasa-biasa saja. Dia terus merangkul bahuku sementara aku bersedekap dengan kaku. Kubiarkan Hyesoo mengoceh panjang lebar tentang masa orientasi para siswa baru dan bla-bla-bla lainnya. Dia bahkan mengoceh tentang betapa gantengnya adik-adik kelas kami.

“Kenapa mereka terlihat lebih keren dari angkatan kita?” imbuhnya.

“Sehun jelas keren,” gumamku, keceplosan.

Mata Hyesoo berbinar-binar. Aku tahu dia selalu mendukungku untuk menjadi dekat dengan Sehun. Kasihan sekali temanku yang satu ini terlalu berharap. Meski aku mengatakannya dengan muka datar, Hyesoo tetap meledekku.

“Udah luluh nih ceritanya?”

“Luluh apanya?” timpalku sambil berkacak pinggang, “Secara fisik, dia memang keren. Kenapa juga kau tertarik sama adik kelas?”

Hyesoo cemberut. “Yah, mungkin lebih asyik kalau kita yang mengontrol suatu hubungan. Hahaha. Eksperimen aja, sih.”

“Sinting,” Aku berjalan mendahuluinya menuju kelas. Sekolah kami tidak menganut sistem rotasi kelas. Jadi teman-temanku masih sama seperti saat kelas satu. Termasuk Sehun dan beberapa temannya yang lumayan keren. Serius deh, secara fisik mereka keren, aku mengakuinya. Tapi, as other cool kids, they’re little bit cocky. Dengan tampang-tampang seperti anak boyband dan didukung talenta yang mumpuni, kurasa The Princes atau apalah itu nama mereka, bakal digilai adik kelas. Aku sudah melihatnya di sepanjang halaman sekolah tadi. Sebagian dari mereka cekikikan sambil menyebutkan nama-nama populer di sekolahku.

Ini Suwon bukan Seoul. Tapi, sepertinya di mana oppa-oppa populer berada, akan disusul pula oleh eksistensi para pendukungnya.

“Permisi,” Aku membelah dengan dingin kerumunan gadis-gadis kelas satu yang berjejer di pintu kelasku. Nah, begini ini yang tidak kusukai setelah menjadi senior. Saat menjadi junior saja, sudah banyak kakak kelas ganjen menyambangi kelasku gara-gara ketua The Princes, atau apa pun namanya, berada.

Beberapa siswi baru berbisik-bisik dengan temannya. Beberapa memakiku. Aku hanya memutar bola mataku, mengabaikan mereka.

“PERMISI! Ngapain pada di sini? Siap-siap upacara aja, Adik-adik.” Itu suara Hyesoo. Dia lebih beringas ketimbang aku. Kulihat dia berhasil mengusir beberapa junior. Kuletakkan tasku pada loker dan menguncinya (loker sekolah ini ada di setiap kelas).

“Heran deh, padahal para pangeran lagi nggak di kelas. Lagian siapa sih yang nyebarin gosip kalau di kelas kita ada cowok-cowok itu,” keluhnya sambil pura-pura mengusap keringat dan duduk di depanku.

Aku hanya menggelengkan kepala. “Ngapain malah duduk? Ayo, baris,” ajakku.

Hyesoo tersenyum dan berdiri. “Sudah kamu dengerin?”

“Apanya?”

“Malah balik tanya. Videonya, Darling.”

“Video siapa?” tanyaku pura-pura bego.

“Ah, lupakan. Lain kali aku nggak akan memberitahumu. Baguslah, kalau kamu beneran move on. Let’s catch some cool kids this year,” ujar Hyesoo sumringah.

Kuangkat sebelah alisku. “No. Kamu sekolah cuma buat berburu?”

“Kurang ajar kamu Jung Hana. Udahlah, lupakan,” Hyesoo berjalan mendahuluiku. Mulutnya komat-kamit, mengomel.

Kupastikan sekali lagi untuk melihat sekeliling kelasku sebelum meninggalkannya.

Kursinya ganjil. Apa ada anak baru?

Gila, ya. Itu tadi upacara atau ajang perkenalan idol,” Hyesoo bergidik di sebelahku setelah upacara mingguan selesai. Kami sedang menikmati segelas minuman dingin di kantin setelah beberapa bimbingan dari wali kelas baru.

Sudah jadi adat sekolah ini, upacara di hari pertama masuk sekolah akan diisi perkenalan berbagai macam klub. Sehun sebagai ketua SC sementara, berbagi sedikit pidato penyambutan anak-anak baru. Bisa dibayangkan bagaimana histerisnya sebagian siswi baru yang melihatnya. Aku tak menampik kalau Sehun memang berkharisma layaknya pemimpin. Tapi, aku tetap tidak suka jika harus berlama-lama di lapangan upacara. Setengah bagian kakiku kram.

Aku tak menanggapi ucapan Hyesoo. Kuaduk minumanku dalam diam. Aku mengharapkan sesuatu yang baru, meskipun aku pesimis bisa merubah sikap cuekku ini. Ketimbang kelasku berisi sebagian anak-anak The Princes akan lebih baik kalau ada yang menggantikan posisi mereka. Misalnya saja seorang anak baru yang kupikir akan datang dan ternyata lebih keren daripada gerombolan Sehun. Tapi, aku salah sangka. Entah kenapa hatiku sedikit kecewa ketika Yeonsoo-songsaenim masuk ke kelas seorang diri.

“Kupikir bakal ada anak baru,” gumamku sambil menekuk siku.

Hyesoo mengedipkan matanya, “Anak baru?”

“Kamu nggak menghitung kursi di kelas kita? Jumlahnya ganjil.”

“Masa’ sih?”

“Makanya kamu itu jangan terlalu fokus sama Chanyeol!” semburku jengkel.

Temanku itu tertawa lalu tersedak. Dia terbatuk beberapa kali.

“Rasain!” umpatku. Karena merasa kasihan, aku mengelus-elus pungggungnya.

Setelah batuknya reda, wajah Hyesoo memerah. Ia menatapku dengan jengkel lalu berkata, “Kudengar Chanyeol minta tukeran sama Doosik supaya bisa masuk ke kelas kita. Wah, dia tahu cara membahagiakanku,” Kali ini Hyesoo tersipu malu. Benar-benar anak ini.

“Dengan mengorbankan anak lain maksudmu? Kalau aku jadi Doosik, aku nggak mau diperlakukan begitu. Kelas sebelah itu isinya anak-anak nakal.”

Mendengar pernyataanku, Hyesoo menelan ludah. Tak berani menanggapi lagi.

“Yah, mau gimana lagi. Pujaanmu itu anak walikota sih, ya,” sindirku mentah-mentah.

Mata Hyesoo membulat, tersinggung. Aku tahu kalau mereka belum pacaran, tapi Hyesoo jelas protektif pada gebetannya itu.

“Bisa aja ada alasan lain,” kata Hyesoo, “Chan dekat sama Sehun. Mungkin mereka ingin satu kelas atau—“

“—tetap aja nggak pantas!” potongku, “Itu diskriminasi namanya. Lagian mereka bisa saling ketemu di lapangan bola.”

“Sehun jadi ketua sementara student council juga karena dia populer dan anak pejabat. Taruhan aja, setelah pemilihan dia bakal jadi ketua resmi,” Hyesoo membeo lagi.

Kali ini aku balik menatapnya dengan keheranan. “Kenapa bawa-bawa Sehun?”

Kamu nggak suka?”

Nah, ‘kan. Dia marah. Salah mulutku juga kenapa terlalu blak-blakan soal Chanyeol. Aku menghela napas panjang. Mencoba tak terpancing emosi. “Maksudku, aku nggak ada apa-apa sama Sehun. Kenapa kamu buat dia sebagai pembanding? Ya, dia populer. Tapi, dia dipilih, Soo, bukan minta posisi itu. Kamu sendiri yang bilang.”

“Oh, gitu. Kalau suka bilang aja. Nggak usah jual mahal!”

Kali ini aku tak bisa menahan lagi. Kubanting gelas plastikku ke meja dan berdiri. Tak peduli kalau separuh isinya muncrat. “Cukup, ya, Hyesoo. Kalau kamu nggak bisa tutup mulut soal itu, lebih baik kita nggak usah ngomong lagi.”

“Oke,” dia ikut berdiri. “Permisi!” Lalu tubuhnya berbalik pergi, meninggalkan sampah gelasnya di atas meja.

Apa-apaan ini. Aku jual mahal katanya? Baru hari pertama sekolah, kami sudah bertengkar. Kami sering bertengkar, tapi baru kali ini kami beradu mulut karena masalah anak lelaki. Apalagi soal Chanyeol. Baru kali ini aku mengutarakan pendapatku soal anak itu. Memang sekolah ini kadang pilih kasih. Kenapa Hyesoo buta mengenai itu? Jatuh cinta kadang merusak otak dan pertemananmu.

‘Masa bodoh lah. Nanti juga dia akan kembali manis seperti sebelumnya.’

Kuhabiskan waktu bebas hari pertama sekolah di perpustakaan. Bukan, aku bukan kutu buku. Aku tidak suka membaca kecuali novel dan buku cerita. Tapi, di sini tidak ada novel. Kuambil buku ‘Practice Grammar’ ini dengan asal-asalan. Kemampuan bahasa inggrisku tergolong biasa saja.

Awalnya aku tidak suka sama sekali dengan bahasa inggris (hampir semua pelajaran tidak kusukai). Dyo yang mengajariku. Katanya kalau kita mau cepat fasih dan menambah kosa kata dalam bahasa inggris, kita harus sering-sering mendengarkan lagu berbahasa inggris. Ya, aku menurut. Sampai sekarang aku lebih suka mendengarkan lagu berbahasa inggris. Separuh alasannya karena aku teringat suara Dyo saat melakukannya.

‘Ah, sial!’ Dengan sekali sentakan, cover buku itu tertutup. Sambil menatap keluar jendela, kuletakkan kepalaku di atas buku. Aku belum sempat cerita pada Hyesoo soal rumah Dyo yang sudah berpenghuni.

Kepada siapa lagi aku harus bercerita? Kepada siapa lagi aku bisa mengeluarkan kegundahan ini? Tidak mungkin menceritakannya pada eomma. Aku juga tidak mungkin leluasa menghubungi kakakku. Saat ini aku benar-benar butuh dukungan untuk dijauhkan dari penjara masa lalu. Tapi, cara Hyesoo menarikku keluar dari masa lalu juga salah.

Bisa-bisanya dia ngomong seperti tadi. Dia cuma tahu luarnya aja. Kenapa dia bilang aku jual mahal?!

Rasanya menyakitkan.

Rasanya ingin menangis lagi.

Tak terasa sebulir cairan asin meleleh dari mata kananku. Kuangkat kepalaku dan buru-buru menyekanya. Tidak aku tidak bisa begini. Sungguh hari yang menyebalkan. Sialnya, air mataku tak mau berhenti menetes.

“Kamu baik-baik aja, Hana?”

Eh? Karena terus menunduk, aku tidak menyadari ada sosok lain di hadapanku. Begitu mendongak, betapa malunya aku melihat Sehun sudah duduk di sana dengan rupa khawatir.

“Ada apa, Hana?” tanyanya lagi.

“Ng-nggak apa-apa. Cuma ngantuk aja,” jawabku berbohong sambil mengusap mataku lagi. Kali ini sudah benar-benar berhenti.

Sehun menatapku lama sekali. Mungkin ada sesuatu tertahan di mulutnya. Mendadak suasana canggung ini diselimuti kegerahan. Karena tak mau berlama-lama ditatap olehnya, aku bangkit dan meraih buku yang sedang kubaca dan mendekapnya. “K-kau mau pakai meja ini? Silakan, aku sudah selesai,” ujarku dengan sumbang.

“Aku ke sini karena mencarimu. Hyesoo bilang tadi kalian bertengkar.”

Kudengar kursi Sehun berderit di belakangku, artinya dia juga berdiri. Sialan Hyesoo. Apa sih maunya? Aku hanya menggeleng saat berbalik meresponnya. Dia masih menatapku dengan khawatir. Sungguh, ya. Kakiku seakan mati rasa dan susah bergerak. Untung perpustakaan sepi dan keberadaan kami terhalang beberapa rak. Kalau tidak, penjaga perpustakaan bisa mengira kami sedang berlatih drama.

Sehun melangkah mendekatiku. Tubuhnya menjulang di hadapanku. Bagaimana aku bisa lewat kalau begini. “Kalian bertengkar hebat, ya? Sampai kamu menangis.”

“A-aku nggak nangis. Kamu salah sangka. Ka-kami cuma adu mulut biasa. Berlebihan banget kalau aku sampai nangis,” ujarku gelagapan.

Mana mungkin aku jujur kalau hatiku ini sedang galau gara-gara Dyo (ucapan Hyesoo juga ikut andil sebenarnya). Tapi, dengan tumpukan kegelisahan yang merongrong dalam hatiku, suaraku bergetar saat mengatakannya.

“Kalau kamu mau cerita sesuatu, aku siap jadi pendengar yang baik,” katanya lembut.

Eommaya~ Kenapa anakmu harus berhadapan dengan situasi seperti ini? Di bawah tatapan hangat Sehun seperti ini, malah membuatku semakin kalut. Rasanya ingin berteriak dan menceritakan segala hal yang mengusikku saat ini padanya. Tapi, aku tidak seceroboh itu. Aku tidak mau Sehun menganggapku cewek aneh yang tiba-tiba menangis di hadapannya.

Lagi-lagi, aku hanya menggelengkan kepala, tak bisa menjawab karena kerongkonganku terlalu sakit. Bisa-bisa suaraku terdengar mencicit jika dipaksa. Aku sudah tak berani menatap Sehun karena air mata yang merebak lagi. Tubuhku bergetar. Tangan Sehun sudah terangkat entah untuk apa. Aku bergegas mengambil keputusan, “Ma-maaf, Sehun-ssi. Aku perlu ke kamar mandi. Permisi.”

Dia tak menahanku lagi. Tubuhnya beralih ke samping dan membiarkanku lewat.

Dyo

Begitu kembali menjejakkan kaki di lingkungan ini, aku merasa benar-benar bebas seperti burung yang dilepaskan dari sangkarnya. Rasanya lega dan bahagia sampai bisa menghapus kelelahan setelah perjalanan jauh. Tak terasa sudah enam tahun berlalu. Rumah lamaku tak berubah. Eomma menyuruh penjaga rumah untuk tidak mengganti ornamen-ornamennya. Syukurlah.

Dan rumah miliknya juga masih sama.

Aku mengamati rumah Hana di seberang. Sepertinya kamar milik Hana masih di bagian depan (ada sebuah benda digantung di jendelanya.) Halaman rumah itu penuh berbagai macam jenis bunga. Apa dia senang menanam bunga sekarang? Dulu dia sangat cuek denang keadaan sekitar. Bisa saja dia sudah berubah. Ya, enam tahun bukan waktu yang singkat.

Junmyeon pernah mengirimkan foto kelasnya saat kegiatan class meeting. Hana tidak berubah jauh. Dia masih cantik dengan rambut hitamnya yang tebal itu. Senyumnya juga tidak berubah (Dia tidak tersenyum  di foto-foto yang Junmyeon kirimkan). Apa artinya dia masih apatis?

Entahlah. Aku tidak peduli. Yang penting sekarang keadaan akan kembali seperti semula. Aku bahagia tinggal di sini. Tempat yang paling kutangisi saat kutinggalkan. Appa berjanji kami tak akan pindah lagi, meski dia dipindahtugaskan ke tempat lain. Oh, benar-benar sebuah kelegaan. Appa merasa harus memberiku kesempatan untuk lebih bersosialisasi.

Setelah beristirahat sejenak, aku membantu eomma dan appa membenahi tatanan di dalam rumah. Untungnya kami memilih jasa pindahan yang tepat sehingga kami tak perlu repot-repot membersihkan rumah ini.

Beberapa kardus milikku kupindahkan ke dalam kamar. Kubuka jendelanya supaya udara berganti. Semilir angin membelai wajahku dengan lembut. Kamar di bagian depan ini kembali menjadi milikku. Spot yang bagus karena berhadapan dengan kamar Hana di seberang sana. Hahaha.

Setelahnya, aku disibukkan dengan menata ini-itu di dalam kamar. Eomma bilang kalau malam nanti belum bisa mengucapkan salam kepada para tetangga. Bersama appa, eomma akan pergi ke rumah saudara terlebih dahulu. Aku memilih tinggal di rumah setelah membersihkan diri di sore hari. Mereka setuju lantas  pergi setelah berpesan tentang makan malam dan beberapa hal.

Alasan utamaku memilih tinggal di rumah adalah… ya, untuk menemuinya. Sebentar lagi pasti dia pulang dari sekolah.

Aku menyeberangi jalan untuk mengunjungi rumahnya. Berniat untuk menemui Bibi Jung lebih dulu. Hatiku berdebar-debar, tentu saja. Jarak yang tidak jauh ini, rupanya tak bisa kulalui dengan mudah. Saat sudah separuh jalan. Aku memutuskan untuk kembali ke rumah karena rasa malu menguasaiku. Aku gugup setengah mati. Hah.

Bagaimana reaksi Hana nanti? Apa dia akan terkejut? Ah masa bodoh! Bukankah ini yang sudah lama kuinginkan?

Kumantapkan langkahku kali ini. Begitu berhasil mencapai pintu rumah Hana, jantungku seperti hendak merangsek keluar dari tulang rusukku. Bunyinya bising sampai aku takut kalau Bibi Jung akan mendengarnya nanti. Tapi, rumah ini sepi. Salamku tak ada yang menjawab.

Mungkin sedang tidak ada orang di rumah.

Sedikit kecewa, aku memutar tubuhku kembali menyeberangi jalan. Lagipula, aku terlalu berani melangkah ke sana tanpa membawa apa-apa. Seharusnya aku membawa paling tidak buah tangan untuk ibunya Hana.

Bodohnya aku.

Bergegas masuk ke dalam rumah, aku sudah siap menuju lemari makanan untuk menyiapkan beberapa camilan. Tapi, sebuah suara menghentikkan langkahku. Suaranya terdengar samar-samar karena tertutup deru sepeda motor.

Kembali ke pintu, lagi-lagi aku terlalu berani untuk melongok keluar. Seharusnya ini tidak kulakukan kalau akhirnya melunturkan semangatku untuk menemuinya.

Lewat celah pintu, aku melihat Hana sedang berbincang dengan seorang cowok yang membantunya melepaskan helm. Gadis itu tersenyum malu-malu dan terlihat canggung. Ya, benar. Dia Hana-ku enam tahun yang lalu. Yang memutuskan hubungan kami gara-gara sebuah popsicle rasa anggur. Hana-ku enam tahun lalu yang tak pernah menghubungiku ataupun membalas suratku.

Hana-ku enam tahun lalu yang sedang menyunggingkan senyuman seperti saat aku mengutarakan perasaanku padanya. Bedanya, kini dia sudah dewasa dan matanya terlihat lebih teduh dari jarakku memandang.

Sebuah tusukkan telak mengenai dadaku.

Kenapa aku bisa begitu bodoh?

Enam tahun adalah waktu yang cukup untuk melupakan kenangan kekanak-kanakkan kami. Enam tahun adalah waku yang sangat cukup bagi sebuah hati untuk berubah. Bahkan, tidak perlu menunggu selama itu jika memang sebuah rasa telah menguap sebelumnya.

Apa hanya aku di sini yang mencoba mempertahankan kenangan kita? Atau mungkin karena kebodohanku yang tidak berani sekalipun menemuimu hingga membuat kamu melupakanku, Hana?

Aku tersenyum kecut sambil menutup pintu. Kalau tahu begini jadinya, aku lebih baik pergi dengan eomma tadi.

-tbc


Notes:

  • Untuk kesekian kalinya Stay berhasil update
  • Terima kasih sudah membaca… ^^

©Yasmine 2017

Advertisements

One response to “[Multi Chapter] Stay – 3

  1. Pingback: [Multi Chapter] Stay – 4 | FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s