[CHAPTER 1] LOST SOULS

LOSTSOULSPOSTERBYSIXTEENPEGASUS

LOST SOULS

C1

WRITTEN BY SIXTEENPEGASUS CAST CHWE ASPEN JAEHYUN TAEHYUNG MINGYU MINO KRYSTAL NAYEON GENRE DRAMA ROMANCE MYSTERY FANTASY RATING G CHAPTERED

poster is made by myself. And this is has been posted on my personal blog, MISERABLE DUST

Dimohon untuk tidak mengedit, mengklaim, memplagiat, dan tindakan tidak berbudi pekerti lainnya.

TEASER

Aspen mengangkat kedua alisnya, ditatapnya air muka wanita yang berdiri tidak jauh dari hadapannya itu. Wanita itu bernama Mrs.Operah, salah satu Dewan Tinggi yang diletakkan di kota Adante, yang berkewajiban mengatur segala urusan mengenai hukum dunia Ciel. Beberapa menit lalu, salah satu temannya menyampaikan bahwa ada yang ingin Mrs.Operah bicarakan dengannya, ketika Aspen menanyakan lebih spesifik, temannya tersebut enggan menjawab. Dan dia berakhir diselimuti rasa gemuruh di dadanya karena Mrs.Operah terlalu terkenal dengan sifatnya yang tegas, dan suara yang menggema bila ia sedang berbicara di aula yang besar—ia kira hanya pada ruangan dengan volume yang besar, ternyata tidak.

Ia yang baru saja selesai berkuda segera berjalan menuju Kantor Kedewanan yang terletak di tengah kota Adante. Melihat pintu ruangan yang terbuka, Aspen melangkahkan kaki dengan ragu-ragu, dan wanita itu tengah berdiri menghadap jendela, memandangi langit sore yang berapi-api. Kemudian Mrs.Operah langsung berbalik begitu Aspen hendak membuka mulutnya.

“Aku paham apa yang ada di pikiranmu, Aspen.” Suara Mrs.Operah memulai pembicaraan. Ia sama sekali tidak terkejut dengan suara-suara kepala Aspen yang sarkatis—membicarakan betapa seramnya wujud dan aura dirinya.

“Aku bersumpah, aku tidak punya pikiran buruk tentangmu—,”

“Aku tahu,” Mrs.Operah berjalan ke sisi ruangan yang lain. “—kau hanya menilai.”

Untuk beberapa saat, mereka terdiam, berfokus pada pikiran masing-masing meskipun Aspen tak yakin sekarang ada hal-hal yang masuk ke otaknya. Aspen selalu menjadi favorit Mrs.Operah, mungkin karena ia keturunan keluarga Chwe yang sudah dihormati sejak ribuan tahun silam, tapi melihat kepribadian wanita itu yang sangat bijak—rasanya sangat mustahil menilai seseorang berdasar keturunan semata. Namun orang-orang bilang, Aspen selalu jadi sosok favoritnya.

Mrs.Operah mengambil sesuatu dari rak buku yang kokoh berdiri di dekat pintu masuk ruangan lain—benda itu terlihat seperti sebilah belati perak, dengan gagang terbuat dari kulit gajah—Belati Skeer. Biasanya belati tersebut dimiliki oleh keluarga Asterus untuk membuat simbol kutukan yang di dapat dari dunia Clair. Aspen mengerutkan keningnya lagi sembari bertanya-tanya dalam kepalanya, untuk apa benda dari tempat makhluk terkutuk itu ada di tangan Mrs.Operah?

“Bagaimana nilai akademismu di sekolah, Aspen?”

Pertanyaan tersebut tidak disangka keluar dari bibir seorang Mrs.Operah. Aspen mengindikasikannya sebagai pembuka topik pembicaraan sebelum menuju ke hal yang lebih serius. “Sayangnya, aku belum sempat lihat semua nilaiku, jadi kau bisa minta pada Mrs.Meredith.”

“Aku yakin kau takkan pernah mengecewakan orangtuamu, tidak akan mengecewakan Adante yang penghuninya terkenal berwawasan tinggi.” Wajahnya seketika melembut. “Tapi aku membutuhkan kemampuanmu, Aspen. Wawasanmu dan kemampuanmu dalam bertarung. Kau merupakan anugerah yang telah tercipta sejak jauh-jauh hari—,”

“Ya. Aku mirip sekali dengan almarhum kedua orang tua bukan?” Aspen tertawa rendah. Sedari kecil, tak pernah sedikitpun Aspen merasakan kehadiran kedua orang tuanya. Mereka terbunuh belasan tahun lalu saat perang bersama dunia Clair, dunia yang hingga kini membuat Aspen bergelora untuk melemparkan tombak kepada siapapun yang memiliki darah dari dunia tersebut, walaupun sebenarnya Aspen belum pernah melihat rupa daerah yang sering diceritakan orang-orang sebagai tempat para pengemis keabadian. Terkadang, Aspen menjadi lebih yakin bahwa ia merupakan keturunan Chwe ketika orang tua teman-temannya mengatakan kalau, kau memiliki mata yang indah seperti ibumu, kau memilki wajah yang tegas seperti ibumu, kau memilki sikap yang jenaka seperti ayahmu, kau memiliki sikap yang bijaksana seperti ayahmu—itu semua merupakan obat pelipur lara apabila Aspen mulai tidak percaya dengan keberadaannya. “Aku terlalu mirip dengan mereka tapi ironisnya aku tak pernah merasa seluruh yang ada di dalam diriku merupakan bagian dari mereka juga.”

“Aspen—,”

“Mrs.Operah,” Potong Aspen. “Aku ingin sekali membantumu menjadikan kota Adante lebih luhur daripada kota-kota lainnya. Sayangnya, aku selalu punya pikiran bahwa keinginan utamaku adalah menghancurkan Clair sebagaimana mereka merenggut kedua orang tuaku.”

Untuk pertama kalinya, Aspen melihat sudut bibir wanita itu terangkat. Wanita itu menancapkan belati ke mejanya, menghanguskan beberapa bagian di meja tersebut. Kalau boleh dideskripsikan, ruangan Mrs.Operah tergolong biasa saja untuk wanita berwibawa seukurannya—dalam arti, biasa saja namun tetaplah megah untuk penghuni Ciel yang tidak termasuk golongan dewan—tapi para Dewan Tinggi lainnya sering membicarakan betapa minimalisnya ruang kerja Mrs.Operah ini.

“Bagian daerah mana di dunia Ciel yang tidak ingin membunmihanguskan dunia Clair? Tapi apakah kau tahu, Aspen, mengapa kami selalu ingin meniadakan dunia pararel yang bernama Clair itu?”

“Aku belajar asal mula eksistensi kita, kekuatan yang kita miliki, sejarah mengenai perseteruan Ciel dan Clair, lebih tinggi daripada ilmu pada umumnya, tertulis ataupun tidak. Kau kenal aku, Mrs.Operah, aku menghapal dalam sekali membaca, dan aku menguasai ketika aku menutup buku.”

Mata mereka saling beradu pandang. Mrs.Operah mengagumi bagaimana manik biru laut Aspen menimbulkan rasa mempesona bagi yang melihatnya, tidak pernah ia melihat wanita pejuang secantik ini setelah pendahulunya. Bongkahan biru itu bagai menyihir siapapun untuk tunduk—keturunan Chwe selalu memiliki aura pemimpin—dan Aspen menyiratkan sosok gadis tangguh yang teramat ia kenal di masa kecil. “Kau tahu mengapa aku memanggilmu kemari?”

“Kau punya tugas untukku.” Jawab Aspen sigap.

“Tepat sekali.” Mrs.Operah melepas jubah yang ia pakai. Ia duduk di kursinya sembari menarik lembaran-lembaran yang tersimpan rapih di sisi kanan meja. Kemudian matanya tertuju lagi pada Aspen. “Ada benda peninggalan dunia kami yang dicuri oleh bangsa Clair, aku tak memercayai siapapun untuk melaksanakan tugas ini—misi ini sangat berarti bagi dunia kita, dunia yang terukur oleh waktu, yang percaya jika ada waktu spesifik mengenai kehancuran dan kebangkitan suatu dunia.” Kertas-kertas usang berwarna kekuningan itu mirip rancangan Piagam Perjanjian yang telah dibuat ribuan tahun ke belakang oleh salah satu kesatria dari dunia Ciel yang mengajukan perdamaian kepada dunia Clair. Menurut buku sejarah yang Aspen baca, Piagam Perjanjian sudah dicabut semenjak perang kelima yang terjadi di antara mereka, sebab beberapa penduduk dunia pararel terlalu sering melanggar perjanjian. Perjanjian-perjanjian itu meliputi pemasangan pintu dunia pararel tanpa izin di berbagai belahan dunia Ciel, pembentukan pasukan dari dunia Ciel secara sembunyi-sembunyi, menginvansi penyihir dari bukit Edgan, dan tidak mengembalikan utusan dunia Ciel yang sedang bertugas di dunia mereka. “Benda itu dulu berada di tangan Warlock Jeon—ya, penyihir yang kediamannya mereka serbu dan pemiliknya mereka culik. Kau baru tahu ‘kan?”

“Sejujurnya, tidak.” Aspen menggeleng. “Sudah kukatakan ilmu pengetahuanku tidak berhenti pada buku saja.” Suara ketukan pintu kantor Mrs.Operah membuat Aspen mengesampingkan diri sembari membenahi kuncir kudanya. Dia pikir tidak akan ada tamu, karena pembicaraan mereka cenderung memakan banyak waktu dan terkesan tertutup. Pintu terbuka setelah Mrs.Operah mempersilahkan orang tersebut masuk, dan dia mendorong tudungnya ke belakang begitu mensejajarkan barisannya dengan Aspen sehingga Aspen terkesiap melihat siapa yang baru saja mengetuk pintu. “Jaehyun?”

Pria yang dipanggil Jaehyun melempar senyum lebar—tentu saja. Tentu saja Jaehyun ikut serta dalam misi ini. Mereka adalah parabatai sejak kecil dan Mrs.Operah tidak mungkin membiarkan Aspen berjuang dalam sebuah misi sendirian sementara akan ada jiwa lain yang terancam tanpa bertarung. Aspen menyayangkan bagaimana hidup Jaehyun harus ditentukan atas nyawanya, tapi pria tampan itu tidak pernah menyesal menjadi jiwa Aspen yang lain. Kendati memang telah bertarung sejak kecil, saingan mereka biasanya dari kota-kota lain, itu bukan menjadi alasan untuk mereka terus-menerus bergantung nyawa pada tiap situasi. Hanya segelintir parabatai yang tetap hidup karena mereka mulai memikirkan keselamatan kedua belah pihak—Aspen ingin dirinya dan Jaehyun seperti itu. Di benaknya yang dalam, Aspen berpikir untuk meninggalkan kehidupan kesatrianya dan memulai sebuah awal di kota lain, atau membangun kota baru tanpa adanya perang—namun darah petarungnya mengalir terlalu deras hingga Aspen tidak bisa mengangkat tangannya untuk mendekap orang lain.

Mereka dekat bukan karena bertemu di sekolah yang sama, semuanya lebih dalam dari sekedar pertemuan anak-anak sekolah. Orang tua Jaehyun yang merawat Aspen sejak lahir dan maka dari itu mereka terikat dalam batin dan pikiran. Aspen selalu menyayangi Jaehyun lebih dari sedekar saudara tidak sedarah, begitupun sebaliknya. Mereka mencintai satu sama lain. Mrs.Operah mengerti lebih dari cukup.

Jaehyun mengajarkan Aspen bagaimana caranya merakit sebuah senjata sederhana dari sebuah kayu bakar sewaktu mereka berusia lima tahun. Aspen mengajarinya teknik-teknik menghapal dalam sekali baca. Semua kenangan itu tidak akan terbayar, tidak boleh hilang oleh tebasan pedang—Aspen bersumpah bila sesuatu terjadi pada pria itu, siapapun pelakunya, dia takkan segan-segan membunuhnya seperti kabut melewati ketiak mereka.

“Aspen, aku mengerti betul—tapi percayalah, Jaehyun akan menghanguskan kota ini bila sesuatu terjadi padamu tanpa ada dia ada di sampingmu.”

Aspen menatap mata Jaehyun yang masih berbentuk sabit, lalu ia memutar bola matanya kesal diikuti desahan. Ia menyilangkan kedua tangan tanpa menganggap bahwa Jaehyun ada di ruangan yang sama. Penyesalan akan parabatai mereka semakin menguat di dada Aspen, masa bodoh bila Jaehyun bisa merasakan gelisahnya. “Jadi aku dan dia satu misi?”

“Kau akan melakukan yang sama untukku.”

“Ya, dan aku juga akan melarangmu, kau akan memaksa untuk membiarkanmu kesana sendirian, aku akan marah—jadilah, siklus kita terus menerus begini.”

“Aku tidak bisa membiarkanmu berada di dunia sana, kau tidak tahu apa yang akan kau hadapi.” Jaehyun meletakkan berkas yang ia bawa untuk Mrs.Operah di atas mejanya. Matanya tertuju pada Aspen. Kini tatapannya benar-benar mengancam, memperingati Aspen kalau ada sejuta fakta yang tidak ia ketahui. “Kau tidak bisa bertarung hanya dengan mengandalkan kelihaian dan kemampuan luar biasamu yang diakui orang-orang. Orang pandai bertarung bisa mati kapan saja.”

“Oh, maksudmu aku punya pemikiran yang dangkal tentang tugas ini? Aku bahkan baru tahu.” Ia menghempaskan napas lagi. “Ngomong-ngomong, aku tahu apa-apa saja yang akan kuhadapi di sana. Aku tidak bisa membiarkan kita berdua mati, sekalipun terpaksa, lebih baik hunuskan pedangnya saja padaku.”

“Aspen—,”

“Mrs.Operah, jika dia ikut aku dalam misi ini, aku akan menolaknya mentah-mentah. Terimakasih.”

Mrs.Operah mengangkat sebelah tangannya. Dia tampak kelelahan mendengar perdebatan mereka. “Dunia Ciel—dunia kita—akan diserang dalam kurun waktu satu tahun. Aku tidak akan mendiskusikan misi ini lebih lanjut apabila kalian masih tidak sepaham.”

“Kami tidak akan pernah sepaham.” Sahut mereka bersamaan.

Jaehyun menaikkan satu alisnya. “Aspen, dengar,” Dia akan menyesalinya seumur hidup—Jaehyun akan menyesalinya seumur hidup jika Aspen tidak dalam radius dua meter dari pandangannya. Meskipun, meskipun di rumahnya terdapat sumur yang bisa membuat Jaehyun ikut berdiri di sekitar Aspen dalam keadaan tak terlihat, ia tetap tidak dapat menjamah gadis itu kalau-kalau sesuatu terjadi. Memikirkan Aspen tergores sedikit pedang saja membuatnya ingin memecahkan kepala. “Penyesalaan terbesarku adalah kau tenggelam di danau Edgard, tidak ditermukan semalaman, dan hampir tak sadarkan diri selama dua hari, dua hari, two—fuckin’—days, saat aku tak ada.” Jari telunjuk Jaehyun menunjuk-nunjuk pualam Mrs.Operah yang coklat mengkilap. “

“Kau bisa mengawasiku tanpa harus ada di sana—,” nada bicaranya melembut. Aspen menyisir surai coklatnya ke belakang, bilik matanya melihat ke setelan yang Jaehyun kenakan. Pria itu senang sekali memakai jumper hoodie hijau danau pemberian almarhum kakaknya. Aroma jumpernya beterbangan, mirip coklat panas yang diminum saat musim dingin, membaur dengan kesejukan yang dipancarkan lewat wajah pemuda itu. Wajahnya yang seputih porselen dan rambutnya yang berantakan tak terawat. Ia paham mengapa pemuda di sampingnya ini kelewat mengkhawatirkannya—karena sejujurnya, Aspen akan melakukan hal yang sama bila ia ada di posisi Jaehyun. Nyawa bukanlah sebuah perkara, namun kehilangan itulah yang akan membuat salah satu dari mereka kehilangan nyawa itu sendiri.

“Jadi, dengar, aku akan mengusahakan diriku—kita—tidak terluka ketika berada di sana. Sepakat?” Aspen memutar badannya ke samping, tapi sebelum gadis itu mengeluh, Jaehyun bergerak selangkah lebih dekat, memegang kedua bahu gadis itu sembari menatap lurus pada mata Aspen yang biru, dan melanjutkan kalimatnya. “Aku akan bertarung untukmu. Kau akan bertarung untukku. Itu yang akan kita lakukan. Mengerti?”

Entah sudah berapa menit Mrs.Operah memandangi mereka penuh dengan harapan, tersenyum pada setiap gerak-gerik persahabatan mereka yang tak terhitung oleh helaan napas. Semua orang tahu bahwa Aspen adalah gadis yang keras kepala, bertingkah karena kesombongannya, melawan tanpa pandang bulu. Seseorang yang selalu bergerak untuk sepercik keadilan. Semua orang tahu bahwa Aspen dilahirkan untuk menjadi wanita pejuang di masa depan. “Aku akan memastikan kalian kembali dengan selamat.” Ia berkata, menunjukan senyum simpatik.

“Jelaskan saja misinya.” Aspen melepas kedua tangan Jaehyun dari bahunya. Semoga ia tidak menyesali keputusan ini.

Begitu tuntas membahas misi yang akan Aspen dan Jaehyun lakukan esok subuh, segala kebutuhan yang akan mereka bawa untungnya sudah Mrs.Operah urus, jadi mereka tidak perlu begadang untuk mencari apa saja yang harus dikepak saat seharusnya mereka beristirahat. Kecuali, ya, peralatan perang pribadi mereka. Aspen takkan lupa membawa pedang Oxtod yang ditempa khusus oleh dirinya sendiri—pinggirannya masih belum sempurna, setidaknya pedang ini telah teruji bagus dari berbagai aspek menurut Gerald—penempa besi terkenal di Adante. Sedangkan, Jaehyun membawa samurai yang mirip dengan Katana—samurai peninggalan almarhum kakaknya, seperti biasa. Dia ingin merasakan kehadiran Junmyeon—kakaknya—ketika menebas kepala musuh-musuhnya, menggiring mereka menuju neraka.

Mereka pulang dengan berjalan kaki melewati sepanjang jalan raya yang masih ramai penduduk. Padahal hari mulai gelap, tetapi Adante tak pernah lepas dari aroma kopi dan kue karamel yang menusuk penciuman para penikmat senja. Dari sisi kanan jalan jelas terlihat matahari mulai menarik sinarnya masuk, mengubah rona pipi alam menggelap sangat cepat. Jaehyun merangkulnya agar tubuh mereka tetap dekat dan terkadang pemuda itu membisikan sesuatu tentang pemahat besi yang amat ia kagumi, bagaimana pedang yang akan orang itu buat terlihat mempesona di tangan Aspen—atau, Aspen akan berdecak dan mendorong Jaehyun supaya mereka menjauh, lalu meninju dadanya pelan, namun tak lama kemudian ia kembali tersadar terhadap realita yang akan mereka hadapi hingga wajahnya kembali tenggelam dalam kekhawatiran.

 “Kita akan baik-baik saja.” Kata-kata itu keluar dari bibir Jaehyun tanpa cuma-cuma.

“Aku tahu.” Dia berjalan sambil menendang batu-batu yang berserakan.

Beberapa orang yang melihat kedekatan mereka sudah tidak heran dengan cara mereka menatap, menyentuh satu sama lain. Jaehyun dan Aspen merupakan parabatai yang cukup terkenal di kalangan kota Adante, apalagi kalangan anak-anak muda, dan tak ada sebab lain mengapa mereka bisa bercengkrama layaknya pasangan yang sudah menikah. Oh, tidak, Apsen menggelengkan kepalanya, buruk sekali memikirkan mereka di tingkat hubungan yang lain.

“Kau mencemaskanku seakan-akan aku tak pandai bertarung,” Jaehyun terkekeh. “Kau tahu bahwa aku lebih pandai darimu kalau soal itu.”

“Itu?” Kepalanya mengadah dengan mimik wajah bingung.

“Kita akan baik-baik saja. Aku berjanji.” Senyumnya terlalu meyakinkan, terlalu sulit untuk tidak percaya. Tangannya menggenggam tangan Aspen dan memainkan jemari mereka yang saling bertautan.

Mungkin benar, mereka akan baik-baik saja jika Aspen berusaha mengontrol pikirannya sejenak—tak semua hal harus ia cemaskan. Kejadian buruk datang karena seseorang tidak fokus pada siapa dan apa yang menyerang. Aspen hanya harus membuka hati dan matanya. “Aku ingin beli roti di kedainya Dana.” Ia memegang perutnya yang mulai berbunyi.

Jaehyun terkekeh lagi, kemudian ia teringat sesuatu. “Dana kemarin mengunjungi asramamu, tapi, oh yeah, kemana kau Aspen Chwe pada pukul dua dini hari?”

Mulut Aspen membentuk huruf O. Kebetulan, kemarin sekolahnya ada ujian membuat desain dan replika labirin yang mengharuskan muridnya menginap sebagai hasil akhir dari pelajaran Mr.Im. Aspen cukup sering berburu di hutan belakang asramanya karena asramanya terletak tidak begitu jauh dengan hutan terbengkalai tersebut. Berburu sekedar sebagai penghilang rasa penat akibat tugas yang sudah jelas-jelas ia kuasai. Sekolah masih saja memberikan Aspen tugas-tugas untuk murid pada umumnya, sekalipun mereka tahu bahwa kemampuan Aspen teruji lebih piawai. “Kau ingat, kan, waktu aku tenggelam di danau belakang asrama itu—kalau boleh kukatakan, aku bisa mati jika tidak menenggelamkan diriku.” Entah kenapa urusan Dana mengunjunginya tidaklah terlalu penting. Aspen bisa mengirimkan surat padanya nanti. Tiba-tiba ia ingin membahas peristiwa yang terjadi tiga bulan lalu. “Sebenarnya, aku melihat Diriku Yang Lain lagi. Dan, dia mencoba membunuhku—tepat sekali, untuk kesekian kalinya.”

Diriku Yang Lain. Setiap hari Aspen akan diselubungi rasa diawasi oleh sesuatu, awalnya ia berpikir demikian, tapi setelah sesuatu itu menampakkan dirinya ke permukaan, wujud sesuatu itu serupa sekali dengan dirinya. Ibarat saudara kembar dan doppelganger. Wujud itu menghampirinya diam-diam saat mereka pertama kali bertatap muka, menatap wajah Aspen dengan sekelebat dendam yang tidak pernah Aspen lakukan padanya. Sayangnya beberapa bulan terakhir, Wujud yang Aspen kini sebut sebagai Diriku Yang Lain mulai berani menyentuh dan menyakitinya, bahkan berkali-kali mencoba membunuhnya tanpa kenal lelah. Wujud itu akan menghilang bila Aspen berada di daerah yang banyak terdapat genangan air, maka dari itu Aspen terpaksa menenggelamkan diri ke danau Edgard, karena dia membunuh tidak sebatas melukainya secara fisik, tapi diapun lihai dalam merusak pikiran Aspen. Dengan tenggelam, maka pikiran Aspen akan terhalang oleh ratusan liter air.

“Pada hari pertama aku berpikir, perasaan diikuti hanya halusinasi. Dia menyerangku ketika aku sendirian. Aku bisa membunuhnya kapanpun kalau saja makhluk itu tidak berusaha memasuki dan mempermainkan pikiranku.” Aspen sadar, membicarakan Diriku Yang Lain ini akan membuat kehadirannya menaiki tingkat yang lebih berbahaya.

Pemuda di sampingnya justru merangkulnya teramat erat, seakan-akan Aspen pasti terbunuh jika satu jari saja terlepas dari bahu kanannya. “Menurutmu, apa tujuan Dirimu Yang Lain?”

“Itu yang selama ini kupikirkan. Maksudku, mengapa ini hanya terjadi pada orang sepertiku, yang jelas-jelas tidak pernah bermasalah pada akademinya—aku tak punya catatan kriminal.”

Perkataan Aspen barusan membuat suasana tegang mereka berubah seketika. Jaehyun mengangguk, terkekeh, sembari mengeluarkan nada mengejek. Dia cukup khawatir pada keadaan Aspen yang selalu diancam oleh wujud tersebut, sayangnya ia belum bisa membantu sebelum wujud itu muncul di hadapannya sendiri. Dan belum pernah. Jaehyun butuh gambaran langsung bagaimana penampilan Aspen Yang Lain dan aura kehadirannya. Ia lalu mengeluarkan tawa keras ketika Aspen melontarkan ‘Dia merenggut kematianku sepeti mencuil roti di toko Dana’

“Karena hari ini aku sedang baik—oh, kurasa aku memang selalu baik padamu?—kutraktir kau roti di rumah Dana. Hanya untuk malam ini.”

“Apa-apaan,” Aspen berdecak, pura-pura kesal. “Kau mentraktir parabatai seumur hidupmu hanya dengan sebuah roti seharga 100 sen?”

“Aku cuma bawa 400 sen hari ini.” Jaehyun berasalan. Dia menunggu Aspen menjawab, namun melihat Aspen yang tidak kunjung berkutik dan terus-menerus mendesah, Jaehyun menarik sebelah tangannya—kemudian mereka berjalan tergesa-gesa menuju toko roti yang bertempat di samping Hotel Asava, menyaksikan ekspresi masing-masing karena mereka tahu bahwa tak ada yang lebih baik dibanding menikmati setiap kebersamaan dengan seorang parabatai. Setidaknya untuk Aspen saat ini.

HAAAAAAAAA\></ ;;;; kayaknya ini permulaan yang panjang banget, iya ngga sih? wkwk. Aku sih berharap kalian ngga bosen sama ceritanya, enjoy, gitu aja. Kalo ada beberapa hal yang membingungkan bisa kalian tanya ke aku (except. untuk alur cerita ya) lewat kolom komentar. Beberapa nama tempat yang asing dan emang terkesan ngga ada itu buatan sendiri, jadi please jangan tanya dimana sebenernya kota Adante itu(?)

Jangan lupa komentar atau likenya, aku bener-bener menghargai apresiasi kalian apapun bentuknya, daripada yang sekedar klik terus baca doang (walaupun itu terserah sih, hak kalian juga) ehehehe, have a good time!

 

 

 

 

 

Advertisements

12 responses to “[CHAPTER 1] LOST SOULS

  1. yaampun gue suka banget banget banget karakter aspen disini~ menurut gue ceritanya gak panjang kok cuman tergantung masing-masing orang juga haha. Gak sabar pingin banget tahu kelanjutan mereka pas di dunia pararel itu kayak apa, gak sabar juga nunggu abangku v muncul*nangisdarah* semangat thor!!

  2. aku kira ini bakal kaya ff fanstasy yang lain yg pernah kubaca, taunya enggak. suka banget deh sama bahasanya^^ ditunggu next chaptnya thor~

  3. ASPEN YA TUHAN KENAPA MUKANYA HARUS CANTIK BANGET KAYA BARBARA PALVIN OHMAYGAT T-T AKU NGEBAYANGIN DIA JADI LEBIH MINI DARIPADA JAEHYUN MASA, EH APALAGI ENTAR PAS ADA V YA, V KAN ENDEP T-T /capslock jebol parah/ overall, aku sukakkkkkk bgt sama bahasanya author-nim, simple tapi bagus bgt-,- aku suka bgt sama obrolan si aspen dan jaehyun ituuu hehehe. jangan lama-lama ya thor updatenya, jjang!!

  4. Anyeong!!!~ namaku zara/membungkuk90 derajat/Kemaren aaku gak komen di teasernya mianhaeyoo >_< aaku ngiranya si jaehyun yg bakalan jadi manusia dunia clair, ehhhhh taunya dia sedunia sama aspen kkkk btw, parabatai itu apa ya thor? 😅

  5. Haloo zara? Ih pas banget kamoeh komen akoeh lagi on 😏 parabatai itu dua orang yang lebih deket daripasa saudaranya sendiri, for more info you could search on google k? Ngomong-ngomong makasih loh;) dan plis jangan panggil aku thor wkwk

  6. wkwkwkwk gak nyangka juga lu akhirnya bisa nulis lagi setelah tamparan kaistal lolololol komen yang mau gua ketik keknya dah disebutin sama reader-reader di atas, jadi semangat bby!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s