18 AGAIN [PART 1]

18-again

TITLE: 18 AGAIN

MAIN CAST: CHO KYUHYUN, HWANG EUNBI (OC), OTHERS

GENRE: SCHOOL LIFE, ROMANCE

HAPPY READING 🙂 DON’T FORGET TO COMMENT

Amerika

Sesuatu yang sederhana bisa menjadi sesuatu yang sangat luar biasa untuk seseorang dan sebaliknya, sesuatu yang luar biasa bisa menjadi sesuatu yang sangat membosankan dan menyesakkan untuk sesorang. Ya, itu hanya tergantung dari sisi mana kita melihatnya. Akankah itu menjadi sesuatu yang luar biasa atau sesuatu yang sederhana. Mungkin inilah alasan dari kata bijak don’t judge by the cover.

 

Kehidupan Eunbi gadis yang berusia hampir 22 tahun atau hanya tinggal 5bulan lagi usianya akan genap 22 tahun terlihat begitu sempurna dengan segala yang dia miliki. Kehidupan yang tidak pernah kekurangan karena dia adalah anak tunggal pemilik perusahaan eletronik besar di Korea Selatan, perusahaan yang begitu besar bahkan bisa dibilang menjadi singa di dunia bisnis, menghasilkan kekayaan yang tidak akan habis untuk ketujuh turunannya. Baiklah, mungkin ini terdengar berlebihan tapi percayalah kalian akan ternganga melihat berapa banyak won yang tersimpan di dalam buku tabungannya, berapa banyak koleksi mobil di dalam garasinya dan berapa mahal setiap inchi pakaian yang membalut tubuhnya mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki, hampir semua itu adalah keluaran merk terkenal dan limited edition. Satu lagi karunia yang Tuhan berikan pada gadis itu, kecantikan alami khas Asia tanpa campur tangan dokter bedah plastik. Bagaimana mendeskripsikan kecantikan gadis yang memiliki tubuh semampai dengan tinggi badan sekitar 170 cm, rambut hitam dibawah bahu,mata hazelnut dengan bulu mata yang lentik tanpa bantuan mascara, kulit seputih porselen bahkan jika kalian berfikir orang korea selatan sudah memiliki kulit yang putih maka Eunbi mempunyai kulit putih seputih kertas, dan bibir penuh berwarna pink alami. Mungkin kalian bisa menyebutkan sebagai kecantikan alami ala vampire.

 

Segala sesuatu yang Eunbi miliki selama ini nyatanya tidak hanya memberikan kebahagiaan tapi juga menyesakkan untuknya. Beberapa hari ini pikirannya melayang, mengingat bagaimana kehidupannya selama ini berjalan. Kehidupan yang begitu datar, itulah kesimpulan yang dia ambil. Tidak ada yang namanya kehidupan seperti roda yang berputar kadang kau berada di bawah atau kadang kau berada diatas, tidak ada kehidupan seperti rolling coaster yang bisa mengaduk-aduk perasaanmu, tidak ada indahnya musim semi yang membuat bunga-bunga sakura bermekaran atau tidak ada dinginnya musim dingin yang membuatmu lebih memilih meminum coklat panas bersama sahabat. Nyatanya kehidupannya hanya seperti jalan tol yang begitu mulus dan kalian hanya perlu mengikuti satu jalur itu saja, begitu datar, sederhana dan membosankan. Dia hanya perlu berjalan sesuai dengan rencana yang telah orang tuanya berikan, tidak ada sebuah keinginan atau cita-cita.

 

Kehidupan yang begitu sempurna untuk orang lain itu, sedikit membuatnya teriris saat mengingat bagaimana kehidupan masa remajanya berjalan. Tidak ada acara shopping bersama teman, bergosip, atau menertawakan kebodohan yang pernah dia lakukan. Jika kalian bertanya apa yang pernah dia lakukan di masa remajanya, maka dia hanya akan mengelengkan kepala. Tidak ada. Dia hanya mengingat bagaimana dia harus segera pulang kerumah setelah pulang sekolah dengan sopir yang sudah menunggunya diluar gerbang, mendatangi tempat les melukis dan belajar pada malam hari, selalu seperti itu setiap hari. Dan bagaimana dengan hari liburnya? Tentu saja dia hanya akan berada di dalam istananya, melukis, berenang, atau mungkin hanya menghabiskan waktu di depan televise. Atau terkadang dia harus menghadiri pesta bersama orang tuanya, menghadiri acara amal yang dibuat perusahaannya. Dia sedikit senang untuk yang terakhir, setidaknya dia bisa bertemu dengan banyak orang.

 

Eunbi menghela nafasnya dalam-dalam, kepalanya menengadah menatap langit Amerika yang penuh dengan bintang. Gadis itu mengeratkan tangannya pada pagar besi di balkon kamarnya.

 

Pikirannya kembali bernostalgia, mengingat apa saja yang pernah dia lakukan. Jika dipikir-pikir kehidupannya selama ini tidak lebih buruk dari putri rapunzel yang terkurung di atas menara dan tidak pernah melihat bagaimana kehidupan di luar berjalan. Sekarang otaknya berputar pada masa SMA, masa yang kata orang adalah masa sekolah paling membahagiakan. Tapi lagi-lagi otaknya memberontak, bahagia? Jika definisi bahagia hanya sebatas uang maka iya, dia bahagia. Tapi jika definisi bahagia adalah bagaimana kalian bisa tertawa dan menghabiskan waktu bersama sahabat dan mungkin orang yang kalian cintai maka Eunbi akan berfikir lagi. Pernahkah dia melakukan hal itu? Pernahkah?

Demi Tuhan. Eunbi tidak pernah punya seseorang yang disebut sahabat. Mereka semua tidak lebih dari seorang rekan bisnis baginya. Bagaimana tidak, jika seseorang yang kalian sebut teman itu hanya peduli tentang bagaimana caranya mendekati Eunbi dan menghasilkan keuntungan untuk perusahaan-perusahaan keluarga mereka. Begitu menggelikan untuk Eunbi.

 

Lagi-lagi dia menghela nafasnya, kali ini semakin dalam dan besar. Memorinya dan otaknya tidak pernah menyimpan hal yang membahagiakan itu. Dia kecewa, dia sedih. Mungkin sekarang otak dan hatinya telah diracuni oleh beberapa cerita roman picisan yang sering dia baca di waktu luang, tentang kisah cinta anak SMA, tentang persahabatan para gadis remaja, tentang cinta pada masa muda yang menggebu-gebu. Cinta? Lagi-lagi dia berfikir. Pernahkah dia merasakan cinta? Cinta seorang gadis pada seorang laki-laki, pernahkah? Tentu saja dia pernah, meskipun Eunbi tidak yakin itu perasaan kagum atau cinta. Hatinya masih terlalu abu-abu untuk membedakannya. Kakak kelasnya sewaktu SMA yang sering dia lihat lewat celah buku yang sengaja Eunbi gunakan untuk mengintip keseriusan laki-laki berseragam dengan bukunya. Haruskah Eunbi menyebutnya sebagai cinta pertama? Atau cinta monyet?

 

Kembali dia teringat pada tumpukan cerita sialan yang berhasil mencuci otaknya. Jika dia lebih berani pada waktu itu, apakah sekarang murid laki-laki yang sering dia kagumi dapat melihatnya juga? Jika tidak ada peraturan Ayahnya yang menyuruhnya untuk segera pulang, apakah dia punya waktu untuk sekedar minum teh bersama temannya? Jika dia bukanlah anak tunggal pewaris perusahaan besar, apakah dia akan jauh lebih bahagia? Jika dia bukan dari keluarga terpandang yang harus selalu menjunjung tinggi yang namanya ‘nama baik’ apakah dia akan lebih bebas menentukan pilihan hidupnya? Jika Eunbi bukanlah Eunbi yang sekarang, akankah semuanya berubah?

 

Setelah otaknya berperang tentang bagaimana kehidupannya selama ini, munculah beberapa pertanyaan lain yang siap menggoda akal sehat Eunbi.

Haruskah dia kembali pada masa itu untuk mengusir semua rasa penasarannya?

**

“ Tidak Nona!” Pria yang berumur sekitar 40 tahunan itu hampir berteriak frustasi pada Nona Mudanya. Dia kesal, dia frustasi.

“Arrggghhhhhh” Pria itu mengacak rambutnya dan menatap penuh ketegasan pada gadis muda yang duduk di sofa bludru berwarna putih.

“Ayahmu bisa membunuhku!” katanya penuh dengan penekanan dan mungkin kekhawatiran kalau hal itu akan benar-benar terjadi.

“Ahjussi tidak perlu khawatir. Ayah tidak akan melakukan itu” itu adalah suara Eunbi, gadis yang duduk di sofa dan mengamati wajah pria yang dia panggil Ahjussi itu lamat-lamat seperti menantikan ekspresi apalagi yang akan pria setengah baya itu keluarkan.

“ Kau pasti tahu Ayahmu seperti apa. Dia tidak akan pernah membiarkan kau melakukan ide gila itu”

“Ayah mungkin tidak, tapi Ahjussi bisa. Ahjussi akan membantuku” Sialan mulut Eunbi yang begitu gampang dan enteng mengeluarkan kalimat itu membuat Ahjussi itu kembali mengacak-acak rambutnya atau sedikit menjambak-jambak rambutnya. Ya sama seperti Ayahnya atau kalian bisa percaya pada pepatah buah tidak jatuh dari pohonnya. Bagaimana bisa sifat keras kepala Ayahnya begitu mendominasi sifat gadis ini.

 

Ahjussi mendudukkan dirinya di sofa disamping Eunbi setelah dia menghela nafasnya dalam-dalam mencoba menenangkan emosinya yang akan meledak karena gadis ini.

“Nona, aku masih punya istri dan anak yang harus aku hidupi. Aku tidak bisa mati sekarang” katanya lebih lembut dari sebelumnya dan lebih frustasi dari sebelumnya. Tentunya.

“Aku tidak bilang Ahjussi akan mati. Ahjussi hanya perlu membantuku dan tidak mati”

“Tapi Ayahmu akan benar-benar membunuhku!” ujarnya dengan menggeratkan gigi-giginya seperti menahan amarahnya.

“Aku akan memberikan apapun untukmu, jika kau membantuku”

Ya Tuhan. Penawaran macam apa ini? Memberikan apapun?

Ahjussi itu memijat-mijat pelipisnya seperti menimbang-nimbang tentang tawaran Eunbi dan tentang pekerjaannya. Ya, pria itu bekerja untuk Ayah Eunbi. Menjaga putri kesayangannya, menjadi asisten Eunbi atau menjadi sopirnya sejak gadis itu berumur 7 tahun. Bisa dibilang dia sudah mengabdikan hidupnya untuk keluarga Eunbi saat usianya masih sangat muda. Bahkan dia sudah menggap Eunbi sebagai anaknya sendiri. Tentu tawaran Eunbi menggiurkan tapi-

 

“Tidak! Aku tidak mau!” Tolak pria itu tegas. Dia tidak akan tergiur dengan tawaran Eunbi, pekerjaannya sekarang, pengabdianya kepada Ayah Eunbi menolak dengan mentah tawaran Eunbi yang sempat menggelitik pikirannya.

 

“Kim Ahjussi. Aku ingin menemukan kebahagianku” kata Eunbi begitu tulus dan lembut bahkan matanya sudah berkaca-kaca. Dia tahu pria yang dipanggil Kim Ahjussi olehnya itu tidak akan dengan mudah mengabulkan keinginannya tapi Eunbi hanya punya satu orang itu untuk membantunya. Tidak ada Ayahnya atau orang lain yang bisa Eunbi percaya. Tentu saja dia tidak mungkin menceritakan keinginannya pada Ayahnya jika Eunbi tidak ingin dicekik oleh Ayahnya.

 

“Tapi-“ kalimat Kim Ahjussi mengantung di udara. Sungguh dia tidak akan keberatan mengabulkan permintaan nonanya tapi tidak dengan yang satu ini. Oh, ini gila!. Kenapa nona mudanya itu memintanya untuk membantunya kembali ke masa SMA. Tolong digaris bawahi SMA. Dia sudah gila atau kepalanya habis terbentur di kamar mandi?

 

“Ahjussi pasti bisa membantuku. Kim Ahjussi hanya perlu menyiapkan sekolah baru untukku, menggurus beberapa dokumen untuk kepindahanku” suara Eunbi kembali berusaha memprovokasi pikiran Kim Ahjussi. Jujur, pria itu tidak tega pada Eunbi yang merengek padanya seperti ini. Dia tidak pernah mengingankan sesuatu sampai seperti ini. Ya, itu karena dia sudah mempunyai segalanya.

 

Kim Ahjussi menghela nafasnya untuk kesekian kalinya.

“Aku menyerah. Baiklah, aku akan membantu Nona”

 

Tatapan berbinar itu begitu ketara menghiasi wajah Eunbi bahkan sekarang gadis itu sudah memeluk Kim Ahjussi secara brutal, mengguncang-nguncang tubuh itu dengan rasa bahagia yang begitu membuncah.

“Terima kasih Ahjussi. Terima Kasih. Kau memang yang terbaik”

 

Dorongan kecil itu, membuat Eunbi memundurkan tubuhnya melepaskan pelukannya yang erat dan sedikit berlebihan itu dari Kim Ahjussi. Rupanya Ahjussi itu sudah tidak tahan dengan sikap Eunbi.

“Jadi apakah Nona bisa menjamin kalau Tuan besar tidak akan membunuhku?”

“aku tidak bisa menjamin”

Sialan kau Hwang Eunbi!

Kim Ahjussi melebarkan matanya seperti akan melepaskan bola matanya dari tempatnya.

“Tapi aku akan berusaha agar Ayah tidak membunuhmu. Aku tidak berjanji atau menjamin tapi aku akan berusaha.” Lanjut Eunbi

 

Entah ini angin segar untuk Kim Ahjussi atau peringatan untuk Kim Ahjussi untuk tidak membantu Nona mudanya. Tapi keputusan sudah dia buat, apapun resikonya Kim Ahjussi akan menghadapinya  meskipun hatinya belum sepenuhnya siap menghadapi itu semua.

 

“Baiklah aku akan mempersiapkan nyawaku” ujar Kim Ahjussi lirih tapi masih dapat didengar oleh Eunbi. Hanya saja gadis itu tidak mau ambil pusing tentang kalimat yang baru saja pria itu katakan, mungkin rasa bahagianya membuat telinganya sedikit sombong.

 

Seperti tidak peduli tentang kekhawatiran Kim Ahjussi, Eunbi berjalan menjauhi pria itu mendekati anak tangga yang akan membawanya ke lantai dua. Lantai kamarnya. Tapi belum sempat kakinya menginjak anak tangga pertama, Eunbi berbalik.

“Aku ingin Ahjussi cepat mengurus keperluanku. Sepertinya minggu ini cocok untuk keberangkatanku”

Eunbi tidak ingin membuang-buang waktunya, dia ingin cepat mewujudkan mimpinya. Merubah semua memorinya tentang kehidupan masa remaja dengan lebih berwarna. Mungkin 4 bulan sudah cukup. Ya, sejujurnya dia hanya punya waktu empat bulan untuk itu. Jangan pernah berfikir kalau gadis itu mengidap penyakit mematikan sampai hanya punya waktu 4 bulan. Sungguh bukan itu. Dia hanya bisa memanfaatkan waktu itu, waktu saat dia menunggu hari graduationnyadi universitas. Ayahnya mungkin akan sedikit lengah karena yang dia tahu Eunbi masih berada di Amerika dan tentu dengan orang kepercayaannya. Kim Ahjussi.

 

Demi patung liberty, nona mudanya itu tampak sangat menyebalkan untuk Kim Ahjussi saat ini. Apakah tinggal di Amerika selama hampir empat tahun merubah Eunbi?

**

Eunbi sudah selesai mengemasi barangnya, memasukkannya pada koper berwarna pink kesayangannya. Dia tidak membawa semua pakaiannya, hanya beberapa potong saja yang dia perlukan. Toh, dia akan lebih sering memakai seragam sekolahnya. Sekolah?. Mengingat satu kata itu, lagi-lagi dia tersenyum, seperti anak umur lima tahun yang akan masuk ke taman kanak-kanak di hari pertamanya, begitu senang dan tidak sabar. Lengkungan di wajahnya semakin ketara saat beberapa gambaran dan imajinasi liarnya tercetak jelas di atas kepala, betapa bahagianya masa SMA yang akan dia hadapi.

 

Semua lamunan itu buyar saat suara ketukan pintu memenuhi gendang telinga Eunbi. Kim Ahjussi mendorong sedikit pintu itu, menyembulkan sedikit kepalanya di antara pintu yang sedikit terbuka.

“masuklah” kata Eunbi semangat.

“rupanya Nona sudah selesai berkemas” Kim Ahjussi menatap koper yang sudah tergeletak di samping ranjang Eunbi dan kembali menatap nona mudanya yang sedang menarik ujung bibirnya membentuk sebuah lengkungan.

“ini” pria itu menyodorkan map berwarna coklat kehadapan Eunbi

“apa ini?”

Sepertinya Kim Ahjussi tidak perlu menjawab pertanyaan Eunbi, karena gadis itu sudah merebut map coklat dan dengan serampanganmembukanya.

“ternyata Ahjussi sudah mengurus semuanya”

“pesawatnya akan berangkat dua jam lagi. Kalau nona tidak ingin ketinggalan pesawat sebaiknya nona segera turun”

**

Tabrakan awan-awan putih dengan badan pesawat membuat sedikit guncangan kecil. Perjalanan ini terasa sangat panjang dan melelahkan tapi tidak untuk Eunbi, gadis itu bahkan tidak bisa hanya untuk memejamkan matanya satu menit saja. Dia takut kalau dia memejamkan matanya maka pesawat ini tidak sampai di Korea Selatan. Baiklah, ini konyol.

 

Eunbi mengeluarkan sebuah buku berwarna biru dari dalam tas kecil yang dia bawa, sepertinya itu adalah buku diary. Buku diary yang sengaja dia siapkan untuk mencatat semua warna-warni masa SMA nya nanti.

“sepertinya. Aku harus menuliskan sesuatu di halaman pertama” kata Eunbi lirih seperti sedang berbicara pada buku itu.

Setelah itu, tampak tangan Eunbi mulai mengoreskan tinta-tinta hitam yang membentuk sebuah tulisan di halaman pertama.

’18 Again – Selamat Datang masa SMA ku’

Hanya satu kalimat itu yang Eunbi tuliskan. Dia memeluk buku diary itu setelah menutup bolpoint yang telah menorekan noda hitam pada buku diary nya.

 

Pesawat itu telah menyentuh tanah Korea Selatan. Gadis yang dari tadi tidak pernah menghilangkan senyumannya terus berjalan di ikuti oleh Kim Ahjussi dibelakangnya. Tanggannya direntangkan saat dia sudah sampai di pintu bandara, angin Korea Selatan menyentuh telapak tangannya. Hidungnya mencoba menarik nafas sedalam-dalam seperti dia akan mati kalau tidak segera menghirup udara.

 

Audi berwarna hitam itu berhenti di depan Eunbi, seorang laki-laki yang memakai jas berwarna hitam dan kemeja putih tampak keluar dari kursi kemudi dan menghampiri Kim Ahjussi yang berdiri di belakang Eunbi setelah menunduk di hadapan Eunbi yang masih asyik melepas kerinduannya pada tanah Korea Selatan. Sepertinya laki-laki itu adalah salah satu pengawal di keluarga Eunbi. Dan seperti itulah, Kim Ahjussi yang bisa dibilang sudah mendapat jabatan yang berarti di keluarga Eunbi bisa dengan mudah menyuruh seseorang untuk menjemputnya di bandara tanpa membuka suara.

 

Sudah hampir 15 menit mobil itu melaju membelah padatnya jalanan Seoul di siang hari. Eunbi duduk dengan nyaman di bangku penumpang, lagi-lagi tangannya dia keluarkan sedikit dari kaca mobil. Merasakan angin yang terus menampar telapak tangannya seiring mobil yang terus melaju.

“Ahjussi apa setelah ini kau akan pergi ke rumahmu?”

“tentu saja aku akan pulang ke rumahku. Aku tidak mungkin pulang ke rumah nona atau aku akan segera digantung oleh Tuan Besar” kata Kim Ahjussi sedikit menyindir. Tapi seperti tidak peka, Eunbi masih asyik dengan kegiatannya tadi.

“tentu kau harus pulang ke rumahmu. Istri dan anakmu pasti merindukannmu”

Lihatlah, bagaimana Eunbi masih tidak merasa kalau Kim Ahjussi baru saja menyindirnya.

Lupakan!.

Sekarang mobil mereka sudah berhenti di depan sebuah gerbang sekolah. Mata eunbi kembali berbinar, jantungnya berdegup tidak beraturan. Kenapa sekarang dia merasa sedikit gugup?. Ayolah Hwang Eunbi apa yang kau takutkan. Disini kebahagianmu akan dimulai. Putus Eunbi dalam hati.
“simpanlah ini. Aku sudah memasukkan nomor baru disitu dan aku juga sudah menyimpan nomor teleponku disana. Kalau ada apa-apa Nona harus segera menghubungiku”

Eunbi mengangguk dan masih mengamati ponsel yang baru saja kim Ahjussi berikan padanya. Ponsel ini tidak sebagus dengan ponselnya dulu, tapi setidaknya ini masih bisa digunakan.

“Nona juga harus ingat kalau nona harus membalas Email yang dikirim Tuan besar setiap minggunya.”

Ah, Eunbi hampir lupa tentang hal itu. Ayahnya memang selalu mengiriminya Email setiap  minggu untuk mengecek putrinya, meskipun dia sudah tahu bagaimana keadaannya karena Kim Ahjussi selalu melaporkannya. Ayah Eunbi jarang menelepon Eunbi, ya itu karena kesibukan mereka dan perbedaan waktu yang membuat mereka sedikit kesusahan untuk meluangkan waktu hanya untuk sekedar bertelepon.

 

“aku akan mengingatnya” kata Eunbi setelah puas memperhatikan ponsel itu.

 

**

Suara roda kecil di bawah koper yang beradu dengan lantai asrama terdegar menggema di setiap lorong. Mata Eunbi menelisik mencocokkan nomor kamar yang dia tulis di kertas note dengan deretan angka yang berada di pintu yang dicat berwarna coklat.

“ketemu!” katanya penuh semangat.

Tangannya dengan lihai merogoh kantong belakang jeansnya untuk mengambil kunci pintu.

 

Ceklek!

 

Ruangan yang tidak lebih besar dari ruang tamu di rumahnya terasa penuh dengan dua tempat tidur di sisi kanan dan kiri, berdampingan. Dua meja belajar di sudut ruangan yang menghadap langsung pada jendela besar. Satu kamar mandi di sudut ruangan membuat ruangan ini terasa lebih sempit.

“ini lumayan. Tidak terlalu buruk” gumam Eunbi. Tangannya sedang menyentuh beberapa benda yang berada disana, ranjangnya, meja belajarnya, dan boneka kecil di samping tempat pensil yang diletakkan di atas meja belajar disampingnya.

“Sepertinya aku tidak akan tinggal sendiri”

 

Eunbi mengalihkan perhatiannya dari koper dan beberapa buku yang dia tata begitu rapi di meja belajar miliknya, kepalanya menoleh pada pintu yang baru saja dibuka. Seorang gadis berseragam sekolah dengan kaca mata bulat yang terlihat begitu tebal dan sedikit kuno, poni yang memenuhi dahinya dan rambutnya yang dikuncir kuda. Perlahan melangkah mendekati ranjang di sisi Eunbi setelah gadis itu meletakkan tasnya di atas kursi di meja belajar.

Selama beberapa menit Eunbi maupun gadis itu hanya saling diam seperti tidak ada orang lain yang berada satu ruangan dengannya. Sadar dengan sesuatu yang seharusnya Eunbi lakukan, Eunbi berdiri mendekati gadis yang sekarang sedang melepaskan jas seragamnya dan mengantungnya pada hanger.

 

“Perkenalkan namaku Hwang Eunbi. Aku baru pindah kesini” ujar Eunbi dengan penuh semangat, tangannya terulur meminta gadis itu menjabat tangannya. Tapi gadis itu hanya menoleh melihat Eunbi sebentar dan tangan Eunbi sebentar seperti tidak berminat tentang acara perkenalan yang Eunbi lakukan. Beberapa detik kemudian, Eunbi menarik tangannnya menepuk udara disekitarnya. Dia sedikit mencebikkan bibirnya, merasa tidak dihargai atau mungkin dia terlalu malu karena nyatanya teman satu kamarnya ini tidak tertarik dengan perkenalannya.

 

“Aku punya peraturan di kamarku”

“Apa?”

Sekarang gadis itu sudah memutar tubuhnya, pandangannya jatuh pada Eunbi yang sekarang masih membuat beberapa kerutan di dahinya.

“Kau bebas melakukan apa saja. Ya itu terserah padamu. Tapi aku tidak suka kalau kau berisik atau membuat masalah dikamarku” Katanya begitu datar dan dingin. Otak Eunbi masih mencerna perkataan gadis yang masih belum Eunbi ketahui namanya, kalimat yang gadis itu sebut sebagai ‘peraturan’. Itu tidak sulit, pikirnya. Hanya tidak boleh berisik dan membuat masalah, dia rasa itu adalah peraturan yang wajar dan Eunbi yakin dia pasti bisa untuk mematuhi itu.

“Baiklah. Jadi apa ada lagi?”

Gadis itu menggeleng dan duduk begitu saja di depan meja belajar milikya tidak memperdulikan Eunbi yang hanya bisa mematung di tempatnya. Ayolah, Hwang Eunbi sangat tidak tahan di abaikan seperti ini. Harga dirinya terasa diinjak bahkan oleh anak SMA yang mungkin belum genap berusia 18 tahun.

Mata Eunbi menatap tajam punggung yang sekarang sudah sibuk dengan pensil dan buku.

“Aku rasa SMA ku yang kedua ini akan sama suramnya” kata Eunbi lirih, sangat lirih sampai suaranya tidak bisa ditangkap oleh gendang telinga gadis SMA itu.

 

Matahari kota Seoul sudah berada diperaduannya, kamar asrama yang dia tinggali terasa begitu sepi bahkan lebih sepi dari langit yang dipenuhi dengan bintang-bintang sebagai pelengkap malam. Gadis berkacamata yang belum Eunbi ketahui namanya masih sibuk dengan beberapa rumus fisika dan matematika.

Auchh! Eunbi benci ini. Apakah benar semuanya tidak ada gunanya? Dia memutuskan untuk kembali pada masa SMA tapi lihatlah Eunbi masih duduk sendiri di ranjang miliknya dengan memeluk boneka teddy bear kesayangannya. Dia butuh teman mengobrol sekarang. Seperti apa yang selama ini dia harapkan, mengobrol sampai malam dengan teman sekamarnya. Setidaknya itulah yang Eunbi harapkan sebelum ‘gadis itu’ perlahan menghancurkan harapan Eunbi. Ya Tuhan sekarang Eunbi sadar bahwa peraturan yang gadis itu sebutkan tadi sore adalah sebuah perjanjian yang paling menyebalkan. ‘Tidak boleh berisik’ bagaimana Eunbi bisa berisik kalau dia tidak punya teman untuk berbicara?. Menyebalkan!. Percakapan tentang peraturan yang gadis itu buat adalah percakapan yang pertama dan terakhir, setelah itu sepertinya Eunbi harus menelan semua ludahnya dan lebih memutuskan untuk menenggelamkan semua khayalan dan keinginannya.

 

Eunbi menendang kesal selimut yang membungkus kakinya, secepat kilat dia langsung terduduk dan mengacak rambutnya. Dia tidak tahan. Ini lebih buruk dari pada dia tinggal dirumahnya tanpa teman. Setidaknya dia bisa bermain gadget dan memutar musik keras-keras atau mungkin mengobrol dengan para pelayan dan Kim Ahjussi. Haruskah dia mengobrol dengan boneka teddynya sekarang? Oh, dia tidak ingin gila sekarang.

“Argggghhhh!” teriak Eunbi frustasi.

 

Tatapan yang begitu tajam dari balik kacamata itu menyadarkan Eunbi kalau dia baru saja melanggar sebuah peraturan. Peraturan yang membuatnya hampir gila sekarang.

**

Matanya mengernyit karena sinar matahari yang mulai mengganggu tidur nyenyaknya.

“tutup gordennya Ahjussi. Aku masih mengantuk” rancaunya dengan mata yang masih tertutup. Kembali Eunbi memposisikan tubuhnya mencari tempat ternyaman dari ranjang yang terasa sedikit berbeda dari ranjang yang biasa dia tempati.

 

Gadis berkacamata itu memasukkan beberapa buku ke dalam ransel dan menggelengkan kepalanya sejenak mendengar rancauan Eunbi. Dialah pelakunya, orang yang membuka gorden jendela membuat bias-bias sinar matahari masuk dan menganggu tidur Eunbi.

 

Dia berjalan sambil membenarkan letak ranselnya dan berdiri di samping ranjang Eunbi, memperhatikan sebentar tubuh yang tertidur memunggunginya.

“jika kau tidak ingin terlambat maka cepatlah bangun. Sekolah akan dimulai 15 menit lagi”

 

Sekolah? Sekolah? Sekolah? Kalimat yang sangat datar dan dingin itu hanya tertangkap beberapa kata saja oleh Eunbi. Entah karena dia berada dia antara batas sadar dan tidak atau karena tidak ada kata yang menarik selain kata sekolah.

Sekolah? Sialan. Eunbi terduduk diatas ranjangnya begitu tiba-tiba membuat kepalanya sedikit pening.  Kesadarannya sudah kembali 75%. Ya, saat gadis berkacamata itu terdengar menutup pintu dari luar maka sekarang kesadarannya sudah benar-benar kembali.

“jam berapa sekarang?” tangannya sibuk mencari jam weker yang seingatnya dia letakkan di samping tempat tidurnya. Tapi kemana sekarang? Oh shit! 15 menit. Gadis itu bilang 15 menit.

Secepat kilat Eunbi langsung berlari ke dalam kamar mandi meraih serampangan handuk yang menggantung di depan pintu kamar mandi.

 

Hanya butuh waktu 5 menit untuk Eunbi menyelesaikna mandinya. sebenarnya dia mandi atau mencuci muka? Biarlah. Dia tidak peduli sekarang bagaimana rupa wajahnya.

“ah. Sialan” kembali umpatan itu keluar dari mulutnya. Dia ingin mengutuk orang yang telah membuat kemeja sekolahnya dengan banyak kancing. Kancing sialan yang telah memperlambat pergerakkannya dan demi Tuhan jam dinding terus berputar.

 

Suara sepatu yang menghentak lantai terdengar sepanjang lorong sekolah. Nafasnya tidak beraturan lagi, bahkan mungkin sejenak Eunbi lupa bagaimana caranya bernafas dengan benar. Sekarang dia sudah benar-benar terlambat, dan tidak punya waktu hanya untuk mengatur nafasnya.

 

‘Ruang Guru’

Dia segera melesat begitu saja masuk ke dalam ruangan yang penuh dengan meja-meja kerja dan sialannya lagi Eunbi harus mencari wali kelasnya disini. Dia tidak tahu bagaimana rupa wali kelasnya tapi  setidaknya Eunbi ingat nama guru yang harus dia temui sekarang.

“ahhh itu dia”

Eunbi segera mendekati meja dengan papan nama ‘Cho Kyuhyun’ kali ini dia tidak berlari lagi. Kakinya sudah terasa akan lepas dari tempatnya dan itu sedikit membuat jalan Eunbi terlihat tidak lurus lagi dan dia juga tidak mungkin berlari di dalam ruangan ini.

 

Cho kyuhyun mengangkat kepalanya dari layar laptop yang menjadi temannya. Matanya meneliti gadis berseragam yang tangannya dia sanggah di atas meja miliknya, dadanya naik turun seperti habis berlari marathon dan penampilannya sedikit….

“ehem” kyuhyun berdehem mengembalikan pikirannya dari beberapa fantasi liar yang sempat beberapa detik yang lalu bergentayangan di kepalanya.

 

Kepala Eunbi terangkat dan nafasnya sudah benar-benar hilang sekarang. Jika beberapa detik tadi Eunbi mencoba menetralkan detak jantungnya yang bedetak tak karuan sekarang dia merasa pasokan oksigen di sekitarnya benar-benar menghilang.

Sialan kenapa dia begitu tampan

Dia benar-benar lupa caranya bernafas bahkan dia tidak bisa hanya untuk mengedipkan matanya takut semua bayangan di depannya menghilang. Jika pada awalnya Eunbi menggira kalau wali kelasnya adalah pria paruh baya dengan perut yang membuncit, kaca mata kuda yang menggantung di hidungnya, rambut yang sedikit botak dan kumis tebal diwajahnya maka semua itu SALAH. Nyatanya wali kelas yang berdiri di depannya sekarang sangatlah tampan. Semua yang melekat di tubuh Kyuhyun begitu pas, mata yang tajam dengan iris mata berwarna coklat, tubuh tegap sekitar 180 cm, hidung mancung, kulit putih, kemeja yang sengaja dia lipat dibagian lengannya, dan-

“Murid baru apa kau mendengarkanku?”

“heh?”

Kyuhyun memutar bola matanya malas. Tangannya berkacak pinggang dia tidak suka dengan murid yang mengabaikan perkataannya dan lihatlah sekarang jam berapa. Kyuhyun melirik sekilas jam yang melingkar ditangannya.

“kau telat 20 menit lewat 5 detik. Apa yang kau pikirkan murid baru?”

“ahh. Saya minta maaf soesangnim. Saya kesiangan”

“kau kesiagan? Kau pikir ini sekolahan punyamu sampai kau seenaknya saja?” kata kyuhyun sedikit menyindir dan ya memang kyuhyun tidak suka bersikap sok baik dan beramah tamah apalagi terhadap muridnya.Dia akan selalu mengatakan apa yang dia ingin katakan.

Heol !

Eunbi sedikit kesulitan menelan ludahnya sekarang bukan karena pesona Cho kyuhyun tapi karena pria itu telah menghancurkan satu khayalan Eunbi yang baru saja terbentuk di kepalanya. Cho kyuhyun seorang guru muda yang berumur sekitar 27 tahun menurut perkiraan Eunbi adalah guru muda yang menyenangkan dengan tampang yang menyenangkan pula tentunya, tidak sekolot guru-guru yang sudah lanjut usia dengan emosi yang labil seperti anak remaja. Tapi sekarang lupakan tentang pesona guru muda yang mempunyai perilaku menyenangkan itu, Eunbi sadar Cho kyuhyun bukanlah guru yang seperti itu. Bahkan sekarang yang terlintas di dalam otak Eunbi adalah ‘apakah dia benar-benar seorang guru?’ tatapan tajam dan kelakuan yang bossy, apakah murid-muridnya akan tahan?

 

“ikutlah denganku. Aku akan menunjukkan kelasmu” ujar kyuhyun tak terbantahkan.

Eunbi hanya mengangguk kaku. Dia sudah tidak punya tenaga untuk mengumpat karena kesenangan yang dia harapkan perlahan menghilang. Memiliki roommate yang menyebalkan, guru yang juga menyebalkan meskipun tampan. Ah! Kenapa otak Eunbi selalu mengaitkan guru muda ini dengan kata tampan.

 

Kyuhyun berbalik setelah baru melangkah 5 langkah. Dia ingat sesuatu.

“kau perbaiki dulu penampilanmu dan itu”

“apa?”

Sepertinya kyuhyun tidak bisa mengatakannya. Gadis itu hanya mengikuti arah jari telunjuk kyuhyun dan- Shit!

Eunbi segera berbalik dan menggigit bibir bawahnya. Hatinya terus merutuki kebodohannya sambil terus membenarkan letak kancing bajunya. Entah ini kesialannya yang keberapa.Dia salah mengaitkan kancing bajunya membuatnya terlihat berantakan dan- silahkan bayangkan sendiri bagaimana penampilan gadis itu sekarang.

 

Setelah merasa kancing bajunya sudah benar sesuai dengan yang seharusnya, Eunbi berbalik menghadap Cho kyuhyun. Dia sudah menekan rasa malunya meskipun dia yakin wajahnya sudah memerah karena malu dan dia tidak berani menatap wajah wali kelasnya, Cho kyuhyun.

 

Sepertinya ini yang membuat kyuhyun sempat pecah dari konsentrasinya, ‘kancing Eunbi yang tidak benar’ membuat sesuatu yang tidak benar sempat terlintas di kepalanya. Sialan! Dia sudah seperti guru mesum.

 

Kyuhyun menghela nafasnya.Kancing baju Eunbi mungkin sudah benar tapi apakah gadis itu yakin kalau penampilannya sudah baik? Kyuhyunsudah tidak tahan menunggu gadis itu mengerti.

 

Eunbi segera mengangkat kepalanya saat dirasa ikat rambutnya terlepas membuat rambutnya terurai jatuh begitu saja. Bukan karena tali rambutnya putus. Bukan. Tapi ini adalah kelakukan pria yang berdiri di depannya. Mata Eunbi bertemu dengan mata tajam milik Kyuhyun.

 

“kurasa ini lebih baik” kata kyuhyun datar dan tidak peduli bagaimana tampang bodoh Eunbi yang masih mencoba bertanya ‘apa yang sedang kau lakukan’ lewat tatapan matanya.

“kau tadi sangat berantakan” baguslah kyuhyun mengerti pertanyaan lewat tatapan mata Eunbi.

Berantakan? Dia baru saja menghinaku berantakan?

 

“Hentikan tampang bodohmu itu. Dan cepat ikuti aku”

 

Mata Eunbi berkedip seperti habis terbangun dari 5 detik mimpi buruknya. Dia menghela nafas begitu dalam dan mulai berjalan perlahan menghampiri kyuhyun yang sudah berada diambang pintu mengesampingkan sebentar rasa kesalnya. Dia tidak tahu seburuk apa penampilannya tadi sampai wali kelasnya itu menarik ikat rambutnya. Tapi dia ingat dia tidak sempat menyisir rambutnya dan mengikat asal rambutnya dengan tali rambut yang dia temukan di tumpukan-tumpukan baju di dalam kopernya.

 

Jari-jari tangannya masih sibuk menyisir rambut sebisa yang dia lakukan, kedua telinganya sibuk mendengarkan beberapa peraturan yang meluncur begitu saja dari mulut kyuhyun, matanya sibuk memperhatikan jalan, kakinya sibuk mengimbangi langkah kaki kyuhyun yang lebar-lebar. Tidak ada satu pun tubuhnya yang diam tidak bekerja. Eunbi berhenti saat langkah kaki kyuhyun juga berhenti. Dengan canggung dia menurunkan jari-jari tangannya.

 

“Datang ke ruanganku nanti dijam istirahat”

 

Dan seperti yang sudah-sudah, setelah pria itu mengatakan apa yang dia mau, dia akan meninggalkan Eunbi. Cho kyuhyun sudah masuk ke dalam sebuah ruang kelas.

TBC

AUTHOR’S NOTE: sekali lagi author ingatkan untuk meninggalkan jejak ya 🙂 dan terima kasih sudah membaca cerita yang satu ini 🙂

lihat story lainnya di kyunbihoney.wordpress.com

Advertisements

3 responses to “18 AGAIN [PART 1]

  1. Wow, mengulang kembali masa sma dengan wali kelasnya si evil cho kyuhyun? Mau. tapi klu pelajaran kimia dan fisika sihapus hahaha…. klu tidak aku bakalan milih tidak naik kelas selamanya biar terus bertemu wali kelas tampan yeay….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s