[Multi Chapter] Stay – 5

Credit: Art by Song17 (Zahra)

STAY

Previously: [4]

Do not Copy!

‘Beku’

backsound: Rain – by Taeyeon

Dyo

The wind blows and brings back memories
   When I turn back the dusty springs
   The days of you and me grow clearer
   It comes into me as a scent of this season

 

Nama saya Do Kyungsoo. Kalian bisa memanggilku Kyungsoo. Saya pindahan dari Busan dan memang sering berpindah-pindah karena Ayah saya seorang anggota militer. Hobi saya menyanyi. Semoga kita bisa berteman dengan baik dan mohon kerja samanya,” Aku membungkuk dalam-dalam.

Salam perkenalan memang sudah sering kulakukan. Sejak pindah dari Gyeonggi enam tahun lalu, aku sudah tiga kali pindah sekolah. Dalam hati aku sumringah bukan main. Ada Hyesoo di sini, artinya ada Hana karena Junmyeon sudah menginformasikan sebelumnya kalau kedua gadis itu berada dalam satu kelas. Ekspresi Hyesoo terkejut. Sudah pasti. Gadis berkucir kuda itu terus menatapku dengan mulut menganga. Aku tersenyum hangat padanya.

Tapi, senyumku memudar saat Yeongsoo-songsaenim mengakhiri sesi perkenalanku di depan kelas. Hana tidak ada.

Aku cukup yakin seratus persen. Wajah-wajah anak perempuan di kelas baruku ini tidak ada yang mirip dengannya. Apa Junmyeon mengerjaiku?

“Sementara Kyungsoo bisa duduk di depan Hyesoo. Silakan,” Yeonsoo-songsaenim menganjurkan. Buru-buru kulenyapkan lamunanku.

“Maaf, Bu. Kursi itu ada yang punya.”

Terdengar sebuah interupsi dari seorang anak laki-laki. Ia duduk selisih satu bangku di sebelah kanan kursi kosong yang ditunjuk wali kelasku. Rambutnya hitam dengan potongan rapi. Raut mukanya terlihat tidak senang. Rasanya aku pernah melihat wajahnya. Dimana, ya?

“Ibu bilang hanya untuk sementara, Sehun.”

Sehun?

Ah, di majalah tadi. Anak ini berpose paling depan dengan trofi kemenangan klub sepak bolanya. So, He’s a cool kid apparently. Bukan hanya Sehun, beberapa anak berbadan atletis di kelas ini pasti sama populernya. Jadi akan kuhabiskan tiga tahunku bersama anak-anak populer di SHS? (SHS, sekolah SMA fiksi dengan 8 semester)

“Bagaimana kalau si empunya masuk sekolah esok hari, Ssaem? Kursi di pojok belakang juga kosong. Bukankah itu khusus disiapkan untuk si anak baru?” Tangan Sehun menunjuk meja kosong di pojok dekat jendela.

Yeonsoo-songsaenim tampak tak mau berdebat. “Ibu menyarankan seperti itu supaya Kyungsoo lebih mudah berbaur—“

“—tidak apa-apa, Bu. Saya duduk di belakang saja,” potongku sesegera mungkin. Aku tidak mau mengalami konflik saat hari pertamaku bersekolah di sini.

Setelah memberi hormat pada bu guru Yeonsoo, aku berjalan menuju bangku kosong di pinggir jendela. Tidak buruk, sih. Kalau mengantuk aku bisa melihat halaman luas di luar sana. Meja dan kursinya baru. Bersih dari coretan. Sempurna untukku yang tak sudi menduduki kursi penuh pesan misterius.

Karena jumlah siswanya ganjil, deretan terakhir hanya terisi kursiku. Cowok di depanku menyapa dengan sopan. Aku berterima kasih padanya, tapi dua tatapan itu tak lepas dariku. Pertama, dari Hyesoo. Gadis itu kini menampilkan wajah khawatir alih-alih happy melihatku di sini. Ia buru-buru memalingkan muka saat mataku bertaut dengannya. Kedua, dari si Sehun tadi. Ia tampak mengawasiku sampai aku benar-benar duduk di sana. Setelahnya, tatapan tajam itu kembali ke depan kelas.

“Hai, Kyungsoo-ssi. Aku Dooyoung,” kata cowok berkacamata di depanku.

“O, Dooyoung-ssi? Aku Kyungsoo,” Balasku. Tidak terlalu ramah juga sebenarnya karena cukup terganggu dengan kedua tatapan tadi.

“Semoga kamu betah di SHS. Panggil aku Dooyoung saja,” Ia berujar lagi sambil sesekali melirik ke depan kelas.

“Ah, ya, Dooyoung. Kamu juga boleh menggunakan banmal denganku,” Meskipun sedikit kecewa, aku tak mungkin melarikan diri, bukan? “Er—Dooyoung… Siapa anak tadi?” tanyaku sambil berbisik-bisik.

“Yang bicara tadi? Dia Oh Sehun. Ketua sementara Student Council dan kapten sepakbola SHS,” jawabnya.

O, pantas saja. Dua title yang sempurna untuk meraih banyak perhatian.

“Siapa yang tidak masuk hari ini?” tanyaku lagi.

“Eum, dia gebetan Sehun yang sedang sakit. Namanya Jung Hana,” Dooyoung tak berani menoleh lagi karena bu guru Yeonsoo mulai menulis dengan serius di papan tulis, tapi dia menambahkan sedikit, “seluruh SHS tahu kalau Sehun tertarik padanya.”

Ucapan Dooyoung jelas bukan peringatan atau semacamnya, namun semua terkesan lambat dicerna oleh otakku. Bukan karena aku bodoh atau belum sarapan. Tapi, jawaban dari Dooyoung membuatku tambah kecewa pada diriku sendiri.

Pertama, Junmyeon tidak bohong. Aku mencelus seketika saat nama Hana disebut oleh Dooyoung. Tapi, embel-embelnya membuatku sedikit mual. Gebetan? Seluruh sekolah tahu? Tunggu… Aku tidak hanya merasa familier dengan wajah itu karena majalah yang kubaca.

Anak itu si cowok motor mengilap kemarin!

Damn it…

Pelajaran kali ini terasa masuk telinga kiri keluar telinga kanan. Jam pelajaran ketiga sebelum istirahat kosong. Menurut Doyoung, dua hari pertama di tahun ajaran baru memang tidak seefektif hari-hari biasa. Cowok berkacamata itu hendak mengajakku ke perpustakaan. Aku mengiyakan. Aku harus tahu seluk-beluk sekolah ini dan juga melenyapkan perasaan kalau Hyesoo tak suka aku di sini.

Well, itu benar adanya.

Gadis itu mengerling ke arahku. Dengan mengembuskan napas berat, ia bangkit dan meninggalkan kursinya. Pergi bersama beberapa siswi lainnya. Tidak ada yang menuju kursiku untuk berkenalan atau semacamnya. Kuakui, sekolah ini berbeda dari yang lain. Interaksi para muridnya terkesan monoton dan berkelompok.

Setelah merapikan meja, aku dan Dooyoung bersiap pergi ke perpustakaan. Namun, rupanya perhitunganku salah. Beberapa anak menyambangi mejaku, sampai aku tersadar kalau yang berdiri paling depan adalah si Sehun tadi.

Tingginya tidak main-main. Begitu juga dua anak di belakangnya. Yang satu rambutnya semi keriting dengan mulut lebar dan telinga seperti milik Master Yoda. Yang satu, pendiam, kulitnya agak cokelat dan tatapan matanya terkesan mengantuk setiap saat.

“Sebagai ketua SC sementara di SHS, aku mengucapkan selamat datang di sekolah kami,” Suara Sehun tidak berubah dari sebelumnya saat ia mendebat bu guru Yeonsoo. Dingin, datar dan tajam. Seolah sudah menjadi tradisi bagi ketua SC untuk menyambut murid baru, tangan kanannya terulur ke depan.

“Terima kasih, eum—,” jawabku singkat. Kujabat tangan Sehun dengan sewajarnya.

“—Sehun. Namaku Oh Sehun. Kalau kamu butuh bantuan, kamu bisa minta tolong aku atau yang lainnya,” Sehun berujar tanpa nuansa formal. Ia mengedikkan bahunya, “begitu saja. Selamat bergabung di kelas ini.” Tubuhnya berputar, memberi instruksi pada cowok berkulit gelap untuk bangkit dari kursi yang didudukinya.

“Kim Jongin,” kata cowok itu. “Semoga kamu betah di SHS,” Senyumnya di ujung kalimat terkesan dipaksakan. Ia berlalu pergi bersama Oh Sehun.

Yang terakhir agak sedikit overreacted. Kedua sudut bibirnya tertarik sempurna sampai seluruh giginya kelihatan. “Namaku Park Chanyeol. Aku juga anak baru di kelas ini, Sob. Pindahan dari kelas lain. Salam kenal,” Dia menepuk bahuku sebelum mengekor Jongin.

Aku bukan sobatmu,’ cemoohku dalam hati sambil mengamati kepergian mereka.

“Mereka semua atlet sepakbola,” kata Doyoung. Aku sampai lupa kalau dia masih ada bersamaku.

“Heum, begitu.”

“Kamu sebaiknya nggak terlalu berurusan dengan mereka.”

Aku menoleh pada Doyoung, “Kenapa? Jangan bilang kalau mereka tukang bully.”

Setengah tertawa, Dooyoung menimpali, “Bukan. Mereka bukan tukang bully. Mereka cuma nggak peduli dengan lingkaran di luar mereka.” Cowok itu berdiri, membetulkan posisi kacamatanya, “Kalau kita nggak buru-buru, kita nggak akan dapat kursi di perpustakaan.”

Aku mengangguk. Mengikuti langkah Dooyoung meninggalkan kelas. Mereka cuma nggak peduli dengan lingkaran di luar mereka. Tapi, Doyoung bilang kalau Hana adalah gebetan Sehun…

Hana bergabung dengan anak-anak seperti itu?

하나

Hana

Bibirku terkatup selama beberapa saat setelah tamu yang kujamu pergi. Tergeletak di atas meja bingkisan yang dibawa tamu tadi. Begitu melihat kondisiku yang kurang sehat, eomma Kyungsoo langsung pamit setelah memberiku beberapa nasihat.

Mustahil sehat kembali kalau begini caranya.

Aku tidak bisa memberi salam sempurna pada Bibi Do. Suaraku tercekat di tengah tersendatnya saluran pernapasan di hidungku. Wanita itu masih sama. Dengan gaya kasual dan rambut pendek serta senyum ramah persis milik Dyo. Tak kusangka aku akan melihatnya lagi. Sosok tempat pelarianku saat eomma marah-marah padaku. Wanita lembut yang juga ibu dari mantan ingusanku. Suaranya masih bergema di telingaku tadi, dia bilang akan menyuruh Dyo kemari menjengukku.

Demi apa pun yang kumiliki sekarang, aku gemetar hebat. Pandanganku mengabur karena bola mataku mulai basah. Aku menarik napas panjang. Tidak apa-apa. Tidak apa-apa. Kuyakinkan diriku berulang kali. Anggap saja mereka teman lama yang kembali ke sini.

Past is just a past. Masa lalu adalah masa lalu. Tidak ada jaminan Dyo masih mengingatnya. Mungkin kami bisa berkenalan sebagai orang baru. Lagipula apa yang dibanggakan dari kenangan kami?

Aku bangkit, meraih bingkisan oleh-oleh dari Bibi Do dan memindahkannya ke dapur. Melangkah gontai menuju kamar dengan kondisi hidung yang semakin menyiksa saja. Kukunci pintu kamar rapat-rapat. Furin di atas jendela berdenting. Melihatnya aku jadi ingat sesuatu yang penting.

“Ah, sial! Aku belum mandi!” Aku bergegas mengambil ikat rambut di atas meja riasku. Masih sempat mata ini kuarahkan pada pemandangan di luar jendela kamarku saat mengikat rambut. Kalau dia kembali memakai kamar lamanya, berarti…

Aku menghampiri jendela, menutup daunnya dengan kasar. Menatap tajam ke kamar seberang jalan. Nggak akan ada yang berubah setelah ini, ‘kan? Baiklah, anggap aja kami baru mengenal satu sama lain.

Mereka bohong kalau datang seusai jam sekolah. Ini masih pukul dua siang dan kaki mereka sudah menginjak teras rumahku. Mereka tidak bertiga, tapi berlima. Hyesoo, Yerin, Sehun, Jongin dan Chanyeol.

Ah, si brengsek ini yang membuatku bertengkar sama Hyesoo.

Park Chanyeol sama sekali tak merasa bersalah atau lebih tepatnya tidak tahu kalau dia merupakan sebab musabab aku dan Hyesoo cekcok kemarin. Ia duduk di lantai dengan gaya santai seperti biasanya. Memakan beberapa camilan yang seharusnya tidak dimakan orang sakit.

Sebenarnya Hyesoo ngajak mereka ke sini untuk menjengukku atau berpesta?

Sehun dan Jongin duduk di sofa. Jongin memang terlihat mengantuk setiap saat, begitu juga kali ini. Matanya setengah redup sambil mengutak atik ponselnya. Punggungnya bersandar malas ke sofa. Mulutnya sesekali bergumam tidak jelas. Sehun yang paling normal. Dia pantas digilai gadis sejagad SHS. Gaya duduknya sopan, pembawaannya tenang dan yang terlihat paling mengkhawatirkanku.

“Sudah makan?” tanyanya.

“Sudah,” jawabku singkat.

“Minum obat?”

“Eung,” Aku mengangguk.

“Kamu salah nanya, Bung,” celetuk Chanyeol, “Udah mandi, Han?”

Mata sayuku membulat sempurna. Kalau dalam keadaan sehat wal’afiat, aku sudah melempar bantal duduk ke cowok berambut keriting itu. Sehun menyenggol Chanyeol cukup keras sampai badannya oleng. Anehnya tawa cowok Yoda itu semakin meledak.

“Wangi, ‘kok. Dia pasti sudah mandi,” sambung Jongin yang melirik sekilas lantas kembali terpaku ke layar ponselnya.

Sialan si Jongin! Aku nyaris mengendus tubuhku sendiri gara-gara ucapannya.

“Kalau kamu main game terus, matamu bisa rusak, Jong!” Sehun menjambret ponsel Jongin dengan sekali sentakan. “Aku nggak mau punya striker yang matanya rabun!”

“ARGH! Lagi seru, Hun! Aku udah sampe level ketemu rajanya, kembalikan!” Kali ini Jongin terlihat cukup bugar untuk mendapatkan ponselnya. Tangan kanan Sehun terlalu tinggi untuk digapai sementara tangan kirinya menahan muka Jongin supaya menjauh.

“Kusita sampai nanti,” Sehun bersikeras.

Chanyeol lebih jahil lagi. Ia mengambil ponsel Jongin dari tangan Sehun dan mendudukinya di lantai. “Aku kentut, lho. Kalau dipakai sekarang masih bau, Jong!” godanya.

“Kalian breng—“

Belum selesai Jongin mengumpat, Sehun sudah membungkam mulutnya dengan bantal duduk. Karena frustasi, energi Jongin melemah dan ia bersandar pada sofa dengan raut muka kusut.

Language,” Sehun mengingatkan.

Mau tak mau aku tersenyum tipis. Pemandangan ini lumayan menghibur dan melepaskan sejenak pikiranku dari Dyo. Mataku beradu dengan milik Sehun dan cowok itu tersenyum hangat. Jujur saja itu membuatku sedikit salah tingkah. Untungnya ada Hyesoo yang muncul dari dapur bersama Yerin dengan nampan berisi minuman. Hyesoo sudah dianggap anak sendiri oleh eomma-ku. Saat dia kemari, dia bebas melakukan apa saja, termasuk memasak dan menginap.

“Dasar cowok-cowok nggak tahu malu! Aku ngajak kalian ke sini buat jenguk sahabatku yang sakit, bukan bikin onar,” Hyesoo mendesis sambil meletakkan nampan di atas meja.

Yerin di sebelahnya terkekeh, “Image kalian pasti rusak kalau kita menyebarkannya.”

“Sebarin aja, nggak ada bedanya,” timpal Jongin yang masih emosi, melotot ke arah Yerin.

“Oh, begitu. Kapan-kapan deh,” Seakan tak mau kalah, Yerin juga memberikan tatapan mematikan untuk Jongin.

“Jadian aja deh kalian. Tiap hari marahan terus. Jangan membenci kalau mencintai,” Chanyeol berlagak sok dewasa. Saat tangannya meraih segelas minuman, Yerin memukulnya dengan keras. “Ouch! Sakit, Ketua,” rengeknya sambil mengelus-elus tangannya.

Hyesoo menggelengkan kepalanya, “Sehun, kontrol anak buahmu dengan baik atau kuusir mereka sekarang.”

“Ugh, takut~” kali ini Chanyeol bergidik.

“Tapi, tuan rumahnya ‘kan bukan kamu, Hyesyuuuya~” Jongin mengejek.

Behave, Guys,” Sehun menengahi. “Maaf, Hana. Jadi bikin kamu nggak nyaman sama kelakuan mereka.”

Aku menggeleng pelan, “Nggak masalah, ‘kok. Makasih banget kalian udah nyempatin waktu buat menjengukku,” kataku benar-benar tulus.

“Hana, tadi di kelas ada anak baru yang—“

“—Hana, eomma-mu ke mana?” Hyesoo memotong kalimat Yerin.

“Kursus bikin pastry. Mungkin sebentar lagi pulang. Kalian bolos, ya? Katanya ke sini pulang sekolah.”

Semua mata seretak melirik ke arah Sehun. Cowok itu hampir tersedak minumannya sendiri, “Kenapa kalian menatapku bersamaan?”

“Halah, nggak usah ngeles, Sob,” Chanyeol mengibaskan tangannya, matanya beralih padaku, “Dia udah nggak sabar buat ketemu kamu, Han. Apalah artinya membolos sekolah. Tapi, tenang aja kami nggak bolos. Setelah ini kami ada urusan cari sponsor buat kegiatan orientasi. Sayang banget kamu nggak bisa ikut,” cerocos Chanyeol yang membuat Sehun mati kutu.

Untuk mencairkan suasanya yang kaku (karena aku juga nggak suka hal-hal berbau romantis), aku berujar pelan, “Aku bukan anggota SC, tentu aja aku nggak bisa ikut.”

Mendengar itu, Sehun mengernyit, “Aku udah pernah minta kamu buat mempertimbangkan posisi sekretaris di SC. Kamu nggak minat?”

Ah, sial. Kenapa aku bisa lupa bagian itu. Sehun satu tipe dengan Hyesoo (yang aku heran kenapa bukan mereka aja yang jadian), dia tak suka dibantah dan pantang mundur dalam memperjuangkan sesuatu. Bukannya aku merasa diperjuangkan, hanya saja memang benar adanya kalau Sehun tak akan berhenti memintaku sampai jawaban ‘iya’ yang ia dapatkan.

“Masih kupikirkan,” jawabku singkat. Aku tidak suka tatapan matanya sekarang. Seolah hanya kami berdua yang ada di ruangan ini. Dengan delapan pasang mata yang mengamati kami berdua beradu tatapan, aku berdeham, “lagipula kamu belum terpilih secara resmi.”

Sehun mengangguk, syukurlah matanya kali ini beralih ke meja.  “Kalau begitu kalau aku jadi ketua yang resmi, kamu terima tawaranku?”

“Iya,” Itu Hyesoo yang menjawab. Wajahnya sumringah saat menatap air mukaku yang shock setengah mati. Mulutku komat kamit, ‘apa maksudmu?’ Tapi, bukan Hyesoo namanya kalau tidak bisa menarikku ke titik terendah. Sebagai seorang sahabat, aku menyesal memaafkannya kali ini. “Hana pasti mau. Ya, ‘kan? Kamu juga udah janji sama aku mau gabung ke SC buat nemenin aku.”

“Hah? Kapan?” tanyaku bego.

“Saat aku diterima di klub menari, kamu udah setuju. Jangan lupakan janji kecil kita. Tahun ini kami akan membantumu bersosialisasi,” celotehnya panjang lebar.

Klub menari tidak sama dengan klub pemandu sorak. Tapi, memang banyak anak dari klub menari bergabung menjadi pemandu sorak. Hyesoo juga termasuk golongan dari anak-anak itu. Untuk menyemangati Chanyeol katanya. Picisan! Batinku.

“Tapi, aku nggak tergabung di klub mana pun, jadi kurasa aku nggak bisa masuk ke SC,” elakku lagi. Memangnya aku kuper sampai Hyesoo harus membantuku bersosialisasi?

“Kamu bisa gabung ke klub kami. Klub menulis. Ada Junmyeon di sana. Kita bisa mengurus majalah sekolah bersama-sama,” Yerin mengusulkan.

Kali ini Jongin menjentikkan tangannya, “Benar. Klub menulis. Oh Sehun kami sangat menyukai gaya tulisan kamu, Hana,” Rupanya dia sedang melakukan serangan balas dendam.

Aku terpaksa menahan wajahku yang mulai mengeras. Entah siapa yang akan kujitak dengan tanganku kali ini.

“Kalau kamu nggak mau mempertimbangkan usulanku, seenggaknya kamu mempertimbangkan masukan Yerin,” sambung Sehun. Kalau dia malu setelah Jongin meledeknya, tanda-tanda itu tidak ada sama sekali di wajahnya.

Hyesoo meraih tanganku dan menggenggamnya erat-erat. Ia berbisik di telingaku, “Jangan melukai hatinya,” Matanya penuh sinar kebahagiaan setelah berhasil menjerumuskanku dalam jurang terdalam.

Gadis laknat ini! geramku dalam hati.

Aku mengangkat bahu, berpikir sejenak. Tidak ada salahnya sih mengubah hari-hari monotonku dengan sesuatu yang baru. “Oke,” aku mengangguk, “akan kupertimbangkan.”

Yeah! Bersulang untuk Hana!” Chanyeol sudah mengangkat gelasnya tinggi-tinggi. Apa dia lupa kalau aku nggak ikut minum sirup dingin itu? Yang lain ikut mengangkat gelasnya termasuk Sehun. Ia membubuhkan senyum manis sebelum meneguk isi gelasnya.

Eomma~ anakmu sepertinya meleleh di sofa.

“Eh, kalau kita kesorean bisa-bisa batal menemui sponsor,” Yerin mengingatkan. Semuanya setuju, aku hendak berdiri tapi Hyesoo mencegahku.

“Aku saja yang beresin ini semua. Woy, Park Chanyeol, punguti remah-remah camilanmu!” perintahnya. Aku sedikit terkejut Hyesoo bisa galak dengan cowok yang disukainya. “Jongin, bawa nampan ini ke belakang. Cuci gelasnya,” sambungnya.

Apah?! Ogah!” Jongin langsung bersedekap.

“Cuci atau nggak kukembalikan ponselmu,” ancam Chanyeol sambil mengacung-acungkan ponsel Jongin yang tadi didudukinya.

Sh*t!” Jongin bangkit dan menuju dapur bersama Yerin.

Language, Pesek!” Sehun memperingatkan lagi. Jongin hanya mengangkat jari tengah tangannya ke udara.

Setelah agenda bersih-bersih selesai, semuanya sedang memakai jaket untuk melanjutkan kegiatan mereka selanjutnya. Di ambang pintu, Hyesoo bertanya padaku. “Itu di dapur oleh-oleh dari siapa? Kok ada label Busan-nya?”

Hatiku kembali menciut setelah ceria beberapa saat tadi. “Tetangga. Untuk Eomma-ku,” jawabku singkat.

“Oh,” Untungnya hanya itu reaksi Hyesoo.

Mereka sudah memberi salam dan menuju sepeda motor masing-masing ketika aku teringat sesuatu. Mataku terpaku pada rumah Dyo di seberang sana. ‘Bibi akan suruh Kyungsoo ke sini menjengukmu sepulang sekolah nanti.’

“Maaf, Sehun. Boleh aku ikut pergi sama kalian?”

Keesokan harinya, eomma marah-marah. Jelas dia marah kalau aku meninggalkan rumah tanpa pamit. Sehun mengantarku pulang dengan selamat sekitar pukul delapan malam. Aku sengaja mengikutinya ke mana pun dia pergi menemui sponsor bersama yang lain. Meski cowok itu sangat-sangat khawatir dengan kondisiku yang loyo, Sehun berusaha menjagaku. Tangannya bahkan nyaris menggandengku sepanjang jalan kalau Hyesoo tak melakukannya lebih dulu.

Awalnya Sehun menolak aku ikut, tentu saja.

“Kamu ‘kan masih sakit, Hana. Yakin mau ikut?” tanyanya sebelum aku masuk mengambil jaketku.

“I-iya. Aku sumpek di rumah. Eomma juga nggak pulang-pulang. Boleh ‘kan aku ikut?”

Anak-anak yang lain bertukar pandang dalam diam. Hanya Sehun yang melangkah mendekat, “Nggak. Sorry, tapi kamu butuh istirahat,” tolaknya tegas.

Setengah berbisik, aku menambahkan kalimat tanpa berpikir lagi, “Aku mau jadi sekertaris SC.”

“Ya, kalau aku terpilih secara res—“

“—nggak,” potongku, “mulai sekarang aku mau. Asal aku boleh ikut kalian. Aku mau tahu cara kerjanya anak-anak SC,” sambungku dengan mantap. Pikiran bodoh macam apa ini. Demi menghindari Dyo aku melakukan ini.

Sehun termenung beberapa saat. Kemudian dia mengangguk, “Kalau merasa nggak enak badan lagi, langsung bilang aja. Aku antar kamu pulang secepatnya.”

Aku mengangguk.

Dan kini aku menyesal!

Pertama, meskipun eomma menerimaku dengan baik saat Sehun mengantarku pulang dan minta maaf berulang kali karena mengajakku pergi, kali ini omelan eomma tak bisa dihentikan. Dia sedang menelpon appa untuk melaporkan kebandelanku. Tentu saja eomma nggak percaya kalau Sehun yang mengajakku. Ibu mana yang nggak tahu isi hati anaknya. Aku jadi merasa tak enak pada Sehun. Dia rela berbohong supaya aku tidak kena masalah.

Kedua, hal bodoh yang kulakukan sia-sia. Eomma bertanya oleh-oleh berlabel Busan itu dari siapa, kujawab itu dari Bibi Do. Dan eomma mengomel lagi karena aku tak langsung memberitahunya. Saat kuberanikan diri bertanya apa Dyo datang ke rumah, eomma menggeleng masih dengan marah-marah.

‘Jadi Dyo tidak kemari. Kenapa aku sampai harus berjanji yang tidak-tidak pada Sehun. Tsk, bodoh.’

Eomma akan mengantarmu ke sekolah,” Eomma berujar saat menuangkan susu cair ke gelasnya.

“Nggak usah, Ma. Aku mau berangkat sendiri naik bus.”

“Tidak ada penolakan!” sahut eomma galak. “Atau sebaiknya kamu istirahat sehari lagi. Appa malah marah-marah pada eomma karena meninggalkanmu sendirian,”

“Oke, oke,” jawabku lemah sambil mengaduk serealku.

Seberapa burukkah hari ini?

Jawabannya menungguku di koridor sekolah. Hyesoo menyambutku dan merangkulku dengan gugup. Ia minta maaf berulangkali karena dia tahu eomma pasti mengomeliku.

“Aku tahu Bibi Jung nggak bisa kompromi dengan kebohongan. Aku benar-benar minta maaf. Seharusnya aku nggak ngebolehin kamu ikut. Dasar Sehun, kenapa dia mengiyakan sih?! Kamu udah baikan?”

Aku mengangguk lemah dalam rangkulan Hyesoo, “Kamu nggak perlu minta maaf dan lagi jangan salahin Sehun. Aku yang maksa buat ikut kalian.”

Tsk. Tetap aja… Aku benar-benar minta maaf. Aku nggak sempat cerita ke kamu kemarin. Percaya sama aku, Hana. Aku melakukannya biar kamu nggak kepikiran,” celoteh Hyesoo.

Langkahku berhenti, “Apa maksudnya?”

Hyesoo tampak panik dan menghindari tatapanku. Kali ini ia meremas-remas tangannya dengan gelisah. “Tadinya aku mau cerita begitu sampai rumah semalam, tapi aku tahu kamu pasti lagi dimarahin sama Bibi Jung.”

“Hyesoo, kamu kenapa sih? Chanyeol berbuat sesuatu, ya?” tebakku asal.

Demi Tuhan! Bukan itu Hanaaa~” Hyesoo semakin gemas sendiri. “A-ada anak baru di kelas kita,” sambungnya gugup.

“Oh, anak baru. Yerin juga kayaknya bilang begitu kemarin, ya?”

“Ya, makanya aku nggak mau bahas.”

“Kenapa? Memangnya ada yang salah?”

Napas Hyesoo naik turun dengan tak teratur. Ia menatapku dengan khawatir. Tangannya meraih lenganku dan menuntunku berjalan ke kelas.

“Lepas, ah. Aku kayak pesakitan. Aku udah sehat, ‘kok. Ada apa sih?” tanyaku lagi.

“Ssshhh, tanyanya nanti aja. Lebih baik kamu lihat sendiri. Rasanya aku ingin menampar Junmyeon,” Ia mulai menggeram lagi.

Aku hanya geleng-geleng kepala. Bel masuk sebentar lagi berbunyi. Kami mempercepat langkah, meski sebenarnya langkah Hyesoo sangat menghambat sekali. Seolah sengaja mengulur waktu.

Kecurigaanku terjawab sudah. Tidak sampai memasuki kelas, tepat di ambang pintu, aku berpapasan dengannya. Sosoknya mematung, begitu pula aku. Aku tidak percaya dengan apa yang kulihat saat ini, dia juga kelihatannya sama denganku.

Mata bulatnya membuatku beku saat itu juga.

Dari semua sekolah yang ada di Gyeonggi, mengapa dia ada di sini? Tanpa kusadari, aku sudah menggigit bibir bawahku erat-erat. Aku tak bisa merasakan tangan Hyesoo di lenganku. Amarah menjalari sekujur tubuhku dan mengakar di ulu hati sampai aku tak tahu caranya mengontrol tatapan tajamku padanya. Dia tak seharusnya ada di sini. Aku seharusnya tak melihatnya. Kebetulan macam apa yang mempermainkan kami?

Sorot matanya berubah sedih.

“Ha-Hana?”

Jangan suara itu lagi. Aku tak mau mendengar suara itu lagi!

Bel berbunyi dengan nyaring, mengembalikan waktu yang agaknya berhenti sesaat. Aku menjauhkan tangan Hyesoo dari lenganku. Melangkah maju, melewati si pemilik bibir berbentuk hati tanpa sepatah kata pun, menuju kursiku dengan bisu.

∫… I blame on you, past the unreachable time
I blame on you, pieces of that day scatter
I blame on you, to the unreachable you

-tbc


Notes:

  • Maaf baru sempat posting cerita di sini…
  • Mohon maaf lahir batin ya, semuanya… ^^

 

© 2017 Yasmine

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s