Medals (chapter 5)

Title : MEDALS
Genre : Romance, Fantasy, Thriller
Main Cast: Lu Han, Ariel Lau (OC)
Other Cast : Find by yourself
Rating : PG 17
Length : Multi chapter
Auhtor : Nidhyun (@nidariahs)
Cover by : Revenclaw @ArtFantasy

***

“Bagaimana keadaannya?” Donghae melongokkan kepalanya ke arah komputer di ruang kesehatan PE Academy yang menunjukkan hasil pemeriksaan Luhan.
Perawat wanita dengan jas selutut berwarna biru itu hanya menggeleng kecil dengan ekspresi datarnya yang tidak berubah, “Dia baik-baik saja. Tubuhnya hanya mengalami syok karena kerja organ tubuhnya tidak stabil secara tiba-tiba,” dan Donghae hampir saja bernapas lega jika wanita itu tidak melirik dengan warna sinis ke arahnya, “Tapi latihan macam apa yang dilakukan anak itu hingga pembuluh darahnya mengalami gangguan? Bahkan jika dia mengeluarkan kekuatan yang besar, pembuluh darahnya tidak harus sampai pecah,”
Donghae berdehem pelan ketika wanita itu menunduk dan memasukkan beberapa jenis obat ke dalam plastik kecil, “Mereka murid PE Academy, apapun bisa terjadi karena mereka bukan orang-orang biasa,” Donghae mulai mencari alasan yang dirasa masuk akal.
Wanita itu tersenyum nyinyir dan menyodorkan obat pada Donghae, “Justru karena kita semua bukan orang-orang biasa maka kita harus lebih berhati-hati, terutama untuk membuat kecurigaan seperti kasus ini,” wanita itu pun memutar kepalanya ke arah Luhan yang masih berada di bawah pengaruh obat penenangnya, “Tapi bukan tugasku untuk mencurigai dan menghakimi kalian. Aku hanya mengingatkan saja karena aku sudah berada di sini selama sepuluh tahun, dan selalu saja banyak hal tak terduga di tempat ini,” ia pun kembali memutar matanya ke arah Donghae, “Dia akan sadar beberapa menit lagi. Suruh dia minum obatnya dan biarkan dia mengistirahatkan tubuhnya untuk hari ini.”

***

Ariel masih berjongkok di depan ruang kesehatan setelah Luhan muntah darah dan tidak sadarkan diri karena ulahnya–dan Ariel lagi-lagi harus menangis karena momen tak menyenangkan yang terjadi di sekolah barunya saat ini. ariel pun memeluk erat kakinya dan menatap sepatunya yang memburam karena air matanya terus menggenang dan meleleh tanpa bisa Ariel hentikan. Baru saja ia bisa membuka hatinya pada tempat yang terasa amat asing dan membuatnya merasa menjadi orang paling asing ini, tapi sekarang ia sudah meindukan ibunya lagi dan ingin segera pulang dan menjalani kehidupannya yang amat normal meskipun ia tidak pernah dipenuhi dengan prestasi seperti orang lain.
Ariel sebenarnya sudah mengetahui mengenai hal ini –mengenai dirinya yang bisa mengendalikan darah, memiliki dua kekuatan : teleportasi dan telekinesis, dan dua hal tersebut merupakan sesuatu yang amat tidak umum. Bahkan, bagi para pengendali air, mereka sudah mendapat larangan keras untuk melakukan percobaan maupun pelatihan untuk mengendalikan darah. Tapi tanpa belajar, Ariel kadang tidak bisa mengendalikan dirinya, seperti tadi…. Dan karena ia bisa melakukan teleportasi dan telekinesis secara alami, orang tua Ariel bahkan melakukan banyak hal untuk mengurangi konsentrasi dalam otak Ariel agar tidak terjadi keseimbangan antara teleportasi dan telekinesis yang ia miliki.
Ariel semakin mengeratkan kepalan tangannya saat menyadari betapa tidak amannya tempat yang tengah menjadi rumah baginya saat ini. ia semakin takut membayangkan Donghae akan melaporkannya dan membuat Ariel harus diseret ke meja investigasi karena baru saja melanggar UU yang telah ditetapkan oleh kaisar sejak ratusan tahun lalu.
“Kau baik-baik saja?”
Ariel terkesiap ketika sebuah tangan menyentuh kepalanya. Secara refleks, ia memundurkan kepalanya dan mendongak perlahan ke arah pemilik suara –yang amat lambat diproses dalam kepala Ariel bahwa pemilik suara itu terlampau familiar. Donghae baru saja sampai di sana dengan raut wajahnya yang tidak terlihat terlalu baik. Dan Ariel semakin merasa tidak baik-baik saja setelah melihat seutas senyum tertarik di bibir Donghae.
Ariel takut. Demi Tuhan ia amat takut dengan Donghae saat ini.
“Tidak apa-apa, semuanya akan baik-baik saja,” kemudian Donghae menarik tangan Ariel dan menggenggamnya erat, mencoba meyakinkan Ariel yang tampak amat kentara menunjukkan ketakutannya, “Kau kembalilah ke kamarmu. Luhan akan menyusulmu setelah ia siuman, aku harus mengurus sesuatu sebelum kembali menemui kalian. Jadi, jangan menangis lagi, oke?”
Ariel langsung menarik tangan Donghae ketika pemuda itu mulai bangkit, dengan ragu ia pun mengeluarkan suaranya yang mulai serak, “Kau…kau takkan melaporkanku pada kaisar, kan? Kau takkan membuatku harus dikarantina, kan?”
Donghae menghela napas panjang, kemudian ia pun kembali berjongkok dan menyentuh pundak Ariel, “Kau akan baik-baik saja. Semuanya akan tetap normal. Jadi, kau tidak perlu khawatir dan kembalilah ke kamarmu, mengerti?” Donghae mengusap kepala Ariel beberapa kali sebelum akhirnya ie menarik dirinya dari ruang kesehatan. Ia harus segera pergi ke gedung keamanan –tempat semua sadap dan rekaman aktivitas di PE Academy terekam.

***

Donghae sebenarnya tidak terlalu yakin dengan langkah yang ia ambil saat ini, tapi karena situasi yang terbilang tidak menguntungkan saat ini, Donghae pun terpaksa berdebat agak keras dengan penjaga gedung keamanan. Dia tak memiliki jabatan berarti di PE Academy, dan tentunya meminta untuk masuk bahkan meminta pihak keamanan menghapus sadap yang mungkin saja ditaruh di sekitar tempat latihannya tadi.
“Tapi kami tidak bisa memberikan izin akses tanpa perintah,” pria yang terlihat lebih tua beberapa tahun darinya itu mulai emosi ketika Donghae masih dengan keras kepala menginginkan masuk dan memeriksa beberapa rekaman yang diinginkannya.
Donghae pun mendengus kasar, ia mulai gusar. Jika waktu terus terulur seperti ini, pihak atasan akan mencurigai latihan timnya, “Aku sebenarnya tidak suka melakukan ini,” Donghae pun terpaksa mengeluarkan sebuah kartu pengenal yang dibuat dari kayu besi, jenis kayu yang diambil dari pohon Xiangsi Shu, pohon terbaik di Poseidon dan hanya tumbuh di daratan Arang –daratan para jajaran bangsawan dan orang-orang pemerintahan.
“Aku kerabat Donghwa dari parlemen timur,” Donghae pun menyodorkan kartu yang berhiaskan sebuah tali berwarna biru tua itu pada penjaga yang sejak tadi bertengkar dengannya, “Kupikir kartu ini menunjukkan akses penuh untuk segala sesuatu yang berkaitan dengan lembaga pemerintahan. Aku tidak memintamu untuk mengeluarkan dokumen Poseidon, jadi aku tidak melanggar bukan?”
Pria itu terlihat cukup terkejut juga ragu secara bersamaan. Ia amat tahu tidak semua bangsawan bisa memiliki kartu yang dibuat dari kayu besi –kartu yang menunjukkan bahwa mereka orang penting ataupun orang yang terhubung dengan orang-orang penting. Pria itu pun sekali lagi memindai Donghae, lalu dengan berat hati, ia pun mengizinkan Donghae masuk dan membiarkannya mengecek sadap yang ditaruh di salah satu halaman PE Academy.
Dengan cepat, Donghae pun memotong dan menghapus sebagian rekaman yang menangkap bagian dimana Ariel sempat mengendalikan tubuh Luhan. Ia tak pernah berpikir untuk melakukan hal-hal gila semacam ini, bahkan ia sampai harus menggunakan ID-nya yang biasanya dipakai untuk acara khusus di istana arang. Tapi karena tugasnya yang agak memuakkan ini, tanpa sadar Donghae seperti telah siap untuk melakukan apapun untuk timnya –untuk kedua anak kecil yang menurutnya amat mentah dalam bidang mereka.
“Latihan apa yang mereka lakukan hingga kau repot-rept perlu melihat rekaman dan engeluarkan kartu besimu?”
Suara itu muncul setelah Donghae baru saja selesai dengan tugasnya. Ia bahkan belum sempat bernapas lega, tapi anak lelaki yang nampak tak asing itu sudah mengusik rasa tenangnya lagi.
Donghae pun mendekati lelaki itu –lelaki yang ia temui setahun lalu di istana arang saat perayaan ulang tahun kaisar. Donghae tidak yakin dengan nama anak lelaki yang ia perkirakan seumuran dengan anak lelaki yang menjadi anak didiknya saat ini, tapi ia tahu perseteruan kecil apa yang membuat suasana mereka menjadi tak mengenakkan seperti sekarang.
“Kau tidak menyimpan rahasia, bukan? Kau tahu, klan kalian amat suka menyimpan rahasia dan membuat kejutan. Aku tidak inngin ada ketidaknyamanan yang dibuat olehmu…” lelaki itu memutar bola matanya ke arah tangan Donghae dan kembali menatap pria itu, “…maupun tim-mu.”
Donghae mendengus dan tertawa nyinyir, “Kau berlebihan. Ini sudah bagian dari tugasku sebagai coach untuk melakukan apapun demi tim-ku. Jadi, kupikir kau harusnya mengkhawatirkan dirimu,” Donghae mengerutkan dahinya dan menyentuh pundak pemuda itu –ah, namanya Sehun. Donghae segera menariks udut bibirnya setelah nama itu muncul dalam kepalanya, “Kau tidak berada di tempat dimana kau bisa mendapatkan mahkota, Sehun. Kau bisa saja kehilangan kesempatan.”
Sehun berdecih dan menyingkirkan tangan Donghae, “Kau menggertakku? Kau kira aku tidak tahu mengenai satu-satunya gadis dalam misi ke bumi kali ini?”
Donghae tertawa pelan, “Ah…jadi kau yang menyebabkan kedua anak didikku bertengkar? Tapi…menurutku, kau sudah melakukan sesuatu yang benar Sehun. Satu-satunya gadis dalam misi ini adalah satu-satunya kunci nasibmu mengenai tahta yang mulai merenggang dari jalanmu.” Dan Donghae segera meninggalkan Sehun yang nampak emosi setelah emndengar ucapan Donghae. Tapi ia harus bersikap tidak peduli –atau Sehun bisa saja menggertaknya dengan kehkhawatiran yang mungkin terbaca olehnya.
Ariel, Luhan, dan misi mereka. Misi tim-nya adalah kekhawatiran terbesarnya.

***

Luhan mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum ia bisa merasakan udara memenuhi paru-parunya, juga potongan ingatan tentang pertarungannya dengan Ariel…yang membuatnya jatuh terhempas sebelum akhirnya ia merasakan sakit di sekujur tubuhnya dan tidak sadarkan diri. Luhan pun mendengus panjang. Lucu sekali. Jika apa yang ia lihat tadi adalah kenyataan, artinya ia baru saja bertemu dan bertarung dengan seorang pengendali darah.
Yeah, pengendali darah.
“Kau sudah bangun?” suara Donghae berhasil menginterupsi lamunan Luhan yang sudah berkelana jauh. Ia pun bangun dan mencabut paksa selang infuse pada tangan kirinya, lalu entah mengapa ia merasa ingin marah pada Donghae.
“Kau sudah tahu?”
Donghae sempatterdiam selama beberapa saat. Namun kemudian ia pun kembali menarik sudut bibirnya, seolah sama sekali tak tergaggu dengan nada marah yang terlontar dari Luhan, “Menurutmu?”
“Kau bercanda? Bagaimana mungkin aku…”
“Kita bicara di luar. Kau tahu, siapapun bisa mendnegar pembicaraan kita disini.”

***

Luhan sama sekali tidak terima ketika tahu siapa sebenarnya Ariel. Gadis itu amat terlihat dungu, tapi ternyata gadis itu bisa aja membuat masalah untuknya di masa depan. Gadis itu teah melanggar etiket yang sudah didewakan selama berabad-abad. Setidaknya, gadis itu bisa menyembunyikan kekuatannya, tapi ia justru menggunakannya saat latihan. Luhan tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika Ariel benar-benar tengah bertarung, mungkin ia akan membuat tsunami besar dan mengendalikan seluruh cairan pada tumbuhan dan membuat Poseidon mati.
“Bisakah kau menjelaskannya padaku? Aku yakin kau pasti tahu mengenai…”
“Aku sudah mengetahuinya bahkan sebelum kalian masuk ke PE Academy. Dan sekarang kau juga mengetahuinya. Jadi, bisakah kau tetap bersikap seperti biasa?” Donghae menghentikan langkahnya sekaligus. Dan Donghae yang memiliki imae malaikat tiba-tiba saja mengeluarkana aura dingin yang berhasil membuat Luhan mengambil langkah mundur.
“Jika kau berpikir Ariel adalah masalah untukmu, tidakkah kau juga berpikir bahwa dirimu adalah masalah untuknya?” Donghae terus melangkah maju menekat ke arah Luhan. Saat itu, koridor benar-enar sepi, hanya ada mreka berdua dan sama sekali tak ada suara, selain suara angin yang dibelah oleh suara dingin Donghae, “Seorang putra dari dua planet yang berbeda. Ayahmu mendapat perintah berhenti dari pekerjaannya karena memiliki hubungan dengan manusia bumi. Kau kira Ariel tidak akan mendapat masalah karena ini? Dia mendapat pasangan yang seharusnya berada di laboratorium pengujian, di ruang auditorium karantina, atau seharusnya kau berada di bumi.” Donghae pun menagembuskan napas panjang, “Tapi kau ada di sini,” Donghae menghentikan langkah kakinya saat tubuh Luhan sudah terkunci di salah satu dinding. Donghae dapat melihat wajah pemuda itu berubah menjadi amat pucat. Dan ia amat menyadari bahwa saat ini sebenarnya bukanlah waktu yang tepat untuk membuka semua rahasia mereka berdua –Ariel dan Luhan.
“Jika kau dan Ariel sama-sama tidak melindungi satu sama lain, kalian berdua, termasuk diriku, akan masuk ke dalam masalah besar. Kau pikir kau benar-benar murni bagian dari PE Academy? Tidak. Kau bagian dari misiku. Misi kelompok klanku, lanjutan dari misi ayahmu yang terhenti, misi dari Kaisar yang dikudeta seabad lalu,” Donghae kembali menarik sudut bibirnya tipis, “Dan misi ini untuk menyelamatkan kalian berdua, juga keturunan kalian kelak. Jadi…berhentilah bersikap naïf dan bebaikanlah dengan Ariel.”
“Dan…selama kau bekerja pada PE Academy, tidak ada satupun interuksi yang bisa kau jalankan kecuali interuksiku. Dan tak ada yang bisa kau percayai dalam misi ini selain aku dan Ariel. Dan sau-satunya di tempat ini, seseorang yang bisa kau percayai selain misi, hanya Ariel. Kau dan Ariel. Kalian hanya bisa memercayai satu sama lain tanpa memasukkan nama siapapun, kecuali jika kau ingin mendapatkan masalah.”

***

Ini gila. Luhan tidak bisa menemukan kalimat lain selain ia merasa gila. Donghae sama sekali tidak memberikan teriakan yang dapat memekakkan telinga Luhan, tapi kata demi kata yang keluar dari mulut Donghae benar-benar berhasil memporak-porandakan suasana hati Luhan. Dand engan sisa kekuatan yang ia miliki, ia menyeret kakinya cepat menuju kamar asramanya.
Dan tepat setelah sampai di sana, Luhan mendapati Ariel yang tengah duduk melipat kedua lututnya dan menangis sesenggukan.
“Kau sudah kembali?” Ariel segera menghapus air matanya saat Luhan tiba-tiba masuk dan membanting pintu dengan keras.
“Kau baik-baik saja?” Ariel kembali angkat suara saat Luhan sama sekali tidak menjawabnya dan hanya memandangi Ariel denganw ajah pucat. Ariel langsung merasa tidak nyaman dan mengira Luhan tidak menyukai Ariel sekarang karena kejadian tadi. Perlahan, ia pun bangun dan hendak mencoba menjelaskan sebisanya mengenai kecelakaan tadi.
Tapi, Luhan tiba-tiba langsung mendekat dan menarik segala perlengkapan atribut PE Academy –yang sayangnya tidak bisa dibuka. Ariel tahu seluruh atribut yang dikenakannya memiliki password dan tidak akan bisa dibukan kecuali ia menyebutkan passwordnya melalui sensor suara. Tapi tak ada satupun yang ia tahu mengenai password itu, termasuk Luhan yang juga tidak akan tahu dan Ariel amat yakin ia juga tidak diberitahu mengenai password tersebut. Namun Luhan terus saja menarik paksa dan mencoba membuka enda-benda itu.
“Lu-Luhan…. Aku tahu kau sangat marah padaku, aku mengerti jika kau ingin mengganti partner-mu. Tapi seluruh benda ini…”
“Kita harus pergi darisini,” Ariel sama sekali tidak tahu apa yang telah terjadi pada Luhan saat ini. Ia bahkan sempat khawatir bahwa Luhan mengalami cedera karena ulahnya tadi. Tapi Luhan terus saja meracau dengan wajah pucat dan bibir sedikit bergetar, “Kau harus melepas semua ini! Kita tidak seharusnya berada disini! Tempat ini sama sekali tidak aman dan kita tidak bisa memercayai siapapun.”
“Lu-Luhan…”
“Kau keturunan dari Kaisar Liu yang dikudeta seratus tahun lalu, kan? Itu sebabnya kenapa kau bisa memiliki dua kekuatan dan mampu melakukan pengendalian darah. Semua keturunan kaisar Liu bahkan leluhurnya adalah yang terbaik dengan pengendalian dasar Poseidon,” ucapan Luhan berhasil membuat tubuh Ariel membeku. Tak ada satupun di Poseidon mengetahui tentang ini selain keluarganya dan satu-satunya sahabatnya, Bobby, “Kau kira kau akan baik-baik saja berada di tempat ini dengan status berbahayamu?” dan Luhan masih saja erus menarik benda-benda di tangan Ariel yang berakhir sia-sia.
“Lu-Luhan…”
“Donghae bahkan secara gambalng mengatakan bahwa Ayahku dibehentikan dari misi ke bumi dan ibuku adalah seorang manusia bumi. Ini gila bukan? Kita hanya kelinci percobaan disini. Kita tidak aman disini. Kita tidak bisa memercayai siapapun…”
Ariel terpekur. Ia tidak tahu jika di Poseidon aka nada benar-benar seseorang yang memiliki darah seorang manusia bumi dan darah seorang bangsa Poseidon. Ini lebih mengejutkan dan bisa saja membuat siapapun terguncang. Tapi Luhan jauh terlihat lebih terguncang daripada dirinya yang bisa saja dituduh sebagai penjahatat ataupun seseorang yang ingin mengkudeta kaisar karena statusnya sebagai keturunan Kaisar yang dimakzulkan. Tak ada satupun dari keluarga ibunya –keturunan Kaisar Liu—yang menduduki jajaran pemerintahan karena masalah pengkudetaan seratus tahun lalu. Tapi mendengar apa yang membuat Luhan menjadi terguncang sedemikian hebat, Ariel bisa mengerti bagaimana ketakutan Luhan. Dia pasti akan jauh lebih terguncang dan posisinya sama sekali tidak aman, termasuk ibunya di bumi –jika benar, dan juga ayahnya sendiri yang terlalu nekat membiarkan Luhan malah duduk di PE Academy.
“Lu-Luhan…”
“Aku tidak bisa berada disini, Ariel. Aku tidak bisa berada di PE Academy, bahkan aku bisa saja dihakimi Kaisar…”
Ariel pun menarik tangannya dan balik memegang tangan Luhan yang bergetar hebat, “Semuanya akan baik-baik saja. Kau tidak aka nada dalam bahaya…”
“Ariel! Kau tidak mengerti situasinya? Aku…”
“Kita tidak akan baik-baik saja jika kita bersikap gegabah sam sepertimu. Aku bahkan menanggung status sebagai keturunan Kaisar Liu yang selamat seumur hidupku pun ikut menanggung rasa kekhawatiran tiap harinya. Lihat aku…” Ariel pun menarik dan menggenggam erat tangan Luhan, “Kita akan baik-baik saja. Semuanya akan baik-baik saja. Kita bisa percaya terhadap satu sama lain, termasuk Donghae…” Ariel pun berusaha melemparkan seulas senyum pada Luhan. Sesuatu yang hampir tidak pernah ia lakukan, meyakinkan orang lain yang terjebak pada situasi buruk, “Kau percaya padaku, kan?” dan etntah dorongan darimana, Ariel menarik tubuh Luhan mendekat dan memeluknya.
Ariel memang tipikal melankolis dalam menghadapi suatu masalah. Tapi masalah yang dikemukakan Luhan sama sekali bukan masalah yang amat besar bagi Ariel. Ia sudah menghadapi masalah ini dan sudah melewati banyak kehkhawatiran selama ini. Dan apa yang ia lakukan saat ini, adalah apa yang dilakukan Bobby ketika mendengar masalahnya pertamakali. Ia juga pernah memeluk Bobby ketika tahu ternyata pemuda itu juga adalah keturunan kelompok Ieiri, kelompok yang pernah memberontak pada kaisar sebelumnya dan mengklaim diri mereka sebagai pendukung dari Kaisar Liu –kaisar yang dikudeta seabad lalu.
Poseidon memiliki sejarah panjang untuk klan Liu, klan yang sama sekali tidak terputus hubungan darahnya, dimana tiap raja-ratu yang menduduki kursi takhta haruslah dari klan Liu. Sebelumnya, berdasarkan catatan sejarah, tidak pernah ada yang memberontak ataupun menolak keberadaan dan aturan bulat yang terbentuk sendirinya itu. Keturunan klan Liu sama sekali tidak pernah gagal dalam membenahi masalah planet ini, masalah Negara ini. Mereka juga menguasai seluruh keseimbangan dari elemen Poseidon. Itulah sebabnya Klan Liu menjadi klan terpanjang sebagai pemegang tahta sepanjang sejarah Poseidon, dan berakhir pada sebuah pengkudetaan karena sebuah ketidakpuasan dan dianggap sebaai ketidakadilan.
Ariel tidak pernah benar-benar tertarik untuk mengetahui lebih lanjut mengenai pengkudetaan dan semacamnya. yang membuatnya penasaran, justru teka-teki mengenai kesamaan Poseidon dengan Bumi dan ambisi besar dari tiap raja ke raja untuk terus memperluas imperiumnya ke tiap planet pada tiap susunan tata surya di galaksi berbeda. Ini memang lebih terdengar seperti dongeng,tapi dongeng takkan menjadi dongeng jika tak memiliki akar masalah pada mulanya.
“A-aku takut…”
Ariel pun menepuk punggung Luhan, “Tidak apa-apa. Kau tidak sendirian…”
Oh yeah. Hidup bisa selucu ini. Baru beberapa jam lalu mereka bertengkar, lalu berbaikan, lalu berkelahi, dan sekarang mereka berpelukan dengan dramatis seperti ini.

***

20170604 PM1032

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s