[1] A Breath of Snow

A Breath of Snow

A Breath of Snow

Copyright © EnnyHutami’s fanfiction 2017

| Lenght : Series | Rating : PG-13 | Genre : Fantasy, Friendship, Romance |

| Cast : Kim Jisoo, Kim Taehyung, Kim Sojung, Yoon Dowoon and others |

| Disclaimer : Plot are mine |

Note : Yang suka silakan baca dan berikan tanggapan di kolom komentar serta like-nya. Bagi yang tidak suka dilarang keras untuk membaca dan bashing.

~œ Swinspirit œ~

CHAPTER 1

Dentingan bel terdengar di seluruh sudut sekolah, seketika murid-murid berhamburan keluar kelas dan memenuhi koridor begitu guru menutup kelas. Bel yang menandakan bahwa kelas dan seluruh kegiatan mengajar telah usai memang selalu ditunggu oleh murid-murid.

Kedua gadis yang duduk bersebelahan tersebut memang sudah membereskan seluruh barang-barangnya dan memasukkannya ke dalam tas ranselnya jauh sebelum bel berderang. Dan pada saat dering bel terdengar di telinga mereka, tanpa menunggu guru menyelesaikan kalimatnya, kedua gadis itu langsung pergi dengan berlari ke luar kelas.

Alih-alih meneriaki kedua gadis tersebut, guru yang berdiri di depan kelas hanya bisa menghela napasnya. Kim Jisoo dan Kim Sojung, kedua gadis tersebut sudah terlalu sering melakukan hal tersebut. Meskipun begitu, tak ada guru yang memberikan hukuman karena memang hal tersebut tidak melanggar peraturan sekolah. Toh bel sekolah sudah dideringkan.

Kim Sojung berhenti sejenak saat melihat seseorang lainnya berlari ke arahnya. Gadis itu pun meraih pergelangan tangan Kim Jisoo yang berlari di sebelahnya dan kemudian melambai ke arah laki-laki yang tengah berlari ke arahnya.

“Kenapa kalian cepat sekali?” tanya laki-laki tersebut dengan suaranya yang berat dan rendah, berbanding terbalik dengan wajahnya yang terlihat imut.

“Itu karena kau terlalu lambat, Yoon Dowoon!” tukas Jisoo seraya menjulurkan lidahnya.

Jisoo dengan Dowoon memang sering sekali bertengkar. Keduanya sama-sama jahil dan agaknya kekanakan. Dan Sojung lah yang biasanya menengahi dengan merubah topik pembicaraan.

“Ayo cepat! Sebelum Taehyung keluar!” Ujar Sojung menengahi, lalu mulai berlari seraya merapatkan syal putih yang melilit sekitar lehernya.

Bulan November adalah hari spesial untuk temannya, Kim Taehyung, dan Jisoo, Sojung serta Dowoon merencanakan kejutan kecil. Keempatnya telah menjadi teman sejak pertama masuk di kelas satu dan dekat sejak itu. Namun, berbeda dengan Jisoo dan Sojung yang telah berteman sejak kecil. Keduanya bahkan selalu bersekolah di tempat yang sama dan beberapa kali ditempatkan di kelas yang sama.

Banyak yang bertanya-tanya apakah mereka saling menyukai atau tidak karena keempatnya sangat dekat. Namun hingga saat ini keempatnya tidak memikirkan hal tersebut. Bahkan Sojung dan Dowoon masing-masing telah mempunyai kekasih. Kekasih Dowoon merupakan adik kelas mereka, dan kekasih Sojung adalah seorang senior yang kini sudah berkuliah.

Sesampainya mereka sampai di rumah Taehyung, ketiganya menyapa ibu Taehyung yang menyambut mereka dengan ramah, menyembunyikan sepatu mereka, dan naik ke lantai dua ke kamar Taehyung. Sebelumnya Sojung telah memberitahu ibu Taehyung terlebih dahulu sehingga rencana mereka dapat terlaksana dengan sukses.

Merias sedikit kamar Taehyung dengan hiasan ulang tahun dan beberapa balon helium yang sebelumnya telah disiapkan oleh ibu Taehyung (yang sangat-sangat baik karena telah membantu) mereka pun mematikan lampu dan menutup tirai kamar Taehyung hingga segelap mungkin.

Dowoon memegang kue yang telah ia pesan dua hari sebelumnya dan ibu Taehyung yang mengambilnya. Sedangkan di sebelahnya, Jisoo dan Sojung telah bersiap dengan terompet kecil.

Tak lama, terdengarlah suara Taehyung dan sahutan ibunya dari arah dapur. Kemudian terdengar pula langkah kaki menuju kamar. Begitu Taehyung membuka pintu dan menyalakan lampu kamarnya, “SURPRISE!” teriak Dowoon, Jisoo dan Sojung bersamaan.

Mendapat kejutan dari ketiga teman dekatnya, mau tak mau Taehyung pun tersenyum dan agaknya menitikkan air mata. Dan ketiga temannya itu pun tertawa melihat reaksi Taehyung, kemudian menyolekkan krim kue ke wajah Taehyung.

Kim Jisoo mengenggam tangannya sendiri dan berdoa dalam hati sepanjang sang guru di depan kelasnya memanggil satu persatu nama dan membagikan hasil ujian. Ia belum pernah berdoa seperti ini sebelumnya, tetapi kali ini ia berdoa keras dalam hatinya karena ia perlu mendapatkan nilai bagus untuk mengimbangi Sojung.

“Kim Jisoo,” begitu namanya dipanggil, ia menoleh pada Sojung yang duduk di sebelahnya dan melayangkan wajah ngeri. Dan Sojung membalasnya dengan senyum dan menyemangati temannya itu.

Jisoo berdiri dan berjalan menghampiri gurunya dengan takut-takut. Sebelumnya ia tidak pernah sebegini takutnya karena ia bisa dibilang cukup cuek untuk masalah nilai. Namun, kali ini, karena akan menentukan kemana ia akan melanjutkan pendidikan, dan ia ingin pergi ke universitas yang sama dengan Sojung yang selalu menjadi juara kelas itu, maka ia benar-benar belajar dengan keras kali ini.

“Selamat, Kim Jisoo.” Ucap guru yang merupakan wali kelasnya tersebut dengan senyum bangganya. Bangga karena murid yang selalu tidur di kelas ini akhirnya mendapatkan hasil yang baik.

Jisoo melihat nilainya sendiri dan tersenyum sangat lebar. Mendapat peringkat tujuh di seluruh sekolah! Ini adalah pertama kalinya dan akan menjadi terakhir kalinya juga karena ujian ini adalah yang terakhir.

Kemudian Jisoo kembali ke bangkunya dan Sojung menyambutnya sama bahagianya dengan Jisoo. “Suguhaera, Kim Chichoo (Kau berkerja keras),” ujarnya seraya menyenggol lengan Jisoo dengan memanggil Jisoo dengan nama panggilan khususnya.

“Kim Sojung,” kali ini giliran Sojung yang dipanggil. Dan raut wajah senyum cerah dari wali kelasnya sudah sangat jelas. “Kim Sojung mendapat peringkat satu lagi!” ujarnya dengan sangat bangga. Fakta bahwa dua murid di kelasnya menempati peringkat sepuluh besar dari tujuh kelas yang rata-rata berisi tiga puluh murid.

Sojung pun mengambil kertas hasil ujiannya dan membungkuk sopan juga menyalurkan rasa terimakasihnya pada sang guru, lalu kembali ke kursinya.

“Perlu aku memberimu selamat?” tanya Jisoo dengan gurauannya. Lalu, “Setiap saat kau kan selalu mendapat peringkat pertama.”

Sojung menggelengkan kepalanya. “Kau harus tetap memberiku selamat.” Ia menjawab. Lalu mengecilkan volume suaranya sedikit lebih pelan karena sang wali kelas tengah berbicara di depan kelas setelah selesai membagikan hasil ujian. “Sahabat macam apa kau.” Ujarnya, balik melontarkan gurauan seraya berakting sinis.

Namun pada akhirnya, keduanya saling tertawa dan Jisoo mengucapkan selamat pada Sojung. Lalu keduanya diam ketika merasa seluruh mata di kelas tertuju kepada mereka berdua untuk sesaat karena wali kelasnya tengah membicarakan mereka berdua.

Seusai sekolah, Kim Jisoo, Kim Sojung, Kim Taehyung dan Yoon Dowoon berencana untuk pergi ke restoran fast food karena Taehyung yang berjanji untuk mentraktir ketiga temannya itu. Di dekat sekolah mereka, ada satu restoran khas Amerika tempat mereka biasa sekedar menghabiskan waktu yang menyediakan makanan seperti sandwich, hot dog, serta hamburger dengan cola atau orange juice.

“Setelah ini kalian akan pergi kemana?” Sojung bertanya, membuka topik percakapan dengan menanyakan apa yang akan dilakukan ketiga temannya setelah lulus dari sekolah.

“Sojung-a, kau akan mendaftar di Universitas Taesan, ya?” Dowoon bertanya dengan suara beratnya. Dan Sojung mengangguk.

“Ah, aku dengar masuk ke Universitas Taesan sangat sulit.” Rengek Jisoo yang memang ingin sekali masuk di Universitas yang sama dengan Sojung. Lalu, “Taehyung! Kau juga ingin masuk di Universitas Taesan, bukan? Kau dapat peringkat dua kan?”

Taehyung mengangguk seraya menyedot cola dengan sedotan. “Aku tidak tahu. Masih belum memikirkannya.” Katanya santai, membuat Jisoo mendengus.

“Aku juga akan mendaftar di Universitas Taesan!” Seru Dowoon bersemangat. Kemudian ia memakan hotdog yang dipesannya dengan ukuran besar.

Dibanding ketiganya, Yoon Dowoon sama sekali tidak tertarik dengan nilai akademiknya. Lelaki itu sangat mencintai musik dan band sekolahnya juga sering tampil serta memenangkan banyak perlombaan. Dengan prestasinya itu, tentu saja Dowoon bisa lolos dengan mudah di Universitas Taesan untuk departemen musik. Terlebih lagi ia bisa memainkan drum, gitar, serta piano. Namun, ia tidak bisa bernyanyi. Maka dari itu, Jisoo sangat iri dengan Dowoon.

“Jisoo, kenapa kau tidak mengambil departemen sastra Korea? Kau kan suka membaca.” Sojung menyarankan. Lalu, “Dan kau bisa menjadi penulis.” Ia melanjutkan.

Mendengar Sojung, mata Jisoo kembali bersinar. “Aku tidak pernah berpikir ke sana! Yang kupikirkan hanyalah kedokteran, teknik, hukum, ekonomi, psikologi, dan lainnya yang sangat populer.” Celotehnya.

“Lalu kau akan menulis artikel tentang bandku yang akan menjadi populer! Itu keren!” Dowoon menyambar yang mendapatkan tatapan tajam dari Jisoo.

“Aku tidak akan pernah menulis artikel tentangmu.” Sahut Jisoo dengan mata menyipit pada Dowoon, yang membuat lelaki itu langsung mencubit pipi Jisoo keras-keras. Seperti biasanya, Dowoon dan Jisoo selalu menggoda satu sama lain dan meributkan hal-hal kecil.

“Bukankah kau tertarik dengan kesehatan, Taehyung?” Sojung membuka suara lagi, mencoba menengahi Jisoo dan Dowoon karena tidak dihentikan, mungkin Jisoo akan melempar bangku di sebelahnya ke arah Dowoon.

Taehyung menganggukkan kepalanya.

“Mendaftar di departemen kesehatan saja. Aku juga akan mendaftar di kedokteran.” Sojung melanjutkan.

Taehyung terlihat berpikir sejenak seraya mengunyah sandwichnya. Meskipun begitu, Taehyung masih terlihat sangat tenang. Lalu, “Akan kupikirkan.” Jawabnya.

“Wow!” Seru Jisoo. “’Murid peringkat satu dan dua di Sekolah Hannam masuk di departemen kedokteran di Universitas Taesan’ judul artikel yang bagus untuk majalah sekolah, bukan?” kemudian ia menanyakan pendapat ketiga temannya, seakan-akan ia akan membuat sebuah artikel pada majalah atau surat kabar.

“Bahkan kau tidak mengikuti klub majalah sekolah, bodoh.” Kritik Dowoon, yang lagi-lagi mendapat jitakan di keningnya oleh Jisoo.

Pagi ini dengan syal putih kesukaannya yang melilit di lehernya, Jisoo menunggu ketiga temannya, Sojung, Taehyung, dan Dowoon di depan sekolah. Ia membiarkan rambut hitamnya terurai menutupi punggungnya dan sedikit mengenakan riasan wajah.

Ia merapihkan seragamnya. Karena hari ini adalah hari terakhir ia akan mengenakan seragam sekolahnya untuk upacara kelulusan. Di seberang jalan, ia melihat Taehyung yang baru saja turun dari bus dengan mengenakan syal yang berwarna sama dengan yang ia kenakan. Ia pun segera melambaikan tangannya pada Taehyung.

“Selamat pagi, Dokter Kim.” Goda Jisoo begitu Taehyung sampai di depannya.

Tiga hari yang lalu, pengumuman sudah keluar dari masing-masing universitas. Dan sesuai harapan, Jisoo, Taehyung, Sojung dan Dowoon lolos tes tulis dan praktek, serta interview di Universitas Taesan pada masing-masing departemen. Keempatnya akan berada di satu sekolah lagi.

Kemudian Dowoon dan Sojung yang memang berada di satu kawasan datang bersamaan. Dowoon mengenakan syal berwarna hitam dan Sojung yang mengenakan syal merah pemberian kekasihnya. Keempatnya mengenakan syal karena untuk melindungi leher mereka dari dinginnya angin musim dingin yang akan membuat mengigil. Dan syal merupakan salah satu aksesoris kesukaan Jisoo.

“Tinggi kalian sama!” Teriak Jisoo saat Dowoon dan Sojung berjalan bersama menghampiri Jisoo dan Taehyung. Dan mendengar teriakan Jisoo, Dowoon langsung minggir beberapa langkah menjauhi Sojung yang memang memiliki tinggi di atas rata-rata seorang gadis.

Mungkin karena memang hari ini adalah hari bahagia mereka, maka Taehyung pun ikut tertawa dan Dowoon berlari ke arah Taehyung lalu merangkulnya.

Taehyung dan Dowoon berjalan di depan dan Jisoo dengan Sojung berjalan di belakangnya. Seraya tertawa, keempatnya berjalan menuju sekolah.

Dalam upacara kelulusan, Sojung dan Taehyung dipilih untuk menjadi wakil murid dan memberikan pidato di atas panggung. Saat turun dari panggung, Sojung yang biasanya tidak gugup untuk menghadapi banyak orang, justru ia merasa gugup kali ini sehingga ia hampir saja jatuh jika Taehyung tidak menahannya.

Di kursinya, Jisoo yang melihat kejadian tersebut tertawa karena tak biasa melihat Sojung yang gugup. Namun, ia mendengar beberapa orang berkata, “Sudah kubilang, mereka saling menyukai.”

“Aku juga berpikir begitu. Bahkan mereka masuk di departemen yang sama di Universitas Taesan.”

“Bukankah Sojung punya kekasih? Senior yang sudah lulus, bukan?”

“Aku sudah merasa tatapan antara Sojung dengan Taehyung berbeda dibanding keduanya dengan Jisoo ataupun Dowoon.”

“Bohong kalau mereka tidak saling menyukai. Mereka berempat terlihat sangat dekat.”

Jisoo hanya bisa tersenyum mendengar orang-orang menggosipi kedua temannya itu. Memang diantara dia dan Dowoon, Taehyung dan Sojung terlihat paling tenang dan pintar. Dan ia tahu Sojung bukanlah tipe orang yang akan menghianati kekasinya. Lagipula, Sojung tidak pernah bercerita apa-apa.

Ketika Sojung kembali ke kursinya di sebelah Jisoo, gadis itu menghela napas lega dan menutup wajahnya karena malu. “Aku tidak tahu mengapa aku sangat gugup tadi padahal aku juga menjadi wakil murid saat upacara penerimaan siswa baru.”

“Sombong sekali,” decak Jisoo dan seperkian detik kemudian ia tertawa hingga keduanya tertawa bersama.

Setelah upacara kelulusan, berfoto dengan keluarga dan teman serta kekasih, masing-masing kelas memiliki acara lain di luar sekolah. Sebuah acara khusus untuk menambah kenangan masa sekolah mereka terutama dengan teman-teman sekelas. Jisoo menunggu Sojung di depan sebuah restoran yang telah dipesan oleh wali kelasnya karena Sojung yang sebelumnya diculik oleh sang kekasih entah kemana.

“Jisoo, kenapa masih di luar? Ayo masuk. Di luar dingin.” Salah seorang temannya yang baru saja datang menanyainya.

Jisoo pun menggelengkan kepalanya sembari merapatkan syalnya. “Aku menunggu Sojung.” Jawabnya sembari memamerkan giginya yang putih dan rata itu.

“Kalian benar-benar tak terpisahkan.” Ujar temannya itu lagi, menggeleng-gelengkan kepalanya sembari tersenyum mengingat Jisoo dan Sojung yang selalu bersama setiap saat setiap waktu. Lalu, “Aku masuk duluan, ya?” lanjutnya dan begitu Jisoo mengangguk, ia langsung masuk ke dalam restoran.

From: Uri Sopabbo

Kau dimana, Choo?

Mendapat KaTalk dari Sojung, ia pun segera menelpon teman baiknya itu. “Miss, where are you?” tanya Jisoo begitu telponnya dijawab. Lalu, “Cepatlah menyebrang, aku kedinginan di luar.” Lanjutnya seraya berjalan menuju jalan depan dimana Sojung baru saja keluar dari stasiun subway.

“Bagaimana dengan sunbaenim? Kalian pergi ke mana?” ia bertanya karena tidak sabaran untuk mengetahui apa yang dilakukan kedua sejoli yang jarang sekali bertemu itu.

Seraya terus berjalan, Jisoo mendengarkan cerita Sojung dengan sesekali menanggapi kecil. Bisa terdengar bahwa sahabatnya itu sangat bersemangat saat menceritakan apa yang ia lakukan dengan kekasihnya itu.

“Kenapa?” Jisoo bertanya saat Sojung mengatakan sesuatu seperti ‘sebentar’ dan setelah itu tidak terdengar suara Sojung berbicara. Dan ternyata Sojung tengah mencoba membantu seorang nenek untuk menyebrang jalan sehingga ia harus menyebrang jalan lagi. Dan saat Sojung hendak kembali, ia melihat Jisoo lalu melambaikan tangannya.

Mencoba mengejar lampu merah untuk pejalan kaki, Sojung pun melangkahkan kakinya lebih cepat dan nyaris berlari. Jisoo menurunkan ponsel dari telinganya dan balas melambai.

Tiba-tiba, entah darimana datangnya, sebuah mobil sedan melaju dengan kecepatan tinggi dan menabrak Sojung hingga gadis itu terpental ke atas mobil yang tak kunjung mengurangi kecepatan atau menghentikan mobilnya.

Masih setengah sadar, Sojung merasakan tubuhnya jatuh di atas aspal dan merasa sekujur tubuhnya remuk. Ia dapat merasakan sekujur darah merembes di badannya dan mendengar jeritan hingga akhirnya kesadarannya hilang.

─To Be Continue─

ps: Halo! akhirnya aku kembali setelah lama hiatus. apakah ada yg nungguin? atau udah pada lupa? hehe well, aku bawain satu FF baru, A Breath of Snow yang bakal jadi FF pertamaku di 2017. Aku gatau apakah ini bakal selesai mengingat banyak FF yang gak terselesaikan sebelumnya, dan itu bakal bergantung sama reaksi temen-temen sekalian. Enjoy reading~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s