(Don’t) Call Me Daddy ! [Chapter 2]

Title : (don’t) Call Me Daddy !
Main Cast: Lu Han, Ariel Lau (OC)
Other Cast : Find by yourself
Rating : PG
Length : Multi chapter
Auhtor : Nidhyun (@nidariahs)
Disclaimer : the story is pure mine. Also published
xiaohyun.wordpress.com
Cover by : Lee Shin Hyo @Cafe Poster Art

***

Luhan sebenarnya tidak berencana menjadi ayah yang baik untuk anak-anaknya hari ini, tapi ia sama sekali tak enak hati melihat Ariel begitu kerepotan menggendong dua anaknya di dalam bis nanti. Maka dari itu, ia memutuskan untuk mengantar Ariel dan kedua anak-anak itu pulang. Ia tidak tahu sesulit apa kehidupan Ariel setelah ia mengandung dan melahirkan, tapi dasar hati Luhan terusik ketika melihat pemandangan interaksi antara ibu dan anak –anak-anak Luhan juga. Sebelumnya ia tidak pernah memerhatikan apalagi peduli pada anak kecil seperti Kevin dan Aleyna, tapi hari ini matanya seperti magnet yang ditarik terus menuju mereka berdua.
“Padahal kau tidak perlu repot-repot, aku bisa sendiri,”
Luhan tahu Ariel tidak bermaksud untuk menyindirnya. Nada bicaranya selalu terdengar tulus dan tenang –dan justru ketulusan dan ketenangan dalam nada bicara Ariel lah yang selalu membuatnya merasa terusik tanpa sebab.
“Untuk apa kau mempertemukanku dengan mereka jika kau tak mengizinkanku melakukan sesuatu untuk mereka dan kau…” Luhan menggaruk tengkuknya sebentar sebelum menyalakan mesin mobilnya, ia tiba-tiba saja gugup ketika mata Ariel terus terarah padanya, “Kau kan ibu mereka.” Imbuh Luhan kemudian.
Ariel tidak menjawab dan tenggelam dalam pikirannya sendiri. Ariel memutuskan untuk duduk di jok belakang dengan si kembar. Kebetulan Luhan memang tidak memasang jok bayi dan tentu saja kedua batita itu takkan bisa diam jika dibiarkan duduk di belakang.
“Omong-omong…” setelah lima belas menit mobilnya hanya diisi suara mesin mobil, Luhan pun memberanikan diri untuk angkat suara. Aneh sekali sih mengobrol dengan Ariel di situasinya sekarang, padahal dulu Luhan berakting sebagai penggoda ulung dan Ariel membalasnya dengan kekehan hangatnya.
Ah, benar. Cara Ariel tersenyum dan tertawalah yang membuat Luhan penasaran dengan gadis itu ketika mereka bertemu pertama kali.
“Setelah hari itu…” dengan kikuk Luhan mengintip Ariel dari kaca spion depannya, “Setelah kau tahu kau mengandung mereka, kenapa kau tidak mencoba berusaha mencariku? Kau tahu namaku, kau juga menyimpan fotoku. Kau bisa mencarinya dengan sedikit usaha, di abad ke-21 ini kau bisa melakukan apapun dengan teknologi yang ada,”
Ariel menatap mata Luhan lama melalui kaca spion. Tapi kemudian ia pun mengalihkan pandangannya ke arah Kevin yang tertidur di gendongannya, kemudian beralih menatap Aleyna yang membaringkan kepalanya dip aha Ariel. Ia sudah tak ingin mengingat masa-masa itu –tapi naluri Ariel berkata, kali ini ayah biologis kedua anaknya lah yang bertanya. Tidak apa-apa kan ia membuka sedikit luka yang tidak pernah sembuh itu dalam hatinya?
“Karena saat itu aku tidak berpikir untuk membesarkan mereka,” Ariel tersenyum kecut. Rasanya ia ingin menangisi dirinya di masa lalu, “Seperti yang kau tahu, orang tuaku tidak pernah menikah meskipun aku lahir. Aku tinggal dengan ayahku dan keluarga tiriku, begitupun dengan ibuku yang bahkan hampir tak pernah ingin kuingat wajahnya karena telah meninggalkanku,” Ariel menelan ludahnya, kemudian memberanikan mengangkat kepalanya untuk melihat wajah Luhan, “Dan aku pikir, membuat anak-anakku menderita seperti itu hanya akan menjadi dosa dan penderitaan,”
Luhan tersenyum pahit. Oh yeah –ia hampir melupakan bagian dari scene hidup Ariel yang juga pernah diceritakannya di pertemuan kedua mereka. Mereka mengobrol sampai larut untuk memperkenalkan diri masing-masing, membuka diri mereka seolah mereka akan kembali bertemu lagi dan lagi, sepertinya otak dan hati mereka tahu bahwa rangkaian takdir semacam ini akan terjadi : bertemu kembali.
“Tapi…kau membesarkan mereka…dengan sangat baik,” seloroh Luhan. Ia tidak yakin apa yang terjadi dengan otaknya, tapi ia sama sekali tidak suka melihat Ariel harus kembali terjatuh dalam air matanya.
“Karena aku mendengar detak jantung mereka. Aku sudah hampir membulatkan tekadku untuk tidak melahirkan anak-anak ini. tapi usia kandunganku ternyata sudah menginjak bulan keempat. Dan saat dokter memeriksa kandunganku dengan USG –aku benar-benar menangis ketika mendengar detak jantung mereka. Dan sejak saat itu aku bertekad untuk melahirkan dan membesarkan mereka, lalu melupakanmu begitu saja. Mendadak semuanya hanya tentang mereka.”
Luhan bisa melihat air mata Ariel lagi-lagi meleleh dan membelah pipinya. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Ariel saat itu –membayangkan perasaannya yang panik dan berniat tak mellahirkan anak-anak itu, membayangkannya tersentuh dengan hanya mendengar detak jantung anak-anak itu, lalu bertekad menjadi orang tua tunggal bagi mereka. Tapi Luhan akan merasa sangat ngeri membayangkan seandainya Kevin dan Aleyna benar-benar harus pergi dengan cara seperti itu….
“Kau…sudah membuat keputusan yang benar. Maaf aku tidak berada di saat-saat sulit seperti itu….”
“Tidak perlu minta maaf, aku memang tidak pernah terpikirkan untuk memintamu melakukan apapun untukku saat itu. Aku bisa melewatinya, bahkan tanpamu. Lagipula…saat itu kau juga belum tentu siap menerima fakta bahwa aku mengandung anak-anak ini.”
Luhan pun mengeraskan rahangnya. Ia merasa sedikit emosi ketika mendengar ucapan terakhir Ariel –apa ia sebrengsek itu di matanya? Toh mungkin saja Luhan akan langsung bertanggung jawab dengan cara apapun…. Yeah, mungkin. Mungkin juga tidak sama sekali. Mungkin ia malah akan meminta Ariel menggugurkannya.
Luhan mendengus panjang. Ia memang menyedihkan. Entah di masa lalu ataupun saat ini. ia sangat sadar ia akan mengambil sikap pengecut saat itu, karena ia hanya membayangkan segumpal darah yang akan membuat hidupnya sulit –tapi jika ia membayangkan Kevin dan Aleyna seperti sekarang akan dibunuh dengan cara seperti itu, jangankan Luhan yang berstatuskan sebagai ayah biologis mereka, orang lain di luaran sana pun akan mengutuk sikap tersebut.
“Rumah kami yang berwarna putih,” Ariel menunjuk sebuah rumah kecil ketika mobil Luhan mulai memasuki sebuah gang.
“Terima kasih,” ujar Ariel sebelum membuka pintu mobil.
Sekali lagi, Luhan sebenarnya sama sekali tidak bermaksud mengambil peran sebagai ayah yang baik. Tapi nalurinya kembali terusik ketika melihat Ariel agak kesulitan membawa kedua anak-anak itu bersamaan. Bagaimana bisa Ariel menggendong mereka seperti itu kemana-mana?
“Biar aku yang membawa Aleyna,” Luhan mengambil Aleyna dari gendongan Ariel tanpa menatap mata wanita itu.
Ariel tidak menolak ataupun mengiyakan. Ia hanya menatap punggung Luhan yang sudah menjauh darinya –mendekati pintu masuk rumahnya. Dan ia agak terkesiap ketika Luhan kembali memutar kepalanya ke arah Ariel, “Buka pintunya!” katanya dengan nada marah.
Ariel menaikkan sebelah alisnya. Luhan ternyata masih jadi pemuda labil. Hampir tidak berubah. Padahal waktu sudah berjalan tiga tahun, tapi Luhan tidak berubah banyak dari apa yang ia ingat dan ia nilai tentang Luhan.
Ariel pun menyeret kakinya mendekat ke arah Luhan, kemudian menekan sederet angka untuk membuuka kunci pintu rumah yang ia sewa untuk tiga bulan ke depan ini, “Masuklah…” kata Ariel sambil menatap Aleyna, menunjukkan bahwa ia membiarkan Luhan membawa langkah kakinya ke rumah ini karena ia menggendong Aleyna.
“Tidurkan Aleyna di sini,” Ariel menunjuk sofa panjang yang berada di ruang tengah yang juga menjadi ruang tengah rumah itu, “Aku harus mengganti pakaian dan popok mereka. Kulit mereka agak sensitif,” kata Ariel lagi setelah menidurkan Kevin di sofa tersebut.
Diam-diam, Luhan memerhatikan detail rumah yang menjadi tempat tinggal Ariel dan anak-anaknya. Ini sangat sempit dan…yeah, Luhan merasa sakit hati tanpa sebab membayangkan Ariel mengurus segala macam untuk anak-anaknya, sedangkan Luhan masih bisa keluar-masuk club mahal hanya untuk bersenang-senang.
“Ya Dean?…Mmm, aku sudah sampai…. Kau mau ke mari juga?” Ariel kembali datang dari salah satu ruangan yang ia yakini sebagai kamar. Ia tengah memegang ponsel di tangan kirinya –menelepon seseorang—dan perlengkapan bayi di tangan kanannya. Dan gerakan Ariel terhenti ketika ia mendapati Luhan masih berdiri di sana.
“Tunggu…” katanya pada seseorang di seberang telepon, “Kau masih di sini?” tanya Ariel pada Luhan. Ia agak bingung karena tingkah Luhan berubah aneh sejak mereka mengobrol di mobil tadi.
“Mereka…”
“Aku bisa mengatasinya. Pulanglah, ini sudah malam. Kudengar kau masih menjadi mahasiswa, pasti kau sibuk. Kau bisa bertemu mereka besok jika kau mau,”
Dan, Luhan akhirnya merasa dibangunkan dari sesuatu yang tidak pernah ia sadari sebelumnya….

***

Bayangan pertemuan antara Luhan dan kedua anak kembar yang diperkenalkan padanya masih saja berputar-putar di kepalanya. Seolah kejadian singkat itu benr-benar kejadian penting yang secara permanen membentuk role film khusus di dalam otaknya. Ia pun mendesah panjang dan menatap langit-langit kamarnya, lalu bola matanya berputar dan berpendar menyelami seisi kamarnya yang tidak berubah semenjak ia menempatinya.
Ada beberapa poster band favoritnya tertempel pada beberapa dinding birunya, kemudian seisi dindingnya juga dipenuhi oleh foto-fotonya bersama teman-temannya. Dan yang paling special, adalah foto dirinya bersama sang pacar yang ditaruh di dalam bingkai dengan harga yang cukup mahal, dan ditaruh di atas meja belajarnya. Dia atas nakasnya, ada tiga foto lainnya –masih foto dirinya dan sang pacar. Dan…pada nakas di sisi lain, ada foto dirinya bersama teman-temannya saat berlibur ke Amerika tiga tahun lalu. Selebihnya, ruangan ini diisi dengan puluhan buku yang tidak tersusun rapi, alat-alat musik, dan pakaiannya yang tersebar secara serampangan di beberapa sisi ruangan.
Hidupnya tetap seperti ini, tanpa perubahan yang berarti, satu-satunya yang berubah pada dirinya adalah status mahasiswanya yang terus meningkat hingga ke tingkat tertinggi dan juga usianya yang terus bertambah. Selebihnya, Luhan hanyalah mahasiswa biasa yang tengah mengejar nilai dan gelar wisuda. Pemuda yang masih suka bersennag-senang dan masih amat bergantung pada orang tuanya.
Menyedihkan sekali, ya? Luhan yang selama ini acuh tak acuh dalam menjalankan hidupnya, tiba-tiba saja ingin merenungkan dan mengevaluasi kehidupannya selama ini. Luhan juga tiba-tiba terpikirkan mengenai pekerjaan sampingan atau magang dis ebuah perusahaan, di manapun itu, karena selama ini ia juga amat meyakini bahwa dirinya hanya perlu lulus dan duduk di perusahaan sang kakek tanpa perlu mengkhawatirkan apapun.
Luhan pun mendesah panjang dan menarik selimutnya hingga menutupi seluruh tubuhnya. ia tahu kejadian tak menyenangkan yang menghantuinya sejak kemarin takkan tiba-tiba berubah begitu saja, tapi setidaknya ia berharap suasana hatinya akan berubah menjadi lebih baik ketika ia terbangun esok.

***

“Kau akan berangkat dalam beberapa hari?” seorang pria dengan kaus abu berlengan panjang sedikit memutari ruang tamu dan memerhatikan detail di ruangan itu, “Lalu bagaimana dengan kedua anakmu? Jeju juga cukup jauh dari Seoul. Kau belum tentu bisa pulang dan pergi dengan mudah,” pria itu pun membalik tubuhnya, menatap lama si pemilik rumah yang terlihat sibuk mengurusi kedua anaknya.
“Aku menemukannya,” sahutnya singkat tanpa menatap pria itu.
Dean –nama pria itu—pun akhirnya mengambil langkah dan menggendong Aleyna, batita imut yang sejak tadi merengek sesuatu pada ibunya, “Maksudmu…ayah kedua anakmu?”
Ariel Lau –si pemilik rumah—pun menghentikan aktivitasnya dan membiarkan Kevin yang tengah dipakaikan kemeja merangkak dan berlari menuju sofa. Ia pun terdiam dan mengembuskan napas perlahan, “Jill memaksaku. Aku juga tidak enak untuk menolak dan mengatakan dia salah satu pria yang tak ingin kutemui di dunia ini karena Donghae adalah sepupunya, terlebih mereka telah membantuku hingga sejauh ini.” Ariel pun kembali mendekat pada Kevin dan mengancingkan kemeja bocah kecil itu.
“Lalu? Setelahnya apa yang akan kau lakukan?” Dean yang masih penasaran pun meneruskan pertanyaan untuk menghabisi rasa keingintahuannya.
Ariel hanya mengedikkan bahu dan menarik seulas senyum tipis, “Tidak tahu. Aku sudah cukup senang dengan fakta bahwa Luhan tidak keberatan untuk merawat mereka sementara waktu. Dan…aku tidak memikirkan hal lain lagi.”
“Kau tidak ingin meminta pertanggungjawabannya? Atau setidaknya…Kevin dan Aleyna harus memakai marga ayahnya, bukan margamu. Bukankah status kependudukan kedua anakmu sedikit bermasalah karena…”
“Aku hanya tidak ingin mempersulitnya. Aku hanya ingin lolos audisi disini, pulang kembali ke Amerika dan secara serius menekuni bidangku ini. Aku harus menghidupi kedua anakku, jadi aku…”
“Setidaknya kau harus membuka hatimu pada pria lain. Belum tentu selamanya kau…”
“Aku tidak ingin membahasnya,” Ariel menyela cepat. Ia malas untuk meneruskan obrolan mengenai masa depannya dengan seorang pria. Ia pikir, itu sama saja dengan membuang-buang waktu.
Berkenalan dan memulai hubungan baru dengan pria lain dengan kondisi dimana Ariel telah memiliki anak sama sekali akan berbeda dengan kondisinya sebelum memiliki anak. Ia mungkin akan amat penasaran dan bergairah saat memulai hubungan baru dengan lelaki yang ia sukai, tapi semenjak memiliki anak, meskipun di usianya yang masih amat muda, Ariel takkan bisa menjadikan yang lainnya menjadi sesuatu yang penting, karena kedua anaknya lah yang terpenting.
Dean pun menyandarkan punggungnya pada sisi dinding sembari menatap Ariel lelah. Wanita yang amat keras kepala. Benar-benar amat keras kepala dan sulit untuk mengubah prinsip hidupnya. Wanita yang tidak fleksibel pada hal-hal yang tak sejalan dengan prinsipnya. Wanita yang terlalu tangguh dan ingin mengerjakan dan melakukan segalanya sendiri.
“Kau tahu…. Jika bajingan kecil itu sedikit pintar, dia tahu kedatanganmu yang hanya ingin memperkenalkan kedua darah dagingnya tanpa meminta apapun darinya hanya untuk mengolok-oloknya. Jika hati nuraninya bekerja, dia harusnya merasa kau menghinanya dengan secara tidak langsung.”
Ariel yang mendengar itu hanya mengedikkan bahu dan tersenyum tipis, tanpa ada makna apapun di balik senyumnya. Ia pun bangun dan berjalan menuju meja makan, kemudian merapikan dan menyiapkan semua hyhhhhhnya, “Bajingan kecil itu mungkin memang tidak merasa diolok-olok ataupun merasa terhina,” Ariel menjeda ucapannya dengan helaan napas panjang. “Tapi setidaknya dia merasa bahwa dirinya seorang ayah, aku pikir itu sudah lebih dari cukup…”
“Ariel…”
“Aku mengerti maksudmu. Aku mengerti…. Tapi, ini kesalahan kami berdua di masa lalu. Ini bukan hanya salahnya, tapi ini juga salahku. Jika aku menuntut dan menghakiminya seperti itu, bukankah itu juga tidak adil untuknya?”
Dean mendengus jengah. Ia tidak bisa dan tidak pernah bisa memahami isi kepala dari Ariel. Ia bahkan tidak bisa mengerti perasaan wanita itu, bahkansetelah kesulitan yang dialaminya sendirian.
“Apakah aku harus berterus terang padamu? Aku juga menyukaimu dan…”
“Oppa, please…”
Dan, satu-satunya yang Dean pahami hingga saat ini, hati gadis itu sama sekali belum berhasil ia rengkuh. Dan…Dean sudah hampir berpikir untuk menyerah saja. Yeah, hampir. Ia tidak pernah bisa benar-benar berhenti karena ini adalah Ariel. Wanita yang ia cintai.

***

Pakaian bayi. Kue. Mainan. Dan meskipun sudah ada empat rak yang ia lalui, Luhan sama sekali tidak memiliki ide yang bagus untuk membeli hadiah yang cocok. Yeah, ini aneh sekali. Ia sebenarnya benar-benar tidak ingin menganggap keberadaan dua anak kecil kemarin sebagai anaknya, ia juga tidak berharap ia harus memperkenalkan Kevin dan Aleyna pada orangtuanya sebagai…. Ah, mengerikan sekali. Ia bahkan tidak mampu membayangkan bagaimana reaksi orangtuanya nanti.
“Anda membutuhkan sesuatu?” seorang pelayan pun mendekati Luhan. Sepertinya, wanita berusia pertengahan dua puluhan itu telah memerhatikan Luhan yang agak linglung.
“Aku…aku ingin membeli sesuatu untuk…untuk keponakanku. Mereka kembar. Laki-laki dan perempuan…. Tapi…. Ah, maksudku…apakah kau bisa merekomendasikan sesuatu untukku?”
Wanita itu pun tersenyum dan membimbing Luhan berjalan ke arah rak mainan dengan berbagai macam bentuk dan jenis. Yeah, mungkin seharusnya Luhan memilih mainan saja. Ia tidak tahu ukuran pakaian maupun sepatu kedua anak itu, ia juga tidak tahu makanan apa yang boleh mereka makan dan tidak boleh dimakan.
“Kalau begitu…aku ingin boneka ini saja, anak perempuan akan menyukai boneka beruang, kan?” tangan Luhan terulur ke arah salah satu boneka beruang berwarna coklat dan mengambilnya, lalu tangan lainnya terulur mengambil sebuah boneka mobil berwarna merah. Seingatnya, boneka iu adalah salah satu tokoh dalam film Disney yang namanya tidak ia ingat.
Dan, ia harap, kedua anak itu akan menyukainya.

***

“Kau benar-benar marah padaku?” Ariel mengekori Dean dengan perasaan tidak enak. Pria itu terbang jauh-jauh dari USA ke Korea hanya karena Ariel datang ke mari. Dan ia semakin tidak nyaman karena Dean berusaha menunjukkan perasaannya secara gamblang pada Ariel.
“Tentu saja aku marah,” Dean sedikit mendecakkan lidahnya dan berbalik cepat, “Aku sangat penasaran, pada hatimu, dimana keberadaanku?”
“Oppa…”
“Jangan panggil aku Oppa. Kau tidak pernah memanggilku seperti itu sebelumnya,” Dean pun membuka pintu mobilnya dan kembali menatap singkat bangunan sempit dan terkesan kumuh itu, “Jika kau butuh sesuatu, kau tahu bagaimana cara menghubungiku.”
“Kau bahkan masih ingin membantuku setelah merajuk begitu,”
Dean pun hanya mengedikkan bahu dan tersenyum kecil. Tangannya dengan refleks terulur dan menyentuh kepala Ariel, “Jaga Kevin dan Aleyna. Bagaimanapun ini tempat asing untuk mereka.”
“Aku ibu mereka…”
Setelah itu, Dean benar-benar membawa mobilnya pergi dari depan rumah Ariel. Ia sebenarnya merasa kurang nyaman, bagaimanapun lelaki itu sama sekali bukan pria pengangguran yang memiliki banyak waktu kosong. Tapi dia benar-benar datang ke Seoul hanya untuk memastikan semuanya baik-baik saja. Entah di Korea ataupun di Amerika, Dean salah satu malaikat yang tak bisa membuat dirinya berpaling dari segala sayap kebaikan yang dibagikannya pada Ariel dan kedua anaknya.
Hanya saja, ia belum bisa membuka hatinya sebagai balas budi pada pria itu. Ia bisa membayarnya dengan bentuk bantuan fisik, tapi jiwanya tak pernah benar-benar membuka tangan lebar dan memberikan tempat pada pria itu. Tidak. Bahkan pria manapun, tak ada yang benar-benar memiliki tempat khusus pada sukmanya, pada hatinya.
“Pacarmu?” dan nada tak mengenakan itu menggantikan seluruh pikirannya mengenai Dean yang baru saja meninggalkan rumahnya.
Ariel pun menarik napas panjang. Luhan baru saja datang, mungkin. Ia masih membawa mobilnya dan masih menekuk wajahnya, sama seperti ketika ia meninggalkan rumahnya semalam.
“Kau datang lagi?” omong-omong, sebenarnya Ariel tidak mengucapkan ppertanyaan itu dengan lengkingan sinis ataupu tidak senang. Tapi entah kenapa Luhan malah mengerutkan dahinya dan menjawab sembari tersinggung.
“Kenapa? Tidak suka? Takut pacarmu salah paham dan…”
“Dia bukan pacarku,” Ariel memotong cepat. Ia malas berdebat lagi dengan seorang laki-laki pagi ini, terlebih lelaki yang kali ini datang bukan pria dewasa dengan pemikiran yang terbuka, “Kau mau bertemu dengan Kevin dan Aleyna?”
“T-tentu saja. Memangnya siapa lagi yang ingin kutemui,” Luhan sedikit memutar bola matanya. Tapi itu sama sekali tidak mengganggu Ariel dan ia pun langsung mempersilahkan Luhan masuk.
Sejujurnya, meskipun ia selalu mengatakan Luhan adalah pria yang paling tidak ingin ditemuinya, tapi ada sebuah aura yang selalu membangunkan perasaan Ariel dan bisa membuatnya tenang saat melihatnya lagi –walaupun ini baru pertemuan ketiga mereka. Ia selalu mendapat perasaan bahwa…ada satu orang lagi yang mungkin memiliki perasaan tulus untuk melindungi dan menyayangi Kevin dan Aleyna, selain dirinya.
Alasan sederhana yang sulit ia temukan pada pria manapun.

20170607 PM1117

Advertisements

2 responses to “(Don’t) Call Me Daddy ! [Chapter 2]

  1. dean pasti dari keluarga kaya raya ya? wah luhan kalah telak sama dean kemandiriannya 😀
    jadi gak sabar nunggu kelanjutannya,semangat author

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s