From Seoul to New York

from-seoul-to-ny-copy

 

Author: Vankyu

Title: From Seoul to New York

Cast: Park Bogum (Actor), Irene (Red Velvet)

Genre: Romance, Fluff | Length: Oneshot

 

“Distance means so little when someone means so much”

 

****************************

Suara gemerincing kunci yang diikuti dengan perpaduan antara lantai dan high heels merah memenuhi ruang tamu gadis itu. Dengan cekatan ia melepaskan mantel berwarna hitam kesayangannya dan melampirkan di depan pintu. Irene menghela nafas lega saat tubuhnya merasakan udara hangat apartemen kecilnya. Sudah pertengahan Februari, tapi udara di sepanjang jalan Korea Selatan masih sangat dingin. Sepertinya angin musim semi enggan untuk berhembus. Setelah mengganti pakaian yang lebih nyaman dan menggunakan sandal rumah, gadis itu duduk di sofa dengan membawa secangkir cappucinno hangat dan laptopnya. Ia meletakkan laptop tersebut di atas pangkuannya. Jemarinya sibuk mengetik nama akun serta password miliknya dalam aplikasi skype, tidak seperti hari-hari lainnya dimana jari itu digunakan untuk mengetik lirik lagu ataupun pekerjaan lainnya.

Mata coklat gadis itu terarah kepada jam di layar laptop. Sudah pukul 12.45 siang. Dirinya berpikir sejenak dan akhirnya memutuskan untuk mengklik nama teratas dalam daftar kontak skype-nya. Tidak sampai 3 detik saat gambar telpon yang memenuhi layar laptop berganti menjadi wajah laki-laki favoritnya. “Halo, noona.” Seperti sulap, dua kata tersebut mampu membuat jantung gadis itu berdetak dua kali lebih cepat.

“Bogummy, apa aku membangunkanmu?” ucap Irene dengan nada khawatir. Laki-laki itu menggelengkan kepalanya cepat dengan senyum yang semakin lebar.

“Tentu saja tidak. Aku menunggumu untuk meneleponku.” Park Bogum mendekatkan layar laptopnya. “Sebelum aku lupa, Selamat hari Valentine.” Irene melemparkan tatapan tidak percaya dan melipat tangannya di depan dada. Gestur favoritnya jika sosok pria itu melakukan hal yang membuat dirinya kesal.

“Wah. Romantis sekali pacarku, mengucapkan selamat hari Valentine lewat video call,” sarkasnya.

Bogum tertawa geli dan mengikuti gestur Irene dengan melipat kedua tangannya di depan dada. “Kenapa kau berbicara seperti itu? Apa kurang romantis kalau pacarmu ini mengucapkan selamat Valentine dari jarak ribuan kilometer dan perbedaan waktu 14 jam?” ucapnya sombong. Irene mendecakkan lidahnya namun tidak mampu membalas perkataan pria itu. Ia tahu bahwa saat ini sudah hampir lewat tengah malam di New York, tempat kekasihnya berada.

Sudah dua tahun Park Bogum berada di negera Paman Sam tersebut untuk mengejar cita-citanya menjadi seorang jurnalisme. New York University dengan jurusan jurnalisme merupakan pilihan satu-satunya yang ia minati. Walaupun tidak bertemu selama dua tahun dengan alasan pria tersebut yang tidak ingin pulang ke Korea Selatan sampai menyelesaikan pendidikannya, tidak membuat hubungan keduanya menjadi menjauh. Lihat saja buktinya, kalian bisa menilainya secara gamblang jika melihat bagaimana pria itu tersenyum lebar di setiap  video call, maupun sorot mata penuh cinta dari gadis itu. “Apakah Februari sangat dingin?” tanya Bogum.

Irene mengangguk dan memeluk bantal sofanya lebih erat. “Dingin sekali. Aku ingin cepat-cepat musim semi. Melihat bunga bermekaran aku rasa lebih baik daripada membiarkan salju jatuh dan membasahi seluruh badanmu.”

“Apa kau selalu memakai mantel saat keluar?” tanya Bogum, mengingat bahwa kekasihnya itu sangat ceroboh dan pelupa. Pernah Irene lupa meninggalkan kuncinya di pintu, tergelantung bebas. Untung saja tidak ada pencuri yang masuk. Atau seringkali ia tidak membawa payung saat musim hujan dan jatuh sakit berhari-hari, tidak bisa beranjak dari tempat tidur karena demam. Bogum tidak suka dengan sifat Irene yang ceroboh, lebih lagi ia tidak suka keadaan dimana dirinya tidak bisa berada di samping gadisnya di saat-saat seperti itu.

“Tenang saja. Aku selalu memakai mantel.” Gadis itu kembali menyeruput cappucinno miliknya yang sudah dingin.

Tidak sampai di situ, Bogum kembali bertanya. “Kalau sepatu? Kau memakai sepatu tertutup kan di sepanjang musim dingin ini?” Irene terbatuk karena pertanyaan tiba-tiba Bogum. Ia memukul-mukul dadanya dengan sedikit berharap kekasihnya tidak mengetahui bahwa dia sedang mencari alasan untuk berbohong. Bahkan pagi ini dia menggunakan high heels saat bertemu dengan teman-temannya.

“Kenapa kau terbatuk? Apa kau mau berbohong? Kau pasti memakai high heels kan? YA BAE JOO HYUN! Apa kau sudah gila? Bagaimana kalau kau terpeleset dan terjatuh di tengah jalan? Apa kau tidak tahu kalau jalanan sangat licin saat musim dingin? Berhentilah membuatku khawatir!” teriak Bogum yang dibalas dengan kekehan lembut dari Irene.

“He he he, maafkan aku. Aku janji untuk tidak menggunakannya, paling tidak sampai musim semi.” Bogum menghela nafas berat dan menggelengkan kepalanya. “Oh iya! Ngomong-ngomong apa kau tahu kalau saat ini Wendy sedang merayakan Valentine bersama kekasihnya di Jepang. Pasti romantis sekali!” Usaha untuk mengalihkan pembicaraan sepertinya berhasil karena pria itu terdiam sejenak dan terlihat sedang berpikir.

Sambil  menegakkan punggungnya, Bogum bertanya. “Menurutmu tempat paling romantis untuk merayakan Valentine bersamaku kira-kira di mana?” Irene mengernyitkan dahinya dan berpikir keras. Setelah mendapatkan jawaban, ia menjentikkan jari dan tersenyum.

“Santorini!” teriaknya.

“Santorini? Yunani?” tanya Bogum.

Irene menganggukkan kepalanya dengan penuh semangat. “Iya, benar sekali! Aku bahkan bisa menggambarkan apa saja yang akan kita lakukan untuk merayakan Valentine di Santorini.”

Bogum terkekeh geli saat melihat kekasihnya mengutarakan pujian untuk negara kesayangannya. Binar mata gadis itu berkilat cerah, membuat Bogum sempat lupa untuk menarik nafas. “Kenapa Yunani?” tanyanya kembali.

“Karena bagiku Yunani adalah negara terindah. Terutama Santorini. Habis ini jangan tidur dulu dan cobalah untuk mencari tahu tentang tempat indah itu,” cibir Irene.

“Untuk apa aku capek-capek mencari tahu di internet kalau ada kau sumber segala informasiku. Ayo ceritakan kepadaku apa kehebatan Santorini?” tantang Bogum.

Irene mengubah posisi duduknya, “Baiklah. Sekarang pejamkan matamu,” ujar gadis itu sambil menginstruksikan pria di dalam layar untuk menutup matanya.

“Tidak mau,” ucap Bogum yang dibalas dengan tatapan tidak setuju dari Irene.

“Kenapa?” protesnya.

“Aku sudah lama tidak melihat wajahmu dan kau menyuruhku untuk menutup mata? Tidak mau. Aku belum puas merekam wajahmu di otakku.” Semburat merah tergambar di pipi Irene. Terkadang, kekasihnya memang melakukan hal di luar ekspektasinya seperti secara tiba-tiba bersikap manis seperti ini.

Dengan berdehem Irene mencoba untuk menghilangkan tanda-tanda tersipu di pipinya, “Baiklah, terserah kau saja.” Irene memejamkan matanya dan mengembangkan daya imajinasi miliknya. Dalam waktu sedetik ia sudah merasakan hembusan angin dan mendengar deburan ombak yang memecah tebing Santorini. “Di hari Valentine kita akan memulai hari dengan berenang di Red Beach.”

red-beach

Ia membuka matanya, “Apakah kau tahu bahwa Februari di Santorini jauh lebih hangat dari kota Eropa mana pun. Aku sudah membaca banyak artikel yang mengatakan bahwa jika di musim dingin kita berenang di pantai tersebut maka kita akan terheran-heran saat merasakan air laut yang begitu hangat. Kau tahu kan betapa aku tidak menyukai musim dingin di Seoul. Bayangkan! Kau bisa berenang di pantai tanpa mati menggigil kedinginan di Santorini. Bukankah itu mengagumkan?”

Bogum menganggukkan kepala tanpa berniat untuk menghentikan Irene yang sedang bersemangat. “Setelah puas berenang, kita akan mengeringkan diri dengan berjalan-jalan atau bersepeda di Oia.

oia

Jika kau pernah melihat kota Oia maka kau pasti akan terkagum dan memiliki hasrat yang besar untuk menyusuri kota itu. Oia digambarkan sebagai kota yang menakjubkan dan merupakan epitome dari mitologi Yunani. Kau bisa melihat bangunan-bangunan berwarna putih dengan atap biru khas Santorini, serta kincir angin yang megah. Belum lagi kita akan disajikan dengan pemandangan yang indah. Aku yakin kau pasti senang sekali bisa menggunakan kamera tua yang selalu kau banggakan itu. Tentu saja dengan aku yang menjadi modelnya.” Irene berhenti sejenak untuk berpose bagaikan model yang mengundang tawa dari Bogum.

“Lalu setelah puas jalan-jalan kita akan menikmati sunset dan makan malam dengan pemandangan laut. Hmm… Pasti sangat romantis.” Irene menangkupkan kedua tangannya dan masih memejamkan mata.

shutterstock_311738597

“Berhentilah bermimpi,” ujar Bogum yang langsung menghancurkan segala imajinasi yang dibentuk gadis itu. “Bukannya lebih romantis kalau kita merayakan hari kasih sayang di New York?” ucap pria itu tidak mau kalah. “Aku akan membuatmu merasakan Valentine yang paling indah di New York, The City of Lights”

“Oh ya? Memangnya apa yang bisa kita lakukan di sana?” tantang Irene.

Bogum menyenderkan punggungnya ke kursi. “Kau bisa memilih mau versi sederhana atau versi romantis?”

Irene bergumam, “Aku ingin tahu keduanya!”

“Baiklah, aku akan mulai dari versi sederhana. Aku akan mengajakmu pergi ke Times Square.

times-square

Di sana kau bisa belanja sepuasnya dan memilih barang manapun. Kabar baiknya, di beberapa toko bahkan ada diskon hingga setengah harga khusus untuk couple pada hari Valentine. Dan apa kau tahu? Times Square merupakan tempat favorit bagi pasangan-pasangan di New York. Keramaian di tempat itu bahkan tidak bisa menahan puluhan pasangan yang biasanya melakukan aksi lamaran untuk kekasihnya. Sepertinya ada kebiasaan jika hari Valentine maka Times Square merupakan tempat yang terlintas bagi orang-orang yang ingin melamar kekasihnya atau menyatakan cinta kepada orang yang ia sayangi. Romantis kan? Kita bisa menjadi saksi bagi mereka,” ucap Bogum bangga.

“Apa romantisnya melihat orang lain dilamar? Tapi aku tertarik dengan bagian diskon untuk pasangan.” Irene menyunggingkan senyumnya.

“Dasar kau ini. Lalu setelah puas jalan-jalan di Times Square, aku akan mengajakmu ke Central Park. Dan bagian favoritnya adalah kita akan bermain ice skating di Wollman Rink.

serendipity23

Apa kau ingat film Serendipity yang kita tonton dua tahun lalu? Nah Wollman Rink adalah tempat dimana Jonathan dan Sara dipertemukan oleh takdir. Aku bahkan ingat kalau kau menangis begitu kencang pada scene itu.”

Irene menjentikkan jemarinya. “AH! Aku ingat! Ya kau benar, dan kalau tidak salah kau juga meneteskan airmata di bagian akhir film itu, tapi pura-pura tidak terjadi dengan mengusapnya.” Bogum menyilangkan tangannya buru-buru untuk menolak perkataan gadis itu.

“Tidak! Aku tidak menangis. Kenapa aku harus menangis karena film itu,” ucapnya gelagapan. Pada kenyataannya pria itu mengeluarkan air mata saat mengetahui film itu berakhir bahagia. Bukan hanya air mata, tapi efek yang diberikan film itu sangat luar biasa hingga meyakinkan perasaannya kalau perempuan yang berada di sampingnya merupakan takdirnya yang diberikan oleh alam semesta.

“Tapi bermain ice skating denganmu terdengar menyenangkan. Aku bisa memegang tanganmu yang hangat dan kau bisa memasukkan jemariku ke mantelmu yang tebal seperti di film-film.” Gadis itu melemparkan pandangannya yang teduh, membuat Bogum tersentak karena darahnya mengalir begitu cepat.

Pria itu terbatuk sekali untuk menormalkan kerja otaknya yang tersendat akibat mengagumi kecantikan kekasihnya. “Tunggu sampai kau mendengar kencan di New York bersama Park Bogum dalam versi romantis.” Irene menepuk kedua tangannya heboh dan menunggu dengan tidak sabar.

“Versi romantis dalam kencan ini akan dimulai dengan aku membawamu ke tempat yang mungkin menjadi favoritmu. Yaitu…. Broadway!” Irene membuka mulutnya tidak percaya.

“Tidak mungkin! Tempat itu menjadi salah satu list yang harus kudatangi sebelum aku meninggal.” Gadis itu mendekatkan dirinya ke arah laptop dengan penuh semangat. Kini perhatiannya dikhususkan untuk mendengar kelanjutan dari cerita Bogum.

“Aku akan mengajakmu menonton pertunjukkan musikal yang tayang di Broadway. Biasanya pada saat romantis akan ada banyak pertunjukkan romantis. Bahkan kalau kau sedang tidak ingin menonton sesuatu yang romantis, kita bisa menonton pertunjukkan komedi maupun indie di teater-teater kecil yang tersebar di wilayah Bronx. Dan yang terakhir aku akan membawamu ke American Museum of Natural History.”

“Oh aku tahu tempat itu! Bukannya itu tempat film “Night at The Museum” ?” tanya Irene.

“Ya, kau benar. Setiap valentine, museum ini mengadakan pertunjukkan “Romance Under the Stars”  yaitu pertunjukkan musikal di Hayden Planetarium.

image

Para astronom akan menjelaskan tentang cerita-cerita cinta dari setiap mitologi yang ada. Bagaimana? Romantis kan? Apa kau tidak tertarik,” tutup Bogum.

Irene mengeratkan pelukannya, membawa bantal sofa tersebut semakin dengan dengan tubuhnya. “Ya… Setelah mendengar ceritamu, New York terlihat begitu menarik.” Keheningan melingkupi keduanya untuk beberapa saat. Irene berdiam diri, sibuk dengan pikirannya, sedangkan Bogum menopang dagunya dan menunggu untuk mendengar suara Irene yang megalun begitu indah di telinganya.

“Park Bogum…” ucap Irene memecah keheningan.

“Ya?” jawab pria itu.

Sehela nafas berat keluar dari bibir gadis itu. “Setelah aku pikir untuk kedua kali, menurutku tempat paling romantis untuk merayakan Valentine bukan di Santorini.”

Bogum mengernyitkan keningnya, “Lalu?”

“Tempat yang paling kuinginkan untuk merayakan Valentine adalah tempat di manapun kau berada. Aku merindukanmu. Sangat. Begitu menyesakkan dan menyebalkan saat berjalan di sepanjang Seoul tanpamu. Apa kau tahu? Tadi begitu banyak pasangan yang melintas di depanku, rasanya aku ingin melempar mereka pakai bola salju karena membuatku iri.”

Bogum tertawa geli mendengar ucapan kekasihnya. “Aku juga merindukanmu. Aku tidak bisa menghitung lagi berapa malam yang kuhabiskan dengan memandangi fotomu, mematikan kakiku untuk tidak melangkah pergi ke bandara dan terbang ke Seoul sekedar untuk memelukmu.”

“Kalau begitu kenapa kau tidak pulang saja ke Seoul? Aku akan menerimamu dengan tangan terbuka,” ucap Irene sambil merentangkan tangannya.

Dengan penuh rasa bersalah, pria itu menatap gadisnya, “Maafkan aku. Untuk membalas rasa bersalahku, aku sudah menyiapkan hadiah Valentine untukmu.” Irene membulatkan matanya terkejut.

“Benarkah?” teriaknya. Bogum menganggukkan kepala.

“Coba lihat rak buku milikmu. Apakah ada buku yang berbeda dan belum pernah kau baca?” Irene bangkit berdiri dan menuju rak biru yang dipenuhi oleh puluhan buku miliknya. Secara perlahan ia mengarahkan telunjuknya dan menyentuh setiap buku. Jemarinya terhenti di sebuah buku berwarna merah dengan nama pengarang asing. Lang Leav. Ia mengambil buku itu dan kembali menuju depan laptop. Tangannya meraba sampul depan buku itu. Masih terasa mulus. Ia memang pernah bilang bahwa ingin membaca buku tersebut tetapi sulit sekali untuk mendapatkannya di toko-toko buku. “Buka halaman yang sudah kutandai dan baca puisinya,” ucap Bogum.

Irene mengikuti perintah kekasihnya dan membuka halaman yang sudah ditandai. Ada sebuah amplop yang terjatuh. Ia memungutnya dan menaruhnya di meja. Dengan seksama ia mengalihkan pandangannya menuju puisi di hadapannya.

 

Distance

 

It was all I wanted for the longest time – to open my eyes and see you there. To stretch out my hand and touch the soft, yielding warmth of your skin. But now I have learned the secret of distance. Now I know being close to you was never about the proximity.

[ Semua ini adalah yang kuinginkan untuk waktu yang sangat lama – Untuk membuka mataku dan melihat kau di sana. Untuk merentangkan tanganku dan menyentuh lembut serta merasakan kehangatan dari kulitmu. Tetapi, saat ini aku telah belajar rahasia dari sebuah jarak. Sekarang aku sadar bahwa berada di dekatmu tidak pernah dihitung dari kedekatan jarak. ]

– Lang Leav –

 

Puisi yang singkat namun mampu menyentuh perasaan Irene yang terdalam. “Sekarang buka amplop yang kuselipkan di buku itu,” ujar Bogum. Irene mengambil amplop biru tersebut dan membukanya. Ada sebuah kertas kecil yang terlipat dan bertuliskan.

I exist in two places, New York and where you are. I know that distance means so little when someone means so much. I sincerely love you. Thank you for being you, my sweetheart Irene.

Your Bogum

 

[Aku berada di dua tempat, New York dan dimana kau berada. Aku tahu bahwa jarak menjadi sesuatu yang tidak penting saat seseorang begitu berarti. Aku sungguh-sungguh mencintaimu. Terima kasih telah menjadi dirimu sendiri, sayangku Irene.]

 

Perasaan hangat yang begitu familiar meliputi dada gadis itu. Hanya dengan sepucuk surat, ia bisa menjadi begitu bahagia, seperti anak kecil yang menemukan selimut favoritnya. Seperti potongan puzzle yang mengisi dirinya dengan tepat. “Hei jangan menangis dan lihat lagi ke dalam amplop. Masih ada yang tersisa, hadiah dariku yang terakhir.” Irene menghapus air matanya dan melirik ke dalam amplop. Ia mengeluarkan potongan kertas itu dan membacanya. Semenit kemudia ia membulatkan matanya dan berteriak tidak percaya.

“INI….INI TIKET PESAWAT DARI SEOUL KE NEW YORK? AKU TIDAK SALAH LIHAT KAN?” ucapnya sambil melihat untuk yang kedua kalinya. Bogum tersenyum bangga dan menjawab.

“Kau tidak salah. Itu tiket pesawat untuk hari ini. Kau ingin menghabiskan valentine bersamaku di New York kan? Sekarang bersiaplah. Pesawatmu berangkat kurang dari 3 jam lagi.” Irene menatap Bogum tidak percaya.

“Kau benar-benar gila… Tapi aku mencintaimu. Sampai bertemu 18 jam lagi!” teriaknya sambil melemparkan ciuman ke layar laptop dan memutuskan hubungan video call tersebut. Gadis itu berlari memasukkan semua pakaian yang terlintas di depan matanya, sedangkan Bogum menutup layar laptopnya. Ia berbaring di tempat tidur, memejamkan mata dan tersenyum. Akhirnya untuk dua tahun terakhir ia bisa tidur dengan nyenyak sambil membayangkan Valentine besok bersama gadis kesayangannya.

-Selesai-

 

Author’s note:

Wah selesai juga… Ini fanfic pertama buatan Vania setelah hiatus satu tahun lebih. Maaf kalau mungkin jalan cerita atau bahasanya kurang berkenan, maklum Vankyu latihan lagi untuk menulis yang lebih baik. Fanfic ini dibuat untuk merayakan valentine kemarin tapi memang baru post disini sekarang. Berhubung aku suka banget sama pair Bogum-Irene makanya mereka kayaknya cocok sekali untuk gemes-gemesan gini hihihi. Terima kasih sudah membaca. Saran dan kritik akan sangat Vania tunggu. Jangan lupa untuk mampir ke blog vankyu yaa di kyutiramisu

Selamat hari kasih sayang setiap hari teman-teman!!! ❤

Advertisements

4 responses to “From Seoul to New York

  1. Aku juga hard shipper mereka
    Bogum x Irene
    Rasanya penasaran sama pertemuan mereka nanti di new york
    Pasangan ini memang selalu bikim gemasss
    Selamat datang kembali kak di dunia perffan
    Semangat teruss

    • Yeaaaay seneng kalo ada orang yang suka pair ini juga hehe. Ternyata gak cuma aku 🙂
      Terima kasih ucapan semangatnya, kamu baik banget bikin aku jadi banyak ide nulis hehe.
      Semangat juga kamu!

  2. aku suka pasangan ini.
    pasti akan sangat bahagia irene disana.
    sukaa pokoknya .
    walaupun udah hiatus lama tapi keren fanfic nya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s