Loving You : Part 1

yl

Poster By: Babythinkgirl @ Poster Channel 

Halo! Sudah lama author tidak mem posting apa-apa di ffindo.. Hehe.. Kali ini author kembali dengan story baru dan ini adalah part pertamanya! Please give a lot of love for it! Jangan lupa likes dan comment yaa!

Tolong untuk tidak mengcopy, merepost, ataupun memplagiat story ini tanpa ijin dari author~

Tolong juga berikan banyak dukungan, likes, dan comment disetiap stories author, supaya author bisa lebih bersemangat dan bisa memperbaiki diri untuk membuat stories berikut-berikutnya! Okay, Happy reading!

 

Part 1

 

*Lee Seun POV*

“Anneyeonghaseo, Kang Lee Seun imnida” kataku memperkenalkan diriku sambil memberikan senyuman terbaikku didepan kelas. Ya, aku adalah murid baru disini, murid pindahan dari Ilsan ke Seoul, dan ini hari pertamaku dikelas. Seisi kelas langsung berbisik-bisik, yang aku yakin tentang aku.

“Lee Seun ah, duduklah disana, disana ada bangku kosong” kata songsaengim padaku.

“Nae.” kataku sambil berjalan ke bangku yang ditunjuk tadi.

“Anneyeong, Park Ji Yeon imnida.. Bolehkah ku panggil Lee Seun ah..?” Kata teman sebangkuku menyapa dengan senyuman manisnya.

“Ah, Nae.. Boleh kok..” Jawabku ringan.

“Jujur saja Lee Seun-ah, sudah lama sekali tidak ada murid pindahan disini, anak-anak pasti membicarakanmu, apa lagi kau sangat manis..” katanya.

“Hahahaa.. Jangan mengada-ngada.. Justru kau yang dikategorikan sangat manis.” Jawabku.

“Tentu saja, Jiyeon kan maskot sekolah..” jawab seseorang yang belum aku kenal.

“Apaan sih?” jawab jiyeon sambil sedikit tertawa.

“O iya, panggil aku Jihyo.. Hehehe..” Kata nya sambil tersenyum.

“Oh, Nae Jihyo-ah..” Jawabku.

“Baiklah anak-anak, hari ini aku akan mengumumkan pengumuman kushus berkaitan dengan acara ulang tahun sekolah. Acara ulang tahun sekolah kali ini akan mengadakan lomba menyanyi dan fashion show, selain untuk memperingati ulang tahun sekolah, sekolah juga akan mengambil juaranya untuk mewakili sekolah dalam lomba tingkat kota” kata songsaenim menjelaskan.

“Wah, ini kelihatannya akan seru.. Siapa yang mau jadi wakilnya? Aku akan ikut dalam fashion shownya deh..” Kata Jiyeon tiba-tiba.

“Sang ketua kelas mulai beraksi..” ejek Jihyo

“Jiyeon? Ketua kelas?” tanyaku

“Iya, dia adalah ketua kelas kita. Face nya yang imut bahkan tidak cocok untuk jabatan itu kan?” Kata Jihyo yang membuatku terkekeh sambil mrlihat Jiyeon yang berada didepan mengumpulkan usul.

“Bagaimana kalau wakil menyanyinya Uee saja?” usul salah seorang.

“Iya, Uee kan selalu mendapat juara sejak dulu” kata seorang lagi.

“Uee lagi? Bukankah dia sudah mewakili kita di tahun pertama.. Apa yang lain tidak ingin mendapat kesempatan ?” Jelas Jiyeon dengan serius.

“Begini saja, bagaimana kalu kita mengikutkan Lee Seun untuk lomba menyanyinya? Kita kan belum tau kemampuan bernyanyi Lee Seun, lagi pula kita melakukannya untuk bersenang-senangkan” kata Jihyo tiba-tiba.

“Apa? Aku?” Tanyaku kaget.

“Benar juga, Lee Seun kamu saja.. Bagaimana?” Kata Jiyeon.

“Iya, Setuju” Kata anak-anak mulai bersahutan.

“Kalau begitu Lee Seun saja..” Kata Songsaenim.

“Anyaa.. Jangan aku..” gumamku.

“Lihatlah anak-anak sudah setuju.. Hehehe.. ” Kata Jiyeon.

“Kalau anak-anak sudah setuju maka anda harus menjalananinya..” goda Jihyo dan aku hanya bisa menggelengkan kepalaku.. Haish..

Istirahat..

“Lee Seun ah, ayo ke kantin.. Aku lapar.. Hehe..” Kata Jiyeon

“Iya, ayo..” ajak Jihyo juga

“Ah, nae.. Kamu tidak bersama temanmu yang lain?” tanyaku, biasanya kan kalau ketua kelas (Jiyeon) dan aktivis kelas (Jihyo) mempunyai banyak teman.. Dan biasanya mereka sangat famous..

“Kau kan juga temanku!” Jawabnya dan langsung menyeretku ke kantin tanpa basa basi lagi.

@Kantin

“Waeyo.. Aku tidak pandai bernyanyi..” Kataku frustasi mengenai lomba nyanyi tadi.

“Tenang saja, tidak pandai bernyanyi bukan berarti tidak bisa bernyanyi.. Hehehe..” kata Jiyeon sambil mulai memakan jatah makan siangnya.

“Lagi pula aku mendengar dari songsaenim kalau kamu mempunyai sertifikat menyanyi ya?” tanya Jihyo.

“Ah, I-iya sih.. Tapi itu kan vocal group.. Aku tidak pandai bernyanyi solo..” Jawabku,

“Sudahlah santai saja.. Akan ada pelatihannya kok.. Pelatih untuk tingkat sekolahnya kakak-kakak kelas, tapi nanti kalau tingkat kota akan dilatih oleh guru.. Tenang saja..” jawab Jihyo.

“Ooo.. Begitu..” jawabku singkat.

“Lee Seun-ah, kamu baru saja meminta seorang ketua osis menjelaskan prosedur lomba lhooo..” goda Jiyeon.

Oh Gosh.. Kamu ketua osis?” tanyaku kaget.

“Hahaha.. Waeyo? Kamu kaget?” tanya Jihyo balik sambil tertawa kecil.

“Yang satu ketua kelas.. dan yang satunya ketua osis.. Ya ampun, kurasa banyak ketua-ketua yang berteman denganku..” Jawabku dengan tertawa.

“Kali ini aku tidak yakin kelas XI-4 akan menang..” kata seseorang dari belakangku dengan ketus, bahkan terkesan menyindir.

“Hm?” aku bingung karena aku tidak mengenalnya.

“Ya!! Uee!! Apa sekarang kamu cemburu karena orang lain yang menggantikan posisimu? Kita melakukannya kan hanya untuk bersenang-senang, bukan berambisi dengan kemenangan” bantah Jiyeon

“Huh! Bersenang-senang sih memang, tapi aku hanya tidak ingin kelas kita ditertawakan saja..” Ejek Uee padaku

“Tenang saja aku akan berusaha semampuku”Jawabku mencoba sabar

“Jangan sok, hanya karena kamu mempunyai sertifikat, jujur saja aku yakin kamu tidak bisa melakukannya.. Harusnya kamu tau diri..” Kata Uee sangat menyakitkan.

“Uee, kamu keterlaluan” kata Jihyo

Aku sudah tidak tahan, aku langsung berdiri memegang tangannya dan memutarnya kebelakang lalu menguncinya dengan teknik jeet kune do ku sampai dia merintih karena sakit.

“A-Aduh!! Lepaskan aku, ini sakit sekali!!” Teriak nya

“Harusnya kamu minta maaf padanya!” bentak Jiyeon

“Kalian berdua, hentikan.. seperti orang bodoh saja bertengkar disini..” kata Jihyo menengahi kami

“Okay, tapi awas jika kamu melakukan hal seperti itu lagi” kataku, sambil menghela napas.. Akhirnya melepas genggamanku. Uee langsung pergi dari sana sementara Jihyo menenangkan aku dan Jiyeon.

“Lee Seun ah teknik apa itu tadi? Kenapa aku belum pernah belajar di tae kwon do ku?” tanya Jiyeon yang ternyata adalah anak tae kwon do, dia belajar banyak teknik-teknik tae kwon do.

“Itu tadi jeet kune do” jelasku dengan sedikit kaget.

“jeet kune do?” Jiyeon tidak mengerti

“Aliran yang diajarkan oleh bruce lee.. Teknik itu menggabungkan berbagai macam seni bela diri baik dengan tangan kosong maupun dengan menggunakan alat-alat.. Apa aku benar?” tanya Jihyo

“Ah, Nae..” jawabku.

“Hebat, Jihyo-ah bagaimana kamu bisa tau?” tanya Jiyeon kagum

“Ahaha.. Aku harus tau hal-hal seperti itu.. Kan itu masuk pengetahuan umum, jadi aku harus bisa.. Jangan lupa aku ketua osis..” Jawab jihyo sambil bercanda

“O iya, Soal yang tadi, kamu tidak perlu memikirkannya Uee mungkin hanya cemburu karena tempatnya yang biasanya menjadi idola kelas karena kejuaraan menyanyi mungkin akan diambil olehmu yang mewakili kelas tahun ini.” Jelas Jiyeon

“Oohh.. Sekarang aku mengerti kenapa dia seperti itu..” gumamku

 

Setelah pelajaran selesai hari itu kami anak-anak yang akan mengikuti lomba disuruh untuk ikut class meeting jadi aku, Jihyo dan Jiyeon pulang sedikit telat.

“Nae, itu saja pengumuman yang disampaikan.. Ada pertanyaan?” tanya Jihyo, sebagai ketua osis ia menangani hal-hal ini, ia juga yang mengurusi, bahkan sekarang ini dia ketua panitianya.

“Kalau tidak ada kita tutup rapat ini..” katanya

“Lee Seun ah, aku pulang dulu yaa.. Aku rasa aku sudah dijemput.. Anneyeong sampai jumpa besok..” pamit Jiyeon sambil menunjuk mobil berwarna hitam dan segera berlari kearahnya.

“Ah, Okay..” kataku sambil melambaikan tangan.

“Lee Seun, apa kamu mau pulang denganku?” kata Jihyo menawarkan aku naik sepeda motonya.

“Ah, tapi aku sudah menelpon orang tuaku” kataku.

“Oh.. Ya sudah kalau begitu.. Hati-hati..” katanya lalu meninggalkan aku.

Aku sendirian sekarang aku sedang menunggu jemputan tapi kenapa tidak datang-datang sih? Aku jalan-jalan saja dulu, atau berlatih menyanyi diruang musik..

@Ruang musik

“Wah..” gumamku tak kusangka ruang musik sekolah ini sangat bagus, malah sangat lengkap mulai dari alat musik band sampai alat musik orchestra dan akustik semuanya ada lengkap dan masih bisa digunakan.

Lalu aku melihat sebuah  gitar akustik yang bagus warnanya cerah sangat memikat. Jadi aku mengambilnya dan mulai menyusun beberapa chord gitar menjadi alunan lagu. Aku bernyanyi dan bahkan menyelesaikan lagu baru yang baru saja kutemukan disana.

*plok-plok-plok

Aku mendengar tepuk tangan? Tiba-tiba muncul seorang anak laki-laki dia mengenakan seragam SMA yang sama denganku, tubuhnya jakung, dan potongan rambutnya rapi, dia terlihat seperti seorang laki-laki idaman, apalagi terlihat jelas wajahnya yang tampan.

“Ah, Mianne.. Apa gitar ini milikmu? Aku tidak sengaja menggunakannya aku pikir..” kataku sambil membungkuk tapi tiba-tiba dia menyela

“Ah, Gitar ini memang milikku.. Tapi tidak pa-pa jika kamu menggunakannya asalkan gitar ku tidak rusak” gurau orang itu.

“Ah.. Nae..” kataku lega karena takut dimarahi atau semacamnya.

“Omong-omong, aku belum pernah melihatmu..?” kata orang itu tiba-tiba.

“Ah, Nae aku murid baru, kelas XI-4, Kang Lee Seun imnida.. Bagawayo..” kataku memperkenalkan diri.

“Oh.. Naneun Jungkook imnida.. Bagawayo..” katanya dengan senyuman yang menawan.

“Kelas?” tanyaku

“Kenapa apa kamu sudah jatuh cinta padaku? Sampai-sampai kau akan mengunjungiku dikelasku?” candanya.

“Mbo?” aku keheranan dengan apa yang dipikirkan orang ini.

“Hahaha.. Aku hanya bercanda.. Aku dari kelas XII-3..” jelasnya.

“Ohh..” kataku.

“Omong-omong apa yang kamu lakukan disini? Bukannya sekolah sudah bubaran dari tadi?” tanyanya.

“Ah, aku hanya sedang menunggu jemputan karena bosan aku berlatih menyanyi untuk acara sekolah.. bagaimana denganmu?” jelasku.

“Ohh.. Aku sih, sama denganmu aku juga berlatih menyanyi dan menari untuk acara sekolah.. tapi aku tidak sedang menunggu jemputan..” candanya lagi.

“Hahaha..” aku tertawa sesaat saja.

“Oh iya, tolong jangan panggil aku dengan kata-kata ‘kamu’ panggil saja dengan ‘oppa’ aku lebih senang dipanggil itu ‘Jungkook Oppa’ itu terdengar lebih baik menurutku” jelasnya.

“Nae.. Jung-kook oppa..” kataku sedikit canggung

Lalu dia mengacungkan jempol, tanda bagus lebih baik dipanggil seperti itu. Tiba-tiba ponselku berbunyi..

-Jung Kook POV-

“Oh.. Naneun Jungkook imnida.. Bagawayo..” kataku sambil tersenyum pada adik kelas yang baru kutemui ini.

“Kelas?” tanyanya.

“Kenapa apa kamu sudah jatuh cinta padaku? Sampai-sampai kau akan mengunjungiku dikelasku?” candaku.

“Mbo?” reaksinya kaget.

“Hahaha.. Aku hanya bercanda.. Aku dari kelas XII-3..” jelasku.

“Ohh..” katanya ringan.

“Omong-omong apa yang kamu lakukan disini? Bukannya sekolah sudah bubaran dari tadi?” tanyaku penasaran, kenapa bisa tiba-tiba dia ada di ruang musik.

“Ah, aku hanya sedang menunggu jemputan karena bosan aku berlatih menyanyi untuk acara sekolah.. bagaimana denganmu?” jelasnya singkat.

“Ohh.. Aku sih, sama denganmu aku juga berlatih menyanyi dan menari untuk acara sekolah.. tapi aku tidak sedang menunggu jemputan..” jawabku ringan.

“Hahaha..” lalu dia tertawa.. Mendengar dia tertawa rasanya ingin tersenyum.. Manis sekali dia.. Eh? Apa sih yang ada dipikiranku..?

“Oh iya, tolong jangan panggil aku dengan kata-kata ‘kamu’ panggil saja dengan ‘oppa’ aku lebih senang dipanggil itu ‘Jungkook Oppa’ itu terdengar lebih baik menurutku” Aku menjelaskan sedikit tentang hal yang dari tadi mengganjalku.

“Nae.. Jung-kook oppa..” katanya sedikit canggung tapi mendengarnya lebih baik jadi aku mengacungka jempolku. Lalu tiba-tiba ponselnya berbunyi.

“Anneyeonghaseo.. Ah?.. Nae.. Mbo?.. Aishh.. Ara-ara..” katanya singkat lalu menutup telepon.

“Waeyo?” tanyaku setelah melihat ekspresinya yang mulai berubah.

“Ah, aku harusnya sekarang ini dijemput tapi eomma ku dan appa tidak bisa menjemputku ada urusan pekerjaan mereka bilang aku harus pulang sendiri mereka bilang aku hanya perlu naik bus 1 kali dan meminta turun distasiun seoul lalu jalan ke rumahku.” Jelasnya.

“Ha? Mereka menyuruhmu pulang sendiri? Naik bus?” tanyaku kaget.

“Nae.. Waeyo? Tiap kali pindah aku sudah terbiasa pulang sendiri.. Dulu di Ilshan juga seperti itu..Tenang saja..” jelasnya sangat singkat dan ringan-ringan saja.

“Ya!! Pabo yaa.. Ini Seoul.. Bis itu akan berhenti berkali-kali tidak seperti di Ilshan yang rutenya sudah pasti..” jelasku.

“Jinjja? Aigoo.. Ottokae.. Aku tidak bisa pulang..” keluhnya.

“Mmm..” Kenapa aku nerveous?

“Biar kuantar, aku membawa sepeda motor kok..” kata-kata itu tiba-tiba kluar dari mulutku, padahal sebelumnya belum terpikirkan dan kenapa aku nervous mendengar apa jawabanya..?

“Eh, tapi..” dia ragu-ragu menjawab, kalau begini..

“Ssttt.. Ikuti saja kata-kata kakak kelasmu ini..” kataku langsung saja menempelkan telunjukku ke mulutnya supaya dia berhenti berbicara.

Aku mengambil motor putihku dari parkiran dan akan mengantarkan Lee Seun pulang,

“Ini motor oppa?” tanyanya

“Nae.. Waeyo? Sangat keren ya?” candaku

“Keren sih.. Tapi sangat tidak cocok denganmu karena motor ini lebih keren dari mu oppa..” jawabnya.

“Mbo?” kataku spontan.

“Hahaha.. aniya.. Jangan-jangan nanti aku di turunin ditengah jalan.. hehehe..” candanya.

“Haha.. ternyata kamu punya selera humor juga” jawabku sambil tertawa.

Jungkook oppa sudah siap dengan motornya, dan aku naik dibelakangnya.

“Pegangan yang erat padaku” kataku memperingatkan.

Lalu, dia tiba-tiba menarik syalku.. Apa dia berniat mencekikku?

“Ya..!! Pegang pinggangku.. Kamu mau mencekikku?” kataku sambil mengusahakan sebuah senyuman.

“Hahahaa.. tidak apa.. aku tidak pegangan enggak apa..” jawabnya santai.

“Hahaha.. Jinja?” jawabku sambil tersenyum tertantang.

-Lee Seun POV-

Lalu dia mulai menjalankan motornya.. Aku tidak menyangka dia akan mengebut.. jujur saja harusnya ini tidak diperbolehkan.. Tapi, supaya aku tidak melayang (?) aku akhirnya memeluk jungkook oppa erat-erat..

“Go-gomawo oppa” kataku sambil turun dari sepeda motor.

“Gwencana? Apa aku ngebut keterlaluan tadi?” tanyanya setelah melihat aku separuh sempoyongan.

“Ah.. Gwencanayo..” jawabku ringan.

“Mm, ini rumahmu?” tanya jungkook oppa.

“Nae oppa.. Aku masuk dulu yaa.. Nih helmnya..” kataku sambil menyerahkan helm yang dipinjamkan Jungkook oppa.

“Ah, anya.. Bawa helmnya..” jawabnya menolak.

“Ha? Wae?” aku bingung.

“Lain kali kalo ada yang tidak bisa menjemputmu aku bersedia mengantarmu” katanya.

“Ha?” aku justru malah bingung apa maksudnya.

“Rumahku tepat disebelah rumahmu.. itu..” katanya sambil menunjuk rumah sebelah.

“Mboya? Jinjja?” tanyaku terbalalak.

“Nae.. Jinjja..” jawabnya.

“…” aku terlalu shock.

“Aku pulang dulu yaa..” katanya .

Lalu menuntun motornya ke halaman samping rumah.. Tapi.. Ini apaan sih? Kenapa bisa Jungkook oppa tetanggaku? .-.

“Oppa? Kamu benar-benar tetanggaku?” tanyaku ragu-ragu.

“Kau berpikir aku berbohong padamu?” tanyanya kembali.

“Ehm.. Itu sedikit terdengar bohong..” kataku.

“Huft.. Sudahlah.. Masuklah rumah saja sana..” Kata Jungkook Oppa.

“Ah, Nae..” Jawabku lalu masuk ke rumahku.

“Eomma.. Kau sudah pulang?” Tanyaku.

Tidak ada jawaban..

“Berarti belum pulang, hari ini aku rasa aku harus memasak sendiri..” keluhku.

Setelah itu aku masuk ke kamar, ganti baju, dan pergi ke dapur. Aku melihat-lihat bahan-bahan dikulkas dan mulai mengeluarkannya satu-persatu.

Ting-tong-ting-tong..

“Hm? Eomma kau ketinggalan kunci yaa?” jawabku sambil berjalan kearah pintu. Dan begitu kubukakan pintu..

“Anneyeong..” Kata Jungkook Oppa sambil melambai kepadaku

“Ha? A-Anneyeong.. Waeyo? Kenapa kesini?” tanyaku langsung karena rasanya seperti terkena shock.

“Ah.. Kelihatannya kamu sedang sibuk tapi, eomma mu ada dirumahku dan akan makan malam dirumahku.. Aku pikir lebih baik kamu juga ikut makan malam dirumahku.. Ottokae?” katanya.

“Hah? Jinjja? Kalau begitu tunggu sebentar aku akan bersiap-siap.. Masuklah dulu Oppa..” kataku.

“Nae..” jawabnya ringan dan duduk diruang tamu.

Aku langsung masuk ke kamar, dan mengambil setelan baju dan sweeter biru serta celana pendek warna hitam favoritku. Begitu keluar yang kutuju pertama kali adalah dapur, karena aku harus mengembalikan semua bahan-bahan tadi kekulkas. Sementara Jungkook Oppa hanya terus melihat apapun yang aku lakukan.

“Okay.. I’m ready..” kataku.

“Okay.. Ayo..” Katanya mengedipkan mata, membuatku otomatis tersenyum ketika melihatnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s