Loving You : Part 2

ly2

Poster By: Babythinkgirl @ Poster Channel 

Posternya memang dua versi kok tapi ceritanya sama. Hehe. ^^

Tolong untuk tidak mengcopy, merepost, ataupun memplagiat story ini tanpa ijin dari author~

Tolong juga berikan banyak dukungan, likes, dan comment disetiap stories author, supaya author bisa lebih bersemangat dan bisa memperbaiki diri untuk membuat stories berikut-berikutnya! Okay, Happy reading!

 

Part 2

-Lee Seun POV-

Aku membuka mataku melihat sinar matahari yang menyembul diantara tirai biru dikamarku. Aku terduduk diranjangku. Jam 6. Aku berjalan ke wastafel dan mencuci mukaku.

“Bangunlah Lee Seun.. Kau harus sekolah..” Kataku menyadarakan diriku sendiri yang masih separuh tidur dan mulai bersiap-siap.

“Eomma aku berangkat sekolah dulu yaa..” kataku pamit.

“Nae.. hati-hati yaa..” jawabnya dari dapur. Baru saja aku melangkah keluar dari pagar rumahku, dan aku terhenti disana.

“Anneyeong.. Good morning..” Jungkook Oppa menyapa dengan senyuman sambil terduduk di motor putihnya itu. Huh, ternyata motor laki-laki yang besar berwarna putih memang sangat keren, benar-benar membuat seorang laki-laki terlihat 2x lebih keren ya?

“Oh, Nae.. Good Morning Oppa..” Jawabku riang sambil memberikan senyum terbaikku padanya.

-Jungkook POV-

“Anneyeong.. Good morning..” Kataku menyapanya.. Setelah menunggu kurang lebih 15 menit. Aku yakin dia tidak akan ada yang mengantar karena itu aku sengaja bangun lebih pagi dan menunggunya.

“Oh, Nae.. Good Morning Oppa..” Jawabnya sangat riang bahkan samba tersenyum begitu manis padaku. Lidahku kelu. Sial.

“Berangkatlah bersamaku..”  dan kalimat itu akhinya keluar.. Tapi, aku merasa seperti menggunakan suara yang lebih dalam dan lirih?

“Bersama Oppa? Mm, boleh, lagi pula aku masih belum terlalu hafal daerah ini.. Tapi, aku tidak merepotkan kan?” tanyanya balik mungkin dia sedikit sungkan.

“Tentu saja tidak..” kataku sambil tersenyum semanis-manisnya dan dia tersenyum balik,

“Gomawo!” Jawabnya dan aku menyalakan motorku.

“Kajja!”

-Lee Seuun POV-

“Gomawo Oppa..” kataku sambil turun dari sepeda motor Jungkook Oppa.

“Nae.. Gwencanayo.. Pulang nanti juga akan kuantar..” katanya tiba-tiba.

“Ha? Anya, aku akan pulang sendiri..” jawabku langsung.

“Sudahlah.. Jangan membantah..” jawabnya memaksa.

“Anya Oppa.. Aku nanti ada latihan menyanyi pulang sekolah, aku tidak pulang di jam yang sama dengan Oppa.. Dan itu akan sangat merepotkanmu Oppa..” jelasku panjang lebar. Tiba-tiba, dia menutup kupingku dengan kedua tangannya dan jelas-jelas dia mengarahkan wajahku kepadanya.

“Huft.. Jangan membantah.. Aku sedang tidak ingin menjelaskan.. Jadi nanti pulanglah denganku.. Okay?” Aku bisa merasakan wajahku mulai memerah, dan aku bisa merasakan udara terasa lebih hangat di tengah musim gugur ini. Apa karena tangannya? Tangannya terbuat dari wol? (?)

Aku bahkan sampai tidak bisa berkata-kata karena tepat saat itu mata kami berdua bertemu, aku hanya mengangguk, dan dia akhirnya tersenyum /Deg/Deg/ Dia melepaskan tangannya, dan berkata,

“Nanti siang aku akan menemuimu.. sekarang kita masuk kelas dulu.. Aku tidak mau kita berdua terlambat untuk kelas di jam pertama. Lebih tepatnya aku tidak mau, songsaenimku sangat galak.” Katanya lalu berjalan terlebih dulu.

“A-araseo..” jawabku menyusulnya dan berjalan disampingnya sambil mengobrol. Aku berpisah dengan Jungkook Oppa ketika kami keluar dari parkiran karena kebetulan kelasku dan kelasnya benar-benar berlawanan arah. Ketika aku berbalik dan berjalan kearah kelasku, aku merasa ada sesuatu yang berbeda hari ini dan akhirnya aku menyadari kalau aku diperhatikan begitu banyak orang.. Tapi.. Kenapa ya?

“Lee Seun-ah.. Benarkan kamu berangkat kesekolah dengan Jungkook Oppa?” Tanya Jiyeon yang tiba-tiba ada di sebelahku dan mengejutkan aku.

“Ah, Nae.. Waeyo?” tanyaku balik.

“Jinjja?!!” tanya Jihyo memastikan.

“Nae.. Waeyo?” jawabku.

“Ah.. Daebak.. Jungkook Oppa itu famous banget diskolah ini.. Selain tampan, dia juga jago dalam menyanyi, dan menari.. Jujur saja banyak sekali yang naksir dan ingin jadi pacarnya, bahkan ada beberapa yang sudah menyatakan cinta padanya tapi dia selalu menolaknya karena alasan tidak mencintai gadis itu.. Kamu harus berhati-hati, baru kali ini Jungkook Oppa itu mengajak seseorang terutama untuk naik dimotornya..” Jelas Jiyeon.

“Waeyo? Aku kan bukan pacarnya atau apapun..” jawabku santai.

“Babo ya.. Bagaimana reaksi ‘fans-fansnya’ Jungkook Oppa melihatmu pulang pergi disekolah bersamanya? Aku yakin mereka suatu saat bisa mencakarmu atau sekarang ini sudah serasa ingin mencabik-cabikmu..” Jawab Jiyeon .

“’Fans-fans?’” aku heran.

“Semacam itulah.. fans.. seperti idol yang memiliki fans dan Jungkook Oppa juga punya..” jelas Jihyo yang juga tiba-tiba disampingku.

“Ah.. Aku rasa tidak seberlebihan itulah..” jawabku santai.

“Huh.. Kau ini, dibilangin..” jawab Jiyeon.

“Hehehe.. Sudahlah.. Ayo siap-siap songsaenim sepertinya mau datang.. ” kataku.

 

Aku memang merasa sedikit aneh ketika orang-orang terus melihat kearahku ketika aku keluar kelas. Seakan aku menjadi tontonan, tapi aku cukup cuek dengan itu. Mencuekkan hal-hal kecil seperti itu cukup menjadi bakat untukku. Hingga bunyi bel sekolah berdering menandakan kelas sudah bubarpun aku tetap dengan mudah mencuekkan semua itu.

“Ya!! Lee Seun!! Kamu harusnya jaga jarakmu dengan Jungkook Oppa!!” Kata Uee separuh berteriak padaku.

“Mbo? Apa maksudmu?” jawabku santai sambil menasukkan buku ke tas.

“Huh.. Jangan berpura-pura.. Aku tau kamu sebenarnya menyukai Jungkook Oppa dan brusaha mendekatinya kan? Lebih baik kamu menjauh saja!!” Katanya.

“Mbo?” Aku jadi bingung.

“Jangan berlagak bodoh, aku melihat sendiri tadi pagi kamu turun dari motornya dan bahkan Jungkook Oppa memegang kepalamu.. Lebih baik kamu jauh-jauh dari Jungkook Oppa mengerti?!!” katanya lalu pergi.

“Hah?” jawabku heran.

“Sudah kubilangkan..” kata Jiyeon.

“Dia fansnya?” tanyaku heran.

“Bukan lagi fans, hanya karena pernah berduet dengan Jungkook Oppa sekali saja dia merasa istimewa.. Dan dia sangat tergila-gila pada Jungkook Oppa..” jelas Jiyeon.

“Tapi apa benar Jungkook Oppa memegang kepalamu?” tanya Jihyo.

“Ah.. Itu.. Ada alasannya..” jawabku sambil berpikir bagaimana akan menjelaskannya.

“Jinjja??” Tanya Jiyeon.

“Nae.. Itu hanya..” jawabku.

“Sudahlah.. Jangan dipaksa.. Aku yakin kamu pasti susah menjelaskannya.. Ya kan?” jawab Jihyo.

“Hehehe.. Nae.. Tapi aku kan Jungkook Oppa bukan pacar.. Sungguh..” jelas ku mati-matian.

“Kalian pacaran pun aku akan merestui kok..” ejek Jihyo.

“Hahaha..” Jiyeon bahkan menertawakan aku.

“Haish.. Jeongmal..” kataku mengeluh.

Aku dan Jiyeon berjalan ke ruang musik untuk berlatih persiapan lomba, sesuai yang dijadwalkan kami akan menerima bimbingan untuk lomba itu.

“Ya!! Kenapa kau salah.. Harusnya ini di C bukan Dm..” Keluh seseorang.. Tunggu.. Rasanya aku mengenal suara ini.. Dari ruang musik?

“Okay, ulangi..” Kata Jungkook Oppa pada seorang pemain gitar disana.

“E-Hem..” Jiyeon berdeham.

“Hm?” Jungkook Oppa berbalik dan melihat kearahku dan Jiyeon.

“Anneyeong Jiyeon-ah.. Dan.. Lee Seun-ah.. Bolehkan aku memanggilmu dengan Lee Seun-ah?” tanya orang yang memegang gitar itu.

“Ah, Nae.. Gwencanayo..” jawabku.

“Ya!! Perkenalkan dirimu dulu..” Keluh Jungkook Oppa pada temannya itu.

“Araseo.. Namaku SeoJoon.. Park SeoJoon.. Panggil aku Seo Joon Oppa yaa..” Katanya memperkenalkan diri.

“Ok!” Jawabku dengan senyuman.

“Okay.. prosesi berkenalan sudah selesai yaa.. Ayo kita mulai latihannya SeoJoon Oppa..” kata Jiyeon pada SeoJoon Oppa.

“Nae Jiyeon ah.. Jungkook, kau akan melatih Lee seun kan? Jangan terlalu keras..” katanya separuh meledek Jungkook Oppa.

“Mboya? .. Apa aku memperlakukanmu dengan tidak baik atau terlalu keras?” katanya membela diri.

“Hehehee..” Tawa SeoJoon Oppa lalu pergi keluar bersama Jiyeon.

“Aku berlatih diluar yaa..” Kata Jiyeon.

“Nae..” Jawabku santai. Tunggu dulu, kalau Jiyeon dan SeoJoon Oppa diluar.. Berarti.. Hanya akan ada aku dan Jungkook Oppa disini?

“Lee Seun-ah.. Coba pegang gitar ini dan nyanyikan lagu yang akan kau buat untuk lomba..” kata Jungkook Oppa memecahkan lamunanku. Dia membuka sekotak gitar yang dulu aku pernah coba dan memberikannya padaku.

“Ah.. Nae Oppa..” Jawabku langsung mengambil gitar itu dan duduk meskipun rasanya sedikit nervous. Aku memainkan gitar itu, gitar dengan suara yang bagus menurutku. Suara gitar yang ringan, tapi unik.

“Hm.. Bagus.. Suaramu bagus, dan aku merasa suara gitar ini sangat cocok dengan vocalmu.” Kata Jungkook Oppa mengomentari.

“Tapi, jika boleh, aku akan menaransemen dan mengedit sedikit tentang lagumu.. Boleh?” tanyanya.

“Nae.. Gwencana..” Jawabku.

“Ini, rubahlah chord F mu dengan G.. Lalu, Ini jadi …” Kata Jungkook Oppa sambil terus menjelaskan tapi, entah sejak kapan ia mulai memegang tangaku dan mengarahkan jari-jariku kegitar..

“Ehm.. Nae Oppa..” jawabku diakhir penjelasan.

“Oh, Miane.. Aku rasa aku terlalu bersemangat mengedit lagumu..” jawab Jungkook Oppa sambil mejaga jarak duduknya dan menarik kembali tangannya.

“Ah, Nae.. Gwencana..” jawabku sedikit canggung. Tapi mukaku merah tidak ya?

“Gwencana? Kalau gitu boleh dong aku memegang tanganmu lagi?” canda Jungkook Oppa.

“Mbo?” aku heran dengan respond Jungkook Oppa, bahkan sekarang rasanya ada sedikit deg-deg an di sini.. di dadaku..?

“Hahaha.. Anya.. Hanya bercanda..” Jawabnya sambil tertawa.

“Huft.. Aku pikir.. Hahaha..” aku juga ikut tertawa.

“Ah, aku juga mau ngomong..” kata Jungkook Oppa tiba-tiba.

“Hm? Waeyo Oppa?” tanyaku.

“Ehm, Apa kamu sudah mulai diganggu?” tanyanya.

“Diganggu?” Aku bingung.

“Aku juga kan tidak bodoh, aku juga tau kalau banyak anak yang menjadi fansku, entah karena aku pandai main musik atau apalah.. Tapi, jika mereka melihat aku dekat dengan seorang gadis mereka akan mulai menganggu gadis itu..Apa kamu juga diganggu?” tanyanya.

“Ah, tidak.. Hmm, mgkin hanya gertakan saja..” jelasku.

“Gertakan?” tanyanya.

“Yap..” jawabku santai.

“Mm, Jika fans-fansku ada yang mengganggumu sampai keterlaluan, katakan padaku okay?” kata Jungkook Oppa.

“Nae Oppa..” jawabku ringan.

“Aku hanya tidak ingin kamu terluka” katanya lirih, aku tau dia berkata itu tapi dengan suara yang sangat lirih entah bergumam sendiri atau apa tapi aku mendengarnya.

“Apa Oppa?” aku mencoba ingin mendengar itu langsung darinya.

“Hah? Apa?” mukanya polos, terlalu polos.. Haha..

“Ayo kita lanjutkan saja latihannya..” sambungnya.

 

-Jiyeon POV-

“Mbo? Jinjjayo Oppa?” kataku pada Seojoon Oppa.

“Nae.. Jungkook itu menyukai Lee Seun.. terlihat dari caranya memperlakukan Lee Seun..” jelas Seojoon Oppa.

“Wahh.. Lee Seun benar-benar beruntung..” kataku.

“Jungkook saja biasanya tidak mau mengantar teman-temannya dengan motornya.. aku saja yang temannya sejak kecil ini kadang tidak dibolehkan naik motornya, apa lagi cewek lain.. Dan kita semua tau Lee Seun baru masuk kurang lebih 2 hari yang lalukan?” jelas Seojoon Oppa lebih mendetil.

“Aku sih, senang-senang saja Lee Seun dengan Jungkook Oppa.. Tapi..” kataku mulai khawatir.

“Kalau ‘fans-fans’ itu menganggunya kan?” sambung Seojoon Oppa.

“Nae..” jawabku sedih kalau memikirkan itu.

“Tenang saja, Jungkook tidak akan bertindak bodoh, dia juga tau tentang itu.. Kalau memang Jungkook serius dia pasti bisa melindungi Lee Seun..” kata Seojoon Oppa menenangkan aku.

“Hmm.. Oppa.. Apa sekarang ini kamu menenangkanku?” tanyaku iseng.

“Mmm.. Boleh jika kamu menganggapnya begitu.. Waeyo?” tanyanya balik.

“Apa jangan-jangan Oppa menyukaiku?” tanyaku iseng.

“Ya!! Mboya!! Kita ini kan saudara..” katanya.

“Hahahaa..”

“Sudah selesai istirahatnya ayo mulai lagi.. Pakai heels mu dan letakkan bukunya diatas kepalamu..” kata Seo Joon.

“Huftt.. Penderitaan model adalah sewaktu disuruh memakai high heels dan pandangan harus sempurna lurus..” Keluhku.

 

-Lee Seun POV-

Kami berempat baru saja selesai dengan latihan kami dan kami langsung menuju parkiran.

“Jiyeon-ah.. Bareng aku kan?” Kata SeoJoon Oppa.

“Nae!” Jawab Jiyeon.

“Mbo ya? Kalian Couple sekarang? Couple?” tanya Jungkook Oppa.

“Anya… We’re sibling.. Sibling..” Jelas SeoJoon Oppa.

“Sibling?” tanyaku heran.

“Nae-nae..Park Jiyeon, Park Seojoon..” Jelas Jiyeon.

“Ah..” jawabku mengerti.

“Bagaimana dengan kalian? Kalian yang harus dipertanyakan.. Apa kalian Couple?” tanya Seojoon Oppa.

“Anya..!! Seojoon oppa kau bilang apa sih..” jawabku langsung secepat kilat bahkan sampai-sampai Jiyeon dan Jungkook Oppa melihat kearahku bersamaan.

“Kami berdua bukan couple..” jelas Jungkook Oppa santai.

“Apa aku perlu mengadakan konferensi pers?” tambahan dari Jungkook Oppa.

“Hahaha.. Mungkin..” Tawa Jiyeon.

“Ya! Lee Seun-ah, ayo naik, kita pulang saja tinggalkan saja Park sibling ini..” kata Jungkook Oppa.

“Haha.. Nae Oppa.. Nae..” jawabku.

“Cha-chakkaman.. Kelihatannya aku meninggalkan ponselku di depan ruang musik.. Aku akan mengambilnya dulu..” kataku ketika aku merogoh sakuku dan tiba-tiba aku tidak bisa menemukan ponselku.

“Nae.. aku akan menunggu disini..” Katanya.

“Okay..” kataku sambil menunjuk ruang musik yang sebenarnya ada tepat disebelah parkiran.

“Ketemu..” aku mengambil ponselku yang ketinggalan dibangku.

Tiba-tiba dari depan ada sekelompok anak perempuan yang datang, aku tidak pernah menyangka karena tiba-tiba mereka melemparkan sebuah telur busuk padaku,

“Ya!!” teriakku yang kaget.

Teriakku membuat Jungkook Oppa menyadari keadaanku dia langsung berlari kearahku dan memelukku erat-erat karena tiba-tiba mereka semua langsung melemparkan begitu banyak telur padaku.. Tapi, tak ada satupun yang mengenaiku, aku yakin semuanya mengenai punggung Jungkook Oppa. Tiba-tiba mereka langsung berhenti begitu tau Jungkook Oppa yang terkena.

“Oppa gwencanayo?” tanyaku khawatir karena dia tidak bergerak dan terus memelukku. Tapi tiba-tiba saja dia berbalik dan aku menyadari kalau dia marah.. Entah, mungkin sangat marah?

“Apa kalian sudah puas? Sudah senang? Kenapa kalian selalu mengganggu orang yang ada didekatku? Tidak bolehkah aku mempunyai teman perempuan? ..” Kata Jungkook Oppa menekan rasa marahnya.

“Ya!! Bubar.. Semua bubar!!” Teriak Seojoon Oppa dan Jiyeon yang datang setelah mendengar keributan itu.

“Oppa.. ” kataku sambil memegang tangan Jungkook Oppa.

“…” Jung Kook Oppa hanya melihat kearahku.

“Oppa gwencana?” tanyaku lembut.

“Nae, gwencana.. Bagaimana denganmu?” jawabnya sedikit lirih.

“Gwencana Oppa..” Jawabku sedikit takut.

“Baguslah kalau begitu.. Dengan begini mereka tidak akan mengganggumu lagikan? Hehehe..” Katanya sambil tersenyum lebar, dan itu membuat kekhawatiranku hilang.

-Jungkook POV-

“Ya!” Suara ini?

Lee Seun?! Waeyo!? Aku langsung membalikkan badan melihat kearahnya. Mereka .. Reflek aku berlari kearahnya dan memeluknya menutupi nya agar telur-telur itu tidak mengenainya, aku sangat marah.. Jujur saja, kalau waktu itu Lee Seun tidak ada disana, aku pasti akan memarahi mereka sampai mereka tidak akan lagi menjadi fansku.

“Apa kalian sudah puas? Sudah senang? Kenapa kalian selalu mengganggu orang yang ada didekatku? Tidak bolehkah aku mempunyai teman perempuan? ..” Kataku sambil menekan sedalam-dalamnya amarahku

“Ya!! Bubar.. Semua bubar!!” Teriak Seojoon dan Jiyeon yang datang karena mendengar keributan ini.

“Oppa.. ” tiba-tiba Lee Seun berkata sambil memegang tanganku

“…” Aku hanya bisa diam dan akhirnya aku memalingkan mukaku padanya

“Oppa gwencana?” tanyanya sangat lembut padaku.

“Nae, gwencana.. Bagaimana denganmu?” jawabku sambil masih menahan amarahku pada fans-fans tadi.

“Gwencana Oppa..” Jawabnya.

“Baguslah kalau begitu.. Dengan begini mereka tidak akan mengganggumu lagikan? Hehehe..” Kataku sambil memaksakan sebuah senyuman.

 

-Lee Seun POV-

Kami berhenti tepat didepan pagar rumahku dan aku turun dari motorku.

“Gomawoyo Oppa. Semoga kau tidak bosan mendengar gomawo dariku.” Kataku.

“Hahahaa.. Nae, jika ortumu belum pulang sms aku.. Aku akan menghimburmu supaya tidak kesepian.. Okay?” Katanya.

“Okay” Jawabku santai.

“Berjanjilah padaku..” Katanya sambil menunjukkan jari kelingkingnya untuk pinky promise.

“Haha.. Okay Oppa..” Jawabku lalu membuat pinky promise.

-SMS-

LS : Oppa.. Ortu ku benar-benar kejam mereka bilang mereka akan pulang larut malam hari ini.. hiks..

JK : Hahaha.. Benarkah? Kamu sendirian sekarang ini?

LS : Nae Oppa..

JK : Gwencana? Kau sudah makan?

LS : Gwencanayo.. Aku sudah berkali-kali ditinggal pergi ortuku.. Aku rasa aku akan makan sebentar lagi..

JK : Apa yang akan kamu makan?

LS : Entahlah.. aku baru melihat kulkas ini

JK : Kamu mau masak?

LS : Hehe.. Nae Oppa..

JK : Hahaha.. Memang kamu bisa?

LS : Ya!! Apa kamu menghinaku?

JK : Hahaha.. Anya..

LS : Masakanku sangat enak tau.. 😛 Kalau mau akan aku buatkan!

JK : Jeongmal?

LS : Nae.. Supaya kamu percaya, kalau aku bisa memasak.. 😛

JK : Okay, bawakan bekal untukku yaa besok?

LS : Okay, lihat saja besok kamu pasti akan mengatakan masakanku enak.. 😛 Liat saja nanti..

JK : Hahaha.. Aku tidak yakin..

LS : Huh! Dasar.. Sudah, aku harus membuat makanan dulu..

JK : Nae..

“Okay.. Mari kita lihat apa yang ada dikulkas..” Kataku sambil mulai mengobrak-abrik kulkasku (?)

“Mungkin aku bisa membuat deobokki.. Tapi, masih ada bahan yang kurang, dan lagi ini hujan.. Kalau begitu aku akan membeli beberapa bahan di minimarket dekat sini..” Kataku pada diriku sendiri.

Aku mengambil mantel coklatku dan mencari payungku, dan berjalan menyusuri jalanan didekat rumahku. Kurang lebih 10-15 meter dari rumahku ada sebuah minimarket, dan isinya cukup lengkap. Aku mulai menjelajahi rak-rak itu, dan mengambil beberapa barang yang aku perlukan dalam keranjang.. /BRUK/

Aduh.. Aku menabrak seseorang, dia juga jatuh..

“Miane.. Mianeyo..” kataku meminta maaf sambil memberesi barang-barangnya dan akhirnya aku melihat wajahnya, seorang gadis yang berambut panjang, bertubuh ramping, dan juga berkulit putih, secara keseluruhan dia.. Sangat cantik.. The heck, aku yang seorang cewek saja mengakui dia cantik..?!

“Ah, Nae.. Gwencanayo.. Aku tidak apa-apa.. Aku juga tadi tidak melihat jalan..” jawabnya dengan suara yang sangat bagus, suaranya sangat khas.

“Aku juga yang ceroboh kok” kataku menjelaskan sambil berdiri.

“Kalau begitu aku pergi dulu.. Semoga kita bertemu lagi ya..” kata gadis itu, memang sih dia terlihat gadis seumuran denganku.

“Ah, Nae..” jawabku memberikan senyumanku dan berjalan kekasir.

Setelah itu aku langsung pulang dan memasak deobokki, dan juga menyiapkan sekotak bekal untuk Jungkook Oppa, supaya dia tidak mengejek aku lagi.. Lihat saja, besok dia tidak akan mengejek masakanku lagi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s