[TWO SHOTS] FATE Part 1

fate cover.jpg

Title: Fate

Author: Hyunvy (follow me @vyivyivy)

Main Cast: Kim Jonghyun (SHINee), Song Hyunwon

Other Cast: Other SHINee’s Member

Length:  Two Shots

Rating : PG-13

Genre: Romance

***

7 Maret 2017 (Present Day)

Yoboseo(hallo), oppa… Aku sedang ditengah presentasi, sebentar lagi giliranku untuk maju, doakan aku, maaf sekali malam ini aku yang membatalkan janji, kencan berikutnya biar aku yang traktir, oke?”Hyunwon menjawab telepon dari handphonenya yang sedari tadi tidak berhenti bergetar.Ia menuju ke pojok ruangan dan berbicara dengan berbisik dan sangat cepat, tidak membiarkan orang yang menelponnya untuk berbicara sepatah kata pun. Kekasihnya Kim Jonghyun sedari tadi tidak henti meneleponnya, karena mereka sudah berjanji untuk berkencan malam ini, ya, tepat pukul 18.00 hari ini, tepat hari jadi mereka yang ke-3 tahun.

“Dokter Song, silahkan anda memulai presentasi kasus anda.” suara tersebut membuat Hyunwon segera kembali menuju mejanya lalu mengambil beberapa carik kertas dan ia segera menuju podium untuk melakukan presentasi kasusnya. Ini kali pertamanya melakukan presentasi sebagai seorang dokter residen, yaitu seorang dokter yang sedang menempuh pendidikan spesialisnya, spesialis bedah khusus saluran pencernaan atau yang disebut juga dengan bedah digestif.

 

***

 

Song Hyunwon, seorang dokter residen bedah digestif tahun pertama, berumur 25 tahun dan ia mencetak rekor sebagai lulusan dokter termuda di usianya 24 tahun dan di tahun yang sama ia kembali mencetak rekor sebagai residen termuda spesialis bedah digestif di seluruh Korea Selatan. Bagaimana ia bisa mencapai prestasi yang bisa dikatakan cukup hebat? Jawabannya karena ia memang pintar, rajin dan juga memiliki banyak koneksi. Pribadinya menyenangkan sehingga tidak sulit untuk membuat orang lain menyukainya. Ayah dan ibunya, keduanya memiliki profesi yang sama dengan dirinya, hanya saja keduanya sudah pensiun dan memilih untuk menikmati masa tuanya dengan berlibur keliling dunia.

Boleh dikatakan ia memiliki hidup yang biasa-biasa saja, kecuali kehidupan percintaannya, tiga tahun sudah ia menjalin kasih dengan seorang lelaki yang bisa dikatakan tidak biasa. Seorang dokter? Bukan. Pengusaha kaya? Bukan juga. Seorang siswa? Tentu saja bukan. Ia mengencani seorang bintang, seorang penyanyi, penulis lagu, komposer, anggota sebuah boyband papan atas, Kim Jonghyun SHINee. Bagaimana hal itu bisa terjadi? Ya mungkin keduanya pun akan terheran-heran jika memikirkan kali pertama mereka bertemu dan akhirnya mereka merasakan jatuh cinta.

 

***

12 Desember 2013 ( 3 Years, 2 Months and 25 Days Ago)

Hyung, kau tidak apa-apa? Tampaknya kakimu terkilir.” ujar dengan nada setengah khawatir sambil memegangi bahu Jonghyun yang jalan terpincang-pincang ke belakang panggung, untung saja mereka sudah menyelesaikan rangkaian acara konser mereka di Osaka Jepang, kota terakhir tur mereka.

“Entahlah, pergelangan kaki kanan ku rasanya sakit sekali, seperti mau copot.”Jonghyun membalas dengan setengah merintih. Yang bisa ia lakukan sekarang adalah berjalan pincang dengan bantuan Taemin dan Onew, dan sesegera mungkin kembali ke hotel mereka dan beristirahat.

“Sepertinya kami harus segera kembali ke hotel, keadaan kaki Jonghyun tampaknya cukup parah, bolehkah kami meminta tim medis untuk memeriksa Jonghyun?” ujar Onew pada manajernya, dan dengan tanggap sang manajer menyiapkan mobil untuk mereka naiki menuju hotel tempat mereka tinggal.

 

***

 

13 Desember 2013 ( 3 Years, 2 Months and 24 Days Ago)

‘Ting tong ting tong’ bunyi bel dari depan pintu kamar kelima anggota SHINee tersebut.

“Biar aku yang buka pintunya.Itu pasti petugas medis untuk Jonghyun.” Key setengah berlari menuju pintu kamar mereka dan membukanya tergesa-gesa.

Nuguseyo (anda siapa)?” Key memiringkan kepalanya bingung, melihat sosok perempuan yang tidak dikenalinya. Perempuan itu kira-kira berumur 20an, bertubuh proporsional, berwajah oriental, menggunakan celana pendek jeans, kaos oblong berwarna ungu muda dengan gambar karakter Spongebob yang cukup besar di tengahnya dan sepatu kets warna ungu mencolok. Ia membawa tas jinjing hitam yang cukup besar, membuat Key sempat berpikir apakah dia adalah seorang teroris yang membawa bom. Namun dengan segera ia kembali sadar dari fantasinya yang cukup liar itu.

“Aku dengar Kim Jonghyun cedera, apakah itu betul?” ujar perempuan itu dengan berbisik dekat telinga Key. Key yang masih kaget dan bingung hanya mengangguk pelan lalu membiarkan perempuan itu masuk.

Annyeonghaseo, Song Hyunwon imnida (nama saya), aku tim medis yang ditugaskan untuk memeriksa Kim Jonghyun.” perempuan tadi melakukan perkenalan singkat sambil membungkukan badannya 90 derajat, disambut dengan tatapan bingung keempat anggota lainnya. Lalu keempatnya mengalihkan pandangan mereka pada Key yang berdiri terpaku di samping Hyunwon, seakan keempatnya bertanya ‘apa kau yakin ia tim medisnya?’ karena biasanya tim medis yang dipekerjakan di konser mereka, terutama di jepang adalah laki-laki dengan umur yang pastinya lebih tua dari mereka, menggunakan setelan kemeja dan celana panjang hitam, rompi hitam dengan tulisan tim medis, dan tas besar hitam, namun saat ini yang muncul adalah seprang perempuan muda yang bahkan tidak memakai kostum tim medis seperti biasanya, hanya tas hitamnya saja yang sama seperti tim medis yang biasa mereka temui. Dan satu lagi, perempuan ini berbahasa Korea, dan sepertinya ia berasal dari Korea.

“Ah, aku mengerti situasi ini, kalian pasti bingung kenapa aku yang datang. Tadi aku ditelpon oleh temanku yang sedang bertugas magang di tim medis kalian, katanya mereka sibuk karena harus menangani banyak penonton yang sakit, kebetulan aku sedang menginap juga di hotel ini, makanya aku langsung ke kamar ini. Maaf, hanya pakaian ini yang aku bawa.”Hyunwon sedikit menunduk setengah malu. Selama ini ia tidak pernah melayani pasien dengan pakaian seperti ini, setiap kali ia bertugas di rumah sakit ia pasti mengenakan pakaian yang pastinya lebih sopan dan pantas sebagai seorang ko-asisten, atau mahasiswa kedokteran yang sedang menjalani pendidikannya dengan praktik di rumah sakit.

“Tunggu dulu.Kami tidak bisa mempercayaimu semudah itu.Apa buktinya kalau kau benar-benar petugas medis?”Onew mulai menunjukan sikap protektifnya sebagai leader.

“Ini kartu identitasku.” Hyunwon mengeluarkan sebuah kartu tanda pengenal dari sakunya, berisi logo Rumah Sakit Seoul, foto, nama lengkap dan posisinya sebagai ko-asisten. Onew dan Key mengamati kartu itu dengan seksama, menyocokan foto yang tertera di kartu tersebut dengan wajah yang ada dihadapan mereka.

“Baiklah dokter Song, maaf kami meragukanmu.” ujar Onew sambil mengembalikan kartu tanda pengenal itu kepada Hyunwon.

“Jangan panggil aku dokter, Onew-ssi, aku belum mendapatkan gelar itu…hehehe” balas Hyunwon sambil berjalan menuju ranjang tempat Jonghyun berbaring.

“Apa?! Jadi kau bukan seorang dokter?!Tapi masih seorang mahasiswa kedokteran?!”Onew setengah berteriak dan membuat seisi ruangan menoleh ke arar sumber suara

“Aku tidak peduli kau sudah menjadi dokter atau belum, tolong aku, ini sakit sekali.” ujar Jonghyun lemah sambil setengah merintih. Peluh membasahi seluruh tubuhnya, ia sudah menahan sakit terlalu lama.

“Tolong ambilkan bantal-bantal itu.”Hyunwon menunjuk tumpukan bantal di sofa yang diduduki oleh Minho.Dengan segera Minho membawa bantal-bantal itu ke sisi kanan tempat tidur tempat Jonghyun berbaring. Hyunwon membuka tas hitam besarnya lalu mengeluarkan sebuah kantung plastik berwarna biru muda, yang ternyata itu adalah icebag. Ia kemudian mulai memeriksa pergelangan kaki kanan Jonghyun yang sekarang berwarna merah dan membengkak, ia mecoba menggerakan pergelangan kaki Jonghyun, dan memeriksanya dengan sangat hati-hati. Ia kemudian mengambil tumpukan bantal tersebut, sekitar 3 bantal, ia menyusunnya keatas dan menumpukan kedua kaki Jonghyun ke atas bantal tersebut lalu mengompres pergelangan kaki kanan Jonghyun menggunakan ice bag yang sudah ia keluarkan dari tasnya tadi. Ia kemudian kembali mencari-cari ke dalam tas hitam besarnya, dan ia mengeluarkan 2 strip obat yang berbeda.

“Obat ini ‘Dexamethasone’ untuk mengurangi tanda-tanda radangnya seperti bengkak dan kemerahannya itu diminum 2 kali 1 tablet, sedangkan ini ‘Celebrex’ untuk mengurangi nyerinya, diminum 3 kali 1 tablet. Ini minum dulu untuk saat ini.” Hyunwon memberikan 2 tablet obat, masing-masing 1 tablet setiap macamnya lalu mengambil segelas air putih yang berada di meja kecil di samping tempat tidur.

Kamsahamnida (terima kasih).” ujar Jonghyun sambil segera menelan obat tersebut dan meneguk habis segelas air putih yang diberikan Hyunwon tadi.

“Jika sudah satu jam, ice bag ini bisa kalian buang dan seharusnya bengkaknya sudah berkurang. Kapan jadwal kalian kembali ke Korea?” ujar Hyunwon sambil membereskan isi taanya yang agak berantakan.

“Besok, pukul 09.00 kami akan ke bandara.Pemerbangan kami pukul 11.00.” jawab Taemin dengan tanggap.Dan entahlah itu sebuah kebetulan, atau mungkin ada maksud Tuhan dibalik semua kejadian ini.

“Sepertinya penerbangan kita sama… Apakah ini takdir?hahahaha” Hyunwon pun melontarkan kalimatnya sambil tertawa agak keras, membuat kelima lelaki itu, bukannya ikut tertawa tetapi memberikan tatapan aneh padanya.

“Ah, josonghamnida (maaf), mungkin ini bukan waktunya untuk bercanda.” ujar Hyunwon menurunkan nada bicaranya, menyadari keadaan tidak berjalan sesuai dengan harapannya.Ia berharap bahwa mereka bisa menanggapi candaannya.

“Kalau begitu besok pukul 08.00 aku akan kemari untuk membalut pergelangan kakinya, karna mau tidak mau kau harus berjalan, bukan?Untuk saat ini tolong istirahatkan pergelangan kakimu, aku tidak mau ada hal yang lebih buruk terjadi.

 

***

 

Ya, apakah semuanya suatu kebetulan? Saat itu Hyunwon akan menganggap hal tersebut bukanlah hal yang luar biasa, ia memang kebetulan saja sedang berlibur ke Jepang, lalu menginap di hotel yang sama, lalu Jonghyun cedera, namun tim medis yang seharusnya menangani Jonghyun kewalahan sehingga meminta Hyunwon untuk menangani Jonghyun dan jadwal penerbangan pulang kembali ke Seoul yang sama. Tetapi mungkin saat ini mereka –Jonghyun dan Hyunwon- mulai menyadari bahwa semuanya bukan hanya suatu kebetulan, melainkan suatu takdir yang sudah diciptakan oleh penciptanya.

Ini bukan kisah mengenai seorang fans yang akhirnya mendapatkan cinta dari idolanya yang selama ini ia dambakan. Hanya sebuah kisah cinta biasa, dua insan yang dipertemukan oleh takdir dan mungkin juga akan dipisahkan oleh takdir.

 

***

 

21 Desember 2013 ( 3 Years, 2 Months and 16 Days Ago)

“Hyunwon-ssi, apakah kau ada waktu kosong?” akhirnya Jonghyun memutuskan untuk menelepon Hyunwon ketika dia sudah mulai frustasi dengan jadwalnya yang padat ditengah kakinya yang masih belum pulih benar dan ia benar-benar tidak memiliki waktu untuk pergi memeriksakan kakinya.

“Kapan?Ada apakah?”Hyunwon pun menjawab telpon dengan nada yang tidak bersemangat.

“Hari ini.Saat ini.Aku tidak bisa ke kontrol ke rumah sakit, dan aku tidak yakin ada klinik yang masih buka sekarang.”

“Tentu saja, ini pukul 02.00 pagi.” jawab Hyunwon dingin sambil melihat jam dinding yang terlihat buram di matanya, tentu saja, bisa dibilang saat ini ia masih setengah tertidur.

“Apa kabar kakimu?Obat-obatan yang kemarin?”

“Kakiku sudah cukup membaik, tetapi hari ini terasa lebih sakit dari kemarin, dan obat yang kau berikan sudah habis sejak 3 hari yang lalu.Kalau boleh aku ingin meminta obat-obat yang kemarin, sangat manjur.”

“Ah, baiklah, aku harus kemana?” entah apa yang merasuki Hyunwon, bisa-bisanya ia menyetujui permintaan Jonghyun.

Hyung manajerku akan menjemputmu, aku minta alamatmu.”

“Baiklah, aku kirimkan lewat SMS saja.Annyeong.” Hyunwon segera menutup pembicaraan, ia bangkit dari tempat tidurnya yang nyaman itu sambil masih memegang handphonenya ia pun mengirimkan alamat rumahnya kepada Jonghyun. Sesekali ia meregangkan tubuhnya yang masih terasa lelah, bagaimana tidak, setelah seharian belajar dan bekerja di Rumah Sakit, saat pulang ke rumah ia masih harus mengerjakan tugas individu dan menyiapkan presentasi kelompok.

“Tuhan, cobaan apakah ini?” gumam Hyunwon pelan sambil menguap dan segera ia ke kamar mandi, menyalakan kran air, mencuci wajahnya dengan air, mengeringkannya dengan handuk lalu kembali ke kamarnya. Ia berdiri di depan lemarinya yang terbuka, memandang isinya dengan tatapan kosong.

“Aku baru saja tidur selama satu jam…” ia bergumam lagi, kali ini nadanya terdengar agak menyedihkan. Akhirnya ia mengambil asal sebuah hoodie merah muda dan celana skinny jeans panjang dan segera mengganti pakaiannya.

“Ah, rambutku! Apa-apaan ini?!” ia bergumam agak keras kali ini, setelah setengah kaget melihat kekacauan yang ada di hadapannya sekarang, ia hanya terpaku memandangi cerminnya beberapa saat, lalu segera merapikan rambutnya yang sangat berantakan, ia menyisir rambutnya asal lalu mengikatnya seperti sebuah pony tail dengan rambut lurus panjang kecoklatannya itu.

Ia bergegas mengambil tas hitam berisi alat-alat medis dan obat-obatan dasar, menjinjingnya dengan tangan kiri, sembari matanya sibuk mencari apakah ada barang yang tertinggal atau tidak, setelah memastikan tidak ada yang tertinggal ia segera keluar dari kamarnya menuju pintu utama rumahnya yang berukuran cukup besar itu. Ia melirik sebentar, dilihatnya sebuah mobil van hitam bertengger di depan gerbang rumahnya. Ia memijit sebuah tombol di dinding dalam dekat pintu rumahnya itu, lalu gerbang pun terbuka, dengan setengah berlari ia menghampiri mobil itu, memastikan bahwa itu adalah mobil yang benar dan segera menaikinya.

Omo (astaga)?! Ini gedung SM Entertainment? Aku kira kita akan ke rumahnya.” Hyunwon setengah kaget karena ia tidak mengira akan mendatangi tempat itu.

“Mereka sudah 2 hari ini tidak pulang, sibuk mempersiapkan untuk konser mereka, world tour.” ujar manajer SHINee itu menjelaskan.

 

***

 

“Ini dua macam obat yang kemarin dan aku tambahkan satu obat gel oleskan dua kali sehari.Aku sarankan kau banyak istirahat, jika tidak kakimu tidak akan pulih sempurna saat konser keliling dunia mu itu, aku yakin itu akan menjadi mimpi buruk bagimu.”Hyunwon mengakhiri kalimatnya dengan setengah berbisik, dengan nada yang lebih tegas dan agak menakutkan.

“Ah, ya, baiklah.Kau jangan menakut-nakutiku seperti itu.” Jonghyun mengangguk-anggukkan kepalanya dengan pikirannya membayangkan bahwa mimpi buruk itu akan terjadi, lalu ia menggelengkan kepalanya dan bergumam pelan pada dirinya sendiri, meyakinkan dirinya bahwa ia baik-baik saja.

“Hahaha, jangan terlalu serius.Aku doakan kau cepat sembuh.Omo (astaga)?!Sudah pukul 5 pagi?! Aku harus segera bersiap ke Rumah Sakit.” ujar Hyunwon setelah ia tidak sengaja melihat jam dinding yang tergantung di dinding ruangan yang sepertinya adalah ruang latihan bernyanyi. Ia segera membereskan barang-barang bawaannya dan bergegas pergi.

“Hyunwon-ah!” suara lembut Jonghyun membuat Hyunwon berpaling dari kesibukannya sedari tadi.Jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya.Sebenarnya jantung keduanya berdegup lebih kencang dari biasanya.

“Ah, nde (ya)?” jawab Hyunwon pelan setelah beberapa saat keduanya terdiam.

Jeongmal gomawoyo (terima kasih banyak).Maaf aku hanya merepotkanmu.”Jonghyun menundukkan kepalanya, tidak ingin matanya bertemu dengan mata Hyunwon. Entah ada apa yang terjadi pada dirinya, tidak biasanya ia seperti ini.

“Hahaha, tidak apa-apa.Sudah tugasku sebagai seorang dokter.” tawa renyah Hyunwon memecah keheningan keduanya. Tetapi setelah ia menyelesaikan kalimatnya, keadaan kembali menjadi hening.

“Kalau begitu aku pulang dulu. Manajermu masih bisa mengantarku pulang kan?” akhirnya Hyunwon berpamitan dan ia segera bangkit dari duduknya dan menjinjing tasnya yang kelihatannya cukup berat.

“Tentu saja.Hati-hati di jalan, maaf aku tidak bisa mengantarmu.” balas Jonghyun cepat disusul dengan anggukkan Hyunwon yang akhirnya sudah menggapai gagang pintu.

“Hyunwon-ah!” lagi-lagi suara lembut Jonghyun membuat Hyunwon menghentikan langkahnya dan segera berbalik ke arah sumber suara. Hyunwon sedikit memiringkan kepalanya, bahasa tubuh yang menunjukan bahwa ia sedang bingung, ada apa lagi Jonghyun memanggilnya karna sepertinya urusan keduanya sudah selesai.

“Maukah kau minum kopi denganku? Aku ingin membalas budi untuk semua yang telah kau lakukan untukku.” ujar Jonghyun dengan hati-hati, jujur ia takut ditolak. Niatnya memang tulus untuk membalas budi, tetapi siapa yang tahu jika kedepannya mereka bisa berlanjut menjalin hubungan yang lebih dalam.

Hyunwon hanya menganggukkan kepalanya, tanda ia setuju. Tidak bisa dipungkiri bahwa hatinya sedang berbunga-bunga, ada perasaan yang melonjak-lonjak di dalam hatinya, ia sangat bahagia.

 

***

28 Desember 2013 ( 3 Years, 2 Months and 9 Days Ago)

Malam itu salju tidak berhenti turun dengan lebatnya, tetapi hal itu tidak mengurungkan niat Jonghyun dan Hyunwon untuk bertemu. Setelah Hyunwon menyetujui ajakan Jonghyun untuk meminum kopi bersama, keduanya pun berjanji untuk bertemu hari ini di sebuah kedai kopi yang tidak begitu besar di dekat Rumah Sakit tempat Hyunwon bekerja.

Hyunwon tiba setengah jam sebelum waktu janji mereka, ia cepat-cepat masuk ke dalam kedai itu setelah selama sepuluh menit ia berjalan menerjang dinginnya salju. Seketika ia merasakan kehangatan menyelimuti tubuhnya yang sudah dilapisi jaket dan syal tebal, pilihan yang tepat memang berada di tempat yang hangat di cuaca seperti sekarang.

Ia melihat sekeliling, meja dan kursi di kedai itu memang tidak terlalu banyak, dan juga tidak terlalu banyak orang disana. Hal itu membuatnya setengah bersyukur karena orang yang akan  ia temui bukanlah orang biasa, melainkan seorang selebritis. Dengan cepat ia menentukan tempat duduknya. Sebuah meja bulat dengan sepasang kursi kayu yang berada di pojok ruangan dekat jendela.Ia segera duduk dan mulai melepas syalnya yang tak lagi ia butuhkan. Seorang pelayan datang menghampirinya namun dengan cepat ia memberi tanda bahwa ia masih menunggu seseorang dan tidak akan memesan dulu.

Hyunwon memandang keluar jendela. Pikirannya melayang kemana-mana, memikirkan hal-hal yang bahkan tidak pernah terbersit dipikirannya sama sekali. Ia kembali teringat kejadian seminggu lalu, saat Jongyun memintanya datang dan saat itu pula awal dari pertemuan mereka hari ini. Ia menjadi teringat perasaan tidak biasa yang ia rasakan, saat jantungnya berdegup lebih kencang.

‘Perasaan apakah ini?’‘Apakah aku mengambil keputusan yang tepat dengan setuju akan pertemuan ini?’‘Apa yang aku pikirkan? Mengapa semuanya menjadi tentang Kim Jonghyun?’ ia terus berkelut dengan pikirannya sendiri sampai suara decitan gesekan kursi dengan lantai membangunkannya dari pikiran-pikirannya itu. Sedetik kemudian sosok yang sedari tadi hanya ada di pikirannya sekarang ada dihadapannya, duduk manis sambil membuka syalnya dan menyimpannya ke dalam tasnya.

“Kau sudah datang?” ucap Hyunwon canggung tetapi membuat Jonghyun tersenyum lebar.

“Tentu saja aku sudah datang.” jawab Jonghyun ringan sambil masih tersenyum lebar.Hyunwon salah tingkah melihat senyuman itu.Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Tangannya berkeringat dan jantungnya berdegup lebih kencang.Jonghyun menyadari tingkah aneh Hyunwon, dan entah mengapa hal itu membuatnya senang dan membuatnya ingin tersenyum lebih lebar lagi.

“Ah, bagaimana kakimu?Sudah membaik?” akhirnya Hyunwon bisa mengendalikan dirinya dan melontarkan pertanyaan itu.

“Sudah cukup membaik.Aku sudah tidak pernah merasakan sakit lagi.”

“Tapi kau harus tetap berhati-hati.Jangan sampai kejadian itu berulang lagi.”

“Baiklah dokter Song…” ujar Jonghyun dengan nada yang agak meninggi di akhir kalimatnya. Lagi-lagi hal itu membuat Hyunwon merasakan perasaan aneh, ia tidak sanggup memandang mata Jonghyun. Lalu keduanya dilanda keheningan. Keduanya bingung harus membawa topik apa. Beruntung seorang pelayan menghampiri mereka dan memecah keheningan yang ada.

“Apa kalian sudah siap untuk memesan?” tanya sang pelayan tadi.

“Aku pesan Hot Chocolate saja.” ujar Hyunwon cepat.“Semua minuman yang berbau coklat disini sangat enak.” ujar Hyunwon setengah berbisik kepada Jonghyun.

“Baiklah kalau begitu aku pesan Hot Chocolate juga.” akhirnya Jonghyun menerima saran Hyunwon untuk memesan minuman yang berbau coklat.

“Kalau begitu dua Hot Chocolate, ada tambahan lain?” pelayan tadi mengulang pesanan mereka dan pertanyaannya dijawab dengan gelengan kepala keduanya yang berarti tidak ada pesanan tambahan dari mereka berdua.

Setelah pelayan itu pergi, keduanya kembali dilanda keheningan.Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut mereka.Yang mereka lakukan hanyalah memandang sekeliling, sesekali memandang jalanan yang bersalju melalui jendela besar yang berada tepat di samping mereka.Selang waktu yang tidak begitu lama pesanan keduanya datang.Dua cangkir coklat panas dengan wangi coklat yang semerbak.Keduanya memejamkan mata mereka, menikmati aroma tersebut.

“Hhmmhh, ini enak sekali…” ujar Jonghyun setelah menyeruput sedikit cairan coklat itu dari cangkirnya. “Sangat menyegarkan.” tambahnya lagi. Kedua tangannya tidak lepas dari cangkir itu, matanya masih memandang kagum akan minuman yang ada dihadapannya itu. Tanpa ia sadari, sedari tadi Hyunwon memperhatikan gerak-geriknya yang menunjukkan bahwa ia sedang jatuh cinta dengan minuman itu. Terlukis senyuman di wajah Hyunwon.Entah mengapa melihat tingkah Jonghyun itu membuatnya senang.

Malam mereka ditemani dengan manisnya secangkir coklat panas, pemandangan jalan dengan salju yang turun dan lantunan instrumen lagu jazz. Semua keadaan seakan mendukung keduanya untuk membuka diri mereka masing-masing.Mulai dari obrolan-obrolan random yang sangat ringan, sampai ke beberapa topik yang cukup pribadi.

“Jadi saat ini kau masih menjadi seorang ko-asisten? Lalu kapan kau menjadi seorang dokter?”tanya Jonghyun mengenai pendidikan dan profesi Hyunwon.

“Mungkin sekitar 1 tahun lagi, segera setelah aku menyelesaikan seluruh pendidikan ku di Rumah Sakit sebagai ko-asisten ini aku akan resmi menjadi seorang dokter umum.”Hyunwon berusaha menjelaskan.

“Lalu apa rencanamu kedepan? Apa kau akan mengambil spesialisasi?”

“Tentu saja, aku ingin menjadi seorang dokter bedah, khususnya bedah digestif.Hmmhh, ruang lingkup digestif itu sekitar saluran pencernaan.Entah mengapa aku sangat tertarik dengan bidang ini.Doakan saja aku bisa segera mengambil pendidikan spesialis bedah digestif setelah aku mendapatkan gelar dokter.”

“Baiklah, aku kan mendoakan yang terbaik bagimu.”

“Lalu apa yang akan kau lakukan kedepannya?Apa kau pernah berfikir untuk bermain musical atau berkarir solo mungkin?” kali ini giliran Hyunwon yang menggali mengenai rencana pekerjaan lawan bicaranya itu.

“Aku tidak tertarik untuk menekuni bidang lain selain bernyanyi. Mungkin aku kan terus berkarya dengan musik dan laguku, dan suatu saat nanti aku ingin berkarir solo. Saat ini aku masih banyak belajar dan berlatih untuk membuat dan menulis lagu.”

“Whoaaa… Hebat sekali! Aku pasti akan membeli semua album solomu dan meminta tanda tanganmu.” nada bicara Hyunwon sedikit meninggi, menandakan bahwa ia sangat tertarik dengan semua mimpi Jonghyun itu.

Waktu berlalu terasa lebih cepat dari biasanya.Keduanya terlarut dengan percakapan mereka sendiri. Sedikit demi sedikit para pengunjung lain di kedai tersebut datang dan pergi. Minuman mereka pun sudah habis, tetapi kalimat-kalimat di otak mereka belum juga habis untuk mereka ungkapkan satu per satu.

Tidak ada rasa bosan ataupun rasa kantuk, yang bisa mereka rasakan hanyalah rasa nyaman.Tidak terpikir satu pun kata untuk mengakhiri percakapan seru mereka. Mereka seakan-akan berada di dunia mereka sendiri, tidak ada hal lain yang mereka pikirkan kecuali diri mereka sendiri. Keduanya tidak merasakan lelah walaupun hari sudah larut dan hampir tengah malam, mereka lupa bahwa masih ada rutinitas esok hari yang sedang menunggu mereka.Sampai akhirnya suatu keadaan membuat mereka tersadar bahwa pertemuan mereka cukup sampai disini. Waktu sudah menunjukan pukul 23.00 dan kedai itu pun akan segera tutup.

“Ayo, aku antar kau pulang.”Jonghyun membukakan pintu mobilnya untuk Hyunwon.Disambut hangat dengan senyuman Hyunwon sambil mengangguk pelan dan menduduki kursi penumpang, tepat di sebelah kursi pengemudi.

Keduanya masih melanjutkan percakapan mereka sepanjang perjalanan. Lagi-lagi waktu terasa berlalu begitu cepat, mereka sudah tiba di depan rumah Hyunwon. Pintu gerbang yang besar itu pun terbuka lebar, membiarkan mobil Jonghyun untuk masuk.

Gomawoyo, Jonghyun-ssi.” ujar Hyunwon sambil membungkuk pelan, membuka sabuk pengamannya lalu bersiap untuk turun dari mobil, walaupun sebenarnya ia masih ingin terua bersama dengan lelaki itu.

“Bukankah kau dua tahun lebih muda dariku? Panggil aku oppa, arraseo (mengerti)?” sebenarnya Jonghyun sedikit merasa malu mengatakan kalimat seperti itu, tetapi ia sungguh ingin hubungan pertemanannya itu bukan hubungan yang biasa saja. Ia berusaha membuat kalimatnya itu terdengar biasa saja, namun yang terdengar di telinga Hyunwon tetaplah tidak biasa. Entah mengapa Hyunwon pun merasa agak malu sekaligus senang.Pandangan keduanya pun bertemu, lalu terlukis senyuman dikedua wajah mereka.

Arraseoyo (mengerti), Jonghyun oppa.” jawab Hyunwon dengan nada sedikit manja lalu ia pun tidak bisa menyembunyikan rasa malunya.

 

***

 

7 Maret 2014 (3 Years Ago)

Pagi ini terlalu indah untuk sebuah hari minggu, hari libur bagi Hyunwon dan kebetulan pula bagi Jonghyun.Hubungan keduanya sangat baik.Setiap ada waktu kosong mereka sempatkan untuk sekedar bertukar pesan singkat maupun untuk bertemu.Tidak pernah ada kata ‘kehabisan topik’ saat mereka mengobrol.Bahkan kadang mereka hanya bercerita mengenai keseharian mereka. Hyunwon mulai mengerti sedikit mengenai dunia hiburan dan kegiatan-kegiatan apa saja yang Jonghyun lakukan, begitu pula sebaliknya, Jonghyun mulai mengerti beberapa istilah kedokteran maupun penyakit-penyakit.

Apakah mereka masih sebatas teman?Ya.Belum ada pernyataan rasa suka atau cinta ataupun yang sejenisnya, tetapi sepertinya rasa yang spesial itu sudah mulai bersemi di hati mereka masing-masing.

Mereka berencana untuk menghabiskan hari bersama.Keduanya sudah bersiap untuk bertamasya ke pantai hari ini sesuai keputusan mereka bersama.Jonghyun menjemput Hyunwon ke rumahnya, dan mulai berkendara ke tempat tujuan mereka, pantai. Selama 3 jam perjalanan Jonghyun membuat suasana mobilnya senyaman mungkin. Ia sudah menyiapkan banyak lagu, mulai dari lagu kesukaannya, lagu kesukaan Hyunwon dan beberapa lagu ciptannya. Hyunwon pun tidak datang dengan tangan kosong. Ia menyiapkan beberapa kotak bekal berisi berbagai macam buah segar untuk mereka nikmati diperjalanan.

Di tengah-tengah perjalanan, Hyunwon membuka salah satu kotak bekal yang berisi buah apel. Ia mulai mengambil satu potong dan memakannya. Disaat yang sama Jonghyun melirik ke arah Hyunwon yang sedang asik mengunyah apelnya.

“Kau mau apel ini, Oppa?” ujar Hyunwon yang sadar akan lirikan Jonghyun yang seakan-akan menunjukkan bahwa ia pun ingin memakan apel itu.

“Tentu saja…” jawab Jonghyun semangat sambil membuka mulutnya lebar-lebar dengan kedua tangannya tetap berada di kemudi. Hyunwon agak kikuk, ia tahu bahwa ia harus menyuai Jonghyun, dan saat itu kali pertama Hyunwon menyuapi Jonghyun, sepotong apel.

Jonghyun sudah menyiapkan segalanya, ia sudah memikirkan kegiatan apa saja yang akan mereka lakukan, makanan apa saja yang akan mereka makan dan pemandangan apa saja yang akan mereka nikmati.

Setibanya disana Jonghyun mulai memarkirkan mobilnya dan mereka pun sudah bisa menikmati desiran ombak pantai yang tidak begitu deras.Matahari terik menyinari, tetapi udara disana masih cukup sejuk mengingat musim dingin baru saja berakhir.Keduanya mulai menyisir pandangan mereka ke segala arah, dan hampir semua lapang pandang mereka dipenuhi oleh pemandangan lautan luas berwarna biru kehijauan.

Jonghyun mulai melangkah menuju hamparan pasir putih yang sangat luas, diikuti Hyunwon yang berjalan di sampingnya.Keduanya benar-benar mengagumi pemandangan yang ada dihadapan mereka, sudah terlalu lama mereka tidak menikmati alam.Hyunwon membuka sandalnya lalu mendahului Jonghyun berlari kecil menuju deretan ombak.Ia membiarkan kakinya merasakan segarnya air laut, dan ia menikmati udara yang menurutnya berbau asin. Ia mulai menikmati waktunya dan bermain-main air, bahagia. Jonghyun menikmati pemandangan yang ada dihadapannya, seorang wanita yang ia sukai sedang bermain-main di pantai yang begitu indah. Jonghyun tidak sabar ingin segera ikut dalam kebahagiaan Hyunwon, ia pun melepas sandalnya dan mulai ikut bermain air.

Tidak banyak yang bisa mereka lakukan, tetapi mereka tetap menikmati waktu-waktu bersama.Mereka menikmati makan siang mereka, mencicipi segarnya sashimikhas dari laut tersebut. Sisa-sisa waktu lain mereka gunakan hanya untuk sekedar mengobrol ringan sambil menunggu pemandangan indah di sore hari, yaitu ketika matahari terbenam.

Mereka sedang duduk di sepasang kursi kayu sebuah resto di tepi pantai, waktu matahari terbenam akan segera tiba. Jonghyun mengeluarkan handphonenya dan memberikan isyarat kepada Hyunwon untuk bersiap karena ia akan mengambil foto mereka berdua. Di foto tersebut hanya terlihat siluet dari wajah mereka dengan latar belakang sinar matahari kuning jingga yang sangat indah.

Makan malam mereka pun tiba.Dua porsi lobster bakar dengan sebotol red wine memenuhi meja kayu bulat dihadapan mereka. Keduanya mulai mencicipi hidangan laut itu dan keduanya berdecak kagum karena rasanya yang sangat segar dan enak. Sang pelayan mengisi gelas mereka dengan wine yang sudah disiapkan oleh Jonghyun tadi. Akhirnya keduanya melakukan cheers dan meminum cairan berwarna merah keunguan itu. Kembali keduanya berdecak kagum dengan aroma dan rasa yang menyeruak di indra mereka.

Oppa kau tidak boleh banyak minum. Kau akan menyetir pulang kan?” ujar Hyunwon sambil menyuapi mulutnya sendiri dengan potongan daging lobster.

Nde(ya)…” jawab Jonghyun dan segera ia meneguk habis wine yang tersisa di gelasnya. Ia menyelesaikan makan malamnya terlebih dulu dari Hyunwon, lalu ia pamit untuk pergi ke mobilnya mengambil sesuatu. Tidak ada pikiran lain di otak Hyunwon selain menghabiskan makan malamnya yang menurutnya adalah salah satu makanan terlezat yang pernah ia cicipi setelah masakan ibunya.

Sosok Jonghyun sudah kembali.Ia kembali duduk di kursinya tadi, berhadapan langsung dengan Hyunwon yang sedang meneguk segelas air putih dan menghabiskannya.

“Hyunwon-ah, maukah kau menjadi kekasihku?” tanpa basa basi Jonghyun menyatakan perasaannya. Hyunwon terdiam sejenak, perasaannya bercampur antara bingung dan tidak percaya bahwa lawan bicaranya baru saja mengungkapkan persaannya dan mengajukan sebuah pertanyaan yang harus dijawab.

— to be continue —

Annyeong… Jangan lupa buat like and comment… Gomawo 🙂

Hyunvy ^^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s